Pencarian

Api Berkobar Di Bukit Setan 3

Putri Bong Mini 07 Api Berkobar Di Bukit Setan Bagian 3


sampai ke betis. Bajunya pun berwarna hitam sebatas paha. Sedangkan kedua lengan
baju mereka model rompi. Kemudian di pinggang
masing-masing membelit ikat pinggang. Pada belitan
ikat pinggang itu terselip pedang panjang di sebelah ki-ri. Begitu pula dengan
panglima pasukannya. Hanya
bedanya, pada bagian dalam rompinya dilapisi kaos
lengan panjang berwarna hitam.
Pasukan Kerajaan Manchuria terus melangkah ga-
gah mendaki Bukit Tengkorak. Namun ketika tinggal
seratus meter lagi hendak mencapai puncak bukit, ti-ba-tiba langkah mereka
terhenti. Karena tak jauh di hadapan mereka telah berdiri tujuh belas orang
gagah menghadang mereka yang tidak lain Bongkap, Bong
Mini, dan para pendekar lain.
"Apakah kalian para prajurit yang datang dari Kera-
jaan Manchuria?" tanya Bongkap dengan pandangan
tajam penuh selidik.
"Kami memang para prajurit Kerajaan Manchuria.
Lalu siapa kalian"!" ujar Yang Ting Hoo, panglima pasukan Kerajaan Manchuria.
"Namaku Bongkap, orang yang selama ini dicari
kaisar kalian!" sahut Bongkap. Tegas dan penuh wiba-wa. Yang Ting Hoo dan
prajurit lain tampak terkejut mendengar nama itu. Selama ini mereka mengenal
nama Bongkap hanya dari mulut Thiang Tok, kaisar
mereka. Sedangkan pada waktu Bongkap dan pengi-
kutnya melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan
Manchuria, Panglima Yang Ting Hoo dan para prajurit yang berada di situ belum
bekerja pada Kaisar Thiang Tok. Kini, ketika lelaki gagah bertangan buntung itu
menyebut namanya, mereka pun menjadi terkejut bukan main. Sebab kedatangan
mereka ke negeri Selat
Malaka, justru hendak membantu Perguruan Topeng
Hitam agar dapat secepatnya menangkap dan memba-
wa Bongkap ke hadapan kaisar mereka di Manchuria.
*** 7 "Ha ha ha!" tiba-tiba Panglima Yang Ting Hoo yang
berumur sekitar tiga puluh tahun ini terbahak. "Kalau kau benar yang bernama
Bongkap, sungguh sangat
kebetulan! Aku tidak perlu susah payah lagi menca-
rimu!" kata Panglima Yang Ting Hoo pongah.
Bongkap tersenyum sinis. "Tangkaplah, jika kalian
punya kepandaian tinggi!" tantang Bongkap tak kalah
pongah. Wajah Panglima Yang Ting Hoo langsung merah pa-
dam mendengar ucapan bernada ejekan itu.
Sreret! Panglima Yang Ting Hoo mencabut pedang yang ter-
sampir di pinggang kirinya.
"Seraaang!"
Serentak tiga puluh prajurit Kerajaan Manchuria
bergerak menyerang Bongkap dan pengikutnya.
Singngng! Trang trang trang!
Berpuluh kelebatan pedang yang menghambur ke
arah pasukan Bongkap. Dengan segera serbuan mas-
sal itu dapat mereka tangkis dengan tangkas.
Pertempuran sengit antara pasukan Kerajaan Man-
churia dengan pasukan Bongkap segera terjadi. Prabu Jalatunda dan istrinya,
Ningrum berhadapan dengan
tujuh prajurit. Mereka melakukan perlawanan dengan
tubuh saling membelakangi untuk melindungi satu sa-
ma lain. Dan terkadang punggung mereka saling ber-
sentuhan, Trang trang trang!
Pedang Prabu Jalatunda dan pedang Ningrum ber-
temu dengan senjata lawan. Begitu keras dan penuh
tenaga. Sehingga setiap kali pedang mereka bertemu, lawan selalu menderita rasa
perih dan getaran yang
amat hebat. Di lain pihak, Baladewa, Sang Piao, dan Ashiong
pun tampak begitu tangkas menghadapi serangan dua
belas prajurit Kerajaan Manchuria. Mereka melakukan tangkisan atau serangan
susul-menyusul.
Bret! "Aaakh!"
Seorang prajurit terpekik dan langsung tewas saat
pedang Baladewa menyambar perutnya dengan dah-
syat. Membuat prajurit lain mundur dua tapak untuk
mengatur serangan selanjutnya.
Sementara itu, Bong Mini pun tidak kalah sengit
menghadapi para pengeroyoknya. Ia terus melakukan
tangkisan sambil sesekali melakukan serangan ke arah lawan.
"Hiaaat!"
Tiba-tiba muncul Bong Mini mengeluarkan lengki-
ngan tinggi. Sementara tubuhnya berkelebat ke arah
lawan. Bret! Bret! Jurus 'Pedang Samber Nyawa' yang dimainkan Bong
Mini langsung membabat leher dua prajurit Kerajaan
Manchuria. Saat Itu juga kepala mereka terlepas dari badan. Keduanya berdiri
limbung sebentar, lalu ambruk tanpa nyawa.
"Mampus!"
Tiba-tiba dua ujung tombak lawan menyambar pe-
rut dan kepala Bong Mini. Dengan tangkas, gadis bertubuh mungil itu menangkis
serangan serempak la-
wan. "Hep!"
Trakkk! Tangan kiri Bong Mini menangkap gagang tombak
yang menyambar kepalanya, sedangkan pedangnya
menangkis tombak yang mengarah ke perutnya dengan
gerakan membacok. Sehingga tombak yang tertangkis
Pedang Teratai Merah itu langsung patah.
"Hiyyy!"
Tongkat yang digenggam tangan kiri Bong Mini se-
gera ditarik ke arahnya, Memaksa tubuh lawan ter-
huyung ke depan. Bersamaan dengan itu, pedangnya
segera berkelebat menyambar perut lawan.
Bret! Pedang Bong Mini membelah tubuh lawan dengan
ganas. Prajurit itu langsung roboh tanpa sempat me-
mekik. Ketangkasan dan keganasan Bong Mini dalam
menghadapi prajurit Kerajaan Manchuria, terlihat pula pada diri papanya,
Bongkap. Lelaki bertangan satu itu lebih sadis dalam memainkan ilmu 'Pedang
Samber Nyawa' dan jurus 'Tanpa Bayangan'. Dengan jurus
yang telah ia kuasai tersebut, Bongkap semakin sadis menghabisi nyawa lawan-
lawannya. Julukan 'Singa Perang' yang disandangnya kembali terlihat.
Sing sing sing!
Tubuh dan pedang Bongkap tampak berputar ken-
cang. Kini yang tampak hanya sinar putih yang bergulung-gulung menyambar lima
prajurit kerajaan yang
mengeroyok. Bret bret bret! Crokkk!
"Aaakh!"
Lima orang yang mengepung Bongkap langsung
mengerang kesakitan ketika sinar pedang yang bergu-
lung itu menyambar mereka. Kemudian mereka roboh
dengan tubuh mengerikan.
Melihat kesadisan Bongkap dalam membunuh lima
prajuritnya sekaligus, Panglima Yang Ting Hoo menjadi terkejut dan marah bukan
main. Kemudian ia menerjang Bongkap dengan pedangnya yang sejak tadi di-
genggamnya. "Hiaaat!"
Sing sing sing!
Sinar pedang Panglima Yang Ting Hoo berkelebat
cepat menyambar kepala, leher dan perut Bongkap.
Tapi dengan tangkas, Bongkap menghindari serangan
yang cepat dan dahsyat itu dengan cara mengelak dan melompat mundur.
"Bangsat! Dia benar-benar seorang pemberontak
Kerajaan Manchuria yang gagah dan lihai luar biasa!"
rutuk hati Panglima Yang Ting Hoo setelah menghenti-
kan serangan sejenak.
"Heh! Kenapa berhenti" Tidak baik seorang pangli-
ma kerajaan cepat gentar menghadapi lawan. Apalagi
lawannya bertangan buntung!" tegur Bongkap meng-
ejek. "Monyet buntung!" dengus Panglima Yang Ting Hoo.
Kemarahannya kembali terpancing ketika mendengar
ejekan Bongkap. Kemudian dengan darah yang bergo-
lak, tubuhnya mencelat untuk menyerang lawan kem-
bali. Sing sing singngng!
Sinar pedang Panglima Yang Ting Hoo kembali
menggulung, menyambut tubuh lawan dengan cepat
dan dahsyat. Tetapi dengan cepat dan tangkas pula
Bongkap menghindari serangan itu. Dan ketika pedang Panglima Yang Ting Hoo
bergerak ke arahnya lagi,
Bongkap segera menangkis dengan pedangnya.
