Pencarian

Rahasia Lucinda 1

The Spiderwick Chronicles 3 Rahasia Lucinda Lucinda's Secret Bagian 1


The Spiderwick Chronicles: LUCINDA'S SECRET
Copyright 2003 by Tony DiTerlizzi and Holly Black
Published by arrangement with Simon & Schuster Books for "young Readers, an imprint of Simon & Schuster Children's Publishing Division All rights reserved.
The Spiderwick Chronicles: RAHASIA LUCINDA
Alih bahasa: Donna Widjajanto
GM 106 04.010 Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota KAPI, Jakarta, Oktober 2004
Cetakan kedua: Februari 2008
136 him.; ilustrasi; 18 cm
ISBN-10: 979 - 22 -1073 - 3 1SBN-13: 978 - 979 - 22 -1073 - 6
Dicetak oleh Percetakan Ikrar Mandiriabadi, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
Untuk nenekku, Melvina, yang mengatakan aku seharusnya menulis buku seperti ini
dan kepada siapa kukatakan aku takkan melakukannya
-H.B. Untuk Arthur Rackham, semoga kau terus memberi inspirasi kepada orang lain seperti yang kaulakukan kepadaku
-T.D. Daftar Ilustrasi Sehalaman Penuh
Surat dari Holly Black Surat dari Anak-Anak Keluarga Grace
Peta Spiderwick Estate Bab Satu: KETIKA Banyak Hal Diputar-Balik
Bab Dua: KETIKA Banyak Orang Gila
Bab Tiga: KETIKA Kisah-Kisah Diceritakan dan Pencuri Ditemukan
Bab Empat: KETIKA Anak-Anak Keluarga Grace Mencari Teman 61 Bab Lima: KETIKA
Banyak Teka-Teki dan Sedikit Jawaban 81
Bab Enam: KETIKA Jared Mewujudkan Ramalan si Phooka 97
Bab Tujuh: KETIKA Jared Akhirnya Senang Punya Saudara Kembar 115 Tentang Tony DiTerlizzi dan Holly Black 128
Peta Spiderwick Estate dan Daerah Sekitarnya. 12
Pltar-baliklah. 16 Air itu ditembus cahaya. 20
"Kita butuh Panduan Lapangan." 26
Lebih mirip istana daripada rumah sakit jiwa. 30
"Katakan padaku, apa yang terjadi." 42
"Kemarilah, sayangku." 44
Makhluk-makhluk seukuran buah walnut. 52
"Kau tidak akan memakannya, kan"" 56
Mereka masuk perpustakaan Arthur. 60
Byron tidur. 69 Dia bahkan tidak tampak baik. 73
Anak-anak lelaki berjongkok. 76
Angin musim panas bertiup di bukit. 80
"Kebanyakan tidak bisa datang sejauh ini." 88
Mereka berhenti di padang. 94
Tiga makhluk muncul. 96 Seluruh tubuhnya mulai gemetar. 104
Gambar buatan Jared Grace. 113
"Jared, tolong!" teriak Jared. 114
Mereka berbalik dan memandanginya. 118
Dia mendengar suara tawa. 122
Bab Satu KETIKA Banyak Hal Diputar-balik
JARED GRACE membalik kaus merahnya, dan mengenakannya terbalik. Dia berusaha melakukan hal yang sama dengan jinsnya, tapi ternyata sangat sulit. Panduan Lapangan Arthur Spiderwick bagi Dunia Fantastis di Sekitarmu tergeletak di atas bantalnya, terbuka pada halaman tentang alat-alat pertahanan diri. Jared telah membaca buku itu dengan teliti, tapi tidak yakin apakah pertahanan diri itu bisa banyak membantu.
Sejak pagi ketika anak-anak keluarga Grace pulang bersama si griffin, Thimbletack
selalu berbuat jahil pada Jared. Dia sering bisa mendengar si brownie di dalam dinding. Sekali-sekali Jared sempat melihatnya. Tapi sering kali, Jared hanya menjadi korban keisengan baru si brownie. Sejauh ini bulu matanya dicukur, sepatunya diisi lumpur, dan sesuatu telah mengencingi bantalnya. Mom menyalahkan kucing baru Simon untuk keisengan yang terakhir, tapi Jared tahu betul siapa yang melakukannya.
Mallory sama sekali tidak bersimpati. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya," katanya. Hanya. Simon yang sepertinya kasihan pada Jared. Dan memang dia harus bersikap begitu. Kalau Jared tidak memaksa Thimble-tack memberikan batu penglihatan, Simon mungkin sudah dipanggang hidup-hidup di kamp para goblin.
Jared mengikat sepatunya yang berlumpur setelah sebelumnya mengenakan kaus kaki yang dibalik. Dia berharap bisa menemukan cara untuk minta maaf pada Thimbletack.
Dia berusaha mengembalikan batu penglihatan itu, tapi si brownie tidak mau menerimanya. Masalahnya adalah, Jared tahu kalau semuanya terjadi lagi, dia akan melaku-kan hal yang tepat sama. Memikirkan Simon ditahan para goblin-sementara Thimbletack mengocehkan permainan kata - membuat Jared cukup marah sampai nyaris membuat tali sepatunya putus ka
rena mengikatnya terlalu kuat.
"Jared," panggil Mallory dari bawah. "Jared, ke sini sebentar."
Jared berdiri, mengepit Panduan Lapangan, lalu melangkah ke tangga. Dia langsung terjatuh, tangan dan kakinya terbentur lantai kayu. Entah bagaimana tali sepatu Jared saling terikat.
Di bawah, Mallory berada di dapur, memegang gelas di depan jendela sehingga airnya tertembus cahaya matahari dan membuat pelangi di dinding. Simon duduk di sebelahnya. Kedua saudara Jared sepertinya terpesona.
"Apa"" tanya Jared. Dia kesal dan lututnya sakit. Kalau mereka hanya ingin menunjukkan betapa cantik gelas bodoh itu, dia akan marah besar.
"Minum seteguk," kata Mallory, mengulurkan gelas itu kepada adiknya.
Jared menatapnya dengan curiga. Apakah mereka sudah meludahi air itu" Kenapa Mallory ingin Jared meminum air itu"
"Ayolah, Jared," kata Simon. "Kami sudah mencobanya."
Bel microwave berdenting dan Simon melompat untuk mengeluarkan sepotong besar irisan daging. Bagian atasnya berwarna abu-abu memuakkan, tapi sisanya masih tampak membeku.
"Apa itu"" tanya Jared sambil menatap daging itu.
"Untuk Byron," kata Simon, menjatuhkan onggokan daging itu ke mangkuk besar dan menambahkan corn flakes. "Kondisinya pasti membaik. Dia selalu lapar."
Jared nyengir. Orang lain pasti takut pada griffin selalu lapar yang sedang menyembuhkan diri di rumah kereta mereka. Tapi Simon tidak.
"Ayo," kata Mallory. "Minum."
Jared minum seteguk dan tersedak. Cairan itu membakar mulutnya dan dia meludahkan setengahnya ke lantai. Sisanya meluncur ke tenggorokannya, panas seperti api.
"Kalian gila, ya"" jeritnya sambil terbatuk-batuk. "Apa itu""
"Air dari keran," kata Mallory. "Semuanya terasa seperti itu."
"Lalu mengapa kalian menyuruhku meminumnya"" tanya Jared.
Mallory bersedekap. "Menurutmu mengapa semua ini terjadi""
"Apa maksudmu"" tanya Jared.
"Maksudku hal-hal aneh mulai terjadi saat kita menemukan buku itu, dan tidak akan berakhir sampai kita membuangnya."
"Hal-hal aneh sudah terjadi sebelum kita menemukannya!" Jared keberatan.
"Masa bodoh," kata Mallory. "Para goblin menginginkan Panduan Lapangan. Kurasa kita seharusnya memberikannya pada mereka."
Dapur sunyi beberapa saat. Akhirnya Jared berhasil berbisik tak percaya, "Apa""
"Kita harus membuang buku bodoh itu," ulang Mallory, "sebelum ada yang terluka- atau bahkan sesuatu yang lebih buruk terjadi."
"Kita kan belum tahu airnya kenapa." Jared melirik wastafel, kemarahan serasa membakar perutnya.
"Memangnya siapa yang peduli"" kata Mallory. "Ingat apa yang dikatakan Thimble-tack pada kita" Panduan Lapangan Arthur terlalu berbahaya!"
Jared tidak ingin memikirkan Thimbletack. "Kita membutuhkan buku Panduan Lapangan ini," katanya. "Kita tidak akan tahu ada brownie dalam rumah ini kalau bukan karena buku ini. Kita tidak akan tahu tentang troll, goblin, atau yang lain-lain."
"Dan mereka tidak akan tahu tentang kita," kata Mallory.
"Buku ini milikku," kata Jared.
"Jangan begitu egois!" bentak Mallory.
Jared mengertakkan rahangnya. Bagaimana bisa kakaknya menyebutnya egois" Mallory hanya terlalu takut untuk menyimpan buku itu. "Aku yang memutuskan apa yang akan terjadi pada buku ini, titik!"
"Titik, enak saja!" Mallory maju selangkah mendekati adiknya. "Kalau bukan karena aku, kau sudah mati!"
"Memangnya kenapa"" kata Jared. "Kalau bukan karena aku, kau juga sudah mati!"
Mallory menarik napas panjang. Jared nyaris bisa membayangkan uap keluar dari hidung kakaknya. "Tepat sekali. Kita semua bisa mati karena buku itu."
Mereka bertiga menatap "buku itu" yang berada dalam genggaman tangan kiri Jared. Jared berpaling pada Simon dengan marah. "Kau juga setuju dengan pendapat Mallory""
Simon mengangkat bahu dengan sikap kaku. "Panduan Lapangan membantu kita mencari tahu tentang Thimbletack dan tentang
batu yang membantu kita melihat makhluk-makhluk seperti peri."
