Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 18

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen Bagian 18


tahan agaknya karena tubuhnya bergoyang-goyang seperti
orang yang mabuk arak. Maka Lie Siauw Hiong yang
menyaksikan peristiwa itu, jadi terkejut bukan kepalang,
hingga badannya sudah melesat kemuka untuk melihatnya
dengan terlebih cermat lagi.
Dia ketahui bahwa tenaga-dalamnya Peng Hoan Siangjin
sudah tidak dapat disalurkan dengan sempurna lagi. Dia
bermaksud untuk memberi pertolongan, tapi ia segera
berbalik pikir, bahwa tenaga dalamnya sendiri jika
dibandingkan dengan orang tua itu, terpaut masih jauh
sekali. Andaikata dia lancang tangan memberi pertolongan,
bukan saja bagi Peng Hoan Siangjin tidak bermanfaat apa-
apa, malahan bagi Bu Heng Sang sendiri mungkin akan
timbul komplikasi yang ruwet, sehingga kesudahannya akan
membahayakan terhadap jiwa Bu Heng Seng. Oleh karena
itu, dengan cepat dia pun tidak berani melaksanakan apa
yang telah dipikirkannya semula.
Pada saat itu satu bayangan manusia telah melampauinya pula.
Tanpa banyak berpikir-pikir lagi, Lie Siauw Hiongpun
segera mengetahui, bahwa bayangan tersebut pastilah ada
Siauw Ciap Toocu Hui Taysu.
Pergerakan Hui Taysu ini cepat bukan buatan, karena
dengan sekali berkelebat ia sudah tampak tiba dihadapannya Peng Hoan Siangjin.
Dia yang mengetahui bahwa perkembangan kejadian ini
agak tidak menguntungkan, maka akhirnya dia selalu
waspada dan memperhatikan segala sesuatu yang terjadi
disekitarnya. Dan diwaktu melihat Peng Hoan Siangjin
agak bergoyang-goyang badannya, diapun sudah maklum
ada sesuatu yang berjalan tidak beres, dan memang
benarlah, bahwa tenaga-dalam Peng Hoan Siangjin pada
saat itu tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan, maka
dengan gerakan kaki Kit Mo Sin Pouw dia sudah tiba
dihadapannya. Dengan cepat Hui Taysu menggunakan jari telunjuknya,
yang ditotokkannya dengan tepat sekali pada jalan darah
'Cie-tong-hiat'-nya Peng Hoan Siangjin, untuk menyalurkan
pula tenaga dalamnya dengan melalui hweeshio tua itu.
Dengan mendapat tambahan tenaga-dalam dari rekannya maka semangatnya Peng Hoan Siangjin menjadi
terbangun pula, hingga dengan cepat dia menghempos
semangatnya dan tenaga dalam yang cukup hebat
disalurkan kembali masuk kedalam tubuhnya Bu Heng
Seng. Lie Siauw Hiong pun kini mengetahui, bahwa Peng
Hoan Siangjin sudah terlolos dari bahaya, tapi sebaliknya
andaikata tenaga dalamnya Hui Taysu ini tidak cocok
dengan tenaga dalamnya Peng Hoan Siangjin, bukan saja
jiwanya Bu Heng Sang sulit dilindungi, malahan Peng
Hoan Siangjin dan Hui Taysu sendiripun akan menderita
luka-luka yang parah juga.
Oleh karena itu, perasaan Lie Siauw Hiong pada saat itu
jika dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya, dia merasa
lebih tegang dan hatinyapun tidak henti-hentinya berdebar-
debar keras, tapi dia mengetahui bahwa dirinya sendiri
tidak mungkin dapat memberi pertolongan apapun, hingga
dengan tidak berdaya apa-apa, dia hanya dapat menyaksikan saja kesibukannya kedua orang ini dari
samping. Disini, dipulau Siauw Ciap Too yang terletak ditengah-
tengah antara ketiga pulau dilaut Tong Hai, keadaannya
sangat sunyi bagaikan daerah yang mati saja. Pantai
terpisah dengan pulau ini agak jauh, sehingga suara ombak
yang mendampar pantai sama sekali tidak kedengaran
sampai disini. Lie Siauw Hiong yang memandang dengan terlongong-
longong, dia lihat Tay Ciap Toocu dengan tekanan yang
keras sekali menekan jalan darah 'Nie-wan' dikepalanya Bu
Heng Seng, sedangkan jari telanjuknya Hui Taysu melekat
erat sekali pada jalan darah 'Cie-tong-hiat' dituhuh Peng
Hoan Siangjin, dengan Bu Heng Seng sendiri duduk bersila
dan mukanya menunjukkan perasaan yang sangat luar biasa
anehnya. Sejak seratus tahun belakangan ini, perhubungan Tiga
Dewa Diluar Dunai ini yang hidup dipulau Tong Hai,
belum pernah saling mengadakan perhubungan satu sama
lain yang demikian mesranya, tapi tidak disangka, hari ini
disini mereka telah dapat berkumpul bersama-sama,
malahan mereka telah saling menyalurkan tenaga dalam
dalam usaha mereka untuk menyembuhkan rekannya itu.
Dalam pada itu Lie Sianw Hiong dengan diam-diam
memanjatkan doa kehadiran Thian Yang Maha Kuasa, agar
luka-lukanya Bu Hong Seng dapat pulih kembali seperti
sediakala. Dan berbareng dengan itu, diapun dengan teliti
melihat kitab racun ini sekali lagi, yang kini dia
mengetahui, bahwa racun itu sudah mulai buyar dan jalan
kesebelah bawah tubuh Bu Heng Seng, hingga sekarang
tindakan selanjutnya adalah mencari daya untuk mengambil darahnya yang mengandung racun itu.
Dengan perlahan-lahan Lie Siauw
Hiong jalan menghampiri. Dia melihat jalan darah 'Nie-wan' Bu Heng
Seng yang ditekan oleh Peng Hoan Siangjin itu sudah
menunjukkan kemajuan yang pesat, karena dia menyaksikan kini mukanya Bu Heng Seng yang berwarna
hitam legam karena keracunan sudah mulai turun dengan
perlahan-lahan kebawah, hingga Lie Siauw Hiong ketahui,
bahwa bantuan tenaga dalam Peng Hoan Siangjin dan Hui
Taysu sudah menunjukkan kemampuannya yang sebesar-
besarnya dan bermanfaat terhadap rekannya yang sedang
mengalami malapetaka itu.
Warna hitam itu lambat-laun sudah turun kesebelah
bawah. Dan diwaktu Lie Siauw Hiong memperhatikan
dengan lebih cermat lagi, hatinya masih tetap tegang dan
berdebar-debar keras sekali. Setelah dia mengalihkan
pandangannya dan melihat Peng Hoan Siangjin dan Hui
Taysu, dia dapatkan kedua orang ini menunjukkan roman
yang sungguh-sungguh, sehingga dia berpikir bahwa mereka
ini tentulah telah menggunakan pelajaran silat dari kaum
Budha untuk menolong rekan mereka itu.
Hawa hitam ini akhirnya telah menurun dan tiba
ditangannya Bu Heng Seng, hingga pada saat itu tangan
kanannya Bu Heng Seng terkulai kebawah, suatu tanda
bahwa hawa hitam dari racun yang sangat hebat itu kini
sudah dikumpulkan dan didesak oleh tenaga dalamnya
Peng Hoan Siangjin kejari telunjuk ditangan kanannya Bu
Hang Sang. Sementara itu, Lie Siauw Hiong lalu mengeluarkan
sebuah peles kecil yang sudah sangat tua sekali macamnya.
Diapun dapat memandang pada jari unjuk Bu Heng Seng
yang sudah berwarna hitam itu, maka ia mengetahui,
bahwa yang bersembunyi dalam tubuhnya Bu Heng Seng
ini adalah racun yang sangat ditakuti dan berbahaya, yaitu
'Pek-giok-toan.-tiang'.
Permainan racun ini, didunia tidak ada keduanya. Lie
Siauw Hiong tidak berani menyentuhnya. Jari tangannya
agak jauh digeser, dan dari jarak yang cukup jauhnya, lalu
dia totolkan tangannya pada jari telunjuk tangan kanannya
Bu Heng Seng. Dan tatkala satu siliran angin datang
menyamber dan dengan tepat tiba dijari telunjuk tangan
kanannya Bu Heng Seng itu, maka jari telunjuknya itu lalu
tampak satu lubang yang tidak seberapa dalamnya.
Pergerakannya Lie Siauw Hiong bagaikan angin saja
cepatnya, dan waktu peles kecil itu sudah dekat lengan
mulut luka dijari telunjuk tangan kanannya Bu Heng Seng
itu, dia lihat dari mulut luka itu menetes keluar darah yang
mengandung racun yang hebat sekali, yaitu apa yang
dinamakan 'Pek-giok-toan-tiang'.
Racun Pek-giok-toan-tiang ini berwarna hijau dan
mengandung sinar yang mengkeredep-keredep, hingga
darah yang menetes keluar itu, setetes demi setetes tampak
menarik sekali dalam pandangan mata.
Racun warna hijau itu jatuh menetes kedalam peles kecil
itu dengan mengeluarkan suara nyaring yang seakan-akan
jatuhnya bahan emas murni.
Waktu cairan racun itu masuk kedalam peles itu,
disekitarnya segera tampak uap yang tebal sekali, suatu
tanda bahwa racun itu tengah menunjukkan reaksinya yang
hebat sekali. Lie Siauw Hiong yang kuatir uap itu mengandung racun,
dia lalu menahan napasnya sejenak, setelah itu, lekas-lekas
ia menyumbat mulut peles tersebut.
Tay Ciap Toocu tunggu sampai yang menetes
penghabisan itu sudah keluar, barulah dia tarik tangannya,
dan sambil menarik napas yang sangat dalam, dia berdiri
disuatu pinggiran. Sedang Hui Taysu sendiri dengan diam-
diam lalu menarik pulang juga tangannya yang menempel
pada jalan darah Cie-tong-hiat ditubuh Peng Hoan Siangjin.
Dan bersama-sama Peng Hoan Siangjin, ia lalu duduk
bersemadi untuk mengatur pernapasannya.
Sementara Bu Heng Seng sendiri yang sedang bersila
diatas tanah, lalu membuka sedikit kelopak matanya,
kemudian dengan perlahan-lahan dia menghempos semangatnya yang dipusatkan dan dialirkan keseluruh
badannya, setelah itu, dia bersemadi pula seperti rekan-
rekannya yang lain.
Rintangan hebat serta bahaya sekarang telah lewat.
Syukur juga tenaga dalam Bu Heng Seng cukup hebat,
sehingga dia tidak sampai mengakibatkan kerugian apa-apa
bagi tenaga dalam Peng Hoan Siangjin. Sedangkan Lie
Siauw Hiong yang memandang dari samping ketiga orang
yang sedang bersemadi mengatur jalan pernapasan mereka
ini, hatinya masih tetap saja merasa tegang.
Lama-lama barulah ketiga orang itu dapat memulihkan
kembali semangat mereka seperti sediakala lagi, kemudian
Bu Heng Seng sambil berlompat bangun dia menengadahkan kepalanya keatas sambil bersiul panjang.
Siulannya ini sungguh hebat sekali, karena dalam
mengeluarkan suaranya itu, dia sertai juga tenaga dalam
yang sehehat-hebatnya, sehingga suara itu bukan main
keras dan nyaringnya, bagaikan geledek yang memecah
angkasa. Suara itu berkumandang jauh sekali, dari mana
terbit gema yang memekakkan telinga.
Mereka semua adalah ahli-ahli lwee-kee, hingga
mengetahui bahwa tenaga Bu Heng Seng belum pulih
seratus persen.
Peng Hoan Siangjin sambil tertawa bergelak-gelak lalu
berkata: "Loo-nie-po, pengorbanan kita ini ternyata tidak
sia-sia adanya."
Atas perkataan rekannya ini, Hui Taysu hanya
tersenyum saja, tapi tidak menjawab apa-apa.
Lie Siauw Hiong yang melihat darah yang mengandung
racun itu dalam peles kecil ditangannya, lalu berkata pada
Bu Heng Seng: "Cian-pwee, menurut penjelasan dalam
kitab ini, racun dalam tubuh Cian-pwee sudah lenyap
seluruhnya, tapi Cian-pwee harus beristirahat selama tiga
bulan, apabila kau tidak berbuat demikian, maka terhadap
tenaga dalammu pasti akan timbul gangguan apa-apa yang
tidak diinginkan .."
Mendengar perkataan pemuda itu, Bu Heng Seng hanya
mengeluarkan suara "Hm" saja, tapi dia

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak membenarkan maupun membantah atas perkataan itu. Dia
bukannya tidak tahu berterima kasih akan nasihat berharga
yang diberikan oleh sipemuda itu, hanya dia yang pernah
menyombongkan diri dahulu, bahwa orang-orang atau para
pendekar di Tiong-goan semuanya tidak ada yang lihay-
lihay, kini hanya dalam beberapa bulan saja setelah dia
mengunjungi Tiong-goan, barulah dia berjumpa dengan
ahli-ahli silat yang terkemuka, dimana dia mendapatkan
para pendekar disitu ternyata tidak begitu lemah seperti apa
yang diduganya semula, sampaikan para tokoh dari
pelbagai golongan, semuanya ternyata hebat-hebat sekali
ilmunya, hingga ia sekarang hampir saja mengalami
kebinasaan dengan secara mengenaskan sekali. Syukur juga
jiwanya ketolongan berkat petunjuk dari kitab racun ciptaan
'Raja Racun' dari Tiong-goan. Oleh karena itu, sifat-sifat
sombongnya semula kini sudah banyak dan jauh berkurang,
dan dengan adanya peristiwa ini, diapun tidak berani lagi
memandang ringan terhadap para pendekar didaerah Tiong-
goan. Dan semua itu adalah karena berkat mendengar
perkataan pemuda kita yang berupa nasihat dan dia hanya
dapat mengeluarkan suara "hm" itu saja.
Karena, dengan sesungguhnya, dia merasa berterima
kasih serta terharu sekali atas petunjuk dan kebaikan
pemuda kita ini.
Peng Hoan Siangjin tampak bersenyum-senyum
menyatakan kegembiraannya.
Kemudian Hui Taysu berkata pada Bu Heng Seng: "Thio
Sicu, sekarang kau coba pukulkan tinjumu kepada hutan
batu itu .."
Bu Heng Seng mengetahui, bahwa pendeta wanita ini
berhati welas asih dan segala tindak-tanduknya selalu
sangat teliti dan hati-hati. Tampaknya dia merasa tidak
tenteram sebelum melihat bahwa kesehatannya telah pulih
kembali sebagaimana sediakala.
Dengan tersenyum dan tidak menolehkan
pula kepalanya, Bu Kek Toocu lalu membalikkan tangannya
memukul kearah batu-batu yang ditunjuk oleh Hui Taysu
tadi. Pukulan Bu Heng Seng ini yang disertai tenaga-dalam
yang sehebat-hebatnya, meski perlahan tapi ternyata
tenaganya sangat mengejutkan sekali, maka dengan hanya
kedengaran "Dak!" yang nyaring sekali, batu-batu itu telah
bergoyang kekanan dan kekiri. tapi tidak jatuh rubuh atau
menjadi ambruk, hingga ia tampak tersenyum dan
menjawab: "Tenaga dalamku dapat disalurkan dengan
lancar sekali, sedikitpun tidak menjadi halangan apa-apa .."
Hui Taysu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya,
sedang Peng Hoan Siangjin tampak tertawa dan berkata:
"Begini saja, asalkan Loo-tee beristirahat lagi selama
sepuluh hari atau sampai sebulan lamanya, pasti sekali
tenagamu akan dapat pulih kembali seperti sediakala."