Trangngng! Pedang Bongkap yang sudah dialiri ilmu tenaga da-
lam 'Tangan Besi', segera menangkis pedang Panglima Yang Ting Hoo yang mencoba
membabat lehernya. Kemudian Bongkap menindih dan menekan pedang la-
wan dengan pedangnya.
"Uhhh!"
Panglima Yang Ting Hoo berusaha menarik pedang-
nya yang melekat pada pedang lawan. Tapi betapa ka-
getnya ia ketika mengetahui pedangnya menempel
kuat. Sekali lagi dia berusaha untuk membetot pe-
dangnya dengan mengerahkan tenaga dalam 'Baja
Sakti'. Tetapi semakin ditarik kuat, tekanan lawan terasa kian berat. Kalau dia
memaksakan diri untuk
menarik pedangnya kembali, tentu senjata lawan akan mengancamnya.
Di saat keduanya mengadu tenaga lewat pedangnya
yang saling menekan, tiba-tiba lengan baju sebelah kiri
Bongkap bergerak menyambar muka Panglima Yang
Ting Hoo. Takkk! Dalam keterkejutan. Panglima Yang Ting Hoo me-
nangkis serangan lengan baju Bongkap dengan tangan
kirinya. Namun kembali ia terkejut. Karena pada saat menangkis lengan baju
Bongkap, ia merasakan tulang-tulangnya ngilu luar biasa. Layaknya membentur de-
ngan besi. Selanjutnya ujung lengan baju itu pun bergerak melingkari pergelangan
tangannya dengan kuat.
"Aaakh!"
Panglima Yang Ting Hoo memekik tertahan ketika
merasakan sakit luar biasa, akibat cengkeraman ujung lengan baju lawan yang
melingkar di pergelangan tangannya.
"Hiyyy!"
Bongkap menarik pedangnya yang sedang beradu
itu ke arahnya. Membuat tubuh Panglima Yang Ting
Hoo ikut terhuyung ke depan. Saat itulah, Bongkap
langsung menarik pedangnya lurus ke atas. Lalu de-
ngan bengis, pedang itu dibabatkan ke punggung
Panglima Yang Ting Hoo,
Crokkk! "Aaakh!"
Panglima Yang Ting Hoo terpekik pendek. Tubuhnya
terbelah akibat babatan pedang Bongkap yang terkenal sadis. Sehingga setengah
badan bagian kakinya ambruk, sedangkan setengah badan bagian atas bergan-
tung-gantung bersama cucuran darah segar. Karena
ujung lengan baju Bongkap masih membelit pergela-
ngan tangan kiri lawan.
"Wahai, prajurit Kerajaan Manchuria! Lihatlah ke
sini!" seru Bongkap lantang.
Prajurit kerajaan yang tinggal sepuluh orang itu
menghentikan pertarungannya dan menoleh ke arah
Bongkap. Begitu pula dengan para pendekar dari pihak Bongkap, termasuk Bong
Mini. Mereka terkejut ketika melihat setengah tubuh Panglima Yang Ting Hoo
bergantung pada ujung lengan baju Bongkap.
"Bagaimana" Apakah kalian tetap ingin menjadi bu-
dak Kaisar Thiang Tok dengan nasib seperti ini?" ancam Bongkap kepada sepuluh
prajurit Kerajaan Man-
churia. "Monyet buduk! Kau pikir aku gentar padamu!" de-
ngus Tan Goan Kok, seorang pemuda berumur tiga pu-
luh tahun sambil menerjang Bongkap. Diikuti oleh dua temannya.
"Hiaaat!"
Crokkk! Bongkap yang melihat Tan Goan Kok menyerang de-
ngan penuh nafsu segera melemparkan tubuh Pang-
lima Yang Ting Hoo ke arah lawan. Pedang Tan Goan
Kok yang hendak menghujam Bongkap malah memba-
bat tubuh panglimanya yang tinggal setengah itu.
"Bangsat!" geram Tan Goan Kok sambil menarik
ujung pedangnya dari dada Panglima Yang Ting Hoo.
Kemudian ia melanjutkan serangannya kembali.
Trang trang trang!
Serangan pedang Tan Goan Kok dan seorang te-
mannya mendadak tertahan oleh kelebatan sinar me-
rah. Ternyata Putri Bong Mini telah menangkis sera-
ngan itu. Sehingga kedua orang itu pun beralih menyerang Bong Mini. Sedangkan
Bongkap dan Pendekar Te-
luk Naga serta Pendekar Mata Dewa berhadapan de-
ngan tujuh prajurit lain.
Singngng! Trangngng!
Tan Goan Kok dan temannya terhuyung ke bela-
kang manakala pedangnya kembali tertangkis oleh pe-
dang Bong Mini. Saat itu tangan mereka terasa amat
panas. Hampir saja senjata mereka terlepas.
"Hi hi hi!" Bong Mini tertawa geli melihat dua lawannya terhuyung-huyung ke
belakang sambil meringis,
menahan perih pada telapak tangannya.
"Perempuan tengik!" maki Tan Goan Kok sambil
mengatur posisinya kembali. Kemudian kedua orang
itu pun menyerang Bong Mini dari arah kiri dan kanan dengan ganas.
Trangngng! Bong Mini menangkis serangan pedang Tan Goan
Kok. Dia memang selalu mendahulukan tangkisannya
terhadap pedang Tan Goan Kok. Karena dia tahu kalau ujung pedang Tan Goan Kok
mengandung racun yang


Putri Bong Mini 07 Api Berkobar Di Bukit Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sangat mematikan. Sedangkan pedang lawan yang lain
tidak memiliki pengaruh apa-apa.
Sejak Tan Goan Kok hendak menyerang Bongkap, ia
memang sudah mengerahkan ilmu 'Pedang Setan Me-
rah Beracun' melalui pedangnya. Sedikit saja pedangnya berhasil menggores, tubuh
lawan akan roboh dan
tak dapat berkutik lagi.
Menyadari hal itu, Bong Mini menangkis pedang la-
wannya dengan mengerahkan ilmu 'Penawar Racun'.
Sehingga saat pedangnya menangkis, racun di pedang
Tan Goan Kok langsung membeku.
Sementara itu, Bongkap, Pendekar Mata Dewa dan
Pendekar Teluk Naga telah berhasil membabat habis
lawan-lawannya. Kini mereka bergabung dengan Prabu
Jalatunda, Ningrum, Baladewa, dan pendekar lain un-
tuk menyaksikan pertarungan antara Bong Mini dan
dua prajurit Kerajaan Manchuria.
Sambil tersenyum tipis, Bong Mini memasukkan
kembali pedangnya ke dalam sarung dan menghadapi
kedua lawannya itu dengan tangan kosong.
Tan Goan Kok dan temannya geram melihat sikap
Bong Mini yang benar-benar meremehkan. Apalagi se-
telah menyadari kalau prajurit lain telah tewas semua.
Tanpa menunggu lebih lama, keduanya bergerak me-
nerjang Bong Mini kembali. Tan Goan Kok menyerang
ke arah dada, sedangkan temannya menyambar lutut
Bong Mini. Sing sing singngng!
Dua pedang yang berkelebat sangat cepat itu dapat
dielakkan Bong Mini dengan cara melompat ke atas.
Selanjutnya ia berputar ke arah belakang dua lawan-
nya sambil melancarkan pukulan 'Telapak Tangan
Hangus'. Bukkk! "Aaakh!"
"Aaakh!"
Dua prajurit itu terpekik, tubuh mereka terhuyung
ke depan. Lalu keduanya roboh dan menggeliat-geliat di tanah seperti dua ekor
ayam yang disembelih. Selanjutnya kedua prajurit itu mati dengan tubuh hangus
bagai terbakar.
Bongkap dan para pendekar lain melangkah men-
dekati Bong Mini yang masih berdiri tegak memandan-
gi dua mayat lawan yang baru saja terkapar.
"Kau memang hebat, Putriku!" puji Bongkap seraya
mendekap kepala putrinya erat-erat.
"Papa!" keluh Bong Mini perlahan. Direbahkan ke-
palanya dalam pelukan Bongkap sambil tersenyum
gembira. *** Matahari tersungkur lelah di sudut sebelah barat.
Sinarnya yang semula panas membakar, berubah ha-
ngat. Bayang-bayang pepohonan memanjang di permu-
kaan tanah dalam siraman cahaya yang belum juga
redup. Bongkap, Bong Mini, dan para pendekar lain masih
berdiri tegak memandangi serakan mayat prajurit Ke-
rajaan Manchuria. Wajah mereka tampak berseri-seri.
Puas karena telah berhasil mengikis habis orang-orang sesat yang selama ini
meresahkan rakyat negeri Selat Malaka.
