Pencarian

Pena Wasiat 6

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen Bagian 6


"Anak-anak sekalian, sekarang beristirahatlah dulu," kata
Pek Bwe kemudian sambil menghela napas, "besok kita
harus menghimpun segenap tenaga untuk menghadapi
musuh tangguh." Musibah yang menghadapi perguruan Bu-khek-bun
membuat Seng Tiong-gak sekalian orang-orang muda ini
menghilangkan semua rasa angkuhnya, setiap orang
berubah menjadi tenang dan waspada.
Semalam lewat tanpa terasa, keesokan harinya, tengah
hari belum sampai ketika Tan Tiang-kim dan Hay Yok-wong
telah tiba di sana. Kedatangan mereka berdua segera disambut oleh Pek
Bwe, Pek Hong, Tang Cuan, Seng Tiong-gak, dan Cu Siauhong
di dalam ruangan. Sambil tertawa terbahak-bahak Tan Tiang-kim segera
menyapa : "Saudara Pek, sudah belasan tahun lamanya kita tak
pernah saling bersua!"
"Tua bangka Pek, baik-baikkah kau selama belasan tahun
ini?" sambung Hay Yok-wong.
"Aaaai....... sudah puluhan tahun kita menjadi sahabat,
tak kusangka pada akhirnya aku Pek Bwe harus meminta
bantuan kalian berdua."
"Kami bukan datang membantumu, kami datang untuk
membalas budi," sahut Tan Tiang-kim dengan cepat, "Bukhek-
bun pernah menolong Kay-pang, maka hari ini kami
datang membayar hutang, oleh sebab itu saudara Pek pun
tak usah bersedih hati karena soal ini."
"Tidak, tidak sedih, kali ini Siaute menyambut dengan
senang hati, sekalipun kalian datang untuk membantu Bukhek-
bun, tapi ini sama halnya dengan membantu diriku."
"Sudahlah, sepanjang perjalanan aku masih
menguatirkan persoalan ini terus menerus, aku kuatir kau
bersedih hati karena peristiwa tersebut."
Sementara itu Pek Hong telah maju memberi hormat :
"Menjumpai Cianpwe berdua!"
"Kau adalah nona Hong?" tanya Tan Tiang-kim.
"Hey, pengemis tua," tegur Hay Yok-wong, mana
anaknya sudah hampir dua puluh tahun masa kau masih
menyebut nona kepadanya."
"Betul, betul, betul, hayo bangunlah nyonya Tiong."
Setelah memberi hormat Pek Hong pun bangkit berdiri.
Menyusul kemudian Tang Cuan, Seng Tiong-gak, dan Cu
Siau-hong juga memberi hormat.
"Harap semuanya bangun," ucap Hay Yok-wong,
"meskipun kami dua orang tua bangka sudah rada tua, tapi
ini yang paling kutakuti, Lo Pek, cepat kenalkan mereka
kepadaku, siapa dan apa kedudukan anak-anak muda
ini...." Pek Bwe segera memperkenalkan Tang Cuan sekalian
kepada mereka berdua. Ketika mengetahui kalau Tang Cuan adalah ciangbunjin
Bu-khek-bun yang baru, Tan Tiang-kim serta Hay Yok-wong
segera memberi hormat dengan wajah serius.
Setelah semua orang duduk di ruang tengah, Yu Lip baru
masuk untuk menjumpai kedua orang Tiang-lo tersebut.
Sambil ulapkan tangannya, Tan Tiang-kim berkata,
"Yu-toucu, coba katakan bagaimana keadaan kota Siangyang
saat ini" Apakah berhasil melacaki jejak sang
pembunuh?" Jawab Yu Lip dengan hormat.
"Menjawab pertanyaan Tan-tianglo, peristiwa ini adalah
suatu peristiwa misterius, untung saja dewasa ini berhasil
menemukan sedikit jejak yang agak terang."
"Kau yang menemukannya?"
"Bukan," sahut Yu Lip sambil menundukkan kepalanya,
"Cu-siauhiap yang menemukannya."
"Mundurlah dulu, kalau memang orang lain yang
menemukannya, kau masih begitu tak tahu malu untuk
mengatakannya?" Yu Lip memberi hormat dan segera mundur ke samping.
Sambil tertawa, kata Pek Bwe kemudian :
"Apa yang sesungguhnya telah terjadi, biar Siau-hong
saja yang menceritakannya kepada kalian, Siau-hong! Nah,
ulangilah kisah tersebut kepada kedua orang Cianpwe ini!"
Cu Siau-hong mengiakan dan segera mengisahkan
kembali cerita tersebut. Seusai mendengar kisah tersebut, berkatalah Hay Yokwong
: "Selama ini Ouyang Siong tak pernah bekerja sama
dengan orang, masa kali ini ia bisa merubah penyakit
lamanya?" "Keparat tua itu begitu berani muncul secara terangterangan,
aku lihat di balik kesemuanya ini tentu ada
sebab-sebab lainnya......" sambung Tan Tiang-kim.
"Hallah...... alasan apa lagi" Paling-paling dia anggap Jitpoh-
siu-hunnya kelewat hebat dan tiada tandingannya di
dunia, maka ia kira Yu Lip tak berani mengusiknya."
"Tapi paling tidak, dia toh harus teringat bahwa Pek-heng
juga ada di kota Siang-yang."
"Betul juga, kalau begitu tentu ada sebab-sebab lainnya
yang membuat ia tidak kuatir."
"Soal ini aku pun sudah memikirkannya sangat lama,"
kata Pek Bwe, "tapi aku selalu tak berhasil untuk
mengetahui sebab-sebab yang terutama. Aaai, Hong-ji telah
kehilangan suami dan anak sedang anggota Bu-khek-bun
pun terbakar oleh semangat membalas dendam yang tinggi,
sementara Lohu sedang kebingungan, sungguh kebetulan
sekali kalian berdua datang kemari, aku yakin persoalan
yang sulit ini pasti dapat teratasi."
Tiba-tiba Hay Yok-wong mengalihkan sinar matanya ke
wajah Cu Siau-hong, kemudian katanya :
"Orang-orang yang bisa berada bersama Jit-poh-siu-hun
Ouyang Siong sudah pasti bukan sembarangan manusia
biasa, berapa jumlah mereka semua....?"
"Siau-hong, katakan semua yang masih ingat!" ujar Pek
Bwe pula dengan cepat. "Salah seorang rekannya adalah seorang kakek berjubah
kasar yang bermuka kurus kering serta memelihara jenggot
kambing, ia sangat jarang berbicara."
"Manusia dengan wajah dan dandanan semacam ini tidak
terhitung sedikit dalam dunia persilatan, seingat Lohu pun
ada tiga, empat orang."
"Tapi yang bisa berkumpul dengan Ouyang Siong toh
tidak begitu banyak....?" kata Tan Tiang-kim.
"Betul!" sahut Hay Yok-wong seraya mengangguk,
"kemungkinan besar orang ini adalah Poh-san-kun (pukulan
sakti penghancur bukit) Lu Peng!"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Cu Siau-hong,
kemudian melanjutkan : "Masih ada siapa lagi" Coba katakanlah!"
"Seorang nyonya setengah umur yang berusia tiga puluh
tahunan serta seorang manusia berbaju biru yang berusia
dua puluh empat, lima tahunan......"
"Si nyonya setengah umur itu mungkin adalah kekasih
Ouyang Siong yang bernama Boan-ko-hui-hoa (semulut
penuh bunga beterbangan) Kiau Hui-nio, sedangkan orang
muda itu tidak begitu kuketahui."
"Hay-cianpwe, sulitkah untuk menghadapi beberapa
orang itu!" tanya Seng Tiong-gak."
"Yaa! Mereka semua adalah jago-jago lihay yang
kenaman dalam dunia persilatan, setiap orang mempunyai
syarat untuk menjadi tenar, mereka pun memiliki beberapa
jurus ilmu simpanan."
"Hay-cianpwe," ujar Cu Siau-hong pula, "julukan dari
Kiau Hui-nio kenapa begitu aneh" Kenapa ia dinamakan
Boan-ko-hui-hoa?" Hay Yok-wong tertawa, sahutnya :
"Suatu pertanyaan yang bagus, ilmu silat dari Kiau Huinio
terhitung cukup hebat, senjata rahasia Cu-hu-kim-cha
(tusuk konde emas) yang diandalkan juga hebat, tapi yang
terhebat adalah selembar mulutnya itu, ia bisa mengatakan
sesuatu yang buruk menjadi baik, orang mati bisa menjadi
hidup, emas palsu bisa menjadi emas tulen, pokoknya
kehebatan silat lidahnya tiada tandingan di kolong langit,
dia merupakan pembatu terbaik dari Ouyang Siong, Ouyang
Siong sendiri pun amat menyukainya, tapi ia tak pernah
mau untuk kawin secara resmi, karena alasan itulah yang
menjadi pangkal persoalannya."
"Masa gabungan dari beberapa orang ini sudah sanggup
untuk membentuk suatu organisasi?" kata Pek Bwe tidak
percaya. "Betul ilmu silat yang dimiliki Ouyang Siong sangat lihay,
tapi ia masih belum memiliki bakat untuk memimpin dunia
persilatan," sahut Hay Yok-wong.
"Bila kita bersua malam nanti, apa salahnya kalau kita
tanyakan secara langsung kepada mereka?" sambung Tan
Tiang-kim. "Atau biar Boanpwe pergi seorang diri saja," usul Cu
Siau-hong, "kita lihat dulu apa yang hendak mereka
lakukan terhadap pihak Kay-pang."
"Jangan Siau-hong," teriak Pek Bwe, "kalau hendak pergi
kita musti pergi bersama, kali ini kau tak boleh pergi
sendirian lagi." "Kenapa?" "Sebab secara tiba-tiba aku teringat akan satu hal, besar
kemungkinan manusia bercadar berbaju hitam yang
kujumpai itu adalah Ji-suhengmu Long Ing, sekarang
keadaan sudah semakin jelas, sudah terbukti kalau mereka
berasal dari satu komplotan, orang lain mungkin tidak
kenali dirimu, tapi Ji-suhengmu pasti akan mengenali kau
dalam sekilas pandangan saja."
"Ketika Boanpwe berjumpa dengan Ouyang Siong tempo
hari, wajahku telah mengalami perubahan karena
menyamar, aku percaya sekalipun Ji-suheng hadir di sana
juga tak akan mengenali diriku."
"Siau-hong, jangan terlalu menilai rendah Ouyang Siong,
lebih-lebih kau tak boleh menilai rendah Long Ing, mereka
adalah manusia-manusia yang berotak cerdas, sekalipun
wajahmu telah berubah, toh suara pun tak bisa dirubah?"
"Locianpwe, Boanpwe merasa inilah suatu kesempatan
yang sangat baik untuk kita kalau tidak berhasil
mendapatkan sesuatu berita, sesungguhnya teramat
sayang." "Apakah kau mempunyai janji dengan mereka?" tiba-tiba
Tan Tiang-kim menyela. "Dengan jelasnya Cu Siau-hong menceritakan kembali
kejadian yang sebenarnya.
Mendengar itu, Tan Tiang-kim berkata,
"Kalau didengar dari nada suaranya, sepertinya ia tidak
bermaksud jahat apa-apa, bocah, meskipun wajahmu telah
dirubah, tak akan menutupi kegagahan yang lamat-lamat
masih memancar dari tubuhmu, sepasang mata Ouyang
Siong belum buta, dia pasti dapat mengetahui akan hal ini."
"Jadi saudara Tan setuju kalau ia menyerempet bahaya
terlebih dulu?" ujar Pek Bwe.
"Aku tak keberatan atas persoalan ini, tapi tidak bisa
dikatakan pula setuju seratus persen!"
"Seperti apa yang Pek-heng katakan," ujar Hay Yokwong
pula, "mereka memiliki ketajaman pendengaran yang
luar biasa, mungkin kehadiran kami di sini pun telah
diketahui mereka." "Kalau betul begitu, ini lebih baik lagi, itu berarti kita
telah memberi kesempatan buat Cu Siau-hong untuk
meloloskan diri." Cu Siau-hong lantas berpaling ke arah Tang Cuan seraya
menjura, katanya, "Harap Ciangbun-suheng bersedia mengijinkan diriku."
"Soal ini....... soal ini......... aku lihat lebih baik
diputuskan oleh Subo saja."
"Aku tidak setuju!" dengan cepat Pek Hong berseru,
"Siau-hong, sebelum meninggal, Ling-kang telah
menyerahkan banyak tanggung jawab kepadamu, sedang
kau pun terhitung orang paling bebas dalam Bu-khek-bun
kita, tapi dendam sakit hati Bu-khek-bun adalah tanggung
jawab dari kita semua untuk menuntutnya bersama, Nak,
aku tak bisa membiarkan kau pergi sendirian."
"Subo, persoalan ini bukan masalah siapa yang harus
menempuh bahaya, dan lagi aku telah mempunyai
kesempatan baik, mereka sudah menganggap diriku
sebagai Lim Giok anggota Kay-pang......."
"Lim Giok?" sela Yu Lip, "dalam kantor cabang Siangyang
tidak terdapat seorang yang bernama Lim Giok."
"Yu-toucu, kalau begitu, kau musti mencari seorang Lim
Giok!" "Oooh......" seraya tertawa Yu Lip segera berkata, "Betul!
Betul! Memang ada seorang yang bernama Lim Giok."
"Yu-toucu," ujar Tan Tiang-kim, "untuk menghadapi
musuh, kita musti menggunakan siasat, aturkan suatu asalusul
yang bagus untuk Lim Giok.
"Hamba pasti akan mengatur hal tersebut dengan
sebaik-baiknya." "Tan-tianglo," kata Pek Hong tiba-tiba, "agaknya kau pun
setuju kalau Siau-hong pergi sendirian?"
"Sudah setengah abad lamanya aku si pengemis tua
melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, meskipun tak
berani menyombongkan diri, tapi di dalam persoalan ini
pandangan justru berbeda dengan Hujin."
"Katakanlah Cianpwe!"
"Aku si pengemis tua merasa bahwa Cu-siaute bukan
cuma cerdas saja, bahkan dia adalah seorang manusia yang
hebat. Jika Ouyang Siong sampai tertarik kepadanya,
kemungkinan besar hal tersebut muncul dari dasar hati
yang sesungguhnya." "Tan-cianpwe, pengalaman Ouyang Siong dalam dunia
persilatan amat luas sekali, sedangkan Siau-hong cuma
anak kemarin sore, masa dia bisa menangkan dirinya?"
