Pencarian

Petualangan Pria Paris 1

Sherlock Holmes - Petualangan Pria Paris Bagian 1


Sherlock Holmes Kumpulan Kasus Seru Jilid 2
Petualangan Pria Paris Sherlocked.org - 2012 - Petualangan Pria Paris Robert Weinberg & Lois H. Gresh
SATU Lebih dari sekali dalam catatanku yang memuat secara detail pengambilan kesimpulan mengagumkan Sherlock Holmes, aku berkomentar tentang kurangnya kerendahhatian temanku yang mengganggu. Walaupun membenci segala macam publikasi, Holmes dengan dapat dibenarkan merasa bangga terhadap hasil kerjanya sebagai seorang detektif konsultan. Sebagai orang yang tidak pernah rendah hati, ia kadang-kadang bisa merasa puas diri tanpa dapat ditoleransi. Bagaimana pun, bila sudah membicarakan moralitas, Sherlock Holmes tak pernah membiarkan kesombongan menggoyahkan pendiriannya pada apa yang benar. Fakta ini ditunjukkan dengan paling jelas dalam episode Pria Paris.
Saat itu malam yang tenang di awal Oktober 1894. Selapis selimut kabut tebal menutupi Baker Street. Koran edisi sore hanya sedikit berisi hal-hal menarik dan aku bersantai, separuh tidur, di atas sofa. Holmes berdiri di depan api, menghisap pipanya, dengan raut berpikir serius di wajahnya. Dari waktu ke waktu, ia melirik jendela. Cukup jelas bahwa ia sedang menanti tamu.
"Apakah kita punya jadwal menerima tamu malam ini, Holmes yang baik"" aku bertanya, ingin tahu kesulitan macam apa yang akan segera mengetuk pintu kami. "Ada yang aneh di koran" Atau, mungkin masalah sulit untuk Yard""
"Bukan kedua-duanya, Watson," kata Holmes, matanya berkilau senang. "Klien kita datang dari luar negeri. Mulai pikirkan baju bawaanmu untuk perjalanan ke Benua Eropa. Besok, kita berangkat ke Paris."
"Apa"" kataku, terheran-heran. "Jelas, Holmes, kau sudah berbincang-bincang dengan klien baru ini."
"Belum sama sekali," kata Holmes. "Aku tak pernah berbicara dengan orang ini." "Suratnya kalau begitu," lanjutku. "Ia menyebutkan detail-detail dalam korespondensinya denganmu."
"Tak ada yang semacam itu," kata Holmes. Ia mengeluarkan selembar kertas terlipat dari saku jaketnya dan menyerahkannya padaku. "Baca sendiri."
Kertas itu dari Kedutaan Perancis. Dicoretkan dalam tulisan tangan tebal adalah kata-kata, Pukul 9 malam di tempat Anda. Sangat mendesak. Dibutuhkan Privasi. Surat itu ditandatangani, Girac.
"Siapa Girac ini"" tanyaku, menggelengkan kepala kebingungan. Aku sangat tahu sebaiknya tidak mempertanyakan kesimpulan Holmes. Walaupun bagaimana kata-kata sesedikit itu bisa menandakan perjalanan ke Paris masih merupakan misteri untukku. "Kenalkah kau padanya""
"Hanya dari reputasinya," kata Holmes. Terdengar suara langkah kaki di tangga yang mengarah ke kamar kami. Temanku melangkah ke pintu. "Seorang anggota Surete(Kepolisian) Perancis, ia cukup terkenal dengan kemampuan pemecahan masalahnya. Beberapa orang menyebutnya, aku diberi tahu, Sherlock Holmes Perancis."
Suatu ketukan singkat mengindikasikan kedatangan tamu kami. "Inspektur Girac," kata Holmes, saat ia mengantar orang Perancis itu ke ruang tamu kami. "Saya Sherlock Holmes. Dan ini teman dan rekan kerja saya, Dr. Watson."
"Senang bertemu Anda, tuan-tuan," kata Girac dalam suara halus dan dalam tanpa aksen sedikit pun. Ia seorang pria tinggi, berbadan kokoh dengan wajah bercukur rapi, seonggok rambut hitam yang tebal, dan mata seorang pengamat berwarna gelap. Tatapannya tak pernah menetap, bergerak cepat dari satu titik ke titik lain dalam apartemen kami. "Harap Anda memaafkan jam malam ini, tetapi saya perlu menemui Anda sesegera mungkin dan urusan kedutaan menyibukkan saya hingga saat ini."