Jared tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi," lanjut Simon dan senyum Jared lenyap, "bagaimana kalau ada lebih banyak goblin di luar sana" Aku tak tahu apakah kita bisa melawan mereka. Bagaimana kalau mereka masuk rumah" Atau menangkap Mom""
Jared menggeleng. Kalau Mal
lory dan Simon menghancurkan Panduan Lapangan, semua yang sudah mereka lakukan menjadi sia-sia! "Bagaimana kalau kita mengembalikan Panduan Lapangan tapi mereka tetap mengejar kita""
"Kenapa mereka melakukan itu"" tanya Mallory.
"Kita tetap tahu tentang keberadaan buku itu," kata Jared. "Dan kita tetap tahu bahwa makhluk-makhluk sejenis peri itu benar-benar ada. Mereka bisa saja berpikir kita akan membuat buku Panduan Lapangan yang baru."
"Aku akan memastikan kau tidak membuatnya," kata Mallory.
Jared berpaling pada Simon, yang sedang mengaduk potongan daging dan sereal dengan sendok kayu. "Dan bagaimana dengan si griffin" Para goblin menginginkan Byron, kan" Apakah kita akan mengembalikannya juga""
"Tidak," kata Simon, memandang ke halaman di balik gorden tua. "Kita belum bisa melepaskan Byron. Kondisinya belum pulih benar."
"Tidak ada yang mencari Byron," kata Mallory. "Ini tidak sama."
Jared berusaha memikirkan cara untuk meyakinkan saudara-saudaranya, sesuatu yang akan membuktikan bahwa mereka membutuhkan Panduan Lapangan. Dia tidak lebih mengerti tentang makhluk-makhluk sebangsa peri daripada Simon atau Mallory. Dia bahkan tidak tahu mengapa makhluk-makhluk itu menginginkan buku ini saat satu-satunya
hal dalam Panduan Lapangan tersebut adalah tentang diri mereka. Apakah para peri hanya tidak ingin manusia membacanya" Satu-satunya orang yang tahu jawabannya adalah Arthur dan dia sudah lama meninggal. Jared tersentak saat memikirkan itu.
"Ada seseorang yang bisa kita tanyai- seseorang yang mungkin benar-benar tahu apa yang harus dilakukan," kata Jared.
"Siapa"" tanya Simon dan Mallory bersamaan.
Jared menang. Buku itu aman-paling tidak untuk sekarang.
Dia menyeringai. "Bibi Lucinda."
Bab Dua KETIKA Banyak Orang Gila KALIAN manis sekali mau mengunjungi bibi kalian," kata Mom, tersenyum lewat kaca spion kepada Jared dan Simon. "Aku tahu dia akan menyukai kue-kue yang kalian buat."
Di luar jendela mobil, pepohonan berlalu, daun-daunnya kuning dan merah di antara cabang-cabang yang gundul.
"Mereka tidak membuat kue-kue itu," kata Mallory. "Mereka hanya mengatur adonan beku di atas loyang."
Jared menendang bagian belakang tempat duduknya, keras.
"Hei," kata Mallory, berbalik dan berusaha meraih adiknya. Jared dan Simon menyeringai. Kakak mereka takkan bisa meraih mereka saat memakai sabuk pengaman.
"Well, itu lebih berarti daripada yang sudah kaulakukan," kata ibu mereka. "Kau masih dihukum, nona muda. Kalian bertiga masih dihukum seminggu lagi."
"Aku kan latihan anggar," kata Mallory sambil mengenyakkan diri di tempat duduknya dan memutar bola matanya. Jared tidak yakin, tapi sepertinya ada yang aneh karena telinga kakaknya memerah saat bicara tadi.
Tanpa sadar Jared menyentuh ranselnya, merasakan bagian luar Panduan Lapangan di dalamnya, aman, terbungkus handuk. Selama dia membawa buku itu ke mana pun dia pergi, tidak mungkin Mallory menyingkirkannya dan tidak mungkin para makhluk aneh mengambilnya. Lagi pula, mungkin Bibi
Lucinda tahu sesuatu tentang Panduan Lapangan. Mungkin dialah yang menyembunyikan buku itu dalam bagian dasar palsu peti untuk ditemukan Jared. Kalau memang begitu, mungkin Bibi Lucy bisa meyakinkan Mallory dan Simon bahwa buku itu cukup penting untuk disimpan.
Rumah sakit tempat bibi mereka tinggal sangat besar. Bangunan itu lebih mirip istana daripada rumah sakit jiwa, dengan dinding-dinding bata merah kokoh, lusinan jendela, dan lapangan rumput yang terpangkas rapi. Jalan batu putih yang lebar berpagar bunga krisan merah karat dan kuning emas menuju jalan masuk batu. Paling tidak sepuluh cerobong asap menjulang dari atap yang hitam.
"Wow, tempat ini tampak lebih tua daripada rumah kita," kata Simon.
"Lebih tua," kata Mallory, "tapi kalah menyeramkan."
"Mallory!" kata ibu mereka memperingatkan.
Kerikil bergemeretuk di bawah ban mobil saat mereka memasuki lapangan parkir. Ibu mereka memilih tempat di sebelah mobil tua berwarna hijau dan mematikan mesin.
"Apakah Bibi Lucy tahu kita akan datang"" tanya Simon.
"Aku sudah menelepon," kata Mrs. Grace,
membuka pintu mobil dan meraih tasnya. "Tapi aku tid
ak tabu seberapa banyak yang mereka katakan padanya, jadi jangan kecewa kalau Bibi Lucy tidak sedang menunggu-nunggu kita."
"Aku berani bertaruh kita orang pertama yang mengunjunginya setelah jangka waktu lama," kata Jared.
Ibunya menatapnya sambil melotot. "Pertama-tama, itu bukan hal yang baik untuk dikatakan, dan kedua, kenapa kau mengenakan kausmu terbalik""
Jared menunduk dan mengangkat bahu.
"Grandma mengunjunginya, ya kan"" tanya Mallory.
Ibu mereka mengangguk. "Dia datang berkunjung, tapi selalu be rat baginya. Lucy lebih seperti kakaknya sendiri daripada sepupu. Kemudian saat dia
mulai... mengalami kemunduran... Grandma-lah yang harus mengurus segalanya."
Jared ingin bertanya apa artinya itu, tapi sesuatu membuatnya ragu-ragu.
Mereka berjalan melalui pintu kayu walnut lebar institusi itu. Ada meja di ruang depan, tempat pria berseragam duduk di baliknya, membaca koran. Dia mendongak menatap mereka dan meraih telepon warna kuning.
"Tolong isi ini." Dia mengangguk ke arah buku yang terbuka. "Kalian akan menengok
siapa"" "Lucinda Spiderwick." Ibu mereka membungkuk di atas meja dan menuliskan nama-nama mereka.
Saat mendengar nama Bibi Lucy, pria itu mengerutkan dahi. Saat itu Jared langsung merasa dia sama sekali tidak menyukainya.
Dalam beberapa menit seorang perawat berkaus merah muda polkadot muncul. Dia mengantar mereka melalui lorong-lorong putih berliku-liku yang pengap dan agak
beraroma zat antiseptik. Mereka melewati kamar-kamar kosong tempat televisi berkedip-kedip, dan entah di mana di dekat mereka terdengar tawa geli. Jared mulai memikirkan rumah sakit jiwa dalam film-film dan membayangkan orang-orang dengan mata nanar dalam jaket pengaman, menggigiti ikatan mereka. Dia mengintip melalui jendela pintu-pintu yang mereka lewati.
Dalam satu kamar, seorang pemuda mengenakan jubah mandi sedang tertawa melihat buku yang terbalik, sementara dalam kamar lain seorang wanita sedang terisak di dekat jendela.
Jared berusaha mengalihkan pandangannya dari pintu-pintu itu, tapi dia mendengar seseorang berseru, "Pasangan dansaku sudah datang!" Dia mengintip lagi dan melihat pria berambut putih menekankan wajahnya ke jendela pintu.
"Mr. Byrne!" Si perawat melangkah ke antara Jared dan pintu.
"Itu semua salahmu," kata pria itu, menunjukkan giginya yang kuning.
"Kau tidak apa-apa"" tanya Mallory.
Jared mengangguk, berusaha berpura-pura tidak gemetar.
"Apakah itu sering terjadi"" tanya Mrs. Grace.
"Tidak," jawab si perawat. "Aku sangat menyesal. Dia biasanya sangat pendiam."
Sebelum Jared bisa memutuskan apakah kunjungan ini ide bagus atau tidak, si perawat berhenti di depan pintu tertutup, mengetuk dua kali, dan membukanya tanpa menunggu jawaban. Kamar itu kecil dan warnanya putih kusam seperti warna cat di lorong. Di
tengah kamar ada tempat tidur rumah sakit dengan kepala besi, dan duduk di atasnya, dengan kaki terbungkus selimut, adalah salah satu wanita tertua yang pernah dilihat Jared. Rambutnya yang panjang seputih gula. Kulitnya juga pucat, nyaris transparan. Punggungnya bungkuk dan menekuk ke satu sisi. Pada gantungan besi di sisi tempat tidurnya terkait sekantong cairan dengan tube panjang yang terhubung dengan infus di tangannya. Tapi matanya, saat menatap Jared, sangat cerah dan sadar.
"Jendelanya kututup saja ya, Miss S."" Tanya si perawat, bergerak melewati meja samping tempat tidur yang penuh foto-foto antik dan pernak-pernik. "Kau bisa kena flu."
"Tidak!" bentak Lucinda, dan si perawat berhenti di tengah langkahnya. Kemudian dengan suara yang lebih lembut bibi tua mereka melanjutkan. "Biarkan saja. Aku buruh udara segar."
"Halo, Bibi Lucy," kata Mom ragu-ragu. "Kau ingat aku" Aku Helen."
Wanita tua itu mengangguk kecil, sepertinya berhasil menenangkan diri. "Tentu saja. Putri Melvina. Ya ampun. Kau lebih tua daripada yang kuingat."
