Pencarian

Dendam Jasad Dedemit 2

Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit Bagian 2


Dedemit bergeming sedikit pun.
Keterkejutan Andika cepat dimanfaatkan lawan. Karena
tiba-tiba saja Jasad Dedemit ke dada.
Bet! "Uf!"
Untung Andika tidak hanyut dalam keterheranannya,
sehingga pukulan balasan Jasad Dedemit bisa dihindari
dengan meliukkan tubuhnya seperti belut dan meloncat
lincah. Inilah salah satu kemampuan yang dimiliki Andika
hasil tempaan alam di Lembah Kutukan dahulu.
Melihat serangannya gagal, Jasad Dedemit pun
mengubah jurusnya menjadi 'Pusingan Gasing Maut'.
Tubuhnya mendadak berputaran di tempat, sebagaimana
halnya sebuah gasing. Sehingga, bayangan tubuhnya seperti
sebuah tempayan.
Di tempatnya kening Andika bertautan. Namun kejap
kemudian tiba-tiba udara di sekitar dadanya terasa
menghangat. Maka tanpa berpikir lebih lama, si pemuda
urakau dari Lembah Kutukan itu meloncat secepat kilat.
Andika tahu, diam-diam lawan mengerahkan pukulan jarak
jauh. Beruntung naluri pendekar satu ini sudah terlatih
ketika berhadapan dengan kilatan-kilatan petir yang
sambar-menyambar sewaktu di Lembah Kutukan dulu.
Diam-diam Andika bersyukur, bahwa dirinya bisa lulus di
lembah itu. Tapi untuk balik lagi ke sana, pemuda ini
bakalan mengumpat serapah.
Memang, orang biasa tentu tak mungkin bisa melihat
gerakan tangan Jasad Dedemit yang hendak melepaskan
pukulan jarak jauh. Karena yang terlihat hanya gerakan
tubuh si tua itu yang terus berputaran. Mana kaki mana
tangan, sulit ditentukan. Apalagi menentukan kapan tangan
itu memukul. Memang, pukulan jarak jauh Jasad Dedemit
begitu saja keluar dari pusingan setiap kali diinginkan.
"Hmm.... Bagaikan melawan seseorang dari gelap, tetapi
dia dapat melihat orang yang diincarnya," gumam Andika
dalam hati. "Ah, masa' bodoh! Aku harus membalasnya!"
Kini Andika mengerahkan tenaga 'Inti Petir'-nya ke
kedua tangan. Lalu saat itu pula kedua tangannya
menghentak ke arah lawan.
Jasad Dedemit melenting tegang ke atas sambil terus
berputar dan menghindari serangan lawan. Di udara, dia
balas melepas pukulan.
Andika cepat menghindar dengan melompat ke samping.
Tapi baru saja bersiap tiba-tiba ia merasakan angin
berkesiur bergerak di belakangnya. Secepat kilat tubuhnya
berputar. Ternyata Pandita Perangai Setan tengah meluruk
dengan serangan mematikan.
Sebelum tengkuknya disambar, Andika bergulingan ke
tanah, lalu cepat bangkit dengan lenturan ringan.
"Kadal buduk! Pendeta gundul! Kau biasa main bokong,
ya" Eits...."
Andika yang baru saja menyumpah harus menghindar
lagi, karena pukulan jarak jauh Jasad Dedemit kembali
datang. "Majulah kalian berdua. Aku sangat senang sekarang
mempunyai dua mainan," tantangnya.
Bagai termakan ejekan Andika, kedua tokoh sesat itu
serentak menghentakkan tangan. Dari tangan Pandita
Perangai Setan meluncur sinar kuning yang disertai benda-
benda kecil yang ternyata biji tasbih. Sedangkan dari Jasad
Dedemit meluncur sinar kelabu.
Pendekar Slebor kembali mengandalkan kecepatan
geraknya. Entah bagaimana. tahu-tahu tubuhnya telah jauh
dari tempatnya semula yang kini hancur berantakan.
"Hei, Gundul! Apakah kelerengmu juga bisa meledak
seperti itu," kata Andika memanas-manasi ketika melihat
biji-biji tasbih itu meledak saat menghantam tanah.
Padahal, diam-diam hatinya kebat-kebit juga melihat
kedahsyatan serangan lawan-lawannya.
Dan baru saja Pendekar SJebor hendak menyerang
balik.... "Akh!"
Andika menoleh ke arah dalangnya jeritan barusan.
Ternyata, Parameswara telah gugur di tangan Betot Nyawa.
Suatu pemandangan yang menggidikkan dipertunjukkan
salah seorang tokoh aliran hitam itu. Tangan kanannya
memegang leher, sedangkan tangan kirinya menahan
pundak Parameswara. Lalu dibetotnya kepala perwira itu
hingga terlepas dari leher. Kemudian diputar-putarnya
kepala itu dengan memegang bagian rambut sambil tertawa
puas. Amarah Andika kontan terbakar melihat perilaku yang
melebihi binatang ini. Awan kelabu yang dari tadi telah
menutupi langit, seolah turut berduka atas perilaku Betot
Nyawa yang merendahkan martabat manusia.
JeJeger! Tiba-tiba guntur menyambar, seolah alam ikut marah.
(Oodwkz-ray-novooO)
6 Pemuda berjuluk Pendekar Slebor mengangkat kedua
kepalan tangan ke atas. Mukanya merah menahan murka.
Urat-urat lehernya menyemburat keluar.
"Inilah saatnya aku mengerahkan tenaga 'Inti Petir'
tingkat tinggi!"
Jasad Dedemit tidak peduli lagi, apa yang dilakukan
lawan. Yang dilihatnya sekarang cuma kesempatan untuk
menyerang. Dari dalam putaran tubuhnya, kembali
dilepaskannya pukulan jarak jauh. Maka kembali meluncur,
sinar kelabu ke arah Andika.
Srattt! Glarrr...! Seberkas sinar petir tahu-tahu muncul dari kedua tangan
Andika menyambar sinar kelabu Jasad Dedemit hingga
menimbulkan ledakan dahsyat.
Pada saat yang bersamaan, dua larik petir juga telah
menempel di kedua kepalan tangan Andika yang sedang
teracung ke atas. Itulah kedahsyatan sosok pendekar yang
memiliki tenaga'Inti Petir'. Kini kedua kepalan tangan
Pendekar Slebor bercahaya menyilaukan. Sesekali keluar
kilatan kecil dari sana.
Tentu saja peristiwa ini membuat Jasad Dedemit dan
Pandita Perangai Setan melongo
"Akh!"
Sebuah jeritan terdengar lagi. Ternyata. Panglima Wesi
Wungu tengah terluka parah terkena sabetan pedang
panjang Nyi Bengis. Mirah dan Panglima Butong Aji yang
berusaha membantu tak dapat mencegah upaya Nyi Bengis
dalam menghabisi nyawa Panglima Wesi Wungu. Bahkan
si gadis dan Panglima Butong Aji kini menjadi bulan-
bulanan Nyi Bengis.
Pada jurus selanjutnya secara mendadak Nyi Bengis
kembali membabatkan pedang besarnya ke arahnya
Pangiima Butong Aji
Crass! "Akh!" Panglima Butong Aji kontan roboh bermandikan
darah termakan pedang Nyi Bengis. Malah kini perempuan
tua itu mendesak Mirah mati-matian. Ia kelihatan bernafsu
sekali hendak mengakhiri pertarungan.
Melihat keadaan Mirah yang terancam, Andika bergerak
hendak membantu. Tapi, Jasad Dedemit, pandita Perangai
Setan, dan Betot Nyawa yang kini tak mempunyai lawan
serempak meluruk menyerang. Mereka tahu, kalau
Pendekar Slebor sampai dibiarkan akan membahayakan
nyawa Nyi Bengis.
Andika terpaksa memapaki serangan dengan mengayunkan kepalan ke arah Betot Nyawa yang berada
paling depan. Akibatnya....
Splasshh.... Blarrr...! Apa yang terjadi terhadap Betot Nyawa membuat Jasad
Dedemit dan Pandita Perangai Setan menahan langkah.
Sebuah kilatan panjang berkilauan yang keluar dari tangan
Andika langsung menjilat Betot Nyawa hingga langsung
hangus menjadi abu. Tanpa suara lelaki keji itu melorot.
Mati. Jasad Dedemit dan Pandita Perangai Setan terperangah,
dan merasa harus mengambil langkah seribu. Mereka ngeri
menjadi sasaran berikutnya dari pukulan aneh dan dahsyat
dari serangan Pendekar Slebor.
Andika tak mempedulikan Jasad Dedemit dan Pandita
Perangai Setan lagi. Tubuhnya cepat berkelebat, langsung
memapak serangan Nyi Bengis pada Mirah.
Plak! "Nyi Bengis!" hardik Andika begitu mendarat dua
tombak di hadapan Nyi Bengis. "Hadapilah aku."
Nyi Bengis menyeringai pada Andika. Jelek sekali saat
menunjukkan gigi-giginya yang menghitam.
Tapi begitu seringainya lenyap, pedangnya lelah
menebas Pendekar Slebor.
Andika merunduk untuk menghindar sambil membuat
sapuan kaki ke pinggang Nyi Bengis.
Dukk! Nyi Bengis agak terhuyung mundur beberapa langkah.
Namun wanita ini kembali mengayunkan pedangnya.
"Hup!"
Andika mengangkat tangan kirinya ke arah pedang.
Maka seketika lidah kilat menjilat pedang perempuan tua
itu. Blarrr... ! "Akh!"
Nyi Bengis berteriak menyayat dengan pedang terlepas
dari genggaman begitu tersambar kilat. Tak urung wanita
tua dan kejam itu mengalami nasib yang sama seperti Betot
Nyawa. Tubuhnya gosong, kemudian melorot begitu saja.
Hancur jadi abu.
