Pencarian

Pendekar Lengan Buntung 2

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw Bagian 2


yang jauh sekali ke kota. Tempatnya terasing. Dusun ini berkepala keluarga ada
sekitar limapuluh kepala keluarga. Dusun yang sederhana dan sangat miskin.
Keluarga Tiang Le adalah keluarga miskin. Ayahnya Sung Tek Han meninggal
dunia akibat serangan penyakit jantung. Ia anak tunggal dari keluarga Sung. Dan
sebagai anak keluarga yang miskin, Tiang Le sejak kecil mulai membantu ibunya
menangkap ikan. Senang sekali ia bermain di sungai yang banyak ikannya itu.
Sungai yang memberi mata pencaharian kepada limapuluh kepala keluarga. Dan
ikan yang didapatnya diasinkan dikirim ke kota. Begitu kehidupan orang-orang di
dusun Ting-li-bun ini. Tentu saja untuk melancarkan hubungan dagang dari Ting-ling-bun ke kota
Tiang An yang cukup jauh itu, banyak orang-orang dusun yang tidak sanggup
berjalan sejauh itu, maka datanglah tengkulak-tengkulak ikan, membeli ikan asin di
dusun ini dengan harga murah dan dijualnya ke kota dengan keuntungan berlipat
ganda. Tahu bahwa di dusun ini merupakan sumber penghasilan ikan yang cukup
banyak maka muncullah tengkulak yang bernama Sie Tek Pek. Orang tua she Sie
itu lantas mendirikan rumah di dusun itu dan berkat anak buahnya yang pandai
ilmu silat sebagai tukang pukul, maka orang tua she Sie memonopoli daerah itu.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 57
yoza collection Setiap nelayan tak boleh menjual ikannya ke daerah lain atau tengkulak lain, seluruh
hasil pengasinan itu harus dijual kepada tengkulak she Sie itu.
Maka sejak itu terjadilah penekanan-penekanan terhadap orang-orang dusun,
pembelian pengasinan ikan tidak memadai untuk kehidupan orang-orang di dusun,
karenanya diam-diam banyak orang-orang dusun itu menaruh hati tak senang
kepada keluarga she Sie itu, tetapi apa daya"
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Tukang-tukang pukul yang disewa oleh orang she Sie itu merajalela. Membeli
ikan semaunya, dan tidak sebanding dengan harga ikan-ikan itu.
Pada suatu hari, datanglah musim kemarau yang panjang. Sungai Sin-kiang
menjadi kering. Dan air sungai itu membawa bibit penyakit kolera, tipus dan disentri.
Banyak orang dusun yang telah meninggal dunia terserang penyakit yang semakin
mengganas ini. Termasuk juga ibu Tiang Le yang sudah tua itu. Tak tertahan lagi
ibu itu, sehari cuma dan keesokan harinya tak kuat lagi ibu Tiang Le menanggung
sakit pada perutnya dan meninggallah orang tua itu.
Betapa sedihnya hati Tiang Le.
Tak ada lagi kesedihan yang paling memilukan apabila seorang anak
ditinggalkan ibunya. Ditinggalkan untuk selama-lamanya. Tak tahan Tiang Le akan
musibah yang menimpa keluarganya. Orang satu-satunya yang kini masih
merupakan tumpuhan kasih sayangnya juga harus menyerahkan kepada maut
yang menjemput. Tiang Le pingsan di samping ibunya yang membujur kaku.
Sementara para orang-orang dusun mulai berdatangan. Dan ikut berduka cita
atas kematian ibu Tiang Le. Hari itu, semua orang-orang dusun tidak menangkap
ikan. Bukan saja sungai menjadi kering dan ikan-ikan pada mati di sana, melainkan
juga mereka ini bersama-sama secara gotong royong pergi mengurus pemakaman
ibu Tiang Le. Tengah hari itu, udara cerah sekali.
Orang-orang dusun mengantarkan pemakaman ibu Tiang Le ke pekuburan.
Tiang Le dengan menangis sedih mengiringi peti mati ibunya yang diusung oleh
para tetangga. Berkaca-kaca mata anak muda itu melihat orang-orang yang
mengantar. Hatinya penuh syukur dan terima kasih atas kerukunan orang-orang
dusun itu. Meskipun mereka semua itu orang-orang bodoh tetapi di hati mereka itu
tersembunyi rasa kasih di antara sama sendiri.
belum lagi aku membalas budi baikmu yang telah merawatku sampai besar.. . . kau
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 58
yoza collection . Sementara matanya berkaca-kaca, jalannya
tertunduk. yang sudah ya sudah.. . . ibumu sudah pergi ke tempat yang tenang dan tiada
kesusahan. Ia sudah senang sekarang.. . . tinggal kita yang masih hidup, nggak tahu
bagaimana nasib kita.. . Tiang Le, makanya kalau seorang anak mau berbakti kepada
orang tua, sebaiknya engkau berbaktilah selama waktu orang tuamu itu masih
hidup. Senangkanlah hatimu.. . hiburkanlah.. . sekarang kalau sudah tiada lagi
Bertambah deras air mata Tiang Le mengucur.
erbakti bukan saja kepada orang
tua, selama manusia hidup, banyak kesempatan untuk berbakti. Berbakti kepada
orang tua berbakti kepada negara.. . . berbakti kepada sesama hidup.. . . kepada
saudara-saudara.. . . Tiang Le kalau kau mau berbakti, banyak sekali kesempatan itu,
tentu kalau kau menjadi anak baik, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat
dan bangsa, ibumu di surga akan senang sekali melihatmu. Tak kecewa ia
pipanya dalam-dalam, asap rokok bergulung-gulung memutih di udara.
Dengan amat sederhana sekali. Selesailah sudah pemakaman ibu Tiang Le.
Akan tetapi baru saja semua orang itu menyoja memberikan penghormatan terahir
kepada mendiang ibu itu, Tiba-tiba terdengar suara tertawa keras.
malah ke tempat ini bersenang-senang dengan mayat. Apa kalian mencari
Pucatlah orang-orang dusun ini mendengar suara itu. Belum lagi hilang
herannya, tahu-tahu dari atas pohon itu meluncur sesosok tubuh dan berdiri di atas
batu nisan sambil bertolak pinggang. Itulah dia, tukang pukul Sie Tek Peng yang
berjuluk si Cambuk Maut Oey Goan.
berkurang enggak tahunya kalian bermalasGoan melecutkan cambuk hitamnya dan suara menggeletar memecut-memecut di
udara. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 59
yoza collection memakamkan tetangga kami yang meninggal akibat terserang penyakit.. . . .
berkata sambil memohon-mohon.
Pucat wajah Tiang Le melihat kepala kampungnya sudah putus nyawanya
disambar tamparan pecut di tangan tukang pukul itu. Dengan sekali enjot tubuhnya
Tiang Le meloncat maju dan menyerang Si Cambuk Sakti Oey Goan sambil
membentak keras. Le menjotoskan tangan kanannya ke arah perut tukang pukul itu.
Melihat betapa yang menyerangnya adalah seorang pemuda kurus dan
berwajah pucat seperti orang berpenyakitan, dengan tertawa mengejek si cambuk
sakti Oey Goan memutarkan cambuknya dan karuan saja ke dua tangan Tiang Le
telah dapat dililit oleh cambuk itu. Bertambah panas hati Tiang Le. Ia melompat
maju dan menendang. Namun bukan si cambuk sakti yang berteriak kesakitan malahan Tiang Le sendiri
yang meringis merasakan kaki kanannya menjadi sakit sekali.
pinggang. Tentu saja mana Tiang Le sudi berlutut di depan orang ini. Bukan dia berlutut
malah sebaliknya, matanya melotot memandang Oey Goan dan makinya:
Tiang Le meronta-ronta dan mengobat-abitkan cambuk yang masih membelit
ke dua tangannya. Akan tetapi begitu cambuk ditarik oleh Oey Goan, tubuh Tiang Le
terhuyung-huyung dan melayang jatuh. Jidatnya berdarah terhantam batu. Ke dua
dengkulnya lecet bekas terseret cambuk yang ditarik Oey Goan.
Dua orang dusun itu maju ke dekat Si Cambuk sakti Oey Goan dan berlutut,
Oey Goan menoleh, Pendekar Lengan Buntung - Halaman 60
yoza collection dia mau berlutut tujuh kali
Sekali sentak tubuh Tiang Le melayang lagi dan kali ini tubuhnya menghantam
batu nisan. Darah merah mengucur dari ke dua lobang hidung Tiang Le.
Tiang Le mendelik menatap Oey Goan.
naik membawa tubuh Tiang Le. Berputar-putar di udara, mengombang ambingkan
tubuh Tiang Le yang berputar seperti kitiran. Hebat si Cambuk Sakti Oey Goan ini.
Dengan memutar-mutar cambuk di tangannya tubuh Tiang Le berputaran di udara
dan sekali si Cambuk Sakti menghentakan ujung cambuknya, tubuh Tiang Le
melayang tinggi. Terdengar jeritan dari orang-orang dusun melihat pemandangan yang
mengerikan ini. Terbelalak ngeri mata mereka melihat tubuh Tiang Le yang masih
melayang tinggi itu. Tepat di bawahnya sebuah batu nisan pekuburan siap
menyambut tubuh anak muda itu. Akan hancurlah tubuh itu!
udara. Demikianlah tubuhnya dipermainkan oleh si Cambuk Sakti Oey Goan sambil
tertawa-tawa seperti kanak-kanak yang kegirangan bermain layang-layang.
Pusing kepala Tiang Le dipermainkan seperti ini.
Akan tetapi ia masih dapat memaki.
k Sakti Oey Goan mempercepat putaran cambuknya.
Tiang Le berteriak-teriak, sementara kepalanya semakin pusing. Tiba-tiba
dirasakannya cambuk Oey Goan terlepas dan tubuhnya meluncur ke bawah. Saking
ngerinya Tiang Le memejamkan matanya. Matilah aku!!!
Aiiiiii Tiang Le!! Orang-orang dusun memburu.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 61
yoza collection Sesosok tubuh dengan gesit sekali berkelebat dan mencelat tinggi, tahu-tahu
tubuhnya Tiang Le telah ditangkap oleh sebuah tangan yang amat kuat.
menusuk hati dan tahu-tahu di depan si cambuk sakti Oey Goan telah berdiri
seorang kakek yang memegang tongkat di tangan. Sedangkan tubuhnya Tiang Le
sudah dilepaskan oleh tangan kanan kakek yang telah menolongnya itu.
demikian ringan dan telah dapat menyambar tubuh pemuda itu menjadi hati-hati
sekali. Dan ia terkejut apabila pandangan matanya terbentur oleh tatapan sinar
mata si kakek yang tajam menusuk.
siang engkau telah dijiwir oleh karena watakmu yang jahat itu. Sembarangan saja
melecut-lecut di udara. kakek itu tenang. Terkejut juga hati si Cambuk Sakti Oey Goan,
wie It Tianglo dari Tiang-pek-
dengan Lie Cu Seng, murid Bong Bong
menerjang maju dengan sabetan cambuk yang seperti ular hitam hcndak membelit
tubuh Swie It Tianglo. ianglo ketika orang itu dapat terkelit ke kiri dengan amat mudahnya. Panas sekali hati Oey Goan
melihat samberan pecutnya luput dan dengan memekik-mekik ia menerjang lagi.
Hebat sekali terjangan cambuk itu. Akan tetapi anehnya, tiada pernah cambuk itu
menyentuh tubuh Swie It Tianglo seakan-akan cambuk hitam itu menghantam
bayangan-bayangan saja. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 62
yoza collection -ragu" Pukulan cambukmu itu, pukulan yang
keras, biar tubuh tuaku ini menerima satu atau dua gebukan darimu.. . . memang
pinggangku ini sedang rematik kepingin digebukin.. . . rasanya.. . enak sekali kalau
cambukmu itu memijitTianglo mengejek sambil berloncatan lincah menghindarkan sambaran cambuk itu.
penasaran merasa melawan bayangan sendiri saja. Malu ia, masakan cambuknya
yang terkenal dengan sebutan cambuk sakti itu sekarang tidak dapat menyentuh
tubuh si kakek. Benar-benar memalukan.
a! Benar juga Oey Goan aku sedang sakit pinggang, nah, pukullah kuat-
kakek. Melilit kuat. Dan seakan-akan melekat di pinggang si kakek, cambuk itu tak
dapat dilepaskan lagi. Oey Goan membetot dengan kuat.
-tarik begitu nanti Dengan kedua tangannya ia membetot kuat-kuat.
utus ditengah-tengah saking kuatnya ditarik oleh si
Cambuk Sakti. Dan akibatnya tubuh Oey Goan terpental lima meter bergulingan.
Saking kerasnya ia terjengkang ke belakang, kepalanya membentur batu nisan
sehingga di kepala itu tumbuh sebuah benjol sebesar telur bebek.
Oey Goan terhuyung-huyung. Meraba kepalanya yang benjol itu.
-lo-ong, mana berhak kau mencabut nyawaku. Hatihati Oey Goan jangan-jangan Giam-lo-ong mendengar perkataanmu dan engkau
menyambar tubuh Swie It Tianglo. Nampak jubah orang tua itu berderai-derai dan
begitu si kakek mengangkat tangannya ke depan, tak ampun lagi untuk yang kedua
kalinya tubuh Si Cambuk Sakti terjengkang. Kali ini amat keras tubuh itu tertumbuk
batu nisan sehingga terdengar suara bergedebuk dan batu nisan itu semplak
tertimpa tubuh Oey Goan yang meringis-ringis karena tulang belakangnya patah.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 63
yoza collection awas sekali lagi aku bertemu denganmu, jangan berkata aku berlaku kejam. Nah
tongkat butut Swie It Tianglo mencukil ke depan dan tahu-tahu
tubuh Oey Goan terlempar jauh.
Akan tetapi si Cambuk Sakti telah berdiri. Memegangi tulang pinggangnya yang
remuk. lenyap dari tempat itu. Tiang Le menghampiri kakek sakti itu dan menjatuhkan diri berlutut.