Jared melihat ibunya tidak terlalu menyukai pengamatan itu.
"Ini putra-putraku, Jared dan Simon," kata Mrs. Grace. "Dan ini putriku, Mallory. Kami tinggal di rumahmu dan anak-anak ingin menemuimu."
Bibi Lucy mengerutkan kening. "Rumah" Kalian tidak aman tinggal di sana."
"Kami sudah memanggil tukang untuk mengadakan perbaikan," kata Mom. "Dan lihat, anak-anak membawa kue."
"Baik sekali." Wanita tua itu memandang piring kue seolah terisi penuh dengan tumpukan kecoak.
Jared, Simon, dan Mallory berpandangan.
Si perawat mendengus. "Tidak ada yang
bisa kalian lakukan," katanya pada Mrs. Grace, sepertinya tidak peduli Bibi Lucy bisa mendengarnya. "Dia tidak mau memakan apa pun saat ada kita."
Bibi Lucy menyipitkan matanya. "Aku tidak tuli, tahu."
"Kau tidak mau mencoba satu"" tanya Mom, membuka penutup kue bersalut gula itu dan mengajukan piring tersebut kepada Bibi Lucinda.
"Sayang sekali tidak," kata wanita tua itu. "Aku rasa aku cukup kenyang saat ini."
"Mungkin kita bisa bicara di lorong," bisik ibu mereka pada si perawat. "Aku tidak tahu keadaannya seburuk ini." Dengan ekspresi khawatir dia meletakkan piring kue
itu dan meninggalkan kamar bersama si perawat.
Jared nyengir pada Simon. Ini bahkan lebih baik daripada yang mereka harapkan. Sekarang paling tidak mereka bisa sendirian beberapa menit.
"Bibi Lucy," kata Mallory cepat-cepat. "Saat Anda bilang pada ibu kami bahwa rumah itu berbahaya, maksud Anda bukan konstruksi bangunannya, kan""
"Maksud Anda makhluk-makhluk seperti peri," kata Simon.
"Tidak apa-apa membicarakannya dengan kami. Kami sudah melihat mereka," sambung Jared.
Bibi mereka tersenyum pada mereka, tapi senyumnya sedih. "Makhluk-makhluk itulah yang kumaksudkan," katanya, menepuk sisi tempat tidurnya. "Kemarilah. Duduklah kalian bertiga. Katakan padaku, apa yang terjadi."
Bab Tiga KETIKA kisah-kisah Diceritakan dan Pencuri Ditemukan
KAMI sudah melihat goblin, troll, dan griffin," kata Jared memberitahu bibinya dengan penuh semangat saat mereka duduk di kaki tempat tidur rumah sakit itu. Rasanya melegakan sekali ada yang memercayainya. Sekarang kalau saja Bibi Lucy bisa menjelaskan betapa pentingnya Panduan Lapangan, semuanya akan baik-baik saja.
"Dan Thimbletack," sambung Mallory, mengambil kue dan menggigit. "Kami sudah melihatnya, meskipun kami tidak yakin dia termasuk brownie atau boggart."
"Benar," kata Jared. "Tapi kami perlu menanyakan sesuatu yang penting kepadamu."
"Thimbletack"" tanya Bibi Lucinda, menepuk-nepuk tangan Mallory. "Aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Bagaimana penampilannya sekarang" Sama saja, kurasa. Mereka selalu sama saja, kan""
"Aku... aku tidak tahu," kata Mallory.
Bibi Lucy meraih laci di meja samping tempat tidurnya dan mengeluarkan kantong kain hijau lusuh dengan sulaman bintang-bintang. "Thimbletack suka ini."
Jared mengambil kantong itu dan mengintip ke dalamnya. Biji-biji bekel serta beberapa kelereng batu dan tanah liat berkilau di dalamnya. "Ini miliknya""
"Oh, tidak," kata Bibi Lucy. "Itu milikku, atau dulu begitu, saat aku cukup muda untuk memainkannya. Aku ingin memberikannya pada Thimbletack. Makhluk malang, sendirian di rumah tua itu. Dia pasti senang kalian datang."
Jared merasa Thimbletack tidak sesenang itu, tapi tidak tidak mengatakannya.
"Apakah Arthur ayah Anda"" tanya Simon.
"Ya. Ya, dia ayahku," kata Bibi Lucy sambil mendesah. "Apakah kalian sudah melihat lukisannya di rumah""
Mereka mengangguk. "Dia artis berbakat. Dia biasa membuat ilustrasi iklan untuk minuman soda pop dan stoking wanita. Dia membuat boneka kertas untuk Melvina dan aku. Kami punya semap penuh boneka, dengan pakaian berbeda untuk tiap musim. Aku ingin tahu ke mana semua itu."
Jared mengangkat bahu. "Mungkin ada di loteng."
"Bukan masalah. Ayahku sudah pergi begitu lama sekarang. Aku tidak yakin aku ingin melihat benda-benda itu."
"Kenapa tidak"" tanya Simon.
"Membuka lagi kenangan lama. Ayahku meninggalkan kami, tahu." Bibi Lucy memandangi tangannya yang kurus. Kedua tangan itu gemetar. "Ayahku pergi jalan-jalan suatu hari dan tak pernah kembali. Ibuku bilang sudah tahu ayahku akan pergi sejak lama."
Jared kaget. Dia tidak pernah benar-benar memikirkan seperti apa Paman Arthur. Dia mengingat-ingat wajah tegas berkacamata dalam lukisan di perpustakaan. Dia ingin menyukai paman buyutnya, yang bisa melukis dan melihat makhluk-makhluk seperti peri. Tapi kalau yang d
ikatakan Lucinda benar, Jared sama sekali tidak menyukai Arthur.
"Ayah kami juga pergi," kata Jared.
"Aku hanya ingin tahu kenapa." Bibi Lucy memalingkan wajah, tapi Jared merasa melihat kilauan air di matanya. Wanita tua itu
saling menekan kedua tangannya supaya berhenti gemetar.
"Mungkin dia harus pindah demi pekerjaannya," kata Simon. "Seperti ayah kami."
"Oh, ayolah, Simon," kata Jared. "Kau tak mungkin memercayai kebohongan itu, kan""
"Diamlah, bodoh." Mallory memelototi kedua adiknya. "Bibi Lucy, bagaimana Anda bisa berada di rumah sakit ini" Maksud saya, Anda kan tidak gila."
Jared berjengit, yakin Bibi Lucy akan marah, tapi wanita tua itu hanya tertawa. Kemarahan Jared menyurut.
"Setelah Ayah pergi, Ibu dan aku pindah ke kota sebelah untuk tinggal bersama saudara laki-lakinya. Aku tumbuh dewasa di sisi sepupuku Melvina-nenek kalian. Aku menceritakan padanya tentang Thimbletack dan tentang para sprite kecil, tapi kurasa dia tidak terlalu memercayaiku.
"Ibuku meninggal saat aku berusia enam belas. Setahun kemudian aku kembali pindah ke Spiderwick Estate. Aku berusaha menggunakan uangku yang sedikit untuk memperbaiki tempat itu. Thimbletack masih ada di sana, tentu saja, tapi ada makhluk-makhluk lain juga. Kadang-kadang aku melihat sosok-sosok mengendap-endap dalam kegelapan. Kemudian suatu hari mereka berhenti bersembunyi. Mereka pikir aku punya buku ayahku. Mereka mencubitku, memukulku, dan berkeras supaya aku memberikan buku itu kepada mereka. Tapi aku tidak memilikinya. Ayah pasti membawa buku itu bersamanya. Dia tak mungkin meninggalkannya."
Jared mau mulai bicara, tapi bibinya tenggelam dalam kenangan dan tidak memerhatikannya.
"Suatu malam, makhluk-makhluk itu membawakanku sepotong buah - benda kecil - seukuran anggur dan semerah mawar. Mereka berjanji tidak akan menyakitiku lagi. Betapa bodohnya aku, aku mengambil buah itu dan memastikan nasibku."
"Apakah itu racun"" tanya Jared, teringat pada Putri Salju dan buah apel beracun.
"Sejenis itu," kata Bibi Lucy sambil tersenyum aneh. "Rasanya lebih enak daripada makanan apa pun yang pernah kubayangkan. Mungkin rasanya sama dengan bayanganku tentang rasa bunga. Mungkin rasanya seperti lagu yang tak bisa kaubayangkan judulnya. Setelah itu, makanan manusia-makanan normal-terasa seperti serbuk gergaji dan abu. Aku tak bisa memaksa diriku memakannya. Aku bisa saja mati kelaparan."
"Tapi Anda tidak mati kelaparan," kata Mallory.
"Terima kasih pada para sprite yang bermain denganku saat aku kecil. Mereka memberiku makan dan terus menjagaku." Bibi Lucy tersenyum anggun dan mengulurkan sebelah tangannya. "Izinkan kuperkenalkan. Kemarilah, sayangku, datanglah dan temui keponakan-keponakanku."
Ada suara dengung di luar jendela kamarnya dan apa yang sepertinya debu mengambang di cahaya tiba-tiba menjadi makhluk-makhluk seukuran walnut, terbang dengan sayap-sayap tembus cahaya. Mereka mendekati wanita tua itu, berayun-ayun pada rambutnya yang putih, dan merangkak ke kepala tempat tidur.
"Mereka manis, kan"" tanya bibi mereka. "Teman-teman kecilku yang manis."
Jared mengenali mereka - sprite, seperti yang di hutan-tapi tetap saja rasanya tetap mengerikan melihat makhluk-makhluk itu bermain-main di sekeliling bibinya. Simon, entah bagaimana, tampak terpesona.
