Pencarian

Love Me Twice 1

Love Me Twice Gebetan Lama Rasa Baru Karya Billy Homario Bagian 1


LOVE ME TWICE Gebetan Lama Rasa Baru Billy Homario Edit & Convert to Txt, Pdf, Jar: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
PROLOG DI TAMAN BUNGA MATAHARI akan tenggelam beberapa saat lagi. Dua anak kecil terlihat sedang duduk di kursi, di bawah pohon.
"Aku mau pergi lho!" kata anak kecil yang cowok.
"Pergi" Pergi ke mana" Mau pergi jauh, ya" Ah, kamu pasti bercanda," ujar anak kecil satunya lagi, cewek.
"Enggak. Aku gak bercanda," kata anak cowok itu dengan raut wajah serius.
"Emangnya kamu mau ke mana""
"Aku mau ke Kanada. Aku SMP di sana."
DEG! Jantung anak cewek itu seakan berhenti berdetak.
Setelah larut dalam kebisuan selama lima menit, anak cewek itu mulai bicara lagi, walaupun dengan suara bergetar.
"Kamu beneran mau pergi""
Yang ditanya mengangguk. Perasaannya juga sedih.
Anak cewek itu kemudian melepaskan kalung emas putih berliontin merpati dari lehernya.
"Ini buat kamu," kata anak cewek itu yang kemudian mengalungkan kalung itu di leher temannya.
Anak cowok itu mengerutkan dahinya, bingung
"Ini tanda biar kamu selalu inget sama aku," kata anak cewek itu.
Anak cowok yang sudah speechless itu hanya bisa mengangguk-ngangguk.
"Janji."" tanya anak cewek itu sambil mengacungkan kelingking kanannya.
"Janji!- jawab anak cowok itu mantap sambil mengaitkan kelingking kanannya di kelingking kanan si cewek.
1. NICE MEETING LYDIA mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang. Tapi, dia tak peduli dengan suara itu. Lydia masih ngantuk. Runa-anjing peliharaannya yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun, kemudian menjilati betis Lydia dengan maksud membangunkannya.
Lydia kegelian setelah merasakan betisnya dijilat-jilat Runa. Ia pun terbangun. Saat terbangun dengan mata masih setengah tertutup, dia mendapatkan suara mamanya yang memanggil-manggil namanya sambil mengetuk pintu.
Lydia berjalan menuju pintu dengan malas. Saat dibuka, didapatkannya mamanya sudah berpakaian lapi dan menawan.
"Lho" Mau ke mana, Ma" Kok rapi amat"" kata Lydia heran sambil mengucek-ucek matanya dan setelah itu menguap.
"Tumben siang bangunnya" Sudah sana mandi, habis itu sarapan bareng. Terus make up yang cantik!"
"Mau ke mana sih, Ma" kata Lydia, kemudian menguap lagi.
"Sudah! Jangan banyak ngomong! Mandi sana! Nanti telat lagi!"
"Iya, jawab Lydia sambil mengangguk.
Lydia langsung masuk kembali ke kamarnya, mengunci pintunya, lalu masuk ke kamar mandi yang kebetulan berada di dalam kamarnya.
Selesai mandi dan berias secantik mungkin, Lydia langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama mama-papanya.
Sesampainya di sana, Lydia melihat menu sarapan yang berbeda dari biasanya. Tersedia sembilan potong sosis dalam satu piring bersama roti tawar yang sudah diisi selai coklat di piring yang berbeda. Juga masih ada tiga gelas orange juice untuk Papa, Mama, dan Lydia.
"Tumben, Ma" Kok ada sosis"" tanya Lydia sambil duduk di tempatnya.
"Kenapa" Kamu gak suka"" tanya papanya dengan mulut penuh makanan.
"Suka kok, kata Lydia yang kemudian tertawa setelah papanya bicara dengan mulut penuh makanan.
"Ya, sudah. Cepat dihabiskan! Nanti telat," kata mamanya sambil mengelap mulut dengan kain, pertanda selesai makan.
Lydia yang masih bingung ke mana mereka mau pergi, segera saja menghabiskan jatah sosis, roti, dan orange juice-nya. Dia melahapnya seperti preman yang udah tiga hari nggak makan. Rakus banget.
Setelah selesai makan, Lydia dan orang tuanya segera menuju mobil dan pergi diantar oleh Pak Danu - sopir pribadi mereka.
Lydia berfirasat kalau dirinya akan diberi kejutan. Kejutan yang luar biasa.
LUFTHANSA Germany Airlines-maskapai penerbangan Jerman yang baru saja melayani rute Berlin-Jakarta- telah mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saat itu, Lydia dan mama-papanya baru saja tiba di terminal kedatangan.
"Aduh, pesawatnya sudah sampai. Kamu sih, Lyd. Makannya tadi kelamaan!" kata mamanya panik sambil menyuruh Pak Danu menepikan mobil yang sedang dikendarainya.
"Siapa sih, Ma, yang mau dijemput"" kata Lydia penasaran.
Mobil yang dikendarai Pak
Danu pun berhenti. "Udah, yuk! Turun! Liat tuh, Valen udah nunggu," kata papanya yang kemudian membuat Lydia dan mamanya bersemangat untuk turun.
Setelah majikannya turun dari mobil, Pak Danu memarkirkan mobilnya di tempat parkir bandara.
"VALEN!!!" teriak sebuah suara.
Cowok ganteng berkulit putih dengan tubuh menjulang tinggi yang dipanggil namanya langsung menoleh ke arah datangnya suara itu.
"LYDIA!!!" teriaknya setelah mengetahui bahwa yang tadi memanggilnya adalah adik kesayangannya.
Lydia pun berlari menghampiri Valen, kemudian memeluknya. Maklum, sudah lama tak bertemu kakaknya yang kuliah di Jerman itu.
"Mama," kata Valen lagi sambil memeluk mamanya.
"Gimana" Enak di Jerman"" tanya mamanya setelah pelukannya dilepas Valen.
"Enak donk! jawab Valen tersenyum dengan senyum mautnya yang bisa membuai cewek-cewek kesengsem.
"Papa,' tambahnya lagi setelah melihat papanya, kemudian memeluknya.
"Gimana" Udah dapet pacar belum"" tanya papanya menggoda.
"Belum tuh. jawab Valenn polos. "Aku mau ke toilet dulu, ya" kata Lydia tiba-tiba.
"Ya, sudah. Cepat, ya!. Kami tunggu di mobil!" kata mamanya mengingatkan.
Lydia pun mulai melangkahkan kakinya menuju toilet, sedangkan keluarganya menuju mobil.
Dalam perjalanan menuju toilet, dia melihat sebuah toko suvenir yang ramai dikunjungi turis-turis asing. Lydia tidak mengalihkan penglihatannya dari toko suvenir itu sehingga dia tidak melihat jalanan alias meleng. BRRUUUKKK!!!
Lydia bertabrakan dengan seorang cowok tinggi yang ganteng dan berkulit putih yang membawa sebuah kotak makanan- yang kini sudah jatuh berantakan di lantai -dari pesawat Catthay Pacific.
Lydia pun bangkit dari jatuhnya, dibantu cowok ganteng itu.
"Sakit gak" Sori. ya. Tadi saya nggak liat," kata cowok itu.
Lydia tidak bergerak sedikitpun setelah dibangunkan oleh cowok itu, ia kesengsem oleh cowok itu sehingga hanya bisa terpana kaku melihat mukanya.
"Halo" Gak pa-pa"" kata cowok itu lagi sambil menjentikkan jarinya di depan Lydia
"Oh, nggak papa!" kata Lydia salah tingkah. "Aduh! Sori, ya. Gara-gara aku, makanan kamu jatuh dan berantakan," tambah Lydia.
"Oh, nggak papa kok. Duluan, ya"" kata cowok itu pamit.
Lydia memerhatikan cowok itu pergi menjauhinya dan memberhentikan sebuah taksi.
Sampai cowok itu masuk ke dalam taksi pun, Lydia belum bisa mengalihkan perhatiannya.
Taksi yang ditumpangi cowok itu mulai berjalan. Tiba-tiba, kaca taksi dibuka oleh cowok itu. Cowok itu melambaikan tangannya. Lydia membalasnya.
Wooow!!! Ganteng banget sih!
Lydia hampir lupa kalau dirinya hendak ke toilet. Ia baru mengingatnya setelah pertahanannya udah mau jebol. Lydia pun langsung ngibrit ke toilet.
"WELCOME, Nico!!!" teriak sebuah suara, setelah Nico membuka pintu.
Nico yang baru saja tiba di rumah, mencari-cari arah datangnya suara itu.
"Hai, Jiejie!!" kata Nico yang kemudian berlari memeluk kakak perempuan kesayangannya
"Enak di Toronto"" tanya Kayla-Jiejie-nya Nico.
"Enak banget," kata Nico sambil melepaskan pe luknya dari Kayla dan menaruh pantatnya di atas sofa empuk ruang tamu rumahnya. "Jiejie sendiri gimana" Enak di Beijing"" tanyanya lagi kepada Kayla dengan panggilan Jiejie yang berarti kakak perempuan dalam bahasa Mandarin.
Sebelum pergi ke Beijing, Kayla dan Nico sudah membuat perjanjian bahwa di antara mereka harus berlatih bicara bahasa asing.
Oleh karena itu, Kayla selalu dipanggil jijie oleh Nico. Nico pun selalu dipanggil Bro-singkatan dari brother-oleh Kayla.
"Enak banget, Bro!"
"Kapan Jijie pulang""
"Two days ago."
Tiba-tiba mami dan papinya Nico muncul.
"Mami! Papi!" kata Nico girang saat bertemu orang-tuanya setelah tiga tahun terpisah. Mereka berpelukan.
"Kamu udah makan belum"" tanya papinya setelah pelukan mereka lepas.
"Semalam udah dinner di pesawat. Tadi pagi, breakfast sih udah dikasih sama stewardess. Tapi, tadi di bandara Nico tabrakan sama cewek. Tumpah deh," kata Nico bercerita.
"Terus" Jadinya, kamu belum makan donk"" tanya maminya khawatir.
Nico mengangguk seperti anak TK sambil memegangi perutnya-yang cacing-cacin
g di dalamnya sudah bernyanyi dengan merdunya.
"Bro, mau ikut Jijie ke pesta perkawinan temen Jijie gak" Mau, ya" Jijie juga gak ada teman buat pergi ke sana. Di sana, 3ro bisa makan sepuasnya. Gratis lagi!" kata Kayla.
"Boleh... boleh.... Jijie yang bawa mobil, ya"" kata Nico menyetujui sambil tersenyum dengan senyumnya yang luar biasa.
"Oke, deh!" kata Kayla lagi.
"Resepsinya jam berapa" Di mana"" tanya maminya kemudian.
"Jam empat sore sih. Di Balai Samudera Kelapa Gading," jawab Kayla sambil melihat ke arah jam dinding ruang tamu yang spontan diikuti oleh Mami, Papi, dan Nico.
"Kamu ikut aja, Nic! Masih ada dua jam lagi buat siap-siap!" kata papinya yang diangguki Nico.
Balai Samudera Kelapa Gading
ANTRIAN untuk parkir sudah panjang. Padahal, Kayla dan Nico sudah datang setengah jam sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Maklum, pengantinnya memiliki pergaulan yang luas dan sebagian besar undangannya konglomerat semua.
Kayla menekuk mukanya dan melepaskan genggaman tangannya pada setir mobil lantaran kesal. Nico yang melihat hal itu mengernyitkan dahinya. Dia bingung melihat tingkah laku kakaknya itu.
"Jie, kenapa" Kok cemberut"" tanya Nico yang masih mengernyitkan dahinya.
Kayla tidak menjawab pertanyaan Nico dan membuang napas pertanda lelah. Melihat hal ini, Nico menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Capek, ya"" tanya Nico sambil menepuk pundak Kayla. Kayla mengangguk pelan.
"Mau digantiin gak"" tawar Nico sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya dengan maksud berpindah posisi.
"Udah, gak papa. Bentar lagi juga dapet," kata Kayla.
Nico tak bersuara. Dia kembali melihar Kayla dengan tatapan kagum, kemudian tersenyum.