Mirah yang tadi merasa telah berada di ambang maut
tidak dapat menahan perasaannya sebagai wanita. Si gadis
langsung menghampiri Andika. Segera dipeluknya pemuda
urakan tapi menawan itu. Ia menangis tertahan di pundak
Andika. Peristiwa ini memang mudah sekali mengundang
keterpesonaan orang-orang. Tidak terkecuali, Lampor
Ireng. Apalagi rekannya Jasad Dedemit dan Pandita
Perangai Setan sudah tidak terlihat lagi di situ. Rasa takut
pun menyergap perasaannya.
Andika yang melihat ketakutan di wajah seram Lampor
Ireng jadi tak kuat menahan senyum.
Sementara pada saat yang demikian, Patniraga yang
menjadi lawan Lampor Ireng tak ingin membuang-buang
kesempatan. Seketika Ulos Sakti-nya dikibaskan dengan
tenaga dalam tinggi.
Bet! Bet! Bet! "Aaa..!"
Tiga kepretan beruntun dari Ulos Sakti Patniraga
menghajar Lampor Ireng tanpa ampun.
Lolongan panjangnya saat maut menjemput membuat
Mirah mengangkat mukanya. Disaksikannya bagaimana
Lampor Ireng ambruk di tanah dengan tubuh hancur.
Kematian demi kematian yang menimpa orang-orang
terdekat membuat Malaikat Siluman geram bukan main.
Apa lagi mengingat kematian Nyi Bengis di tangan
Pendekar Slebor. Maka dengan gerakan cepat, Malaikat
Siluman melenting meninggalkan Panglima Andipati yang
menjadi lawannya. Dan tahu-tahu lelaki murah senyum
berhati telengas itu mendarat di depan si pendekar urakan!
"Pendekar Slebor..."
Matahari telah mulai kelelahan di ufuk barat, saat
Malaikat Siluman berteriak dengan suara bergetar.
Andika menyuruh Mirah bergeser lewat jawilan
tangannya. Lalu ditatapnya Malaikat Siluman. Tak ada rasa
gentar sedikit pun di hati pendekar satu ini.
Di tempatnya Panglima Andipati menahan serangan. Ia
hanya tertegun menatap Malaikat Siluman yang telah
berhadapan dengan Andika.
Andika membetulkan kain kotak caturnya. Cuek saja
gayanya. "Ada apa, Malaikat Siluman" Apa kau punya urusan
denganku" Mari.. mari, silakan,"celoteh Pendekar Slebor.
"Kau tahu apa yang harus kau bayar?" desis Malaikat
Siluman. "Aneh, kau ini. Kau jual apa padaku" Jual lagak"
Sayang, aku tak mau membeli lagakmu. Terlalu sepet!"
jawab Andika seenaknya.
Gigi Malaikat Siluman bergemeletuk.
"Kau harus membayar nyawa istriku dengan nyawamu!"
dengus Malaikat Siluman.
"Oh, Nyi Bengis itu istrimu, toh" Boleh..., boleh. Berapa
kau jual nyawa istrimu. Segobang" Dua gobang" Atau...,
uts!" Andika tak meneruskan kata-katanya saat Malaikat
Siluman mengibaskan pedangnya menyabet kepala. Untung
pendekar berwatak menyebalkan itu cepat merunduk.
"Oh, kau ini. Kalau mau nyerang bilang dong"!" maki
Andika seraya menegakkan tubuh kembali.
"Tutup bacotmu! Hiaaa! Hiaaa!"
Malaikat Siluman kembali menyabet pedangnya dengan
kegeraman memuncak. Dan Andika cepat berkelebat
mengandalkan kecepatan geraknya. Hingga tahu-tahu
Malaikat Siluman jadi celingukan karena tahu-tahu Andika
tidak ada lagi di depan matanya.
"Hoei!"
Andika yang tahu-tahu telah berada di belakang
Malaikat Siluman mendorong punggung lawannya dengan
kaki hingga terhuyung ke depan.
"Kurang ajar," sentak Malaikat Siluman langsung


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berbalik. Tubuhnya cepat meluruk sambil menebaskan
pedangnya. Tapi dengan lincahnya Pendekar Slebor berkelit-kelit
menghindari sambaran mata pedang yang berkilatan.
"Sekarang terimalah jurus 'Pedang Kipas'-ku!" dengus
Malaikat Siluman yang merasa kesal dipermainkan oleh si
pemuda. Lelaki sesat itu mengayunkan pedang panjangnya
ke sana kemari dengan kecepatan berlipat ganda hingga
menimbulkan angin yang bertiup kencang.
"Pantasnya kau jadi tukang sate saja, Sobat. Kipasan
pedangmu malah membuatku teringat pada tukang sate di
pasar kadipaten," ejek Pendekar Slebor sambil merem-
melek seolah menikmati lezatnya sate.
Malaikat Siluman geram bukan main. Diterjangnya
Andika penuh dendam kesumat.
"Hup!"
Tapi Andika cepat meloncat melewati kepala lawan. Di
udara kain catur di bahu disambarnya, dan dilempar ke
wajah Malaikat Siluman.
Lelaki tua sesat itu kontan gelagapan. Kesempatan ini
segera digunakan Andika.. Masih di udara, langsung
ditumbuknya kepala Malaikat Siluman dengan tangan
kanan. Prakkk! "Aaa...!"
Hantaman kuat yang mengena di kepala membuat tubuh
Malaikat Siluman bergetar hebat. Andika sendiri cepat
menyambar kain caturnya dan mengalungkannya kembali
ke leher. Lima hitungan kemudian, Malaikat Siluman ambruk
dengan mata melotot. Kepalanya retak merembeskan darah
segar. Sedangkan para murid Jasad Dedemit yang tersisa,
segera menyerahkan diri pada para prajurit Alengka.
(Oodwkz-ray-novooO)
7 Jasad Dedemit dan Pandita Perangai Setan baru berhenti
untuk beristirahat pada tengah malam. Di sepanjang
perjalanan tadi mereka tak habis-habisnya membicarakan
pertarungan yang baru saja dialami.
"Aku rasa kita harus menemukan suatu cara untuk
menangkal i!mu Pendekar Slebor, Sahabatku," cetus Jasad
Dedemit pada Pandita Perangai Setan setelah mereka
menggelosoh dan bersandar di sebatang pohon.
"Ya. Tetapi, bagaimana caranya?" tanya Pandita
Perangai Setan.
"Aku rasa kita mesti menggunakan suatu senjata yang
dapat mementalkan kembali sambaran petirnya. Senjata itu
dapat kita pakai untuk melindungi diri. Kalau bisa, malah
yang dapat mementalkan kembali menjadi senjata makan
tuan," jelas Jasad Dedemit.
"Ah! Kau mengkhayal saja, Kawan. Aku belum pernah
mendengar ada benda seperti itu," sergah lelaki berkepala
plontos itu. Jasad Dedemit terdiam. Pandita Perangai Setan juga
terdiam, dan kini berbaring kelelahan.
"Huh! Tampaknya kita benar-benar berada di pihak yang
kalah," gerutu Jasad Dedemit mendesah.
Pandita Perangai Setan tidak menanggapi. Merasa
kelelahan, matanya terpejam. Kini kedua tokoh aliran
hitam itu tenggelam dalam kelelahan dan pikiran masing-
masing. Tapi sekonyong-konyong....
Plak! "Aduh...!"
Sekonyong-konyong Jasad Dedemit merasakan sebuah
tamparan keras di pipinya.
Plak! "Aduh!"
Ternyata Pandita Perangai Setan juga mengalami hal
yang,sama. Mereka berdua langsung bangkit berdiri. Mata
mereka membeliak, berusaha melihat di gelapnya malam,
mencari-cari sosok yang telah berlaku kurang ajar.
"Siapa kau"! Makhluk sialan! Ayo tunjukkan diri. Jangan
pengecut begitu!" bentak Jasad Dedemit.
"Ha ha ha...!"
Terdengar tawa melengking berkepanjangan.
"Kunyuk! Hantu rupanya," gerutu Jasad Dedemit. "Mau
apa kau main gampar orang. Kau kira kami takut padamu?"
Plak! "Aduhhh...."
Sebuah tamparan yang lebih keras menerpa pipi Jasad
Dedemit hingga kontan jatuh terduduk sambil memegang
pipinya yang berdenyut-denyut.
Sang hantu kembali tertawa melengking.
Sementara, Pandita Perangai Setan segera duk bersila.
Mulutnya komat-kamit merapal ajian. Sesekali meludah,
dan menyentakkan kepala ke belakang.
"Hei...lha! Hei... lha, lha! Blablabla! Wuss...!"
Lelaki plontos itu memonyongkan mulut dan menyemburkan napasnya keras-keras. Dan....
"Wadouw! Jangan, jangan! Sudah! Sudah! Jangan
lakukan lagi."
"Blablabla! Wuss...!"
"Wadpuw! Wadouw! Ampunou. Baik..., baik. Aku akan
menunjukkan diri. Tapi, tolong jangan pukuli aku lagi,
Pandita," ratap si makhluk yang kasat mata itu.
Lamat-lamat, muncul sosok orang berpakaian compang-
camping. Rambutnya sebahu tak terurus. Tubuh masih
berupa bayangan maya. Sehingga pepohonan di belakangnya tampak membayang di tubuhnya.
"Heh"! Hantu Pengemis Gila! Kurang ajar kau, ya,"
hardik Jasad Dedemit. "Berani-berani kau menggampar
kami. Apakah kau tidak tahu siapa kami, heh"! Hajar dia
lagi, Sobat!"
"Ampun! Wadouw! Wadouw! Sudah, dong.... Aku kan
sudah minta ampun. Kasihan, dong," ratap hantu yang
dijuluki Jasad Dedemit sebagai Hantu Pengemis Gila.
Suaranya terdengar mengiba-iba.
"Apa katamu" Kasihan" Lantas kalau kau menggampari
wajah kami tidak kasihan, ya?" ucap Pandita Perangai
Setan. "Adouw, adoouw...! Ampun! Toobaaat...!"
Tubuh Hantu Pengemis Gila meliuk-liuk tanpa bergeser
dari tempatnya. Tangan dan kakinya tetap lurus tak
bergerak, seperti terikat.
"Kapok kau!"