"Silakan duduk," kata Holmes, melambai menunjukkan sebuah kursi kosong pada Girac. Teman saya berjalan kembali ke tempatnya di depan api saat orang Perancis itu duduk. "Anda berada di sini, tentu saja, sehubungan dengan urusan baru yang melibatkan kasus Dreyfus."
"Mon Dieu!(Demi Tuhan; sebuah kalimat seruan)" seru Girac, matanya melotot terkejut. "Mungkinkah ada mata-mata di Kedutaan" Misi saya bersifat rahasia. Selain Presiden sendiri, tak ada orang yang tahu saya berada di Inggris." Orang Perancis itu menggelengkan kepala cemas. "Habislah kami."
"Tentunya, Holmes," ka
taku, sama terkejutnya, "Pengungkapan ini seperti sihir."
"Omong kosong," kata Holmes. "Hanya latihan dasar berpikir logis, Watson. Kau sekarang seharusnya sudah tahu bahwa takhayul tak sebanding dengan kesimpulan dasar."
Temanku memegang surat yang ditunjukkannya padaku beberapa menit sebelumnya. Ia mengambil pose seorang profesor universitas, hendak menguliahi murid-muridnya. "Sewaktu
menerima surat ini tadi pagi, saya segera tahu ada kejadian penting yang sedang berlangsung. Mengapa Inspektur Girac, yang di negaranya terkenal sebagai detektif dan penyelidik, perlu mengunjungi saya" Hanya kasus yang punya kaitan penting dengan negara, yang menuntutnya menggunakan setiap sumber daya yang ada, yang akan memaksa Inspektur mencari keahlian orang luar. Tetapi mengapa saya, seorang asing, dan bukannya anggota Surete yang lain" Jawabannya pasti karena Monsieur Girac punya kecurigaan terhadap rekan kerjanya. Seperti yang kauketahui dengan baik, Watson, organisasi polisi normalnya adalah kelompok yang punya ikatan kuat. Ketakutan semacam itu hanya bisa disebabkan oleh gejolak nasional. Walaupun saya tidak mengikuti politik Perancis secara reguler, saya tidak buta terhadap berita dunia. Karena itu cukup jelas bagi saya bahwa kunjungan Girac berhubungan dengan kasus mata-mata terkenal Dreyfus."
Aku mengangguk, langsung menyadari kebenaran kata-kata Holmes. Kejahatan terkenal itu telah mengguncangkan Perancis, melepaskan kebencian yang membara sejak lama. Setelah hukuman Dreyfus untuk pengkhianatan dijatuhkan, golongan kuat Militer dan Gereja mengeluarkan serangan verbal tajam pada populasi Yahudi di Perancis. Serangan pada ras yang sangat bermusuhan itu berubah menjadi saudara melawan saudara, teman melawan teman. Seluruh negeri bergetar di tepi revolusi. Begitu Holmes menjelaskan cara berpikirnya, hal-hal yang tak jelas menjadi transparan. "Tapi kau menyebutkan perjalanan, Holmes""
Holmes berpaling dan tatapannya yang menusuk menatap petugas Polisi Perancis itu. "Surat Monsieur Girac menuntut privasi, Watson. Ia ingin bertemu di malam hari, secara rahasia. Bukan tindakan biasa bagi seorang anggota Surete. Lagi pula, walaupun misinya melibatkan kasus Dreyfus, masalah itu sudah diselesaikan di pengadilan militer. Petugas itu dinyatakan bersalah dan sudah dihukum.
"Ia dikirim ke Pulau Setan untuk bekerja keras sepanjang sisa hidupnya. Meskipun ada sedikit keraguan tentang validitas tuduhannya, kasus itu sudah ditutup."
Holmes berhenti dengan dramatis. Dunia teater kehilangan seorang aktor besar ketika temanku memilih menjadi detektif. "Aspek mana pun dari kasus itu yang Monsieur Girac harapkan saya selidiki, aspek itu jelas bukan masalah kecil. Karena pemerintah menolak melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kasus Dreyfus, urusan Inspektur pastilah berhubungan dengan reaksi yang mungkin timbul dari masalah itu. Karena ia tak mempercayai koleganya di Surete, tampaknya logis bila ia membutuhkan pertolongan kita sebagai pengganti mereka. Penyelidikan semacam itu paling baik
dilakukan di tempat kejadian. Girac datang dari Paris, jadi kuasumsikan kita akan pergi ke sana untuk meneliti kasus kita."
Girac, wajahnya pucat, mengangguk. "Saya membutuhkan Anda untuk kembali bersama saya secepat mungkin ke Paris, Mr. Holmes. Saya tak berani mempercayai asisten saya yang mana pun. Tak seorang pun tahu siapa yang menjadi korup karena skandal ini. Pengkhianatan berlangsung di tingkat tertinggi pemerintahan dan militer. Malapetaka mendekat dan hanya dengan bantuan Anda saya bisa mencegahnya terjadi."