Tan Tiang-kim tersenyum, "Kalau berbicara soal pengalaman, sudah barang tentu ia


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tak akan mampu menangkan Ouyang Siong, tapi di antara
mereka tak akan terjadi pertarungan, tapi Cu Siau-hong
sedang melakukan suatu sandiwara yang sangat rapat, ini
membuat Ouyang Siong sampai terpikat kepadanya. Aaai!
Tiong-hujin dalam sepuluh tahun belakangan ini bukan saja
kekuatan Kay-pang telah peroleh tambahan yang besar,
nama baiknya juga semakin membumbung ke langit, dalam
keadaan demikian andaikata benar-benar terdapat suatu
organisasi gelap yang ingin melakukan sesuatu di dalam
dunia persilatan, maka pertama-tama orang itu harus
berusaha untuk menanamkan mata-matanya dalam tubuh
Kay-pang." "Tapi aku kuatir Ouyang Siong telah mengetahui
rahasianya dan menggunakan siasat untuk melawan siasat,"
sela Pek Hong. "Setelah kudengar keterangan dari muridmu ini,
kurasakan rencana tersebut betul-betul sangat rapat,
kehebatannya sungguh membuat aku si pengemis tua
merasa kagum sekali."
"Betul, cara yang digunakan muridmu itu dinamakan
dalam kantong berisi siasat," sambung Hay Yok-wong,
"sekilas pandangan tidak menemukan sesuatu yang hebat,
tapi dibalik kesederhanaan inilah terdapat sesuatu
kehebatan yang luar biasa."
"Yang paling kita kuatirkan adalah bocornya berita
tersebut dari sini...." Pek Bwe mengemukakan rasa
kuatirnya. "Perkumpulan Kay-pang terlalu besar jumlah orangnya
juga terlalu banyak, dalam hal ini aku si pengemis tua tak
berani menjamin." "Apakah dalam kantor cabang ada pengkhianat atau
tidak, Tecu juga tak berani menjamin, "ucap Yu Lip pula,
tapi semua orang yang ditugaskan di sini, Tecu jamin
semuanya adalah baik."
"Kau berani menjamin?" tanya Tan Tiang-kim.
"Kalau sampai terjadi apa-apa, Tecu bersedia dihukum
menurut peraturan perkumpulan," dengan wajah serius Yu
Lip memberikan jaminan. "Hong-ji, kabulkan permintaannya!" seru Pek Bwe
kemudian, "terus terang saja, Siau-hong telah menjumpai
banyak penemuan di luar dugaan, keberhasilannya dalam
ilmu silat sangat luar biasa, bagaimanapun toh cuma waktu
sekejap, sekalipun terjadi perubahan, Siau-hong pasti
sanggup mengatasinya."
"Apabila Cu-siaute memang sanggup untuk mengatasi
kecurigaan lawan, aku si pengemis tua bersedia juga untuk
mengulur waktu agar lebih memahami duduk persoalan
yang sebenarnya." "Terlepas dari Ouyang Siong pribadi, ilmu Jit-ciu-siu-hunhoat
yang dimiliki terhitung pula sebagai suatu kepandaian
dahsyat dalam dunia persilatan," Hay Yok-wong
menambahkan. "Subo!" Cu Siau-hong lantas berkata, "Tecu yakin
Ouyang Siong bukan pentolannya, bisa bergaul selama
beberapa hari dengan mereka, berarti terbentang suatu
kesempatan buat Tecu untuk mendalami keadaan mereka,
soal ilmu Siu-hun-jiu-hoat, Tecu pikir masih bukan
merupakan suatu ancaman serius."
"Aku kuatir kalau kau sampai bertemu dengan Long Ing!"
kata Pek Bwe memperlihatkan kekuatirannya.
"Selama berada dalam perguruan, hubungan Tecu
dengan Ji-suheng tidak begitu rapat, asal aku mau berhatihati
semua rintangan pasti dapat kuatasi."
"Cu-siaute!" kata Hay Yok-wong kemudian, aku si
pengemis tua mempunyai suatu pendapat, yaitu ilmu yang
banyak tak akan memberatkan badan, apabila Ouyang
Siong tidak mewariskan Siu-hun-jiu-hoat tersebut
kepadamu, dia tak akan memiliki kepandaian lain yang bisa
diwariskan kepada orang lain."
"Apabila ia sungguh-sungguh mewariskan kepandaian
tersebut, sudah barang tentu Boanpwe akan menerimanya
dengan senang hati."
"Segala sesuatunya musti dilalui secara wajar, jangan
memohon, lebih-lebih jangan menampik," Tan Tiang-kim
menambahkan. Cu Siau-hong segera menjura.
"Boanpwe mengucapkan terima kasih atas semua
petunjuk itu!" katanya.
"Nah, Tiong-hujin! Kau boleh berlega hati sekarang,
setelah mengadakan pembicaraan dengannya barusan, aku
si pengemis tua baru merasa bahwa kecerdasan otaknya
memang hebat, ia pandai mengatasi keadaan, tak heran
kalau dia pandai pula menyelami perasaan orang, cukup.
Kalau ia bersedia masuk Kay-pang, aku si pengemis tua
pasti akan menerimanya."
"Aaai......! apabila kalian semua telah berkata demikian,
aku pun tak akan berkeras kepala lagi," bisik Pek Hong
sedih, "Siau-hong kau harus berhati-hati."
"Terima kasih banyak atas perhatian Subo!"
"Nah, Siau-hong, setelah berjumpa dengan Ouyang
Siong nanti, apa yang hendak kau bicarakan?" tanya Tan
Tiang-kim lagi. "Boanpwe masih mempunyai kesulitan di dalam soal ini,
entah apa yang harus kubicarakan nanti?"
Tan Tiang-kim tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh........ haaahh.......... haaahh............ kau musti
berbicara terus terang, kedatangan Lohu dan Hay-heng
pasti telah berada di bawah pengawasan mereka, kau
sebagai anggota Kay-pang masa tidak tahu?"
"Jabatan Tecu sangat rendah, sekalipun mengetahui
akan kehadiran Tiang-lo berdua, sayang duduknya
persoalan tidak jelas."
"Bagus, sekali tepuk tiga lalat, dari irama lagu bisa
diselami perasaan orang. Nah, beri tahu kepada aku si
pengemis, selanjutnya apa yang hendak kau lakukan?"
"Boanpwe pikir, sehabis memberi laporan kepada mereka
kalau bisa meninggalkan tempat itu."
Tan Tiang-kim kembali manggut-manggut.
"Andaikata ia betul-betul hendak memupuk kau jelas
mereka akan membiarkan kau pergi untuk menjanjikan
suatu pertemuan di lain saat."
"Boanpwe bisa melakukan tindakan sesuai dengan
keadaan nanti." "Kami akan segera menyusul ke situ!" Tan Tiang-kim
manggut-manggut. "Boanpwe mengerti!"
"Nah, pergilah sekarang!"
Cu Siau-hong segera memberi hormat dan
mengundurkan diri dari tempat itu.
Tan Tiang-kim berpaling dan memandang sekejap ke
arah Pek Bwe, lalu bisiknya :
"Pek-heng, kita pun harus beristirahat, malam nanti kita
jumpai Ouyang Siong!"
"Lo Tan!" sela Hay Yok-wong, "untuk bertemu mah
gampang, tapi kalau sampai terjadi pertarungan, mungkin
kita musti mengerahkan segenap kekuatan yang kita miliki,
kalau sampai demikian maka akan sulit buat kita untuk
mengendalikan keadaan."
"Lo Hay, kalau Ouyang Siong betul-betul adalah pentolan
dari organisasi rahasia ini, kita boleh kerja sama untuk
membekuknya serta sekalian membalaskan dendam bagi
Tiong-ciangbunjin serta perguruan Bu-khek-bun, tapi aku
percaya dia bukan pemimpin dari organisasi rahasia ini."
"maksud Tan-heng, kalau Ouyang Siong bukan pentolan
dari organisasi rahasia tersebut kita harus melepaskannya?"
tanya Pek Bwe. Tan Tiang-kim termenung sesaat, kemudian jawabnya
sambil tertawa, "Saudara Pek, mungkin saja kita sanggup untuk
menghadapi ke tujuh jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat dari
Ouyang Siong, tapi bila ingin menahannya, aku pikir bukan
suatu pekerjaan yang gampang, lagi pula ada Poh-san-kun
(si kepala sakti penjebol bukit) Lu Peng, Boan-ko-hui-hoa
(semulut penuh bunga beterbangan) Kiau Hui-nio serta
pemuda berbaju biru, walaupun kita masih belum tahu
namanya, tapi kalau dipikir kembali jelas bukan manusia
yang gampang dihadapi, berbicara secara jujur meski kita
tiga orang kalau hilang satu maka kita pasti akan
kewalahan untuk menghadapi mereka semua."
-------------------------
Setelah menyaru wajahnya, Cu Siau-hong tidak kembali
ke halaman dalam, sebaliknya secara diam-diam
menyelinap ke depan pintu gerbang sambil diam-diam
melihat keadaan. Tempat itu merupakan daerah elit dalam kota Siangyang,
jalanan yang terbentang di muka rumah sangat sepi
dan jarang dilewati orang.
Biasanya, jika keadaan sesepi ini dan tidak menjumpai
hal-hal yang mencurigakan, orang lantas mengira kalau di
sana pasti aman. Tidak demikian dengan Cu Siau-hong, ia merasa yakin
dan percaya penuh atas dugaan dalam hatinya.
Semisalnya gagal untuk menemukan sesuatu yang
mencurigakan, itu berarti terdapat suatu akibat yang lebih
mengerikan, yakni di antara murid-murid Kay-pang yang
berada di sini ada salah seorang di antaranya yang
merupakan pengkhianat. Setelah melakukan pemeriksaan yang seksama sekian
waktu, akhirnya Cu Siau-hong berhasil menemukan sesuatu
yang mencurigakan. Tempat itu berupa sebuah toko kelonjongan yang
terletak di ujung lorong tersebut, sebuah toko yang selalu
berada dalam keadaan terbuka.
Cu Siau-hong tak berani menghampiri terlalu cepat, tapi
ia dapat melihat orang itu dengan sangat jelas, seorang
kakek yang sudah amat tua sekali.
Ia duduk di belakang meja kasir dalam toko tersebut,
dari situ ia dapat mengikuti semua perkembangan dalam
lorong dengan sangat jelas.
Apalagi, terhadap gedung besar dari pihak Kay-pang,
boleh dibilang segala sesuatunya dapat terlihat dengan jelas
sekali. Diam-diam Cu Siau-hong menghembuskan napas lega,
dia masuk kembali ke dalam dan memberitahukan hal itu
kepada Yu Lip. Tapi ia menganjurkan kepada Yu Lip agar jangan
melakukan suatu gerakan terlebih dahulu, sebab hal yang
dapat dipergunakan musuh, dapat pula dimanfaatkan oleh
pihak sendiri. Tentu saja persoalan ini serta perkembangannya dengan
cepat akan berakhir, waktu itu sudah barang tentu harus
dibuktikan asal-usul dan identitas si kakek yang
sebenarnya. Selesai mengurusi persoalan itu, Cu Siau-hong duduk
bersila untuk mengatur pernapasan, ketika malam sudah
tiba ia baru diam-diam ngeloyor keluar lewat pintu
belakang. Tiba di gedung yang telah dijanjikan, dia mendorong
pintu dan masuk ke dalam.
Suasana dalam ruang tengah gelap gulita, di tengah
ruangan yang begini luasnya tak kelihatan sesosok
bayangan manusia pun. Cu Siau-hong menarik napas dalam-dalam, selangkah
demi selangkah dia masuk ke ruangan dalam.
Baru melangkah masuk ke dalam pintu ruangan, suara
Ouyang Siong segera berkumandang datang :
"Lim Giok, besar amat nyalimu!"
"Boanpwe ada urusan penting yang hendak dilaporkan,
aku percaya Locianpwe tetap akan memegang janji."
"Kau masih berani datang kemari?"
"Sebenarnya aku tak berani kemari......."
"Lantas kenapa kau datang juga?"
"Sebab ada suatu persoalan yang hendak kulaporkan!"
"Katakan!" "Dua orang Tiang-lo dari perkumpulan kami yang amat
tersohor namanya telah sampai di kota Siang-yang."
"Kau tahu siapa nama mereka?"
"Tahu, yang seorang bernama Tan Tiang-kim dengan
julukan Cian-li-to-heng (seribu li berjalan sendiri)
sedangkan yang lain bernama Hay Yok-wong dengan
julukan Thi-ciang-kay-pit (telapak tangan baja pembelah
batu nisan)!" "Bagus! Bagus! Kau tahu ada maksud apa mereka
datang kemari?" "Begitu tiba, mereka lantas masuk ke halaman kedua
dan berkumpul dengan orang-orang Bu-khek-bun."
"Bukankah orang-orang Bu-khek-bun sudah keracunan
semua?" "Benar!" "Bagaimana keadaannya?"
"Tampaknya sudah mulai membaik, sayang aku
ditugaskan di halaman paling muka sehingga tidak banyak
yang kuketahui tentang kejadian yang berlangsung dalam
halaman kedua." "Tak seorang pun yang mati akibat keracunan?"
"Sampai aku datang kemari, belum kudengar berita
tentang kematian mereka."
Ouyang Siong termenung beberapa saat lamanya, lalu
berkata lagi. "Jangan-jangan di balik kesemuanya itu masih ada suatu
siasat licik yang dimaksudkan hendak mengelabui diriku?"
"Soal ini, aku si pengemis kecil kurang begitu jelas."
"Lim Giok, apakah kau hendak tinggal di sini?" tanya
Ouyang Siong kemudian. "Tidak bisa, berhubung dengan kehadiran kedua orang
Tiang-lo itu, kedudukanku sudah mengalami perubahan,
sekarang juga Cayhe harus pergi melaksanakan
tugas........." "Apa tugasmu sekarang?"
"Diperintahkan untuk mendampingi kedua orang Tiang-lo


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu dan melaksanakan perintahnya, menurut apa yang aku
si pengemis kecil ketahui, agaknya kedua orang Tiang-lo itu
seperti hendak melakukan suatu aksi."
"Menurut pendapatmu, mungkinkah mereka akan
mencari kemari?" "Kemungkinan besar."
"Bagus sekali. Tak kusangka kau bisa menunjukkan
kesungguhan hati yang jauh di luar dugaan."