"Kapok.... Aku, kapok. Lepaskan aku. nanti kubantu...."
"Bantu" Apa lagi ini" Sejak kapan kita perlu bantuan
hantu, Sobat Pandita?" kata Jasad Dedemit pada
sahabatnya. "Jangan sombong. Nanti kalian menyesal," bujuk Hantu
Pengemis Gila. "Eb, masih berani menganggap kami sombong" Sobat,
tambahkan lagi.."
"Iya, iya, iyaaa.... Tolong kasih waktu aku untuk bicara."
"Asal jangan bertingkah saja," jawab Pandita Perangai
Setan. "Janji. Aku janji. Begini. Aku tahu, apa yang menjadi
kesulitan kalian. Sejak tadi, aku menguping. Kalian ingin
mengalahkan Pendekar Slebor, bukan" Nah! Aku tabu
caranya," jelas Hantu Pengemis Gila.
"Bagaimana?" tanya Jasad Dedemit mulai tertarik.
"Lepaskan dulu ikatanku," pinta si hantu.
"Eh! Sudah bagus kau tidak kusiksa lagi. Atau, minta
tambah?" Pandita Perangai Setan telah memonyongkan
mulut hendak menyembur si hantu.
"Jangan, jangan.... Baik, baik. Akan kujelaskan. Begini.
Mungkin kalian dapat mengalahkan Pendekar Slebor
seandainya bisa menghilang seperti aku. Pukulan apa pun
tidak akan berguna kalau lawan tidak kelihatan, bukan"
Nah! Kalau kalian bisa menghilang, Pendekar Slebor dapat
dipecundangi," urai si hantu.
Jasad Dedemit dan Pandita Perangai Setan saling
berpandangan sejenak.
"Maksudmu, kami akan menjadi hantu sepertimu?" duga
Jasad Dedemit. "O, tentu tidak. Kalian bisa menghilang kapan kalian
mau, dan tampak kembali kapan kalian mau."
"Beri tahu kami bagaimana caranya!" sambar Pandita
Perangai Setan.
"Di Lembah Petilasan, ada sebuah keris yang terkubur di
dalam sebuah bongkahan batu besar. Namanya, Keris
Penyirna Raga. Carilah batu itu. Dan, hancurkan. Jika keris
bisa diperoleh, kalian akan mampu menghilang seperti yang
kujelaskan."
"Kau tidak berbohong, Hantu Pengemis Gila?" tukas
Jasad Dedemit. "Jangan katakan aku gila. Aku tidak gila. Kalau gila, aku
tidak akan bisa memberitahukan rahasia ini pada kalian,"
ancam si hantu yang enggan dijuluki Hantu Pengemis Gila.
"Belum tentu. Tapi baiklah, Hantu Pengemis. Kau puas
dengan nama itu?"
"Mendingan. Tapi kalau bisa sih, yang bagusan dikit."
"Ab, hantu saja bertingkah! Sudah, Hantu Pengemis saja.
Nah, Hantu Pengemis. Kurasa sekarang kau harus
mengantarkan kami ke Lembah Petilasan. Tunjukkan, di
mana batu yang kamu maksud itu...."
"Ah, kau ini bagaimana" Sudah diberi tahu masih juga
membuatku susah. Pergi sendirilah! Apa dipikir Lembah
Petilasan itu dekat?"
"Sudah, sudah! Jangan banyak bicara! Pokoknya, kau
ikut kami," desak Pandita Perangai Setan. "Atau kau
memang benar-benar pingin tambah lagi?"
Hantu pengemis ngedumel.
"Sekarang aku buka dulu ikatanmu. Tapi, awas jangan
lari bila tak ingin disiksa," ancam Pandita Perangai Setan.
Lelaki plontas itu kini komat-kamit lagi. Matanya
terpejam. Lalu....
"Hayo jalan!" hardik Pandita Perangai Setan.
(Oodwkz-ray-novooO)
Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam,
Jasad Dedemit, Pandita Perangai Setan, dan Hantu
Pengemis tiba di Lembah Petilasan. Sebuah lembah yang
masih berada di dalam wilayah Kerajaan Alengka.
Walaupun lembah itu tidak luas, tetapi ada baiknya juga
Jasad Dedemit memaksa Hantu Pengemis mengantarkan.
Karena bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya mencari
Keris Penyirna Raga di dalam Lembah Petilasan yang
ditutupi Hutan Perawan.
Dengan mengikuti Hantu Pengemis akhirnya kedua
tokoh sesat itu menemukan batu yang dimaksud. Batu itu
berupa bongkahan besar, berada di tengah-tengah lembah.
Di sekelilingnya terdapat rumput pendek berdaun kering
yang tingginya sama. Bukan karena layu tapi memang
rumput-rumput itu berdaun kuning, tumbuh dalam dataran
melingkar dengan garis tengah kira-kira lima tombak. Di
luar lingkaran, barulah ada pohon-pohon yang dahan-
dahannya menjulur hingga di sekitar batu. Sehingga
daunnya menaungi batu di bawahnya.
Beberapa saat Jasad Dedemit dan Pandita Perangai
Setan mengitari tempat itu dengan pandangan kagum.
Tampaknya, tempat itu belum pernah dikunjungi oleh siapa
pun. "Sekarang pekerjaan kalian. Silakan hancurkan batu itu,"
kata Hantu Pengemis.
Pandita Perangai Setan mendekati batu itu. Ketika
kakinya menginjak rumput kuning....
Bress! Lelaki tua plontos itu terperosok tenggelam.
Tap! Untung Jasad Dedemit menjangkau tangannya. Begitu
diangkat Jasad Dedemit, dari kaki hingga perut Pandila
Perangai Setan basah.
"Mengapa kau tidak memberitahukan padaku kalau ada
kubangan di bawah rumput sialan itu, Hantu Jelek"!" maki
si tua plontos.
"Lho, kok" Kok, marah" Mana kutahu" Aku kan, hantu.
Mana pernah menginjakkan kaki di atas rumput itu."
Pandita Perangai Setan mengebas-ngebaskan baju
kuningnya yang basah separo. Sementara Jasad Dedemit
memperhatikan bekas tempat Pandita Perangai Setan
terperosok tadi. Di tempat itu muncul kembali rumput-
rumput yang ikut tenggelam, lalu kembali menjadi seperti
sedia kala. "Tempat ini aneh dan berbahaya. Kita harus hati-hati,
Sobat," Jasad Dedemit memperingatkan.
Baru saja lelaki bertubuh kerempeng itu memperingatkan, Pandita Perangai Setan merasakan gatal
di sekujur tubuhnya yang basah. Tangannya kini sibuk
menggaruk-garuk. Tapi makin lama gatal yang dirasakan
makin memuncak!
"Kenapa kau, Pandita?" tanya Jasad Dedemit heran.
"Aku juga tidak tahu. Aduh, gatal sekali...," ratap si tua plontas.
Pandita Perangai Setan mengeluh-ngeluh sambil berjalan


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke sana kemari. Sedangkan tangannya sibuk menggaruk.
Kadang tubuhnya tegak, kadang meringkuk dan menggigil
menahan gatal. "Hah?"
Pandita Perangai Setan terperanjat ketika melihat
kakinya yang kini memerah tidak berkulit ari. Dicobanya
menggaruk lagi. Kontan si tua ini berjingkrak-jingkrak.
Darah pun mengalir dari kulit yang digaruk. Pakaiannya
mulai berwarna merah, menyerap darah.
"Aaakh...!"
Pandita Perangai Setan menjerit-jerit. merasakan gatal
bercampur perih. Sementara Jasad Dedemit kebingungan
untuk menolong.
"Bagaimana ini, Hantu Pengemis" Apa kau tahu cara
mengobatinya?" tanya Jasad Dedemit.
"Aku juga tidak tahu," jawab Hantu Pengemis dengan
wajah bingung. Pandita Perangai Setan kini telah ambruk dan
menggelepar-gelepar di tanah sambil terus menggaruk-
garuk. Jeritannya sungguh memilukan. Darah makin
banyak mengalir. Juga, dari kedua tangannya yang
menggaruk-garuk. Jasad Dedemit sendiri sampai bergidik
menyaksikan tanpa tahu harus berbuat apa. Apalagi saat
melihat daging Pandita Perangai Setan meleleh.
Kejap kemudian, lelaki plontos itu mengejang-ngejang.
Matanya melotot. Dagingnya habis. Bahkan perutnya
menganga. Selanjutnya, isi perut dan tulang-tulangnya pun
habis mencair. Jasad Dedemit dan Hantu Pengemis terpaku di
tempatnya. Berikutnya....
"Ha ha ha...."
Terdengar tawa gembira Hantu Pengemis.
"Horee.... Sekarang aku bebas! Selamat tinggal, Jasad
Dedemit. Hahaha.... Mudah-mudahan kau mengalami
nasib yang sama dengan pendeta malang itu."
Jasad Dedemit tidak mempedulikan, dan masih
termangu di hadapan mayat sahabatnya yang tinggal
setengah badan. Mengerikan sekali kematian yang dialami
pendeta palsu itu.
Selang beberapa lama, Jasad Dedemit baru terjaga dari
kesedihannya. "Yang sudah mati, sudahlah. Tinggal sekarang aku harus
berusaha memperoleh Keris Penyirna Raga," pikirnya.
Kemudian mata lelaki kerempeng ini menatap batu di
hadapannya sejenak. Dan....
"Heaaa...!"
Bed! Sebuah pukulan jarak jauh dilontarkan Jasad Dedemit.
Tidak terjadi sesuatu.
Jasad Dedemit bersiap lagi. Ia memusatkan seluruh
tenaga dalamnya.
"Heaaa...!"
Trakkk! Pukulan kedua mengakibatkan retakan-retakan pada
batu itu. Sekali lagi Jasad Dedemit memusatkan tenaga
dalamnya. Dan begitu kedua tangannya menghentak....