"Tolong katakan," kata Holmes, mengangkat pipanya ke bibirnya, "apa sifat malapetaka itu""
"Pembunuhan," bisik Girac, nadanya rendah, seakan takut didengar orang. "Saya mendengar dari sumber terpercaya bahwa sekelompok anarkis Yahudi telah menyewa Jacques Huret, Pembunuh Boulevard, untuk membunuh Presiden Republik yang baru dalam pembalasan dendam atas penahanan Dreyfus. Saya bertekad untuk tidak membiarkan kejadian itu terjadi."
"Dengan pembunuhan Presiden Sadi Carnot(Marie Francois Sadi Carnot, Presiden Francis sejak 1887 hingga tewa
s terbunuh pada 1894.) hanya beberapa bulan lalu," kata Holmes, berpikir serius, "pembunuhan kedua mungkin dapat menjerumuskan Perancis dalam perang sipil. Saya merasa sukar untuk mempercayai bahwa sekelompok kaum intelek Yahudi akan melaksanakan spekulasi beresiko seperti itu. Apakah kau yakin merekalah yang menyewa Huret""
"Siapa lagi yang punya motif"" Girac menyatakan. Ia melambaikan tangan di udara, menolak keraguan Holmes, "Saat ini pelaku di balik kejahatan ini tak penting. Yang penting adalah tindakan itu sendiri. Selama lima tahun terakhir, Huret bertanggung jawab atas kematian hampir selusin orang. Sedikit bukti yang kami temukan mengindikasikan bahwa ia orang kaya dan terhormat. Kami tak tahu mengapa orang semacam itu menjadi pembunuh, karena ia jelas tak memerlukan uang."
"Mungkin," kataku, memilih kata-kata dengan hati-hati, "ia membunuh untuk membuktikan superioritas mentalnya atas buruannya."
Holmes menggelengkan kepalanya. "Bagi orang yang benar-benar intelek, permainan semacam itu tak perlu. Cacat dalam karakter Huret ini akan menjadi kejatuhannya."
"Mari berharap demikian," kata Girac. "Orang ini ahli menyamar. Tak seorang pun tahu wajah atau metodenya. Ia menyerang seperti seekor ular dan kemudian menghilang tanpa pernah dilihat. Hanya korbannya yang menjadi bukti ketrampilannya.
"Anda terkenal sebagai pemecah kejahatan, Mr. Holmes. Bagaimanapun, tantangan yang
dihadapi di sini jauh lebih besar. Dapatkah Anda, tanpa petunjuk atau bukti, mencegah terjadinya suatu pembunuhan" Dapatkah Anda menghentikan Huret, orang Paris yang suka berfoya-foya dan pembunuh profesional, dari melumpuhkan negara saya""
Mata teman saya berkilau bergairah. Ia hidup untuk saat-saat seperti itu. "Penilaian Anda tentang sukarnya kasus ini benar, Inspektur. Mencegah kejahatan hampir tak mungkin. Menebak lebih dahulu tindakan seorang pembunuh berdedikasi membutuhkan seorang jenius. Penjahat itu bisa memilih waktunya, tempatnya, dan metode pelaksanaan. Ada terlalu banyak variabel yang harus disiapkan untuk setiap kemungkinan. Dan, dari sedikit yang saya baca tentang Huret, ia adalah yang terbaik dari jenisnya. Di masa lalu ia sudah terbukti tak dapat dihentikan. Tetapi," dan ada lebih dari sekadar tanda-tanda kesombongan di suara temanku, "sebelumnya, ia tak pernah dihadapkan pada Sherlock Holmes."
DUA Keesokan paginya, Holmes dan aku berangkat ke Paris. Perjalanan itu membosankan dan tak ada yang terjadi. Demi kerahasiaan, kami bepergian sendiri, tanpa Girac. Holmes tetap berpikir serius sepanjang perjalanan, matanya tertutup penuh konsentrasi. Karena tahu lebih baik tidak mengganggu, aku menyibukkan diri membaca catatan kejahatan Huret terdahulu yang ditinggalkan untuk kami oleh Inspektur Girac.
Semakin banyak yang kubaca, aku merasa semakin tak enak. Holmes telah menghadapi banyak tantangan dalam karirnya yang terkenal, tetapi tak pernah sebelumnya ia menghadapi seorang penjahat tanpa wajah. Huret bukan seorang Apache jalanan yang menjelajahi gang-gang gelap Paris. Pembunuh ini seorang bajingan gentleman yang memperolok polisi karena ketidakmampuan mereka menghentikannya.
