Pencarian

Algojo Gunung Sutra 3

Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra Bagian 3


Setelah berkata demikian, mulutnya segera bersiul nyaring dan panjang.
Suaranya bergema ke seluruh penjuru karena didorong tenaga dalam tinggi.
Seketika tempat itu sudah diramaikan belasan sosok tubuh yang berloncatan dari
balik bukit. Melihat dari gerakan mereka, dapat dipastikan bahwa semuanya
memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Begitu tiba, belasan sosok tubuh itu
langsung menerjang Santiaji dan Ranjita dengan senjata terhunus!
Keduanya segera berloncatan
menghindari sambaran senjata-senjata lawan yang berdesingan mengancam tubuh.
Sambil berusaha mengelak, Santiaji dan Ranjita melepaskan pukulan-pukulan
balasan yang ampuh. Sehingga dalam waktu singkat, kedua belah pihak sudah
terlibat pertempuran yang seru dan mendebarkan. Santiaji dan Ranjita menjadi
terkejut. Ternyata mereka mendapat kenyataan bahwa kepandaian lawan rata-rata
cukup tinggi. Siiinnng! Siiinnng!
"Aaahhh...!" keduanya melenguh tertahan ketika dua buah senjata lawan hampir
melukai tubuh mereka.
Dengan wajah agak pucat, keduanya segera berloncatan mundur sambil mencabut
senjata masing-masing. Di tangan Santiaji sudah tergenggam dua buah pedang
pendek. Sedangkan Ranjita sudah pula mencabut sebuah pedang yang bersinar
kuning. Dengan senjata di tangan, kini mereka kembali menghadapi belasan orang
lawannya itu. Melihat keadaan itu, Algojo Gunung Sutra yang semenjak tadi hanya berdiam
diri tiba-tiba melayang ke arena pertempuran. Diputar kedua tangannya hingga
menimbulkan angin yang
menderu-deru. Langsung dihantamkan telapak tangannya ke arah Santiaji dan
Ranjita yang tengah bertempur saling bahu membahu itu.
Deeesss! Plaaakkk! "Aaarrrggghh...!"
Santiaji dan Ranjita yang tengah kerepotan meng hadapi belasan orang lawan, tak
sempat lagi untuk menghindari hantaman telapak tangan Ki Ageng Sampang yang
mengandung tenaga dalam tinggi itu, Keduanya terpelanting akibat hantaman yang
keras pada bahu dan punggung.
"Huaaak...!" .
Santiaji yang terhantam
punggungnya, memuntahkan darah kental berwarna kehitaman. Punggungnya
dirasakan bagai terbakar akibat hawa panas yang terkandung dalam pukulan Algojo
Gunung Sutra. Santiaji berdiri limbung dengan pandangan mata
berkunang-kunang.
"Ranjita, lari! Selamatkan dirimu!
Biar aku yang menghadang mereka!" teriak Santiaji dengan napas tersengal-sengal.
Santiaji benar-benar menyadari bahwa pihak musuh terlalu kuat. Setelah berkata
demikian, dia langsung melompat membendung serangan lawan-lawannya yang sudah
melancarkan serangan kembali.
"Tidak, Santiaji! Aku tidak akan meninggalkanmu. Biarlah kita mati bersama-
sama!" teriak Ranjita.
Ternyata Rajita juga tidak tega
membiarkan kawannya menghadapi musuh sendirian. Walaupun sebelah tangannya
lumpuh akibat hantaman telapak tangan Algojo Gunung Sutra itu, dia ikut pula
melompat membantu Santiaji yang tengah kerepotan menghadapi belasan orang
lawannya. "Ranjita, pergi! Bodoh kau! Kalau kita berdua mati, lalu siapa... aduh!"
teriak Santiaji.
Laki-laki tingkat empat di
Perguruan Gunung Salaka itu merasa kesakitan akibat sabetan pedang lawan yang
mengenai pangkal lengan kirinya.
Dengan penuh kegeraman segera dibabatkan pedang pendeknya membelah dada lawan
itu. Kontan orang itu menjerit menyayat.
Tubuhnya langsung ambruk dan tewas dengan dada terbelah.
"Aaahhhkkk...!" kembali Santiaji berteriak kesakitan karena pundaknya tertusuk
pedang lawan yang tainnya.
"Lari, Ranjita! Lari! Kau harus melaporkan hal ini kepada Guru! Aku..., aku
sudah tidak kuat lagi. Cepat...!
Aduh...!" Lagi-lagi senjata lawan menyabet lambungnya. Santiaji kembali mengamuk membabi
buta, tanpa mempedulikan keselamatannya lagi.
Ranjita berdiri dengan wajah
bingung. Pelahan-lahan butir-butiran air bening mengalir membasahi pipinya.
Hatinya benar-benar trenyuh menyaksikan pengorbanan yang dilakukan saudara
seperguruannya itu. la masih berdiri bimbang tanpa dapat mengambil keputusan.
Saat itu Santiaji melompat ke arahnya sambil melepaskan sebuah tendangan ke arah
Ranjita. Bukkk! "Pergi, manusia bodoh! Jangan korbankan nyawamu sia-sia!" bentak Santiaji, tak
sabar. Memang keadaannya sudah menyedihkan sekali. Sekujur tubuhnya telah dibanjiri
darah yang mengalir dari luka-luka akibat sabetan golok lawan. Meskipun
demikian dia masih dapat melakukan perlawanan hebat
"Jangan biarkan orang itu lolos!
Habisi mereka!" teriak Algojo Gunung Sutra ketika melihat Ranjita berlari
meninggalkan arena pertempuran sambil memegangi tangan kirinya yang lumpuh itu.
Beberapa orang segera berlompatan mengejar Ranjita. Namun, Santiaji tidak
membiarkan hal itu. Segera tubuhnya melompat menghadang lawan dengan senjata di
tangan. "Monyet-monyet busuk! Rasakan seranganku ini! Heaaattt...!" Santiaji segera
menggerakkan kedua senjatanya menerjang orang-orang yang hendak mengejar
Ranjita. Sayang gerakannya sudah sangat lemah. Sehingga, lawannya mudah sekali
dapat menghindari
serangannya dan langsung membalas ganas.
Crasss! Brettt! Craaasss! "Aaarrrggghhh...!"
Santiaji meraung tinggi, ketika
beberapa tusukan dan bacokan senjata lawan menembus tubuhnya. Dia langsung
ambruk dan tewas seketika.
"Santiaji...!" Ranjita berteriak parau, ketika mendengar suara jeritan kematian
saudara seperguruannya itu.
Dari kejauhan, sempat disaksikan bagaimana tubuh Santiaji tertembus beberapa
buah senjata lawan. Ranjita hanya memandang dengan tubuh menggigil menahan
luapan amarah yang memenuhi rongga dada.
"Manusia keparat! Inilah
pembalasanku! Hiaaa...!" Tanpa mempedulikan
keselamatannya lagi,
Ranjita segera berlari dan menerjang lawan-lawannya. Rupanya ia telah lupa
dengan pesan terakhir Santiaji. Ini terjadi akibat kemarahan yang
meledak-ledak dalam dada.
Namun sebelum Ranjita dan
musuh-musuhnya berlaga, tiba-tiba melesat cepat sebuah bayangan yang langsung
mendarat di tengah-tengah mereka. Dan bayangan itu segera
mendorong telapak tangannya ke arah belasan orang yang meluncur ke arah Ranjita.
Wuuusss! Hembusan angin yang dingin luar biasa, menyambut kedatangan belasan orang itu.
Tubuh belasan orang itu kontan
berpentalan ke kiri dan kanan akibat terlanggar hembusan angin dingin.
