Pencarian

Pena Wasiat 18

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen Bagian 18


"Benar, kalian memang sangat menghormatiku, aku
mempunyai kesan yang sangat baik kepada kalian,
berbicara sesungguhnya aku sama sekali tak ingin
mencelakai kalian, tapi keadaan yang kuhadapi sekarang
berbeda, mungkin lohu tak mampu untuk melindungi kalian
lagi" "Locianpwe, apakah kau benar-benar ingin membunuh
kami ?" seru Ui Bwee cepat.
"Benar, aku mempunyai kesulitanku sendiri, sebetulnya
aku tak ingin datang kemari untuk mencari kalian lagi, tapi
dalam kenyataan lohu sudah tidak bisa bebas menentukan
pilihanku lagi" ''Locianpwe, kau mempunyai persoalan apa" Katakan
saja, asal kami dapat melakukannya, pasti akan kami
laksanakan tanpa membantah" kata Lik Hoo dengan cepat.
Kian Hui seng menjadi termangu-mangu untuk beberapa
saat lamanya, kemudian tanyanya:
"Kalian hendak membantu diriku?"
''Benar?" jawab Ui Bwee, "kami menghormati dirimu dan
perangaimu, maka kamipun bersedie mengorbankan tenaga
dan pikiran untuk membantu"
"Soal ini soal ini.... mungkin bantuan ini tak mungkin
bisa kalian berikan, aaai... tentunya kalian tak akan
memberikan tengkuk kalian akan kugorok bukan?"
"Soal mati dibedakan antara mati dalam masalah yang
penting dan mati dalam soal sepele, seandainya kami
mempunyai harganya untuk mati, asal locianpwee meminta
kepada kami, kami segera akan menggorok leher kami
sendiri" "Soal ini mah tak usah, aku hendak memberi sebuah
kesempatan kepada kalian, sekarang kalian bertiga boleh
bekerja sama untuk melayani lohu"
''Maksudmu berkelahi?"
"Benar, lohupun tak boleh terlalu mencari keuntungan
buat diri sendiri maka lohu dengan seorang diri akan
melayani kalian bertiga untuk melangsungkan suatu
pertarungan hidup mati".
"Locianpwe, terhadap orang yang berkedudukan mulia
dan bernama besar semacam kau mana boleh kami
melancarkan serangan untuk menghadapi dirimu ...."
"Kalian pun tak usah sungkan-sungkan lagi, sekarang
loloskanlah senjata kalian bertiga!"
"Tunggu sebentar" seru Ang Bo tan, "locianpwe, dengan
kau seorang melawan kami bertiga berapa persenkah
kemenangan yang berada ditanganmu"."
Kian Hui seng menghela napas panjang.
"Sesungguhnya lohu sukar untuk menjawab pertanyaan
itu.." "Kenapa?" "Karena paling tidak sembilan puluh persen kemenangan
berada di pihak lohu".
"Ini berarti kami sudah pasti akan mati''
''Benar, itulah sebabnya lohu sangat tidak tega untuk
bertarung melawan kalian"
"Benar juga perkataan itu,kalau toh kau sudah merasa
yakin untuk membunuh kami, tapi kau masih bersikeras
untuk melancarkan serangan kepada kami, itu berarti suatu
pembunuhan yang terencana namanya."
"Yaa, seharusnya memang demikian"
''Dengan nana serta kedudukan locianpwe di dalam dunia
persilatan mengapa kau sampai melakukan perbuatan
rendah semacam itu?"
"Sungguh mati lohu merasa tak ingin melakukan
perbuatan semacam ini, tapi lohu tak berdaya untuk
menghindarinya" "Golok pembunuh berada di tanganmu, untuk membunuh
orang, kau pun harus turun tangan lebih dulu, jika kau tidak
bersedia untuk melakukannya, masa ada orang yang bisa
memaksamu untuk berbuat demikian?".
"Kalau cuma ada orang yang memaksaku untuk berbuat
demikian, aku tak akan takut kepada mereka"
"Kalau memang kau tidak takut di paksa mereka, lantas
dikarenakan parsoalan apa?"
"Aku hendak menolong orang"
Ang Bo tan segera menghela napas panjang.
"Aaaai. locianpwe jadi kau membunuh kami karena ingin
menolong orang lain?" katanya
"Ya, memang begitu"
"Locianpwe, mereka orang dengan satu nyawa, kamipun
orang dengan satu nyawa, dengan membunuh orang untuk
menolong orang, apakah perbuatan semacam ini tak akan
menodai nama baik serta kedudukanmu"
''Aku... aku benar-benar tidak berdaya, aku tidak
sepantasnya membunuh kalian tanpa sebab musabab, tapi
ketiga lembar nyawa merekapun harus kutolong, sebab
mesti antara manusia dan manusia tak ada perbedaannya,
namun hubungan manusia satu dengan lainnya toh
berbeda-beda" "Apa bedanya" Semua toh manusia juga"
"Karena mereka adalah sanak keluargaku, mereka
adalah istri dan kedua orang putri ku."
"Oooh. ..." "Ketiga lembar nyawa mereka harus ditukar dengan
nyawa kalian bertiga, coba bayangkan apa yang harus
kulakukan sekarang."
"Aaaah .... segagah-gagahnya seorang enghiong,
memang bakal lemah bila dihadapkan soal istri dan
anak...." gumam Ang Bo tan.
"Aaaah, apa dayaku sekarang, terpaksa aku mohon nona
bertiga suka memaafkan perbuatanku ini"
"Apakah orang itu mengatakan banwa kau harus
membunuh kami bertiga?"
"Itu sih tidak, dia hanya mengatakan tiga nyawa ditukar
dengan tiga nyawa, asal ketiga nyawa tersebut adalah
orang yang Ing gwat san ceng, hal itu sudah lebih dari
cukup, cuma..." "Cuma kenapa?" ''Bila aku berhasil memperoleh satu lembar nyawa dari
seseorang tertentu, maka aku dapat memperoleh kembali
ketiga lembar nyawa istri dan putri-putriku"
''Oooh, siapakah orang tertentu yang dimaksudkan itu?"
"Pemilik dari perkampungan Ing gwat san ceng, Cu Siau
hong" "Tampaknya jelas sekali keterangannya yang mereka
berikan kepadaku, sampai-sampai nama dari majikan kami
pun telah diberitahukan kepadamu"
"Benar! Semua gerak gerik kalian semua berada dalam
pengawasan mereka, cuma sayang aku tidak bertemu
dengan Cu Siau hong, asal aku bisa menemukan dirinya
maka kalianpun boleh tak usah mati"
"Padahal sekalipun kau bisa berjumpa dengan majikan
kami, kaupun tak akan berdaya untuk menghadapinya"
''Kenapa?" ''Karena... karena, belum tentu kau dapat
membunuhnya" Paras muka Kian Hui seng segera berubah hebat,
serunya dengan cepat: "Kau mengatakan kalau aku tak mampu membinasakan
dirinya"'' Tiba-tiba terdengar suara dedaunan berisik dan Cu Siau
hong telah melayang turun dari atas pohon besar. Kian Hui
seng segera mengawasi Cu Siau hong, beberapa saat
lamanya, setelah itu dia menegur..
"Kaukah cengcu dari perkampungan Ing gwat san ceng"''
"Betul akulah Cu Siau hong!"
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Pentingkah persoalan ini?"
"Aaaai... dengan usia lohu setua ini, bila diharuskan
membunuh seorang bocah seperti kau, apakah hal ini tak
akan ditertawakan oleh umat persilatan"''
Orang ini memang terlalu banyak berbicara, walaupun
dia sudah bertekad hendak membunuh orang, tapi masih
banyak yang dirisaukan bahkan kuatir sekali bahwa
perbuatannya itu akan mengganggu nama baiknya
"Kian tayhiap" ucap Cu Siau hong kemudian,"jikalau kau
masih merisaukan begitu banyak hal mengapa pula kau
hendak membunuh orang?"
''Lohu tak ingin membunuh orang, tapi mau tak mau aku
harus membunuh orang!" "Kesulitan locianpwe telah
kudengar dengan seksama''
''Kalau begitu bagus sekali, tak usah lohu menjelaskan
sekali lagi kepadamu"
Cu Siau hong manggut-manggut.
"Kian tayhiap, aku masih mempunyai banyak persoalan
yang hendak memohon petunjukmu!"
''Baik, katakanlah!'' "Bila kau berhasil membunuhku, tentu saja dapat
menyelamatkan jiwa istri dan putrimu, tapi bila kau tak
berhasil membunuhku, maka akibat macam apakah yang
bakal terjadi?" "Soal ini" Lohu masih belum pernah membicarakan
tentang soal ini dengan mereka" "Mengapa tidak
dibicarakan?" "Karena lohu merasa tak perlu untuk membicarakan
persoalan semacam ini dengan merek"
"Oooh.. apakah dikarenakan kau merasa yakin bisa
membinasakan diriku ....''
"Lohu pun tak usah bersikap sungkan lagi denganmu,
mungkin kau atau ketiga orang anak buahmu pasti akan
berhasil menjadi korban di tangan lohu"
"Seakan-akan kau merasakan yakin sekali akan hal ini"
"Benar, kalau lohu tidak mempunyai keyakinan, mereka
pun tak akan mencari lohu untuk melakukan perbuatan ini''
Cu Siau-hong tersenyum. "Tak usah merasa takut soal lain, yang ditakuti adalah
seumpama sampai terjadi, seandainya Kian tayhiap sampai
gagal dengan usahamu untuk membunuhku, bukankah hal
ini justru akan mencelakai istrimu dan putri-putrimu?"
"Cu Siau-hong, apakah kau menganggap lohu bukan
tandinganmu?" "Aku tak ingin berbicara, tapi akupun tak ingin menilai
rendah kemampuanku, dalam suatu pertarungan, maka soal
menang kalah, masing-masing pihak berhak memegang
separuh bagian" "Maksudmu, kesempatan untuk menang atau kalah
diantara kau dan lohu masing-masing adalah separuh
bagian"' "Tampaknya Kian tayhiap seperti tidak percaya dengan
perhitunganku" "Tidak percaya sama sekali tidak percaya". seru Kian
Hui-seng dengan suara dingin.
"Kian tayhiap, mengapa kau tidak balik dulu untuk
membicarakan persoalan ini dengan majikanmu itu.."
Dengan sorot mata yang amat tajam Kian Hui seng
memperhatikan seluruh badan Cu Siau hong dari atas
sampai ke bawah, setelah itu, katanya lagi:
"Bocah cilik, kalau dilihat dari parasmu kamu seperti
mempunyai satu kepandaian yang hebat, tapi kau sudah
pasti bukan tandingan lohu"
'Sekalipun kau Kian tayhiap pasti dapat menangkan
diriku, rasanya juga tak perlu menyerempet bahaya
tersebut, mengapa tidak balik dulu untuk membicarakan
persoalan ini hingga jelas?".
Kian Hui seng termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya kemudian ia menjawab.
"Aku rasa tak perlu, cuma lohu tanpa sebab tanpa
musabab telah datang untuk membunuhmu, bagaimanapun
juga aku merasa sedikit tidak tentram.."
"Kau tak usah minta maaf, budi dan dendam dalam dunia
persilatan memang sering terjadi tanpa sebab, seandainya
aku sampai tewas didalam pertarungan nanti, anggap saja
memang kepandaianku sendiri yang tidak becus."
Mendadak Kian Hui seng mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak. "Haaabhh... haaahh....haahhh, bagus, anak muda kau
memang seorang pemuda yang sangat gagah, lohu bersedia
meluluskan permintaanmu".
"Meluluskan permintaan apa?"
"Bila lohu telah membunuhmu nanti, aku bersedia
menyelesaikan suatu keinginan atau suatu harapanmu yang
belum terselesaikan sekarang".
"Tidak usah, harapanku kelewat banyak, sekalipun Kian
tayhiap ingin membantu juga tak mungkin bisa
membantunya..." "Cu cengcu sayang sekali kita harus berjumpa dengan
suasana dan keadaan seperti ini, kalau tidak, lohu bersedia
untuk mengikat tali persahabatan dengan dirimu".
"Tak usah sungkan-sungkan, kalau toh Kian tayhiap
bersikeras hendak berbuat demikian terpaksa aku akan
melayani keinginanmu"
"Cu cengcu dalam bidang senjata tajam, atau tangan
kosong kah kepandaianmu paling sempurna."
"Kian tayhiap sendiri?"
"Ilmu golok lohu sangat baik, begitu golok berkelebat,
orang pasti akan tewas, sehingga orang persilatan
menyebutku golok lewat tidak bersuara, sedang soal ilmu
tangan kosong lohu percaya kepandaianku dibidang inipun
cukup lumayan, oleh karena itu Cu cengcu boleh memilih
sesuka hatimu, cuma setelah pertarungan dimulai lohu
hendak menerangkan lebih dulu, baik dalam soal ilmu
pukulan maupun ilmu senjata, lohu tak akan berbelas
kasihan kepadamu, oleh sebab itu kaupun tak usah
sungkan-sungkan" Cu Siau-hong termenung sebentar, kemudian katanya:
"Mari kita mencoba tangan kosong dulu, jika menang
kalah belum bisa ditentukan kita boleh lanjutkan
bertarungan dengan menggunakan senjata tajam".
"Baklah, kau harus berhati-hati"
Begitu selesai berkata, kelima jari tangan kanannya telah


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

diayunkan kedepan dada Cu Siau hong.
Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.
Agaknya Cu Siau hong telah mempersiapkan diri sedari
tadi, dia segera menarik napas panjang dan tiba-tiba saja
mundur sejauh tiga depa dari tempat semula.
Gerakan tubuh Kian Hui seng ibaratnya selapis cahaya
tak berwujud yang bisa bergerak cepat, baru saja Cu Siau
hong mundur, tahu-tahu dia sudah mengikuti maju pula
kedepan sambil menerjang kearahnya.
Secara beruntun Cu Siau hong harus berkelit sebanyak
tiga kali sebelum berhasil menghindarkan diri dari serangan
lawannya ini. Setelah sadar kalau musuh yang dihadapinya sekarang
adalah jago lihay dari dunia persilatan, diam-diam pemuda
itu merasa terperanjat...
Kian Hui seng tampak manggut-manggut sembari
berkata: "Bocah cilik, kepandaianmu hebat juga"
"Terima kasih, kau terlalu memuji"
"Sekarang lohu hendak memberi sebuah kesempatan
kepadamu untuk melancarkan serangan balasan."
"Kita sama-sama bertarung, rasanya kaupun tak usah
mengalah kepadaku hati-hati, aku hendak melancarkan
serangan balasan." Tiba-tiba ia melompat kemuka sambil melancarkan
sebuah pukulan dahsyat.. Kiam Hui seng menyaksikan serangan itu datangnya
sangat dahsyat, dengan cepat dia mengayunkan pula
telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman
tersebut. "Blaaammm" Ketika sepasang telapak tangan saling bertemu, segera
terjadilah suara benturan yang sangat keras.
Cu Siau hong merasakan seluruh badannya seolah-olah
dihantam oleh sebuah benda yang beribu-ribu kati
beratnya, tanpa terasa badannya mencelat sampat setinggi
satu kaki lebih sebelum berhasil mengendalikan diri lagi.
Buru-buru dia jumpalitan ditengah udara dan melayang
kembali ketanah.. Dengan cepat Cu Siau hong menarik napas panjangpanjang,
setelah itu pelan-pelan dia baru berkata:
"Kian tayhiap, sungguh sempurna amat tenaga dalam
yang kau miliki." Setelah menyaksikan pemuda melayang turun kembali
ke tanah, Kian Hui seng memandangnya sambil
menunjukkan rasa keheranan, ia menarik napas panjangpanjang,
lalu berkata: "Cu cengcu, baik-baikkah kau?"