Mallory bicara, memecahkan keheningan yang melingkupi mereka. "Saya masih tidak
mengerti siapa yang memasukkan Anda ke
sini." "Oh ya, rumah sakit ini," kata Bibi Lucy. "Nenek kalian Melvina menjadi yakin aku tidak baik-baik saja. Pertama-tama dia melihat memar-memar lalu kurangnya nafsu makanku. Kemudian sesuatu terjadi. Aku tidak ingin menakuti kalian-tidak, itu tidak benar. Aku memang ingin kalian takut. Aku ingin kalian mengerti betapa pentingnya kalian keluar dari rumah itu.
"Lihat tanda-tanda ini"" Wanita tua itu mengulurkan sebelah tangannya yang kurus. Bekas luka tampak membekas dalam dagingnya. Simon tersentak. "Suatu malam para monster datang. Makhluk-makhluk hijau kecil dengan gigi menyeramkan memegangiku, sementara makhluk raksasa menanyaiku. Aku memberontak, dan cakar-cakar mereka melukai tangan dan kakiku. Ak
u memberitahu mereka tidak ada buku, ayahku membawanya, tapi tidak ada kata-kata yang bisa mengubah apa pun. Sebelum malam itu, punggungku tegak. Sejak itu, aku harus berjalan membungkuk.
"Tanda-tanda ini adalah yang terakhir bagi Melvina. Dia percaya aku melukai diriku sendiri. Dia tak bisa mengerti... jadi dia mengirimku ke sini."
Salah satu sprite, yang hanya mengenakan daun hijau bergerigi, terbang mendekat dan menjatuhkan sepotong buah di selimut dekat Simon. Jared mengerjapkan mata-dia begitu terpesona dengan kisah bibinya, sehingga nyaris melupakan makhluk-makhluk itu. Buah itu tercium seperti rumput segar dan madu. Kulitnya seperti kertas, tapi di bawah kulit itu Jared bisa melihat dagingnya yang merah. Bibi Lucinda menatapnya dan bibirnya mulai gemetar.
"Untukmu," kata para sprite kecil dengan bisikan kompak. Simon mengambil buah itu dan memegangnya.
"Kau tidak akan memakannya, kan"" tanya Jared. Melihat buah itu saja sudah membuat air liurnya menetes.
"Tentu saja tidak," kata Simon, tapi matanya berkilau serakah.
"Jangan," kata Mallory.
Simon memegang buah peri itu lebih dekat ke mulutnya, memutar-mutarnya. "Satu gigit, hanya satu gigit tidak akan membuatku sakit," katanya lembut.
Tangan Bibi Lucinda bergerak cepat dan meraih buah itu dari jari-jari Simon. Dia memasukkannya ke mulut dan memejamkan mata.
"Hei," kata Simon kesal, terlompat. Kemudian dia memandang ke sekeliling, bingung. "Apa yang terjadi""
Jared menatap bibi buyutnya. Tangan wanita tua itu gemetar, meskipun dia menyatukan keduanya di pangkuan.
"Maksud mereka baik," katanya. "Mereka hanya tidak mengerti rasa lapar. Bagi mereka buah itu hanya makanan."
Jared menatap sprite-sprite kecil itu. Dia tidak yakin apa saja yang mereka ketahui atau tidak.
"Tapi sekarang kalian sudah tahu mengapa rumah itu terlalu berbahaya bagi anak-anak seperti kalian. Kalian harus membuat ibu kalian mengerti, dan pindah. Kalau mereka tahu kalian di sana, mereka akan berpikir kalian memiliki Panduan Lapangan dan mereka tidak akan membiarkan kalian hidup tenang."
"Tapi kami memang memiliki Panduan Lapangan," kata Jared. "Itulah yang ingin kami tanyakan pada Anda."
Bibi Lucy tersentak. "Kalian tidak mungkin - "
"Kami mengikuti petunjuk dalam perpustakaan," kata Jared menjelaskan.
"Lihat, dia menua kita harus menghancurkannya!" kata Mallory.
"Perpustakaan" Itu berarti...," Bibi Lucy memandang Jared dengan ketakutan. "Kalau kalian memiliki Panduan Lapangan, kalian harus keluar dari rumah itu. Segera! Kalian mengerti""
"Panduan Lapangan-nya ada di sini." Jared membuka ranselnya dan mengeluarkan buku terbungkus handuk itu. Tapi saat dia membukanya, bukan Panduan Lapangan yang muncul. Mereka semua menatap buku resep tua yang lusuh, Microwave Magic-Keajaiban Microwave.
Jared berbalik ke arah Mallory. "Kau! Kau mencurinya!" Dia menjatuhkan ranselnya dan menyerang kakaknya dengan kedua tinju.


The Spiderwick Chronicles 3 Rahasia Lucinda Lucinda's Secret di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bab Empat KETIKA Anak-Anak Keluarga Grace Mencari Teman
JARED menekan wajahnya ke kaca jendela mobil dan berusaha berpura-pura dia tidak menangis. Air mata berlinang, terasa panas di pipinya. Dia membiarkan air mata itu membasahi kaca yang dingin.
Dia tidak memukul Mallory. Simon meraih tangannya sementara Mallory terus berkeras dia tidak mengambil Panduan Lapangan. Teriakan-teriakan mereka membuat ibu mereka kembali ke kamar. Dia menyeret anak-anaknya keluar dari sana, sambil minta maaf pada perawat dan bahkan pada Bibi Lusy, yang harus diberi obat penenang. Dalam perjalanan kembali ke mobil, ibunya berkata Jared beruntung orang-orang di institusi itu tidak mengurungnya.
"Jared," bisik Simon, menyentuh punggung saudara kembarnya.
"Apa"" gumam Jared tanpa berpaling.
"Mungkin Thimbletack yang mengambil-nya.'
Jared bergerak di tempat duduknya. Seluruh tubuhnya menegang. Saat mendengarnya, dia tahu itu pasti benar. Itu keisengan Thimbletack yang terakhir dan balas dendamnya yang terbaik.
Perutnya terasa seolah baru disiram air dingin. Kenapa dia tidak bisa menduganya sendiri" Kadang-kadang dia begitu marah sehingga membuat dirinya sendiri takut. Rasanya seolah pikirannya menjadi kosong dan tubu
hnya mengambil alih kendali.
Saat mereka sampai di rumah, Jared keluar dari mobil dan duduk di tangga belakang bukannya masuk rumah mengikuti ibunya. Mallory duduk di sampingnya.
"Aku tidak mengambilnya," katanya. "Ingat saat kami memercayaimu" Sekarang lebih baik kau memercayaiku."
"Aku tahu," jawab Jared, menunduk. "Kupikir ini perbuatan Thimbletack. Aku... aku minta maaf."
"Kaupikir Thimbletack mengambil Panduan Lapangan"" tanya kakaknya.
"Simon merasa begitu," kata Jared. "Itu masuk akal. Tbimbletack terus mengerjaiku. Ini yang terburuk sejauh ini."
Simon duduk di sebelah Jared di tangga. "Tidak apa-apa. Kita akan menemukannya."
"Dengar," kata Mallory, menarik benang yang lepas dari hem sweternya. "Mungkin ini yang terbaik."
"Tidak, tidak mungkin," kata Jared. "Bahkan kau pun bisa melibat ini bukan yang terbaik. Kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Para peri tidak memercayai Bibi Lucinda saat dia bilang dia tidak memiliki buku itu-kenapa mereka mau memercayai kita""
Mallory mengerutkan kening dan tidak menjawab.
"Aku tadi berpikir," kata Simon. "Bibi Lucy bilang ayahnya meninggalkan mereka, benar kan" Tapi kalau Panduan Lapangan masih tersembunyi dalam rumah, mungkin Arthur tidak meninggalkannya dengan sengaja. Bibi Lucy bilang ayahnya tidak pernah pergi tanpa buku itu."
"Kalau begitu bagaimana bisa buku itu masih tersembunyi"" tanya Jared. "Kalau para peri menangkapnya, dia kan bisa mem-beritahu di mana buku itu."
"Mungkin dia lari sebelum ada peri yang bisa menangkapnya," kata Mallory. "Membiarkan Bibi Lucy yang kena batunya. Mungkin ayahnya tahu masalah besar itu."
"Arthur tidak akan melakukan itu," kata Jared. Tapi begitu mengatakannya, dia bertanya-tanya apakah itu benar.
"Ayolah," kata Simon. "Kita takkan pernah bisa tahu jawabannya. Ayo, kita kunjungi Byron. Dia mungkin sudah lapar lagi, dan mengurusnya bisa membuat kita melupakan Panduan Lapangan."
Mallory mendengus. "Yeah, mengunjungi griffin yang tinggal di rumah kereta kita pasti bisa membuat kita melupakan buku tentang makhluk-makhluk supranatural."
Jared tersenyum samar. Dia tak bisa berhenti memikirkan buku itu, Bibi Lucy dan Arthur, dan dirinya sendiri, Mallory, dan kemarahan yang dia tak tahu harus diapakan.
Jared menatap kakaknya. "Aku minta maaf tadi hendak memukulmu."
Mallory mengacak-acak rambut adiknya dan berdiri. "Pukulanmu toh seperti pukulan cewek."
"Tidak," kata Jared, tapi dia berdiri dan mengikuti Mallory dan Simon ke dalam sambil menyeringai.
Potongan kertas yang sudah tua dan menguning tergeletak di meja dapur. Jared melangkah mendekat. Di atasnya tertulis puisi.
"Thimbletack," kata Jared.
Anak gegabah yang merada pintar Mencari bukumu" Mungkin aku merobek-robeknya sampai tersebar Atau menyembunyikannya di tempat tak mungkin ketemu.
"Wow, dia benar-benar marah," kata Simon.
Perasaan Jared antara lega dan takut. Buku itu ada di tangan Thimbletack, tapi apa yang dilakukan boggart itu" Apakah buku itu sudah dihancurkan"
"Hei, aku tahu," kata Mallory penuh harap. "Mainan bekel dan kelereng Bibi Lucy. Kita bisa meninggalkannya untuk Thimbletack."
"Aku akan menulis pesan." Simon membalik kertas itu dan menulis sesuatu di baliknya.