Daar! Batu itu memang hancur berkeping-keping, tapi hanya
setengah di bagian atasnya saja. Sementara rerumputan
yang tumbuh di sekitar bagian batu yang hancur sudah
terbenam. Dan sebelum rerumputan baru itu menutupi
benar bagian tersebut, Jasad Dedemit masih dapat melihat
ada air di sana. Jadi, batu itu terapung di atas air! Begitu
balu itu bergulir menampakkan bagiannya yang utuh ke
atas, Jasad Dedemit melihat keris itu menempel.
"Keris Penyirna Raga!" pekiknya.
Hampir saja lelaki kerempeng ini hendak meloncat ke
atas batu kalau tidak teringat pada peristiwa yang baru
dialami Pandita Perangai Setan. Kontan gerakannya
ditahan dengan hati kebat-kebit. Ia berpikir bila berdiri di
atas batu itu, tentu akan ikut tenggelam. Bulu romanya
berdiri membayangkan apa yang bakal terjadi bila
kecerobohannya menutup akal sehatnya.
Jasad Dedemit lantas berjalan mengitari rerumputan
maut itu ke bagian samping dari batu. Hatinya yakin, keris
itu menempel kuat pada batu. Bila ia bersalto sambil
mengambil keris tanpa perlu menyentuh rumput atau batu,
tentu harus disertai tenaga dalam. Maka Jasad Dedemit
segera mengerahkan tenaga dalam ke tangan. Lalu....
"Hup!"
Jasad Dedemit melenting tinggi ke udara. Tubuhnya
berputaran, lalu menukik ke arah keris.
Tap! Begitu keris berhasil disambar, lelaki kerempeng itu
berputar kembali, lalu meluncur ke tempat yang aman.
Berbinar-binar Jasad Dedemit setelah berhasil mendapatkan Keris Penyirna Raga.
"Tak kusangka, aku bisa mendapatkan keris ini. Dan aku
pasti mampu menghancurkan Pendekar Slebor," tandasnya,
mendesis. Lama lelaki tua kerempeng ini memperhatikan setiap
lekuk dari keris.
"Tapi, bagaimana menggunakan keris ini untuk
menghilangkan diri?" tanyanya dalam hati. "Sayang sekali,
Hantu Pengemis telah kabur. Seandainya masih ada,
mungkin mau memberitahukannya padaku."
Selagi Jasad Dedemit bertanya-tanya dalam hati,
mendadak segulung angin berkesiuran meluruk dari
samping. (Oodwkz-ray-novooO)
Berada di tempat berbahaya yang bahkan nyawa
sahabatnya telah lenyap membuat Jasad Dedemit bersikap
waspada. Tubuhnya cepat mengegos, membuat serangan
gelap itu luput.
Blarrr...! Seketika sebuah pohon yang jadi sasaran angin berkesiur
kencang tadi hancur berkeping-keping.
"Hantu busuk mana lagi yang mau cari gara-gara, heh"!"
bentak Jasad Dedemit sambil mengedarkan pandangan ke
sekeliling. "Hahahaha!"
Tawa berat disertai tenaga dalam tinggi menggema di
Hutan Perawan. Selanjulnya, pohon-pohon di situ
bertumbangan. "Apa kabar, Dedemit" Jasadmu yang cuma tinggal
tulang-belulang itu seharusnya jadi makanan rayap saja!"
"Siapa kau"! Pengecut! Ayo tampakkan diri!"
"Hahaha. Sudah tidak ingat lagi dengan suaraku,
Dedemit" Kamu ini makin tua saja rupanya, sehingga
tambah pikun!" lanjut si suara.
"Kurang ajar! Hayo keluar! Biar kurobek mulutmu yang
bawel itu!"
"Tunggu. Sabar, Dedemit. Aku mau mempersiapkan
tempat yang lebih luas dahulu untuk kita bertarung."
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu orang yang
bersuara itu telah melepas pukulan jarak jauh. Akibatnya
kembali pohon-pohon bertumangan.
Blar! Blar! Begitu ledakan terakhir terdengar di hadapan Jasad
Dedemit telah berdiri satu sosok tubuh berpakaian jubah
dari kulit harimau.
"Kakek Macan Belang!" Jasad Dedemit terperanjat.
"Bukankah kamu sudah mati?"
Lelaki kerempeng ini jadi berpikir bahwa jangan-jangan
lelaki tua berjubah kulit harimau yang dipanggil Kakek
Macan Belang juga hantu yang akan membalas perlakuan
Pandita Perangai Setan terhadap Hantu Pengemis.
"Terkejut" Hahaha. Terkejutlah sepuasmu sebelum kau
mati, Dedemit," ejek Kakek Macan Belang.
Jasad Dedemit mengamati Kakek Macan Belang dari
ujung rambut hingga ujung kaki. Tampaknya tidak ada
kesamaan dengan Hantu Pengemis. Dia tidak tembus
pandang. Kakinya juga menyentuh tanah. Berarti, bukan
hantu. Penampilannya juga tidak berubah. Masih seperti
dulu dengan jubah dari kulit harimau. Di kakinya
terpanggul toya kuku harimau yang tampaknya beracun.
Wajahnya masih menyeramkan dengan mata mencorong
tajam. Kumisnya menyatu dengan jenggot. Sementara
rahangnya lebar. Mirip sekali dengan harimau!
"Sudah puas terkejut, Dedemit?" usik Kakek Macan
Belang. "Bagaimana kau bisa tetap hidup, Kakek Reot?"
"Bodoh! Kamu pikir aku mati di dasar jurang itu" Dasar
bodoh!" Jasad Dedemit jadi teringat kembali pada pertarungannya dengan Kakek Macan Belang. Mereka
bertarung karena memperebutkan cinta seorang wanita
bernama Puspa Telaga Belis. Padahal, wanita itu telah
berusia lima puluh tahun, tetapi masih jelita. Kedua lelaki
itu tidak ada yang mau mengalah. Alhasil, mereka
menyelesaikannya lewat perlarungan hidup-mati.
Pertarungan yang berlangsung alot pada akhirnya
membuat Kakek Macan Belang terdesak hingga ke pinggir
jurang. Lalu, sebuah pukulan telak Jasad Dedemit
membuatnya terjungkal jatuh ke dalam. Pikir lelaki tua
kerempeng itu pukulannya yang telak telah dapat
menewaskan Kakek Macan Belang. Apalagi, sampai masuk
jurang. Dengan keyakinannya itu, Jasad Dedemit merasa
tak perlu memeriksa ke dasar, apakah perkiraannya betul.
"Peristiwa itu telah lama, Kakek Macan Belang. Bukan
aku yang bodoh. Kita berdua adalah laki-laki yang bodoh,"
kata Jasad Dedemit.
"Huh! Kalau aku bodoh, aku tak akan menemukanmu!"
"Maksudku kita ini sama-sama bodoh, karena Puspa
Telaga Belis tidak mencintai salah seorang di antara kita."
Kakek Macan Belang tertegun sejenak.
"Jam, kau tidak berhasil memperistrinya?"
Jasad Dedemit tertawa pendek. "Tidak.
Sudah kukatakan, ketika aku melamarnya dia menolak."
"Di mana dia sekarang?"
"Sejak dia menolakku, aku tak pernah berjumpa lagi
dengannya."
Kakek Macan Belang tampak sedikit sedih mendengar
Puspa Telaga Belis tidak mencintainya. Padahal, waktu itu
ia sudah sempat akrab dengannya.
Melihat gelagat ini, terbit gagasan dalam pikiran Jasad
Dedemit untuk mengajak Kakek Macan Belang bersatu
melawan Pendekar Slebor. Maklum, mereka berdua sama-
sama memiliki kesaktian yang tinggi dan sama-sama
beraliran hitam.
"Sudahlah.... Lupakan yang sudah lalu. Aku ingin
mengajakmu berkawan untuk satu urusan yang lebih
penting," ajak Jasad Dedemit. Suaranya kini berubah
ramah. "Apa"! Berkawan denganmu?" sentak si kakek berjubah
kulit harimau, ketus. "Setelah hampir berhasil membunuhku kau mengajakku berkawan" Sinting barangkali kau, ya?"
"Buat apa kita mempersoalkan hal yang sama-sama tidak
bermanfaat lagi, Kakek. Macan Belang?"
"Karena aku masih hidup, kau bisa bicara begitu,
Dedemit. Tidak! Aku tidak peduli dengan urusanmu. Yang
jelas, sekarang kita punya urusan yang jauh lebih penting!
Bersiaplah untuk mampus, Jasad Dedemit! Hiaaa!"
Begitu tuntas kata-katanya, Kakek Macan Belang
meluruk menyerang disertai teriakan kencang. Toya
berkuku macannya diputar-putar di atas kepala.
"Hup!"
Jasad Dedemit melompat ke belakang, menghindar.
Begitu mendarat, Keris Penyirna Raga disimpannya ke
balik baju hitamnya. Lalu, senjata rantai berujung
tengkorak yang melilit kedua tangannya dikebutkan,
memapak serangan Kakek Macan Belang selanjutnya.
Namun baru beberapa jurus pertarungan berlangsung,
Jasad Dedemit menyadari kalau Kakek Macan Belang
sekarang tentu telah lebih hebat daripada dulu sewaktu
mereka berdua bertarung. Maka tiba-tiba senjata rantai
berujung tengkorak dilemparkan begitu saja ke tanah, dan
bersiap dengan tangan kosong.
Sebelum menyerang kembali, kening Kakek Macan
Belang berkernyit melihat perilaku Jasad Dedemit yang
baru baginya. Tetapi kemudian, lelaki berjubah kulit
harimau itu telah melompat dan menyodokkan toya kuku
macan. Bed! "Uts!"
Jasad Dedemit tak gentar. Cepat tubuhnya bergeser ke
samping, lalu bergerak maju seraya menurunkan pukulan


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

maut bertubi-tubi.
Jurus berganti jurus. Pukulan berganti pukulan. Setiap
kali merasakan kalau Jasad Dedemit meningkatkan jurus-
jurus dan pukulan-pukulannya, Kakek Macan Belang juga
melakukan hal yang sama. Demikian pula sebaliknya.
Masing-masing mengakui dahm hati bahwa lawan telah
lebih hebat daripada pertemuan terakhir waktu itu.