Pendekar Mata Dewa dan Pendekar Teluk Naga me-
langkah gagah mendekati Bongkap dan Bong Mini. Me-
reka langsung berdiri menghormat dengan kedua tela-
pak tangan dipertemukan di depan dada.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Bongkap dengan
kening berkerut. Begitu pula dengan Bong Mini. Me-
reka heran dengan sikap orang-orang Pendekar Teluk
Naga dan Pendekar Mata Dewa.
"Maaf, Tuanku Bongkap! Ada sesuatu yang hendak
kami sampaikan kepada Tuanku!" kata Kao Cin Liong,
Ketua Pendekar Mata Dewa.
"Katakanlah, apa yang hendak kau sampaikan itu,
Kao Cin Liong!" tanggap Bongkap, ingin segera mengetahui.
"Begini, Tuanku!" ucap Kao Cin Liong sambil meng-
ubah cara berdirinya agar lebih enak berbicara. "Tugas kita membasmi datuk
sesat, Kidarga dan antek-antek-nya telah selesai. Begitu pula dengan prajurit
Kerajaan Manchuria. Oleh karena itu, izinkanlah kami bertiga kembali ke negeri
Manchuria untuk membantu rakyat
di sana dalam melakukan pemberontakan terhadap ke-
laliman Kaisar Thiang Tok!" lanjut Kao Cin Liong.
"Begitu pula dengan kami!" cetus Kok Thai Ki, Ketua Pendekar Teluk Naga
menyambung ucapan Kao Cin
Liong. "Karena kami berasal dari Kerajaan Manchuria, kami pun akan turut
bersama-sama Pendekar Mata
Dewa untuk membasmi kesewenang-wenangan Kaisar
Thiang Tok!"
Bongkap mengangguk-angguk. Diliriknya Bong Mini
yang juga tengah memandangnya, seolah-olah me-
nunggu jawaban Bongkap.
"Bagaimana dengan pendapatmu, Putriku?" tanya
Bongkap. Memancing pendapat Bong Mini mengenai
keinginan enam pendekar yang ingin kembali ke nege-
rinya. "Kok, Papa tanya sama aku, sih?" Bong Mini balik
bertanya dengan sikap yang manja.
Bongkap tersenyum dan melingkarkan tangan ka-
nannya di pundak Bong Mini.
"Pendekar Teluk Naga dan Pendekar Mata Dewa bi-
sa berkumpul dengan kita karena kau yang memper-
temukan. Sekarang mereka hendak kembali ke negeri-
nya, maka aku pun meminta pendapatmu!" kata Bong-
kap. Sesungguhnya ia sendiri sudah mendapat kepu-
tusan yang baik mengenai kepulangan Pendekar Mata
Dewa dan Pendekar Teluk Naga.
Bong Mini tercenung sambil memainkan bola mata-
nya yang indah. Membayangkan gadis itu yang tam-
paknya tengah berpikir.
"Sebenarnya aku sendiri tidak melarang kalian pu-
lang. Apalagi kepulangan kalian untuk berjuang mem-
bela rakyat Manchuria!" tutur Bong Mini. Kakinya melangkah perlahan. Dia
berhenti tepat di dekat mayat Panglima Yang Ting Hoo yang tinggal setengah
badan. "Tapi aku menyarankan, alangkah baiknya kepergian
kalian ditunda dua sampai tiga hari lagi. Setelah itu, kita sama-sama berangkat
dan membasmi Thiang Tok
dan prajuritnya yang selama ini berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat
Manchuria!" lanjut Bong Mini
menyampaikan pendapatnya.
Para pendekar yang terdiri dari dua perkumpulan
itu tampak mengangguk. Mereka saling memandang,
seolah-olah meminta pertimbangan masing-masing.
"Apa yang dikatakan putriku memang benar. Kare-
na sebenarnya aku sendiri sudah berjanji terhadap diriku bila telah selesai
tugas ini, aku akan membantu
rakyat Manchuria. Karena bagaimanapun juga, pende-
ritaan yang dialami rakyat Manchuria akibat ulahku
yang melakukan pemberontakan dan melarikan diri ke
negeri ini!" papar Bongkap yang berpendapat sama dengan Bong Mini.
Prabu Jalatunda yang sejak tadi mendengarkan per-
cakapan mereka segera melangkah menghampiri.
"Aku sangat setuju dengan pendapat Bongkap dan
Putri Bong Mini. Kalian datang ke sini tidak lain untuk membantu perjuangan
kami. Maka sudah selayaknya,
kami pun turut membantu perjuangan kalian di negeri Manchuria. Oleh karena itu,
sebaiknya kita kembali
berkumpul di rumahku sambil membicarakan lang-
kah-langkah apa yang akan kita lakukan dalam penye-
rangan nanti!" usul Prabu Jalatunda.
Kao Cin Liong dan Kok Thai Ki hanya tersenyum.
"Kalau memang demikian, baiklah. Kami menerima
saran Anda bertiga!" putus Kao Cin Liong.
"Kami juga bersyukur karena Anda bertiga bersedia
membantu perjuangan kami!" timpal Kok Thai Ki.
"Sudah merupakan kewajiban kalau aku dan putri-
ku membantu perjuangan kalian. Karena aku dan
Bong Mini pun lahir dan lama tinggal di negeri Manchuria!" sahut Bongkap. "Lagi
pula, sebagai manusia, kita punya kewajiban untuk saling membantu agar
mencapai kedamaian dan kesejahteraan!"
Para pendekar yang berada di situ tampak meng-
angguk-angguk. Mereka begitu kagum terhadap kea-
gungan jiwa Bongkap. Begitu pula Bong Mini. Mem-
buat ia semakin sayang saja terhadap papanya.
"Nah, kalau begitu, sebaiknya kita kembali ke ru-
mah. Kita rayakan kemenangan yang gemilang ini!" ka-ta Prabu Jalatunda, mengajak
para pendekar untuk
berkumpul di rumahnya.
Dengan wajah penuh kemenangan, para pendekar
itu berangkat menuju rumah Prabu Jalatunda yang
terletak di Desa Padomorang.
*** 8 Malam telah tiba.
Purnama tampak bergayut di atas dahan. Meman-
car terang, menjangkau sudut-sudut wajah bumi.
Rumah Prabu Jalatunda yang terletak di Desa Pa-
domorang, tampak begitu ramai. Bukan saja banyak
dikunjungi oleh para pendekar atau pesilat, tetapi juga dikunjungi oleh rakyat
biasa dari kaum papa. Tua-muda, lelaki-perempuan, pemuda dan anak-anak, se-
mua berbondong menuju rumah Prabu Jalatunda.
Malam itu, atas kesepakatan Prabu Jalatunda dan
Bongkap, mereka merayakan kemenangan terhadap
orang-orang Perguruan Topeng Hitam yang selama ini
mengganggu ketenteraman rakyat Selat Malaka. Dan
dalam perayaan itu, mereka mengundang seluruh rak-
yat Manchuria yang tinggal berdekatan dengan Desa
Padomorang. Sedangkan bagi mereka yang letaknya
berjauhan dikirimi dana melalui kepala desanya ma-
sing-masing. Sehingga pada malam itu, tidak satu desa pun yang tak gembira.
"Saudara-saudara, rakyat Selat Malaka!" Bongkap
membuka sambutan di hadapan rakyatnya. "Malam ini
sungguh merupakan malam yang penuh kegembiraan
untuk kita semua. Karena mulai malam ini, kesesatan dan kebiadaban yang selama
ini dilakukan oleh orang-orang Perguruan Topeng Hitam telah sirna. Mereka telah
mati akibat perbuatannya sendiri!" lanjut Bongkap.
"Horeee! Hidup Bongkap! Hidup Prabu Jalatunda!
Hidup Putri Bong Mini!" sambut orang-orang penuh
kegembiraan meluap-luap. Mereka menyebutkan nama
Bongkap dan Bong Mini berkali-kali, sebagai pendekar yang telah membantu mereka
menghancurkan orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Karena selama ini me-
reka hanya tahu kalau Bongkap dan Bong Mini yang
berjuang keras dalam menumpas segala macam keja-
hatan di negeri Selat Malaka.
"Pesta yang kita adakan malam ini, bukanlah satu
pemborosan. Kita hanya ingin menunjukkan rasa syu-
kur kepada Tuhan Semesta Alam yang telah mem-
bimbing dan melindungi kita, hingga mencapai keme-
nangan!" lanjut Bongkap dengan semangat meletup-
letup. Dan entah kenapa, setiap kali mulutnya menyebutkan kata Tuhan, tubuhnya
selalu bergetar. Mem-
buat ia tak kuasa untuk melanjutkan sambutannya
lebih lama lagi.
"Nah! Sebagai akhir sambutan, aku mengajak ka-
lian, untuk menikmati pesta kemenangan ini dengan
penuh kegembiraan!" ajak Bongkap. Kemudian gelas
berisi anggur yang sejak tadi digenggamnya diperte-
mukan dengan gelas Prabu Jalatunda. Diikuti oleh
Bong Mini, Baladewa serta para pendekar lain. Begitu pula dengan rakyat negeri
Selat Malaka yang hadir.