Belasan orang itu jatuh terduduk sambil menggigil kedinginan.
"Pendekar Naga Putih...!" seru orang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra,
terkejut. "Pendekar Naga Putih...!" gumam Ranjita pelahan, seolah-olah berkata pada
dirinya sendiri. Tiba-tiba
terlintas di benaknya secercah harapan yang membuatnya menarik napas lega.
Memang bepar apa yang diucapkan
Algojo Gunung Sutra itu. Di
tengah-tengah arena pertempuran, berdiri seorang pemuda berbaju putih.
Selapis kabut berwarna keperakan menyelimuti sekujur tubuhnya. Orang itu adalah
Pendekar Naga Putih atau..., murid tunggal Malaikat Petir atau Tirta Yasa!
"Hm.... Menyingkiriah kau Pendekar Naga Putih. Aku tidak mempunyai urusan
denganmu!" bentak Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang sambil memasang
wajah bengis. "Tapi aku mempunyai urusan
denganmu, Orang Tua!" seru Pendekar Naga Putih bersikap tenang. Sementara sinar
matanya menyorot tajam, bagalkan mata naga yang sedang marah.
Algojo Gunung Sutra tergetar
hatinya ketika beradu pandang dengan sinar mata Panji yang tajam itu.
Cepat-cepat dikerahkan tenaga untuk menekan debaran dalam dadanya.
"Huh! Jangan kira aku akan gentar mendengar nama besarmu, Pendekar Naga Putih.
Dan sekarang, sambutlah
seranganku! Yeaaattt...!" tegas Algojo Gunung Sutra.
Setelah berkata demikian, tubuh
jangkung itu melayang dengan kecepatan tinggi, disertai teriakan menggeledek.
Kedua tangan berputar dan susul-menyusul dengan serangan yang berbahaya.
"Menyingkirlah, Paman! Biar aku yang menghadapinya," ujar Panji kepada Ranjita
yang berdiri terpaku di
belakangnya. Setelah berkata demikian, Panji
mengegoskan tubuhnya sambil memasang kuda-kuda rendah untuk menghindari serangan
lawan. Begitu serangan lawan lolos, Panji segera membalasnya dengan serangan
yang tidak kalah berbahayanya.
Dalam waktu singkat, keduanya sudah bertempur sengit.
Panji yang tidak pernah lalai
melatih ilmunya dalam setiap kesempatan, teriihat bergerak semakin gesit dan
matang. Kedua tangannya yang berbentuk cakar naga itu, menyambar-nyambar di
sekitar tubuh lawan. Bahkan kecepatannya sukar diikuti mata. Hingga dalam
beberapa jurus saja, Algojo Gunung Sutra tampak terdesak oleh sambaran-sambaran
tangan yang berbentuk cakar itu.
Breeettt! "Uuuhhh...!" lenguh Algojo Gunung Sutra.
Dan memang tahu-tahu pangkal
lengannya terkena sambaran tangan lawan yang amat kuat. Tubuh jangkung itu
sampai melintir seperti gangsing. Cepat-cepat Algojo Gunung Sutra bergulingan
menjauhi lawannya. Orang tua itu bangkit berdiri sambil memandang luka di
pangkal lengan.
Untunglah sambaran tangan lawan tidak terlalu telak mengenainya. Kalau saja
telak, bukan hanya kulit dan bajunya yang terkelupas. Bahkan daging pangkal
lengannya bisa hancur akibat cakaran yang berbahaya itu. Cepat orang tua itu
mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa dingin yang menyelusup dari lukanya.
"Gila! Anak Muda ini gerakannya seperti iblis saja!" ucap Algojo Gunung Sutra
dalam hati. Dia memang tidak tahu, bagaimana caranya pendekar itu bisa
melukainya. "Anak-anak, serbu...!" teriak laki-laki tua itu tanpa malu-malu lagi.
Tanpa diperintah dua kali, belasan orang anak buahnya yang telah terbebas dari
hawa dingin itu segera berlompatan sambil membabatkan pedangnya ke arah Panji.
Pendekar Naga Putih memang sudah memperhitungkan hal itu.
Dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh Panji berkelebatan di antara belasan
sinar pedang yang berdesingan mengincar tubuhnya. Dan setiap kali tangannya
bergerak, selalu disertai terlemparnya tubuh lawan yang kemudian tewas dengan
tubuh membiru. Hal ini akibat hawa dingin yang terpancar dari kedua belah tangan
Pendekar Naga Putih.
Dalam beberapa jurus saja, serangan belasan orang itu menjadi kacau dan tidak
teratur lagi. Rasa gentar mulai
menyelimuti hati mereka, setelah melihat kelincahan pemuda yang menjadi lawannya
itu. Tanpa disadari, mereka mulai merenggangkan kepungan. Tentu saja hal
ini membuat gerakan Panji semakin leluasa untuk melancarkan
serangan-serangan balasan.
Desss! Blaggg! "Aaahk!"
Kembali dua orang lawannya
terjungkal, sambil memperdengarkan jerit kematian. Dua orang yang terkena
hantaman sisi telapak tangan Panji itu tergeletak tewas, dan tubuhnya membiru.
Menyaksikan hal ini, kawan-kawannya segera berloncatan mundur disertai wajah
yang memucat. "Ombak besar, lari!" teriak Algojo Gunung Sutra yang merasa bahwa anak buahnya
tidak akan mampu menghadapi lawannya.
Setelah berkata demikian orang tua bertubuh jangkung itu segera melompat ke arah
semak-semak, diikuti anak buahnya.
Dalam sekejap saja, belasan orang itu sudah lenyap di balik rimbunnya
pepohonan. "Mengapa tidak dikejar, Kisanak?"
tanya Ranjita, keheranan.
"Biarlah, Paman! Sekarang sebaiknya kita pergi. Di perjalanan kita bisa
berbincang-bincang tentang pengeroyokan
mereka terhadap Paman," tegas Pendekar Naga Putih kalem.
* * * 7 Perguruan Gunung Salaka kembali
dilanda kegemparan. Suasana di sekitar perguruan terlihat sunyi, karena para
murid dan tokoh-tokoh perguruan tengah berkumpul di ruang utama perguruan itu.
Mereka duduk bersimpuh mengelilingi sebuah peti mati. Wajah mereka semua
menggambarkan perasaan sedih dan marah.
Memang, sejak Ki Tunggul Jagad
mengundurkan diri, malapetaka itu terus saja mengancam.
Kejadian yang melanda Perguruan
Gunung Salaka secara berturut-turut, telah membuat perguruan itu seolah-olah
larut dalam mimpi yang buruk dan menakutkan. Mereka yang selalu hidup dalam
ketentraman tiba-tiba saja dikejutkan kejadian-kejadian yang membuat hati
penasaran dan marah.
Baru saja, perguruan itu kedatangan beberapa orang penduduk Desa Cikunir yang
dipimpin langsung kepala desanya
sendiri. Mereka mengantarkan sebuah bungkusan yang tidak diketahui isinya.
Menurut mereka, bungkusan itu diterima dari seorang laki-laki tua yang mengaku
berjuluk Algojo Gunung Sutra. Dia telah berpesan agar menyampaikan bungkusan itu
pada Perguruan Gunung Salaka.
"Ketika kami tanyakan mengapa tidak mengantarkannya sendiri, ia mengatakan bahwa
masih mempunyai tugas yang amat mendadak. Begitulah, yang dikatakan orang
bertubuh jangkung itu," tutur Kepala Desa Cikunir kepada beberapa orang murid
perguruan yang menyambut kedatangannya.
Setelah menyampaikari bungkusan
itu, Kepala Desa Cikunir dan beberapa orang warganya segera mohon diri.