"Masih mendingan, serangan yang kau lancarkan
barusan benar-benar mempunyai kekuatan yang mencapai
beribu-ribu kati beratnya.."
"Tapi toh tidak berhasil melukai dirimu, juga tidak
membuat kau kehilangan kemampuan untuk melanjutkan
kembali pertempuran"
"Pada saat sepasang telapak tangan kita mula-mula
berjumpa, aku memang sedikit merasa seakan-akan tak
sanggup mengendalikan diri lagi".
"Cu cengcu, apakah kau pernah melatih ilmu untuk
menyingkirkan tenaga orang?"
Cu Siau hong memang pernah melatih kepandaian
tersebut, itulah pelajaran dari si Koay sian Ui Thong yang
mengajarkan bagaimana caranya memindahkan tenaga
pukulan orang ke tempat lain, hanya saja dia sendiri tidak
tahu. Sebelum merasakan tenaga pukulan dari Kian Hui
seng tadi, daya tekanan lawan yang serangannya datang
bergelombang, tanpa terasa pemuda itu telah
menggunakan ilmu untuk menyalurkan tenaga pukulan
orang ke benda lain, kalau tidak niscaya dia akan dibikin
terluka parah oleh serangan lawan yang maha dahsyat
tersebut. Cu Siau hong tak bisa menjawab pertanyaan orang
secara terang-terangan, tapi diapun tak dapat menyangkal,
maka sambil tertawa lebar katanya:
"Tenaga pukulanmu tampaknya jauh berbeda daripada
tenaga pukulan orang lain"
"Aaai.... dengan usia cengcu yang masih muda, ternyata
sanggup menerima pukulan penembus hatiku yang sangat
dahsyat, hal ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang
kau miliki memang benar-benar sudah mencapai
ketingkatan yang luar biasa ...."
Mendengar perkataan itu diam-diam Cu Siau hong
merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:
"Dia menyebut ilmu pukulannya sebagai ilmu pukulan
penembus hati, tampaknya merupakan sejenis ilmu silat
yang maha dahsyat dan mengerikan sekali, tak nyana pada
saat ini aku berhasil menghindari serangan yang mematikan
itu" Padahal tiada sesuatu kejadian yang begini kebetulannya
dalam kolong lagit, cuma saja Cu Siau hong masih belum
terlampau memahami diri sendri, dia tidak mengerti kalau
saat ini kepandaian yang dimilikinya sudah amat hebat,
terutama sekali ilmu untuk mengalirkan tenaga pukulan
orang. Seandainya dia tahu akan hal ini dan berhasil melatihnya
hingga mencapai kesempurnaan yang bisa menuruti
perasaan sendiri, mungkin dia bisa manfaatkan pula
kesempatan itu untuk balas menyerang lawan.
Cu Siau hong merasa Kian Hui seng benar-benar adalah
seorang manusia yang sangat menakutkan, dia tak dapat
memberi kesempatan lagi kepadanya, sambil menghimpun
tenaga serta merta serangan gencar dilancarkan secara
bertubi-tubi. Setelah menderita kerugian sekali, Cu Siau hong telah
bertindak lebih seksama dan cekatan, dia berusaha keras
untuk menghindari suatu bentrokan kekerasan dengan
tenaga pukulan lawan. Oleh sebab itu selama pertarungan berlangsung, dia
selalu melancarkan serangan disertai dengan lompatanKANG
ZUSI http://kangzusi.com/
lompatan, sementara tenaga pukulan lawan yang keras dan
kuat, selalu dihindari dengan kelitan-kelitan yang seksama.
Tapi puluhan gebrakan kemudian dia mulai merasa
bahwa tenaga serangan lawan sesungguhnya tidak kelewat
aneh dan sakti maka sambil tertawa tergelak dia mulai
mengembangkan serangkaian serangan gencar yang
bertubi-tubi. Tampak sepasang telapak tangannya diputar bagaikan
roda, dalam waktu singkat sepasang tangan itu sedang
melancarkan serangan sebanyak sembilan buah lebih.
Ke delapan belas serangan tersebut bukan saja
dilancarkan dengan suatu kekuatan yang luar biasa dan lagi
dilepaskan pada saat yang hampir bersamaan.
Cu Siau-hong sebenarnya berada pada posisi menyerang
secara berulang kali, tapi dengan cepatnya pula dia kena
desak orang sehingga harus merubah posisinya dipihak
yang bertahan. Kian Hui-seng segera menghela napas panjang, serunya:
"Kau benar-benar seorang manusia yang sangat aneh..."
Telapak tangannya melancarkan serangan-serangan
yang lebih gencar lagi, memaksa Cu Siau-hong menjadi
repot dan kalang kabut sendiri.
Setelah melancarkan serangan-serangan untuk
membendung datangnya serangan Kian Hui seng yang
datangnya secara bertubi-tubi, dia lantas balik bertanya:
"Apa yang kau herankan?"
"Sewaktu aku orang she Kian melancarkan pukulan
penembus hati yang disertai tenaga pukulan yang begitu
dasyatnya, kau dapat menghindarkan diri secara mudah,
sebaliknya serangan yang kulancarkan sekararg bukanlah
terhitung sebuah pukulan yang aneh, tapi nyatanya kau
seakan-akan seperti tak sanggup menahan diri"
Mendadak permainan kepalan tangan Cu Siau-hong telah
berubah, jurus-jurus serangan aneh dilancarkan keluar
berulang kali. Cu Siau-hong yang sebenarnya sudah berada dalam
posisi yang terdesak dan terancam mara bahaya, dalam tiga
sampai lima gerakan saja, dia telah berhasil memperbaiki
posisinya yang amat buruk itu..
Sembari menahan ancaman-ancaman yang dilepaskan
Cu Siau-hong, diam-diam Kian Hui seng merasa terkejutnya
bukan kepalang, diam-diam dia lantas berpikir:
"Sakti sekali ...."
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat
dalam suatu pertarungan sengit dua puluh gerakan kembali
sudah lewat, selama ini serangan yang dilancarkan oleh Cu
Siau hong sebentar biasa sebentar aneh tapi dia selalu
mempertahankan suatu keseimbangan dengan lawannya.
Dalam pertarungan yang amat seru, tiba-tiba saja Cu
Siau-hong mengeluarkan sejurus serangan aneh. Jurus
serangan aneh itu datangnya secara tiba-tiba dan sama
sekali tidak mendatangkan bekas..
Kian Hui-seng sedang maju, sambil melancarkan
serangan, kontan saja bahu kirinya kena terhajar serangan
lawan secara telak. Didalam serangan tersebut, tenaga pukulan yang
disertakan amat berat dan dahsyat, tanpa terasa Kian Huiseng
tergetar mundur sejauh satu langkah lebih.
Tapi Cu Siau-hong sendiripun merasakan pergelangan
tangan kanannya menjadi kesemutan, seluruh lengan
kanannya seakan-akan kehilangan tenaganya dan tak
mampu diangkat lagi. Telapak tangannya tadi seolah-olah menghantam diatas
sebuah tubuh yang keras bagaikan baja, membuat separuh
badannya ikut kesemutan pula.
Diam-diam ia menggertak gigi menahan diri, kemudian
sambil menunjukkan sekulum senyuman katanya:
"Tampaknya kau telah berhasil melatih ilmu otot kawat
tulang besi" Paras muka Kian Hui seng telah berubah menjadi pucat
pias seperti mayat, dia menghela napas panjang.
''Aaai, selama hidup belum pernah lohu kena dihajar
orang seperti hari ini, tapi kau nyatanya kau sanggup untuk
menghantam diriku secara telak"
''Aaah, aku hanya secara untung-untungan saja berhasil
menyarangkan pukulanku"
"Tiada suatu untung-untungan dalam pertarungan ini dan
akupun tahu kalau seranganmu bukan berhasil karena
secara kebetulan." "Oooh . . .'' "Serangan yang kau lancarkan itu aneh sekali, lohu
merasa tak sanggup untuk menghindarkan diri".
"Locianpwe terlalu sungkan"
"Sekarang, mau tak mau lohu harus memikirkan kembali
perkataanmu tadi" "Memikirkan apa?"
"Memikirkan apakah aku perlu untuk kembali dan
memperbincangkan kembali persoalan ini dengan mereka?"
"Lohu merasa tak berkeyakinan lagi untuk bisa
menangkan dirimu" "Betul", seru Cu Siau hong cepat, "entah bagaimana hasil
pertarungan selanjutnya lo-cianpwe memang sepantasnya
untuk membicarakan persoalan ini sekali lagi dengan
mereka" Kian Hui seng manggut-manggut:
"Baik", ucapnya demikian. "tunggulah lohu sebentar
disini, aku akan pergi sebentar untuk menjumpai mereka"
Dia lantas membalikkan badan dan berlalu dengan
langkah lebar. Memandang bayangan punggung Kian Hui seng yang
menjauh, diam-diam Cu Siau hong menghembuskan napas
panjang, kemudian serunya:
"Tan Heng, kenalkah kau dengan orang ini?"
"Pernah mendengar orang membicarakan soal orang ini,
tapi malam ini baru kujumpai untuk pertama kalinya"
"Ilmu silat yang dimiliki orang ini terlalu lihay, lagipula
seluruh badannya keras bagaikan baja..."
"Sekalipun demikian, toh kongcu berhasil juga
menghantamnya satu kali ...." seru Lik Hoo.
Cu Siau hong menghela napas panjang.
"Kalian dengarlah baik-baik, sebentar jika dia balik
kembali maka diantara kami berdua pasti akan berlangsung
suatu pertarungan sengit, yang menentukan mati hidup
berdua.." "Kongcu, bila kau menggunakan tangan kosong lagi
maka kau pasti akan menderita kerugian besar" sela Tan
Heng. "Aku tak mungkin mengajaknya bertarung dengan
tangan kosong lagi, bila pertarungan berlangsung lagi, tapi
pasti akan menggunakan senjata tajam untuk
menyeliesaikannya" "Peluang untuk menangkan dia tidaklah terlalu besar,
oleh karena itu begitu pertarungan kami berkobar nanti,
kalian harus segera mengundurkan diri"
"Kongcu, kami mendapat perintah untuk mengikuti
kongcu dan menyumbangkan tenaga serta nyawa kami
untuk kongcu, kami rela mati demi kongcu, hidup demi
kongcu, jika kongcu mati, buat apa kami tetap hidup di
dunia ini, lagipula kehidupan kami di dunia ini hanya akan
merupakan suatu lelucon besar belaka"
"Mati ada yang ringan adapula yang berat, cara kematian
semcam ini sesungguhnya merupakan suatu kematian yang
sama sekali tiada harganya''
"Kongcu, kami sudah pasrahkan nasib dan mati hidup
kami kepada kongcu, hal soal ini bukan soal berharga atau
tidak" ''Tan Heng, bila kau sudah mati, maka organisasi yang
kita bentuk sekarang pun sama artinya tak ada lagi didunia
ini, apalah artinya bila kalian mengikuti masuk ke liang
kubur?" Mendadak Ui Bwee menukas sambil tertawa:


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kongcu, menurut pandangan aku yang rendah, keadaan
yang kita alami tak bakal sejelek itu, meski tenaga dalam
yang dimiliki Kian Hui seng amat sempurna, namun dia pun
seorang kuncu sejati"
"Orang ini masih mempunyai sebuah julukan lain yang
disebut Kun cu to (golok lelaki sejati) sambung Tan Heng
pula, sekalipun dia sangat jujur dan merupakan seorang
Kuncu, tapi apapula hubungannya dengan ilmu silat yang
dia miliki?" "Besar sekali hubungannya" kata Ui Bwee cepat.
"Tolong terangkan ucapanmu itu"
"Kalau orangnya jujur dan seorarg Kuncu, maka dalam
permainan ilmu silatpun tak akan mempergunakan cara licik
atau main sergap, betul didalam hal tenaga dalam kongcu
masih kalah satu tingkat daripada dirinya, tapi perubahan
jurus serangannya jauh lebih hebat, maka dia tak akan
sampai menderita kekalahan di tangannya"
''Ooooh ....'' ''Asalkan kongcu berhasil menangkan dia didalam jurus
serangan, maka dia pasti akan mengakui kekalahannya."
"Nona Ui, kau mengatakan kongcu kita pasti akan
berhasil menangkan dia didalam jurus serangan?"
Belum sempat Cu Siau hong nemberikan jawabannya,
Kian Hui seng yang telah pergi tadi tahu-tahu, sudah
muncul kembali. Tampak paras mukanya berubah menjadi dingin dan
serius, malah diantara kerutan alisnya nampak pula hawa
amarah yang tebal. Cu Siau-hong segera mengulapkan tangannya kepada
Tan Heng dan Ui Bwe sekalian agar mundur dari situ,
kemudian pelan-pelan dia baru berkata:
"Kian tayhiap, sudah selesai dibicarakan?"
Dengan cepat Kian Hui seng menggeleng kepalanya
berulang kali. "Belum" "Oooh, apa yang mereka katakan?"
Kian Hui seng mendengus penuh kegusarxan, lalu
katanya: "Buat mereka hanya ada satu syarat.."
"Membunuh aku?" tanya sang pemuda.
Kian Hui seng manggut-manggut.
"Dan sekarang bagaimanakah keputusan dari Kian
tayhiap?" kembali Cu Siau hong bertanya.
"Oleh karena kulihat mereka bukan seorang manusia
yang bisa memegang janji, maka sulit bagiku untuk
mengambil suatu keputusan"
"Kian tayhiap, sekalipun kau dapat membunuhku, apakah
kau anggap mereka pasti akan menyerahkan anak dan
istrimu itu kepadamu!.."
"Tentang soal ini lohu memang sedang merasa curiga"
jawab Kian Hui seng dengan suara dalam...
"Itulah sebabnya, sekarang locianpwe sudah mulai
merasa bimbang dan ragu?".
"Benar, lohu memang benar-benar merasa amat
bimbang. . ." Setelah berhenti sejenak, kembali dia
melanjutkan: "Lagipula lohu pun mulai menaruh kecurigaan lain"
"Kecurigaan apa?".
"Curiga kalau lohu sanggup membunuh dirimu"
"Tenaga dalamku masih ketinggalan jauh bila
dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki Kian
tayhiap" kata Cu Siau hong cepat-cepat.
"Tapi dalam jurus serangan kau mempunyai kepandaian
yang luar biasa saktinya dengan perubahan-perubahan
yang sukar di raba" "Aku rasa pertarungan sengit diantara kita berdua
bukanlah sesuatu yang penting, paling penting sekarang
adalah membahas apakah hasil yang akan kita peroleh
setelah menang kalah berhasil ditentukan?"
"Terus terang saja, lohu tidak berharap untuk bertarung
melawanmu, dengan usiamu yang begitu muda ternyata
berhasil mencapai tingkatan ilmu silat yang begitu hebat,
halmana membuat lohu benar-benar merasa gembira dan
turut berbangga hati. Selama hidup aku berlatih ilmu golok,
orang yang benar-benar mati diujung golokku juga tak lebih
dari tujuh orang, halmanapun dikarenakan sepasang tangan
mereka kelewat berlepotan darah dengan pelbagai
kejahatan yang telah dilakukannya, selebihnya itu, asal aku
dapat mengampuni kesalahan mereka, selalu lohu beri
sebuah jalan kehidupan baginya untuk memperbaiki
kembali kesalahan yang telah mereka lakukan."
"Oleh karena itu, orang persilatan menyebutmu sebagai
Kuncu to?" sambung Cu Siau hong.
