Pencarian

Thousand Splendid Suns 5

A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein Bagian 5


wortel, dan sebuah celana panjang katun hijau dengan pinggiran pipa berenda.
"Ada desas-desus," kata Rasheed saat makan malam, mendecakkan bibir, tidak
sedikit pun memerhatikan Aziza atau piyama yang dipakaikan Laila untuknya,
"bahwa Dostum akan membelot dan bergabung dengan Hekmatyar. Massoud akan
kewalahan melawan mereka berdua. Dan, kita tak boleh melupakan Hazara." Dia
menjumput acar terung yang dibuat Mariam pada musim panas itu. "Semoga saja
semua itu hanya sekadar kabar burung. Karena, kalau sampai itu terjadi, perang
ini," dia melambaikan tangannya yang berminyak, "akan menjadi seperti piknik
hari Jumat di Paghman."
Selanjutnya, di kamar, Rasheed menggauli Laila dengan buru-buru dan tanpa kata-
kata, masih sambil berpakaian lengkap kecuali tumban, yang tidak dilepaskan,
hanya diturunkan hingga ke mata kaki. Ketika guncangan brutal tubuhnya berakhir,
Rasheed berguling menjauhi Laila dan tertidur dalam hitungan menit.
Laila menyelinap keluar dari kamar dan mendapati Mariam sedang berjongkok di
dapur, membersihkan dua ekor ikan trout Sepanci beras basah terletak di sebelahnya.
Dapur beraroma biji cumin dan asap, juga bawang goreng dan ikan.
Laila duduk di sudut dan membungkus lututnya dengan ujung roknya.
"Terima kasih," ucapnya.
Mariam tidak memandangnya. Dia telah selesai memotong-motong ikan pertama dan
sedang mulai mengurus yang kedua. Dengan sebuah pisau, dia memotong kedua sirip
ikan itu, lalu membaliknya sehingga perutnya menghadap ke wajahnya, dan
membelahnya dengan ahli dari ekor hingga ke tubuhnya. Laila menyaksikan Mariam
menjejalkan ibu jari ke dalam mulut ikan, menggapai rahang bawahnya, menekannya
ke dalam, dan, dalam satu gerakan, menarik ke luar seluruh isi perut ikan itu.
"Baju-bajunya sungguh bagus."
"Aku tidak memerlukannya," gumam Mariam. Dia menjatuhkan ikan itu di tangannya
ke atas selembar koran yang basah oleh cairan lengket berwarna kelabu dan
membelah kepalanya. "Kalau tidak dipakai oleh anakmu, baju-baju itu akan habis dimakan rayap."
"Dari mana kau belajar membersihkan ikan seperti itu?"
"Waktu masih kecil, aku tinggal di dekat sungai. Aku biasa mencari ikan di
sana." "Aku tak pernah memancing."
"Tak banyak yang harus dilakukan. Kebanyakan hanya menunggu."
Laila menyaksikan Mariam memotong ikan trout
yang telah bersih itu menjadi tiga bagian. "Kau juga menjahit baju-baju itu
sendiri?" Mariam mengangguk. "Kapan?" Mariam mencuci potongan-potongan ikan itu di dalam semangkuk air. "Waktu aku
pertama kali hamil. Atau mungkin yang kedua. Delapan belas, sembilan belas tahun
yang lalu. Sudah lama. Seperti yang kubilang, aku tidak memerlukannya."
"Kau memang khayat yang baik. Mungkin kau bisa mengajariku."
Mariam meletakkan potongan-potongan ikan yan telah ditiriskan di dalam sebuah
mangkuk bersih. Air menetes dari ujung-ujung jarinya. Dia mengangkat kepala dan
menatap Laila, seolah-olah inilah pertama kalinya dia melihatnya.
"Malam itu, waktu dia .... Tidak seorang pun pernah membelaku sebelumnya," ujar
Mariam. Laila menatap pipi kempot Mariam, kelopak matanya yang bergelambir, kerut-merut
dalam di sekeliling bibirnya dia melihat semua itu seolah-olah dia sendiri juga?baru melihat Mariam untuk pertama kalinya. Dan, untuk pertama kalinya, Laila
tidak melihat wajah yang menjengkelkan, tetapi kepedihan yang terkubur, beban
yang ditanggung tanpa perlawanan, nasib yang melekat dan menanti untuk dijalani.
Jika dia memilih untuk tetap tinggal di sini, pikir Laila, akankah wajah Mariam
menjadi wajahnya dua puluh tahun kemudian"
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," kata
Laila. "Aku dibesarkan dalam rumah tempat tidak seorang pun pernah melakukan hal
seperti itu." "Ini rumahmu sekarang. Kau harus membiasakan diri."
"Tapi, tidak pada itu. Aku tak akan mau membiasakan diri pada hal itu."
"Dia juga akan mengasahmu, kau tahu," kata Mariam, mengelap tangannya dengan
serbet kering. "Cepat atau lambat. Lagi pula, kau memberinya anak perempuan.
Jadi, kau tahu, dosamu jauh lebih besar daripadaku."
Laila bangkit. "Aku tahu udara di luar dingin, tapi bagaimana menurutmu jika
kita berdua, para pendosa ini, menghirup chai di halaman?"
Mariam tampak terkejut. "Aku tak bisa. Aku masih harus mencincang dan mencuci
biji-bijian." "Aku akan membantumu besok pagi."
"Dan aku harus membersihkan dapur ini."
"Aku akan membantumu. Kalau tidak salah, masih ada sisa haiwa. Cocok sekali
untuk dinikmati dengan chai"
Mariam meletakkan lap di meja. Laila merasakan kegelisahan dalam caranya
merapikan lengan baju, meluruskan jilbab, dan menyelipkan kembali sejumput
rambutnya yang mengintip ke luar.
"Kata orang Cina, lebih baik kelaparan selama tiga hari daripada meninggalkan
teh selama sehari." Mariam tersenyum tipis. "Itu pepatah yang bagus."
"Memang." "Tapi, aku tak bisa berlama-lama."
"Satu cangkir saja."
Mereka duduk di luar, di atas kursi lipat dan menyantap haiwa dari satu mangkuk
yang sama. Mereka menikmati cangkir kedua, dan ketika Laila menawarkan cangkir
ketiga, Mariam mengiyakan. Sementara ledakan senapan terdengar dari arah
perbukitan, Laila dan Mariam memandang gumpalan awan berarak menutupi bulan dan
kunang-kunang terakhir musim itu memendarkan sinar kuningnya dalam kegelapan.
Dan, ketika Aziza menangis dan Rasheed memanggil Laila untuk naik dan
mendiamkannya, mereka berdua saling bertukar pandang. Tatapan saling mengetahui
yang tak terbendung lagi. Dan, dalam tatapan tanpa kata ini, Laila tahu bahwa
dia dan Mariam tidak lagi berada di pihak yang berlawanan.[]
BAB 35 ... : Mariam Sejak malam itu, Mariam dan Laila mengerjakan tugas mereka bersama-sama. Mereka
duduk di dapur dan menggiling adonan, merajang bawang putih, melumatkan bawang
merah, menyuapkan potongan ketimun untuk Aziza, yang memainkan sendok dan wortel
di dekat mereka. Di halaman, Aziza dibaringkan di dalam sebuah keranjang rotan,
mengenakan berlapis-lapis pakaian dengan syal musim dingin membelit ketat
lehernya. Mariam dan Laila mengawasinya sembari mencuci, sementara buku-buku
jari mereka saling bersinggungan saat mereka membilas baju, celana, dan popok.
Perlahan-lahan, Mariam terbiasa pada pertemanan mereka yang tidak jelas namun
menyenangkan. Dia menyukai tiga cangkir chai yang akan dinikmatinya bersama
Laila di halaman, yang sekarang menjadi ritual malam hari mereka. Setiap pagi,
Mariam mendapati dirinya menanti-nanti bunyi tepukan sandal yang terdengar
ketika Laila menuruni tangga untuk sarapan, juga gelak tawa Aziza yang terdengar
seperti gemericik air dan delapan gigi mungilnya, begitu pula aroma susu
yang menempel di kulitnya. Jika Laila dan Aziza bangun terlalu siang, Mariam
menanti mereka dengan gelisah. Dia mencuci piring yang masih bersih. Dia menata
bantal-bantal di ruang tamu. Dia mengelap kusen-kusen jendela hingga mengilap.
Dia terus menyibukkan diri hingga Laila memasuki dapur sambil menggendong Aziza
di pinggulnya. Ketika melihat Mariam pada pagi hari, Aziza langsung membelalakkan mata dan
mulai mengoceh sembari meronta-ronta dalam gendongan ibunya. Dia mengulurkan
kedua lengannya ke arah Mariam, meminta Mariam menggendongnya, sementara tangan-
tangan mungilnya mengepal dan membuka dengan penuh semangat, dan wajahnya
menunjukkan ekspresi kekaguman dan ketidaksabaran.
"Berlebihan sekali tingkahmu," kata Laila sembari melepaskan Aziza supaya dapat
merangkak menghampiri Mariam. "Berlebihan sekali! Tenanglah. Khala Mariam tidak
akan pergi ke mana-mana. Itu dia, bibimu. Lihat" Sana, dekati dia sekarang."
Segera setelah berada dalam pelukan Mariam, Aziza mengisap ibu jari dan
membenamkan wajah ke leher Mariam.
Mariam mengayun-ayun Aziza dengan kaku, menyunggingkan senyuman setengah bingung
setengah bersyukur. Tidak seorang pun pernah menginginkan Mariam sedemikian rupa
sebelumnya. Cinta tak pernah menghampirinya tanpa pamrih, tanpa syarat.
Aziza membuat Mariam terharu.
"Kenapa kau menggantungkan hati mungilmu pada nenek-nenek buruk rupa sepertiku?"
bisik Mariam ke telinga Aziza. "Hah" Aku bukan siapa-siapa, apa kau tak tahu"
Aku cuma seorang dehati. Apa yang bisa kuberikan padamu?"
Tetapi, Aziza hanya menggumam senang dan membenamkan wajahnya semakin dalam.
Dan, ketika mendapatkan perlakuan seperti ini, Mariam merasa melambung. Matanya
basah. Hatinya melayang. Dia memikirkan betapa setelah bertahun-tahun menderita
kesepian, akhirnya dia menemukan sebuah hubungan sejati tanpa pamrih pertama
dalam kehidupannya yang dijejali hubungan penuh tipu daya.
PADA AWAL TAHUN BERIKUTNYA, Januari 1994, Dostum memang membelot. Dia bergabung
dengan Gulbuddin Hekmatyar dan mengambil posisi di dekat Bala Hissar, sebuah
benteng tua yang menjulang menaungi kota dari pegunungan Koh-e-Shirdawaza.
Bersama-sama, mereka menyerang pasukan Massoud dan Rabbani yang menduduki kantor
Departemen Pertahanan dan Istana Kepresidenan. Dari kedua sisi Sungai Kabul,
mereka saling menembakkan senjata. Jalanan pun dipenuhi oleh mayat, pecahan
kaca, dan serpihan logam. Terdapat peningkatan angka penjarahan, pembunuhan, dan
pemerkosaan, yang dimanfaatkan untuk mengintimidasi penduduk sipil dan
menjanjikan penghargaan pada para milisi. Mariam mendengar bahwa banyak wanita melakukan
bunuh diri karena takut akan diperkosa, dan banyak pria, demi menegakkan
kehormatan, membunuh istri dan anak perempuan mereka yang telah diperkosa oleh
milisi. Aziza memekik kaget ketika mendengar ledakan peluru di kejauhan. Untuk
mengalihkan perhatiannya, Mariam menata butir-butir beras di lantai dalam bentuk
rumah atau ayam atau bintang, dan membiarkan Aziza mengacak-acaknya. Mariam
menggambar gajah dalam satu tarikan, tanpa pernah mengangkat ujung penanya,
seperti yang diajarkan oleh Jalil.
Kata Rasheed, berpuluh-puluh penduduk sipil dibunuh setiap hari. Rumah-rumah
sakit dan toko-toko yang menjual perlengkapan kesehatan ditembaki. Kendaraan-
kendaraan yang mengangkut suplai makanan darurat dilarang memasuki kota,
dijarah, diserang. Mariam memikirkan apakah keadaan di Herat juga seperti ini,
dan, jika memang begitu, bagaimanakah kabar Mullah Faizullah, jika dia masih
hidup, dan juga Bibi jo, bersama semua anak, menantu, dan cucunya. " Dan, tentu
saja, Jalil. Apakah dia tetap bertahan, pikir Mariam, seperti dirinya" Ataukah
dia telah membawa istri-istri dan anak-anaknya melarikan diri ke luar negeri"
Mariam berharap Jalil berada di tempat yang aman, berhasil melarikan diri dari
pembunuhan yang meraja lela.
Selama seminggu, baku tembak memaksa Rasheed tetap tinggal di rumah. Dia
menggembok pintu gerbang, memasang perangkap di berbagai tempat, dan mengunci pintu depan
sebelum mengganjalnya dengan sofa. Dia berjalan mondar-mandir di dalam rumah,
merokok, menatap ke luar jendela, mengelap pistolnya, mengeluarkan pelurunya dan
memasukkannya kembali. Dua kali, dia menembakkan pistolnya ke jalan karena
merasa melihat seseorang memanjat tembok rumah mereka.
"Mereka memaksa anak-anak muda ikut berperang," katanya. "Mujahidin itu. Pada
siang hari bolong, di bawah ancaman senjata. Mereka menyeret anak-anak itu ke
jalan. Dan, sering kali anak-anak itu tertangkap oleh milisi musuh yang tak
segan-segan menyiksa mereka. Kudengar mereka disetrum itu yang kudengar dan ? ?kemaluannya dijepit dengan tang. Di bawah ancaman, anak-anak itu membawa para
prajurit ke rumah mereka. Lalu, para prajurit itu mendobrak masuk, membunuh ayah
mereka, memerkosa saudara-saudara perempuan dan ibu mereka."
Rasheed melambaikan pistolnya di atas kepala. "Lihat saja kalau mereka berani
mendobrak rumahku. Aku sendiri yang akan menjepit kemaluan mereka1. Aku akan
meledakkan kepala mereka! Kalian tahu, kalian berdua beruntung karena memiliki
suami tyang tidak takut bahkan pada Setan setan sekali pun!"
Rasheed menunduk ke lantai, melihat Aziza menggelayuti kakinya. "Lepaskan
kakiku!" bentaknya, mengusir Aziza dengan mengibas-ngibaskan pistolnya.
"Berhenti mengikutiku! Jangan
pegang-pegang kakiku seperti itu. Aku tidak akan menggendongmu. Sana! Pergi sana
sebelum aku menginjakmu."
Aziza terkesiap kaget. Dia segera merangkak kembali ke arah Mariam, tampak sedih
dan kebingungan. Di atas pangkuan Mariam, dia mengisap ibu jarinya dengan wajah
suram dan memandang Rasheed dengan tatapan kesal. Kadang-kadang, dia menengadah,
seolah-olah mengharapkan Mariam meyakinkannya.
Tetapi, dalam urusan hubungan dengan ayah, tidak ada keyakinan yang bisa
diberikan oleh Mariam. MARIAM MERASA LEGA ketika pertempuran kembali mereda, terutama karena mereka
tidak harus menghadapi Rasheed dan tingkah menjengkelkannya dalam menjaga rumah.