Murid-murid Perguruan Gunung Salaka yang memang sudah mengenai mereka, tentu
saja tidak menjadi curiga. Dan dibiarkan saja kepala desa dan beberapa orang
warganya itu meninggalkan perguruan itu.
Dua orang murid perguruan bergegas menyampaikan bungkusan itu kepada guru besar
mereka. Segera diceritakannya asal-usul bungkusan itu.
"Algojo Gunung Sutra...!" gumam Ki Sukma Kelana dengan kening berkerut
setelah mendengar keterangan dua orang muridnya. Lalu diperintahkanlah dua orang
muridnya untuk melanjutkan tugasnya. Dengan disaksikan empat orang tokoh tingkat
tiga, Ki Sukma Kelana segera membuka bungkusan tadi.
"Aaah!"
Empat orang tokoh tingkat tiga itu kontan menjerit tertahan ketika
menyaksikan isi bungkusan. Tubuh mereka menggigil menahan gejolak amarah yang
memenuhi rongga dada. Wajah keempat orang itu pucat dan merah
berganti-ganti.
Sedangkan Ki Sukma Kelana sendiri hanya termangu-mangu, namun wajahnya pucat.
Wakil ketua yang diserahi tugas memegang jabatan ketua sementara selama gurunya
mengasingkan diri itu, memandang sayu. Jelas sekali gambaran kesedihan dan
penyesalan membayang di wajah tua nya.


Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh..., Adi Surya Kencana. Apa yang harus kukatakan kepada Guru nanti"
Mengapa begitu berat tanggungjawab yang harus kupikul" Ya, Tuhan..., dosa apa
kiranya yang telah hamba lakukan?" tatap orang tua itu sambil memandangi kepala
Ki Surya Kencana yang tanpa tubuh itu.
"Guru, benarkah yang melakukan perbuatan keji itu adalah Ki Ageng Sampang?"
tanya salah seorang dari keempat murid itu. Suara mereka
mengandung rasa penasaran yang tak dapat disembunyikan.
"Hhh..., entahlah! Aku sendiri masih meragukannya," desah Ki Sukma Kelana.
Helaan napasnya terdengar berat.
Keempat orang murid tingkat tiga Perguruan Gunung Salaka itu terdiam ketika
menyadari bahwa Ki Sukma Kelana tidak ingin membicarakan persoalan itu saat ini.
Menyadari hal ini, empat orang murid utama itu pun segera berpamit kepada
gurunya. Itulah kejadian yang menggemparkan seisi Perguruan Gunung Salaka. Kiriman mayat
kepala tanpa tubuh Ki Surya Kencana itu, benar-benar membuat seluruh penghuni
perguruan menjadi marah dan penasaran. Jadi, itulah mengapa pada hari ini
Perguruan Gunung Salaka teriihat sunyi tanpa kegiatan. Rupanya Perguruan Gunung
Salaka tengah berkabung. Di tengah suasana berkabung yang hening dan mencekam itu, tiba-tiba
terdengar teriakan lantang yang bergema ke seluruh penjuru bangunan besar itu.
"Ki Tunggul Jagad! Aku utusan Ki Ageng Pandira, datang berkunjung!"
Murid-murid Gunung Salaka yang
tengah dilanda kesedihan itu saling pandang satu sama lain. Entah siapa yang
memulainya, tiba-tiba saja mereka berloncatan sambil menghunus pedang.
"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar bentakan keras mengandung tenaga dalam
tinggi. Bagaikan ledakkan petir di angkasa saja layaknya.
Para murid perguruan yang berlarian serentak menghentikan langkahnya, ketika
mendengar teriakan yang terdengar marah. Puluhan orang murid dengan senjata di
tangan itu berpaling menatap gurunya. Pandangan mereka menyiratkan kekecewaan.
"Apa maksud kalian semua, heh!
Jawab!" bentak Ki Sukma Kelana dengan wajah merah padam karena amarah.
"Apakah kalian ingin main hakim sendiri" Kalian anggap apa aku, hah!"
Puluhan orang murid Gunung Salaka itu menunduk dalam-dalam. Tidak ada seorang
pun yang berani mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak disangka
bahwa guru besar mereka menjadi
sedemikian marahnya. Tanpa diperintah murid-murid Gunung Salaka itu segera
menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.
"Ampunilah kami, Guru...!" seru mereka serentak.
Tersentuh hati ki Sukma Kelana
melihat permohonan maaf murid-muridnya itu. Dia pun sebenarnya merasa maklum
akan perasaan murid-muridnya itu.
Apalagi untuk menyalahkan sikap mereka yang sedang dilanda kesedihan.
"Bangkitlah, kalian murid-muridku!
Marilah kita sambut mereka dengan kepala dingin," ajak orang tua itu lembut.
Sekarang, bukalah pintu untuk mereka!"
"Baik, Guru," jawab dua orang di antara murid-muridnya yang kemudian bangkit dan
bergegas mengerjakan perintah.
"Selamat bertemu, Kakang Sukma Kelana. Apakah sehat-sehat saja"
Bagaimana pula kabar Ki Tunggul Jagad?"
tanya orang bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu, sambil melangkah masuk
diikuti empat orang lainnya.
"Baik-baik saja! Bagaimana pula keadaan Ki Ageng Pandira?" tanya Ki Sukma
Kelana berbasa-basi, sambil berusaha menekan kemarahan dalam hatinya.
Meskipun begitu, tetap tidak
menyembunyikan nada suaranya, yang terdengar dingin dan kaku.
"Ada kabar apa sehingga kau berkunjung kemari?"
"Guru, untuk apa berbasa-basi lagi"
Bukankah sudah jelas kalau dia yang telah mengirimkan bungkusan itu!" teriak
salah seorang dari empat murid utama Gunung Salaka itu, tak sabar.
"Eh... eh! Ada apa ini" Apa maksud kalian?" tanya Ki Ageng Sampang dengan wajah
keheranan. Seolah-olah orang tua itu memang tidak mengetahui maksud perkataan
tokoh utama Perguruan Gunung Salaka itu.
"Oh, Apakah Algojo Gunung Sutra sudah kehilangan keberanian utuk mengakui,
perbuatannya?" ujar tokoh yang lain bernada mengejek.
"Nanti dulu..., nanti dulu, hei!
Kakang Sukma, ada apa ini sebenarnya" Aku sungguh tidak mengerti?" sahut Ki
Ageng Sampang dengan wajah yang mulai diliputi ketegangan.
"Hm. Benarkah kau tidak
mengetahuinya?" tanya Ki Sukma Kelana
dingin. Nada suara orang tua itu benar-benar tidak enak terdengar di telinga.
"Sungguh! Aku sama sekali tidak mengerti, Kakang! Dan kedatanganku kemari pun,
bukan tidak membawa
persoalan!" jawab Ki Ageng Sampang yang amarahnya mulai terpancing.
"Kedatanganku kemari sebenarnya ingin meminta pertanggungjawaban Ki Surya
Kencana dan beberapa murid perguruan ini. Mereka telah membantai puluhan murid
Gunung Sutra dan tiga tokoh utama secara biadab! Di sini aku sengaja bersikap
sabar dan tidak ingin bertindak sembarangan, namun ternyata sikap baikku malah
tidak kalian anggap sama sekali!"
"Huh! Kau sengaja ingin memutar balikkan kenyataan, Ki Ageng Sampang!
Belum lama ini kami telah menerima bungkusan yang kau titipkan kepada Kepala
Desa Cikunir! Kau tahu apa isi bungkusan itu?" jelas salah seorang tokoh Gunung
Salaka penuh amarah.
"Oh! Apa... apa isinya...?" yang bertanya kali ini adalah seorang tokoh Gunung
Sutra yang sejak tadi hanya diam saja.