Kayla memang terkenal pantang menyerah di keluarganya.
Kayla mulai menggenggam setir mobil Peugeot-nya. lagi. Dia melajukan mobilnya pelan dan mulai sibuk putar sana-sini untuk memarkirkan mobilnya.
Setelah mobil terparkir dengan baik, Kayla dan Nico mulai masuk ke dalam gedung resepsi. Di depan pintu, Kayla udah disambut oleh keluarga Sofie-temannya waktu kuliah di Beijing. Kayla dan Nico pun menyalami mereka satu per satu.
Musik penyambutan pengantin pun mulai mengalun keras.
"Kita sambut bersama-sama dengan tepuk tangan meriah, Robert Novianto dan Sofie Airlangga Puteri, sebagai raja dan ratu kita di Balai Samudera malam ini!" kata MC lagi yang membuat seluruh tamu bertepuk tangan meriah.
Kedua mempelai terlihat berjalan semakin mendekat ke gerbang lonceng cinta. Setelah sampai di gerbang lonceng cinta, tangan mereka bersatu dan menarik tali lonceng cinta yang tepat berada di atas mereka.
Manik-manik dari dalam lonceng itu pun mulai keluar sebagai tanda -selamat datang untuk mereka.
Setelah kedua mempelai naik ke pelaminan, Nico mulai sibuk mengantri pempek. Begitu juga dengan Kayla yang nyerobot di depan Nico.
Saat Nico dan Kayla asyik dengan pempeknya seorang pria berbadan tegap dan berwajah tampan datang mendekari mereka sambil membawa dua gelas bubble ice.
"Ni Hao, Kayla"" kata cowok itu.
"Ni Hao!" balas Kayla tersenyum. "Sama siapa lo ke sini"" tanya Kayla lagi karena Kayla sudah mengenal cowok itu.
"Sendiri sih," kata cowok itu tersenyum juga, Ta shi shui" tanya cowok itu lagi sambil menunjuk Nico yang sedari tadi bengong melihat keakraban Kayla dengan cowok itu. "Ni xin nan pengyou""
"Bu shi, ta shi wo didi," jawab Kayla, buru-buru mengklasifikasi.
"Bro, kenalin. Ini Ferry," kata Kayla kepada Nico yang mulai sadar dari bengongnya.
"Hai. Aku Nico," kata Nico yang mengajak Ferry bersalaman.
"Hai. Ferry," balas cowok itu singkat dan sopan.
"Ini Nico. Adik gue yang sering gue ceritain di Beijing," kata Kayla mencoba mengingatkan Ferry yang masih tersenyum manis.
"Oh, I see! A handsome boy!" puji Ferry yang membuat Nico tersenyum malu.
"You kali yang ganteng. Aku mah gak ganteng. Biasa aja, kok," jawab Nico dengan muka yang semakin blushing. "Jie, aku mau cari makanan lain dulu, ya"" tambahnya lagi setelah pempeknya habis.
Walaupun belum di-iya-kan oleh Kayla, Nico langsung beranjak dari kursi dan memberikannya temp
at duduknya kepada Ferry.
Nico segera berkeliling lagi untuk mencari makanan.
Dia segera mengantre untuk mendapatkan New-Zealand bread.
Mudah-mudahan kebagian. Tiba giliran Nico yang mengambil roti itu ternyata itu adalah roti terakhir, sehingga antrean di belakangnya lansung bubar.
Sori, rotinya buat saya aja, boleh nggak"" kata sebuah suara yang sepertinva pernah didengar Nico.
Nico pun menoleh ke arah datangnya suara itu. "Oh, ternyata kamu lagi"!"
Eh iya. Ketemu lagi kita. Udah deh, rotinya buat kamu aja. anggep aja itu sebagai ganti makanan yang aku tumpahin tadi di bandara," kata cewek itu sambil tersenyum.
"Oh, kalau kamu mau banget, ambil aja." "Gak papa kok. Buat kamu aja." DEG!
Mata cewek itu-yang nggak lain adalah Lydia-tiba-tiba melotot ke liontin yang sedang dipakai Nico. "liontin kamu bagus, ya" tanya Lydia berusaha memancing. siapa tahu cowok itu benar-benar Nico... yang sudah lama dicarinya.
"Iya. Ini adalah pemberian dari teman baik saya tiga tahun lalu. jawab Nico. DEG!
Lydia meragakan jantungnya benar-benar mau copot.
"Terus, kamu nggak temenan lagi sama dia"" tanya Lydia turus memancing.
"Temenan sih. tapi, aku gak tau dia ada di mana sekarang, jawab Nico yang tidak curiga sedikit pun.
"Nama kamu si..."
"Nic,you dicariin jiejie tuh," kata Ferry yang datang tiba-tiba, memotong kata-kata yang ingin diucapkan Lydia.
"Oh, iya. Thanks!" kata Nico, kepada Ferry. Nico pun segera beranjak sambil membawa New Zealand bread-nya. "Eh, aku ke sana duluan, ya," tambah Nico lagi, lupa memberitahu namanya sekaligus meminta nama cewek itu. "Rotinya buat aku, ya""
Lydia mengangguk sambil tersenyum dan menyak sikan Nico yang hilang di balik keramaian. Benarkah itu Nico" Nico merpatiku" Liontinnya mirip banget.
"Lyd, pulang yuk!" kata Valentino sambil menepuk pundak adiknya secara tiba-tiba sehingga membuat Lydia terkejut.
"Ih, ngagetin aja!" kata Lydia kesal. Lamunannya tentang Nico jadi buyar.
Lydia pun segera mengikuti Valentino yang sudah berjalan ke mobil. Di pintu keluar, matanya tiba-tiba menangkap satu objek yang mengejutkan dirinya. Nico terlihat sedang memegang tangan seorang cewek. Padahal, cewek itu adalah Kayla.
Dia bukan Nico. Nico gak mungkin udah punya pacar. Lydia pun segera berlari ke mobil.
Di dalam mobil Peugeot milik Kayla, Nico nampaknya sudah melupakan tentang cewek tadi. Pikirannya sedang terpusat kepada Ferry. Dia langsung bertanya kepada Kayla, "Jie, Ferry itu siapa, sih""
"Penting, ya kamu tahu"" tanya kayla sambil mengecilkan volume radio mobilnya yang cukup keras.
"Penting banget. abis, tadi dia kayaknya baiiiik banget sama Jiejie. siapa sih dia"" tanya Nico yang semakin penasaran.
"Dia mantan Jiejie."
Nico menjentikkan jarinya tiba-tiba, membuat Kayla agak kaget. "Balik lagi aja sama dia, Jie. Terus kawin kayak temen Jiejie tadi."
"AAARRRGGGGGHHHHH!!!!" jerit Kayla.
2. HUNCH BEL RUMAH Lydia dipencet seseorang dari gerbang rumahnya yang besar dan kokoh. Lydia yang sedang tidur-tiduran di kamarnya sambil mendengarkan musik dari i-pod-nya tidak mendengar bunyi bel. kebetulan, di rumah ydia juga lagi nggak ada orang.
"aduh! Mana sih si Lydia"" gerutu Desha-teman Lydia yang sudah memencet bel kira-kira sepuluh kali.
Desha pun segera mengambil HP di tas mungil yang dibawanya. dia segera memencet nomor telepon rumah Lydia. Tapi, tetap saja gak ada jawaban. dia segera menelepon Lydia ke HP-nya untuk memastikan bahwa Lydia ada di rumah.
Awas aja, kalo dia sampe ada di rumah! masa gue dari tadi gak diladenin!
RRRR.... RRR.... RR.... Lydia seperti mendengar getaran, Lydia melihat HP-nya yang tergeletak di atas meja belajarnya yang ternyata bergetar. dia segera mengambil HP itu dan melihat nama Desha terpampang di layar HP-nya.
"Halo"" kata Lydia santai.
"Halo, Lyd! Elo ada di mana" Gue di depan rumah elo nih. Dari tadi nungguin, tapi gak ada yang bukain! Padahal, gue udah pencet bel rumah elo sampe beratus-ratus kali tau!" kata Desha marah-marah.
"Gue ada di rumah, Des. Sori, tadi gue lagi denger MP3. Di rumah juga gak ada orang
. So, gue gak denger kalo ada bunyi bel, jawab Lydia sambil berjalan menuju jendela dan membuka gorden yang menutupi jendela itu untuk memastikan bahwa Desha benar-benar ada di sana.
"Ya, udah! Bukain! CEPEEETTTT!!!" tutup Desha, mengakhiri pembicaraan di HP sambil berteriak dan menghentakkan kakinya karena kesal.
Lydia segera berlari ke bawah dan membukakan pintu. Saat masuk ke dalam rumah, Desha masih terlihat marah.
"Jangan cemberut donk, Des. Ntar cepet tua lo!" Tau nggak sih" Gue dari tadi nungguin elo!" kata Desha
"Iya, deh. Sori! Ngomongnya di kamar gue aja, yuk! kata Lydia yang kemudian mengajak Desha ke kamarnya yang berada di lantai atas. "Ngapain elo ke sini" Keren pula!" "Gue mau ajakin elo ke kafe. Mau, ya"" ajak Desha yang marahnya sudah terlihat agak mereda.
"Mau aja! By the way ke kafe apa" Lagian ini kan udah malem!"
"Cleo Cafe di semanggi! Gila lo, ini kan baru jam enam sore!" kata Desha sambil melirik ke arah arloji asli Swiss miliknya.
Tanpa basa-basi lagi, Desha segera mendorong sohibnya dengan maksud menyuruhnya mandi.
"Gue tunggu di bawah, ya!!!" teriak Desha yang kemudian berlari menuruni anak tangga dan segera mengambil tempat di ruang tamu.
Selesai berhias, Lydia pergi ke Cleo bersama Desha diantar sopirnya Desha. Lydia merasakan sesuatu akan terjadi pada dirinya.
When you want it the most, there's no easy way out
When you ready to go and your heart left in doubt
Don't give up on your faith
Love comes to those who believe it
And that's the way it is (That's the 'Way It Is, Celine Dion)
Nico sedang tidur-tiduran di ranjang kamarnya. Dia masih teringat dengan alunan lagu Celine Dion yang dibawakan oleh 'cewek bandara' di Cleo tadi.
"Dan yang kedua buat seseorang yang sedang mencari gue setelah tiga tahun meninggalkan gue dan entah di mana dia sekarang."
Itulah yang dikatakan 'cewek bandara' abis dia selesai nyanyi. Kemudian, Nico memegang kepalanya yang sudah pusing. Tadi Nico emang sempet ke Cleo juga dan ketemu 'cewek bandara' itu vang ternyata suaranya merdu. Duh, siapa sih cewek itu" pikir Nico.
TOK! TOK! TOK! Seseorang mengetuk pintu kamar Nico. Nico yang sedang tidur-tiduran segera membuka pintu kamarnya.
saat dibuka, yang terlihat ternyata Kayla dengan balutan daster bergambar tokoh kartun Winnie the Pooh.
"ngapain, ji" kok gak tidur" kan udah malem..." tanya Nico. yang ditanya malah ngeloyor masuk dan langsung duduk begitu aja di kursi komputer Nico.
"Oh, nggak. jiejie mau tau perkembangan kamu aja." jawab Kayla.
"maksudnya""
"ya, gitu deh! kamu kan tiga hari lagi tes masuk SMU Harapan Kasih, udah siap belum""
"Pastinya donk," jawab Nico bersemangat. "dulu, jiejie tesnya susah ato gampang"" tanya Nico lagi.
"Waktu zaman jiejie sih gampang banget! lagian, kamu jangan takutlah! Bro-nya jiejie kan smart. pasti lulus deh," kata Lydia, menumbuhkan kepercayaan diri adik semata wayangnya.
"Ah, bisa aja," kata nico lagi tersipu.
"Kamu udah punya pacar belum"" tanya Kayla.
"Belum." "Belum di Indonesia, tapi di Kanada udah!"
"Beneran belum," kata Nico yang mukanya sudah memerah, "Tapi..."
"Tapi apa""
"Tapi, aku udah punya tunangan gak resmi."