Walaupun ia bertanggung jawab atas hampir selusin pembunuhan, Huret tetap merupakan suatu misteri besar bagi Surete. Ia bisa berubah menjadi siapa pun, suatu fakta yang dengan gembira dicomot oleh surat kabar yang menamakan Huret "Pembunuh Jalanan". Seperti yang ditulis wartawan itu, bisa jadi pembunuh itu pria yang berjalan di sebelah Anda. Bisa jadi ia tetangga atau teman terbaik Anda. Bisa jadi ia siapa saja.
Dalam satu kesempatan, Huret menyamar sebagai pelayan laki-laki seorang Earl. Setelah membunuh pelayan yang asli, Huret menggantikan tempatnya, dan beberapa hari kemudian, membunuh bangsawan itu sewaktu menuju opera. Jelas, penyamaran Huret begitu canggihnya sehingga ia benar-benar menipu Earl itu, seorang pria yang telah mempekerjakan pelayan itu selama dua puluh tahun.
Mungkin lebih parah, dalam kesempatan lain, Huret mengambil identitas seorang juru masak di salah satu klub tersohor Paris. Di sebuah ruang pribadi, seorang Viscount tu
a dan tiga putranya sedang makan malam. Huret memasak suatu hidangan rumit-mullet merah dengan saus Cardinal, sup kura-kura, pate kerang, ikan, daging kelenjar perut, daging rebus, buah-buahan, krim coklat: seluruhnya sepuluh hidangan. Huret dilihat oleh pemilik klub dan beberapa pembantu yang melayani orang-orang yang makan malam itu; semua yakin bahwa Huret adalah juru masak yang mereka kenal selama enam belas tahun terakhir. Pada waktu para pelayan meninggalkan dapur dengan hidangan penutup dan minuman anggur, Huret sudah lama pergi. Tetapi minuman anggur itu membunuh keempat pria itu.
Satu-satunya fakta yang diketahui tentang Huret adalah bahwa ia seorang pria yang sangat sombong. Ia senang memancing polisi. Setelah setiap kejahatan, ia mengirim sepucuk surat pada surat kabar terkenal menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Menurut pernyataannya, ia tak menginginkan penonton tak bersalah dituduh karena tindakannya. Seringkali, Huret menyebutkan ia minum bersama-sama korbannya segera sebelum kematian mereka. Dalam penutupnya, pembunuh itu tak pernah lalai menyatakan bahwa setelah mengirimkan suratnya ia akan mengangkat gelas berisi sampanye, dibayar dengan uang yang diperolehnya secara tak halal, dalam toast perpisahan untuk korbannya, kemudian meneguknya dengan sepiring puding kismis.
Tindakan berani bangsat itu menjelaskan satu-satunya komentar Holmes tentang kejahatan itu sepanjang perjalanan kami. Kami berada dalam sebuah kereta kuda yang melesat menuju rumah yang disediakan Girac untuk kami gunakan selama berada di Paris. "Kau perhatikan, Watson, dalam setiap suratnya Huret tak pernah sekalipun melewatkan menjelaskan toast perpisahannya," kata Holmes, memecahkan keheningan panjang.
"Dari luar ia bisa saja gentleman, Holmes," aku menjawab, "tapi di dalam hatinya ia bajingan. Kekurangajaran pria itu tak tertahankan, Holmes!"
"Sebetulnya, kupikir surat-suratnya cukup cerdik," kata Holmes, yang kemudian meneruskan sikap diamnya.
Girac menemui kami secara pribadi di rumah yang lokasinya dekat dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Kedatangannya yang seorang diri merupakan indikasi lebih lanjut ketidakpercayaannya pada orang-orang di kantornya.
"Saya sudah melakukan tepat seperti yang Anda minta, Mr. Holmes," kata Girac segera setelah kami berada sendirian. "Saya sudah memberitahu beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden, berdasarkan desakan saya, telah setuju untuk mengambil liburan yang sangat diperlukannya di pedesaan. Mereka menerima cerita saya bahwa percekcokkan terus-menerus tentang kasus Dreyfus membuatnya bosan dengan Paris. Walaupun saya menolak mengungkapkan lokasi tepat persembunyiannya, saya menyebutkan sebuah vila aman di selatan Perancis, dijaga 24 jam oleh asisten-asisten saya yang paling terpercaya."
"Kerja yang baik," kata Holmes. "Perangkap sudah siap."
