Pencarian

Thousand Splendid Suns 2

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein Bagian 2


ruangan ini membuat Mariam merasa tercekik. Gejolak kerinduan melandanya,
kerinduan kepada Nana, kepada Mullah
Faizullah, kepada kehidupan lamanya. Lalu, Mariam menangis.
"Kenapa kau menangis?" sentak Rasheed. Dia memasukkan tangan ke saku celana,
membuka tangan Mariam, dan menjejalkan sehelai saputangan ke telapaknya. Dia
menyalakan rokok dan menyandarkan tubuh ke dinding. Dia memandang Mariam yang
mengusapkan saputangan itu ke mata.
"Sudah?" Mariam mengangguk. "Yakin?" "Ya." Rasheed menggamit siku Mariam dan membimbingnya ke jendela ruang tamu.
"Jendela ini mengarah ke utara," katanya, mengetuk-ngetuk kaca dengan kuku tebal
jari telunjuknya. "Yang ada di depan kita itu adalah Gunung Asmai kau lihat"? ?dan, di sebelah kirinya adalah Gunung Ali Abad. Universitas ada di kaki gunung
itu. Di belakang kita, di sebelah timur, kau tak bisa melihatnya dari sini,
adalah Gunung Shir Darwaza. Setiap siang, meriam diledakkan di sana. Hentikanlah
tangisanmu sekarang juga. Aku serius."
Mariam mengusap matanya. "Hanya inilah yang tak bisa kutahan," kata Rasheed, gusar, "suara tangisan
wanita. Maafkan aku. Aku tak punya kesabaran untuk menghadapinya."
"Aku ingin pulang," sahut Mariam.
Rasheed menghela napas dengan jengkel. Gumpalan asap rokok yang diembuskan
menerpa wajah Mariam. "Aku tidak akan menganggap ucapanmu itu sebagai hinaan. Kali ini."
Sekali lagi, Rasheed menggamit siku Mariam dan mengajaknya menaiki tangga.
Di sana, terdapat sebuah koridor remang-remang dan dua kamar tidur. Pintu kamar
yang lebih besar terbuka. Dari luar, Mariam bisa melihat bahwa kamar itu,
seperti seluruh bagian rumah yang lain, hanya memuat sedikit perabot: ranjang di
sudut, dengan sehelai selimut cokelat dan sebuah bantal, sebuah lemari, sebuah
bufet. Hanya ada sebuah cermin di dinding kamar itu, selebihnya telanjang.
Rasheed menutup pintu. "Ini kamarku." Katanya, Mariam boleh menempati kamar tamu. "Kuharap kau tidak keberatan. Aku
lebih suka tidur sendirian."
Mariam tidak mengatakan betapa leganya dirinya, setidaknya karena hal ini.
Kamar yang akan ditempati Mariam berukuran lebih kecil daripada kamar yang dia
tempati di rumah Jalil. Di dalam kamar itu terdapat sebuah ranjang, sebuah bufet
kelabu tua, dan sebuah lemari kecil. Jendela kamar menunjukkan pemandangan
halaman dan, lebih jauh lagi, jalan di depan rumah. Rasheed meletakkan koper
Mariam di sudut. Mariam duduk di ranjang. "Kau tidak memerhatikan," kata Rasheed. Dia berdiri di ambang pintu, sedikit
membungkuk. "Lihatlah apa yang ada di birai jendelamu. Kau tahu apa itu" Aku
meletakkannya di sana sebelum
berangkat ke Herat."
Sekarang, Mariam baru melihat sebuah keranjang di birai jendela. Kuntum-kuntum
begonia putih menyembul dari mulut keranjang.
"Kau suka" Apakah bunga itu bisa membuatmu ceria?"
"Ya." "Kalau begitu, kau seharusnya berterima kasih kepadaku."
"Terima kasih. Maafkan aku. Tashakor-"
"Kau gemetar. Mungkin aku membuatmu ketakutan. Apa benar begitu" Apa kau takut
padaku?" Mariam tidak menatap Rasheed, namun dia dapat mendengar nada yang berbeda dalam
pertanyaan itu, sepertinya pria itu sedang menggodanya. Mariam cepat-cepat
menggeleng, tindakan yang disadari sebagai kebohongan pertama dalam pernikahan
mereka. "Tidak" Bagus, kalau begitu. Bagus. Nah, sekarang rumah ini menjadi tempat
tinggalmu. Kau akan menyukainya. Lihat saja sendiri. Apakah aku sudah bilang
bahwa kita punya listrik" Sepanjang hari dan sepanjang malam?"
Sebelum pergi, Rasheed berhenti di pintu, mengisap rokoknya dalam-dalam,
memicingkan mata untuk menghindari asap. Mariam mengira dia akan mengucapkan
sesuatu. Tetapi, ternyata tidak. Rasheed menutup pintu, meninggalkan Mariam
bersama koper dan bunganya.[]
BAB 10 Pada hari-hari pertamanya di rumah Rasheed, Mariam sangat jarang keluar kamar.
Dia terbangun oleh suara azan dan kembali merangkak ke tempat tidur setelah
menunaikan shalat. Dia tetap berbaring di ranjang ketika mendengar Rasheed
keluar dari kamarnya, mandi, dan memasuki kamar Mariam untuk memeriksa sebelum
pergi ke toko. Dari jendelanya, Mariam memandang Rasheed di halaman, mengikatkan
kotak makan siangnya ke sepeda, lalu mendorong sepedanya melintasi halaman
hingga tiba di jalan. Mariam melihat Rasheed mengayuh sepedanya, sosoknya yang
berbahu bidang dan kekar menghilang di tikungan.
Mariam menghabiskan sebagian besar waktunya di ranjang, merasa sedih dan
kehilangan arah. Kadang-kadang, dia pergi ke dapur di bawah, meraba lemari-
lemari yang lengket karena minyak, tirai vinil bermotif bunga yang berbau
masakan gosong. Dia melihat isi laci-laci yang berkondisi menyedihkan, pada
sendok-sendok dan pisau-pisau yang tidak serasi, saringan, juga spatula-spatula
kayu yang tak utuh lagi. Semua benda itu akan
menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, semuanya mengingatkan Mariam pada
kekacauan yang melanda kehidupannya, membuatnya merasa tercerabut, terlempar di
tempat yang salah, bagaikan seorang penyusup di dalam kehidupan orang lain.
Ketika di kolba, selera makannya wajar-wajar saja. Di sini, perutnya jarang
keroncongan mendambakan makanan. Kadang-kadang, dia membawa sepiring sisa nasi
putih dan sekerat roti ke ruang tamu, lalu duduk di dekat jendela. Dari sana,
dia dapat melihat atap-atap rumah tak bertingkat di jalan itu. Dia juga dapat
melihat halaman mereka, para wanita yang sedang menjemur cucian sembari
berteriak-teriak kepada anak-anak mereka, ayam-ayam yang tengah mengais-ngais
tanah, sekop dan sabit yang tersandar di dinding, sapi-sapi yang sedang berteduh
di bawah pohon. Mariam mendambakan malam-malam musim panas yang dia lewati di atap-datar kolba
bersama Nana, menatap bulan yang berpendar di atas Gul Daman. Udara terlalu
panas sehingga pakaian mereka akan menempel ke tubuh, bagaikan daun basah yang
menempel ke jendela. Dia merindukan siang-siang musim dingin, ketika dia mengaji
di kolba bersama Mullah Faizullah, mendengarkan dentingan keping-keping es yang
berjatuhan dari pohon dan kaokan burung-burung gagak yang bertengger di cabang-
cabang pohon berlapis salju.
Sendirian di rumah, Mariam berjalan mondar-mandir dengan resah, dari dapur ke
ruang tamu, menaiki tangga menuju kamarnya, lalu turun kembali. Akhirnya, dia
berdiam kembali di kamarnya, shalat atau duduk di ranjang, merindukan ibunya,
merasa mual dan rindu kampung halaman.
Seiring pergerakan matahari yang semakin ke barat, kegelisahan Mariam pun
semakin memuncak. Giginya bergemeletuk ketika dia memikirkan malam hari, ketika
Rasheed mungkin akhirnya akan memutuskan untuk melakukan apa yang dilakukan oleh
suami kepada istrinya. Mariam berbaring di ranjang, merasa gugup luar biasa,
sementara Rasheed makan sendirian di bawah.
Rasheed selalu melongokkan kepala ke kamar Mariam.
"Kau tak mungkin sudah tidur. Sekarang baru pukul delapan. Apa kau masih
terjaga" Jawablah pertanyaanku. Ayolah, jawab aku."
Rasheed terus mendesak, hingga akhirnya, dari dalam kegelapan, Mariam berkata,
"Ya, aku masih bangun."
Rasheed duduk di ambang pintu. Dari ranjangnya, Mariam dapat melihat sosok besar
Rasheed, kakinya yang panjang, asap rokok mengepul dari hidungnya yang bengkok,
nyala rokoknya menerang dan meredup.
Rasheed menceritakan harinya. Sepasang sepatu pantofel yang dia buat khusus
untuk deputi perdana menteri yang, kata Rasheed, hanya membeli sepatu darinya. ?Pesanan sandal dari diplomat Polandia dan istrinya. Dia mengatakan
kepada Mariam tentang takhayul mengenai sepatu yang dipercaya banyak orang:
bahwa meletakkan sepatu di atas ranjang sama saja dengan mengundang kematian
untuk memasuki keluarga, bahwa cekcok akan terjadi jika seseorang mengenakan
sepatu sebelah kiri terlebih dahulu.
"Kecuali jika semua itu dilakukan tanpa sengaja pada hari Jumat," katanya. "Dan,
apa kau tahu bahwa mengikatkan sepasang sepatu dan menggantungkannya di dinding
sama saja dengan membuat pertanda buruk?"
Rasheed sendiri tidak meyakini semua ini. Menurut pendapatnya, hanya
perempuanlah yang memusingkan takhayul.
Dia menceritakan kepada Mariam berbagai hal yang dia dengar di jalan, seperti
Presiden Amerika, Richard Nixon, yang mengundurkan diri lantaran terlibat dalam
sebuah skandal. Mariam, yang belum pernah mendengar nama Nixon ataupun skandal
yang memaksa orang itu mengundurkan diri, tidak mengatakan apa-apa. Dia menanti
dengan gelisah akhir cerita Rasheed, ketika pria itu memadamkan rokoknya dan
beranjak pergi. Hanya setelah mendengar Rasheed melintasi koridor, mendengar
pintu terbuka dan tertutup, cengkeraman tangan besi melepaskan perutnya.
Lalu, pada suatu malam, Rasheed memadamkan rokoknya dan, alih-alih mengucapkan
selamat malam, bersandar ke pintu.
"Kapan kau akan membongkarnya?" katanya, menunjuk koper Mariam dengan dagunya.
"Kupikir kau memang butuh waktu. Tapi, ini mengada-ada. Seminggu sudah berlalu dan ....
Yah, kalau begitu, mulai besok pagi, aku berharap kau mulai bersikap seperti
istri. Fahmidi" Kau paham?"
Gigi Mariam mulai bergemeletuk.
"Aku butuh jawaban."
"Ya." "Bagus," sahut Rasheed. "Memangnya, apa yang kaupikirkan" Kaukira tempat ini
hotel" Bahwa aku semacam pemilik hotel" Yah, kau .... Oh. Oh. La Ulah u ilillah.
Apa kataku soal menangis" Mariam. Apa kataku padamu soal menangis?"
Keesokan paginya, setelah Rasheed berangkat bekerja, Mariam membongkar isi
kopernya dan meletakkan pakaiannya di laci. Dia mengambil seember air dari sumur
dan, menggunakan selembar serbet, mengelap jendela-jendela di kamarnya dan di
ruang tamu. Dia menyapu lantai, menyingkirkan sawang yang melekat di sudut-sudut
langit-langit. Dia membuka jendela dan membiarkan udara memasuki rumah.
Dia memasukkan tiga cangkir biji lentil ke dalam panci, mencari pisau, dan
merajang beberapa batang wortel dan dua buah kentang, lalu merebus semuanya. Dia
mencari-cari terigu, menemukannya di bagian belakang salah satu lemari, di balik
sederet stoples bumbu kotor, lalu membuat adonan, mengaliskannya seperti yang
diajarkan oleh Nana, menekan-nekan adonan dengan pangkal telapak tangannya, melipat tepi terluarnya,
membaliknya, dan kembali menekan-nekannya. Setelah menaburi adonan itu dengan
tepung, dia membungkusnya dengan kain lembap, mengenakan jilbab, dan pergi ke
tandoor umum. Rasheed telah memberitahukan letak tandoor umum itu. Dia harus pergi ke jalan,
melangkah ke kiri, lalu mengambil belokan ke kanan. Tetapi, yang harus dilakukan
oleh Mariam hanyalah mengikuti sekelompok wanita dan anak-anak yang sedang
menuju tempat yang sama. Anak-anak yang dilihat Mariam, mengejar-ngejar atau
berlari meninggalkan ibu mereka, mengenakan pakaian yang telah berulang kali
ditambal. Mereka mengenakan celana panjang yang kebesaran atau kekecilan dan
sandal dengan jepitan usang yang berulang kali lepas. Mereka mendorong roda-roda
sepeda tua dengan sebatang ranting.
Ibu-ibu mereka berjalan dalam kelompok tiga atau empat orang, beberapa di
antaranya mengenakan burqa, beberapa yang lain tidak. Mariam dapat mendengar
obrolan bernada tinggi, gelak tawa mereka. Ketika berjalan sambil menundukkan
kepala, Mariam mendengar sekilas pembicaraan mereka, yang sepertinya selalu
berkaitan dengan anak-anak yang sakit atau suami malas yang menyebalkan.
Mereka pikir makanan matang dengan sendirinya.
Wallah u billah, tak bisa beristirahat barang
sejenak.' Dan dia berkata padaku, aku bersumpah, ini benar, dia mengatakan kepadaku ....
Percakapan tanpa akhir ini, menyedihkan namun diucapkan dengan nada ceria, terus
berputar-putar. Terus berlanjut, di sepanjang jalan, mengambil belokan,
mengantre di depan tandoor. Para suami yang berjudi. Para suami yang memanjakan
ibu mereka namun tak sudi membelanjakan uangnya untuk istri-istri mereka. Mariam
bertanya-tanya, mengapa begitu banyak wanita dapat tertimpa kemalangan yang
sama, menikah, semuanya, dengan pria-pria jahat. Atau, apakah semua ini adalah
permainan istri yang tidak dia ketahui, rutinitas sehari-hari, seperti menanak
nasi atau menguleni adonan" Apakah mereka mengharapkan dirinya untuk segera
bergabung" Di antrean tandoor, Mariam menangkap pandangan ditujukan kepadanya, mendengar
kasak-kusuk. Tangannya mulai berkeringat. Dia membayangkan mereka semua tahu
bahwa dia dilahirkan sebagai seorang harami, sumber aib bagi ayah dan
keluarganya. Mereka tahu bahwa dia telah mengkhianati ibunya dan menurunkan
martabatnya sendiri. Menggunakan sudut jilbabnya, Mariam mengelap keringat di atas bibirnya dan
berusaha menenangkan diri.
Selama beberapa menit, segalanya berjalan lancar.