Bu Heng Seng mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dalam hati dia berpikir, bahwa luka-lukanya sudah baik
separuhnya, biasanya dia bersama Peng Hoan Siangjin dan
Hui Taysu tidak mempunyai hubungan yang terlampau
rapat, maka kalau ia berdiam disitu lebih lama lagi, itulah
berarti bahwa dia akan mengganggu mereka saja, lagi pula
baginya sendiri tentu akan merasa kurang leluasa. Oleh
karena itu, dengan suara yang nyaring dan lantang dia
berkata: "Siauw Seng (membahasakan diri sendiri, kurang
lebih sama dengan hamba) yang telah menerima budi
kebaikan besar dari kalian berdua, ijinkanlah akan Siauw
Seng dibelakang hari membalasnya .."
Sambil berkata begitu, lalu dia menjura dan memberi
penghormatan yang terakhir pada Hui Taysu dan Peng
Hoan Siangjin, kemudian sambil memutarkan badannya dia
berlalu. Tiga makhluk yang biasanya disehut sebagai 'Tiga Dewa
Diluar Dunia' ini, biasanya mereka rata-rata mempunyai
pandangan yang tinggi, karena mereka beranggapan bahwa
kepandaian mereka sudah mencapai tingkat yang tertinggi,
sehingga tidak ada lawanpun yang dapat menandingi
mereka. Peng Hoan Siangjin dan Hui Taysu yang sudah
mengeluarkan begitu banyak tenaga dalam, dalam usaha
mereka memberi pertolongan pada Bu Heng Seng yang
menjadi rekan mereka ini. Maka setelah usaha mereka ini
berhasil dengan sangat memuaskan, tidaklah heran kalau
Bu Heng Seng merasa sangat berterima kasih kepada
mereka, tapi tidak pernah dia mengucapkan itu dengan
secara terus terang. Oleh karena itu, setelah memberi
hormatnya yang terakhir, barulah dia mengundurkan
dirinya. Hui Taysu dan Peng Hoan Siangjin tidak menganggap
sikapnya Bu Heng Seng ini terlampau tawar, karena mereka
sama berpendapat demikian juga, oleh karena itu, Peng
Hoan Siangjin dengan tertawa tergelak-gelak lalu berkata:
"Baik, baik. Baiklah aku sipendeta malas ini mencuri satu
langkah untuk tidak mengantarkan kau lebih jauh pula .."
Baru saja perkataan itu habis diucapkan, sekali melayang
saja dia sudah mencapai jarak tiga tombak lebih jauhnya.
Sekonyong-konyong tubuh Lie Siauw Hiong pun tampak
bergerak, dan dengan sekali mengenjotkan badannya saja
dia sudah memburu pada Bu Heng Seng sambil berkata:
"Cian-pwee, tunggu dulu .."
Bu Heng Seng sambil melambatkan langkahnya lalu
menengok kebelakang dan memandang pada sipemuda.
Sementara Lie Siauw Hiong dengan suara gagap dan
tidak lancar lalu berkata: "Pertaruhan Cian-pwee denganku
terhadap pertempuran yang baru berakhir itu, yaitu bahwa
kalau Cian-pwee berhasil mengalahkan Pantenpur, itulah
berarti bahwa aku kalah dan bersedia dengan seluruh tenaga
akan bantu mencari anak daramu .."
Bu Heng Seng berpendapat, bahwa tadi memang
sesungguhnya ia sudah berhasil dapat mengalahkan
Pantenpur yang menjadi lawannya, tapi ketika baru saja dia
ingin membinasakan lawannya, sekonyong-konyong dia
jatuh pingsan, karena racun yang telah lama bersarang
didalam tuhuhnya.
Perasaan Bu Heng Seng terhadap pemuda kita, sekarang
sudah banyak lebih baik jika dibandingkan dengan waktu-
waktu yang lampau itu, maka sambil melirikkan matanya
dia bersenyum, kemudian barulah dia putarkan badannya
dan berlalu dari pulau itu dengan tak berkata-kata barang
sepatahpun. Pada detik itu Hui Taysu lalu bangkit berdiri, menoleh
pada Peng Hoan Siangjin, tapi tidak berkata apa-apa,
kemudian dia balik masuk kepedalaman pulaunya ini. Peng
Hoan Siangjin yang sudah dari siang-siang mengetahui jelas
tentang tabiat nikouw tua yang sangat luar biasa ini, diapun
hanya tertawa terbahak-bahak saja menyaksikan tingkah-
laku rekannya itu, dan setelah Hui Taysu sudah
melenyapkan diri ditikungan batu-batu gunung tersebut,
barulah dia berhenti tertawa.
Lie Siauw Hiong setelah mengantarkan kepergian Bu
Heng Seng dengan pandangan mata, barulah dengan
perlahan-lahan dia balik kembali kebarisan batu-batu kuno
itu, pada waktu mana dia nampak muka Peng Hoan
Siangjin yang agak aneh, hingga tidak terasa lagi hatinya
menjadi tercengang juga. Lalu dia jalan menghampirinya
sambil kemudian duduk disampingnya.
Sang hari perlahan-lahan sudah menjadi gelap, karena
sinar matahari sudah silam keufuk sebelah Barat, sedangkan
bayangan malam akan segera menampilkan diri.
Didaerah yang berdekatan dengan pantai laut, angin laut
semakin malam berhembus semakin santar dan besar,
sehingga baju Peng Hoan Siangjin yang berwarna putih itu
berkibar-kibar oleh hembusannya sang angin.
Lie Siauw Hiong lalu memandang pada Peng Hoan
Siangjin yang sedang berdiam diri disitu, hingga diapun
mengetahui, bahwa. orang tua ini pasti mempunyai
perasaan hati yang hendak disampaikannya, tapi dia belum
mau mengatakannya, sedangkan dia sendiri tentu saja tidak
enak untuk menanyakannya.
Pada dua jam yang lalu, ditempat ini telah terjadi
pertempuran mati-hidup yang amat seru serta hehbtnya,
yaitu pertempuran antara orang Tionghoa dengan orang
asing, dan akhirnya kejadian inipun seperti juga awan yang
terhembus angin, dan kini pertempuran hebat itu sudah
selesai dan keadaan serta ketenangan didaerah itu balik
kembali seperti sediakala lagi.
Malahan mungkin sekali keadaan didaerah ini sekarang
sangat sunyi sekali, dan dengan pendengaran amat tajam
yang dimiliki oleh orang yang sudah mencapai tingkat
tertinggi itu, dari arah yang jauh sekail dan terbawa oleh
siliran angin lalu, masih dapat ditangkap hempasan ombak
yang sayup-sayup sampai, hingga Lie Siauw Hiong yang
tadi duduk secara berdiam diri dengan perasaan yang
tegang, kini perasaannyapun perlahan-lahan mulai normal
kembali. Demikian juga pikirannya yang kacau selama ini,
agaknya sudah terlupakan olehnya.
Dilangit bintang-bintang telah mulai menampakkan diri.
Kemudian waktu puteri malam menyusul munculkan diri,
maka keadaan diangkasa yang gelap dan jauh telah menjadi
lebih terang dan permai.
Pada saat itu Peng Hoan Siangjin yang sedang duduk
diatas sebuah batu, kepalanya memandang keangkasa,
kedua keningnya tampak pada berdiri, sedangkan mukanya
tampak merah seolah-olah tengah merenungkan sesuatu.
Dengan perasaan tidak mengerti, Lie Siauw Hiong
memandang pada orang tua ini .. mungkin sekali dia sedang
menantikan sesuatu yang hendak disampaikan kepadanya.
Lama sekali barulah Peng Hoan Siangjin membuka
mulut dan berkata: "Bocah, aku .. aku akan menceritakan
sebuah cerita yang menarik untuk kau dengar."
Dengan perasaan heran Lie Siauw Hiong memandang
pada orang tua itu.
Pada saat itu Peng Hoan Siangjin masih menatapkan
matanya keangkasa, seakan-akan dari angkasa yang tak
bertepi dan gelap itu dia tengah mencari-cari ataupun
sedang mengingat-ingat peristiwa yang lampau yang kini
akan dia ceritakan pada pemuda kita itu.
Kemudian dengan perlahan-lahan barulah dia berkata:
"Mungkin seratus tahun yang lampau ..pada saat itu, kaum
yang berkuasa pada saat itu didunia Kang-ouw adalah dari
partai Siauw Lim. Partai Siauw Lim ini yang menerima
pimpinan langsung dari kakek gurunya Tat Mo Couwsu,
telah mewariskan pada cucu muridnya berbagai kepandaian
yang sangat hebat dan langka, yang sekalipun benar pada
belakangan ini pelajaran dari partai Siauw Lim itu sudah
ketinggalan jika dibandingkan dengan partai-partai yang
lainnya, tapi dalam kepandaian tenaga dalam yang hebat
dan asli masih banyak orang maupun murid-murid dari
partai lain yang belum lagi dapat menandinginya .."
Berkata sampai disitu, dia berhenti sebentar, kemudian
setelah sunyi sekejap, diapun melanjutkan ceritanya
kembali: "Tapi pada beberapa tahun mendatangi ini, yang
menjadi gembong dan pentolan dalam kalangan Kang-ouw
sudah bukannya murid-murid dari partai Siauw Lim lagi.
Didunia Kang-ouw tidak tampak lagi pendeta-pendeta
Siauw Lim yang menampakkan dirinya, .. malahan ada
kalanya murid-murid dari partai Siauw Lim menerima
penghinaan, sedang atas penghinaan yang dilakukan oleh
anak murid dari partai lain terhadap anak murid Siauw
Lim, tidak ada seorang ketuanya yang mau membela
maupun membalaskan sakit hati yang diderita cucu
muridnya tersebut. Hal mana, telah membuat orang-orang
yang menyaksikannya pada mengatakan, bahwa murid-
murid partai Siauw Lim sangat loyo dan tidak berdaya lagi
terhadap lawan-lawannya, sehingga nama baik partai Siauw
Lim sudah lenyap sama sekali. Tapi orang luar mana
mengetahui, bahwa dalam hal ini ada sesuatu yang
dirahasiakan sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan
sejelas-jelasnya."
Lie Siauw Hiong waktu mendengar dia menceritakan
tentang partai Siauw Lim Sie, dia menjadi semakin tertarik
untuk mendengarkan dengan lebih cermat lagi.
Kemudian orang tua itu melanjutkan ceritanya: "Pada
saat itu, yang menjadi Ciang-bun-jin dari partai Siauw Lim
adalah Leng Kheng Taysu, sedangkan Suteenya Leng Kong
Taysu adalah orang yang bertanggung jawab dari ruangan
Cong Kheng Khok .."
Waktu Lie Siauw Hiong mendengar 'Leng Kong Taysu',
tidak terasa lagi dia rnengeluarkan suara: "Ah".
Atas reaksi pemuda kita ini, Peng Hoan Siangjin hanya
memandangnya saja dengan sebuah lirikan, kemujan dia
melanjutkan: "Leng Kong Taysu setelah menjabat sebagai
Cong Keng Khok (pendeta yang berkuasa mengurus soal-
soal kitab suci kaumnya), tiap hari dia membenamkan
dirinya dalam kamar, terus memikirkan dan memperdalam
kepandaian yang lebih tinggi pula, .. hal yang sebenarnya
ilmu yang dimaksudkannya itu adalah pelajaran yang sudah
amat samar, tapi Leng Kong Taysu sudah mempelajarinya
dengan tekun selama tiga puluh tahun lebih, sehingga ilmu-
ilmu yang hampir hilang itu dapat dipelajarkan kembali dan
dikembangkan dikalangan Kang-ouw .."
Lie Siauw Hiong menampak kedua mata hweeshio tua
itu seakan-akan bersinar-sinar.
Peng Hoan Siangjin sendiri sesudah berhenti sebentar,
lalu melanjutkan perkataannya: "Belakangan, .. oleh karena
suatu peristiwa yang durhaka, dari sebelah dalam partai
Siauw Lim sendiri tampak perpecahan, Ciang-bun-jin Leng
Kheng Taysu dan Leng Kong Taysu pada meninggalkan


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siauw Lim Sie, sedang muridnya Leng Kheng, yaitu Tay
Ceng, yang menjadi ahli waris dari partai Siauw Lim, lalu
melanjutkan usaha gurunya. Maka disebabkan perkara ini,
dibuatlah sebuah peraturan, yaitu tidak perduli para
pendeta Siauw Lim yang manapun, kecuali Ciang-bun-
jinnya sendiri, dilarang meninggalkan kuil Siauw Lim,
sekalipun hanya setengah langkah saja. Disamping itu, ada
peraturan lainnya lagi, yaitu kecuali menghadapi bahaya
maut, barulah diperbolehkan turun tangan terhadap lain
orang .. Oleh karena itu, para pendeta yang mengembara
dikalangan Kang-ouw dari murid-murid partai Siauw Lim,
selamanya coba menghindarkan pertempuran, oleh sebab
itulah maka orang-orang lantas pada mencap, bahwa orang
atau anak-anak murid Siauw Lim pada pengecut dan tak
berguna .."
"Leng Kong Taysu dan Leng Kheng Taysu setelah
meninggalkan Siauw Lim Sie, tanpa disangsikan lagi
mereka telah membawa para muridnya yang pandai-pandai.
Dengan demikian, angkatan yang belakangan dari mereka
tidak berdaya lagi untuk mempelajari pelajaran silat yang
tinggi pula .."
Lie Siauw Hiong yang berotak sangat cerdik, ketika
mendengar sampai disini dan masih banyak hal-hal yang
belum diselaminya selama itu, sekaranga dia sudah
mengerti dengan jelas, bahwa orang yang pada seratus
tahun yang lampau disebut Leng Kong Taysu itu, bukan
lain daripada orang yang tengah berhadap-hadapan
dengannya itu, yakni Peng Hoan Siangjin sendiri.
Kenyataannya, benar saja apa yang telah diduga semula.
Sejak Tay Ceng Taysu menetapkan peraturan tersebut
sampai akhirnya dia meninggal dan kedudukannya sebagai
ahli waris diserahkan pada Tie Keng Taysu, keturunan
kedua sesudah kematiannya Tay Ceng Taysu tadi, dia
berpendapat, bahwa jika murid-murid Siauw Lim ingin
merebut kedudukan yang terhormat pula dikalangan Kang-
ouw, maka murid-murid partai Siauw Lim harus berdaya
untuk mencari dan meminta pengajaran Leng Kong Taysu
yang hebat itu, tapi setelah seratus tahun telah lampau dan
Leng Kong Taysu yang pergi merantau tidak pernah
kembali lagi, orang banyak segera mengira bahwa Leng
Kong Taysu pasti sudah meninggal dunia.
Sekonyong-konyong mereka dapat memikirkan sesuatu,
yaitu sekalipun Leng Kong Taysu sudah meninggal dunia,
tentulah dia telah mewariskan kepandaiannya yang hebat
itu pada murid-muridnya. Hal ini tidak terlampau sulit
untuk diselidikinya, asal saja mereka dapat mendengarnya
dikalangan Kang-ouw, merekapun akan menyelidiki jejak
orang itu dengan secara teliti .. tapi hal ini bagi para murid
partai Siauw Lim merupakan suatu kesulitan, berhubung
mereka tidak boleh sembarangan meninggalkan kuil
mereka. Akhirnya Tie Kheng Taysu mendapat satu akal bagus,
yaitu dia telah berhasil menerima seorang murid yang
berbakat dan tidak digundulkan kepalanya, sehingga dia
bebas pergi keluar dari pintu kuil Siauw Lim Sie, dan
muridnya itu adalah Sun Ie Tiong.
Karena peraturan yang dibuat oleh Tay Ceng Taysu
berbunyi: "Asal dia itu murid-murid dari pendeta Siauw
Lim, maka dia tidak diperkenankan
sembarangan meninggalkan kuil ini, tapi Sun Ie Tiong bukanlah pendeta,
karena kepalanya tidak digundulkan!"
