Pencarian

Rumah Bercat Putih 7

Rumah Bercat Putih A Painted House Karya John Grisham Bagian 7


Ketika aku akhirnya berhasil mengerahkan keberanian untuk menatapnya, ia sedang membersihkan kuku jari dengan belatinya, dan ia sudah menungguku. Ia tersenyum- seringai jahat yang mengandung seribu kata-dan menggoyangkan sedikit belatinya ke arahku. Tak seorang pun melihat ini, dan aku langsung memalingkan muka.
Perjanjian kami baru saja dikukuhkan lebih jauh.
Menjelang sore, trailer kapas itu sudah penuh. Sesudah bersantap cepat. Pappy mengumumkan bahwa ia dan aku akan membawa trailer itu ke kota. Kami pergi ke ladang dan menggandengkannya ke truk, lalu meninggalkan pertanian itu melalui jalan yang baru saja diratakan. Otis sungguh tukang yang cakap. Jalan itu mulus, bahkan saat naik truk tua Pappy sekalipun.
Seperti biasa, Pappy tidak mengatakan apa-apa saat mengemudi, dan ini bukan masalah bagiku, sebab aku pun tidak punya apa-apa untuk dibicarakan. Ada banyak rahasia, tapi tak mungkin mencurahkannya. Kami melintasi jembatan perlahan-lahan, dan aku memeriksa air pekat yang mengalir lamban di bawah, tapi aku tak melihat apa pun yang luar biasa-tak ada tanda-tanda darah atau kejahatan yang kusaksikan.
Lebih dari satu hari penuh sudah berlalu sejak pembunuhan itu, satu hari normal yang diisi dengan kerja keras dan membosankan di ladang. Aku terus memikirkan rahasia itu bersama setiap tarikan napas, tapi aku bisa menyembunyikannya deng
an baik. Ibuku aman, dan hanya itulah yang penting.
Kami melewati jalan ke rumah keluarga Latcher, dan Pappy melirik ke arah sana Untuk saat ini, mereka hanyalah gangguan kecil.
Di jalan raya, jauh dari tanah pertanian, aku mulai memikirkan bahwa tak lama lagi aku mungkin bisa mencurahkan bebanku. Aku bisa menceritakannya pada Pappy, hanya kami berdua Tak lama lagi si Koboi akan kembali ke Meksiko, aman di dunia asing itu. Keluarga Spruill akan pulang, dan Hank takkan ada di sana. Aku bisa memberitahu Pappy, dan ia tentu tahu apa yang harus dilakukan.
Kami memasuki Black Oak di belakang satu trailer lain dan mengikutinya ke pabrik pemisah biji. Ketika kami parkir, aku merayap turun dan menempel dekat-dekat di sebelah Pappy. Beberapa petani sedang berkerumun di luar kantor pabrik, dan suatu perbincangan serius tengah berlangsung. Kami berjalan menghampiri mereka dan mendengarkan.
Berita itu suram dan mengancam. Malam sebelumnya, hujan lebat menerpa Clay County, di sebelah utara kami. Di beberapa tempat dilaporkan bahwa curah hujannya mencapai enam inci dalam sepuluh jam. Clay County terletak di hilir Sungai St. Francis. Kali-kali kecil di sana sudah kebanjiran dan airnya tumpah masuk ke Sungai St. Francis.
Permukaan air naik. Mereka berdebat, apakah hal ini akan mempengaruhi kami. Pendapat minoritas mengatakan badai itu takkan banyak mempengaruhi sungai di dekat Black Oak. Kami terlalu jauh dan, tanpa hujan lagi, sedikit kenaikan permukaan Sungai St. Francis tidak akan membanjiri apa pun. Tapi pandangan mayoritas ternyata jauh lebih pesimis, dan karena mereka kebanyakan adalah tukang khawatir profesional, berita itu diterima dengan keprihatinan besar.
Seorang petani mengatakan bahwa almanaknya menunjukkan akan turun hujan lebat di pertengahan bulan Oktober.
Satu lagi mengatakan bahwa sepupunya di Oklahoma kebanjiran, dan karena cuaca kami datang dari Barat, ia merasa itu suatu pertanda pasti bahwa hujan takkan terhindarkan lagi.
Pappy menggumamkan sesuatu bahwa cuaca dari Oklahoma melaju lebih cepat daripada berita mana pun.
Ada banyak perdebatan dan pendapat, dan nada keseluruhannya adalah muram. Kami sudah sering kali didera cuaca, atau oleh pasar, atau oleh harga benih dan pupuk, sehingga kami selalu siap menghadapi yang terburuk.
"Sudah dua puluh tahun tidak pernah ada banjir di bulan Oktober," Mr. Red Fletcher berkata, dan ini memicu perdebatan sengit mengenai sejarah banjir di musim gugur. Ada begitu banyak versi dan kenangan yang berlainan, sehingga masalah itu jadi membingungkan luar biasa.
Pappy tidak bergabung dalam perdebatan itu. dan sesudah setengah jam mendengarkannya, kami mengundurkan diri. Ia melepaskan kaitan trailer, dan kami pulang, membisu selama perjalanan, tentu saja. Satu-dua kali aku meliriknya, dan mendapatinya seperti yang kuperkirakan bisu, khawatir, mengemudi dengan dua tangan, kening berkerut, pikirannya hanya tertuju pada banjir yang akan datang.
Kami parkir di jembatan, dan berjalan di lumpur tepian Sungai St. Francis. Pappy memeriksanya sejenak, seolah-olah ia mungkin bisa melihatnya naik. Aku ngeri kalau Hank tiba-tiba mengapung ke permukaan dan terdampar tepat di hadapan kami. Tanpa sepatah kata pun, Pappy mengambil sebatang kayu hanyut dengan garis tengah sekitar satu inci dan panjang tiga kaki. Ia mematahkan ranting-ranting kecilnya, dan dengan batu memukulnya hingga menancap di pasir, di mana permukaan air mencapai tinggi dua inci. Dengan pisau lipat, ia memberi tanda tepat pada permukaan air "Kita akan periksa lagi besok pagi," ujarnya, kata-kata pertama sesudah lama membisu.
Kami mengamati batang pengukur baru itu beberapa saat, sama-sama yakin bahwa kami akan melihat permukaan sungai itu naik. Ketika itu tidak terjadi, kami kembali ke truk.
Sungai itu menakutkan hatiku, dan itu bukan karena kemungkinan banjir. Hank ada di luar sana, tercabik-cabik dan mati. dan gembung oleh air sungai, siap terdampar ke tepi. di mana seseorang mungkin akan menemukannya. Kami benar benar menghadapi suatu kasus pembunuhan, bukan kematian tak sengaja seperti penganiaya
an terhadap Sisco, tapi benar-benar suatu pembantaian.
Turunnya hujan akan menyingkirkan si Koboi. Hujan juga akan menaikkan permukaan air sungai dan memperderas alirannya. Hank, atau apa pun yang tersisa darinya, akan hanyut ke hilir, ke county lain, atau bahkan ke negara bagian lain. di mana suatu hari kelak seseorang akan menemukannya dan tidak tahu sedikit pun siapa dirinya.
Sebelum tidur malam itu, aku berdoa memohon turunnya hujan. Aku berdoa sepenuh hati. Aku memohon pada Tuhan agar mengirimkan banjir terbesar sejak zaman nabi Nuh.
Kami sedang" di tengah sarapan pagi hari Sabtu ketika Pappy berjalan masuk dari teras belakang dengan langkah bergegas. Satu kali melihat wajahnya cukuplah untuk memuaskan rasa ingin tahu kami. "Permukaan sungai naik empat inci, Luke," ia berkata padaku sambil duduk dan mulai mengambil makanan "Dan terlihat ada petir di barat."
Ayahku mengernyit, tapi terus mengunyah. Bila masalahnya mengenai cuaca, maka ia selalu pesimis. Kalau cuaca baik, tinggal masalah waktu sebelum berubah menjadi buruk. Kalau buruk, maka begitulah yang ia perkirakan selama ini. Gran menerima kabar itu tanpa ekspresi sama sekali. Putra bungsunya sedang bertempur di Korea, dan itu jauh lebih penting daripada hujan berikutnya. Ia tidak pernah meninggalkan tanah ini, dan ia tahu bahwa ada tahun-tahun yang baik, dan ada beberapa yang buruk, tapi kehidupan tidak berhenti. Tuhan memberi kami hidup dan kesehatan dan makanan berkecukupan, dan kami jauh lebih beruntung daripada kebanyakan orang. Plus, Gran tidak terlalu sabar mendengar segala keluh kesah mengenai cuaca. "Tidak bisa kita apa-apakan," katanya berulang-ulang.
Ibuku tidak tersenyum atau mengernyit, tapi ada ekspresi puas yang aneh pada wajahnya. Ia memang sudah bertekad untuk tidak menghabiskan hidupnya mengais sedikit penghidupan dari tanah. Dan tekadnya lebih teguh lagi bahwa aku tidak akan bertani. Hari-harinya di pertanian ini dapat dihitung, dan satu panen gagal lagi hanya mempercepat kepergian kami.
Selesai makan, kami mendengar suara guruh. Gran dan ibuku membereskan meja. lalu membuat sepoci kopi lagi. Kami duduk di depan meja, bercakap-cakap dan mendengarkan, menunggu sehebat apa badai ini. Aku merasa doaku akan dijawab, dan aku merasa bersalah karena memohon hal yang begitu jelek.
Tapi guruh dan halilintar itu bergerak ke utara. Tak ada hujan yang turun. Pada pukul 7 pagi, kami semua berada di ladang, bekerja keras memetik kapas dan berharap datangnya sore.
Ketika kami berangkat ke kota, hanya Miguel yang naik di belakang truk. Katanya semua pekerja Meksiko lainnya sedang bekerja, dan ia perlu membeli beberapa barang untuk mereka. Aku merasa sangat lega. Aku tidak perlu pergi ke kota dengan si Koboi mencangkung hanya beberapa meter dariku.
Hujan menerpa kami di pinggir Black Oak, gerimis yang sejuk ketimbang badai yang ganas. Trotoar penuh dengan orang-orang yang bergerak lamban di bawah payung dan balkon toko, berusaha untuk tetap kering, tapi sia-sia.
Cuaca itu menghalangi hanyak keluarga petani untuk datang ke kota. Ini terbukti ketika pertunjukan matine pukul empat dimulai di Dixie. Separuh tempat duduknya kosong, suatu pertanda pasti bahwa ini bukan hari Sabtu yang normal. Di tengah pertunjukan pertama, lampu-lampu di gang berkedip, layar menjadi kosong. Kami duduk dalam kegelapan, siap untuk panik dan lari, dan mendengarkan suara guntur.
"Listrik mati," seorang petugas berkata di bagian belakang, "Silakan meninggalkan tempat ini perlahan-lahan."
Kami berdesakan masuk ke lobi yang penuh sesak, dan menyaksikan hujan turun bagai berlapis-lapis tabir di sepanjang Main Street. Langit berwarna kelabu gelap, dan beberapa mobil yang lewat menyalakan lampu depan mereka.
Bahkan kami anak-anak pun tahu bahwa hujan terlalu lebat, terlalu banyak badai, terlalu banyak desas-desus tentang naiknya permukaan air. Banjir biasa terjadi di musim semi, jarang terjadi di saat panen. Di dunia di mana setiap orang bertani atau berdagang dengan petani, maka hujan di pertengahan Oktober cukup menekan hati.
Ketika hujan sedikit mereda, kami
berlari di trotoar untuk mencari orangtua kami. Hujan lebat berarti jalanan berlumpur, dan tak lama lagi kota ini akan kosong saat keluarga-keluarga petani pulang ke rumah masing-masing sebelum hari gelap. Ayahku tadi menyebut-nyebut akan membeli mata gergaji, maka aku lari memasuki toko perangkat keras, dengan harapan akan menemukannya. Tempat itu penuh orang yang sedang menunggu dan menyaksikan hujan di luar. Dalam kelompok-kelompok percakapan kecil, para laki-laki tua menuturkan kisah tentang banjir di masa lalu. Para wanita bicara tentang betapa seringnya hujan turun di kota-kota lain-Paragould. Lepanto, dan Manila. Gang-gang di toko itu dipenuhi orang yang hanya bercakap-cakap, tidak mencari atau membeli barang.
Aku menerobos di antara orang banyak itu, mencari ayahku. Toko perangkat keras itu sudah tua, dan makin ke belakang tempat itu jadi makin gelap dan mirip gua. Lantai kayunya basah karena orang yang berjalan-jalan, dan melendut karena dipakai selama bertahun-tahun. Di ujung salah satu gang, aku berbelok dan berhadap-hadapan dengan Tally dan Trot. Tally membawa satu galon cat putih Trot menjinjing satu liter. Mereka berkeliaran seperti orang-orang lainnya, menunggu badai reda. Trot melihatku dan mencoba bersembunyi di belakang Tally. "Halo, Luke," katanya sambil tersenyum.
"Apa kabar"" aku berkata sambil memandang ember cat itu. ia meletakkannya di lantai di sebelahnya. "Untuk apa cat itu""
"Oh, tidak apa-apa." katanya, tersenyum lagi. Sekali lagi aku diingatkan bahwa Tally adalah gadis paling cantik yang pernah kujumpai, dan ketika ia tersenyum padaku, otakku jadi kosong. Sekali kau melihat seorang gadis cantik telanjang, kau akan merasakan suatu perasaan terikat padanya.
Trot bersembunyi rapat di belakangnya, seperti bocah balita bersembunyi di belakang ibunya. Aku dan Tally bicara tentang hujan itu, dan kusampaikan padanya kabar menghebohkan bahwa listrik padam di tengah pertunjukan film. Ia mendengarkan dengan perasaan tertarik, dan makin banyak aku bicara, makin banyak pula yang ingin kukatakan. Kuceritakan padanya desas-desus tentang naiknya permukaan air, dan tentang tongkat pengukur yang aku dan Pappy pasang di sungai. Ia bertanya tentang Ricky, dan kami berbicara panjang tentang dia.
Tentu saja aku lupa tentang cat itu.
Lampu berkedip, dan listrik kembali menyala. Tapi hujan masih turun juga, dan tak seorang pun meninggalkan toko itu.