Mariam merasa sangat ketakutan ketika Rasheed memainkan pistolnya yang berisi
peluru di dekat Aziza. Pada suatu hari di pada musim dingin itu, Laila menawarkan diri untuk
mengepangkan rambut Mariam. Mariam duduk diam dan menatap jemari ramping Laila
bekerja mengepang rambutnya melalui cermin, sementara wajahnya tenggelam
berkonsentrasi. Aziza tertidur meringkuk di lantai, memeluk sebuah boneka yang
dibuatkan oleh Mariam untuknya. Mariam mengisi boneka kain itu dengan biji-
bijian, membuat gaunnya dengan kain yang dicelupkan ke dalam teh dan merangkai
kalungnya dengan gelendong-gelendong benang mungil dan seutas senar.
Lalu, Aziza kentut di dalam tidurnya. Laila mulai tertawa, dan Mariam ikut
tertawa. Mereka tertawa terpingkal-pingkal, menatap bayangan mereka di cermin,
tertawa hingga air mata mereka mengalir, dan momen itu terasa sangat wajar,
sangat santai, sehingga tiba-tiba Mariam telah bercerita tentang Jalil, juga
tentang Nana dan jin pengganggunya. Laila berdiri dengan tangan menyentuh bahu
Mariam dan mata terpaku pada wajah Mariam di cermin. Kata-kata mengalir keluar
dari mulut Mariam, bagaikan darah yang terpancar dari pembuluh nadi. Mariam
bercerita kepada Laila tentang Bibi jo, Mullah Faizullah, perjalanan
memalukannya ke rumah Jalil, dan Nana yang melakukan bunuh diri. Dia juga
bercerita tentang istri-istri Jalil, pernikahan mendadaknya dengan Rasheed,
perjalanan ke Kabul, kehamilan-kehamilannya, lingkaran harapan dan kekecewaan
yang seolah selalu menderanya tanpa akhir, dan juga tentang Rasheed yang
memadunya. Sesudahnya, Laila duduk di kaki kursi Mariam. Dengan pikiran melayang, dia
mengambil potongan kain yang menempel di rambut Aziza. Keheningan menyelimuti
ruangan. "Aku juga harus menceritakan sesuatu kepadamu," kata Laila.
MARIAM TAK BISA TIDUR malam itu. Dia duduk di ranjangnya, menatap salju turun
tanpa suara. Musim-musim telah datang dan pergi; presiden-presiden di Kabul telah dilantik
dan dibunuh; kerajaan telah dihancurkan; perang lama telah berakhir dan segera
digantikan oleh perang yang baru. Tetapi, Mariam tidak terlalu memerhatikan
semua itu, tidak terlalu peduli. Dia melewati tahun-tahun ini dalam sudut
terjauh pikirannya. Di sebuah padang yang gersang dan kering, jauh di luar
harapan dan kekecewaan, melebihi impian dan penyesalan. Di tempat itu, masa
depan tidak berarti. Dan, masa lalu hanya menyimpan satu kebijaksanaan: bahwa
cinta adalah kesalahan yang menghancurkan, dan kaki tangannya, harapan, adalah
ilusi yang menyesatkan. Dan, kapan pun bunga kembar beracun itu mulai bertunas
di padangnya, Mariam akan mencabutnya hingga ke akarnya. Dia mencabut dan
membuangnya sebelum tumbuhan itu menancapkan akarnya dalam-dalam.
Tetapi, entah bagaimana, selama beberapa bulan terakhir, Laila dan Aziza yang ?ternyata juga harami seperti dirinya telah menjadi perpanjangan dari dirinya,
?dan sekarang, tanpa mereka, kehidupan yang telah ditanggung oleh Mariam begitu
lama menjadi tampak tak tertanggungkan lagi.
Kami akan kabur pada musim semi nanti, aku dan Aziza. Ikutlah bersama kami,
Mariam. Tahun-tahun yang telah berlalu tidak pernah
menunjukkan keramahan kepada Mariam. Tetapi, mungkin, pikir Mariam, tahun-tahun
yang lebih baik akan menantinya. Sebuah kehidupan baru, kehidupan tempat dia
bisa merasakan kebahagiaan, melihat sesuatu yang kata Nana tak akan pernah
dilihat oleh seorang harami seperti dirinya. Dua kuntum bunga tanpa terduga
telah mekar di dalam kehidupannya, dan, sembari menyaksikan salju berjatuhan,
Mariam membayangkan Mullah Faizullah mengurut butir-butir tasbihnya,
mencondongkan tubuhnya, dan berbisik dengan suaranya yang lembut dan bergetar,
Tetapi, Tuhanlah yang menanam kedua bunga itu, Mariam jo. Dan, atas kehendak-
Nyalah kau harus merawat mereka. Ini adalah kehendak-Nya, Anakku. []
BAB 36 Laila Ketika sinar matahari perlahan namun pasti mengusir kegelapan dari langit pagi
musim semi 1994 itu, Laila mendapatkan keyakinan bahwa Rasheed telah tahu.
Bahwa, cepat atau lambat, Rasheed akan menyeret Laila dari ranjang dan
menanyainya apakah dia menganggap dirinya sebagai khar, keledai, yang tak akan


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pernah menyadari kecurangan Laila. Tetapi, azan mengalun, dan matahari pagi
menyorotkan sinarnya di atap datar rumah-rumah, dan ayam-ayam jantan berkokok,
dan tidak terjadi apa pun yang berada di luar kewajaran.
Laila dapat mendengar Rasheed di dalam kamar mandi, ketukan pisau cukurnya di
mulut ember. Lalu, di bawah, Rasheed berjalan mondar-mandir, memanaskan teh.
Kunci-kuncinya berdentingan. Sekarang, dia melintasi halaman, mendorong
sepedanya. Laila mengintip melalui celah tirai jendela ruang tamu. Dia menyaksikan Rasheed
mengayuh sepedanya, seorang pria tinggi besar di atas sepeda kecil, sementara
sinar matahari menyoroti setangnya. "Laila?"
Mariam berdiri di ambang pintu. Laila dapat melihat bahwa Mariam juga tidak
dapat tidur sepanjang malam. Dia bertanya-tanya, apakah sepanjang malam tadi,
Mariam juga didera gelombang euforia dan serangan kegelisahan yang mengeringkan
mulut. "Kita berangkat satu jam lagi," kata Laila.
Di bangku belakang taksi, mereka tidak saling berbicara. Aziza duduk di pangkuan
Mariam, memeluk bonekanya, menatap heran dengan mata terbelalak lebar pada
keramaian kota. "Ona" dia menjerit, menunjuk sekelompok gadis kecil yang sedang bermain lompat
tali. "Mayam! Ona."
Ke mana pun berpaling, Laila melihat Rasheed. Dia melihat Rasheed keluar dari
kios tukang cukur dengan etalase berkaca hitam, dari kios-kios kecil yang
menjual burung-burung puyuh, dari toko-toko jorok dengan tumpukan ban bekas dari
lantai hingga ke langit-langit.
Laila memerosotkan diri serendah mungkin di kursinya.
Di sampingnya, Mariam sedang menggumamkan doa. Laila berharap dapat melihat
wajahnya, namun Mariam mengenakan burqa mereka berdua mengenakan burqa-dan yang?terlihat darinya
hanyalah kilauan matanya di balik selubung kasa.
Ini adalah perjalanan pertama Laila ke luar rumah sejak berminggu-minggu, tanpa
menghitung perjalanan pendeknya ke tukang gadai sehari sebelumnya di sana, dia
?menyodorkan cincin kawinnya di atas meja kaca, dan akhirnya keluar dari tempat
itu dengan jantung berdegup kencang, menyadari bahwa rencananya akan terwujud
dan dia tak bisa kembali mundur. Di sekelilingnya sekarang, Laila melihat hasil
dari pertempuran yang baru saja usai, yang keributannya terdengar dari rumah.
Tempat-tempat tinggal yang kehilangan atap, puing-puing batu bata dan pecahan
tembok, rangka-rangka mobil yang hangus terbakar, terbalik, beberapa saling
bertumpukan, tembok-tembok yang berlubang peluru dalam berbagai ukuran, serpihan
kaca di mana-mana. Dia melihat iring-iringan pemakaman yang bergerak menuju
masjid, dengan seorang wanita tua berbusana hitam di barisan belakang menangis
sambil menjambaki rambutnya sendiri. Mereka melewati sebuah kuburan yang penuh
oleh liang-liang lahat bernisan batu dan bendera syahid kumal yang berkibar
tertiup angin. Laila mengulurkan tangannya melewati koper dan menggenggamkan
jemarinya pada kelembutan lengan putrinya.
O Di terminal bus Gerbang Lahore, di dekat Pol Mahmood Khan di Kabul Timur,
sederet bus terparkir menanti penumpang di sepanjang bahu jalan. Pria-pria berserban sibuk menaikkan
buntalan-buntalan dan peti-peti ke atap bus, mengikat koper-koper dengan tali.
Di dalam terminal, para pria berdiri dalam antrian antrean panjang di depan
loket karcis. Para wanita ber-burqa berdiri dalam kelompok dan bercakap-cakap,
dengan bawaan mereka menumpuk di dekat kaki mereka. Bayi-bayi berada dalam
gendongan, bocah-bocah kecil mendapatkan bentakan karena berlarian terlalu jauh.
Milisi-milisi Mujahidin berpatroli di terminal dan jalan, meneriakkan perintah
di sana-sini. Mereka semua mengenakan sepatu bot, pakol, dan pakaian hijau
berdebu. Semuanya menyandang Kalashnikov.
Laila merasa diawasi. Dia menatap wajah semua orang, namun dia merasa bahwa
semua orang di tempat ini tahu, bahwa mereka semua melontarkan tatapan mengecam
kepada dirinya dan Mariam.
"Apa kau melihat seseorang yang kita kenal?" tanya Laila.
Mariam mengatur posisi Aziza dalam gendongannya. "Aku juga sedang melihat-
lihat." Ini, Laila tahu, akan menjadi bagian berisiko pertama, menemukan seorang pria
yang tepat untuk berpura-pura menjadi anggota keluarga mereka. Kemerdekaan dan
kesempatan yang dinikmati wanita Afghanistan sejak 1978 hingga 1992 telah
menjadi masa lalu Laila masih dapat mengingat perkataan Babi pada tahun-tahun ?ketika komunis berkuasa, Ini saat yang bagus bagi wanita di Afghanistan, Laiia.
Sejak Mujahidin mengambil alih
kekuasaan pada April 1992, nama Afghanistan diubah menjadi Negara Islam Afghanistan.
Mahkamah Agung, di bawah pimpinan Rabbani, penuh beranggotakan mullah dari
kalangan garis keras yang menolak kebijakan era komunis mengenai pemberdayaan
perempuan dan, alih-alih, mengeluarkan undang-undang yang didasarkan pada
Syariah, hukum Islam yang keras, yang memerintahkan supaya wanita menutup diri
mereka, melarang mereka melakukan perjalanan tanpa ditemani oleh kerabat pria,
dan menimpakan hukuman rajam kepada pelaku zina. Meskipun pelaksanaan undang-
undang itu sendiri sejauh ini hanya bersifat sporadis. Tapi, mereka akan iebih
menekankannya kepada kita, kata Laila kepada Mariam, seandainya mereka tidak
teriaiu sibuk saling membunuh. Dan membunuh kita.
Bagian berisiko kedua dari perjalanan ini adalah ketika mereka benar-benar
berhasil tiba di Pakistan. Setelah dibebani oleh hampir dua juta pengungsi
Afghan, Pakistan telah menutup perbatasan sejak Januari tahun itu. Laila
mendengar bahwa hanya orang-orang yang memiliki visa yang akan diizinkan masuk.
Tetapi, banyak lubang di perbatasan itu selalu begitu dan Laila tahu bahwa ? ?ribuan pengungsi Afghan masih berhasil memasuki Pakistan dengan cara menyuap
atau berpura-pura menjadi sukarelawan dan selalu ada calo yang bisa dibayar.
?Kita akan mendapatkan cara sesampainya di sana, kata Laila kepada Mariam.
"Bagaimana kalau dia?" kata Mariam, menunjuk dengan dagunya.
"Sepertinya dia tak bisa dipercaya." "Kalau dia?"
"Terlalu tua. Lagi pula, dia pergi bersama dua pria lain."
Akhirnya, Laila melihat seorang pria yang sedang duduk di atas sebuah bangku
taman, di samping seorang wanita berjilbab, memangku seorang anak laki-laki
berkopiah yang mungkin berusia sebaya dengan Aziza. Pria itu jangkung dan
ramping, berjanggut, mengenakan kemeja berkerah terbuka dan mantel kelabu usang
yang telah kehilangan kancing.
"Tunggu di sini," Laila memberi tahu Mariam. Ketika berjalan pergi, Laila sekali
lagi mendengar Mariam menggumamkan doa.
Ketika melihat Laila di dekatnya, pria itu mendongakkan kepala, mengangkat
tangan untuk melindungi matanya dari sinar matahari.
"Maaf, Saudara, apakah Anda akan pergi ke Peshawar?"
"Ya," ujar pria itu, memicingkan mata.
"Saya berpikiringin tahu, apakah Anda dapat menolong kami. " Bolehkah kami
merepotkan Anda?" Dia menyerahkan anak laki-laki di pangkuannya kepada istrinya dan mengajak Laila
menyingkir. "Ada apa, Hamshira?"
Keberanian Laila terpicu setelah melihat bahwa pria itu memiliki mata lembut dan
wajah bijak. Laila menceritakan kepadanya pria itu tentang kisah yang telah
disepakatinya bersama Mariam. Dia
adalah seorang biwa, katanya, seorang janda. Dia bersama ibu dan putrinya tidak
memiliki siapa pun lagi di Kabul. Mereka ingin pergi ke Peshawar supaya dapat
tinggal di rumah pamannya.
"Anda ingin melakukan perjalanan bersama keluarga saya," kata pria muda itu.
"Saya tahu, ini adalah zahmat bagi Anda. Tetapi, Anda tampak baik hati, Saudara,
dan saya-" "Jangan khawatir, Hamshira. Saya paham. Tidak masalah. Saya akan mengantri
mengantre dan membelikan tiket untuk Anda."
"Terima kasih, Saudara. Ini adalah sawab, kebaikan tanpa pamrih. Tuhan akan
mengingatnya." Laila mengeluarkan amplop dari saku di bawah burga-r\ya dan mengulurkannya
kepada pria itu. Di dalam amplop itu terdapat uang sejumlah seribu seratus
afghani, atau sekitar separuh dari seluruh uang yang berhasil ditabungnya selama
setahun, ditambah dengan uang penjualan cincin kawinnya. Pria itu memasukkan
amplop tersebut ke dalam saku celananya.
"Tunggulah di sini."
Laila menyaksikan pria itu memasuki terminal. Dia kembali setengah jam kemudian.
"Akan lebih baik jika tiket Anda saya pegang saja," katanya. "Bus akan berangkat
satu jam lagi, pukul sebelas. Kita semua akan naik bersama-sama. Nama saya
Wakil. Jika mereka bertanya dan seharusnya tidak saya akan mengatakan bahwa ? ?Anda adalah sepupu saya."
Laila menyebutkan namanya, Mariam, dan Aziza,
dan Wakil berjanji akan mengingatnya.
"Jangan jauh-jauh dari kami," Wakil mengingatkan.