Oleh karena itu, Tie Kheng Taysu bersama saudara-
saudara seperguruannya yang memiliki kepandaian yang
tinggi-tinggi, lalu menurunkan kepandaian mereka yang
hebat-hebat pada Sun Ie Tiong, sehingga waktu Sun Ie
Tiong turun gunung, dia sudah lantas menjadi terkenal
sebagai 'Bu Lim Cie Siu', atau Sitampan dari Rimba
Persilatan. Tugas Sun Ie Tiong adalab untuk mencari Leng Kong,
bila mungkin, dan seandainya dia masih hidup, tapi bila dia
sudah mati, sipemuda boleh mencari ahli warisnya.
Begitulah dia segera mempergunakan siasat menantang
pada tiap-tiap orang yang terkemuka dikalangan Kang-ouw
.. dan akhirnya perhatiannya tertuju pada orang yang belum
lama ini telah mengangkat namanya dengan pesat sekali,
yaitu Lie Siauw Hiong, yang telah memperoleh gelaran
'Bwee-hiang-sin-kiam'.
Begitulah dia mengikuti terus kepada pemuda kita, yang
tanpa sebab telah ditantangnya berkelahi. Sesudah Lie
Siauw Hiong mengeluarkan tipu dari jurus 'Tay-yan-sip-
sek', dia merasa terkejut dan girang, karena dia dapatkan
tipu yang digunakan oleh Lie Siauw Hiong itu, adalah ilmu
yang sudah lama menghilang dari partai Siauw Lim. Oleh
karena itu, dengan nekad dia telah melayaninya bertempur
terus dengan pemuda kita, kemudian buru-buru dia lari
kembali kekuil Siauw Lim Sie untuk memberitahukan
kepada gurunya.
Waktu dia berlari belum sampai setengah lie jauhnya, dia
sudah berjumpa dengan murid kepala keturunan kedua,
yaitu Cu Hoat ini, karena dia berpikir tentulah diatas
gunung dikuil Siauw Lim Sie telah terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan ..
Cu Hoat sendiri setelah bertemu dengan Sun Ie Tiong,
lalu menyuruhnya lekas-lekas kembali, dia tidak usah
mengembara lagi dikalangan Kang-ouw pula, karena guru
mereka sudah mendapat jejak bahwa dipulau Tay Ciap Too
dilaut Tong Hay, hidup seorang Hweeshio tua bernama
Peng Hoan Siangjin, yang dianggap mungkin sekali adalah
Leng Kong yang melenyapkan diri tempo hari.
Sun Ie Tiong pun tidak lupa menyampaikan cerita
tentang pertempurannya dengan Lie Siauw Hiong yang
diceritakan sejelas-jelasnya kepada Suhengnya sambil
berkata: "Suhu yang menduga Peng Hoan Siangjin sebagai
Leng Kong yang hilang dahulu, hal itu barulah satu
kemungkinan saja, tapi didepan mata kita terdapat satu
jejak yang mungkin dapat memberi garis yang terang untuk
kita selidiki. Kita harus terlebih dahulu menyelidikinya,
barulah kemudian pulang kekuil. Bukankah itu masih
belum terlambat?"
Cu Hoat yang mendengar bahwa penjelasan itu masuk
diakal, maka dia sependapat dengan Suteenya, dan lalu
mereka balik kembali untuk menghadang pada Lie Siauw
Hiong, untuk coba bertanding dengan mempergunakan
pedang, mereka tunggu waktu Lie Siauw Hiong
mengeluarkan tipu 'Tay-yan-sip-sek', dia berusaha untuk
memperhatikannya dengan tekun dan cermatnya. Oleh
karena itu, dia lalu berunding dengan Sun Ie Cong, untuk
menanyakan hal itu, dengan sejelas-jelasnya kepada
pemuda kita. Sun Ie Tiong yang lebih berakal, lalu berkata kepada
Suhengnya: "Kalau sekarang kita menghadangnya kembali,
hal itu dapat menerbitkan salah paham saja terhadapnya.
Baiklah kita terlebih dahulu memutar kesebelah depan dan
mencegatnya dikota Hoa Kee Tin, dimana kita boleh
menanyakan dengan sejelas-jelasnya kepadanya."
Cu Hoat Hweeshio sekalipun berkedudukan sebagai
murid Kepala, tapi dia jadi orang paling penurut sekali, apa
lagi diantara murid-murid keturunan kedua Sun Ie Tiong
adalah salah seorang murid terpandai dan paling dipandang
tinggi, baik oleh guru mereka maupun oleh saudara-saudara
seperguruannya sendiri, dan diwaktu dia mendengar
keterangan-keterangan yang beralasan dari Suteenya ini,
diapun sependapat untuk menghadang Pemuda kita dikota
Hoa Kee Tin saja.
Begitulah mereka menunggu dikota Hoa Kee Tin ini
sehingga empat atau lima hari lamanya, tapi mereka masih
saja tidak menjumpai pemuda kita datang kesitu. Pada hal
mereka tidak pernah menyangka, bahwa Lie Siauw Hiong
kena dibokong dan dikeroyok oleh sembilan jago-jago
Kwan Tiong yang ingin sekali mencabut nyawanya.
Terus sampai pertemuan dipuncak gunung Kwie San
dimulai, barulah dia mulai memperoleh jejaknya pemuda
kita ini, maka sambil mengikuti pemuda kita kegunung
Kwie San, tidak lupa dia menyuruh Cu Hoat akan pulang
terlebih dahulu kekuil Siauw Lim Sie, untuk memberi kabar
kepada guru mereka disana.
Peng Hoan Siangjin yang telah muncul diruangan 'Bu
Wie Thia' dan memberi pelajaran yang hebat kepada
sipemuda dihadapan musuh, akhirnya telah membuat Lie
Siauw Hiong dapat mengalahkan orang-orang asing yang
menjadi lawannya, sehingga mereka merasa malu dan
lantas kembali kenegeri mereka. Sementara Sun Ie Tiong
yang menduga keras bahwa Lie Siauw Hiong pastilah
murid yang terpandai dari Leng Kong Taysu, ketika baru
saja hendak menanyakan sangkut-paut antara mereka
dengan pihaknya, tidak disangka Lie Siauw Hiong sudah
dibawa kabur oleh Peng Hoan Siangjin, sehingga
selanjutnya mereka tidak kelihatan bayangan-bayangan
kedua orang itu pula.
Oleh karena itu, Sun Ie Tiong terpaksa pulang kembali
kekuil Siauw Lim Sie dengan tangan hampa. Sesampainya
dikuil tersebut, lalu diceritakannya kepada gurunya tentang
pertempuran tadi antara Lie Siauw Hiong dengan
Kinlungo, penantang asing itu, sambil tidak lupa dia
melukiskan roman Lie Siauw Hiong dengan Peng Hoan
Siangjin. Dan setelah Tie Kheng Taysu mendengar
penuturan. muridnya itu, sambil mengeluarkan airmata
sekonyong-konyong
ia berkata: "Sang Buddba sesungguhnya tidak buta. Leng Kong Couwsu ternyata
sampai hari ini masih hidup segar-bugar. Tak dapat
disangsikan lagi, orang itu pastilah dia adanya .."
Oleh karena itu, maka para murid-murid yang terpandai
dari partai Siauw Lim pada keluar kuil dan bersama-sama
dengan secara berbondong-bondong pergi menuju kepulau
Tay Ciap Too. Serombongan pendeta-pendeta dari Siauw Lim Sie yang
melakukan perjalanan dengan tergopoh-gopoh, malah telah
menerbitkan perhatian orang lain, tapi mereka sendiri tidak
mengetahuinya. Kinlungo bersama Suhengnya Katar waktu masuk
kedaerah Tiong-goan, guru mereka pernah memesan
dengan memberitahukan sebagai berikut: "Ilmu kepandaian
silat di Tionggoan sangatlah terbatas, hanya ada satu
golongan yang disebut pendeta-pendeta dari Siauw Lim Sie
yang agak lumayan tingkat kepandaiannya. Apabila kalian
ingin mengejutkan dan mengangkat nama kalian, maka
hendaknya kalian terlebih dahulu menjatuhkan mereka ini."
Tentu saja, guru mereka tidak pernah menyangka, bahwa
kedudukan kalangan rimba persilatan didaerah Tiong-goan
sekarang sudah mengalami perubahan yang hebat sekali,
sedangkan nama Siauw Lim kini sudah jarang terdengar
pula. Itulah sebabnya, pada waktu diruangan 'Bu Wie Thia',
Katar menoleh keempat penjuru untuk mencari pendeta-
pendeta Siauw Lim Sie, ahirnya dia hanya menjumpai
Kouw-am saja, yang segera melayaninya, hingga dengan
girang ia telah menyambutnya, karena dia menduga, bahwa
pendeta ini tentulah ada murid-murid dari partai Siauw
Lim. Tapi waktu mendengar penjelasan adik seperguruannya Kinlungo yang paham bahasa Han, ia telah
diberitahukan, bahwa Kouw-am itu bukanlah murid partai
Siauw Lim, melainkan murid dari parai Go Bie hingga
Katar yang mendengar hal itu menjadi putus harapan dan
kecewa didalam hatinya.
Tapi ahirnya waktu Kinlungo sendiri telah kena
dikalahkan oleh Lie Siauw Hiong, Heng Hoo Sam Hut
yang mendengar penjelasan muridnya, mereka menduga
bahwa orang yang dimaksudkan oleh murid itu, kini tinggal
berdiam dipulau Tay Ciap Too, oleh karena itu, lalu mereka
bertiga saudara datang kedaerah Tiong-goan pula.
Tengah mereka merasa bingung, berhubung mereka
tidak mengetahui letak pulau Tay Ciap Too tersebut,
kebetulan sekali Kinlungo telah dapat mencuri dengar
omongan para pendeta Siauw Lim Sie yang juga hendak
menuju kepulau Tay Ciap Too juga, maka dengan diam-
diam mereka lalu mengikuti perjalanan rombongan
pendeta-pendeta dari Siauw Lie Sie itu.
Keempat orang ini sangat tinggi ilmu Keng-sin-kang
mereka, sehingga pengintaian mereka tidak diketahui oleh
rombongan pendata-pendeta Siauw Lim tersebut.
Sesampainya dipulau Tay Ciap Too, mereka yang
merupakan dua rombongan yang mempunyai maksud
kedatangan yang berlainan, ternyata kedatangan mereka
sia-sia belaka, karena yang dicari mereka tidak terdapat
dipulaunya itu, karena Peng Hoan Siangjin tengah
mengajak Lie Siauw Hiong kepulau Siauw Ciap Too untuk
melakukan pertempuran pertaruhan dengan Hui Taysu,
dimana akhirnya Heng Hoo Sam Hut telah bertempur
dengan rombongan pendeta-pendeta dari Siauw Lim Sie.
Lie Siauw Hiong sekalipun hanya menduga-duga saja,
ternyata dugaannya ini tidak berbeda jauh dengan
penjelasan-penjelasan dari Pang Hoan Siangjin sendiri.
Diatas langit bintang-bintang tampak berkedip-kedip,
suara debaran ombak terdengar dengan tidak henti-
hentinya. Keadaan disekeliling mereka tampak gelap sekali,
hanya dipantai laut terlihat sebuah garis putih karena riak
ombak yang tidak putus-putusnya, karena tersorot oleh
sinar bulan maupun bintang-bintang.


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Peng Hoan Siangjin setelah berhenti bercerita, lalu dia
tengadahkan kepalanya memandang keangkasa. Ramhutnya yang berwarna putih tampak berkibar-kibar
dibawah tiupan angin laut, hingga pada saat itu dia lebih
mirip sebagai patung daripada manusia yang berjiwa.
Dengan suara yang perlahan Lie Siauw Hiong lalu
bertanya: "Dan bagaimana dengan Leng Kheng Taysu?"
Peng Hoan Siangjin dengan lemah lalu menjawab:
"Suheng .. oh, bukan, Leng Kheng Taysu juga masih hidup
didunia ini."
Sekalipun dia sudah mengubah sebutannya dengan
cepat, tapi perkataan 'Suheng' yang telah tidak sengaja
disebutkannya tadi, teranglah sudah, bahwa dia sendiri
adalah Leng Kong Taysu.
Diam-diam Lie Siauw Hiong berkata pada dirinya
sendiri: "Leng Kheng Taysu sebagai Suhengnya Leng Kong
Taysu, kini diapun masih hidup didunia ini .. dia ini
tentunya mempunyai kepandaian yang hebat dan lihay juga
.. Oh. Benar, tempo hari ada seorang pendeta yang naik
dipunggung burung bangau dan telah memanggil pada Leng
Kong Taysu, pendeta itu tentulah Leng Kheng sendiri
adanya." Para pembaca tentu masih ingat, tempo hari waktu Lie
Siauw Hiong dapat memecahkan barisan yang disebut
'Kwie-goan-kouw-tin' dipulau Siauw Ciap Too, yaitu
sewaktu Peng Hoan Siangjin sedang bertempur dengan Hui
Taysu, ada seorang pendeta tua yang datang dengan naik
dipunggung seekor burung bangau dan manggil-manggil
kepada Peng Hoan Siangjin. Dan diwaktu mereka hendak
berpisah, ia pernah berkata kepada pemuda kita: "Jika
mereka memang berjodoh, pasti dilain waktu mereka dapat
saling berjumpa pula."
Perkataan tersebut masih diingat oleh Lie Siauw Hiong,
tapi dia tidak tahu apa artinya.
Kemudian dari arah pantai tampak datang dengan
perlahan-lahan menyusur pantai sebuah perahu kecil, yang
ketika sudah mencapai pantai dan para penumpangnya
pada turun kedarat, mereka ini ternyata terdiri dari
delapanbelas orang, yang setelah mereka sudah datang
dekat, barulah mereka dapat mengenali, bahwa kedelapanbelas orang yang baru mendatangi ini adalah para
pendeta dari kuil Siauw Lim Sie.
Sejak rombongan para pendeta dari Siauw Lim ini
melihat Peng Hoan Siangjin mengajak pergi Lie Siauw
Hiong, mereka hanya dapat mengikuti jurusan yang tadi
ditempuh oleh Peng Hoan Siangjin saja, karena mereka
tidak tahu tempat mana yang hendak dituju oleh Hweeshio
tua itu. Tapi karena lautan itu begitu lebar dan tak bertepi,
kemanakah mereka ingin menyusulnya" Demikianlah,
akhirnya setelah mencari ubak-ubakan tidak karuan,
merekapun dapat juga mencari dan mencapai pulau Siauw
Ciap Too ini. Waktu Lie Siauw Hiong melihat rombongan pendeta-
pendeta dari Siauw Lim ini pada mendarat disitu,
sedangkan pendeta pertama yang mendarat disitupun sudah
melihat pula kepada kedua orang itu, hingga mereka
dengan serentak berteriak-teriak
saking kegirangan, kemudian dengan langkah yang cepat sekali mereka berlari-
lari untuk menghampiri kepada Peng Hoan Siangjin dan
sipemuda she Lie.
(Oo-dwkz-oO) Jilid 37 Peng Hoan Siangjin menjadi sangat terkejut dan buru-
buru mengangkat badannya untuk melarikan diri, tapi
sekonyong-konyong
bajunya kena ditarik dengan kencangnya oleh seseorang.
Tatkala dia menolehkan kepalanya memandang, barulah
dia ketahui, bahwa orang yang menarik bajunya itu adalah
Lie Siauw Hiong sendiri.
Pada saat itu, dengan muka yang bersungguh-sungguh
Lie Siauw Hiong lalu berkata dengan nada yang perlahan:
"Siangjin, kau tidak usah menyembunyikan diri pula .."