"Bagaimana kabar gadis Latcher itu"" ia bertanya, matanya jelalatan, seolah-olah ada orang yang mungkin mendengarnya. Itu adalah salah satu rahasia terbesar kami.
Aku sudah hendak mengatakan sesuatu, ketika tiba-tiba terlintas dalam benakku bahwa kakak laki-laki Tally telah tewas, dan ia tak tahu apa pun mengenai ini. Seluruh keluarga Spruill mungkin mengira bahwa saat ini Hank sudah berada di rumah, di Eureka Springs sana, kembali di rumah mungil mereka yang indah bercat. Mereka akan bertemu dengannya dalam beberapa minggu, atau lebih cepat lagi kalau hujan tenis turun. Aku memandangnya dan mencoba berbicara, tapi yang dapat kupikirkan hanyalah betapa terguncang perasaannya seandainya aku mengucapkan apa yang kupikirkan.
Aku sangat menyukai Tally, walau suasana hatinya dan rahasia-rahasianya tak bisa ditebak, walau ia terlibat urusan yang aneh bersama si Koboi. Aku menyukainya, dan sudah pasti aku tak ingin menyakiti hatinya. Hanya membayangkan diriku berkata tanpa pikir panjang bahwa Hank sudah mati membuat lututku lemas.
Aku terbata-bata dan tergagap-gagap, memandangi lantai. Aku tiba-tiba kedinginan dan ketakutan. "Sampai jumpa nanti," akhirnya aku bisa berkata, lalu berbalik dan kembali ke depan.
Ketika hujan berhenti sebentar, toko-toko itu pun ditinggalkan dan orang-orang berjalan terburu-buru di trotoar, menuju mobil dan truk masing-masing. Awan masih gelap, dan kami ingin pulang sebelum hujan turun kembali.
Dua Puluh Delapan HARI Minggu cuaca kelabu dan mendung, dan ayahku tidak peduli dengan kemungkinan basah sewaktu duduk di belakang truk menuju gereja. Ditambah lagi. truk kami tidak benar-benar kedap air, dan para wanita yang dud
uk di kabin depan biasanya terkena tetesan air bila hujan turun cukup lebat. Kami jarang melewatkan kebaktian hari Minggu, tapi ancaman hujan kadang-kadang menahan kami di rumah. Sudah berbulan-bulan kami tidak pernah melewatkan satu kebaktian pun. maka ketika Gran mengusulkan kami sarapan agak siang dan mendengarkan radio, kami dengan cepat menyetujuinya. Bellevue Baptist adalah gereja terbesar di Memphis, dan ke-baktian-kebaktiannya disiarkan oleh stasiun WI1BQ. Pappy tidak suka dengan pendetanya, katanya terlalu liberal, tapi kami suka mendengarkannya. Dan paduan suaranya beranggotakan seratus orang, berarti delapan puluh suara lebih banyak daripada yang ada di Gereja Baptis Black Oak.
Lama sesudah sarapan, kami duduk di depan meja dapur, meneguk kopi (termasuk aku), mendengarkan khotbah disampaikan kepada tiga ribu jemaat, dan mengkhawatirkan terjadinya perubahan cuaca secara drastis. Orang-orang dewasa berkhawatir; aku cuma berpura-pura.
Gereja Bellevue Baptist punya orkestra, dan ketika orkestra itu memainkan lagu pemberkatan, Memphis serasa terpisah sejuta mil dari sana. Sebuah orkestra di gereja. Anak perempuan tertua Gran, bibiku Betty, tinggal di Memphis, dan meskipun ia tidak beribadat di Bellevue, ia kenal seseorang yang pergi ke sana. Semua laki-laki memakai setelan jas. Semua keluarga mengendarai mobil-mobil bagus. Tempat itu sungguh sebuah dunia lain.
Aku dan Pappy pergi ke sungai untuk memeriksa pengukur kami. Hujan itu mengancam hasil kerja Otis meratakan jalan baru-baru ini. Parit-parit dangkal di samping jalan itu penuh, selokan-selokan terbentuk dari gerusan air, dan lubang-lubang lumpur menampung air. Kami berhenti di tengah jembatan dan mengamati sungai itu dari kedua sisi. Bahkan aku sekalipun bisa tahu bahwa permukaan air itu naik. Tepian sungai yang berpasir dan berkerikil sudah tertutup. Air lebih pekat dan warnanya kecokelatan, bukti bahwa ada masukan dari sungai-sungai kecil yang melewati ladang. Arusnya bergulung-gulung dan bergerak lebih deras.
Puing-puing-batang kayu dan balok, dan bahkan satu-dua ranting yang masih hijau - terapung di atas air.
Tonggak pengukur kami masih berdiri, tapi sudah hampir tak tampak. Hanya beberapa inci yang masih tersisa di atas permukaan air. Sepatu lars Pappy terpaksa basah sewaktu ia mengambil tongkat itu. Ia mencabutnya, memeriksanya, seolah-olah batang tersebut telah berbuat suatu kesalahan, dan ia berkata, nyaris pada diri sendiri, "Naik sekitar sepuluh inci dalam dua puluh empat jam." Ia berjongkok dan mengetukkan tongkat itu pada sebongkah batu. Mengamatinya, aku jadi sadar akan suara sungai itu. Tidak keras, tapi air itu melaju deras, mengalir sampai tepian kerikilnya, dan menerpa tiang-tiang jembatan. Arus itu memerciki semak-semak yang bergelantungan di sungai dan menggerus akar sebatang pohon wil-low di dekat sana. Suara itu sungguh mengancam. Suara yang belum pernah kudengar.
Pappy pun mendengarnya. Dengan tongkat itu ia menunjuk ke tikungan sungai, jauh di sebelah kanan, dan berkata, "Ini akan lebih dulu melanda pertanian Latcher. Tempat mereka terletak di dataran rendah."
"Kapan"" aku bertanya
"Tergantung hujannya. Kalau berhenti, mungkin sama sekali tidak akan banjir. Tapi kalau tenis turun, maka air akan melewati tepian dalam waktu seminggu."
"Kapan terakhir kali banjir""
"Tiga tahun lalu, tapi itu terjadi di musim semi. Banjir musim gugur terakhir sudah terjadi lama."
Aku punya banyak pertanyaan mengenai banjir, tapi itu bukan pokok pembicaraan yang diinginkan Pappy. Kami mengamati sungai itu beberapa lama. dan mendengarkannya, lalu kami berjalan kembali ke truk dan pulang naik truk.
"Ayo kita pergi ke Sungai Siler," katanya. Jalanan di ladang terlalu berlumpur untuk dilalui truk, maka Pappy menghidupkan traktor John Deere dan kami pun berangkat, disaksikan oleh sebagian besar warga Spruill dan semua pekerja Meksiko itu dengan penuh rasa ingin tahu. Traktor itu tidak pernah dipakai pada hari Minggu. Sudah pasti Eli Chandler tidak akan bekerja pada hari Sabat.
Sungai kecil itu sudah berubah. Hilang sudah air jernih tempa
t Tally suka mandi. Hilang sudah aliran-aliran kecil yang sejuk di antara bebatuan dan balok-balok. Sebagai gantinya, sungai kecil itu jadi lebih lebar dan penuh dengan air berlumpur yang mengalir menuju Sungai St. Francis, setengah mil dari sana. Kami turun dari traktor dan berjalan ke tepinya. "Dari sinilah banjir di tempat kita berasal," Pappy berkata. "Bukan dari St. Francis. Tanahnya lebih rendah di sini, dan bila sungai kecil ini meluap, airnya langsung menuju ladang kita."
Permukaan air sedikitnya masih sepuluh kaki di bawah kami, masih aman tertampung di lembah kecil yang membelah lahan kami berpuluh tahun yang lalu. Rasanya mustahil air sungai kecil itu bisa naik cukup tinggi hingga meluap.
"Menurut Pappy akan ada banjir"" aku bertanya.
ia berpikir keras dan lama, atau mungkin ia tidak berpikir sama sekali. Ia mengamati sungai kecil itu, dan akhirnya berkata, tanpa keyakinan sedikit pun, "Tidak. Kita akan baik-baik saja."
Terdengar suara guntur di barat.
Aku berjalan memasuki dapur pada dini hari Senin. Pappy sedang duduk di depan meja, minum kopi sambil mengotak-atik radio. Ia mencoba menangkap siaran dari stasiun Little Rock untuk memeriksa keadaan cuaca. Gran ada di depan kompor, menggoreng daging asap. Rumah itu dingin, tapi hawa panas dan bau dari wajan sangat menghangatkan. Ayahku mengangsurkan sebuah mantel flanel, bekas pakai Ricky, dan dengan enggan aku mengenakannya.
"Apa kita akan memetik hari ini, Pappy"" aku bertanya.
"Kita akan segera tahu," katanya tanpa mengalihkan mata dari radio.
"Apa tadi malam turun hujan"" aku bertanya pada Gran yang sudah membungkuk untuk mencium keningku.
"Sepanjang malam," katanya. "Sekarang pergilah mengambil telur."
Aku mengikuti ayahku keluar rumah, menuruni tangga belakang, sampai aku melihat sesuatu yang membuatku tertegun. Matahari belum lagi naik. tapi ada banyak cahaya. Aku tidak keliru melihat.
Aku menunjuk dan hanya sanggup berkata. "Lihat."
Ayahku sudah sepuluh langkah di depan, berjalan menuju kandang ayam. "Ada apa, Luke"" ia bertanya.
Di bawah pohon ek tempat Pappy memarkir truknya setiap hari sepanjang hidupku, tak terlihat jejak rodanya. Truk itu hilang.
"Truknya," kataku.
Ayahku berjalan perlahan-lahan ke sebelahku, dan lama kami menatap tempat parkir tersebut. Truk itu selalu ada di sana, seperti salah satu pohon ek atau gudang itu. Kami melihatnya setiap hari, tapi kami tidak memperhatikannya, karena ia selalu di sana.
Tanpa sepatah kata pun ayahku berbalik dan menaiki tangga belakang, melintasi teras, dan masuk ke dapur. "Ada alasan mengapa truk kita tidak di tempat"" ia bertanya pada Pappy yang sedang mencoba dengan sia-sia untuk mendengarkan laporan gemeresik dari suatu tempat nun jauh di sana. Gran tertegun diam dan memiringkan kepala ke samping, seakan-akan ia minta pertanyaan tersebut diulangi. Pappy mematikan radio. "Apa katamu"" ia bertanya.
"Truk itu tidak ada," kata ayahku.
Pappy memandang Gran, yang memandang ayahku. Mereka semua memandangku, seolah-olah aku sekali lagi melakukan perbuatan salah. Sekitar saat inilah ibuku memasuki dapur, dan seluruh keluarga berbaris keluar dari rumah, langsung menuju jejak berlumpur di mana truk itu seharusnya berada.
Kami memeriksa lahan kami, seakan-akan truk itu entah bagaimana bisa berpindah sendiri ke lokasi lain.
"Aku meninggalkannya di sini," Pappy berkata dengan tercengang. Tentu saja ia meninggalkannya di sana. Truk itu tak pernah ditinggalkan bermalam di tempat lain di tanah pertanian ini.
Di kejauhan Mr. Spruill berteriak. "Tally!"
"Seseorang mengambil truk kita," Gran berkata, nyaris tak terdengar.
"Di mana kuncinya"" ayahku bertanya.
"Di sebelah radio, sama seperti biasanya," kata Pappy. Di meja dapur, di samping radio, ada sebuah mangkuk timah, dan kunci truk itu selalu ditaruh di sana. Ayahku pergi untuk memeriksa mangkuk itu. Tak lama kemudian, ia kembali dan berkata, "Kuncinya hilang."
"Tally!" Mr. Spruill berteriak lagi, lebih keras. Di dalam dan sekitar perkemahan Spruill terjadi keributan. Mrs. Spruill muncul dan mulai berjalan cepat menuju teras depan kami. Ketik
a melihat kami berdiri di samping rumah, melongo memandangi tempat parkir yang kosong itu, ia berlari menghampiri dan berkata, "Tally hilang. Kami tidak bisa menemukannya di mana pun."
Para anggota keluarga Spruill yang lain segera mengikutinya, dan tak lama kemudian dua keluarga itu saling pandang. Ayahku menjelaskan bahwa truk kami hilang. Mr. Spruill menjelaskan bahwa anak perempuannya hilang.
"Bisakah dia mengemudikan truk"" tanya Pappy.
"Tidak," kata Mrs. Spruill, dan ini memperumit persoalan.
Suasana hening beberapa lama, ketika setiap orang memikirkan situasi itu.
"Menurut kalian, tidak mungkin kalau Hank kembali dan mengambilnya"" tanya Pappy.
"Hank tidak akan mencuri truk kalian," Mr. Spruill berkata dengan perasaan marah bercampur bingung. Pada saat itu, hampir segala sesuatu sepertinya mungkin dan sekaligus mustahil.
"Hank tentu sudah sampai di rumah sekarang," kata Mr. Spruill. Ia sudah di ambang tangis.
Aku ingin menjerit, "Hank sudah mati!" kemudian berlari ke rumah dan bersembunyi di kolong ranjang. Orang-orang malang itu tidak tahu bahwa putra mereka tidak akan pernah pulang. Rahasia ini jadi terlalu berat untuk dipikul sendirian. Aku mundur selangkah ke belakang ibuku.
Ia mencondongkan badan ke arah ayahku dan berbisik, "Sebaiknya kau pergi memeriksa si Koboi." Karena aku pernah bercerita padanya tentang Tally dan si Koboi, ibuku lebih cepat membaca situasi daripada mereka semua.
Ayahku berpikir sedetik, lalu memandang ke arah gudang. Demikian pula Pappy, Gran, dan akhirnya semua orang.
Miguel sedang mendatangi perlahan-lahan ke arah kami, tidak terburu-buru, meninggalkan jejak di rumput yang basah. Topi jeraminya yang kotor dipegang di tangan, dan ia melangkah sedemikian rupa, dengan gaya setengah hati untuk melakukan apa pun yang hendak ia lakukan.
"Pagi, Miguel," Pappy berkata, seolah-olah hari ini sama seperti hari-hari biasa.
"Senor," katanya, mengangguk.
"Apa ada masalah"" tanya Pappy.
"Si. senor. Sedikit masalah."