"HAH"!" "Ssssttt... jangan keras-keras donk! nanti mami papi bangun" kata Nico setengah berteriak.
"Tunangan gak resmi" maksudnya"" tanya Kayla terheran-heran.
"Nih." Nico melepaskan kalung berliontin merpati dari lehernya. kalung itu tidak mengalami perubahan sama sekali. masih mengkilap seperti dulu.
"Wow! Cantik banget! dari siapa, Bro"" tanya Kayla terkagum-kagum sambil mengambil kalung itu dari tangan Nico.
"Dari tunangan gak resmi aku."
"Heh"" tanya Kayla mengernyitkan dahinya dan melihat ke arah Nico.
"GIni... Dulu sebelum aku ke Toronto, teman aku yang namanya Lydia ngasih kalung itu ke aku. ini hadiah terakhir dari dia, aku cinta banget sama dia. Tapi, sekarang aku gak tau dia ada di mana. janjinya sih, kita ketemu di SMU Harapan Kasih," kata Nico panjang lebar yang membuat Kayla keasyikan bengong. mendengarkan cerita adiknya yang memang seru untuk disimak.
"Terus"" tanya Kayla mengemb
alikan kalung itu. "Ya, terus kita udah komit buat masuk SMU Harapan Kasih."
"Terus"" "Sekarang aku ragu bisa ketemu dia di SMU Harapan Kasih. nama panjangnya aja aku gak ingat. dia juga pasti gak tau nama panjang aku. satu-satunya alternatif. ya, cuma melalui kalung ini."
"Terus"" "Ya, udah. gitu aja."
"Terus"" "JIE, JANGAN TERUS-TERUS MELULU DONG!!!" jerit Nico, membuat Kayla tersadar dari bengongnya. "Ngerti gak cerita aku""
"Oh, ngerti banget! so, itu yang kamu sebut tunangan gak resmi""
Nico hanya mengangguk. "Oke deh, Bro-nya jiejie udah gede, ya" kalau kamu memang cinta sama dia, cari dia terus sampe dia ketemu. jiejie bantu dalam doa kok."
"Thanks ya, Jie," kata Nico sambil memeluk Kayla.
"By the way, ceritain donk tentang Jiejie dan Ferry itu."
"Gak mau!" "Harus!" "Gak mau!" "Harus!" "Gak akan mau dan gak akan pernah!"
"Gini nih" Jiejie ternyata gak sayang sama aku! Curang! Tadi aku kan udah ceritain tentang tunangan gak resmi aku."
"Oh, nggak kok! jiejie sayang banget sama kamu. jiejie ceritain deh!" kata Kayla setelah melihat muka Nico yang udah mulai cemberut.
"Gitu donk! Baru namanya Kayla!" kata Nico girang lagi.
"Gini, pertama kali kuliah, jiejie tabrakan sama Ferry yang juga anak baru di Beijing. pertama-tama, kita selalu ngomong pake bahasa mandarin. tapi, setelah tau kami sama-sama orang Indonesia, ya, kita ngomong bahasa Indonesia deh, Kan mottonya, we love Indonesia," kata Kayla sambil merenung.
"Terus"" "Terus dia minta nomor telepon jiejie."
"Sinetron banget! Terus""
"Abis jiejie kasih, kami saling telepon-teleponan, SMS-an, akhirnya suatu hari, Ferry nembak jiejie."
"Wah, bener-bener sinetron! Terus""
"Terus kami jadian."
"Wow! asli seratus persen sinetron!"
"Baru saja satu setengah tahun jadian, tau-tau dia selingkuh."
"Hah" Selingkuh""
Kayla mengangguk. "Ya, udah. jiejie minta putus, walaupun dia berusaha ngasih penjelasan."
"Terus, jiejie dengerin gak penjelasanya""
"Nggak tuh!" "Ya, jiejie. dengerin dulu! siapa tau tuh cewek saudaranya atau siapanya."
"Gak usah dibahas lagi deh!" kata Kayla.
"Oh, sori ya, jie. aku gak bermaksud ngungkit-ngungkit masa lalu jiejie."
"Lagian kamu sih yang tadi minta diceritain! Udah, kamu tidur! Udah malem tuh!" kata Kayla yang langsung bangkit dari kursi komputer Nico.


Love Me Twice Gebetan Lama Rasa Baru Karya Billy Homario di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nico melihat ke arah jam dinding, pukul 1 malam.
"AAARRGGGHHH!!!"
DI SMU Harapan Kasih Mobil Peugeot Kayla mengerem mulus di depan gerbang SMU Harapan Kasih. suasana sekolah masih sepi. padahal, sekarang sudah pukul 7.05. meskipun keheranan, Nico cepat-cepat turun dan melangkah menuju pos satpam di depan gerbang sekolah yang indah itu.
"Pagi pak, kok sepi, ya"" tanya Nico kepada Pak satpam yang sedang membenarkan dan merapikan seragam satpamnya.
"Pagi, Oh, kamu memangnya gak tau kalau tesnya diundur jadi jam delapan""
"Nggak." Nico terlihat lega. ternyata dia tidak telat.
TIN! TIN! TIN! Kayla membunyikan klakson mobilnya. Nico pun menoleh ke mobil kakaknya. kaca mobil dibuka oleh Kayla.
"Bro, goodluck ya, tesnya!" kata Kayla sambil mengacungkan jempolnya.
Nico mengangguk dan mengacungkan jempol lagi.
"Pak, ruang tesnya di mana"" tanya Nico setelah Kayla pergi.
"Di lantai dua. Ada petunjuknya kok," jawab Pak Satpam.
"Terima kasih, pak, saya naik dulu, ya."
"Mari-mari, semoga beruntung, ya!"
Nico pun berjalan menuju kelas tes. dia melihat ke sekeliling sekolah itu saat dia berjalan. indahnya! serasa sekolah di Kanada lagi!
BUK! Nico jatuh karena tersandung sebuah batu yang tergeletak di jalan. dia tidak melihat batu itu karena matanya sedari tadi hanya menikmati keindahan SMU Harapan Kasih. Tanpa sepengetahuannya, kalung berliontin merpati miliknya lepas dan jatuh. dan dia tetap jalan aja.
Finally, Nico sampai juga di ruangan tes. dia mengambil tempat duduk paling depan. dia sendirian di ruangan itu.
Beberapa lama kemudian, ruang tes mulai penuh. saat itu, Lydia baru sampai di calon sekolah barunya, Lydia pun lega karena waktu tes diundur. saat dia hendak menaiki tangga untuk masuk ke ruang tes, dia melihat sebuah barang yang sangat f
amiliar baginya. Kalung berliontin merpati yang diberikan kepada Nico tiga tahun lalu! Lydia pun segera memungutnya dari tanah.
Kok bisa di sini ya" Pasti Nico ada di sini, lantas kenapa dia membuang benda ini"
"Lyd, ngapain lo" Kok bengong"" tanya Desha, menyadarkan Lydia.
"Oh, nggak pap. masuk yuk!" ajak Lydia sambil memasukkan kalung yang dipungutnya tadi ke dalam tasnya.
Desha pun mengikuti Lydia yang berjalan cepat ke ruang tes, Ternyata, Desha dan Lydia beda ruang tes. Desha di ruang satu, Lydia di ruang dua-sama dengan Nico.
Lydia memasuki ruangan itu. kursi-kursi sudah penuh diduduki oleh para calon murid. hanya satu yang tersisa, di sebelah seseorang yang sepertinya dikenalnya.
"Sori, tempat ini ada orangnya gak"" tanya Lydia sopan sambil menepuk pundak orang itu karena orang itu lagi baca buku.
"Nggak ada kok. duduk aja silak..." ucapannya terpotong.
"Kamu"" tanya Lydia setelah melihat orang itu ternyata si 'cowok bandara.'
"Kamu" Hei, kita ketemu lagi, ya""
"Boleh aku duduk di sebelah kamu"" tanya Lydia lagi setelah beberapa saat mereka saling bertatapan.
"With pleasure!"
"Nama kamu si...," kata-kata Lydia terpotong karena pengawas tes sudah memasuki ruangan.
Lydia masih penasaran karena belum mengetahui siapa nama 'cowok bandara' yang sekarang sedang duduk di sebelahnya, mungkinkah Nico""
Hal yang sama pun terjadi pada Nico. dia penasaran siapa nama 'cewek bandara' di sebelahnya yang baru saja menerima kertas tes.
Nico segera menulis namanya di LJK ketika mengetahui cewek di sebelahnya sedang melirik ke arahnya untuk mengetahui namanya. Nico Farello.
DEG! Jantung Lydia serasa disiram air pegunungan. Nico" Nico itukah"
Lydia tiba-tiba sadar dari lamunannya dan segera menulis namanya. Sisca Veronica Lydia.
DEG! Nico juga merasakan jantungnya seperti disiram air pegunungan, Sisca Veronica LYDIA. Lydia itukah"
Setelah saling mengetahui nama, mereka berdua segera mengerjakan soal tesnya. mereka tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam mengisi soal.
setengah jam berlalu, Nico sudah selesai mengisi lembar jawabannya. dia langsung menyerahkan kertas itu kepada pengawas dan segera keluar dari ruang tes. Lydia pun melakukan hal yang sama setelah beberapa menit Nico keluar ruangan.
"NAMA kamu Nico, ya"" tanya Lydia, memulai percakapan setibanya mereka di kantin SMU Harapan Kasih yang berkualitas layaknya restoran.
"He-eh!" jawab Nico singkat. "Kamu" Sisca""
"Itu nama depanku. biasa dipanggil Lydia sih."
DEG! Jantung Nico kali ini benar-benar mau copot. dia memegangi dadanya karena takut jantungnya loncat keluar. Nico merasakan sesuatu yang aneh pada dadanya. Kalungnya! dia tak merasa kalungnya ada di dadanya. Muka Nico langsung pucat.
"Kamu kenapa, Nic"" tanya Lydia heran melihat muka Nico yang mendadak pucat dan sekarang sedang sibuk mencari-cari sesuatu ke kolong meja.
"Kalungku hilang!"
"Kalung apa" penting banget, ya"" tanya Lydia memancing.
"Kalung berliontin merpati. penting banget!"
DEG! Lydia langsung mendekap mulutnya. ternyata benar. yang sedang berada di hadapannya adalah Nico, merpatinya. Tapi Lydia tidak ingin mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya kepada Nico sekarang, dia belum siap.
"Lyd, ternyata elo ada di sini, ya" tanvya Desha tiba-tiba yang baru datang.
"Iya. Gue nungguin elo di sini aja." jawab Lydia. "Kenalin, ini Nico."
"Hai. Nico. Gue Desha!" kara Desha memperkenalkan diri yang membuat Nico menatap Desha sejenak, berhenti mencari kalungnya.
"Hai! Nico." balas Nico.
"Lyd. pulang yuk. Gue capek nih!" kata Desha.
"Hah" Ayo!" jawab Lydia. Pikirannya baru mendarat lagi di otaknya setelah beberapa saat melayang. "Nic, aku pulang dulu, ya"" kata Lydia lagi kepada Nico.
"Oh, iya. Hati-hati, ya."
"Nic"" tanya Lydia lagi setelah Desha berjalan menjauh. "Hah""
Jangan sekarang, Lydia. Ah"! Aduh bilang nggak, ya" Tapi, gue belum siap!
"Lvd" Kenapa"" tanya Nico lagi membuyarkan lamunan Lydia.
"Minta nomor HP kamu donk"" kata Lydia malu-malu. Mungkin gue bakal kasih tau dia perlahan-lahan.
"Hah" Nomor HP"" "Iya."
Nico pun memberitahu nomor HP-nya ke Lydia. D
ia sama sekali belum berfirasat bahwa Lydia yang sekarang berada di hadapannya adalah Lydia merpatinya. Setelah Nico memberitahu nomor HP-nya, Lydia gantian memberitahu nomor HP-nya. Sesudahnya, Lydia pamit pulang.
"SIANG, Pak!" "Siang. Eh, kamu lagi. Gimana tesnya" Lancar"" tanya Pak Satpam.
"Lancar, Pak. Tadi pagi, Bapak liat gak kalung saya yang jatuh""
"Waduh, kalung apaan tuh" Bapak rasanya tidak melihat," jawab Pak Satpam sambil mengerutkan dahinya seakan berpikir. "Tapi..."