"Hm. Baiklah kalau kalian enggan berterus terang kepada kami. Kalian tahu,
bungkusan itu adalah isi mayat kepala tanpa tubuh dari Ki Surya Kencana, yang
dituduh telah membantai murid-murid kalian itu!" jawab tokoh Gunung Salaka itu
lagi, geram. "Mustahil! Guru, mereka pasti sengaja menyembunyikan Ki Surya Kencana dan
sengaja membuat cerita yang tidak masuk akal itu!" selak salah seorang tokoh
Gunung Sutra kepada Ki Ageng Sampang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu.
"Ya! Kalau memang cerita itu benar, coba tunjukkan kepada kami!" sambung tokoh
Gunung Sutra yang lainnya, diiringi senyum mengejek.
"Bangsat! Apa kau kira kami ini orang-orang pengecut yang tidak berani
menghadapi kalian"! Huh! Manusia sombong, rasakanlah pukulanku!" teriak salah
seorang tokoh Gunung Salaka yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Begitu ucapannya selesai, tokoh itu segera melompat menerjang salah seorang
tokoh Gunung Sutra yang menjadi lawan bicaranya itu. Dan tanpa dapat dicegah
lagi, keduanya segera terlibat dalam sebuah pertempuran sengit.
Kedua orang tokoh dari dua perguruan berbeda itu saling serang dengan hebatnya.
Karena satu sama lain ingin segera
menjatuhkan lawannya, maka
dikeluarkan ilmu andalan masing-masing.
Namun, kepandaian kedua orang tokoh dari perguruan berbeda itu, ternyata
seimbang. Sehingga pertarungan itu bagaikan dua saudara seperguruan yang sedang
berlatih saja. Melihat kawannya
sudah mulai terlibat pertarungan, maka tiga orang murid tingkat tiga dari Gunung Salaka
segera melesat ke arah tiga murid Gunung Sutra lainnya. Maka kini masing-masing
pihak sudah saling menyerang ganas.
Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang yang berniat mencegah
pertempuran itu, ternyata disalah artikan oleh Ki Sukma Kelana.
"Sabar dulu. Biarkanlah mereka bermain-main sejenak. Tapi kalau memang tanganmu
sudah gatal, aku sanggup melayanimu bermain-main barang satu atau dua jurus.
Nah, sambutlah seranganku."
Setelah berkata demikian tubuh
orang tua itu sudah tiba di hadapan Ki
Ageng Sampang dan langsung melancarkan pukulan ke arah Algojo Gunung Sutra.
Laki-laki pemimpin Perguruan Gunung Sutra itu terkejut dibuatnya karena serangan
Ki Sukma Kelana begitu cepat datangnya. Itulah salah satu
keistimewaan tokoh tua dari Gunung Salaka itu. Maka tidak heran kalau orang
menjulukinya Pendekar Tangan Kilat Gerakan orang tua itu benar-benar bagai kilat
saja cepatnya. Tentu saja Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang tidak membiarkan tubuhnya
jadi sasaran pukulan yang berbahaya itu. Dengan gerakan indah, tubuhnya segera
berkelebat menghindarinya. Langsung dibalasnya serangan
itu dengan tidak kalah
dah-syat! Dalam sekejap saja tokoh sakti itu segera terlibat dalam pertarungan
dahsyat dan mendebarkan!
Menyaksikan pertempuran tiba-tiba itu, muridmu-rid Perguruan Gunung Salaka yang
belum bertempur segera berlari menjauhi arena pertarungan. Memang sambaran angin
pukulan yang dikeluarkan dua tokoh sakti itu sangat berbahaya.
Jika terlanggar akibatnya sangat fatal.
Sudah sepuluh jurus terlewat, namun sama sekali belum dapat dipastikan pihak
mana yang akan keluar sebagai pemenang.
Memang mereka semua sama-sama gesit dan sama-sama lihai.
Di antara pertarungan lima pasang tokoh itu, yang paling seru dan
mendebarkan adalah pertarungan antara Algojo Gunung Sutra melawan Ki Sukma
Kelana si Pendekar Tangan Kilat.
Apalagi, kedua tokoh itu sudah
menggunakan ilmu andalan perguruan masing-masing.
Ki Sukma Kelana yang sudah
mengeluarkan jurus 'Sebelas Jurus Penahan Ombak', bergerak agak lambat namun
tenaga yang terkandung dalam setiap serangannya benar-benar tidak dapat dianggap
ringan. Setiap lontaran pukulannya, menimbulkan getaran udara yang kuat.
Sehingga mau tidak mau lawan harus bersikap lebih hati-hati.
Di lain pihak, Algojo Gunung Sutra pun sudah menggunakan jurus 'Tinju Delapan
Bayangan', yang menjadi salah satu ilmu andalan perguruannya. Ilmu itu memiliki
keampuhan yang tidak kalah dahsyatnya. Gerakannya yang cepat dan tak terduga itu
seolah-olah bergerak
dari delapan penjuru angin. Akibatnya, lawan bagaikan dikeroyok delapan orang
saja. Setelah bertempur kurang lebih
selama empat puluh jurus, kedua tokoh sakti itu mulai merasa penasaran.
tiba-tiba masing-masing melompat ke belakang dan langsung membentuk
kuda-kuda kokoh bagaikan batu karang.
Angin berhembus keras, ketika kedua tokoh sakti yang berdiri berhadapan dalam
jarak tiga tombak itu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
"Heaaattt...!"
"Hiaaa...!"
Disertai teriakan mengguntur, satu sama lain langsung melesat sambil melepaskan
pukulan yang terampuh dari ilmu masing-masing. Dan....
Blaaarrr! Terdengar ledakan keras yang
memekakkan telinga. Ternyata ada tiga sosok tubuh saling bertubruk-kan di udara.
Mereka berpentalan dan jatuh sejauh tujuh tombak dari titik benturan tadi. Ki
Sukma Kelana maupun Ki Ageng Sampang langsung bangkit, meskipun tubuh masing-
masing limbung. Dari sela-sela bibir mereka menetes darah segar. Kedua
tokoh sakti itu merasa terkejut sekali, karena disaat hampir beradu pukulan tadi
tiba-tiba sesosok bayangan putih langsung melesat ke tengah-tengah sambil mendorongkan telapak tangan ke tubuh mereka.
Kedua orang tokoh sakti itu bergegas menghampiri sesosok tubuh yang tengah
berusaha bangkit dengan susah payah. Dan tanpa menghiraukan keadaan
sekelilingnya, sosok tubuh berjubah putih itu segera bersemadi untuk memulihkan
kekuatannya. Sementara kegiatan di sekitar
tempat itu menjadi terhenti. Para tokoh dari dua perguruan berbeda telah
menghentikan pertempuran ketika
mendengar ledakkan dahsyat tadi. Mereka pun segera menepi dan berkumpul pada
kelompok masing-masing
"Guru...!" seru seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun
tiba-tiba. Langsung dijatuhkan dirinya berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.
"Oh, Ranjita! Apa yang terjadi denganmu" Mana Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana.
Keningnya berkerut ketika
melihat keadaan Ranjita yang seperti habis bertempur itu.
"Panjang sekali ceritanya, Guru!"
jawab Ranjita pelan. "Guru! Dia itu, Pendekar Naga Purih," seru Ranjita sambil
menunjuk pemuda berjubah putih yang tengah bersila untuk menghimpun tenaga.
"Oh, Pendekar Naga Putih!" gumam sepuluh orang tokoh dari dua perguruan itu,
mereka semua memasang wajah heran.