"Masalah apa""
"Si Koboi menghilang. Saya kira dia menyelinap pergi di waktu malam."
"Pasti ini menular," Pappy menggumam, lalu meludah ke rumput. Butuh waktu beberapa saat bagi keluarga Spruill untuk menyusun semua informasi itu. Mula-mula hilangnya Tally tak ada kaitannya dengan si Koboi, setidaknya bagi mereka. Jelas mereka tidak tahu apa pun tentang percintaan rahasia itu. Semua anggota keluarga Chandler sudah lebih dulu menebak apa yang terjadi, tapi itu karena mereka tahu apa yang diam-diam kuketahui.
Perlahan-lahan kenyataan itu mengendap juga dalam benak keluarga Spruill.
"Menurut kalian, dia membawa Tally kabur"" Mr. Spruill berkata, nyaris panik. Mrs. Spruill mulai terisak-isak sekarang, mencoba menahan air mata.
"Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana," sahut Pappy. ia jauh lebih khawatir memikirkan piekup-nya daripada di mana Tally dan si Koboi berada.
"Apa si Koboi membawa serta barang-barangnya"" ayahku menanyai Miguel.
"Si, senor." "Apa Tally membawa barang-barangnya"" ayahku ganti menanyai Mr. Spruill.
Ia tidak menjawab, dan pertanyaan itu menggelantung di udara hingga Bo berkata, "Ya, Sir. Tasnya tidak ada."
"Ada apa di dalam tasnya""
"Pakaian dan lain-lain. Dan tempat uangnya."
Mrs. Spruill menangis lebih keras. Lalu ia melolong. "Oh, anakku!" Aku ingin merangkak ke bawah rumah.
Keluarga Spruill seperti pasukan kalah perang. Semua kepala tertunduk, pundak melorot, mata setengah terpejam. Tally yang mereka cintai telah kabur bersama seseorang yang mereka anggap sebagai keturunan rendah, pengacau berkulit gelap dari suatu negara terkutuk. Perasaan terhina mereka di hadapan kami lengkap sudah, dan sangat menyakitkan.
Aku pun merasa sakit. Bagaimana mungkin Tally bisa melakukan perbuatan semacam itu" ia temanku. Ia memperlakukan aku sebagai orang kepercayaannya, dan ia melindungiku seperti layaknya seorang kakak perempuan. Aku mencintai Tally, dan kini ia kabur dengan seorang pembunuh keji.
"Dia mengambil Tally!" Mrs. Spruill melolong. Bo dan Dale menuntunnya pergi, sehingga hanya Trot dan Mr. Spruill yang tinggal untuk mengurus persoalan. Si
nar mata Trot yang biasanya hampa digantikan oleh kebingungan dan kesedihan. Dulu Tally juga pelindungnya. Kini ia telah pergi.
Para laki-laki terlibat dalam diskusi rumit mengenai apa yang harus dilakukan. Prioritas utama adalah menemukan Tally, dan truk itu, sebelum ia bisa pergi terlalu jauh. Tak ada petunjuk kapan mereka pergi. Mereka rupanya memanfaatkan badai itu untuk menutupi pelarian mereka. Keluarga Spruill tak mendengar apa pun sepanjang malam, kecuali suara halilintar dan hujan, padahal jalan masuk hanya delapan puluh kaki dari tenda mereka.
Bisa jadi mereka sudah kabur berjam-jam, cukup waktu untuk pergi ke Jonesboro, atau Memphis, atau bahkan Little Rock.
Namun pria-pria itu tampaknya optimis bahwa Tally dan si Koboi dapat ditemukan dengan cepat. Mr. Spruill bergegas melepaskan truknya dari tenda dan meja-meja. Aku memohon pada ayahku agar diperkenankan pergi bersama mereka, tapi ia mengatakan tidak. Ketika aku pergi pada ibuku, ia pun menolak dengan tegas. "Ini bukan bagianmu," katanya.
Pappy dan ayahku berdesakan di jok depan bersama Mr. Spruill, dan pergilah mereka, tergelincir-gelincir di jalan kami, roda-roda berputar, lumpur berpercikan di belakang mereka.
Aku pergi melewati silo, ke bekas tempat pengasapan daging yang sudah ditumbuhi gulma, dan duduk selama satu jam di bawah atap sengnya yang karatan, menyaksikan air hujan menetes di depanku. Hatiku lega bahwa si Koboi sudah meninggalkan pertanian kami, dan untuk ini aku mengucapkan syukur pada Tuhan dalam doa pendek tapi sungguh-sungguh. Namun perasaan lega karena kepergiannya terbebani oleh kekecewaanku terhadap Tally. Aku berhasil membencinya karena apa yang telah ia lakukan. Aku mengutuknya, memakai kata-kata yang pernah diajarkan Ricky padaku. Sesudah memuntahkan segala kata-kata kasar yang bisa kuingat, aku memohon pada Tuhan untuk mengampuniku.
Dan aku memohon kepadaNya agar melindungi Tally.
Butuh waktu dua jam bagi para pria itu untuk menemukan Stick Powers, ia mengatakan bahwa ia baru dari perjalanan ke markas besar di Jonesboro. tipi kata Pappy ia kelihatan seperti baru tidur seminggu penuh. Stick jadi sangat bergairah menghadapi kejahatan sebesar itu dalam wilayah yurisdiksinya. Dalam aturan kami. mencuri truk seorang petani adalah kejahatan yang hanya satu tingkat di bawah pembunuhan, dan Stick pun mulai sibuk, ia mengirim pesan ke setiap yurisdiksi yang bisa dihubunginya melalui radio tuanya, dan tak lama kemudian sebagian besar Arkansas timur laut mulai berdengung dengan kabar itu.
Menurut Pappy, Stick tidak terlalu khawatir dengan keberadaan Tally, ia menebak dengan tepat bahwa Tally secara sukarela melarikan diri dengan seorang Meksiko, suatu perbuatan rendah dan memalukan.
tapi sama sekali bukan tindak kejahatan, meskipun Mr. Spruill terus memakai istilah "penculikan".
Memang meragukan bahwa dua kekasih itu akan menempuh perjalanan panjang dengan naik truk kami. Hampir bisa dipastikan bahwa mereka ingin meninggalkan Arkansas, dan menurut Stick sarana yang paling mungkin mereka ambil adalah bus. Terlalu mencurigakan bila mereka mencari tumpangan: kecil kemungkinan para pengemudi mobil Arkansas bersedia memberi tumpangan pada sosok berkulit gelap seperti si Koboi, apalagi dengan seorang gadis kulit putih di sisinya. "Mereka mungkin naik bus ke Utara," kata Stick.
Ketika Pappy menceritakan ini pada kami, aku teringat impian Tally untuk tinggal di Kanada, jauh dari hawa panas dan kelembapan. ia menginginkan banyak salju, dan entah karena alasan apa, ia memilih Montreal sebagai tempatnya di dunia.
Para pria berbincang tentang masalah uang. Ayahku menghitung dan memperkirakan bahwa si Koboi sudah mendapat penghasilan sebesar empat ratus dolar dari memetik kapas. Tapi tak ada seorang pun yang tahu berapa banyak yang sudah ia kirimkan ke rumah. Tally memperoleh sekitar setengah jumlah itu, dan mungkin sebagian besar ditabungnya. Kami tahu bahwa selama ini ia membeli cat rumah untuk Trot, tapi kami tidak tahu berapa pengeluaran lainnya.
Saat Pappy bercerita sampai di sini, aku ingin sekali melepaskan bebanku mengenai H
ank. Si Koboi merampoknya sesudah membunuhnya. Tidak mungkin mengetahui berapa banyak upah memetik kapas yang ditabung Hank, tapi aku tahu benar bahwa ada $250 milik. Samson yang kini berada di saku si Koboi. Aku hampir saja mengungkapkan hal ini tanpa pikir lagi ketika kami duduk mengitari meja dapur, tapi aku terlalu ketakutan. Si Koboi sudah pergi, tapi mereka mungkin saja menangkapnya entah di mana.
Tunggu, aku terus berkata pada diri sendiri. Tunggu saja. Akan tiba saatnya aku bisa melepas segala bebanku.
Bagaimanapun keadaan keuangan mereka, jelas bahwa Tally dan si Koboi punya cukup uang untuk naik bus menempuh perjalanan jauh.
Dan kami tak punya uang, seperti biasanya. Ada perbincangan singkat tentang bagaimana mengganti - truk itu seandainya truk tersebut tak pernah ditemukan, tapi masalah itu terlalu menyakitkan untuk tenis dibicarakan. Ditambah lagi, aku sedang mendengarkan.
Kami makan siang lebih awal, lalu duduk di teras belakang dan memandangi hujan.
Dua Puluh Sembilan MOBIL patroli Stick yang usang dan berisik menggelinding memasuki halaman depan, dengan truk kami yang hilang ditarik di belakangnya. Stick keluar, lagaknya seperti orang penting, sebab ia baru saja memecahkan bagian paling mendesak dari tindak kejahatan itu. Seorang, deputi lain dari Black Oaks mengemudikan truk itu. Sejauh yang bisa kami lihat, truk itu sama sekali tidak berubah. Keluarga Spruill berlarian mendatangi, ingin mendengar berita tentang Tally.
"Ditemukan di terminal bus Jonesboro," Stick mengumumkan saat kerumunan kecil tersebut mengitarinya. "Tepat seperti yang kuperkirakan."
"Mana kuncinya"" tanya Pappy.
"Di bawah jok. Dan tangkinya penuh. Aku tidak tahu apakah tangkinya terisi penuh saat mereka pergi dari sini, tapi keadaannya penuh sekarang."
"Waktu itu terisi setengah," Pappy berkata dengan perasaan tercengang. Kami semua terperanjat, bukan hanya karena melihat truk itu lagi, tapi karena melihatnya tak berubah sama sekali. Seharian kami habiskan untuk mengkhawatirkan masa depan kami tanpa truk, tanpa sarana transportasi. Keadaan kami akan sama seperti keluarga Latcher, terpaksa minta tumpangan ke kota dari siapa saja yang lewat. Aku tak bisa membayangkan keadaan menyedihkan seperti itu, dan tekadku jadi lebih besar lagi untuk tinggal di kota, suatu hari kelak, di mana orang-orang memiliki mobil.
"Kurasa mereka cuma meminjamnya," kata Mr. Spruill, hampir-hampir pada diri sendiri.
"Begitulah menurut pendapatku," kata Stick. "Kau masih mau mengajukan tuntutan"" ia bertanya pada Pappy.
Pappy dan ayahku bertukar pandang. "Kurasa tidak," kata Pappy.
"Apa ada yang melihat mereka"" Mrs. Spruill bertanya lirih.
"Ya, Ma'am. Mereka membeli dua tiket ke Chicago, lalu selama lima jam menunggu di terminal bus itu. Penjual tiket tahu ada sesuatu di antara mereka, tapi dia pikir itu bukan urusannya. Kabur dengan seorang Meksiko memang bukan tindakan pintar, tapi itu sama sekali bukan tindak kejahatan. Petugas itu mengatakan dia terus mengawasi mereka malam itu, dan mereka berusaha saling mengabaikan, seolah-olah tidak ada apa-apa di antara mereka. Mereka tidak duduk bersama. Tapi ketika bus mulai terisi, mereka naik bersama-sama."
"Pukul berapa bus itu berangkat"" tanya Mr. Spruill.
"Pukul enam pagi ini." Stick mengambil sehelai amplop terlipat dari dalam saku dan mengangsurkannya pada Mr. Spruill. "Aku menemukan ini di jok depan.
Kukira itu pesan dari Tally untuk kalian semua. Aku tidak membacanya."
Mr Spruill menyerahkannya pada Mrs. Spruill, yang cepat-cepat membukanya dan mengeluarkan sehelai kertas, ia mulai membaca, lalu mulai menyeka mata Setiap orang memandanginya, menunggu tanpa suara. Bahkan Trot, yang sedang bersembunyi di belakang Bo dan Dale, melongok ke depan dan mengamati surat itu dibaca.
"Ini bukan urusan saya, Ma'am." Stick berkata, "tapi kalau sekiranya ada informasi yang berguna, mungkin saya perlu tahu."
Mrs. Spruill terus membaca, dan setelah selesai, ia memandang ke tanah dan berkata, "Dia mengatakan tidak akan pulang. Katanya dia dan si Koboi akan menikah dan tinggal di Utara sana,
di mana mereka bisa menemukan pekerjaan yang baik." Air mata dan sedu sedannya tiba-tiba menghilang. Mrs. Spruill kini merasa sangat marah. Anak perempuannya tidak diculik; ia minggat dengan seorang Meksiko, dan akan menikahinya.
"Mereka akan tinggal di Chicago"" Stick bertanya.
"Tidak disebutkan. Dia hanya mengatakan akan tinggal di Utara."
Keluarga Spruill mulai mengundurkan diri. Ayahku mengucapkan terima kasih pada Stick dan deputi lainnya karena telah membawa truk kami pulang.
"Kalian mendapatkan lebih banyak hujan daripada orang-orang," Stick berkata saat membuka pintu mobil patrolinya.
"Basah semua di mana-mana," balas Pappy. "Permukaan sungai di utara terus naik," kata Stick.
seolah-olah ia seorang pakar. "Hujan akan turun lebih banyak lagi."
"Terima kasih. Stick," sahut Pappy.
Stick dan deputi satunya masuk ke dalam mobil patroli. Stick duduk di belakang kemudi. Baru saja hendak menutup pintu, ia tiba-tiba melompat keluar dan berkata, "Eli, aku menelepon sheriff di Eureka Springs. Dia tidak melihat Hank. Bocah itu seharusnya sudah sampai di rumah, bukan begitu menurutmu""
"Kurasa begitu. Dia pergi seminggu yang lalu."
"Entah ada di mana dia sekarang."
"Itu sama sekali bukan urusanku," kata Pappy.
"Aku belum selesai dengannya, kau tahu itu. Begitu menemukannya, akan kujebloskan badannya yang besar itu ke dalam penjara di Jonesboro, dan kita akan seret dia ke pengadilan."
"Kauuruslah itu, Stick," Pappy berkata, lalu berbalik. "Uruslah."