Tidak terasa lagi Peng Hoan Siangjin jadi merasa
tercengang, dan dengan terhentinya langkahnya seketika
itu, ternyata para pendeta Siauw Lim itu sudah berlari-lari
dengan langkah yang pesat sekali, sehingga tidak lama
kemudian mereka sudah sampai dihadapan Hweeshio tua
tersebut. Setelah itu, para pendeta itu dengan rapih dan secara
berturut-turut pada menjatuhkan diri berlutut dihadapan
Peng Hoan Siangjin. Permimpin rombongan para pendeta
itu adalah Tie Kheng Taysu, sedangkan Bu Lim Cie Siu
Sun Ie Tiong tampak berlutut pada baris yang paling
belakang sekali.
Sambil berlutut Tie Kheng berkata: "Leng Kong
Couwsu, kau .. kau apakah masih ingin membobongi
Teecu?" Saking gugupnya, Peng Hoan Siangjin
tampak menggoyang-goyangkan sepasang tangannya sambil berkata
dengan suara nyaring: "Bukan, bukan, aku beritahukan
kepada kalian, bahwa aku ini bukanlah Leng Kong Taysu ..
bukan Leng Kong Taysu .."
Tie Kheng Taysu jadi terkancing mulutnya demi
mendengar perkataan orang tua itu. Ia hanya mampu
mengeluarkan dua kali suara "Ah", tapi selanjutnya tak
dapat pula berkata-kata barang sepatahpun. Dan tatkala
melihat Peng Hoan Siangjin hendak mengangkat bangun
untuk ditinggalkannya pergi, dengan air mata bercucuran
dia berkata: "Teecu tidak berguna sama sekali, hanya ..
hanya mohon supaya Couwsu sudi memandang muka Sang
Buddha .."
Peng Hoan Siangjin lantas berseru: "Jika ada omongan
sesuatu, bolehlah engkau bicarakan untuk dirundingkan,
tetapi janganlah engkau lekas menangis, hingga perbuatanmu ini tak berbeda dengan lakunya anak kecil saja
.." Oleh kata-kata dan perlakuan Peng Hoan Siangjin ini,
Tie Khong sesungguhnya menjadi serba salah, apakah baik
ia menangis atau tertawa. Tetapi diwaktu memikirkan
tentang kejayaan Siauw Lim pada masa yang lampau,
hatinya menjadi sangat terharu dan tiba-tiba dengan
mengeluarkan suara "Oweeeeeeeeeee"
dia lantas memuntahkan darah segar.
Hal mana, telah membuat Peng Hoan Siangjin terkejut
bukan kepalang. Buru-buru dia menghampiri dan menepuk
punggung Tie Kheng satu kali, kemudian dengan perlahan
dia mengurut dadanya dua kali, dan setelah menghela
napas tanda berduka dia berkata: "Ai! Kalian bukan main
menderitanya! .. Baiklah aku beritahukan pada kalian,
bahwa aku ini memang benarlah Leng Kong Taysu .."
Tie Kheng yang mendengar Peng Hoan Siangjin telah
mengakui bahwa dirinya benar adalah Leng Kong Taysu,
saking girangnya lantas dia berlompat bangun, tapi
kemudian lantas berlutut pula sambil berkata: "Teecu ..
Teecu tak tahu harus mengatakan bagaimana .. Couwsu ..
selama tahun-tahun ini, apakah Couwsu baik-baik saja" Ai!
Ternyata Thian mengasihani kami sekalian .."
Sesudah berkata demikian, tanpa merasa dia telah
mengeluarkan airmata pula.
Dalam pada itu, wajah Peng Hoan Sinngjin terlihat
roman yang merasa terharu sekali, tapi tidak lama
kemudian perasaan tersebut sudah kembali seperti sediakala
pula. Dengan suara yang agak gemetaran Tie Kheng Taysu
lalu berkata: "Teecu memohon dengan sangat, agar supaya
Couwsu sudi kembali kedalam kuil."
Sambil berkata begitu, Tie Kheng segera mengangkat
mukanya memandang pada Peng Hoan Siangjin, sedangkan
para pendeta Siauw Lim lainnyapun pada melirikkan
matanya memandang pada Hweeshio tua tersebut. Hal
mana, pun diturut oleh Lie Siauw Hiong yang berdiri
berdekatan. Peng Hoan Siangjin lalu mengangkat mukanya
memandang keangkasa raya, tampa mengucap barang
sepatah katapun juga.
Tie Kheng Taysu lalu berkata: "Teecu sekalian sangat
mengharap agar Couwsu suka memandang muka sang
Buddha dan sudilah apa kiranya mengikut Teecu sekalian
kembali kekuil Siauw Lim Sie lagi."
Sekonyong-konyong Peng Hoan Siamgjin menghela
napas panjang, kemudian dengan suara perlahan ia
menjawab: "Aku siorang tua telah berkeliaran selama
ratusan tahun sebagai seorang pendeta babas, maka bila
kalian ingin memanggilku kembali kekuil lagi, hal itu
sesungguhnyalah ada sangat mustahil sekali .."
Para pendeta Siauw Lim ketika memdengar perkataan
Hweeshao tua itu, hati mereka jadi merasa agak terkejut,
tapi tidak disangka, bahwa Peng Hoan Siangjin telah
melanjutkan perkataannya: "Hanya, aku sioramg tua
sebenarnya telah keluar dari pintu kuil Siauw Lim Sie,
sekalipun kepandaian yang kuiliki ini sebagian besar adalah
hasil ciptaanku sendiri, tapi dasarnya adalah dengan
mengambil inti sari dari buku-buku yang telah kubaca dari
kitab-kitab yang terdapat didalam kuil Siauw Lim tersebut.
Oleh karena itu, aku pasti akan mengembalikan
kepandaianku yang telah kuwariskan itu kepada kaum
Siauw Lim Sie."
Tie Kheng Taysu tampaknya hendak berkata-kata lebih
jauh, tapi dengan segera dia merasa dibelakangnya ada
seorang pendeta tua yang telah memberi isyarat dengan
menarik punggungnya, agar supaya dia jangan melanjutkan
dahulu bicaranya.
Sudah itu Peng Hoan Siangjin lalu melanjutkan
bicaranya: "Aku lihat bocah berlutut pada baris yang paling
belakang disana itu cukup cerdik untuk aku wariskan ilmu
pelajaranku, maka akan kubawa dia kepulauku untuk
maksud tersebut."
Sambil berkata begitu, dia menunjuk pada Sun Ie Tiong
yang berlutut pada baris yang paling belakang itu.
Tie Kheng Taysu yang mendengar perkataan Peng Hoan
Siangjin ini, diapun segera mengetahui, bahwa seandainya
dia memaksa untuk meminta Hweeshio tua itu kembali
kekuil Siauw Lim Sie, sudah tentu sekarang tidak mungkin
lagi, karena Peng Hoan Siangjin telah menyanggupi untuk
mewariskan pelajaran aslinya kepada Sun Ie Tiong, hingga
dengan begitu, partai Siauw Lim masih ada harapan pula
akan maju dikemudian hari, maka karena itu juga, diapun
lalu berdirilah tanpa berkata apa-apa pula.
Sementara Lie Siauw Hiong yang sekonyong-konyong
mendapatkan Tie Kheng Taysu seakan-akan tengah
memandangnya dengan roman yang ragu-ragu, tampaknya
dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya, hingga Siauw
Hiong yang berotak sangat cerdik, lantas dia mengetahui,
bahwa Tie Kheng Taysu merasa canggung sekali akan
kedudukannya. Karena Tie Kheng Taysu yang mengira
bahwa dia adalah murid Peng Hoan Siangjin, maka dia
mesti menganggap Lie Siauw Hiong seorang Loo-cian-
pwee, meski umur sipemuda belum berapa tua.
Tiba-tiba Lie Siauw Hiong berkata kepada Sun Ie Tiong:
"Sum Heng, aku mengucapkan selamat kepadamu, yang
ternyata telah beruntung dipilih oleh Peng Hoan Siangjin
Loo-cian-pwee sebagai muridnya, hingga kesempatan baik
ini sungguh sukar sekali akan diperoleh oleh setiap orang .."
Ketika Sun Ie Tiong mendengar sipemuda she Lie
menyebut Peng Hoan Siangjin dengan sebutan 'Loo-cian-
pwee' tapi tidak memanggil 'Suhu' tidak terasa lagi ia
menjadi heran dan bertanya: "Kau mengapakah .."
Dengan tertawa Lie Siauw Hiong berkata: "Aku mana
mempunyai peruntungan yang sedemikian bagusnya untuk
menjadi murid orang tua ini, sehingga Siangjin hanya
memberi petunjuk-petunjuk saja kepadaku .."
Dengan perkataan ini, teranglah sudah, bahwa ia hendak
mengatakan, bahwa dialah bukan murid Peng Hoan
Siangjin. Oleh karena itu, Tie Kheng Taysu lalu berkata: "Ie
Jie, kau harus baik-baik mengikuti Couwsu mempelajari
kepandaian asli yang hebat, kami sekalian pendeta dan
murid-murid Siauw Lim semua mempertaruhkan seluruh
harapan kami diatas pundakmu .. Couwsu, biarlah Teecu
sekalian meminta diri darimu .."
Peng Hoan Siangjin hanya tersenyum saja sambil
memanggut-manggukkan kepalanya.
Setelah itu Tie Kheng lalu berkata kepada Lie Siauw


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hiong: "Lie Sicu, baiklah kami minta diri pula dan bila
benar kita berjodoh satu sama lain, pasti dikemudian hari
kita dapat saling berjumpa pula .."
Kemudian Tie Kheng dan rekan-rekannya dengan laku
yang tergesa-gesa meninggalkan tempat tersebut.
Peng Hoan Siangjin setelah memandang para Houwshio
itu sudah meninggalkannya, dengan perlahan dia menghela
napas. Sekonyong-konyong terdengar satu suara yang keras
sekali, dan berbareng dengan itu, sebuah bayangan hitam
telah melayang turun hendak menerkam kepala ketiga
orang itu. Ternyata batu raksasa yang tadi kena dipukul oleh Heng
Hoo Sam Hut dan belakangan kena pukulan Bu Heng Seng
pula, jika dilihat dari sebelah luar tidak tampak perubahan
apa-apa, tapi dalamya ternyata sudah kopong sehingga kini
gugur dengan menerbitkan suara yang bergemuruh sekali.
Lie Siauw Hiong berseru keras, lalu sepasang tangannya
dirangkapkan, kemudian didorongkannya keluar untuk
memukul batu raksasa yang roboh itu, hingga seketika itu
juga batu raksasa itu telah kena dipukul hancur lebur dan
kepingan-kepingannya beterbangan diudara.
Ternyata jurus yang dipakai oleh pemuda kita untuk
memukul batu itu, adalah apa yang baru saja dapat
diwariskan dari kepandaian Peng Hoan Siangjin, yaitu ilmu
Kong Kong Ciang Hoat dengan jurus yang disebut 'Hui-
long-pay-kong' (ombak yang bergelora sejajar dengan
langit). Menampak hal itu, Peng Hoan Siangjin berseru: "Bocah,
kekuatan pukulanmu itu sungguh hebat sekali!"
Orang yang paling terkejut menyaksikan kehebatan
tenaga dalam pemuda kita, adalah Bu Lim Ci Siu Sun Ie
Tiong, karena dua bulan yang lalu dia pernah bertempur
dengannya, hingga sungguh tidak disangka sama sekali,
ketika baru saja dua bulan tidak berjumpa, tenaga-dalam
pemuda kita sudah maju demikian pesatnya.
Sang hari perlahan-lahan sudah menjelang pagi, dan
sinar matahari pagi mulai menampakkan cahaya yang
lembut menyinari pulau Siauw Ciap Too, sedangkan sinar
puteri malam sudah mulai pudar.
Peng Hoan Siangjin dengan tangan kiri menggandeng
Lie Siauw Hiong dan tangan kanannya menggandeng Sun
Ie Tiong, dengan perlahan-lahan mereka berjalan menyusur
pantai. Setelah perahu mereka sampai dipulau Tay Ciap. Too,
Lie Siauw Hiong yang tinggal tetap berada diatas perahu
menampak Peng Hoan Siangjin dan Sun Ie Tiong naik
kedarat, maka dengan lantas ia berkata kepada Hweeshio
tua itu: "Boan-pwee karena mempunyai urusan yang
penting dan harus buru-buru balik ke Tiong-goan, lain hari
bila ada waktu yang senggang .."
Dengan tertawa Peng Hoan Siangjin lalu memotong
bicara sipemuda sambil berkata: "Bocah, jika memang kau
mempunyai urusan yang penting, kau boleh segera pergi
dan tak usah dengan bertele-tele engkau mengatakan bila
ada waktu yang senggang sudahlah, Ie Jie, mari kita
berangkat."
Sehabis berkata begitu, lalu dia menarik tangan Sun Ie
Tiong, kemudian dengan dua kali lompatan saja dia sudah
menghilang kedalam rimba yang berdekatan.
Lie Siauw Hiong setelah menantikan bayangan kedua
orang itu lemyap dari pandangannya, barulah dia
membalikkan tubuhnya dan mengayuh perahunya kembali
menuju kedaerah Tiong-goan.
Angin pagi hari yang meniup dengan santar, membuat
perahu pemuda kita laju terlebih pesat lagi. Tidak antara
lama kabutpun mulai naik dengan perlahan-lahan keudara,
sehingga pemandangan diempat penjuru memjadi samar-
samar kelihatannya.
Dalam waktu yang pendek itu, kabut yang tebal tampak
memutih didelapan penjuru angin. Kabut istimewa yang
tebal serupa ini, sering timbul diselat Tong Hay dan
menyukarkan sekali bagi para nelayan disekitar tempat itu
untuk menangkap ikan.
Dalam hati Lie Siauw. Hiong berpikir: "Sekalipun kabut
ini sangat tebal dan menjemukan, tapi karena angin meniup
kejurusan yang ditujunya, maka asal aku mengemudikan
perahuku dengan benar, pasti sekali akan dapat memasuki
daerah Tiong-goan dengan tidak kurang suatu apa."
Oleh karena itu, dengan malas-malasan dia duduk
mengendalikan kemudi perahunya, yang dengan secara
mantap sekali meluncur maju dengan amat pesatnya.
Dalam pada itu, tiba-tiba pikiran Siauw Hiong kepada
Ceng Jie yang berwajah ayu dan manis. Tapi dimanakah
sebenarnya sigadis jelita disaat itu"
Didalam hati Siauw Hiong angat cemas memikirkan
nasib sinona yang belum berpengalaman dan kini tengah
berkelana dikalangan Kang-ouw.
Kabut dihadapannya kian lama kian menebal hingga dia
hanya dapat memandang pada jarak sejauh lima tombak
saja, sedanagkan diluar batas tersebut keadaan disekitarnya
sudah menjadi samar-samar.
Terpisah dari kepala penahu dalam jarak sepuluh tombak
jauhnya, terasa ada sesosok bayamgan hitam melewatinya,
yang tampaknya seakan-akan sebuah perahu kecil juga.
Pada saat itu karena Lie Siauw Hiong sudah hampir
mencapai pantai, maka siang-siang dia sudah turunkan
layarnya, tapi dengan berbuat demikian, laju penahunyapun
ternyata tidak menjadi berkurang. Ketika itu dia hanya
merasa sangat heran, mengapa ada lain orang yang berani
melakukan perlayaran dalam kabut yang sedemikian
tebalnya dengan kecepatan yang luar biasa sekali.
Selagi Siauw Hiong memikirkan keadaan yang aneh ini,
sekonyong-konyong dari arah belakangnya tampak melewat
sebuah perahu besar, yang rupannya tengah mengejar
perahu kecil yang dilihat pemuda kita dimukanya itu.
Orang-orang yang berada diatas perahu besar itu karena
terlampau memusatkan perhatian mereka kepada perahu
kecil yang dikejar mereka itu, maka tak tahulah mereka,
bahwa disamping mereka terdapat Lie Siauw Hiong yang
sedang mengayuh perahunya.