Sementara itu. Panji yang telah
selesai bersemadi segera bangkit dan menghampiri mereka. Langkahnya begitu
tenang. Wajahnya yang semula memucat akibat benturan dahsyat tadi, kini tampak
memerah pertanda sudah dapat dipulihkan tenaganya.
Setelah saling bertegur sapa, Ki Sukma Kelana segera mengajak mereka memasuki
bangsal utama perguruan Gunung Salaka. Tak lupa, mereka juga mengajak tokoh-
tokoh dari Perguruan Gunung Sutra untuk melanjutkan pembicaraan dan memecahkan
masalah misterius ini.
* * * "Nah! Sekarang, marilah kita pecahkan teka-teki ini dengan kepala dingin.
Ranjita, coba ceritakan
pengalamanmu," usul Ki Sukma Kelana ketika mereka telah berkumpul di ruang
bangsal utama. Ki Sukma Kelana rupanya sudah menyadari kekeliruannya, dan kini
bersikap lebih hati-hati.
Ranjita segera menceritakan apa-apa yang dialami dari awal, hingga akhirnya
ditolong Panji Pendekar Naga Putih.
Murid tingkat empat itu sama sekali tidak melebih-lebihkan atau pun mengurangi
ceritanya. "Demikianlah, Guru. Kalau saja saat itu tidak datang Pendekar Naga Putih, pasti
aku tidak akan pernah kembali lagi ke perguruan!" desah Ranjita menutup
ceritanya. "Tidak mungkin!" selak salah seorang tokoh Gunung Sutra. "Selama dua hari ini,
kami selalu bersama. Jadi bagaimana mungkin kalau Ki Ageng Sampang melakukan hal
itu"!"
"Sabarlah! Bukankah Ki Sukma Kelana sudah mengatakan akan membahas masalah ini
dengan kepala dingin. Mengapa kau menjadi tidak sabar?" tegur Algojo Gunung
Sutra. "Ah, maafkan aku. Aku benar-benar bingung!" ucap orang yang menyelak tadi dengan
wajah kemerahan.
Ki Sukma Kelana lalu melanjutkan pembicaraan itu. Akhirnya kedua belah pihak
memutuskan untuk menunda
perselisihan di antara mereka, sampai bisa ditemukan bukti-bukti nyata. Lalu
mereka sepakat untuk mengutus murid andalan masing-masing untuk menyelidiki dan
memperjelas persoalan itu.
"Adi Panji, kami sangat memerlukan bantuanmu untuk menyertai seorang murid kami
dalam melakukan penyelidikan.
Mudah-mudahan kau bersedia," ujar Ki Sukma Kelana penuh harap.
"Benar! Sebenarnya kami tidak dapat meninggalkan perguruan tanpa seijin ketua.
Sedangkan saat ini ketua
Perguruan Gunung Salaka maupun Gunung Sutra tengah mengasingkan diri. Dan
sekarang ini kami diberi tugas untuk mengurus perguruan selama beliau pergi,"
sambung Ki Ageng Sampang menimpali ucapan Ki Sukma Kelana.
"Baiklah, Ki. Akan kucoba untuk membantu memperjelas persoalan ini,"
jawab Pendekar Naga Putih.
Tidak berapa lama, Ki Ageng Sampang beserta rombongannya bergegas
meninggalkan perguruan itu diikuti Panji dan seorang murid andalan dari
Perguruan Gunung Salaka yang bernama Suntara.
Suntara adalah murid langsung Ki Tunggul Jagad yang dirahasiakan. Hanya dua
orang murid kepala yaitu Ki Sukma Kelana dan Ki Surya Kencana yang
mengetahuinya. Karena Suntara dibimbing langsung Ki Tunggul Jagad, maka
kepandaiannya pun tidak jauh di banding dua tokoh itu. Itulah sebabnya, mengapa
Ki Sukma Kelana berani mempercayakan tugas ini kepadanya.
"Ayo, kita harus mempercepat perjalanan," ajak Algojo Gunung Sutra sambil
melesat mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya.
Melihat orang tua itu sudah berlari meninggalkan mereka, tapa dikomando lagi
enam orang lainnya segera berlari mengejar. Terjadilah kejar-kejaran yang seru
di antara tujuh orang sakti itu.


Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ki Ageng Sampang semakin
mempercepat larinya karena diam-diam, ingin diujinya kepandaian Panji dan
Suntara yang masih belum diketahuinya jelas. Tapi, alangkah terkejutnya orang
tua itu ketika menoleh ke belakang.
Ternyata baik Pendekar Naga Putih maupun Suntara sudah berada di belakangnya.
Sedangkan empat tokoh Gunung Sutra lainnya tertinggal di belakang.
Karena masih merasa penasaran, Ki Ageng Sampang segera mengempos
semangatnya. Segera dikerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.
Tubuh orang tua itu meluncur bagaikan anak panah lepas dari busur. Napasnya agak
sedikit memburu dan butir-butir keringat mulai membasahi dahinya. Dan untuk
kedua kalinya ia menjadi terkejut ketika menoleh. Ternyata dua pemuda itu masih
saja berada di belakangnya.
"Hm, anak-anak muda yang hebat!"
ucapnya dalam hati.
Merasa sudah cukup menguji dua
pemuda itu, Ki Ageng Sampang kembali memperlambat larinya.
"Kalau kuteruskan, bisa-bisa putus napasku," ujar Ki Ageng Sampang dalam hati
sambil tersenyum mesem.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu setengah hari, maka tujuh
orang itu tiba di daerah Gunung Sutra. Kegelapan telah menyelimuti bumi, ketika
Ki Ageng Sampang, Panji, Suntara,
dan empat orang tokoh Gunung Sutra tiba di Perguruan Gunung Sutra.
Ki Ageng Sampang segera mengajak Panji dan Suntara untuk bermalam di perguruan
itu, agar keesokan paginya dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.
"Apakah Ki Ageng akan ikut dengan kami, besok?" tanya Panji kepada Ki Ageng
Sampang, sebelum memasuki kamar yang disediakan untuknya dan Suntara.
"Oh! Tidak, Saudara Panji. Kami akan mengutus seorang murid kesayangan Ki Ageng
Pandira yang bernama Rahayu.
Dialah yang akan menyertai kalian berdua dalam melakukan penyelidikan. Nah,
sekarang beristirahatlah dulu, agar kalian menjadi lebih segar," ujar Ki Ageng
Sampang. Setelah berkata demikian, orang tua itu beranjak meninggalkan mereka.
Malam semakin larut. Nyanyian
binatang-binatang malam saling
bersahutan sehingga membuat suasana malam semakin semarak.
* * * 8 Hari masih sangat pagi. Bumi pun masih terselimut kegelapan. Di kejauhan
terdengar kokok ayam hutan yang
bersahut-sahutan, Semilir angin pagi yang berhembus masih terasa dingin
menyentuh kulit.
Dari kejauhan teriihat tiga sosok tubuh tergesa-gesa menuruni Lereng Gunung
Sutra, yang puncaknya masih dilapisi kabut tebal. Ketiga sosok tubuh itu
berlompatan dengan lincahnya, bagai tiga ekor burung yang tengah menikmati
keindahan suasana pagi. Lereng Gunung Sutra yang masih basah oleh embun itu,
sepertinya tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menuruninya.
Tidak beberapa lama, ketiganya
sudah tiba di kaki gunung. Sejenak mereka berhenti, sambil menoleh ke kiri dan
kanan. "Arah mana yang harus ditempuh, Panji?" tanya lelaki di sebelahnya yang bertubuh
agak jangkung. Dia tak lain dari Suntara, murid kesayangan Ki Tunggul Jagad.