Mereka duduk di salah satu bangku, berdekatan dengan Wakil dan keluarganya. Pagi
itu hangat, matahari bersinar cerah dan hanya ada sedikit awan berarak di atas
perbukitan di kejauhan. Mariam memberikan biskuit untuk Aziza, yang tak luput
dibawanya dalam ketergesaan mereka berkemas-kemas. Dia menawarkan biskuit itu
kepada Laila. "Bisa-bisa aku muntah," Laila tergelak. "Aku terlalu bersemangat."
"Aku juga." "Terima kasih, Mariam." "Untuk apa"
"Untuk semua ini. Karena kau mau pergi bersama kami," kata Laila. "Kupikir, aku
tak akan bisa melakukannya sendirian."
"Kau tidak perlu sendirian."
"Kita akan baik-baik saja, bukan, Mariam, di tempat baru kita?"
Mariam menggeserkan tangannya di bangku dan menggenggam tangan Laila. "Dalam
AlQuran dikatakan bahwa Allah adalah Timur dan Barat, sehingga ke mana pun kita
menuju, semuanya atas kehendak Allah."
"Bov" seru Aziza seraya menunjuk-nunjuk sebuah bus. "Mayam, bov"
"Aku juga melihatnya, Aziza jo," kata Mariam. "Benar sekali, bov. Sebentar lagi,
kita semua akan naik bov. Oh, kau akan melihat banyak hal baru."
Laila tersenyum. Dia melihat seorang tukang kayu sedang menggergaji sebilah
papan di bengkelnya di seberang jalan, serbuk gergaji beterbangan. Dia melihat
mobil-mobil melaju dengan jendela berlapis debu dan kotoran. Dia melihat bus-bus
yang terparkir dengan mesin bergetar di bahu jalan, dengan burung merak, singa,
matahari terbit, dan pedang berkilauan tergambar di sisinya.
Dalam kehangatan matahari pagi, Laila merasa gembira dan berani. Dia mendapatkan
satu lagi ledakan kecil euforia, sehingga ketika melihat seekor anjing liar
bermata kuning berjalan terpincang-pincang, dia membungkuk dan menepuk-nepuk
punggung binatang itu. Beberapa menit sebelum pukul sebelas, menggunakan pengeras suara, seorang pria
mengumumkan kepada seluruh penumpang yang hendak pergi ke Peshawar untuk segera
memasuki bus. Pintu bus terbuka dengan diiringi desisan hidraulis nyaring. Para
penumpang segera berjejalan di depan pintu bus, saling mendorong, berusaha
secepat mungkin masuk. Wakil memberikan isyarat kepada Laila sambil menggendong anaknya.
"Kita berangkat," kata Laila.
Wakil berjalan di depan. Ketika mereka mendekati bus, Laila melihat wajah-wajah
bermunculan di jendela, hidung-hidung dan telapak-telapak tangan menempel di
kaca. Di sekeliling mereka, ucapan selamat berpisah diteriakkan.
Seorang prajurit milisi muda memeriksa tiket di depan pintu bus. "Bovl" jerit
Aziza. Wakil menyerahkan tiket kepada prajurit itu, yang merobeknya menjadi dua bagian
dan mengembalikan robekannya. Wakil menyuruh istrinya masuk terlebih dahulu.
Laila melihat Wakil bertukar pandang dengan si prajurit. Wakil, dengan satu kaki
menginjak anak tangga bus, mencondongkan tubuh dan membisikkan sesuatu ke
telinga prajurit itu. Si prajurit mengangguk.
Jantung Laila berdegup kencang.
"Kalian berdua, yang membawa anak, silakan menyingkir," kata si prajurit.
Laila berpura-pura tidak mendengar perintah itu. Dia tetap menaiki tangga, namun
prajurit itu mencengkeram bahunya dan menariknya keluar dengan kasar.
"Kau juga," seru prajurit itu kepada Mariam. "Cepat! Kalian berdua menghambat
antrianantrean." "Ada masalah apa, Saudara?" ujar Laila melalui bibirnya yang kaku. "Kami punya
tiket. Bukankah sepupuku sudah menyerahkannya kepadamu?"
Prajurit itu mengisyaratkan dengan jarinya supaya Laila diam dan berbisik kepada
seorang prajurit lain. Prajurit kedua ini, seorang pemuda bertubuh gempal yang
memiliki bekas luka di pipi kanannya, mengangguk.
"Ikuti saya," katanya kepada Laila.
"Kami harus naik bus ini," jerit Laila, menyadari bahwa suaranya bergetar. "Kami
punya tiket. Kenapa kalian berbuat seperti ini?"
"Kalian tidak boleh naik bus ini. Sebaiknya Anda menerimanya. Sekarang, silakan
ikuti saya. Kecuali Anda ingin anak Anda melihat Anda diseret di jalan."
Ketika mereka digelandang menuju sebuah truk, Laila berpaling dan melihat wajah
anak laki-laki Wakil di jendela bus. Anak itu juga melihatnya dan melambai-
lambai dengan senang. Di kantor polisi di Persimpangan Torabaz Khan, mereka didudukkan secara
terpisah, masing-masing di ujung sebuah koridor panjang yang penuh sesak,
dipisahkan oleh sebuah meja, di belakangnya seorang pria merokok tak henti-
hentinya sambil sesekali mengetik. Tiga jam berlalu dengan lambat. Aziza
berjalan terhuyung-huyung, berpindah-pindah di antara Laila dan Mariam. Dia
bermain-main dengan penjepit kertas yang diberikan oleh pria di belakang meja
itu. Dia telah menghabiskan biskuit yang dibawa oleh Mariam. Akhirnya, dia
tertidur di pangkuan Mariam.
Pada sekitar pukul tiga siang, Laila dibawa memasuki sebuah ruang interogasi.
Mariam disuruh menunggu di koridor bersama Aziza.
Pria yang duduk di sisi lain meja dalam ruang interogasi berusia tiga puluhan
dan mengenakan pakaian sipil setelan hitam, dasi, sepatu pantofel hitam. ?Janggutnya terpotong rapi, rambutnya pendek, dan alisnya saling bertaut. Dia
memandang lekat-lekat pada Laila, mengetuk-ngetukkan ujung pensil berpenghapusnya ke meja.
"Kami tahu," pria itu memulai, berdeham dan dengan sopan menutup mulutnya dengan
kepalan tangan, "bahwa Anda telah mengatakan satu kebohongan hari ini, Hamshira.
Pria muda yang ada di terminal itu bukan sepupu Anda. Dia sendiri yang memberi
tahu kami. Pertanyaannya adalah, apakah Anda akan mengatakan lebih banyak
kebohongan lagi hari ini" Secara pribadi, saya menasihati Anda untuk tidak
melakukannya." "Kami akan tinggal bersama paman saya," kata Laila. "Saya mengatakan kejujuran."
Polisi itu mengangguk. "Hamshira yang menunggu di koridor, apakah dia benar-
benar ibu Anda?" "Ya." "Dia berbicara dengan logat Herati. Anda tidak." "Ibu saya dibesarkan di Herat,
saya lahir di Kabul."
"Tentu saja. Dan Anda janda" Anda bilang begitu. Saya turut berbela sungkawa.
Dan, paman Anda ini, kaka ini, di mana dia tinggal?"
"Di Peshawar." "Ya, Anda sudah mengatakannya." Pria itu menjilat ujung pensilnya dan
mencoretkannya di atas sehelai kertas kosong. "Tapi, di mana tepatnya di
Peshawar" Di daerah mana" Nama jalannya, nomor distriknya."
Laila berusaha menahan rasa panik yang mulai membuncah di dalam dadanya. Dia
menyebutkan satu-satunya nama jalan yang diketahuinya ada di Peshawar dia pernah mendengar
?nama itu disebutkan sekali, dalam pesta yang digelar Mammy ketika Mujahidin
pertama kali memasuki Kabul-"Jalan Jamrud."
"Oh, ya. Hotel Pearl Continental juga ada dijalan itu. Paman Anda mungkin pernah
menyebutkannya." Laila menyambar kesempatan ini dan mengiyakan. "Ya, jalan itu, benar sekali."
"Hanya saja, hotel itu ada di Jalan Khyber."
Laila dapat mendengar tangisan Aziza di koridor. "Putri saya ketakutan. Bolehkah
saya mengajaknya masuk, Saudara?"
"Saya lebih suka dipanggil 'Opsir1. Dan Anda akan bertemu dengan putri Anda tak
lama lagi. Anda punya nomor telepon paman Anda ini?"
"Ya. Punya. Saya Bahkan dari balik burqa-nya, Laila dapat merasakan tajamnya
tatapan opsir itu. "Sayang sekali, sepertinya saya tidak hafal nomornya."
Pria itu mendengus melalui hidungnya. Dia menanyakan nama sang paman dan
istrinya. Berapa anak mereka" Siapa saja nama mereka" Di mana dia bekerja"
Berapa umurnya" Semua pertanyaan ini membuat Laila kebingungan.
Dia meletakkan pensilnya, menautkan jemarinya, dan mencondongkan tubuhnya,
seperti yang dilakukan oleh orangtua yang ingin menasihati anak balitanya. "Anda
tentu menyadari, Hamshira, bahwa seorang wanita yang kabur dari rumah dianggap
telah melakukan tindakan kriminal. Kami
sudah sering menangani masalah seperti ini. Para wanita yang bepergian
sendirian, menyatakan bahwa suami mereka telah meninggal. Kadang-kadang mereka


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memang jujur, tapi sebagian besar berbohong. Anda bisa dipenjara karena kabur,
saya anggap Anda sudah paham, nay?"
"Lepaskanlah kami, Opsir Laila membaca
nama yang tertera di tanda pengenal petugas itu. "Opsir Rahman. Saya mohon,
hormatilah makna nama Anda dan tunjukkanlah belas kasihan kepada kami. Apakah
Anda akan mendapatkan masalah jika membiarkan dua wanita biasa seperti kami
pergi" Apa bahayanya melepaskan kami" Kami bukan penjahat."
"Saya tidak bisa."
"Saya memohon kepada Anda, tolonglah kami."
"Ini masalah qanoort, Hamshira, masalah hukum," kata Rahman, menyelipkan nada
tegas dalam suaranya. "Anda tahu, saya memiliki tanggung jawab untuk menegakkan
hukum." Meskipun telah mendekati putus asa, Laila merasa geli mendengar pernyataan ini.
Dia heran mendapati kata-kata ini masih berlaku di tengah segala hal yang telah
dilakukan oleh faksi-faksi Mujahidin semua pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan,?penyiksaan, eksekusi, pengeboman, dan puluhan ribu roket yang saling ditembakkan
tanpa memedulikan nasib penduduk sipil yang terjepit di tengah-tengah pertikaian
ini. Hukum. Tetapi, Laila menahan ucapannya.
"Jika Anda memulangkan kami," alih-alih dia
mengatakannya, perlahan-lahan, "kami tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan
suami kami kepada kami." "
Laila dapat melihat Opsir Rahman berusaha tetap menegaskan pandangannya. "Saya
tidak berhak mencampuri urusan seorang pria di rumahnya sendiri."
"Bagaimana dengan hukum, jika begitu, Opsir Rahman?" Air mata kemarahan
menyengat Laila. "Bukankah Anda memiliki kewajiban untuk menegakkan hukum?"
"Kami memiliki kebijakan untuk tidak mencampuri masalah rumah tangga, Hamshira."
"Tentu saja begitu. Hak-hak pria memang selalu dijunjung tinggi. Dan, apa
masalah saya ini juga termasuk 'masalah rumah tangga', seperti yang Anda
katakan" Benar begitu?"
Opsir Rahman mendorong kursinya ke belakang dan berdiri, merapikan jasnya. "Saya
rasa pembicaraan kita telah selesai. Saya harus mengatakan, Hamshira, bahwa Anda
berada dalam posisi yang buruk. Sangat buruk. Sekarang, silakan Anda menunggu di
luar sementara saya menanyai ... entahlah apa hubungan Anda dengannya."
Laila mulai memprotes, lalu menjerit-jerit, sehingga Opsir Rahman harus
memanggil dua orang petugas untuk menyeretnya keluar.
Interogasi dengan Mariam hanya berlangsung selama beberapa menit. Ketika keluar
dari ruangan itu, Mariam tampak terguncang.
"Dia menanyakan banyak hal," katanya. "Maafkan aku, Laila jo. Aku tidak sepintar
dirimu. Dia memberiku banyak sekali pertanyaan, dan aku tidak tahu jawabannya.
Maafkan aku." "Ini bukan kesalahanmu, Mariam," kata Laila lesu. "Akulah yang bersalah. Semua
ini salahku. Semuanya salahku."
jam telah menunjukkan pukul enam lewat beberapa
menit ketika mobil polisi berhenti di depan rumah. Laila dan Mariam disuruh
menunggu di bangku belakang, dijaga oleh seorang prajurit Mujahid yang duduk di
bangku depan. Sopir mobil itu turun, mengetuk pintu rumah, dan berbicara dengan
Rasheed. Setelah itu, dia mengisyaratkan kepada Laila dan Mariam untuk turun.
"Selamat datang di rumah," kata prajurit yang menjaga mereka sembari menyalakan
rokok. O "Kamu," kata Rasheed kepada Mariam. "Tunggu di sini."
Mariam duduk di sofa tanpa berkata-kata. "Kalian berdua, naik sana."
Rasheed mencengkeram siku Laila dan mendorongnya menaiki tangga. Dia masih
mengenakan sepatu kerjanya, belum menggantinya dengan sandal jepit, belum
melepas jam tangannya, bahkan juga belum melepas mantelnya. Laila
membayangkan Rasheed, satu jam atau mungkin baru beberapa menit sebelumnya,
memeriksa setiap kamar, membantingi pintu-pintu, marah besar dan tidak mampu
memercayai apa yang telah terjadi, mengumpat-umpat sendiri.
Di puncak tangga, Laila berpaling dan menatap Rasheed.
"Mariam tidak mau pergi," katanya. "Akulah yang memaksanya. Dia tidak mau
pergi-" Laila tidak melihat pukulan itu melayang. Dia sedang berbicara, dan tiba-tiba
dia telah jatuh tersungkur, bermata nanar dan berwajah merah, berusaha bernapas
dengan dadanya yang sesak. Dirinya seolah-olah tertabrak mobil yang melaju
dengan kecepatan tinggi. Rasa nyeri menjalar di antara bagian bawah dada dan
pusarnya. Laila menyadari bahwa dia telah menjatuhkan Aziza, yang sekarang
menangis menjerit-jerit. Dia berusaha kembali bernapas, namun hanya mampu
mengeluarkan bunyi tercekat. Air liur menetes dari mulutnya.
Lalu, Rasheed menjambak dan menyeretnya. Laila melihat Aziza terangkat,
sandalnya terlepas, kaki mungilnya menendang-nendang. Kulit kepala Laila
terkoyak bersama sejumput rambutnya, dan sengatan rasa nyeri seketika membuat
matanya basah. Dia melihat kaki Rasheed menendang pintu kamar Mariam hingga
terbuka, lalu Aziza melayang hingga jatuh di ranjang. Rasheed melepaskan
cengkeramannya di rambut Laila, dan tiba-tiba Laila merasakan ujung sepatu
Rasheed menghantam bokong kirinya. Laila melolong kesakitan dan Rasheed membanting pintu. Putaran
kunci terdengar dari luar.
Aziza masih menangis. Laila berbaring meringkuk di lantai, berusaha menarik
napas. Dia memaksa dirinya bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya,
merangkak mendekati Aziza di ranjang. Dia menggapai putrinya.