Lalu, seseorang menepuk bahunya. Mariam
berpaling dan mendapati seorang wanita gemuk berkulit terang, mengenakan jilbab
longgar seperti dirinya. Wanita itu berambut hitam dan kaku, dan memiliki wajah
bulat yang tampak ramah. Bibirnya jauh lebih penuh daripada bibir Mariam, bagian
bawahnya dower, seolah-olah ditarik oleh tahi lalat besar yang berada tepat di
bawah garis bibirnya. Dia memiliki mata hijau yang berkilauan ketika menatap
Mariam. "Kau istri baru Rasheed jan, bukan?" kata wanita itu seraya tersenyum lebar.
"Yang dari Herat. Kau masih muda sekali! Mariam jan, benar" Namaku Fariba. Aku
tinggal di jalan yang sama denganmu, lima rumah di sebelah kiri, yang berpintu
hijau. Ini anakku, Noor."
Anak laki-laki di samping Fariba berwajah mulus dan ceria, dan berambut kaku
seperti ibunya. Rambut-rambut hitam mencuat dari daun telinga kirinya. Matanya
memiliki sirat jahil dan ceroboh. Anak itu mengangkat tangannya. "Sataam, Khala
jan." "Noor baru sepuluh tahun. Kakaknya, Ahmad-"
"Dia tiga belas tahun," sahut Noor.
"Tiga belas tahun tapi kelakuannya empat puluh tahun," Fariba tergelak. "Nama
suamiku Hakim," katanya. "Dia guru di Deh-Mazang ini. Kau sebaiknya mampir ke
rumah kami kapan-kapan, kita akan menikmati secangkir-"
Lalu, tiba-tiba, seolah-olah tertular oleh semangat Fariba, para wanita lain
mengerumuni Mariam, dengan kecepatan luar biasa melingkupinya
dalam lingkaran. "Jadi, kau istri muda Rasheed jan-" "Apa kau menyukai Kabul?"
"Aku pernah ke Herat. Aku punya sepupu di sana."
"Kau ingin punya anak pertama laki-laki atau perempuan?"
"Kubah-kubahnya! Oh, cantik sekali! Kota yang indah!"
"Lebih baik anak laki-laki, Mariam jan, mereka bisa melanjutkan nama keluarga."
"Bah! Anak laki-laki akan menikah dan pergi. Anak perempuan tetap tinggal dan
merawatmu kalau kau tua nanti."
"Kami sudah mendengar tentang kedatanganmu."
"Anak kembar saja! Laki-laki dan perempuan. Semua orang pasti senang."
Mariam mundur. Dia merasa sesak napas. Telinganya berdengung, detak jantungnya
mengencang, tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya. Dia semakin
mundur namun tak bisa pergi ke mana pun dia berada di tengah kerumunan. Dia ?melihat Fariba, yang mengerutkan kening, melihat bahwa dirinya kebingungan.
"Tinggalkanlah dia!" seru Fariba. "Minggir, tinggalkan dia! Kalian membuat dia
ketakutan!" Mariam mengepit adonannya di dada dan mendesak orang-orang yang mengerubutinya.
"Kau mau ke mana, hamshira?"
Mariam terus mendesak hingga terbebas sebelum berlari ke jalan. Dia berlari
hingga tiba di persimpangan dan menyadari bahwa dia telah mengambil jalan yang salah. Dia
berputar dan berlari ke arah lain, menunduk, jatuh tersandung hingga kakinya
terluka, lalu kembali bangkit dan berlari, nyaris menabrak sekelompok wanita.
"Kenapa kau ini?"
"Kakimu berdarah, hamshira1."
Mariam berbelok di satu tikungan, lalu di tikungan lainnya. Dia menemukan jalan
yang dicari, namun tiba-tiba tidak bisa mengingat yang mana rumah Rasheed. Dia
berlari menyusuri jalan, terengah-engah, tangisnya nyaris pecah, kemudian mulai
mencoba membuka semua pintu. Beberapa pintu gerbang terkunci, beberapa yang lain
terbuka dan menunjukkan halaman-halaman asing, anjing-anjing yang menyalak,
serta ayam-ayam yang terpekik kaget. Mariam membayangkan Rasheed tiba ketika dia
masih mencari-cari rumahnya, dengan lutut terluka, tersesat di jalannya sendiri.
Sekarang, air matanya benar-benar telah mengalir. Dia mendorong pintu-pintu,
menggumamkan doa dengan panik, wajahnya basah oleh air mata, hingga akhirnya
sebuah pintu terbuka, dan dia melihat, dengan penuh kelegaan, bangunan tambahan,


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sumur, dan rak perkakas. Dia membanting pintu di belakangnya dan memasang
gembok. Lalu, dia jatuh terduduk, di dekat tembok, muntah. Setelah mengeluarkan
isi perutnya, dia merangkak dan duduk bersandar ke dinding, kakinya berselonjor.
Dia belum pernah merasa sekesepian ini seumur hidupnya.
V Waktu pulang malam itu, Rasheed membawa sebuah kantung kertas cokelat. Mariam
kecewa karena Rasheed tidak mengomentari jendela-jendela yang bersih, lantai
yang tersapu, sawang yang menghilang dari langit-langit. Tetapi, Rasheed tampak
senang karena Mariam telah menata peralatan makan di atas sehelai sofrah bersih
yang dibentangkan di lantai ruang tamu.
"Aku membuat daaf," kata Mariam.
"Bagus. Aku kelaparan."
Mariam menuangkan air cuci tangan untuk Rasheed dari aftawa. Ketika Rasheed
sedang mengeringkan tangannya menggunakan handuk, Mariam menempatkan semangkuk
daa/ panas dan nasi putih yang masih mengepul-ngepul di piring suaminya. Ini
adalah makanan pertama yang pernah dibuat untuk Rasheed, dan dia berharap berada
dalam keadaan yang lebih baik ketika memasak. Sembari memasak, Mariam masih
gemetar jika teringat akan kejadian di tandoor, dan sepanjang hari dia
memusingkan kekentalan daa/ hasil masakannya, warnanya, khawatir telah
memasukkan terlalu banyak jahe atau lupa memasukkan lengkuas.
Rasheed mencelupkan sendoknya ke daa/ yang berwarna keemasan.
Mariam bergerak-gerak di kursinya. Bagaimana jika Rasheed kecewa atau marah"
Bagaimana jika dia mendorong piringnya karena tidak menyukai hidangan itu"
"Hati-hati," Mariam berhasil mengucapkan.
"Masih panas." Rasheed memonyongkan bibir dan meniup-niup, lalu menyuapkan makanan itu ke dalam
mulutnya. "Lumayan," katanya. "Sedikit kurang garam, tapi lumayan. Mungkin bahkan lebih
dari sekadar lumayan."
Merasa lega, Mariam menatap Rasheed ketika dia makan. Kobaran rasa bangga
membuatnya mengurangi kewaspadaan. Dia telah bekerja dengan ba\k-mungkin bahkan
lebih dari sekadar iumayan-dan efek pujian kecil ini sangat mengejutkannya.
Sedikit demi sedikit, Mariam mulai melupakan harinya yang menyedihkan.
"Besok hari Jumat," kata Rasheed. "Bagaimana kalau aku mengajakmu melihat-
lihat?" "Melihat-lihat Kabul?"
"Bukan. Kalkuta."
Mariam mengedipkan matanya, kebingungan.
"Aku cuma bercanda. Tentu saja Kabul. Ke mana lagi?" Rasheed mengulurkan tangan
ke dalam kantung cokelat yang dia bawa. "Tapi, pertama-tama, ada sesuatu yang
harus kukatakan kepadamu." Dia mengeluarkan sebuah burqa biru muda dari kantung
itu. Gumpalan kain berlipit jatuh menimpa lutut Rasheed ketika dia mengangkat
pakaian itu. Dia meletakkan burqa dan menatap Mariam.
"Aku punya banyak pelanggan, Mariam, laki-laki, yang membawa istri mereka ke
toko. Para wanita itu tidak berjilbab. Mereka berbicara langsung kepadaku, tanpa
malu-malu menatap mataku.
Mereka berdandan dan memakai rok yang memamerkan lutut. Kadang-kadang, mereka
bahkan menyodorkan kaki ke depanku, para wanita itu, menyuruhku mengukurnya,
sementara suami mereka berdiri saja dan menonton. Membiarkannya. Para pria itu
tidak berpikiran apa-apa ketika melihat orang asing menyentuh kaki telanjang
istri mereka! Kupikir, menurut mereka, seperti itulah seharusnya sikap laki-laki
modern, pintar, berpendidikan. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah menginjak-
injak nang dan namoos, kehormatan dan kebanggaan mereka, dengan kaki mereka
sendiri." Rasheed menggeleng.
"Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah elite Kabul. Aku akan membawamu
ke sana. Kau lihat saja sendiri. Tetapi, mereka juga ada di sini, Mariam, di
lingkungan kita ini, pria-pria lemah itu. Ada seorang guru yang tinggal beberapa
rumah dari sini, namanya Hakim, dan aku melihat istrinya Fariba berjalan-jalan
sendirian di jalanan tanpa apa pun di kepalanya kecuali selembar kerudung
longgar. Itu membuatku malu, sejujurnya, melihat laki-laki yang tak mampu
mengendalikan istrinya."
Dia menatap Mariam tajam.
"Tetapi, aku jenis pria yang berbeda, Mariam. Di tempat asalku, salah pandang,
salah kata, bisa menumpahkan darah. Di tempat asalku, wajah perempuan hanya
boleh dilihat oleh suaminya. Aku ingin kau mengingatnya. Paham?"
Mariam mengangguk. Dia mengulurkan tangan untuk menerima kantung kertas yang
disodorkan oleh Rasheed. Kesenangan yang dirasakan akibat pujian Rasheed pada masakannya melayang sudah.
Sebagai gantinya, dia merasa menciut. Pria ini menjulang di hadapan Mariam,
sekokoh dan sekuat pegunungan Safid-koh yang menaungi Gul Daman.
Rasheed menyerahkan kantung kertas itu. "Ini berarti kita telah saling memahami.
Sekarang, tambahkanlah lagi daa/ ke piringku."[]
BAB 11 Mariam belum pernah mengenakan burqa. Rasheed harus menolongnya. Kerudung yang
berlapis tebal terasa ketat dan berat di atas tempurung kepalanya, dan sangat
aneh rasanya melihat dunia dari balik lubang-lubang kasa. Dia berlatih berjalan
di sekeliling ruangan dan senantiasa tersandung atau menginjak ujung burqa.
Keterbatasan pandangan membuat Mariam kesal, dan dia tidak menyukai kesulitannya
bernapas akibat lipitan kain terus-menerus menekan mulutnya.
"Kau akan terbiasa," kata Rasheed. "Seiring waktu, aku yakin kau bahkan akan
menyukainya." Mereka menumpang bus ke sebuah tempat yang disebut oleh Rasheed sebagai Taman
Shar-e-Nau, tempat anak-anak bergantian mendorong ayunan dan melemparkan bola
voli melewati net yang diikatkan ke batang-batang pohon. Mereka berjalan-jalan
dan menyaksikan anak-anak laki-laki menerbangkan layang-layang, Mariam berjalan
di samping Rasheed, berulang kali tersandung pinggiran burqa-r\ya sendiri. Untuk
makan siang, Rasheed membawa Mariam ke sebuah kedai kebab
kecil di dekat masjid bernama Haji Yaghoub. Lantai tempat itu lengket, dan
udaranya penuh asap. Aroma daging mentah secara samar-samar tercium di dinding-
dindingnya, dan musik yang dimainkan, yang disebut Rasheed sebagai /ogari,
terdengar membahana. Para koki di sana adalah pemuda-pemuda kurus yang memutar
tusukan daging dengan satu tangan dan mengiris daging dengan tangan yang lain.
Mariam, yang belum pernah memasuki sebuah restoran pun, awalnya merasa aneh
ketika duduk di dalam ruangan yang dijejali orang asing, juga ketika harus
mengangkat bagian bawah penutup wajahnya untuk menyuapkan potongan makanan ke
mulut. Dia merasakan perutnya bergejolak, seperti pada hari tandoor, namun
kehadiran Rasheed memberikan kenyamanan, dan, setelah sesaat, dia tidak
keberatan lagi dengan entakan musik, asap, bahkan orang-orangnya. Dan burqa yang
dikenakan, dia terkejut ketika menyadarinya, juga membuatnya nyaman. Pakaian ini
sama saja dengan jendela searah. Di dalamnya, dia menjadi pengamat, terhalang
dari tatapan curiga orang-orang asing. Dia tidak lagi perlu mengkhawatirkan
bahwa hanya dengan sekali pandang, orang-orang akan mengetahui rahasia memalukan
masa lalunya. Di jalanan, Rasheed menyebutkan nama berbagai bangunan penting; ini Kedutaan
Besar Amerika, katanya, itu Departemen Luar Negeri. Dia menunjuk-nunjuk berbagai
mobil, menyebutkan nama dan asal negaranya: Volga dari Soviet,
Chevrolet dari Amerika, Opel dari Jerman.
"Yang mana kesukaanmu?" tanya Rasheed.
Setelah ragu-ragu sejenak, Mariam menunjuk Volga, dan Rasheed tergelak.
Kabul jauh lebih ramai daripada sebagian kecil tempat yang telah dilihat oleh
Mariam di Herat. Ada lebih sedikit pohon dan gari yang ditarik kuda, namun lebih
banyak mobil, gedung yang menjulang tinggi, lampu lalu lintas, dan jalan
berlapis batu. Dan, di mana-mana, Mariam mendengar dialek khas kota itu:
"Sayang" diucapkan dengan kata jan dan bukan jo, "saudari" menjadi hamshira dan
bukan hamshireh, dan masih banyak lagi.
Dari seorang pedagang kaki lima, Rasheed membelikan es krim untuk Mariam. Inilah
pertama kalinya Mariam merasakan es krim, dan dia tidak pernah membayangkan
sensasi yang terjadi di langit-langit mulutnya. Dia menghabiskan seluruh isi
mangkuknya, dari pistachio cincang di atasnya, hingga bola-bola tepung beras
kecil di dasar mangkuknya. Dia menikmati teksturnya yang lembut dan rasa
manisnya. Mereka berjalan ke sebuah tempat bernama Kocheh-Morgha, atau Jalan Ayam, sebuah
pasar sempit dan penuh sesak yang, kata Rasheed, berada di lingkungan terkaya
Kabul. "Di sekitar sinilah terdapat rumah-rumah para diplomat luar negeri, pengusaha
kaya, anggota keluarga kerajaan orang-orang semacam itu. Tidak seperti kau dan ?aku."
"Aku tidak melihat ayamnya," kata Mariam.
"Itulah satu-satunya hal yang tak akan kautemukan di Jalan Ayam," Rasheed
tertawa. Berbagai toko dan kios yang menjual topi kulit domba dan chapan warna-warni
berderet di jalan itu. Rasheed berhenti untuk melihat-lihat sebuah belati perak
berukir di salah satu toko, dan, di toko lain, sebuah senapan tua yang digembar-
gemborkan oleh penjualnya sebagai relik dari perang pertama melawan Inggris.