Ban mobil patroli Stick yang sudah gundul itu selip dan berputar di lumpur, tapi ia akhirnya berhasil sampai ke jalan. Ibuku dan Gran kembali ke dapur untuk mulai memasak.
Pappy mengambil perkakas dan menggelarnya di bak truk. Ia membuka kap mesin dan mulai memeriksa mesin dengan amat teliti. Aku duduk di spatbor. menyodorkan kunci-kunci, mengamati setiap gerakan.
"Kenapa seorang gadis cantik seperti Tally mau menikah dengan seorang laki-laki Meksiko"" aku bertanya.
Pappy sedang mengencangkan tali kipas. Hampir tak diragukan bahwa si Koboi membuang waktu untuk berhenti, membuka kap mesin, dan mengotak-atik mesinnya saat ia kabur bersama Tally, tapi bagaimanapun Pappy merasa wajib menyetel dan membetulkan dan mengotak-atik ini-itu, seolah-olah kendaraan itu telah disabot. "Perempuan," katanya. "Maksudnya""
"Perempuan suka melakukan perbuatan-perbuatan tolol."
Aku menunggu penjelasan lebih jauh, tapi ternyata jawabannya sudah selesai.
"Aku tidak mengerti," akhirnya aku berkata
"Aku pun tidak. Dan kau pun takkan pernah mengerti. Kau memang tidak diharapkan untuk memahami perempuan."
ia mencopot saringan udara dan mengamati karburator dengan penuh curiga. Sesaat sepertinya ia menemukan bukti adanya perusakan, tapi kemudian ia memutar sebuah sekrup dan tampak puas.
"Apa mereka akan menemukannya"" aku bertanya.
"Mereka tidak akan mencari. Kita sudah mendapatkan kembali truk ini, jadi tidak ada tindak kejahatan apa pun. tak akan ada polisi yang berusaha mencari mereka. Aku sangsi keluarga Spruill akan pergi mencari mereka. Mengapa repot-repot" Kalau mereka beruntung dan bisa menemukan kedua orang itu, apa yang akan mereka lakukan""
"Tidak bisakah mereka memaksanya pulang""
"Tidak. Begitu dia menikah, maka dia sudah dewasa. Kau tidak bisa memaksa wanita yang sudah menikah untuk melakukan apa pun."
Ia menghidupkan mesin dan mendengarkannya. Suara mesin itu kedengaran sama saja bagiku, tapi Pappy pikir ia mendengar suara gemertak baru. "Ayo kita bawa jalan-jalan," katanya. Dalam kamus Pappy, menghambur-hamburkan bensin adalah dosa, tapi ia sepertinya ingin sekali membakar sedikit bensin gratis yang ditinggalkan Tally dan si Koboi.
Kami masuk ke truk dan mundur ke jalan. Aku duduk di tempat yang diduduki Tally beberapa jam sebelumnya, ketika menyelinap pergi di tengah badai. Aku tidak memikirkan apa-apa kecuali dirinya, dan aku tetap bingung.
Jalanan itu terlalu basah dan becek bagi Pappy untuk mencapai kecepatan sempurna, yaitu tiga puluh tujuh mil per jam, tapi ia tetap berpendapat bahwa ia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan mesin itu. Kami berhenti d
i jembatan dan memandangi sungai. Tepian pasir dan kerikil itu sudah lenyap, di sana tak ada apa pun kecuali air di antara tepian sungai -air dan sampah dan hulu Air itu mengalir deras, lebih cepat daripada yang pernah kulihat Tongkat pengukur banjir Pappy sudah lama lenyap, tersapu pergi oleh arus yang bergulung-gulung. Kami tidak memerlukannya lagi untuk mengetahui bahwa Sungai St. Francis akan banjir.
Pappy seperti tersihir oleh air itu dan suaranya Aku tak bisa memastikan apakah ia ingin mengutuk atau menangis. Tapi tentu saja itu takkan membantu, dan kukira Pappy- mungkin untuk pertama kalinya- menyadari bahwa sekali lagi panennya akan rusak. Apa pun yang tidak benar dengan mesin itu sudah beres dengan sendirinya ketika kami kembali ke rumah. Saat makan malam, Pappy mengumumkan bahwa truk itu dalam keadaan baik seperti sebelumnya, dan dari situ kami berbincang panjang dan kreatif tentang Tally dan si Koboi, di mana mereka kemungkinan kini berada, dan apa yang mungkin mereka lakukan. Ayahku pernah mendengar bahwa ada banyak orang Meksiko di Chicago sana, dan ia menduga si Koboi dan pengantin barunya akan berbaur begitu saja di kota besar itu dan takkan pernah dilihat lagi.
Aku begitu mengkhawatirkan Tally, sehingga aku nyaris tak bisa menelan makanan.
Esok paginya, dengan matahari berusaha sebisanya untuk mengintip dari balik awan, kami kembali ke ladang untuk memetik kapas. Kami bosan duduk-duduk saja di rumah sambil mengamati langit. Bahkan aku pun ingin pergi ke ladang.
Orang-orang Meksiko itulah yang terutama ingin segera bekerja. Apalagi mereka toh berada dua ribu mil dari rumah dan tidak dibayar.
Akan tetapi kapas itu terlalu basah dan tanahnya terlalu lunak. Lumpur menggumpal pada sepatu botku, dan menempel ke karung kapas, sehingga sesudah satu jam aku merasa seperti sedang menyeret batang pohon. Kami berhenti sesudah dua jam dan pulang ke rumah-satu rombongan yang sedih dan lesu tak bersemangat.
Keluarga Spruill sudah tak tahan lagi. Sama sekali tidak mengejutkan menyaksikan mereka membongkar perkemahan. Mereka melakukannya dengan begitu lamban, seolah-olah dengan amat enggan mereka mengakui kekalahan. Mr. Spruill memberitahu Pappy bahwa tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk tinggal, kalau mereka tidak bisa bekerja. Mereka sudah jemu dengan hujan, dan kami tak bisa menyalahkan mereka. Mereka sudah berkemah di halaman depan kami selama enam minggu. Tenda dan terpal mereka yang usang melendut dibebani air hujan. Kasur tempat mereka tidur setengah tak terlindung dan terpercik lumpur. Seandainya aku jadi mereka, aku pasti sudah pergi sejak lama.
Kami duduk di teras, menyaksikan mereka mengumpulkan segala rongsokan mereka dan mengemasnya sembarangan ke dalam truk dan trailer. Dengan kepergian Hank dan Tally, tentu akan ada lebih banyak tempat sekarang.
Aku tiba-tiba takut dengan kepergian mereka. Tak lama lagi mereka akan tiba di rumah, dan Hank takkan ada di sana. Mereka akan menunggu, lalu mencari, lalu mulai bertanya ke sana-sini. Aku tidak tahu pasti apakah hal ini akan mempengaruhi nasibku suatu hari nanti, tapi aku tetap saja ketakutan.
Ibuku memaksaku ke kebun. Kami mengumpulkan cukup banyak makanan untuk dua puluh orang. Kami mencuci jagung, mentimun, tomat, okra. dan sayur-mayur di bak cuci dapur, lalu dengan hati-hati ibuku mengatur semuanya ke dalam sebuah kardus. Gran menambahkan selusin telur, dua pon ham, satu pon mentega, dan dua botol stroberi yang diawetkan. Keluarga Spruill tidak akan pergi tanpa makanan untuk perjalanan mereka.
Menjelang siang, mereka sudah selesai berkemas. Truk dan trailer mereka penuh dengan muatan - kardus dan karung guni bergelantungan ke sisinya, terikat kendur dengan tambang, dan suatu saat tentu akan jatuh. Ketika sudah jelas bahwa mereka akan pergi, kami sekeluarga berjalan menuruni tangga depan dan melintasi halaman untuk mengucapkan selamat tinggal. Mr. dan Mrs. Spruill menyongsong kami dan menerima makanan kami. Mereka minta maaf karena pergi sebelum kapas selesai dipanen, tapi kami semua tahu bahwa kemungkinan besar panen itu sudah berakhir. Mere
ka mencoba tersenyum dan bersikap ramah, namun kesedihan mereka tampak jelas. Melihat mereka, mau tak mau aku berpikir bahwa mereka tentu akan selalu menyesali hari ketika mereka memutuskan untuk bekerja di pertanian kami. Seandainya mereka memetik di pertanian lain, Tally tentu takkan pernah bertemu dengan si Koboi. Dan Hank mungkin masih hidup, meskipun dengan kegemarannya akan kekerasan, ia mungkin ditakdirkan untuk mati muda. "Siapa hidup dari pedang akan mati oleh pedang," demikian pepatah yang suka dikutip Gran.
Aku merasa bersalah dengan segala pikiran buruk tentang mereka. Dan aku merasa seperti seorang pencuri, karena aku tahu yang sebenarnya tentang Hank, sedangkan mereka tidak.
Aku mengucapkan selamat berpisah pada Bo dan Dale yang tidak banyak berbicara. Trot bersembunyi di belakang trailer. Sementara perpisahan itu berlanjut bertele-tele, ia maju menghampiriku dan menggumamkan sesuatu yang tidak kupahami. Kemudian ia mengangsurkan tangan dan menyodorkan kuas cat miliknya. Aku tidak punya pilihan selain menerimanya.
Pertukaran itu disaksikan oleh semua orang dewasa, dan untuk sesaat tak sepatah kata pun terucap.
"Ke sini," kata Trot tak jelas, dan ia menunjuk ke truk mereka. Bo menanggapi isyarat itu, dan mengulurkan tangan mengambil sesuatu di dalam bak. ia menarik segalon cat enamel putih, satu ember bersih yang belum terbuka, dengan logo Pittsburgh Paint cemerlang di bagian depan, ia meletakkannya di tanah di depanku, lalu mengeluarkan satu lagi.
"Ini untukmu," kata Trot.
Aku memandangi dua galon cat itu, lalu mengalihkan pandangan pada Pappy dan Gran. Meskipun pengecatan rumah itu sudah berhari-hari tak pernah dibicarakan, kami tahu bahwa Trot tidak akan pernah menyelesaikan proyek itu. Kini ia menyerahkan pekerjaan tersebut padaku. Aku melirik ibuku dan melihat senyum aneh di bibirnya.
"Tally yang membelikannya," kata Dale.
Aku menepukkan kuas itu pada kaki. dan akhirnya berhasil berkata, "Terima kasih." Trot tersenyum lebar padaku, dan itu membuat mereka semua tersenyum. Sekali lagi mereka melangkah ke truk, tapi kali ini mereka langsung naik. Trot duduk di trailer, seorang diri sekarang. Dulu, ketika pertama kali kami melihat mereka, ia bersama Tally. Ia tampak sedih dan kesepian.
Truk mereka menyala dengan enggan. Kopling melolong dan berderit, dan ketika akhirnya dilepaskan, seluruh rombongan melaju ke depan. Keluarga Spruill pun berangkat, pot dan panci gemerantang, kardus-kardus bergoyang terayun-ayun, Bo dan Dale terentak-entak di atas kasur, dan Trot meringkuk di sudut trailer, menyendiri. Kami melambaikan tangan sampai mereka hilang dari pandangan.
Tak ada pembicaraan tentang tahun depan. Keluarga Spruill tidak akan datang kembali. Kami tahu bahwa kami takkan pernah melihat mereka lagi.
Sedikit rumput yang tersisa di halaman depan sudah rata tergilas, dan ketika memeriksa kerusakan tersebut, aku langsung senang bahwa mereka sudah pergi. Aku menendang-nendang abu di tempat mereka membuat api unggun di atas home plate, dan sekali lagi terheran-heran memikirkan betapa tidak sensitifnya mereka. Ada jejak roda truk mereka dan lubang-lubang bekas tiang tenda. Tahun depan aku akan membangun pagar, agar orang-orang pegunungan itu tidak menduduki lapangan bisbol milikku.
Akan tetapi, proyekku di depan mata adalah menyelesaikan apa yang telah dimulai Trot. Aku menyeret cat itu ke teras depan, satu galon tiap kali jalan, dan tercengang oleh bobotnya yang berat. Aku sudah siaga bahwa Pappy akan mengucapkan sesuatu, tapi situasi tersebut tidak memancing komentar apa pun darinya. Akan tetapi, ibuku memberikan beberapa perintah kepada ayahku, yang dengan cepat mendirikan perancah di sisi timur rumah. Perancah itu terbuat dari papan kayu ek dua kali enam, dengan panjang delapan kaki, disangga kuda-kuda di salah satu ujungnya dan drum solar kosong di ujung lain. Papan itu miring sedikit di dekat drum, tapi tidak sampai membuat pengecatnya kehilangan keseimbangan. Ayahku membuka galon pertama, mengaduknya dengan sebatang kayu, dan membantuku naik ke atas perancah, ia memberikan sedikit instruksi,
tapi karena ia tidak tahu banyak soal pengecatan rumah, aku dibiarkan bebas belajar sendiri. Kupikir kalau Trot bisa mengerjakannya, aku pun bisa.
Ibuku mengawasi dengan cermat dan menawarkan nasihat-nasihat bijak seperti "Jangan sampai catnya menetes" dan "Pelan-pelan saja." Di sisi timur rumah itu. Trot sudah mengecat enam papan pertama dan bawah, dari depan rumah sampai ke belakang, dan dengan perancahku aku dapat mencapai tiga kaki lebih tinggi dari yang sudah dikerjakannya. Aku tidak tahu pasti, bagaimana aku akan mengecat sampai ke atap, tapi kuputuskan untuk memikirkan soal itu nanti.
Papan-papan tua itu terlabur lapisan cat pertama. Yang kedua lebih halus dan putih. Sesudah beberapa menit, aku jadi asyik oleh pekerjaanku karena hasilnya terlihat seketika itu juga.
"Bagaimana pekerjaanku"" aku bertanya tanpa melihat ke bawah.
"Bagus sekali, Luke," kata ibuku. "Bekerjalah perlahan-lahan, dan jangan terburu-buru. Dan jangan sampai jatuh."
"Aku tidak akan jatuh." Mengapa dia selalu memperingatkan aku agar mewaspadai bahaya-bahaya yang begitu jelas"
Siang itu ayahku dua kali menggeser perancah tersebut, dan ketika tiba saatnya untuk makan malam, aku sudah menghabiskan keseluruhan satu galon cat itu. Aku mencuci tangan dengan sabun alkali, tapi cat itu menempel pada kuku jariku. Aku tak peduli. Aku bangga dengan hasil karyaku yang baru. Aku mengerjakan sesuatu yang tak pernah dilakukan siapa pun dalam keluarga Chandler.