"Apa pesanmu"" tanya Mallory.
"Kita menyesal," kata Simon.
Jared menatap pesan itu dengan perasaan tak yakin. "Aku tidak yakin itu dan sekantong mainan tua akan cukup baik."
Simon mengangkat babu. "Thimbletack tidak bisa marah terus-terusan."
Jared takut makhluk itu bisa melakukannya.
Byron sedang tidur saat mereka datang menengoknya, sisi tubuhnya yang berbulu bergerak naik-turun mengikuti napasnya. Matanya bergerak-gerak di balik kelopak yang menutup. Simon berkata sebaiknya mereka tidak membangunkan makhluk itu, jadi mereka meninggalkan sepiring daging lagi di samping paruhnya dan kembali ke rumah.
Mallory mengusulkan suatu permainan, tapi Jared terlalu gugup untuk melakukan apa pun kecuali berusaha mencari tahu di mana Thimbletack menyembunyikan Panduan Lapangan. Dia mondar-mandir di ruang duduk, berusaha berpikir.
Mungkin itu seperti teka-teki, dan ada cara memecahkannya. Jared memikirkan pesan
itu lagi, membolak-baliknya dalam pikiran, mencari petunjuk.
"Tidak mungkin dalam dinding." Mallory duduk menyilangkan kaki di sofa. "Buku itu terlalu besar. Bagaimana dia bisa memasukkannya ke sana""
"Ada banyak ruangan yang bahkan belum pernah kita masuki," kata Simon sambil duduk di samping kakaknya. "Banyak tempat yang belum kita lihat."
Jared berhenti di tengah langkahnya. "Tunggu. Bagaimana dengan yang ada di depan kita""
"Apa"" tanya Simon.
"Dalam perpustakaan Arthur! Ada begitu banyak buku di sana, buku itu bisa saja terlewat oleh kita."
"Hei, itu benar," kata Mallory.
"Yeah," kata Simon. "Dan bahkan kalau Panduan Lapangan tidak ada di sana-siapa tahu kita menemukan sesuatu yang lain."
Mereka bertiga naik ke lorong atas dan membuka lemari baju. Sambil merangkak, Jared melalui jalan rahasia di bawah rak terbawah dan masuk ke perpustakaan Arthur. Dinding-dindingnya penuh rak buku, kecuali dinding tempat tergantung lukisan besar paman buyut mereka. Meskipun mereka sudah sering berkunjung ke perpustakaan itu, debu masih menyelimuti sebagian besar rak buku, bukti betapa sedikit buku yang sudah dilihat dengan saksama.
Mallory dan Simon merangkak di belakangnya.
"Kita mulai di mana"" tanya Simon, melihat ke sekelilingnya.
"Kau mulai di meja," kata Mallory. "Jared, kau mulai di rak buku itu, dan aku di rak buku yang ini."
Jared mengangguk dan berusaha menyingkirkan debu di rak pertama. Buku-bukunya sama anehnya seperti yang dia ingat dari kunjungan-kunjungan awal ke perpustakaan: Fisiognomi Sayap, Pengaruh Skala pada Otot, Racun-Racun di Dunia, dan Detail Draconite. Saat pertama kali Jared melibatnya, ada kekaguman yang sekarang tidak ada. Dia mati rasa. Panduan Lapangan hilang, Thimbletack membencinya, dan Arthur ternyata tidak seperti bayangannya. Ini semua tipuan-semua keajaiban ini. Sepertinya begitu hebat, tapi di baliknya, keajaiban ini sama mengecewakannya seperti segala hal lain.
Jared melirik lukisan Arthur yang tergantung di dinding. Bagi Jared, pria itu bahkan tidak tampak baik lagi. Arthur dalam lukisan berbibir tipis dengan kerutan di antara alisnya yang menurut Jared sekarang menyebalkan. Pria itu mungkin bahkan sudah memikirkan akan meninggalkan keluarganya.
Pandangan Jared mengabur dan matanya terasa panas. Bodoh sekali menangis karena orang yang belum pernah ditemuinya, tapi dia tak bisa menahan diri.
"Kau menggambar ini"" tanya Simon dari arah meja tulis.
Jared mengelap wajahnya dengan lengan bajunya, berharap saudara kembarnya tidak melihat air matanya. "Buang saja."
"Tidak," kata Simon. "Gambar ini bagus. Benar-benar mirip Dad."
Belajar menggambar adalah ide bodoh yang lain. Kegiatan itu hanya membuatnya terlibat kesulitan di sekolah karena sibuk mencoret-coret bukan bekerja. Jared berjalan ke meja dan merobek gambar itu menjadi dua, meremasnya dalam genggaman. "Buang saja!"
"Guys, " kata Mallory. "Ke sini deh."
Mallory membawa beberapa gulungan kertas dan dua tube metal panjang. "Lihat." Dia berjongkok dan mulai membuka gulungan kertas itu di lantai.
Jared dan Simon berjongkok di sampingnya. Pada kertas itu, tergambar dengan pensil dan diwarnai dengan cat air, ada peta daerah sekitar mereka. Beberapa tempat tampak tidak tepat-ada lebih banyak rumah dan jalan sekarang-tapi ada banyak tempat yang masih mereka kenali. Tapi catatan yang menyertainya merupakan kejutan.
Ada lingkaran tipis mengelilingi hutan di belakang rumah mereka, dengan huruf-huruf tertulis dalam lingkaran itu.
"Daerah Perburuan Troll," baca Simon.
Mallory mengeluh. "Kalau saja kita punya ini sebelumnya!"
Di sepanjang jalan dekat tambang tua tertulis, dwarf", sementara pohon tidak jauh dari rumah dengan jelas ditandai sprite.
Tapi yang paling aneh adalah catatan di ujung bukit-bukit, dekat rumah mereka. Sepertinya ditulis dengan terburu-buru, karena tulisan tangannya berantakan. Tulisan itu berbunyi, "14 September. Pukul 17.00. Bawa sisa buku."
"Menurutmu ini apa"" tanya Simon.
"Mungkinkan buku' ini maksudnya Panduan Lapangan"" tanya Jared keras-keras.
Mallory menggeleng. "Mungkin saja, tapi Panduan Lapangan tetap ada di sini waktu it
u." Sesaat mereka saling memandang dalam diam.
"Kapan Arthur menghilang"" tanya Jared akhirnya.
Simon mengangkat bahu. "Mungkin hanya Bibi Lucy yang ingat."
"Jadi entah dia pergi ke pertemuan itu dan tak pernah kembali," kata Mallory, "atau dia pergi begitu saja dan tak pernah datang ke pertemuan itu."
"Kita harus menunjukkan ini pada Bibi Lucinda," kata Jared.
Kakaknya menggeleng. "Ini tidak membuktikan apa-apa. Bisa jadi malah membuatnya lebih kesal."
"Tapi mungkin Arthur tidak bermaksud pergi," kata Jared sambil mengerutkan kening. "Tidakkah kalian pikir Bibi Lucy harus tahu itu""
"Kita pergi dan lihat sendiri yuk," kata Simon. "Kita bisa mengikuti peta dan melihat ke mana jalan ini menuju. Mungkin ada petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi."
Jared ragu-ragu. Dia ingin pergi. Dia sudah nyaris mengusulkannya sendiri sebelum Simon bicara. Tapi sekarang dia tak bisa berhenti memikirkan apakah ini sejenis jebakan.
"Mengikuti peta ini bisa jadi tindakan yang benar-benar bodoh," kata Mallory. "Apalagi kalau kita menduga sesuatu memang terjadi pada Arthur di luar sana."
"Peta ini begitu tua, Mallory," kata Simon. "Apa yang bisa terjadi""
"Kata-kata terakhir yang terkenal," kata Mallory, tapi dia mengikuti bukit-bukit dalam peta dengan hati-hati dengan jari-jarinya.
"Ini satu-satunya cara kita bisa menemukan sesuatu," kata Jared.
Mallory mendesah. "Kurasa kita bisa melihat. Selama masih terang. Tapi begitu ada yang aneh, kita kembali. Setuju""
"Setuju," kata Jared sambil tersenyum.
Simon mulai menggulung peta itu. "Setuju," katanya.
Bab Lima KETIKA Banyak Teka-Teki dan Sedikit Jawaban
JARED terkejut ketika ibu mereka mengizinkan mereka berjalan-jalan se-bentar. Dia merasa anak-anaknya sering ber-tengkar karena terkurung dalam rumah, tapi satu tatapan galak ke arah Jared membuat ketiga anak berjanji kembali sebelum gelap. Mallory meraih anggarnya, Jared membawa ranselnya juga catatan baru, dan Simon membawa jaring penangkap kupu-kupu dari perpustakaan.
"Untuk apa itu"" tanya Mallory saat mereka menyeberangi Dulac Drive, mengikuti peta.
"Menangkap sesuatu," kata Simon, tanpa menatap kakaknya.
"Sesuatu macam apa" Bukankah kau sudah punya cukup banyak hewan peliharaan""
Simon mengangkat bahu. "Kalau kau membawa hewan baru satu lagi, aku akan membuatnya jadi makanan Byron."
"Hei," kata Jared menyela mereka. "Ke arah mana""
Simon mempelajari peta, lalu menunjuk.
Simon, Mallory, dan Jared mulai mendaki bukit curam itu. Pepohonan berdiri jarang-jarang, batang-batang mereka tumbuh miring di antara petak-petak rumput dan batu-batu besar berlumut. Beberapa lama mereka hanya mendaki, tanpa bicara. Jared merasa ini tempat yang bagus untuk menggambar suatu saat nanti-tapi kemudian dia ingat dia sudah berhenti menggambar.
Di dekat puncak bukit, tanah menjadi datar dan pepohonan semakin rapat. Simon berbalik tiba-tiba dan mulai memimpin mereka kembali menuruni bukit.
"Kita mau ke mana"" tanya Jared.