"Tapi apa, Pak""
"Tadi sih, bapak sempat melihat seorang gadis mengambil sebuah kalung di situ," kata Pak Satpam sambil menunjuk ke arah jatuhnya kalung Nico tadi pagi.
"Lalu, Bapak liat gak liontinnya apa"
"Sepertinya merpati deh."
DEG! Ternyata benar, yang disebut Pak Satpam itu kalungnya Nico. Sekarang, Nico tinggal mencari tahu siapa gadis yang memungut kalungnya.
"Cewek yang ngambil itu penampilannya gimana, Pak""
"Pakai tas selempang warna hitam, rambutnya poni samping panjang, dan bawa teman satu orang, cewek juga."
Nico mencoba memikirkan bentuk cewek yang baru saja disebutkan oleh Pak Satpam. Nico sepertinya sudah pernah bertemu gadis itu. Lydia! Benar, lydia! Poni samping, tas selempang hitam, dan temannya, Desha.
"Oh, gitu. Ya, sudah, deh. Makasih, ya. Pak."
"Kembali, Dik!"
Nico pun mulai melangkahkan kakinya lagi untuk berjalan ke luar gerbang sekolah. di sana, sopir pribadi ayahnya sudah menunggu. Nico yakin sekali sekarang bahwa Lydia-lah yang menemukan kalungnya. Nico agaknya mulai mempunyai firasat bahwa Lydia yang tadi bicara dengannya, Lydia yang bernyanyi di Cleo waktu itu, dan Lydia yang menabraknya di bandara adalah Lydia merpatinya.
Untung gue tau nomor HP dia. Jadi, bisa cari tau deh. Tapi, apa bener dia Lydia yang itu" Kok dia keli-atannya biasa aja ya tadi"
"Tuan muda, kita langsung pulang nih"" tanya sopir yang membuyarkan lamunan Nico.
"Eh. jangan." kata Nico yang kemudian berpikir. "Ke toko kaset dulu ya, Pak. Aku mau beli kaset dulu," katanya lagi.
"Baik, Tuan." "NIC. pulang!" sapa Nico ketika baru saja sampai di rumah.
"Nic, kok pulangnya siang" Tesnya lama, ya"" "Eh, Mami. Tadi aku ke toko kaset dulu." "Oh, gimana tesnya" Lancar"" "Lancar banget," ujar Nico mantap. "By the way, perut Nico gak bisa diajak kompromi lagi nih, Mi."
Tanpa basa-basi lagi, Nico segera menuju ke meja makan lalu menyantap lahap menu yang tersedia, bagai anak kucing yang sudah lima hari belum makan tikus. "Laper, ya, Sayang"" tanya maminya. "Banget, Mi!" jawab Nico dengan mulut penuh makanan sehingga suaranya berbeda dari biasanya.
"Kok bisa, ya, kamu makan sebanyak itu, tapi gak gendut-gendut""
Nico tidak menjawabnya. Dia hanya bisa terkekeh Selesai makan, Nico langsung menuju kamarnya. Dia jadi mengantuk karena kenyang. Untuk mengusir rasa kantuknya, Nico segera menyetel lagu Breakaway milik Kelly Clarkson yang albumnya baru dibeli tadi.
Ketika dia sedang asyik-asyiknya menikmati lagu itu, HP di dalam kantong celananya bergetar.
"Halo"" sapa orang di seberang.
"Halo! Lydia, ya"" tanya Nico karena tadi dia sudah melihat nama Lydia di layar HP sebelum dia mengangkat panggilan dari Lydia.
"Iya. Kamu lagi ngapain"" tanya Lydia.
Duh, kok dia perhatian gitu ya sama gue"
"Halo" Kok gak dijawab"" tanya Lydia yang membuyarkan lamunan Nico. "Lagi denger lagu Kelly, ya""
"Hah" Eh, iya," jawab Nico kaya orang tolol. "Kok tau sih""
"Kedengeran." Nico segera mengecilkan volume lagu itu. "Kamu sendiri lagi ngapain""
"Aku" Aku lagi nelpon kamu." "Yah, itu sih aku juga tau."
"Hahaha... Aku lagi mau mandi nih," jawab Lydia.
"Oh, gitu. Pantes baunya kecium ke sini." "Ah, kurang ajar!"
"Ya, udah. Mandi aja dulu. Nanti malam aku yang telepon kamu deh. "Janji, ya""
"Iya." Nico memutuskan panggilan. Baru saja dia hendak meletakkan HP-nya. tiba-tiba ada SMS masuk.
Bro, Jiejie dah jadian lg sm Ferry. Seneng bgt dech!
Ternyata dari Kavla. Nico hanya bisa mengusap dadanya setelah membaca SMS itu. Begitu aja pake ngasih tau.
TOK! TOK! TOK! Pintu kamar Nico diketuk. Andaikan saja pintu itu bernyawa, pasti dia akan
membalas setiap orang yang menjitaknya. Ketika dia hendak membuka pintu, terdengar teriakan Kayla dari luar yang menyuruhnya makan malam.
Nico pun segera turun untuk makan. Malam ini, Nico benar-benar gak nafsu makan. Selain penyebabnya tadi siang dia sudah makan banyak, dia juga sudah janji mau telepon Lydia-yang siapa tau adalah merpatinya itu.
"Nic, kok makannya sedikit"" tanya maminya. "Bro! Kok diem sih""
"Hah" Ah, nggak!" jawab Nico karena baru sadar dari lamunannya.
Nico meneruskan makannya. Selesai makan dia buru-buru ke kamar.
Dia segera mengambil HP-nya. Dia segera menekan tombol 8, lalu call, karena dia udah jadiin nomor HP nya Lydia sebagai speed dial. Gampang deh jadinya!
"Halo!" jawab orang di seberang.
"Halo, Lyd! Mandinya udah belom"" tanya Nico asal karena tidak tahu apa yang harus dimulai.
"Ya, udahlah! Lagi ngapain kamu""
Tuh, kan! Dia selalu care sama gue. Kayaknya dia ada perasaan deh sama gue.
"Hello, are you still stay there"" tanya Lydia lagi karena Nico gak ngerespon.
"Yes, absolutely!! Tebak coba aku lagi ngapain""
"Lagi nelpon aku."
"Yee!!!" "Bener donk""
"Iya, bener juga sih. Kamu suka juga bercanda, ya""
"Iya." "Oh, iya. Aku mau tanya. Tadi pagi, pas kira tes di SMU Harapan Kasih, liat kalung aku yang jatuh gak"" DEG!
"Eh, kamu liat... eh... kamu yakin lulus tes gak"" tanya Lydia berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Nico.
"Lyd, please jawab aku. Kamu liat gak""
"Aduh, udah dulu, ya. Aku mau makan dulu," kata Lydia lagi berusaha menghindar.
"Lyd, kamu belum ja..."
"Inget, ya! Pengumumannya tiga hari lagi! Bye!" "Tunggu dulu, Lyd. Kamu bel..."
TUT...TUT...TUT... Nico mematikan HP-nya kesal. Lydia telah memutuskan panggilannya sebelum menjawab pertanyaan Nico.
Kenapa, sih, dimatiin" Bete! Mungkin gak sih dia yang nemuin" Atau dia gak mau pulangin" Atau jangan-jangan dia benar-benar Lydia, terus dia belum siap ngungkapin siapa dia sebenarnya dan ngebalikin kalung gue"
SMU HARAPAN KASIH. Pengumuman Penting Itu.
"Hai!" sapa sebuah suara yang belum pernah didengar Nico. Orang yang mengeluarkan suara itu malah memukul punggung Nico pelan.
Nico mengerutkan dahinya melihat orang itu, "Siapa, ya""
"Yah! Gini nih, lupa sama temen lama!" jawab orang itu.
"Maksudnya"" "Gue Ery!"
"Ery mana, ya"" tanya Nico lagi. "Ery temen elu waktu di SD!" Nico mencoba mem-flashback pikirannya. Ery... Ery... Ery....
"OH, IYA!!!" teriak Nico yang membuat seluruh calon murid yang memenuhi aula menoleh ke arahnya.
"udah inget"" tanya orang yang ternyata bernama Ery itu.
"Inget! Ery yang pernah gue tolongin karena dimu-suhin itu kan" Kok lo inget sama gue sih""
"Please, deh! Jangan ngungkit-ngungkit masa lalu gituuuuu!" kata Ery kesal dengan lagak kayak banci.
"Hahahaha... Sejak kapan lo jadi banci, Ry""
tanya Nico lagi. "Sialan lo! Gue lelaki sejati tau!" ujar Ery dengan nada cukup tinggi.
Kepala SMU Harapan Kasih mulai menginjakkan kakinya di ruang aula. Dia segera menuju podium yang berada di depan untuk mulai berceramah. Nico melihatnya dengan tidak bergairah. Anak-anak yang lain langsung duduk tenang.
Sang kepala sekolah pun mulai berceramah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya amatlah bijaksana. Nico berusaha menghibur dirinya untuk menghindari boring. Dia melihat ke sekeliling. Ditangkapnya sebuah objek yang sedang tersenyum manis kepadanya. Lydia! Nico pun melambaikan tangannya yang segera dibalas oleh Lydia. Nico tersenyum padanya.
"Baiklah. Bapak sudahi dulu sampai di sini. Mudah-mudahan kalian lulus tes dan menjadi bagian dari sekolah ini. Selamat siang!" kata kepala sekolah, mengakhiri ceramahnya. Kalimat itulah yang sedari tadi diharapkan keluar dari mulutnya oleh Nico dan yang lainnya.
Nico dan Ery langsung menuju papan pengumuman yang sudah ramai dikerubuti para calon siswa. Mau tidak mau mereka menunggu daripada tercampur dalam kerubungan itu.
Selama menunggu, detak jantung Nico dan Ery semakin meningkat. Bayangkan saja, banyak sekali yang kecewa dan menangis karena tidak lulus.
Kini, Nico dan Ery sudah sampai pada gilirannya untuk melihat h
asil tes mereka. Nico mencari-cari namanya yang belum ditemukan. Penglihatannya pindah ke kertas pengumuman yang kedua karena di kertas pertama namanya tidak ada.
"YES! GUE LULUS!!!" teriak Ery yang membuat Nico terkejut dan menghentikan pencarian namanya seketika.
"Gila lo, ya""
"Bodo! Yang penting gue lulus!"
Nico hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan meneruskan pencariannya. Dia menemukan namanya. Dia menggerakkan jarinya lurus ke deretan nilai yang tertuliskan namanya. Matematika 95, Bahasa Indonesia 90, Sains 85, Bahasa Inggris 100, keputusan LULUS!
"YES. GUE JUGA LULUS, RY!" teriak Nico meledak. Dia tidak menyangka dia bisa lulus dengan nilai yang patut dibanggakan.
"Norak!" jawab Ery cuek.
"Bodo! Yang penting gue lulus!" kata Nico lagi mengikuti perkataan Ery.
Nico segera mengalihkan penglihatannya dari wajah Ery. Dia menangkap sesosok objek perempuan cantik berambut poni samping yang telah dikenalnya. Lydia melambaikan tangannya ke Nico. Nico membalasnya. Nico menarik tangan Ery, kemudian menghampiri Lydia.
"Hai, Lyd! Gimana" Kamu lulus"" tanya Nico sesampainya di hadapan Lydia yang sedang duduk bersama Desha di kursi lapangan basket.
"Hai!" balas Lydia disertai senyum mautnya yang membuatnya bertambah manis. "Lulus donk."
"Eh, elo, Ry" Apa kabar"" tanya Lydia.
"Baik donk!" jawab Ery. "Kok elo bisa kenal dia sih, Nic"" Ery memandang Nico heran.
"Ya, bisalah!" jawab Nico dengan nada tinggi.
"Teerus, kalian berdua tadi ngomongnya kok pake 'aku-kamu', sih" Pacaran, ya"" goda Ery.
"Apaan, sih, lo"" sahut Lydia tersipu.
"Iya, Ry. Mereka berdua emang cocok! Lydia itu tinggi, cakep, putih, dan smart. Nico ganteng, tinggi, putih, dan smart juga. Cocok, kan"" celetuk Desha lagi.