"Aku si pengemis kecil merasa amat kecewa!"
"Bila dibicarakan, sesungguhnya Lohu sendiri pun merasa
agak heran, tampaknya kau merupakan seorang yang
mendapat perhatian khusus di dalam kantor cabang Siangyang,
kenapa kau bersedia untuk mengkhianati Kay-pang?"
"Aku si pengemis kecil pun sedang tidak tenang lantaran
persoalan ini, pahala dan kedudukan memang terlalu
menarik hati, aku ingin sekali bisa tersohor dan menonjol di
kemudian hari, sayang aku tak lebih cuma seorang anak
buah dari sebuah kantor cabang, sekalipun berjuang matimatian
selama delapan sepuluh tahun, paling-paling jua
menjadi seorang Toucu belaka, aaai......! Kalau begitu terus
keadaannya yaa apa boleh buat lagi?"
"Keadaan yang bagaimana baru terhitung memenuhi
harapanmu?" tanya Ouyang Siong lagi.
"Aku si pengemis kecil percaya kalau dalam soal ilmu
silat aku masih memiliki sedikit bakat baik, tapi guruku
ketua cabang Siang-yang yang berhasil mencapai tingkatan
yang hebat pun tak lebih cuma menjadi seorang Toucu
belaka, kalau aku bisa terpilih masuk ke cabang pusat dan
mengikuti beberapa Tiang-lo atau Pangcu untuk belajar
silat, aku si pengemis kecil percaya dalam sepuluh tahun
mendatang, kedudukanku pasti akan meningkat, diriku juga
bisa menjadi seorang jagoan kelas satu, sekalipun tak bisa
menjadi seorang Pangcu paling tidak masih mampu untuk
menduduki jabatan Tiang-lo atau Hu-hoat, itulah cita-citaku
selama ini." "Jadi kau merasa dirimu ibarat sebutir mutiara yang
berada dalam lumpur, kalau tidak digosok terlalu sayang
dengan bakat terpendam itu?"
"Yaa, di sinilah letak penderitaan dan ketidaktenangan
aku si pengemis kecil."
"Aku tahu, kau boleh pulang dulu! Jika tempat ini
mengalami perubahan, tiga hari kemudian kau boleh
bertemu dengan aku di toko kain Liong-siang-pu-ceng di
utara kota Siang-yang. "Kalau sampai saatnya aku si pengemis kecil tak bisa
hadir, itu menandakan kalau persoalan sudah mengalami
perubahan, sehingga aku tak bisa memenuhi harapanmu
lagi." Selesai berkata, dia membalikkan badan dan melompat
pergi dari situ. Sebelum pergi, ia sengaja memperlihatkan ilmu
meringankan tubuhnya, meski tidak terlampau hebat, tapi
menunjukkan suatu daya kekuatan yang sangat kuat.
Untuk melaksanakan sandiwara ini, Cu Siau-hong harus
mengorbankan tenaga yang tak sedikit jumlahnya, pedang
mestika yang ada dalam kotak memang tak boleh
diperlihatkan ketajamannya, untuk berbuat yang tepat,
sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang terlampau
gampang. Tapi Cu Siau-hong telah melakukannya, bahkan bisa
melakukannya secara tepat sekali.
Dari balik kegelapan, tiba-tiba berkumandang suara
seorang perempuan yang bertanya :
"Bagaimana menurut pendapatmu tentang si pengemis
kecil itu?" "Bakat yang bagus, sayang belum ditemukan oleh para
Tiang-lo dan orang-orang tingkat atas dari Kay-pang, asal
kita mau memupuknya secara bersungguh-sungguh, dalam
dua puluh tahun mendatang, mungkin ia benar-benar bisa
kita bimbing untuk menduduki jabatan sebagai ketua Kaypang,
satu-satunya hal yang perlu kita risaukan adalah
kecerdasan otaknya, sekarang dia mau berpihak pada kita
lantaran tak puas dengan jabatannya, tapi bila berhasil
menduduki kedudukan yang tinggi di kemudian hari, entah
ia akan setia lagi kepada Kay-pang atau tidak?"
"Aku dapat melihat bahwa lompatannya tadi penuh
tenaga, sayang sekali di waktu melayang turun ke tanah
tadi, kakinya agak sempoyongan seakan-akan hampir saja
tak mampu berdiri tegak, aku lihat orang yang mewariskan
ilmu meringankan tubuh kepadanya telah mengajarkan
suatu kepandaian yang keliru."
"Untuk menjadi seorang jago lihay, selain bakat yang
harus bagus, bimbingan guru pandai juga tak boleh
ketinggalan, dengan kepandaian yang dimiliki Yu Lip,
bagaimana mungkin bisa mendidik seorang murid yang
baik" Sungguh sayang, suatu bakat bagus harus terpendam
dalam lumpur......" "Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu tadi, rupanya
kau merasa sayang kepadanya, apakah kau telah
mengambil keputusan untuk menerimanya menjadi
muridmu?" "Sekarang masih sukar untuk mengambil keputusan! Biar
aku pikirkan dulu sebelum dibicarakan lagi."
Setelah hening sejenak, perempuan itu mengalihkan
pokok pembicaraan ke soal lain, katanya lagi :
"Kalau kudengar dari ucapan Lim Giok tadi, tampaknya
malam ini Tan Tiang-kim dan Hay Yok-wong hendak
mengunjungi tempat ini, kau bersiap-siap hendak
menyambutnya dengan cara apa?"
"Kay-pang tersohor karena matanya dan
pendengarannya yang tajam, apalagi Tan Tiang-kim
merupakan seorang manusia yang amat licik bagaikan rase,
di antara empat Tiang-lo Kay-pang, terhitung tua bangka ini
yang paling susah dihadapi, betul tempat persembunyian
kita bisa mengelabui Yu Lip, tapi sulit untuk mengelabui Tan
Tiang-kim......." "Pek Bwe si tua bangka itu juga bukan manusia baikbaik,"
sela perempuan itu pula, "terlalu banyak permainan
busuk orang ini, sementara waktu mungkin kita bisa
mengelabui mereka, tapi kalau diberi sedikit lagi, jejak kita
tentu akan berhasil dilacaki."
"Itulah sebabnya tak heran kalau tempat persembunyian
kita diketahui mereka, sekarang yang menjadi masalah
bagiku adalah menghadapi kedatangan mereka" Atau lebih
baik kabur saja, sehingga membiarkan suatu perasaan yang
membingungkan mereka."
"Apa untung dan ruginya bila kita menemui mereka serta
tidak menemui mereka?"
"Sampai saat ini terlalu banyak permainan yang kita
lakukan, jejak kita pun sudah banyak yang ketahuan
mereka, ditambah lagi turut campurnya Kay-pang dalam
persoalan ini terlalu cepat dan dalam sehingga jauh di luar
dugaan kita semua, kalau dibicarakan sebetulnya kita sudah
kehilangan suatu kesempatan yang sangat baik untuk
membasmi perguruan Bu-khek-bun, kita hanya tahu beradu
akal, lupa beradu kekuatan. Sejenak Tiong Ling-kang mati,
kekuatan dari Bu-khek-bun tinggal tiga lima orang saja,
sekalipun ditambah Pek Bwe dan jago-jago kantor cabang
Siang-yang, masih belum terhitung terlalu kuat, waktu itu
asal kita turun tangan sepenuh tenaga, mungkin Pek Hong
sudah kita bekuk, itulah salahnya kalau kita memilih beradu
kecerdasan, akibatnya urusan menjadi kacau balau tak
karuan." "Pokoknya usul itu bukan datang dariku, aku cuma
menuruti perkataan dari Hee-ho-sian, jadi kalau sampai ada
kesalahan besok, jangan salahkan aku," seru perempuan itu
cepat-cepat. Ouyang Siong segera mendengus dingin, katanya :
"Sekarang keadaan sudah menjadi begini, Hee-ho-sian
juga sudah cuci tangan dan angkat kaki, yang tersisa hanya
memberikan abu hangat buat kita semua."
"Kita toh tidak musti harus menerima abu hangat
tersebut, kita juga bisa angkat kaki meninggalkan tempat
ini." "Setelah pihak Kay-pang mengetahui tempat
persembunyian kita, kau anggap kita masih bisa
mengundurkan diri dengan lancar?"
"Memangnya mereka masih bisa menghalangi kita?"
"Dapatkah menghalangi kita bukan masalah yang
penting, yang menjadi persoalan sekarang adalah dari
posisi di balik kegelapan sekarang kita sudah berada di
tempat terang, orang persilatan bisa menuduh aku Ouyang
Siong kabur lantaran takut dengan Tan Tiang-kim. Wah......
kalau masalahnya sudah menyangkut soal nama dan
gengsi, aku tak bisa pergi dengan begitu saja."
"Betul!" tiba-tiba suara lain yang tinggi lengking
berkumandang memecahkan keheningan, "jika kita harus
angkat kaki dengan begini saja, maka kedua orang
pengemis tua itu pasti akan menguar-uarkan kata-kata
yang tak sedap, siapa nama baik aku Lu Peng juga akan
turut tercemar." "Maksud saudara Lu, apakah kita harus menghadapi
mereka dengan kekerasan?"
"Jangan toh ketujuh jurus Siu-hun-jiu-hoat dari saudara
Ouyang, sekalipun kedua belas jurus ilmu pukulan
penghancur bukitku juga belum tentu bakal kalah di tangan
ke dua orang pengemis tua itu."
"Tapi saudara Lu jangan lupa, masih ada seorang Pek
Bwe, kungfu dari tua bangka itu tidak berada di bawah
kepandaian silat kedua orang pengemis tua itu."
"Ouyang-cianpwe, ilmu kipas Siau-lo-san-hoat milik
Cayhe apakah sanggup untuk menandingi Pek Bwe?" tibatiba
suara nyaring lain menggema di ruangan.
Ouyang Siong segera tertawa lebar,
"Ilmu kipas Siau-lo-san-hoat dari Ti-sau-heng boleh
dianggap sebagai suatu ilmu yang hebat dalam dunia
persilatan, tentu saja cukup mampu untuk menandingi Pek
Bwe." "Kalau memang begitu, rasanya kita juga tak usah
segera mengundurkan diri dari sini," kata Lu Peng.
"Baiklah! Kita siap sedia untuk berturun tangan melawan
mereka, agar mereka juga mengetahui akan kelihaian kita
orang." "Jika dalam pertarungan ini kita berhasil memaksa
orang-orang Kay-pang untuk mengundurkan diri dari
pertikaian ini, maka hasil yang kita raih akan menjadi luar
biasa sekali," sambung Lu Peng.
"Sstt....! Ada orang datang, harap kalian berhati-hati!"
mendadak Ouyang Siong berbisik lirih.
Bersama dengan selesainya bisikan itu, tiga sosok
bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit suara pun
sudah melayang masuk ke ruang tengah.
Mereka tak lain adalah Cian-li-to-heng Tan Tiang-kim,
Thi-ciang-kay-pit Hay Yok-wong, serta Pek Bwe.
Begitu melayang turun ke tanah, Pek Bwe segera
berteriak dengan suara lantang :
"Ouyang Siong kau harus menampakkan diri, apakah
harus menunggu sampai kami masuk ke dalam ruangan dan
menyeret kalian keluar dari tempat itu?"
------------------------------
10 Gelak tertawa nyaring menggelegar memenuhi seluruh
ruangan, seorang menjawab :
"Pek Bwe, sesungguhnya dalam keadaan dan situasi
semacam ini Siaute enggan berjumpa denganmu, tapi
setelah kau menantang secara terang-terangan, terpaksa
Siaute harus menyongsong juga kedatanganmu itu....."
Selesai berkata, dari balik ruangan yang gelap, pelanpelan
muncul empat sosok bayangan manusia.
Orang yang berjalan paling muka adalah Ouyang Siong.
Tan Tiang-kim memperhatikan sekejap ke empat orang
itu, kemudian menggumam :
"Ehmm, rupanya memang kalian......"
Ouyang Siong segera mendengus dingin.
"Hmm! Pengemis tua, kau kenal semua dengan mereka?"
jengeknya. "Yang ini pastilah Poh-san-kun Lu Peng yang tersohor
namanya dalam dunia persilatan."
"Yaa, memang aku orang she Lu!" Lu Peng manggutmanggut
sambil mengelus jenggot kambingnya.
Tan Tiang-kim kini mengalihkan sorot matanya ke wajah
nyonya setengah umur itu, kemudian lanjutnya :
"Jika dugaanku tidak salah, yang ini pasti adalah Boanko-
hui-hoa Kiau Hui-nio."
"Betul, betul, sungguh tak nyana para Tiang-lo dari Kaypang
juga ada yang kenal dengan aku," seru Kiau Hui-nio
segera. Pek Bwe mendehem pelan, kemudian ujarnya :
"Saudara Ouyang, setelah kau berani menampakkan diri
secara terang-terangan, rasanya kau pun berani mengakui
kenyataan secara berterus terang juga bukan?"
"Asal perbuatan yang Siaute lakukan tak akan Siaute
pungkiri, cuma sebelum saudara Pek bertanya ke soal yang
lain, terlebih dulu akan Siaute perkenalkan seorang teman
kepadamu." "Kau maksudkan si bocah muda ini?" kata Pek Bwe
sambil mengerling sekejap ke arah manusia berbaju biru
itu. "Orang bilang, setiap generasi tentu akan muncul orang
berbakat, ombak belakang sungai Tiangkong mendorong
ombak di depannya, saudara Pek, kau jangan pandang
enteng saudara Ti ini."
Manusia berbaju biru itu tidak besar usianya, tapi
memiliki penampilan yang cukup mantap dan mengerikan,
katanya sambil tertawa lebar.
"Cayhe, Ti Thian-hua!"
"Ti Thian-hua, manusia macam apakah dirimu itu" Belum
pernah aku si pengemis tua mendengar nama orang ini,
jengek Tan Tiang-kim dengan nada sinis.
"Ti Thian-hua adalah seorang manusia, yaitu aku


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sendiri," jawabnya, "aku orang she Ti juga sama saja tak
pernah mendengar nama kalian semua."
Setelah kedua belah pihak saling berhadapan, maka di
satu pihak terdiri dari Pek Bwe, Tan Tiang-kim, dan Hay
Yok-wong tiga orang. Sebaliknya di pihak lain terdiri dari Ouyang Siong, Kiau
Hui-nio, Lu Peng, serta Ti Thian-hua empat orang.
Setajam sembilu Tan Tiang-kim memperhatikan wajah Ti
Thian-hua, ia tidak berbicara lagi.