Simon melambaikan peta itu kepadanya. "Ini jalannya," katanya.
Mallory mengangguk seolah dia tidak menganggap aneh mereka kembali ke arah mereka baru saja datang.
"Kau yakin"" tanya Jared. "Kurasa kok tidak."
"Aku yakin," kata Simon.
Saat itu angin musim panas bertiup di bukit, dan Jared merasa mendengar suara tawa dari bawah kaki mereka. Dia tersandung dan nyaris jatuh.
"Kalian dengar, tidak""
"Apa"" tanya Simon, memandang ke sekeliling dengan gugup.
Jared mengangkat bahu. Dia yakin dia mendengar sesuatu, tapi sekarang suasana hening.
Sedikit setelah berjalan turun, Simon berganti arah lagi. Dia mulai berjalan menanjak ke arah kanan. Mallory mengikuti dengan patuh.
"Sekarang kita ke mana"" tanya Jared. Mereka mendaki lagi, menuju puncak bukit yang pertama, yang terasa benar-Tapi mereka berjalan pada sudut sedemikian rupa sehingga Jared merasa mereka tidak mungkin berada di dekat tempat pertemuan dalam peta.
"Aku tahu apa yang kulakukan," kata Simon. Mallory mengikuti tanpa bertanya, ini membuat rasa khawatir Jared nyaris sama besarnya dengan yang disebabkan pola zig-zag yang diambil Simon. Dia berharap memegang Panduan Lapangan saat ini
. Dia berusaha membuka halaman-halaman buku itu dalam pikirannya, mencari penjelasan. Dia mengingat sesuatu tentang orang yang kehilangan arah, bahkan saat begitu dekat dengan rumah.... Jared mulai menendangi rumput yang diinjaknya dengan sepatunya. Segerombol rumput tinggi bergeser.
"Stray sod-rumput sesat!" Jared mengingat-ingat keterangan dalam Panduan Lapangan. Tiba-tiba jelas bahwa hanya dia yang memerhatikan bahwa mereka pergi ke arah yang salah. "Simon! Mallory! Balik kaus kalian seperti aku!"
"Tidak," kata Simon. "Aku tahu arahnya. Kenapa kau selalu menyuruh-nyuruhku""
"Ini tipuan peri!" teriak Jared.
"Lupakan saja. Coba sekali-sekali kau yang mengikutiku!"
"Lakukan saja, Simon!"
"Tidak! Kau tidak dengar, ya" Tidak!"
Jared menabrak saudaranya, membuat mereka berdua terjatuh di rumput. Jared berusaha membuka sweter saudaranya, tapi Simon melipat tangannya ke sisi tubuhnya. "Hentikan, kalian berdua !" Mallory memisahkan adik-adiknya. Kemudian, Jared terkejut melihat kakaknya itu menduduki Simon dan melepaskan sweter adiknya. Jared melihat Mallory sudah membalik sweternya sendiri.
Ekspresi aneh menyelimuti wajah Simon saat sweternya yang terbalik dimasukkan lewat kepalanya. "Wow. Di mana kita""
Suara tawa terdengar dan atas kepala mereka.
"Kebanyakan tidak berhasil sejauh ini- atau sedekat ini, tergantung," kata makhluk yang bertengger di atas kepala mereka. Tubuhnya seperti monyet dengan bulu-bulu cokelat berbintik-bintik pendek dan ekor panjang yang melingkar pada cabang tempatnya duduk. Bulu tebal mengeliling lebernya, tapi wajahnya mirip kelinci dengan telinga panjang dan kumis.
"Tergantung apa"" tanya Jared. Dia tidak yakin harus terpesona atau takut.
Tiba-tiba makhluk itu mengayun kepalanya sampai terbalik sehingga telinganya menyentuh perutnya dan dagunya mengarah ke langit. "Pintar seperti selalu pintar."
Jared melompat. Mallory mengayunkan anggarnya di depannya. "Tetap di tempatmu!"
"Ya ampun, hewan berpedang," desis makhluk itu. Mengayun kepalanya kembali ke posisi semula, dia berkedip dua kali. "Aku ingin tahu apakah dia gila. Pedang kan sudah nggak zaman lagi!"
"Kami bukan hewan," kata Jared membela diri.
"Kalau begitu apa dong"" tanya makhluk itu.
"Aku anak laki-laki," kata Jared. "Dan, well, itu kakakku. Anak perempuan."
"Tidak ada anak perempuan," kata makhluk itu. "Mana roknya""
"Rok kan sudah nggak zaman lagi," kata Mallory sambil menyeringai.
"Kami sudah menjawab pertanyaanmu," kata Jared. "Sekarang jawab pertanyaan kami. Kau ini apa""
"Anjing Hitam Malam," kata makhluk itu dengan bangga, sebelum kepalanya berputar lagi, menatap mereka dengan satu mata tertutup. "Keledai atau mungkin sekadar sprite."
"Apa artinya itu"" tanya Mallory. "Kedengarannya bodoh."
"Kurasa ini phooka!" kata Jared. "Ya, aku ingat sekarang. Mereka bisa berganti wujud."
"Mereka berbahaya, nggak"" tanya Simon.
"Sangat!" kata si phooka, mengangguk penuh semangat.
"Aku tidak yakin," kata Jared sambil berbisik. Kemudian, setelab berdeham, dia bicara pada makhluk itu. "Kami mencari tanda-tanda keberadaan paman buyut kami."
"Kalian kehilangan paman kalian! Betapa cerobohnya."
Jared mendesah dan berusaha memutuskan apakah si phooka segila kelihatannya. "Well, sebenarnya dia sudah lama hilang. Nyaris tujuh puluh tahun. Kami hanya berharap bisa mencari tahu apa yang terjadi padanya."
"Siapa pun bisa hidup selama itu-mereka hanya berjaga-jaga supaya tidak mati. Tapi aku tahu manusia hidup lebih lama dalam penangkapan daripada saat mereka hidup bebas."
"Apa"" tanya Jared.
"Saat mencari sesuatu," kata si phooka, "kau harus yakin kau ingin menemukannya."
"Oh, sudahlah!" kata Mallory. "Ayo, kita terus saja."
"Tanyakan padanya apa yang ada di bukit di atas," kata Simon.
Mallory memutar matanya. "Oh, yeah, seolah kata-katanya masuk akal saja."
Simon mengabaikan kata-kata Malory. "Bisakah kau memberitahu kami apa yang ada di depan" Kami mengikuti peta ini sampai kami disesatkan rumput yang bisa bergerak."
"Kalau rumput bisa bergerak," kata si phooka, "anak laki-laki bisa saja tiba-tiba tertanam di tanah."
"Tolong, berhentilah mengajaknya bicar
a," kata Mallory. "Elf," kata si phooka, menatap Mallory seolah dirinya dihina. "Apakah aku harus jujur saat mengarahkan kalian pada jalur para elf""
"Apa yang mereka inginkan"" tanya Jared.
"Mereka memiliki apa yang kalian inginkan dan mereka menginginkan apa yang kalian miliki," kata si phooka.
Mallory mengeluh keras-keras.
"Tadi perjanjiannya kan kembali bila situasinya menjadi aneh." Mallory menunjuk si phooka dengan anggarnya. "Dan saat ini situasinya sudah sangat aneh."
"Tapi tidak terlalu jelek." Jared menatap bukit-bukit. "Ayo pergi sedikit lebih jauh."
"Wah, nggak tahu deh," kata Mallory. "Bagaimana dengan makhluk-makhluk rumput itu dan kondisi kita yang sudah tersesat sekarang""
"Si phooka bilang para elf punya apa yang kita inginkan!"
Simon mengangguk. "Kita sudah dekat, Mal."
Mallory mengeluh. "Aku tidak suka ini, tapi aku lebih suka kita yang mendatangi mereka."
Mereka mulai menuruni bukit, menjauhi jalan.
"Tunggu! Kembali," panggil si phooka. "Ada sesuatu yang harus kukatakan pada kalian."
Mereka berbalik. "Apa itu"" tanya Jared.
"Bonny nonny bonny," kata si phooka dengan tepat.
"Itu yang mau kaukatakan pada kami""
"Tidak, sama sekali bukan," kata si phooka.
"Kalau begitu apa"" tanya Jared.
"Apa yang tidak diketahui si pengarang bisa jadi satu buku sendiri," kata si phooka. Dengan itu, tubuhnya melenting ke atas pohon sampai hilang dari pandangan.
Ketiga anak itu berjalan menuruni sisi lain bukit perlahan-lahan. Saat pepohonan merapat lagi, mereka memerhatikan betapa hening hutan itu. Tidak ada burung yang berkicau di pepohonan. Sepertinya hanya ada suara gemeresik rumput dan gemeretak ranting di bawah kaki mereka.
Mereka berhenti di padang yang dikelilingi pohon. Di tengahnya, satu pohon berduri yang tinggi berdiri, dikelilingi jamur merah-putih yang gemuk-gemuk.
"Uh," kata Jared.
"Benar. Aneh. Ayo pergi dari sini," kata Mallory.
Tapi saat mereka berbalik, pepohonan saling terjalin, ranting-ranting saling melilit, membentuk pagar dedaunan yang rapat sampai ke tanah lapangan itu.
"Oh, sial," kata Mallory.
Bab Enam KETIKA Jared Mewujudkan Ramalan si Phooka
Di seberang lapangan, ranting-ranting membuka dan tiga makhluk muncul dari belakang pepohonan. Mereka kira-kira sebesar Mallory, dengan kulit berbintik-bintik cokelat terbakar matahari. Yang pertama wanita dengan mata hijau apel dan kemilau hijau di pundak dan dahinya. Dedaunan tersangkut pada rambutnya yang kusut. Yang kedua pria dengan apa yang tampak seperti tanduk kecil pada alisnya. Kulitnya berwarna hijau lebih tua daripada kulit si wanita dan dia membawa tongkat berbonggol-bonggol.