"Lebih baik ambil jalan Selatan saja, karena di Utara banyak
perkampungan penduduk," jawab orang yang tak lain adalah Panji Pendekar Naga
Putih. "Bagaimana menurutmu, Adik Rahayu?" tanya Panji sambil menoleh kepada
orang yang dipanggil Rahayu, dan ternyata seorang wanita.
"Kalau aku terserah kalian saja,"
jawab gadis yang bernama Rahayu itu.
Suaranya begitu halus.
Rahayu adalah satu-satunya murid wanita dari Ki Ageng Pandira yang menjadi ketua
Perguruan Gunung Sutra. Biarpun seorang wanita, namun tidak mungkin dipandang
remeh. Sebab sebagai murid Ki Ageng Pandira yang berjuluk Dewa Berlengan Delapan
itu. Rahayu pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Apalagi sudah dipercayakan untuk menunaikan tugas yang berbahaya seperti itu.
Pasti ia telah dibekali ilmu-ilmu yang tinggi dan hebat.
Memang, akhirnya arah yang diambil tiga orang muda-mudi itu adalah ke arah
Selatan, sebagaimana yang diusulkan Pendekar Naga Putih. Mereka melangkah
bersisian, melewati sebuah hutan kecil yang jarang dijamah manusia. Jalan itu
sengaja dipilih, karena itu adalah jalan pintas.
Setelah hampir setengah harian
berjalan, beberapa ratus depa di hadapan mereka terbentang sebuah jalan besar
yang banyak dilalui orang.
"Hm, rasanya kita akan melewati sebuah perkampungan penduduk," gumam Panji tak
jelas. "Apakah kita akan singgah, Panji?"
tanya Rahayu yang rupanya mendengar gumaman Panji tadi.
"Tentu saja. Perutku sudah
keroncongan minta diisi," jawab Suntara tanpa malu-malu sambil menepuk-nepuk
perutnya hingga menimbulkan suara nyaring.
"Apa kau kira perutku dari batu"
Dengarlah nyanyian cacing-cacing di perutku yang sudah segera minta diisi,"
timpal Panji seraya tertawa
terbahak-bahak.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi"
Ayo!" seru Rahayu sambil melesat mendahului kedua kawannya. Gerakan gadis itu
gesit sekali, bagaikan seekor burung walet yang baru keluar dari sarangnya.
Melihat gadis itu sudah mendahului, kedua pemuda itu tidak mau ketinggalan.
Sekali menjejak tanah, tubuh mereka segera melayang mengejar Rahayu.
Timbul kegembiraan di hati gadis itu ketika melihat dua kawannya yang sama-sama
tampan dan gagah mengejar di belakangnya. la pun segera mempercepat larinya
seraya mengerahkan seluruh tenaga, sehingga dua orang pemuda itu tertinggal di
belakangnya. Suntara dan Panji tentu saja
mengetahui maksud gadis itu sebenarnya.
Maka segera dikerahkan kemampuan mereka untuk mengejar Rahayu, yang beberapa
ratus depa di depan. Namun meskipun Suntara telah mengerahkan seluruh kemampuan
tetap saja jarak di antara mereka tidak berubah.
Panji yang mengetahui bahwa Suntara tertarik kepada Rahayu, tidak berusaha untuk
mengejar gadis itu. Sebenarnya dia bisa mengejarnya, tapi sengaja
berpura-pura lelah dan mengalah kepada mereka.
"Eh! Di mana Panji?" tanya Rahayu, yang sudah duduk di atas sebuah batu di tepi
jalan ketika Suntara tiba di dekatnya.
"Entahlah. Mungkin sudah merasa kelelahan," jawab Suntara yang teriihat agak
sedikit lelah itu. Namun tak lama
kemudian Panji muncul, dengan napas dibuat tersengal-sengal.
"Wah! Tega-teganya kalian
meninggalkan aku, hhh...," setelah berkata demikian, Panji segera
menjatuhkan tubuhnya di atasa tanah berumput.
"Sudahlah. Ayo kita mencari kedai makan," ajak Suntara. Dia segera berjalan
memasuki perbatasan desa, yang tinggal beberajpa ratus meter itu.
Tanpa berkata-kata lagi, Panji dan Rahayu segera melangkah mengikuti Suntara.
Pemuda itu kini sudah memasuki sebuah kedai makan yang terletak di tepi jalan
utama desa. Panji dan Rahayu juga segera memasuki kedai, dan langsung mengambil
tempat duduk dihadapan Suntara.
Setelah selesai mengisi perut tiga muda-mudi itu segera melanjutkan perjalanan.
*** "Wah! Terpaksa harus menginap di dalam hutan!" ujar Suntara, ketika hari telah
gelap. "Aku kira demikian. Rasanya tidak ada desa terdekat di sekitar sini!" jawab
Panji. "Mari, kita cari tempat yang lebih enak."
Maka mereka segera meneruskan
langkahnya memasuki hutan, dan akhirnya tiba pada sebuah tempat yang agak luas.
Dan tempat itu baik sekali untuk melewati malam.
"Kalian tunggulah di sini. Aku mau mencari air. Sepertinya, tidak jauh dari
tempat ini ada sebuah sungai. Aku telah mendengar gemericik air," jelas Panji
sambil melangkah meninggalkan kedua kawannya.
"Baiklah. Biarlah aku yang mencari ranting-ranting kering, agar dapat digunakan
untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, Kau tunggulah di sini, Adik Rahayu!" ujar
Suntara. Tidak berapa lama kemudian, kedua orang pemuda itu pun sudah tidak
terlihat lagi. Rahayu yang ditinggal seorang diri itu, tiba-tiba menjadi gelisah.
Diputuskanlah untuk jalan-jalan saja, daripada berdiam diri sendiri seperti
patung. Maka segera kakinya melangkah mengitari tempat itu.
Ketika tengah melangkah dengan hati resah, tiba-tiba telinganya yang terlatih
menangkap sebuah desiran halus dari arah belakang. Cepat bagaikan kilat gadis
itu berbalik, dan cepat sekali tangannya bergerak menampar sambil memiringkan
kuda-kudanya. Dan gadis itu menjadi terkejut, ketika merasakan tangannya
bergetar setelah bergerak menampar.
"Hm, hebat juga tenaga orang yang berjiwa curang itu!" desis Rahayu.
Penasaran sekaligus geram.
Rahayu yang semula ingin berteriak menyuruh penyerang gelap itu keluar, segera
mengurungkan niatnya. Alisnya yang indah itu berkerut, ketika
memperhatikan benda yang menyerangnya secara gelap tadi. Dengan sikap waspada
diraihnya benda yang ternyata adalah sebuah daun lontar yang terlipat rapi.
"Hm. Apa maksud orang itu sebenamya"
Jelas orang itu tidak berniat
mencelakakan. Sebab kalau berniat jahat, mengapa harus menggunakan daun lontar?"
desah Rahayu di tengah keheranannya.
Tangan gadis itu bergerak membuka lipatan daun lontar. Hatinya berdebar tegang,
ketika membaca tulisan yang
tertera di dalamnya. Dibacanya
berulang-ulang, seolah-olah tidak mempercayai matanya.
"Kalau ingin menemukan orang ketiga yang mengacaukan perguruanmu, temuilah aku
di sebuah danau. Letaknya tidak jauh dan tempatmu. Cepatlah, sebelum semuanya
terlambat."
Rahayu membaca berulang-ulang
surat yang tertera di atas daun lontar tadi. Dadanya berdebar cepat antara
perasaan girang dan tegang. Sebab tugas yang dikatakan berat oleh gurunya itu,
ternyata dapat dilakukan amat mudah.
Tanpa berpikir dua kali, Rahayu
berkelebat cepat mencari tempat yang dimaksudkan si pengirim daun lontar tadi.