Pengetahuannya cukup luas dan pengalamannya sangat
matang, setelah meneliti dengan seksama ia menjumpai
bahwa orang muda itu luar biasa sekali, bukan cuma
matanya tajam dan bersinar terang, keningnya juga
menonjol keluar, terang dia adalah seorang jago lihay yang
sempurna dalam lwekang (tenaga dalam) maupun gwakang
(tenaga luar). Pek Bwe mendehem pelan, lalu katanya :
"Saudara Ouyang, Siaute membawa suatu kabar yang
kurang menyenangkan bagimu untuk disampaikan kepada
kalian semua." "Tak usah sungkan-sungkan, belum pernah kami
pandang enteng saudara Pek, jika ada persoalan katakan
saja secara terus terang."
"Aku lihat obat kalian kurang begitu mujarab......."
jengek Pek Bwe sinis. "Oya, lantas kenapa?"
"Bukan saja racun yang mengeram di tubuh Lohu sudah
hilang, racun yang mengeram di tubuh orang-orang Bukhek-
bun juga telah punah sama sekali."
Ouyang Siong termenung dan berpikir sejenak, lalu
katanya sambil tertawa. "Saudara Pek, aku rasa kau tak usah berlagak pilon lagi,
berbicara dari watakmu, tak nanti kau benar-benar akan
meracuni orang-orang Bu-khek-bun, sedang soal kau
sendiri yang katanya keracunan, benar atau tidaknya juga
sulit diketahui, cuma mau tak mau harus kuakui bahwa
kepandaianmu untuk berpura-pura memang sangat hebat,
sehingga tabib-tabib kenamaan yang ada di kota Siangyang
pun sampai kalian undang semua."
Pek Bwe tidak memberi penjelasan lebih jauh, sambil
tersenyum dia berkata : "Kalau begitu, saudara Ouyang juga turut serta di dalam
peristiwa ini?" "Seandainya aku menyangkal sekarang, dapatkah
saudara Pek untuk mempercayainya?"
"Hebat, hebat, tampaknya Ouyang-heng memang pandai
sekali menutup mulut............!"
"Oooh, kita mah sama-sama!"
"Sekarang kita sudah saling bersua, aku rasa kedua
belah pihak juga tak perlu untuk bermain akal-akalan lagi."
"Baik! Kalau begitu, aku ingin mengetahui dulu maksud
hati dari saudara Pek."
Pek Bwe manggut-manggut, sahutnya :
"Boleh saja! Aku akan memperkenalkan beberapa orang
lebih dulu kepada saudara Ouyang."
Kemudian sambil berpaling, serunya keras-keras :
"Hong-ji, keluarlah kalian, Ouyang-heng berani berbuat
berani bertanggung jawab, ia sudah mengakui akan
persoalan ini." Mendengar seruan tersebut, Ouyang Siong mengerutkan
dahinya, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat
itu kemudian diurungkan. Terdengar ujung baju tersampok angin, secara beruntun
muncul kembali empat sosok bayangan manusia di tempat
itu. Orang pertama adalah seorang perempuan berbaju
berkabung dengan ikat kepala warna putih, dia adalah Pek
Hong. Di belakangnya mengikuti Seng Tiong-gak, Tang Cuan,
serta Cu Siau-hong. Ketiga orang ini pun mengenakan baju berkabung.
Rencana ini boleh dibilang merupakan suatu perencanaan
yang bagus, tapi juga sangat berani, yang dipermainkan
adalah soal perselisihan waktu saja.
Dalam waktu yang relatif singkat itu Cu Siau-hong bukan
cuma telah berganti rupa, pakaian pun telah ditukar.
Usul ini datang dari Pek Bwe, dia beranggapan dalam
pengawasan musuh yang ketat, pihak lawan pasti
mengetahui dengan jelas beberapa orang yang berhasil
kabur dari Bu-khek-bun, jika Cu Siau-hong seorang yang
tidak nampak, bukankah hal ini justru akan menanamkan
rasa curiga dalam hati mereka"
Setelah Cu Siau-hong pulih kembali dalam wajah aslinya,
ia seakan-akan berubah menjadi seseorang yang lain, tentu
saja berbeda jauh sekali dari keadaan sewaktu menyaru
tadi, betul Ouyang Siong berpengalaman luas, toh ia
terkecoh juga dibuatnya. Dalam kenyataan, Ouyang Siong tidak memiliki waktu
terlalu banyak untuk mengawasi mereka satu persatu.
Begitu sampai di tempat, dengan suaranya yang tinggi
melengking, Pek Hong segera berteriak :
"Ouyang Siong, kembalikan putraku!"
Ouyang Siong tertawa ewa,
"Tiong-hujin," katanya, "kau tak usah kuatir, putramu
masih hidup segar bugar, dalam hal ini Lohu berani
menjamin......." "Sekarang dia berada di mana" Aku ingin
menjumpainya!" seru Pek Hong lagi.
"Sulit kalau ingin menjumpainya, cuma bukan berarti
tidak ada kesempatan untuk itu, hal ini tergantung pada
Tiong-hujin sendiri, apakah bersedia untuk bekerja sama
atau tidak?" Pek Bwe kuatir Pek Hong terlalu dipengaruhi emosi, dia
ingin mencegah tapi Pek Hong sudah berkata dengan
dingin, "Masalah tentang Bu-khek-bun sudah bukan di tanganku
lagi, Ling-kang telah mati, sesuai dengan pesannya kami
telah mengangkat ciangbunjin baru, apalagi dia masih ada
seorang Sute, jangan lupa aku hanya Tiong-hujin, seorang
perempuan biasa, kalau aku pribadi bisa menyelamatkan
jiwa putraku, silakan kau mengajukan syarat."
Ouyang Siong menjadi tertegun, agaknya ia tak
menyangka kalau musuh akan berkata demikian, setelah
termenung sekian lama, katanya kemudian :
"Di bawah panglima yang kosen tiada prajurit yang
lemah, Hujin pandai amat cuci tangan dari persoalan ini,
entah siapakah ciangbunjin kalian yang baru?"
Pelan-pelan Tang Cuan maju ke depan selangkah lalu
menjawab : "Aku, Cayhe Tang Cuan."
"Baik! Dapatkah kau berbicara mewakili Bu-khek-bun?"
"Aku sebagai seorang ketua dari suatu perguruan tentu
saja dapat berbicara mewakili perguruan Bu-khek-bun."
Boan-ko-hui-hoa Kiau Hui-nio segera tertawa terkekehkekeh,
ujarnya pula : "Saudara cilik, kalau dilihat tampangnya mah memang
mirip-mirip seorang ciangbunjin, cuma kau pun harus
teringat, yang dimaksudkan Bu-khek-bun sekarang tak
lebih cuma kalian beberapa orang, Pek Bwe tak terhitung
dalam bilangan ini, kalau Tiong-hujin juga disingkirkan
maka perguruanmu cuma terdiri dari tiga orang, kau
sebagai ciangbunjin maka anak buahmu cuma dua gelintir
manusia." "Selama anak murid Bu-khek-bun masih hidup di dunia
ini, satu hari pula perguruan kami tetap utuh," ujar Tang
Cuan serius. "Bagus!" kata Ouyang Siong sambil manggut-manggut,
"Tiong Ling-kang memang tak malu disebut seorang ketua
perguruan yang hebat, ternyata anak murid didikannya juga
hebat-hebat semua. "Syarat apa yang hendak kau bicarakan dengan Bukhek-
bun kami" Sekarang boleh kau ajukan."
"Lohu ingin bertanya lebih dulu, inginkah kau menolong
Tiong It-ki......" "Urusan tentang putraku, lebih baik dibicarakan langsung
denganku, jangan menarik soal Bu-khek-bun," tukas Pek
Hong. "Hujin," ujar Ouyang Siong lagi, "kalau Tiong It-ki putra
Tiong Ling-kang ketua dari Bu-khek-bun, bayangkan
sendiri, mungkinkah kami masih mempercayakan jiwanya"
Hmm, paling-paling seperti juga yang lain, mampus dalam
perkampungan Ing-gwat-san-ceng."
"Kau....." "Hong-ji!" Pek Bwe segera menukas, "kalau memang
persoalan ini telah diserahkan kepada Tang-ciangbunjin,
lebih baik biarkan saja ia yang membicarakan."
Dalam pembicaraan tersebut sengaja ia tidak
menyinggung-nyinggung tentang dirinya, dia kuatir Tang
Cuan yang masih muda kena perangkap oleh kata-kata
lawan. Pelan-pelan Ouyang Siong mengalihkan kembali sorot
matanya ke wajah Tang Cuan, kemudian tegurnya :
"Tang-ciangbunjin, bagaimana pendapatmu?"
"Dia adalah satu-satunya keturunan guru kami, kami
setiap anggota Bu-khek-bun bertekad hendak
menyelamatkan jiwanya."
"Kalau memang demikian, urusan bisa diselesaikan lebih
mudah....." Setelah tertawa terbahak-bahak, katanya lebih jauh :
"Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan soal
syaratnya?" "Ucapkan saja, kami akan menyanggupi atau tidak, aku
orang she tang pasti akan memberi jawaban yang
memuaskan." Pek Bwe diam-diam berpikir,
"Kalau Cu Siau-hong hebat dalam kecerdasan otak,
ketenangan menghadapi persoalan dan kemantapan dalam
menghadapi masalah, sebaliknya Tang Cuan diplomatis
dalam pembicaraan dan pandai mempermainkan kata-kata,
kalau begini semua anggota Bu-khek-bun, masa jaya
perguruan tersebut tak lama lagi pasti datang."
Dalam pada itu, Ouyang Siong sedang manggutmanggut,
jelas dia pun merasa kagum sekali atas
kepandaian anak muda itu menduduki jabatannya sebagai
seorang ciangbunjin. Ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Ti Thianhua,
kemudian katanya : "Ti-sau-heng, beri tahu kepadanya bagaimana keadaan
Tiong It-ki saat ini."
Ucapan tersebut ibaratnya .......... naga memberi mata,
sebentar dia memperlihatkan kedudukan Ti Thian-hua,
sekarang dia pun melimpahkan semua tanggung jawab dan
kebencian orang di atas tubuhnya.
Betul juga, beberapa pasang mata yang penuh diliputi
kesedihan dan rasa dendam itu segera dialihkan ke wajah Ti
Thian-hua. Terutama sekali Seng Tiong-gak, sinar matanya diliputi
hawa nafsu membunuh, agaknya ia telah bersiap-siap untuk
turun tangan. Ti Thian-hua mendehem pelan, lalu katanya :
"Tiong It-ki bukan saja masih hidup segar bugar, ilmu
silatnya juga sama sekali tidak mengalami kerugian, badan
masih sehat otak pun masih waras seperti sedia kala."
"Aku tidak percaya," seru Pek Hong.
"Kau harus mempercayainya, begitu syarat yang
disetujui mungkin kami akan menyerahkannya secara utuh
kepadamu." "Baik, katakanlah!" kata Tang Cuan kemudian.
"Padahal, saudara Pek Bwe telah memberitahukan
kepada kalian garis besarnya......."
Mendadak ia tutup mulut. "Kenapa tidak kau lanjutkan?" tegur Tang Cuan.
"Aku rasa, tempat dan saat ini kurang leluasa untuk
membicarakan persoalan itu!"
"Ingin berganti tempat lain?"
"Itu mah tidak perlu, lebih baik di saat kami
membicarakan soal pertukaran syarat dengan Bu-khek-bun,
orang-orang Kay-pang jangan mencampuri masalah ini."
Kontan saja Cian-li-to-heng Tan Tiang-kim tertawa
dingin. "Ouyang Siong!" serunya, kau ingin mengusir aku si
pengemis tua dari sini?"
"Kau toh bukan orang Bu-khek-bun, sudah sepantasnya
kalau kau tidak mencampuri urusan ini."
"Kau tidak takut ucapan tersebut akan memancing
datangnya geledek yang akan menyambar lidahmu"
Semasa hidupnya Tiong-ciangbunjin mempunyai hubungan
yang akrab dengan Kay-pang. Hmm! Terus terang
kuberitahukan kepadamu, bukan cuma Kay-pang saja yang
akan mencampuri persoalan ini, Pay-kau pun tak akan
berpeluk tangan, di atas nama Bu-khek-bun tercantum pula
nama Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, dan keluarga persilatan
Tong-hong, mereka semua tak akan berpeluk tangan
belaka, kesulitan yang kalian buat hakikatnya terlampau
besar." "Hey, pengemis tua, kau tak usah mencoba menggertak
kami dengan nama-nama itu, kalau kami takut kesulitan,
tak nanti berani mengundang kalian untuk bertemu, setelah
kalian berani datang, tentu saja kami tak akan memikirkan
persoalan ini di dalam hati."
"Baik!" kata Tan Tiang-kim, bila pembicaraanmu dengan
Tang-ciangbunjin telah selesai, kita baru berbicara. Jika
ketujuh jurus Siu-hun-jiu-hoat mu tak sanggup menangkan
aku si pengemis tua, hari ini jangan harap bisa
meninggalkan kota Siang-yang dalam keadaan hidup."
"Sebentar, jika merasa perlu kami pasti akan
mencobanya." Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Tang Cuan,
ujarnya lebih jauh : "Bagaimana pendapatmu?"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tan maupun Hay dua orang Tiang-lo adalah sobat-sobat
karib mendiang guru kami, sudah sewajarnya kalau mereka
turut campur di dalam masalah ini."
Ouyang Siong menjadi tertegun, katanya kemudian :
"Bocah muda, jadi kau tidak memperdulikan soal mati
hidup Tiong It-ki lagi?"
"Tentu saja mengurusi."
"Kalau kau masih memperdulikan, lebih baik usir kedua
orang pengemis tua itu dan Pek Bwe dari sini, tinggal kalian
orang-orang Bu-khek-bun saja yang melanjutkan
pembicaraan." "Tidak bisa!" "Kalau begitu Tiong It-ki akan kami bunuh lebih dulu,"
ancam Ouyang Siong. Jawaban ini sungguh di luar dugaan mereka, untuk
sesaat lamanya Tang Cuan menjadi tertegun.
"Kau berani!" teriaknya.
"Kenapa tidak berani?"
Tang Cuan menghembuskan napas panjang, setelah
mengesampingkan beban berat yang menindih
perasaannya, dengan dingin ia berkata :
"Aku rasa kalian tak akan punya hak sebesar ini."