Swie It Tianglo. Orang-orang dusun yang tadi melihat kelihayan si kakek sakti, berlutut pula. Dan
seorang di antaranya berkata:
-wenang dari tengkulak Sie Tek Peng. Kalau lopek tak keberatan tolonglah kau damaikan
kami dengan orang she Sie supaya ia dapat memaklumi kami. Sungai-sungai pada
kering dan ikan-ikan banyak yang mati, penghasilan kami sangat terbatas sekali
kalau orang tua she Sie itu mau berdamai dengan kami . . . sen
manusia she Sie itu. Kalian pulanglah kembali ke tempatmu masing-masing, eh.. . .,
ak mempunyai sanak famili. Ibu
saya baru saja meninggal dunia. Locianpwe.. . ., kalau.. . kalau tidak keberatan biarlah
Tak baik kau ikut denganku sekarang. Bukankah kau masih berkabung kematian
ibumu" Nah, kau kembalilah pulang ke rumah. Besok kalau kebetulan aku singgah
It Tianglo. Diam-diam matanya melirik, dan alangkah girangnya ketika matanya itu
dapat melihat tulang yang baik dan berbakat dari anak muda itu untuk belajar silat.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 64
yoza collection i menggerakkan tubuhnya tahu-tahu Tiang Le dan orang-orang dusun kehilangan kakek yang tadi
masih berdiri. menghilang sepert Ramailah orang dusun membicarakan tentang kakek sakti yang telah menolong
Tiang Le dari permainan maut Oey Goan dan mengusirnya.
Benar saja sejak kemunculan kakek sakti itu tidak ada lagi tukang-tukang pukul
dari Sie Tek Peng yang berkeliaran di dusun-dusun. Tak ada tengkulak-tengkulak
yang memaksa penduduk untuk menyerahkan hasil penangkapan ikan penduduk.
Tidak ada bentakan-bentakan dari tukang pukul.
Akan tetapi mara bahaya tetap saja mengancam penduduk dusun Ting-lingbun itu. Bahaya kelaparan merajalela di sana sini. Ikan-ikan sungai pada mati akibat
air sungai yang mengandung racun dan kering akibat musim kemarau yang begitu
panjang tahun ini. Sumur-sumur dan telaga kering. Dan akibatnya sawah-sawah
menjadi tandus dan gersang. Bahan gandum sedikit sekali dan itu siang-siang telah
didrop oleh orang-orang berduit.
Penduduk dusun mengharapkan hujan.
Dan hujan tak kunjung datang
Dan kemarau semakin panjang.. . .
Akibatnya bahaya kelaparan terjadi di dusun ini!
-teriakan anak-anak kecil sungguh menyayat-nyayat
hati, mengiris-iris jantung si ibu yang tak dapat lagi memberikan makan kepada
anaknya. Di mana-mana terancam bahaya kelaparan. Bersamaan dengan itu berbagai
penyakit bermunculan menyerang penduduk. Satu persatu nyawa-nyawa manusia
meninggalkan tubuhnya. Di mana-mana terdengar ratap tangis dari orang-orang
yang ditinggal mati. Si mati membujur tenang. Si hidup menangis ditinggal si mati. Mengeluh panjang pendek akan kehidupan
yang menyengsarakan badan. Badan yang semakin hari tinggal kulit berbalut
tulang. Badan yang sudah mulai kurus kering.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 65
yoza collection Seorang pemuda berjalan lunglai. Perutnya terasa perih bukan main. Matanya
berkaca-kaca basah melihat pemandangan yang mengenaskan hatinya. Mendengar
ratapan si kecil yang ditinggal mati ibu, ratapan-ratapan yang menangisi perut yang
minta diisi. Tang Le termenung sendirian.
Jauh terbentang di depannya sawah-sawah yang tandus dan kering tak
mengeluarkan gandum. Sungai Sin-kiang tak mengeluarkan air lagi. Pepohonan tak
lagi mengeluarkan kuncup, dedaunan itu sudah patas diambil orang untuk dimakan.
Tidak ada lagi yang menghijau di sana. Segalanya serba tandus dan gersang.
Tiang Le berjalan perlahan.


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seorang anak kecil menghampiri sebuah rumah gedung di depan sebelah sana.
Suara anjing menggonggong panjang menyalak-nyalak menyambut si anak kecil
itu di halaman rumah. Si anak kecil yang kurus kering itu menangis. Ketakutan digigit anjing
Sementara, mulutnya meratap.
Menangislah anak itu. Tiang Le menghampiri anak itu.
Tiang Le terhenyak mendengar ratapan anak kecil itu. Ia juga tengah kelaparan
saat itu, bagaimana ia dapat menolong anak ini?""
Tiang Le kebingungan. Tiba-tiba pintu rumah gedung itu terbuka, seorang gadis remaja mendatangi,
nak kecil itu sambil menghampiri gadis itu.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 66
yoza collection Anak kecil itu mengangguk.
Tiang Le menghampiri gadis itu.
Gadis itu menoleh dan tanyanya:
Gadis itu tersenyum. berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Tiang Le menarik napas lega menghampiri anak kecil itu.
Jilid 3 AU kata Tiang Le sambil cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Bayangan-bayangan wajah gadis yang manis tadi melekat di pelupuk
matanya. Wajah seorang dara remaja yang dia kenal benar, gadis tadi tentulah
puterinya Sie Tek Peng, kalau tidak salah gadis itu bernama Sie Biauw Eng.
Terhuyungkakinya melangkah saking lemasnya menahan lapar. Kepalanya terasa pening,
berdenyut-denyut. Tak terasa lagi tubuhnya terguling dan ia roboh di pinggir jalan itu. Pingsan. Dan
apabila ia sudah pingsan seperti itu tak ingat lagi ia akan perutnya yang melilit-lilit
minta diisi. Tak ingat lagi akan kesengsaraan hidup ini.
Tak tahu apa-apa lagi. Dan pada saat yang tepat itulah datang Swie It Tianglo yang menolong Tiang
Le dari bahaya kelaparan yang mengancam jiwanya. Dan dibawanya ia ke puncak
Tiang-pek-san. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 67
yoza collection Dan di sanalah Tiang Le bertemu dengan Sian Hwa, Bwe Hwa, Liok Kong In,
Song Cie Lay dan orang-orang tua murid-murid Tiang-pek-pay. Dan di sana itu
pulalah ia kehilangan lengan kanannya!
Kini ia menjadi seorang pemuda lengan buntung!
Pemuda yang tidak mempunyai daya!
ooOOoo Setelah Tiang Le berjiarah ke kuburan ibunya di dusun Tiang-lin-bun dan
membersihkan kuburan itu dari rumput dan lalang-lalang yang liar karena tidak
terurus! Maka ia pun mengembara meluaskan pengalaman.
Ia tidak mempunyai tujuan hendak pergi ke mana, karena iapun sudah tak
mempunyai handai tolan dan tak sanak famili dan tak berkawan. Kembali ia ingat
akan gadis yang bernama Cia Pei Pei yang baru saja ditinggalkan tadi pagi, ia
menarik napas panjang. Kasihan gadis manis itu, hidup sendiri pula di dusun yang
terpencil itu. Tiada lagi sanak familinya. Lupa ia untuk menanyakan riwayat gadis
itu! Gadis itu adalah penolongnya.
Cia Pei Pei. Tiang Le menghela napas dan berlari cepat. Pikirannya penuh dengan
peristiwa-peristiwa yang terjadi beruntun sejak ia turun gunung Tiang-pek-san
beberapa hari yang lalu. Cinta segi tiga di antara suheng dan sumoaynya, sehingga
membuat lengan kanannya buntung sebatas pundak. Ia tidak marah pada
sumoaynya yang pertama yang bernama Bwe Hwa itu. Ia tahu betul, perbuatannya
bersama Sian Hwa di dalam pondok ketika hujan-hujan itu tentu saja membuat Bwe
Hwa membenci dirinya setengah mati.
Sayangnya perbuatan sumoaynya itu melumpuhkan segala kepandaiannya
bermain pedang. Tak bisa dia memainkan pedang dengan tangan kiri. Dan latihanlatihannya hampir empat tahun di puncak Tiang-pek-san itu ternyata sia-sia belaka.
Setelah lengan kanannya buntung mana bisa Tiang Le dapat menarik pedang
lagi" Namun demikian semangatnya untuk mencari musuh-musuh besar itu tidak
lumpuh. Ia bersedia untuk ini mempertaruhkan nyawanya. Matipun tidak mengapa,
asalkan dendam yang membawa penasaran itu dapat dibalas. Asalkan Tiang-pekpay berdiri kembali. Akan tetapi di hati kecilnya, apakah ia dapat mengalahkan Bong
Bong Sianjin, Sianli Ku-koay dan Te-thian Lomo itu, apalagi sekarang setelah
lengannya buntung, apalagi kebisaannya"
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 68
yoza collection Setelah bertemu dengan musuhnya itu, barangkali ia akan mengantarkan
nyawa dengan sia-sia saja! Meskipun demikian ia tidak berkecil hati. Hasratnya
untuk mencari pembunuh-pembunuh guru-gurunya masih menyala-nyala di
hatinya. Tiga nama itu, Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay dan Te-thian Lomo selalu
diingatnya dan mulailah di dalam perantauannya itu ia mulai bertanya-tanya
tentang tiga orang ini. Berhari-hari ia mengembara tak tentu arah tujuan. Kalau berhenti di sebuah
kota yang dianggapnya indah, ia tinggal di sana beberapa hari sambil bertanyatanya tentang tiga orang pembunuh gurunya, lalu melanjutkan pula perjalanannya.
Uangnya masih ada, karena waktu di puncak Tiang-pek-san itu suhunya sering
memberikan ia uang dan ini dikumpulkannya sehingga cukup banyak sudah. Tapi
soal uang ia tidak kuatir karena kalau sampai kehabisan ia dapat pinjam dari
simpanan seorang hartawan.
kalian turun dari puncak ini amalkanlah pelajaran-pelajaran yang kuajarkan
kepadamu untuk kebenaran dan keadilan. Setelah kalian tamat belajar, merantaulah
kalian untuk mencari pengalaman dan memperluas pergaulan dengan orang-orang
gagah di dunia kang-ouw ini. Dan di dalam perantauan itu jikalau engkau sudah
terpaksa sekali kehabisan uang boleh kalian ambil secukupnya dari seorang
hartawan. Tapi awas jangan mengorbankan jiwa orang pula, sebelumnya harus
diselidiki dahulu keadaan hartawan orang itu. Kalau ia orang baik dan dermawan,
jangan diganggu, muridku, ingat ini untuk menjaga nama gurumu dan nama kita.
Pada suatu hari sampailah Tiang Le di kota Tiang An.
Kota itu cukup besar dan rumah-rumah penginapan dan rumah makan banyak
sekali terdapat di situ. Orang-orang yang berdagang di kaki lima hingar bingar
dengan segala kesibukan orang-orang yang hilir mudik berbelanja. Teriakan orangorang yang menjajahkan makan dan barang dagangannya terdengar
membisingkan telinga dan hiruk pikuk keadaan di dalam kota Tiang An yang ramai
ini. Tiang Le berjalan sambil memandangi etalase-etalase toko yang penuh dengan
hiasan barang dagangan yang mewah dan indah sekali. Tertarik sekali hatinya
melihat barang-barang yang mewah itu. Memang keadaan di kota ini jauh sekali
dengan di dusun dan di pegunungan.
Di dusun-dusun mana terdapat sutera halus dari Tibet dan hiasan-hiasan
dinding yang terukir bagus dan halus itu. Tentu saja suasana di dusun jauh sekali
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 69
yoza collection berbeda dengan di kota. Sekecil-kecilnya sebuah kota masih lebih maju kebudayaan
dan segalanya dari di dusun atau pegunungan.
Tiang Le berjalan amat perlahan. Lengan yang kanan sering kali merupakan
pusat perhatian orang-orang yang secara kebetulan memandangnya. Ada yang
menarik napas kasihan melihat seorang pemuda yang buntung lengannya itu, ada
pula yang tertawa sinis atau senyum mengejek kepada orang muda yang
dianggapnya seorang pengemis muda. Akan tetapi melihat kesinisan dari orangorang kota ini, Tiang Le tidak ambil peduli. Ia tidak menjadi marah atau rendah diri.
Ia tetap berjalan tenang-tenang di jalan yang itu. Tiba-tiba telinganya yang
sudah terlatih itu mendengar suara derap kaki kuda di belakangnya dengan amat
cepat sekali. Bersamaan dengan itu terdengar jeritan-jeritan teriakan dari orangorang yang berusaha memberi jalan kepada penunggang kuda yang membalapkan
kudanya dengan amat cepat.
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita tua memburu anak kecil di tengah
jalan itu. Suara kaki kuda berderap meageluarkan debu yang mengepul ke atas. Semakin
dekat dengan anak kecil di tengah jalan itu, Tiang Le terkejut bukan main dan sekali
mengenjotkan tubuhnya tahu-tahu ia sudah melayang dan menyambar anak kecil
itu dan berkelebat lenyap. Bersamaan dengan gerakan Tiang Le itu, seekor kuda
berlari dengan amat kencangnya. Kalau Tiang Le tidak cepat bertindak tentu anak
itu akan hancur diinjak kuda yang tengah membalap itu.
Orang-orang yang melihat pemandangan yang menegangkan itu menarik
napas lega setelah mengetahui anak kecil tadi sudah selamat ditolong oleh tangan
orang muda yang berpakaian amat sederhana dan berlengan buntung.
Seorang ibu menghampiri anak kecil itu.
Ibu anak itu menoleh ke arah Tiang Le dan menjatuhkan dirinya berlutut. Karuan
saja Tiang Le menyambar membangunkan ibu itu.
Orang muda yang gagah, aku yang tua mengucapkan banyak terima kasih
sahut ibu itu sambil menjura kepada Tiang Le.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 70
yoza collection Tiang Le tersenyum dan dengan tangan kirinya dia sudah menggendong anak
perempuan yang berusia tiga tahun itu, kemudian diserahkannya A Yin kepada
ibunya. -nio, anakmu tidak apa-apa.. . . lain kali jangan membiarkan anak kecil
bermain di menggendong A Yin. -main anya yang jeli itu memandang pemuda buntung yang telah menolongnya.
Ibu itu tertawa Le. Akan tetapi Tiang Le menggeleng-gelengkan kepalanya.
A Yin merosot dari gendongan ibunya. Dan menarik-narik tangan kiri Tiang Le
Paman mau ya ke rumah, nanti A Lin kenalin sama papa dan ngkong, ngkong A Yin
Tiang Le tersenyum dan mengelusi kepala anak perempuan itu.