Di bawah, pemukulan telah dimulai. Bagi Laila, suara yang didengarnya terasa
bagaikan rutinitas yang sehari-hari terjadi di rumah. Tidak ada sumpah serapah,
tidak ada jeritan, tidak ada permohonan, tidak ada teriakan kaget, hanya
pengulangan sistematis dari tindakan pemukulan dan penerimaan pukulan, bunyi bak
dan buk dari sebuah benda keras yang berulang-ulang menghantam daging, sesuatu,
seseorang, menerpa tembok diiringi bunyi benturan teredam, kain yang terkoyak.
Berulang kali, Laila mendengar langkah memburu, pengejaran tanpa suara, perabot
yang tertabrak dan terguling, gelas yang pecah, lalu lagi-lagi bunyi pukulan.
Laila merengkuh Aziza dan memeluknya erat-erat. Cairan hangat membasahi bagian
depan roknya ketika Aziza tak mampu lagi menahan pipisnya.
Di bawah, perburuan akhirnya usai. Sekarang, terdengarlah bunyi seperti benturan
penumbuk kayu yang digunakan untuk melunakkan daging. Laila mengayun-ayun Aziza
hingga rentetan bunyi tersebut berhenti, dan, ketika dia mendengar bunyi pintu
kasa terbuka dan terbanting menutup, dia
meletakkan Aziza di lantai dan mengintip ke luar jendela. Dia melihat Rasheed
mencengkeram tengkuk Mariam Laila dan mendorongnya melintasi halaman. Mariam
berjalan menunduk, bertelanjang kaki. Darah membasahi tangannya, wajahnya,
rambutnya, lehernya, dan punggungnya. Bagian depan bajunya terkoyak.
"Ampuni aku, Mariam," isak Laila di balik kaca.
Laila melihat Rasheed mendorong Mariam ke dalam gudang perkakas. Rasheed ikut
masuk ke dalam, lalu keluar membawa beberapa bilah papan dan sebuah palu. Dia
menutup pintu gudang, mengeluarkan kunci dari sakunya, dan menggembok tempat
itu. Dia menguji kekuatan pintu, lalu berjalan mengelilingi gudang dan muncul
kembali membawa sebuah tangga.
Beberapa menit kemudian, wajah Rasheed tampak di jendela Laila, dengan paku-paku
terselip di mulutnya. Rambutnya acak-acakan. Noda darah menempel di keningnya.
Melihat Rasheed, Aziza memekik dan membenamkan wajah ke ketiak Laila.
Rasheed mulai memaku papan-papan yang dia bawanya ke jendela.
O Kegelapan itu begitu pekat, begitu dalam sehingga tak mungkin ditembus, tanpa
lapisan ataupun tekstur yang teraba. Rasheed menutupi setiap celah di antara
bilah papan dengan sesuatu, menempatkan sebuah benda besar dan berat di
depan lubang bawah pintu sehingga tidak sedikit pun cahaya bisa masuk. Lubang
kunci pun tersumpal. Laila tidak mampu menyebutkan waktu hanya berdasarkan penglihatannya, sehingga
dia memanfaatkan satu telinganya yang masih berfungsi. Azan dan kokokan ayam
jantan menandakan pagi hari. Bunyi radio dan dentingan piring di dapur
menandakan malam hari. Pada hari pertama, Laila dan Aziza saling meraba dan bertubrukan dalam
kegelapan. Laila tidak bisa melihat Aziza ketika dia menangis atau merangkak.
"Aishee," rengek Aziza. "Aishee." "Tunggu sebentar." Laila bermaksud mencium
kening putrinya, namun justru mendapati puncak kepalanya. "Sebentar lagi, kamu
bisa minum susu. Sabar sebentar, ya. Jadilah gadis kecil yang sabar dan baik
untuk Mammy, nanti Mammy akan mengambilkanmu aishee."
Laila menyanyikan beberapa lagu untuk Aziza.
Azan terdengar untuk kedua kalinya, dan Rasheed belum juga memberikan makanan
untuk mereka, dan, yang lebih parah, dia juga tidak menyediakan air. Hari itu,
panas yang menyengat dan menyesakkan melanda mereka. Kamar itu seolah-olah
berubah menjadi tungku pemanas. Laila menjilat bibir dengan lidah keringnya,
memikirkan sumur di luar, dengan airnya yang dingin dan segar. Aziza terus-
menerus menangis, dan Laila merasa ketakutan ketika dia mengusap pipi Aziza dan
tidak mendapati air mata di sana. Laila membuka baju
Aziza, berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk berkipas, dan
akhirnya dia meniupkan napasnya untuk menenangkan Aziza. Tak lama kemudian,
Aziza mulai tenang. Dia duduk diam di pangkuan Laila dan jatuh tertidur.
Beberapa kali pada hari itu, Laila menggedor-gedor dinding dengan tangannya,
menghabiskan energinya untuk menjerit-jerit meminta tolong, berharap seorang
tetangga akan mendengarnya. Namun, tidak seorang pun datang, dan jeritannya
hanya membuat Aziza makin ketakutan. Aziza mulai menangis kembali, tetapi kali
ini tangisannya begitu lemah dan parau. Laila membaringkan tubuhnya di lantai.
Rasa bersalah menderanya ketika dia memikirkan Mariam, tubuhnya yang bersimbah
darah, terkurung di dalam gudang perkakas.
Entah kapan, Laila tertidur, tubuhnya bagaikan terpanggang dalam panasnya udara.
Dalam mimpinya, dia dan Aziza melihat Tariq, yang ada di seberang jalan ramai,
di bawah kanopi kios tukang jahit. Tariq sedang duduk dan mencicipi sebutir buah
fig yang dia ambilnya langsung dari petinya. Itu/ah ayahmu, kata Laila. Pria
yang ada di sana, kau melihatnya" Dialah baba-mu yang sebenarnya. Laila
memanggil-manggil Tariq, namun keributan di jalan menenggelamkan suaranya, dan
Tariq tidak mendengarnya.
Laila terbangun karena mendengar lengkingan roket yang membelah langit. Di suatu
tempat, ledakan cahaya akan mewarnai langit, diikuti oleh rentetan membabi buta
senapan-senapan mesin. Laila memejamkan mata. Dia kembali terbangun ketika mendengar langkah berat
Rasheed di koridor. Laila menyeret tubuhnya, menepuk-nepukkan tangannya ke
lantai. "Satu gelas saja, Rasheed. Bukan untukku. Untuk Aziza. Kau tak ingin darahnya
menodai tanganmu, bukan?"
Rasheed mengabaikannya. Laila mulai memohon. Dia berulang kali meminta ampunan, bersumpah. Dia mengutuk
Rasheed. Rasheed menutup pintu kamarnya. Bunyi radio terdengar.
Untuk ketiga kalinya, muazin mengumandangkan azan. Udara yang panas semakin
menyesakkan. Aziza semakin lemah. Dia berhenti menangis, juga berhenti bergerak.
Laila mendekatkan telinganya ke mulut Aziza, merasakan gejolak kepanikan setiap
kali embusan napas lembut putrinya tidak terdengar. Gerakan sederhana seperti
mengangkat tubuh membuat kepala Laila berputar. Dia merasa mengantuk, lalu
memimpikan berbagai macam hal yang tak mampu diingatnya lagi. Ketika terbangun,
dia memeriksa Aziza, meraba retakan-retakan di bibir mungilnya yang kering,
detakan samar-samar di lehernya, lalu kembali berbaring. Mereka akan mati di
sini, Laila merasa yakin akan hal itu sekarang, namun yang benar-benar
ditakutinya adalah kemungkinan dirinya akan melihat Aziza, yang masih begitu
muda dan tak berdaya, meninggalkannya. Beban seberat apa lagi yang akan dapat
ditanggung oleh Aziza" Udara
sepanas ini akan merenggut nyawanya, dan tak ada yang bisa dilakukan oleh Laila
kecuali berbaring di sisi tubuh kaku putrinya, menantikan kematiannya sendiri.
Sekali lagi, Laila tertidur. Terbangun. Tertidur. Garis batas antara impian dan
kenyataan semakin memudar.
Bukan kokokan ayam jantan atau lantunan azan yang kali ini membangunkan Laila.
Dia mendengar gesekan benda berat di lantai. Setelah itu, dia mendengar
gemerincing kunci. Tiba-tiba, cahaya membanjiri kamar tempatnya berada. Matanya
menjeritkan protes. Laila mengangkat kepala, mengerjap-ngerjapkan mata, dan
mengangkat tangannya melindungi wajah. Melalui sela-sela jarinya, dia melihat
siluet besar berbentuk samar-samar berdiri di ambang pintu. Siluet itu bergerak.
Sekarang, sesosok tubuh berjongkok di dekatnya, membungkuk di atasnya, dan
sebuah suara menembus telinganya.
"Kalau kau berani berbuat seperti ini lagi, aku akan menemukanmu. Aku bersumpah
demi Nabi bahwa aku akan menemukanmu. Dan, kalau memang begitu kejadiannya,
tidak akan ada pengadilan di negeri menyedihkan ini yang akan menyalahkan
tindakanku. Pertama pada Mariam, lalu padanya, dan terakhir baru kamu. Aku akan
menyuruhmu menonton. Paham" Aku akan menyuruhmu menonton."
Dan, setelah menyampaikan ancamannya, Rasheed keluar dari kamar. Namun,
sebelumnya dia sempat melayangkan sebuah tendangan ke
pinggang Laila, menyebabkan kencing Laila berdarah selama berhari-hari.[]
BAB 37 Mariam September 1996 Dua setengah tahun kemudian, Mariam terbangun pada pagi hari tanggal 27
September karena sorak sorai dan lengkingan peluit, ledakan petasan, dan alunan
musik. Dia bergegas memasuki ruang tamu, mendapati Laila telah berada di dekat
jendela, dengan Aziza duduk di bahunya. Laila berpaling dan tersenyum.
"Taliban sudah datang," katanya.
<" Mariam pertama kali mendengar tentang Taliban dua tahun sebelumnya, pada Oktober
1994, ketika Rasheed menyampaikan kabar bahwa mereka telah menaklukkan para
panglima perang di Kandahar dan menduduki kota itu. Taliban adalah pasukan
gerilyawan, kata Rasheed, beranggotakan para pemuda Pashtun yang berasal dari
keluarga-keluarga yang melarikan diri ke Pakistan selama perang melawan Soviet.
Sebagian besar dari mereka dibesarkan sebagian di antaranya bahkan ?dilahirkan di kamp-kamp pengungsian di sepanjang
?perbatasan Pakistan. Dan, di madrasah-madrasah Pakistan, mereka diajar oleh
mullah-mullah penganut Syariah. Pemimpin mereka adalah seorang pria misterius
bermata satu yang buta huruf dan bersifat tertutup bernama Mullah Omar, yang,
kata Rasheed dengan senang, menyebut dirinya sendiri Amir-ul-Mukminin, Pemimpin
Kaum yang Beriman. "Memang benar, para pemuda itu tak punya risha, tak punya akar," kata Rasheed,
tanpa memandang Mariam maupun Laila. Sejak upaya pelarian mereka yang gagal, dua
setengah tahun yang lalu, Mariam tahu bahwa dirinya dan Laila telah menjadi
makhluk yang sama di mata Rasheed, sama-sama bejat, sama-sama layak mendapatkan
kecurigaan, cecaran, dan hinaan. Setiap kali Rasheed bicara, Mariam mendapatkan
kesan bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, atau dengan
seseorang yang tidak terlihat di dalam ruangan, yang, tidak seperti Mariam dan
Laila, layak mendengarkan pendapatnya.
"Mereka mungkin saja tak punya masa lalu," katanya, mengembuskan asap rokok dan
menatap langit-langit. "Mereka mungkin saja tidak tahu apa-apa soal dunia
ataupun sejarah negeri ini. Ya. Dan, dibandingkan dengan mereka, Mariam ini
mungkin bisa disamakan dengan dosen di perguruan tinggi. Ha! Yang benar saja.
Tapi, lihat saja di sekelilingmu. Apa yang kaulihat" Para komandan Mujahidin
yang korup dan serakah, raja senjata, juragan heroin, menyatakan jihad melawan
sesamanya dan membantai semua orang yang ada
di antara mereka itulah. Setidaknya, Taliban ini murni dan tidak korup.
?Setidaknya, mereka beranggotakan para pemuda Muslim yang taat. Wallah, saat
mereka datang, mereka akan menyapu bersih tempat ini. Mereka akan menghadirkan
kedamaian dan menegakkan aturan. Orang-orang tidak akan ditembaki lagi hanya
karena keluar untuk membeli susu. Tidak akan ada roket lagi! Pikirkan saja."
Sejak dua tahun terakhir, Taliban berjuang melancarkan jalan mereka menuju
Kabul, merebut berbagai kota dari cengkeraman Mujahidin, mengakhiri setiap
perang antar-faksi. Mereka berhasil menangkap komandan Hazara, Abdul Ali Mazari,
dan mengeksekusinya. Selama berbulan-bulan, mereka menduduki daerah pinggiran
sebelah selatan Kota Kabul, menembaki kota, saling melontarkan roket dengan
pasukan Ahmad Shah Massoud. Pada awal September 1996, mereka telah berhasil
menduduki Jalalabad dan Sarobi.
Taliban memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh Mujahidin, kata Rasheed.
Persatuan. "Biarkan saja mereka datang," kata Rasheed. "Aku sendiri akan menghujani mereka
dengan bunga mawar."
A Mereka pergi pada suatu hari, berempat, Rasheed memimpin mereka berganti bus,
untuk menyapa dunia baru mereka, para pemimpin baru mereka. Di
setiap lingkungan yang luluh lantak, Mariam melihat orang-orang bermunculan dari
dalam reruntuhan dan bergerak ke jalanan. Dia melihat seorang wanita tua
membuang-buang segenggam berast, melemparkan butir-butirnya pada pejalan kaki
yang melewatinya, menyunggingkan senyuman tanpa gigi di wajah keriputnya. Dua
orang pria saling memeluk di tengah puing-puing bangunan, sementara petasan-


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

petasan yang disulut oleh para pemuda di atas atap melesat, mendesis, dan
meledak di langit. Lagu kebangsaan membahana di mana-mana, bersaing dengan
klakson mobil. "Lihat, Mayam!" Aziza menunjuk sekelompok anak laki-laki yang berlari di
sepanjang Jadeh Maywand. Mereka mengacung-acungkan kepalan di ke udara dan
menyeret kaleng-kaleng berkarat yang diikat dengan senar. Mereka bersorak sorai,
meneriakkan usiran bagi Massoud dan Rabbani.
Di mana-mana, orang-orang berseru: Allahu akbar1.
Mariam melihat sehelai seprai digantungkan di sebuah jendela di Jadeh Maywand.
Di atasnya, seseorang menuliskan tiga kata dalam huruf-huruf hitam dan besar:
ZENDA BAAD TALIBAN! Panjang umur Taliban!
Ketika menyusuri jalan, Mariam melihat lebih banyak tanda ditulis di jendela, ?dipaku ke pintu, diikat ke antena mobil memproklamasirkan hal yang sama.