Sementara Lie Siauw Hiong yang telah berhasil mengejar
pada belakang perahu besar itu, dengan cepat dia menyekal
tali diatasnya, sehingga dengam sendirinya tubuhnyapun
maju mengikuti lajunya perahu besar tersebut.
Lajunya perahu besar ini jika dibandingkan dengan
perahu kecil dimukanya, sudah tentu saja jauh lebih pesat
lagi, karena tidak lama kemudiam perahu besar itu sudah
mendatangi semakin dekat, hingga dari suara itu dapat
ditetapkan, bahwa perahu itu hanya terpisah kira-kira
tinggal lima tombak saja jauhnya.
Sekonyong-konyong dari sebelah dalam perahu besar itu
terdengan suara orang laki-laki yang kasar, kaku dan parau
dalam bahasa Han, katanya: "Perempuan kecil, lekaslah
dengan secara baik-baik menyerahkan dirimu dan jangan
mencoba melarikan diri pula. Muridku yang telah menaksir
terhadapmu, berarti bahwa kau memperoleh kebahagiaan
yang tidak sedikit!"
Tatkala Lie Siauw Hiong mendengar suara tersebut, ia
menjadi sangat terperanjat dan diam-diam berkata didalam
hatinya: "Aha, ternyata bahwa mereka itu adalah Heng
Hoo Sam Hut! Tapi siapakah orang yang mereka kejar itu"
Jika mendengar perkataan tadi, maka teranglah sudah
bahwa orang yang tengah mereka kejar-kejar itu adalah
seorang wanita."
"Perempuan manakah yang telah menarik perhatian
murid Kinposuf itu?" Lie Siauw Hiong bertanya pada diri
sendiri. Tapi orang yang berada dalam perahu kecil itu tidak
meladeni teriakan Heng Hoo Sam Hut, selain mengayuh
perahunya dengan lebih kerap dan cepat, tapi karena dia
sudah menggunakan tenaga habis-habisan dan lama pula,
maka perahunya tidak dapat laju terlebih pesat lagi, hingga
ia sekarang telah semakin dekat jaraknya dengan perahu
besar tadi. Tidak antara lama kemudian, terdengarlah suara seorang
pemuda yang berkata: "Khonio, mengapa engkau harus
melarikan diri dengan tergopoh-gopoh" Kita pasti sekali
tidak akan mencelakaimu, maka kalau ada omongan
sesuatu baiklah kita perbincangkan dengan secara baik-baik
saja." Lie Siauw Hiong yang mendengar suara itu, segera
kenali bahwa pemuda yang berkata-kata itu adalah bukan
lain daripada Kinlungo, hingga tidak terasa lagi dia menjadi
agak jelas persoalannya dan diam-diam dia berpikir:
"Kecuali Kinlungo yang merasa tertarik dengan wanita
diperahu kecil itu, masakah Heng Hoo Sam Hut masih
mempunyai keinginan yang gila itu?"
Ternyata Tiga Buddha dari Sungai Gangga berlaku
sangat keras terhadap murid-murid mereka, tapi terhadap
murid mereka yang terakhir, yaitu Kinlungo, mereka
berlaku amat sungkan serta menyayanginya melampaui
batas. Karena mereka mendapat kenyataan bahwa
Kinlungo ini orangnya sangat cerdik dan pandai bermuka-
muka, hingga diantara murid-murid mereka, dialah murid
yang paling disayang oleh ketiga gurunya ini. Oleh karena
itu, apa saja yang diinginkannya, biasanya selalu tidak
pernah tidak terwujud.
"Hm, bangsa liar ini cara bagaimana dapat dibandingkan
dan dipersamakan dengan gadis Tiong-goan yang sopan-
santun?" menggerutu Lie Siauw Hiong didalam hatinya.
Oleh karena sipemuda pernah bertarung dengan
Kinlungo, maka sudah tentu saja dia lebih bersimpati
terhadap wanita tersebut Tidak antara lama terdengar pula
suara Kinlungo yang berkata: "Khonio, mengapa engkau
masih mempertahankan adat-istiadat bangsa Han yang
sudah usang itu" Jika ditilik lukanya yang sudah sedemikian
beratnya, apakah kiranya masih ada harapan akan dia bisa
hidup lagi" Lebih baik dilemparkan keluar saja untuk
menjadi umpannya ikan-ikan! Aku Kinlungo dinegeriku
sendiri Thian Tiok (sekarang Inda) adalah seorang yang
kaya-raya, mengapakah Khonio tidak mau mengikutiku?"
Dengan berkata deikian, Kinlungo bermaksud untuk
memancing pada wanita itu, karena dia mengira bahwa
gadis di Tiongkok gampang saja tertipu dan kemaruk
terhadap harta dunia seperti gadis-gadis dinegaranya
sendiri. Sedangkan orang yang tengah dikejar itu tetap mengayuh
parahunya dengan terlebih keras pula, sehingga kini
terdengar jelas suara wanita itu yang memaki: "Anjing liar
yang kejam dan telengas, nonamu pasti akan membalaskan
sakit hati suamiku itu!"
Suara itu yang mengandung kesedihan yang amat sangat,
menyebabkan Lie Siauw Hiong terpaku dan seolah-olah
terkena pukulan martil yang angat berat, maka dengan
memegang erat-erat pada tali tersebut, mulutnya terdengar
menggerutu: "Dia" Oh, benarkah dia?"
Kemudian dia dapat merasakan, betapa orang itu dapat
melupakannya, dan perkara itu memang telah bersangkutan
dengan dirinya saja, hingga dengan sekonygng-konyong dia
mengenjotkan badannya, dan tubuhnya segera melayang
kebelakang perahu besar itu.
Pada saat itu karena turunnya kabut yang sangat tebal,
maka Heng Hoo Sam Hut yang berada diatas perahu
bersama Kinlungo tidak dapat memergoki pemuda kita
yang kini sedang bersembunyi dibelakang perahu mereka.
Lie Siauw Hiong dengan hati yang tabah segera melangkah
maju setindak demi setindak, dan tatkala berjalan sampai
lima tombak janhnya, tiba-tiba dihadapannya tampak
empat bayangan manusia.
Yang berdiri ditengah-tengah adalah seorang yang
bertubuh tinggi besar dan tak dapat disangsikan lagi
tentulah Progota adanya, sedangkan orang yang berdiri
disamping dan memakai pakaian sebagai seorang pelajar,
tidak lain daripada Kinlungo sendiri.
Keempat orang ini sedang memusatkan perhatian
mereka terhadap orang yang tengah melarikan diri
dihadapan itu, sehingga sekali-kali mereka tidak pernah
menyangka, bahwa dibelakang perahu besar mereka
bersembunyi seseorang musuh besar mereka.
Orang yang melarikan diri dimuka mereka, tampaknya
sangat paham sekali terhadap daerah perairan disekitarnya,
dan pada saat itu pengayuh wanita didepannya itu telah
membelok kekanan, sehingga Lie Siauw Hiong mengetahui,
bahwa arah yang dituju wanita itu adalah menuju
kedaratan. Akan tetapi Heng Hoo Sam Hut tinggal tetap membututi
wanita dihadapan mereka dengan sangat rapatnya.
Sekonyong-konyong Progota berbicara dalam bahasanya
sendiri, dengan sepasang tangannya mengangkat jangkar
hendak dilontarkannya kedepan, tapi Kinlungo buru-buru
menghalanginya.
Pada saat itu kabut dihadapannya sekonyong-konyong
menjadi demikian tebalnya, dan menurut pemberitahuan
Peng Hoan Siangjin, Lie Siauw Hiong mengetahui bahwa
dia sudah memasuki daerah pesisir, tapi karena selat ditiga
gunung ini dikitari dengan daratan maka kabut demikian
tidak mudah buyar, hingga seketika itu sampaipun lima jari
bila diulurkan agak jauh kemuka, tidak terlihat sama sekali
saking tebalnya kabut tersebut.
Dalam pada itu Lie Siauw Hiong telah menghampiri
semakin dekat kearah keempat orang lawannya yang amat
tangguh itu, hingga kini dia hanya terpisah tiga tombak saja
jauhnya dari mereka, maka jika seandainya pada waktu itu
ketiga pendeta asing tersebut tidak memperhatikan begitu
sangat kepada wanita dihadapan mereka, apakah masih
mungkin Lie Siauw Hiong bisa berlaku aman dalam tempat
persembunyiannya"
Hampir dalam saat itu juga sekonyong-konyong
Kinlungo terdengar berseru: "Khonio, lekas berhenti, kalau


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak, maka Supekku akan melontarkan jangkar kearahmu!"
Tampaknya diapun menginsyafi akan keadaan yang
tidak menguntungkan bagi pihaknya sendiri, karena dalam
kabut yang demikian tebalnya ini, sudah tentu saja pihak
lawannya mudah sekali melenyapkan diri.
Tapi sekalipun orang yang dikejar itu dengan secara licin
dapat melenyapkan dirinya dalam suasana kabut yang tebal
itu, namun dengan mengikuti suara air dari pihak yang
melarikan diri dan disertai tenaga-dalam mereka berempat
yang sangat hebat, maka terus saja mereka mengikuti
dibelakang wanita itu.
Progota yang bertabiat paling kasar serta berangasan,
pada saat itu dia telah mengangkat jangkar itu tinggi-tinggi.
Jika dia tak berhasil menyandak pelarian dimukanya itu,
dia sudah bersedia untuk menenggelamkan perahu
lawannya itu, agar supaya orang-orang dikalagan Kang-
ouw tidak mengetahui, bahwa mereka telah menghina
seorang wanita sehingga menerbitkan tertawaan orang
banyak. Siapa tahu justeru dalam saat yang tegang ini, tiba-tiba
perahu dihadapannya lenyap, dan dari empat penjuru
datang ombak yang bergelombang mendampar perahu
besar mereka, hingga kecuali suara ombak, tidak terdengar
suara apa-apa lagi. Buru-buru Kinposuf menarik pulang
pergi sepasang tangannya, untuk mengurangi laju perahu
besarnya itu. Kinlungo yang berdiri digeladak perahu lalu berteriak
dengan suara kenas: "Awas, disebelah kanan terdapat batu
karang!" (kata-kata ini sudah tentu saja telah diteriakkannya
dalam bahasanya sendiri).
Sekalipun laju perahu mereka sudah banyak berkurang,
tapi maju perahu itu masih tetap pesat sekali, hingga perahu
mereka pasti akan hancur tertumbuk dengan batu karang
itu. Sekonyong-konyong terdengar suara bertumbukan yang
keras sekali. Pada sebelum perahu mereka dapat ditahan, tubuh
perahu mereka telah menyeruduk batu karang itu, hingga
sekalipun Heng Hoo Sam Hut mempunyai kepandaian
yang lebih tinggi sekalipun, mereka tidak berdaya untuk
dapat mengelakkan pertumbukan tersebut.
Progota baru saja berpikir hendak memaki, tetapi keburu
dicegah oleh Kinposuf, yang mukanya menunjukkan
senyum penuh kelicikan.
Kemudian Kinposuf lalu berseru: "Khonio, engkau benar
pintar sekali, aku Kinposuf merasa sangat bangga sekali atas
sepak terjangmu!" Begitulah dia berbicara dalam bahasa
Han yang kaku, sambil memberi isyarat kepada Progota,
yang segera dapat menangkap apa arti isyarat kawannya itu.
Lie Siauw Hiong yang berotak sangat cerdik, siang-siang
sudah mengetahui tipu muslihat Kinposuf, maka dengan
separuh membungkukkan diri dia sudah maju tiga langkah,
sehingga jaraknya terpisah dengan Kinposuf dan kawannya
sudah sangat dekat sekali.
Tidak antara lama terpisah kurang lebih sepuluh tombak
dari perahu besar mereka, terdengar suara wanita itu yang
berkata dengan suara dingin: "Anjing-anjing bangsa liar,
sekarang barulah kalian dapat merasakan tindakanku.
Tunggulah sampai kalian seorang demi seorang menjadi
umpan ikan-ikan dan udang-udang yang kelaparan!"
Kinposuf tertawa bergelak-gelak, sedangkan tangan
kanan Progota bergerak dan melemparkan jangkar kearah
perahu wanita dihadapannya itu.
Tenaga Progota jika dibandingkan dengan tenaga Peng
Hoan Siangjin, boleh dikatakan hampir bersamaan saja,
maka sekali dia melemparkan jangkar itu, adalah dengan
tenaga yang sehebat-hebatnya,
hingga dengan mengeluarkan suara "sret, sret" jangkar tersebut telah
melayang kearah perahu wanita itu.
Sementara Lie Siauw Hiong yang sudah siang-siang
menduga akan terjadinya peristiwa demikian, dengan cepat
dia mengejar pada jangkar yang tengah melayang mencari
sasarannya itu. Disamping itu, selagi tubuhnya melewati
keempat lawannya itu Siauw Hiong tidak lupa memukulkan
tinjunya pada keempat orang lawannya itu.
Kinposuf yang secara sekonyong-konyong merasakan
ada angin dingin yang menyerang dari belakangnya, dengan
tidak disadari dia sudah membalikkan tubuhnya, dengan
sepasang tangannya menjaga dadanya. Setelah itu, barulah
dia ingin mengambil tindakan berikutnya.
Memang hal itu adalah apa yang diharapkan oleh Lie
Siauw Hiong, karena dengan menggunakan kesempatan ini,
dia sudah melewati kepala perahu mereka dan dengan cepat
mengejar pada jangkar yang tengah melayang itu.
Waktu keempat orang itu menyadari bahwa diri mereka
telah tertipu, ternyata mereka sudah terlambat untuk
mencegah aksi Lie Siauw Hiong selanjutnya. Sedang
Kinlungo yang paling benci terhadap Lie Siauw Hiong,
dalam waktu pendek dia sudah mengenali, bahwa orang
yang menipu mereka itu adalah Lie Siauw Hiong sendiri,
maka tidak terasa lagi dia sudah terlepasan omong sambil
berkata: "Dia" Bocah cilik itu!"
Dengan cepat dia beritahukan kepada gurunya tentang
pemuda kita ini.
Perubahan yang telah terjadi sekejap mata itu telah
membuat ketiga pendeta asing itu menjadi gusar dan
memaki kalang kabutan kepada Lie Siauw Hiong dalam
bahasa mereka sendiri, selagi Lie Siauw Hiong sendiri
lompat melewati perahu mereka sehingga lima tombak
jauhnya dan berhasil dapat mengejar jangkar tersebut.
Lie Siauw Hiong yang sudah mendengar dengan jelas
suara melayangnya jangkar itu, buru-buru dia menghempos
semangatnya dengan keras dan tendangan kakinya kearah
jangkar itu sehingga dia sendiri dengan meminjam tenaga
tendangan itu, telah melambungkan dirinya keatas dan
membuat jangkar itu berubah arahnya menjadi miring dan
jatuh kesebelah bawah.
Dengan mengeluarkan suara "Blung" yang amat nyaring,
jangkar tersebut telah jatuh kecemplung kedalam laut.
Diantara suara jatuhnya jangkar itu, terdengar juga suara
jeritan terkejut dari seorang wanita.
Bersamaan dengan itu, perahu itupun tampak dikayuh
dengan tergopoh-gopoh dan memutar haluannya kekiri dan
laju pula sehingga lima tombak pula jauhnya.