"Setiap perbuatan yang lohu laksanakan, tentu disertai
dengan landasan serta alasan yang kuat, perduli
bagaimanakah pandangan orang persilatan terhadap
perbuatanku, lohu tak pernah memikirkannya didalam hati,
apa yang Cu cengcu katakan benar-benar suatu ucapan
yang kelak yaa, benar juga perkataanmu, sekalipun lohu
membunun dirimu, belum tentu mereka akan melepaskan
anak istriku" "Itulah sebabnya Kian tayhiap harus segera mengambil
suatu pilihan yang tepat dan pintar."
"Aaaai, lohu benar-benar merasa serba salah, Cu kongcu,
apakah kau dapat memberi petunjuk kepadaku?"
Cu Siau-hong termenung beberapa saat kemudian,
tanyanya secara tiba-tiba.
"Kian tayhiap, dimanakah anak istrimu disekap
sekarang"' "Sekarang mereka disekap diatas perahu."
"Perahu itu berlabuh dimana" Apakah Kian tayhiap
mengetahui dengan jelas?"
"Banyak perahu yang berlabuh ditengah sungai, lohu
tidak tahu perahu yang manakah itu, tapi yang jelas tak
akan terlalu jauh letaknya dari pantai?"
"Kian tayhiap, apakah kau bersedia mempercayai diriku?"
"Percaya" "Bagaimana kalau kuusulkan sebuah rencana yang
sangat bagus?" "Silahkan Cu cengcu katakan"
Cu Siau-hong segera membeberkan sebuah rencana
yang amat bagus, teliti dan sempurna.
Selesai mendengarkan rencana tersebut, Kian Hui seng
termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:
"Cengcu, tanpa sebab lohu telah datang mencari garagara
dengan mu, sekarang kau malahan membantu lohu hal
ini sungguh membuat lohu merasa malu sekali"
"Jikalau Kian tayhiap bersedia menerima bantuanku ini,
hal ini sungguh merupakan suatu keuntungan bagi diriku"
"Aaaai .... selama hidup lohu selalu membanggakan akan
satu hal, yakni belum pernah menerima bantuan dari orang
lain, sungguh tak disangka setelah mencapai usia tua
sekarang, akhirnya toh aku harus menerima juga bantuan
orang lain" "Hari-hari dimasa mendatang masih panjang, Kian
tayhiap toh masih berkesempatan untuk membalas budi
tersebut kepadaku?" Kian Hut seng segera manggut-manggut.
"Cu cengcu, mari kita bertarung sekarang, aku rasa
mereka pasti sedang mengawasi gerak gerik kita secara
diam-diam" Dengan cepat Cu Siau hong meloloskan pedangnya
sambil berseru: "Maaf aku menyerang dulu!"
Sreeeet! Sebuah tusukan telah dilontarkan ke depan.
Kian Hui seng segera menggerakkan pula goloknya untuk
menangkis, selanjutnya dia pun segera melancarkan sebuah
serangan balasan. Dia mempunyai julukan sebagai golok lewat tanpa suara,
kecepatan gerak dari serangan goloknya benar-benar
ibaratnya sambaran petir.
Hanya didalam waktu singkat dia sudah melancarkan dua
puluh delapan buah serangan golok.
Cu Siau hongjuga melepaskan sembilan buah serangan,
sembilan buah serangan untuk membendung dua puluh
delapan buah serangan golok lawan.
Didalam sembilan jurus serangan tersebut, ada tiga jurus
diantaranya yang tercantum didalam ilmu pedang tanpa
nama. Selama pertarungan berlangsung, ujung golok Kian Hui
seng sama sekali tidak disertai dengan tenaga dalam yang
kelewat kuat, dia hanya berusaha merebut posisi yang lebih
menguntungkan didalam perubahan jurus serangan serta
kecepatan gerak saja. Seandainya didalam ke dua puluh delapan jurus golok itu
dia sertakan tenaga dalam yang lebih dahsyat lagi, sudah
barang tentu kehebatan yang terpancar keluar dari ke dua
puluh delapan buah serangam golok itu akan jauh berbeda.
Hanya dalam waktu singkat secara beruntun dia telah
melancarkan dua puluh delapan buah serangan golok yang
sangat lihay, oleh karena kecepatan golok yang luar biasa
membuat seluruh ruangan jadi penuh dengan cahaya tajam
yang berkilauan, sehingga sepintas lalu terlihat seperti
lingkaran cahaya putih yang bersambung sambungan dan
membentuk satu lingkaran besar.
Begitu serangkaian serangan golok kilat dari Kian Hui
seng selesai dilancarkan, Cu Siau hong segera
mengembangkan pula serangan balasannya, Srreeett
!Srreettt.! Dua buah serangan dahsyat segera memaksa Kian Hui
seng terdesak mundur sejauh lima langkah.
Kedua macam ilmu silat yang dipakai itu merupakan
kepandaian silat yang berbeda, Golok adalah serentetan
cahaya tajam yang berkilauan dan membentuk satu
lingkaran besar. Sebaliknya jurus pedang adalah sebuah serangan tunggal
dan gencar menerobos langsung kedalam.
Kian Hui seng merasa amat terkesiap, dua jurus
serangan lawan benar-benar telah memaksanya mundur
sejauh lima depa lebih. Sampai disitu kedua belah pihak
sama-sama merasa terkesiap tapi sama-sama pula merasa
kagum.. Sambil menghembuskan napas panjang Kian Hui-seng
segera berseru cepat. "Ilmu pedang bagus, Cu cengcu hati-hatilah kau" Sekali
lagi Kian Hui seng melancarkan serangkaian serangan
dengan jurus golok yang luar biasa.
Begitulah, suatu pertarungan yang amat sengit segera
berkobar ditengah arena. Jurus-jurus pedang yang selama ini hanya terpendam
didalam hati kecilnya saja sekarang semuanya telah
berubah menjadi jurus-jurus pedang yang nyata.
Hanya saja dia belum bisa mempergunakannya dengan
lancar dan leluasa sehingga jurus-jurus pedang itu tak
mampu dirangkaikan menjadi satu wadah.
Sekalipun digunakan secara apa adanya namun daya
kekuatan yang terpancar ke luar ternyata sudah cukup
menggetarkan sukma. Dengan kemampuan yang dimiliki
Kian Hui seng sekarangpun dia merasa seakan-akan sukar
dan berat untuk menghadapinya. Tanpa terasa pertarungan
antara mereka berdua telah berlangsung hampir dua jam
lamanya. Lambat laun Cu Siau hong semakin lama memainkan
perubahan-perubahan jurus pedang yang dipelajarinya, dan
lambat laun pula dia dapat mempergunakannya dengan
lebih luwes dan leluasa. Makin bertarung Kian Hui seng pun merasa semakin
terperanjat hatinya Dia menjumpai banyak sekali jurus pedang yang
dipergunakan oleh Cu Siau hong itu merupakan jurus-jurus
serangan yang aneh dan sukar diduga, jurus serangan yang
sebenarnya masih kaku dalam cara penggunaannya tapi
lambat laun menjadi semakin lancar dan hapal.
TIBA-TI BA saja Cu Siau hong melancarkan tiga buah
serangan berantai dengan jurus-jurus serangan yang aneh.
Kian Hui seng hanya mampu membendung dua jurus
serangan yang pertama, namun tak mampu menahan jurus
serangan yang ketiga. Cahaya pedang nampak berkelebat lewat, diatas bahu
kiri Kian Hui seng, pakaiannya segera robek darah segar
dengan cepat jatuh bercucuran dengan derasnya.
Dengan perasaan terkesiap buru-buru Cu -Siau hong
menarik kembali pedangnya sambil mundur ke belakang,
serunya dengan suara rendah.
''Kian tayhiap maaf, aku benar-benar tak sanggup untuk
mengendalikan gerakan pedangku"
"Paras muka Kian Hui sengtelah berubah menjadi pucat
pias seperti mayat, setelah menghela napas dengan nada
sedih, katanya: "Benar-benar ilmu pedang bagus, lohu sudah mempunyai
modal untuk mengadakan pembicaraan lagi dengan
mereka" Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan
berlalu dari situ dengan cepat.
Cu Siau hong hanya bisa berdiri termangu-mangu sambil
memperhatikan bayangan tubuh Kian Hui seng menjauh
dari situ. Dia tahu seandainya Kian Hui seng memang tidak berniat
untuk melakukan pertandingan dengan lawan, dengan
mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna serta
rangkaian ilmu goloknya yang cepat bagaikan sambaran
kilat, sedari tadi dia sudah terluka diujung goloknya.
Tapi dalam kenyataan Kian Hui seng telah berbelas
kasihan diujung goloknya, ia sama sekali tidak
mengerahkan tenaga dalamnya sehingga ia baru mendapat
waktu yang cukup untuk menghapalkan jurus pedang yang
diingat dalam benaknya serta mempraktekkan secara
sungguh-sungguh dalam suatu pertarungan.
Seorang jago pedang yang amat lihaypun segera lahir,
hanya di suatu pertarungan yang berlangsung hanya dua


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jam belaka. Pelan-pelan Tan Heng berjalan ke depan menghampiri si
anak muda itu, kemudian sambil memandang pemuda itu
dengan termangu, katanya penuh rasa kagum:
"Kongcu, ilmu pedangmu benar-benar merupakan suatu
ilmu pedang yang maha dahsyat." Cu Siau hong tertawa
getir. "Dia telah memberi kesempatan kepadaku, sebuah
kesempatan yang membuat rasa percaya pada diriku makin
tumbuh, membuat sesuatu yang masih merupakan suatu
pemikiran jadi suatu kenyataan, tapi pengorbanan yang
harus diberikan benar-benar terlalu besar."
"Kongcu maksudkan, Kian Hui seng telah berkorban
sangat besar?" "Benar, nama baiknya serta keyakinannya akan ilmu
golok yang tiada tandingan di kolong langit"
"Kongcu Kau. . ."
Dengan cepat Cu Siau hong menggelengkan kepalanya,
kemudian menukas: "Tan Heng. sampaikan perintahku, gunakan segenap
kekuatan dan kemampuan yang kita miliki dan perduli
berapa besar pengorbanan yang harus kita bayar, kita
harus berusaha untuk menyelamatkan anak istri Kian
tayhiap" Tan Heng mengiakan, dan segera membalikan badan dan
berlalu dari tempat itu. Jilid 41 BAGIAN 41 SEPENINGGAL Tan Heng, Lik Hoo segera berjalan
mendekat, kemudian katanya dengan suara rendah:
"Kongcu, kau tak usah kelewat menyesali diri sendiri,
menurut penglihatan budak, kau benar-benar
berkemampuan untuk menangkan dia dan lagipula suatu
kemenangan yang benar-benar jujur dan terbuka,
seandainya kongcu tidak segera menarik kembali
seranganmu, niscaya bacokan pedang tadi telah berhasil
mengutungi lengan kirinya"
"Tapi bila dia melancarkan serangan dengan sepenuh
tenaga, dalam seratus gebrakan saja dia masih sanggup
merenggut nyawaku" "Ooooh '' "Dia telah berbelas kasihan kepadaku, didalam
melancarkan serangan goloknya tadi ia tidak sertakan
tenaga dalamnya, itulah sebabnya aku baru dapat melatih
diri dalam jurus-jurus pedangku yang sesungguhnya belum
kukuasai, untunglah aku berhasil menangkan satu gebrakan
darinya" Ketika mendengar perkataan tersebut, Lik Hoo segera
menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Kembah
Cu Siau hong berkata. "Jago lihay seperti Kian Hui-seng, Kian tayhiap jarang
sekali dijumpai dalam dunia persilatan, seandainya ilmu
goloknya tidak sangat lihay, mustahil jurus pedangku bisa
terpancing keluar" "Kongcu terlalu berjiwa mulia"
Cu Siau hong, mengalihkan sorot matanya dan
memandang sekejap ke arah Lik Hoo, Ui Bwee serta Ang Bo
tan, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, segera
ujarnya: "Ketika melakukan perjalanan dalam dunia persilatan
tempo hari, apakah kalian bertiga pernah bekerja sama
untuk menghadapi musuh. . . ?"
"Walaupun kami bertiga mempunyai hubungan
persaudaraan yang amat akrab, tapi jarang sekali bekerja
sama untuk menghadapi musuh" jawab Lik Hoo.
"Mengapa".."
"Setiap kemampuan yang dimiliki tiap manusia adalah
berbeda, turun tangan bersama menghadapi lawan pun
tentu bisa mendatangkan hasil apa-apa, malahan ada
kalanya justru merepotkan diri serdiri"
"Ooooh, kiranya begitu "
Ia lantas mengulapkan tangannya sambil berseru: "Mari
dekatlah kemari!" Ketiga, orang perempuan itu segera berjalan mendekati
Cu Siau hong ........ "Sekarang aku hendak mewariskan serangkaian ilmu
pedang yang terdiri dari tiga jurus serangan kepada kalian,
ilmu pedang tersebut agaknya merupakan semacam ilmu
pedang yang amat baik untuk dilancarkan bersama-sama"
Dia mengatakan agaknya itu, berarti tidak berani
memastikan secara meyakinkan, hal mana membuat Lik
Hoo menjadi tertegun. "Maksud kongcu, kau sendiripun tidak begitu paham
apakah kepandaian tersebut merupakan suatu ilmu kerja
sama atau bukan?" kata Ui Bwee kemudian.
"Ji-ci, apakah kau belum dapat melihat, kongcu adalah
seorang yang berpandangan luas, tapi belum sempat
memperoleh kesempatan untuk mempergunakan jurus
pedang tersebut, barulah dalam pertarungannya melawan
Kian tayhiap tadi dia baru berhasil memahami pelbagai
jurus pedang yang tersimpan didalam benaknya" sela Ang
Bo-tan. Cu Siau hong segera manggut-manggut. "Yaa, memang
begitulah" dia berkata.
"Kongcu bersedia mewariskan ilmu pedang kepada kami,
sebelumnya kami semua ucapkan banyak terima kasih"
"Disini terdapat sepuluh jurus serangan ilmu pedang, tiga
jurus menyerang tiga bagian tubuh manusia bagian atas,
tiga jurus menyentuh tiga bagian tengah dan tiga jurus
menyerang bagian tubuh manusia bagian bawah,
sebenarnya serangan itu harus dilancarkan oleh satu orang,
tapi andaikata ada tiga orang yang melancarkan serangan
bersama, bukankah kekuatannya menjadi jauh lebih
tangguh?" "Benar!" "Kongcu, bila setiap orang melancarkan tiga jurus
serangan, berarti jumlahnya baru sembilan jurus,
bagaimana dengan yang satu jurus lagi ... ."' seru Ang Bo
tan. "Sisanya yang satu jurus tak perlu kalian pelajari lagi"
kata Cu Siau hong cepat. "Mengapa?"
"Kalau kalian setiap orang sudah melancarkan tiga jurus
serangan, namun belum berhasil memukul mundur lawan,
maka kalian tak usah bertarung lebih jauh"
"Sepuluh kurang satu, apakah jurus ser-ngan ini menjadi
tidak lengkap dan kedodoran?"
"Tepat sekali! ilmu pedang ini memang disebut Sip jian
kiam hoat (ilmu pedang tidak lengkap)..
"Sip jian kiam hoat" Mengapa ilmu pedang tersebut
dinamakan demikian?" tanya Ui Bwee.
Sesungguhnya Cu Siau hong sendiripun merasa amat
tidak mengerti tentang ilmu pedang Sip jian kiam hoat
tersebut, tapi sesudah ditanya oleh Ui Bwee, satu ingatan
dengan cepat melintas didalam benaknya, dengan cepat dia
menjawab: "Karena ilmu pedang ini semuanya tercerai berai, dalam
setiap jurus serangan tersebut seakan-akan terdapat
banyak kekurangan-kekurangannya."