Cu Siau-hong merasa gelisah pula, dengan ilmu
menyampaikan suara, ia memberitahukan cara untuk
mengatasi persoalan itu, untung saja tempat pada saatnya
Tang Cuan dapat mengesampingkan tindihan beban berat
pada hatinya. Paras muka Ouyang Siong berubah hebat, serunya
dengan cepat : "Dengarkan baik-baik, seorang manusia cuma bisa mati
sekali, bila Lohu membunuh Tiong It-ki, berarti Tiong Lingkang
akan kehilangan satu-satunya keturunan."
Tan Tiang-kim tertawa dingin, serunya :
"Kecuali Tiong It-ki berada di sini, kalau tidak maka kau
harus memikirkan dulu cara yang baik untuk meninggalkan
tempat ini." Bagaimana juga orang yang berpengalaman luas
memang jauh berbeda, cukup dengan sepatah kata ia telah
berhasil membongkar gertak sambal dari Ouyang Siong.
"Hey, pengemis tua, apa kau bilang?" teriak Ouyang
Siong sambil tertawa dingin.
"Aku pengemis tua berkata bahwa kau Ouyang Siong
tidak lebih cuma kuku garuda atau kaki tangan seseorang
belaka, kau masih belum memiliki kekuasaan untuk
menghukum mati Tiong It-ki."
Ouyang Siong menjadi naik pitam, dengan gusar
bentaknya : "Pengemis busuk, kau berani menghina Lohu?"
Tan Tiang-kim tertawa ewa.
"Ouyang Siong," katanya "apakah lantaran malu kau
menjadi naik darah?"
"Apakah aku si pengemis tua telah membongkar rahasia
hatimu?" Dalam waktu singkat, Ouyang Siong telah pulih kembali
dalam ketenangannya, sambil tertawa dingin, ia berkata :
"Pengemis busuk, Tiong Ling-kang telah mati, Tiong It-ki
merupakan satu-satunya darah daging darinya, cuma mati
hidupnya masih tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu,
tentu saja kau tak usah menguatirkan keselamatannya......"
Sekalipun perkataan itu disampaikan dengan halus dan
lembut, tapi nadanya justru mengandung nada menghasut,
mengadu domba. Tiba-tiba Pek Hong menyela dan menukas pembicaraan
Ouyang Siong itu, katanya :
"Tiong It-ki adalah anakku, sejak kematian Ling-kang,
akulah orang yang paling akrab hubungannya dengan
dia......." "Itulah sebabnya, kami ingin sekali mendengarkan
perkataan dari nona Pek Hong."
"Semasa masih hidupnya, Ling-kang adalah seorang
lelaki sejati, ketika mati, dia pun mati secara gagah
perkasa, ilmu silat Khi-keng-bun dari Pak-hay tersohor
sebagai aliran ilmu silat yang ganas dan hebat, tapi setelah
kena disergap Ling-kang masih mampu membunuh
musuhnya. Hmm! Padahal kalian sudah lama ingin
menyerbu Bu-khek-bun, cuma saja semasa Ling-kang
masih hidup kalian tak berani mendatanginya, kalian selalu
menunggu kesempatan baik untuk turun tangan, aku curiga
semua persoalan ini adalah merupakan bagian dari rencana
kalian, aku tidak percaya kalau di dunia ini terdapat
kejadian yang serba kebetulan, Ling-kang belum lagi putus
nyawa, Bu-khek-bun telah diserbu orang, mungkin sedari
semula kalian sudah mengirim orang untuk mengikuti
jalannya pertarungan itu......."
Ouyang Siong segera tertawa terbahak-bahak, tukasnya
: "Tiong-hujin, pandai amat kau menciptakan variasi
peristiwa yang kau gabungkan menjadi satu cerita!"
"Selama beberapa hari ini aku selalu memikirkan
persoalan ini, setelah kuhubungkan satu peristiwa dengan
peristiwa yang lain, bukan suatu kesulitan bagiku untuk
merangkainya menjadi suatu kisah cerita yang utuh......."
"Hujin, yang terpenting saat ini adalah keselamatan jiwa
putramu, bukan yang lain!" Ouyang Siong mengingatkan.
"Aku pasti akan memberitahukan kepadamu apa
keputusanku, harap kau jangan gelisah lebih dulu :
Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan :
"Kalian pun telah mempersiapkan pengkhianatpengkhianat
di dalam tubuh Bu-khek-bun, kalian menunggu
sampai Ling-kang betul-betul terluka parah baru berani
turun tangan. Terus terang meski Ling-kang tidak berada
dalam perkampungan, Bu-khek-bun juga masih memiliki
daya tempur yang cukup kuat, apabila kalian tidak
menyergap orang dengan cara yang rendah dan
memalukan, tak nanti kalian berhasil membunuh jago-jago
kami dalam waktu singkat............."
"Huuh, hanya mengandalkan beberapa orang murid
ajaran Tiong Ling-kang, tidak perlu buat kami untuk
melancarkan sergapan terlebih dulu," kata Ouyang Siong
dingin. "Kalau begitu, kau sudah mengakui kalau kalian adalah
pencoleng-pencoleng yang menyerbu Bu-khek-bun kami?"
Ouyang Siong tertegun kemudian tertawa terbahakbahak.
"Haaahh....... haaahh........ haaahh......... tidak kusangka
Tiong-hujin masih mempunyai cara berbicara yang begini
diplomatis, padahal Hujin tak usah menggunakan segala
macam tipu muslihat untuk mengorek keterangan dari
kami, beradanya Tiong It-ki di tangan kami, bukankah telah
menerangkan segala-galanya."
"Baik, sekarang aku akan memberi jawaban kepadamu,
ayah harimau tak akan beranak anjing, aku percaya It-ki
tak akan tunduk di bawah paksaan kalian, aku
menguatirkan keselamatan putraku, tapi aku lebih berharap
ia bisa hidup sebagai seorang lelaki sejati dan mati sebagai
seorang kesatria, kalau seseorang pengecut dan takut mati,
dari pada dibiarkan hidup lebih baik mati saja, jangan lupa
dia adalah putra Tiong Ling-kang, aku pikir jawaban ini pasti
memuaskan dirimu bukan!"
Paras muka Ouyang Siong berubah hebat, serunya
kemudian : "Kalau begitu, pembicaraan kita tak perlu dilangsungkan
lagi bukan!" "Masih perlu! Cuma pembicaraan itu harus adil dan
bersungguh-sungguh...........!" sahut Pek Hong dingin.
"Tiong-hujin, kau harus memikirkan dulu keadaanmu
sekarang, mana mungkin bisa mengajak kami untuk
membicarakan persoalan ini secara adil?"
"Kita boleh saja tak usah membicarakan persoalan ini,
sekalipun Tiong It-ki mati dibunuh, dia juga bisa bertemu
dengan ayahnya di alam baka, ia bisa memberitahukan
kepada ayahnya, bahkan aku menantu dari keluarga Tiong
tak sampai menjual muka keluarganya."
Tiba-tiba Tang Cuan maju dua langkah ke depan sambil
mengulapkan tangannya dia berkata :
"Ouyang Siong! Suboku telah berbicara sejelas-jelasnya,
mati hidup siau-sute kami sangat menguatirkan, tapi kami
tak sudi dipaksa untuk tunduk di bawah perintah kalian
karena persoalan ini, ada satu hal aku kurang paham,
kenapa dalam waktu singkat kalian berhasil memusnahkan
seluruh perguruan Bu-khek-bun?"
"Dalam perguruan Bu-khek-bun, kecuali Tiong Ling-kang
seorang yang memiliki sedikit kepandaian, yang lain
semuanya tak lebih hanya manusia-manusia yang tak tahan
diserang satu jurus pun."
"Sewaktu melakukan penyerbuan ke perguruan Bu-khekbun
malam itu, apakah kau juga ikut hadir?"
"Apa maksudmu bertanya demikian?" seru Ouyang
Siong. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu."
"Membuktikan apa?"
"Aku ingin membuktikan dengan cara apakah kalian telah
memusnahkan perguruan Bu-khek-bun."
Ouyang Siong segera mendengus dingin.
"Hmm! Apakah kau ingin bertarung melawan Lohu?"
"Betul!" jawab Tang Cuan sambil menghembuskan napas
panjang, aku selalu tidak percaya kalian sanggup
membunuh anak murid Bu-khek-bun dengan mengandalkan
ilmu silat sesungguhnya."
Ouyang Siong segera tertawa,
"Dengan sedikit kepandaianmu itu, kau juga berani
menantang Lohu untuk berduel?"
Tiba-tiba Tan Tiang-kim menyela :
"Tang-ciangbunjin, lebih baik pertarungan babak
pertama ini serahkan saja kepada aku si pengemis tua!
Kay-pang sudah banyak menerima budi dari perguruan
anda, sampai sekarang budi tersebut belum sempat kami
balas, inilah kesempatan yang baik buat aku si pengemis
tua untuk menyumbangkan sedikit tenaga."
Jilid 11 Belum lagi Ouyang Siong sempat berbicara, Tang Cuan
telah menukas dengan cepat :
"Tan-cianpwe, tolong berilah kesempatan ini kepada
Boanpwe." Tan Tiang-kim berpaling dan memandang sekejap ke
arah Pek Bwe, lalu serunya :
"Pek-heng, Tang-ciangbunjin.......!"
"Saudara Tan, biarkan anak-anak muda itu mencoba
kepandaiannya," tukas Pek Bwe cepat, "sekalipun kalah
juga bukan terhitung suatu kejadian yang memalukan,
apalagi kita berdiri di sampingnya, tak mungkin dia akan
terluka." "Kalau memang Pek-heng berkata demikian, aku si
pengemis tua akan turut perintah."
Tang Cuan segera menggerakkan pergelangan tangan
kanannya dan meloloskan pedang Cing-peng-kiam itu dari
sarungnya. "Ouyang Siong, kau boleh meloloskan senjatamu!"
katanya. "Ciangbunjin," Seng Tiong-gak segera berbisik, "kau
sebagai seorang ketua dari perguruan mana boleh turun
tangan secara sembarangan, bagaimana kalau serahkan
saja pertarungan babak ini kepadaku?"
Tang Cuan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku adalah murid pertama dari Bu-khek-bun, mana
boleh melarikan diri setelah di medan laga" Susiok, penuhi
harapanku ini! Kalau aku tak sanggup nanti, Susiok boleh
menggantikan kedudukanku."
"Yaa, bagaimanapun Pek Bwe, Tan Tiang-kim sekalian
melindunginya dari sisi arena, tak mungkin dia sampai
terluka parah," pikir Seng Tiong-gak kemudian.
Karena berpikir demikian, dia pun tidak mencegah lebih
jauh. Ouyang Siong merasa serba susah, sekalipun kedudukan
Tang Cuan dalam perguruan Bu-khek-bun adalah seorang
ketua, tapi dalam dunia persilatan ia masih belum punya
nama maupun kedudukan, sedikit pun menangkan
pertarungan ini dia tak bakal gagah, kalau sampai kalah
jelas nama dan kedudukannya akan terpengaruh, sekalipun
berakhir seri misalnya, dia juga akan turun gengsi.
Sementara ia masih serba salah, tiba-tiba Ti Thian-hua
melayang datang dari sisi tubuhnya, sambil menggoyanggoyangkan
kipasnya yang satu jengkal delapan inci itu,
katanya, "Tang Cuan, kau masih belum pantas untuk bertarung
melawan Ouyang-cianpwe, biar Cayhe saja yang
menemanimu bermain beberapa gebrakan."
"Apa kedudukanmu?" tegur Tang Cuan dingin.
"Persoalan ini menyangkut soal mati hidup," tukas Ti
Thian-hua, "kita harus menentukan menang kalah dari ilmu
silat dan mati hidup di ujung senjata, jangan gampangnya
jabatan ciangbunjinmu itu, terus terang saja, seluruh Bukhek-
bun masih belum berada dalam pandanganku."
"Sombong amat kau!"
"Aaah, sama-sama, sama-sama!"
Kipasnya segera digerakkan menotok dada Tang Cuan.
Tang Cuan mendengus dingin, pedang Cing-pengkiamnya
diangkat dan menangkis datangnya serangan kipas
itu. Cu Siau-hong ingin turun tangan, tapi ia segera dihalangi
oleh Pek Bwe. Sebagai seorang pemuda yang pintar, dengan cepat
dapat dipahami olehnya akan maksud hati Pek Bwe, dia
kuatir jika sampai dirinya turun tangan Ouyang Siong akan
menaruh perhatian kepadanya, jika ia sampai menemukan
sesuatu darinya, bisa mengakibatkan terpengaruhnya
semua rencana yang telah tersusun.
Dalam pada itu, pertarungan yang berlangsung telah
meningkat dalam keadaan yang amat seru.
Kipas Ti Thian-hua sebentar terbentang sebentar
menutup, sebentar menotok sebentar menepas, semua


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perubahannya aneh dan di luar dugaan, ditambah pula
permukaan kipas yang lebar satu permukaan berwarna
putih salju, permukaan lain berwarna merah darah.
Yang merah mencolok mata yang putih menyilaukan
mata, akibatnya sinar-sinar pantulan itu menciptakan suatu
pengaruh yang luar biasa bagi gerakan lawan.
Akibatnya, dalam waktu singkat Tang Cuan terdesak
mundur sejauh tiga langkah lebih, hampir saja ia terluka di
ujung kipas lawan. Pek Hong yang menyaksikan peristiwa itu merasakan
jantungnya berdebar keras, sedangkan Seng Tiong-gak
mulai meraba gagang pedangnya.
Tang Cuan adalah seorang ciangbunjin dari perguruan
Bu-khek-bun, jika sekali bertarung dia sudah dikalahkan
orang, terhadap Bu-khek-bun peristiwa ini merupakan suatu
penghinaan yang sangat besar.
Tapi, bagaimanapun juga dia adalah murid utama hasil
didikan Tiong Ling-kang, sekalipun untuk sesaat ia dibikin
bingung oleh perubahan-perubahan jurus aneh dari kipas
Siu-lo-san, namun kejadian itu tidak membuatnya menjadi
gugup, setelah mundur sejauh tiga langkah, pedang Cingpeng-
kiam itu segera melakukan perubahan yang sangat
cepat. Tampak cahaya tajam berkilauan, dalam sekejap mata
sudah tercipta selapis daya pertahanan yang kuat, posisi
yang semula terdesak pun lambat laun bisa teratasi.