?O Siang itu, di Alun-Alun Pashtunistan bersama Rasheed, Laila, dan Aziza, untuk
pertama kalinya, Mariam melihat Taliban. Banyak orang berkerumun di sana. Mariam
melihat orang-orang menjulurkan leher, orang-orang berkumpul di sekeliling air
mancur biru yang terdapat di tengah alun-alun, orang-orang menginjak-injak
hamparan bunga kering. Mereka berusaha melihat sebaik mungkin ke ujung alun-
alun, ke dekat bangunan tua Restoran Khyber.
Rasheed memanfaatkan ukuran tubuhnya untuk mendorong dan menjejalkan diri di
antara para penonton, membawa Mariam dan Laila ke dekat pria yang berbicara
dengan pengeras suara. Ketika melihat pria itu, Aziza langsung memekik dan
membenamkan wajahnya ke burqa Mariam.
Suara yang membahana itu berasal dari seorang pria muda ramping dan berjanggut
yang mengenakan serban hitam. Dia berdiri di atas semacam panggung darurat. Satu
tangannya memegang pengeras suara, dan tangan yang lain menggenggam pelontar
roket. Di sebelahnya, dua orang pria dengan tubuh bersimbah darah menggantung
pada tali yang diikatkan ke tiang lampu lalu lintas. Pakaian mereka telah
terkoyak-koyak. Wajah mereka menggembung dan berwarna biru keunguan.
"Aku tahu orang itu," kata Mariam, "yang di sebelah kiri."
Seorang perempuan muda di depan Mariam berpaling dan mengatakan bahwa pria itu
adalah Najibullah. Pria yang lain adalah saudaranya. Mariam teringat pada wajah
Najibullah yang bulat dan berkumis tebal, tersenyum lebar di baliho-baliho dan
etalase-etalase toko selama masa pendudukan Soviet.
Nantinya, Mariam mendengar bahwa Taliban menyeret Najibullah dari tempat
persembunyiannya di markas PBB di dekat Istana Darulaman. Setelah itu, mereka
menyiksanya selama berjam-jam, lalu mengikatkan kakinya ke sebuah truk dan
menyeret tubuhnya yang tak lagi bernyawa di jalanan.
"Dia telah membunuh begitu banyak umat Muslim!" Talib muda itu berteriak melalui
pengeras suara. Dia berbicara dalam bahasa Farsi berlogat Pashto, dan sesekali
menyelipkan kalimat-kalimat dalam bahasa Pashto. Dia menekankan kata-katanya
dengan menunjuk-nunjuk kedua mayat itu menggunakan senjatanya. "Semua orang tahu
tentang kejahatannya. Dia adalah seorang komunis dan seorang kafir. Inilah yang
harus kita lakukan pada para orang-orang yang membangkang terhadap Islam!"
Rasheed tersenyum lebar. Dalam pelukan Mariam, tangiz Aziza mulai pecah.
Keesokan harinya, Kabul dibanjiri oleh truk. Di Khair khana, Shar-e-Nau, Karteh-
Parwan, Wazir Akbar Khan, dan Taimani, truk-truk Toyota merah menyusuri jalanan.
Para pria berjanggut dan berserban hitam duduk di atas bangku-bangkunya. Dari
setiap truk, sebuah pengeras suara meneriakkan pengumuman, pertama dalam bahasa
Farsi, lalu diulang kembali dalam bahasa Pashto. Pesan yang sama diumumkan
melalui pengeras suara yang ada di masjid-masjid, dan juga di radio, yang
sekarang dikenal dengan nama Voice of Shari'a. Pesan itu juga dicetak di atas
selebaran yang dilemparkan di jalanan. Mariam menemukan salah satunya di
halaman. Watan kita sekarang bernama Emirat Isiam Afghanistan. Berikut adalah undang-
undang yang telah kami sahkan dan harus dipatuhi oleh semua orang:
Semua penduduk diwajibkan menunaikan shalat lima waktu. Mereka yang tertangkap
sedang melakukan hal lain ketika tiba waktu shalat akan dicambuk.
Semua pria diwajibkan memelihara janggut. Panjang yang tepat setidaknya satu
kepalan di bawah dagu. Mereka yang membangkang dari aturan ini akan dicambuk.
Semua anak laki-laki diwajibkan mengenakan serban. Anak-anak laki-laki dari
kelas satu hingga kelas enam diwajibkan mengenakan serban hitam, dan anak-anak
dari kelas tyang lebih tinggi diwajibkan mengenakan serban putih. Semua anak
laki-laki diwajibkan mengenakan pakaian Islami. Kerah baju harus dikancingkan.
Dilarang menyanyi. Dilarang menari.
Dilarang bermain kartu, bermain catur, dan menerbangkan layang-layang.
Dilarang menulis buku, menonton film, dan melukis.
Mereka yang memelihara burung parkit akan dicambuk. Burung peliharaan harus
dibunuh. Mereka yang mencuri akan dihukum potong tangan. Jika kejahatan ini terulang
kembali, pelakunya akan dihukum potong kaki.
Mereka yang bukan Muslim dilarang beribadah di depan umat Muslim. Mereka yang
membangkang akan dicambuk dan dipenjara. Mereka yang tertangkap sedang berusaha
mengganggu keimanan seorang Muslim akan dihukum mati. Khusus bagi wanita:
Semua wanita diwajibkan tinggal di dalam rumah sepanjang waktu. Wanita tidak
pantas berkeliaran tanpa tujuan di jalanan. Setiap wanita yang pergi ke luar
rumah harus ditemani oleh seorang muhrim laki-laki. Mereka yang tertangkap
sendirian di jalan akan dicambuk dan dipulangkan.
Semua wanita, dalam situasi apa pun, dilarang menunjukkan wajah. Semua wanita
diwajibkan mengenakan burqa ketika berada di luar rumah. Mereka yang tidak
mengenakan burqa akan dihukum cambuk.
Dilarang mengenakan alat rias.
Dilarang mengenakan perhiasan. Dilarang mengenakan pakaian yang indah. Dilarang
berbicara kecuali ada yang mengajak berbicara.
Dilarang melakukan kontak mata dengan pria.
Dilarang tertawa di tempat umum. Mereka yang membangkang akan dicambuk.
Dilarang mengecat kuku. Mereka yang membangkang akan dihukum potong jari.
Anak-anak perempuan dilarang bersekolah. Semua sekolah khusus perempuan akan
segera ditutup. Semua wanita dilarang bekerja.
Mereka yang didapati bersalah karena zina akan dirajam hingga tewas.
Dengarlah. Dengarlah dengan baik. Patuhilah. Allahu akbar.
Rasheed mematikan radio. Mereka sedang duduk di lantai ruang tamu, menyantap
makan malam, kurang dari seminggu setelah melihat mayat Najibullah di tali
gantungan. "Mereka tak bisa menyuruh setengah penduduk Afghanistan diam di rumah tanpa
melakukan apa-apa," kata Laila.
"Kenapa tidak?" kata tukas Rasheed. Mariam langsung menyetujuinya. Lagi pula,
dilihat dari segi efek, bukankah Rasheed juga melakukan hal yang sama kepadanya
dan Laila" Tentunya Laila tahu akan hal itu.
"Tempat ini bukan kampung. Ini adalah Kabul. Wanita di sini menjadi pengacara
dan dokter; mereka memiliki posisi di pemerintahan-"
Rasheed menyeringai. "Bicaramu seperti anak perempuan arogan seorang pembaca
puisi lulusan universitas. Ah, memang benar begitu, bukan" Sangat urban, sangat
Tajik, kau ini. Kaupikir gagasan yang diusung Taliban ini baru dan radikal"
Apakah kau pernah hidup di luar cangkang kecil berhargamu di Kabul, Gu/-ku"
PernahkahApa kau pernah mengunjungi Afghanistan yang sebenarnya, di selatan, di
timur, di sepanjang perbatasan suku dengan Pakistan" Tidak" Aku pernah. Dan aku
bisa memberitahumu bahwa ada banyak tempat di negara ini yang selalu menjalani
kehidupan dengan cara itu, atau setidaknya cukup mirip begitu. Tapi, tentu saja
kau tak tahu." "Aku tak bisa memercayainya," kata Laila. "Tentunya mereka tidak serius."
"Yang dilakukan Taliban terhadap Najibullah tampak serius di mataku," kata
Rasheed. "Apa kKau tak setuju?"
"Tapi, dia komunis! Dia kepala Polisi Rahasia."
Rasheed tergelak. Mariam mendengar jawaban dalam tawa Rasheed: bahwa di mata Taliban, menjadi
komunis dan pemimpin KHAD yang ditakuti membuat Najibullah hanya sedikit lebih
hina daripada wanita.[] BAB 38 aila lega karena Babi tidak menyaksikan Taliban berkuasa. Hal ini akan
menghancurkan hatinya. Para pria berkapak menyerbu Museum Kabul yang telah rusak parah dan
menghancurkan patung-patung dari zaman pra-Islam sisa-sisa yang masih bertahan ?dari jarahan Mujahidin. Universitas ditutup dan para mahasiswa dipulangkan.
Lukisan-lukisan direnggut dari dinding, dirobek-robek dengan pedang. Layar-layar
televisi ditendang hingga pecah. Buku-buku, kecuali Al -Quran, dikumpulkan dan
dibakar, toko-toko yang menjual buku ditutup. Buku-buku puisi karya Khalili,
Pajwak, Ansari, Haji Dehqan, Ashraqi, Beytaab, Hafez, Jami, Nizami, Rumi,
Khayyam, Beydel, dan lebih banyak lagi melayang bersama asap.
Laila mendengar berita tentang para pria yang diseret dari jalanan, dituduh
meninggalkan shalat, dan dipaksa memasuki masjid. Dia tahu bahwa Restoran Marco
Polo, yang terletak di dekat Jalan Ayam, telah dijadikan pusat interogasi.
Kadang-kadang, jeritan menyayat terdengar dari balik jendela-jendela gelapnya.
Di mana-mana, Laila Patroli Janggut menyisir jalanan menggunakan truk-truk Toyota, mencari wajah-
wajah mulus untuk dinodai dengan darah.
Mereka juga menutup gedung-gedung bioskop. Cinema Park. Ariana. Aryub. Ruang-
ruang proyektor digeledah dan bergulung-gulung film dibakar. Laila teringat akan
waktu yang dia habiskannya bersama Tariq di dalam tempat-tempat itu, menonton
film-film India, kisah-kisah melodramatis tentang pasangan kekasih yang
dipisahkan oleh tragisnya perubahan nasib, yang satu terdampar di pulau
terpencil, kekasihnya dipaksa menikah dengan orang lain, isak tangis yang
mewarnai seluruh film, adegan menyanyi di padang berbunga marigold, dambaan akan
adanya persatuan kembali. Dia teringat bagaimana Tariq akan menertawakan dirinya
karena menangis saat menonton film-film itu.
"Entah apa yang mereka lakukan pada gedung bioskop ayahku," kata Mariam pada
suatu hari. "Jika memang tempat itu masih berdiri. Atau jika dia masih
memilikinya." Kharabat, pusat musik kuno Kabul, dibungkam. Para musisi dicambuk dan dipenjara.
Rebab, tambur, dan harmonium mereka dihancurkan. Taliban membongkar makamn
penyanyi kesukaan Tariq, Ahmad Zahir, dan menghujaninya dengan peluru.
"Dia sudah tewas hampir dua puluh tahun yang lalu," kata Laila kepada Mariam.
"Apa mati sekali belum cukup?"
Rasheed tidak begitu terganggu dengan Taliban. Yang harus dilakukannya hanyalah
menumbuhkan janggut, yang dia kerjakannya, dan mendatangi masjid, yang juga
dikerjakannya. Meskipun kadang-kadang kebingungan, Rasheed memperlakukan Taliban
dengan penuh maaf dan kasih sayang, seperti sikap seseorang kepada sepupu yang
tanpa diduga telah terlibat dalam suatu skandal bodoh.
Setiap Rabu malam, Rasheed mendengarkan Voice of Shari'a, menanti Taliban
mengumumkan nama-nama orang yang dijadwalkan akan menjalani hukuman. Lalu, pada
hari Jumat, dia pergi ke Stadion Ghazi, membeli sekaleng Pepsi, dan menonton. Di
ranjang, dengan penuh semangat, dia menyuruh Laila mendengarkan ceritanya
tentang tangan-tangan yang dipotong, pencambukan, penggantungan, dan
pemenggalan. "Hari ini aku melihat seorang pria menggorok leher pembunuh saudaranya," kata
Rasheed pada suatu malam sembari mengembuskan cincin asap. "Mereka memang orang-
orang liar," kata Laila.
"Kaupikir begitu?" tanya Rasheed. "Dibandingkan dengan siapa" Soviet membunuh
jutaan orang. Kau tahu berapa orang yang dibunuh oleh Mujahidin sepanjang tahun
itu, hanya di Kabul" Lima puluh ribu. Lima puluh ribu! Berdasarkan perbandingan
itu, apakah memotong tangan beberapa orang pencuri masih terlihat kejam" Mata
dibalas mata, gigi dibalas gigi. Itu disebutkan dalam Al -Quran. Lagi pula, coba
katakan padaku: Kalau seseorang membunuh Aziza, apakah kau tak mau mendapatkan
kesempatan untuk membalas dendam?"
Laila melontarkan tatapan jijik pada Rasheed.
"Aku mengatakan kebenaran."
"Kau sama saja seperti mereka."
"Menarik sekali warna mata Aziza. Kau juga berpikir begitu" Tidak ada miripnya
dengan mataku maupun matamu."
Rasheed berguling dan menghadapi Laila, dengan lembut menggaruk paha Laila
dengan kuku kusam jari telunjuknya.
"Biarkan aku menjelaskan," katanya. "Kalau aku mau aku bukannya berniat ?melakukannya, tapi bisa saja, bisa saja aku berhak menyerahkan Aziza pada orang
?lain. Bagaimana menurutmu" Atau, suatu hari nanti, aku bisa mendatangi Taliban,
pergi ke pos mereka, dan mengatakan kecurigaanku tentangmu. Hanya itu yang harus
kulakukan. Menurutmu, ucapan siapa yang akan mereka percayai" Apa pikirmu yang
akan mereka lakukan padamu?"
Laila menarik pahanya. "Aku bukannya berniat melakukannya," kata Rasheed. "Aku tak akan melakukannya.
Nay. Mungkin tidak. Kau mengenalku."
"Kau sungguh memuakkan," tukas Laila.
"Hati-hati dengan ucapanmu," kata Rasheed. "Itulah yang selalu kubenci darimu.
Bahkan waktu kau masih kecil, waktu kau berlarian ke sana kemari dengan anak
pincang itu, kau menganggap dirimu sendiri sangat pintar, apalagi dengan buku-
buku dan puisi-puisimu itu. Apakah sekarang
kepintaranmu berguna" Apa yang sekarang ini melindungimu dari kejamnya jalanan,
kepintaranmu atau aku" Kauhilang aku memuakkan" Setengah dari seluruh perempuan
di kota ini rela membunuh untuk mendapatkan suami sepertiku. Mereka rela
membunuh." Rasheed berguling menjauh dan mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit.
"Kau mau bilang apa lagi" Aku punya satu kata untukmu: perspektif. Itulah yang
sedang kulakukan di sini, Laila. Memastikan supaya kau tidak kehilangan
perspektif." Perut Laila bergejolak sepanjang malam karena dia menyadari bahwa semua yang
dikatakan Rasheed, setiap kata yang dia lontarkannya, mengandung kebenaran.