Lie Siauw Hiong buru-buru menarik kakinya yang sudah
hampir mencapai permukaan air kurang lebih dua meter
lagi, dan dalam keterkejutannya itu, sipemuda segera
mengebutkan sepasang lengan bajunya kearah ombak yang
terasa mendampar-dampar
itu, dengan mana ia menggunaakan tenaga yang membalik untuk membuat
tubuhnya melayang kembali keatas sehingga tiga tombak
jauhnya, kemudian dengan cepat menuju keatas geladak
perahu sambil berseru: "Kun Moay" Apakah engkau ada
disitu?" Dalam pada itu, dari dalam perahu tampak ada dayung
yang diulurkan kearahnya, hingga Siauw Hiong dengan
berpedoman pada dayung tersebut, segera melayang turun
kedalam perahu bagaikan selembar daun yang gugur tertiup
angin. Diantara kabut ysang demikian tebalnya, dia melihat
sepasang mata yang besar sedang memandang kepadanya.
Lie Siauw Hiong berdiri diatas kepala perahu, tidak
berani maju dan masuk kedalam perahu pada sebelum
mendapat perkenan dari pemiliknya. Oleh karena itu, ia
merasa ragu-ragu cara bagaimana ia harus berbuat
selanjutnya. "Kun Moay, apakah engkau ini benar Kun Moay
adanya" Apakah boleh aku turun masuk?"
Bayangan wanita dalam kabut itu memang mirip Phui
Siauw Khun adanya, tapi ketika melihat sikapnya yang
demikian dinginnya, ia menjadi ragu dan tidak berani
membuka mulut sembarangan.
Wanita muda itu mula-mula tidak menjawab pertanyaan
pemuda kita, hingga Lie Siauw Hiong pun terpaksa berdiri
terpaku dikepala perahu.
Kemudian terdengar wanita tersebut menjawab dengan
nada suara yang datar, katanya: "Tidak salah! Hiong .. Lie
Twako, aku ini memang benarlah Phui Siauw Khun. Tidak
kunyana bahwa kita dapat saling berjumpa disini." Tapi
dari nada suara itu, jelas sekali kedengaran olehnya tentang
perasaan kecewa dan pedih yang terkandung dalam hati
wanita itu. Lie Siauw Hiong jadi menghela napas panjang. Setelah
mendapat perkenan, barulah dia berani masuk dan
menghampiri kepada sinona. Ditengah-tengah perahu,
benar saja ia menampak duduk seorang wanita muda, yang
ternyata memang benar adalah nona Phui Siauw Khun, tapi
sikapnya amat dingin dan berbeda jauh daripada sediakala.
Lie Siauw Hiong jadi kemekmek sesaat lamanya,
kemudian ia tertawa getir lalu menjawab: "Khun Moay, aku
sungguh gembira sekali dapat berjumpa pula denganmu,
kau selama hari-hari ini apakah .."
Waktu sipemuda berkata-kata sampai disitu, sekonyong-
konyong dari arah yang jauh terdengar suara rintihan yang
perlahan sekali, yang kemudian disusul dengan terdengarnya suara Kinlungo yang memanggil: "Suhu!
Lekas, lekas lompat keatas batu karang .."
Kemudian disusul dengan makian dalam bahasa asing
yang lalu dilanjutkan dengan gerengan kemarahan dari
Progota. Pada saat itu, barulah Phui Siauw Khun menunjukkan
senyumannya yang dingin.
Lie Siauw Hiong dengan menggunakan kesempatan baik
ini, lalu berkata dengan memuji pada sinona itu: "Khun-
Moay, engkau sungguh cerdik sekali. Aku sangat kagum
atas tipu muslihatmu yang berhasil itu."
Phui Siauw Khun yang mendengar pujian pemuda kita,
hanya tersenyum tawar dan lalu berkata: "Ah, Lie Twako,
ternyata engkau telah memuji orang dengan secara berlebih-
lebihan .."
Lie Siauw Hiong yang melihat orang yang berbaring
diatas ranjang batu itu membelakangi tubuhnya Phui Siauw
Kun, dia hanya melihat rambutnya yang kusut menutupi
sebagian besar dari mukanya, pakaiannya tidak keruan
macam dan sangat menyolok mata, hingga pemuda kita
lalu berkata: "Siapakah dia" Tampaknya dia menderita
luka-luka yang sangat parah. Biarlah aku coba mengobatinnya."
Phui Siauw Kun lalu tertawa aneh, mukanya
memperlihatkan perasaan yang luar biasa dan lalu berkata:
"Tak berani, aku menyibukkan Lie Tayhiap. Mengenai
siapa gerangan orang ini. Tayhiap siang-siang sudah
seharusnya mengetahuinya. Sekarang aku persilahkan
engkau meninggalkan tempat ini selekas mungkin!"
Karena nona itu selalu menyebut-nyebut namanya
dengan sebutan Tayhiap (pendekar agung), maka Siauw
Hiong merasa amat canggung dan jengah.
Air mata tampak mengembang dikelopak mata pemuda
kita, tapi jelas sekali bahwa itu bukan mencerminkan
kesedihan, melainkan kemarahanlah yang meliputi hati
sanubarinya, karena sekalipun benar tempo hari Siauw
Hiong telah berlaku tidak selayaknya terhadap sinona, tapi
setelah melampaui jangka waktu yang cukup lama, ia
anggap itu sudah seharusnya jika dia dapat memaafkannya.
Oleh karena berpikir demikian, bibirnya Lie Siauw Hiong
menjadi menggigil, dan setelah berdiam lama juga, barulah
dia berkata: "Kun Moay! Kau .. kau .. ai .." Sehabis berkata
begitu, mukanya menunjukkan perasaan kecewa dan
jengkel, sedangkan pada sinar matanya terpancar sinar
pandangan mata yang sangat suram.
Kata-kata "Kun Moay" ini bagaikan palu godam yang
menghantam lubuk hati sinona, hingga pada saat itu diapun
tidak dapat lagi menahan perasaannya, dan dengan serta
merta air matanya jatuh berderai-derai, maka tangannyapun
terpaksa menutupi mukanya sambil kemudian berkata: "Lie
Siauw Hiong! Lie Siauw Hiong! Mengapakah kau
membiarkan aku menjumpaimu?"
Lie Siauw Hiong lalu menunjukkan senyumnya, dengan
mana perasaan terhiburpun melintas dimukanya, hingga
senyuman ini seakan-akan tidak terlupakan oleh Phui
Siauw Kun. Lalu dia berkata: "Kun Moay! Sesungguhnya aku telah
melakukan sesuatu yang tidak selayaknya terhadapmu,"
kata sipemuda akhirnya. "Tapi .. sudahlah .. Kejadian masa
lampau tidak usah diungkat-ungkat lagi! Kau .. kau sudah ..
sudah menikah, bukan?"
Sambil berkata begitu, Lie Siauw Hiong lalu menunjuk
pada orang yang terluka dan terbaring diatas ranjang batu
itu. Phui Siauw Kun menganggukkan kepalanya, sedangkan


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pada wajahnya tertampak kesedihan yang nyata sekali.
Dengan perasaan heran Lie Siauw Hiong lalu berkata:
"Siapakah dia itu?" Karena dengan sesungguhnya dia tak
mengenalinya. Phui Siauw Kun seakan-akan menyesalkan Lie Siauw
Hiong dan lalu menjawab dengan singkat dan tandas: "Kim
Ie!" Mendengar jawaban si nona, tanpa terasa lagi Siauw
Hiong mencekal kedua pundak sinona sambil bertanya
dengan perasaan ragu-ragu: "Kim Ie" Benarkah dia itu 'Tian
Mo' Kim Ie?"
Dengan tidak menunggu lagi sehingga sinona mengiakan
dengan anggukan kepalanya, ia telah membenarkan
pertanyaannya sendiri dan memaksakannya untuk menghampiri kemuka ranjang itu.
Phui Siauw Kun mengira bahwa Lie Siau Hiong hendak
membalas dendam kesumatnya yang lampau itu, hingga
saking gugupnya dia segera berteriak: "Hiong Ko! Engkau
tidak boleh .. aku tidak membolehkan engkau untuk
melukainya!"
Sambil berkata begitu, dia segera menarik tangan kiri
pemuda kita. Kemudian dengan menggunakan tangan kanannya Lie
Siauw Hiong lalu menyingkapkan rambut yang menutupi
muka orang itu, dan setelah rambut itu tersingkap, maka
tampaklah muka yang sukar dilupakan dihadapannya ..
Orang itu ternyata bukan lain daripada Kim Ie!
Melihat bekas goresan golok yang bersilang dengan
dalam sekali dihidung orang itu, Siauw Hiong jadi teringat
bagaimana tempo hari dia telah jatuh bersama-sama Gouw
Len gong kedalam jurang, hingga tak terasa lagi dia
menjadi bergidik mikirkan peristiwa tersebut.
Lie Siauw Hiong jadi menghela napas, kemudian
mengulurkan tangannya. meraba bidung Kim Ie, dengan
mana ia mendapat kenyataan, bahwa orang itu masih
bernapas, oleh karena itu, sambil menggoyang-goyangkan
kepala dia berkata: "Masih bagus! Lukanya tidak terlampau
berat, barangkali setelah beristirahat beberapa jam lagi
lamanya, dia pasti akan dapat siuman kembali."
Kemudian Lie Siauw Hiong mengalihkan pandangannya
pada Phui Siauw Kun yang tengah memperhatikan Kim Ie,
sedangkan didalam hatinya dia merasa heran, mengapakah
kedua orang bisa terangkap menjadi jodoh satu sama lain"
Dan mengapakah mereka dapat berdiam didalam guha
yang demikian sunyi serta tempat yang liar begini"
Phui Siauw Kunpun dapat merasakan bahwa Lie Siauw
Hiong tengah memperhatikannya dengan perasaan heran,
hingga tidak terasa lagi kedua pipinya menjadi merah,
kemudian sambil tertawa kecil dia berkata: "Bukankah kau
tengah merasa heran mengapa aku dapat kawin
dengannya?"
Sambil berkata begitu, dia melirik pada Kim Ie yang
tengah berbaring diatas ranjang batu itu. Lie Siauw Hiong
mengiakan dengan menganggukkan kepalanya.
Phui Siauw Kun setelah tertawa getir, lalu mempersilahkan Siauw Hiong duduk dibangku disebelah
kanannya, setelah itu barulah dia menceritakan kisahnya
sebagai berikut : "Tahukah kau setelah tempo hari aku
menerjunkan diri kedalam laut dan kemudian .." Phui
Siauw Kun tatkala berkata sampai disitu, dia lalu
memandang pada Lie Siauw Hiong dengan diotaknya
terbayang sebuah peristiwa yang tidak mudah dilupakannya. Lie Siauw Hiong tentu saja mengetahui apa yang
dimaksudkannya, maka pada saat itu mukanya jadi merah
karena kemalu-maluan, hal mana mengingatkannya akan
peristiwa hilangnya Kim Bwee Leng ..
"Ai, Hiong Ko .." Phui Siauw Kun segera mangetahui,
bahwa hati pemuda itu tentulah merasa sangat terluka,
karena dia sendiripun tempo hari pernah juga merasakannya. Yaitu cara bagaimana pada waktu mereka
bertemu untuk pertama kalinya, kemudian dilanjutkan
dengan rasa senang dan jatuh hati kepada pemuda kita. Ia
merasa bertanggung jawab atas diri pemuda itu. Tapi ketika
berpikir lebih jauh, ia merasa agak menyesal dan bertanya
pada diri sendiri: "Bukankah dia telah menikah dengan
orang yang paling dibencinya didalam dunia ini yaitu Kim
Ie?" "Leng Cici bagaimana?" Phui Siauw Kun tidak
mengetahui, mengapa dia menyebut 'Leng Cici', tapi
dengan melihat wajah Lie Siauw Hiong dia segera
mengetahui sebagian daripada apa yang telah dirasakan
oleh pemuda kita ini.
Lie Siauw Hiong tidak menjawab pertanyaan orang, tapi
dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan berdiri terpaku
bagaikan orang-orangan penghalau burung ditengah sawah.
Dia merasa sangat berterima kasih terhadap kecintaan Phui
Siauw Kun kepada Kim Bwee Leng.
Phui Siauw Kun tidak mau menanyakan soal-soal yang
menyedihkan kepada pemuda kita, kemudian dia lanjutkan
perkataannya: "Tempo hari setelah aku terjun kedalam laut,
aku sangat benci terhadap segala apapun, akupun
membenci terhadap diriku sendiri. Oleh karena itulah maka
aku mengambil jalan pendek hendak menamatkan
riwayatku. Aku pikir, setelah aku menenggelamkan diriku
kelaut, pasti aku akan mati tenggekam. Pada waktu itu
dalam ombak yang sangat besar dan tak untuk ditahannya,
aku telah jatuh pingsan dengan hanya meneguk berapa kali
air laut saja .."
Mendengarkan kisahnya ini, pikiran Lie Sianw Hiong
kemudian melayang pada waktu yang lampau itu, sewaktu
Phui Siauw Kun menerjunkan dirinya kedalam laut,
perlahan-lahan tubuhnya lenyap tidak berbekas ..
"Entah sudah lewat berapa lama, ketika aku siuman
kembali seluruh badanku basah kuyup. Aku pikir, mungkin
juga karena dinginnya, maka aku telah tersadar dari
pingsanku." Begitulah Phui Siauw Kun melanjutkan
ceritanya. "Pada saat itu langit sudah gelap, sinar bintang tampak
berkelap-kelip diangkasa raya. Tatkala itu aku rasakan
tangan dan kakiku lemas tak berdaya, seluruh badankupun
terasa sangat lelah. Dalam kesunyian malam disekelilingku,
aku tidak memikirkan pula segala sesuatu yang akan terjadi
atas diriku. Seketika itu aku terbujur terlentang dan tak tahu, apakah
diriku berada didalam air atau didaratan. Atau mungkin
pula diatas perahu. Karena aku tidak menghiraukan pula
nasib apa yang akan menimpa atas diriku.
Sekonyong-konyong dari jarak yang terpisah agak jauh
terlihat sinar api yang gilang-gemilang, yang kemudian
disusul dengan suara seorang anak kecil yang berkata:
"Nay-nay, nona itu ada disini!"
Kemudian disusul dengan suara seorang wanita yang
berkata: "Anak yang pintar, coba kau lihat baik-baik,
janganlah kau biarkan orang baik itu mati karena
kedinginan."
Anak itu lalu melaksanakan tugas yang diperintahkan
oleh wanita itu dan dengan segera Phui Siauw Kun
merasakan ada seseorang yang berdiri disamping tubuhnya.
"Nay-nay, dia sudah siuman! Oh, kau lihatlah seluruh
tubuhnya basah kuyup."
Pada saat itu, wanita itupun sudah jalan menghampiri
sinona yang sekujur badannya telah basah itu, hingga tidak
terasa lagi dia berkata: "Ai! Siauw Hok, engkau tentunya
mengalami banyak kesukaran .. Khounio, apakah engkau
merasa baikan?" Ternyata diapun tahu bahwa sinona telah
mendusin dari pingsannya.
Phui Siauw Kun merasa terharu sekali terhadap kebaikan
wanita ini, tapi rasa putus asa yang ketika itu tengah
meliputi dirinya, telah membuat segala sesuatu berubah
menjemukan dalam pandangannya, hingga terhadap wanita
yang demikian baik hati ini dia bersikap tawar sekali.
Tatkala Phui Siauw Kun bercerita sampai disitu, Lie
Siauw Hiong sekonyong-konyong memotong pembicaraan
orang sambil bertanya: "Kau terdampar ketempat apa?"
Pada waktu Phui Siauw Kun memandang sipemuda
yang mengajukan pertanyaan yang mengandung perasaan
kuatirnya itu, hatinya merasa agak terhibur, terlebih-lebih
ketika melihat pandangan matanya yang lembut itu.
Bukankah itu masih tetap sama seperti dahulu"
Dengan perasaan terharu Phui Siauw Kun lalu
menyahut: "Pada saat itu aku baru mengetahui, bahwa
diriku telah tertolong oleh isteri nelayan, dari siapa baru aku
telah diberitahukan, bahwa diriku ini pada saat itu telah
terdampar didesa 'Ciang Lo' yang letaknya terpisah seratus
lie lebih dari Bu Han."