Setelah melewati jurus kesembilan puluh delapan, Jasad
Dedemit mulai terlihat kekalahan. Keadaannya mulai
terdesak. Rupanya, Kakek Macan Belang benar-benar telah
mempersiapkan diri guna menggenapi dendam kesumatnya.
Bed! Sebuah sabetan kuku beracun pada ujung toya Kakek
Macan Belang meluncur cepat. Saking cepatnya sehingga
lak mungkin dapat dihindari lagi oleh Jasad Dedemit.
Pada saat gawat itu, Jasad Dedemit teringat Keris
Penyirna Raga di balik baju. Cepat dicabutnya keris itu, dan
ditangkisnya serangan Kakek Macan Belang.
Trak! "Heh..."!"
Kakek Macan Belang melongo heran melihat serangannya ditangkis. Lebih heran lagi ketika ternyata
kepala Kakek Macan Belang menoleh ke kanan dan ke kiri
mencari-cari. Tubuhnya lantas berbalik ke belakang.
Desss...! "Aaakh...!"
Kakek Macan Belang kontan terjerembab ke depan
hingga tiga tombak jauhnya ketika tiba-tiba sebuah
hantaman keras menghajar dadanya.
"Hoooekh!"
Lelaki berjubah kulit harimau itu muntah darah.
Tetapi kemudian cepat bangkit sambil melihat ke
sekeliling seperti mencari-cari sesuatu.
Jasad Dedemit yang belum menyadari keadaannya
berjalan perlahan mendekati. Dan lelaki ini jadi heran
melihat Kakek Macan Belang tidak menjauhinya. Maka
tanpa membuang kesempatan, dipukulnya jidat Kakek
Macan Belang dengan tenaga dalam penuh.
Plakkk...! "Akh!"
Kakek Macan Belang langsung ambruk dengan kepala
pecah. Sejenak tubuhnya melejang-lejang, lalu diam tak
bergerak lagi. Mati.
Jasad Dedemit masih terheran-heran dengan Kakek
Macan Belang yang seolah-olah tak ingin menghindari
serangannya. "Kenapa, ya?" tanyanya.
Tak lama berselang, lelaki kerempeng itu melirik Keris
Penyirna Raga dalam genggamannya.
"Hm.... Pasti keris ini telah bekerja," pikirnya sambil
meraba-raba tubuhnya. "Apakah aku sekarang menghilang"
Ah, itu tidak terlalu penting."
Jasad Dedemit menyeringai.
"Pendekar Slebor! Tunggulah aku. Kematianmu sudah
dekat!" Selesai berseru demikian, lelaki kerempeng itu melangkah bersemangat. Dipegangnya erat-erat Keris
Penyirna Raga. Ditinggalkannya begitu saja senjata rantai
bel ujung tengkoraknya. Juga, mayat Kakek Macan Belang
yang bersimbah darah.
(Oodwkz-ray-novooO)
8 Gugurnya Perwira Parameswara, Panglima Butong Aji,
dan Panglima Andipati yang akhirnya meninggal pula
setelah terluka parah, menjadikan suasana istana Kerajaan
Alengka hingga hari ini masih diselimuti duka. Ketiga
pahlawan Kerajaan Alengka itu telah dikuburkan melalui
suatu upacara kenegaraan.
Bagi Prabu Alengka, dengan dikalahkannya kelompok
Jasad Dedemit, berarti ketenteraman dan keamanan
diharapkan dapat segera pulih. Jadi, meski berduka dengan
gugurnya tiga orang putra-putra terbaik, tetapi di pihak lain
Kerajaan Alengka juga bersuka cita akan berhasilnya
perjuangan. Hal ini memberi semangat baru bagi setiap
pengemban tanggung jawab kerajaan, dari prajurit hingga
petinggi. Apalagi, Prabu Alengka saat itu juga telah
menyatakan pengganti-pengganti kedudukan mereka yang
telah gugur. supaya roda pemerintahan segera berjalan
stabil kembali.
Patniraga sendiri belum mau kembali ke Tanah Toba
karena merasa apa yang diperbuatnya masih belum tuntas.
Terutama bila mengingat kalau Jasad Dedemit masih
hidup. Dengan begitu, ia juga merasa kalau hutangnya
terhadap Pendekar Slebor belum lunas. Untuk memanfaatkan waktu luang, Pendekar Ulas Sakti ini
berlatih untuk memenuhi janji pada gurunya.
Adapun yang sedang diperdalam lelaki ini adalah jurus-
jurus yang terdapat pada kitab keempat puluh delapan ilmu
'Ulos Sakti'. Sang Guru memang sengaja menyuruhnya
membawa kitab itu agar dapat dipelajari sambil menunaikan tugas yang diberikan Raja Sahala.
Andika sendiri tengah berbincang-bincang dengan
Mirah. Memang, hari ini merupakan hari terakhir
pertemuan mereka. Karena Mirah telah memutuskan
pulang ke Sentul Reja. Itu sebabnya, sebagai pejantan,
Andika merasa tak ingin menyia-nyiakan.
"Aku akan kehilanganmu, Mirah...," buka Andika.
"Aku juga, Andika," sahut Mirah.
"Padahal, aku belum bisa membayar hutangku
padamu..."
"Ah, kau ini. Kan waktu itu aku yang mengajakmu
makan di kedai. Jadi aku yang membayar."
"Jangan gitu, Mirah. Waktu itu aku bilang, aku yang
membayar. Jadi hutang adalah hutang. Ah, begini saja, Biar
nanti hutangku kuantarkan ke Sentul Reja, tempat
tinggalmu."
"Terserahmulah," desah Mirah.
"Kau tak keberatan, kan?" tanya Andika.
"Mengapa mesti keberatan kalau kau mau datang ke
rumah?" tukas Mirah. .
"Bukan.... Maksudku, kau tak keberatan kan kalau aku
minta sun sedikit...," celoteh Andika, mengalir begitu saja. -
. Wajah Mirah langsung berubah merona. Jantungnya
berdetak lebih kencang. Si gadis ingin langsung mengiyakan, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Hanya
saja, kepalanya lantas sedikit mengangguk dengan mata
terpejam. Andika tahu isyarat yang diberikan Mirah. Matanya pun
ikut-ikutan terpejam dengan bibir monyong, hendak
nyelonong ke bibir Mirah. Tapi seujung kuku lagi bibir
Andika mendarat....
Tuk! "Aduh!"
Si pendekar urakan kontan membekap bibirnya yang
terasa menjadi tebal ketika sebuah kerikil menghantam.
Langsung saja pemuda ini membuka mata dan menoleh ke
arah datangnya sambutan.
"Slompret! Usil sekali kau ini, Kawan!" maki Andika
begitu melihat si penyerang gelap yang tak lain Patniraga.
Lelaki ini tampak berusaha menahan tawa terpingkalnya.
Mirah sendiri yang telah membuka matanya setelah
mendengar bentakan Andika jadi salah tingkah dengan
wajah merah. "Maaf. Mengganggu, nih," kata Patniraga, setelah
mampu meredam tawa terpingkalnya.
Di belakang Patniraga telah berdiri Togap. Dan saking
kesalnya Andika, perhatiannya kini ditujukan pada Togap,
tanpa menanggapi Patniraga.
"Hei, Gap! Dari mana saja kau?" sapa Andika, ramah.
"Aku mengikuti Jasad Dedemit dan Pandita Perangai
Setan," jawab Togap. Selanjutnya, Togap menceritakan
semua yang disaksikannya. Dari saat Pandita perangai
Setan dan Jasad Dedemit kabur, sampai tewasnya Kakek
Macan Belang. Memang, begitu kedua tokoh hitam itu
kabur dari medan pertarungan, Togap terus membuntuti
dari jarak tertentu. Dan lewat ilmu meringankan tubuhnya
telah cukup tinggi, kehadirannya sama sekali tak diketahui.
"Hm.. Aku pernah mendengar sedikit tentang Keris
penyirna Raga itu. Tapi tak tahu di mana. Rupanya di
Lembah Petilasan, ya," gumam Andika, ketika Togap
selesai dengan penuturannya.
"Jasad Dedemit sedang dalam perjalanan menuju
kemari, Pendekar Slebor," beri tahu Togap.
"Kalau begitu mari kita pergi sekarang menyongsong
dia." "Tunggu, Bor!" cegah patniraga, tak peduli apakah
nantinya Pendekar Slebor menanggapi atau tidak. "Kau
tahu sekarang kalau Jasad Dedemit memiliki Keris
Penyirna Raga. Itu berarti, dirinya dapat menghilang dari
pandangan mata. Aku khawatir kau takkan dapat
mengalahkannya. Baiknya, kau pikirkan dahulu."
"Aku tak takut mati," sahut Andika, agak ketus.
Keketusannya merupakan ungkapan kekesalan hatinya atas
tingkah Patniraga tadi.
"Bukan itu maksudku, Bor. Kau harus pikirkan dahulu,
bagaimana mengatasi kesaktian Keris Penyirna Raga!"
Andika beranjak, lalu berjalan mondar-mandir. Lalu
didekatinya Patniraga.
"Sekali lagi kau ganggu aku, kutendang kau sampai
Danau Toba," ancamnya, berbisik. Lalu suaranya
dikeraskan. "Bagaimana menurutmu, Sobat?"
"Begini saja menurutku," sambut Patniraga. "Besok saja
kita pergi. Lagi pula, aku sedikit lagi akan menyelesaikan
latihanku. Jadi, kau dapat berpikir leluasa. Dan aku siap
membantumu."
Andika berjalan mondar-mandir lagi. Lagaknya mirip
nenek-nenek yang menunggu cucu nakalnya.
"Baiklah kalau begitu. Kita pergi besok," putus Andika.
"Aku ingin ikut membantu juga, Andika," cetus Mirah.
"Jangan, Mirah. Bukan aku tidak menghargai niat
baikmu. Tetapi kukira, kau memang harus pulang. Kasihan
ibumu yang baru saja kehilangan suami. Ia pasti
memerlukanmu. Aku rasa, kami berdua sudah cukup untuk
menghadapi Jasad Dedemit."