"Ilmu pedang kongcu amat sempurna, jurus serangannya
juga sangat aneh, kepandaian tersebut benar-benar
merupakan kepandaian yang belum pernah kami sekalian
saksikan sebelumnya" ucap Ang Bo tan.
"Bila ilmu pedang yang dihapalkan kongcu, sudah dapat
dipastikan kepandaian itu tentu merupakan semacam
kepandaian yang lihay` sambung Ui Bwee.
"Orang yang cacad mata, tentu saja tajam dalam
pendengaran.. ." tambah Lik Hoo.
Ucapan tersebut segera melintaskan satu ingatan dalam
benak Cu Siau hong, sambil tertawa segera sambungnya:
"Benar, justru karena serangannya kelewat dahsyat
sehingga ada cacadnya, maka ilmu tersebut baru
dinamakan Sip jian kiam hoat, akan tetapi jika tiga orang
cacad turun tangan bersama. .. ?"
Mendadak dia membungkam, termenung tidak berbicara
lagi. Lik Hoo sekalian segera berpaling, mereka saksikan Cu
Siau hong sedang berdiri dengan wajah serius, tampaknya
dia sedang memikirkan suatu masalah yang penting.
Ketiga dayang itu segera saling berpandangan sekejap
kemudian bersama-sama berdiri disisi arena. Lama
kemudian Cu Siau hong baru menghembuskan napas
panjang sembari berkata lagi:
"Jika tiga kekuatan bergabung menjadi satu, seharusnya
serangan tersebut akan berubah menjadi serangan paling
dahsyat yang ada di kolong langit.. ."
Lik Hoo seperti telah memahami maksud dari Cu Siau
hong tersebut, pelan-pelan katanya:
"Kongcu, sebelum perkenalan dengan kongcu kami
adalah perempuan-perempuan yang tak ada harganya
dikolong langit, berkat usaha kongculah kami berhasil
melepaskan diri dari lumpur kehinaan, sejak itulah kami
sekalian telah bersumpah akan mengikuti kongcu untuk
selamanya .....'. "Bagus, asal kalian bisa mempunyai ingatan semacam
itu, hal mana sudah cukup" tukas Cu Siau hong, bila dunia
persiiatan sudah menjadi tenang kembali, kalianpun harus
memilih jodohnya masing-masing, bagaimanapun juga tak
mungkin kalian akan ber-kelana terus dalam dunia
persilatan" Lik Hoo tersenyum. "Kami tahu bahwa kami hanya bunga-bunga yang telan
ternoda, apa yang menjadi harapan kami adalah selalu
mendampingi kongcu, melayani kebutuhan kongcu dan
berbakti kepada kongcu, hanya itu saja sudah cukup
membuat hati kami merasa amat puas"
"Kami telah berunding bahwa dalam kehidupan kami
setelah ini, tak akan pernah kawin lagi dengan orang lain"
sambung Ang Bo tan, "Kami akan mengikuti kongcu untuk selamanya, semoga
saja kongcu jangan mengusir kami pergi darisini."
Mendadak Cu Siau hong mendapat satu ingatan, sambil
tersenyum segera katanya:
"Baik, asal kalian dapat hidup baik-baik sebagai manusia
yang benar, aku pasti akan mengaturkan segala sesuatunya
bagi kalian, sekarang aku hendak mewariskan dulu jurusjurus
pedang Sip jian kiam hoat tersebut kepada kalian."
Caranya memberi pelajaranpun sangat praktis tapi jelas,
mula-mula dia membuatkan gambarannya lebih dulu di atas
tanah, menerangkan posisi bertahan serta perubahan jurus
serangannya setelah dalam hati masing-masing sudah
mempunyai suatu gambaran yang jelas, ia baru mewariskan
teori yang sebenarnya. Didalam kenyataan, keadaan dan situasi yang mereka
hadapi sekarang, memang bukan suatu kesempatan yang
baik untuk mewariskan ilmu pedang kepada mereka
bertiga. Dengan cepatnya Kian Hui seng telah muncul kembali di
depan mata. Tampak dia muncul dengan wajah sangat murung, dari
situ bisa diketahui kalau pembicaraan diantara mereka
menemui kegagalan. Benar juga, Kian Hui seng segera menggelengkan
kepalanya berulang kali, setelah menghela napas katanya:
"Cu cengcu, maaf! Tampaknya diantara kita harus
dilangsungkan suatu pertempuran antara mati dan hidup"
'Kian tayhiap, apakah kau dapat menerangkan dengan
lebih jelas lagi.. . ?"
"Manusia telah berusaha, Thianlah yang maha kuasa!
Walaupun lohu amat menyayangi anak istriku, tapi aku tak
bisa berbuat apa-apa jika nasib berbicara lain."
"Baik, mereka telah memberitahukan kepadaku, hanya
ada dua cara yag bisa ditempuh untuk menolong anak
istriku, pertama adalah memenggal batok kepalamu, atau
kedua adalah mengorbankan selembar jiwaku sendiri"
Cu Siau hong segera tertawa.
"Jadi Kian tayhiap telah berhasil mereka taklukkan"."
Kian Hui seng segera berbisik dengan ilmu
menyampaikan suara: "Mereka telah mengirim orang untuk mengawasi gerak
gerikku dari belakang." Sedang diluar, ia berseru dengan
suara lantang. "Bagaimana juga, lohu tak bisa membiarkan anak istriku
mati tanpa ditolong"
"Mereka berada dimana sekarang?"" bisik Cu Siau hong
lirih. "Agahnya dia berada ta kjauh di belakang tubuhku".
Cu Siau hong segera melepaskan tanda rahasia,
sementara diluarnya dia berseru lantang:
"Kian tayhiap, kau sudah bertarung denganku, terus
terang saja, ilmu golok Kian tayhiap belum tentu mampu
untuk menangkan diriku"
Lalu dengan suara lirih lanjutnya.
"Aku telah mengirim orang untuk menyelidiki jejak anak
istrimu, tapi entah bagaimanakah keputusan Kian tayhiap
terhadap orang yang datang mengawasi dirimu itu?"
'Selama hidup lohu tak suka membunuh orang, tapi
keadaan yang kuhadapi tampaknya memaksa aku harus
membunuh orang" "Boanpwepun berpendapat demikian, bila cuma dua
orang yang mengawasi kita maka kita harus berusaha untuk
membunuh mereka." "Mereka terlalu banyak curiga, juga amat teliti, mereka
telah memberitahukan kepadaku bahwa mereka mempunyai
semacam tanda rahasia, asal tanda itu dilepaskan, maka
mereka akan segera membunuh anak istriku, itulah
sebabnya walaupun lohu berdiri saling berhadapan dengan
mereka, namun tak berani sembarangan turun tangan"
Cu Siau hong segera meloloskan pedangnya sambil
menciptakan selapis bunga pedang, kemudian serunya:
"Berhati-hatilah kau!"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Srreeeeet, srreeeeett ... . "secara beruntun dia
lancarkan dua buah serangan kilat. Kemudian dengan suara
lirih bisiknya: "Sembari bertarung kita sembari memeriksa tempat
persembunyian mereka, kalau mereka terdiri dari dua orang
maka kita masing-masing menghadapi seorang, serang
mereka dengan sekuat tenaga dan kalau bisa berhasil
dalam sekali serangan, agar mereka tak sempat
melepaskan tanda rahasia...."
"Baik, asal jejak mereka berhasil ditemukan, kau
membunuh yang disebelah kiri dan aku menyerang sebelah
kanan" Sambil berkata dia lantas mengayunkan goloknya sambil
melancarkan serangan balasan. Suatu pertempuran sengit
pun segera berkobar di tempat itu.
Tampaknya cahaya golok menyilaukan mata, hawa
pedang menyelimuti udara.
Tapi dalam kenyataan kedua orang itu sama-sama
sedang bermain sandiwara, meski permainan golok dan
pedang mereka sedap dipandang, dalam kenyataan
pertempuran itu sama sekali tidak membahayakan jiwa
siapapun. Sembari bertempur, mereka awasi terus sekeliling
tempat itu. Cahaya golok, bayangan pedang telah menyelimuti
maksud tujuan mereka yang sebenarnya.
Lingkaran pertarungan merekapun makin lama semakin
besar, kini telah berkembang ke arah sepuluh kaki ke arah
barat. Sementara itu pertarungan sudah dilangsungkan hingga
kebelakang sebatang pohon besar.. Mendadak dari balik
kegelapan, mereka saksikan ada empat buah cahaya tajam
berkilat. Itulah mata manusia.
Cu Siau hong telah melihatnya, Kian Hui seng juga telah
melihatnya .... Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan
sekejap. Mendadak cahaya golok dan pedang saling berpisah,
kemudian terlihat dua rentetan cahaya berkilat menyambat
kebelakang pohon besar. Ditengah jeritan ngeri yang meyayatkan hati, tampak
kedua gulung darah muncrat ke empat penjuru. Belum
sempat kedua orang lelaki berpakaian ringkas itu berdiri
tegak, mereka telah roboh kembali. Yang mampus ditangan
Kian Hui seng telah berubah menjadi setan tanpa kepala.
Sedangkan yang mampus ditangan Cu Siau hong kena
tertusuk dadanya sampai tembus ke punggung.
Kedua orang itu mampus seketika tanpa sempat
memberikan perlawanan apa-apa. Setelah menarik kembali
serangan goloknya,. dengan wajah sedih Kian Hui seng
berkata: "Sekarang, aku telah bermusuhan dengan mereka,
aaai.... lohu benar-benar merasa kuatir sekali bila mereka
sampai mencelakai anak istriku"
''Ilmu golok Kian tayhiap sangat lihay, kurasa putri dan
istrimu itu pastilah jago-jago wanita yang lihay pula"'
'Justru kebalikan dari pada apa yang Cu Cengcu katakan,
mereka justru tak pandai bersilat''
"Tak pandai bersilat''
"Istriku adalah seorang yang berhati mulia, tidak suka
segala macam pembunuhan, selama hidup aku berpantang
membunuh, hal ini sebagian besar adalah atas
pengaruhnya, sedangkan putriku, diapun terpengaruh oleh
istriku sehingga tidak suka dengan ilmu silat, lohu hanya
mewariskan sedikit ilmu untuk menenangkan hati dan
menyehatkan badan saja kepada mereka".
"0oohh..." Terdengar Kian Hui-seng kembali berkata lebih jauh:
''Kesalahan yang paling besar adalah tidak sepantasnya
kuajak mereka melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan sehingga tertimpa bencana seperti saat ini''
"Kian tayhiap, tahukah kau siapa yang telah menahan
mereka selama ini...."''
"Hingga detik ini, hanya dua orang yang secara resmi
mengadakan pembicaraan dengan diriku"
"Apakah Kian tayhiap tiada dendam sakit hati apapun
dengan mereka. . ." ''Benar, selamanya tidak saling mengenal, mereka pun
telah menerangkan, mereka menawan anak biniku karena
mereka hendak memaksa aku untuk membunuh kau atau
tiga orang anak buahmu"
"Sekarang aku telah memerintahkan segenap anggota
perkampunganku untuk melacaki jejak anak istri Kian
tayhiap, asal mereka benar-benar masih berada di sungai
Siang-kang, aku akan percaya, kemungkinan mereka untuk
berhasil menemukan anak istrimu adalah besar sekali!"
"Kian tayhiap, gara-gara aku, sehingga membuat anak
istrimu menjadi korban...." Kian Hui seng menghela napas
panjang, katanya: "Cu cengcu, kau tak usah bersedih bagi lohu, seorang
lelaki tak mampu melindungi keselamatan anak istrinya
sudah merupakan suatu kejadian yang sargat memalukan,
bila gara-gara mereka, aku sampai melalukan perbuatan
yang merugikan dunia persilatan, apakah hal tersebut tidak
lebih memalukan lagi" Apalagi kenyataannya lohu memang
tak mampu menangkan dirimu.. .'.
"Kian tayhiap telah berbelas kasihan kepadaku, Cu Siau
hong dapat merasakan hal ini" "Waktu-waktu seperti itu
sudah lewat, sekarang.. . sekarang lohu. .."
Suatu perasaan sedih mendadak muncul dari dalam
hatinya dan menghiasi seluruh wajahnya.
Cu Siau hong ingin menghiburnya dengan beberapa
patah kata, namun diapun tak tahu bagaimana harus
berkata. Pada saat itulah, tampak sesosok bayangan manusia
berkelebat mendekat dengan kecepatan tinggi.. Sambil
menggenggam goloknya kencang-kencang, Kian Hui seng
segera menegur dingin: "Siapa?" "Aku!" Menyusul jawaban tersebut, bayangan manusia itu sudah
berjalan ke hadapan Cu Siau-hong. Ternyata yang datang
Adalah Kui-meh Ong Peng. "Ada kabar apa?" bisik Cu Siau hong.
"Barusan pihak perkumpulan Pay kau datang laporan
yang mengatakan bahwa diatas sungai Siang-kang terdapat
tiga buah perahu besar yang sangat mencurigakan, mereka
telah mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, aku
percaya mereka segera akan memberikan sebuah jawaban
yang memuaskan hati"
"Maksudmu, diantara ketiga buah perahu besar itu
terdapat anak istriku seru Kian Hui-seng"
"Tentang soal ini, sedang mengirim orang untuk
melakukan penyelidikan, entah bagaimana hasilnya ...."
"Beritahu kepadaku, sekarang ketiga buah perahu besar
itu berada dimana?" "Locianpwe beritahu kepadamu juga tak berguna, kau
juga tak boleh ke sana" kata Ong Peng.
"Kenapa"' Cu Cengcu merupakan satu-satunya musuh
tangguh yang pernah kujumpai selama hidup, kecuali Cu
cengcu, belum pernah aku menjumpai musuh yang sanggup
menandingi diriku" "Kian tayhiap, hamba memberanikan diri ingin
mengajukan satu pertanyaan kepadamu"
"Persoalan apa cepat katakan"
"Kian tayhiap, kau mengharapkan anak istrimu mati atau
hidup?" "Kalau bisa menyelamatkan mereka, tentu saja lohu
menginginkan mereka tetap hidup, entah pengorbanan apa
pun yang akan kubayar"
'Nah, itulah dia, kami sanggup menolong mereka semua
tetap hidup" "Tapi .... mungkin hal ini?"
"Paling tidak sekarang kita sedang menempuh perjalanan
tersebut" "Dapatkah memberitahu kepada lohu cara apakah yang
kalian pergunakan untuk menghadapi mereka"
"Hamba sedang memohon petunjuk serta perintah dari
cengcu" "Maksud hamba, kita harus berusaha mencari akal dulu
untuk mengirim orang, guna melindungi istri dan putrimu,
kemudian kita baru menyerbu keatas dan membebaskan
mereka dari mara bahaya"
"Cara ini memang lumayan, tapi siapakah yang dapat
melindungi mereka bertiga, kan suatu masalah yang sangat
penting" "Soal ini tergantung bagaimanakah perintah dari kongcu
kami nanti....' "Cu cengcu, bila kau dapat menyelamatkan istri dan
putriku, aku rasa istriku mungkin akan berubah caranya
memandang terhadap segala urusan dalam dunia,
andaikata sampai begitu, lohu pasti akan membalas budi
kebaikan itu." "Tidak berani, Kian tayhiap, aku pasti akan berusaha
dengan sepenuh tenaga"
"Baik, kalau begitu lohu ucapkan banyak terima kasih
lebih dulu" Setelah berheti sebentar, dia melanjutkan.
"Cu cengcu, apakah lohu boleh mendengarkan rencana
yang kalian susun dalam usaha pertolongan ini?"