Mereka menikmati pesta kemenangan itu dengan ke-
gembiraan yang meledak-ledak. Malah sebagian di an-
tara mereka ada yang berjoget berpasang-pasangan,
mengikuti irama gamelan.
Kegembiraan yang dialami rakyat negeri Selat Ma-
laka pada malam itu memang sangat beralasan. Sela-
ma ini, mereka belum pernah menikmati malam indah
seperti saat itu. Jangankan untuk berjoget dan terta-wa, untuk berangkat tidur
saja mereka selalu dihinggapi rasa was-was. Khawatir disatroni oleh orang-orang
Perguruan Topeng Hitam.
Sekarang kekhawatiran itu sudah tidak ada lagi. Se-
telah Bong Mini dan pengikutnya berhasil menghan-
curkan mereka. Bukan saja menewaskan Kidarga, Nyi
Genit dan pengikutnya, tetapi juga membakar habis
markas mereka di Bukit Setan.
Bong Mini tersenyum haru menyaksikan kegembi-
raan orang-orang itu. Matanya yang bening tampak
berkaca-kaca. Bahkan dua butir air matanya sempat
membasahi pipinya.
"Kau menangis?" bisik Baladewa yang berdiri di
samping Bong Mini.
Bong Mini tersenyum sambil mengusap sepasang
pipinya dengan punggung jari telunjuk.
"Aku hanya terharu melihat kegembiraan mereka,"
sahut Bong Mini. Matanya terus memandang kerumu-
nan rakyat yang sedang berjoget.
"Bagaimana kalau kita pun turut bergembira seperti
mereka?" kata Baladewa sambil tersenyum kecil.
"Berjoget seperti mereka?"
Baladewa mengangguk.
"Ngaco!" sentak Bong Mini. Dicubitnya pinggang Ba-
ladewa. Kemudian keduanya tertawa senang sambil
melangkah menuju taman bunga di samping rumah.
Bongkap, Prabu Jalatunda, dan Ningrum yang sejak
tadi mengawasi kegembiraan dua sejoli itu tampak tersenyum senang. Kemudian
Prabu Jalatunda mengajak
Bongkap dan istrinya menuju ruang peranginan. Se-
buah ruangan khusus jika Prabu Jalatunda dan istri-
nya hendak beristirahat sambil menikmati desiran a-
ngin atau sinar rembulan seperti malam itu.
"Bagaimana menurut pendapatmu mengenai ke-
akraban putrimu dengan anakku?" tanya Prabu Jala-
tunda ketika ketiganya sudah duduk di bangku yang


Putri Bong Mini 07 Api Berkobar Di Bukit Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah tersedia di ruangan itu.
"Mereka cukup baik!" sahut Bongkap. Dia sudah
dapat menebak arah pembicaraan Prabu Jalatunda.
"Aku rasa mereka sudah saling tertarik!" cetus Pra-
bu Jalatunda, langsung pada pokok pembicaraan.
"Bagaimana kau bisa berpendapat begitu?" tanya
Ningrum, istrinya.
"Lihat saja sikap mereka tadi. Baru kenal mereka
sudah demikian akrab!" jawab Prabu Jalatunda.
"Itu kan biasa. Namanya juga anak muda!" kata
Ningrum. Sesungguhnya dia sendiri berharap agar
Bong Mini dan Baladewa saling tertarik. Sehingga mereka bisa melanjutkan
hubungan itu ke jenjang perkawinan sebagaimana harapannya selama ini, selama
mengenal Bong Mini.
"Kalau mereka tidak saling suka, mana mungkin bi-
sa akrab seperti itu," tukas Prabu Jalatunda mempertahankan pendapatnya. "Bukan
begitu, Bongkap?" lan-
jut Prabu Jalatunda bertanya kepada sahabatnya.
"Ya. Ya. Aku kira juga begitu!" timpal Bongkap cepat sambil tersenyum. Karena
sesungguhnya ia sudah ta-hu sejak kapan Bong Mini dan Baladewa saling menge-
nal. Hal itu ia ketahui ketika Bong Mini menangis saat mendengar Baladewa
menjadi sekutu Perguruan Topeng Hitam (untuk lebih jelasnya, baca episode 6:
'Rahasia Pengkhianatan Baladewa').
"Lalu bagaimana tanggapanmu?" pancing Prabu Ja-
latunda. "Maksudmu?" Bongkap pura-pura tidak tahu.
"Maksudku, bagaimana kalau mereka kita jodohkan
saja!" sahut Prabu Jalatunda.
Bongkap tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" Prabu Jalatunda menatap
heran. "Kau ini lucu, Prabu!" kata Bongkap di sela tawanya.
"Lucu bagaimana?" Prabu Jalatunda semakin bingung.
"Kenapa kita harus menjodohkan segala?" kata
Bongkap. "Kalau mereka sudah saling tertarik, mereka pasti akan meminta kepada
kita untuk segera me-ngawinkan!"
"Ah, betul juga pendapatmu!" seru Prabu Jalatunda.
Kemudian ketiganya pun tertawa senang.
*** Di hamparan cakrawala malam, bulan penuh masih
saja bersinar. Malah semakin terang. Membuat malam
itu benar-benar indah. Bukan saja bagi mereka yang
masih menikmati suasana pesta semalam suntuk, te-
tapi juga bagi Bong Mini dan Baladewa yang tengah
asyik duduk di kursi taman.
"Apa rencanamu setelah tugas kita selesai?" tanya
Baladewa sambil memandangi wajah Bong Mini di
sampingnya. Karena suasana di tempat itu temaram
oleh cahaya sinar rembulan, Baladewa semakin terpe-
sona saja terhadap kecantikan gadis idamannya itu.
"Aku tidak punya rencana apa-apa!" desah Bong
Mini. Matanya menatap rembulan yang mengintip di
balik dahan. Baru kali ini ia dapat menyaksikan dan menikmati keindahan malam
bulan purnama di samping seorang pemuda yang dicintainya.
"Apakah kau tidak punya keinginan untuk segera
menikah denganku?"
"Menikah?" tanya Bong Mini di sela derai tawa.
"Hm, tawamu indah sekali!" puji Baladewa.
"Ada juga keindahan dalam tawa?" tanya Bong Mini
bersama tatapan ke wajah Baladewa.
"Tentu. Tawa yang serak-serak basah tentu terde-
ngar indah!"
"Dan, indah itu seni!" timpal Bong Mini.
"Ya!" sahut Baladewa cepat. "Maukah kau tertawa
lagi seperti tadi untukku?"
"Ha ha ha!" Bong Mini kembali tertawa sambil men-
cubit lengan Baladewa. Dan, Baladewa pun beraduh-
aduh dengan mesra.
"Bong Mini!" ucap Baladewa setelah keduanya
menghentikan tawa.
"Hm?" kepala Bong Mini menengadah sedikit untuk
memandang wajah Baladewa.
"Kenapa kau tadi tertawa ketika mendengar ajakan-
ku untuk menikah?"
Bong Mini tersenyum kecil. Pandangannya dialih-
kan pada setangkai bunga mawar merah yang tumbuh
di dekatnya. "Aku masih kecil. Belum pantas untuk menikah,"
jawab Bong Mini, setengah menggoda.
"Tubuhmu memang mungil. Tapi usiamu sudah cu-
kup untuk melangkah ke sana!" tukas Baladewa yang
mengetahui kalau umur Bong Mini sudah mencapai
dua puluh tahun.
"Kenapa itu yang kau tanyakan, sih?" tanya Bong
Mini malu-malu. Ditutupi wajahnya yang tersipu-sipu.
Baladewa ikut tersipu-sipu. Dia diam, tanpa tahu
apa yang harus dikatakan.
Bong Mini mengetahui kalau pemuda di samping-
nya itu tersipu malu saat mendengar pertanyaannya.
Maka dengan cepat ia tersenyum lembut untuk menu-
tupi rasa malu kekasihnya itu, kemudian keduanya
berjalan sambil memandang keadaan di sekelilingnya.
"Perjuangan kita masih panjang. Besok kita harus
berangkat ke negeri Manchuria untuk membantu pen-
deritaan rakyat," kata Bong Mini. "Nah, kalau masalah itu kita bicarakan
sekarang, kemudian dalam pertempuran nanti salah satu di antara kita mati,
apakah tidak akan mempengaruhi semangat hidup kita?"
Baladewa terdongak memandang Bong Mini.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Lagi-lagi Bong Mini tersenyum.
"Kita ini manusia. Hidup dan mati kita berada di
tangan Tuhan!" tutur Bong Mini setengah menggurui.
"Mungkin saja kemarin kita mampu mengalahkan Ki-
darga dan pasukannya. Tapi siapa tahu besok kita kalah atau mati oleh seorang
prajurit dungu!"
Baladewa tertegun mendengar ucapan Bong Mini.