"Kalau begitu, berarti aku Moshe Dayan," gumam Rasheed. Dia setengah tersenyum,
dan Mariam merasa senyuman itu hanya ditujukan untuknya. Senyuman pribadi
seorang suami. Mereka berjalan melewati toko permadani, toko kerajinan tangan, toko kue, toko
bunga, dan toko yang menjual setelan untuk pria dan gaun untuk wanita, dan, di
dalam semua toko itu, di balik tirai-tirai renda, Mariam melihat gadis-gadis
muda memasang kancing atau menyetrika kerah baju. Setiap kali, Rasheed menyapa
pemilik toko yang dikenalnya, kadang-kadan dalam bahasa Farsi, kadang-kadang
dalam bahasa Pashto. Ketika mereka saling menjabat tangan dan mencium pipi,
Mariam mundur beberapa langkah. Rasheed tidak menyuruhnya mendekat, tidak pula
memperkenalkannya. Rasheed menyuruh Mariam menunggu di luar toko bordir. "Aku kenal pemiliknya,"
katanya. "Aku hanya akan masuk sebentar, mengucapkan salam." Mariam menunggu di
luar, di trotoar yang ramai. Dia menyaksikan mobil-mobil merayap di Jalan Ayam,
menembus kerumunan pedagang asongan dan pejalan kaki, mengklakson anak-anak dan
keledai-keledai yang tak kunjung bergerak. Dia menyaksikan para pedagang
berwajah bosan di dalam kios-kios mungil mereka, merokok atau meludah ke
peludahan kuningan, wajah mereka timbul dan tenggelam di dalam bayangan untuk
menawarkan kain dan poostin berkerah bulu kepada orang-orang yang lewat.
Tetapi, para wanitalah yang lebih menarik perhatian Mariam.
Para wanita di bagian Kabul ini berbeda dengan para wanita yang ada di
lingkungan yang lebih miskin seperti di lingkungannya dan Rasheed, tempat
?begitu banyak wanita mengenakan penutup tubuh lengkap. Para wanita ini benarkah
?kata ini yang digunakan Rasheed"-"modern". Ya, wanita Afghan modern yang menikah
dengan pria Afghan modern yang tidak keberatan jika istrinya melenggang dengan
riasan wajah dan tanpa penutup kepala di antara orang-orang asing. Mariam
melihat para wanita itu lalu lalang dengan santai di jalan, kadang-kadang
bersama seorang pria, kadang-kadang sendirian, kadang-kadang dengan anak-anak
berpipi merona yang mengenakan sepatu mengilap dan jam tangan bertali kulit,
yang mendorong sepeda bersadel tinggi dan bercat emas, tidak seperti anak-anak
di Deh-Mazang, yang memiliki bekas luka di pipi dan menggelindingkan roda sepeda
bekas dengan ranting pohon.
Semua wanita ini menenteng tas tangan dan mengenakan rok berbahan melambai.
Mariam bahkan melihat seorang wanita merokok di balik kemudi mobil. Kuku-kuku
mereka panjang, bercat merah jambu atau oranye, dan bibir mereka bergincu
semerah bunga tulip. Mereka berjalan dengan sepatu bertumit tinggi, dan dengan
cepat, seolah-olah sedang dikejar-kejar urusan penting. Mereka mengenakan
kacamata hitam, dan, ketika mereka melintas, Mariam dapat mencium kilasan aroma
parfum. Mariam membayangkan semua wanita itu lulusan universitas, bekerja di
kantor, memiliki meja sendiri, mengetik, merokok, dan menelepon orang-orang
penting. Para wanita ini membuat Mariam terpesona. Mereka membuat Mariam
menyadari keluguannya, penampilan polosnya, kerendahan ambisinya,
ketidaktahuannya akan banyak hal.
Tiba-tiba, Rasheed menepuk bahunya dan menyodorkan sesuatu kepadanya.
"Ini." Mariam menerima sebuah syal sutra merah marun bersulam benang emas dengan manik-
manik terpasang di rumbai-rumbainya.
"Kau suka?" Mariam mengangkat wajahnya. Rasheed baru saja melakukan tindakan menyentuh. Dia
berkedip kepada Mariam sebelum mengalihkan tatapan.
Mariam memikirkan Jalil, pada kasih sayang yang ditunjukkannya ketika
menyerahkan perhiasan untuk Mariam, pada keceriaan yang tidak memberikan
ruangan kecuali untuk mengucapkan terima kasih. Pendapat Nana tentang hadiah-
hadiah Jalil ternyata benar. Semua itu hanyalah tebusan bagi dosanya, hadiah
berpamrih yang lebih berarti bagi Jalil daripada bagi Mariam. Syal ini, Mariam
tahu, adalah sebuah hadiah yang diberikan tanpa pamrih. "Cantik sekali," kata
Mariam. Malam itu, Rasheed kembali mengunjungi kamar Mariam. Tetapi, alih-alih merokok
di ambang pintu, dia berjalan melintasi kamar dan duduk di samping Mariam yang
berbaring di ranjang. Per kasur berkeriut ketika bagian ranjang yang diduduki
Rasheed melesak. Kecanggungan terasa di udara, lalu tiba-tiba tangan Rasheed
telah berada di leher Mariam, jari-jarinya yang besar perlahan-lahan meraba
tengkuk Mariam. Ibu jarinya menyelinap ke balik baju Mariam, dan sekarang dia
membelai lekukan di atas tulang selangka Mariam, lalu bagian di bawahnya. Mariam
mulai gemetar. Tangan Rasheed semakin ke bawah, turun, kuku-kukunya menyentuh
blus Mariam. "Aku tak bisa," ujar Mariam parau, menatap bagian samping wajah Rasheed yang
diterangi cahaya bulan, semburat kelabu rambutnya yang menyembul dari atas kerah
bajunya. Sekarang, tangan Rasheed berada di payudara kanannya, meremasnya keras-keras
dari luar blusnya, dan Mariam dapat mendengar deru napas
yang memburu dari hidungnya.
Rasheed menyelinap ke balik selimut di sisinya. Mariam dapat merasakan tangan
Rasheed bekerja membuka ikat pinggang, menarik ritsleting celananya. Rasheed
berguling ke arahnya, merapatkan tubuh, dan Mariam merintih. Mariam memejamkan
mata, mengatupkan gigi. Rasa nyeri tiba-tiba menyengat Mariam. Matanya sontak terbuka. Dia menghirup
udara dari sela-sela giginya dan menggigit ibu jarinya. Dia mengalungkan
tangannya yang bebas ke punggung Rasheed dan menancapkan jemarinya di sana.
Rasheed membenamkan wajah ke bantal, dan mata Mariam membelalak menatap langit-
langit di atas bahu Rasheed, tubuhnya gemetar, bibirnya terkatup, merasakan
panas deru napas Rasheed di bahunya sendiri. Udara di antara mereka berbau
tembakau, bawang, dan daging domba bakar yang sebelumnya mereka santap. Berulang
kali, telinga Rasheed menggesek pipi Mariam, dan Mariam tahu dari kekasaran dagu
Rasheed bahwa dia telah mencukur janggutnya.
Sesudahnya, Rasheed berguling menjauhi Mariam, terengah-engah. Dia mengusap
kening dengan lengannya. Dalam kegelapan, Mariam dapat melihat jarum-jarum
penunjuk biru di jam tangan Rasheed. Mereka berbaring diam selama beberapa saat,
telentang, tanpa saling memandang.
"Tak perlu malu, Mariam," kata Rasheed, dengan nada sedikit menggoda. "Inilah
yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah. Inilah yang
dilakukan oleh sang Nabi bersama istri-istrinya. Tak perlu malu."
Sejenak kemudian, Rasheed menyibakkan selimut dan meninggalkan kamar, menyisakan
bagi Mariam kesan kepalanya di bantal. Mariam menantikan rasa nyeri di bagian
bawahnya mereda, menatap langit dan gumpalan awan yang menyelubungi bulan
bagaikan kerudung pernikahan.[]
BAB 12 Pada tahun 1974 itu, bulan Ramadhan tiba bertepatan dengan datangnya musim
gugur. Untuk pertama kali dalam kehidupannya, Mariam melihat bagaimana
penampakan bulan sabit dapat mengubah keseluruhan kota, memperbarui irama dan
nuansanya. Mariam memerhatikan bahwa kesunyian tiba-tiba meliputi Kabul. Arus
lalu lintas menjadi lambat, jarang, bahkan jauh dari keributan. Toko-toko tampak
kosong. Restoran-restoran memadamkan lampu, menutup pintu. Mariam tidak melihat
adanya perokok di jalanan, juga cangkir teh yang mengepul di birai jendela. Dan,
pada saat iftar, ketika matahari tenggelam di ufuk barat dan meriam ditembakkan
dari Gunung Shir Darwaza, seluruh penjuru kota pun berbuka, begitu pula Mariam,
dengan sekerat roti dan sebutir kurma, untuk pertama kalinya dalam lima belas
tahun merasakan manisnya berbagi pengalaman bersama.
Kecuali selama beberapa hari, Rasheed tidak berpuasa. Jika berpuasa, dia akan
pulang ke rumah dengan kesal. Rasa lapar membuatnya menjadi mudah marah,
menjengkelkan, dan kurang sabar.
Pada suatu malam, Mariam beberapa menit terlambat menyiapkan makan malam, dan
Rasheed mulai menyantap roti dengan radish. Bahkan setelah Mariam menghidangkan
nasi serta qurma domba dan okra di hadapannya, dia tidak mau menyentuhnya. Dia
tidak berkata-kata dan terus mengunyah rotinya, keningnya berkerut, urat-urat di
keningnya berdenyut-denyut tanda marah. Dia terus mengunyah dan menatap lurus ke


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

depan, dan ketika Mariam berbicara kepadanya, Rasheed menatapnya tanpa melihat
ke wajahnya, lalu kembali menjejali mulutnya dengan roti.
Mariam merasa lega ketika Ramadhan berakhir.
Di kolba, pada hari pertama dari tiga hari perayaan Idul Fitri setelah Ramadhan,
Jalil akan mengunjungi Mariam dan Nana. Mengenakan setelan dan dasi, dia datang
membawa hadiah-hadiah Idul Fitri. Pada suatu ketika, dia pernah memberi Mariam
sebuah kerudung wol. Mereka bertiga akan duduk menghirup teh, lalu Jalil pun
meminta permisi. "Dia akan merayakan Idul Fitri dengan keluarganya yang sebenarnya," kata Nana
ketika menyaksikan Jalil menyeberangi sungai sambil melambaikan tangan.
Mullah Faizullah juga akan datang. Untuk Mariam, dia akan membawakan permen
cokelat yang terbungkus kertas timah, sekeranjang telur rebus berwarna-warni,
dan kue-kue. Setelah dia pergi, Mariam akan memanjat salah satu pohon wiiiow
sambil membawa hadiah-hadiahnya. Duduk di cabang pohon yang tinggi, dia akan
menyantap cokelat dari Mullah Faizullah dan menjatuhkan kertas timah pembungkusnya hingga
berserakan di rumpun daun di bawahnya bagaikan bunga-bunga perak. Ketika cokelat
telah habis dimakan, Mariam akan menyantap kue-kuenya, dan, dengan sebuah
pensil, dia akan menggambar wajah di butiran telur yang dia bawa. Tetapi, semua
itu hanya memberikan sedikit kesenangan. Mariam membenci perayaan Idul Fitri,
seluruh upacara dan keceriaannya, ketika keluarga-keluarga lain berdandan dengan
pakaian terbagus mereka dan saling berkunjung. Dia akan membayangkan udara di
Herat digantungi keriaan, dan orang-orang, dengan semangat tinggi dan mata
berbinar-binar, saling memberikan hadiah dan doa. Kesepian akan menggelayutinya
bagaikan kelambu, dan baru terangkat ketika Idul Fitri berakhir. Tahun ini,
untuk pertama kalinya, Mariam melihat dengan mata kepalanya sendiri Idul Fitri
yang ada dalam khayalan kanak-kanaknya.
Mariam dan Rasheed turun ke jalan. Mariam belum pernah berjalan-jalan dalam
suasana seramai ini. Tanpa memedulikan dinginnya udara, keluarga-keluarga
membanjiri jalanan kota untuk mengunjungi kerabat-kerabat mereka. Di jalan
mereka sendiri, Mariam melihat Fariba dan putranya, Noor, yang mengenakan
setelan. Fariba, mengenakan kerudung putih, berjalan di samping pria kecil
berkacamata yang tampak pemalu. Putra tertuanya juga ada Mariam samar-samar ?mengingat Fariba menyebutkan nama anak itu, Ahmad, ketika dia
pertama kali ke tandoor. Anak itu memiliki sepasang mata yang dalam dan teduh,
dan wajahnya pun lebih bijaksana, lebih khidmat jika dibandingkan dengan wajah
adiknya. Wajah Ahmad menunjukkan kedewasaan dini, sedangkan wajah Noor
menunjukkan keawetmudaan. Sebuah kalung berbandul ALLAH melingkari leher Ahmad.
Fariba tentunya mengenali Mariam, yang berjalan dalam balutan burqa di sisi
Rasheed. Wanita itu melambai dan berseru, "Eid mubarak1."
Dari balik burqa, Mariam memberikan anggukan tanpa terlihat.
"Jadi, kau kenal perempuan itu, istri guru itu?" tanya Rasheed.
Mariam mengatakan tidak. "Lebih baik kau menjauh darinya. Dia suka bergunjing, perempuan satu itu. Dan
suaminya menganggap dirinya orang pintar yang terpelajar. Tapi, sebenarnya dia
sama saja dengan tikus. Lihat saja dia. Benar, bukan, dia memang mirip tikus?"
Mereka pergi ke Shar-e-Nau, tempat anak-anak berlarian dalam balutan baju baru
dan rompi-rompi berpayet warna-warni, saling membandingkan hadiah yang mereka
terima. Para wanita mengedarkan piring-piring berisi gula-gula. Mariam melihat
lentera-lentera hias menggantung di etalase-etalase toko, sementara musik
membahana dari pengeras suara. Orang-orang asing saling menyerukan "Eid mubarak"
ketika berpapasan. Malam itu mereka pergi ke Chaman, dan, berdiri di belakang Rasheed, Mariam
melihat kembang api menghiasi langit malam dalam balutan warna hijau, merah jambu, dan kuning. Dia
ingin duduk bersama Mullah Faizullah di luar koiba, menonton kembang api yang
meledak di Herat, ledakan warna-warni yang menerangi wajah lembut dan mata
berpenyakit katarak gurunya. Tetapi, terutama, Mariam merindukan Nana. Mariam
berharap ibunya masih hidup supaya bisa melihat semua ini. Supaya bisa melihat
dirinya, di antara semuanya. Supaya bisa melihat bahwa pada akhirnya, kehidupan
yang nyaman dan kecantikan bukanlah hal yang tidak terjangkau. Bahkan bagi
mereka. A Para tamu mendatangi rumah mereka. Semuanya pria, kawan-kawan Rasheed. Ketika
ketukan terdengar di pintu, Mariam dengan tahu diri segera pergi ke kamarnya di
atas dan menutup pintu. Dia berdiam di sana sementara Rasheed dan para tamunya
di bawah, minum teh, merokok, mengobrol. Rasheed memberi tahu Mariam bahwa dia
tidak boleh turun hingga semua tamu pergi.
Mariam tidak keberatan. Sejujurnya, dia justru tersanjung. Rasheed melihat
kesakralan dalam hubungan mereka. Bagi Rasheed, kehormatan Mariam, namoos-nya,
adalah sesuatu yang layak dijaga. Sikap protektif Rasheed membuat Mariam merasa
dihargai. Istimewa dan penting.