Girac menyeringai. "Anda curiga salah satu menteri terlibat dalam skenario ini" Atau beberapa orang""
"Mungkin, mungkin tidak," kata Holmes misterius. "Bagaimanapun. Saya merasa yakin bahwa berita perjalanan Casimir-Perier ini akan segera mencapai telinga Huret. Dengan menyadari batasannya, ia akan mencoba menyerang sebelum perjalanan yang dijadwalkan."
Holmes tak menyebutkan apa batasannya itu, dan karena Girac tak mengatakan apa pun, aku merasa lebih baik tetap diam. Sambil menyalakan pipa, Holmes menghirup dalam-dalam asapnya. "Apakah Anda membawa rencana kerja Presiden selama beberapa hari ke depan""
"Tentu saja," kata Girac. "Ia dijadwalkan untuk pertemuan sehari penuh besok pagi. Pada malam harinya, ia menuju klub untuk suatu makan malam informal dengan duta besar Belgia. Setelah itu, ia berencana menghadiri sebuah resepsi yang diadakan untuk beberapa teman dekat di kedutaan mereka. Keesokan paginya ia berbincang-bincang dengan Menteri Keuangan. Malam itu, ia dijadwalkan menghadiri opera. Keesokan paginya, liburan bohong-bohongannya mulai."
"Opera," aku berkata, "di sanalah Huret akan menyerang. Tempat mana yang lebih baik bagi bangsat itu. Kerumunan besar orang, suara bising. Suatu tempat pertemuan untuk adegan Bou
levard. Tempat sempurna untuk percobaan pembunuhan."
"Kau punya pikiran seorang polisi, Watson," kata Holmes, menghirup kepulan asap lagi.
Ia mengangguk pada Girac. "Saya yakin Dokter akan menikmati makan malam di klub Presiden, Girac. Mengapa tidak mengatur agar ia menemani Anda sementara Anda berjaga besok malam""
"Tapi bagaimana denganmu, Holmes"" tanyaku.
"Aku akan berada dekat-dekat saja, Watson," jawab Holmes, asap mengelilingi kepalanya seperti sebuah topeng.
Pada waktu bangun keesokan paginya, aku mendapati Holmes sudah pergi-untuk mengerjakan sesuatu, menurut Girac-tapi ia akan menemui kami malam itu. Walaupun ia jarang mendiskusikan perjalanan jauhnya setelah duel terakhirnya dengan Profesor Moriarty, aku tahu Holmes telah menghabiskan banyak waktu di Paris. Sebagian besar periode itu dihabiskan untuk menyelidiki urusan aneh tentang Hantu Opera. Aku merasa yakin ia sedang mengunjungi tempat-tempat lama dan membuat persiapan untuk berhadapan dengan seorang hantu baru.
Aku menghabiskan sebagian besar hari itu dengan Girac, mengulang rencananya untuk melindungi Presiden. Tantangan terbesar Inspektur itu adalah memastikan bahwa orang-orangnya selalu berada di latar belakang, tanpa diperhatikan. Berita adanya suatu plot untuk membunuh Casimir-Perier bisa hampir sama merusaknya terhadap kondisi negara seperti tindakan itu sendiri. Presiden dikelilingi polisi, tetapi semua berpakaian biasa, dan semuanya dalam jarak tertentu. Itu tugas yang sukar, tetapi Girac menangani tugas itu dengan kepala dingin dan pikiran tajam. Aku tak bisa menemukan kesalahan dalam persiapannya,
Makan malam diadakan pukul sembilan, Girac dan aku tiba dengan kereta kuda segera sebelum makan malam dijadwalkan mulai. Tak ada tanda-tanda Holmes dan aku mulai merasa khawatir. Huret telah membunuh selusin orang. Holmes cukup mampu melindungi dirinya sendiri dalam suatu keributan, tetapi kesempatan apa yang dimilikinya melawan seorang pembunuh profesional"
Ruang makan di klub itu adalah sebuah ruang kecil, intim, dengan tak lebih dari selusin meja. Orang-orang kaya dan berkuasa di Perancis makan malam di sini dan Girac dengan senang hati menunjukkan politisi-politisi yang tak dipercayainya, yang jumlahnya mencakup hampir semua orang di ruangan itu. Di latar belakang, sekelompok kuartet alat musik dawai memainkan musik lembut.
Makanannya sempurna, walaupun bukan makanan Inggris berlimpah yang lebih saya sukai. Anggur mengalir bebas dan setelah jam-jam panjang penuh kekhawatiran, aku menjadi santai. Setengah lusin orang terbaik Girac, berpakaian seperti gentleman yang bersantai, tersebar di seluruh ruang makan. Tiga inspektur yang lain membantu para pelayan.