Dia baru sadar bahwa kehidupan manusia bukan di-
tentukan oleh kegagahan dan kepandaiannya, melain-
kan dari nasib yang telah digariskan Tuhan.
"Kau benar-benar seorang gadis luar biasa!" puji
Baladewa sambil menggenggam telapak tangan Bong
Mini. "Ah, sudahlah! Kau memujiku terlalu berlebihan!"
elak Bong Mini, berusaha tidak mendengar pujian itu.
Ia memang selalu berusaha untuk tidak menanggapi
setiap pujian yang ditujukan kepadanya. Ia khawatir pujian akan membuatnya lupa
diri dan berbuat pongah. Karena menurut penglihatannya sendiri, tidak
sedikit orang yang bersikap angkuh dan saling menindas sesama hanya karena
pujian. "Sebenarnya ada sesuatu yang hendak kusampai-
kan padamu!" lanjut Bong Mini, mengalihkan pembica-
raan. "Tentang apa?" tanya Baladewa cepat
"Tentang kerinduanku pada Kanjeng Rahmat Suci."
"Kau ini ada-ada saja!" kata Baladewa tersenyum
kecil. "Memangnya kenapa?" tanya Bong Mini terkejut.
"Apakah aku tidak boleh merindukan seseorang yang
selama ini telah kuanggap sebagai orangtuaku?"
"Bukan begitu!" bantah Baladewa cepat.
"Lalu apa?" tanya Bong Mini dengan sorot mata ta-
jam. Baladewa tersenyum kecil. Dia tahu kalau Putri
Bong Mini tersinggung dengan ucapannya yang meng-
anggap remeh kerinduannya terhadap Kanjeng Rahmat
Suci. "Kerinduanmu terhadap Kanjeng Rahmat Suci
sungguh kurang tepat untuk dinyatakan pada malam
ini," kata Baladewa.
Bong Mini menghela napas. Pandangannya dialih-
kan pada sekuntum mawar yang tumbuh di depannya.
"Aku pun berperasaan sama denganmu. Tapi kalau
kerinduan itu dinyatakan sekarang, sama halnya me-
rusak kegembiraan yang tercipta pada malam ini," lanjut Baladewa.
"Aku tidak bermaksud merusak kegembiraan ma-
lam ini. Aku hanya ingin kau tahu bahwa selain aku
gembira pada malam ini, perasaanku pun digayuti ke-
rinduan terhadap kanjeng!" ketus Bong Mini sambil terus berlalu meninggalkan
Baladewa. Baladewa menghela napas kesal. Karena suasana
gembira dan syahdu tadi telah rusak oleh pertenta-
ngan pendapat yang sepele.
*** Sampai di kamar, Bong Mini langsung merebahkan
diri di atas ranjang. Pandangan matanya tertuju ke
langit-langit kamar. Sedangkan pikirannya terus mengingat-ingat peristiwa
pertemuannya dengan Putri Te-
ratai Merah dan Kanjeng Rahmat Suci saat ia tak sa-
darkan diri. Ia tidak habis pikir, kenapa Kanjeng Rahmat Suci bisa bersama Putri
Teratai Merah. Padahal
mereka hidup di alam yang berbeda. Lebih heran lagi ketika Putri Teratai Merah
melarang saat dia hendak ikut ke tempat mereka. Alasannya, Bong Mini belum
waktunya untuk ikut bersama mereka. Apa yang di-
maksud dengan belum waktunya" Dan kenapa tiba-
tiba Kanjeng Rahmat Suci menyuruhnya untuk ber-
kunjung ke tempat tinggalnya" Inilah dua tanda tanya
yang belum dapat ia pecahkan.
Sebenarnya, ketika ia membicarakan masalah itu
dengan Baladewa tadi, Bong Mini ingin mengajak pe-
muda itu untuk bersama-sama menengok Kanjeng
Rahmat Suci di Gunung Muda. Lantaran Baladewa
menunjukkan sikap kurang suka dengan pembicaraan
itu, maka keinginan untuk mengajak Baladewa pun
segera diurungkan. Bahkan keinginannya untuk men-
ceritakan tentang pengalamannya di alam gaib kepada Baladewa sirna seketika.
Bong Mini sendiri tidak dapat menyalahkan Bala-
dewa yang kurang senang menanggapi pernyataan ke-
rinduannya terhadap Kanjeng Rahmat Suci. Karena
pernyataannya tadi kurang tepat diutarakan dalam
suasana suka cita seperti malam itu.
"Ah...," Bong Mini mengeluh sambil bangkit dan du-
duk di atas ranjang dengan kedua tangan memeluk lu-
tut. Malam semakin larut dan dingin. Angin pun ber-
hembus sepoi-sepoi basah. Membuat udara dingin itu
benar-benar menusuk sampai ke tulang sumsum. Na-
mun demikian, keceriaan masih tetap terlihat pada wajah semua orang. Baik yang
memenuhi halaman ru-
mah Prabu Jalatunda maupun yang berada di sekitar
tanah lapang. Semakin dingin udara malam, semakin
ramai pula suasana di sekitar tempat itu. Hampir semua orang di tempat itu
menari-nari, mengikuti suara gamelan yang mengalun merdu. Ditabuh oleh para na-
yaga yang duduk berjajar di tanah lapang.
Baladewa berdiri tegak menyaksikan orang-orang
yang sedang menari. Namun wajahnya tak sedikit
membersitkan kegembiraan. Sedangkan ingatannya te-
rus tertuju kepada Bong Mini yang disangkanya ber-
ada dalam kamar.
"Hei, kenapa sendirian di sini?" tegur Bongkap yang
diam-diam berjalan menghampiri Baladewa bersama
Prabu Jalatunda dan Ningrum.
Baladewa tersentak mendengar teguran itu. Sebe-
lum ia sempat menutupi kegugupannya, Prabu Jala-
tunda segera menyambung teguran Bongkap.
"Bong Mini mana?"
"Dia baru saja ke dalam!" sahut Baladewa cepat.
Bongkap, Prabu Jalatunda, dan Ningrum saling ber-
pandangan. "Dia memang masih letih dan harus beristirahat
agar besok pagi bisa bangun segar!" lanjut Baladewa, berusaha menutupi keadaan
yang sebenarnya.
Ketiga orang itu mengangguk-angguk beriring se-
nyum. Mereka kagum terhadap sikap Baladewa yang
dapat memaklumi keadaan Bong Mini.
"Kalau begitu, mari kita duduk di ruang dalam. Biar kami bertiga yang
menemanimu!" kata Prabu Jalatunda sambil melingkarkan tangannya ke pundak Bala-
dewa. Kemudian mereka berempat segera melangkah
menuju ruangan tengah. Sebuah ruangan khusus
yang disediakan untuk para tamu kehormatan.
"Kalian ngobrol-ngobrol saja di sini. Aku akan ke
kamar Bong Mini," ujar Ningrum. Tanpa menunggu ja-
waban, kakinya langsung melangkah menuju kamar
Bong Mini. "Bong Mini!" panggil Ningrum sambil mengetuk-nge-
tuk pintu kamar. Tapi yang dipanggil tidak memberi
sahutan. "Bong Mini!" panggil Ningrum lagi penasaran sambil
merapatkan telinganya ke daun pintu yang masih ter-
tutup. "Kau sudah tidur, Sayang?"
Masih tak ada sahutan. Kecuali suara gamelan yang
terdengar sayup-sayup.
Ningrum semakin penasaran. Walaupun Bong Mini
tidur lelap, biasanya ia selalu bangun manakala men-
dengar namanya dipanggil. Dengan hati-hati, Ningrum membuka pintu kamar
perlahan. Ketika ia melongok ke dalam, matanya tidak mene-
mukan Bong Mini. Ningrum penasaran. Ia melangkah
masuk seraya memanggil-manggil Bong Mini. Sedang-
kan pandangannya menyebar ke seluruh ruangan ka-
mar. Kosong. Ia tak melihat siapa-siapa di dalam. Kecuali seprai kusut yang
menunjukkan kalau tadi Bong Mini memang ada di dalam kamar.
"Ke mana lagi anak itu" Selalu saja bikin cemas
orang!" gumam Ningrum. Kemudian ia kembali menu-
tup kamar dan mencari Bong Mini ke taman bunga.
Pikirnya, "Siapa tahu gadis itu berada di sana." Di taman bunga Bong Mini tak
ditemukan. Kecuali Sang
Piao yang tengah bermesraan dengan Thong Mey atau
Ashiong yang sedang bercanda ria dengan Ratih Pur-
basari. Dari taman bunga, Ningrum melanjutkan langkah-
nya ke halaman rumah, di mana para penduduk te-


Putri Bong Mini 07 Api Berkobar Di Bukit Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ngah asyik menari mengikuti irama gamelan. Tapi di
sana pun matanya tidak melihat Bong Mini.