"Bener lo, Des! Buktinya, Nico ranking satu tes kemarin itu loh!" kata Ery menyetujui. "Tampangnya juga, nggak kukuuuu..."
Nico dan Lydia hanya bisa tersipu malu dan bangga karena dipuji oleh Desha dan Ery. Tak berapa lama kemudian, mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, pundak Lydia ditahan seseorang. Lydia dan Desha pun langsung menoleh ke arah orang yang menghadang mereka.
"Gue masuk di SMU HK, loh!" kata orang yang ternyata Villa.
Villa emang musuh mereka. Dulu, mereka sempet temenan. Tapi karena Villa "salah jalan', Lydia dan Desha memutuskan untuk gak bertemen lagi sama dia dan dayangnya. Sella, yang merupakan 'mantan teman' mereka juga.
"Terus apa urusannya"" tanya Desha menantang. Tangan Lydia spontan menyenggol tangan Desha, mengisyaratkan agar tidak meladeni.
"Ya. ati-ati aja!" timpal Sella.
"Bener banger! Terutama buat ELO!" kata Villa lagi sambil melotot dan menunjuk muka Lydia.
"Kenapa emangnya"" kata Lydia yang akhirnya mengeluarkan suara dengan nada menantang.
"Udah ketemu sama merpati gembel elo itu"" tanya Sella menghina.
"Kalo udah emangnya kenapa"" tanya Lydia lagi menantang.
"Ati-ati, ya! Gue bakal ngerebut merpati lo yang ganteng itu dari tangan lo!"
"Jaga. ya, tuh mulut!" sahut Desha tiba-tiba sambil menunjukkan jari telunjuknya ke mulut Villa. "Cowok itu juga gak bakalan mau sama cewek amburadul kayak elo!" tambahnya lagi, sudah benar-benar panas.
"Elo yang jaga mulut lo!" jawab Sella yang menyebabkan pertengkaran fisik antara Sella dan Desha.
Lydia segera melerai Desha. Desha sudah sempat menonjok pipi Sella tadi. Villa pun menarik tangan Sella dengan maksud melerainya.
"Jangan diladenin lagi, Des! Biarin aja!" kata Lydia ketika suasana sudah kembali tenang.
"Bilangin tuh temen lo! Kalo punya mulut dijaga! Punya tangan juga dijaga, jangan sembarangan nonjok temen gue!" kata Villa.
"Oke!" jawab Lydia tiba-tiba. "Kita liat aja. Siapa yang berhasil ngedapetin Nico!" katanya lagi menantang Villa.
"Fine! Bye, Bitch!" kata Villa lagi yang benar-benar minta ditonjok.
Lydia dan Desha pun meneruskan perjalanannya. Lydia semper takut juga setelah diancam Villa yang bakal ngambil merpatinya.
Ah, udahlah! Merpatinya Nico atau bukan, gue juga gak tau. Liat aja nanti. Tapi, kayaknya kalo gue ngobrol sama Nico kok kayak ada getaran-getaran positif gitu, ya
" 3. Dovamor (Je T'aime) NICO agak minder karena hari ini adalah hari pertamanya sekolah dan dia jadi angkatan yang termuda. Padahal, banyak siswi-siswi yang merupakan anak kelas XI dan XII melihat ke arahnya dengan tatapan gimanaaaa gitu. kesengsem gitu lho! Gimana gak kesengsem. orang yang dilihat itu ganteng banget sih.
Nico akhirnya menangkap satu objek yang bisa membuat kepercayaan dirinya bangkit seketika. Dia telah menemukan Ery sedang melambaikan tangan kepadanya di depan ruang guru. Dia juga melihat Lydia dan Desha sedang bersamanya. Mereka memang menunggu Nico sedari tadi. Nico segera menghampirinya.
"Udah lama"" sapa Nico sesampainya di hadapan teman-temannya.
Yang ditanya malah tidak menjawab dan malah tersenyum gak jelas. Desha tiba tiba membisikkan sesuatu kepada Lydia. "Jangan sekarang. Lyd!"
"Nggak kok. Nic." jawab Ery yang tidak menga lihkan penglihatan dari kakak kakak kelas perempuan yang sedang melambaikan tangan kepadanya, Ery pun membalas lambaian mereka.
Tiba-tiba mata Desha dan Lydia melotot. Dia menangkap objek yang sangat menjijikkan yang mem buat mereka ngomong 'najis' di dalam hati. Objek itu tidak lain adalah Villa dan Sella. Kalau melihat mereka saja sih mungkin tidak segitu jijiknya. tapi kali ini. Villa dan Sella masuk sekolah bareng dengan rok abu-abunya yang pendeeek banget! Bayangin aja, SEPAHA! "Woi! Kenapa, sih"" tanya Nico. "Liat deh!" kata Lydia sambil menunjuk ke arah Villa dan Sella.
"Dua cewek itu" Yang roknya..." "He-eh!" jawab Desha sambil mengangguk. "Kenapa emangnya" Hak orang kan mau pake rok pendek atau kagak! Toh, dia ini yang malu, kan"" tanya Nico heran.
"Tapi kali ini beda! Mereka tuh murahan banget tau gak"" jawab Desha sewot. Ery langsung mengalihkan penglihatannya ke arah Desha.
"Oh, iya, Nic! Mereka itu mantan teman Lydia dan Desha!" kau Ery setelah melihat Villa dan Sella.
"Maksudnya"" tanya Nico bingung.
bel tanda masuk kelas berbunyi sebelum Ery, Lydia, dan Desha menjawab pertanyaan Nico. Mereka harus segera masuk ke kelas untuk hari pertamanya. Kebetulan kelas mereka berempat sama, yaitu kelas X-8. Di dalam kelas, sang wali kelas telah menunggu kedatangan siswa-siswinya.
"Pagi semuanya," sapa wali kelas yang bernama Pak Eeno.
"PAGI, PAK!!!" jawab anak anak serempak. "Hari ini kita tidak belajar.."
"HORE!!!" teriak Villa dan Sella yang membuat omongan Pak Reno terpotong Spontan saja seisi kelas menyoraki Villa dan Sella. Yang disoraki malah bangga karena berhasil nyari perhatian alias caper.
"Kalian ini! Siapa nama kalian" Baru masuk saja sudah tidak disiplin! Mau di-DO" tanya Pak Reno galak.
"Saya" Saya Villa, Pak. Villa, katanya sambil menegaskan kata 'Villa.'
"Kamu"" tanya Pak Reno menunjuk Sella.
"Saya Sella, Pak. Jangan di-DO donk. Pak. Nanti SMU Harapan Kasih kehilangan dua primadonanya yang cantik!" kata Sella yang disambut sorakan anak-anak sekelas. Lydia dan Desha udah empet ngedengernya.
"Sudah! Sudah! Jangan dihiraukan!" kata Pak Reno menghentikan sorakan dari anak-anaknya. "Villa dan Sella, sekali lagi cari perhatian, awas!"
Villa dan Sella malah tersenyum-senyum, bukannya malu. Kini, Nico sudah tahu kenapa Lydia dan Desha benci banget sama mereka.
"Hari ini, kita akan membentuk pengurus kelas. Langsung saja kita mulai dari ketua kelas. Siapa yang bersedia menjadi ketua kelas"" tanya Pak Reno lagi.
Ery segera menggerakkan tangan Nico dan menaik kannya.
"Apaan sih, lo"" bisik Nico kepada Ery. "Ya, kamu! Silakan maju!" kata Pak Reno kepada Nico.
Mau tidak mau, Nico maju ke depan kelas. "Hai, ganteng! Minta nomor HP donk!" teriak Villa kepada Nico.
"Villa, kamu lagi!" kata Pak Reno geram. "Keluar!"
"Tapi, Pak." kata Villa berusaha membela diri. "KELUAR!!!"
Mau tidak mau. Villa menurut. Villa keluar sambil menyumpah saking kesalnya. Lydia tersenyum puas. Sella menatap Lydia benci. Sella langsung mengalihkan penglihatannya ketika Desha memelototinya.
"Oke, wakilnya siapa"" lanjut Pak Reno ketika Villa sudah berada di luar.
"Dia aja, Pak!'" teriak Ery sambil menunjuk Lydia.
"Ya, kamu silak...."
"Jangan dia! Saya aja, Pak!" teriak Sella, ke-PD-an, yang sekali lagi memotong pembicaraan Pak Reno.
"Kamu lagi"" kata Pak Reno geram. "Keluar!"
"Pak, saya kan cuma mencalonkan diri supaya saya bisa jadi wakil ketua kel...."
"KELUAR!!!" Mau tidak mau, Sella harus menyusul Villa di
luar. Oke. Perkenalkan diri kalian kepada teman-teman kalian, Nak, kata Pak Reno kepada Nico dan Lydia.
Setelah memperkenalkan diri, Nico dan Lydia diresmikan menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas oleh Pak Reno dan siswa-siswi sekelasnya. Nico dan Lydia tampak bangga. Dari luar, Villa dan Sella menatap Lydia jijik sambil mencibir, meremehkannya. Rencana pembalasan dendam sudah disusun oleh mereka. Tak berapa lama kemudian, Villa dan Sella diizinkan masuk ke kelas lagi oleh Pak Reno.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, tepat setelah Pak Reno membagikan jadwal pelajaran. Hari ini adalah hari tidak efektif alias belum ada pelajaran. Maka, siswa dan siswi SMU Harapan Kasih dipulangkan lebih awal.
"Sialan tuh guru! Gak tau apa gue ini siapa"" kata Villa kesal, tepat di depan kelas setelah semua murid keluar.
"Emang! Bikin malu aja! Padahal, yang cocok jadi ketua dan wakilnya, ya, kita berdua, kan"" tambah Sella lagi.
Mereka tidak menyadari kalau Pak Reno sedari tadi menguping di belakang mereka.
"KALIAN BERDUA, IKUT BAPAK KE RUANG KEPALA SEKOLAH!!!"
"PAK RENO, Anda bisa keluar. Biar saya yang mengatasi kedua murid ini," kata Pak Junni, kepala sekolah. "Baik, Pak."
Setelah Pak Reno keluar. Villa langsung mencibir dan menyumpahi Pak Reno. Sella hanya bisa gemetaran lantaran takut di-DO.
"Kenapa kalian ini"" tanya Pak Junni sambil menaikkan kacamatanya.
"Penting, ya"!" kata Villa menantang.
Sella menyenggol siku Villa dengan sikunya.
Berani amat dia ngomong begitu sama Kepsek. Cari mati nih!
"Villa, asal kamu tau aja, ya!" kata Pak Junni yang semakin serius "Memang kamu keponakan om. Dengan begitu. bukan berarti kamu itu bisa bertindak seenaknya di sini!"
Oh. ternyata dia Om-nya Villa.


Love Me Twice Gebetan Lama Rasa Baru Karya Billy Homario di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh. ya"" tanya Villa semakin menantang dan
kurang ajar, "Om siapa, sih" Om. kan cuma adiknya Mama! Jangan belagu dan sok mau nasihatin aku, deh.
"VILLA!!!" bentak Pak Junni sambil memukul meja
sampai komputer di mejanya bergoyang.
"Kenapa" Om mau apa"" tanya Villa. "Mau pukul"" tanyanya lagi. Sementara Sella hanya bisa bengong memerhatikan mereka.
"Om mau men-DO kalian!"
"Jangan donk, Pak. Bapak masa tega sih sama keponakan sendiri"" bela Sella yang akhirnya mengeluarkan suara.
"Silakan aja kalau Anda ingin kehilangan pekerjaan, Pak Junni!" sahut Villa tanpa takut. "Lupa, ya, sekolah ini punya siapa""
"Walaupun sekolah ini punya papamu, jangan dikira om takut sama kamu!"
"Terserah deh, Capek tau gak ngeladenin Anda, Tuan Junni. Sel, keluar yuk! Gerah di sini!" kata Villa sambil menggerak-gerakkan kerah seragamnya.
Setelah keluar dari ruangan dengan tidak sopan. Villa kembali mencibirkan Pak Junni yang merupakan om-nya juga. Kebetulan mereka berpapasan dengan Lydia yang sedang berjalan.