Mirah yang hatinya memang telah risau memikirkan
ibunya sendirian di Sentul Reja akhirnya diam saja.
"Hati-hati, Andika. Aku berharap bisa mendapat kabar
yang menggembirakan tentang dirimu sesegera mungkin."
"Kalau begitu aku akan segera menyusulmu selesai
mengurus si Jasad Dedemit. Setuju?"
Mirah tertunduk dengan senyum cerah. Perlahan
kepalanya mengangguk. Sementara, diam-diam Togap dan
Patniraga meninggalkan kedua anak muda yang sedang
dimabuk asmara itu.
(Oodwkz-ray-novooO)
9 Jasad Dedemit yang sedang dalam perjalanannya
menemui Pendekar Slebor untuk menuntaskan dendam
kesumatnya ternyata masih memiliki satu tanda tanya akan
senjata Keris Penyirna Raga yang kini telah di tangannya.
Pertanyaan itu adalah, bagaimana caranya menghilangkan
diri dari pandangan lawan lewat keampuhan keris sakti itu
kapan saja dia mau.
Pada pertarungan melawan Kakek Macan Belang, lelaki
kerempeng ini telah mengetahui bahwa kerja keris itu
terjadi saat berbenturan dengan senjata lawan. Namun yang
menjadi pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau lawan
tidak menggunakan senjata" Lain, apakah bisa jika
dibenturkan ke benda lainnya" Misalnya ke tangannya
sendiri, ke tanah, atau ke batu" Sampai saat ini Jasad
Dedemit masih kebingungan sendiri.
Selagi berada dalam kebingungan Jasad Dedemit
berpapasan dengan dua lelaki yang wajahnya serupa satu
sama lain. Demikian pula, pakaian ketat warna merah yang
dikenakan yang membedakan hanyalah ikat kepala yang
dikenakan masing-masing Satu berwarna putih, dan yang
satu lagi kuning.
Siapakah kedua lelaki itu"
Dalam dunia persilatan, sebenarnya hanya mereka yang
mempunyai ciri seperti itu. Maka tak heran kalau mereka
dijuluki sebagai Pendekar Kembar.


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apa yang hendak dilakukan Pendekar Kembar dalam
perjalanan menuju Istana Alengka untuk menemui
Pendekar Slebor"
Rupanya, kabar tentang penempuran antara golongan
putih serta prajurit-prajurit Kerajaan Alengka melawan
tokoh aliran hitam telah merebak di dunia persilatan. Kabar
itu menjadi perbincangan yang hangat, baik di kalangan
aliran putih maupun aliran hitam. Sebagai orang-orang
aliran putih, Pendekar Kembar amat membenci penjagalan
yang dilakukan Jasad Dedemit dan kawan-kawan terhadap
rakyat kecil. Itu sebabnya, mengapa Pendekar Kembar ingin
menemui Pendekar Slebor. yang tak lain ingin menyatakan
dukungan atas perjuangan pemuda yang dikenal berwatak
ugal-ugalan itu.
"Hm... kebetulan sekali. Mereka bisa dijadikan bahan
untuk uji coba," kata Jasad Dedemit dalam hati. Jasad
Dedemit tersenyum penuh kelicikan. Dinantinya hingga
kedua lelaki kembar itu mendekat.
"Pendekar Kembar!" seru Jasad Dedemit Kedua
pendekar yang mirip satu sama lain itu memandang dengan
kening berkerut saat berhenti melangkah. Mereka heran
bukan main. Karena yang mereka dengar, Pendekar Slebor
dan kawan-kawannya mendapat kemenangan dalam
pertempuran melawan para tokoh hitam. Bahkan sebagian
tokoh hitam tewas di dan laga.
"Jasad Dedemit! Rupanya kau tak ikut mati di tangan
Pendekar Slebor?" kata salah satu Pendekar Kembar yang
berikat kepala kuning.
"Hahaha. Siapa bilang Jasad Dedemit sudah mati"
Apalagi setelah Keris Penyirna Raga sekarang telah berada
di tanganku. Aku tidak akan mati," sahut Jasad Dedemit,
pongah sambil menunjukkan keris di tangan.
"Apa hubungannya dengan keris jelekmu itu?" tanya
Pendekar Kembar yang berikat kepala putih. Nadanya
mengejek. "Kalian tidak perlu tahu. Yang penting, sekarang aku
akan mengadakan perhitungan dengan Pendekar Slebor.
Tapi sebelum itu, aku ingin membunuh kalian sebagai
tumbal!" desis Jasad Dedemit.
Begitu kata-katanya selesai Jasad Dedemit menyerang
Pendekar Kembar. Sebenarnya, serangan itu hanya
gertakan. Sehingga tak heran bila Pendekar Kembar dapat
menghindar dengan mudah dengan mengenyahkan tubuh
ke kiri dan kanan.
"Baiklah kalau itu memang maumu. Kami yang akan
menggantikan Pendekar Slebor membalas semua darah
rakyat tak berdosa yang telah kau bunuh!"
Kedua pendekar berwajah kembar itu segera menyerang
Jasad Dedemit serempak.
"Huuup!"
Tap! Tapi Jasad Dedemit telah melompat ke atas melewati
kepala kedua lawannya. Di udara Keris Penyirna Raga
ditepuk dengan tangannya. Begitu mendarat, tubuhnya
berbalik untuk memperhatikan kedua lawan.
Benar apa yang diduga Jasad Dedemit. Kini tampak
Pendekar Kembar celingukan, mencari-cari.
"Hei, Jasad Dedemit! Keluar kau! Kami bukan anak kecil
yang senang diajak main petak umpet," teriak Pendekar
Kembar yang berikat kepala putih.
Jasad Dedemit menyeringai.
"Orang-orang tolol!" desisnya seraya menghentakkan
kedua tangannya melepaskan pukulan jarak jauh dengan
tenaga dalam penuh.
Bed! Bed! bess! Dess! "Akh!"
Kedua orang kembar itu kontan terjengkang hingga lima
tombak sambil menekap dada Dari mulut dan telinga
tampak mengalir darah segar, karena bagian dalam tubuh
mereka hancur. Sebentar mereka meregang nyawa, lalu
diam tak bergerak lagi. Aneh!
Begitu kedua lawan-lawannya mati, sosok Jasad
Dedemit kembali terlihat tak lagi berupa bayangan maya.
(Oodwkz-ray-novooO)
"Huahahaha...! Sekarang aku tahu," sorak Jasad
Dedemit sambil menatap kerisnya. "Terima kasih Keris
Penyirna Raga! Tak lama lagi...."
"Hiaaat!"
Belum juga kata-katanya tuntas, Jasad Dedemit harus
bergulingan di tanah ketika merasakan angin menyambar ke
arahnya bersama kelebatan bayangan coklat putih.
"Orang busuk sepertimu tidak patut hidup, Jasad
Dedemit! Caramu adalah cara banci yang harus ditumpas
dari muka bumi!" desis si bayangan putih, begitu mendarat.
"Hahahaha! Datang lagi satu nyawa untuk tumbalku,"
sambut Jasad Dedemit seraya bangkit berdiri.
"Hei, Pendekar Janggut Putih! Lebih banyak yang mati
di tanganku, lebih yakin aku akan kesaktian Keris Penyirna
Raga ini. Maka jangan dikira kau dapat lolos hidup-hidup
dariku. Tapi sebelum mati, beruntung bagimu dapat
menyaksikan kesaktian keris ini!"
Sebagaimana julukannya yang disebut Jasad Dedemit,
sosok lelaki tua yang baru datang dan langsung menyerang
memang berjanggut putih sampai ke leher. Pakaiannya
terbuat dari kulit kayu. Senjatanya berupa tongkat pipih
yang setajam pedang berada di tangan kanan.
Rupanya, Pendekar Janggut Putih mempunyai tujuan
sama dengan Pendekar Kembar, diam-diam memergoki
pertarungan tadi. Lelaki tua yang berada di golongan putih
ini pun demikian benci menyaksikan cara Jasad Dedemit
bertarung melawan Pendekar Kembar.
"Hatimu busuk, mulutmu bau! Jangan banyak cincong.
Bersiaplah untuk menebus kelicikanmu!"
Pendekar Janggut Putih melompat menyerang. Tapi
mudah sekali Jasad Dedemit menghindar sambil tertawa
lebar. Begitu tubuhnya bergeser ke samping, Keris Penyirna
Raga ditepuk. Pak! Tahu-tahu saja, sosok Jasad Dedemit kembali menghilang. Bingung tidak melihat sosok lawannya, Pendekar
Janggut Putih berputar di tempat mengikuti suara desir
angin yang mengitari dirinya. Kupingnya dipasang dengan
cermat berusaha menangkap gerakan lawan. Pada saat yang
dirasa tepat, tiba-tiba tangan kiri menghantam ke depan.
"Heaaa...."
Bed! "Uf!"
Terdengar suara Jasad Dedemit. Melihat telapak tangan
pendekar berjanggut putih itu terarah tepat padanya,
tubuhnya segera berjungkir balik di udara. Tawanya kontan
berhenti. Matanya memandang geram pada lawan yang
tengah menyimak dengan kuping.
Tapi lelaki sesat bertubuh seperti papan penggilasan itu
segera tersenyum geli melihat perilaku-perilaku lucu
lawannya setelah Keris Penyirna Naga digunakan.
Kini Jasad Dedemit memusatkan penuh tenaga
dalamnya. Lelaki ini tahu, yang dihadapinya adalah salah
satu pendekar digdaya di rimba persilatan.
"Hup...!"
Pendekar Janggut putih tiba-tiba membuang diri ke
samping secepat kilat, saat indra keenamnya merasakan
lesatan pukulan jarak jauh yang dilontarkan Jasad Dedemit.
Begitu serangannya luput, Jasad Dedemit langsung
melompat ke udara. Dilewatinya kepala si tua berjanggut
putih itu, dan mendarat di belakangnya.
Saat itu juga segera dilepaskannya satu pukulan dahsyat
ke arah kepala.