"Dengan senang hati akan kami sambut locianpwe untuk
turut serta didalam perancangan ini''. sahut Cu Siau hong.
''Baik, anggap lohu juga masuk hitungan, bila Cu cengcu
hendak memberikan sesuatu perintah, silahkan saja
sampaikan kepada lohu"
''Kalau begitu kuucapkan bamyakterima kasih dulu"
"Cu cengcu tak usah sungkan-sungkan, aku berbicara
dengan hati yang tulus"
Cu Siau hong tersenyum, dia segera berpaling ke arah
Ong Peng, seraya bertanya: "Siapa saja yang telah kau
kirim?" "Toan San, Hee Hay, Lau Hong, Be Hui dan dipimpin
Seng ya, mereka memakai dua buah sampan kecil bergerak
ke depan, segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan
matang" "Baik! sedang yang lain?"
"Tujuh harimau berada tiga puluh kaki disekitar kongcu,
asal kongcu turunkan perintah, mereka segera akan
memberikan bantuannya ke arah manapun yang
dibutuhkan" "Bagaimana dengan Seng Hong dan Hoa Wan".."
"Mereka tetap tinggal di pantai sambil mengawasi tanda
yang dilepaskan, untuk memberikan bantuan'
Kian Hui seng berpaling ke arah Ong-Peng seraya
bertanya: "Apakah lohu pun akan menerima perintah untuk
melakukan sesuatu tugas....?"
"Aku tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Kian tayhiap
sangat lihay, tapi saat ini bukan saatnya untuk beradu
dengan menggunakan ilmu silat, harap Kian tayhiap berada
bersama cengcu kami saja sembari menunggu datangnya
laporan mereka, kemudian barulah kami minta bantuanmu"
Kian Hui seng manggut-manggut.
"Belakangan ini, sekalipun lohu tidak sering melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan, namun sudah sering
kudengar tentang kejadian di dalam dunia persilatan, tapi
organisasi seperti kalian itu memang terasa asing sekali.'
'Aku maupun saudara-saudaraku adalah orang-orang
yang baru saja terjun kedunia persilatan belum lama" Cu
Siau hong menerangkan.. ''Aku lihat kelompok yang bergabung di antara kalian
semua rata-rata adalah orang muda semua"
"Benar usia kami memang tidak terlalu besar"
"Sebenarnya kalian orang-orang muda membentuk satu
kelompok dan melakukan perjalanan bersama dalam dunia
persilatan apakah maksud tujuan yang sesungguhnya"
sambung Kian Hui seng lebih lanjut.
"Tampaknya, dunia persilatan telah dikendalikan oleh
sebuah kekuatan yang amat rahasia .... Kian Hui seng
manggut-manggut "Yaa, seandainya lohu tidak mengalami sendiri peristiwa
ini mungkin sekarang sulit bagiku untuk mempercayai
perkataanmu itu" sela Kian Hui seng cepat.
"Sekarang kau sudah percaya!"
"Tidak percayapun harus percaya, sejak pena wasiat
melakukan pengeritikan terhadap umat persilatan, tiba-tiba
saja dunia persilatan menjadi tenang kembali, belum
pernah terjadi pertikaian apa-apa, semua orang menaruh
kepercayaan yang besar terhadap pena wasiat, oleh karena
itu termasuk juga lohu sekalian manusia-manusia yang
suka mencampuri urusan orangpun merasa tak punya
pekerjaan yang bisa dilakukan, oleh karena itu sebagian
besar telah mengundurkan diri"
"Pena wasiat telah mengungkapkan banyak kedok
manusia-manusia munafik dari dunia persilatan, sebab itu
kawanan manusia keji dan manusia laknat dari dunia
persilatan semakin merahasiakan jejaknya dengan lebih
baik, mereka tidak berusaha untuk mencari nama lagi,
bahkan namapun tak dipergunakan lagi, mereka tak saling
berhubungan malah tidak saling mengenal, mereka hanya
berkumpul dalam suatu komando untuk melaksanakan
tugas, begitu selesai mereka membubarkan diri lagi, meski
sepintas lalu mereka seakan-akan tidak saling berhubungan
dalam kenyataan sesungguhnya merupakan satu
kelompok." "Bagaimanakah cara mereka untuk melatih ilmu
silatnya?" "Itulah penyebab mengapa dunia persilatan menjadi
tenang selama banyak tahun, yang mereka butuhkan
adalah waktu untuk mendidik sekawanan manusia yang bisa


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dipergunakan tenaganya"
Kian Hui seng tertawa getir.
"Cu cengcu, usiaku tidak terlalu tua, mengapa kau harus
menerjunkan diri di dalam pertikaian ini?"
"Itulah yang dinamakan suatu perimbangan kekuatan,
bila muncul sekawanan pencoleng yang misterius dan
penuh rahasia, harus dihadapi pula oleh sekawanan
manusia yang sanggup untuk menghadapinya, bukankah
demikian?" "Lohu benar-benar merasa amat menyesal, selama hidup
aku hanya menganggap asal tidak melakukan kesalahan
pasti beres, tapi apa yang dipikirkan ternyata kelewat
sedikit, anak muda, beritahu kepadaku, sebenarnya apakah
aku ada hubungannya dengan Pena wasiat?"
''Locianpwe, mengapa secara tiba-tiba kau ajukan
pertanyaan seperti ini?"
"Kecuali pena wasiat, tak dapat menduga siapakah yang
bisa memiliki kepandaian dan kecerdasan seperti ini?"
Cu Siau hong tertawa, katanya:
"Aku tidak tahu, apakah kau ada hubungannya dengan
pena wasiat, tapi aku selalu merasa ada semacam kekuatan
yang selalu memberi petunjuk kepadaku."
"Kian tayhiap, kau kenal dengan pena wasiat?" tiba-tiba
Ong Peng menyela. "Aku pernah menerima sepucuk suratnya, dia pernah
bilang pernah berjumpa denganku, tapi aku tak bisa
mengingatnya, dimanakah kami pernah bersua"
Terhadap orang yang menamakan dirinya pena wasiat,
Cu Siau hong memang menaruh rasa tertarik yang sangat
tebal, maka ujarnya kemudian:
"Locianpwe, apakah kau sama sekali tak punya
gambaran terhadap orang itu?"
"Setelah kuterima suratnya, akupun pernah berpikir
dengan seksama, tapi aku tak dapat membayangkan
manusia seperti apakah dia"
Tanpa terasa Cu Siau hong teringat dengan Lo Liok
sipenjaga kuda, juga teringat kitab pusaka Bu beng kiam
boh. Hingga sekarang dia baru mengerti bahwa ilmu silat yang
tercantum didalam kitab pusaka Bu beng kiam boh tersebut
sesungguhnya merupakan iimu silat pilihan yang amat
lihay. Jelas kitab tersebut merupakan sejilid kitab pusaka yang
tak ternilai harganya. Sayangnya orang itu sudah menjadi teka teki besar
baginya, apakah dia sudah mati" Atau masih hidup" Sampai
sekarang dia sendiri pun tidak tahu.
Dari Lo Liok dia pun teringat dengan si Dewa pincang Ui
Thong. Manusia aneh dari dunia persilatan itu telah
mempergunakan kepandaian ilmu perbintangannya yang
luar biasa untuk membawa dirinya tersembunyi dalam
suatu lingkaran hidup yang amat kecil.
Dia ingin meloloskan diri dari takdir, ingin meloloskan diri
dari kematian akhirnya malah mengubur segenap
kepandaian yang dimilikinya.
Dia akhirnya tak bisa juga meloloskan diri dari kematian.
Dunia yang fana ini seakan-akan dikendalikan oleh
sesuatu kekuatan yang misterius, kekuatan tersebut tak
depat diselidiki asal mulanya, tentu saja tak dapat pula
menghancurkan ataupun menghadapi kekuatan misterius
tersebut. Tapi ilmu silat yang di wariskan Ui Thong kepadanya
membuktikan kalau kepandaian tersebut memang benarbenar
merupakan semacam kepandaian silat yang sangat
lihay. Sementara dia masih termenung, Kian Hui seng telah
mendehem berulang kali sambil berkata:
"Cu cengeu, apa yang sedang kau pikirkan"
"Aku sedang berpikir, Pena wasiat tersebut sebenarnya
manusia seperti apa.?"
"Didalam suratnya dia telah menyebut pernah berjumpa
dengan aku, dan aku rasa hal ini tak bakal salah lagi, cuma
sayangnya aku sama sekali tak bisa mengingatnya kembali"
"Aku rasa dia seharusnya berusia lima puluh tahunan
lebih, atau mungkin lebih tua lagi"
"Seharusnya dia adalah seorang yang berusia sebaya
dengan lohu atau lebih tua lagi, Kalau dihitung-hitung dia
berusia enam puluhan tahun keatas"
"Aku rase dia pasti tidak terlalu gemuk malah agak kurus
memelihara jenggot panjang dan berdandan sangat
sederhana" Dia memberikan gambaran wajah maupun potongan
badannya sesuai dengan keadaan Lo Liok si tukang kuda,
dia berharap dapat memberikan sebuah gambaran untuk
menyegarkan kembali ingatan Kian Hui-seng,
"Surat itu sudah kuterima pada dua puluh tahun
berselang, padahal selama ini sudah kelewat banyak orang
yang kujumpai. Sulit bagiku untuk mengingatnya kembali"
Kian tayhiap, pikirlah pelan-pelan. Mungkin sesuatu hari
kau akan mengingat kembali. Tiba-tiba terdengar Ong Peng
berbisik dengan suara lirih:
"Kongcu mereka telah melepaskan tanda rahasia '' .
"Oooh.... sudah melepaskan tanda rahasia, seru Kian Hui
seng, "mengapa aku tidak merasakannya?"
"Tanda rahasia tersebut merupakan kode rahasia dari
perkampungan kami, orang yang tidak tahu keadaan yang
sebenarnya, tentu saja tidak akan memahaminya'
"Ooooh tampaknya sebelum terjun ke dalam dunia
persilatan kali ini, kalian sudah membuatkanpersiapan yang
cukup matang." "Tak bisa dibilang sebagai suatu persiapan" satut Cu Siau
hong, "Tapi untuk melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, persiapan memang sedikit banyak diperlukan"
Sorot matanya tegera dialihkan ke wajah Ong Peng
kemudian melanjutkan "Apa arti dari tanda rahasia yang
telah dilepaskan"' "Orang orang kita sudah mendekati ketiga buah perahu
besar yang mencurigakan itu, tapi belum bisa memastikan
diperahu yang manakah tawanan itu mereka sekap untuk
menghindari suatu tindakan yang mengejutkan lawan,
mereka tak berani naik ke atas perahu, mereka minta
waktu yang lebih lama lagi sebeluun dapat memberikan
laporan yang pasti" Cu -Siau hong mengerti bahwa operasi semacam ini tak
mungkin bisa dilaksanakan oleh orang-orang
perkampungannya, sudah pasti orang-orang Pay kau telah
memberikan bantuannya, Kian Hui seng yang mendengar perkata-an itu merasa
sangat kagum, diam-diam pikirnya:
"Orang ini masih berusia muda belia, tapi bisa memimpin
organisasi ini secara sempurna, betul-betul bukan
merupakan sesuatu yang gampang"
Sementara itu, tiba tiba Ong Peng berkerut kening,
kemudian bisiknya lagi: "Ada orang datang!' "Musuh?" "Benar" "Lepaskan mereka!' Dia segera membalikkan badan dan lenyap tak berbekas.
"Semuanya menyembunyikan diri' bisik Cu Siau hong
lirih. Tan Heng dan Lik Hoo sekalian bersaudara segera
menyelinap masuk kebalik semak belukar. Cu Siau hong
pun menyambar kedua sosok mayat tersebut seraya
berpesan. "Kian tayhiap, hadapi mereka baik-baik, kami akan
menyembunyikan diri lebih dahulu"
Sambil menarik napas, dia segera melompat naik ke atas
pohon besar. Ternyata kedua mayat itupun dibawa naik juga keatas
pohon besar. Kian Hui seng manggut-manggut pikirnya.
"Pemuda ini betul-betul bukan seorang sembarangan."
Semetara dia masih termenung, mendadak telinganya
sudah mendengar sedikit suara yang mula-mula terdengar
adalah suara aneh yang tak diketahuinya.
Tapi Kian-Hui seng tahu kalau suara tersebut merupakan
semacam tanda rahasia, ia tak tahu bagaimana harus
menjawabnya, sebagai jago yang perngalaman dengan
cepat dia melangkah maju untuk mendekatinya.
Ternyata mereka selalu berhenti dibawah pepohonan
yang rindang sehingga sulit untuk melihat jelas paras muka
mereka. Terdengar suara seseorang berkumandang dari beberapa
kaki disisi arena tersebut: "Kian tayhiapkah disitu?"
"Betul, memang lohu"
Sesosok bayangan manusia segera melompat keluar dan
berhenti didepan Kian Hui seng.
Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berbaju ringkas
berwarna hitam, ditangan kirinya memegang sebuah
senjata garpu. Orang berbaju hitam itu memperhatikan Kian Hui seng
sekejap, setelah itu katanya: "Kian tayhiap, baik-baikkah
kau ?" "Bukankah kau saksikan lohu masih berdiri baik-baik, di
tempat ini"' "Dimanakah mereka?"
"Lohu tidak melihatnya"
'Mereka berada disekitar tempat ini mengawasi dirimu"
"Kalau memang mengawasi aku, mengapa pada pergi
semua" Orang berbaju hitam itu segera menggelengkan
kepalanya berulang kali, sahutnya:
"Mustahil, mereka tak akan meninggalkan tempat ini,
sebab tempat sekitar tempat ini amat kacau, ada orangorang
dari Ing gwat san ceng, juga terdapat jago-jago lihay
dari Pay kau serta Kay pang"
"Kecuali Cu cengcu yang sudah bertanding melawan
lohu, belum pernah kujumpai orang-orang yang lain"
"Cu siau hong telah kabur?"
"Entahlah, aku tidak tahu, mungkin saja dia berada di
sekitar tempat ini" "Keadaannya sedikit rada kurang beres, Kian tayhiap,
kau pun tak usah berada di sini lagi"
"Lantas harus ke mana!"
"Pergi menjumpat atasan kami"
"Tidak bisa jadi, aku harus menunggu Cu cengcu disini
untuk melangsungkan pertarungan sengit dengannya!"
"Sekarang situasinya telah mengalami perubahan, kau
pun tak usah menunggu lagi disini"
"Tidak bisa, jika lohu tidak berhasil membunuh Cu Siau
hong, terpaksa aku harus mengorbankan diri diujung
pedangnya, aku hanya berharap apa yang telah kau
katakan itu masuk hitungan dan kalian memegang janji
untuk melepaskan anak istriku"
"Padahal Kian hujin serta kedua orang nona berada
dalam keadaan selamat dan tenteram, Kian tayhiap tak
usah banyak berpikir yang bukan-bukan."
"Lohu tak berani mengatakan tidak kuatir sebelum
berjumpa muka dengan anak istriku" Orang berbaju hitam
itu segera tertawa, katanya kemudian:
"Asal Kian tayhiap berhasil membunuh Cu Siau-hong,
kau akan segera dapat bersua dengan anak istrimu'
Jilid 42 BAGIAN 42 PADAHAL harapan lohu yang paling besar sekarang
adalah ingin sekali berjumpa muka dengan anak istriku"
kata Kian Hui seng cepat.
"Permintaan dari Kian tayhiap itu tampaknya memang
bukan sesuatu permintaan yang berlebihan"
"Kian tayhiap, mengapa kau tidak pergi menjumpai
atasan kami untuk berbincang-bincang sendiri?"