Pengecatan rumah itu tidak disinggung-singgung selama makan malam. Ada beberapa persoalan lebih berat di depan mata. Orang-orang pegunungan kami sudah berkemas dan pergi, meninggalkan sejumlah besar kapas yang belum terpetik. Beredar desas-desus bahwa pekerja-pekerja lain pun pergi karena ladang-ladang yang basah. Pappy tidak ingin orang lain tahu bahwa kami menyerah pada hujan. Cuaca akan berubah, ia bersikeras. Tidak pernah kami mendapatkan begitu banyak badai pada bulan-bulan seperti ini.
Menjelang gelap, kami pindah ke teras depan, yang kini lebih sunyi lagi. The Cardinals sudah jadi kenangan lama, dan kami jarang mendengarkan apa pun lainnya sesudah makan malam. Pappy tak ingin menghamburkan listrik, maka aku pun duduk di tangga dan memandangi halaman depan kami, sunyi dan kosong. Selama enam minggu halaman itu ditutupi dengan segala macam naungan dan tempat penyimpanan. Kini tidak ada apa pun.
Beberapa helai daun jatuh bertebaran di halaman. Malam terasa sejuk dan cerah, dan ini memancing ayahku untuk meramalkan bahwa besok adalah kesempatan baik untuk memetik kapas selama dua belas jam. Padahal aku ingin mengecat.
Tiga Puluh AKU melihat sepintas jam dinding di atas kompor sewaktu kami makan. Saat itu pukul empat lewat sepuluh menit, sarapan paling pagi sejauh yang bisa kuingat. Ayahku berbicara sekadar untuk menyampaikan prakiraan cuacanya- sejuk, cerah, tak ada awan di mana pun, dengan tanah lembek tapi cukup keras untuk memetik kapas.
Orang-orang dewasa itu cemas. Sebagian besar hasil panen kami belum dipetik, dan kalau keadaan tetap demikian, pertanian kecil kami akan semakin dalam terlibat utang. Ibuku dan Gran menyelesaikan cucian dengan kecepatan menakjubkan, dan kami meninggalkan rumah dalam satu rombongan. Orang-orang Meksiko itu naik bersama kami menuju ladang Mereka berkerumun di salah satu sisi trailer dan mencoba menghangatkan diri.
Siang hari yang cerah dan kering telah menjadi sesuatu yang langka, dan kami pun memanfaatkannya seolah-olah ini akan menjadi yang terakhir kali. Ketika matahari terbit, aku sudah kelelahan, tapi mengeluh hanya akan membuatku dikuliahi. Panen sedang terancam gagal, dan kami perlu bekerja sampai kami jatuh kehabisan tenaga. Timbul keinginan untuk tidur sebentar, tapi aku tahu ayahku akan melecutku dengan ikat pinggangnya bila ia memergoki aku tidur.
Makan siang adalah biskuit dingin dan ham, dimakan tergesa-gesa di bawah naungan trailer kapas. Siang itu cuaca hangat, dan tidur siang seharusnya sungguh tepat. Namun sebaliknya, kami malah duduk di atas karung kapas kami, makan biskuit dan mengamati langit. Bahkan sewaktu kami berbi
cara, mata kami selalu melihat ke atas.
Dan, tentu saja, siang yang cerah berarti akan datang badai, maka sesudah dua puluh menit istirahat makan siang, ayahku dan Pappy mengumumkan bahwa istirahat sudah selesai. Para wanita melompat berdiri secepat para laki-laki, tak sabar untuk membuktikan bahwa mereka pun dapat bekerja sama kerasnya. Akulah satu-satunya yang merasa enggan.
Keadaannya bisa lebih buruk lagi. Pekerja-pekerja Meksiko itu bahkan tidak berhenti untuk makan.
Aku menghabiskan siang yang menjemukan itu dengan memikirkan Tally, lalu Hank, lalu kembali pada Tally. Aku juga memikirkan keluarga Spruill, dan merasa iri karena mereka telah pergi. Kucoba membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka tiba di rumah dan Hank tidak ada di sana, menunggu mereka. Kucoba mengatakan pada diri sendiri bahwa aku sungguh tak peduli.
Sudah beberapa minggu kami belum menerima sepucuk surat pun dari Ricky. Aku mendengar orang-orang dewasa itu berbisik-bisik membicarakan soal ini di rumah. Aku belum mengirimkan kisah panjangku padanya, terutama karena aku tidak tahu pasti bagaimana mengeposkannya tanpa ketahuan Dan aku merasa bimbang membebani Ricky dengan kabar tentang keluarga Latcher. Sudah cukup banyak persoalan yang harus ia pikirkan. Seandainya Ricky ada di rumah, kami akan pergi memancing dan akan kuceritakan segala sesuatunya kepadanya. Aku akan mulai dengan pembunuhan pemuda Sisco, dan takkan menyisakan apa pun -bayi Latcher, Hank, dan si Koboi, segalanya. Ricky tentu tahu apa yang harus dilakukan. Aku ingin ia cepat pulang.
Aku tidak tahu berapa banyak kapas yang kupetik hari itu, tapi aku yakin jumlahnya pasti merupakan rekor dunia untuk seorang bocah umur tujuh tahun. Ketika matahari tenggelam di balik pepohonan di sepanjang sungai, ibuku menemuiku, dan kami berjalan pulang ke rumah. Gran tetap di ladang, memetik secepat para laki-laki.
"Berapa lama lagi mereka akan bekerja"" tanyaku pada ibuku. Kami begitu letih, sehingga berjalan pun merupakan suatu tantangan.
"Sampai gelap, kukira."
Hari sudah hampir gelap ketika kami tiba di rumah. Aku ingin menjatuhkan diri di sofa dan tidur selama seminggu, tapi ibuku menyuruhku mencuci tangan dan membantunya menyiapkan makan malam. Ia membuat roti jagung dan menghangatkan makanan sisa, sementara aku mengupas dan mengiris tomat. Kami mendengarkan radio- tak ada sepatah kata pun mengenai Korea.
Meski habis melewatkan seharian kerja brutal di ladang, Pappy dan ayahku tampak bersemangat ketika kami duduk untuk makan. Mereka berdua telah memetik seribu seratus pon. Hujan belakangan ini telah mendongkrak harga kapas di pasaran Memphis, dan kalau kami bisa mendapatkan cuaca cerah beberapa hari lagi, kami mungkin akan selamat melewatkan satu tahun lagi. Gran mendengarkan dari kejauhan. Ia memasang telinga, tapi tidak mendengar, dan aku tahu pikirannya sudah melayang kembali ke Korea. Ibuku terlalu lelah untuk berbicara.
Pappy benci makanan sisa, tapi ia tetap memanjatkan doa syukur pada Tuhan, ia juga mengucap syukur atas cuaca cerah tadi dan memohon lebih banyak lagi. Kami makan perlahan-lahan; kelelahan hari itu akhirnya mengendap. Percakapan jadi makin lirih dan pendek.
Aku mendengar suara guntur lebih dulu. Suara gemuruh rendah, jauh, dan aku melirik sekeliling meja untuk melihat apakah orang-orang dewasa itu pun mendengarnya. Pappy sedang bicara tentang pasar kapas. Beberapa menit kemudian gemuruh itu jadi jauh lebih dekat, dan kilat menggelegar di kejauhan. Kami pun berhenti makan. Angin bertiup makin kencang, dan atap seng di teras belakang mulai gemeretak pelan. Kami menghindari kontak mata.
Pappy melipat tangan dan menyandarkan siku di meja, seolah-olah ia akan berdoa lagi. Ia sudah memohon pada Tuhan untuk memberikan cuaca baik lagi. Kini kami malah akan mendapatkan guyuran lebat lagi.
Pundak ayahku melorot beberapa inci. Ia menggosok-gosok kening dan menatap ke dinding. Hujan mulai mengetuk-ngetuk atap rumah, sedikit terlalu keras, dan Gran berkata, "Hujan es."
Hujan es berarti angin kencang dan hujan lebat, dan sudah pasti badai akan mendera per
tanian kami. Kami duduk di belakang meja beberapa lama, mendengarkan guntur dan hujan, tak menghiraukan makanan yang baru setengah dimakan di hadapan kami, sambil dalam hati bertanya-tanya berapa inci hujan yang akan turun, dan berapa lama sebelum kami bisa memetik lagi. Sungai St. Francis tak mampu menampung lebih banyak lagi, dan saat airnya meluap, panen kami pun habislah.
Badai berlalu, tapi hujan terus turun, kadang-kadang amat deras. Kami akhirnya meninggalkan dapur. Aku berjalan ke teras depan bersama Pappy, dan tak melihat apa pun kecuali genangan air antara rumah kami dan jalan. Aku merasa kasihan padanya ketika ia duduk di ayunan dan menatap tak percaya pada gelombang air yang dikirimkan Tuhan pada kami.
Malamnya ibuku membacakan cerita-cerita Injil untukku, suaranya nyaris tak terdengar di antara suara hujan yang menimpa atap. Kisah Nabi Nuh dan banjir sama sekali tak disinggung. Aku jatuh tertidur sebelum Daud muda membantai Goliat.
Keesokan harinya orangtuaku mengumumkan bahwa mereka akan pergi ke kota. Aku diajak-keterlaluan kalau aku sampai tidak disertakan -tapi Pappy dan Gran tidak ikut serta. Ini adalah tamasya kecil bagi kami sekeluarga. Es krim disebut-sebut sebagai salah satu kemungkinan. Berkat si Koboi dan Tally, kami punya bensin gratis, dan tak ada yang bisa dikerjakan di pertanian. Air menggenang di antara deretan-deretan kapas.
Aku duduk di depan bersama mereka, dan memperhatikan spidometernya dengan cermat Begitu kami berbelok ke jalan raya utama dan melaju ke utara, menuju Black Oak. ayahku memindahkan gigi dan memacu truk itu pada kecepatan empat puluh lima mil per jam. Sejauh yang bisa kurasakan, truk itu melaju sama seperti pada kecepatan tiga puluh tujuh mil per jam, tapi aku tidak berniat menceritakan ini pada Pappy.
Ada perasaan terhibur yang aneh menyaksikan tak ada kegiatan di tanah pertanian lain gara-gara hujan itu. Tak ada seorang pun berjalan susah payah di ladang, mencoba memetik. Tak ada seorang pun pekerja Meksiko terlihat.
Letak lahan kami rendah, mudah terkena banjir lebih dulu, dan kami sudah pernah mengalami gagal panen ketika petani-petani lain tidak. Kini tampaknya semua orang akan sama-sama kebasahan.


Rumah Bercat Putih A Painted House Karya John Grisham di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Saat itu sudah tengah hari, dan tak ada yang bisa dikerjakan kecuali menunggu, maka keluarga-keluarga itu berkumpul di teras, memandangi lalu lintas. Para wanita mengupas kacang polong. Para pria mengobrol dan berkhawatir. Anak-anak duduk di tangga atau bermain di lumpur Kami kenal mereka semua, setiap rumah. Kami melambaikan tangan, mereka membalas, dan kami hampir bisa mendengar mereka berkata, "Entah untuk apa keluarga Chandler pergi ke kota""
Main Street sepi. Kami parkir di depan toko perangkat keras. Tiga pintu dari Co-op, sekelompok petani dalam overall sedang terlibat pembicaraan serius. Ayahku merasa harus pergi ke sana dulu, atau setidaknya mendengarkan pikiran dan pendapat mereka mengenai kapan hujan kemungkinan akan berakhir. Aku mengikuti ibuku ke toko obat, di mana mereka menjual es krim di mesin soda di belakang. Seorang gadis cantik bernama Cindy bekerja di sana Saat itu Cindy tidak punya pembeli lain, dan aku mendapatkan es krim rasa vanila dengan cherry dalam porsi besar. Ibuku membayar sepuluh sen. Aku bertengger di sebuah kursi tanpa sandaran. Ketika jelas bahwa aku sudah menemukan tempat untuk tiga puluh menit mendatang, ibuku pergi untuk membeli beberapa barang.
Cindy punya seorang kakak laki-laki yang tewas dalam kecelakaan mobil mengerikan, dan tiap kali melihatnya aku selalu memikirkan cerita-cerita yang pernah kudengar. Mobil itu terbakar saat kecelakaan, dan mereka tak dapat mengeluarkan kakaknya dari rongsokan. Banyak orang menyaksikannya, dan itu berarti ada banyak versi tentang betapa mengerikan kejadian tersebut. Ia cantik, tapi matanya sedih, dan aku tahu ini disebabkan oleh tragedi itu. Ia tidak ingin berbicara, dan itu tidak jadi soal bagiku. Aku makan perlahan-lahan, supaya es krim itu tidak cepat habis, dan mengamati Cindy hilir-mudik di belakang counter.
Aku sudah mendengar cukup banyak bisik-bisik di antara orangtuak
u untuk mengetahui bahwa mereka merencanakan untuk menelepon. Karena kami tidak punya telepon, maka kami harus meminjamnya. Aku menduga yang akan dipinjam adalah telepon di toko Pop dan Pearl.
Hampir semua rumah di kota punya telepon, begitu pula tempat-tempat usaha. Dan petani-petani yang tinggal dua atau tiga mil dari kota punya telepon juga, karena jalur teleponnya terbentang sejauh itu. Ibuku pernah mengatakan bahwa butuh bertahun-tahun lagi sebelum mereka memasang jalur telepon hingga ke tempat kami. Namun Pappy toh tidak menginginkannya. Ia mengatakan bahwa kalau kau punya telepon, maka kau harus bicara dengan orang kapan saja yang dirasa sesuai oleh mereka, bukan olehmu. Televisi mungkin menarik, tapi lupakan saja telepon.
Jackie Moon masuk dan berjalan ke counter soda "Hai, Chandler kecil," ia berkata, lalu mengacak rambutku dan duduk di sebelahku. "Apa yang membawamu ke sini"" ia bertanya.
"Es krim," kataku, dan ia tertawa.