Prakkk...! "Aaakh...!"
Akibat Jasad Dedemit menggunakan secara penuh
tenaga dalam di tangannya, pendekar tua itu terjengkang ke
depan sejauh lima tombak dengan kepala pecah! Begitu
ambruk di tanah, tak dapat bangkit lagi. Tewas.
"Ha ha ha...!"
Jasad Dedemit tertawa senang sambil mengusap-usap
kerisnya. Kini lelaki ini mendapat dua pengetahuan
tambahan. Keris Penyirna Raga cukup ditepuk agar
tubuhnya dapat menghilang dari pandangan lawan. Kedua,
tubuhnya dengan sendirinya akan terlihat kembali setelah
lawannya bertarung tewas.
"Keris sederhana, tetapi kesaktiannya mengagumkan,"
desisnya. "Siapa nyana aku dapat memiliki. Bahkan dengan
keris ini aku dapat menguasai rimba persilatan!"
(Oodwkz-ray-novooO)
l0 Pagi itu, Andika, Mirah, Patniraga, dan Togap telah
berjalan meninggalkan istana setelah berpamitan pada
Prabu Alengka. Di persimpangan jalan, air mata Mirah
telah meleleh membasahi pipi ketika hendak berpisah
dengan Andika. Sedangkan Patniraga dan Togap menyingkir, sebentar memberi kesempatan kepada kedua
anak muda yang tengah berpelukan itu.
"Tunggulah aku di Sentul Reja, Mirah. Aku pasti segera
datang. Tapi jangan lupa. Sediakan aku ikan bakar serta
lalap petai, ya?" kata Andika lembut. Sifat konyolnya tak
juga lenyap. "Aku menunggumu dan berdoa untuk keselamatanmu,
Andika. Jaga dirimu baik-baik," ucap Mirah.
Andika melepaskan dekapannya. Dihapusnya air mata
Mirah dengan jari-jari tangannya. Keduanya tersenyum.
Andika lantas berbalik, melangkah meninggalkan si gadis.
"Salamku untuk ibumu!"
Mirah melambaikan tangannya sambil mengangguk.
(Oodwkz-ray-novooO)
Patnirnga dan Togap membiarkan Andika tenggelam
dalam perasaannya beberapa lama dalam perjalanan.
Mereka tak tahu kalau sebenarnya Andika sedang berpikir
keras, bagaimana caranya melumpuhkan Jasad Dedemit
yang telah memiliki Keris Penyirna Raga.
"Kau sedih rupanya berpisah dengan gadismu itu," bisik
Patniraga. "Sedikit," jawab Andika enteng.
Patniraga terkekeh menyadari pertanyaan tololnya.
"Tapi tidak apa-apa. Aku akan segera menemuinya
setelah mengalahkan Jasad Dedemit. Habis, aku penasaran
sih...," kata Pendekar Slebor.
"Dengan pelukan dan ciumannya?"
"Bukan. Itu, lho. Ikan bakar dan lalap petainya!" sahut
Andika sambil merem melek membayangkan makanan
yang dimaksud. "Ah, kau ini. Oh, ya apa sudah kau pikirkan bagaimana
caranya mengalahkan Jasad Dedemit?" tanya Pendekar
Ulos Sakti. "Sudah," sahut Andika enteng.
Mata Patniraga kontan berbinar-binar. Sungguh, hatinya
mengagumi kehebatan pendekar muda satu ini.
"Bagaimana" Ingatlah! Pukulan petirmu atau pukulan
apa pun, tidak akan berarti jika tidak tahu lawan di mana,"
kejar Patniraga.
"Gampang.... Tenang saja...," ujar Andika, membuat
penasaran Patniraga.
"Iya.... Tapi bagaimana?"
"Bagaimana latihanmu?" Andika malah membelokkan
arah pembicaraan. Hal ini membuat Patniraga kian
mangkel saja. "Apakah kau sudah berhasil meningkatkan
seperempat lagi tenaga dalammu seperti yang kau
ceritakan?"
Lagak si pendekar urakan satu ini memang menyebalkan. Enak saja mempermainkan rasa penasaran
orang lain. Bahkan gayanya dibuat bagai seperti seorang
guru terhadap murid. Ingin rasanya Patniraga mencekiknya. "Ya. Semalam akhirnya aku berhasil. Kenapa rupanya?"
sahut Patniraga, akhirnya. Padahal hatinya masih kesal
dikerjai begitu.
"Bagus! Beruntung sekali aku memiliki teman sepertimu.
Berarti aku bisa dibantu," cetus Andika.
"Maksudmu?" tanya Pendekar Ulos Sakti heran.
Sambil terus melangkah, Andika menceritakan gagasannya. "Begini. Kupikir, menghilangnya Jasad Dedemit dengan
kesaktian Keris Penyirna Raga dari pandangan mata, tidak
berarti bahwa ia menjadi roh halus. Jadi, ia masih dapat


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terkena pukulan. Begitu, bukan?" papar Pendekar Slebor.
Patniraga mengangguk. Sedangkan Togap menyimak
dengan sungguh-sungguh.
"Hanya persoalannya sekarang, bagaimana aku tahu
keberadaan lawan jika menghilang" Nah! Di sinilah kupikir
kau dapat membantuku, Kawan."
"Lantas apa yang harus kulakukan?" tanya Patniraga,
belum mengerti.
"Dengan suara kepretan Ulos Sakti-mu! Tentu Jasad
Dedemit akan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya
untuk melindungi pendengarannya. Tapi, dia pasti tak
menyangka, seberapa kuat suara kepretanmu setelah kau
berhasil meningkatkan satu tiga perempat kali lipat dalam
beberapa hari ini. Jika kau benar-benar telah berhasil
meningkatkan tenaga dalam, maka suara kepretan ulosmu
akan membuatnya mengaduh, bukan" Nah! Pada saat dia
mengaduh, aku akan bisa menentukan keberadaannya...."
urai Andika. Patniraga manggut-manggut mulai menangkap jalan
pikiran Andika. Sungguh hatinya mengagumi kecerdikan
pendekar satu ini, walau sifatnya menyebalkan.
"Jadi maksudmu pada saat dia mengaduh dan kau tahu
keberadaannya, barulah petirmu dikirim ke arahnya?"
"Tul!"
"Jadi aku melecut, kau menyambar?"
"Tul sekali! Seratus untuk Patniraga."
Mereka tertawa.
"Bagus juga jalan pikiranmu," tanggap Patniraga. "Cuma
kalau luput, bagaimana?"
"Ini dia yang repot," kala Andika sambil nyengir.
"Aku ragu kepretan ulosmu yang kedua dan seterusnya
akan mampu membuatnya menjerit. Soalnya, tenaga dalam
si penggilasan itu tergolong tinggi. Aku yakin setelah
pengalaman pertama, dia tidak bisa dikadali lagi."
"Apa itu dikadali?"
"Diakal-akali! Huh! Tua-tua otakmu tumpul juga! Masa'
tidak tahu 'dikadali'?"
"Eee..., pakai bahasa yang baiklah."
"Sudah, sudah! pokoknya artinya begitu."
"Jadi bagaimana selanjutnya, Bor?" tanya Patniraga lebih
lanjut. "Bagaimana lagi" Menurutku kalau aku gagal, ya aku
akan mati. Karena kali ini tak ada kesempatan kedua.
Kesempatan pertama harus diraih kalau tidak mau
runyam," sahut Andika, mangkel juga menghadapi otak
bebal Pendekar Ulos Sakti.
"Ada. Ada, kok, kesempatan kedua," jawab Patniraga.
"Bagaimana, coba?" tanya Andika.
"Kabur!"
"Slompret!" maki Andika.
Matahari di atas terus bergerak perlahan. Cahayanya
agak tertahan oleh awan-awan kelabu yang mulai
bergerombol. Mereka terus berjalan dengan hati penuh
keyakinan bahwa Tuhan menyertai.
Sementara di suatu tempat dalam arah yang berlawanan,
Jasad Dedemit juga terus melangkah dengan keyakinan
sama. Jubah abu-abunya yang bergambar kerangka manusia
melambai-lambai ditiup angin. Sesekali ia memeriksa ke
balik bajunya, untuk memastikan bahwa Keris Penyirna
Raga masih ada.
(Oodwkz-ray-novooO)
11 "Cucuku, Andika."
Sebuah suara panggilan membuat Andika tersentak.
Ketika menoleh, tampak seorang lelaki tua tengah duduk
bersila di atas batu besar. Pendekar Slebor yang tengah
beristirahat bersama Patniraga dan Togap segera beranjak
mendekati dengan wajah cerah. .
"Eyang Ki Saptacakra!" panggil Andika perlahan. Segera
pemuda ini menghaturkan hormat pada eyang buyutnya.
Patniraga dan Togap yang tak beranjak hanya
memandang heran. Mereka tak tabu, siapa orang tua itu.
"Ada apa gerangan Eyang datang kemari dari Lembah
Kutukan?" tanya Andika, masih terkejut bertemu eyang
buyutnya di tempat ini.
"Aku sengaja menemuimu, karena engkau dalam
bahaya," sahut lelaki tua yang ternyata Ki Saptacakra.
"Maksud Eyang?"
"Ketahuilah! Raga yang menghilang dari pandangan
karena kesaktian Keris Penyirna Raga, tidak dapat
disambar petirmu, sebagaimana yang pernah kau lakukan
terhadap lawan-lawanmu yang lain."
Andika tersentak kaget. Berarti rencananya bakalan sia-
sia. "Aku juga tahu rencanamu berdua dengan Patniraga
yang akan menaklukkan Jasad Dedemit. Ketahuilah.
Rencana kalian sama sekali tidak akan berarti bagi Jasad
Dedemit." "Dari mana Eyang tahu semua ini?"
"Di zaman aku masih hidup, Keris Penyirna Raga
sebenarnya telah dimiliki seorang tokoh hitam. Namanya,
Bejeng Warok. Dengan Keris penyirna Raga, dia
merupakan orang yang paling ditakuti di dunia persilatan.