Cu Siau-hong adalah seorang manusia berbakat bagus,
ia bisa dalam ilmu sastra pandai pula dalam ilmu silat,
sebaliknya Tang Cuan adalah seorang jago yang bersifat
ulet dan tangguh, setiap jurus setiap gerakan dari ilmu
pedang Cing-peng-kiam tersebut boleh dibilang telah
dikuasai sepenuhnya. Berbicara dalam soal ilmu pedang Cing-peng-kiam saja,
Cu Siau-hong masih kalah tiga bagian bila dibandingkan
dengan Ciangbun-suhengnya ini....
Jurus pedang yang mantap, gerakan tangan yang
sederhana, tapi justru dari setiap gerakan dan jurus
serangan tersebut terpancarkan suatu kekuatan serta daya
penghancur yang luar biasa.
Sepuluh gebrakan kemudian, Tang Cuan telah berhasil
menguasai kembali posisinya yang semula runyam.
Jurus silat dari Ti Thian-hua justru jauh berbeda dari
pada Tang Cuan. Terlihatlah jurus-jurus serangan kipasnya aneh sekali,
sebentar berwarna merah sebentar putih, sebentar
menebas sebentar membacok, ternyata sebuah senjata
kipas dapat dipakai sebagai pedang, pit, dan lain
sebagainya dalam genggamannya, ia boleh dibilang lihay
dan hebat sekali. Pertarungan ini menarik ditonton, tapi justru merupakan
suatu pertarungan sengit yang mendebarkan sukma.
Di satu pihak serangan-serangannya gencar dengan
aneka kombinasi yang menyesatkan pikiran.
Di pihak lain serangan-serangannya datar, sederhana
tapi mantap dengan kekuatan yang meyakinkan,
pertahanannya ibarat sekokoh batu karang.
Baik pihak musuh maupun pihak kawan yang mengikuti
jalannya pertarungan itu, diam-diam merasa hatinya
bergetar keras. Dengan suara berbisik Tan Tiang-kim berkata :
"Saudara Pek, murid ahli waris dari Tiong-buncu ini
betul-betul hebat, permainan Cing-peng-kiamnya begitu
hidup seakan-akan Tiong-buncu sendiri yang melakukan
permainan itu, hebat, sungguh hebat sekali!"
Pek Bwe sendiri pun merasa agak tenang, dia tidak
mengira kalau keberhasilan Tang Cuan sudah mencapai
tingkatan sejauh itu, sambil tertawa katanya :
"Tan-heng terlalu memuji, ilmu pedang bocah ini
memang telah memperoleh seluruh inti kekuatan dari Lingkang,
cuma sayang pengalamannya dalam menghadapi
musuh masih cetek, sehingga waktu pertarungan untuk
yang pertama kalinya hampir saja ia terluka oleh kipas Siulo-
san lawan. "Permainan kipas Siu-lo-san dari bocah she Ti itu
lumayan juga," ujar Tan Tiang-kim lagi, "sekalipun aku
turun tangan sendiri, belum tentu ia bisa kukuasai, hebat
benar bocah muda itu, entah ia berasal dari perguruan
mana?" "Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya Pat-pit-sin-mo
(iblis sakti berlengan delapan) seorang yang
mempergunakan kipas Siu-lo-san, tapi sudah hampir tiga
puluh tahun ia mengundurkan diri dari keramaian dunia
persilatan." "Aku rasa dia tidak mirip dengan ahli waris Pat-pit-sinmo,
pada tiga puluh tahun berselang aku pernah bertarung
dengan Pat-pit-sin-mo, setelah bertarung sengit selama
seharian penuh pada jurus yang kedua ribu aku baru
berhasil mengalahkan dirinya, itulah sebabnya kesanku atas
ilmu kipas iblis tersebut sangat dalam, kalau berbicara dari
perubahan ilmu kipas dari bocah muda ini kelincahannya
seperti jauh melebihi iblis tua itu."
"D dalam kipas Siu-lo-san milik Pat-pit-sin-mo
disembunyikan sembilan batang tulang kipas yang amat
tajam, bila sedang bertarung, bisa dipakai untuk melukai
orang, aku lihat bocah ini terlalu licik dan berbahaya, siapa
tahu dibalik kipasnya masih ada permainan lain, kita harus
memperingatkan Tang-ciangbunjin agar waspada," bisik
Hay Yok-wong lirih. Pek Bwe manggut-manggut. "Betul! Tang Cuan terlalu jujur dan polos, ia tak pernah
berpikiran curang, ia pasti tak akan menduga atas kelicikan
orang-orang dunia persilatan....."
Berbicara sampai sini, dengan suara yang keras dia
lantas berseru : "Tang Cuan, hati-hati, kemungkinan besar di balik kipas
lawan, tersembunyi tulang-tulang kipas yang bisa disampit
keluar." Dalam pada itu daya kekuatan dari ilmu pedang Cingpeng-
kiam yang dimainkan Tang Cuan kian lama kian
bertambah tangguh, lamat-lamat ia sudah mulai
melepaskan posisi bertahan untuk mengembangkan jurusjurus
serangan. Mendengar seruan itu, dia lantas menjawab,
"Terima kasih banyak atas peringatan dari Cianpwe, Tecu
pasti akan berhati-hati."
Sementara di pihak sini berbisik-bisik, di pihak lain
Ouyang Siong juga sedang berbisik-bisik dengan Lu Peng,
katanya, "Saudara lu, ilmu pedang bocah ini lumayan juga,
tampaknya kesempatan bagi Ti-sau-heng untuk meraih
kemenangan tipis sekali."
"sungguh di luar dugaan, ternyata ilmu pedang yang
dimiliki Tiong Ling-kang semasa hidupnya cuma begini
saja!" kata Lu Peng.
Boan-ko-hui-hoa berbisik pula :
"Tampaknya, kita memang sudah terlalu memandang
rendah perguruan Bu-khek-bun."
"Sebelum meninggal, Tiong Ling-kang menyerahkan
jabatan ciangbunjin itu kepadanya, itu berarti bocah ini
adalah jago yang paling lihay dalam perguruan Bu-khek-bun
sekarang." "Konon masih ada seorang she Cu yang katanya hebat
juga," Kiau Hui-nio menambahkan.
"Aaah......... sekalipun lumayan, paling-paling juga tak
akan lebih hebat dari bocah she Tang itu." jengek Lu Peng
sinis. "Kelihaian ilmu silat Ti Thian-hua pun jauh di luar
dugaanku," sambung Ouyang Siong.
"Saudara Ouyang," kata Kiau Hui-nio, "menurut
pendapatmu, siapa yang bakal menangkan pertarungan
ini?" "Kecuali Ti Thian-hua masih memiliki jurus tangguh,
rasanya kesempatan baginya untuk meraih kemenangan
sudah tidak terlalu besar lagi."
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik
Kiau Hui-nio sambil merendahkan suaranya.
"Ti Thian-hua telah membendung Tang Cuan, aku
percaya masih sanggup menghadapi Tan Tiang-kim, Lo Lu
menghadapi Hay Yok-wong, dan kau..... sanggup tidak
menghadapi Pek Bwe?"
"Untuk menghadapi Pek Bwe mah aku tidak yakin, tapi
untuk menghadapi Pek Hong, aku yakin masih mampu
untuk memakannya." "Kalau kau yakin bisa mencaplok Pek Hong, nanti
tantang saja diri Pek Hong, bagaimanapun kau toh harus
mencari seorang lawan!"
"Urusanku tak perlu kau kuatirkan, tapi kekuatan lawan
tampaknya kuat sekali, kita sepertinya sudah kalah
setingkat dari mereka."
Ouyang Siong tertawa hambar.
"sekalipun kita tak bisa menangkan mereka, kita toh
masih mampu untuk angkat kaki."
Sementara itu, pertarungan antara Ti Thian-hua melawan
Tang Cuan makin lama berkobar semakin menegangkan.
Sekarang Tang Cuan tidak melulu bertahan belaka,
pedang Cing-peng-kiamnya sudah mulai melakukan
serangan-serangan yang gencar di samping pertahanan
yang tangguh. Serangan-serangan kipas Siu-lo-san dari Ti Thian-hua
pun tidak mengendur lantaran serangan balasan dari Tang
Cuan, jadinya kedua belah pihak saling menyerang dan
saling menyerobot dengan gencarnya.
Tapi berbicara soal keadaan posisi, Tang Cuan telah
berhasil mengokohkan pertahanannya, sekalipun belum bisa
dikatakan dari kalah menjadi menang, tapi untuk bertahan
dalam posisi seimbang pun sudah lebih dari cukup.
Ketika Tan Tiang-kim menyaksikan Tang Cuan bukan
saja berhasil memperbaiki posisinya dari keadaan terdesak
menjadi keadaan seimbang, bahkan lamat-lamat kekuatan
daya serangannya makin menghebat, diam-diam timbul
juga rasa kagumnya terhadap kebolehan pemuda itu.
Setelah hatinya menjadi lega, dia pun mengalihkan sorot
matanya ke wajah Ouyang Siong sambil berkata dengan
nada dingin : "Ouyang Siong, sudah lama aku dengar orang bilang
bahwa ketujuh jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat mu luar biasa
ganasnya dan belum pernah menjumpai tandingan, hari ini
aku si pengemis tua ingin menjajalnya, apakah kau
bersedia memberi petunjuk?"
"Dalam Kay-pang Su-lo, Cian-li-to-heng menempati
urutan ke dua, sudah lama Siaute pun mengagumi nama
besarmu." "Bagus sekali, kalau begitu hari ini kita masing-masing
bisa memenuhi harapan hati."
Dengan suatu lompatan kilat ia menerjang ke sisi
Ouyang Siong, kemudian telapak tangannya di ayun ke
muka melepaskan sebuah serangan gencar.
Di balik serangan itu terbawalah segulung tenaga
serangan yang sangat kuat dan tajam.
"Suatu serangan yang bagus!" puji Ouyang Siong.
Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka
menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan
keras. "Blaam........!" di tengah benturan keras yang
memekikkan telinga, masing-masing pihak terdorong
selangkah. Tidak menunggu Ouyang Siong melepaskan serangan
balasan, Tan Tiang-kim segera mendorong kembali
sepasang telapak tangannya melepaskan tiga buah
serangan berantai. Dengan ujung baju berkibar terhembus angin, secara
manis Ouyang Siong melepaskan diri dari ketiga buah
serangan itu. Pada saat itulah Hay Yok-wong maju dua langkah ke
depan sambil berseru. "Orang she Lu, kita tak usah menonton terus, bagaimana
kalau kau temani aku untuk bermain beberapa gebrakan?"
"Tentu saja akan kutemani ku dengan senang hati,"
jawab Lu Peng sambil mengelus jenggot kambingnya.
"Weess...............!" sebuah pukulan gencar dilontarkan
ke muka. Dua jago itu segera terlibat dalam suatu pertarungan
yang amat seru. Boan-ko-hui-hoa Kiau Hui-nio tertawa terkekeh-kekeh
katanya : "Tiong-hujin, konon ilmu silatmu mendapat warisan dari
ayahmu, kemudian peroleh pula ajaran dari Tiong LingKANG
ZUSI http://kangzusi.com/
kang, sudah pasti kehebatanmu luar biasa, Siau-moay tak
becus, ingin sekali mohon beberapa petunjuk dari Hujin."
"Kiau Hui-nio!" kata Pek Hong dingin, "konon kau
berjulukan Boan-ko-hui-hoa, ilmu menjilat pantatmu
hebatnya tiada tandingan, hari ini mataku baru betul-betul
melek." "Oooh...... itu mah belum hebat, kalau bukan mulut bisa
membunuh orang, itu baru luar biasa namanya."
"Sayang, aku tidak doyan dengan permainan semacam
itu, manusia munafik lain di muka lain di hati, mungkin
manusia semacam kau itulah yang dimaksudkan."
Kiau Hui-nio segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Tiong-hujin, kenapa tidak kau coba sendiri, lihatlah
apakah aku Kiau Hui-nio benar-benar cuma lihay dalam
kepandaian mulut belaka."
Pelan-pelan Pek Hong maju ke depan, sambil
menghampiri lawannya dia berseru :
"Aku memang ingin mencoba kelihaianmu itu!"
Kiau Hui-nio enggan didahului Pek Hong, dia segera
turun tangan, sebuah totokan dilancarkan secepat kilat.
Pek Hong betul-betul sudah menguasai delapan sembilan
puluh persen kepandaian dari Pek Bwe, setelah menikah


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan Tiong Ling-kang, ia pun melatih secara tekun ilmu
pedang Bu-khek-bun. Itulah sebabnya kehebatannya ada di ujung pedang.
Tapi sekarang Kiau Hui-nio tidak meloloskan pedang,
terpaksa dia harus layani serangan orang dengan tangan
kosong. Meskipun pertarungan dilangsungkan dengan tangan
kosong, namun jari tangan dan kepalan saling menyambar,
pertarungan itu betul-betul dilangsungkan amat seru.
Dengan terjunnya empat orang jago itu, sekarang tinggal
Pek Bwe, Seng Tiong-gak, dan Cu Siau-hong tiga orang
yang belum dapat pasangan.
Pek Bwe sadar, kecuali Ouyang Siong, di sekeliling
gedung itu masih tersembunyi banyak jago, tapi oleh
karena pihak lawan tak mau menampakkan diri, otomatis
mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.
Dengan demikian, dari empat rombongan yang sedang
bertarung, tiga rombongan bertarung dengan tangan
kosong. Hanya Ti Thian-hua serta Tang Cuan yang bertarung
dengan mempergunakan senjata tajam.
Tapi keseruan pertarungan dengan tangan kosong sama
sekali tidak di bawah pertarungan dengan senjata,
pertarungan-pertarungan itu dilangsungkan dalam jarak
dekat, semua pukulan dan totokan tertuju pada bagianbagian
mematikan di tubuh lawan.
Dalam waktu singkat, seratus jurus telah lewat, namun
keadaan tetap seimbang. Kiau Hui-nio memang bukan cuma hebat dalam bibir
saja, kepandaian silatnya ternyata hebat juga.
Meski demikian, ia masih merasa telah salah memilih
pasangan, kenyataan menunjukkan bahwa ilmu silat Pek
Hong sangat luas dengan perubahan yang tak terhitung
jumlahnya, ia benar-benar telah menguasai ilmu silat dari
dua keluarga. Seratus jurus kemudian, Kiau Hui-nio mulai kateter di
bawah angin. Bukan dia saja, dalam kenyataan setelah lewat seratus
jurus, baik Ouyang Siong maupun Ti Thian-hua sekalian
kena terdesak pula sehingga berada dalam posisi yang
sangat terdesak. Hal ini bukan dikarenakan ilmu silat mereka terlalu cetek,
melainkan karena musuh mereka yang terlampau lihay.