Cindy melangkah ke depan kami dan berkata, "Seperti biasanya""
"Ya, Ma'am." katanya. "Dan bagaimana kabarmu""
"Aku baik-baik saja, Jackie," jawab Cindy merdu. Mereka saling mengamati, dan aku mendapat kesan bahwa ada sesuatu di antara mereka Cindy berbalik untuk menyiapkan pesanan biasanya, dan Jackie mengamatinya dari kepala hingga ke kaki.
"Kalian sudah dengar kabar dari Ricky"" ia me-nanyaiku, matanya masih terpaku pada Cindy.
"Belakangan ini belum," aku berkata, sambil ikut menatap.
"Ricky tipe yang tangguh. Dia pasti baik-baik saja." "Aku tahu," kataku.
Jackie menyalakan sebatang rokok dan menyedotnya beberapa saat. "Kalian semua basah di sana"" ia bertanya.
"Basah kuyup." Cindy meletakkan semangkuk es krim cokelat dan secangkir kopi kental di depan Jackie.
"Kata mereka, dua minggu ini akan turun hujan," katanya. "Aku tidak menyangsikannya "
"Hujan, hujan, hujan." kata Cindy. "Itu saja yang dibicarakan semua orang belakangan ini. Tidak jemukah kalian membicarakan cuaca""
"Tak ada lainnya untuk dibicarakan." kata Jackie. "Tidak bila kau bertani."
"Cuma orang tolol yang mau bertani," kata Cindy, lalu melemparkan lap ke counter dan berjalan ke mesin kasir.
Jackie menghabiskan sesuap es krim. "Dia mungkin benar soal itu." "Mungkin."
"Ayahmu akan pergi ke Utara"" ia bertanya. "Pergi ke mana""
"Ke Utara, ke Flint. Aku dengar beberapa pemuda sini sudah menelepon, mencoba mendapatkan pekerjaan di pabrik Buick. Kata mereka, pekerjaan agak sulit didapat tahun ini, mereka tidak bisa menerima sebanyak dulu. jadi orang-orang sudah berebut untuk mendapatkannya. Kapas bakal rusak lagi. Satu kali lagi hujan besar, dan sungai akan meluap. Kebanyakan petani sudah cukup beruntung bila berhasil memanen setengah kapasnya. Konyol, bukan" Enam bulan bertani mati-matian, kehilangan segalanya, lalu pergi ke Utara untuk bekerja dan membawa pulang cukup banyak uang untuk melunasi utang. Lalu menanam lagi."
"Kau akan pergi ke Utara"" tanyaku. "Sedang mempertimbangkannya. Aku terlalu muda untuk terpuruk di pertanian seumur hidupku." "Yeah, aku juga."
ia menghirup kopinya, dan beberapa lama merenungkan ketololan bertani.
"Kudengar bocah gunung berbadan besar itu sudah pergi." Jackie akhirnya berkata.
Untunglah mulutku sedang penuh es krim, maka aku hanya mengangguk.
"Kuharap mereka berhasil menangkapnya." katanya. "Aku ingin menyaksikannya diseret ke pengadilan, mendapatkan ganjaran yang layak baginya. Aku sudah bilang pada Stick Powers bahwa aku bersedia jadi saksi. Aku melihat segalanya. Saksi-saksi lain juga bermunculan, menceritakan pada Stick apa yang sebenarnya terjadi. Bocah gunung itu tidak seharusnya membunuh Sisco."
ia menjejalkan satu sendok es krim lagi dan terus mengangguk-angguk. Aku sudah belajar untuk tutup mulut dan pura-pura tolol bila pembicaraan tentang Hank Spruill mencuat.
Cindy kembali, mondar-mandir di belakang counter, mengelap ini-itu, dan terus bersenandung. Jackie lupa soal Hank. "Kau sudah hampir selesai"" tanyanya sambil melihat es krimku. Kurasa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Cindy.
"Hampir," kataku.
Cindy bersenandung, dan Jackie memandangi s
ampai aku selesai. Setelah menghabiskan suapan terakhir, aku mengucapkan selamat tinggal dan pergi ke toko Pop dan Pearl, berharap bisa tahu lebih banyak lagi tentang telepon itu. Pearl sedang sendirian di belakang mesin kasir, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, tatapannya langsung bertemu dengan pandangan mataku begitu aku melangkah masuk. Kata orang, ia tahu suara setiap truk yang lewat di Main Street, dan ia bukan saja bisa mengenali petani yang mengendarainya, tapi juga bisa tahu sudah berapa lama si petani berada di kota. Tak ada yang terlewat dan perhatiannya.
"Mana Eli"" ia bertanya sesudah kami bertukar sapa.
"Dia tinggal di rumah," kataku sambil memandang stoples Tootsie Roll. Ia menunjuk dan berkata. "Ambil satu."
"Terima kasih. Mana Pop""
"Di belakang. Cuma kau dan orangtuamu, ya""
"Ya, Ma'am. Anda melihat mereka""
"Tidak, belum. Apa mereka berbelanja""
"Ya. Ma'am. Dan kurasa ayahku perlu meminjam telepon." Pearl tertegun sesaat, memikirkan segala alasan mengapa ayahku perlu menelepon seseorang. Aku membuka bungkus Tootsie Roll itu.
"Dia mau menelepon siapa"" ia bertanya.
"Entahlah." Kasihan orang-orang yang meminjam telepon dari Pearl dan ingin menyimpan rahasia untuk diri sendiri. Ia tahu lebih banyak daripada si penerima telepon di ujung seberang.
"Kalian semua basah di sana""
"Ya, Ma'am. Lumayan."
"Lahan itu memang kurang bagus. Sepertinya kalian semua, keluarga Latcher dan Jeter, selalu yang pertama kebanjiran." Suaranya melirih hilang saat ia memikirkan kemalangan kami. ia memandang ke luar jendela, menggelengkan kepala perlahan-lahan, membayangkan kegagalan panen.
Aku belum pernah melihat banjir- setidaknya sejauh yang bisa kuingat-jadi tak ada yang bisa kukatakan. Cuaca itu telah meruntuhkan semangat semua orang, termasuk Pearl. Dengan awan tebal menggelantung di wilayah tempat kami tinggal, sulit rasanya untuk bersikap optimis. Satu lagi musim dingin yang suram sedang mendatangi.
"Kudengar beberapa orang akan pergi ke Utara," kataku. Aku tahu Pearl tentu punya rinciannya kalau desas-desus itu memang benar.
"Aku juga dengar tentang itu," katanya. "Mereka mencoba mencari pekerjaan, kalau-kalau hujan terus berlanjut."
"Siapa saja yang akan pergi""
"Belum dengar pasti," katanya, tapi aku bisa mengetahui dari nada suaranya bahwa ia punya gosip terbaru. Petani-petani itu mungkin sudah memakai teleponnya.
Aku mengucapkan terima kasih untuk Tootsie Roll itu dan meninggalkan toko. Trotoar kosong. Rasanya sungguh menyenangkan menikmati kota itu untuk diri sendiri. Pada hari Sabtu, kau hampir tidak bisa berjalan di antara orang banyak yang berjejalan. Sepintas aku melihat orangtuaku di toko perangkat keras, sedang membeli sesuatu, maka aku pergi untuk memeriksa.
Mereka sedang membeli cat, dalam jumlah besar. Berjajar rapi di atas counter, bersama dua kuas yang masih terbungkus plastik, terdapat lima kaleng cat putih Pittsburgh Paint ukuran satu galon. Pelayan toko sedang menjumlahkan uang yang harus dibayar ketika aku berjalan menghampiri.
Ayahku merogoh-rogoh saku, mencari sesuatu. Ibuku berdiri dekat di sampingnya, tegak dan bangga. Jelas bagiku bahwa dialah yang mendorong pembelian cat tersebut. Ia tersenyum padaku dengan perasaan sangat puas.
"Semuanya empat belas dolar delapan puluh sen," kata pelayan toko.
Ayahku mengeluarkan uang dan mulai menghitung.
"Bisa saja saya catat di rekening Anda," kata si pelayan toko.
"Tidak, ini tidak termasuk," kata ibuku. Pappy bisa kena serangan jantung kalau menerima laporan bulanan yang mencantumkan pengeluaran sebesar itu untuk membeli cat.
Kami membawa cat itu ke truk.
Tiga Puluh Satu EMBER-EMBER cat itu dijajarkan sepanjang teras belakang, seperti prajurit yang siap melakukan penyergapan. Di bawah supervisi ibuku, perancah itu dipindahkan oleh ayahku dan ditempatkan di sudut timur laut rumah, sehingga memungkinkan aku mengecat dari bawah sampai hampir ke garis atap. Aku sudah mengitari sudut pertama. Trot pasti bangga.
Satu galon lagi dibuka. Aku membuka bungkus salah satu kuas baru itu, dan menggosok bulu-bulunya maju
-mundur. Kuas itu lima inci lebarnya dan jauh lebih berat daripada yang diberikan Trot padaku.
"Kami akan bekerja di kebun." ibuku berkata. "Kami akan segera kembali." Lalu ia beranjak pergi, diikuti ayahku yang membawa tiga keranjang paling besar di pertanian ini. Gran ada di dapur, mengawetkan stroberi. Pappy entah berkhawatir di mana. Aku ditinggalkan seorang diri.
Investasi orangtuaku untuk proyek ini menambah beban pada misiku. Kini rumah ini akan dicat seluruhnya, tak peduli Pappy suka atau tidak. Dan sebagian besar tenaga kerjanya adalah aku. Tapi aku tak perlu tergesa-gesa. Kalau banjir datang, aku akan mengecat bila tidak turun hujan. Kalau kami berhasil menyelesaikan panen, maka aku punya waktu sepanjang musim dingin untuk menyelesaikan mahakaryaku Lima puluh tahun rumah ini tak pernah dicat. Untuk apa tergesa-gesa"
Sesudah tiga puluh menit, aku merasa letih. Aku dapat mendengar orangtuaku berbicara di kebun. Di sini ada dua kuas lagi-satu yang baru dan satu lagi yang diberikan Trot padaku-tergeletak menganggur begitu saja di samping ember-ember cat. Mengapa mereka tidak ikut mengambil kuas dan mulai bekerja" Sudah pasti mereka tadi merencanakan untuk membantu.
Kuas itu sungguh berat. Aku mengusahakan sapuan-sapuanku pendek dan lamban, dan sangat rapi. Ibuku sudah memperingatkanku agar jangan mencoba menyapukan terlalu banyak cat sekaligus. "Jangan sampai menetes." "Jangan sampai meleleh."
Sesudah satu jam, aku butuh istirahat. Tenggelam dalam duniaku sendiri, menghadapi proyek raksasa seperti itu. aku mulai punya pikiran jelek terhadap Trot karena telah menimpakan beban ini padaku. Ia baru mengecat sepertiga bagian dari satu sisi rumah itu. lalu pergi. Aku mulai berpikir bahwa mungkin Pappy benar. Rumah itu tidak butuh pengecatan.
Alasannya adalah Hank. Hank menertawakanku dan menghina keluargaku karena rumah kami tidak dicat. Trot bangkit membelaku. Ia dan Tally bersekongkol untuk memulai proyek ini, tanpa tahu bahwa sebagian besar beban pekerjaan ini akan jatuh di atas pundakku.
Aku mendengar suara-suara dekat di belakangku. Miguel, Luis, dan Rico ternyata sudah berjalan mendatangi dan mengamatiku dengan perasaan ingin tahu. Aku tersenyum dan kami bertukar sapa buenas tardes. Mereka bergeser lebih dekat, jelas keheranan mengapa anggota keluarga Chandler yang paling kecil diberi tugas sedemikian berat Selama beberapa menit aku memusatkan perhatian pada pekerjaanku dan beringsut maju. Miguel ada di teras, mengamati galon-galon yang belum terbuka dan kuas-kuas lainnya.
"Boleh kami ikut bermain"" ia bertanya.
Sungguh gagasan yang sangat bagus!
Dua galon lagi dibuka. Kuberikan kuasku pada Miguel, dan dalam beberapa detik, Luis dan Rico sudah duduk di perancah dengan kaki mereka yang telanjang terkatung-katung, mengecat dengan tangkas, seolah-olah mereka sudah seumur hidup mengerjakannya. Miguel mulai dari teras belakang. Tak lama kemudian, enam orang Meksiko lainnya duduk di rumput, di bawah naungan pohon, sambil menonton kami.
Gran mendengar suara ramai itu, dan ia melangkah keluar, menyeka tangan dengan lap. Ia memandangku dan tertawa, lalu kembali mengurus pengawetan stroberinya.
Orang-orang Meksiko itu gembira karena ada yang bisa dikerjakan. Hujan telah memaksa mereka menghabiskan jam-jam yang panjang di dalam dan di sekitar gudang. Mereka tidak punya truk untuk membawa mereka ke kota, tidak punya radio untuk didengarkan, tak punya buku untuk dibaca. (Kami bahkan tidak tahu pasti, apakah mereka bisa membaca). Mereka sekali-sekali main dadu, tapi langsung berhenti begitu salah satu di antara kami datang mendekat.
Mereka menyerbu rumah yang tak bercat itu dengan penuh semangat. Enam orang yang tidak mengecat tak henti-hentinya menawarkan saran dan pendapat kepada mereka yang memegang kuas. Jelas bahwa beberapa saran mereka sangat menggelikan, karena kadang-kadang para pengecat itu tertawa begitu keras, sehingga mereka tidak bisa bekerja. Bahasa Spanyol mereka jadi makin cepat dan nyaring, sembilan orang itu tertawa-tawa dan berbicara. Tantangannya adalah meyakinkan mereka yang memegang k
uas untuk menyerahkan kuas itu dan menyilakan orang berikutnya untuk memperbaiki kerja mereka. Roberto muncul sebagai sang pakar. Dengan sikap dramatis, ia memberikan instruksi-instruksi tentang teknik yang benar kepada para pemula, terutama kepada Pablo dan Pepe. Ia mondar-mandir di belakang mereka yang sedang bekerja, dengan tangkas memberikan nasihat atau melontarkan lelucon atau teguran. Kuas berganti-ganti tangan, dan melalui olok-olok dan teguran, terbentuklah suatu sistem kerja kelompok.