Kami baru saja menikmati hidangan burung puyuh ketika salah satu bawahan Girac mendekati meja. Sambil membungkukkan badan, ia berbicara sebentar dalam suara rendah dengan Inspektur itu. Rona muka wajah Girac berubah.
"Maaf, saya permisi sebentar, Dokter Watson," kata Girac, berdiri. "Ada gangguan di luar. Semacam baku hantam yang melibatkan pengemudi kereta. Saya akan kembali dalam sekejap. Tolong perhatikan baik-baik . . . klien kita."
Aku mengangguk, merasa sangat aman di ruang makan, dengan Presiden dikelilingi oleh hampir selusin petugas polisi. Namun, aku mengkhawatirkan di mana Holmes mungkin berada.
Girac baru saja pergi selama kurang dari satu menit ketika, tanpa peringatan, serangkaian tembakan pistol yang sangat keras terdengar di halaman di depan klub. Seketika itu juga, di seluruh sudut ruangan, orang-orang meloncat berdiri dan dengan cepat mengumpul di dekat Presiden dan tamunya. Pengunjung klub yang lain, yang tak tahu apa yang terjadi dan melihat penyerbuan itu, mulai berteriak. Selama beberapa detik, kepanikan menguasai tanpa bisa diatur.
"Cepat," kata salah seorang petugas, suaranya yang berkuasa mengalahkan hiruk pikuk itu, "jaga pintu masuk. Jangan ijinkan seorang pun masuk selain Inspektur Girac. Saya akan mengawal Presiden lewat dapur menuju tempat yang aman."
"Itulah, sir, dengan menyesal saya katakan," kata pemain biola, berjalan menjauh dari Kuartet Kamar dan
meletakkan tangannya di lengan kanan polisi itu, "tak mungkin dilakukan."
Dengan marah, petugas itu mencoba membebaskan dirinya. Tetapi musisi itu menolak melepaskannya. "Kau pikir kau ini siapa, memerintah anggota Surete"" kata petugas itu, suaranya melengking.
"Saya Sherlock Holmes," kata pemain biola itu. "Dan Anda sir, meskipun Anda memprotes mengatakan hal sebaliknya, bukan seorang petugas polisi. Sebaliknya, saya yakin saya memperoleh kehormatan berkenalan dengan Huret, Pembunuh Jalanan terkenal."
TIGA "Anda gila," kata petugas itu, melepaskan dirinya dari cengkeraman Holmes. "Anda membahayakan nyawa Presiden dengan tuduhan gila Anda."
Inspektur Girac kembali ke ruang makan dan menatap petugas itu, seakan mencoba menentukan siapa orang itu. Ia menggelengkan kepala, bingung. "Kau tampak seperti Edward Ronet, tetapi..." Petugas itu tertawa. Ia tinggi dan tampan, dengan mata coklat lembut, alis rapi, dan mulut halus.
Rambutnya berupa ikal-ikal pirang yang mengintip dari bawah topi polisinya. "Saya memang Edward Ronet. Saya sudah bekerja pada Anda, sir, sepanjang hidup saya, seperti juga ayah saya sebelum saya."
Holmes melepaskan topinya sendiri, kemudian mengelupas sebuah wig ikal panjang gelap. "Anda bukan satu-satunya ahli menyamar di ruangan ini," katanya, dengan senyum kecil. "Terima nasib Anda, Huret. Omong kosongmu terbongkar."
Temanku melirik Inspektur. "Ada masalah dengan Apache jalanan di luar."
"Mereka tak ada apa-apanya," kata Girac, mengangkat bahu. "Hanya gangguan kecil."
"Seperti yang kukira," kata Holmes, "penjahat kelas pekerja seperti itu tak menimbulkan ancaman pada keselamatan Monsieur Casimir-Perier. Mereka tak mengejar apa pun selain kegaduhan yang menyenangkan. Sebuah bagian kecil tetapi penting dalam rencana Huret."
Inspektur Girac menatap petugas palsu itu. "Samaran sempurna, tetapi tak cukup baik. Ronet punya bekas luka kecil di bawah mata kirinya. Anda, sir, tak punya."
Girac memberi isyarat pada orang-orangnya. "Kawal Presiden dan Duta Besar ke kereta kuda mereka. Mereka sudah terlambat tiba di Kedutaan. Jaga dengan ketat, meskipun saya rasa tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
Girac mengembalikan tatapannya pada Huret. "Bawa yang satu ini ke penjara. Kurung dia dalam sel tunggal, dan jaga baik-baik. Saya sudah menunggu lama sekali untuk bertemu dengan Monsieur Huret. Ada banyak hal yang harus kami diskusikan. Saya yakin pembicaraan kami akan sangat menarik. Tetapi, sebelum kami berbicara, secara pribadi saya ingin memberi tahu koran-koran bahwa ia takkan bisa lagi menulis surat pada mereka."