Elf ketiga memiliki rambut merah tebal dengan jalinan beri merah dan dua kulit biji-bijian besar berdiri di kedua sisi kepalanya. Kulitnya cokelat, berbintik-bintik merah pada tenggorokannya.
"Ini elf"" tanya Simon.
"Sudah begitu lama tidak ada yang mengikuti jalur ini," kata elf bermata hijau seolah tidak ada yang bicara. Kepalanya mendongak seperti sikap seseorang yang biasa dipatuhi. "Semua yang mungkin datang ke daerah ini sudah disesatkan. Tapi di sinilah mereka. Betapa aneh."
"Rumput," bisik Jared pada saudaranya.
"Mereka pasti memilikinya," kata elf berambut merah pada teman-temannya. "Bagaimana lagi mereka bisa datang ke sini" Bagaimana lagi mereka bisa tetap pada jalannya"" Dia berpaling kepada ketiga anak. "Aku Lorengorm. Kami akan melakukan pertukaran dengan kalian."
"Untuk apa"" tanya Jared, berharap suaranya tidak gemetar. Para elf itu sangat indah, tapi satu-satunya emosi yang bisa dibacanya pada wajah mereka adalah rasa lapar aneh yang membuatnya takut.
"Kalian menginginkan kebebasan kalian," kata elf yang sepertinya memiliki tanduk. Jared sadar bahwa sebenarnya itu daun. "Kami ingin buku Arthur."
"Kebebasan untuk apa"" tanya Mallory.
Elf bertanduk daun menunjuk pagar pepohonan dengan sebelah tangan dan tersenyum jahat. "Kami akan menjadi tuan rumah kalian sampai kalian bosan pada keramahan kami."
"Arthur tidak memberikan buku itu padamu. Mengapa kami harus melakukannya"" Jared berharap mereka tidak tahu dia hanya menebak-nebak.
Elf bertanduk daun menden
gus. "Kami sudah lama tahu manusia itu brutal. Pernah, paling tidak, manusia bersikap masa bodoh. Sekarang kami ingin menyimpan pengetahuan tentang keberadaan kami dari kalian, untuk melindungi diri kami sendiri. "
"Kalian tidak bisa dipercaya. Kalian menghancurkan hutan." Lorengorm mengerutkan dahi dan matanya berbinar. "Meracuni sungai-sungai, memburu griffin dari langit, dan serpent dari lautan sarang ular-ular itu. Bayangkan apa yang akan kalian lakukan bilang mengetahui semua kelemahan kami."
"Tapi kami tak pernah melakukan hal-hal itu!" kata Simon.
"Dan bahkan tidak ada yang percaya pada peri lagi," kata Jared. Dia memikirkan Lucinda. "Orang yang waras, paling tidak."
Tawa Lorengorm terdengar mengerikan. "Ada terlalu sedikit peri yang tersisa untuk
dipercayai. Kami tinggal di hutan-hutan yang tersisa bagi kami. Tak lama lagi bahkan itu pun akan hilang."
Elf bermata hijau mengangkat sebelah tangan menuju dinding ranting yang terjalin. "Biar kutunjukkan."
Jared melihat berbagai macam peri duduk di lingkaran pepohonan, mengintip dan celah-celah kayu. Mata mereka yang hitam berkilauan, sayap-sayap mereka mendengung, dan mulut-mulut mereka bergerak, tapi tidak ada yang memasuki lapangan itu. Situasi terasa seperti persidangan, dengan para elf bertindak sebagai hakim dan juri sekaligus. Lalu beberapa cabang terurai dan sesuatu melangkah masuk.
Makhluk itu putih seukuran rusa. Bulunya berwarna gading dan surainya yang panjang terurai kusut. Tanduk yang tumbuh di dahinya terpilin sampai ke ujungnya yang tampak tajam. Dia mengangkat hidungnya yang basah dan mengendus udara. Saat makhluk itu mendekat, lembah menjadi hening. Bahkan langkah makhluk itu pun tak bersuara. Makhluk itu sama sekali tidak tampak jinak.
Mallory maju mendekatinya, memiringkan kepalanya sedikit, mengulurkan tangan.
"Mallory," kata Jared memperingatkan.
"Jangan..." Tapi kakaknya tidak mendengar, dia mengulurkan tangan untuk mengelus bulu makhluk itu. Makhluk itu berdiri diam, dan Jared bahkan takut bernapas saat Mallory membelai sisi tubuh unicorn itu, kemudian menyusupkan tangannya pada surainya. Saat Mallory melakukannya, tanduk unicorn itu menyentuh dahinya dan mata Mallory terpejam. Kemudian seluruh tubuhnya gemetar.
"Mallory!" kata Jared.
Di balik kelopaknya, mata Mallory bergerak-gerak, seolah dia bermimpi. Kemudian Mallory jatuh berlutut.
Jared berlari untuk meraih kakaknya. Simon hanya selangkah di belakangnya. Saat Jared menyentuh Mallory, dia melihat bayangan itu.
Semuanya hening. Jalinan sesemakan blackberry. Orang menunggang kuda. Anjing-anjing dengan lidah merah. Sekelebatan warna putih, dan seekor unicorn lari melintasi lapangan, kakinya sudah dikotori lumpur. Panah-panah terbang, tertancap pada daging yang putih. Unicorn itu menjerit dan jatuh di atas tumpukan daun. Gigi anjing-anjing itu merobek. Seorang pria berpisau memotong tanduk dan kepalanya sementara unicorn itu masih bergerak.
Bayangan datang semakin cepat, lebih terpotong-potong.
Seorang gadis dengan gaun tanpa warna, disuruh para pemburu, menarik perhatian unicorn supaya mendekat: panah nyasar membuatnya terjatuh. Gadis itu rubuh, tangannya yang pucat memeluk bulu yang pucat. Keduanya diam. Kemudian ratusan tanduk mengerikan, dibentuk menjadi pil, dihancurkan menjadi jimat dan bubuk. Bulu-bulu putih ternoda darah, ditumpuk dikelilingi Lalat-lalat hitam.
Jared membebaskan diri dari bayangan itu, perutnya mulas. Dia terkejut melihat Mallory menangis, air matanya membuat bulu putih itu tampak lebih gelap. Simon menyentuh sisi unicorn itu dengan kaku.
Unicorn itu menunduk, mencium rambut Mallory dengan bibirnya.
"Dia benar-benar menyukaimu," kata Simon. Dia tampak agak sebal. Biasanya binatang-binatang lebih menyukainya.
Mallory mengangkat bahu. "Aku perempuan."
"Kami tahu apa yang kalian lihat," kata elf bertanduk daun. "Berikan Panduan Lapangan pada kami. Buku itu harus dihancurkan."
"Bagaimana dengan para goblin"" tanya Jared.
"Bagaimana dengan mereka" Para goblin menyukai duniamu," kata Lorengorn. "Mesin-mesin dan racun-racun kalian sangat mereka sukai."
"Kau sepertinya tidak k
eberatan menggunakan goblin untuk mengambil buku itu dari kami," kata Jared.
"Kami"" tanya elf bermata hijau, matanya melebar dan bibirnya mengeras. "Kalian pikir kami akan mengirim makhluk seperti itu" Mulgarath-lah yang menyuruh mereka."
"Siapa Mulgarath"" Mallory berdiri, masih mengelus si unicorn tanpa sadar.
"Ogre - raksasa jahat," kata Lorengorm. "Dia mengumpulkan goblin dan membuat perjanjian dengan dwarf. Kami rasa dia menginginkan Panduan Lapangan Arthur Spiderwick untuk dirinya sendiri."
"Kenapa"" tanya Jared. "Tidakkah kalian tahu semua isinya""
Para elf bertukar pandangan tidak nyaman. Akhirnya elf bertanduk daun bicara. "Kami membuat seni. Kami tidak merasakan kebutuhan untuk membedah sesuatu untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Apa yang dilakukan Arthur Spiderwick tidak akan dilakukan makhluk-makhluk seperti kami."
Elf bermata hijau memegang bahu elf yang lain. "Maksudnya adalah mungkin ada hal-hal dalam Panduan Lapangan yang tidak kami ketahui."
Jared berpikir sejenak. "Jadi kalian tidak benar-benar peduli kalau manusia memiliki Panduan Lapangan Arthur. Kalian hanya tidak ingin Mulgarath memilikinya!"
"Buku itu berbahaya di tangan siapa pun," kata elf bermata hijau. "Ada terlalu banyak pengetahuan di dalamnya. Berikanlah pada kami. Buku itu akan dihancurkan dan kalian akan diberi hadiah."
Jared mengulurkan tangan. "Kami tidak memilikinya," katanya. "Kami tidak bisa memberikannya pada kalian kalaupun kami mau melakukannya."
Elf bertanduk daun menggeleng dan mengentakkan tongkatnya. "Bohong!"
"Kami benar-benar tidak memilikinya," kata Mallory. "Kami tidak bohong."
Lorengorm mengangkat sebelah alisnya yang merah. "Kalau begitu di mana buku itu""
"Kami rasa brownie yang tinggal di rumah kami mengambilnya," kata Simon. "Tapi kami tidak yakin."
"Kalian menghilangkannya"" elf bermata hijau tersentak.
"Mungkin Thimbletack memilikinya sekarang," kata Jared pelan.
"Kita harus berpikir pelan-pelan," kata elf bertanduk daun. "Manusia tak bisa dipercaya."
"Tidak bisa dipercaya"" ulang Jared. "Bagaimana kami tahu kami bisa memercayai kalian"." Dia meraih peta dari Simon dan mengacungkannya supaya bisa dilihat para elf. "Kami menemukan ini. Ini milik Arthur. Sepertinya dia datang ke sini dan kurasa dia menemui kalian. Aku ingin tahu apa yang kalian lakukan padanya."
"Kami bicara pada Arthur," kata elf bertanduk daun. "Dia mau menipu kami. Dia bersumpah akan menghancurkan Panduan Lapangan, dan datang ke pertemuan dengan tas berisi kertas terbakar dan abu. Tapi dia berbohong. Dia membakar buku yang lain. Panduan Lapangan tetap utuh."