Aku duduk di bawah pohon bersama pekerja-pekerja Meksiko lainnya, mengamati transformasi yang terjadi pada teras belakang. Pappy pulang di atas traktor, ia memarkirnya di sebelah gudang perkakas, dan mengawasi sejenak dari kejauhan. Lalu ia mengitar menuju bagian depan rumah. Aku tidak bisa menebak apakah ia setuju atau tidak, dan aku tidak yakin bahwa itu masih menjadi masalah. Langkah kakinya tanpa pantulan semangat, gerakannya lesu. Pappy hanyalah seorang petani yang kalah dan tengah menghadapi kemungkinan panen kapas yang gagal.
Orangtuaku kembali dari kebun dengan keranjang-keranjang penuh hasil kebun. "Wah, kau seperti Tom Sawyer," kata ibuku padaku
"Siapa dia"" tanyaku.
"Akan kuceritakan kisahnya malam ini."
Mereka meletakkan keranjang-keranjang itu di teras, dengan hati-hati menghindari bagian yang sedang dicat, dan masuk ke dalam. Semua orang dewasa itu berkumpul di dapur, dan aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka sedang membicarakan diriku dan orang-orang Meksiko itu Gran muncul dengan sebuah buyung berisi es teh. dan sebuah nampan berisi beberapa gelas. Itu pertanda baik. Orang-orang Meksiko itu beristirahat dan menikmati teh. Mereka mengucapkan terima kasih pada Gran, lalu langsung mulai berdebat, siapa yang mendapat giliran memegang kuas.
Sang surya bertarung melawan mendung, bersama lewatnya siang. Ada saat-saat tertentu ketika cahayanya terang benderang dan udara menjadi hangat, nyaris seperti musim panas. Tak dapat dihindarkan, kami tentu menengadah ke langit, dengan harapan awan itu akhirnya akan meninggalkan Arkansas, dan takkan pernah kembali lagi, atau sedikitnya sampai musim semi. Lalu bumi pun berubah gelap kembali, dan lebih sejuk.
Awan mendung akan menang, dan kami semua tahu itu. Tak lama lagi orang-orang Meksiko itu akan meninggalkan pertanian kami, sama seperti keluarga Spruill. Kami tidak bisa mengharapkan orang-orang itu duduk menganggur berhari-hari, meman dangi langit, berusaha agar tetap kering, dan tidak mendapatkan upah.
Menjelang sore, cat sudah habis. Bagian belakang rumah kami, termasuk teras, sudah selesai, dan perbedaannya sungguh mencengangkan. Papan-papan yang mengilat cerah itu kontras tajam dengan bagian yang tak bercat di sudut. Besok kami akan menyerbu sisi barat, dengan asumsi bahwa aku bisa bernegosiasi untuk mendapatkan cat lebih banyak lagi.
Aku mengucapkan terima kasih pada orang-orang Meksiko itu. Mereka tertawa-tawa sepanjang jalan kembali ke gudang. Mereka akan menyiapkan dan makan tortilla, berangkat tidur lebih awal, dan berharap mereka dapat memetik kapas lagi esok hari.
Aku duduk di rumput yang sejuk, mengagumi hasil kerja mereka, tak ingin masuk ke dalam karena orang-orang dewasa itu sedang patah semangat. Mereka akan memaksakan senyum padaku dan mencoba mengatakan sesuatu yang menyenangkan, tapi mereka sedang khawatir setengah mati.
Aku berangan-angan seandainya aku punya saudara laki-laki-entah adik atau kakak, aku tak peduli. Orangtuaku ingin anak lagi, tapi ada masalah entah apa. Aku butuh teman, satu anak lain untuk diajak berbincang, bermain, bersekongkol. Aku sudah jemu menjadi satu-satunya anak di pertanian ini.
Dan aku merindukan Tally. Kucoba dengan gagah berani untuk membencinya, namun sia-sia belaka.
Pappy berjalan mengitari sudut rumah dan memeriksa lapisan cat baru tersebut. Aku tidak tahu apakah ia kesal atau tidak.
"Ayo kita pergi ke sungai kecil," katanya, dan tanpa sepatah kata lain kami berjalan ke traktor. Ia menghidupkannya, dan kami mengikuti tapak roda di jalanan ladang. Air sudah menggenangi bagian yang telah berk
ali-kali dilalui traktor dan trailer kapas itu. Roda depannya memercikkan lumpur saat kami beringsut maju. Roda belakangnya menggaruk tanah dan membuat jejak roda itu makin dalam. Kami tertatih-tatih menerobos ladang yang dengan cepat berubah menjadi rawa.
Tanaman kapas itu sendiri tampak menyedihkan. Kuntum-kuntumnya merunduk ke bawah karena beban air hujan. Batang-batangnya melengkung karena angin.-Seminggu penuh panas terik mungkin akan mengeringkan tanah dan kapas itu, dan memungkinkan kami menyelesaikan panen, tapi cuaca seperti itu sudah lama pergi.
Kami belok ke utara dan beringsut di jalan yang lebih becek lagi, sama seperti yang pernah beberapa kali kujalani bersama Tally. Sungai kecil itu ada di depan.
Aku berdiri sedikit di belakang Pappy, memegangi tiang naungan dan spatbor di atas roda belakang sebelah kiri, dan aku mengamati sisi wajahnya. Rahangnya dikatupkan, matanya disipitkan. Selain kobar kemarahan yang sekali-sekali muncul, ia bukan orang yang suka memperlihatkan emosi. Aku tak pernah melihatnya menangis atau apa pun yang mendekati itu. Ia suka khawatir, sebab ia seorang petani, tapi ia tidak mengeluh. Kalau hujan menyapu habis panen kami, tentu ada alasan untuk itu. Tuhan akan melindungi kami dan menyediakan makanan bagi kami, melewati tahun-tahun yang baik maupun buruk. Sebagai umat Baptis, kami percaya bahwa Tuhan mengendalikan segalanya.
Aku yakin ada alasannya bahwa The Cardinals kalah dalam memperebutkan gelar juara, tapi aku tak bisa mengerti mengapa Tuhan ada di belakang hal itu. Mengapa Tuhan membiarkan dua regu dari New York bermain dalam World Series" Itu sungguh mem-bingungkanku.
Air tiba-tiba jadi lebih dalam di depan kami, enam inci menggenangi roda depan. Jalan setapak itu sudah kebanjiran, dan untuk beberapa saat aku terheran-heran oleh hal ini. Kami sudah dekat ke sungai kecil itu. Pappy menghentikan traktor dan menunjuk. "Airnya sudah meluap dari tepian," katanya datar, tapi ada nada kalah dalam suaranya. Air itu datang menerobos semak belukar yang dulu terhampar tinggi di atas dasar sungai. Di suatu tempat di bawah sana. Tally dulu pernah mandi di aliran yang sejuk, jernih, tapi kini telah menghilang.
"Banjir," katanya, ia mematikan mesin traktor, dan kami mendengarkan suara aliran air yang mendatangi dari tepian Sungai Siler dan menggenangi bagian terendah dari dua puluh ekar tanah kami Genangan itu menghilang di antara deretan-deretan kapas saat merayapi lembah kecilnya. Genangan air ini berhenti di suatu tempat di tengah ladang, kira-kira setengah jalan ke rumah kami, pada suatu titik di mana lahan itu mulai sedikit menanjak ke atas. Di sana ia akan terkumpul dan naik makin tinggi sebelum menggenang lagi ke timur dan barat, dan membanjiri hampir seluruh lahan kami.
Aku akhirnya menyaksikan banjir. Memang pernah ada banjir lainnya sebelum ini, tapi aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Sepanjang hidupku yang masih belia ini, aku sudah mendengar banyak kisah tentang sungai yang tak terkendali dan panen yang terbenam banjir, dan kini aku menyaksikannya sendiri, seakan-akan untuk pertama kalinya. Menakutkan sekali, karena begitu mulai, tak seorang pun tahu kapan banjir tersebut berakhir. Tak ada yang mampu menahan air; ia mengalir ke mana saja ia suka. Apakah air banjir itu akan mencapai rumah kami" Apakah Sungai St. Francis akan meluap dan membanjiri semua orang" Apakah akan turun hujan empat puluh hari empat puluh malam yang menghancurkan kami semua, seperti orang-orang yang dulu menertawakan Nuh"
Mungkin tidak. Dalam kisah itu ada sesuatu tentang pelangi, bahwa Tuhan berjanji tidak akan pernah lagi mengirimkan banjir untuk membenamkan bumi.
Kini banjir itu sudah pasti terjadi. Pelangi nyaris suatu peristiwa kudus dalam hidup kami, tapi sudah berminggu-minggu tidak pernah kami saksikan. Aku tidak mengerti, bagaimana Tuhan bisa membiarkan hal-hal seperti ini terjadi.
Siang ini Pappy sedikitnya sudah tiga kali pergi ke sungai, mengamati dan menunggu, dan mungkin berdoa
"Kapan ini mulai"" aku bertanya. "Mungkin satu jam yang lalu. Tidak tahu pasti." Aku
ingin menanyakan kapan ini akan berhenti, tapi aku sudah tahu jawabannya.
"Ini air dari hulu," kata Pappy. "St. Francis sudah terlalu penuh, tidak ada tempat lain untuk menampungnya."
Lama kami mengamatinya. Air itu melimpah maju dan mendatangi ke arah kami, naik beberapa inci lagi menggenangi ban depan. Sesudah beberapa lama, aku pun resah ingin kembali. Tapi Pappy tidak. Kekhawatiran dan ketakutannya selama ini terbukti, dan ia seperti tersihir oleh apa yang dilihatnya.
Menjelang akhir bulan Maret, ia dan ayahku mulai membajak ladang, membalik tanah, menguburkan batang-batang dan akar-akaran serta dedaunan dari sisa panen sebelumnya. Mereka semua gembira waktu itu. senang karena bekerja di luar sesudah tidur musim dingin yang panjang. Mereka mengamati cuaca dan meneliti almanak, dan mereka mulai berkumpul di sekitar Co-op untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh petani-petani lain. Mereka menanam di awal bulan Mei bila cuacanya benar. Tanggal 15 Mei adalah tenggat waktu yang tak dapat ditawar untuk menaburkan benih kapas di tanah. Sumbangan-ku dalam pekerjaan ini dimulai pada awal Juni, ketika sekolah libur dan gulma mulai bermunculan. Mereka memberiku sebuah cangkul, memberikan petunjuk ke arah yang tepat, dan berjam-jam setiap hari aku menyiangi kapas, tugas yang hampir sama berat dan membebalkan otak seperti memetik. Sepanjang musim panas, saat kapas dan gulma di sekelilingnya tumbuh, kami menyiangi. Kalau kapas mulai mekar berbunga pada tanggal 4 Juli, maka itu akan menjadi panen yang luar biasa. Menjelang akhir bulan Agustus, kami sudah siap untuk memetik. Awal September kami mulai mencari orang-orang pegunungan, dan mencoba antre untuk mendapatkan buruh Meksiko.
Dan kini. di pertengahan bulan Oktober, kami menyaksikan semuanya tersapu banjir. Semua kerja keras, curahan keringat, dan otot-otot yang sakit, semua uang yang diinvestasikan untuk benih dan pupuk dan bahan bakar, seluruh harapan dan rencana, segala-galanya kini akan hilang ke hilir Sungai St. Francis.
Kami menunggu, tapi banjir itu tidak berhenti. Bahkan setengah ban depan traktor itu mulai tertutup air ketika Pappy akhirnya menghidupkan mesin. Suasana sudah terlalu remang-remang untuk bisa melihat dengan jelas. Jalan kecil itu sudah tertutup genangan air, dan dengan kecepatan laju banjir seperti ini, kami akan kehilangan dua puluh ekar bagian bawah sebelum matahari terbit.
Belum pernah aku menyaksikan keheningan seperti itu saat makan malam. Bahkan Gran tidak dapat menemukan apa pun yang menyenangkan untuk diucapkan. Aku bermain-main dengan kacang mentega dan mencoba membayangkan apa yang dipikirkan orangtuaku. Ayahku mungkin mengkhawatirkan pinjaman usaha tani itu, utang yang kini mustahil dilunasi, (buku memikirkan langkahnya untuk meninggalkan pertanian kapas ini. Ia sama sekali tidak sekecewa tiga orang dewasa lainnya. Kegagalan panen, sesudah musim semi dan panas yang demikian menjanjikan, memberinya lebih banyak amunisi untuk membujuk ayahku.
Banjir itu menyisihkan hal-hal yang lebih berat dari pikiranku-Hank, Tally, si Koboi-dan karena alasan inilah banjir itu bukan pokok tak menyenangkan untuk dipikirkan. Namun aku tidak mengatakan apa pun.
Sekolah sebentar lagi dibuka kembali, dan ibuku memutuskan bahwa aku harus mulai belajar membaca dan menulis setiap malam. Aku sudah merindukan ruang kelas-sesuatu yang tak pernah kuakui-dan aku begitu menikmati pekerjaan rumah. Ibuku berkomentar betapa jeleknya tulisan kursifku, dan menyatakan bahwa aku perlu banyak latihan. Caraku membaca juga tidak begitu lancar.
"Mom lihat sendiri, apa akibatnya kalau memetik kapas," kataku.
Kami berdua saja di dalam kamar Ricky, saling membacakan sebelum aku tidur. "Aku punya satu rahasia," ibuku berbisik. "Bisakah kau menyimpan rahasia""
Andai saja ibuku tahu, pikirku. "Tentu."
"Janji"" "Pasti." "Kau tidak boleh menceritakannya pada siapa pun, bahkan tidak pada Pappy dan Gran." "Oke, oke, apa itu""
Ibuku mencondongkan badan lebih dekat. "Aku dan ayahmu sedang mempertimbangkan untuk pergi ke Utara."
"Bagaimana denganku""
"Kau juga ikut"
Sun gguh melegakan. "Maksud Mom. untuk bekerja seperti Jimmy Dale""
"Benar. Ayahmu sudah bicara dengan Jimmy Dale, dan dia bisa mencarikan pekerjaan untuk ayahmu di pabrik Buick di Flint, Michigan. Uangnya besar di sana. Kita tidak akan tinggal selamanya, tapi ayahmu perlu mendapatkan penghasilan tetap."
"Bagaimana dengan Pappy dan Gran""
"Oh, mereka takkan pernah meninggalkan tempat ini."