Karena gembira yang meluap-luap, sehingga Rahayu terlupa akan Suntara dan Panji
yang juga mempunyai tujuan serupa.
Di tempat lain, Suntara yang tengah memunguti ranting-ranting kering menjadi
terkejut ketika mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya.
Semula Suntara tidak mempedulikannya, karena dikira itu adalah suara langkah
kawannya. Namun ketika menoleh, mendadak wajahnya menegang. Ternyata orang yang
tengah menghampirinya itu adalah Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang.
Suntara yang sudah mendengar cerita Ranjita dan Panji tentang seorang yang
menyamar menjadi Ki Ageng Sampang itu, sejenak meragu. Tapi keraguannya menjadi
pudar ketika mendengar sapaan orang tua itu.
"Ha ha ha..., Suntara! Apakah kau sudah menemukan tanda-tanda orang yang kau
curigai?" tanya Algojo Gunung Sutra, sambil terus melangkah menghampirinya.
"Oh! Belum. Belum, Ki! Kami... kami belum menemukan apa-apa," jawab Suntara
gagap. Sementara pandang matanya tetap meneliti sekujur tubuh Ki Ageng Sampang.
"Mengapa Ki Ageng berada di tempat ini"
Bukankah dia harus mengurus perguruan?"
Suntara bertanya-tanya dalam hati dengan sikap tetap waspada.
Biar bagaimanapun, Suntara masih tetap meragukan keaslian orang tua itu.
Sebab sebelum meninggalkan Gunung Sutra, Ki Ageng Sampang berkata bahwa ia tidak
bisa meninggalkan perguruan. Hal ini karena ketua Perguruan Gunung Sutra tengah
menyepi di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali Ki Ageng Sampang
sendiri. Memang sampai saat ini
ia masih belum mempercayai orang tua di hadapannya itu. Maka diam-diam
dikerahkan tenaga saktinya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Orang tua bertubuh jangkung dan
berkumis lebat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan dipahami betul
keraguan Suntara.
"Yahhh.... Dapat kumengerti sikapmu yang mencurigai aku, Suntara. Memang, kita
tidak boleh mempercayai sesuatu yang belum diketahui kebenarannya,"
tegas orang yang mengaku sebagai Ki Ageng Sampang disertai helaan napas yang
dalam. Wajah orang itu memang teriihat
sedih seolah-olah menyesali perbuatan orang yang telah menyamar sebagai Algojo
Gunung Sutra. Sedangkan kedua kakinya terus melangkah mendekati Suntara.
Suntara tertunduk malu mendengar kata-kata bernada sedih dari orang tua yang
dihormatinya itu. Untuk beberapa saat lamanya kesiagaannya lenyap tersentuh
kata-kata halus tadi.
Namun, kalau saja Suntara tidak
menundukkan wajahnya tentulah akan terkejut melihat sinar mata orang tua itu.
Sinar mata yang semula meredup, kini
tampak berkilat penuh cahaya nafsu membunuh. Jarak di antara mereka hanya
tinggal satu jangkauan tangan saja. Dan, tiba-tiba saja tangan orang tua itu
terangkat dengan cengkraman maut Suntara yang tengah lengah itu
mengira bahwa orang yang diduganya Ki Ageng Sampang itu ingin menepuk
pundaknya, sehingga sama sekali tidak merasa curiga. Tapi, ketika dirasakan
sambaran angin kuat yang keluar dari kedua tangan orang tua itu, rasanya sudah
terlambat untuk menghindar. Untung saja, tenaga dalamnya merasakan ada tekanan
membahayakan dan segera cepat bergolak melindungi dirinya.
Deeesss! Tubuh Suntara terpelanting ketika tamparan keras itu menghantamnya.
Untunglah pada saat yang berbahaya itu masih dapat dimiringkan tubuhnya.
Sehingga tamparan yang semula tertuju ke kepalanya, melesat menghantam bahunya
dengan keras. Cepat-cepat Suntara bergulingan mengikuti dorongan itu, agar dapat
menjauhi lawannya.
"Huaaakkk...!"
Suntara seketika memuntahkan darah berwarna kehitaman. Jelas itu akibat
hantaman kuat, yang rupanya telah melukai bagian dalam tubuhnya. Meskipun
demikian Suntara masih mencoba bangkit.
Untunglah tenaga dalamnya telah bergerak melindungi tubuhnya. Kalau tidak, pasti
bahu yang terkena hantaman lawan itu akan patah tulang-tulangnya.
Saat itu, orang yang menyamar
sebagai Algojo Gunung Sutra sudah meluncur sambil mengarahkan
totokan-totokan yang dapat melumpuhkan tubuh lawan. Kedua tangannya bergerak
susul-menyusul, seolah-olah berebut untuk menyentuh tubuh Suntara.
Dengan gerakan limbung bagaikan
orang mabuk tuak, Suntara berusaha menghindari serangan lawannya. Dalam posisi
seperti ini, Suntara masih mencoba untuk melontarkan
serangan-serangan balasan. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, dia masih
melakukan perlawanan yang cukup berarti.
"Setan! Bocah ini ternyata alot juga," umpat orang bertubuh jangkung itu
mengumpat, penuh kegeraman. Mau tidak mau harus diakui keuletan pemuda yang
menjadi lawannya itu.
Wuuuttt! Orang tua itu memiringkan tubuhnya menghindari sambaran "tangan kanan Suntara
yang mengarah kepala. Dan memang, serangan pemuda itu luput. Ki Ageng Sampang
palsu itu langsung membalas dengan sebuah totokan yang menimbulkan desingan
angin tajam. Suntara melempar tubuh ke belakang untuk menghindarinya. Tapi alangkah
terkejutnya pemuda Itu ketika melihat jari-jari tangan lawan masih tetap
mengejar dan mengancam tubuhnya.
Suntara yang tidak melihat jalan keluar, terpaksa menyambutnya dengan sisi
telapak tangan miring. Pemuda itu kembali terkejut ketika jari-jari yang hendak
ditepis, tiba-tiba meliuk dan meluncur pesat menuju lehernya.
"Aaahhh...!" keluh Suntara agak terkesiap.
Segera dijatuhkan tubuhnya dan
bergulingan menghindari kejaran tangan lawan yang bagai seekor ular hidup itu.
Setelah memasrikan bahwa lawannya cukup jauh, pemuda itu melenting berdiri.
Namun, belum juga Suntara memantapkan posisi berdirinya, tiba-tiba orang tua itu
bersalto melewati kepalanya dan mendarat di belakangnya. Sementara
Suntara yang masih terkesiap tiba-tiba merasakan....
Desss!

Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Uuughhh...!" Suntara melenguh tertahan.
Tubuh Suntara terlontar keras ke depan, ketika sebuah tendangan
berkekuatan hebat menghantam bagian belakangnya. Pemuda itu ambruk tak sadarkan
diri, setelah terlebih dahulu memuntahkan darah segar. Sejenak orang tua itu
tertawa, lalu mendekati tubuh Suntara. Segera dipanggulnya tubuh murid
kesayangan Ki Tunggul Jagad itu.
*** Sementara itu, Panji yang sudah
kembali ke tempat Rahayu menunggu, menjadi keheranan ketika tidak menemukan
gadis itu. Nalurinya yang tajam
mengisyaratkan adanya bahaya yang mengancam di sekitar tempat ini. Panji
mengitari sekitarnya dengan kewaspadaan penuh. Pendekar Naga Putih itu
mengurungkan niatnya untuk memanggil Rahayu, ketika pendengarannya yang terlatih
menangkap samar-samar suara orang tengah melangkahkan kaki.
Cepat bagai kilat Panji melesat ke arah asal suara tadi. Beberapa saat kemudian,
pemuda itu menjadi kebingungan ketika suara itu mendadak terhenri.