Girang sekali A Yin menerima gula-gula coklat itu. Lupa ia untuk mengajak paman
buntung ke rumahnya. Sekilas Tiang Le melirik ke arah anak perempuan yang tengah asyik menggigit
coklat yang barusan diberinya. Dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu ibu
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 71
yoza collection itu dan orang yang berkerumun di situ telah kehilangan pemuda buntung yang bisa
menghilang dan terbang secara tiba-tiba.
Dan tahu-tahu Tiang Le telah berada jauh dengan tempat kejadian tadi. Ia
sekarang memasuki rumah makan penginapan. Hotel Jin-pin yang terkenal itu
memang paling terkenal dengan kebersihan dan pelayanannya yang memuaskan.
Ke situlah Tiang Le bermalam.
Akan tetapi begitu Tiang Le memasuki ruangan tengah, ia melihat di dalam
ruangan tengah itu duduk belasan orang mengelilingi sebuah meja yang cukup
besar. Waktu melihat pemuda buntung itu lewat, mereka diam tak bersuara. Dan
justru itulah ia yang menarik perhatian Tiang Le.
Hemmm, urusan tentu penting yang tengah dibicarakannya itu, pikir Tiang Le.
Dan ia menjadi tertarik sekali. Pelan-pelan ia mengikuti seorang pelayan yang
menghantarkan ke kamar. Dia kebetulan sekali kamarnya itu berhadapan dengan
ruangan tengah. si pelayan. Tiang Le memperhatikan sejenak kamar itu. Sebuah pembaringan yang bertilam
seprey, sebuah meja kecil, dan ruangan segi empat yang bersih dan teratur.
Berlantai jubin yang berkilat dan bersih. Senang sekali hati Tiang Le. Ia merogo dua
tail perak dan memberikan kepada pelayan itu sebagai uang tip. Si pelayan dengan
girang sekali menerimanya.
Tiang Le mengangguk. Le perlahan. Si pelayan menoleh ke arah ruang tengah!
-orang Kim-coa-pay, -coa-mereka itu adalah pengawal-pengawal dari rombongan piauw-kiok
(pengantar barang) yang hendak mengadakan perjalanan ke Wu-anggukkan kepalanya.
melayanimu sebaikPendekar Lengan Buntung - Halaman 72
yoza collection meletakkan bungkusan pakaiannya yang dijadikan satu dengan akar-akar obat dari
Cia Pei Pei. Akar obat itu masih ada padanya. meskipun luka di lengan kanannya
telah sembuh. Akar-akar obat itu mengingatkan ia akan kebaikan gadis manis Cia
Pei Pei. Dari dalam kamarnya itu Tiang Le memperhatikan orang-orang yang
mengelilingi meja di ruang tengah itu. Ada limabelas orang-orang yang mengelilingi
meja itu. Nampaknya ke limabelas orang itu tengah mengadakan rapat, ini dapat
dilihat dari gerak-gerik mereka dalam pembicaraan. Rupanya yang memimpin rapat
itu adalah orang yang bermuka buruk. Terdengar ia berkali-kali mengeluarkan
pendapat. Suaranya serak akan tetapi tegas dan jelas didengar.
-saudara. Karena yang hendak kita
kirim adalah sejumlah uang hasil upeti dari kaisar untuk disumbangkan ke Wu-nian
untuk para korban wabah kelaparan dan penyakit yang merajalela di sana. Limaribu
tail emas itu akan ditukarkan di Wu-nian dengan bahan makanan dan obat-obatan
dan kemudian akan diteruskan kepada para penderita korban bencana kelaparan
dan penyakit yang berbahaya sekali di sepanjang sungai Sin-kiang dan beberapa
sebab itu pengawalan kita ini berbahaya sekali. Bukan saja kita membawa sejumlah
uang yang banyak itu, akan tetapi, kabarnya di lereng gunung Fu-niu-san sering
berpakaian sebagai piauwsu.
Kumisnya melintang menuruni bibirnya. Matanya sipit. Dia itulah si Golok Maut
Jie Kong. Anggota kelima dari Kim-coa-pay. Melihat urat-urat tangannya melingkarlingkar itu sudah diduga bahwa si Golok Maut itu ahli tenaga gwakang dan
kepandaian bermain golok luar biasa.
Semua orang memandang kepada lelaki berpakaian piauwsu itu, dan beralih ke
arah orang tua muka bopeng, ketua Kim-coa-pay. Orang tua berusia empatpuluhan
tahun dan wajahnya belang-belang, kulitnya hitam dan bopeng bekas penyakit
cacar. sedangkan hidungnya menjungat ke atas, sehingga ia kelihatan selalu
mukanya mendongak ke atas.
Semua orang menanti reaksi dari ketua Kim-coa-pay ini, memang benar seperti
kata si Golok Maut, Jie Kong barusan, mereka sering mendengar akan terjadinya
perampokan, yang terjadi di sekitar kaki gunung Fu-niu-san. Karena itulah
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 73
yoza collection pergiriman barang-barang kali ini, apalagi yang berupa uang tunai seharga limaribu
tail emas. Hm, sudah tentu amat berbahaya sekali.
-coa-pay yang bernama Patjiu-koay-betul di lereng Fu-niu-san itu ada parampok
yang berani mati main gila denganku, hmm, kepalanku yang akan meremukkan
ucat itu mencela. Matanya
melirik Jie Kong dan tersenyum,
Jie Kong, si Golok Maut itu mengangguk-angguk.
itu untuk berangkat dan kita men
-coa-pay. Semua orang berdiri. Tiang Le yang mendengarkan percakapan orang-orang itu. Segera menutup
pintu. Hatinya tertarik mendengar percakapan tadi. Berbahaya sekali kalau memang
benar di kaki gunung Fu-niu-san itu ada perampok yang berkepandaian tinggi.
Kalau orang-orang Kim-coa-pay ini tidak dapat menandingi perampokperampok itu, hilanglah limaribu tail emas untuk sumbangan korban kelaparan! Dan
ini tak boleh ia biarkan, pikirnya. Dan diam-diam Tiang Le mengambil keputusan
untuk membuntuti dan jka perlu nanti ia akan membantu orang-orang Kim-coa-pay
Demikianlah, pada pagi-pagi Tiang Le mengambil keputusan untuk berangkat.
Suara gerobak barang dari para piauwsu terdengar lewat di depan Hotel. Tiang Le
keluar dari kamarnya dan menghampiri rombongan itu.
Seorang anggota Kim-coa-pay melihat pemuda buntung menghampiri
Tiang Le membungkukkan badannya dan menjura hormat.
-heng, aku hendak ke Wu-nian, dan berhubung ekspedisi inipun hendak
heng benarkah di sekitar dusun-dusun di sepanjang sungai Sin-kiang terserang
-pura tanya. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 74
yoza collection memberi bantuan kepada orang-orang yang tengah terancam penyakit dan
kelaparan.. . . Kau mau ikut" Boleh tapi selama dalam perjalanan dengan kami, kau
harus tunduk kepada peraturanTiang Le mengangguk,
'Terima kasih Piauworang yang juga akan turut bersama ke Wu-nian.
- Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek mendatangi dengan menunggang kuda. Kemudian
memberi aba-aba kepada rombongan yang di depan. Maka hingar bingarlah
suasana di dalam kota itu pada waktu rombongan piauw-kiok itu berlalu, suara kaki
kuda dan suara gerobak bergemuruh dikeheningan pagi. Orang-orang di dalam kota


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

masih tenggelam dalam tidurnya, sementara rombongan piauw-kiok mulai
bergerak maju meninggalkan kota Tiang An.
Tiang Le berjalan dengan orang-orang yang hendak pergi ke Wu-nian. Udara
pagi-pagi buta amat sejuk dan dingin, matahari belum terbit dan kokok ayam jantan
bersahut-sahutan, nyambut datangnya pagi hari.
Orang-orang yang berjalan kaki mengobrol untuk menghilangkan rasa sepi, ada
yang ngobrolin dagang, ada yang mengobrol tentang urusan rumah tangga mereka,
malah ada yang mengobrol tentang perampok. Dan banyak sekali yang mereka
bicarakan. Dan Tiang Le mendengarkan semuanya itu. Ia kadang-kadang tertawa melihat
orang di sebelahnya tertawa menceritakan cerita-cerita yang dianggapnya lucu.
Atau kalau tidak ia cuma tersenyum lebar kepada temannya di sebelah yang paling
doyan sekali melucu. Sehingga tanpa terasa lagi mereka telah jauh meninggalkan
kota Tiang An. Pada tengah hari itu, mereka sampai di sebuah padang rumput yang amat luas
sekali. Nun jauh di sebelah sana nampak gunung Fu-niu menjulang tinggi tak terlihat
puncaknya tertutup oleh awan putih yang bergerak di atas langit biru. Udara di
tengah hari sangat panas sekali membakar serombongan manusia yang tengah
melintasi padang rumput. Tak ada lagi pohon-pohon yang tumbuh di sana. Matahari
tersenyum-senyum di atas kepala, memandangi manusia-manusia yang tengah
kelelahan sehabis jalan sepanjang duaratus lie jauhnya.
Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek berjalan dengan menunggang kuda di depan
rombongan. Di kirinya si Golok Maut Jie Kong nampak gagah sekali mendampingi
pangcu Kim-coa-pay, wajahnya sudah berpeluh menjalankan kudanya lambatlambat.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 75
yoza collection Dan di sebelah kanan nampak pula seorang laki-laki berpakaian pelajar. Lakilaki itu berusia sekitar tigapuluh. Wajahnya yang cakap itu berseri-seri memandang
ke depan. Dia itulah Lim-siucay (pelajar Lim) yang tak boleh dibuat gegabah akan
ilmu pedangnya. Biarpun orang tua ini nampak lemah dan seperti orang tidak
mengerti akan ilmu silat, akan tetapi siapa kira bahwa dia inilah tangan kanan
pangcu Kim-coa-pay yang berkepandaian sangat boleh diandalkan.
Begitu mereka memasuki lereng gunung Fu-niu, Jie Kong merapatkan jalan
Disini Orang tua muka bopeng itu melirik tajam.
Mengangguk-angguk. memasuki lereng Fu-niuitu.
-saudara yang di belakang bahwa kita sudah
-jiu-koay-hiap Sin Tek, pangcu muka hitam
Jie Kong membalikkan kudanya. Berjalan ke belakang.
Dan suaranya yang serak itu menggema di lereng Fu-niu!
- - Maka ramailah suara kaki kuda dan derik gerobak dorong yang melaju cepat.
Orang-orang yang berjalan di belakang tak berlambat-lambat lagi. Setengah berlari
mereka itu. Tiang Le juga berlarian mengikuti orang yang tengah panik, ada yang mendekati
para anggota Kim-coa-pay minta perlindungan kalau terjadi apa-apa. Tentu saja
bagi Tiang Le tak perlu ia berlari ngas-nges-ngos seperti yang lainnya. Sedikit ia
menggerakkan tubuhnya berlari di atas rumput, tubuhnya melesat ke arah dekat
pengiriman barang-barang itu dan ia mengimbangi larinya gerobak barang dengan
cepat! Kini barisan piauw-kiok sudah memasuki daerah berbatu. Banyak terdapat batubatu kecil, dan di antaranya terdapat sebuah bukit batu karang, tetapi anehnya di
antara batu-batu karang yang besar itu tumbuh banyak pohon-pohon liar dan
menyeramkan. Tiang Le yang berjalan cepat di samping gerobak barang itu mengawasi ke kiri
ke kanan. Nalurinya yang tajam dan terlatih itu membuat ia menjadi curiga. Ia
berlaku waspada. Apapun yang akan terjadi ia tetap mempertahankan barang
kiriman, walau dengan taruhan nyawa sekalipun.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 76
yoza collection Berhubung jalan-jalan penuh dengan batu-batu karang, sehingga berkali-kali
roda dari gerobak itu slip dengan batu-batu, makanya terpaksa Tiang Le membantu
para piauwsu mendorong gerobak. Tentu saja dengan bantuannya itu, dengan amat
muda sekali roda gerobak itu tercabut dari jepitan-jepitan batu yang berserakan.
Sebab dengan tangan kirinya itu, ia mengerahkan tenaga lwekang dan dengan
ringan sekali gerobak itu melaju lagi.
Tiba-tiba terdengar dari atas batu karang suara anak panah berdesing. Sepuluh
batang anak panah menyambar orang-orang yang mendorong gerobak. Tiang Le
terkejut sekali. Dengan hanya mengebutkan ujung lengan bajunya ke sepuluh anak
panah itu terpukul jatuh dan tentu saja kejadian ini mengejutkan hati piauwsu
melihat anak-anak panah yang tertancap di gerobak.
Paniklah orang-orang di sekitar gerobak barang.
Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek menoleh dan menghampiri.
Melihat ini pangcu Kim-coa-pay menoleh ke atas batu karang yang besar dan
coaSebagai jawaban orang tua muka buruk itu, terdengar suara ketawa nyaring
dengan dibarengi berkelebat empat sesok bayangan dengan gesit dan ringan.
-jiu-koay-hiap Sin Tek, Tayhiap dari KimcoaTahu-tahu di depan pangcu Kim-coa-pay berdiri empat orang wanita dengan
muka tertutup sapu tangan hitam. Hanya mata yang bening itu yang menatap tajam
ke arah orang-orang Kim-coa-pay.
Melihat bahwa yang datang itu hanya empat orang wanita muda berkerudung
hitam, legalah hati orang-orang Kim-coa-pay.
-wie siocia. Siapakah kalian ini dan mengapa engkau menghadang
-jiu-koay-hiap Sin Tek memajukan kudanya ke depan.
-coaantara ke empat wanita berkerudung hitam itu berkata. Matanya tajam menantang
pandangan laki-laki muka hitam. Sin Tek berubah air mukanya ketika gadis itu
menyebut-nyebut tentang limaribu tail emas.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 77
yoza collection Kim-coa-pay menghentak kudanya maju ke depan, akan tetapi begitu ke empat
gadis itu mencelat, tahu-tahu ke empatnya sudah menghadang Sin Tek dengan
bertolak pinggang. membawa hadiah upeti kaisar untuk korban kelaparan di Wu-jiu-koay-
hwa limaribu tail bagai perampok- Kim-coa-jiu-koay-hiap Sin Tek juga menarik pedangnya. Pedang merah itu
melintang di depan dada dengan gagah.
sengit dan pedangnya melakukan gerakan menyilang dari kanan dan kiri, hendak
menggunting kepala orang tua muka bopeng yang dibencinya itu.