"Membuallah sepuasmu," geram Huret, saat polisi membawanya pergi. "Itu tak jadi masalah. Kau tak punya bukti. Aku punya teman-teman berkuasa. Kau takkan pernah melihatku di pengadilan."
Wajah Holmes suram saat para polisi menyeret Huret dari ruang makan. "Ia orang yang sangat berbahaya, Girac. Bagi banyak orang."
"Saya akan memastikan bahwa ia dijaga siang malam, Mr. Holmes," kata Inspektur. Ruangan itu sudah menjadi kosong dan kami berdiri sendirian di tengah-tengah. "Presiden, saya yakin, akan ingin berterima kasih pada Anda secara pribadi karena telah menyelamatkan nyawanya. Hasil penyidikan yang cemerlang."
Holmes melambaikan tangan di udara, seakan menolak pujian itu. "Mendasar, Girac. Surat-surat Huret pada koran langsung menimbulkan kecurigaan saya. Tak ada penjahat sejati yang menyombongkan kejahatannya tanpa alasan. Yang terbaik adalah merahasiakan kejahatan mereka. Karena Huret tak pernah lalai menulis tentang setiap pembunuhan, saya merasa komunikasi itu punya suatu tujuan. Benang merah di antara mereka adalah ia menyebutkan suatu toast sampanye untuk korbannya. Karena itu saya berpikir bahwa Huret mencoba menetapkan statusnya sebagai orang yang suka bersenang-senang."
"Koran-koran menamakan dirinya sebagai Pembunuh Jalanan, Holmes," aku berkata. "Jadi ia berhasil meyakinkan mereka tentang kemashyurannya."
"Tepat, Watson. Dan gentleman mana yang pernah membungkuk begitu rendah sehingga dikaitkan dengan kelas pekerja" Jelas bukan seorang kelas pengangguran."
"Jadi pembunuh kita mengambil identitas pekerja biasa untuk melaksanakan kejahatannya"" tanya Girac.
"Tepat," kata Holmes. "Bersamaan dengan toast sampanyenya, ia selalu menyebutkan sepotong puding kismis dalam surat-suratnya. Gentleman mana yang makan puding, Inspektur" Itu makanan untuk orang miskin."
"Tapi tentunya, Holmes," kataku, "mengapa Huret mau membuka rahasia, sementara pada saat yang sama, memaksakan gambarannya sebagai seorang kelas pengangguran""
Holmes mengulurkan tangan ke kotak biolanya untuk mengambil pipa. "Kau memberiku jawabannya, Watson, ketika kau berkomentar bahwa Huret membunuh untuk membuktikan superioritas mentalnya di atas mangsanya. Dan aku sudah memberi tahu dirimu bahwa kesombongan semacam itu akan menjadi titik jatuhnya Huret. Sebagian besar orang tak perlu memainkan permainan semacam itu. Huret hanya tak cukup pandai."
"Bajingan itu!" seru Girac. "Bila dipikir ia bisa lepas dari hal ini, berpura-pura menjadi salah seorang bawahanku-"
"Seorang bajingan, seperti deskripsi Dokter Watson tentang dirinya," kata Holmes, "tapi bagaimana pun bajingan yang pandai. Siapa yang lebih cocok untuk melakukan kejahatan daripada seorang pembunuh yang menyamar sebagai petugas polisi" Mereka bisa pergi ke tempat-tempat orang lain tak bisa pergi, diabaikan oleh masyarakat umum, dan tidak dicurigai. Dan, kecuali bagi beberapa orang yang cepat tanggap, polisi yang satu mirip dengan yang lain."
"Seorang pembunuh yang menyamar sebagai anggota polisi," aku berkata, terheran-heran. "Sungguh berani."
"Malam ini"" tanya Girac.
"Karena tak ada kepastian kapan Presiden akan kembali ke Paris, Huret harus menyerang sebelum Casimir-Periot pergi. Orang yang menyewanya, siapa pun mereka, saya yakin menginginkan hasil langsung. Karena itu, ia dipaksa memilih antara opera atau klub.
"Kerumunan orang di opera, saya rasa, akan membuatnya tak mungkin mendekati Presiden. Lagi pula, karena polisi mengira ia seorang gentleman, sudah sewajarnya bila mereka berasumsi ia lebih senang bertindak dalam lingkungan seperti itu. Keyakinan itu, tentu saja, salah. Kesuksesan Huret tergantung pada penipuan dan penyamaran. Dalam ketertutupan sebuah klub pribadi, kesempatan suksesnya lebih besar. Saya merencanakan sebuah jebakan, menggunakan Presiden sebagai umpan, dan Huret melangkah ke dalam sarang laba-laba saya.