Tetapi, paginya, dan selama beberapa pagi setelahnya, rasa mual di perut Laila
tetap bertahan, dan semakin parah, berubah menjadi sesuatu yang pernah dia
rasakannya sebelumnya. Pada suatu siang berudara dingin menusuk tulang, Laila berbaring telentang di
lantai kamarnya. Mariam mengajak Aziza tidur siang di kamarnya.
Tergenggam di tangan Laila adalah sebilah ruji sepeda yang dia potongnya
menggunakan tang dari sebuah ban bekas. Dia menemukan benda itu di gang tempat
dia dan Tariq berciuman bertahun-tahun sebelumnya. Laila telah begitu lama
berbaring di lantai, menghirup udara dari sela-sela giginya, membentangkan kedua kakinya.
Dia telah jatuh cinta kepada Aziza sejak pertama kali mencurigai keberadaannya.
Keraguan dan kebimbangan seperti ini tak pernah menghampirinya, dahulu.. Betapa
buruknya, pikir Laila sekarang, bahwa seorang ibu didera ketakutan tidak dapat
menghadirkan cinta untuk anaknya sendiri. Sungguh aneh. Tetap saja, sambil
berbaring di lantai dengan tangan gemetar berkeringat mengarahkan ruji, Laila
memikirkan apakah dia akan mampu mencintai anak Rasheed seperti halnya dia
mencintai anak Tariq. Pada akhirnya, Laila tak mampu melakukannya.
Bukan kecemasan akan perdarahan yang membuatnya menjatuhkan ruji di tangannya,
atau bahkan pikiran bahwa tindakannya itu sungguh terkutuk yang sedikit banyak ?disadarinya. Laila mengurungkan niatnya karena dia tidak dapat menerima pendapat
yang begitu digembar-gemborkan oleh Mujahidin: bahwa terkadang, dalam masa
perang, tidak apa-apa jika nyawa orang yang tak bersalah harus melayang. Laila
sedang berperang melawan Rasheed. Bayi yang ada di perutnya tidak bersalah. Dan,
sudah terlalu banyak pembunuhan terjadi di sekelilingnya. Laila telah muak
menyaksikan orang yang tak bersalah harus terbunuh di tengah-tengah baku tembak.
[] BAB 39 Mariam September 1997 TtTy umah sakit ini sudah tidak menerima pasien -^V. perempuan lagi," salak
seorang penjaga. Pria itu berdiri di puncak tangga, memandang ke bawah dengan
tatapan dingin pada segerombol orang di depan Rumah Sakit Malalai.
Sejumlah erangan nyaring muncul dari kerumunan.
"Tapi, ini rumah sakit perempuan!" seru seorang wanita yang berdiri di belakang
Mariam. Teriakan persetujuan mengikuti seruan ini.
Mariam memindahkan posisi Aziza dalam gendongannya. Dengan tangannya yang bebas,
dia membelai Laila, yang sedang mengerang dan berpegangan pada Rasheed.
"Tidak lagi," kata Talib itu.
"Istriku sebentar lagi melahirkan!" seru seorang pria bertubuh kekar. "Apakah
menurutmu dia lebih baik melahirkan di jalan, Saudara?"
Mariam pertama kali mendengar tentang hal ini pada Januari tahun itu, bahwa pria
dan wanita tidak diperkenankan di rawat di rumah sakit yang sama, dan semua staf
wanita akan diberhentikan dari
setiap rumah sakit di Kabul dan dikirim untuk bekerja dalam satu rumah sakit.


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tidak seorang pun memercayainya, dan Taliban memang tidak segera memberlakukan
kebijakan ini. Hingga sekarang.
"Bagaimana dengan Rumah Sakit Ali Abad?" seru seorang pria lain.
Penjaga itu menggeleng. "Wazir Akbar Khan?"
"Khusus laki-laki," katanya.
"Apa yang sebaiknya kami lakukan?"
"Pergilah ke Rabia Balkhi," kata si penjaga.
Seorang wanita muda mendesak maju, mengatakan bahwa dia baru saja dari tempat
itu. Di sana tidak terdapat air bersih, katanya, juga tidak ada oksigen, obat-
obatan, dan listrik. "Tidak ada apa-apa di sana."
"Ke sanalah kalian harus pergi!," seru si penjaga.
Lebih banyak lagi erangan dan seruan ter-dengan, disusul oleh satu atau dua
umpatan. Seseorang melontarkan sebongkah batu.
Talib itu mengangkat Kalashnikov yang dipegangnya dan menembak beberapa kali ke
udara. Seorang Talib lain di belakangnya mengeluarkan cambuk.
Orang-orang serta merta meninggalkan kerumunan.
<" Ruang tunggu di Rabia Balkhi penuh sesak oleh wanita-wanita ber-burqa dan anak-
anak mereka. Udara terasa sesak dengan bau keringat dan aroma tubuh, kaki, kencing, asap
rokok, dan antiseptik. Di bawah kipas angin langit-langit yang tak lagi bekerja,
anak-anak saling berkejaran, melompati kaki-kaki terjulur para ayah yang
tertidur. Mariam menolong Laila duduk bersandar di dinding dengan lapisan semen yang telah
mengelupas di sana-sini sehingga menyerupai peta. Laila mengayun-ayunkan
tubuhnya, memegangi perutnya.
"Aku akan mencarikan dokter untukmu, Laila jo. Aku berjanji."
"Cepatlah," tukas Rasheed.
Kerumunan wanita telah berkumpul di depan loket registrasi, saling mendesak dan
mendorong satu sama lain. Beberapa di antara mereka masih menunggu. Beberapa
orang dengan nekat memisahkan diri dari kerumunan dan berusaha melewati pintu
ganda menuju ruang-ruang pemeriksaan. Seorang petugas Talib bersenjata mengadang
di depan pintu, memerintahkan kepada mereka untuk kembali menunggu.
Mariam bergabung dengan kerumunan. Dia menjejalkan kakinya dan berjuang
menyibakkan siku, pinggul, dan bahu orang-orang asing. Seseorang menyikutnya di
pinggang, dan dia balas menyikut orang itu. Sebentuk tangan putus asa menggapai
wajahnya. Mariam menepiskannya. Untuk melancarkan jalannya, Mariam mencakari
leher, lengan, dan siku orang lain, menjambak rambut orang lain, dan, ketika
seorang wanita di sebelahnya mendesis, dia balas mendesis.
Sekarang, Mariam dapat melihat besarnya pengorbanan yang harus dilakukan oleh
seorang ibu. Tiba-tiba, dia teringat pada Nana, pada pengorbanan yang harus dia
lakukannya. Nana bisa saja menyerahkannya kepada orang lain, atau membuangnya di
suatu selokan entah di mana dan melarikan diri. Namun, dia tidak melakukannya.
Alih-alih, Nana menanggung beban malu karena membesarkan seorang harami,
mengabdikan dirinya dalam pekerjaan tanpa pamrihnya merawat dan, dengan caranya
sendiri, mencintai Mariam. Dan, pada akhirnya, Mariam lebih memilih Jalil
daripada Nana. Sembari berjuang menembus kerumunan menuju baris terdepan, Mariam
menyesal karena tidak menjadi anak yang lebih baik untuk Nana. Dia berharap
ketika itu dirinya telah memahami apa yang dia pahaminya sekarang tentang naluri
seorang ibu. Akhirnya, Mariam mendapati dirinya berhadapan dengan seorang perawat, yang
sekujur tubuhnya tertutup burqa kelabu dekil. Perawat itu sedang berbicara
dengan seorang wanita muda dengan penutup kepala basah oleh darah.
"Air ketuban anak saya sudah pecah dan bayinya tak mau keluar," seru Mariam.
"Aku sedang bicara dengannya!" jerit wanita muda berdarah itu. "Tunggu
giliranmu!" Kerumunan di sekeliling mereka berayun-ayun, bagaikan ilalang di sekeliling
koiba ketika angin sepoi-sepoi bertiup. Seorang wanita di belakang
Mariam menyerukan bahwa siku anak perempuannya patah setelah dia jatuh dari
pohon. Seorang wanita lain meneriakkan bahwa beraknya berdarah.
"Apakah dia demam?" tanya si perawat. Sejenak Mariam tidak menyadari bahwa
perawat itu sedang berbicara padanya.
"Tidak," jawab Mariam.
"Ada perdarahan?"
"Tidak." "Di mana dia?" Menembus kerumunan kepala berselubung di sekelilingnya, Mariam menunjuk tempat
Laila duduk menunggu bersama Rasheed.
"Kami akan menanganinya," kata si perawat.
"Kapan?" jerit Mariam. Seseorang mencengkeram bahunya dan menariknya ke
belakang. "Saya belum tahu," jawab si perawat. Katanya, hanya ada dua orang dokter di
tempat itu, dan keduanya sedang berada di ruang operasi.
"Dia kesakitan," tukas Mariam.
"Memangnya aku tidak?" jerit wanita berkepala berdarah. "Tunggu giliranmu!"
Mariam terseret ke belakang. Pandangannya kepada si perawat tertutup oleh bahu
dan bagian belakang kepala orang-orang lain. Dia mencium aroma muntahan bayi.
"Ajak dia berjalan-jalan," seru si perawat. "Dan tunggulah."
Hari sudah gelap ketika si perawat akhirnya memanggil mereka. Ruang bersalin di
rumah sakit itu memiliki delapan ranjang, masing-masing ditempati oleh seorang
wanita yang mengerang-erang dan mengguling-gulingkan tubuh, ditunggui oleh
perawat-perawat bev-burqa. Dua di antaranya sedang berada dalam proses
melahirkan. Tidak ada tirai yang memisahkan setiap ranjang. Laila mendapatkan
ranjang terujung, di dekat jendela yang kacanya telah dicat hitam. Di dekat
ranjang terdapat sebuah wastafel, kering dan retak di sana-sini, dan seutas
benang terbentang di atas wastafel, digunakan untuk menggantungkan sarung-sarung
tangan operasi yang telah bernoda. Di tengah ruangan, Mariam melihat sebuah meja
tumpuk alumuinium. Sehelai selimut hitam diletakkan di bagian teratas; bagian
bawahnya kosong. Salah seorang wanita dalam ruangan itu memerhatikan Mariam. "Yang hidup ditaruh
di atas," katanya dengan letih.
Dokter yang bertugas, seorang wanita mungil pemarah ber-burqa biru tua, bergerak
kian kemari seperti seekor burung. Setiap kata yang muncul dari mulutnya
diucapkan dengan terburu-buru, darurat.
"Anak pertama." Dia mengatakannya dengan nada datar, bukan sebagai pertanyaan
melainkan pernyataan. "Kedua," kata sahut Mariam.
Laila menjerit dan berguling ke samping. Jemarinya menggenggam erat tangan
Mariam. "Ada masalah dengan kelahiran pertama?" "Tidak." "Anda ibunya?" "Ya," jawab
Mariam. Dokter itu mengangkat bagian bawah burqa-r\ya dan mengeluarkan sebuah alat logam
berbentuk kerucut. Dia mengangkat burqa Laila dan menempelkan ujung lebar
alatnya di perut Laila, sementara ujung lancipnya di telinganya sendiri. Dia
mendengarkan selama hampir semenit, mencari posisi lain, kembali mendengarkan,
dan sekali lagi berganti posisi.
"Sekarang, saya harus merasakan bayinya, Hamshira."
Dokter itu memakai salah satu sarung tangan yang digantungkan di atas wastafel.
Setelah itu, dia menekan perut Laila dengan satu tangan dan menyelipkan
tangannya yang lain ke dalam. Laila mengerang. Ketika dokter itu selesai, dia
menyerahkan sarung tangannya kepada seorang perawat, yang mencucinya di wastafel
dan menggantungkannya kembali.
"Putri Anda harus menjalani operasi Caesar. Anda tahu artinya" Kami harus
membedah rahimnya dan mengeluarkan bayinya karena saat ini posisi bayinya
sungsang." "Saya tak mengerti," kata sahut Mariam. Kata dokter, posisi bayi itu tidak
memungkinkannya untuk dilahirkan secara alami. "Dan sudah terlalu banyak waktu
yang terbuang. Kami harus membawanya ke ruang operasi sekarang juga."
Laila mengangguk sambil meringis menahan nyeri, kepalanya meneleng ke satu sisi.
"Sebelumnya, ada sesuatu yang harus saya beri tahukan kepada Anda," kata dokter
itu. Dia merapat pada Mariam, mencondongkan tubuhnya, dan berbicara dengan suara
lebih lirih dan nada lebih mendesak. Sirat rasa malu juga mewarnai suaranya.
"Apa katanya?" erang Laila. "Apa ada masalah dengan bayiku?"
"Tapi, bagaimana mungkin dia bisa tahan?" Mariam terkesiap.
Dokter itu tentu mendengar tuduhan dalam pertanyaan Mariam, karena dia menjawab
dengan nada penuh pembelaan.
"Anda pikir, saya suka melakukannya?" tanyanya. "Apa saran Anda" Mereka tidak
mau memberikan keperluan kami. Saya juga tidak punya rontgen, tidak punya
penyedot, tidak punya oksigen, bahkan antibiotik biasa sekali pun. Jika ada NGO
LSM yang menawarkan dana, Taliban menolaknya. Atau, mereka menyelundupkan
uangnya entah ke mana."
"Tapi, Dokter sahib, tidak adakah yang bisa Anda berikan padanya?" tanya Mariam.
"Ada apa?" tanya Laila.
"Anda bisa membeli obatnya sendiri, tapi-"
"Tuliskan nama obatnya," potong Mariam. "Silakan Anda menulis namanya, dan saya
akan mencarinya." Di balik burqa-r\ya, dokter itu menggeleng tegas. "Sudah tidak ada waktu lagi,"
katanya. "Selain itu, tidak satu pun apotek di dekat sini memilikinya. Jadi, Anda harus
menyisir setiap apotek, satu per satu, mungkin sampai ke bagian kota lain, dan
sangat kecil kemungkinan Anda akan mendapatkannya. Sekarang sudah hampir pukul
setengah sembilan, jadi Anda bisa saja ditangkap karena melanggar jam malam.
Bahkan jika Anda berhasil mendapatkan obat itu, mungkin Anda tidak akan mampu
membayarnya. Atau, Anda harus berurusan dengan orang lain yang sama putus asanya
dengan Anda. Tidak ada waktu lagi. Bayi ini harus dikeluarkan sekarang juga."
"Katakan padaku ada apa ini!" jerit Laila. Dia duduk bertumpu pada kedua
sikunya. Dokter itu menarik napas dalam, lalu mengatakan kepada Laila bahwa rumah sakit
tidak memiliki obat bius.
"Tapi, jika kami menunda-nunda, Anda akan kehilangan bayi Anda."
"Kalau begitu, bedah saja aku," ujar Laila tegas. Dia kembali berbaring dan
menaikkan lututnya. "Bedah saja aku dan keluarkan bayiku."
Di dalam ruang operasi yang tua dan suram, Laila berbaring di atas meja operasi
sementara Ddokter mencuci tangan di wastafel. Tubuh Laila bergetar hebat. Dia
menarik napas melalui sela-sela giginya setiap kali seorang perawat menyeka
perutnya dengan lap yang telah dibasahi menggunakan cairan
kuning kecokelatan. Seorang perawat lain berdiri di dekat pintu. Dia berulang
kali membuka pintu itu untuk mengintip ke luar. Dokter telah melepas burqa-nya,
dan Mariam melihat bahwa wanita itu memiliki rambut keperakan bergelombang, mata
berkantung, dan kerut-merut di sudut bibir yang muncul akibat kelelahan.