Akan tetapi hanya dengan merendahkan tubuh sedikit saja. Pat-jiu-koay-hiap
Sin Tek sudah dapat membebaskan diri dari ancaman sepasang pedang yang
melayang melalui atas kepalanya.
Lim-siucay dan si Golok Maut Jie Kong, dua orang pembantu pangcu Kim-coapay itu dengan marah maju menyerang dengan golok besar Jie Kong dan sebuah
kipas dan pit di tangan Lim-siucay. Golok di tangan Jie Kong menyambar
menyilaukan mata ketika berkelebat menyerang nona muka kerudung itu.
-tahu ketika golok dan pit di tangan Lim-siucay menyambar dan sudah dekat dengan tubuhnya
dari kanan kiri, ia melompat ke belakang dan sebelum dua orang pembantu pangcu
Kim-coa-pay dapat menarik kembali golok dan pit mereka, dua kali berturut-turut,
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 78
yoza collection gadis muka kerudung hitam itu menotok dengan telunjuk tangan kirinya dan aneh
sekali, Jie Kong dan Lim-siucay roboh dan terus bergulingan mengaduh-aduh,
kemudian mereka tak bergerak lagi, roboh dengan tubuh lemas dan tak berdaya di
dekat batu karang yang menonjol.
Tiang Le terkejut sekali melihat sepak terjang yang demikian lihay ilmu silatnya
ini. Apakah gadis itu perampok yang semalam disebut oleh Jie Kong"
Heran dia, mana ada seorang perampok gadis begini muda" Tiang Le bengong
memandang gadis berkerudung hitam ini.
Rupanya gadis muka kerudung hitam ini tidak mau membuang banyak waktu,
begitu melihat Pat-jiu-koay-hiap yang terkesiap melihat kehebatan ilmu silat gadis
kerudung hitam itu tak dapat berpikir lama ia karena gadis itu telah menggerakkan
kakinya, melompat sambil menendang dua kali ke arah tangan pangcu Kim-coapay. Terdengar suara keras ketika pedang pangcu itu terlepas dari pegangannya
dan terlempar jauh ke atas batu karang mengeluarkan suara nyaring.
Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek masih mencoba untuk mengelak ketika tangan si
gadis berkerudung hitam itu menyambar, namun terlambat, pundaknya kena
serempet pedang di tangan kanan si gadis dan terasa pundak kirinya ada yang
menepok dan keruan saja Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek ini jatuh terlentang dan
tubuhnya lemas, setengah tubuhnya sebelah kiri terasa lumpuh dan dari pundak
kanan yang tadi terserempet pedang mengeluarkan darah merah.
Sapasang pedang gadis muka kerudung hitam menodong Pat-jiu-koay-hiap Sin
-coa-pay hanya sebegini saja, sudah dipercayakan untuk membawa hadiah upeti kaisar. Hayo, muka hitam
serahkan uang itu, biar kami yang akan teruskan ke Wu-nian.
erampok hina, aku sudah tak berdaya, kalau mau bunuh, bunuhlah akan tetapi
-jiu-koay-hiap Sin Tek memaki. halangi aku un sucinya. Pada saat itu, angin pukulan menyambar dari belakang dan karuan saja pedang
yang tengah menodong dada pangcu Kim-coa-pay itu berkelebat ke belakang, amat
yang terjuntai di tangan kanan Tiang Le. Gadis berkerudung hitam itu terbelalak
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 79
yoza collection matanya melihat penyerangnya tadi adalah seorang pemuda yang lengannya
buntung. -jiu-koay-hiap, pangcu Kim-coaTiang Le dengan tenang.
Tiang Le menggelengkan kepalanya.
-apa nona, hanya kau tidak boleh menjatuhkan tangan maut kepada
Gadis berkerudung hitam itu melirik ke arah lengan yang buntung itu. Sepasang
pedang berkelebat dan terdengar desing suara pedang itu ketika memasuki
sarungnya. -apa nona, kuharap engkau membiarkan kami meneruskan
perjalanan ke Wuiapa yang menghalangi perjalanan kalian" Aku tidak menyuruh
kalian berhenti. Aku hanya minta kepada si muka bopeng ini untuk menyerahkan
uang derma dari kaisar untuk para korban.. . . Siapa kira si bopeng itu demikian pelit
ci kenapa meladeni si buntung ini, hayo cepat kita seret gerobak yang
mendelik menatap Tiang Le.
-kucing penjaga peti uang itu, biar aku menjaga
anjing buntung yang menyalakdipanggil suci oleh gadis ketiga.
Kemudian ia bertolak pinggang menantang.
mulutmu tajam sekali tak pantas seorang gadis secantik kau berkata
sekasar itu. Lenganku buntung ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Mengapa
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 80
yoza collection n tak mau aku disamakan dengan anjing
buntung yang kau sebutmenghampiri Tiang Le.
Tiang Le panas perutnya. Masa ia disebut anjing buntung. Terlalu sekali mulut
gadis yang tertutup oleh kerudung hitam. Ingin sekali ia merenggut kerudung hitam
itu dan melihat mulut gadis yang telah lancang menyebutnya anjing buntung
segala. Ia disebut-sebut anjing buntung, menghina benar gadis ini!
ak ada sangkut pautnya denganmu. Harap kau dapat
-orang Kim-coasi gadis kerudung hitam mendorong ke arah Tiang Le. Serangkum angin pukulan
menyambar ke arah pundak pemuda buntung dan Tiang Le nenjadi terkejut sekali
merasa ada tenaga yang amat kuat mendorongnya. Untung ia berlaku waspada,
dan begitu melihat tangan itu bergerak mendorong, dengan serta merta ia
mengangkat tangan kirinya membalas dengan dorongan pula.
duanya. Si gadis muka kerudung hitam kaget bukan main, melihat pemuda buntung
ini dapat mempertahankan pukulannya. Malah bukan saja ia dapat
mempertahankan pukulan jarak jauh akan tetapi juga membuat kuda-kudanya
tergempur hebat. Di lain pihak Tiang Le juga kagum terhadap gadis yang mempunyai tenaga
yang sebesar gajah ini. Tangan kirinya terasa linu ketika bertemu dengan telapak
tangan si gadis. tanya gadis itu dan dengan gerakan seorang ahli tahu-tahu kedua pedang pendek
itu telah berada di tangannya, melintang di depan dada.
-pura, kau mau atau tidak, kau harus melayani
s centil itu telah menerjang dan mengirim tusukan cepat, secepat kilat menyambar.
mengelak, maklum akan kedahsyatan pedang yang bersinar perak itu. Tetapi gadis
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 81
yoza collection muka kerudung itu sudah menyerang lagi bertubi-tubi! Malah ia mulai
menggerakkan sepasang pedangnya dengan jurus-jurus yang amat cepat sekali,
bagai kilat menyambar-nyambar dari langit.
Tiang Le mengeluh dalam hati. Celaka gadis ini bukan saja lihay dalam ilmu
pedangnya, tetapi juga kelihatannya bernapsu untuk mengalahkannya. Tiang Le
menghadapi serbuan sepasang pedang yang cepat ini tak berdaya. Ia sibuk sekali,
meloncat ke kanan ke kiri menghindari sambaran-sambaran sepasang pedang
yang hebat itu. Hebat! Gadis ternyata mempunyai ilmu yang dahsyat dan ganas. Kalau Tiang
Le belum menguasai ilmu meringankan tubuh niscaya sejak tadipun sudah tersate
tubuhnya oleh tusukan-tusukan pedang dari kanan kiri.
Tiang Le repot menghadapi gadis yang ganas ini. Hancurlah cita-cita hendak
menolong para piauwsu pengantar barang ini. Terkejut bukan main ia waktu melihat
di sekitar gerobak menggeletak anak buah Kim-coa-pay telah terluka pada pundak
dan pahanya. Ternyata tadi begitu ketiga wanita berkerudung itu menghampiri
gerobak limabelas anggota Kim-coa-pay menyerang wanita berkerudung hitam itu
dan sebentar itu pula tiga wanita kerudung hitam itu sudah dikeroyok oleh belasan
orang anggota Kim-coa-pay.
Tentu saja menghadapi orang-orang Kim-coa-pay tidak begitu tinggi ilmu
silatnya, sebentar saja tiga wanita itu sudah dapat membereskan pengawal barang
dan seorang di antaranya, gadis kerudung hitam yang tinggi langsing, dengan
rambut digelung ke atas itu sudah berdiri di tengah-tengah gerobak barang sambil
melintangkan pedang di depan dada dan tersenyum mengejek.
Kalian boleh melanjutkan perjalanan, akan tetapi tiga gerobak barang ini tidak boleh
di bawa. Ingat siapa yang menentang, pedangku ini akan memenggal kepa
Tentu saja melihat para pengawal barang sudah tak berdaya dan pangcu Kimcoa-pay itupun sudah menggeletak lemas hampir pingsan, maka tanpa berani
menoleh ke belakang lagi orang-orang yang mengikut dalam rombongan piauwkiok (ekspedisi) itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan melanjutkan
perjalanan mereka dengan tubuh menggigil. Masih untung jiwa mereka selamat!
Oleh karena itu masing-masing tak berani buka suara atau bertindak. Masingmasing saling dulu meninggalkan tempat itu!
Tak mau perduli lagi mereka akan limaribu tail emas di dalam tiga peti gerobak
itu.! Pendekar Lengan Buntung - Halaman 82
yoza collection Tiga gadis muka kerudung itu menghampiri gerobak-gerobak barang dan
mendorongnya menjadi satu berjejer. Kemudian ketiganya menoleh ke arah
saudara seperguruannya yang masih mendesak pemuda buntung.
Tak berdaya Tiang Le menghadapi gadis yang lihay ilmu pedangnya ini. Ia cuma
bisa mengandalkan kelincahan tubuhnya saja, berkelebat menghindarkan
sambaran sepasang pedang yang bergerak amat cepat dan ganas. Repot ia. Lama
kelamaan ia menjadi lelah juga. Tiga kali sudah pedang di tangan kiri gadis itu
menyerempet pundak kirinya hingga mengeluarkan darah.
Di lain pihak gadis muka kerudung hitam ini merasa penasaran dan marah
membuat ia bergerak makin ganas dan dahsyat. Masa aku tidak dapat mengalahkan
pemuda buntung yang kelihatannya ini sudah terdesak hebat, memalukan benar,
pikirnya. Ia memainkan pedang pendeknya semakin cepat.
Tiang Le diam-diam mengeluh. Celaka! Setelah lengan kanannya buatung, ia
benar-benar tidak bisa lagi memainkan pedang dengan kanan kiri. Oleh sebab itulah,
tak mampu ia membalas serangan-serangan gadis kerudung hitam itu. Ia merasa
penasaran sekali. Kalau menghadapi gadis ini saja ia tidak mampu, apalagi
menghadapi musuh besar gurunya Bong Bong Sianjin, Te-thian Lomo dan Sianli Kukoay"
-apa denganmu, mengapa kau harus
-coa-pay, berani lancang menghadapi
as, kepingin sekali aku melihat
wajahmu. Hemm, tentu wajah yang tertutup itu cantik jelita, alangkah senangnya
ketika ia terpaksa berjungkir balik untuk menghindarkan sebuah tusukan pedang di
tangan kiri si gadis. Suara pedang berdesing saking kuatnya dan Tiang Le tak berani berlaku lambat
lagi, berbahaya sekali, lambat sedikit saja tentu tubuhnya itu akan disate oleh


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pedang pendek di tangan kiri si gadis. Sambil berjungkir balik ia menendang ke
arah lengan kiri si gadis. Tiba-tiba terdengar suara cambuk meluncur tiga kali,
menjadi lingkaran-lingkaran yang membingungkan. Seketika itu juga keadaan Tiang
Le benar-benar sangat terdesak. Beberapa kali pundaknya hampir tersambar
sepasang pedang di tangan gadis muka kerudung hitam.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 83
yoza collection Belum lagi hilang kagetnya tahu-tahu cambuk yang tadi menyambarnya dari
belakang bergulung-gulung lagi dan tak sempat ia meloncat, tahu-tahu
pinggangnya telah terlibat cambuk itu dengan amat kuatnya menyentak dan
di tangan gadis pertama menyerbu ganas.
Ternyata yang berteriak itu adalah gadis muka kerudung hitam yang kedua.
Dengan sekali berkelebat gadis itu telah berdiri di depan sucinya.
Gadis yang dipanggil suci itu menoleh.
Dari balik kerudung hitam itu, gadis itu tersenyum.
berbicara ini amat merdu dan tidak ketus seperti sucinya. Tiang Le yang tadi
terguling dan telah bangun melirik kepada dua orang gadis aneh ini.
gat tugas kita hanya merampas
limaribu tail emas itu. Hayo kita kembali ke pulau dan biar pemuda buntung itu kita
Wanita kerudung yang memegang tongkat kecil meaghampiri dan berkata:
ulau dan tidak usah memusingkan kepala
mengurusi si buntung ini. Tinggalkan ia disini, habis perkara!
-sumoay, apa- kecil itu mengedikkan kepalanya.
si suci. Tiga orang gadis yang termuda menubruk Tiang Le, dan mengikatnya dengan
sebuah tali yang amat kuat sekali. Tentu saja Tiang Le yang sudah tertotok waktu
terlibat cambuk tadi tak berdaya. Sekarang diguncang-guncang oleh tiga orang dara
remaja yang mengikat ke dua kaki dan tangannya.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 84
yoza collection Setelah kedua kaki dan tangannya itu diikat, Tiang Le dilempari oleh gadis
pertama yang galak itu ke dalam gerobak barang. Gerobak yang di atasnya penuh
dengan tumpukan karung, yang berisi ikan asin dan terasi. Begitu masuk ke dalam
gerobak yang penuh dengan karung-karung ikan asin dan terasi itu hampir saja
Tiang Le muntah, karena tak tahan lagi akan bau yang amat tidak sedap menyengat
hidung ini! memegang sepasang pedang, pedang pendek itu, kemudian ia memerintahkan
kepada ke dua orang sumoaynya untuk mendorong gerobak itu.