Saat itu pula timbul perasaan was-was dalam ha-
tinya. Khawatir terjadi sesuatu terhadap Putri Bong Mini. Bergegas ia menuju
ruangan di mana Prabu Jalatunda, Bongkap, dan Baladewa berada.
Tiga lelaki gagah yang tengah bercakap-cakap itu
terhenyak dari duduknya dan berdiri heran meman-
dang Ningrum yang berlari tergesa ke arah mereka.
"Ada apa, Rayi?" tegur Prabu Jalatunda dengan wa-
jah heran. Ningrum tidak segera menyahut. Kecuali matanya
saja yang memandang tajam pada Baladewa. Seolah
ada sesuatu yang hendak diucapkan.
"Kau bertengkar dengan Putri Bong Mini?" tanya
Ningrum dengan raut wajah yang menyimpan kemara-
han. "Tidak!" sahut Baladewa. Wajahnya menunjukkan
kebingungan mendapat tuduhan tadi.
"Jawab yang jujur!" bentak Ningrum.
"Su..., sungguh, Bu!" sahut Baladewa semakin tidak
mengerti dengan sikap ibunya yang mendadak marah
kepadanya. "Kenapa tiba-tiba kau memarahi putramu, Rayi"
Ada apa dengan Putri Bong Mini?" tanya Prabu Jala-
tunda. Suaranya terdengar lunak, penuh kesabaran.
"Bong Mini tidak ada di kamar!" jawab Ningrum.
Tiga lelaki gagah itu tersentak dan saling berpan-
dangan. Kemudian tanpa menunggu lebih lama, me-
reka bergegas menuju kamar Bong Mini.
Bongkap, Prabu Jalatunda, dan Baladewa tertegun
ketika pintu kamar dibuka. Apa yang dikatakan Ning-
rum benar. Kamar itu kosong, tanpa Bong Mini.
"Kita segera cari, Bongkap!" kata Prabu Jalatunda
menyarankan. "Tidak usah!" sahut Bongkap. "Aku yakin, tidak ter-
jadi apa-apa pada putriku."
"Bagaimana kalau besok Bong Mini belum juga
kembali, padahal kita harus segera berangkat ke negeri Manchuria?" tanya Prabu
Jalatunda. Bongkap tercenung. Sebelum ia mengambil tinda-
kan lebih lanjut, tiba-tiba datang Kao Cin Liong yang langsung membungkuk hormat
pada Bongkap. "Ada apa, Kao Cin Liong?" tanya Bongkap.
"Maaf, Tuanku! Aku hendak menyampaikan pesan
Putri Bong Mini!" kata Kao Cin Liong.
Keempat orang yang memang tengah kasak-kusuk
memperbincangkan kepergian Bong Mini itu menjadi
tersentak. "Katakanlah, Kao Cin Liong!" desak Bongkap.
"Tadi Putri Bong Mini keluar dan berpesan kepa-
daku agar Tuanku tidak perlu khawatir atau mencari
ke mana Putri Bong Mini pergi. Dia bilang padaku kalau kepergiannya hanya
sebentar," tutur Kao Cin
Liong, menyampaikan pesan Putri Bong Mini.
Baladewa tersentak mendengar laporan Kao Cin
Liong. "Pasti Bong Mini marah," pikirnya. Mengingat Bong Mini begitu ketus
ketika meninggalkannya di taman bunga tadi.
"Putriku bilang hendak pergi ke mana?" tanya Bong-
kap. "Putri Bong Mini justru menyembunyikan tempat
tujuannya, Tuanku. Malah ketika aku menawarkan di-
ri untuk mengawalnya, dia menolak!" sahut Kao Cin
Liong. Bongkap mengangguk-angguk. Keningnya berker-
nyit. Dia mencoba mengira-ngira tempat yang menjadi tujuan putrinya.
"Dia juga berpesan, kalau besok berangkat ke negeri Manchuria, kita diminta
menunggunya di Selat Malaka!" tambah Kao Cin Liong.
Bongkap menghela napas lega.
"Kalau demikian kita tidak perlu khawatir lagi. Ka-
rena putriku sendiri sudah menyampaikan pesannya
pada Kao Cin Liong!" kata Bongkap seraya memandang
Prabu Jalatunda dan istrinya.
"Tapi perasaanku tidak enak. Takut terjadi apa-apa
dengan Bong Mini!" ucap Ningrum perlahan, masih
mencemaskan keselamatan Putri Bong Mini.
Bongkap tersenyum. Dia mengerti perasaan Ning-
rum, yang umumnya sama dengan perempuan lain.
"Itu hanya perasaanmu saja. Percayalah!" hibur
Bongkap pada istri Prabu Jalatunda. Kemudian kaki-
nya melangkah ke halaman rumah untuk melihat para
penduduk yang masih bersenang-senang dalam pera-
yaan hari kebebasannya dari kebiadaban orang-orang
Perguruan Topeng Hitam. Diikuti pula oleh Kao Cin
Liong. Sedangkan Prabu Jalatunda dan Baladewa
mengantar Ningrum menuju kamarnya.
*** 9 Langit tampak mendung di Gunung Muda siang itu.
Gerombolan awan gelap tampak berarak ke arah sela-
tan. Membuat sinar matahari tidak sampai ke bumi.
Ditambah dengan turunnya kabut, membuat bukit itu
benar-benar gelap.
Seorang gadis mungil berpakaian merah ketat, tam-
pak melangkah menuju sebuah gubuk yang berdiri di
Gunung Muda. Tok tok tok! "Kanjeng!" panggil gadis itu ketika sampai di depan pintu gubuk yang terbuat
dari bilik. Hening. "Kanjeng! Muridmu datang!" ucap gadis itu lagi se-
telah beberapa saat ia berdiri menunggu sahutan. Namun, walaupun suaranya agak
dikeraskan, tetap tak
ada sahutan dari dalam gubuk.
Gadis berpakaian merah ketat itu semakin penasa-
ran. Kemudian dicobanya membuka pintu gubuk yang
ternyata tidak dikunci. Ketika pintu terbuka, dia melihat sosok gurunya, Kanjeng
Rahmat Suci tengah ter-
baring di atas dipan. Matanya terpejam seperti tertidur lelap.
Gadis tadi menghampiri gurunya yang tengah ter-
baring dan berdiri di samping dipan. Sejenak diperha-tikannya tubuh yang
terbaring lelap itu. Mulai dari wajah sampai ke ujung kakinya.
Tiba-tiba gadis itu tersentak manakala melihat dada gurunya tidak bergerak
layaknya orang bernapas. Lalu dia berlutut dan memperhatikan dada gurunya lebih
dekat lagi. Namun tetap saja dada lelaki itu tidak mengembang-kempis.
Mengetahui gurunya tidak bernapas lagi, gadis tadi
menangis terisak-isak. Air matanya meleleh di kedua pipinya. Ia merasa yakin
kalau gurunya, Kanjeng Rahmat Suci telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Dugaan gadis itu memang benar. Kanjeng Rahmat
Suci sudah meninggal enam hari yang lalu. Ia mati
tanpa sebab saat tertidur.
Gadis bertubuh mungil yang sedang menangis itu
tidak lain Putri Bong Mini. Semalam ia keluar dari kamar rumah Prabu Jalatunda
dan langsung menuju
Gunung Muda. Hal itu dilakukan karena hatinya dice-
kam rasa penasaran oleh peristiwa pertemuannya de-
ngan Kanjeng Rahmat Suci dan Putri Teratai Merah di alam gaib.
Rasa penasaran untuk segera mendatangi Gunung
Muda ternyata beralasan. Kanjeng Rahmat Suci ter-
nyata telah tiada.
"Kenapa secepat ini guru meninggalkanku?" ratap
Bong Mini di sela isak tangisnya. Kedua matanya membengkak, karena sejak semalam
ia terus menangis.
"Inikah maksud Kanjeng kenapa aku disuruh ber-
kunjung ke sini?" tanya Bong Mini lagi pada mayat gurunya. Sedangkan tangannya
menyentuh wajah Kan-
jeng Rahmat Suci.
Aneh! Ketika tangan Bong Mini menyentuh tubuh
gurunya itu, ia merasakan kehangatan sebagaimana
hangatnya orang yang masih hidup. Padahal tubuh
orang yang sudah mati biasanya akan terasa dingin.
Tapi mayat Kanjeng Rahmat Suci justru sebaliknya.
Bahkan dari jasadnya menyebarkan aroma yang amat
wangi. Tidak seperti mayat lain yang selalu menyebarkan bau busuk walaupun baru
satu hari. Inilah salah satu ciri yang menunjukkan seseorang berilmu tinggi.
Setelah puas menumpahkan segala ganjalan hati
dan tangisnya, Bong Mini bangkit dan melangkah ke-
luar. Dia berdiri tercenung sambil menyebarkan pan-
dangannya pada tanah sekeliling. Kemudian tangan-
nya bergerak mencabut pedang. Setelah berjongkok,
mulailah ia menggali tanah dengan ujung pedangnya.