"Berbincang-bincang" kenapa?"
"Permintaan Kian tayhiap, adalah suatu permintaan yang
layak, aku percaya atasan kami pasti akan meluluskannya"
"Dia berada dimana?"
"Tak jauh dari sini"
Kian Hui-seng kembali termenung sambil berpikir
sejenak, kemudian katanya lebih jauh:
"Tapi aku telah berjanji dengan Cu Siau hong untuk
melangsungkan suatu pertarungan disini"
"Kini situasinya telah terjadi perubahan, tak usah kau
nantikan kedatangan mereka lagi"
"Baiklah!" kata Kian Hui-seng kemudian, "lohu berada
dibawah wuwungan rumah rendah, mau tak mau harus
menundukkan kepala, silahkan saudara membawa jalan"
Orang berbaju hitam itu tidak banyak berbicara lagi, dia
segera membalikan badan dan segera melangkah pergi dari
situ. Kian Hui-seng mendongakkan kepala memandang
sekejap ke atas pohon, kemudian cepat-cepat mengikuti
dibelakang tubuh orang itu.
Setelah menelusuri jalanan kecil lebih kurang tiga ratus
kaki, mendadak mereka berbelok menuju ketengah semak
belukar yang lebat. Tempat itu merupakan sebuah tebing kecil, disatu pihak
menghadap ke arah sungai Siang kang, sedang bagian lain
menempel dibukit dan penuh di tumbuhi ilalang yang lebat.
Ditepi sungai merupakan tanah perbukitan, boleh
dibilang tempat itu amat strategis ditambah lagi tempat itu
dihadiri beberapa orang jagoan lihay yang mempersiapkan
diri dengan sebaik-baiknya, hal mana membuat tempat
yang memang strategis menjadi penuh diliputi hawa
pembunuhan yang mengerikan.
Orang berbaju hitam itu membawa Kian Hui-seng
berjalan menuju ke tengah semak belukar itu, sebentar lagi
berbelok kekanan, ratusan kaki kemudian mereka baru
berhenti. Kian Hui-seng dengan mengandalkan ketajaman mata


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan pendengarannya segera memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, di samping sepanjang jalan yang
dilewati penuh dengan kawanan jago yang mempersiapkan
diri. Cuma dia tidak mengungkapkan hal mana dan berlagak
seolah-olah tidak tahu. Tapi dia mengerti, kedudukan orang ini dalam organisasi
rahasia tersebut sudah pasti luar biasa sekali.
Sepanjang perjalanan, pos penjagaan yang berhasil di
jumpai adalah puluhan tempat lebih, dia percaya yang tidak
ditemukan paling tidak masih ada tiga sampai lima buah
tempat. Dalam kesepuluh pos penjagaan tersebut paling sedikit
jumlah orangnya mencapai lima puluhan orang, Kian Hui
seng semakin sadar kalau dia telah terjebak dalam sarang
naga gua harimau. Ratusan kaki diluar tempat itu, Cu Siau hong dengan
membawa para jagonya telah melakukan penjagaan pula
diseseliling tempat itu. Dia tidak menemukan pos-pos penjagaan tersebut, juga
tidak menemukan orang-orang yang bersembunyi disitu,
tapi dia tahu ditempat itu sudah pasti banyak terdapat jago
musuh yang mempersiapkan diri.
Jago-jago dari Kay pang dan Pay kau ada pula yang
berada ditengah sungai, maupun tepi sungai melakukan
suatu gerakan. Kegelapan malam yang mencekam hampir menutupi
banyak sekali rahasia dan banyak sekali hawa pembunuhan
yang mencekam ditempat itu..
Tepi sungai yang sekilas pandangan sepi dan tenang itu,
kini sudah, diliputi suasana tegang yang penuh dengan
mara bahaya, namun sekilas pamdangan, suasananya
justru amat tentram. Dengan tenang sekali Kian Hui seng berdiri ditempat
tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Orang berbaju hitam itu memandang sekejap keatas
wajah Kian Hui seng dengan sorot mata tajam, setelah itu
ujarnya: ''Setelah berjumpa dengan atasan kami nanti, apa yang
siap kau ucapkan...."
Kian Hui seng tidak segera menjawab, hanya dalam hati
kecilnya dia berpikir: "Tampaknya keparat ini masih mempunyai maksud lain,
dia sengaja membawaku menuju ke tengah perangkap,
mungkin dia sudah bersiap sedia untuk bentrok dengan
aku?" Berpikir demikian, dia lantas menjawab: "Soal ini
tergantung bagaimanakah tanggapan dari atasan kalian,
berbicara terus terang, selama hidup aku orang she Khian
tidak terbiasa berbicara bohong"
"Kalau aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu?" kata
si orang berbaju hitam itu. "Kau... ' Kian Hui seng menjadi
tertegun. "Didalam kenyataan,akulah pemimpin dari tempat ini"
sambung orang berbaju hitam itu lebih jauh.
"Kau....kau sangat licik, pengecut dan berhati busuk..."
Kian Hui seng marah sekali.
"Ucapan Kian tayhiap kelewat serius, padahal tak bisa
dikatakan licik atau pengecut, lebih-lebih tak bisa dikatakan
sebagai berhati busuk, untuk menggunakan tentera, orang
harus tahu pula menggunakan taktik, kalau toh kedua belah
pihak saling tak bisa mempercayai lawannya, terpaksa
akupun harus menggunakan sedikit siasat"
"Aku mengerti, kau memancing lohu datang kemari,
tujuannya tak lain adalah un-tuk memancing lohu masuk
kedalam perangkap, bukan?"
"Aaaah, tak segawat itu"
''Di sekehling tempat ini kau telah persiapkan jago dalam
jumlah yang banyak, kemudian memancing lohu untuk
memasuki perangkap tersebut, apa tujuannya apakah hal
ini tidak jelas?" Orang berbaju hitam itu segera menghela napas
panjang. ''Aaaai, sungguh mengagumkan, sungguh
mengagumkan" serunya, "aku percaya persiapan yang
kulakukan cukup cermat dan berhati-hati, siapa tahu toh
akhirnya tak dapat juga mengelabuhi ketajaman mata serta
pendengaran dari Kian tayhiap"
"Sebenarnya lohu tidak secermat itu, cuma lohu baru
saja diperalat orang lain, maka dari itu mau tak mau aku
harus bertindak lebih berhati-hati lagi'
''Padahal kau tak perlu berhati-hati, asal mau berterus
terang hal ini sudah lebih dari cukup ` Setelah berhenti
sejenak, kembali sambungnya lebih jauh.
"Kemana perginya dua orang yang kukirim untuk
membuntuti dirimu" Apakah mereka sudah tewas?"
''Lohu tidak tahu, agaknya aku sudah menjawab
pertanyaan yang kau ajukan itu."
Kami pun sudah mendengarnya, cuma aku tidak percaya,
masa orang hidup sebesar itu secara tiba-tiba bisa lenyap
tak berbekas, bagaikan tak kedengaran sedikit suarapun.
''Kau mencurigai lohu telah membinasakan mereka?"
"Hanya suatu serangan yang mendadak dan sama sekali
diluar dugaan mereka saja baru dapat membunuh kedua
orang itu sekaligus"
"Bukan aku, percaya atau tidak terserah padamu'
Setelah berherti sejenak, kembali dia menambahkan.
"Tampaknya keinginanku untuk berjumpa muka dengan
anak istriku bukan sesuatu yang mungkin terjadi"
"Itu mah tidak, hal ini tergantung pada pembuktianku
apakah kau tidak bekerja sama dengan kami atau tidak,
asal kau menunjukkan kesanggupanmu untuk bekerja
sama, seketika itu juga aku dapat mengajakmu untuk
menjumpai mereka" "Bagus sekali, sekarang utarakan pembuktianmu itu"
"Kian tayhiap, benarkah kau menginginkan suatu
pembuktian?" kata orang, berbaju hitam itu dingin.
"Benar" "Aku dapat memancing Cu Siau hong sekalian memasuki
daerah sekitar tempat ini, kemudian akupun ingin
menyaksikan Kian tayhiap bertarung melawannya".
"Kau hendak memancing Cu Cengcu datang kemari"'
"Benar! Entah bagaimana menurut pendapat Kian
tayhiap?" Kian Hui seng termenung dan berpikir sejenak, kemudian
sahutnya sambil manggut-manggut:
"Baik, aku dapat menyetujui usulmu itu, cuma akupun
mempunyai syarat pula"
"Apa syaratmu ...."' tanya orang berbaju hitam itu sambil
manggut-manggut. "Kepandaian silat yang dimiliki Cu cengceu sangat lihay,
aku dan dia pernah melangsungkan suatu pertarungan
sengit, dalam pertarungan tersebut tidak beruntung aku
telah menderita luka"
"Soal ini aku tahu"
"Oleh karena itu, dalam pertempuran tersebut aku sama
sekali tidak mempunyai keyakinan untuk menang.... "
"Aku dapat mengirim orang untuk membantumu" tukas
orang berbaju hitam itu cepat.
"Membantu aku" Kalau lohu saja bukan tandingan Cu
Siau hong, aku tak dapat menduga masih ada manusia
mana lagi didunia ini yang bisa membantu diriku"
Orang berbaju hitam itu segera tertawa.
"Baiklah!" dia berkata, "kegagahan dari Kian tayhiap
sungguh membuat aku merasa kagum!'.
"Itulah sebabnya, sebelum dilangsungkan suatu
pertempuran antara diriku melawan Cu Siau hong, terlebih
dahulu aku ingin berjumpa dengan anak istriku"
"Soal ini. . ."
"Hanya itu saja syaratku, aku rasa tidak terlalu berat pun
tak perlu dilangsungkan tawar menawar" tukas Kian Hui
seng cepat. "Tentang soal ini, aku rasa agak sedikit susah" ujar orang
berbaju hitam itu dingin.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Kian Hui seng,
ditatapnya wajah orang berbaju hitam itu lekat-lekat,
kemudian pelan-pelan ujarnya:
"Kau tidak dapat mengambil keputusan, ataukah tidak
bersedia mengabulkan permintaanku itu"
"Istri dan anakmu di tempat yang amat rahasia letaknya,
jaraknya dari sini sampai ke situpun terlalu jauh, bilamana
aku mesti mengundang mereka datang kemari, aku rasa
tindakan semacam ini merupakan suatu tindakan yang
kurang aman." Kian Hui seng memahami apa yang dimaksudkan lawan,
tapi dia berlagak seolah-olah tidak mengerti, serunya:
"Tidak aman" Apa yang kau takuti?"
"Cu Siau hong masih mempunyai anak buah yang cukup
banyak jumlahnya, kemungkinan besar mereka akan turun
tangan. untuk melakukan penghadangan dan lagi dua
kekuatan terbesar dalam dunia persilatan dewasa ini, Kay
Pang dan Pay kau telah mengirimkan pula jago-jago
lihaynya untuk berkumpul disekitar sini, sepintas lalu meski
sepanjang pesisir sungai Siang kang ini kelihatan sangat
tenang, padahal yang benar penuh dengan kawanan jago
dan situasinya gawat sekali"
"Itu mah urusanmu sendiri, aku rasa toh kau masih ada
cara lain yang bisa dipergunakan agar kami dapat saling
bersua muka." "Soal ini. . . soal ini . . ."
"Saudara, dengarkan baik-baik," tukas Kian Hui seng
cepat, "aku sampai bersedia menuruti perintah kalian, hal
ini tak lain disebabkan kalian telah menculik anak istriku
dan menyandera mereka, bila mereka masih hidup dengan
segar bugar, tentu saja mau tak mau aku mesti
melaksanakan tugas atas perintahmu, tapi seandainya
mereka sampai menderita sesuatu siksaan atau penderitaan
terpaksa akupun harus membalaskan dendam untuk
mereka" "Aaah, tidak mungkin, tidak mungkin, soal ini Kian
tayhiap tak usah kuatir" kata orang berbaju hitam itu sambil
tertawa, "setiap persoalan yang kami ucapkan selain masuk
hitungan, kami tak akan mengingkari janji yang telah kami
ucapkan" "Bagus sekali kalau begitu, sekarang juga aku ingin
berjumpa dengan mereka!"
"Kian tayhiap, apakah kau bersikap keras ingin berjumpa
dengan mereka?" tanya orang berbaju hitam itu dingin.
"Benar, dalam hal ini aku tak akan mengalah barang
selangkah kakipun. . ."
Kontan saja orang berbaju hitam itu tertawa dingin.
"Kian tayhiap, aku sudah sangat mengalah kepadamu,
harap kau bisa memakluminya!" Kian Hui seng balas
tertawa dingin. "Lohupun sudah cukup banyak menahan mendongkol
akibat ulahmu, mengerti?"
"Kian tayhiap, kalau soal kecil tak bisa ditahan, masalah
besar akan turut terbengkalai, aku harap kau bisa
memikirkan keselamatan jiwa dari anak istrimu"
"sebelum berjumpa dengan mereka, aku tak dapat
menentukan apakah masih masih selamat atau tidak"
Mendadak dia mengayunkan tangan kanannya, tahu-tahu
cahaya tajam berkelebat lewat dan mata goloknya telah
diancam ke atas tenggorokan orang berbaju hitam itu.
Kecepatan mencabut golok benar-benar melebihi
kecepatan sambaran petir.
Orang berbaju hitam itu tertegun, berapa saat kemudian
baru katanya sambil tertawa: "Golok lewat tanpa suara,
agaknya nama besarmu bukan cuma nama kosong belaka"
"Aku tahu disekeliling tempat ini penuh dengan kawanan
jago yang mempersiapkan diri, Cuma sayang mereka tak
ada gunanya sama sekali. Asal kau beranggapan bahwa
serangan yang mereka lakukan untuk menolongmu bisa
jauh lebih hebat daripada diriku, tak ada salahnya kalau kau
undang mereka untuk keluar semua"
Orang berbaju hitam itu segera tertawa.
Kian Hui seng segera mendengus dingin: "Hmmm,
selama hidup lohu sudah terbiasa masuk keluar dalam
wilayah yang berbahaya, soal kawanan jago yang kau
persiapkan disekitar tempat ini masih belum dapat
mengejutkan diriku, yang kukuatirkan tak lain adalah
keselamatan jiwa dari anak istriku. . ."
"Mereka berada dalam keadaan aman dan selamat" tukas
orang berbaju hitam itu cepat, "tapi jika saudara tak dapat
melaksanakan perintah seperti apa yang kami syaratkan,
hal ini sulit untuk dibicarakan lebih lanjut.. ."
"Oooh ....apa pula maksudmu?"
"Maksudku, kami tidak menjamin lagi akan keselamatan
jiwa dari anak istrimu ...."
"Kau main ancam?"
"Bukan suatu ancaman, aku hanya mengatakan apa
adanya dan sejujur-jujurnya"
"Tapi sebelum aku dapat berjumpa dengan mereka, Aku
tak tahu bagaimanakah keadaan mereka bertiga, siapa tahu
anak istriku sudah tidak berada lagi didunia ini?"
Kontan orang berbaju hitam itu tertawa dingin,
bentaknya tiba-tiba. "Kian Hui seng, apakah kau benar-benar tak mau minum
arak kehormatan, melainkan memilih arak hukuman?"
"Lohu boleh dibunuh pantang dihina, sebelum kau
berbicara lebih baik dipikirkan dulu dengan jelas" Kian Hui
seng, "jadi kau benar-benar sudah tidak menguatirkan
keselamatan jiwa anak istrimu lagi"' "Kuatir"
"Jika kuatir segera laksanakan tugas menurut apa yang
kuperintahkan" bentak orang itu dingin.