Pada hari ketiga dan terakhir perayaan Idul Fitri, Rasheed pergi untuk
mengunjungi beberapa orang
temannya. Mariam, yang merasa sakit perut semalaman, mendidihkan air dan
menyeduh secangkir teh hijau yang ditaburi serbuk kardamunggu. Di ruang tamu,
dia membereskan kekacauan sisa kunjungan Idul Fitri malam sebelumnya: cangkir-
cangkir yang berserakan di meja, kulit biji-biji kuaci yang terselip di sela-
sela bantal duduk, piring-piring dengan sisa makanan semalam. Mariam
membersihkan semuanya sembari memikirkan betapa ganasnya para pria pemalas itu.
Dia tidak bermaksud memasuki kamar Rasheed. Tetapi, kegiatan bersih-bersihnya
membawa dirinya dari ruang tamu ke tangga, lalu ke koridor di atas, hingga
akhirnya tiba di pintu kamar Rasheed, dan, selanjutnya, dia telah memasuki kamar
itu untuk pertama kalinya, duduk di ranjangnya, merasa menjadi seorang penyusup.
Dia menyentuh tirai hijau yang berat, berpasang-pasang sepatu mengilap yang
dijajarkan dengan rapi di dekat dinding, pintu lemari dengan cat kelabu yang
telah terkelupas di sana-sini dan menunjukkan kayu di bawahnya. Mariam melihat
sebungkus rokok di atas bufet samping ranjang. Dia menyelipkan sebatang di
mulutnya dan berdiri di depan cermin oval kecil yang tergantung di dinding. Dia
berpura-pura mengepulkan asap di cermin dan menjentikkan rokoknya. Dia
mengembalikan kembali rokok itu ke dalam bungkusnya. Dia tidak akan pernah bisa
mewujudkan keanggunan dalam cara merokok wanita-wanita Kabul. Dia hanya tampak
konyol dan kampungan. Meskipun merasa bersalah, Mariam membuka laci teratas bufet.
Pertama-tama, dia melihat sebuah pistol. Hitam, dengan gagang kayu dan moncong
pendek. Mariam mengingat-ingat ke mana moncong pistol itu menghadap sebelum
mengangkatnya. Jauh lebih berat daripada kelihatannya. Gagangnya terasa halus di
tangannya, dan moncongnya terasa dingin. Mengetahui bahwa Rasheed memiliki
senjata pembunuh seperti ini membuat Mariam cemas. Tetapi, dia meyakinkan diri,
tentunya Rasheed menyimpan pistol itu untuk alasan keamanan. Keamanan Mariam.
Di bawah pistol itu terdapat setumpuk majalah dengan sudut-sudut kumal. Mariam
membuka salah satunya. Gambar di dalamnya membuatnya kaget. Tanpa disadarinya,
mulutnya ternganga. Di setiap halamannya, dia melihat wanita, semuanya cantik, tanpa busana, tanpa
celana, tanpa kaus kaki maupun pakaian dalam. Tanpa sehelai benang pun. Mereka
berbaring di ranjang, di atas seprai kumal, dan menatap Mariam dengan mata
setengah terpejam. Dalam sebagian besar gambar, kaki mereka terkangkang lebar,
dan Mariam dapat melihat dengan jelas kegelapan yang ada di sela-selanya. Dalam
beberapa gambar, para wanita itu menungging, seolah-olah dia memohon ampun ?kepada Tuhan karena berpikir seperti ini bersujud memohon ampun. Mereka
?berpaling, menatap dari balik bahu dengan ekspresi wajah bosan.
Mariam cepat-cepat meletakkan kembali majalah
yang dipegangnya. Dia merasa pusing. Siapakah wanita-wanita ini" Bagaimana
mungkin mereka mau difoto seperti itu" Perutnya bergejolak mual. Apakah ini yang
dilakukan oleh Rasheed pada malam-malam ketika dia tidak mengunjungi kamarnya" Apakah Rasheed menganggap Mariam tidak mampu
memuaskan hasratnya" Lalu, bagaimana pula dengan seluruh pembicaraan tentang
kehormatan dan kesopanan, ketidaksetujuannya pada pelanggan perempuan, padahal
mereka hanya menunjukkan kakinya untuk diukur" Wajah seorang wanita, katanya,
hanya boieh dilihat oieh suaminya. Tentunya para wanita di majalah ini memiliki
suami, setidaknya sebagian dari mereka. Setidaknya, mereka pasti memiliki
saudara laki-laki. Jika benar begitu, mengapa Rasheed bersikeras supaya Mariam
menutupi seluruh tubuhnya, sementara dia sendiri tidak keberatan menatap aurat
istri-istri dan saudara-saudara perempuan pria lain"
Mariam duduk di ranjang Rasheed, malu dan kebingungan. Dia membenamkan wajahnya
di kedua telapak tangan dan memejamkan mata. Dia bernapas dalam-dalam hingga
akhirnya merasa lebih tenang.
Perlahan-lahan, sebuah penjelasan hadir di benaknya. Bagaimanapun, Rasheed
adalah seorang pria yang tinggal sendirian selama bertahun-tahun sebelum
kehadiran Mariam. Dia memiliki kebutuhan yang berbeda dengan Mariam. Bagi
Mariam, setelah berbulan-bulan berlalu, dia masih berlatih untuk
mengabaikan rasa sakit ketika mereka berhubungan. Rasheed sendiri, di sisi lain,
adalah pria yang garang, kadang-kadang bahkan kasar. Caranya menindih Mariam,
meremas dadanya, mengentakkan pinggulnya. Rasheed adalah seorang pria. Selama
bertahun-tahun, dia hidup tanpa wanita. Layakkah jika Mariam menyalahkannya,
sedangkan Tuhan memang menciptakannya sebegitu rupa"
Mariam tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa membicarakan hal ini dengan
Rasheed. Masalah ini tidak akan dibicarakan. Tetapi, bisakah dia memaafkan
Rasheed" Yang harus dilakukan oleh Mariam hanyalah memikirkan pria lain dalam
kehidupannya. Jalil, seorang suami dari tiga istri dan ayah dari sembilan anak
ketika itu, berhubungan dengan Nana tanpa ikatan pernikahan. Yang manakah yang
lebih buruk, majalah Rasheed atau tingkah laku Jalil" Dan, tahu apa dirinya,
seorang wanita kampung, seorang harami, untuk seenaknya menilai orang lain"
Mariam membuka laci terbawah.
Di situlah dia menemukan selembar foto hitam putih anak laki-laki itu, Yunus.
Sepertinya dia baru berumur empat tahun, mungkin lima. Dia mengenakan kemeja
bergaris-garis dan dasi kupu-kupu. Anak itu tampan, dengan hidung mancung,
rambut cokelat, dan mata gelap yang dalam. Dia memandang ke arah lain, seolah-
olah sesuatu menarik perhatiannya ketika kamera menyala. Di bawah foto Yunus,
Mariam menemukan foto lain, juga hitam putih dan gambarnya lebih
suram. Foto itu menunjukkan gambar seorang wanita yang duduk dan, di
belakangnya, Rasheed yang lebih ramping dan muda, masih berambut hitam. Wanita
itu sungguh cantik. Tidak secantik para wanita di dalam majalah, mungkin, namun
memang cantik. Yang jelas, lebih cantik daripada Mariam. Dia memiliki rambut
panjang dan indah yang dibelah di tengah. Tulang pipi yang tinggi dan kening
yang lembut. Mariam membayangkan wajahnya sendiri, bibirnya yang tipis dan
dagunya yang panjang, dan merasakan getaran api cemburu.
Mariam berlama-lama menatap foto ini. Dia merasa tidak nyaman melihat cara
Rasheed mencondongkan tubuhnya ke arah wanita ini. Tangan Rasheed yang merangkul
bahunya. Senyum senang Rasheed yang kaku dan wajah sendu tanpa senyum wanita
itu. Wanita itu membungkukkan badan, seolah-olah berusaha melepaskan diri dari
tangan Rasheed. Mariam mengembalikan semua benda yang dilihatnya ke tempat dia menemukannya.
Selanjutnya, ketika sedang mencuci pakaian, Mariam menyesal karena telah
menggeledah kamar Rasheed. Untuk apa" Hal macam apa yang berhasil dia ketahui
tentang Rasheed" Bahwa dia memiliki pistol, bahwa dia pria yang memiliki
kebutuhan pria" Dan, Mariam seharusnya tidak melihat foto Rasheed dan istrinya
selama itu. Matanya berhasil membaca makna bahasa tubuh yang diabadikan lama
berselang. Yang dirasakan oleh Mariam sekarang, ketika tali jemuran bergoyang di
hadapannya, adalah kesedihan untuk Rasheed. Pria itu telah menanggung beratnya beban
kehidupan, yang diwarnai oleh kehilangan dan nasib yang buruk. Pikiran Mariam
melayang pada anak laki-laki itu, Yunus, yang dahulu pernah membuat manusia
salju di halaman ini, yang kakinya pernah menginjak tangga rumah ini. Danau
telah merenggut anak itu dari Rasheed, menelannya, tepat seperti kisah dalam Al
Quran, ketika ikan paus menelan seorang nabi dengan nama yang sama. Hati Mariam
hancur itulah yang dia rasakan ketika membayangkan Rasheed yang panik dan tak ? ?berdaya, hanya bisa memandang dari pinggir danau dan memohon pada hamparan air
supaya kembali meludahkan anaknya ke darat. Dan, untuk pertama kalinya, Mariam
merasakan sesuatu untuk suaminya. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa
mereka akan memiliki hubungan yang baik.[]
BAB 13 Di atas bus dalam perjalanan pulang dari mengunjungi dokter, hal teraneh terjadi
pada Mariam. Ke mana pun memandang, dia melihat warna-warni cerah: pada tembok
apartemen kelabu suram, pada atap-atap seng yang menaungi toko, pada air
berlumpur yang mengalir di selokan. Rasanya, pelangi seolah-olah lumer di
matanya. Rasheed mengetuk-ngetukkan jemari bersarung tangannya dan menyenandungkan sebuah
lagu. Setiap kali roda bus terperosok ke dalam lubang dan mereka terlonjak di
kursi, tangan Rasheed bergerak melindungi perut Mariam.
"Bagaimana kalau Zalmai?" tanya Rasheed. "Itu nama Pashtun yang baik."
"Bagaimana kalau dia perempuan?" tanya Mariam. "Kurasa dia laki-laki. Va. Laki-
laki." Gumaman terdengar di dalam bus. Beberapa orang penumpang menunjuk-nunjuk
sesuatu, dan para penumpang lain melongokkan kepala untuk melihat.
"Lihatlah," kata Rasheed, mengetukkan buku-buku jarinya ke kaca. Dia tersenyum.
"Di sana. Kau lihat?" Di jalan, Mariam melihat orang-orang mengadang bus yang mereka tumpangi. Di
lampu-lampu lalu lintas, wajah-wajah muncul dari jendela-jendela mobil,
mendongakkan kepala, menatap kelembutan yang jatuh dari langit. Mengapa hujan
salju pertama begitu memesona" Mungkinkah karena inilah kesempatan untuk melihat
sesuatu yang belum ternoda, begitu murni" Untuk merasakan keanggunan musim baru,
sebuah awal yang indah, sebelum keganasannya muncul"
"Jika dia perempuan," kata Rasheed, "meskipun aku yakin tidak, tapi, jika dia
memang perempuan, kau boleh memilih nama apa pun yang kauinginkan untuknya."
Mariam terbangun keesokan paginya karena mendengar bunyi palu dan gergaji. Dia
menyelimuti bahunya dengan syal dan keluar menuju halaman bersalju. Hujan salju
lebat pada malam sebelumnya telah reda. Sekarang, hanya sinar matahari pagi dan
butiran lembut salju yang menggelitiki pipi Mariam. Angin tak bertiup dan aroma
batu bara menggantung di udara. Kabul begitu sunyi, berselimut putih, dengan
kepulan asap tampak di sana-sini. Mariam menemukan Rasheed di dekat rak
perkakas, memaku sebilah papan. Ketika melihatnya, Rasheed melepaskan paku dari
sudut bibirnya. "Sebenarnya aku ingin membuat kejutan. Anak laki-laki kita butuh tempat tidur.
Kau seharusnya tidak boleh melihatnya sampai aku selesai."
Mariam berharap Rasheed tidak berbuat seperti itu, melambungkan harapannya bahwa
bayi yang dikandung Mariam berjenis kelamin laki-laki. Meskipun merasa
berbahagia karena kehamilannya, pengharapan Rasheed membebani Mariam. Baru
sehari sebelumnya Rasheed pulang membawa mantel musim dingin dari bahan suede
untuk anak laki-laki, dengan lapisan dalam kulit domba lembut dan lengan yang
terbordir benang sutra merah dan kuning.
Rasheed mengangkat sebilah papan panjang dan pipih. Sembari menggergaji papan
itu menjadi dua, dia menyampaikan kekhawatirannya soal anak tangga di rumah.
"Kita harus melakukan sesuatu di sana nanti, ketika dia sudah cukup besar dan
suka memanjat-manjat." Kompor juga membuatnya khawatir, katanya. Pisau dan garpu
harus disimpan di tempat yang tak bisa dijangkau. "Kita harus sangat berhati-
hati. Anak laki-laki selalu ceroboh."
Mariam mengencangkan belitan syalnya.
O Keesokan paginya, Rasheed menyampaikan keinginannya untuk mengundang teman-
temannya dalam makan malam perayaan. Sepanjang pagi, Mariam mencuci lentil dan
beras. Dia merajang terung untuk dijadikan borani dan mengolah daging
sapi cincang dan daun bawang menjadi aushak. Dia menyapu lantai, menjemur tirai,
membuka jendela-jendela meskipun hujan salju telah kembali turun. Dia menata
matras dan bantal di sepanjang dinding ruang tamu, meletakkan mangkuk-mangkuk
berisi gula-gula dan biji almon panggang di meja.
Dia berdiam di kamarnya pada senja hari sebelum rombongan pria pertama tiba. Dia
berbaring di ranjangnya sementara lolongan dan gelak tawa mulai membahana di
lantai bawah. Dia tidak bisa menahan tangannya menyentuh perutnya. Dia
memikirkan apa yang sedang terjadi di dalam perutnya, dan kebahagiaan pun
melandanya, bagaikan angin yang meniup daun pintu hingga terbuka lebar. Air
matanya mengalir. Mariam memikirkan perjalanan bus sejauh 650 kilometer yang dia tempuh bersama
Rasheed, dari Herat di barat, di dekat perbatasan Iran, menuju Kabul di timur.
Mereka melewati kota-kota kecil dan besar, juga kampung-kampung kecil yang silih
berganti muncul. Mereka melewati pegunungan dan melintasi gurun-gurun pasir yang
panas menyengat, dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Dan, di sinilah dia
berada sekarang, jauh dari gunung-gunung batu dan bukit-bukit meranggas, di
rumahnya sendiri, bersama suaminya sendiri, mendekati tujuan akhirnya yang
mulia: Menjadi seorang ibu. Betapa nikmatnya memikirkan bayi ini, bay'-nya, bayi
mereka berdua. Betapa senangnya mengetahui bahwa kasih sayangnya kepada bayi ini
menjulang melebihi apa pun yang pernah dirasakan sebagai
manusia, mengetahui bahwa tidak ada perlunya lagi memainkan kerikil bernama.