Sudah itu Lie Siauw Hiong lalu berkata: "Nasibmu
ternyata lebih baik daripadaku .. ai, aku .."
Airmata Phui Siauw Kun sudah mengembang pula
dikelopak matanya, sedangkan perasaan bencinya siang-
siang telah lenyap bagaikan awan tertiup angin, kemudian
dia meraba-raba tangan pemuda kita sambil memaksakan
dirinya tersenyum, dan berkata: "Hiong-ko, sudahlah
jangan memikirkan segala sesuatu yang sudah. Biarlah aku
menceritakan lebih lanjut peristiwa yang telah menimpa
atas diriku .."
Lie Siauw Hiong lalu menganggukkan kepalanya, sudah
itu, diapun dengan pelahan-pelahan mengusap-usap rambut
yang kusut serta halus dan panjang dari sinona dengan hati
yang tak terkatakan gembiranya, karena dia mengetahui
bahwa kini adiknya ini sudah mempunyai senderan, hingga
tidak perduli siapa, sedikitnya perasaan kuatirnya telah
menjadi berkurang juga.
Phui Siauw Kun lalu melanjutkan penuturannya: "Sejak
aku ditolong oleh isteri sinelayan, sinyonya tersebut karena
merasa kasihan atas diriku yang sebatang kara, apa lagi
cucu mereka telah sepakat dan menyenangiku pula, maka
aku telah diijinkan akan tinggal bersama-sama mereka.
"Begitulah setelah berselang setengah tahun lamanya,
pada waktu semua pengharapanku akan dapat hidup senang
telah siang-siang terkubur untuk selama-lamanya, tiba-tiba
pada suatu hari .. Kim Ie telah muncul dengan secara yang
tidak terduga .."
Lie Siauw Hiong yang mendengar sampai disitu, tiba-
tiba saja perasaannyapun menjadi tegang, sehingga
badannyapun jadi bergemetar tanpa terasa pula.
"Ternyata rumah gubuk kecil itu .. adalah rumah isteri
nelayan tersebut." Phui Siauw Kun bercerita terus:
"Sekonyong-konyong saja muncul gelombang hesar."
"Hari itu sebenarnya aku tengah menemani isteri nelayan
itu bekerja .." Wajah Phui Siauw Kun jadi berubah suram
karena pikirannya terpengaruh oleh kejadian yang lampau
itu .. "Tok!" Terdengar suara ketukan pinto, kemudian disusul
dengan suara seorang laki-laki yang berkata-kata: "Buka
pintu! Kun Moay, keluarlah!"
Aku yang mendengar suara orang itu, wajahku menjadi
pucat lesi, sedangkan telingaku bagaikan mendengar suara
sesuatu yang agak mengejutkan: "Itulah 'Tian Mo Kim Ie'!"
Untuk melarikan diri, baginya sudah tak mungkin lagi.
Begitulah aku berpikir, tidak terasa lagi aku lalu menyekal
badi-badi, kemudian dengan perlahan-lahan aku membuka
pintu .. Ternyata orang yang berdiri dihadapanku itu, adalah
seorang pemuda yang tampaknya sangat lelah sekali, hingga
aku seakan-akan tidak mengenalinya lagi, tapi memang
benarlah bahwa dia itu 'Kim Ie' yang paling kubenci.
"Kun Moay .. Kun Moay! Kau telah menyebabkan aku
sangat menderita!" Nada suara Kim Ie demikian
menyayatkan hati, kedua tangannya yang memegang pintu
seakan-akan hendak terlepas dan badannya seperti hendak
jatuh saja. Dengan suara dingin aku berkata: "Kim Ie, lekas kau
pergi dari hadapanku! Pergilah sejauh-jauhnya, aku tidak
sudi melihat cecongormu lagi untuk selama-lamanya, lekas
pergi!" Aku sendiri tidak tahu dari mana datangnya
keberanianku itu, sehingga aku demikian bersemangatnya
telah mendampratnya. Dengan mulut ternganga Kim Ie
memandang kepadaku. Rambutnya yang sudah lama tidak
terurus menutupi mukanya yang dahulunya tampan,
sehingga belum pernah aku mendengar dia berkata dengan
suara yang begitu putus harapan: "Kun Moay, orang yang
harus mendapat hukuman darimu sebenarnya bukanlah
aku, kau tidak sepatutnya terus-terusan membenciku.
Agaknya Tuhan masih mengasihaniku sehingga aku dapat


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencarimu, cintaku yang demikian tulus dan dalamnya,
mengapakah kau balas dengan cara yang begitu
menyakitkan hati?"
Dengan perasaan terharu aku lalu menangis terisak-isak
sambil menutupi muka dengan kedua telapak tanganku,
sedangkan mulutku berulang-ulang berkata: "Aku benci ..
aku benci sekali kalian berdua (yang dimaksudkan dengan
kalian berdua olehku adalah: kau Kim Ie dan Lie Siauw
Hiong) .. ah! Kau Kim Ie! Kau kenapa?"
Pada saat itu dengan sekonyong-konyong Kim Ie telah
memegang dadanya, sedangkan wajahnya tampak pucat lesi
dan dengan mendadak saja ia jatuh roboh dihadapanku ..
(Oo-dwkz-oO) Jilid 38 Lie Siauw Hiong berkata pada dirinya sendiri: "Benar!
Itulah akibat pukulanku, untuk mencari Kun Moay dia
telah melakukan usaha yang sekeras-kerasnya dan terus
mencari-cari. Oleh karena dia tidak pernah beristirahat
dengan teratur, maka beginilah akibatnya. Maka dengan
melihat gerak-geriknya yang demikian ini, teranglah bahwa
dia sangat mencintai sekali terhadap Kun Moay."
Tapi ia membiarkan kata-kata itu terpendam didalam
hatinya, hingga kini ia merasa lebih baik mendengarkan
terus cerita Phui Siauw Kun: "Kun Moay, aku .. aku telah
menderita luka didalam tubuhku," begitulah dengan suara
yang harus dikasihani Kim Ie mengeluarkan rintihannya,
sedangkan tangan kanannya diulurkan untuk meminta
pertolongan .. Seketika hatiku menjadi lemas. Karena sekalipun Kim Ie
bertabiat kurang mengenal perikemanusiaan,
tapi terhadapku adalah dengan sejujurnya dia mencintaiku.
Oleh karena itu, buru-buru aku memayang tubuhnya dan
membaringkannya diatas ranjang.
Setelah berapa hari mendapat pengobatan dengan secara
teratur, akhirnya agak baikanlah lukanya itu.
Pada hari itu dia sudah mulai bisa duduk lagi, maka
dengan suara sungguh-sungguh dan memohon-mohon dia
berkata kepadaku: "Aku tahu kau tentunya sangat
membenciku, benci terhadap perbuatanku serta sifat-sifatku
.. tapi .. tapi untukmu aku bersedia mengubah kelakuanku
yang buruk itu, oleh karena itu, kau harus mengetahui
betapa besarnya cintaku kepadamu ..
Aku terpaksa harus berlaku pura-pura sangat dingin
terhadapnya, sekalipun sifat-sifat jahatnya sudah banyak
berkurang dan menimbulkan rasa kasihan didalam hatiku,
tapi aku tetap menggelengkan kepalaku.
"Baiklah. Akupun tidak berani terlampau memakanmu,
sekalipun tindakanku ini tidak menurut jalan pikiranku
sendiri." Begitulah akhirnya Kim Ie berkata dengan nada
suara yang biasa saja, sedangkan pada pandangan matanya
yang biasanya sangat tajam dan beringas, kini tampaknya
sangat suram, kemudian dia bertanya kepadaku: "Hanya
aku ingin sekali mengetahui, sebenarnya mengapakah
engkau membenciku" Apakah kebencianmu terhadapku itu
disebabkan oleh sibocah Lie Siauw Hiong?"
"Aku tidak mau mendengar dia menyebutkan namamu,
sekalipun dalam hati kecilku perasaan tersebut ternyata
kebalikannya."
Phui Siauw Kun berkata pada Lie Siauw Hiong: "Apa
lagi ketika teringat dalam pikiranku, cara bagaimana aku
telah menyaksikan sendiri kematian ayah dan ibunya
dengan cara yang demikian menyedihkannya itu, maka aku
lalu memakinya habis- habisan."
"Kau .. kau begitu kejam sekali! Sampaikan ayah dan
ibumu sendiri kau rela membunuhnya, maka cara
bagaimana aku masih bisa mencintaimu?"
Muka Kim Ie jadi berubah ketika mendengar bicaraku
itu, dan belum pernah aku menampak sikapnya yang
demikian putus asanya, hingga semacam perasaan telah
melonjak-lonjak mengalir didalam darahku. Ayah dan ibu
sekalipun mereka ini bukan ayah dan ibu kandungku
sendiri, malahan mereka telah memaksaku untuk menikahkan aku dengan orang yang tidak kusukai sama
sekali, tapi budi yang telah mereka lepas terhadapku selama
sepuluh tahun lamanya, tidaklah dapat kuhilangkan dengan
begitu saja! "Anak puthauw (tidak berbhakti), kau telah membunuh
ayah dan ibu kandungmu sendiri! Aku tentu sekali tidak
dapat memaafkan atas tindakanmu yang menyeleweng
terampau yauh itu!" Lalu aku berseru kepadanya: "Kau
telah mengatakan bahwa engkau mencintaiku, kau rela
mengorbankan segala demi untukku, hm, asal kau berani
menggoreskan dua kali dengan golok dimukamu itu, maka
barulah aku suka kawin denganmu!"
Demikiannlah, karena amat marahnya, tak terasa lagi
aku telah mengeluarkan kalimat seperti itu.
Muka Kim Ie yang pucat lesi, sekonyong-konyong
menunjukkan perasaan yang tercengang, "Kun Moay!"
katanya "perbuatanku yang nyeleweng itu sudah tentu
adalah dosa yang tak berampun, tapi terhadap perkataan
itu, apakah sesungguhnya telah keluar dari hatimu yang
tulus dan tak dapat diubah pula?"
Mendengar pertanyaannya itu, aku jadi tertawa gemas
dan lalu dari dalam dadaku aku keluarkan badi-badi yang
kemudian aku angsurkan kepadanya sambil berkata:
"Goreslah ! Goreslah! Aku ingin sekali menyaksikan anak
yang telah membunuh orang tuanya sendiri menggores
mukanya sendiri!"
Kim Ie setelah menyambut badi-badi tersebut, lalu
memandang sebentar kepadaku, kemudian dengan sekonyong-konyong dia membalikkan tangannya dan benar
saja dia telah mencacah mukanya sendiri dengan
menggunakan badi-badi tersebut dalam bentuk tapak jalak.
Begitu dia memanggil "Kun Moay", lantas saja darah segar
mengalir dari kuka-lukanya itu. Sedang badannya yang baru
baik dari sakit, tidak dapat manahan pukulan jiwa yang
demikian dahsyatnya, hingga dengan secara tiba-tiba
badannyapun lalu jatuh kembali keatas ranjang ..
Menghadapi perobahan diluar dugaan itu, benar-benar
aku menjadi sangat terkejut. Aku lihat muka Kim Ie
tergores luka oleh badi-badi tadi dalam bentuk tapak jalak
yang dalam sekali, hingga darah segar terus mengucur
keluar dari lubang luka-lukanya itu. Hal mana, telah
menyebabkan suatu perasaan berdosa menghinggapi lubuk
hatiku seketika itu juga.
Perasaan berdosa itu terbayang didalam sanubariku dan
berkata pada diri sendiri: "Oh! Phui Siauw Kun! Perbuatan
apakah yang telah kau perbuat itu?" Hal itu sungguh
mengerikan sekali pandanganku, hingga dengan tidak
memperdulikan lagi kepada Kim Ie, aku telah berlari keluar
dari dalam gubuk kecil itu dengan perasaan sangat berdosa
.. "Begitulah aku lalu mulai pergi mengembara .." Setelah
sinona berkata begitu, siang-siang air matanya telah mulai
mengalir pula, sedangkan dadanya tampak turun naik
dengan cepat sekali, seakan-akan seorang bocah yang telah
lama kehilangan kasih sayang dan tiba-tiba bersua kembali
dengan orang tuanya, yang lantas mencurahkan isi hatinya
dengan kasih sayang kepada satu dengan yang lainnya.
Sementara Lie Siauw Hiong yang melihat sinona
bersedih hati. lalu menepuk-nepuk pundak Siauw Kun
sambil menghiburnya dengan berkata: "Tenang! ceritalah
perlahan-lahan saja." Karena sejak dia mengetahui bahwa
Phui Siauw Kun sudah menjadi milik Kim Ie, maka
sekarang terhadapnya tentu saja hanya tertinggal perasaan
persahabatan saja.
Dengan perasaan terharu nona itu lalu melanjutkan
ceritanya: "Kemudian aku mengembara dikalangan Kang-
ouw, dimana aku mendengar bahwa Chit-biauw-sin-kun
akan menghadiri pertemuan dipuncak gunung Thay San.
Aku siang-siang memang menyangsikan, bahwa 'Chit-
biauw-sin-kun' itu pastilah kau adanya. Oleh karena itu,
tanpa tujuan yang tertentu aku lalu pergi ke Shoa-tang .."
"Akhirnya sesampainya aku dikaki gunung Thay San,
ternyata pertemuan tersebut sudah bubaran, tapi disitu
dengan secara sekonyong-konyong aku telah menjumpai
Kim Ie. Kali ini deugan luka-luka parah dia merayap
diantara batu-batu gunung, sedangkan pada bekas tanda
luka dimukanya tampak sangat menkayatkan hati sekali .."
"Diapun dapat melihat aku, maka dengan tekun dia
merayap terus, sedangkan mulutnya terus mengoceh: "Kun
Moay, ampunilah aku! Kun Moay, janganlah tinggalkan
aku lagi!"
"Pada saat itu hatiku yang kaku telah hancur luluh
seluruhnya. Oleh karena kecintaannya yang sungguh-
sungguh terhadap diriku, akhirnya aku telah menyambut
jua cintanya yang murni itu. Begitulah aku lalu
membawanya keguha ini, dimana kami berdua tinggil
bersama-sama sebagai suami isteri dan hidup kami disini
adalah memang sengaja hendak menjauhi khalayak ramai
.." Dengan begitu, barulah Lie Siauw Hiong mengetahui
dasar atau sebab musabab terangkapnya jodoh kedua orang
ini, hingga didalam hati dia merasa senang sekali atas
terangkapnya kedua orang ini sebagai suami-isteri.
Kemudian dia bertanya: "Tapi cara bagaimana engkau
sampai dapat dikejar-kejar oleh 'Hang Hoo Sam Hut'?"
Selain dari itu, Siauw Hiongpun merasa heran, cara
bagaimana Kim Ie telah kena dilukai oleh mereka"
Phui Siauw Kun dengan muka merah lalu berkata: "Jika
bukannya dia, siapakah lagi?"
Sambil berkata begitu, ia menunjuk pada Kim Ie,
kemudian dia bercerita terus: "Dia mengatakan bahwa
tinggal dalam guha begitu lama, pikirannya menjadi sangat
pepat sekali. Oleh sebab itu, dia lalu mengajakku untuk
keluar jalan-jalan melapangkan dada. Tapi siapa tahu
akhirnya kita telah berpapasan dengan setan pejajaran
bangsa asing itu, antara mana murid merekalah yang paling
menjemukan sekali .."
Lie Siauw Hiong manggut-manggutkan kepalanya
sambil berkata: "Tidak salah! Murid ketiga pendeta biadab
itu bernama Kinlungo. Dia terhadapmu ada persoalan
apa?" Phui Siauw Kun saking gemasnya sehingga dia gigit
giginya kencang-kencang sampai mengeluarkan suara
keretekan, lalu dia menjawab: "Makhluk itu bukanlah orang
baik-baik. Jika dia sampai terjatuh kedalam tanganku, pasti
sekali akan kucingcangnya bagaikan bakso!"