Dengan tangkas tangan Bong Mini menggali lubang
untuk tempat peristirahatan terakhir Kanjeng Rahmat Suci.
Selesai membuat lubang berkedalaman sekitar satu
setengah kaki. Bong Mini kembali melangkah ke dalam gubuk. Diangkatnya perlahan-
lahan jenazah sang gu-ru, lalu dibawanya untuk dikuburkan ke dalam lubang yang
dibuatnya. Setelah diletakkan di dasar lubang, Bong Mini menimbun lubang dengan
galian tanah tadi.
"Semoga kau istirahat dengan damai, Kanjeng
Guru. Dan diterima di sisi Tuhan!" doa Bong Mini bersama linangan air mata.
Saking tak kuatnya menahan
sedih, Bong Mini memeluk gundukan tanah makam
gurunya itu dan menangis sepuas-puasnya.
Gerimis mulai turun rintik-rintik, menambah kela-
bunya suasana di sekitar tempat itu. Alam di sekitar bukit itu seolah-olah turut
berduka atas kepergian
Kanjeng Rahmat Suci menuju tempat peristirahatan
terakhirnya. Wajah sendu gadis bertubuh mungil yang berdiri di dekat pemakaman
itu, segelap awan mendung yang menyelimuti langit.
Selesai menguburkan gurunya, Bong Mini berjalan
gontai meninggalkan makam itu. Hatinya masih sedih
mengenang kematian Kanjeng Rahmat Suci.
*** Sementara itu, Bongkap dan pengikutnya telah
sampai di Bukit Roban. Salah satu bukit yang letaknya berdekatan dengan Selat
Malaka. Di ketinggian bukit itu, Bongkap dan pengikutnya dapat melihat kapal
milik Kerajaan Manchuria yang tertambat di selat itu.
"Kita akan gunakan kapal milik Kerajaan Manchu-
ria itu!" kata Bongkap dengan mata yang terus mengarah pada kapal berukuran
sedang yang mampu me-
nampung sekitar seratus prajurit.
Para pendekar mengangguk-angguk. Lalu mereka
melangkah menuju kapal yang dimaksud Bongkap ta-
di. Tidak lama berjalan, sampailah mereka di pesisir Selat Malaka. Ketika
tinggal beberapa langkah lagi
hendak mencapai kapal milik pasukan Kerajaan Man-
churia yang sudah tewas saat melawan pasukan
Bongkap di Bukit Tengkorak, tiba-tiba puluhan prajurit berlompatan dari dalam
kapal tadi dan langsung
mengepung pasukan Bongkap. Lengkap dengan pe-
dang masing-masing. Mereka adalah pasukan kedua
Kerajaan Manchuria yang baru tiba kemarin di selat
itu. Tujuan mereka tidak lain untuk membantu pasu-
kan pertama yang sudah sampai di negeri itu. Namun
ketika mereka mengetahui kalau Perguruan Topeng Hi-
tam telah musnah bersama prajurit Kerajaan Manchu-
ria yang datang lebih dulu, maka pasukan kedua se-
gera kembali ke Selat Malaka. Kemudian dua orang di antara mereka diperintahkan
membawa kapal yang
mereka tumpangi tadi ke negeri Manchuria. Sedangkan Liu Hen Hui, pemimpin
pasukan kedua bersama prajurit lain menunggu di dalam kapal yang ditumpangi
prajurit pertama yang sudah tewas.
Bongkap dan pasukannya menyebarkan pandangan
pada seluruh prajurit Kerajaan Manchuria yang me-
ngepung mereka. Jumlah mereka kurang lebih lima
puluh orang. Dengan pakaian prajurit kerajaan, rompi panjang berwarna merah
dengan terusan celana panjang ketat berwarna hitam. Sedangkan rambut mereka
yang rata-rata panjang itu diikat di pertengahan kepala.
"Kalian pasti orang-orang yang bersekutu dengan
Bongkap!" ucap Liu Hen Hui, seorang prajurit Kerajaan Manchuria yang ditugaskan
menjadi ketua pasukan.
"Ha ha ha...," Bongkap tertawa berderai menyambut
ucapannya. "Bagaimana mungkin kalian akan berhasil
menangkap Bongkap. Sedangkan rupanya saja tidak
kalian kenal!" cemooh Bongkap.
"Aku memang belum berjumpa dengan orang yang
bernama Bongkap. Tapi aku yakin, kaulah orang yang
bernama Bongkap!" terka Liu Hen Hui. Dia langsung
berpikir seperti itu, karena orang yang lantang berbicara biasanya adalah orang
yang dimaksud. Apalagi keti-ka lelaki berlengan satu di hadapannya tadi berkata
dengan sikap tenang, maka dia semakin yakin terhadap dugaannya.
Bongkap tersenyum sinis.
"Rupanya kau pandai menebak juga!"
Liu Hen Hui tersenyum. Senyum yang menggambar-
kan sifat kejinya.
"Bukan cuma pandai menebak, karena sebentar lagi
aku pun akan membawa kepalamu ke hadapan Kaisar
Manchuria!" ujar Liu Hen Hui sambil tersenyum po-
ngah. "Hm!" dengus Bongkap. "Kepongahanmu menarik
sekali untuk didengar. Tapi aku lebih senang kalau
kau dapat membuktikannya!" lanjut Bongkap dengan
sikap menantang.
Sing sing sing!
Sinar putih tampak bergulung manakala Sang Piao
dan Ashiong menarik pedang dari balik punggung. Be-
gitu pula dengan pendekar lain. Termasuk Thong Mey
dan Ratih Purbasari yang sudah mahir bermain pe-
dang. Melihat ketangkasan pengikut Bongkap dalam me-
narik pedang, Liu Hen Hui kembali tersenyum.
"Kalian tidak perlu ikut campur. Kedatanganku ke
sini cuma ingin menangkap lelaki bertangan buntung
itu!" kata Liu Hen Hui dengan gagah.
Ashiong dan Sang Piao memandang Bongkap. Begi-
tu pula dengan pendekar lain, seolah-olah meminta
persetujuannya.
Bongkap balas menatap dan mengangguk pada para
pengikutnya. Dengan serentak mereka memasukkan
pedang ke dalam sarungnya kembali. Kemudian me-
reka mundur sejauh tiga tombak. Begitu pula dengan


Putri Bong Mini 07 Api Berkobar Di Bukit Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

prajurit Kerajaan Manchuria.
Bongkap dan Liu Hen Hui saling berhadapan de-
ngan gagah. Mirip dua ekor singa jantan yang hendak bertarung. Mereka sama-sama
mengamati lawan dengan tajam dan penuh penilaian.
Mata Bongkap menangkap lawannya tersenyum ti-
pis ke arahnya. Sedangkan sorot matanya yang tajam
menggambarkan seseorang yang berwatak beringas
dan sadis. Sehingga timbullah sikap hati-hatinya dalam menghadapi lelaki yang
berdiri di hadapannya.
Begitu pula dengan Liu Hen Hui. Matanya menemukan
sorot mata Bongkap yang memancarkan sinar kebija-
kan. Tapi di balik itu justru memiliki kesadisan yang luar biasa. Sehingga ia
pun merasa harus sungguh-sungguh dalam menghadapi lawan yang satu itu.
Liu Hen Hui adalah seorang pendekar dari Bukit
Naga Merah yang letaknya masih berada dalam ling-
kungan Kerajaan Manchuria. Ketika tinggal di Bukit
Naga Merah, ia mendapat julukan sebagai 'Pendekar
Sadis'. Sesuai dengan sifatnya yang tak pernah mem-
biarkan lawan hidup, walaupun sudah meminta am-
pun. Setiap lawan yang dihadapi selalu mati dengan
tubuh mengerikan. Kalau tidak perutnya robek, maka
kepalanya terpisah dari badan.
Kesadisan lelaki berumur empat puluh tahun itu
ternyata sangat dikagumi oleh para saudagar keji atau para lintah darat.
Sehingga ia selalu mendapat panggilan untuk menjadi pembunuh bayaran. Bila ada
sau- dagar kaya yang menyimpan dendam pada saudagar
lain, dialah yang diperintah untuk membunuhnya de-
ngan imbalan yang cukup tinggi.
Masuknya Liu Hen Hui menjadi prajurit Kerajaan
Manchuria pun bukan kehendak sendiri. Ia justru
mendapat panggilan dari Kaisar Thiang Tok untuk me-
nangkap Bongkap dengan dukungan puluhan prajurit
sebagai pengawalnya. Kalau dia berhasil menangkap
Bongkap dan putrinya, baik hidup maupun mati, ia
akan mendapat kedudukan sebagai panglima perang.
"Ha ha ha...! Baru kali ini aku mendapatkan kesem-
patan untuk bertarung dengan 'Singa Perang' yang
menjadi buronan Kaisar Manchuria!" kata Liu Hen Hui disertai tawanya.