"Nih, dia perempuan murahan si wakil ketua kelas kita," kata Villa belagu menghentikan langkah Lydia.
"Vil, perempuan murahan kan seharusnya jadi apa gitu" yang jelas bukan wakil ketua kelas. bener, nggak""
tambah Sella yang semakin ngajakin ribut.
"Bener banget! jadi apa, ya" Mm, wanita 'P' kali, ya"" jawab Villa sambil menekankan kata 'P' lalu tertawa yang diikuti tawa Sella.
"Hello! kalian baru ngomongin diri kalian, ya" kali ini tumben ada maling yang mau ngaku!" jawab Lydia yang berhasil membuat mereka gondok.
"HEH!!!" bentak Villa sambil menarik tangan Lydia yang sudah berjalan. Lydia pun tertarik ke arah Villa.
"Denger, ya! Elo tuh jangan belagu! udah ngerebut cowok orang, sekarang ngambil gelar gue. Mau lo tuh apa, sih""
"BEner banget! kita bisa aja ngeluarin lo dari sekolah ini!" tambah Sella.
"Oh, ya" apa gue gak salah denger" Cowok orang" Cowok siapa maksud lo" Nico itu nggak mungkin suka sama lo, Vil. sadar donk! dan juga masalah wakil ketua kelas, lo tuh nggak mungkin ngedapetin gelar itu kalo sifat dan kelakuan lo masih kayak gini
!" "Nih, anak bener-bener minta dikeluarin dari sekolah ini!" sahut Sella panas.
"Hah" apa gak salah denger" keluarin" emang sekolah ini punya bokap lo apa"" tanya Lydia menantang Sella.
"Sekolah ini punya bokap gue tau gak!" jawab Villa sombong.
"Terus" elo mau keluarin gue" coba kalo berani!" tantang Lydia.
"Gue bakal bikin lo tersisih perlahan-lahan, sampai lo yang akhirnya pengen keluar sendiri!" jawab Villa.
"Oke! kita liat aja!" jawab Lydia seraya meninggalkan mereka.
"WOI!!! INGET, YA! SUATU HARI GUE BAKAL NGANCURIN ELO DAN NGEREBUT NICO!!!" teriak Villa
"Udah lama nunggunya, ya"" tanya Lydia yang baru saja balik dari WC.
"Oh, nggak papa kok," kata Nico sambil menerahkan tas Lydia.
"Ery sama Desha mana, Nic""
"Udah pulang." "Oh," jawab Lydia.
Ini saat yang tepat untuk ngomong ke dia.
"Lyd, kok bengong"" tanya Nico sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Lydia dengan maksud menyadarkannya.
"Eh" Oh. iya," jawab Lydia.
Aduh, gue takut. Gue gak siap.
"Lyd, kenapa sih""
"Oh, nggak papa!"
"By the way, Villa dan Sella itu belagu banget, ya""
"Banget." "Kita pulang yuk!"
"Eh, nanti dulu, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apa, Lyd" ngomong aja."
"Nic..." "Hmm""""
"Aku mau ajakin kamu ke mal nanti sore," jawab Lydia. Aduh, bego banget sih gue"
"Boleh, di mana""
"Di mal Taman Anggrek."
"Oke! Nanti aku yang jemput kamu, ya!"
"Kamu tau alamatku""
"Tau." "Tau dari siapa""
"Dari Desha." "Oh." "Ya, udah. sekarang kita pulang, terus nanti sore aku jemput kamu."
Nico dan Lydia pun berjalan pulang. di tengah perjalanan, Nico mulai merasakan sesuatu yang gimanaaa gitu, akan menimpanya.
Ada apaan nih" jangan-jangan dia... Ah, gue gak boleh mikir macem-macem.
BUK! Nico melihat Lydia terjatuh di sampingnya. Nico segera membantunya berdiri. Nico merasakan ada yang aneh dari cara dia terjatuh. tidak kesandung, tapi jatuh sendiri. Ataxia"
"KAmu kenapa. Lyd"" tanya Nico sambil membantu Lydia berdiri. "Sakit, gak"" tanyanya lagi sambil mengambil tisu dan mengelap darah di lutut Lydia.
"Sakitlah. aku gak tau kenapa tiba-tiba bisa jatuh. TIba-tiba aja aku ngerasa nyeri banget di tulang kering aku." jawab Lydia sambil berusaha berdiri.
"Kamu punya penyakit, ya"" anya Nico curiga.
"Penyakit apaan" Nggak tuh," jawab Lydia.
"Yakin"" "Yakin." Nico dan Lydia pun meneruskan perjalanannya.
Aneh kenapa gue bisa jatuh begitu, ya" Gak ada batu kok. Gue juga gak kesandung. Mana nyeri banget lagi di tulang kering!
"By the way, kamu nge-add aku ya, Lyd""
"Iya, kamu udah approve""
"Udah." "Makasih ya, Nic! makasih lagi, udah mau nganter aku." kata Lydia sambil mengorek-ngorek tasnya untuk mengambil kunci gerbang rumahnya.
"Sama-sama. That's what friends are for!"
"Nanti jemput aku, ya""
"Oke, ratuku!" Setelah sempat tertawa selama beberapa detik, Nico pamit pulang, Lydia memerhatikannya sampai bayangan Nico tak nampak lagi di tikungan.
Bentar lagi adalah momen yang tepat buat ngasih tau dia!
NICO sedang sibuk mengorek-ngorek lemari pakaian di dalam kamarnya. dia harus menemukan baju yang terbaik agar kencan pertamanya dengan Lydia lancar.
Aduh, plis deh. Bukan first date gitu lho! jadian aja belom.
Setelah beberapa menit mengorek-ngorek lemari sampai baju-bajunya berantakan, akhirnya Nico menemukan baju yang cocok dan hendak dipakainya nanti sore.
Penampilan Nico dari atas ke bawah udah perfect abis, Kemeja yang dipadukan dengan kaus lenga panjang, dan celana jeans udah nempel di badannya.
"Mi, aku pergi dulu ya!" pamit Nico kepada maminya.
"Iya, hati-hati, ya!"
Nico segera menuju garasi dan mengeluarkan mobil Peugeot milik Kayla yang hendak dipinjamnya. Setelah mobilnya keluar dengan sempurna, dia segera melesatkan mobilnya ke rumah Lydia.
TIN! TIN! TIN!!! Lydia mengintip dari gorden jendela kamarnya untuk memastikan bahwa Nico yang mengklakson mobilnya. Nico membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya. Lydia segera menutup gorden dan berjalan menuju cermin. perfect! dia pun segera turun.
"Gak lama, kan"" sapa Lydia saat masuk ke dalam mobil sambil
memakai seatbelt-nya. "Oh, nggak kok." jawab Nico tersenyum.
Selama perjalanan, tidak ada ada yang mengeluarkan suara karena kedua ABG itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Lydia hanya bisa memerhatikan jalan sambil bengong. Nico ingin sekali berbicara, tapi malu.
Tak terasa, mereka sudah sampai di Mal Taman Anggrek. Nico segera memarkirkan mobilnya melalui jasa valet parking. setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam mal. Mal Taman Anggrek hari ini lebih sepi daripada biasanya.
Nico pun mulai berjalan di samping Lydia.
Gandeng aku donk, Nic. Lydia berharap dalam hati.
Harapan Lydia terkabul. Nico memberanikan diri menggandeng Lydia. kini, mereka terlihat seperti orang yang sedang berpacaran. tiba-tiba, Lydia berdehem. Nico pun spontan terkejut dan melepaskan gandengannya.
"Eh, gak papa kok. Gandeng aja. Aku tadi lagi serak aja," kata Lydia yang tidak bermaksud berdehem. Aduh, gue ngomong apaan, sih"
Nico tidak langsung menggandeng Lydia karena masih malu. Kini, gantian Lydia yang memegang tangan Nico duluan. Nico terkejut. Nico merasakan bulu-bulu di badannya merinding.
"Eh, sekarang kamu mau ke mana"" tanya Nico salah tingkah.
"Terserah ka..."
BUK! Lydia terjatuh lagi. Tentu saja hal ini membuat Nico terkejut. Lagi-lagi Lydia jatuh tanpa sebab. Nico segera membantunya berdiri. Dan pada saat itu, Nico melihat kalung Lydia tergeletak di lantai karena terlepas dari leher Lydia saat jatuh tadi. Dia pun mengambil kalung Lydia. DEG!
Mata Nico membelalak ketika melihat liontin kalung itu. Liontin merpati! Persis dengan liontin miliknya yang hilang.
"Sori, ya, Nic!" kata Lydia sambil mengurut-urut kakinya yang sakit.
"Oh, iya. Gak pa-pa. Kamu sakit, ya"" tanya Nico sambil mengembalikan kalung Lydia.
"Nggak tau. Belakangan ini, tulang keringku sering banget nyeri."
"Oh, kalau begitu, abis ini kita ke dokter aja, ya""
"Gak usah. Thanks udah mau ngambilin kalung aku," kata Lydia berusaha memancing Nico.
"Oh, nggak pa-pa," kata Nico tenang. "Eh, kalung kamu bagus, ya"" tambahnya lagi. Nico sudah terpancing.
Lydia tidak menjawab. Dia mengajak Nico untuk melanjutkan jalannya. Nico merasa sekujur tubuhnya kaku setelah melihat liontin itu.
"Kita ke Platinum Resto yuk!" ajak Lydia yang membuyarkan lamunan Nico.
Nico hanya mengangguk. Pikirannya masih terpusat ke kalung tadi.
Sesampainya di Platinum Resto, mereka berdua langsung memesan makanan. Nico merasa gelisah sekali. Begitu juga dengan Lydia. Oleh karena itu, selama menunggu pesanan, mereka saling terdiam. Ayo, Lyd. Kasih tau dia sekarang! Pesanan sudah datang. Mereka langsung melahapnya karena perut mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Selesai makan, Lydia sudah siap memberitahu Nico siapa dirinya sebenarnya.
"Nic...," kata Lydia dengan jantung yang berdetak setriliyun kali lebih cepat dari biasanya.
"Hah"" "Kamu tau, nggak""
"Tau apa, Lyd""
Lydia menggerakkan tangannya ke arah lehernya dan melepaskan kalung berliontin merpatinya. Nico merasakan sesuatu Yang aneh. Lydia menggenggam tangan Nico. Kini, keberaniannya sudah memuncak. Lydia menarik napas kemudian menaruh liontin itu di telapak tangan kanan Nico yang terbuka.
"Nic. aku ini Lydia. Lydia merpatimu!"
DEG! Nico merasakan darahnya berhenti mengalir. Dia benar-benar Lydia! Lydia merpatinya. Cewek bandara itu ternyata Lydia!
"Kamu gak bercanda, kan"" tanya Nico memastikan.
Nggak! Aku pernah ngasih kalung ini ke kamu tiga tahun lalu di taman, kan" Kamu pergi ke Toronto, kan"" kata Lydia yang sudah berkaca-kaca.
"I-i-i-ya...," jawab Nico terbata karena masih syok.
Sekarang, Lydia yang kamu cari-cari ada di depanmu Nic. Lydia yang pernah nabrak kamu di bandara!" kata Lydia. Air mata sudah menetes di pipinya.
Nico langsung memeluk erat Lydia yang berada di depannya.
"I miss you!" kata Lydia yang sekarang sudah menangis terharu. "Me too!"
Kini, Lydia sudah mengungkapkan siapa dirinya. Nico pun sudah merasa puas karena Lydia merpatinya sudah ditemukan. Akhirnya.
"Aku cinta sama kamu, Lyd!" bisik Nico di telinga Lydia.
"Aku juga!" balas Lydia seraya mengalungkan kalu
ng berliontin merpati di leher Nico.
Malam itu menjadi malam yang paling indah bagi mereka berdua. Bintang-bintang turut gembira dengan mengedipkan cahayanya secara bergantian. Angin yang berembus pun serasa mengumandangkan lagu cinta untuk mereka.
Mobil Peugeot Kayla yang dipinjam Nico berhenti mulus di depan gerbang rumah Lydia.
"Makasih, ya, Nic!" kata Lydia tersenyum.