Mendengar jawaban sinona, Lie Siauw Hiong sudah
dapat menerka maksud orang asing itu, maka sambil
tertawa dia berkata: "Siapa suruh kau berparas secantik
ini?" Pada saat itu, diantara mereka telah terjadilah pula
perasaan mesra sebagai sahahat seperti pada waktu-waktu
yang lampau itu, tapi sudah tentu perasaan mesra itu kini
mempunyai batas-batas yang tertentu, hingga Phui Siauw
Kun yang dipukul sindir oleh pemuda kita jadi
mengeluarkan suara: "Hm, bocah tersebut seperti juga
kodok buduk yang kepingin makan daging angsa langit!"
Justeru itu Kim Ie yang sedang tertidur tiba-tiba
terdengar berseru dua kali: "Kun Moay! Kun Moay! Air!
Air!" Lie Siauw Hiong yang tengah bercakap-cakap dengan
sinona menjadi terkejut dan lalu tertawa sambil berkata:
"Lihatlah, angsa jantanmu dari langit telah siuman
kembalil" Phui Siauw Kun dengan perasaan malu lalu tertawa,
sedangkan dalam tertawaannya itu mengandung perasaan
yang gemhira dan nikmat, kemudian dengan tergesa-gesa
dia mendapatkan suaminya. "Kau lihatlah!" katanya. "Dia
telah dilukainya oleh pendeta yang bertubuh paling tinggi
besar itu!"
Lie Siauw Hiong lalu menyahut: "Oh, jadi ia telah
dilukai Progota" Hm, ternyata Heng Hoo Sam Hut itu
adalah manusia-manusia yang berwatak sangat rendah
sekali!" Kim Ie terus-terusan berteriak-teriak meminta air, dan
setelah dia meminum air, maka diapun terus tidur kembali
dengan nyenyaknya ..
"Oh!"
Sekonyong-konyong Lie Siauw Hiong berkata kepada
Phui Siauw Kun: "Kun Moay, mendengarkah kau suara
tindakan kaki manusia yang sedang mendatangi itu"
Rupanya Heng Hoo Sam Hut tengah mendatangi kearah
sini!" Kepandaian maupun tenaga-dalam Phui Siauw Kun
terpaut jauh sekali dengan Lie Siauw Hiong, maka setelah
dia memasang kupingnya sejenak, ternyata dia tetap tidak
mendengar suara sesuatu, tapi dia sangat cerdik dan lekas
mengerti keadaan, maka dia lalu berkata: "Mungkin juga
kabut sudah pada buyar, kalau tidak, sekalipun berdiri
diatas batu karang yang terpisah dengan daratan kurang
lebih delapan tombak jauhnya itu, cara bagaimana mereka
dapat melompat kemari?"
Pada saat itu Lie Siauw Hiong masuk kesitu dengan
berlari-lari mengikuti dibelakang Phui Siauw Kun, pada
waktu itu adalah justeru turun kabut yang amat tebalnya,
hingga keadaan disekelilingnya sukar sekali dikenali orang,


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

oleh karena itu, dia segera mengajukan pertanyaan kepada
sinona: "Bagaimanakah keadaan mulut guha ini" Apakah
itu mudah diketemukan orang?"
Phui Siauw Kun lalu menggelengkan kepalanya dan
berkara: "Kami dengan mengorbankan entah berapa banyak
waktu dan tenaga, barulah berhasil dapat menemui guha
ini. Tapi kini kami telah tinggal disini sudah lama juga,
maka sudah tentu jalan-jalan yang kami lalui telah
meninggalkan bekas-bekas yang sukar dihilangkan begitu
saja. Apalagi Heng Hoo Sam Hut adalah tergolong pada
jago-jago yang sudah kawakan, hingga mungkin sekali
mereka akan segera menemui jejak kami."
Siauw Kun mengucapkan kata-kata itu dengan wajah
yang menunjukkan kekuatiran yang bukan kecil adanya.
Lie Siauw Hiong lalu berpikir sejenak. Ia tahu bahwa
Kim Ie yang terluka parah tentu tidak mudah disingkirkan
dari kejaran ketiga pendeta asing yang keji itu, maka
akhirnya ia hanya mendapat suatu akal yang dianggapnya
cukup sempurna dan lalu diterangkannya kepada sinona:
"Kun Moay! ikut aku. Kita harus bersiap-siap
menghadapi kedatangan mereka, supaya lain kali bangsa
asing yang keji itu mengetahui, bahwa kita bangsa
Tionghoa dari daerah Tionggoan tidak mudah diperhinakan
orang .." Hampir dalam saat itu juga, benar saja (seperti apa yang
telah dikatakan oleh Phui Siauw Kun tadi), kabut didepan
guha kini sudah buyar sama sekali, hingga dihadapan
mereka terbentang puncak-puncak gunung yang menjangkau langit layaknya. Pegunungan ini berjejer sangat
rapat satu sama lain, hingga Lie Siauw Hiong bersama Phui
Siauw Kun lalu dengan sibuk mengatur segala sesuatunya
didalam guha ini untuk menghadapi lawan-lawan yang
sedang mendatangi itu.
Tidak antara lama, nun jauh disana diatas sebuah
puncak gunung sekonyong-konyong berkelebat bayangan
empat manusia, yang berlari-lari dengan cepat kearah
tempat persembunyian mereka.
Keempat orang itu memang benarlah Heng Hoo Sam
Hut dan Kinlungo adanya.
Kinposuf dan kawan-kawan ternyata telah tertipu oleh
Phui Siauw Kun, yang telah membuat perahu mereka
tertumbuk dengan batu karang, sehinga akhirnya perahu itu
tenggelam, maka terpaksa keempat orang ini duduk diatas
batu karang tempat dimana perahu mereka tenggelam tadi.
Batu karang itu terpisah dengan daratan hanya kurang lebih
delapan tombak saja jauhnya, tapi karena pada slat itu
kabut turun amat tebalnya, maka tidak heran jika mereka
tidak berdaya untuk melakukan pengajaran terus seketika
itu juga. Terus mereka menanti sehingga kabut sudah buyar,
barulah keempat orang itu dapat melihat daratan, yang kini
tampak jelas dihadapan mereka. Diantara mereka berempat
orang, Progotalah yang merasa paling mendongkol dan
geram, sehingga dia yang berlari dimuka, disusul dengan
kawan-kawan dibelakangnya. Mereka tampaknya gemas
sekali kepada Lie Siauw Hiong.
Sudah tentu saja mereka segera dapat menemui jejak
kaki yang ditinggalkan oleh Kim Ie dan Phui Siauw Kun,
oleh karena itu, merekapun dengan cepat menyusul kedua
orang itu, sehingga kini mereka terpisah dengan guha
dimana Kim Ie dan Siauw Kun bersembunyi sudah tidak
berapa jauh lagi.
"Suhu!" Sambil berlari Kinlungo memohon kepada
gurunya Kinposuf sambil berkata: "Sebentar andaikata suhu
dapat menangkap wanita tersebut, maka sudilah kiranya
suhu mengampuni jiwanya."
Kinposuf dengan sikap dingin hanya menganggukkan
kepalanya saja, suatu tanda bahwa dia telah mengabulkan
permintaan muridnya itu.
Keempat orang itu kian lama kian mendekat kemulut
guha tersebut, hingga sekonyong-konyong Kinposuf yang
dapat mencari tempat persembunyian Kim Ie dan sinona
lalu menunjuk pada mulut guha sambil bercakap-cakap
dalam bahasanya sendiri yang berarti: "Mereka tentu berada
didalam guha itu!"
Progota dan Pantenpur sudah hendak menerobos masuk
kedalam, ketika dengan sekonyong-konyong dari dalam
guha tersebut terdengar suara orang yang membentak:
"Tamu-tamu bangsa asing yang biadab sudah tiba, aku Lie
Siauw Hiong sudah lama menantikan kalian!"
Diantara keempat orang itu, hanya Kinlungo dan
Kinposuf yang mengerti hahasa Han (Tionghoa). Sedang
Progota yang mengenali suara Lie Siauw Hiong, dia sudah
mengangkat tangannya hendak melancarkan pukulannya.
Kinposuf sekalipun datang dari Thian-tiok, tapi dia
cukup paham terhadap peraturan-peraturan dikalangan
Kang-ouw, maka dengan mengandalkan nama 'Heng Hoo
Sam Hut', ia hendak menggencet seorang yang berkedudukan rendah, tapi bila kabar ini sampai tersiar
dalam kalangan Kang-ouw, sudah tentu saja tidak baik
sekali bagi mereka, kecuali bila mereka dapat membinasakan ketiga-tiga lawannya itu.
Oleh karena itu, buru-buru dia mencegah atas tindakan
yang semberono dari Progota, kemudian dengan menghadap kedalam guha dia berteriak: "Bocah yang baik,
bila kau benar-benar seorang jantan sejati, lekaslah engkau
segera keluar!"
Dengan tertawa terbahak-bahak Lie Siauw Hiong lalu
menyahut: "Bangsa liar yang tak tahu mampus, ternyata
kedatangan kalian ke Tionggoan hanya untuk belajar
memaki orang saja, ya!"
Kinposuf yang mendengar perkataan pemuda kita yang
bermaksud tidak memandang sebelah mata terhadapnya,
dia menjadi geram sekali, tapi diantara mereka adalah
kedudukan pemuda kita yang lebih menguntungkan,
berhubung dia berada ditempat terang dan terbuka,
sedangkan pihak lawannya berada ditempat yang gelap dan
sembunyi didalam guha. Kecuali mereka keluar dan
bertempur dengan secara mati-matian, barulah mereka
dapat bergerak dengan leluasa. Jika mereka berempat
mencoba menerobos masuk dengan seenaknya saja, mereka
mungkin mengalami kerugian sehingga nama 'Heng Hoo
Sam Hut' ambruk oleh karenanya.
Kinlungo dengan mengandalkan nama suhunya yang
berpengaruh, ditambah dengan bahasa Han yang dimilikinya sangat lancar, lalu dia berteriak: "Orang she
Lie, lekas keluar! Marilah kita bertempur lagi sehingga tiga
ratus jurus lamanya!"
Lie Siauw Hiang yang bersembunyi didalam guha
dengan suara dingin hanya menjawab: "Jika engkau
mengingini aku keluar, itulah tidak terlampau sukar,
asalkan omongan kalian boleh dipercaya kebenarannya!"
Kinposuf tidak mengetahui jelas maksud perkataan Lie
Siauw Hiong itu, tapi dengan sungguh-sungguh dia
menjawab: "Kami yang memperoleh julukan 'Heng Hoo
Sam Hut', selalu tak suka main gelap-gelapan atau berlaku
secara sembunyi! Hai, bocah, kau mau main kayu apakah
gerangan?"
Lie Siauw Hiong tidak menyahuti perkataan Kinposuf,
tapi hanya meneruskan pertanyaannya: "Kinlungo,
bagaimanakah denganmu?"
Kinlungo tercengang sekali ditanya demikian, kemudian
diapun menjawablah: "Akupun sudah tentu saja demikian
pula halnya!"
Dengan itu Lie Siauw Hiong telah mengeluarkan suara
jengekan dari lobang hidungnya: "Bagus! Omongan kalian
benar-benar sebagai seorang kesatria sejati. Apabila kalian
berbuat sesuatu yang melanggar perjanjian, maka kalian
harus menurut sepatah perkataanku."
Kinlungo berpendapat, bahwa dalam perkataan pemuda
kita ini tentulah mengandung sesuatu tipu-muslihat, maka
ketika baru saja dia hendak memberitahukan hal itu kepada
gurunya, tampak Kinposuf telah mendahului menjawab:
"Hm! Bila benar ada kejadian begitu, jangankan satu patah,
sekalipun sepuluh patah pasti kami akan menurutinya." Dia
mengira bahwa kata 'sepuluh patah' yang diucapkannya itu
adalah suatu perkataan yang bagus sekali fungsinya.
Lie Siauw Hiong yang melihat ketiga orang ini sudah
masuk perangkapnya, tidak terasa lagi ia menjadi melonjak-
lonjak dengan gembiranya berkata: "Sungguh tidak
memalukan nama 'Heng Hoo Sam Hut' yang demikian
terkenalnya itu. Kinlungo, cobalah kau katakan ketika
bertempur di Bu Wie Thia, apakah yang kau telah berjanji
terhadapku" Ha ha ha."
Kimlungo tampak tercengang dan dengan suara tidak
lancar lalu menjawab: "Aku .. aku .. aku!" Sekonyong-
konyong dia ingat, bahwa jika dia kalah dalam pertempuran
itu, maka dia tak akan datang lagi kedaerah Tiong-goan!
Dengan ini, Lie Siauw Hiong mengetahui, bahwa tamu-
tamu dari Thian-tiok ini tidak boleh dipercaya sepenuhnya.
Oleh karena itu, terpaksa ia menggunakan cara tersebut
untuk menghadapi mereka. Kemudian diapun berkatalah:
"Sekarang kalian boleh dengarkanlah perkataanku. Sekalipun dalam ilmu silat kami tidak menang terlampau
gemilang daripada kalian, tapi barisan 'Kwie-goan-kouw-tin'
kami pasti sekali kalian telah mengetahuinya."
Dalam kalimat yang diucapkan oleh Lie Siauw Hiong itu
terang-terangan
menyindir terhadap mereka yang mengandung arti.
"Aku orang she Lie," demikianlah ia melanjutkan
dengan menyindir, "belum mempunyai kepandaian yang
sempurna, tapi guruku telah mewariskan sebuah barisan
terhadapku, untuk kau coba main-main denganrya.
Sekarang aku berdiam dalam guha ini. Kalian boleh pilih
seorang dari kalian berempat. Asalkan kalian tidak
sembarangan merusak barang-barang yang telah kuatur ini,
kalian boleh coba mencari tempat persembunyian kami."
Kinposuf yang mendengar begitu, dalam hatinya
menjadi ragu-ragu. Dia tak dapat mengambil keputusan
dengan cepat, karena sesungguhnya juga dia telah
berkenalan dengan barisan 'Kwie-goan-kouw-tin' tersebut.
Maka barisan yang kini dibuat oleh bocah she Lie itu,
tentunya tidak akan lebih hebat daripada barisan yang
tempo hari mereka telah jumpai. Tapi sekarang ada suatu
syarat, yaitu mereka tidak boleh merusak segala sesuatu
yang terdapat didalam barisan tersebut. Maka dengan
mengandal kepada nama mereka yang sangat terkenal itu,
sudah tentu saja mereka tidak mesti hilang muka terhadap
sipemuda ini. Jangankan Kinposuf yang tidak dapat mengambil
keputusan dengan cepat, sedangkan Kinlungo yang melihat
Lie Siauw Hiong membuka mulut besar, dia sudah menjadi
sangat geram sekali. Maka tanpa menunggu pula jawaban
gurunya, Kinlungo sudah mendahului berteriak: "Suhu,
ijinkanlah aku menangkap keluar bocah tersebut! Masakah
dia mempunyai kepandaian yang hebat untuk mengurungku disitu?"
Sambil berkata begitu, dia sudah ingin menerobos masuk
saja kedalam guha.
Kinposuf dan kawan-kawan jika dibandingkan dengan
Lie Siauw Hiong, mereka terhitung satu tingkat lebih tinggi
dalam derajat mereka. Oleh karena itu, mereka tentu saja
tidak enak untuk turun tangan sendiri, hingga terpaksa
mereka mengijinkan Kinlungo untuk coba-coba memasuki
Kemelut Blambangan 6 Jodoh Rajawali Karya Kho Ping Hoo Kuda Putih 3
^