Di bawah, seseorang memainkan harmonium. Lalu, terdengarlah dentangan palu untuk


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyetel tabla. Seseorang berdeham. Kemudian, dimulailah siulan, tepukan tangan,
lolongan, dan nyanyian. Mariam membelai perutnya yang lembut. Tidak iebih besar
dari kuku, kata dokter. Aku akan menjadi ibu, pikir Mariam.
"Aku akan menjadi ibu," katanya. Lalu, Mariam tertawa sendiri, mengulang-ulang
ucapannya, menikmati kata-katanya.
Ketika memikirkan bayi ini, hati Mariam terasa melambung di dalam dirinya. Terus
melambung, hingga semua kepedihannya, semua dukanya, semua kesepian dan rasa
rendah dirinya menghilang. Inilah alasan Tuhan membawa dirinya kemari, melintasi
negeri. Kini, dia mengetahuinya. Dia teringat akan ayat AlQuran yang pernah
diajarkan oleh Mullah Faizullah kepadanya: Dan kepunyaan Aiiah-iah timur dan
barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah Mariam
membentangkan sajadah dan menunaikan shalat. Ketika selesai, dia menadahkan
tangan di depan wajahnya dan memohon kepada Tuhan supaya nasib baiknya tidak
meninggalkannya. Pergi ke hamam adalah gagasan Rasheed. Mariam belum pernah mengunjungi tempat
pemandian umum, namun kata Rasheed, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melangkah
ke luar dari kolam air panas dan merasakan terpaan udara dingin, membiarkan rasa
panas terangkat dari kulit.
Di hamam wanita, di sekeliling Mariam, sosok-sosok tubuh bergerak di balik uap.
Sekilas pinggul di sini, sebentuk bahu di sana. Lengkingan gadis-gadis muda,
erangan ibu-ibu tua, dan gemericik air menggema di antara dinding-dinding
ruangan sementara punggung-punggung digosok dan rambut dikeramas. Mariam duduk
sendirian di sudut, menggosok tumitnya dengan batu apung, terselubung uap.
Lalu, darah terlihat, dan Mariam pun menjerit.
Sekarang terdengar suara langkah kaki, berderap di atas lantai batu yang basah.
Wajah-wajah bermunculan dari balik uap. Lidah-lidah berdecak.
Malam itu, di ranjang, Fariba memberi tahu suaminya bahwa ketika mendengar
jeritan, dia segera bergegas mendekat, lalu mendapati istri Rasheed meringkuk di
sudut, memeluk lututnya, darah menggenang di bawah kakinya.
"Aku bisa mendengar gigi-gigi gadis itu bergemeletuk, Hakim, tubuhnya gemetar
keras sekali." Ketika Mariam melihatnya, kata Fariba, dia bertanya dengan nada melengking
gelisah, Ini normal, bukan" Ya" Bukankah ini normal"
Lagi-lagi perjalanan bus bersama Rasheed. Lagi-lagi hujan salju turun. Kali ini
begitu lebat. Salju menggunduk di trotoar, di atas atap, tertimbun di cabang-
cabang pohon telanjang. Mariam menyaksikan para pedagang menyekop salju dari
depan toko-toko mereka. Sekelompok anak laki-laki mengejar seekor anjing hitam.
Mereka melambai-lambai ketika bus lewat. Mariam menatap Rasheed. Mata pria itu
terpejam. Dia tidak bersenandung. Mariam menyandarkan kepala dan memejamkan
matanya. Dia ingin keluar dari kaus kaki tebalnya, keluar dari sweter wol lembap
yang membuat kulitnya gatal. Dia ingin keluar dari bus ini.
Di rumah, Mariam berbaring di sofa dan Rasheed menyelimutinya, tetapi terdapat
kekakuan yang mengganggu dalam cara Rasheed bersikap.
"Jawaban macam apa itu?" katanya lagi. "Seharusnya ucapan seperti itu
dilontarkan oleh seorang mullah. Kita sudah membayar dokter itu, jadi wajar saja
kalau kita ingin jawaban yang lebih baik daripada 'Sudah kehendak Tuhan.'"
Mariam meringkuk di bawah selimut dan mengatakan kepada Rasheed bahwa dia ingin
beristirahat. "Sudah kehendak Tuhan," omel Rasheed.
Dia duduk di dalam kamarnya, merokok sepanjang hari.
Mariam berbaring di sofa, menjepit kedua tangannya di antara kedua lututnya,
menyaksikan tahan salju di luar jendela. Dia teringat pada Nana, yang pernah
mengatakan bahwa setiap kepingan
salju adalah helaan napas seorang wanita terluka di suatu tempat di dunia ini.
Setiap helaan napas itu terbang ke langit, berkumpul di awan, lalu dalam
keheningan turun kembali dan menimpa orang-orang di bumi.
Sebagai peringatan atas bagaimana wanita seperti kita menderita, kata Nana.
Bagaimana kita menanggung semua beban kita dafam keheningan. []
BAB 14 Rasa duka terus-menerus mengejutkan Mariam. Rasa itu dapat seketika muncul
ketika dia memikirkan tempat tidur bayi yang belum selesai dibuat atau mantel
suede di lemari Rasheed. Bayinya hidup kembali, dan dia dapat mendengarnya,
erangan laparnya, tawanya, ocehannya. Dia dapat merasakan mulut bayi itu
mengisap payudaranya. Rasa duka menyelimutinya, melontarkannya,
menjungkirbalikkannya. Mariam terkesiap ketika menyadari betapa kerinduannya
terhadap makhluk yang bahkan belum pernah dia lihat dapat mencekamnya sedemikan
rupa. Lalu, terdapat hari-hari ketika Mariam merasa kegalauannya tidak begitu
mengendalikan dirinya. Hari-hari ketika pikiran untuk kembali ke pola lama
kehidupannya tidak terlalu merenggut tenaganya, ketika dia tidak membutuhkan
usaha besar untuk turun dari ranjang, menunaikan shalat, mencuci, memasak untuk
Rasheed. Mariam tidak bersedia pergi ke luar. Tiba-tiba, dia merasa marah melihat para
wanita tetangganya beserta anak-anak sehat mereka. Beberapa orang
tetangganya memiliki tujuh atau delapan anak dan tidak menyadari betapa
beruntungnya mereka, betapa teberkahinya rahim mereka karena dapat menumbuhkan
bayi, yang terus hidup dan meringkuk di dalam pelukan mereka, mengisap susu dari
payudara mereka. Anak-anak yang tidak hanyut bersama darah, air sabun, dan
kotoran tubuh orang-orang asing di saluran pembuangan pemandian umum. Mariam
membenci setiap keluhan para wanita itu tentang anak laki-laki yang nakal dan
anak perempuan yang malas. Sebuah suara di dalam kepalanya berusaha
menenangkannya. Kau akan punya anak-anak lain, Insya Allah. Kau masih muda. Tentunya kau akan
mendapatkan banyak kesempatan lain.
Tetapi, duka Mariam bukanlah tanpa arah. Dia berduka untuk bayi ini, anak ini,
yang selama beberapa waktu membuatnya sangat bahagia.
Selama beberapa hari, Mariam meyakini bahwa dia tidak layak mendapatkan anugerah
seindah ini, bahwa dia mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia perbuat
kepada Nana. Bukankah benar bahwa kelakuannya sama saja dengan mengalungkan
sendiri tali gantungan ke leher ibunya" Anak perempuan jahat tidak layak menjadi
ibu, dan hukuman ini pantas dia terima. Dia mendapatkan mimpi buruk, tentang jin
Nana yang menyelinap ke dalam kamarnya pada malam hari, membenamkan kuku-kuku ke
dalam rahimnya, dan menculik bayinya. Dalam mimpi-mimpi itu, Mariam mendengar
Nana terkekeh senang. Pada hari-hari lain, amarah menguasai Mariam. Rasheed yang bersalah karena telah
menyelenggarakan perayaan ketika usia kandungan Mariam masih muda. Rasheed
bersalah karena yakin bahwa anak yang dikandung Mariam berjenis kelamin laki-
laki. Dia bahkan telah menamai calon bayi itu. Dia menentang kehendak Tuhan. Dia
bersalah karena membawanya ke pemandian umum. Ada sesuatu di sana, uap, air yang
kotor, sabun, sesuatu di sana yang mengakibatkan semua ini. Bukan. Bukan
Rasheed. Mariam sendirilah yang harus disalahkan. Dia marah kepada dirinya
sendiri karena tidur dalam posisi yang salah, karena menyantap masakan yang
terlalu pedas, karena tidak makan cukup buah, karena minum terlalu banyak teh.
Tuhan pun bersalah karena telah mengolok-olok dirinya seperti ini. Karena tidak
memberi Mariam karunia seperti yang telah Dia berikan kepada begitu banyak
wanita lain. Karena telah menyodorkan di depan Mariam, memamerkan, apa yang Dia
ketahui akan memberikan kebahagiaan terbesar bagi Mariam, lalu menariknya
kembali. Tetapi, ini tidak baik, semua penimpaan kesalahan ini, semua tuduhan sengit yang
bermain-main di dalam kepalanya. Berpikiran seperti ini adalah suatu tindakan
kofr, melecehkan. Allah tidak jahat. Allah bukan Tuhan yang picik. Kata-kata
Mullah Faizullah mengiang di dalam kepala Mariam: Mahasuci Allah yang di
tanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas
segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu.
Sambil memikul rasa bersalah, Mariam akan berlutut dan berdoa memohon ampunan
atas pikiran-pikirannya. <" SEMENTARA ITU, sebuah perubahan terjadi pada Rasheed sejak peristiwa pemandian
umum. Setibanya di rumah pada malam hari, dia jarang berbicara. Dia makan,
merokok, tidur, kadang-kadang memasuki kamar Mariam pada tengah malam dan
menggaulinya dengan kasar. Dia menjadi sangat pemarah, mengkritik masakan
Mariam, mengeluhkan sampah yang berserakan di halaman atau bahkan tentang
sedikit debu yang menempel di dalam rumah. Kadang-kadang, dia membawa Mariam
berkeliling kota pada hari Jumat, seperti biasanya, namun dia berjalan sangat
cepat di trotoar sehingga Mariam selalu tertinggal beberapa langkah di
belakangnya. Dia tidak berbicara, tidak memikirkan Mariam yang harus berlari
untuk menyamai langkahnya. Dia tidak pernah tertawa lagi saat berjalan-jalan.
Dia tidak membelikan gula-gula atau hadiah untuk Mariam, tidak berhenti untuk
menyebutkan nama-nama tempat yang mereka lalui seperti dahulu. Pertanyaan yang
dilontarkan Mariam sepertinya selalu membuatnya jengkel.
Pada suatu malam, mereka duduk di ruang tamu
sembari mendengarkan radio. Musim dingin hampir berakhir. Angin dingin yang
meniupkan salju ke wajah dan membuat mata basah telah mereda. Gundukan-gundukan
salju bagaikan perak berkilau yang lumer dan menetes dari cabang-cabang pohon
elm yang tinggi dan dalam waktu beberapa minggu akan digantikan oleh pucuk-pucuk
daun hijau muda. Dengan tatapan kosong, Rasheed
menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama tabla yang memainkan lagu Hamahang,
matanya menyipit menahan asap.
"Apa kau marah padaku?" tanya Mariam.
Rasheed tidak menjawab. Lagu itu berakhir, digantikan oleh siaran berita. Suara
seorang wanita melaporkan bahwa Presiden Daoud Khan telah mengirim kembali
sekelompok konsultan Rusia ke Moskow, suatu tindakan yang tentu saja memancing
kemarahan Kremlin. "Aku takut kalau kau marah padaku."
Rasheed menghela napas. "Benar atau tidak?"
Rasheed memandang Mariam. "Untuk apa aku marah?"
"Entahlah, tapi sejak bayi kita-" "Seperti pria macam itukah kau menganggapku,
setelah segalanya yang kulakukan untukmu?" "Tidak. Tentu saja tidak." "Kalau
begitu, berhentilah menggangguku!"
"Maafkan aku. Bebakhsh, Rasheed. Maafkan
aku." Rasheed mematikan rokoknya dan menyalakan
yang baru. Dia menaikkan volume radio.
"Tetapi, aku telah berpikir," kata Mariam, menaikkan nada suaranya supaya dapat
melampaui musik yang mengalun dari radio.
Rasheed kembali menghela napas, kali ini terdengar lebih jengkel, lalu
menurunkan volume radio. Dia menekan-nekan keningnya dengan letih. "Apa lagi
sekarang?" "Aku berpikir, mungkin sebaiknya kita menyelenggarakan upacara pemakaman yang
layak. Untuk bayi kita, maksudku. Hanya kita, beberapa orang pembaca doa, itu
saja." Mariam telah memikirkan hal ini selama beberapa waktu. Dia tidak ingin melupakan
bayi ini. Sepertinya salah jika dia melupakan kehilangan ini selama-lamanya.
"Untuk apa" Itu tindakan bodoh." "Kupikir, itu akan membuat kita merasa lebih
baik." "Kalau begitu, kau saja yang melakukannya," tukas Rasheed. "Aku sudah pernah
menguburkan satu anak laki-laki. Aku tidak akan mengubur yang lain. Sekarang,
kalau kau tidak keberatan, aku mau mendengarkan radio." Dia kembali menaikkan
volume, menyandarkan kepala, dan memejamkan mata.
Pada suatu pagi yang cerah pekan itu, Mariam memilih tempat di halaman dan
menggali sebuah lubang. "Dengan nama Allah dan atas berkat Allah, dengan nama Rasul Allah yang selalu
mendapatkan rahmat dan lindungan Allah," Mariam membisikkannya sembari menancapkan sekop ke
tanah. Dia meletakkan mantel suede yang dibeli Rasheed untuk bayi mereka ke
dalam lubang dan menimbunnya dengan tanah.
"Kaumasukkan malam ke dalam siang dan Kaumasukkan siang ke dalam malam.
Kaukeluarkan yang hidup dari yang mati dan Kaukeluarkan yang mati dari yang
hidup. Dan Kauberikan rezeki bagi siapa pun yang Kaukehendaki tanpa batasan."
Mariam menepuk-nepuk tanah dengan bagian belakang sekopnya. Dia berjongkok di
dekat gundukan tanah itu, memejamkan mata.
Berikanlah rezeki-Mu, Allah.
Berikanlah rezeki untuk hamba. []
BAB 15 ^^^^ April 1978 Pada 17 April 1978, tahun ketika Mariam menginjak usia sembilan belas, seorang
pria bernama Mir Akbar Khyber ditemukan tewas terbunuh. Dua hari kemudian,
terjadilah sebuah aksi unjuk rasa berskala besar di Kabul. Semua orang turun ke
jalan untuk membicarakan hal ini. Melalui jendela, Mariam melihat para
tetangganya berhamburan keluar rumah, mengobrol dengan berapi-api, menempelkan
radio transistor ke telinga. Dia melihat Fariba bersandar di tembok rumahnya,
berbicara dengan seorang wanita yang baru pindah ke Deh-Mazang. Fariba tersenyum
dan menekankan tangannya pada perut bulat wanita itu. Wanita baru tersebut, yang
namanya luput dari ingatan Mariam, tampak lebih tua daripada Fariba, dan
rambutnya bersemburat ungu. Dia menggenggam tangan seorang anak laki-laki.
Mariam tahu bahwa anak itu bernama Tariq karena dia pernah mendengar wanita itu
berseru memanggil namanya di jalan.