"You re wel..."
Kata-kata Nico terpotong karena dia merasakan Lydia mengecup pipinya. Lydia segera membuka pintu mobil di tengah kebengongan Nico.
"Mimpiin aku, ya, Nic!" kata Lydia dari luar mobil.
Nico membuka kaca mobilnya. "Iya."
Nico segera melajukan mobilnya lagi untuk pulang. Hatinya kini benar-benar terbang. Lydia pun merasakan hal yang sama. Dia melangkah masuk ke rumahnya. Setelah mobil Peugeot itu menghilang di perempatan...
BUK! Lydia terjatuh lagi dan merasakan tulang keringnya nyeri.
Aduh, kenapa, sih, gue" Belakangan ini gue sering jatuh tanpa sebab dan sering nyeri di tulang kering"
4. KATH NICO membanting tubuhnya ke kasur dan mengacak rambutnya. Hari ini sungguh melelahkan baginya. Sekolahnya baru saja menggelar pekan ulangan pertamanya.
Duh, siang-siang gini, enaknya ngapain, ya" Mending gue ajak Lydia nonton aja deh. Mumpung hari ini bisa nomat.
Dia segera mengambil HP-nya.
"Halo," sapanya ketika Lydia sudah menyapanya duluan. "Cinta, kita nonton yuk!" tambahnya lagi.
"Boleh. Aku juga baru aja mau ajakin kamu," jawab Lydia mengiyakan.
"Enaknya di mana, ya, Cinta"" tanya Nico lagi.
"Di eX-nice aja! Nonton Curse of the Golden Flower! Itu lho, yang ada Jay Chou-nya. Aku kangen banget, udah lama gak ngeliat muka idolaku, jawab Lydia panjang lebar.
"Ngapain liat Jay Chou aju sampe segitunya"" tanya Nico.
"Ih, jealous, ya"" goda Lydia.
Nggak kok. Biasa aja! Aku kan gak beda jauh sama dia! Gantengan aku malah!" tambahnya. "Ih. narsis!"
Mereka berdua tertawa. "Ya udah. Aku jemput setengah jam lagi, ya"" Setelah diiyakan merpatinya. Nico men-disconnect HP-nya. Dia langsung menuju kamar mandi.
NICO sedang berada di jalan sekarang. Dia mengendarai mobil BMW milik papinya yang tadi sempat dipinjam-nya. Matanya tiba-tiba menangkap satu objek. Objek yang merangsangnya untuk memberi pertolongan.
"Kalo bannya kempes, dibawa ke tukang tambal ban donk! kata Nico yang membuat seorang gadis-yang sedari tadi hanya bisa panik sambil memencet-mencet HP-nya-kaget.
"Oh, iya, nih. Gue sih, ada ban serep. Tapi, gue gak tau gimana masangnya," kata gadis itu.
"Oh, gitu. Mana ban serepnya"" tanya Nico seraya celingukan gak jelas. "Sini, gue yang pasangin!" tawarnya kemudian.
"Wah, gak usah deh. Ngerepotin lo aja!" "Gak pa-pa. Anggep aja kita temenan."
DEG! Jantung gadis itu mendadak berhenti berdetak. Buset dah! Cowok ganteng dan tajir gini nganggep gue
temen! Coba kalo gue pacarnya...
"Woi! Kok bengong""
"Eh, iya... iya...," jawab gadis itu. dia pun segera membuka bagasi mobilnya untuk mengambil ban serep.
Tak lama kemudian pekerjaan Nico pun selesai.
"Thanks, ya! Kenalin, gue Katharine. Panggil aja Kath!" kata gadis itu lagi.
"Sama-sama. Gue Nico," jawab Nico seraya mening-galkan cewek itu. Kayaknya dia udah inget lagi sama janjinya dengan Lydia.
"Eh, mau ke mana" Tunggu dulu!" kata Kath lagi yang membuat Nico berhenti melangkah dan berbalik ke arahnya.
"Apa"" tanya Nico.
"Boleh minta tolong lagi"" tanya Kath.
Nico mengangguk seraya tersenyum.
"Minjem HP lo donk. Gue mau telepon nyokap gue. Masa aktif pulsa gue udah abis."
Nico memberikan HP-nya. Kath meraihnya kemudian dia memencet nomor seseorang.
"Nih, kayaknya HP nyokap gue lagi gak aktif, deh," kata Kath sambil ngebalikin HP Nico.
"Thanks, ya!" "You're welcome!"
Nico segera berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Sesampainya di mobil, dia langsung tancap gas. Matanya melirik ke arah jam di mobilnya.
Belum telat. Masih ada waktu lima menit lagi.
Kath memerhatikan mobil Nico hilang di pertigaan. Dia membalikkan badannya seraya menggerakkan tangannya seakan berkata 'YES'.
Wah, tuh cowok ganteng banget, sih! Untung gue dah tau nomor handphon
e-nya. TAi Kath memang cuma pura-pura telepon nyokapnya! Dia mencet nomor HP-nya sendiri buat nge-missed call and then dia tau, deh, nomor HP Nico.
"Aku gak nyangka lho, kalo ending-nya bakal begitu." kata Nico yang nampaknya masih kecewa suasana serunya pas nonton tadi, Kini, mereka sedang berada di Pizza House.
"By the way, kenapa kamu telat tadi, Cinta"" tanya Lydia.
Nico hampir aja keselek pas Lydia selesai ngomong. Dia pun langsung ngejelasin insiden tadi. "Kamu gak marah kan"" tanyanya setelah bercerita.
"Ya, nggaklah, Cinta! Aku bangga banget samu kamu!"
"Bangga gimana"" tanya Nico heran.
"Ya, gitu deh!" jawab Lydia.
Nico membanting tubuhnya, kepalanya menoleh ke arah kanan, melihat fotonya dengan Lydia. Dia mengambil foto yang udah dikasih frame. Di foto itu, dia melihat sepasang remaja yang kelihatan perfect secara tampang. Foto itu tercipta tadi, saat di eX-nice, di photo box.
Nico memerhatikan wajah Lydia lebih dalam. Gak ada yang aneh sama mukanya, Tapi, dia kok sering jatuh-jatuh gitu, ya"
Tadi, saat di mal, Lydia sempet jatuh lagi, Gak ada objek yang disandungnya dan Lydia juga gak pake sepatu berhak tinggi.
HP Nico tiba-tiba berbunyi, pertanda panggilan masuk.
"Halo"" sapa Nico sambil mengerutkan dahinya setelah melihat nomor gak dikenal terpampang di layar HP-nya.
"Halo, Nic. Lagi ngapain lo" Chatting yuk!" jawab cewek di seberang.
"Siapa nih"" tanya Nico, rasa-rasanya dia pernah ngedenger suara itu.
"Gue Kath. Cewek yang tadi siang lo tolongin!"
Mulut Nico mendadak membulat seakan berkata 'Oh.'
"Chatting" Ngapain"" tanyanya lagi.
"Ngobrol aja! Nama gue 'ce-loetoe' ya!"
Nico tidak menjawabnya lantaran cewek itu sudah men-disconnect duluan. Nico mengingat-ingat cewek itu lagi. Tingginya sama kayak Lydia, cantik, kulitnya putih, rambutnya dikuncir rapi.
AAAARRRGGHH... mikir apaan, sih gue!
Dia segera menuju komputernya.
-co_imoetz- Eh, ne gw, Nico!
-ce_loetoe- Iya" knp"
-co_imoetz- Knp" td kan u yg ajakin gw chat!
-ce_loetoe- Oh, iya! sori, gw lp!
-ce_loetoe- U ge paen"
-co_imoetz- Ge chat lah, ma u! :)
-ce_loetoe- Ank mana c u"
-co_imoetz- Ank Harapan Kasih.
-ce_loetoe- Owww_Thanx ya, td dah help me!
-co_imoetz- Ga papa lah! :)
-ce_loetoe- Dah pny pcr lom"
-co_imoetz- Dah donk_U"
DEG! Jantung Kath serasa ingin copot. Antara senang dan kecewa. itulah perasaannya sekarang. Senang karena Nico bisadiajak chatting sama dia. Kecewa karena Nico udah punya pacar.
-co_imoetz- Hello"!"! kok gak d'jwb""" Dah pny lom"
Kath tetep gak ngejawab. Lima menit kemudian, dia segera menutup jendela mIRC-nya.
Gue harus berjuang! Berjuang! Gue harus ngedapetin cowok ganteng itu!
Kath tipe cewek yang perfeksionis. Apa yang diinginkan harus dia dapetin dan kalo bisa sesempurna mungkin. Tapi, mustahil deh kalo dia ngerebut cowok orang begitu aja. Kath itu keliatannya sangat menjunjung tinggi harga dirinya, jadi, gimana donk""" Tau ah, bingung! Liat aja nanti!
Nico juga segera menutup jendela mIRC-nya. Cewek aneh...
5. Trust Me, Please! Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, Nico berjalan keluar kelas dengan perasaan tak menentu. Dia pun segera duduk di kursi yang terdapat di lapangan untuk beristirahat sebentar setelah tadi Pak Ujang-guru mata pelajaran PPKN- memeberikan tugas yang sangat banyak.
Lydia tampak berjalan mendekatinya. Sejak insiden kemarin di Plaza Semanggi, Nico jadi malas bertemu dengannya. Hati Nico sudah terlalu sakit untuk melihatnya lagi. Insiden Lydia jalan bareng cowok laen.
BUK! Lydia terjatuh lagi. Lagi-lagi jatuh tanpa sebab. Hal ini tentu mengejutkan Nico, Nico ingin sekali membantunya berdiri. Tapi, dia masih askit ahti atas kejadian kemarin. Sukurin! Kualat tau, gak"!
Lydia berusaha bangkit sendiri. Dia kebingungan kenapa Nico tidak membantunya berdiri. Dia pun berjalan mendekati Nico dengan maksud duduk di sebelahnya sambil mengurut-urut tulang keringnya yang nyeri.
"Hai, Cinta." sapa Lydia setelah berhasil mendaratkan pantatnya di kursi. "Capek, ya"" tanyanya lagi yang masih sibuk mengurut-urut tula
ng keringnya. "CAPEK BANGET!!!" jawab Nico ketus, membuat Lydia terkejut. Nico pun bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Lydia sendirian.
"Nico, tunggu!" teriak Lydia sambil berusaha lari ke arah Nico, walaupun tulang keringnya masih terasa nyeri setengah mati.
Nico langsung melepaskan tangan Lydia yang memegang tangannya. "Gak usah deket-deket sama gue lagi!" jawab Nico kalap sambil berjalan terus, meninggalkan Lydia yang sedang susah payah berdiri.
"Nico, tunggu!" teriak Lydia lagi memanggil Nico. TApi percuma. Nico sudah masuk ke dalam mobil jemputannya.
Lydia pun segera duduk di kursi pos satpam. Aneh! Gak biasa-biasanya dia begini. Salah gue apa" Kok dia ketus gitu sama gue"
"Eh, ada Neng Geulis, Ngapain di sini, Neng"" tanya PAk Satpam yang tiba-tiba keluar dalam pos, mengejutkan Lydia.
"Eh, Bapak. nggak ngapa-ngapain. Nungguin jemputan aja," jawab Lydia.
"Kenapa kakinya, Neng"" tanya Pak Satpam saat melihat kaki Lydia bengkak.
"Gak tau nih, Pak. Belakangan ini sering banget nyeri."
"Wah, harus ke dokter itu mah, Neng," timpal Pak Satpam lagi dengan logat Sundanya.
"Nggak papa kok, Pak. Aku baik-baik aja. Mungkin abis kepentok kali," jawab Lydia sambil tersenyum sopan.
"Ngomong-ngomong, pacarnya mana, Neng"" tanya Pak Satpam lagi sambil mengernyitkan dahinya karena tidak melihat Nico.
"Pacar yang mana, Pak"" tanya Lydia dengan pipi bersemu.
"Itu lho, Neng. siapa namanya"" kata Pak Satpam sambil menggaruk-garuk kepalanya agar bisa mengingat.
"Nico! Iya, namanya Nico!" katanya lagi setelah mengingat nama Nico.
"Oh, dia" Tau tuh. tadi marah-marah."