"Jangan banyak bicara, Penjilat! Segeralah berta-
rung!" dengus Bongkap yang memang selalu tak sabar
jika sudah berhadapan dengan musuhnya. Apalagi
musuh yang menurut penilaiannya memiliki kepan-
daian tinggi. Liu Hen Hui tersenyum mengejek.
"Baiklah, Monyet Buntung! Bersiaplah menghadapi
seranganku!" ejek Lie Hen Hui sambil membuka sera-
ngan dengan jurus 'Setan Mabuk Memukul Nyamuk'.
Wajah Bongkap menjadi merah padam mendengar
ejekan tadi. Darahnya berdesir panas ke seluruh tu-
buh. Namun, sebelum ia melepas kemarahan, tubuh
lawan telah melesat cepat ke arahnya.
Wut! Tamparan tangan lawan terlihat pelan. Namun di
dalam tamparan itu tersimpan tenaga yang mampu
menimbulkan angin dahsyat.
"Uh!"
Bongkap cepat mengelakkan tamparan tangan la-
wan yang menyambar punggungnya dengan cara me-
miringkan tubuhnya ke samping. Namun serangan Liu
Hen Hui semakin gencar, seolah-olah tidak memberi-
kan kesempatan kepadanya untuk melakukan sera-
ngan balik. Bahkan tamparan yang tadi mengarah ke
punggung, kini meluncur ke arah lehernya. Dan sera-
ngan kali ini lebih berbahaya dari yang pertama.
"Uts!"
Bongkap menjatuhkan diri dalam posisi telentang
untuk menghindari serangan. Sambil menjatuhkan di-
ri, Bongkap mengirim tendangan kaki kanan ke arah
perut lawan. Wut! "Uh!"
Tangan Liu Hen Hui yang tadi hendak menyambar
leher lawan segera ditarik dan digunakan untuk me-
mapak kaki Bongkap yang mengarah ke perutnya de-
ngan gerakan membacok. Tapi dengan cepat, Bongkap
menarik kakinya. Lalu tubuhnya bergulingan. Sehing-
ga tangan lawan yang berusaha membacok kakinya
hanya menebas angin.
Para pendekar di pihak Bongkap tampak terkagum-
kagum melihat kepandaian silat yang dimainkan oleh
Liu Hen Hui. Mereka membayangkan, kalau saja bu-
kan Bongkap yang menjadi lawannya, tentu dalam
waktu singkat pertarungan itu dapat diselesaikan dengan kemenangan berada di
tangan Liu Hen Hui.
"Hiaaat!"
"Hiaaat!"
Tubuh Liu Hen Hui melayang ke atas dengan jurus
tendangan kaki 'Panah Setan'. Sebuah tendangan lu-
rus ke depan. Dengan cepat Bongkap pun melakukan
gerakan yang sama dan menangkis tendangan lurus
itu dengan kaki yang menjulur lurus pula.
Desss! Telapak kaki mereka bertemu di udara dalam satu
benturan tenaga yang amat hebat. Memaksa tubuh ke-
duanya terpelanting. Kalau Bongkap tidak cepat-cepat berjungkir balik mematahkan
luncuran badannya, tentu dia akan membentur pasir pantai dengan keras.
Bongkap dan Liu Hen Hui telah berdiri gagah kem-
bali. Mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar ti-ga tombak. Sedangkan tubuh
mereka sudah dibanjiri
keringat. Sreset! Liu Hen Hui mencabut pedangnya. Dalam sekejap
selarik sinar putih keperakan mencuat dari pedang itu karena terpaan sinar
matahari. Melihat lawannya mengeluarkan pedang, Bongkap
pun tidak kalah siap. Segera dicabutnya pedang de-
ngan tangkas. Dia sudah tidak ingin lebih lama lagi bertarung dengan lawannya
yang terlihat sadis itu.
"Hiyaaat!"
Liu Hen Hui mengeluarkan pekikan panjang bersa-
ma terjangan tubuhnya ke arah lawan.
Trang! Bongkap menangkis ujung pedang lawan yang
mengarah dadanya dengan pedangnya pula. Sehingga
pedang di genggaman lawannya terpental akibat 'Ajian Sukma' yang disalurkan
lewat pedang Bongkap.
Liu Hen Hui tersentak kaget saat menyadari pe-
dangnya terlepas. Tapi dengan cepat pula, Liu Hen Hui menyerang lawannya kembali
dengan kedua tangan di-rentangkan ke depan. Dan dari kedua tangan itulah
mencuat jarum-jarum hitam beracun menyerang Bong-
kap. Wut wut wuttt! Tubuh Bongkap dengan cepat bersalto sambil me-
nangkis jarum-jarum hitam beracun yang menyambar
tubuhnya dengan deras dan tak henti-hentinya.
"Hiyaaat!"
Didahului sinar pedangnya, tiba-tiba tubuh Bong-
kap meluncur ke depan. Kemudian sinar pedang itu
membabat kanan dan kiri tubuh lawan. Sedangkan
ujung lengan bajunya yang semula lemas kini bergerak kaku ke kepala Liu Hen Hui.
Membuat lawan tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi.
"Hiaaah!"
Mulut Liu Hen Hui mengeluarkan lengkingan nya-
ring berbareng gerakan tangan yang mengambil sesua-
tu dari balik bajunya. Ternyata sebuah cambuk hitam sepanjang sekitar tiga
meter. Wut! Ujung cambuk itu menyambar ujung lengan baju
lawan yang mengarah ke kepalanya.
"Uh!"
Bongkap menarik ujung lengan baju bersama lom-
patan ke belakang, menghindari serangan cambuk
yang mengeluarkan hembusan angin dahsyat. Itulah
Cambuk Lidah Naga yang didapat Liu Hen Hui ketika
bertapa di Goa Naga Merah. Sebuah cambuk sakti
yang dapat menggetarkan bahkan melumpuhkan tu-
lang jika mendarat di tubuh lawan.
Melihat lawannya mundur ke belakang, Liu Hen Hui
segera mengejar penuh nafsu. Sedangkan cambuk hi-
tam yang tergenggam di tangan kanannya terus berge-
rak-gerak menyambar tubuh Bongkap.
Tar tar tar! Cambuk hitam itu terus memburu Bongkap yang
bergulingan di pasir. Begitu cepat serangan itu, hingga Bongkap mengalami
kesulitan untuk melakukan tangkisan. Apalagi menyerang.
Tarrr! "Aaakh!"
Bongkap memekik tertahan manakala ujung cam-
buk lawannya sempat mendarat di punggungnya. Se-
ketika itu juga tubuh Bongkap terasa perih dan panas.
Sedangkan tulang-tulang di sekujur badannya pun te-
rasa ngilu-ngilu. Membuat pedangnya terlepas begitu saja.
Para pendekar yang berada di pihak Bongkap tam-
pak berdiri tegak melihat pemimpin mereka berguli-
ngan dengan kedua tangan meraba punggungnya yang
terkena pecutan ujung cambuk lawan. Mereka ingin
menolong, tapi jelas tidak mungkin. Sebab di pihak lawan, prajurit kerajaan yang
berjumlah lima puluh
orang itu pun sudah siap dengan pedang masing-
masing. Menjaga kemungkinan kalau pasukan Bong-
kap menyerang secara tiba-tiba.
"Ha ha ha...!" Liu Hen Hui tertawa terbahak melihat Bongkap merintih-rintih
kesakitan. "Cukup sampai di sini kau dapat melihat sinar matahari!" lanjutnya
sambil menggerakkan cambuknya kembali ke tubuh la-
wan. Tapi sebelum cambuk itu mengenai sasaran, tiba-tiba sebuah bayangan
berkelebat cepat menyambar tu-
buh Bongkap dan membawanya ke tempat yang agak
aman. Siapakah sosok bayangan yang telah menyela-
matkan jiwa Bongkap dari ancaman cambuk hitam
maut itu" Mampukah Liu Hen Hui menandingi kepan-
daian ilmunya" Dan bagaimana dengan Bong Mini"
Apakah sudah sampai juga di tempat itu" Bagaimana
pula dengan rencana penyerbuan ke Kerajaan Man-
churia" Berhasilkah mereka mengadakan penyerbuan,
atau mereka dapat dikalahkan pasukan Liu Hen Hui"
Silakan ikuti kelanjutan kisah Bong Mini dalam epi-
sode: 'Runtuhnya Kerajaan Manchuria'
SELESAI Scan/Edit: Clickers
PDF: Abu Keisel
Document Outline
1 *** *** 2 *** *** *** *** 3 *** 4 *** 5 *** *** 6 *** *** 7 *** *** 8 *** *** *** 9 *** SELESAI Pedang Golok Yang Menggetarkan 2 Pendekar Pulau Neraka 24 Prahara Di Pantai Selatan Naga Sasra Dan Sabuk Inten 36
^