Pendekar Naga Putih itu mengerutkan keningnya sambil mengerahkan seluruh
kepekaan pendengarannya. Panji segera menyusupkan tubuhnya di balik
semak-semak, ketika mendengar suara langkah kaki kembali terdengar
mendatanginya. "He he he.... Ki Tunggul Jagad, tunggulah kehancuranmu!" terdengar suara tawa
kemenangan dari mulut orang tua bertubuh jangkung ketika melintas tidak jauh di
hadapan Panji Pendekar Naga Putih itu menjadi terkejut melihat tubuh yang
terkulai di atas bahu orang yang mengaku sebagai Algojo Gunung Sutra.
"Suntara...!" desisnya keheranan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera melesat melampaui kepala orang
tua tersebut. "Berhenti...!" bentak Panji begitu kakinya mendarat di hadapan orang bertubuh
jangkung itu. "Hm..., lagi-lagi kau membuat ulah, Orang Tua!" desis Panji penuh
kemarahan. Orang tua itu tersentak kaget,
sambil melangkah mundur. Jelas tergambar rasa gentar di wajahnya ketika
mengenali pemuda yang menghalangi jalannya.
Matanya berputar liar mencari jalan untuk menghindar.
"Huh! Mengapa kau selalu mencampuri urusanku, Pendekar Naga Putih"!" dengus
orang tua itu. Mulutnya berkata demikian, tapi
sementara otak-nya berputar mencari jalan selamat. Rupanya Ki Ageng Sampang
palsu yang sudah pernah merasakan kehebatan Panji, merasa yakin tidak akan dapat
mengatasi pemuda sakti itu.
Makanya, sekarang ini dia berusaha untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya
mencan jalan keluar.
"Tidak perlu banyak bicara lagi, Orang Tua! Terimalah hukumanmu!" bentak Panji
geram. Begitu ucapannya selesai, tubuh pemuda itu melesat cepat membawa serangan
berbahaya. Selapis kabut tipis yang berwarna putih keperakan kini telah
menyelimuti tubuhnya. Pertanda bahwa pemuda sakti itu telah mengerahkan
'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang menimbulkan hawa dingin luar biasa.
Kedua tangannya yang telah membentuk cakar naga itu terulur disertai hembusan
udara dingin yang menggigit.
Algojo Gunung Sutra palsu terkejut ketika merasakan sambaran hawa dingin yang
sangat kuat menerpa tubuhnya.
Cepat-cepat dilempar tubuhnya
kebelakang untuk menghindari serangan yang luar bisa hebatnya. Wajah orang tua
itu berubah pucat ketika sepasang tangan yang bagaikan cakar-cakar naga itu
terus mengejarnya. Karena tidak mempunyai peluang untuk lolos, orang tua itu pun
menggerakkan tangan nya menangkis serangan Pendekar Naga Putih dengan sekuat
tenaga! Dukkk! "Aiiihhh.,.!" jerit orang tua itu.
Seketika dirasakan hawa dingin yang amat kuat menyusup dari tangan pemuda itu.
Saat menangkis serangannya.
Tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh tiga tombak. Sehingga tubuh Suntara
yang semula berada di bahunya ikut pula terlempar. Cepat dia bangkit sambil
mengerahkan hawa mumi untuk mengusir hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil
hebat. Darah merah yang agak
mengental karena hawa dingin itu mengalir melalui sela-sela bibirnya.
"Ilmu iblis...!" dengus orang yang mengaku-ngaku sebagai Algojo Gunung Sutra.
Wajahnya nampak semakin memucat Setelah dapat mengusir hawa dingin tubuhnya,
orang tua itu segera bersiap menghadapi gempuran lawannya.
"Huh! Jangan bertepuk dada dulu, Anak Muda! Ayo kita bertempur sampai seribu
jurus!" gertak Algojo Gunung Sutra palsu di tengah keputusasaannya.
Namun, sebelum kedua orang itu
saling bergebrak, tiba-tiba terdengar lengkingan halus yang menyakitkan telinga,
Panji terkejut ketika merasakan kekuatan yang terkandung dalam suara lengkingan
itu. Meskipun tidak
membahayakan dirinya, tapi hatinya cemas juga. Dari suara lengkingan itu
Pendekar Naga Putih dapat menebak kepandaian orang yang mengeluarkan suara
lengkingan itu.
Di lain pihak, orang yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra itu menjadi
berseri-seri wajahnya.
"Ha ha ha...! Syukurlah kau segera datang, Nyai Serondeng!" ujar orang tua itu
tertawa gembira. Sementara tubuh
Suntara sudah pula berada dalam
pondongannya. Dia memang ingin menculik pemuda ini.
"Cepat tinggalkan tempat ini, goblok!" perintah wanita tua yang tiba-tiba saja
sudah berada di tempat itu.
"Berhenti! Langkahi dulu mayatku kalau kalian ingin meninggalkan tempat ini!"
bentak Panji. Segera dia melesat mengejar Algojo Gunung Sutra palsu yang sudah
bergerak meninggalkan tempat pertarungan.
"Hi hi hi.... Selamat tinggal, Pendekar Naga Putih! Sayang sekali, hari ini aku
tidak mempunyai waktu untuk bermain-main denganmu!" tegas wanita tua itu.
Suaranya begitu tinggi dan nyaring.
Setelah berkata demikian, wanita tua itu menggerakkan tangannya ke arah Pendekar
Naga Putih. Melihat luncuran sebuah benda putih yang berbentuk bulat itu bagitu
deras, cepat-cepat Panji melesat ke atas dan berputar dua kali di udara.
Darrr! Benda sebesar telur puyuh itu
meledak ketika menyentuh permukaan tanah. Asap putih tebal yang menebarkan
bau itu bergulung-gulung menutupi
sekitarnya. Pendekar Naga Putih yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah,
tidak dapat mengejar kedua musuhnya.
Tentu saja, karena asap tebal telah menghalangi penglihatannya.
"Asap beracun...!" sentak Panji sambil melompat keluar dari gulungan asap tebal
tersebut Kedua tangan pemuda sakti itu mendorong ke depan seraya mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya.
Wuuusss! Angin yang berhawa dingin luar biasa seketika berhembus keras mengusir asap
beracun yang menyelimuti sekitarnya.
Dalam beberapa saat saja, tempat itu kembali terang. Hanya sayangnya, Panji
sudah tidak menemukan dua orang
musuhnya. Pendekar Naga Putih berlari
mengitari seluruh daerah itu untuk mencari dua orang musuhnya tadi. Tapi mereka
bagaikan lenyap ditelan bumi.
Dengan langkah gontai, Panji kambali ke tempatnya semula, tempat mereka berniat
melewatkan malam. Pemuda itu termenung mengingat-ingat kejadian-kejadian yang
baru beberapa hari ini dialaminya.
Memang, masih menjadi misteri yang harus diungkapnya.
Angin malam bersilir lembut
menyejukan tubuh. Seolah-olah ingin menghibur dan menghilangkan keresahan di
hati pemuda itu. Sekejap kemudian, Panji sudah terlelap.
Kemanakah perginya Rahayu" Dan bagaimana nasib Suntara" Siapakah orang tua yang
menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra, dan siapa pula tokoh yang bernama Nyai
Sorendeng itu" Dan yang terpenting, siapakah yang mendalangi semua kemelut ini"!
Untuk jawabnya, ikutilah kisah selanjutnya dalam episode "PARTAI RIMBA HITAM."
SELESAI ABU KEISEL http://duniaabukeisel.blogspot.com/
Imbauan Pendekar 8 Kisah Para Naga Di Pusaran Badai Karya Marshall Misteri Penculik Asmara 2
^