"Marah-marah kenapa""
"Gak tau juga."
TIN! TIN! TIN! Mobil jemputan Lydia telah membunyikan klaksonnya. Kali ini yang menjemput adalah Valentino. Valen pun langsung membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Lydia yang sedang duduk di kursi pos satpam.
"Pulang dulu, ya, pak," pamit Lydia pada Pak Satpam.
"Mari." jawab Pak Satpam sambil tersenyum.


Love Me Twice Gebetan Lama Rasa Baru Karya Billy Homario di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dasar anak muda! Pacaran-berantem, Pacaran-berantem. Mendingan kayak saya. Biar bujangan begini juga hidup senang.
Lydia melambaikan tangan dari dalam mobil pertanda pamit. Pak Satpam pun membalasnya diiringi senyuman.
"Tumben jemput aku"" tanya Lydia kepada Valen yang sedang menyetir sambil menghentak-hentakkan kepalanya mengikuti irama lagu di tape-nya.
"Iya, sopir lagi nganterin papa ke Kuningan." jawab Valen yang masih menghentak-hentakkan kepalanya.
"Pasti ada maksud lain nih, jemput-jemput aku." tanya Lydia memancing.
Tangan Valen tiba-tiba bergerak mengecilkan volume tape-nya yang sedang mengumandangkan lagu Deja vu milik Beyonce Knowles dan Jay-Z.
"Hehehe...," jawab Valen yang malah terkekeh tidak jelas. "Sebenernya, kakak mau ajakin kamu makan sih, mau gak"" tambahnya lagi.
"Ya, ma...," "Gak mau juga gak pa-pa kok. Jadi, Valen gak usah keluar duit lagi," kata Valen yang memotong kata-kata Lydia.
"Ya, maulah. Jangan dipotong dulu kek kalo orang lagi ngomong!" jawab Lydia.
Valen tersenyum. "Mau makan di mana sih emangnya" Tapi, by the way, kalo kakak gak ikhlas bayarinnya mending gak usah deh. Nanti dapet karmanya lho!" kata Lydia dengan wajah dan ucapannya yang serius.
"Aduh, kapan sih kakak pernah pelit buat adeknya yang jelek ini""
"Ih, rese!" kata Lydia sambil menjitak kepala kakaknya pelan.
"Hahaha..." Nico mengaduk-ngaduk es campurnya. kesal. Pikirannya menerawang ke arah kejadian kemarin.
"Aku gak ada waktu. Mama sama Papa mau ngerayain hari ulang tahun pernikahan mereka, So, aku gak bisa nemenin kamu pergi, Cinta."
Kata-kara Lydia tiba-tiba terlintas di pikiran Nico yang membuatnya bertambah muak dan semakin tidak bernafsu menghabiskan es campur yang sedari tadi hanya bisa diaduk-aduknya.
Nico mengambil esnya melalui sendok. Baru saja dia hendak memasukkan sendok berisi es itu ke mulut-nya, dia kembali menangkap objek yang membuatnya muak. Lydia sama cowok kemarin lagi! Nico meletakkan kembali sendoknya dan memukul meja sehingga membuat seluruh pengunjung restoran kecil itu menoleh ke arahnya, termasuk Lydia dan Valen. Nico pun bangki
t dari duduknya dan segera pergi meninggalkan restoran itu sambil menyumpah kesal.
"NICO!!!" teriak Lydia memanggil Nico yang sudah pergi sambil menendang apa pun objek yang dilihatnya.
"Siapa sih, Lyd"" tanya Valen, heran melihat kelakuan adiknya.
"Dia cowok aku, Kak," jawab Lydia, lesu. Kini. dia sudah tau permasalahannya. Mungkin kemarin Nico melihatnya sedang berjalan dengan Valen sehingga membuatnya marah-marah. Ditambah lagi hari ini.
"Oh, gitu. Kamu mau pesen apa"" tanya Valen yang membuyarkan lamunan Lydia tentang Nico. Valen pun langsung duduk di kursi yang kosong setelah memesan nasi rames.
Setelah memesan, Lydia pun duduk di kursi sebelah Valen. Dia termenung. Nico menganggapnya bahwa dia telah menduakan cintanya.
Makanan yang dipesan mereka pun datang, lydia menyantapnya dengan tidak nafsu.
"Pacar kamu ganteng juga." kata Valen dengan mulut penuh makanan. "Anak Harapan Kasih juga"" tanyanya lagi setelah menelan makanannya.
Lydia hanya mengangguk saja sambil susah payah menelan makanannya. Pikirannya kacau balau. Makannya semakin tidak bernafsu karena kejadian tadi.
Gimana ngejelasin sama Nico ya" Tuhan, tolong aku...
Lydia memasuki kelas dengan langkah bimbang. Di dalam Nico sudah duduk sambil menatap tajam ke arahnya. Desha dan Ery hanya bisa diam untuk menunggu reaksi berikutnya. Lydia berjalan mendekat ke arah Nico, Nico yang merasa didekati malah langsung keluar kelas ambil mengumpat dan memukul pintu kelas itu dengan kencang. Lydia hanya bisa tertunduk lemas.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Mata pelajaran pertama adalah Kimia yang amat membo-sankan. Nico terlihat semakin pusing dalam pelajaran ini, ditambah dengan masalahnya dengan Lydia. Ingin sekali dia membenturkan kepalanya ke tembok. PLUK!!!
Sebuah kertas tepat mendarat di meja Nico. Nico pun terkejut. Di kertas itu terdapat pesan dari Lydia yang ditujukan kepadanya. Setelah mengetahui bahwa kertas itu dilempar dari Lydia, Nico pun enggan menyentuhnya.
"Nic, baca donk! Siapa tau penting"" bisik Ery sambil sesekali melirik ke arah lydia.
"Males!" balas Nico, berbisik tapi tegas dan ketus. Setelah beberapa lama mengabaikan kertas itu, Nico akhirnya mengambilnya juga untuk memmbaca pesan dari Lydia dengan malas. Di kursi belakang, terdengar suara Lydia seraya mengatakan 'yes, walaupun pelan. Nico pun membaca pesan itu.
Nic. please dengerin aku dulu, Aku gak bermaksud ngeduain kamu. Cowok itu adalah Valentino. Dia kakak aku. waktu itu, kami beli kado buat mama-papa Kalau kamu gak percaya, datang aja ke rumah aku Buktiin Sendiri!
Nico pun membuntal-buntalkan kertas itu lagi, lalu melemparnya sembarangan. Nico tidak peduli dengan pesan itu.
Bisa aja lo sekongkol sama orang rumah lo!
BEL rumah Lydia dipencet oleh seseorang. Mamanya Lydia langsung berlari ke arah pintu dan membukakan pintu. Tampaklah sesosok cowok yang bisa dibilang perfect.
"Sore, Tante. Lvdia ada"" tanya Nico sopan.
"Oh, ada-ada. Mari, masuk dulu!" kata mamanya Lydia mempersilakan Nico masuk sambil menutup pintu. "Ngomong-ngomong, kamu siapanya Lydia nih" Pacarnya, ya"" tanyanya yang membuat Nico tersipu.
"Eh, iya sih, Tan. jawab Nico sambil garuk-garuk kepala.
"Sebentar ya, Tante panggilin dia." "Eh. jangan dipanggilin dulu, Tante, Aku mau ngomong dulu sama Tante." kata Nico
"Ngomong apa""
"Gini, aku mau nanya, Valentino itu sebenernya siapanva Lydia sih, Tan""
"Oh. Valen" Valen itu kakaknya Lydia. Kenapa"" "Eh, ga pa-pa." jawab Nico sambil garuk-garuk kepala.
"Oh. iya. Satu lagi, Tan. Lydia itu punya penyakit apa sih, Tan"" tanyanya lagi mulai serius.
"Penyakit" Penyakit apa" Enggak tuh! Emangnya Lydia kelihatan tidak sehat, ya, di sekolah""
"Akhir-akhir ini, dia sering banget jatuh, Tan. Jatuhnya itu aneh. Gak kesandung, gak juga dido-rong. Terus habis jatuh, tulang keringnya selalu nyeri. Belakangan ini saya lihat sih tulang keringnya agak bengkak," jelas Nico panjang lebar.
"Aduh, itu anak kenapa, ya" Eh, tapi kamu tenang aja. Dia sudah besar kok. Kalau ada yang aneh pasti dia bilang ke tante. Paling-paling ketendang orang
aja." "Oh..." "Tante panggilin dulu, ya, Lydia-nya LYDIA!!!"
Yang dipanggil tak berapa lama kemudian turun. Mamanya kembali menuju dapur untuk meneruskan masaknya yang sempat tertunda tadi. Lydia pun terkejut melihat sosok Nico sedang duduk di sofa sambil tetsenyum kepadanya.
Pasti dia udah maafin aku.
Baru saja dia menurunkan satu kakinya pada anak tangga, tulang keringnya terasa nyeri lagi. Untung gak jatuh.
"Hai, Cinta!" sapa Lydia sambil tersenyum. "Hai, Cinta!" balas Nico yang membuat senyum Lydia tambah lebar.
Ternyata benar! Nico sudah memaafkannya!
"Eh. kamu mau ajak aku pergi""
"Enggak kok. Aku mau buktiin omongan kamu aja di kertas itu tadi siang. Dan ternyata benar!" kata Nico yang kemudian diam.
"Aku pulang dulu, ya""
"Kok, sebentar banget""
"Iya. Kayla mau ajakin aku makan."
"Kayla" Siapa tuh"" tanya Lydia curiga.
"Dia pacar baru aku!"
"HAH"!" Lydia jadi histeris.
"Hehehehe... dia kakak aku kok!"
"Oh," jawab Lydia lega.
"Kamu mau ikut""
"Boleh." "Ya, udah. Kamu siap-siap sana!"
6. Lydia's Pain Dua tahun sudah, hubungan Nico dan Lydia berjalan dengan baik setelah konflik itu. Kini, mereka sudah duduk di kelas XII IPA SMU Harapan Kasih. penghalang dalam hubungan mereka tetap saja ada, terutama dari Villa. Penghalang yang paling utama adalah masalah penyakit Lydia. Dia semakin sering jatuh-jatuh tanpa sebab dan tulang keringnya terlihat semakin membengkak.
Lydia sedang tidur-tiduran di kamarnya sambil memegangi kepalanya yang pusing. Matanya terpejam, mengingat momen-momen dia terjatuh.
Aneh, kenapa gue bisa sering jatuh begitu ya" Tulang kering gue nyeri-nyeri melulu lagi. Kok nambah bengkak, ya" Ada yang gak beres, nih! Gue harus ke dokter.
Lydia mengangkat tubuhnya dari ranjang. Dia segera mencari buku telepon di laci meja belajarnya untuk mengetahui nomor telepon dokter langganan keluarganya. Setelah menemukannya, Lydia segera membuka index 'D' pada buku telepon itu. Dilihatnya nama-nama kontak satu per satu dengan jantung yang berdebar.
Ketemu! Klinik Dokter Juko, 66841802
Lydia segera turun untuk menelepon nomor itu.
Dokter Juko adalah dokter langganan dan kepercayaan keluarganya sejak dia dan Valen masih bayi.
Setelah menekan nomor teleponnya, Lydia menunggu sampai telepon itu diangkat oleh sang pemilik klinik.
"Halo, ini Tante Felicia, ya"" sapa Lydia.
"Betul. dengan siapa ini" ada perlu apa"" tanya Tante Felicia sopan.
"Saya Lydia, Tante. anaknya Grace Donovan."
"Oh, Lydia" Apa kabar"" tanya Tante Felicia yang seketika menjadi akrab.
"Tidak terlalu baik sih, Tan."
"Lho, kok""
"Iya, nih. Aku agak gak enak badan gitu."
"Mau daftar ke dokter""
"Iya." "Oke, Tante daftarin dulu, ya"" kata Tante Felicia sambil menuliskan nama Lydia di urutan ke-18 karena sebelumnya sudah ada tujuh belas orang yang mendaftar terlebih dahulu.
Bangau Sakti 6 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Sin Tiaw Hiap Lu Karya Chin Yung Misteri Peramal Tua 1
^