Tiang Le menutup hidungnya dengan tangan, begitu bau yang tidak enak
menyengat hidungnya. Heranlah dia, mengapa gerobak berisi karung-karung ikan
asin ini saja diperebutkan" Akan tetapi tak lama kemudian otaknya yang cerdik itu
sebentar saja sudah dapat menerka akan isi di dalam peti paling bawah dalam
tindihan karung terasi dan ikan asin.
Gerobak yang ditumpanginya didorong oleh gadis ke dua yang mempunyai
suara bidadari itu. Dan gerobak kedua dan ketiga didorong oleh dua gadis yang
memegang tongkat dan pedang.
Tiang Le dari dalam gerobak itu memperhatikan gerak gerik ke empat gadis
aneh berkerudung hitam itu. Diam-diam di dalam hatinya bertanya-tanya siapakah
gerangan empat gadis yang berkepandaian tinggi ini dan dari partai persilatan
manakah" Dan anehnya. mengapa ke empat gadis itu mukanya ditutup oleh sutera
hitam, apakah karena tindakannya ini takut diketahui oleh orang" Aneh, benar-benar
aneh! Ya, siapakah ke empat gadis berkerudung hitam ini"
ooOOoo Untuk mengenal mereka, marilah kita sejenak berkenalan dengan Pulau
Bidadari. Sebuah pulau yang terdapat di antara segugusan pulau di sekitar laut Pohay. Pulau itu terletak di muara laut Po-hay dan merupakan sebuah pulau yang
terpencil dan jarang didatangi manusia. Bukan saja pulau itu penuh dengan hutanhutan lebat dan tiada berpenghuni, akan tetapi juga sering kali terjadi gempa dan
berbahaya sekali didiami.
Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa di pulau ini banyak sekali
pemandangan alam yang sejuk dan subur tanahnya. Dan sepuluh tahun yang lalu,
barulah pulau ini dikenal sebagai pulau Bidadari sejak Bu-tek Sianli, si nenek kepalan
dewa tanpa tandingan itu mendirikan sebuah partai persilatan yang bernama Sian-
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 85
yoza collection li-pay (partai bidadari) Penghuni dari partai Bidadari itu semua terdiri dari wanitawanita muda dan cantik.
Bu-tek Sianli, si Nenek sakti, Kepalan Dewa Tanpa Tandingan itu mempunyai
empat orang murid utama yang disebut Sianli-sie-ci-moay (empat kakak beradik
bidadari). Mereka ini diberi pelajaran-pelajaran silat khusus sesuai dengan bakat
dan kemampuan muridnya. Sengaja memang untuk itu, Bu-tek Sianli menciptakan empat macam ilmu silat.
Kepada muridnya yang pertama, Bu-tek Sianli mengajarkan Bu-beng-siang-sinkiam-hoat (Sepasang Pedang Sakti Tak Bernama), sehingga gadis pertama itu
dijuluki Bu-beng Sianli (Nona Tak Bernama) sedangkan kepada murid kedua yang
dijuluki Sianli-eng-cu (Si Bayangan Bidadari) diturunkan ilmu bermain cambuk dan
senjata rahasia yang disebut Sianli-tok-ciam (Jarum Beracun Bidadari), dan gadis
ketiga yang dijuluki Sianli-sin-tung-hoat (Si Bidadari Tongkat Sakti) diberikan ilmu
bermain tongkat yang amat hebat dan luar biasa lihaynya. Tak kalah dengan
keganasannya bermain dengan pedang, dan murid yang terakhir adalah Sianli-toatbun-kiam, kepada gadis keempat inilah Bu-tek Sianli memberikan ilmu pedang yang
bernama Toat-beng-kiam-sut (Ilmu Pedang Pencabut Nyawa).
Dan kepada murid-murid pelayan lainnya. Juga murid-murid yang masih muda
dan cantik-cantik ini, Bu-tek Sianli menurunkan ilmu silat tangan kosong yang
disebut Sin-kun-bu-tek. Dan siapakah Nenek sakti yang menamakan dirinya Bu-tek Sianli ini?"
Tidak banyak kita mengenal akan riwayatnya dan tidak tahu pula kita entah
dari partai persilatan manakah Nenek sakti ini. Akan tetapi puluhan tahun yang lalu,
tokoh-tokoh di dunia kang-ouw pernah mengenalnya sebagai seorang gadis yang
amat tinggi ilmu silatnya. Gadis itu pernah menjadi kekasihnya seorang pendekar
sakti yang bernama Lim Heng San yang terkenal dangan julukan Sin-kun-bu-tek
(Kepalan dewa tanpa tandingan).
Kabarnya, setelah gadis yang menjadi pacar Lim Heng San ini menguras habis
ilmu pukulannya Sin-kun-bu-tek, maka pada suatu hari terjadilah pertandingan yang
amat seru antara Heng San dan gadis yang menjadi pacar Heng San itu. Sudah
barang tentu Heng San selalu mengalah kepada gadis ini, dan suatu kali dengan
amat kejamnya, gadis itu melumpuhkan kedua buah kakinya Heng San dan
ditinggalkannya di puncak pegunungan Go-bie yang bernama puncak Ban-tauwsan.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 86
yoza collection Sejak itulah tokoh-tokoh kang-ouw tidak pernah mendengar lagi nama Lim Heng
San, akan tetapi sebagai gantinya muncul seorang wanita berkepandaian dan ganas
seperti setan dan bernama Bu-tek Sianli.
Sejak kemunculan Bu-tek Sianli, nama pendekar Sin-kun Bu-tek tak pernah
terdengar lagi. Banyak orang mengira pendekar sakti itu sudah mati atau
mengasingkan diri menjadi pertapa dan tak mau lagi muncul di dunia ramai.
Demikianlah sekedar perkenalan kita dengan Pay-cu (ketua) Sian-li-pay yang
bernama Bu-tek Sianli. Nenek tua berumur limapuluhan tahun itu, masih
bersemangat dalam mengurus kegiatan Sian-li-pay. Dan karena percaya akan
kelihaian ke empat murid utamanya yang disebut Sianli-sie-ci-moay (empat
Bidadari Kakak Beradik)! para anak buah Sian-li-pay mengangkat ke empat murid
utama itu sebagai tangan kanan Bu-tek Sianli dalam pergerakan Sian-li-pay.
Bu-tek Sianli sengaja mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, dipilih
yang berkepandaian tinggi, malah Nenek itu lalu melatih mereka, dan menurunkan
ilmu pukulan Sin-kun-bu-tek kepada muridnya. Setelah masa peralihan kekuasaan,
menggunakan keadaan kacau, perkumpulan Sian-li-pay ini merajalela. Merampok,
membajak dan keadaan mereka menjadi kuat, setelah perampok-perampok
ternama dan tokoh-tokoh datuk hitam menggabungkan diri ke dalamnya.
Meskipun Bu-tek Sianli tidak memperbolehkan kaum laki-laki menginjak kakinya
di pulau bidadari itu, tetapi hubungan persatuan tetap ada dan kepada murid-murid
perempuannya itulah yang menjadi penghubung. Setiap kali anak murid Bu-tek
Sianli itu bergerak, selalu mereka diharuskan dengan muka berkerudung hitam. Tak
boleh menampakkan diri di luar pulau Bidadari.
Oleh sebab itu tak heran, kalau kita bertemu dengan Sianli-sie-ci-moay yang
berkerudung ini. Kerudung hitam itu tak pernah dibuka di luar pulau Bidadadari!
Itulah salah satu peraturan yang diadakan oleh nenek sakti tanpa tandingan yang
menjadi pay-cu (ketua) Sian-li-pay!
ooOOoo Kita tinggalkan dulu Sung Tiang Le, pemuda lengan buntung yang tertawan di
tangan empat orang dara remaja dari pulau Bidadari. Dan sekarang kembali kita
mengikuti pengalaman Bwe Hwa, gadis keras hati yang telah membuntungi lengan
suhengnya yang bernama Tiang Le dan setelah itu berlari dengan membawa
penyesalan hati yang amat sangat.
Tidak perduli akan hujan dan angin, tidak perduli akan tubuhnya yang separuh
beku akibat kedinginan yang amat sangat. Dia berlari terus bagai orang yang hilang
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 87
yoza collection ingatan. Sebentar dia tertawa, sebentar kemudian dia menangis mengucurkan air
mata yang mengalir menjadi satu dengan deraian hujan yang sangat deras turun.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Bwe Hwa melihat adegan yang amat
romantis antara sumoaynya Sian Hwa dengan Sam-suhengnya Tiang Le. Adegan
yang membuat ia lupa diri dan mengamuk menyerang Tiang Le. Akan tetapi, apa
jadinya suhengnya ternyata lebih tinggi ilmu silatnya sehingga ia tak mampu
mengalahkan. Dalam gejolak api cemburu yang sedang membara itu karena mendengar
pengakuan Sian Hwa yang berterus terang mencintai Tiang Le. Tak kuasa ia
mengendalikan perasaan hati itu waktu ia berpelukan minta maaf kepada Samsuhengnya Tiang Le. Di dalam berpelukan itulah timbul pikiran setan yang
menyelinap dalam benaknya.
Dan sekali ia mengelebatkan pedangnya putuslah tangan kanan Tiang Le
sebatas pundak. Bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi ia terbelalak
memandang sebuah tangan manusia yang menggeletak di bawah kaki suhengnya
yang telah buntung itu. Akan tetapi, sebuah perasaan puas timbul di dalam hatinya. Cinta yang tak
terbalas membuat ia mendendam kepada Tiang Le. Senanglah hatinya setelah
Tiang Le kehilangan tangan kanannya! Puaskah hatinya setetah Sam-suheng
kehilangan lengan dan tak mampu lagi menarik pedang.
Bermacam-macam perasaan mengaduk di dalam hati gadis itu.
Setelah ia ketahui Tiang Le tidak mencintainya, malah membalas cinta
hatinya. Ia merasa menyesal dan kecewa.
Menyesal ia telah membuntungi lengan suhengnya. Terlalu Tiang Le, mengapa
ia tidak mau mengangkat pedang melawanku" Mengapa ia membiarkan pedangnya
menebas lengan itu"!
Menyesal bukan main Bwe Hwa. Andaikan Tiang Le menangkis sabetan pedang
di pundak itu, tak nanti Tiang Le kehilangan lengan kanannya. Akan tetapi Tiang Le
tidak menangkis pedangnya, membiarkan pedang menebas lengan kanannya itu.
Ah, TiangMengingat ini Bwe Hwa menyesal dan kecewa!
Kecewa karena cinta yang tiada terbalas! Tak disangkanya Tiang Le membalas
cinta kasih Sian Hwa. Hemm, kalau lain gadis yang berani mencintai Tiang Le, tak
tahulah Bwe Hwa. Barangkali ia akan mengadu nyawa dengan gadis itu, akan
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 88
yoza collection mengamuk sampai tetesan darah terakhir. Akan tetapi yang mencintai Tiangsuhengnya itu bukan gadis lain, bukan siapa-siapa, akan tetapi sumoaynya sendiri.
Ya, Sian Hwa! Sian Hwa! Mengingat ini, menangislah Bwe Hwa di sepanjang jalan. Ia amat menyintai
Tiang Le dan sekarang yang dicintainya telah buntung lengan kanannya. Telah
hilang pula terbawa air sungai yang meluap. Entah hidup, entah mati, tak tahulah ia
akan nasib suhengnya yang bernama Tiang Le!
Tak tahu dia! Tiangang Tiang-suhengmu yang sombong itu sudah
buntung lengan kanannya, ia tidak dapat menarik pedang, ia menjadi tuna netra,
puaskanlah hatimu.. . . dan tunggulah setelah Tiang Le menjadi manusia tunanetra
emang aku kejam. aku telah membuntungi lengan suhengnya Tiang Le, ah.. . .
di antara hujan badai yang menggila.
Tak tahu dia kalau pada saat itu Liok Kong In tengah mengejarnya dan
kehilangan arah. Ia tak mau tahu. Tak perduli dengan Liok Kong In! Seandainyapun
ia tahu Liok Kong In mengejarnya, ia terus lari. Akan terus lari. Lari dan aneh sekali
memang gadis yang bernama Bwe Hwa itu jadi takut kepada Suhengnya Liok Kong
In. Ia tahu tak mungkin dia membalas cinta kasih pemuda itu!
Betapapun juga, Bwe Hwa dapat menguasai perasaannya dan melakukan
perjalanan dengan tabah. Tak ada arah tujuan kemana ia pergi meskipun ada itu
barangkali tertuju untuk membalas dendam kepada Bong Bong Sianjin, Sianli Kukoay dan Te-thian Lomo.
Ia akan menantang tiga orang itu sebagai murid keempat dari Swie It Tianglo
dan ia berusaha sedapatnya untuk mengirim ke tiganya itu ke neraka menemui
suhunya. Biarpun ia tahu belum tentu ia dapat menandingi kepandaian ke tiga orang
sakti itu, tetapi ia sudah bertekad untuk menggempurnya, kalau perlu ia mengadu
nyawa dengan musuh-musuh besarnya itu.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 89
yoza collection Memang di antara ke empat murid ini, Bwe Hwa lah yang paling dimanja oleh
suhunya, semasa orang tua itu belum meninggal. Tak heran kalau dirinya merasa
kuat dan tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
Ingat hal itu Bwe Hwa menjadi semangat dan di bawah pohon besar ia berhenti
lalu berlatih dengan ilmu silat Tiang-pek-kiam-sut yang telah ia terima dari
mendiang suhunya. Memang hebat ilmu pedang ini, sebatang pedang biasa berubah
menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar di antara
gumpalan awan hitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Pek-in-kang!
Ketika ia berhenti berlatih sejam kemudian, di bawah pohon telah penuh daundaun yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedang dan daun-daun rontok kena
hawa pukulan tangan kiri yang menggunakan pukulan Pek-in-kang. Bwe Hwa berdiri
tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas. Bong Bong,
Te-thian, Sianli Ku-koay, kepala kalian akan hancur rontok seperti daun-daun ini
pikirnya. Sebagai seorang gadis yang baru berusia delapanbelas tahun lebih. Bwe Hwa
melakukan perjalanan yang jauh dan sulit. Tiang-pek-san merupakan pegunungan
yang luas dan menuruni pegunungan ini sama sukarnya dengan jalan
pendakiannya. Namun dengan kepandaiannya yang cukup tinggi itu, Bwe Hwa tidak banyak
mendapatkan kesukaran. Kadang-kadang ia harus melompati jurang. Dengan ginkangnya yang tinggi, ia melompati bagaikan terbang saja dilihat dari jauh bagaikan
dewi kahyangan yang turun dari sorga. Pakaiannya yang halus terbuat dari sutera
berwarna merah jingga, biru dan kuning itu berkibar-kibar kena angin ketika ia
meloncat atau berlari cepat.
Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan
dan kegagahannya! Berpekan-pekan Bwe Hwa keluar masuk hutan, naik gunung turun gunung
melalui banyak dusun di kaki gunung dan melalui beberapa kota di pegunungan.
Setiap kali ia bertemu orang tentu ia menjadi pusat perhatian. Apalagi kaum pria
melihat gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang dengan mata melongo
penuh kagum. Namun tiada orang yang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di
punggung Bwe Hwa yang membuktikan bahwa gadis remaja yang jelita ini seorang
ahli silat, akan tetapi juga Bwe Hwa tidak menyembunyikan gerak geriknya yang
lincah dan ringan sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang pendekar
wanita muda yang tidak boleh dibuat main-main!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 90
yoza collection Setelah berbulan Bwe Hwa melakukan perjalanan seorang diri dan bebas
seperti seekor burung yang lepas dari dalam sangkarnya terhibur juga hati gadis
remaja ini melihat pemandangan-pemandangan yang indah di sepanjang jalan.
Perlahan-lahan lenyaplah kesedihan hatinya, hilanglah rasa kecewa dan
penyesalannya. Tak mau lagi ia dipusingi oleh urusan-urusan di Tiang-pek-san. Ia
hendak melupakan itu! Pada suatu hari sampai ia di kota Siauw-ling di tepi sungai Yang-ce-kiang
setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu ke selatan. Sebetulnya Siauw-ling
tidak layak disebut sebuah kota, melainkan sebuah dusun yang cukup luas. Dan
karena dusun ini mempunyai tanah yang amat subur sekali untuk ditanami dan
merupakan sebuah dusun yang menghubungkan sungai Yang-ce-kiang dengan
kota Tai-goan yang terkenal sebagai kota yang terbesar di selatan. Maka banyak
sekali kaum pelancong dan para pedagang melewati kota Siauw-ling.
Melihat betapa kota kecil ini merupakan jalan hidup untuk ke Tai-goan, maka
seorang pembesar di kotaraja memberikan kontrak kepada seorang hartawan untuk
membangun kota Siauw-ling ini menjadi kota yang besar dan mega. Di mana-mana
nampak bangunan-bangunan menjulang tinggi. Di sekeliling kota ini didirikan


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tembok besar, tembok yang membatasi sungai Yang-ce dengan kota Siauw-ling.
Tidak heran kalau kita datang ke kota ini. Banyak sekali orang-orang dusun
yang bekerja sebagai kuli, siang malam tenaga mereka diperas untuk membangun
tembok kota. Kerja paksa yang ini membuat hati penduduk kota Siauw-ling merasa
tak senang kepada tindakan Nguyen Wan-gwe yang sewenang-wenang saja
memaksa tenaga penduduk! Tak perduli akan orang-orang tua dan sakit, dipaksanya
mereka itu untuk bekerja.
Tentu saja orang dusun yang bodoh dan kebanyakan buta huruf ini tak bisa
berbuat apa-apa, karena intruksi kerja paksa itu langsung dari pusat. Dari kotaraja.
Dan siapakah orangnya yang berani menantang. Sedikit saja para pekerja ini
membuka mulut mereka itu akan dicap sebagai pemberontak dan digiring ke
kotaraja tak kembali lagi!
Ketika Bwe Hwa lewat di tepi sungai Yang-ce-kiang, ia melihat banyak orang
mengangkut batu-batu sungai dan pasir ke atas gerobak-gerobak besar. Orangorang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan berpakaian
penuh dengan tambalan. Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian
sebagai kepala kuli, membentak-bentak dan ada kalanya mengayun cambuk ke
punggung seorang pengangkut batu sungai yang kurang cepat bekerja.
Ada lima-enam orang yang menjadi pengawas orang-orang bekerja itu, dan
begitu melihat Bwe Hwa lewat, mereka pada tertawa dan memandang dengan mata
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 91
yoza collection kurang ajar dan mulut ceriwis mengeluarkan kata-kata tak sopan. Ada yang bersuit
dan menuding-nuding kepada Bwe Hwa, malah ada yang berani gila hendak
memegang lengannya! Panas hati Bwe Hwa. Akan tetapi ia menahan sabar, karena ia tidak mau
mencari ribut dengan orang-orang di tempat ini. Ia mempercepat langkahnya dan
sebentar itu pula ia sudah tiba di luar kota Siauw-ling dan di pintu yang tengah
dibangun itu. Akan tetapi di sini ini. Di kanan kiri di mana orang sedang sibuknya bekerja
mengaduk semen, menyusun bata, memecah batu, dan di antara kesibukan orangorang yang tengah bekerja ini, ia disuguhi pemandangan yang menyolok mata.
Puluhan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan kurus seperti para kuli angkat
batu sungai yang tadi dilihatnya di sepanjang sungai Yang-ce-kiang tadi, malah di
antara puluhan orang lelaki miskin itu ada juga belasan orang wanita yang turut
bekerja, nampaknya mereka bekerja dengan penuh semangat, namun jelas bukan
semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena takut
pengawas-pengawas itu, yang disembarang waktu siap melecutkan cambuknya,
memukul punggung atau melempar.
Beberapa orang pengawas pekerja-pekerja ini kelihatan menjaga mereka
dengan cambuk di tangan, Di sana sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut
punggung, diiringi pekik kesakitan!
Bwe Hwa berdiri terpaku melihat pemandangan yang tak senonoh ini, hatinya
mulai panas. Akan tetapi ia kira tidak sembarangan mau mencampuri urusan orang
lain kalau saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi
kemerahan saking marahnya. Ia melihat betapa seorang wanita setengah tua yang
tampaknya sakit, roboh terpelanting setelah menerima cambukan pada
punggungnya. Seorang gadis yang usianya sebaya dengan Bwe Hwa menjerit dan menubruk
ibunya itu, menangisi ibunya yang sudah pingsan. Dua orang pengawas cepat
menghampiri mereka, yang seorang sekali sambar telah menarik tubuh si gadis
dan menciumi sambil tertawa terkekeh dan berkata,
mencapekan diri, bekerja. Biar kuminta kau kepada Nguyen Wan-gwe (Hartawan
Adapun pengawas kedua dengan marahnya menghajar ibu tua itu dengan
cambuknya dan memaki-maki sambil mendupak:
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 92
yoza collection -pura pingsan di sini, hayo berdiri dan bekerja,
Melihat pemandangan yang mengenaskan hatinya ini, Bwe Hwa tak dapat
menahan kesabaran hatinya. Matanya membelalak mengeluarkan sinar berapi-api
memandang ke dua pengawas yang berlaku sewenang-wenang itu.
ringannya tubuh Bwe Hwa sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis ibu
itu. tengah ditunggangi nafsu dan kecabulannya itu terlempar sampai sejauh lima
meter. Dan jatuh terbanting ke dalam adukan semen yang berlumpur. Hanya
beberapa detik selisihnya tahuitu sedang mencambuki ibu tua itu terlempar pula oleh tendangan Bwe Hwa, hampir
menimpa kawan yang sedang berusaha ke luar dari adukan semen yang kental
berlumpur itu. Pekerja paksa melibat kejadian itu jadi berhenti terpaku, muka mereka pucat
dan mereka hampir saja tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri. Malah
di antara mereka itu ada yang mencubit lengannya sendiri, dan aduh! memang
bukan impian belaka. Sebuah kenyataan! Seorang gadis jelita, seorang gadis remaja
telah berani melawan pengawas yang terkenal akan kekejamannya.
-im Sianli (Dewi Kwania menjatuhkan diri berlutut di depan Bwe Hwa.
-laki tua dan serentak Pada jaman itu di Tiongkok memang orang-orang kota dan dusun percaya
sebuah aliran Agama yang jadi bintang penolong sesama hidup bernama Kwan-im
Posat. Diceritakan pada cerita-cerita kuno betapa Dewi Kwan-im ini adalah seorang
yang Welas Asih yang menjelma ke dunia berwujud seorang gadis yang sangat
cantik dan agung. Terkenal kesaktiannya Dewi Welas Asih yang sering kali
menjelma dirinya menolong kesusahan, dewi lambang kasih sayang gadis yang
terkenal akan kelembutan dan cinta kasih dari pancaran mata itu!
Pada masa itu orang-orang dusun Siauw-ling masih tebal kepercayaan mereka
terhadap Kwan-im Posat. Tak heran kalau Bwe Hwa dianggapnya sebagai
penjelmaan Kwan-im yang diutus menolong mereka!
Tentu saja kalau semua para pekerja itu berlutut dan mengira bahwa yang
datang itu adalah penjelmaan Posat. Akan tetapi tidak dengan pengawas-pengawas
yang lain! Pengawas-pengawas itu merasa rendah diri untuk berlutut di dekat kaki
seorang gadis, gadis remaja.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 93
yoza collection Meskipun tak dapat disangkal ada sedikit kepercayaan dalam hatinya, janganjangan gadis itu adalah penjelmaan Posat! Namun mereka ini, pengawas-pengawas
itu adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang mengerti akan wanita-wanita
pandai ilmu silat seperti Bwe Hwa ini. Mana mereka mau berlutut bersama kuli-kuli
hina ini. Sementara itu pengawas yang terjerembab mencium adukan semen, dengan
berbangkis-bangkis karena hidung dan mulut kemasukan adonan semen,
menyumpah-nyumpah sambil merangkak bangun dan memerintahkan kepada
pengawas-pengawas yang lain.
Mendengar ini ke lima orang pengawas yang lain menghampiri Bwe Hwa.
Seorang di antara mereka yang berkumis kucing dan bertubuh gemuk pendek
kau tidak tahu aku Kwan-im Sianli datang hendak
menghukum kalian, membawa kalian orangHwa terdengar merdu.
Tetapi ia diam-diam mengerahkan khi-kang mengirim suaranya menyerang ke
lima pengawas itu. Sehingga bagi mereka suara gadis itu terdengar melengking
tinggi memekakkan anak telinga. Akan tetapi terdengar merdu dan sejuk di hati
kuli-kuli pekerja paksa itu sehingga mereka makin percaya bahwa dara itu adalah
Kwan-im Posat. -manusia jahat. Patut dihajar, masih bagus
dua orang kawanmu itu mencium adonan semen saja, dan kalian berlima, yang
sudah bertumpuk dengan kejahatan, takkan kuberi ampun lagi! Hayo berlutut dan
Dapat dibayangkan betapa marahnya ke lima orang itu. Mereka adalah tukang
pukul dari Nguyen-loya (Tuan tua she Nguyen) yang terkenal sebagai Nguyen Wangwe (hartawan Ngu-yen) yang juga kaya raya itu. Semua pembangunan di kota
Siauw-ling ini mendapat kepercayaan dari kotaraja untuk dikontrakkan kepada
orang tua she Nguyen ini.
Semua penginapan-penginapan adalah milik Nguyen-loya, juga rumah-rumah
makan besar, gedung-gedung yang megah dan besar itu juga milik Nguyen-loya.
Dan siapa orangnya yang berani menantang Nguyen-loya yang mempunyai
pengaruh besar pula sampai di Kotaraja" Para jenderal-jenderal dan pembesarpembesar di Kotaraja itu adalah sahabat baiknya, para buaya-buaya darat adalah
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 94
yoza collection tukang pukulnya, dan pengawas-pengawas pekerja paksa itu adalah kaki tangannya
untuk kelancaran pembangunan-pembangunan dan tembok besar di luar kota
Siauw-ling! Kini gadis muda belia, gadis remaja yang kelihatannya lemah itu berani
memandang rendah mereka"
-im Posat. Hemm, biarpun kau datang dari utusan Neraka sekali pun aku tak sudi berlutut seperti kuli
hina itu. Hey bocah gendeng, kau harus diseret ke depan Nguyen-loya dan
reka, yang berbicara si kurus jangkung, berkopyah lebar seperti petani akan tetapi baru saja ia menutup
mulut, tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi. Untuk
seketika juga, napasnya sudah putus mengiringi nyawa yang pergi entah ke mana!
Gerakan Bwe Hwa tadi adalah cepat bukan main. Hanya dengan dorongan
tangan kiri saja membuat tubuh pengawas lancang mulut itu terlempar dan putus
nyawanya. Semua orang terkejut sekali. Para pekerja paksa semakin berlutut
mencium tanah, mendoa moga-moga dewi Kwan-im tidak menaruh marah
kepadanya dan menjatuhkan tangan maut, seperti pengawas lancang mulut tadi.
-im Sianli nyawanya ngawas yang lancang mulut itu dan yang telah mati sedetik sehabis berbicara tadi Bwe Hwa
berdiri di depan orang-orang miskin, yang belum berani menggerakkan kepalanya.
Gadis itu berdiri angkuh laksana dewi yang baru turun dari kahyangan. Memang
gadis itu cantik jelita, berdiri seperti itu nampak agung seperi dewi Kwan-im.
Tiga pengawas lainnya menerjang maju, mereka tidak menggunakan cara
berkelahi lagi, saling menubruk maju dan hendak menerkam gadis itu. Tentu saja
melihat kecantikan gadis itu, tukang-tukang pukul lantas segan-segan
mengeluarkan senjata sayang kalau tubuh gadis cantik itu terkena oleh senjatanya.
Oleh sebab itu sudah mufakat lantas ketiganya menubruk maju hendak menangkap
gadis itu hidup-hidup" Dan saling ingin dulu memeluknya.
orang tukang pukul itu sama mengaduh karena mereka saling
tubruk dan saling beradu kepala.
Dalam kegemasan tadi mereka menubruk berbareng bagai tiga ekor kucing
menangkap tikus, tetapi sang tikus begitu lincahnya dan kucing yang bernapsu buat
memeluk mangsanya yang menggemaskan dan yang menggairahkan itu, tak
berhati-hati lagi. Akibatnya karena amat cepat gerakan si tikus tiga buah kepala
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 95
yoza collection kucing itu saling tubruk dan masing-masing terpelanting ke belakang dengan
kepala benjut beradu dengan kepala temannya.