"Apa mereka akan tenis bertani""
"Kurasa begitu. Tidak tahu lagi apa yang akan mereka kerjakan."
"Bagaimana mereka bisa bertani tanpa kita""
"Mereka pasti bisa. Dengar, Luke, kita tidak bisa tetap tinggal di sini tahun demi tahun, menanggung kerugian sementara kita meminjam lebih banyak lagi. Aku dan ayahmu sudah siap mencoba sesuatu yang lain."
Perasaanku campur aduk mengenai ini. Aku ingin orangtuaku bahagia, dan ibuku takkan pernah puas di pertanian, terutama bila dipaksa untuk tinggal bersama mertua aku sudah pasti tidak ingin jadi petani, tapi memang masa depanku sudah dipastikan untuk bergabung dengan The Cardinals. Namun demikian, memikirkan akan meninggalkan satu-satunya rumah yang kukenal selama ini sungguh meresahkan. Dan aku tidak dapat membayangkan hidup tanpa Pappy dan Gran.
"Ini pasti menyenangkan, Luke," kata ibuku, suaranya masih berbisik. "Percayalah padaku."
"Kukira begitu. Nggak dingin di sana""
"Tidakkah dingin di sana"" ibuku membetulkan ucapanku. "Memang banyak salju di musim dingin, tapi kurasa itu menyenangkan. Kita akan buat boneka dan es krim salju, dan kita akan menikmati Natal bersalju."
Aku ingat cerita-cerita Jimmy Dale tentang menyaksikan The Detroit Tigers bermain, bagaimana orang-orang punya pekerjaan bagus, dan televisi serta sckolah-sckolahnya lebih baik. Lalu aku teringat istri Jimmy, Stacy yang menyebalkan dengan suara sengaunya yang melengking, dan bagaimana aku menakut-nakutinya di kakus.
"Tidakkah mereka bicara dengan aksen yang aneh di sana"" tanyaku.
"Ya, tapi kita akan terbiasa. Anggap itu suatu petualangan, Luke, dan kalau kita tidak menyukainya, kita akan pulang."
"Kita akan kembali ke sini""
"Kita akan kembali ke Arkansas, atau tempat lain di Selatan "
"Aku tidak ingin bertemu Stacy."
"Aku pun tidak. Dengar, pergilah tidur dan pikirkanlah. Ingat, ini rahasia kita."
"Ya, Ma'am." Ia menyelimutiku dan memadamkan lampu. Lebih banyak lagi berita yang harus disimpan.
Tiga Puluh Dua SEGERA sesudah Pappy menelan suap terakhir telur orak-arik itu, ia menyeka mulut dan melihat ke luar jendela di atas wastafel. Cahaya cukup terang untuk melihat apa yang ia inginkan. "Ayo kita lihat," ia berkata, dan kami semua mengikutinya keluar dari dapur, meninggalkan teras belakang, dan melintasi halaman belakang ke arah gudang. Aku terbungkus dalam sweater, mencoba mengimbangi langkah ayah ku. Rumput basah, dan sesudah beberapa langkah, basah pula sepatu botku. Kami berhenti di ladang terdekat dan menatap jajaran pohon yang gelap di kejauhan, di pinggir Sungai Siler, hampir satu mil dari sana. Di hadapan kami terhampar dua puluh ekar tanaman kapas, setengah dari lahan kami. Di sana ada pula air banjir; cuma kami tidak tahu berapa banyaknya.
Pappy mulai berjalan di antara dua deret kapas, dan tak lama kemudian kami hanya bisa melihat pundak dan topi jeraminya. Ia berhenti bila mendapati air sungai itu maju. Kalau ia berjalan lagi beberapa saat, berarti sungai itu belum menimbulkan kerusakan yang kami takutkan. Mungkin airnya menyurut, dan mungkin matahari akan muncul. Mungkin kami bisa menyelamatkan sesuatu.
Pada jarak kira-kira enam puluh kaki, jarak yang sama antara mound ke home plate, ia berhenti dan melihat ke bawah. Kami tidak dapat melihat tanah dan apa yang menutupinya, tapi kami tahu. Air sungai itu masih bergerak ke arah kami.
"Airnya sudah sampai di sini," ia berkata dari atas pundak. "Dua inci tingginya."
Ladang itu terlanda banjir lebih cepat daripada yang mereka perkirakan semula. Dan dengan bakat pesimis mereka, ini bukan prestasi kecil.
"Ini tak pernah terjadi di bulan Oktober," Gran berkata sambil menekankan tangan pada celemek.
Pappy mengamati kejadian di sekit
ar kakinya. Kami terus mengarahkan pandangan padanya. Matahari beringsut naik. tapi cuaca mendung, dan bayang-bayang pun datang dan pergi. Aku mendengar suara dan menoleh ke kanan. Para buruh Meksiko itu sudah berkumpul tanpa suara, mengawasi kami. Upacara pemakaman tak mungkin lebih muram lagi.
Kami semua ingin tahu apa yang terjadi dengan air itu. Aku sendiri sudah menyaksikannya sehari sebelumnya, tapi aku ingin melihatnya merayapi ladang kami, beringsut maju ke arah rumah kami, seperti ular raksasa yang tak dapat dihentikan. Ayahku melangkah maju dan berjalan di antara dua deret kapas. Ia berhenti di dekat Pappy dan bertolak pinggang, sama seperti ayahnya. Gran dan ibuku yang berikutnya. Aku mengikuti, dan tak jauh dari kami. orang-orang Meksiko itu bergabung dengan kami mengamati ladang itu, mencari air banjir. Kami berhenti dalam satu deretan yang rapi, semua memandangi luapan air cokelat pekat dari Sungai Siler.
Aku mematahkan sebatang ranting dan menancap-kannya ke tanah, di tepi air yang terus maju. Dalam satu menit, ranting itu sudah terkurung oleh arus.
Kami mundur perlahan-lahan. Ayahku dan Pappy berbicara dengan Miguel dan para buruh Meksiko itu. Mereka sudah siap pergi, kembali ke rumah atau ke pertanian lain yang kapasnya masih bisa dipetik. Siapa bisa menyalahkan mereka" Aku tetap di sana, sekadar cukup dekat untuk mendengarkan. Diputuskan bahwa Pappy akan pergi bersama mereka ke dua puluh ekar lahan yang terletak sedikit lebih tinggi, dan di sana mereka akan mencoba memetik. Kapas itu basah, tapi bila matahari merekah, mungkin mereka masing-masing bisa memperoleh seratus pon.
Ayahku akan pergi ke kota, untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, dan memeriksa keadaan di Co-op, apakah ada pertanian lain yang mungkin bisa mempekerjakan buruh Meksiko kami. Di bagian tenggara county ada lahan yang jauh lebih baik, ladang-ladang yang lebih tinggi dan jauh dari sungai-sungai kecil dan St. Francis. Dan ada kabar angin bahwa di daerah dekat Monette hujan tidak turun sebanyak di tempat kami, di ujung selatan county.
Aku ada di dapur bersama para wanita, ketika ayahku menyampaikan rencana baru untuk hari ini.
"Kapas itu basah sekali," Gran berkata tak setuju "Mereka takkan mampu memetik sampai lima puluh pon. Itu buang-buang waktu saja."
Pappy masih ada di luar, dan tidak mendengar komentar ini. Ayahku mendengarnya, tapi ia tidak berselera untuk berdebat dengan ibunya. "Kita akan coba dan memindahkan mereka ke pertanian lain," katanya.
"Boleh aku ikut ke kota"" aku bertanya pada dua orangtuaku. Aku sangat ingin pergi, sebab kemungkinan pilihan lainnya adalah pergi ke lahan yang lebih tinggi bersama orang-orang Meksiko itu, di mana aku diharapkan menyeret karung panen di antara lumpur dan air, sambil mencoba memetik kuntum-kuntum kapas yang basah.
Ibuku tersenyum dan berkata, "Ya, kita butuh cat."
Gran kembali melontarkan pandangan tak setuju. Mengapa menghamburkan uang yang tidak kami punyai untuk membeli cat, saat kami terancam kehilangan panen" Akan tetapi, rumah itu dalam keadaan setengah-setengah-kontras yang mencolok antara warna putih baru dan cokelat pucat yang lama. Proyek itu harus dituntaskan.
Bahkan ayahku pun tampak resah dengan gagasan untuk mengeluarkan uang lagi, tapi ia toh berkata padaku, "Kau boleh ikut."
"Aku akan tinggal di rumah," kata ibuku. "Kita perlu mengolah okra."
Satu perjalanan lagi ke kota. Aku senang sekali. Tak ada tekanan untuk memetik kapas, tak ada apa pun yang harus dikerjakan kecuali duduk di mobil, menyusuri jalan raya dan melamunkan cara mendapatkan permen atau es krim begitu aku tiba di Black Oak. Tapi aku harus hati-hati, sebab aku satu-satunya keluarga Chandler yang gembira.
Sungai St. Francis sepertinya siap meluap ketika kami berhenti di jembatan. "Dad, apa ini cukup aman"" tanyaku pada ayahku.
"Kuharap begitu." Ia memindahkan persneling ke gigi satu, dan kami merayap menyeberangi sungai, sama-sama terlalu takut untuk melihat ke bawah. Dengan beban dari truk kami dan dorongan arus sungai, jembatan itu berguncang-guncang ketika kami sampai
di tengah. Kecepatan ditambah, dan tak lama kemudian sampailah kami di sisi seberang. Kami berdua mengembuskan napas lega.
Kehilangan jembatan itu berarti suatu bencana Kami akan terisolasi. Air akan meluap naik mengepung rumah kami, dan kami tidak akan bisa pergi ke mana pun. Keluarga Latcher sekalipun akan lebih beruntung. Mereka tinggal di seberang jembatan, pada sisi yang sama dengan Black Oak dan peradaban.
Kami melihat lahan keluarga Latcher saat melewatinya. "Rumah mereka kebanjiran," ayahku berkata, meskipun kami tidak bisa melihat sejauh itu. Panen mereka jelas sudah musnah.
Mendekati kota, terlihat beberapa orang Meksiko di tengah ladang, meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Kami parkir di Co-op dan masuk ke dalam. Beberapa petani berwajah muram sedang duduk di belakang, meneguk kopi dan bercakap-cakap tentang masalah mereka. Ayahku memberi sepuluh sen untuk aku membeli Coca-Cola. lalu ia bergabung dengan petani-petani itu.
"Kalian memetik di sana"" salah seorang petani menanyainya.
"Mungkin sedikit."
"Bagaimana sungai kecil itu""
"Meluap ke mana-mana tadi malam. Airnya bergerak lebih dari setengah mil sebelum matahari terbit. Dua puluh ekar bagian bawah sudah rusak."
Mereka terdiam beberapa lama, merenungkan kabar menyedihkan ini. masing-masing menatap lantai dan merasa kasihan terhadap kami, keluarga Chandler. Aku jadi semakin benci bertani.
"Kurasa sungai besar tidak akan meluap," seorang laki-laki lain berkata.
"Tidak akan sampai ke tempatmu," kata ayahku. "Tapi tidak akan lama lagi."
Mereka semua mengangguk dan tampak menyetujui prakiraan ini. "Ada lainnya yang kebanjiran"" ayahku bertanya.
"Kudengar keluarga Triplett kehilangan sepuluh ekar terkena luapan Deer Creek, tapi aku tidak menyaksikannya sendiri," kata salah satu petani.
"Semua sungai kecil itu meluap," kata lainnya. "Menambahkan beban lebih besar pada St. Francis."
Sekali lagi suasana hening ketika mereka membayangkan sungai-sungai kecil itu dan bebannya.
"Ada yang butuh pekerja Meksiko"" ayahku akhirnya bertanya. "Aku punya sembilan orang yang menganggur. Mereka sudah siap pulang."
"Ada kabar dari yang nomor sepuluh""
"Tidak. Dia sudah lama pergi, dan kita tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan nasibnya."
"Riggs kenal beberapa petani di utara Blytheville yang mau menerima pekerja Meksiko."
"Di mana Riggs"" tanya ayahku.
"Dia akan segera kembali."
Orang-orang pegunungan pergi dengan bergelombang, dan perbincangan pun berputar sekitar mereka dan orang-orang Meksiko. Eksodus tenaga kerja adalah bukti lebih lanjut bahwa panen sudah berakhir. Suasana muram di belakang Co-op berkembang makin muram, maka aku pergi untuk menengok Pearl, dan mungkin membujuknya untuk mendapatkan Tootsie Roll.
Toko Pop dan Pearl tutup, untuk pertama kalinya bagiku. Sebuah papan kecil mencantumkan jam bukanya, antara pukul sembilan sampai enam. Senin sampai Jumat, dan pukul sembilan sampai pukul sembilan pada hari Sabtu. Tutup pada hari Minggu, tapi itu tak perlu disebutkan. Mr. Sparky Dillon, montir di bengkel Texaco, mendatangi di belakangku dan berkata, "Belum buka sampai pukul sembilan. Nak."
"Pukul berapa sekarang"" tanyaku.
"Delapan lewat dua puluh." Belum pernah aku datang ke Black Oak sepagi itu. Aku memandangi Main Street dari ujung ke ujung, tak tahu pasti di mana aku harus berbelanja sekarang. Kuputuskan pergi ke toko obat, dengan mesin soda di belakangnya, dan aku sedang berjalan ke sana ketika kudengar suara kendaraan lewat. Dua truk sedang mendatangi dari selatan, dari arah pertanian kami. Mereka jelas orang-orang pegunungan, pulang ke rumah, dengan harta benda mereka ditumpuk tinggi dan diikat pada rangka truk. Keluarga di dalam truk pertama bisa saja disangka keluarga Spruill, dengan anak-anak tanggung berjongkok di atas kasur usang dan menatap sedih ke toko-toko itu saat mereka lewat. Truk kedua jauh lebih bagus dan bersih. Truk itu pun dibebani dengan kotak-kotak kayu dan kantong-kantong guni, tapi diatur rapi. Sang suami mengemudi, dan sang istri duduk di jok penumpang. Dari pangkuan perempuan itu, seorang anak kecil melamb
Dendam Jago Kembar 1 Suro Bodong 05 Pertarungan Bukit Asmara Renjana Pendekar 10
^