Secara beruntung Ouyang Siong telah menggunakan tiga
jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoatnya yang hebat, tapi semuanya
kena dibendung oleh Tan Tiang-kim. Hal ini membuat dia
tak sanggup lagi untuk mempergunakan jurus-jurus
berikutnya. Sekalipun demikian, tiga jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat
tersebut cukup mendatangkan perasaan was-was bagi Tan
Tiang-kim. Tujuh jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat dari Ouyang Siong
disebut sebagai salah satu ilmu sakti dalam dunia
persilatan, ini terbukti kepandaian tersebut memang benarbenar
memiliki daya penghancur yang dahsyat.
Seandainya ketujuh jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat itu
digunakan secara beruntun, Tan Tiang-kim sendiri pun
merasa ragu apakah dia sanggup untuk menyambutnya
atau tidak. Berpikir demikian, ilmu pukulannya segera berubah, dia
gunakan tujuh puluh dua jurus ilmu pukulan Liong-ing-ciang
yang dikombinasikan dengan dua belas jurus Ki-na-jiu-hoat.
Itu berarti cepat dan lincah digunakan bersama dalam
kekuatan yang keras dan lunak.
Apabila bukan menjumpai seorang musuh yang tangguh,
jarang sekali Tan Tiang-kim menggunakan kepandaian
tersebut. Serangkaian serangan berantai yang dilancarkan secara
beruntun memaksa Ouyang Siong berada di bawah angin.
Tenaga dalam dari Lu Peng meski tidak sanggup
menandingi kesempurnaan Hay Yok-wong, namun untuk
bertahan sebanyak dua tiga ratus jurus masih bukan suatu
persoalan baginya. Tapi ia terburu napsu, begitu turun tangan, ia telah
beradu tenaga sampai lima kali dengan Hay Yok-wong,
suatu adu kekerasan yang dilakukan dengan daging beradu
daging, tulang beradu tulang.
Padahal ilmu yang dipelajari Hay Yok-wong adalah Lokhan-
khikang, meski berjiwa keras namun ilmu itu dilatih
dari dalam mencapai luar.
Sebaliknya ilmu pukulan Poh-san-kun dari Lu Peng justru
termasuk ilmu tenaga luar.
Setelah terjadi lima kali adu kekerasan, Lu Peng baru
merasa tulang tangan kanannya sakit dan terluka, tapi ia
tak berani mengutarakannya keluar, sambil menggigit bibir
pertarungan dilangsungkan lebih jauh.
Sebenarnya dia bermaksud mengandalkan kehebatan
dari tenaga serangannya untuk melukai lawan, siapa tahu
malah sebaliknya dia sendiri yang menderita akibatnya.
Ketika pertarungan telah berlangsung mencapai seratus
jurus, tiba-tiba Hay Yok-wong mengeluarkan delapan belas
jurus Lo-han-kunnya untuk meneter lawan, jurus demi jurus
dilancarkan langsung ke tubuh lawan, ia mengejar dan
mendesak musuhnya habis-habisan.
Di dalam serangannya itu ia telah pergunakan semua inti
kekuatan yang dimilikinya, secara beruntun tiga jurus
serangan dilancarkan sekaligus dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat. Lu Peng bermaksud menghindarkan diri dari jurus ketiga
lawan, Hui-kan-cong-ciong (tiang terbang menumbuk
genta), sayang tak mampu, terpaksa ia harus
menyambutnya dengan keras lawan keras.
Dengan luka di tulang yang belum sembuh, mana
mungkin ia sanggup untuk menerima pukulan Hay Yokwong
yang ibaratnya penghancur batu nisan ini" Kontan
saja tulang jari tangan kanannya remuk dan hancur, ia
menjerit kesakitan lalu cepat-cepat mundur sejauh lima
langkah. Walaupun rasa sakit karena remuknya tulang membuat
ia kehilangan daya kemampuan untuk bertarung terus,
bukan berarti tenaga dalamnya mengalami kerugian. Sambil
menghimpun tenaga ia melompat ke atas atap rumah,
kemudian tanpa menyapa Ouyang Siong sekalian, dia
melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Di pihak lain Ouyang Siong juga telah didesak sehingga
hanya mampu bertahan belaka, serangkaian pukulan kilat
dari Tan Tiang-kim memaksa Ouyang Siong tak mampu
untuk menggunakan ilmu Siu-hun-jiu-hoatnya lagi.......
Ketika mendengar jerit kesakitan dari Lu Peng tadi,
pikirannya menjadi bercabang, sedikit kurang berhati-hati,
sebuah pukulan dari Tan Tiang-kim dengan telak menghajar
di atas bahu kirinya. Di balik serangannya itu mengandung pula ilmu Ki-na-jiu
dan ilmu meremukkan tulang, begitu terhajar tadi kontan
saja tulang persendian pada bahu kiri Ouyang Siong
terlepas dari sendinya, ini membuat peluh dingin mengucur
keluar saking sakitnya. Tapi Ouyang Siong adalah seorang jago kawakan yang
cukup berpengalaman, bagaimanapun sakitnya luka pada
bahu kirinya, tidak membuat pikiran bercabang, sepasang
kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai untuk
menghalau serangan Tan Tiang-kim, kemudian sekali
berjumpalitan, ia sudah menggelinding ke sudut halaman
rumah. Agaknya hawa pembunuhan sudah menyelimuti wajah
Tan Tiang-kim, ia berhasrat untuk menahan nyawa Ouyang
Siong di sana, maka ia pun berjaga-jaga kalau musuhnya
sampai kabur ke atas atap rumah.
Semisalnya ia melompat ke udara tadi, sudah pasti Tan
Tiang-kim akan melepaskan pukulan yang dipersiapkan itu
ke tengah udara. Siapa tahu, dengan kedudukan Ouyang Siong dalam
dunia persilatan, ternyata ia berani menggelinding ke
tempat gelap. Baru saja akan memberi tanda kepada Pek Bwe untuk
mengepung dari kedua belah sisi mendadak Ouyang Siong
melejit ke udara dan melarikan diri ke balik kegelapan sana.
Melihat itu, Kiau Hui-nio segera berseru dengan suara
merdu, "Nona Pek Hong, Enciku yang baik, kau mengajak aku
bertarung mati-matian, apakah kau bermaksud hendak
merenggut nyawa Siau-moay?"
Di mulut dia berkata, sepasang tangannya dilancarkan
serangkaian serangan berantai, ini memaksa Pek Hong
terdesak mundur dua langkah, menggunakan peluang itu
dia lantas melompat ke atas atap rumah untuk melarikan
diri. Ti Thian-hua segera membentangkan pula kipas Siu-losannya,
dua cahaya tajam berkilauan melesat keluar dari
balik kipas, sedang tubuhnya menggunakan kesempatan itu
melompat ke udara dan melarikan diri dari tempat itu.
Menanti Tang Cuan sadar Ti Thian-hua sudah berada dua
kaki jauhnya dari sana. Pek Hong hendak mengejar, tapi dicegah oleh Pek Bwe,
katanya : "Mereka kabur menuju ke arah yang sama, mustinya di
sana ada jebakan yang telah diatur, jangan dikejar."
"Sungguh menyesal aku," seru Pek Hong sambil
menggigit bibir, "coba kalau kugunakan pedang, ia pasti tak
akan lolos dari cengkeramanku."
"Tecu amat menyesal, musuh berhasil melarikan diri,"
kata Tang Cuan pula. "Tang-ciangbunjin!" kata Hay Yok-wong, "sikapmu dalam
menghadapi musuh sudah cukup mendapat pujian dari kami
semua. Kungfu bocah she Ti itu tidak terhitung lemah, Siulo-
san merupakan pula senjata aneh yang tersohor dalam
dunia persilatan. Tapi ia toh masih dikalahkan oleh pedang
Cing-peng-kiam mu, ditambahkan lagi kusaksikan Bu-khekbun
memiliki ahli waris yang begini tangguh, di kemudian
hari perguruan kalian pasti akan jaya kembali."
"Aaai......... tak mampu membalaskan dendam buat
kematian para Sute, Boanpwe betul-betul amat menyesal!"
Tan Tiang-kim menghembuskan napas panjang, selanya,
"Siapa pun tak perlu merasa menyesal, hasil yang
berhasil kita raih pada malam ini sudah cukup besar,
sekarang kita boleh pulang ke rumah."
Pek Hong menjadi tertegun, dia ingin membantah, tapi
segera dicegah oleh Pek Bwe dengan kerdipan mata.
Sepanjang jalan, Pek Bwe tidak berbicara. Seng Tionggak,
Tang Cuan sekalian juga tidak berbicara, mereka balik
ke dalam gedung. Tan Tiang-kim dan Hay Yok-wong menghantar Pek Bwe
sekalian sampai ke ruang dalam, setelah itu Tan Tiang-kim
baru mendehem pelan seraya berkata :
"Hong-titli, kau merasa tidak puas bukan dengan sikapku
yang pulang tanpa membawa hasil apa-apa?"
"Boanpwe hanya merasa sepantasnya kalau kita
melakukan pengejaran, baik buruk kita musti mencari akal
untuk menangkap satu dua orang di antara mereka untuk
mengorek keterangan."
"Sepintas lalu permintaanmu itu seperti masuk di akal,
cuma kalau dipikir lebih ke dalam harapan ini tipis sekali!"
ujar Tan Tiang-kim dengan tersenyum.
"Satu lawan satu tentu susah diwujudkan, tapi kalau kita
bekerja sama untuk mengejar satu sasaran saja, aku
percaya untuk menangkap mereka masih bukan suatu
masalah yang susah."
Tan Tiang-kim segera tertawa, kembali ia berkata :
"Pertama, arah yang mereka ambil sewaktu melarikan
diri sama semua, sudah pasti di sekitar sana telah diatur
persiapan dan jebakan untuk menantikan kedatangan kita,
kecuali Ouyang Siong berempat yang turun tangan di situ
tiada orang lain, ini membuktikan kalau di sekitar sana ada
jebakan. Kedua, sekalipun kita berhasil menang,
kemenangan kita hanya terletak pada kemampuan yang
setingkat lebih hebat, sekalipun mereka kena dipaksa untuk
melanjutkan pertarungan mungkin yang akan terjadi hanya
suatu pertarungan sengit. Aaai! Kehebatan kungfu mereka
berempat sedikit ada di luar dugaanku."
Pek Hong termenung sebentar tanpa berbicara,
kemudian dia hanya manggut-manggut.
Waktu itu, meski ia beranggapan bila meloloskan senjata
mungkin bisa menawan Kiau Hui-nio, tapi setelah sekarang
dipikir kembali, terutama ilmu meringankan tubuh Kiau Huinio
sebelum melarikan diri, ia merasa bicara soal ginkang
dia memang masih belum mampu untuk menyusul orang
lain.. Tan Tiang-kim tertawa, katanya lebih jauh.
"Kalian semua tahu, Kay-pang tersohor dalam dunia
persilatan karena ketajaman mata dan pendegarannya, oleh
karena itu kecuali malam ini juga mereka kabur dari kota
Siang-yang, dengan kemampuan mereka akan tempat
memondok mereka pasti dapat ditemukan oleh anggota
kami." "Seandainya mereka meninggalkan kota Siang-yang?"
tanya Pek Hong tiba-tiba.
"Kalau sampai demikian, persoalan menjadi agak susah,
cuma setelah Ouyang Siong, Lu Peng, serta Kiau Hui-nio
munculkan diri, itu berarti jejak mereka masih bisa dilacaki,
tidak kuatir mereka bisa kabur ke atas langit."
Ia melirik sekejap ke wajah Pek Bwe, kemudian
melanjutkan : "Pek Hong, bagaimana pendapatmu tentang bocah muda
she Ti itu?" "Ilmu kipas Siu-lo-san iya sangat lihay dan hebat, meski
ilmu pedang Tang Cuan mantap dan ketat, bagaimanapun
perubahan dan kelincahan yang dilakukan ternyata masih
berada di bawah lawan."
"Soal ini Tecu juga memahami!" kata Tang Cuan, senjata
lawan seakan-akan bisa menerobos masuk dari setiap celah


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang ada, perubahannya yang begitu gesit lincah sungguh
membuat aku rada kewalahan."
"Tang-ciangbunjin, kau jangan terlalu meremehkan
kekuatan sendiri," kata Hay Yok-wong, "kepandaianmu
yang di tengah kesederhanaan tersembunyi kelincahan
serta ilmu pedang yang mantap dan kuat bau merupakan
suatu kewibawaan sebagai seorang ciangbunjin, sekalipun
orang she Ti itu memiliki banyak kemampuan, tapi kau toh
tetap di atas angin, jika pertarungan itu dilanjutkan sudah
pasti dia akan kehabisan daya."
"Malam ini kita merasa amat tenteram," ucap Tan Tiangkim,
bukan saja kita telah menemukan betapa kuatnya
kekuatan musuh, kita pun membuktikan juga tekat kita
yang kuat." "Tan-cianpwe, aku tahu untuk sesaat memang tak
mampu membalaskan dendam bagi kematian suamiku, tapi
aku tak bisa tidak harus mengerahkan segenap kekuatan
untuk menyelamatkan It-ki," kata Pek Hong.
"Aku dapat memahami perasaanmu, itulah sebabnya aku
si pengemis tua telah memutuskan satu hal."
"Soal apa?" Dengan wajah serius Tan Tiang-kim menjawab :
"Kecuali Pangcu kami dapat menyusul kemari dengan
membawa jago-jago lihay kami, kekuatan yang kita miliki
sekarang hanya bisa dihitung setingkat lebih tangguh dari
pada Ouyang Siong sekalian, masih ada jago macam apa
lagi di pihak lawan" Kita toh tidak tahu, itulah sebabnya aku
si pengemis tua bertekad akan bekerja sama dengan orangorang
Pay-kau." "Bagus sekali," seru Pek Bwe sambil tertawa, "sudah
lama aku tak pernah bersua denganmu, apakah selama
banyak tahun kau tidur di atas gilingan" Kenapa otakmu
juga pandai berputar."
"Pertarungan yang barusan berlangsung telah membuka
jalan pikiranku," ujar Tan Tiang-kim sambil tertawa,
"kenyataannya memang membuktikan bahwa anak-anak
muda yang mulai bermunculan dalam dunia persilatan jauh
lebih tangguh dari kita."