Mariam dan Rasheed tidak bergabung dengan para tetangga. Mereka mendengarkan
radio sementara sepuluh ribu orang menumpahi jalanan dan berarak menuju kompleks
pemerintahan Kabul. Kata Rasheed, Mir Akbar Khyber adalah seorang tokoh komunis
penting, dan para pendukungnya menyalahkan pemerintahan Presiden Daoud Khan atas
pembunuhan ini. Rasheed tidak menatap Mariam ketika mengatakannya. Akhir-akhir
ini, Rasheed sudah tidak pernah lagi menatap istrinya, dan Mariam bahkan tidak
yakin apakah Rasheed memang berbicara padanya.
"Apa arti komunis?" tanya Mariam.
Rasheed mendengus dan mengangkat kedua alisnya. "Kau tidak tahu apa arti
komunis" Semudah itu. Semua orang tahu. Ini namanya pengetahuan umum. Kau tidak
.... Bah. Aku tidak tahu kenapa aku terkejut." Lalu, dia bersedekap dan
menggumamkan bahwa komunis adalah orang yang meyakini ajaran Karl Marx.
"Siapa Karl Marx itu?"
Rasheed menghela napas. Di radio, seorang penyiar wanita mengabarkan bahwa Taraki, pemimpin PDPA partai?komunis Afghanistan cabang Khalq, turun ke jalan untuk menyampaikan orasi di
?depan para pengunjuk rasa.
"Maksudku adalah apa mau mereka?" tanya Mariam. "Orang-orang komunis ini, apakah
yang mereka yakini?"
Rasheed tertawa terbahak-bahak dan menggeleng-gelengkan kepala, namun Mariam
sekilas melihat kecanggungan dalam cara suaminya bersedekap, kebingungan dalam
sorot matanya. "Kau memang tidak tahu apa-apa, ya" Seperti anak-anak saja. Otakmu kosong
melompong. Tidak ada pengetahuan di dalamnya."
"Aku bertanya karena-"
"Chup ko. Diam."
Mariam pun diam. Tidak mudah bagi Mariam untuk bertoleransi pada sikap Rasheed kepadanya, menahan
bentakannya, ejekannya, caranya berjalan melewatinya seolah-olah Mariam hanyalah
sekadar kucing peliharaan. Tetapi, setelah empat tahun pernikahan mereka, Mariam
melihat dengan jelas betapa besarnya toleransi seorang wanita yang sedang
ketakutan. Dan, Mariam memang ketakutan. Sepanjang hari, dia merasa takut pada
sikap Rasheed yang berubah-ubah, temperamennya yang mudah marah,
kekeraskepalaannya dalam setiap pembicaraan, sehingga kadang-kadang, hanya
dipicu oleh perselisihan kecil, dia tidak segan-segan memukul, menampar, atau
menendang Mariam. Kadang-kadang dia akan meminta maaf, dan kadang-kadang tidak.
Dalam waktu empat tahun setelah peristiwa pemandian umum terdapat enam kali lagi
siklus melambungnya harapan, lalu anjlok kembali. Setiap kehilangan, setiap rasa
sakit, setiap kunjungan ke dokter semakin membuat Mariam tertekan. Bersama
setiap kekecewaan, Rasheed menjadi semakin pemarah dan menjauhkan diri.
Sekarang, tidak satu pun yang dilakukan Mariam dapat menyenangkannya. Mariam
membersihkan rumah, memastikan
Rasheed selalu memiliki cukup banyak pakaian bersih, memasakkan hidangan
kesukaannya. Sekali waktu, tak tahu lagi harus berbuat apa, Mariam membeli
kosmetika dan berdandan untuk Rasheed. Tetapi, ketika tiba di rumah, Rasheed
hanya menatap Mariam sekali dan memicingkan mata, seolah-olah jijik padanya.
Mariam pun bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Air mata malu bercampur
dengan air sabun, pemerah pipi, dan celak.
Sekarang, Mariam merasa takut saat mendengar Rasheed pulang pada malam hari.


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Gemerincing kuncinya, deritan pintu suara-suara ini memicu gejolak jantungnya.
?Dari ranjangnya, Mariam mendengarkan bunyi tik-tok tumit sepatu Rasheed, juga
langkah kakinya yang teredam setelah dia membuka sepatu. Dengan telinganya,
Mariam mencatat apa saja yang telah dilakukan Rasheed: kaki-kaki kursi yang
diseret di lantai, keriut nyaring kursi ketika diduduki, dentangan sendok dan
piring, gemerisik halaman koran yang dibuka, air yang dituang ke dalam gelas.
Dan, sementara jantungnya berdegup kencang, pikiran Mariam melayang pada alasan
apa yang akan didapatkan oleh Rasheed untuk memukul Mariam malam itu. Selalu ada
alasan, hal-hal kecil yang akan memancing kemarahan Rasheed, karena tak peduli
apa pun yang telah dilakukan oleh Mariam untuk menyenangkannya, tak peduli
bagaimana Mariam berusaha memenuhi kebutuhannya, Rasheed tidak pernah merasa
cukup. Mariam tidak dapat
mengembalikan putranya. Dalam hal yang paling penting ini, Mariam telah
mengecewakan Rasheed sejauh ini sudah tujuh kali dan sekarang dia tak lebih ? ?dari sekadar beban yang harus ditanggung oleh suaminya. Dia dapat melihatnya
dari cara Rasheed memandangnya, jika Rasheed memandangnya. Dia adalah beban bagi
Rasheed. "Apa yang akan terjadi?" Mariam bertanya kepada Rasheed.
Rasheed meliriknya. Dia mengeluarkan suara antara helaan napas dan geraman,
menurunkan kakinya dari meja, dan mematikan radio. Dia membawa benda itu ke
kamarnya dan menutup pintu.
Pada 27 april, pertanyaan Mariam terjawab oleh bunyi gemeretak dan pekikan
nyaring yang tiba-tiba terdengar. Mariam berlari dengan kaki telanjang ke ruang
tamu dan mendapati Rasheed telah berada di dekat jendela, dalam balutan kaus
dalam dan berambut acak-acakan, menekankan telapak tangannya ke kaca. Mariam
berdiri di samping Rasheed. Di atas kepalanya, Mariam dapat mendengar pesawat-
pesawat militer melesat, menuju utara dan timur. Lengkingan mesin pesawat
memekakkan telinga Mariam. Di kejauhan, ledakan nyaring bergema, dan asap besar
tiba-tiba mengepul ke langit.
"Apa yang sedang terjadi, Rasheed?" tanya
Mariam. "Ada apa ini?"
"Hanya Tuhan yang tahu," gumam Rasheed. Dia mencoba menyalakan radio, namun
hanya mendengar bunyi gemerisik.
"Apa yang akan kita lakukan?"
Dengan gusar, Rasheed menjawab, "Kita akan menunggu."
<" Selanjutnya, pada hari yang sama, Rasheed masih berusaha mencari-cari gelombang
radio sementara Mariam memasak nasi dan saus bayam di dapur. Mariam teringat
akan masa-masa ketika dia menikmati, bahkan menanti-nanti saat memasak untuk
Rasheed. Sekarang, memasak adalah kegiatan yang dilakukannya dalam kecemasan.
Ourma buatannya selalu terlalu asin atau terlalu hambar di lidah Rasheed. Nasi
yang ditanak selalu terlalu lembek atau terlalu keras, roti yang dia panggang
selalu terlalu bantat atau terlalu gosong. Sikap Rasheed yang selalu mencari-
cari kesalahannya membuat Mariam selalu dicekam keraguan terhadap diri sendiri
ketika berada di dapur. Ketika dia menghidangkan makanan untuk Rasheed, lagu
kebangsaan tengah mengalun dari radio.
"Aku membuat sabzi," kata Mariam. "Taruh di situ dan diamlah."
Setelah suara musik memudar, terdengarlah suara seorang pria. Dia mengumumkan
identitasnya sebagai Kolonel Angkatan Udara Abdul Qader. Dia melaporkan bahwa beberapa waktu
sebelumnya, para pemberontak dari Divisi Keempat Angkatan Bersenjata telah
merebut bandara dan persimpangan penting di kota. Kantor Radio Kabul, Departemen
Komunikasi, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Luar Negeri juga telah
mereka duduki. Sekarang, Kabul berada di tangan masyarakat, ujarnya dengan
bangga. Pesawat-pesawat MiG milik pemberontak membombardir Istana Kepresidenan.
Tank-tank menderu di jalanan, dan pertempuran besar pun pecah. Para pendukung
setia Daoud telah menyerah, Abdul Qader mengumumkan dengan penuh keyakinan.
Berhari-hari kemudian, ketika pihak komunis memulai rangkaian eksekusi terhadap
semua orang yang terkait dengan rezim Daoud Khan, ketika desas-desus tentang
pencungkilan mata dan penyetruman alat kelamin di Penjara Pol-e-Charki mulai
menyebar di Kabul, Mariam akan mendengar kabar tentang pembantaian yang terjadi
di Istana Kepresidenan. Daoud Khan telah dibunuh, dan sebelumnya, para
pemberontak komunis telah membunuh sekitar dua puluh orang anggota keluarganya,
termasuk para wanita dan anak-anak. Akan ada rumor bahwa Daoud Khan sebenarnya
bunuh diri, atau bahwa dia tertembak dalam adu senjata, atau bahwa dia dipaksa
menyaksikan para pemberontak membantai seluruh anggota keluarganya sebelum
akhirnya menembak dirinya.
Rasheed menaikkan volume radio dan mendekatkan telinganya ke benda itu.
"Sebuah dewan revolusi angkatan bersenjata telah didirikan, dan mulai saat ini,
watan kita akan dikenal dengan nama Republik Demokratis Afghanistan," ujar Abdul
Qader. "Era aristokrasi, nepotisme, dan kesenjangan sosial telah berakhir bagi
kita, kawan-kawan hamwatans. Kita telah mengakhiri tirani yang telah berlangsung
selama berdekade-dekade. Sekarang, kekuatan berada di tangan masyarakat yang
mencintai kemerdekaan. Sebuah era kejayaan baru negara kita telah menanti.
Afghanistan baru telah lahir. Kami meyakinkan kepada Anda semua, kawan-kawan
Afghan, bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Rezim baru ini akan
menghormati kedua prinsip utama negara ini, yaitu Islam dan demokrasi. Inilah
waktu yang tepat untuk berbahagia dan merayakan pencapaian kita."
Rasheed mematikan radio. "Jadi, itu baik atau buruk?" tanya Mariam.
"Buruk bagi orang kaya, kedengarannya," kata Rasheed. "Mungkin tidak begitu
buruk untuk kita." Pikiran Mariam melayang pada Jalil. Dia bertanya-tanya, akankah komunis
memburunya" Akankah mereka memenjarakan Jalil" Memenjarakan anak-anaknya"
Merebut bisnis dan hartanya"
"Nasinya masih hangat?" tanya Rasheed, melirik nasi di hadapannya.
"Aku baru saja mengangkatnya dari panci." Rasheed menggeram dan menyuruh Mariam
mengulurkan piring. <" Di jalan, ketika malam menyala dengan ledakan merah dan kuning, Fariba yang
kelelahan berbaring dengan kepala tersangga oleh sikunya. Rambutnya basah oleh
keringat, dan titik-titik peluh juga menghiasi bagian atas bibirnya. Di tepi
ranjangnya, seorang bidan tua, Wajma, menyaksikan ketika suami Fariba dan anak-
anak laki-lakinya bergantian menggendong bayi itu. Mereka mengagumi rambut
terang si bayi, pipi merah jambunya, bibirnya yang sesegar kuncup bunga, dan
mata hijau cerah yang bergerak di balik kelopaknya. Mereka saling melempar
senyum ketika mendengar suara bayi itu untuk pertama kalinya, tangisan yang
dimulai seperti dengkuran kucing dan pecah menjadi raungan yang nyaring dan
sehat. Kata Noor, mata bayi itu mirip batu permata. Ahmad, anggota keluarga yang
lebih religius, melantunkan azan di telinga adik perempuannya dan meniup
wajahnya tiga kali. "Laila, kalau begitu?" tanya Hakim sembari mengayun-ayunkan putrinya.
"Lalila nama yang tepat," Fariba tersenyum letih. "Kecantikan Malam. Sempurna
sekali." Rasheed mengepal nasi dengan jari-jarinya. Dia melemparkan gumpalan nasi itu ke
mulut, mengunyah sekali, dua kali, sebelum meludahkannya ke sofrah.
"Ada apa?" tanya Mariam, membenci nada memohon maaf dalam suaranya. Dia dapat
merasakan detak jantungnya mulai memburu, kulitnya seakan mengerut.
"Ada apa?" ujar Rasheed dalam nada tinggi, mengolok-oloknya. "Memangnya kau tak
tahu bahwa lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sama."
"Tapi, aku sudah menanaknya lima menit lebih lama daripada biasanya."
"Dasar perempuan pembohong." "Aku bersumpah-"
Rasheed meremas nasinya dengan marah dan menyingkirkan piringnya, menumpahkan
seluruh nasi dan sausnya ke sofrah. Mariam menyaksikan ketika dia menghambur
keluar dari ruang tamu, lalu keluar dari rumah, tak lupa membanting pintunya.
Mariam berlutut di lantai, berusaha memunguti butiran-butiran nasi dan
mengembalikannya ke piring, namun tangannya bergetar hebat, dan dia pun harus
menanti getarannya berhenti. Rasa takut menyesakkan dadanya. Mariam berusaha
menarik napas dalam-dalam. Dia menangkap bayangan pucatnya di jendela ruang tamu
yang gelap dan segera mengalihkan tatapannya. Lalu, dia mendengar pintu depan
terbuka, dan Rasheed telah kembali berada di dalam ruang tamu.
"Berdiri," kata Rasheed. "Ke sini kamu. Berdirilah."
Rasheed menyambar tangan Mariam, menadahkan telapak tangannya, dan meletakkan
segenggam kerikil di situ.
"Masukkan ke mulutmu!"
"Apa?" "Masukkan. Ini. Ke mulutmu."
"Hentikan ini, Rasheed, Aku-" Tangan perkasa Rasheed menjepit rahang Mariam.
Rasheed menjejalkan dua jarinya ke dalam mulut Mariam dan memaksa membukanya.
Setelah itu, dia memasukkan butiran-butiran kerikil keras ke dalamnya. Mariam
berusaha memberontak, menggumamkan protes, namun Rasheed terus menjejalkan
kerikil ke dalam mulutnya, menyunggingkan seringai jahat.
"Sekarang, kunyah!" perintah Rasheed.
Dengan mulut penuh oleh pasir dan kerikil, Mariam menggumamkan permohonan. Air
mata mengalir dari sudut matanya.
"KUNYAH!" bentak Rasheed. Napasnya yang berbau rokok menerpa wajah Mariam.
Mariam mengunyah. Sesuatu di bagian belakang mulutnya bergemeretak.
"Bagus," kata Rasheed. Pipinya bergetar. "Sekarang kau tahu sendiri bagaimana
rasa nasimu. Sekarang kau tahu sendiri apa yang kauberikan padaku dalam
pernikahan ini. Makanan sampah, hanya itu saja."
Lalu, Rasheed berlalu, meninggalkan Mariam yang meludahkan kerikil, darah, dan
dua serpihan gigi geraham. []
BAB 16 Kabul, Musim Semi 1987 Laila, sembilan tahun, turun dari ranjangnya, seperti yang biasa dilakukan
setiap pagi, tak sabar ingin menjumpai Tariq, sahabatnya. Pagi ini,
bagaimanapun, Laila tahu bahwa dia tidak akan melihat Tariq.