"Rencananya sederhana dan efektif. Sebuah serangan oleh penjahat jalanan terhadap kereta kuda Presiden menarik Anda, Girac, menjauh dari ruang makan. Kemudian, penjahat yang sama menembakkan pistol mereka ke udara, menciptakan keributan di dalam klub. Dalam keributan yang terjadi kemudian, Huret masuk dari dapur, mengenakan seragam polisi. Dengan sedikit kekuatan kehendak, ia memerintahkan orang-orang Anda menjaga pintu depan-dari ancaman yang tak ada- sementara ia mengawal Presiden ke tempat aman. Begitu berada di luar pandangan, ia menusuk Presiden dan berjalan pergi, dalam hati menyusun suratnya untuk koran."
"Ia akan membuat saya dan orang-orang saya tampak bodoh, Mr. Holmes," kata Girac. "Hutang budi saya pada Anda tak dapat dibayar."
"Saya akan menghitung itu ketika saya mengirim tagihan pada Anda, Inspektur," jawab Holmes,
tenang. EMPAT Kami kembali ke London keesokan harinya, tiba kembali di kota untuk dihadapkan pada beberapa masalah menantang yang menyibukkan Holmes selama beberapa bulan kemudian. Kunjungan singkat kami ke Paris hampir terlupakan hingga kami menerima dua tanda mata terakhir dari kasus itu. Yang pertama adalah catatan pendek dan tepat dari Girac. "Huret terbunuh sewaktu mencoba melarikan
diri." "Seperti yang diramalkan pembunuh itu, Watson," kata Holmes, wajahnya bergaris suram,
"kasusnya tak pernah sampai ke pengadilan. Walaupun aku ragu ia sadar bahwa ia sedang meramalkan pembunuhan dirinya sendiri. Huret tahu terlalu banyak rahasia untuk dibiarkan bersaksi."
Yang kedua datang lewat pengantar surat dari Kedutaan Perancis. Dimasukkan dalam sebuah kotak adalah surat terima kasih bertulisan tangan Presiden Perancis dan Order of the Legion of Honor. Itu adalah salah satu dari sekian banyak pe
nghargaan yang diberikan pada Holmes oleh pemerintah asing, yang sebagian besar menghiasi ruangan kami di Baker Street. Holmes menatap surat dan medali itu selama beberapa waktu. Kemudian, ia memandang mataku tepat-tepat, kotak itu terletak di atas lututnya.
"Aku bukan orang bodoh, Watson, yang ditentramkan oleh perhiasan kecil dan sertifikat. Komplotan rahasia anarkis Yahudi tidak menyewa Huret. Ia disewa militer Perancis, yang berharap dengan membunuh Presiden akan tercipta permasalahan yang lebih besar bagi golongan liberal dan Yahudi di negara mereka. Pendukung dan sekutu politik Presiden sendiri menginginkannya mati, martir untuk tujuan mereka. Nyawa Presiden tak berarti apa pun bagi mereka. Aku rasa bila ia bijaksana, ia akan segera mengundurkan diri.
"Sedangkan Kapten Dreyfus, bacaanku tentang urusan itu dan juga tentang pengejaran dan penangkapan Huret telah meyakinkanku bahwa Kapten itu sama sekali tak bersalah atas seluruh tuduhan itu. Ia dijadikan kambing hitam oleh atasannya karena keyakinan religiusnya. Girac datang pada kita bukan karena ia tak mempercayai orang-orangnya, tetapi karena ia tak mempercayai pemerintahnya. Seperti yang ia katakan, korupsi ada di mana-mana. Banyak politisi dan pejabat paling penting di Perancis tahu kebenarannya tetapi tak melakukan apa pun."
Dengan desahan nafas, Holmes menjatuhkan kotak yang berisi surat tulisan tangan dan medali itu ke laci mejanya. "Bila Dreyfus bebas, aku akan mengirimkan penghargaan ini, Watson. Hingga saat itu, semua ini akan tetap tak tersentuh."
Selama dua belas tahun yang panjang, medali dan surat itu tetap tersegel dalam laci itu, bahkan setelah Holmes pindah ke Sussex. Sherlock Holmes orang yang menepati janji. Dan, meskipun ia sombong, ia orang yang menjaga kehormatan.
Duel 2 Jago Pedang 3 Badai Awan Angin Pendekar Sejati (beng Ciang Hong In Lok) Karya Liang Ie Shen Naga Pamungkas 1
^