"Mereka menyuruh kami mengenakan burqa saat sedang mengoperasi," dokter itu
menjelaskan, menunjuk perawat di pintu dengan kepalanya. "Dia bertugas
mengawasi. Kalau dia melihat mereka datang, saya memakai kembali burqa saya."
Dia mengatakannya dengan nada pragmatis, nyaris datar, dan Mariam memahami bahwa
wanita ini telah berhasil menanggalkan amarahnya. Wanita ini, pikir Mariam,
telah memahami bahwa dia beruntung karena masih dapat bekerja, bahwa selalu ada
sesuatu, suatu hal lain, yang bisa mereka renggut darinya.
Terdapat dua buah palang logam di kedua sisi bahu Laila. Dengan menggunakan
peniti, perawat yang semula membersihkan perut Laila menyematkan selembar kain
di sana, menjadikannya tirai yang memisahkan Laila dan dokter yang akan
membedahnya. Mariam mengambil posisi di belakang kepala Laila dan menundukkan wajahnya
sehingga pipi mereka bersentuhan. Dia dapat merasakan gigi Laila bergemeletuk.
Tangan mereka saling bertaut.
Di tirai, Mariam melihat bayangan si Ddokter bergerak ke sebelah kiri Laila,
sementara si Pperawat ke sebelah kanan. Laila mengencangkan bibirnya. Ludahnya yang berbusa
menyembul dari sela-sela giginya. Desisan kecil keluar dari mulutnya.
"Tabahkan dirimu, Adik," kata si Ddokter.
Dia membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Laila.
Mata Laila seketika terbuka lebar. Disusul oleh mulutnya. Dia bertahan seperti
ini, bertahan, bertahan, tubuhnya gemetar, urat-urat di lehernya mengencang,
keringat membanjiri wajahnya, jemarinya menggenggam erat tangan Mariam.
Mariam akan selalu mengagumi Laila atas betapa lamanya dia berhasil bertahan
sebelum melepaskan jeritannya. []
BAB 40 Laila Musim Gugur 1999 Mariamlah yang mendapatkan gagasan menggali lubang itu. Pada suatu pagi, dia
menunjuk sepetak tanah di belakang gudang perkakas. "Kita bisa menggali di
sini," katanya. "Ini tempat yang tepat."
Mereka bergantian menggunakan sekop, lalu menyingkirkan tanah yang sudah
tergali. Mereka tidak berencana menggali lubang yang besar atau dalam, sehingga
tidak menyangka akan bekerja seberat ini. Kekeringanlah yang dimulai sejak 1998?dan sudah berlangsung selama nyaris dua tahun yang menyebabkan kesulitan ini.
?Salju sangat jarang turun pada musim dingin yang lampau dan hujan pun tak pernah
turun pada musim semi yang menyusul. Di seluruh negeri, para petani meninggalkan
lahan gersang mereka, menjual harta benda mereka, dan berkelana dari desa ke
desa untuk berburu air. Sebagian di antara mencari peruntungan di Pakistan atau
Iran. Sebagian lagi menetap di Kabul. Tetapi, persediaan air di kota juga mulai
menipis dan sumur-sumur yang dangkal mulai mengering. Antrian Antrean di sumur
yang dalam begitu panjang sehingga Laila dan Mariam harus menunggu selama berjam-jam
untuk mendapatkan giliran. Sungai Kabul melupakan siklus banjir tahunannya dan
menjadi kering kerontang. Sungai itu telah menjadi toilet umum; tidak ada apa
pun di dalamnya kecuali kotoran manusia dan puing-puing bangunan.
Maka, Mariam dan Laila pun terus mengayunkan sekop dengan giat, namun tanah yang
terpanggang matahari telah menjadi sekeras batu, padat dan nyaris tak
tergoyahkan. Mariam telah berusia empat puluh tahun. Rambutnya, terikat menjauhi wajahnya,
telah bersemburat kelabu. Kedua matanya berkantung, cokelat dan berbentuk bulan
sabit. Dua buah gigi depannya telah tanggal. Yang satu patah, satunya lagi
tanggal karena oleh pukulan Rasheed karena dia pernah tanpa sengaja menjatuhkan
Zalmai. Kulitnya semakin kasar dan gelap, hasil dari seluruh waktu yang mereka
habiskan untuk duduk di halaman, di bawah teriknya sinar matahari, menyaksikan
Zalmai bermain kejar-kejaran dengan Aziza.
Ketika lubang itu telah tergali, mereka berdiri di atasnya dan menatap ke bawah.
"Sepertinya ini cukup," kata Mariam.
<" Zalmai telah berumur dua tahun. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki gemuk berambut
keriting. Matanya yang mungil berwarna cokelat, dan pipinya
bersemu merah tanpa memedulikan cuaca, sama seperti Rasheed. Dia juga mewarisi
garis rambut ayahnya, tebal dan berbentuk bulan setengah, dimulai tepat di atas
alisnya. Ketika hanya bersama Laila, Zalmai menjelma menjadi anak yang manis, lucu, dan
ceria. Dia suka memanjat bahu Laila dan bermain petak umpet di halaman bersama
Aziza. Kadang-kadang, jika dia sedang tenang, Zalmai suka duduk di pangkuan
Laila dan mendengarkan nyanyiannya. Lagu kesukaannya adalah "Mullah Mohammad
Jan". Dia mengayun-ayunkan kaki gemuknya, sementara Laila menyanyi di atas
rambut keritingnya, lalu ikut menyanyikan bagian chorus nya, sebisa mungkin ?menirukan Laila dengan suara seraknya:
Ayo pergi ke Mazar, Muiiah Mohammad jari, Melihat padang tuiip, oh sahabatku
tersayang. Laila menyukai ciuman basah Zalmai di pipinya, juga lekukan-lekukan di tangan
dan kaki gemuknya. Dia suka menggelitiki Zalmai, membuat terowongan dengan
bantal dan guling untuk dirangkaki, membiarkan Zalmai memainkan salah satu
telinganya hingga akhirnya jatuh tertidur di dalam pelukannya. Perut Laila
bergejolak ketika dia memikirkan siang itu, saat dia berbaring di lantai,
mengacungkan sebilah ruji sepeda ke selangkangannya. Betapa dia nyaris
melakukannya. Saat ini Laila tidak tahu lagi apa yang mendorongnya berpikiran
seperti itu. Putranya adalah sebuah anugerah, dan Laila lega saat mendapati bahwa ketakutannya
terbukti tak berdasar, bahwa dia mencintai Zalmai dengan sepenuh hatinya, sama
seperti caranya mencintai Aziza.
Tetapi, Zalmai memuja ayahnya, dan, karena itu, sikapnya pun berubah ketika
berada di dekat ayahnya. Dia menjadi keras kepala dan suka membangkang. Di depan
ayahnya, Zalmai menjadi mudah marah. Dia tidak mau mematuhi Laila. Dia tetap
berbuat nakal meskipun Laila memelototinya.
Rasheed tidak pernah memarahinya. "Itu tanda kepintarannya," katanya. Dia juga
melontarkan komentar yang sama untuk menanggapi kecerobohan Zalmai saat dia
?menelan kelereng dan mengeluarkannya bersama kotorannya; saat dia menyalakan


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

korek api sembarangan; saat dia mengunyah rokok Rasheed.
Ketika Zalmai lahir, Rasheed memindahkannya dike ranjang yang digunakannya
bersama Laila. Dia juga membeli tempat tidur bayi baru dan melukis singa dan
jerapah di dinding. Rasheed juga membeli berbagai pakaian, mainan, botol susu,
dan popok baru, meskipun benda-benda itu berharga sangat mahal dan bekas Aziza
masih dapat digunakan. Pada suatu hari, Rasheed pulang membawa sebuah mainan
bertenaga baterai yang dia gantungkannya di atas tempat tidur Zalmai. Lebah-
lebah hitam bergaris kuning mungil bergelantungan dari sekuntum bunga matahari,
mengerut dan berdecit saat diremas. Sebuah lagu mengalun ketika mainan
itu dinyalakan. "Bukankah katamu bisnis sedang lesu?" tanya Laila.
"Aku punya teman yang mau meminjamiku uang," ujar Rasheed datar.
"Bagaimana kau akan membayarnya?"
"Keadaan akan berubah. Selalu begitu. Lihatlah, dia menyukainya. Lihat?"
Laila jarang berjumpa dengan Zalmai. Rasheed sering membawanya ke toko,
membiarkannya merangkak ke sana kemari di bawah meja kerjanya yang penuh sesak,
bermain-main dnengan sol-sol karet tua dan robekan-robekan kulit. Rasheed
memasang kpaku dan memutar gerinda sambil mengawasi putranya. Jika Zalmai
menubruk rak sepatu, Rasheed hanya memelototinya sebentar sambil tersenyum
lembut. Jika Zalmai mengulangi kesalahan yang sama, Rasheed mendudukannya di
meja dan menasihatinya dengan lembut.
Kesabaran Rasheed pada Zalmai bagaikan sumur dalam yang tak pernah mengering.
Mereka pulang pada malam hari, kepala Zalmai berguncang dalam gendongan Rasheed,
keduanya berbau lem dan kulit. Mereka berdua saling menyeringai seolah-olah
mengetahui hal yang sama, saling melontarkan senyum licik seolah-olah yang
mereka perbuat sepanjang hari di toko sepatu suram itu bukan membuat sepatu,
melainkan menyusun rencana rahasia. Zalmai memilih untuk duduk di dekat ayahnya
saat makan malam, bermain bersamanya, sementara Mariam, Laila, dan
Aziza menata perangkat makan di sofrah. Mereka saling menepuk, tergelak bersama,
saling melemparkan remah-remah makanan, dan berbisik-bisik berdua. Jika Laila
berbicara kepada mereka, Rasheed menatapnya dengan sebal, seolah-olah Laila
telah mengusik mereka. Jika Laila berusaha menggendong Zalmai atau, yang lebih ?buruk, Zalmai ingin bersamanya Rasheed memelototinya.
?Laila pun menyingkir, merasa terluka.
Lalu, pada suatu malam, seminggu setelah Zalmai berulang tahun kedua, Rasheed
pulang membawa sebuah pesawat televisi dan VCR. Hari itu hangat, udara nyaris
terasa menyenangkan, namun udara pada malam tak berbintang itu lebih sejuk,
mulai mengarah menjadi dingin menusuk tulang.
Rasheed meletakkan kedua benda itu di meja ruang tamu. Katanya, dia membeli
keduanya di pasar gelap. "Kau berutang lagi?" tanya Laila.
"Merknya Magnavox."
Aziza memasuki ruangan. Ketika melihat pesawat tv itu, dia berlari senang.
"Hati-hati, Aziza jo," Mariam memperingatkan. "Jangan pegang-pegang."
Rambut Aziza sekarang berwarna seterang rambut ibunya. Laila dapat melihat
lesung pipit serupa miliknya di pipi putrinya. Aziza tumbuh
menjadi gadis kecil yang kalem dan suka merenung, dengan tingkah laku yang,
menurut Laila, lebih dewasa daripada kebanyakan anak enam tahun. Laila mengagumi
cara bicara putrinya, irama suaranya, intonasi dan jedanya, begitu dewasa,
begitu tidak sesuai dengan tubuh mungilnya. Azizalah yang dengan senang hati
membangunkan Zalmai setiap hari, memasangkan bajunya, menyuapinya saat sarapan,
menyisir rambutnya. Azizalah yang mengajak Zalmai tidur siang, yang dapat
menenangkannya saat sedang mengamuk. Saat berada di dekat Zalmai, Aziza sering
kali menggeleng-geleng dengan heran seperti seorang wanita dewasa.
Aziza menekan tombol POWER di tv. Rasheed mendengus, menepiskan tangan
mungilnya, sama sekali tanpa kelembutan.
"Ini tv Zalmai," sentak Rasheed.
Aziza menghampiri Mariam dan duduk di pangkuannya. Mereka berdua tak terpisahkan
sekarang. Pada malam hari, atas izin Laila, Mariam mulai mengajari Aziza membaca
Al -Quran. Aziza telah menghafal surat ikhlas, surat fatiha, dan dapat melakukan
shalat. Hanya inilah yang bisa kuberikan kepadanya, kata Mariam kepada Laila,
pengetahuan ini, doa-doa ini. Itu adalah satu-satunya harta yang kumiliki.
Zalmai memasuki ruangan. Rasheed menanti dengan penuh harap, seperti seseorang
yang sedang menonton pertunjukan pesulap jalanan, sementara Zalmai menycolokkan
kabel tv, menekan tombol, dan menempelkan telapaknya ke layar yang kosong. Ketika Zalmai
mengangkat tangannya, bekas kedua telapak mungilnya memudar dari layar kaca.
Rasheed tersenyum bangga, menatap Zalmai yang berulang-ulang menempelkan telapak
tangannya dan mengangkatnya kembali.
Taliban melarang penggunaan televisi. Pemutar-pemutar video dirusak secara
massal, sementara pita kaset-kasetnya diuraikan dan digantungkan di tiang-tiang
lampu. Antena-antena parabola dihancurkan. Tetapi, kata Rasheed, hanya karena
suatu benda dilarang penggunaannya, bukan berarti benda itu tak dapat ditemukan.
"Besok, aku akan mencari video film kartun," katanya. "Tidak akan susah.
Semuanya ada di pasar gelap."
"Kalau begitu, mungkin kau bisa membelikan sumur baru untuk kami," kata Laila,
dan Rasheed mendengus kesal.
Malam itu juga, setelah menyantap makan malam berupa nasi putih polos dan
melewatkan teh karena semakin susah didapatkan, setelah menghabiskan sebatang
rokok, Rasheed mengungkapkan keputusannya kepada Laila.
"Tidak," tukas Laila.
Rasheed mengatakan bahwa dia tidak meminta persetujuan Laila. "Aku tak peduli."
"Kau akan peduli kalau tahu cerita selengkapnya."
Kata Rasheed, dia meminjam uang kepada banyak orang dan penghasilan yang dia
dapatkannya dari toko tidak cukup lagi untuk menghidupi mereka berlima. "Aku
tidak segera mengatakannya padamu supaya kau tidak khawatir."
"Lagi pula," katanya, "kau tak akan percaya apa yang bisa mereka lakukan."
Laila kembali menolak. Mereka berada di ruang tamu. Mariam dan anak-anak berada
di dapur. Laila dapat mendengar dentingan piring dan tawa Zalmai yang bernada
tinggi, lalu Aziza yang mengatakan sesuatu kepada Mariam dengan suaranya yang
tenang dan bernada bijaksana.
"Dia tidak akan sendirian, beberapa malah lebih muda darinya," kata Rasheed.
"Ini sudah umum di Kabul."
Laila mengatakan kepada Rasheed bahwa dia tidak memedulikan apa yang diperbuat
oleh orang lain kepada anak-anak mereka.
"Aku akan mengawasinya," tukas Rasheed, mulai kehilangan kesabaran. "Perempatan
itu aman. Ada masjid di seberang jalan."
"Aku tak akan membiarkanmu menjadikan anakku pengemis jalanan!" tukas Laila.
Tamparan itu menghasilkan bunyi yang begitu nyaring. Telapak tangan berkulit
tebal Rasheed menghantam langsung pipi empuk Laila. Kepala Laila seolah
berputar. Sejenak, suara-suara dari dapur tidak lagi terdengar olehnya. Rumah
sunyi senyap. Lalu, tiba-tiba, terdengarlah langkah-langkah kaki bergegas
menghampiri dirinya, dan Mariam telah tiba di ruang tamu bersama anak-anak,
tatapan mereka berpindah dari Rasheed ke Laila.