Baik di aliran hitam maupun putih. Karena ilmunya
termasuk alira hitam, maka ia tidak pernah membiarkan
hidup setiap tokoh persilatan aliran putih yang ditemuinya."
"Gila! Kejam sekali!"
"Begitulah. Sampai akhirnya, eyang buyutmu ini
menemukan Air suci di Lembah Kutukan. Kusebut
namanya dengan Air Suci Penangkal Raga Sirna. Kau tidak
menemukannya sewaktu berada di sana. Aku juga tidak
menunjukkannya padamu. Karena kupikir, saat itu belum
perlu. Sekarang aku membawakannya untukmu. Minumlah," ujar Ki Saptacakra.
Ki Saptacakra mengambil tempurung kelapa yang
tergeletak dekat dengkulnya. Disodorkannya tempurung itu
pada Andika. Pendekar Slebor segera meminum air suci di dalam
tempurung hingga habis.
"Lalu bagaimana dengan nasib Bejeng Warok, Eyang?"
tanya Andika. Ki Saptacakra tersenyum menatap Andika.
"Mudah-mudahan di tanganmu Jasad Dedemit bernasib
sama dengan Bejeng Warok di tanganku. Selamat berjuang,
Buyutku!" katanya menyebut Andika dengan panggilan
Buyut. Sehabis berkata begitu, Ki Saptacakra raib begitu saja.
Patniraga serta Togap segera banyak bertanya pada
Andika tentang orang tua itu. Dan seperti biasa Andika
menjawab asal-asalan saja.
(Oodwkz-ray-novooO)
"Ha ha ha...!"
Sebuah tawa pongah berkepanjangan membuat langkah
Pendekar Slebor, Pendekar Ulos Sakti, dan Togap terhenti.
Ternyata, Jasad Dedemit tahu-tahu telah berdiri menghadang. Di tangan kirinya Keris Penyirna Raga
tergenggam. Tangan kanannya menunjuk Pendekar Slebor.
"Hei, Slebor!" ejek Jasad Dedemit. "Kau sudah memberi
pesan mau dikubur di mana" Kalau belum, cepatlah pesan
dulu pada kawan-kawanmu itu. Ha ha ha! Biarlah. kali ini
aku akan membiarkan mereka berdua hidup, supaya bisa
melaksanakan pesanmu. Ha ha ha!"
"Hei, Tua Bangka papan penggilasan!" balas Andika.
"Kau yakin sekali rupanya" Tapi. tunggu dulu. Kalau kau
kalah bertarung denganku, bolehkah kupinjam Keris
Penyirna Raga barang sebentar?"
Terkesiap Jasad Dedemit mendengar Andika telah
mengenali keris di tangannya. Seketika matanya menghujam pada Togap.
"Ooo, pasti kampret itu yang memberi tahu. Hei, Tikus
Buduk! Rupanya kamu mengikuti terus ke mana aku pergi.
Tunggu giliranmu habis ini, ya," ancam Jasad Dedemit
pada Togap. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!" kata
Pendekar Slebor.
"Buat apa kau ingin meminjam kerisku?"
"Kalau nanti aku bisa menghilang, aku kan bisa leluasa
mendatangi kamar perempuan.... He he he.... Pasti kau juga
begitu, ya" Sudah berapa perempuan yang kau jahili?" oceh
Andika seraya menggerakkan tenaga 'Inti Petir' dengan
kedua tangan terangkat ke atas.
Glaa! Suara guntur yang menggemuruh terdengar ketika dua
larik kilat menyambar kepalan-kepalan tangan Andika.
Jasad Dedemit pun segera menepuk keris saktinya.
Sementara Patniraga dan Togap cepat-cepat menjauh.
Mereka berdua tidak heran lagi melihat Jasad Dedemit
lenyap dari pandangan.
Tepat ketika terjadi pertarungan, gerimis turun. Suara
geledek terdengar sambung-menyambung.
Meski telah mendapat petunjuk dari Ki Saptacakra,
namun Andika tetap mengerahkan tenaga 'Inti Petir'.
Pendekar satu ini ingin menggertak Jasad Dedemit, apakah
benar-benar tahan terhadap sambaran petirnya kini"! Saat
itu pula tangannya bergerak ke arah lawan.
Blarrr.... Tak ada seorang pun di dunia yang dapat menghindar
dari cepatnya sambaran petir. Tidak juga Jasad Dedemit.
Sampai-sampai, lelaki sesat itu menjerit melihat larik sinar
itu menjilatnya.
Tapi kali ini ucapan Ki Saptacakra terbukti. Andika
melihat tubuh Jasad Dedemit tidak cidera barang setitik.
Bahkan bergetar pun tidak. Hampir saja, lelaki sesat itu
melompat-lompat kegirangan.
"Kali ini, kau sungguh-sungguh akan mampus, Slebor!
Apa lagi yang kau punya, heh "!" katanya sambil bergerak
mengelilingi Andika.
Si pendekar ugal-ugalan itu membiarkan lawannya
hingga ke belakang. Dibiarkannya Jasad Dedemit yang
mengira kalau dirinya tak terlihat oleh Andika.
"Heaaa...!"
Tiba-tiba dengan bentakan keras, Pendekar Slebor
berbalik. Langsung diterjangnya Jasad Dedemit.
"Heh..."!"
Jasad Dedemit terkejut setengah mati mengetahui
Andika mampu mengetahui keberadaannya. Lelaki sesat ini
berusaha berkelit dengan membuang tubuh ke kiri. Tapi....
Plak! Gerakan Jasad Dedemit sedikit terlambat, karena tangan
Andika sempat menyenggol lengan kiri atasnya. Sungguh
sama sekali tidak disangka kalau lawan mudanya masih
dapat melihat dirinya.
Karena lengan kirinya yang terpukul tidak dapat
digerakkan lagi, Jasad Dedemit memindahkan Keris
Penyirna Raga ke tangan kanannya. Pada saat yang sama,
Andika kembali menyerang ganas.
Jasad Dedemit meloncat mundur, menghindari serangan. "He he he. Mau lari ke mana, Jasad Dedemit" Jangan
coba-coba kabur, ya. Malu, dong, sama kami-kami yang
masih muda," sindir Andika, tajam menusuk perasaan
Jasad Dedemit. "Bedebah! Hiaah!"
Jasad Dedemit menghentakkan tangan kanan sambil
memegang keris. Langsung dikirimkannya pukulan jarak
jauhnya. "Eit!"
Pendekar Slebor berkelebat cepat, mengandalkan
kecepatan gerakannya. Kini tubuhnya tiba-tiba raib. Dan
tahu-tahu, telah berada di belakang Jasad Dedemit sambil
menepak bahu Jasad Dedemit.
"Bedebah!"
Geram bukan main Jasad Dedemit dipermainkan anak
muda kemarin sore. Jasad Dedemit langsung berbalik,
menyerang dengan pukulan- pukulan beruntun.
Andika menghindar dengan meliuk-liukkan tubuhnya.
Lincah sekali gerakannya, tanpa bergeser sedikit pun dari
tempatnya. Hingga suatu ketika, terbit akal baru untuk
mempermainkan musuhnya. Seketika tangan Andika
bergerak cepat.
Tap! Tangan Andika berhasil menangkap bagian bawah Keris
Penyirna Raga. Maksudnya, ingin merampas. Karena bisa
terjadi pengaruh kesaktian keris akan hilang hingga Jasad
Dedemit akan terlihat kembali. Sebaliknya, jika Andika
berhasil memegang keris, mungkin gantian dia yang
menghilang dari pandangan Jasad Dedemit.
Tapi kenyataan yang terjadi di luar perkiraan. Saat
tangan Andika menangkis keris, keduanya langsung terlibat
tarik-menarik menggunakan tenaga dalam.
"Heh...?"
Jasad Dedemit tersentak merasakan perubahan keris


Pendekar Slebor Dendam Jasad Dedemit di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang menjadi panas bukan main. Bahkan kemudian muncul
asap putih dari keris itu. Tak urung, hal ini juga membuat
Andika heran. Ketika Jasad Dedemit tidak sanggup lagi menahan panas
di lengannya, keris itu dilepaskan. Bersamaan dengan itu,
tubuhnya pun menjadi nyata kembali.
Di tangan Andika, keris itu berubah menjadi asap putih
tebal membubung ke udara. Ketika semua asap itu sudah
naik, yang tergenggam di tangan si pemuda hanyalah udara
hampa. Beberapa saat semuanya terpaku. Terpana.
Jasad Dedemit lebih dahulu terjaga. Bisa dimaklumi,
karena lelaki ini merasa nyawa terancam. Dasar tidak tahu
malu, tubuhnya segera saja berbalik.Namun baru saja
hendak mengempos tenanganya...
"Mau ke mana lagi, Kunyuk kerempeng"!"
Andika yang tidak ingin membiarkan lawan lolos telah
menghadang begitu keterpanaannya tadi pudar. Tahu-tahu
pemuda itu telah dua tombak di depan Jasad Dedemit.
Tangan si pemuda terangkat dalam pengerahan tenaga 'Inti
Petir' langsung dikibaskan ke arah Jasad Dedemit.
Duerrr...! "Aaakh...!"
"Bruk!"
Suara berdebum dari tubuh Jasad Dedemit yang jatuh ke
tanah terdengar keras. Tak ada gerakan dari tubuh lelaki
sesat itu yang kini sudah menghitam gosong.
Patniraga mendekati Andika yang masih memandangi
mayat lawan. Sementara, Togap keluar dari persembunyiannya di atas pohon. Kedua orang dari Tanah
Toba itu segera menyalami si pemuda urakan yang tampak
ngos-ngosan karena keletihan.
Di lain tempat, di tengah perjalanan hampir di dekat
Sentul Reja, Mirah tiba-tiba merasakan kesejukan mengalir
dalam hatinya. Entah kenapa, gadis ini tak tahu. Yang jelas,
ia cuma menebak-nebak sendiri.
Selesai Pendekar Baju Putih 5 Dewa Linglung 12 Raksasa Gunung Bromo Pedang Keadilan 22
^