Dengan gerakan ringan tiga kali tangan kiri Bwe Hwa bergerak, tiga tukang
pukul itu sudah tak dapat bangun lagi karena tulang belakang mereka telah patah
dan menjadi orang yang tak berguna lagi. Kelak jika orang itu sadar, ia akan
kehilangan segala kepandaiannya memukul. Sengaja memang gadis ini
meremukkan tulang belakang si tukang pukul agar di lain hari orang itu tidak lagi
mempunyai tenaga untuk memukul.
-orang ini yang bertindak semau-maunya saja, dan kalian
ini sedang membuat te yang berpakaian compang camping dan kotor!
miskin, tolonglah kami, kami dipaksa bekerja keras untuk pembangunanpembangunan di kota Siauw-ling ini dan diperlakukan sewenang-wenang oleh
orang-orang Nguyen-loya, mereka itu adalah mandor-mandor dari Nguyentidak memadai ongkos.. . . hidup kami dipaksa kala
banyak pula temanyang lain.
Bwe Hwa menahan senyum di hatinya. Ia disebut Posat, alangkah indahnya
sebutan itu! Alangkah berkesannya sebutan Kwan-im disanubarinya, ia dianggap
dewi Kwan-im! Kwan-im Posat adalah lambang seorang dewi cantik yang sakti dan
mempunyai kasih sayang yang tulus dan sering menolong manusia sengsara.
Pernah suhunya mendongeng kalau Kwan-im pernah turun ke dunia menyamar
sebagai perempuan agung dan cantik, juga sakti, malah saking terkenalnya sebagai
dewi Welas Asih sehingga banyak tokoh-tokoh kang-ouw memakai julukan dengan
nama Kwan-im Posat. Alangkah indahnya nama itu! Hm, orang lain dapat memakai
julukan itu, mengapa aku tidak"
Gadis itu tersenyum kepada pekerja-pekerja miskin ini. Sebuah senyuman yang
memberikan harapan di dada yang gersang itu. Sebuah senyuman yang
menyejukkan jiwa yang lelah. Baru kali ini orang dusun para pekerja paksa itu dapat
melihat jelas-jelas gadis yang dianggapnya titisan Kwan-im. Alangkah cantiknya.
Gadis itu berjalan menghampiri seorang tua yang patut dikasihani itu. Orang itu
amat miskin dan tua sekali. tujuhpuluhan umurnya, tubuhnya yang kurus kering itu
terbongkok-bongkok. Wajah yang diliputi awan hitam itu penuh dengan kabut-kabut
kerisut yang menampakkan kesusahan hatinya.
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 96
yoza collection dengan amat cepat sekali tangan Bwe Hwa bergerak dan kelak empek tua itu akan
mengetahui bahwa entah darimana datangnya tahu-tahu di kantongnya yang butut
itu kedapatan sekeping uang emas.
Saking gugupnya empek tua itu ditanya oleh Kwan-im pujaannya sehingga
untuk beberapa ia hanya memandang saja. Menatap kosong ke arah bintang
penolongnya! bukan saja empek ini yang dipaksa bekerja, malah orangorang tua yang sudah lumpuh dan berpenyakit sekalipun di paksa untuk bekerja.
itu. dimusnahkan di muka bumi ini, eh
lopek.. . apakah semua mandor anjing-kata dengan yang hampir tak terdengar.
-anjing itu lebih jahat dari majikannya sendiri. Anjing-anjing itulah yang selalu menggonggong
dan menyalakEntah berapa banyak di antara kami yang menjadi korban anjing-anjing keparat
itu.. . Kami disiksa, dianiaya menjadi manusia-manusia cacat dan selanjutnya
Makin panas hati Bwe Hwa. Orang-orang yang suka berbuat jahat dan bertindak
sewenang-wenangnya saja, apalagi sampai menganiaya dan membunuh orang,
patut dihajar, pikirnya. Ketika ia melirik ke arah dua orang tadi yang mencium
adonan semen, yang ternyata mereka sudah bangkit dari benaman adonan semen
pada mukanya dan tengah menyusuti mukanya yang berlepotan adonan semen itu
dan kemudian mereka berdua itu sudah mencabut pedang dan berjalan
menghampiri Bwe Hwa dengan sikap mengancam, pedang di tangan, napsu
membunuh nampak pada wajah mereka yang berlepotan lumpur-lumpur semen
itu. -houw dari Nguyen-loya"
Bersiaplah untu dengan bacokan pedangnya.
Melihat gerakan mereka, Bwe Hwa memandang rendah. Mereka itu hanyalah
orang-orang kasar yang mengandalkan tenaga besar saja, sama sekali tidak
seberapa ilmu silatnya. Oleh karena itu ia tak perlu untuk mencabut pedang
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 97
yoza collection menghadangi tukang-tukang pukul murahan ini, hanya dengan tangan kosong ia
menghadapi bacokan si kumis tikus.
Dengan sebat ia miringkan tubuhnya ke kiri dan tangan kanannya menyambar.
Pada saat itu tangan Bwe Hwa yang sudah terlatih dan tenaga Pek-in-kang. Tangan
kanan halus yang mengeluarkan uap itu bergerak dan tahu-tahu si kumis tikus
berteriak keras dan terpelanting roboh, pedangnya terlempar jauh dan dengan
-tulang pinggang orang itu dan kelak
orang ini akan menjadi orang yang tiada berguna karena untuk selanjutnya orang
itu tidak dapat lagi menggunakan tenaganya. Bwe Hwa memang sengaja
mematahkan tulang pinggang orang itu, melenyapkan tenaga, apabila orang itu
hidup ia akan menjadi orang yang tak lagi bertenaga!
Tentu saja melihat kejadian ini, tukang-tukang pukul yang lain menjadi marah
dan terkejut sekali akan kelihaian gadis ini. Maka dengan beramai-ramai dan
serentak mereka berlima maju dan menerjang dengan marah. Bwe Hwa yang sudah
dibuat panas hatinya oleh cerita-cerita empek yang dipaksa bekerja oleh Nguyenloya ini, kali ini tak memberi ampun.
Begitu suara pedang tercabut dan tampak sinar perak begulung-gulung laksana
awan putih mengamuk, terdengar jerit saling menyusul dan dalam segebrakan saja,
ke lima orang tukang pukul itu sudah tergores pundaknya sehingga mengeluarkan
darah dan begitu tangan Bwe Hwa bergerak terdengar tulang-tulang pundak patahpatah.
Saking kuatnya pukulan tangan kiri yang menggunakan hawa Pek-in-kang
membuat ke lima tukang pukul tak dapat bersambat lagi dan terus menggeletak
pingsan! Hebat sekali tindakan gadis itu, dalam waktu beberapa menit saja dia
sudah menghajar habis-habisan tukang-tukang pukul sewaan Nguyen-loya.
Dengan tenang gadis itu menghadapi orang-orang pekerja yang masih berlutut
dan semua pucat wajahnya melihat tukang-tukang pukul itu sudah menggeletak
tak berdaya. Di dalam hati mereka puas akan tindakan sang dewi yang telah
membalaskan sakit hari mereka terhadap tukang-tukang pukul yang kejam tiada
prikemanusiaan itu. Tetapi mereka juga amat takut kalau nanti setelah sang dewi
pergi ke kahyangan alangkah akan marahnya Nguyen-loya.
manusia Ngu

Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mula-mula para pekerja paksa itu ketakutan. Akan tetapi setelah menyaksikan
akan kesaktian sang dewi, bintang penolong ini, apalagi yang meski ditakuti"
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 98
yoza collection Seorang laki-laki tua bongkok bangkit berdiri dan berkata gagah penuh
anjing-anjing penjaga rumah Nguyen-loya, asalkan Posat dapat membebaskan kami
Melihat semangat empek tua bongkok ini, maka beramai-ramai orang-orang
pekerja paksa yang miskin itu berjalan mendahului Bwe Hwa. Wajah-wajah mereka
membayangkan perasaan geram dan nekad, belasan orang laki-laki yang sebagian
penuh dengan tambalan dan bertelanjang kaki menga
ke dalam kota Siauw-ling.
Tentu saja rombongan pekerja paksa ini menarik perhatian banyak orang.
Apalagi setelah mendengar akan perbuatan gadis yang menjadi bintang
penolongnya itu yang telah menghajar tukang-tukang pukul di luar tembok kota,
gempar sekali keadaan kota Siauw-ling. Dan diam-diam rombongan itu semakin
besar jumlahnya, merupakan sebuah barisan tentara yang hendak maju di medan
perang! Sang dewi, yang mereka anggap sebagai bintang penolong mereka berjalan
gagah dan agung di tengah-tengah para pekerja paksa. Seluruh perhatian orangorang kota tertarik akan kecantikan gadis yang mereka anggap sebagai penjelmaan
Kwan-im Posat! Gedung yang ditinggali oleh Nguyen-loya si orang tua she Nguyen adalah
sebuah gedung yang amat besar dan mega ditengah-tengah kota Siauw-ling
menjurus di depannya sungai Yang-ce-kiang mengalir merupakan ular panjang
yang berkelok-kelok. Gedung itu amat besar sekali. Di depan gedung yang berdiri
megah itu terhampar sebuah taman bunga yang penuh dengan aneka macam
bunga-bunga dan ditumbuhi oleh rumput-rumput menghijau. Sebuah kolam
terdapat di tengah taman itu.
Taman yang dilingkari oleh jeruji besi yang amat kuat dan kokoh bercat hijau.
Inilah tempat tinggal Nguyen-loya. Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih
menjadi orang kepercayaan dari gubernur di Kotaraja.
Dan pada kesempatan ini, Nguyen-loya diberi kepercayaan oleh gubernur untuk
memperindah kota Siauw-ling, mendirikan restoran-restoran dan rumah-rumah
penginapan dan tembok besar di luar kota.
Tentu saja kesempatan yang besar itu tidak disia-siakan oleh Nguyen-loya, dan
sebentar saja ia sudah menjadi kaya raya berkat korupsi besar-besaran dari hasil
bangunan dan pendirian tembok besar. Karena korupsi besar-besaran dan
pengisapan akan tenaga orang-orang dusun yang dibayarnya dengan amat murah
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 99
yoza collection sekali dan dengan paksaan, maka sebentar saja manusia she Nguyen ini menjadi
raja kecil Siauw-ling. Pengaruhnya cepat sekali meluas. Dengan uang yang berlimpah-limpah itu ia
menundukkan hati banyak orang-orang yang berkepandaian silat dan disewanya
menjadi alat keamanan dan kaki tangannya!
Jilid 4 ETAPAPUN juga harus diakui bahwa Nguyen-loya yang sebenarnya
bernama Nguyen Khan tidaklah seganas dan sekeji orang-orangnya.
Karena orang tua she Nguyen sebenarnya jarang sekali meninjau proyekproyek yang sedang jalan.
Semuanya itu dipercayakan kepada orang kaki tangannya yang menjadi
tukang-tukang pukulnya. Mereka-mereka inilah yang mengatur, yang memutuskan
dan mengambil tindakan. Sudah tentu kekuasaan yang diberikan oleh Nguyen-loya
ini dselewengkan menjadi hak kuasa pribadinya. Berbuat semaunya sendiri,
memeras tenaga orang, menyiksa, menganiaya, mencap sebagai pemberontak
kepada orang tanpa bukti dan menghukumnya bukanlah hal yang aneh bagi orangorang yang berkuasa!
Nguyen-loya yang cuma uncang-uncang kaki itu tak memperdulikan keadaan
yang kurang adil itu, persetan dengan segala urusan tetek bengek di proyek,
pokoknya ia mendapat keuntungan besar dan proyek itu berdiri. Habis! Entah berapa
banyak manusia yang mampus karena berdirinya proyek itu tak mau tahu ia!
Nguyen Khan ini mempunyai dua orang putera. Puteranya yang pertama sudah
dewasa. Sudah menjadi seorang pemuda yang cakap dan terpandang pula. Orang
muda itu bernama Nguyen Cie Kiat. Seorang pemuda yang berusia sekitar
duapuluhan, tampan, gagah dan pandai bun-bu-cwan-jay (ahli surat dan pandai
bermain pedang). Akan tetapi sayang sekali sifat ayahnya yang tak baik menurun
kepada pemuda! Seperti pohon itu dapat dilihat dari buahnya, demikian pula dengan Nguyen Cie
Kiat ini. Kalau dulu ayahnya menjadi oom senang yang doyan akan rumput-rumput
segar dan muda, doyan berpesta pora dan doyan berbini, maka sifat-sifat itu
menurun kepada anak muda ini. Pemuda inilah yang membuat keadaan penduduk
semakin kacau dan berat. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 100
yoza collection Nguyen Cie Kiat merupakan seorang pemuda yang selalu mengumbar nafsunafsu buruknya. Tukang mempermainkan wanita, menjadi playboy bajingan di kota
Siauw-ling. Entah berapa banyak gadis-gadis yang terjerembab jatuh di dalam
rayuan mautnya dan entah berapa banyak kali kehamilan" Itu terjadi tanpa adanya
perkawinan yang sah! Nguyen Ci Kiat bukan saja ditakuti karena pengaruh dari ayahnya yang disebut
Nguyen-loya itu, akan tetapi juga Nguyen Ci Kiat ini merupakan seorang pemuda
yang pandai bermain silat. Ia pernah belajar silat dari seorang hwesio Siauw-lim
perantau, dan karena anak muda ini lihay sekali bermain ilmu pedang dari cabang
Siauw-lim-sie maka seluruh tukang-tukang pukulnya menjadi takluk kepadanya!
Dan karenanya setelah pemuda ini benar-benar menjadi dewasa, maka seluruh kota
Siauw-ling ini mengenal putera Nguyen-loya sebagai jay-hoa-cat yang paling
ditakuti! yang masih berusia setahun lebih. Bayi ini bernama Nguyen Hoat. Bayi yang masih
belum tahu apaWaktu cerita ini terjadi, bayi yang bernama Nguyen Hoat itu baru bisa betitahtitah, setindak dua tindak, untuk berjalan bertatih-tatih! Kasihan bayi ini, belum tiga
bulan ia lahir, ibunya yang disebut Nguyen Hujin (Nyonya Nguyen) meninggal dunia!
ooOOoo Kita kembali kepada Bwe Hwa dan rombongannya yang sedang menuju ke
gedung Nguyen ini. Dari luar nampak sepi-sepi saja, seakan-akan tiada pernah akan
terjadi sesuatu. Bukan begitu sebetulnya, bukan keluarga Nguyen tidak tahu akan
kejadian seorang dewi yang mengamuk di luar tembok kota.