"Kami menghormati kata-kata kami," kata elf bermata hijau. "Meskipun pahit, kami memenuhi janji kami. Kami tidak bersimpati pada mereka yang menipu kami."
"Apa yang kalian lakukan"" tanya Jared.
"Kami menjaganya supaya tidak melakukan kerusakan lebih besar," kata elf bermata hijau.
"Sekarang kalian datang," kata elf bertanduk daun. "Dan kalian akan membawakan Panduan Lapangan bagi kami."
Lorengorm melambaikan tangan, dan akar-akaran tumbuh dari tanah. Jared menjerit, tapi suaranya tertelan kertakan cabang-cabang dan gemeresik dedaunan. Pepohonan terurai, cabang-cabang mereka kembali ke bentuk asalnya. Tapi akar-akaran kotor berambut memanjat kaki Jared dan mencengkeramnya.
"Bawakan Panduan Lapangan bagi kami atau saudaramu akan terperangkap selamanya dalam dunia peri," kata elf bertanduk daun. Jared yakin sekali elf itu tidak main-main.
Bab Tujuh KETIKA Jared Akhirnya Senang Punya Saudara Kembar
MALLORY melompat ke depan, mengacungkan anggarnya. Simon memegang jaringnya dengan sikap mengikuti kakaknya dengan canggung. Unicorn itu menggeleng, surainya berkibar saat dia berlari tanpa suara ke dalam hutan.


The Spiderwick Chronicles 3 Rahasia Lucinda Lucinda's Secret di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh ho!" kata elf bertanduk daun. "Sekarang kami melihat karakter sejati manusia!" "Lepaskan adikku!" jerit Mallory. Tiba-tiba Jared mendapat ide. "Jared, tolong!" teriak Jared, berharap Simon dan Mallory mengerti.
Simon menatapnya bingung. "Jared," kata Jared, "kau harus menolong-ku."
Kemudian Simon tersenyum padanya, matanya berbinar mengerti. "Simon, kau baik-baik saja""
"Aku baik-baik saja, Jared." Jared menarik kakinya dari cengkeraman akar sekuat tenaga. "Tapi aku tak bisa bergerak."
"Kami akan kembali membawa Panduan Lapangan, Simon," kata Simon, "kemudian mereka harus membebaskanmu."
"Tidak," kata Jared. "Kalau kalian kembali, mereka bisa saja menawan kita semua. Buat mereka berjanji!"
"Kata-kata kami adalah janji kami," dengus elf bermata hijau.
"Kalian belum berjanji," kata Mallory, menatap kedua adiknya dengan kewaspadaan semakin besar.
"Berjanjilah Jared dan Mallory bisa meninggalkan daerah ini dengan selamat dan kalau mereka kembali, mereka tidak akan ditahan di luar kemauan mereka," kata Jared.
Mallory tampak siap protes, tapi dia tetap diam.
Para elf menatap kakak-beradik itu dengan ragu. Akhirnya Lorengorm mengangguk. "Terjadilah demikian. Jared dan Mallory boleh pergi dari daerah ini. Mereka tidak akan ditahan di luar kemauan mereka sekarang atau nanti. Kalau mereka tidak membawa Panduan Lapangan, kami akan menahan saudara mereka, Simon, sepanjang masa. Dia akan tetap bersama kami, tidak bertambah tua, di bawah bukit, untuk seratus kali seratus tahun-dan kalau dia pergi, selangkah di atas tanah akan langsung membawa semua tahun-tahun yang hilang kepadanya."
Simon yang asli menggigil dan melangkah mendekat kepada Mallory.
"Pergilah," kata elf itu.
Mallory menatap Jared dengan pandangan bertanya-tanya. Ujung anggarnya telah mengarah ke bawah, tapi dia masih memegangnya di depan tubuhnya dan sama sekali tidak bergerak pergi. Jared berusaha tersenyum memberi semangat, tapi dia takut dan tahu perasaan itu tampak pada wajahnya.
Sambil menggeleng, Mallory mengikuti Simon. Setelah beberapa langkah mereka ber-balik dan menatap saudara mereka, lalu mulai mendaki bukit yang curam itu. Dalam beberapa menit mereka sudah menghilang di antara dedaunan. Jared bicara.
"Kalian harus membebaskanku," katanya.
"Mengapa begitu"" tanya elf bertanduk daun. "Kau sudah mendengar janji kami. Kami tidak akan membebaskanmu sampai saudara-saudaramu membawakan Panduan Lapangan bagi kami."
Jared menggeleng. "Kalian bilang kau tidak akan membebaskan Simon. Aku Jared."
"Apa"" tanya Lorengorm.
Elf bertanduk daun maju selangkah ke arah Jared, tangannya membentuk cakar.
Jared menelan ludah. "Kata-kata kalian adalah janji kalian. Kalian harus membebaskanku."
"Buktikan dirimu, Nak," kata elf bermata hijau. Bibirnya menipis.
"Ini." Jared melepaskan ranselnya dengan tangannya yang gemetar. Di sana, di bagian atas, tiga huruf tertulis pada kanvas merahnya: JEG. "Lihat. Jared Evan Grace."
"Pergilah," kata elf bertanduk daun, menyemburkan kata itu seolah kutukan. "Semoga kebebasanmu membuatmu senang kalau kami bertemu denganmu atau saudara-saudaramu yang penipu itu lagi."
Dengan kata-kata itu, akar-akaran terurai dari kaki Jared. Dia lari dari lapangan itu secepat dia bisa. Dia tidak menengok ke belakang.
Saat mencapai puncak bukit, dia mendengar suara tawa.
Dia memandang pepohonan terdekat, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan si phooka. Tapi Jared hanya setengah terkejut saat suara yang sekarang terasa akrab itu bicara. "Aku lihat kau tidak menemukan pamanmu. Sayang sekali. Kalau kau sedikit lebih tidak cerdas, mungkin kau lebih sukses."
Jared menggigil dan buru-buru menuruni sisi lain bukit itu, cukup cepat sehingga dia nyaris tidak bisa berhenti berlari sampai ke tengah jalan. Dia menyeberang jalan dan lari ke pagar besi memasuki balaman rumahnya sendiri, terengah-engah.
Mallory dan Simon menunggunya di tangga. Kakaknya tidak mengatakan apa-apa hanya memeluknya dengan cara yang sangat-tidak-Mallory. Jared membiarkan dirinya dipeluk.
"Aku tidak tahu apa yang akan kaulakukan," kata Simon sambil tertawa. "Itu tipuan yang bagus."
"Terima kasih karena mengikuti kata-kataku," kata Jared sambil tersenyum. "Phooka itu mengatakan sesuatu padaku dalam perjalanan pulang."
"Sesuatu yang masuk akal"" tanya Mallory.
"Well, aku jadi berpikir," kata Jared. "Ing saat para elf bilang akan menahanku di dunia peri""
"Menahanmu"" tanya Simon. "Mereka bilang Simon."
"Yeah, tapi pikirkan apa yang akan mereka lakukan. Mereka akan menahanku selamanya
. Tidak bertambah tua, ingat" Selamanya."
"Jadi kaupikir...," suara Mallory semakin pelan.
"Saat aku pergi, si phooka bilang kalau aku sedikit lebih tidak cerdas, aku mungkin lebih sukses menemukan pamanku."
"Maksudmu Arthur mungkin terperangkap bersama para elf"" tanya Simon saat mereka menaiki tangga masuk rumah.
"Kurasa begitu," kata Jared.
"Kalau begitu dia masih hidup," kata Mallory.
Jared membuka pintu belakang dan melangkah ke ruang tempat menyimpan sepatu kotor. Dia masih menggigil karena pertemuannya dengan para elf, tapi senyumnya semakin lebar. Mungkin Arthur tidak lari meninggalkan keluarganya. Mungkin dia tawanan pada elf. Dan mungkin-kalau Jared cukup cerdas-Arthur bisa diselamatkan.
Melamunkan penyelamatan itu, Jared nyaris tidak melihat kilauan perak di kakinya sebelum dia terjatuh. Sesuatu yang tajam menekan paha dan tangan Jared yang terulur. Simon juga terjatuh, menabrak Jared dan Mallory, hanya beberapa langkah di belakang, menimpa kedua saudaranya.
"Sial!" teriak Jared, melihat ke sekeliling. Lantai penuh mainan bekel dan kelereng.
"Auw," kata Simon, berusaha membebaskan diri dari kakaknya. "Bangun dariku. Mal."
"Kaupikir aku sedang bersenang-senang"" kata Mallory, bangkit berdiri. "Aku akan membunuh boggart kecil itu." Dia berhenti.
"Tahu nggak, Jared" Kalau kita menemukan Panduan Lapangan Arthur, menurutku lebih baik kita simpan saja."
Jared menatap kakaknya. "Benar""
Mallory mengangguk. "Aku tidak tahu bagaimana perasaan kalian berdua, tapi aku sudah capek disuruh-suruh peri."
-END Baca Lanjutannya di Buku 4
Spiderwick Chronicles: Pohon Besi Ucapan Terima Kasih Tony dan Holly ingin berterima kasih kepada Steve dan Dianna untuk ide-ide mereka, Starr untuk kejujurannya, Myles dan Liza untuk berbagi pengalaman, Ellen dan Julie untuk membantu menjadikan ini nyata,
Kevin untuk antusiasmenya yang tak kenal lelah Dan kepercayaannya kepada kami, Dan terutama kepada Angela dan Theo - Tidak ada cukup banyak pujian Yang bisa mendeskripsikan kesabaran kalian Dalam menjalani malam-malam panjang Diskusi tentang Spiderwick.
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
tamat Jodoh Rajawali 33 Pendekar Cambuk Naga 9 Iblis Pulau Keramat Rahasia Tonggak Sangga Buana 2
^