Lalu, Laila menghantam Rasheed.
Inilah pertama kalinya Laila memukul seseorang, tanpa menghitung pukulan
bercanda yang sering saling dilayangkannya dengan Tariq. Tetapi, dia selalu
memukul dengan tangan terbuka, lebih mirip menepuk daripada menghantam,
bergurau, mengekspresikan persahabatan. Yang menjadi sasaran mereka adalah otot
yang disebut Tariq, dalam suara profesional, sebagai deltoid.
Laila menyaksikan lengkungan yang dibentuk kepalan tangannya, membelah udara,
merasakan kerut merut kulit Rasheed yang liat dan kasar di buku-buku jarinya.
Suara yang muncul bagaikan sekarung beras yang terjatuh ke lantai. Laila memukul
Rasheed dengan keras, hingga dia terhuyung-huyung mundur dua langkah. Dari sisi
lain ruangan terdengarlah pekikan kaget dan tangisan. Laila tidak tahu lagi
siapa yang bersuara. Pada saat itu, dia sendiri terlalu terpana untuk
memerhatikan ataupun peduli, menanti benaknya mencerna apa yang telah dilakukan
oleh tangannya. Ketika kekagetannya sendiri telah mereda, Laila menyadari bahwa
dirinya tersenyum. Dia tersenyum lebar ketika melihat Rasheed berjalan keluar
ruangan begitu saja. Tiba-tiba, Laila merasakan bahwa kesulitan dalam kehidupan mereka dia, Aziza, ?dan Mariam telah berlalu, menguap habis bagaikan bekas telapak tangan Zalmai di
?layar TV. Selama sesaat, meskipun tampak mencengangkan, Laila
merasa layak telah menanggung segala beban yang harus dia tanggungnya untuk
mendapatkan satu momen kejayaan ini. Satu tindakan berani yang akan mengakhiri
penginjak-injakan harga diri mereka.
Laila tidak menyadari bahwa Rasheed telah kembali memasuki ruangan. Hingga
tangan Rasheed berada di lehernya. Hingga tubuhnya terangkat dan membentur
dinding. Dari jarak dekat, seringai di bibir Rasheed tampak luar biasa lebar. Laila
melihat betapa pipi Rasheed tampak makin bergelambir seiring usianya, juga
garis-garis urat kecil yang bercabang-cabang di hidungnya. Rasheed tidak
mengatakan apa-apa. Karena, tentu saja, apakah yang bisa dikatakan, yang perlu
dikatakan, oleh seorang pria saat dia sedang menjejalkan moncong pistol ke mulut
istrinya" O Alasan laila dan mariam menggali halaman adalah razia, yang kadang-kadang
dilakukan setiap bulan, dan kadang-kadang setiap minggu. Akhir-akhir ini, razia
dilakukan hampir setiap hari. Sering kali, Taliban menyita berbagai benda,
menendangi pemilik rumah, dan menghantam kepala beberapa orang penghuni rumah
lainnya. Dan, kadang-kadang mereka juga membawa para penghuni rumah ke muka umum
untuk dicambuki dan dihajar.
"Pelan-pelan," kata Mariam sambil berlutut di pinggir lubang. Mereka menurunkan
pesawat TV ke dalam lubang, masing-masing memegangi ujung kantung plastik pembungkusnya.
"Sepertinya ini cukup," kata Mariam.
Setelah selesai, mereka memadatkan tanah, menimbun kembali lubang itu. Mereka
juga menyebarkan tanah ke sekeliling lubang sehingga penampakannya tidak
mencurigakan. "Selesai," ujar Mariam, mengelapkan tangannya ke baju.
Mereka telah sepakat, ketika keadaan beranjak aman, ketika Taliban mengurangi razia, mungkin dalam satu, dua,
atau enam bulan, atau mungkin lebih lama lagi, mereka akan mengeluarkan kembali
pesawat TV itu. Dalam mimpi laila, dia dan Mariam sedang berada di belakang gudang perkakas
untuk menggali lagi. Tetapi, kali ini, yang mereka turunkan ke dalam lubang
adalah tubuh Aziza. Napas Aziza mengembun di lembaran plastik yang mereka
gunakan untuk membungkusnya. Laila melihat tatapan panik Aziza, betapa putih
telapak tangannya yang menepuk-nepuk dan mendorong-dorong plastik. Aziza
memohon. Laila tidak dapat mendengar jeritannya. Sebentar saja, kata Laila, ini
cuma untuk sementara. Ini untuk menghindari razia, kau tahu itu, Sayangku" Kaiau
sudah tidak ada razia, Mammy dan Khaia Mariam akan mengeiuarkanmu iagi. Aku
berjanji, Sayangku. Setelah itu, kita akan
bermain. Kita akan memainkan apa pun yang kau mau. Laila mengangkat sekopnya.
Lalu, dia terbangun, terengah-engah, seolah-olah merasakan tanah di dalam
mulutnya, tepat ketika gumpalan tanah pertama menimpa lapisan plastik.[]
BAB 41 Mariam ada musim panas 2000, kemarau panjang mencapai tahun ketiga dan terburuknya.
Di Helmand, Zabol, dan Kandahar, penduduk desa berubah menjadi kelompok-kelompok
nomaden, selalu bergerak, mencari air dan lahan hijau untuk ternak mereka.
Ketika mereka tidak menemukan keduanya, ketika berekor-ekor kambing, domba, dan
sapi mereka mati, mereka pun mendatangi Kabul. Mereka menguasai daerah
perbukitan Kareh-Ariana, tinggal di dalam rumah-rumah kumuh, lima belas atau dua
puluh orang berjejalan dalam sebuah gubuk.
Itulah musim panas Titanic, musim panas ketika Mariam dan Aziza berdempetan,
berguling-guling dan tertawa-tawa, dengan Aziza yang terus bersikeras supaya
dirinya dipanggil Jack. "Jangan ribut, Aziza jo."
"Jack! Sebutkan namaku, Khala Mariam. Sebutkan. Jack!"
"Ayahmu akan marah kalau terbangun gara-gara teriakanmu."
"Jack! Dan Khala Mariam menjadi Rose."
Akhirnya, Mariam pun mengalah, sekali lagi setuju menjadi Rose. "Baiklah, kau
jadi Jack," ujarnya. "Kau akan mati muda, dan aku akan hidup sampai tua renta."
"Ya, tapi aku mati sebagai pahlawan," sahut Aziza, "sementara kau, Rose, kau
akan menghabiskan seluruh hidupmu menderita karena merindukanku." Lalui, sambil
menduduki dada Mariam, Aziza mengumumkan, "Sekarang kita harus berciuman!"
Mariam pura-pura menampar kedua pipi Aziza, dan anak itu, merasa senang karena
tingkah nakalnya, tertawa terbahak-bahak.
Kadang-kadang, Zalmai menonton permainan ini. Dia menjadi apa, tanyanya.
"Kau boleh jadi gunung es," jawab Aziza.
Pada musim panas itu, demam Titanic melanda Kabul. Orang-orang menyelundupkan
video bajakannya dari Pakistan kadang-kadang mereka menyembunyikannya di bawah ?pakaian dalam. Setelah jam malam diberlakukan, semua orang mengunci rumah
mereka, mematikan lampu, menurunkan volume TV, dan meneteskan air mata untuk
penderitaan Jack, Rose, dan seluruh penumpang kapal malang itu. Jika listrik
sedang menyala, Mariam, Laila, dan anak-anak juga menonton film itu. Belasan
kali, mereka mengangkat pesawat TV dari lubang di belakang gudang perkakas, saat
malam telah larut, dan menonton dalam kegelapan, dengan selimut tersemat di
jendela. Karena kekeringan yang parah, sekarang para
pedagang dapat berjalan lalu lalang di dasar Sungai Kabul. Tak lama kemudian, di
dasar sungai yang telah terbakar matahari, karpet-karpet dan baju-baju Titanic
dijajakan di gerobak. Ada pula deodoran Titanic, pasta gigi Titanic, parfum
Titanic, pakora Titanic, bahkan burqa Titanic. Salah seorang pengemis bersikeras
menyebut dirinya "Pedagang Titanic".
"Kota Titanic" pun lahir.
Karena lagunya, kata orang-orang.
Bukan, karena lautnya. Karena kemewahannya. Karena kapalnya.
Karena adegan mesranya, bisik mereka.
Karena Leo, ujar Aziza malu-malu. Karena Leo.
"Semua orang menunggu-nunggu Jack," kata Laila kepada Mariam. "Itulah sebabnya.
Semua orang mengira Jack akan menyelamatkan mereka dari bencana. Tapi, ternyata
Jack tidak ada. Jack tidak kembali lagi. Jack telah tewas."
Lalu, pada akhir musim panas itu, seorang pedagang kain tertidur dan lupa
mematikan rokoknya. Dia selamat dari kebakaran, namun tokonya tidak bertahan.
Api juga melalap sebuah toko kain di sebelahnya, sebuah toko pakaian bekas,
sebuah toko perabot kecil, dan sebuah toko roti.
Kata orang-orang, seandainya angin bertiup ke timur alih-alih ke barat, toko
Rasheed, yang berada di ujung blok, mungkin akan tetap berdiri
MEREKA MENJUAL SEGALANYA.
Yang menjadi sasaran pertama adalah barang-barang Mariam, lalu harta benda
Laila, dilanjutkan oleh pakaian bayi Aziza dan beberapa mainan yang dibelikan
oleh Rasheed atas rongrongan Laila. Aziza menyaksikan semua ini dengan tatapan
dewasa. Jam tangan Rasheed juga harus dijual, bersama-sama dengan radio
transistor tua, dasi-dasi, sepatu-sepatu, dan cincin kawinnya. Sofa, meja,
permadani, dan kursi-kursi juga dijual. Zalmai mengamuk ketika Rasheed
mengangkut pesawat TV. Setelah kebakaran itu, Rasheed berada di rumah hampir setiap hari. Dia menampar
Aziza. Dia menendang Mariam. Dia melempar barang-barang. Dia selalu mencari-cari
kesalahan Laila, menyalahkan baunya, menyalahkan caranya berpakaian, menyalahkan
caranya menata rambut, menyalahkan giginya yang menguning.
"Kenapa kau ini?" tanyanya. "Aku menikah dengan seorang pari, dan sekarang aku
harus tinggal dengan nenek sihir buruk rupa. Kau berubah menjadi Mariam."
Rasheed dipecat dari pekerjaan barunya sebagai pelayan kedai kebab di dekat
Alun-Alun Haji Yaghoub karena berkelahi dengan seorang pelanggan. Pelanggan itu
mengeluhkan tingkah Rasheed yang melemparkan roti dengan kasar ke mejanya. Kata-kata kasar pun
terlontar dari mulut keduanya. Rasheed menyebut pelanggan itu sebagai Uzbek
berwajah monyet. Sebuah pistol ditodongkan. Sebuah pisau diacungkan sebagai
balasan. Dalam cerita versi Rasheed, dia mengacungkan pisau itu. Mariam
meragukannya. Selanjutnya, setelah dipecat dari sebuah restoran di Taimani
karena para pelanggan mengeluhkan pelayanannya yang lama, Rasheed berkilah
dengan mengatakan bahwa koki tempat itu lamban dan pemalas.
"Mungkin kau tidur siang di belakang," kata Laila.
"Jangan memancing-mancing masalah, Laila jo," Mariam memperingatkan.
"Hati-hati kalau bicara, Perempuan," !" bentak Rasheed.
"Kalau tidak, mungkin kau merokok."
"Sumpah, demi Tuhan."
"Memang seperti itulah dirimu."
Dan tiba-tiba, Rasheed telah berada di atas Laila, menonjoki dadanya, kepalanya,


A Thousand Splendid Suns Karya Khaled Hossein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan perutnya, menjambaki rambutnya, membentur-benturkan tubuhnya ke dinding.
Aziza menjerit-jerit, menarik-narik baju Rasheed; Zalmai juga menjerit-jerit,
berusaha memisahkan ayah dan ibunya. Rasheed menepiskan kedua anak itu,
mendorong Laila hingga terjatuh ke lantai, dan mulai menendanginya. Mariam
menubrukkan dirinya ke Laila, berusaha melindunginya. Rasheed terus menendang,
sekarang sasarannya adalah Mariam, sementara ludah
melayang dari mulutnya, matanya memancarkan kilauan sengit. Dia terus menendang
hingga tak mampu lagi melakukannya.
"Aku bersumpah, kau sendiri yang minta dibunuh, Laila," katanya, terengah-engah.
Lalu, dia menghambur keluar rumah.
O Ketika simpanan mereka kian menipis, ancaman kelaparan mulai menghantui mereka.
Mariam terpana melihat betapa cepatnya kelaparan menjadi masalah dalam
keberadaan mereka. Nasi, ditanak polos, tanpa daging maupun kuah, semakin jarang mereka nikmati.
Mereka semakin teratur melewatkan jam makan. Kadang-kadang, Rasheed membawa
pulang sekaleng sarden bersama roti keras dan kering yang berasa seperti serbuk
gergaji. Kadang-kadang, dia juga mencuri sekantung apel, mengambil risiko
hukuman potong tangan jika tertangkap. Di toko, Rasheed secara sembunyi-sembunyi
mengantungi ravioli kalengan, yang mereka bagi menjadi lima, dengan bagian
terbesar untuk Zalmai. Mereka makan lobak mentah bertabur garam. Untuk makan
malam, mereka menyantap daun lettuce layu dan pisang yang telah menghitam.
Kematian akibat kelaparan tiba-tiba menjadi sesuatu yang mungkin terjadi.
Beberapa orang memilih untuk tidak menunggu lebih lama. Mariam mendengar tentang
seorang janda tetangga mereka
yang menggerus roti kering, mencampurinya dengan racun tikus, dan memberikannya
kepada ketujuh anaknya, menyisakan bagian terbesar untuk dirinya sendiri.
Tulang-tulang rusuk Aziza mulai tampak bertonjolan di dadanya, dan lemak di
pipinya telah lenyap. Kakinya semakin kurus, dan warna kulitnya berubah serupa
teh basi. Ketika menggendong Aziza, Mariam dapat merasakan tulang pinggulnya
sendiri menonjol di balik kulitnya yang keriput. Zalmai berbaring di mana pun
dia mau, matanya nanar dan setengah terpejam, atau di pangkuan ayahnya, lemas
bagaikan kain pel. Jika mampu mengumpulkan energi, dia akan menangis hingga
jatuh tertidur, namun ini pun jarang terjadi. Titik putih menyengat di depan
mata Mariam kapan pun dia berusaha berdiri. Kepalanya berputar dan dengungan
senantiasa terdengar di dalam telinganya. Mariam teringat akan pepatah tentang
rasa lapar yang dilontarkan oleh Mullah Faizullah pada awal bulan Ramadhan:
Orang yang digigit ular berbisa pun bisa tidur, namun lain halnya dengan mereka
yang kelaparan. "Anak-anakku akan mati," kata Laila. "Di depan mataku."
"Tidak akan," tukas Mariam. "Aku tak akan membiarkannya. Semuanya akan baik-baik
Rahasia Istana Terlarang 7 Pendekar Mabuk 043 Gelang Naga Dewa Perawan Maha Sakti 2
^