"Tapi aku harus tahu dulu jika mereka masih tetap
hidup!" Mendadak orang berbaju hitam itu bertepuk tangan tiga
kali.

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dari balik
semak belukar segera bermunculan empat sosok bayangan
manusia yang segera mengurung Kian Hui seng rapat-rapat.
Kian Hui seng memandang sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian tegurnya. "Apa maksudmu yang sebenarnya?"
"Jika Kian tayhiap tak bisa dipergunakan lagi oleh kami,
paling tidak kami pun tak akan membiarkan Kian tayhiap
dipergunakan oleh pihak yang lain"
"Heeehh. . . heeehh. . . heeehhh. . . jadi kalian ingin
membunuhku"' jengek Kian Hui seng sambil tertawa dingin
tiada hentinya. "Agaknya memang begitu"
"Ini baru merupakan tujuan kalian yang sebenarnya,
membunuh anak biniku lebih dulu kemudian baru
membunuh aku! Tentu saja cara yang paling baik adalah
mengadu diriku dengan Cu cengcu agar kami bisa mati
bersama-sama" "Kian Hui seng, lebih baik kau perhatikan dulu benda
apakah yang berada ditangan mereka, kemudian baru
diributkan lagi soal-soal yang lain"
Kian Hui -seng segera mengalihkan sorot matanya
kearah sekeliling tempat itu, dia menyaksikan di tangan
keempat orang berbaju hitam itu masing-masing membawa
sebuah tabung pendek berwarna hitam.
Terdengar orang berbaju hitam itu berkata lagi.
"Tabung besi itu bernama Tui bun tok- tong (tabung
beracun pengejar nyawa) dalam tabung terdapat air
beracun yang akan membusuk bila mengenai kulit tubuh,
setitik saja kau terkena berarti jiwamu tak dapat ketolong
lagi. Didalam setiap tabung besi itu terdapat dua belas,
buah lubang kecil, di bawah suatu tekanan yang sangat
kuat, dari dalam liang lubang kecil itu akan menyembur
keluar air beracun yang bisa mencapai sejauh dua kaki dari
sasaran " "Hmmm, permainan semacam itu mah hanya permainan
anak kecil saja, tak bisa di anggap sebagai sesuatu
permainan yang hebat" jengek Kian Hui seng dingin.
"Kami telah memperhitungkan dengan pasti, bila empat
tabung air beracun menyembur bersama dari jarak
sedemikian dekat, maka kendatipun kau memiliki ilmu silat
yang lebih hebat pun jangan harap bisa meloloskan diri dari
mara bahaya tersebut"
Mencorong cahaya tajam dari balik mata Kian Hui seng,
serunya dingin: "Apakah kalian hendak mencoba?"
Mendadak orang berbaju hitam itu mengulapkan
tangannya sambil membentak keras: "Bunuh!"
Menyusul bentakan tersebut, sekilas cahaya tajam
segera meluncur ke depan. . .
Berbicara sesungguhnya, Kian Hui seng pun menaruh
perasaan kuatir dan was was terhadap senjata rahasia
beracun semacam ini. Bersamaan dengan orang berbaju hitam itu melakukan
gerakan, empat orang pembunuh yang berada disekeliling
tempat itupun bersama-sama mengayukan tangan
kanannya. Cahaya golok ditangan Kian Hui-seng ikut memancar
pula ke empat penjuru. Cahaya golok berkelebat kearah atas, tubuhnya justru
menggelinding pergi lewat bawah.
''Traannng.... !" terdengar suara benturan nyaring yang
memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan.
Sebilah pisau belati yang disambitkan oleh orang berbaju
hitam itu kena ditangkis sehingga mencelat oleh ayunan
golok Kian Hui seng. Tenaga serangan golok yang dilancarkan Kian Hui seng
tersebut tidak menjadi lemah meski sudah membentur pada
senjata pisau belati tersebut, malah dengan gerakan miring
segera melesat ke atas. Air beracun yang berada ditangan keempat orang
berbaju hitam itupun sudah disemprotkan kedepan.
Akan tetapi menggunakan kesempatan tersebut, Kian Hui
seng telah menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melejit
ke tengah udara dengan cepat dia telah meloloskan diri dari
keempat orang itu. Semua peristiwa berlangsung hanya didalam waktu
sekejap mata. Hampir pada saat yang bersamaan, dari tiga arah yang
berbeda manusia bertindak secara berbarengan.
Kian Hui seng melejit setinggi dua kaki ditengah udara
setelah melesat ke depan sejauh beberapa kaki, dengan
cepat dia menyambar kembali kebawah.
TAPI gerakan yang dilakukan ke empat orang berbaju
hitam itupun cukup cepat begitu serangannya gagal
mengenai sasaran, serentak mereka membalikkan
badannya menghadap ke arah lawan.
Seandainya gerakan tubuh Kian Hui seng terlambat
selangkah saja, niscaya dia sudah terluka ditangan lawan,
untung saja Kian Hui seng sama sekali tidak berhenti,
tubuhnya sudah melambung kembali ditengah udara.
Sementara keempat orang itu masih ragu-ragu, Kian Hui
seng telah melayang masuk ke balik semak belukar.
Pada saat itulah orang berbaju hitam yang melepaskan
pisau terbang tadi mendadak mendengus tertahan
kemudian roboh terjengkang keatas tanah ....
Dengan cepat orang berbaju hitam yang membawa
tabung air beracun itu membalikkan badannya.
Tampak disamping orang berbaju hitam yang roboh itu
masih berdiri lagi seorang manusia berbaju hitam lain nya.
Mereka semua mengenakan pakaian berwarna hitam
dalam suasana lamat-lamat seperti ini, sulit sekali untuk
melihat jelas paras muka orang-orang itu.
Sebelum sempat menegur, orang berbaju hitam yang
berdiri tegak itu sudah maju menerjang kedepan sambil
membentak keras: "Kalian benar-benar bodoh"
Cahaya pedang berkelebat lewat, empat orang lelaki
berbaju hitam yang memegang tabung air beracun itu telah
roboh terjengkang pula ke atas tanah.
"Siapa itu?" bentak Hui-seng sambil melayang tiba.
Terhadap tabung-tabung besi berisikan air beracun itu,
dia memang nampak merasa agak takut, tapi tidak
demikian terhadap jagoan yang berilmu silat tinggi.
Mendadak orang berbaju hitam itu mengayunkan
pedangnya membunuh ke empat orang itu kemudian segera
menyarungkan pedangnya.. Hal ini menunjukkan kalau orang itu tidak bermaksud
jahat atau bermusuhan dengan Kian Hui-seng.
Tapi kejadian yang sangat aneh dan diluar dugaan ini
membuat Kian Hui-seng mau tak mau harus
mempersiapkan diri untuk menjaga segala kemungkinan
yang tidak diinginkan. Maka sambil melintangkan goloknya di depan dada, ia
menegur: "Saudara, mengapa kau tidak berbicara?"
Serentetan suara yang rendah segera menyusup masuk
ke dalam telinga Kian Hui seng, katanya:
"Kian tayhiap, sekarang kita sedang berada dalam
keadaan yang berbahaya sekali, paling betul jika kita
selekasnya meninggalkan tempat ini, sekarang mereka
belum turun tangan karena mereka belum jelas
kedudukkanku yang sebenarnya, cara yang terbaik adalah
menggunakan siasat agar mereka saling gontok-gontokan
sendiri, sedang kita selekasnya meninggalkan tempat ini"
Kian Hui seng merasa amat kenal dengan suara tersebut,
dengan cepat dia dapat mengenalinya sebagai suara dari Cu
Siau-hong. Setelah berpikir sebentar, Kian Hui-seng segera
membentak keras: "Sungguh keji perbuatanmu itu!"
Mendadak dia mengayunkan goloknya sambil
melancarkan bacokan ke dada lawan.
Tiba-tiba orang berbaju hitam itupun meloloskan
pedangnya, menciptakan selapis cahaya tajam untuk
membendung datangnya ancaman tersebut.
"Traaanngg...." ditengah benturan yang amat nyaring,
mendadak Kian Hui seng melompat sejauh beberapa kaki
dari tempat semula.. "Mau lari ke mana kau?" bentak orang berbaju hitam itu
dengan suara dalam. Dengan cepat dia melompat ke depan
sambil melakukan pengejaran.
Dengan bentakannya itu, maka seketika itu juga rahasia
penyaruan mereka ketahuan.
Tampak bayangan manusia segera bermunculan dari
empat penjuru, enam titik cahaya tajam langsung meluncur
ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.
Ternyata cahaya tajam itu bukan senjata rahasia
melainkan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran
petir, orang itu berikut senjatanya telah meluncur datang.
Pada waktu itu Cu Siau hong masih berada ditengah
udara dan sedang meluncur ke bawah.
Bayangan manusia dan senjata tajam yang segera
bermunculan dari empat penjuru bagaikan tindihan bukit
Thay san segera menggulung tiba hampir bersamaan
waktunya. Cu Siau bong sambil mengangkat pedangnya ke atas,
segera melindungi tubuhnya dari ancaman. .
Tapi sisa tenaga yang dimilikinya sudah berada diujung
tanduk, sukar baginya untuk menahan semua serangan
tersebut. Dari sini terbukti sudah kalau orang yang melakukan
pengerubutan tersebut rata-rata bukan manusia
sembarangan. Ditengah suara bentrokan nyaring yang memekikkan
telinga Cu Siau hong kena ditekan oleh senjata para
pengerubutnya sehingga melayang kembali ke atas tanah.
Kian Hui-seng segera membentak keras, tubuh dan
goloknya seolah-olah melebur menjadi satu dan bersama
sama menerjang datang' Di mana cahaya goloknya berkelebat lewat darah segar
segera memancar ke mana-mana.
Dua orang manusia berbaju hitam yang bersenjatakan
pedang telah tewas diujung golok Kian hui seng.
Empat orang sisanya meski tidak terkena serangan, tapi
mereka toh kena terdesak juga sejauh beberapa kaki dari
tempat semula oleh angin golok yang amat tajam itu.
Benar-benar sebuah serangan golok yang luar biasa.
Cu Siau hong segera menghembuskan napas panjang
sambil memuji. "Suatu ilmu golok yang sangat lihay"
Pedangnya segera mencukil pula kedepan dengan suatu
gerakan kilat, diantara cahaya tajam yang berkilauan
diangkasa, dua orang diantara kempat orang manusia
berbaju hitam itu kembali roboh terjengkang keatas tanah.
Dalam dua jurus serangan dua orang korban, tergeletak
ke tanah, selain lihay jurus serangan itupun belum pernah
dalam kolong langit, untuk sesaat Kian Hui seng sampai
berdiri termangu-mangu saking tercengangnya.
Dua orang manusia berbaju hitam lainnya pun berdiri
tertegun, untuk sesaat mereka sampai lupa turun tangan
saking terpesonanya. Cahaya golok kembali berkelebat lewat, secara beruntun
Kian Hui seng melepaskan dua tusukau kilat untuk
menghajarjalan darah Khi hay hiat ditubuh kedua orang itu.
Kepandaian silat yang dilatih puluhan tahun dengan
susah payah segera lenyap tak berbekas.
Menanti kedua orang manusia berbaju hitam itu
merasakan sesuatu yang tak beres, tahu-tahu jalan
darahnya sudah tertusuk dan segenap ilmu silatnya punah
tak berbekas. Dengan suara dingin Kian Hui seng berseru.
"Lohu tidak berbuat apa-apa, aku hanya memunahkan
ilmu silat yang kalian miliki, semoga saja mulai sekarang
bertobat dan menjadi rakyat biasa yang saleh dan
berbudi.." Kedua orang manusia berbaju hitam itu saling
berpandangan sekejap, mendadak mereka mengangkat
goloknya dan saling menusuk ke tubuh lawannya ....
Kontan saja bagian mematikan ditubuh masing-masing
pihak terkena tusukan, darah segar memercik ke empat
penjuru, mereka pun roboh tergeletak ditanah dalam
keadaan tak bernyawa lagi.
Kian Hui seng menjadi tertegun setelah menyaksikan
adegan tersebut, lama sekali dia baru berseru:
"Oooooh .... keras amat watak kedua orang ini".
"Yaa, mereka sudah dikuasai oleh semacam peraturan
yang keji dan keras, sekalipun mereka ingin hidup lebih
jauh, belum tentu organisasi tersebut akan melepaskan
mereka dengan begitu saja"
"Benar juga perkataanmu,jika sampai di bikin hidup tak
dapat, mati pun tak bisa, memang jauh lebih baik kalau
bisa mati dalam keadaan seperti ini"
Kemudian sambil merendahkan suaranya dia berbisik
lebih jauh: "Lote, penjagaan yang diatur disekitar tempat ini tak
sedikit jumlahnya, yang pasti bukan hanya beberapa gelintir
manusia-manusia itu belaka, tapi heran mengapa tidak
nampak mereka lakukan sesuatu gerakan lagi?"
"Mereka sedang menunggu, datangnya kesempatan yang
paling menguntungkan sebelum turun tangan .. "
Setelah tertawa, lanjutnya:
"Masih ada satu kemungkinan lagi, yakni mereka sedang
menantikan perintah penyergapan lainnya"
"Hayo berangkat, kita tak usah menunggu mereka lagi,
sepanjang jalan kita bunuh mereka sampai ludas" Sambil
mampersiapkan goloknya, dia segera berangkat lebih
dahulu menuju ke depan. Cu Siau hong dengan pedang
terhunus mengikuti pula dari belakangnya dengan kesiap
siagaan penuh. Diluar dugaan mereka berdua ternyata sepanjangjalan


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka tidak menjumpai hadangan apapun.
Kian Hui seng maupun Cu Siau hong dapat merasakan
berapa banyaknya jagoan lawan yang bersembunyi
disepanjang jalan, tapi anehnya ternyata tak seorangpun
diantara mereka yang turun tangan melakukan
penghadangan ataupun penyergapan.
Setelah meninggalkan tanah bukit yang amat berbahaya
itu Cu Siau hong baru pelan-pelan berkata lagi:
"Kian tayhiap, anak istrimu sudah ada kabar beritanya"
"Mereka berada dimana"` Kian Hui seng segera bertanya
dengan wajah berseri. "Diatas perahu"
"Bagus sekali, mari kita segera pergi menengok keadaan
disitu.. .bila perlu kita babat mereka semua."
"Jangan, perahu itu sudah berada didalam pengawasan
kami" "Sekarang kita sudah bentrok secara langsung dengan
mereka, bukankah hal ini berarti keselamatan anak istriku
sudah amat berbahaya sekali?"
"Kian tayhiap, sewaktu aku datang kemari tadi, sudah
kuperintahkan kepada mereka untuk mencari kesempatan
dan berusana untuk menguasahi perahu besar tersebut"
"Cu cengcu, sekalipun tidak terdapat kesempatan
semacam itu, lohu juga tak akan memohon sesuatu, tapi
kalau memang kesempatan tersebut ada, Lohu rasa kita
sudah seharusnya..."
Terlihat sesosok bayangan manusia berlarian mendekat.
Ternyata dia adalah si bocah pedang Seng Hong!
Seluruh badannya basah kuyup, air masih menetes tiada
hentinya dari tubuhnya. Jelas dia baru saja naik ke atas
darat. Dengan suara rendah Cu Siau hong segera bertanya:
"Seng Hong, bagaimana keadaannya"'
''Sungguh beruntung tidak terjadi apa-apa, sergapan
suheng dari dalam air telah berhasil membinasakan empat
orang pengawal yang berada diatas perahu tersebut.