Sejak sedari tadipun Nguyen Cie Kiat telah mendapat laporan dari anak buahnya
bahwa seorang gadis telah mengacau dan membunuh seorang pengawas, dan kini
gadis itu sedang menuju ke gedung ini. Tentu saja Nguyen Cie Kiat yang tertarik
hatinya akan seorang gadis yang mengamuk menjadi ingin tahu sekali, dan ingin
melihat gadis yang dikatakan dewi Kwan-im itu!
Kemarahan Nguyen Cie Kiat memuncak, akan ia basmi semua pengiringpengiring gadis yang mengaku bernama Kwan-im Posat itu. Tidak seorangpun yang
akan kuberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati orang-orang kerja
paksa, dan untuk pengaruh pengawas-pengawas tukang-tukang pukulnya!
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 101
yoza collection Pedangnya sudah siap dicabut dari sarungnya yang indah itu. Dengan pedang
telanjang ia berlari-lari ke luar gedung dengan diiringi pembantu-pembantunya
menyongsong sang dewi! ya gadis itu ketika melihat seorang
pemuda tampan mendatangi dengan pedang telanjang.
meneruskan kata-katanya begitu dilihatnya bahwa wanita yang dikatakan sebagai
penjelmaan Kwan-im Posat demikian cantik dan jelitanya. Dadanya berdebar keras.
Matanya terbelalak memandang Bwe Hwa.
Ia melongo tak dapat mengeluarkan suara, memandang wajah Bwe Hwa
bagaikan terpesona dan kehilangan semangat. Sungguh mati ia tidak mengira sama
sekali bahwa wanita yang telah mengacau dan membuat ke enam tukang pukul
tak berdaya itu adalah dara secantik bidadari. Pantas saja kuli di luar tembok kota
itu menganggapnya sebagai Dewi Kwan-im!
Belum pernah selama hidupnya ia melihat dara secantik ini kecuali dalam alam
mimpi dan dalam gambar. Lebih suka ia rasanya untuk maju berlutut dan
menyatakan cinta kasihnya dari pada harus menghadapi dara ini sebagai lawan
yang harus dibunuhnya! Dibunuh! Ah sayang sekali dara yang begini cantik jelitanya kalau dibunuh lebih
-kawan baik yang saling mencintai. Hmm, alangkah senangnya kalau ia dapat berjodoh dengan gadis yang
begini jelita, begini gagah perkasa!
-orang kami" Kalau mereka berbuat salah terhadap nona, jangan kuatir, aku yang menegur
Bwe Hwa melihat pemuda tampan itu tersenyum lebar sambil memasukan
pedang yang tadinya sudah terhunus. Ia melihat pula betapa pemuda itu maju
menghadapinyaa dengan sinar mata yang tak habis-habisnya menatapi sekujur
tubuhnya. Sinar mata yang penuh gairah dan rasa kagum itu menjijikkan hati Bwe
-laki, putera Nguyen- Pendekar Lengan Buntung - Halaman 102
yoza collection Datang-datang ditanya begitu, Nguyen Ci Kiat bersambat dalam hatinya
mendengar suara yang merdu itu. Bertanya dengan nada marah saja sudah begitu
merdu, apalagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya. Mati aku!
dengan mata mendelik. Sinar mata si gadis berbinar-binar merenggut wajah yang
tampan itu. Akan tetapi pandangan Nguyen Ci Kiat yang sudah digelapkan rasa
kagum dan cinta menganggapnya si gadis yang tengah marah itu bertambah cantik
saja, bertambah manis! Nguyen Ci Kiat tersentak oleh bentakan Bwe Hwa tadi. Dengan senyum yang
dibuat-buat, ia berkata kepada gadis jelit
Nguyen Khan yang terkenal di Siauw-ling ini! Senang sekali hatiku mendapat
Kau berbicara plintat plintut sopan-sopanan di depan seorang gadis. Tidak tahu
rayuanmu beracun. Keparat kau seorang yang amat jahat, jay-hwa cacingan!
Mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan
untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Orang macam kau tak patut diberi
Gadis itu yang mendengarkan keterangan-keterangan dari para pekerja paksa
tentang kejahatan putera Nguyen-loya ini, semakin panas hatinya melihat sikap
pemuda ini yang sombong, matanya yang berminyak itu memandangnya dengan
lahap, kemarahannya memuncak.
-soal kecil yang terjadi antara para kuli-kuli dengan anak buahku
harap kau jangan ambil di hati. Sudahlah kesalah-pahaman ini kubereskan sampai
di sini saja. Toh di antara kita tidak ada permusuhan. Marilah, silakan masuk ku
-hwa-cat, perusak wanita. Tak usah plintat-plintut omong kabaikan
di depanku. Aku sudah mengetahui semua ular belangmu. Keparat, mulutmu penuh
Nguyen Ci Kiat adalah seorang pemuda yang selalu dihormati dan disegani
orang. Baru kali ini ia dimaki-maki dan dihina. Biarpun ia tergila-gila melihat
kecantikan gadis itu, namun kehormatannya tersinggung dimaki habis-habisan oleh
dara itu, mukanya menjadi merah seperti udang direbus. Apalagi telah disaksikan
di halaman rumahnya penuh para pekerja paksa yang berdiri dengan teriakanteriakan menantang. Panas hatinya, ia mendelik ke arah kuli-kuli dan melemparkan
pandangannya keluar. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 103
yoza collection -cacing pada mau mampus itu yang mengaco belo
kepada gadis ini. Keparat kumampusin kau satumenghampiri para orang tua di luar. Akan tetapi sekali berkelebat Bwe Hwa sudah
menghadangnya dan tersenyum mengejek:
ghukum engkau. Manusia she
Nguyen bersiap-benar lancang mulut tidak bisa menerima
penghormatan orang. Pantasnya bacotmu yang cerewet itu dibeset, biar tahu rasa,
kepingin aku lihat setelah itu, apak
menerjang maju dengan pedangnya.
Dengan senyum mengejek Bwe Hwa berkelebat, menghindarkan serangan
pedang dan balas menyerang. Ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda
ini, tidak seberapa dan masih mentah gerakan-gerakan pedangnya. Maka sengaja
Bwe Hwa tidak mencabut pedangnya.
Menghadapi manusia kotor ini apa perlunya mengotori pedang, pikirnya dan ia
mainkan ilmu silat tangan kosong dan mengerahkan hawa Pek-in-kang di ke dua
tangannya. Akibatnya setiap kali pedang Nguyen Ci Kiat terbentur dengan itu,
pedangnya terpental seakan-akan memukul bal karet saja kerasnya.
Pada saat itu terdengar suara berisik. Dan para tukang pukul berdatangan ke
tempat itu membawa pedang dan golok di tangan. Tukang-tukang pukul Nguyen
semuanya ada limabelas orang. Terdiri dari jagoan silat pasaran saja. Oleh karena
itu begitu mereka ini serentak menyerbu.
Terdengar suara desingan senjata melayang dan jatuh ke lantai. Lima-enam
orang menggeletak roboh tak dapat bangun lagi terhantam pukulan Pek-in-kang di
tangan kanan dan kiri Bwe Hwa yang bergerak memutar merupakan sebuah
kinciran yang mengeluarkan angin badai menderu, dan setiap kali tukang pukul itu
terserempet angin pukulan dari ke dua tangan si gadis terdengar suara bergedebuk
dengan melayang tubuh tukang-tukang pukul terlempar keluar laksana daun kering
tertiup angin. Menggeletak di luar halaman dan diserbu oleh para pekerja paksa yang menanti
di situ. Terdengar suara bergedebak-gedebuk begitu senjata-senjata pacul, palu
martil di tangan para pekerja itu menghantami tubuh-tubuh tukang pukul yang tak
berdaya dan menguik-nguik terlolong dan menjerit-jerit minta ampun!
Tentu saja para pekerja-pekerja yang seringkali disakiti dan disiksa oleh tukangtukang pukul ini, mana mau memberi ampun. Semakin banyak tubuh-tubuh tukang
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 104
yoza collection pukul yang terlempar, semakin sengit orang-orang dusun itu menyerbu dan
menggebuki si tukang pukul sampai babak belur badan dan mukanya.
Malah di antara suasana yang kacau itu ada pula seorang pekerja yang merasa
jengkel kepada gedung yang megah ini yang berdiri atas hasil cucuran keringat
mereka. Maka diam-diam ia melempari api dan menyiram dengan minyak tanah.
Sebentar itu pula nampak gedung itu mulai terbakar oleh api yang semakin
mengganas. Kaget bukan main Nguyen Ci Kiat, melihat api yang telah menjalar dengan
ganas sekali. Bwe Hwa yang amat membenci pemuda ini tak memberi kesempatan
lagi. Dan sekali pedangnya tertarik dalam segebrakan itu pula, terdengar jeritan
Nguyen Ci Kiat bersambat panjang mengantarkan jiwanya yang melayang dan
berkelonjotan tubuh itu dan diam. Mati.
Kepalanya putus disambar pedang Bwe Hwa yang tak memberi ampun. Ganas
sekali tindakan gadis itu kali ini, hawa membunuh yang didorong oleh kebencian
yang amat sangat mengingat ribuan orang-orang dusun yang disiksa oleh keluarga
Nguyen ini membuat Bwe Hwa matanya mencari-cari.
Gedung itu sudah terbakar separuh. Hawa udara menjadi panas sekali. Sepanas
hati gadis itu yang kala itu sudah menerjang ke dalam, dan melihat seorang tua
berusia limapuluh tahun, berusaha untuk keluar dengan menggendong seorang
anak kecil berusia sekitar satu tahun.
Tersentak kaget melihat gadis yang sudah berdiri di depannya. Wajahnya
menjadi pucat seperti kertas. Semangat melayang. Tubuhnya menggigil
menjatuhkan diri berlutut di kaki gadis ini.
Bwe Hwa menatap orang tua itu. Orang yang berpakaian seperti orang
berpangkat. Hemm, apakah dia ini yang disebut Nguyen-loya"
-loya berkata gagap. Orang tua ini sudah mendengar dari orang-orang bahwa gadis yang menyerang
ini demikian sakti dan lihay. Tentu saja berhadapan dengan gadis yang tadi
dilihatnya demikian ganas membunuh tukang pukulnya menjadi hilang
semangatnya. Kepalanya mengangguk-angguk seperti ayam tengah mematuk
gabah. Dan tubuhnya yang pendek gendut itu menggigil mengeluarkan keringat
dingin. Pendekar Lengan Buntung - Halaman 105
yoza collection Melihat sikap orang tua ini demikian pengecut dan takut mati, bertambah panas
hati Bwe Hwa. Sekali kakinya bergerak mencongkel tubuh si gendut Nguyen-loya
terguling sejauh lima meter.
Anak kacil yang tadi digendongnya terlempar pula. Bocah itu anaknya. Anak
yang baru berusia setahun lebih bernama Nguyen Hoat. Anak itu menangis keras
merangkak menghampiri ayahnya.
ah Nguyen Khan yang disebut Nguyen-loya oleh
orangorang tua. tua itu saking takutnya. Dari selangkangannya menetes keluar air. Muak Bwe Hwa
melihat pemandangan ini. Orang tua sudah terkencing-kencing ini pantas
dimampusin, pikirnya. . Kau membiarkan orang-orang dusun pada mampus dalam rencanamu yang gila
membuat proyek-proyek bangunan, memeras tenaga orang-orang dusun yang
bodoh, menganiaya, membiarkan mereka pada mampus disiksa oleh anjing-anjing
peliharaanmu. Keparat!! Dosamu sudah bertumpukKepala tua itu semakin terbenam mencium lantai, berciuman pula dengan air
kencingnya yang di lantai. Kepalanya semakin keras mengangguk-angguk.
pedang di tangan si gadis berkelebat, tubuh tua itu kelojotan
kehilangan kepalanya. Darah merah muncrat memancar dari leher yang tak
berkepala. Membanjiri lantai, bersatu dengan air kencing si tua.


Pendekar Lengan Buntung Seri 1 Pendekar Lengan Buntung Karya Kim Tiaw di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tu menjerit-jerit menangis. Bwe Hwa mengangkat pedangnya meluncur cepat menusuk dada anak
kecil itu. Bwe Hwa menoleh ke belakang.
Kiranya yang menyambitkan buah Ci membentur pedangnya tadi adalah
seorang tua berusia sekitar empatpuluh tahun. Berpakaian seperti seorang pertapa
Pendekar Lengan Buntung - Halaman 106
yoza collection berjubah putih, kepalanya botak di tengah dan hanya ada rambut tipis yang
mengelilingi di samping kiri kanan kepala yang bundar itu.
Tatapannya tajam menusuk. Merupakan sebuah teguran yang tak terucapkan.
Merasakan timpukan orang tua tadi yang dapat menggetarkan pedangnya, tahulah
Bwe Hwa bahwa orang tua yang baru datang ini bukan orang sembarangan.
Timpukan dengan buah Ci tadi itu membuktikan betapa kuatnya lwekang orang tua
ini. Melihat kedatangan orang tua ini Bwe Hwa seperti seekor harimau betina
mencium darah. Dengan sikap beringas karena mengira bahwa yang baru datang
itu adalah antek-antek keluarga Nguyen, ia menantang.
-binatang keji penindas orang miskin, majulah
dan lawan aku. Aku Kwan-im Sianli akan membasminya sampai ke akarOrang tua itu tersenyum. Tak berkata apa-apa ia menghampiri anak kecil yang
hampir saja tadi disate oleh pedang Bwe Hwa. Sekali jubahnya menyambar, anak
kecil itu melayang ke dalam pangkuan orang tua yang berpakaian pendeta itu.
-apa tentang kepalsuan dunia, mengapa
ng (aku) Bu-beng Sianjin dari Thang-la. bukan apa-apanya keluarga
Nguyen ini. Akan tetapi melihat kau hendak menjatuhkan tangan maut kepada
bocah ini, tentu saja pinceng mencegahnya. Sudahlah! Karena anak ini sudah
kehilangan keluarganya, biar pinceng bawa
Maut Dari Hutan Rangkong 1 Siluman Ular Putih 03 Sumur Kematian Tangan Berbisa 16
^