"Berapa lama kau akan pergi?" tanyanya ketika Tariq memberi tahu bahwa
orangtuanya akan mengajaknya pergi ke selatan, ke Kota Ghazni, untuk mengunjungi
pamannya. "Tiga belas hari." "Tiga belas hari?"
"Itu tidak terlalu lama. Wajahmu jelek sekali, Laila."
"Enak saja." "Kau tidak akan menangis, bukan?"
"Buat apa aku menangis" Menangisi kamu" Tak akan pernah biar ribuan tahun pun!"
Laila menendang tulang kering Tariq, bukan yang palsu melainkan yang asli, dan
Tariq berpura-pura menghantam bagian belakang kepala temannya.
Tiga belas hari. Hampir dua minggu. Dan, baru lima hari kemudian, Laila telah
mempelajari kebenaran mendasar mengenai waktu: Bagaikan akordeon yang kadang-kadang
digunakan oleh ayah Tariq untuk mengalunkan lagu-lagu Pashto tua, waktu dapat
meregang dan menyusut, bergantung pada kehadiran atau ketidakhadiran Tariq.
Di bawah, orangtuanya kembali bertengkar. Lagi-lagi. Laila sudah hafal dengan
rutinitas ini: Mammy, garang, tak mau kalah, berjalan mondar-mandir sambil
mengomel; Babi, duduk, berdiam diri dan kebingungan, mengangguk-angguk patuh,
menanti badai berlalu. Laila menutup pintu dan berganti pakaian. Tetapi, dia
masih dapat mendengar mereka. Dia masih dapat mendengar ibunya. Akhirnya,
terdengarlah bunyi pintu yang dibanting. Langkah kaki menaiki tangga. Ranjang
Mammy berkeriut nyaring. Babi, sepertinya, akan bertahan satu hari lagi.
"Laila!" panggil Babi sekarang. "Aku akan telat bekerja!"
"Satu menit lagi!"
Laila memakai sepatu dan cepat-cepat menyisir rambut keriting pirang sebahunya
di depan cermin. Mammy selalu mengatakan kepada Laila bahwa dia mewarisi warna
rambut begitu pula bulu mata lentik, mata hijau, lesung pipit, tulang pipi ?tinggi, dan bibir bawah ranum, yang semuanya sama dengan milik Mammy dari nenek
?buyutnya, nenek Mammy. Nenekku itu seorang pari, seorang yang memesona, kata
Mammy. Kecantikannya menjadi bahan pembicaraan di seiuruh lembah. Setelah
diwariskan kepada dua generasi perempuan di
keluarga kita, kecantikannya ternyata masih melekat padamu, Laila. Lembah yang
dimaksud oleh Mammy adalah Panjshir, wilayah Tajikistan yang berbahasa Farsi,
sekitar seratus kilometer di sebelah timur laut Kabul. Mammy dan Babi adalah
sepupu pertama, dan mereka berdua dilahirkan dan dibesarkan di Panjshir. Mereka
pindah ke Kabul pada 1960, tahun ketika Babi diterima di Universitas Kabul,
sebagai pasangan pengantin baru yang penuh harapan.
Laila bergegas menuruni tangga, berharap Mammy tidak akan muncul di kamarnya
untuk memarahinya juga. Dia mendapati Babi berlutut di depan pintu kasa.
"Kau lihat ini, Laila?"
Robekan di kasa telah ada sejak berminggu-minggu yang lalu. Laila jongkok di
samping ayahnya. "Tidak. Pasti masih baru."
"Itulah yang kukatakan kepada Fariba." Babi tampak terguncang, syok, seperti
yang biasa terjadi ketika Mammy baru saja memarahinya. "Kata ibumu, lubang ini
membuat banyak lebah masuk ke rumah."
Hati Laila terluka untuk ayahnya. Babi adalah seorang pria bertubuh kecil,
dengan bahu sempit dan tangan yang ramping dan indah, hampir mirip tangan
wanita. Pada malam hari, ketika memasuki kamar Babi, Laila selalu menemukan
ayahnya itu membenamkan wajah ke buku, kacamatanya bertengger di ujung
hidungnya. Kadang-kadang, dia bahkan tidak menyadari bahwa Laila ada di dalam
kamarnya. Ketika akhirnya melihat Laila, dia menandai halaman bukunya dan
tersenyum ramah tanpa membuka mulut. Babi hafal begitu banyak ghazai Rumi dan
Hafez. Dia mampu berlama-lama bicara tentang perebutan Afghanistan antara
Inggris dan Rusia di bawah pemerintahan tsar. Dia tahu perbedaan antara
stalaktit dan stalakmit, dan dapat menyebutkan bahwa jarak antara bumi dan
matahari sama saja dengan jarak antara Kabul ke Ghazni dikalikan setengah juta.
Tetapi, ketika kesulitan membuka stoples permen, Laila akan mendatangi Mammy,
yang rasanya sama seperti mengkhianati Babi. Perkakas sederhana pun mampu
membuat Babi kesulitan. Dia tidak pernah meminyaki engsel pintu yang berderit.
Atap tetap bocor setelah dia menambalnya. Dempul dioleskan seenaknya di lemari-
lemari dapur. Kata Mammy, sebelum Noor berangkat berjihad melawan Soviet pada
1980, Ahmadlah yang dengan baik memusingkan perawatan rumah.
"Tapi, kalau kau punya buku penting yang harus segera dibaca," kata Mammy,
"Hakimlah orang yang tepat."
Tetap saja, Laila tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa suatu ketika, dahulu,
sebelum Ahmad dan Noor pergi berperang melawan Soviet sebelum Babi membiarkan ?mereka pergi berperang Mammy juga menganggap kekutubukuan Babi memikat. Dan,
?pada suatu ketika, dahulu, Mammy juga menganggap sifat pelupa dan kecanggungan
Babi menarik. "Jadi, hari keberapa sekarang?" tanya Babi, tersenyum Jenaka. "Kelima" Atau
keenam?" "Mana aku tahu" Aku tidak pernah menghitung," Lalila berbohong, mengangkat bahu,
merasa senang bahwa ayahnya mengingat hal ini. Mammy bahkan tidak tahu bahwa
Tariq pergi. "Yah, dia akan menyalakan senternya sebelum kau sadar," kata Babi, menyebutkan
permainan sinyal yang selalu dimainkan oleh Laila dan Tariq setiap malam.
Permainan itu telah mereka kenal sejak sangat lama, dan akhirnya menjadi ritual
sebelum tidur, sama saja dengan menggosok gigi.
Babi meraba robekan di pintu kasa. "Aku akan memperbaiki pintu ini secepatnya.
Sebaiknya kita berangkat sekarang." Dia menaikkan suaranya, berpaling, dan
berseru, "Kami akan berangkat sekarang, Fariba! Aku akan mengantar Laila ke
sekolah. Jangan lupa menjemputnya!"
Di luar, ketika memasukkan bawaannya ke keranjang sepeda Babi, Laila melihat
sebuah mobil diparkir di jalan, di seberang rumah si tukang sepatu, Rasheed, dan
istrinya yang penyendiri. Mobil Benz seperti itu, bercat biru dengan garis putih
tebal yang membelah kap, atap, dan bagasinya, merupakan pemandangan luar biasa
di lingkungan ini. Laila dapat melihat dua orang pria duduk di dalam mobil itu,
seorang di belakang kemudi, dan seorang lagi di belakang.
"Siapa mereka?" tanya Laila.
"Bukan urusan kita," jawab Babi. "Ayo, bisa-bisa
kau terlambat." Laila teringat akan sebuah pertengkaran lain, dan, ketika itu, Mammy berkacak
pinggang di hadapan Babi dan berkata dengan sengit, Memang itulah urusanmu, ya,
Sepupu" Tidak menjadikan apa pun sebagai urusanmu. Bahkan kedua anak laki-lakimu
sendiri pergi berperang. Apa kau tak ingat bagaimana aku memohon padamu" Tapi,
kau justru membenamkan hidungmu ke buku-buku terkutuk itu dan membiarkan anak-
anak kita pergi, seolah-olah mereka berdua harami.
Babi mengayuh di jalan, Laila membonceng di belakangnya, memeluk perut sang
ayah. Ketika melewati Benz biru tersebut, Laila sekilas melihat pria yang duduk
di bangku belakang: kurus, berambut putih, mengenakan setelan cokelat tua,
dengan saputangan putih tersemat di saku dadanya. Satu-satunya hal lain yang
sempat dia perhatikan adalah plat nomor Herat yang terpasang di mobil itu.
Di sepanjang jalan menuju sekolah, mereka bersepeda dalam keheningan, kecuali
ketika melewati tikungan tajam dan Babi mengerem dengan hati-hati, mengatakan,
"Pegangan, Laila. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Nah."
HARI ITU, di kelas, Laila mengalami kesulitan berkonsentrasi, berkali-kali


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pikirannya melayang ke kepergian Tariq dan pertengkaran orangtuanya.
Maka, ketika guru menunjuk dirinya untuk menyebutkan nama ibu kota Rumania dan
Kuba, Laila pun kebingungan.
Guru itu bernama Shanzai, tetapi, di belakang punggungnya, para siswa
menjulukinya Khala Rangmaal, Bibi Pelukis, mengacu pada gerakan yang dia lakukan
ketika menampar murid telapak tangan, lalu punggung tangan, bolak-balik, ?seperti sapuan kuas seorang pelukis. Khala Rangmaal adalah seorang wanita muda
berwajah judes dan beralis tebal. Pada hari pertamanya mengajar, dia dengan
bangga mengatakan kepada seluruh kelas bahwa orangtuanya adalah seorang petani
miskin dari Khost. Khala Rangmaal berbadan tegap, dengan rambut hitam kelam yang
tersanggul rapi dan kencang, sehingga ketika dia menoleh, Laila dapat melihat
rambut-rambut pendek di lehernya. Khala Rangmaal tidak memakai rias wajah
ataupun perhiasan. Dia tidak memakai burqa, dan melarang murid-murid
perempuannya untuk memakai burqa. Katanya, pria dan wanita memiliki kedudukan
yang sama dalam segala bidang dan tidak ada alasan mengapa wanita harus menutupi
seluruh tubuhnya sementara pria tidak.
Katanya, Uni Soviet adalah bangsa terhebat di dunia, sama seperti Afghanistan.
Di sana, hak-hak para pekerja dijunjung tinggi dan seluruh penduduk memiliki
kedudukan yang sama. Semua orang di Uni Soviet bahagia dan ramah, tidak seperti
di Amerika, tempat kriminalitas menjadikan penduduknya takut meninggalkan rumah.
Dan, semua orang di Afghanistan juga akan berbahagia, katanya, setelah para bandit yang antikemajuan
dan pencinta kemunduran ditaklukkan.
"Karena itulah para kamerad Soviet kita datang kemari pada 1979. Untuk
mengulurkan tangan. Untuk menolong kita menaklukkan orang-orang brutal yang
menginginkan negara kita terus bergerak mundur dan menjadi bangsa primitif. Dan,
kalian pun harus mengulurkan tangan, Anak-Anak. Kalian harus melaporkan siapa
pun yang kalian pikir mengetahui para pemberontak itu. Ini adalah tugas kalian.
Kalian harus mendengarkan, lalu melaporkan. Bahkan jika pemberontak itu adalah
orangtua kalian sendiri, atau paman dan bibi kalian. Karena, tidak seorang pun
dari mereka mencintai kalian sebanyak cinta negeri ini kepada kalian. Utamakan
negara kalian, ingatlah itu! Saya akan bangga kepada kalian, sama seperti negara
kalian." Di dinding belakang meja Khala Rangmaal terdapat peta Uni Soviet, peta
Afghanistan, dan foto berbingkai presiden komunis terbaru, Najibullah, yang,
kata Babi, pernah menjadi pemimpin KHAD yang ditakuti, polisi rahasia
Afghanistan. Ada foto-foto lain juga di sana, sebagian besar menunjukkan para
prajurit muda Soviet yang sedang berjabatan tangan dengan para petani, menanam
bibit apel, membangun rumah, semuanya tersenyum senang.
"Nah," kata Khala Rangmaal sekarang, "apakah saya mengganggu lamunanmu, Gadis
Inqiiabi?" Inilah julukan Laila, Gadis Revolusi, karena dia
dilahirkan pada malam kudeta April 1978 hanya saja, Khala Rangmaal marah jika ?siapa pun di kelasnya menggunakan kata kudeta. Yang sebenarnya terjadi, dia
bersikeras, adalah inqilab, revolusi, pemberontakan kaum pekerja melawan
kesenjangan sosial. Jihad juga sebuah kata terlarang di kelasnya. Menurut sang
guru, tidak ada perang di pelosok-pelosok provinsi, yang ada hanyalah
pertikaian-pertikaian kecil melawan para pembuat onar yang dikendalikan oleh
orang-orang yang dia sebut provokator asing. Dan, tentu saja, tidak seorang pun,
tidak seorang pun, berani menyebutkan di hadapannya rumor yang sedang beredar
bahwa, setelah delapan tahun bertempur, Soviet akhirnya kalah dalam perang ini.
Terutama sekarang, setelah Presiden Amerika, Reagan, mulai mempersenjatai
gerilyawan Mujahidin dengan Misil Stinger untuk menyerang helikopter-helikopter
Soviet, juga setelah kaum Muslim di seluruh dunia Mesir, Pakistan, bahkan Saudi
?yang kaya, yang bersedia meninggalkan harta mereka datang ke Afghanistan untuk
?berjihad. "Bukares, Havana," Laila berhasil menjawab.
"Kedua negara itu teman kita atau bukan?"
"Ya, mualim sahib. Mereka teman kita."
Khala Rangmaal mengangguk tegas.
<" KETIKA SEKOLAH USAI, lagi-lagi Mammy tidak muncul untuk menjemput Mariam.
Akhirnya, Mariam pun berjalan pulang bersama dua orang teman sekelasnya, Giti dan Hasina.
Giti adalah seorang gadis kecil kurus yang mudah marah, dengan rambut terkuncir
dua menggunakan gelang karet. Dia selalu cemberut, berjalan dengan merapatkan
buku ke dada, seolah-olah memegang perisai. Hasina berumur dua belas tahun, tiga
tahun lebih tua daripada Laila dan Giti, namun pernah tinggal kelas sekali di
kelas tiga dan dua kali di kelas empat. Hasina menutupi kelemahan belajarnya
dengan kenakalan dan mulutnya yang, kata Giti, seribut mesin jahit. Hasinalah
yang menciptakan julukan Khala Rangmaal. Hari ini, Hasina sedang memberikan
nasihat kepada kedua temannya tentang cara menyingkirkan jodoh yang buruk rupa.
"Ini cara yang sudah terbukti keampuhannya. Dijamin akan berhasil. Aku berani
sumpah." "Dasar bodoh. Aku masih terlalu muda untuk dijodohkan!" tukas Giti.
"Siapa bilang kau terlalu muda?"
"Tidak akan ada yang datang untuk melamar/cu."
"Itu karena kau berjanggut, Sayangku."
Tangan Giti langsung melayang ke dagunya, dan dia memandang Laila dengan panik.
Laila tersenyum iba kepadanya Giti adalah orang terkaku yang pernah dijumpai
?Laila dan menggeleng yakin.