"Bagaimana dengan istri dan anakku" seru Kian Hui seng
cepat. 'Menjawab pertanyaan Kian tayhiap, Hujin dan nona
berada dalam keadaan selamat, ada dua orang dari pihak
kita yang terluka, tapi keenam orang pengawal bersenjata
diatas perahu telah berhasil kami bunuh semua."
"Bagus. . . bagus.. . lohu pasti akan membalas budi
kebaikan kalian ini dengan sebaik-baiknya''
"Ucapan Kian tayhiap terlalu serius, kesemuanya ini
merupakan rencana majikan kami yang teliti dan seksama"
Kian Hui seng berpaling dan memandang sekejap ke arah
Cu Siau hong, kemudian serunya dengan penuh rasa terima
kasih. "Cu Cengcu, budi tak perlu diucapkan, biarlah kuterima
didalam hati saja" Cu Siau hong segera tertawa.
"Aku hanya berharap segalanya berjalan lancar, yang
paling penting lagi adalah tindak tanduk Kian tayhiap sendiri
yang jujur, bijaksana dan mulia, tidak melanggar peraturan
langit, tidak melanggar peraturan bumi. Orang baik selalu
dilindungi Thian, itulah sebabnya pula Hujin dan nona
sekalian berada dalam keadaan aman dan selamat'..
''Aaaai.... lohu menyesal sekali, mentang-mentang
seorang lelaki, ternyata melindungi anak istri sendiripun tak
becus." "Kian tayhiap, kau tak usah terlalu menyesali diri sendiri,
kelicikan dan kebusukan orang memang luar biasa sekali,
untung saja mereka bisa selamat meloloskan diri dari
bahaya maut, yang terpenting sekarang adalah bagaimana
caranya mengatur mereka selanjutnya, agar mereka tak
sampai terjebak lagi oleh peraturan musuh sebab aku rasa
persoalan itulah baru merupakan persoalan penting yang
paling mendesak" "Benar, lohu akan menghantar mereka pulang ke desa
saja" "Kian tayhiap, sekarang kau telah mengikat tali
permusuhan dengan mereka, pembalasan dendam yang
mereka laksanakan dikemudian hari sudah pasti akan lebih
dahsyat lagi, apakah desa kelahiran Kian tayhiap aman
untuk ditempati?" "Tentang soal itu mah sukar untuk dikatakan, cuma
tempat tinggalku adalah sebuah rumah gubuk berpagar
bambu, disitu tiada tempat untuk bersembunyi, juga tiada
orang yang melakukan penjagaan, kecuali lohu seorang,
mereka tak bisa bersilat, jadi seandainya ada orang mencari
gara-gara, mereka tak akan mempunyai tenaga serta
kekuatan untuk melakukan perlawanan"
"Kalau memang begitu hal mana perlu di pertimbangkan
lebih dulu masak-masak"
Setelah diungkapkan Cu cengcu sekarang lohu menjadi
agak kebingungan dibuatnya, "sebagai orang persilatan,
keselamatan nyawa lohu tak pernah kupikirkan, aaai. .
Cuma mereka ibu dan anak sama sekali tak ada sangkut
pautnya dengan dunia persilatan. bahkan ilmu silat pun
belum pernah mempelajari"
"Kian tayhiap, selama melakukan perjalanan didalam
dunia persilatan, tentunya kau mempunyai seorang dua
orang teman akrab bukan?"
Kian Hui seng termenung dan berpikir sebentar,
kemudian sahutnya: "Aku memang mempunyai seorang sahabat karib, bukan
saja ilmu silatnya sangat lihay, lagipula diapun pandai
pelbagai ilmu kepandaian yang lain, cuma dia sudah
menjauhkan diri dari keramaian dunia, entah bersediakah
dia untuk menerima mereka ibu dan anak untuk berdiam
disana?" "Persahabatan yang sejati adalah pers-habatan didalam
hati, saling tolong menolong merupakan sesuatu yang
lumrah, seandainya dia benar-benar adalah seorang kawan
sejati, seharusnya dia tak akan menolak permintaanmu itu"
"Baik" ucap Kian Hui seng kemudian, "lohu akan
mengajak mereka ibu dan anak menuju ke sana, sahabatku
itu mempunyai kemampuan untuk melindungi mereka, lagi
pula tempat itu pun terpencil sekali letaknya, jarang ada
orang persilatan yang mengetahui letaknya"'
Cu Siau hong segcra menghela napas panjang.
"Aaai ... Kian tayhiap, kau jangan kelewat rendah menilai
kemampuan lawan-lawan kita, sampai detik ini kita masih
belum mengetahui asal-usul mereka yang sebenarnya dan
siapa pula pentolan mereka, sebaliknya gerak gerik kita
justru selalu berada didalam pengawasan mereka semua,
mengerti?" Kian Hui seng manggut-manggut.
"Perkataanmu memang benar, walaupun mereka telah
turun tangan terhadap keluargaku, namun sampai sekarang
lohu masih belum tahu siapakah gerangan mereka semua".
"Nah, ,disinilah terletak bagian yang paling menakutkan
dari mereka, sebab kita tak tahu siapakah mereka dan
berada dimanakah mereka, seakan-akan seluruh dunia
persilatan telah berada didalam pengawasan mereka
semua" "Tapi mereka toh tak dapat meloloskan diri dari
perhitungan Cu Cengcu yang lihay"
Cu Siau hong kembali menghela napas panjang.
"Hal ini tak bisa dijadikan suatu pegangan; kali ini kita
pun hanya berhasil karena nasib yang mujur, pertama
karena mereka bertindak kelewat gegabah, kedua, kita pun
mendapat bantuan dari pada jago Kay pang dan Pay kau,
keadaan semacam ini mustahil buat dijumpai lagi
dikemudian hari, maka Kian tayhiap perlu berhati-hati
didalam setiap tindakan dimasa mendatang"
"Baik, baik, setelah mendapat pelajaran kali ini,
dikemudian hari lohu tak akan bertindak lagi secara
gegabah" "Sekarang, mari kita jumpai dahulu Hujin dan putri
kesayanganmu" "Mereka berada di mana?"
"Seng Hong dapat membawa kita ke sana."
Seng Hong membawa mereka berdua ke tepi sungai,
kemudian menaiki sebuah perahu kecil, setelah itu perahu
itupun di jalankan ke tengah sungai memdekati sebuah
perahu besar. Suasana malam yang gelap gulita membuat setiap gerak
gerak mereka terasa agak misterius
Suasana diatas perahu besar itu pun remang-remang,
hanya nampak setitik cahaya lilin saja sebagai penerangan.
Namun empat penjuru disekelillng ruang perahu dilapisi
oleh kain berwarna hitam, oleh sebab itu dari luar orang tak
dapat menyaksikan cahaya lentera didalam ruangan
tersebut. Didalam ruangan pun hanya dipasang dua buah lilin.
Cahaya terang menerangi seluruh ruangan membuat
pemandangan disekitar sana nampakjelas. Seorang
perempuan setengah umur disertai dua orang gadis remaja
duduk disitu. Kening mereka berkerut, sementara rasa ngeri dan
ketakutan masih menghiasi raut wajah mereka.
"Siu ci !" begitu melangkah masuk ke dalam ruangan
Kian Hui seng segera menghampiri perempuan setengah
umur itu. Berjumpa kembali dengan Kian Hui seng tiba-tiba
sekulum senyuman yang hambar menghiasi wajah
perempuan setengah umur yang murung itu, sembari
membereskan rambutnya yang kusut dia berkata:
"Sungguh tak disangka kami lbu dan anak masih dapat
berjumpa lagi dengan kau"
Dua orang gadis itupun serentak bangkit berdiri dan
menubruk kedalam pelukan Kian Hui seng.
"Oooh ayah, sungguh menakutkan!" seru mereka hampir
bersama, "beberapa orang telah terbunuh, darah banyak
yang telah mengalir."
Para muka Kian Hui seng pun diliputi oleh emosi, air
mata nampak mengembang pada kelopak matanya, sambil
menepuk-nepuk bahu kedua orang putrinya dia berbisik.
"Nak, jangan takut, semuanya sudah berlalu"
Dua orang gadis itupun turut mengucurkan air mata.
Hanya perempuan setengah umur itu yang masih tetap
bersikap tenang.. aai, agaknya dia pandai sekali menahan
diri. Setelah menghela napas sedih, dia berkata:
"Hui seng, apakah aku salah?"
Pelan-pelan Kian Hui seng mendorong kedua orang putri
kesayangannya lalu menjawab.
"Siu ci, kau tidak salah, kalian tidak mempunyai
pengalaman sama sekali terhadap urusan dunia persilatan,
tidak seharusnya kutinggalkan kalian sehingga peluang
tersebut dimanfaatkan orang lain"
Perempuan setengah umur itu menggelengkan kepalanya
berulang kali, akhirnya dia tak dapat menahan air matanya
lagi pelan-pelan titik air mata tampak jatuh berlinang.
Sambil menyeka air matanya, kembali dia berkata:
"Hui seng, sungguh menakutkan sekali, mereka
mengancam diriku hendak mengganggu putri kita berdua,
waktu itu kita berpikir lebih baik mati saja, tapi aku tahu
aku tak dapat mati, aku harus meninggalkan nyawaku
untuk berusaha keras melindungi keselamatan mereka
berdua." Jenggot panjang Kian Hui seng bergetar keras tan pa
hembusan angin, mukanya juga mengejang keras sekali,
Agaknya dia sedang berusaha keras untuk mengendalikan
pergolakan emosi di dalam hati.
Berpaling memandang sekejap ke arah suaminya,
perempuan setengah umur yang bernama Siu ci itu berkata
lebih jauh: "Aku rasa aku tidak sepentasnya mencegah kau untuk
mewariskan ilmu silat kepada mereka, seandainya Yongji
dan Imji pandai bersilat, bukan saja mereka dapat
melindungi keselamatan jiwa sendiri,juga dapat melindungi
ibu mereka" "Siu ci tidak seharusnya kuajak kalian keluar, aku adalah
orang persilatan sedang kalian bukan, kalian tidak
seharusnya merasakan penderitaan tersebut gara-gara aku"
"Aku telah kawin dengan seorang anggota persilatan,
tapi aku berkhayal untuk merubah kenyataan, di dalam
kenyataan terbukti sudah kalau akulah yang salah. Huiseng,
kau bukan menegurku, sekarang malah menghiburku,
hal ini sungguh membuat aku menyesal sekali"
Kian Hui seng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh. . . haahh. . . haaahh. . . sekarang bukankah
kita semua berada dalam keadaan baik-baik" Meski ada
rasa kaget, tapi tiada bahaya, manusia hidup di dunia ini
memang tak akan terlepas dari kejadian-kejadian yang
mengagetkan seperti itu"
Siu-ci menghembuskan napas panjang.
"Hui-seng apakah mereka sudah dewasa?" katanya..
ooo0ooo Jilid 43 BAGIAN 43 KIAN HUI SENG manggut-manggut.
"Yaa, benar! Mereka sudah dapat di bilang telah dewasa''
"Tidak, maksudku andaikata mereka mulai belajar silat
sekarang, apakah hal ini masih belum terlambat?" Kian Hui
seng segera tersenyum. "Siu ci, bukankah kau selalu berharap mereka bisa
melakukan suatu kehidupan yang sederhana" Sekarang
paling tidak satu dua tahun lagi, mereka sudah akan
menikah, Siu ci, biarkanlah mereka kawin dengan orangorang
yang pagi bekerja dan malam pulang ke rumah
beristirahat, agar mereka dapat melewati suatu kehidupan
yang tenang ...aaai! selama banyak tahun ini, aku merasa
amat menyesal terhadap dirimu, karena aku jarang sekali
mendampingimu, aku selalu berkelana saja sebagai orang
persilatan sehingga membiarkan anak istriku menjadi
terlantar"

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hui seng, kau tak boleh berkata demikian" tukas Siu ci
cepat, "aku selalu merasa kau bersikap amat baik kepadaku
selama banyak tahun akupun dapat hidup dengan puas,
soal ini dikarenakan kau saleh dan berbudi luhur, kehidupan
terpencil diatas gunung sudah cukup sepi, ditambah lagi
aku sering kali tak ada dirumah, keheningan dan kesepian
bagaikan dalam kuburan benar-benar merupakan sesuatu
yang sukar ditahan "Padahal hal ini pun salahku sendiri,
coba kalau akupun belajar ilmu silat dan mendampingimu
berkelana dalam dunia persilatan, bukankah kehidupan kita
pun akan lebih senang dan terjamin?".
Setelah terjadinya peristiwa itu, suami istri berdua ini
bisa saling memahami isi hati masing-masing, bahkan
saling mengemukakan kesalahan sendiri, hal mana
membuat hubungan batin mereka berdua terasa makin
rukun dan rapat. Kian Hui seng segera tertawa, mendadak dia
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Kali ini, kalian bisa lolos dari bahaya maut,
sesungguhnya kesemuanya ini berkat bantuan dari Cu
cengcu" "Apakah dia yang telah menolong kita?" tanya Siu ci.
"Benar! Dia harus membuang banyak tenaga dan pikiran
untuk berhasil menolong kalian" Siu ci segera mengangguk.
"Maka dari itu kau harus membalas budi kebaikan ini"
'Benar!" "Maka, kau harus mengaturkan suatu tempat yang lebih
aman buat kami, agar kaupun tak usah merasa kuatir lagi."
"Aaaai, kau sudah tahu semuanya?"
"Siu ci manggut-manggut.
"Yaa, karena aku sudah mendengar banyak sekali"
"Siu ci, kali ini merupakan terakhirnya bagiku terjun
kedalam dunia persilatan, selesai melaksanakan tugas ini,
aku akap mematahkan golokku, dan bersumpah tak akan
mencampuri urusan dunia persilatan lagi"
Siu ci tertawa hambar. "Hui seng, kau adalah seorang anggota dunia persilatan,
kau mempunyai serangkaian ilmu silat yang bagus, tidak
sepantasnya kalau kau menyembunyikan diri dan hidup
terpencil sampai tua, sebab bagaimanapun juga kau
mempunyai duniamu sendiri"
Kian Hui seng menghela napas sedih, dia seperti ingin
menjelaskan sesuatu lagi. Tapi dengan cepat Siu ci,
menukas lebih dulu: "Aku rasa persoalan ini pasti amat penting, waktu
berharga bagaikan emas, mengapa kau tidak segera
menghantar kami untuk meninggalkan tempat ini... ?"
Sembari berkata dia lantas melangkah menuju keluar
ruangan perahu... Kian Hui seng dan kedua orang putrinya segera
menyusul di belakangnya cepat-cepat.
Selama ini Cu Siau hong tidak menampakkan diri. Berada
dalam keadaan seperti ini dia merasa Kehadirannya adalah
sesuatu yang tak berguna.
Kian Hui song telah pergi berlalu dengan mengajak istri
dan kedua orang putrinya. Cu Siau hong tidak menghantar,
diapun tidak saling menyapa dengan Kian Hui-seng.
Walaupun dia telah menyelamatkan Kian hujin dan kedua
orang putrinya, tapi apa yang diperoleh dari Kian Hui seng
jauh lebih banyak lagi...
Ilmu goloknya yang luar biasa telah merangsang Cu Siau
hong untuk memperdalam ilmu pedang yang dipahaminya
dalam benak. Dia seperti sebuah batu asahan, sedang Cu Siau hong
sebagai sebilah pedangnya. Hanya batu asahan yang dapat
mempertajam mata pedang. Hanya saja Kian Hui seng sama sekali tidak mengetahui
akan hal ini. Namun Cu Siau hong mengerti seandainya dia berjumpa
Misteri Rumah Berdarah 7 Pendekar Rajawali Sakti 123 Misteri Hantu Berkabung Memanah Burung Rajawali 1
^