?"Omong-omong, kalian ingin tahu apa yang harus kalian lakukan atau tidak, Ibu-
ibu?" "Lanjutkanlah," kata Laila.
"Biji-bijian. Cukup empat kaleng saja. Pada malam ketika kadal ompong itu datang
untuk melamarmu. Tapi, perhatikan waktunya, Ibu-ibu, waktu menentukan segalanya. Kau
harus menahan ledakan kembang api itu hingga teh dihidangkan."
"Aku akan mengingatnya," kata Laila.
"Begitu pula si kadal ompong."
Laila tahu pasti bahwa dia tidak membutuhkan nasihat ini karena Babi tidak
berniat menjodohkan dirinya dalam waktu dekat. Meskipun Babi bekerja di Silo,
sebuah pabrik roti besar di Kabul, membanting tulang di tengah panasnya suhu dan
dengungan mesin, mengisi oven dan menggiling gandum sepanjang hari, dia adalah
seorang sarjana. Dia pernah menjadi guru SMA sebelum komunis memecatnya, tak
lama setelah kudeta 1978, sekitar satu setengah tahun sebelum Soviet menduduki
Afghanistan. Babi telah memastikan kepada Laila sejak dahulu bahwa hal
terpenting dalam kehidupan ini, setelah keselamatan, adalah pendidikan.
Aku tahu bahwa kau masih muda, tapi aku ingin kau memahami dan mempelajari hal
ini sekarang, katanya. Pernikahan dapat menunggu, tapi pendidikan tidak. Kau
gadis yang amat sangat pintar. Ini bukan omong kosong. Kau bisa menjadi apa pun
yang kauinginkan, Laila. Aku tahu itu. Dan, aku juga tahu bahwa setelah perang
ini usai, Afghanistan akan membutuhkanmu, sama seperti ia membutuhkan para pria,
bahkan mungkin wanita akan lebih dicari. Karena masyarakat tidak memiliki
kesempatan untuk maju jika para wanitanya tidak berpendidikan, Laila. Tidak ada
kesempatan. Tetapi, Laila tidak memberi tahu Hasina bahwa
Babi mengatakan hal ini, atau betapa leganya dirinya karena memiliki ayah
seperti itu, atau betapa bangganya dirinya karena ayahnya begitu menghargainya,
atau betapa dia bertekad akan mengejar ilmu hingga setinggi mungkin seperti
ayahnya. Selama dua tahun terakhir, Laila menerima sertifikat awal numra, yang
setiap tahunnya diberikan kepada siswa berperingkat tertinggi di setiap kelas.
Dia juga tidak mengatakan hal ini kepada Hasina, yang memiliki ayah seorang
sopir taksi pemarah, yang dalam waktu dua atau tiga tahun dapat dipastikan akan
menikahkannya. Hasina pernah mengatakan kepada Laila, dalam sikap serius yang
jarang dia tampilkan, bahwa ayahnya telah memutuskan supaya dia menikah dengan
seorang sepupu pertama yang berusia dua puluh tahun lebih tua daripada dirinya
dan memiliki bengkel di Lahore. Aku pernah dua kali bertemu dengannya, kata
Hasina. Dan dalam kedua pertemuan itu, dia makan dengan mulut terbuka.
"Biji-bijian, Sayang," kata Hasina. "Kalian harus ingat. Kecuali, tentu
saja" sekarang dia menyeringai dan menyikut Mariam-"pangeranmu yang tampan dan ?berkaki satu yang mengetuk pintu. Nah, kalau begitu
Laila menepiskan siku Hasina. Dia akan tersinggung jika orang lain mengolok-olok
Tariq. Tetapi, dia tahu bahwa Hasina tidak jahat. Dia memang mengolok-
olok itulah ciri khasnya dan semua orang pernah menjadi korban olokannya,
? ?termasuk dirinya sendiri.
"Kau tidak boleh membicarakan orang seperti itu!" tukas Giti.
"Orang apa maksudmu?"
"Orang yang cacat karena perang," ujar Giti lugu, tidak menyadari bahwa Hasina
hanya bergurau. "Kupikir Mullah Giti ini jatuh cinta pada Tariq. Aku tahu! Ha! Tapi, bukankah
dia sudah dijodohkan" Apa kau tidak tahu" Benar begitu, bukan, Laila?"
"Aku tidak jatuh cinta pada siapa-siapa!"
Mereka berpisah dengan Laila, dan, masih sambil bersilat lidah, berbelok ke
jalan mereka. Laila berjalan sendirian menyusuri tiga blok terakhir. Ketika tiba di jalannya,
dia melihat bahwa Benz biru yang dia lihat pagi itu masih terparkir di sana, di
luar rumah pasangan Rasheed dan Mariam. Pria tua bersetelan cokelat sekarang
berdiri di dekat mobil, bertumpu pada tongkat, menatap rumah di depannya.
Ketika itulah Laila mendengar suara seseorang di belakangnya, "Hey, Pirang.
Lihat ke sini." Laila berpaling dan disapa oleh moncong sebuah senjata. []
BAB 17 Pistol itu berwarna merah, pelatuknya hijau cerah. Di belakangnya, Khadim
menjulang tinggi, menyeringai lebar. Khadim berumur sebelas tahun, sama dengan
Tariq. Tubuhnya kekar, jangkung, dan gigi bawahnya tonggos. Ayahnya adalah
seorang tukang daging di Deh-Mazang, dan, dari waktu ke waktu, Khadim dikenal
sering melemparkan potongan usus sapi kepada para pejalan kaki. Kadang-kadnag,
jika Tariq tidak ada terlihat, Khadim membayangi Laila pada waktu istirahat di
sekolah, tersenyum menjijikkan, mengeluarkan suara-suara menyebalkan. Pada suatu
ketika, Khadim menepuk bahu Laila dan mengatakan, Kau cantik sekali, Pirang. Aku
ingin menikahimu. Sekarang, dia melambaikan pistolnya. "Jangan takut," katanya. "Tidak akan
kelihatan. Apalagi di rambutmu."
"Jangan berani-berani kau berbuat seperti ini! Aku memperingatkanmu."
"Memangnya kau mau apa?" tanya Khadim. "Minta bantuan teman pincangmu itu" 'Oh,
Tariq jan. Oh, pulanglah dan selamatkanlah aku dari
badmash ini!1" Laila mulai berlari, tetapi Khadim telah menekan pelatuk pistolnya. Beriringan,
semburan air menerpa rambut Laila, lalu menghantam telapak tangannya ketika
gadis cilik itu mengangkatnya untuk melindungi wajah.
Sekarang, anak-anak laki-laki lainnya keluar dari tempat persembunyian mereka,
tertawa-tawa, mengejeknya.
Umpatan yang didengar Laila dari jalanan pun meluncur dari bibirnya. Dia tidak
benar-benar memahaminya tidak bisa?membayangkannya namun kata-kata itu
?sepertinya kuat, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkannya.
"Ibumu pelacur!"
"Yang penting ibuku tidak gila seperti ibumu," Khadim membalasnya, tanpa gentar.
"Yang penting ayahku bukan banci! Oh ya, omong-omong, apa kau pernah mencium bau
tanganmu?" Anak-anak lainnya menyambar isyarat ini. "Cium tanganmu! Cium tanganmu!"
Laila memang melakukannya, namun sebelumnya dia sudah menyadari maksud Khadim
ketika anak itu mengatakan bahwa isi pistolnya tidak akan kelihatan di rambut
Laila. Laila menjerit-jerit. Mendengarnya, anak-anak laki-laki itu melolong-
lolong semakin liar. Laila membalikkan badan, masih sambil menjerit, dan berlari pulang.
<" LAILA MENGAMBIL air di sumur, dan, di dalam kamar mandi, mengisi ember dan
membuka pakaiannya. Dia menyabuni rambutnya, dengan gusar menggaruk-garuk kulit
kepalanya, bergidik jijik. Dia membilas rambutnya dan menyabuninya lagi.
Beberapa kali, hingga dia berpikir akan muntah. Sambil menggosokkan lap mandi
bersabun ke wajah dan lehernya hingga kulitnya memerah, dia terus-menerus
mendesis dan bergidik. Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi jika Tariq ada bersamanya, pikirnya
sembari mengenakan baju dan celana panjang bersih. Khadim tidak akan berani.
Tentu saja, hal seperti ini juga tidak akan terjadi jika Mammy bertingkah
seperti semestinya. Kadang-kadang Laila bertanya-tanya mengapa Mammy mau repot-
repot melahirkan dirinya. Orang-orang, pikirnya sekarang, seharusnya tidak
dikaruniai anak lagi jika mereka telah menghabiskan seluruh kasih sayang mereka
kepada anak-anak mereka yang lebih tua. Ini tidak adil. Kemarahan Laila seketika
hadir. Dia memasuki kamarnya dan menjatuhkan diri ke ranjang.
Ketika kemarahannya telah mereda, Laila melintasi koridor menuju kamar Mammy dan
mengetuk pintu. Ketika dia lebih kecil, Laila sering duduk selama berjam-jam di
depan pintu ini. Dia akan mengetuknya dan berbisik memanggil nama Mammy berulang
kali: Mammy, Mammy, Mammy, Mammy .... Tetapi, Mammy tak pernah membuka pintu.
Sekarang, Mammy membukanya. Laila mendorong pintu itu dan memasuki kamar.
Kadang-kandang, Mammy mengalami hari baik. Dia bangkit dari ranjangnya dengan
perasaan senang dan ceria. Bibir bawahnya yang tebal terangkat ke atas,
membentuk sebuah senyuman. Dia mandi. Dia memakai pakaian bersih dan memulaskan
celak di matanya. Dia membiarkan Laila menyisiri rambutnya, sebuah kegiatan yang
disukai Laila, dan memasang anting-anting di telinganya. Mereka berbelanja
berdua di Pasar Mandaii. Laila berhasil mengajak Mammy bermain ular tangga, dan
mereka saling berbagi sepotong cokelat hitam, salah satu dari sedikit makanan
yang sama-sama mereka sukai. Bagian kesukaan Laila dari hari-hari baik Mammy
adalah ketika Babi pulang, ketika dia dan Mammy mengangkat kepala dari papan
permainan dan tersenyum menyambutnya dengan gigi-gigi berlapis cokelat. Pada
saat-saat seperti itu, kebahagiaan berembus ke dalam rumah mereka, dan Laila
dapat merasakan kelembutan, kasih sayang, yang dahulu menyelimuti orangtuanya
ketika rumah ini masih penuh sesak, berisik, dan ceria.
Kadang-kadang, pada hari baiknya, Mammy memanggang kue dan mengundang para
wanita tetangga untuk minum teh bersama. Tugas Laila adalah mengelap mangkuk-
mangkuk hingga mengilap, sementara Mammy menata sejumlah cangkir, serbet, dan
piring indah di meja. Selanjutnya, Laila akan mengambil tempat di meja ruang
tamu dan berusaha menimpali pembicaraan,
sementara para wanita bercakap-cakap dengan penuh semangat, menghirup teh, dan
memuji kue buatan Mammy. Meskipun tidak pernah bisa banyak bicara, Laila senang
karena dapat duduk dan mendengarkan, karena dalam suasana seperti ini, ada
sesuatu yang dia nanti-nantikan: Mendengarkan Mammy bicara dengan penuh cinta
tentang Babi. "Suamiku itu memang guru yang hebat," kata Mammy. "Murid-muridnya mengidolakan
dia. Bukan karena dia sering memukuli mereka dengan penggaris, seperti yang
dilakukan para guru lainnya. Murid-muridnya menghormatinya, kau tahu, karena dia
menghormati mereka. Suamiku memang luar biasa."
Mammy senang menceritakan cara Babi melamarnya.
"Umurku enam belas, dia sembilan belas. Rumah keluarga kami bersebelahan di
Panjshir. Oh, aku memang sudah jatuh cinta padanya, hamshiras\ Aku sering
memanjat tembok yang memisahkan rumah kami, dan kami pun akan bermain di kebun
buah ayahnya. Hakim selalu mengkhawatirkan kalau kami tertangkap basah dan
ayahku akan menamparnya. 'Ayahmu akan menamparku,' itulah yang selalu dia
katakan. Dia sangat berhati-hati, sangat serius, bahkan ketika itu. Lalu, pada
suatu hari, aku berkata kepadanya, 'Sepupu, akan bagaimana jadinya hubungan
kita" Apakah kau akan melamarku atau aku yang harus melakukan khastegah dan
mendatangi rumahmu"' Aku langsung
saja menanyakannya. Kalian seharusnya melihat wajahnya!"
Mammy akan menepukkan kedua tangannya dan para wanita, beserta Laila, tertawa.
Mendengarkan Mammy menceritakan kisah-kisah ini, Laila tahu bahwa terdapat masa
ketika Mammy selalu berkata sedemikian rupa tentang Babi. Masa ketika kedua
orangtuanya tidak tidur di kamar terpisah. Laila berharap dapat merasakan masa
itu. Mau tidak mau, cerita lamaran Mammy berganti menjadi rencana-rencana perjodohan.
Ketika Afghanistan bebas dari Soviet dan para pemuda pulang ke rumah, mereka
akan membutuhkan mempelai, maka, satu per satu, para wanita mendaftar gadis-
gadis di lingkungan itu yang mungkin atau tidak mungkin cocok untuk Ahmad dan
Noor. Laila selalu merasa tersisih ketika pembicaraan beralih ke kedua abangnya,
seolah-olah para wanita itu sedang membahas sebuah film bagus dan hanya dia
sendiri yang belum pernah menontonnya. Dia baru berusia dua tahun ketika Ahmad
dan Noor meninggalkan Kabul dan berangkat ke Panjshir di utara untuk bergabung
dengan pasukan Komandan Ahmad Shah Massoud dan berjihad. Laila nyaris tidak bisa
mengingat apa pun tentang mereka. Sebuah kalung berbandul ALLAH mengilap yang
melingkari leher Ahmad. Sejumput rambut hitam di salah satu telinga Noor. Hanya
itu. "Bagaimana dengan Azita?"
"Anak tukang permadani itu?" ujar Mammy,


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menepuk pipinya sambil tertawa. "Kumisnya lebih tebal daripada kumis Hakim!"
"Apakah kau pernah melihat gigi gadis itu" Seperti batu nisan saja. Dia
menyembunyikan kuburan di belakang bibirnya."
"Bagaimana dengan kakak beradik Wahidi?"
"Sepasang kurcaci itu" Tidak, tidak, tidak. Oh, jangan sampai. Jangan sampai
anakku berjodoh dengan mereka. Gadis-gadis itu jelas tidak sesuai untuk sultan-
sultanku. Anakku layak mendapatkan yang lebih baik."
Ketika obrolan ini semakin seru, Laila membiarkan pikirannya melayang, dan,
seperti biasanya, dia pun menemukan Tariq.
MAMMY MENUTUP tirai kuning di kamarnya. Dalam kegelapan, aroma kamar itu
mengambang: bantal, seprai kusut, keringat, kaus kaki kotor, parfum, sisa qurma
semalam. Laila menanti hingga matanya terbiasa dengan kegelapan sebelum berjalan
melintasi kamar. Kakinya menginjak pakaian yang berserakan di lantai.
Laila membuka tirai. Di kaki ranjang terdapat sebuah kursi lipat logam tua.
Imam Tanpa Bayangan 5 Pendekar Slebor 68 Rantai Naga Siluman Tapak Merah Darah 2
^