"Itu mah belum tentu, paling tidak namamu toh masih
tercantum di antara jago-jago lihay yang berada dalam
dunia persilatan saat ini."
Tan Tiang-kim menghela napas panjang, katanya lagi :
"Terus terang, aku si pengemis tua belum pernah
menyaksikan sendiri kelihaian dari Tiong-buncu, meski
perkumpulan kami berhutang budi, namun terhadap
masalah itu aku selalu merasa ragu. Tapi malam ini, setelah
kusaksikan sendiri ilmu pedang dari Tang-ciangbunjin,
timbullah perasaan menyesal di hatiku, Tiong-ciangbunjin
ternyata memang benar-benar seorang jago yang tangguh."
Setelah menghembuskan napas panjang, terusnya :
"Saudara sekalian, silakan beristirahat dulu. Siapa tahu
besok pagi kita masih akan melakukan aksi lain, sekarang
aku masih harus berkunjung ke sungai untuk melihat siapa
saja dari Pay-kau yang telah datang, nah aku mohon diri
dulu." Seusai berkata, sambil membalikkan badan ia pergi
dengan langkah lebar. Hay Yok-wong mengikuti di belakangnya, sebelum
beranjak di masih sempat melirik Tang Cuan sekali lagi
dengan sinar mata kagum. Memandang bayangan Tan Tiang-kim dan Hay Yok-wong
yang menjauh, Pek Hong baru berkata :
"Ayah, malam ini kita telah menyia-siakan akan suatu
kesempatan baik, ananda merasa amat sayang dan
kecewa." "Kau harus ingat baik-baik," ujar Pek Bwe, "persoalan ini
tak bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa, pihak lawan
bukan tersiri dari perorangan yang bertujuan membalas
dendam, mereka adalah suatu organisasi, suatu organisasi
yang memiliki kekuatan sangat besar, sampai sekarang kita
hanya berhasil menemukan pinggiran dari organisasi
tersebut, kita belum berhasil menemukan pentolan mereka
yang sebenarnya, seandainya tiada bantuan dari Tan Tiangkim
dan Hay Yok-wong, pertempuran malam ini pun belum
tentu bisa kita pertahankan. Hong-ji, sekarang sudah
terbentang suatu kenyataan buat kita, yaitu dengan
mengandalkan kekuatan kita ayah dan anak, ditambah
Tiong-gak, Tang Cuan, dan Siau-hong sudah tak mungkin
bisa menolong It-ki, juga tak bisa membalas dendam bagi
kematian Ling-kang, kita sangat membutuhkan bantuan
dari pihak Kay-pang dan Pay-kau."
"Locianpwe, Siau-hong mempunyai suatu pendapat,
entah Cianpwe dapat menyetujui atau tidak?" ujar Cu Siauhong
tiba-tiba. "Nak, kau mempunyai pendapat apa" Katakanlah kepada
kami semua." "Boanpwe rasa, tujuan lawan bukan cuma untuk
menghadapi Bu-khek-bun belaka, kita tak lebih hanya
korban mereka yang pertama."
Pek Bwe segera manggut-manggut.
"Oleh karena itu," lanjut Cu Siau-hong, "aku rasa
terbasminya Bu-khek-bun telah memberi tanda bahaya
untuk segenap umat persilatan di dunia ini, membuat
mereka semua merasakan pula ancaman bahaya maut ini."
Sekali lagi Pek Bwe manggut-manggut,
"Jadi maksudmu Nak.......?"
"Oleh karena itu, kami tidak memohon bantuan dari Kaypang
serta Pay-kau, bantuan mereka kepada kita tak lain
adalah membantu mereka sendiri, dalam hal ini aku rasa
orang-orang Kay-pang pasti mengerti, orang-orang Pay-kau
juga mengerti." "Dalam hal ini, aku pikir Tan Tiang-kim maupun Hay Yokwong
telah mempunyai perhitungan dalam hatinya, aku
rasa kita pun tak usah menerangkan terlalu jelas."
--------------------------------------
11 Tiba-tiba paras muka Cu Siau-hong berubah menjadi
amat serius, sepasang matanya memancar keluar sinar
tajam yang berkilauan, katanya kembali :
"Pek-cianpwe, Subo, Seng-susiok, Tang-ciangbunsuheng..........."
Secara beruntun ia menyebut nama semua orang yang
hadir, ini membuat mereka tertarik pula oleh keseriusan
wajahnya, sorot mata semua orang segera dialihkan ke
wajah Cu Siau-hong. "Inilah awal dari suatu pertumpahan darah, musnahnya
Bu-khek-bun telah memancing kesiap siagaan Kay-pang
dan Pay-kau, dalam menanggulangi masalah ini, sekaligus
Kay-pang telah mengutus dua orang Tiang-lonya untuk
menyusul ke Siang-yang, ini membuktikan kalau mereka
telah memandang seriusnya persoalan. Ouyang Siong mainmain
jadi sungguhan, sekarang bukan saja markasnya
ketahuan, rencana mereka juga konangan, masalah yang
seharusnya terbatas dalam pertikaian antara Bu-khek-bun
dengan mereka, kini telah memancing perlawanan dari
segenap umat persilatan di dunia ini."
"Masuk di akal sekali perkataanmu itu Nak!" puji Pek
Bwe. "Dalam keadaan seperti ini, bila kita mohon kepada
mereka untuk sepenuh tenaga menolong It-ki-sute, aku
pikir harapan kita ini belum tentu terpenuhi, sebab
ibaratnya permainan catur, It-ki-sute tak lain adalah salah
satu biji catur dalam permainan tersebut."
Pek Hong menghela napas sedih, titik air mata meleleh
keluar membasahi pipinya.
"Sute tak boleh mempunyai jalan pikiran demikian,"
protes Tang Cuan, "Suhu hanya mempunyai seorang
putra........." "Ucapan Ciangbun-suheng memang benar, kalau kita
pandang semua permainan tersebut, It-ki-sute tak lebih
cuma sebiji bidah yang hendak dikorbankan, tapi bagi kita
dia bukan saja Sute kita, dia adalah satu-satunya keturunan
Suhu kita, persoalan ini penting sekali artinya, kita tak
dapat mengharapkan bantuan orang, maka kita harus turun
tangan sendiri." "Nak, dalam hal ini aku sudah menduga, tapi bagaimana
caranya untuk turun tangan" Kita sama sekali tak tahu It-ki
sesungguhnya disekap di mana?"
"Sekalipun tahu, kita juga belum tentu bisa
menyelamatkan jiwanya....."
"Siau-hong, sekalipun tak bisa, kita juga musti berusaha
dengan sepenuh tenaga!" sambung Pek Hong.
"Benar! Untuk menolong It-ki-sute, kita memang harus
berjuang dengan sepenuh tenaga, tadi di kala Sunio sedang
bertarung sengit, Tecu tidak turun tangan karena Tecu
sedang berpikir bagaimana caranya untuk menolong Sute,
untung saja sekarang aku bisa memperoleh sedikit
gambaran, Tecu dapat menemukan suatu cara yang
baik........" "Bagaimana caranya" Cepat katakan!" buru-buru Pek
Hong menyambung. Cu Siau-hong tertawa ewa, dia lantas membeberkan
suatu cara pertolongan yang bagus.
Ucapan itu diutarakan dengan suara lirih, tapi semua
orang mendengarkan dengan seksama dan penuh
perhatian, sehingga tanpa disadari terciptalah suatu
ketegangan yang luar biasa.
Ketika selesai mendengarkan rencana tersebut, tiba-tiba
Pek Hong menghela napas panjang, katanya :
"Tidak bisa, Siau-hong! Aku tak bisa membiarkan kau
menyerempet bahaya."
"Sunio, inilah satu-satunya cara yang kita miliki....." Cu
Siau-hong mencoba untuk meyakinkan.
"Tidak! Lebih baik It-ki yang berkorban, daripada
menceburkan dirimu ke dalam perangkap."
"Dalam setiap pertempuran nyawa kita sama saja
terancam oleh mara bahaya, malah ancam bahaya tersebut
jauh lebih besar daripada gerakan yang Tecu rencanakan
ini." "Siau-hong!" kata Pek Bwe pula, "aku sangat kagum
terhadap keberanianmu, cuma persoalan ini menyangkut
soal mati hidup, apalagi kau pun telah bersua muka dengan
mereka......" "Itulah sebabnya, kita harus menciptakan seorang Cu
Siau-hong yang lain...."
Pek Bwe tertawa getir, katanya :
"Siau-hong, sulit rasanya untuk melaksanakan rencana
ini, siapa yang bisa menyaru menyerupai dirimu, apalagi
membuat mereka mempercayainya......"
"Bukan saja orang lain harus percaya, lagi pula kalian
juga harus menunjukkan sikap seakan-akan percaya, kalau
bisa carilah waktu yang cocok untuk menampakkan diri!"
"Soal ini rasanya sulit untuk dilakukan!" Pek Bwe tetap
menggelengkan kepalanya sambil mengeluh.
"Tecu mempunyai sebuah usul bagus, cuma kurang enak
diutarakan jadi aku tak berani untuk mengucapkannya."
"Siapa orang yang kau maksud?"
"Subo!" "Aku bisa?" seru Pek Hong, "perawakanku lebih pendek
sedikit dari padamu."
"Soal itu bisa dicarikan akal persoalannya, sekarang
siapa yang akan menyaru menjadi Subo?"
Pek Bwe termenung sebentar, lalu jawabnya,
"Soal itu sih bisa dicarikan orang lain yang kebetulan
dengan Subomu, kita bisa memakai alasan karena sedih
memikirkan putranya, dia menjadi sakit dan tak bisa
bangun." "Jika Subo bisa menyetujui usul ini, Tecu merasa
semakin yakin lagi, meski tak berani kukatakan pasti
menolong Sute, paling tidak inilah satu-satunya
kesempatan kita." "Dengan berbuat demikian, kita pun bisa meraba
kekuatan pihak lawan," Pek Bwe menambahkan.
"Mereka tak akan mengira kalau Subo bakal menyaru
sebagai Tecu, kalau Subo kerap kali menampilkan diri,
sedikit banyak pasti dapat melenyapkan kecurigaan mereka
terhadap Tecu." "Siau-hong, aku tetap beranggapan bahwa cara ini
kelewat berbahaya!" kata Pek Hong.
"Kalau tidak masuk ke sarang harimau, mana mungkin
bisa mendapatkan anak macan" Subo, kenapa tidak aku
bayangkan bahwa rencana Tecu ini cukup sempurna dan
sangat menguntungkan kita, meski tampaknya berbahaya,
sesungguhnya aman sekali."
Pek Hong membungkam dan tidak banyak berbicara lagi.
"Siau-hong, bagaimana kalau kutemani dirimu?" sela
Seng Tiong-gak. "Terima kasih Susiok, kita harus meninggalkan kekuatan
di tempat ini, dalam pertarungan tadi, kita telah
memperlihatkan ilmu pedang Bu-khek-bun yang tangguh,
ini menyebabkan Tan-tianglo berdua mempunyai
pandangan yang berbeda atas kemampuan kita, betul
kekuatan Bu-khek-bun cuma beberapa gelintir orang, tapi
setiap orang justru memiliki dasar kekuatan yang dalam
serta ilmu silat yang tinggi."
Seng Tiong-gak manggut-manggut :
"Aku telah menyaksikan kepandaian kita, kalau itulah
yang dimaksudkan sebagai ilmu silat kelas satu, maka kita
murid-murid Bu-khek-bun masih termasuk dalam
hitungan." "Siau-hong, apakah kau sudah bertekad akan pergi?"
tiba-tiba Pek Hong bertanya.
Cu Siau-hong mengangguk. "Tecu telah bertekad untuk pergi, semoga Subo bersedia
untuk mengabulkan." "Ayah, bagaimana pendapatmu?" tanya Pek Hong
kemudian kepada Pek Bwe. "Aku pikir kecerdasan Siau-hong jauh di atas kita semua,
apa yang telah diputuskan olehnya biarlah dia lakukan."
"Baiklah!" akhirnya Pek Hong setuju juga.
"Subo, kau telah menyetujui?"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pek Hong manggut-manggut.
Cu Siau-hong segera membalikkan badan tiba-tiba
berlutut di hadapan Tang Cuan, katanya :
"Harap Ciangbun-suheng suka mengijinkan."
Buru-buru Tang Cuan membimbingnya bangun, katanya
: "Hayo bangun, bangun, kalau ada urusan kita rundingkan
secara baik-baik, mana boleh sembarangan berlutut?"
"Kepergian Siaute kali ini entah sampai kapan baru akan
kembali, keselamatan Subo harap Suheng baik-baik
melindunginya." "Siau-hong!" seru Pek Hong, "kau......"
"Subo!" tukas Cu Siau-hong, "berhasil menyusup ke
tubuh lawan, bagaimanapun juga Tecu akan menyelidikinya
sampai jelas dan menolong jiwa Sute."
"Siau-hong, demi It-ki rasanya kau tak usah
menyerempet bahaya......"
"Subo, bila kau berkata lebih lanjut, Tecu merasa malu
untuk berdiri di sini lagi......."
Setelah mengalihkan sorot matanya ke wajah Pek Bwe,
dia melanjutkan : "Locianpwe, kalau bisa rencana Siau-hong ini
dirahasiakan pula terhadap Tan dan Hay dua orang
Locianpwe?" "Untuk mengelabui mereka berdua, rasanya tidak
gampang, aku lihat lebih baik kita berterus terang saja
kepada mereka, agar mereka membantu secara diamdiam........"
Sesudah menghembuskan napas panjang, katanya lebih
lanjut : "Siau-hong, legakan hatimu, persoalan di sini, kami bisa
mengaturnya secara baik-baik."
"Kalau begitu, Siau-hong mohon diri lebih dulu, jangan
lupa aku bernama Lim Giok," kata Cu Siau-hong sambil
menjura. Setelah membalikkan badan, ia berlalu dari situ.
Memandang kepergian anak muda itu, Tang Cuan
berbisik dengan lirih : "Suatu gerakan tubuh yang sangat cepat, Siau-hongsute,
baik-baiklah menjaga diri!"
Sebagai seorang yang serius dan keren, di hari-hari biasa
ia jarang tertawa atau bergurau, tapi hati kecilnya bukan
tak berperasaan, cuma perasaan yang tersimpan di hatinya
tidak gampang terlihat dari luar.
Sebenarnya Pek Bwe hendak menegur dia agar jangan
gegabah, tapi sinar matanya segera menangkap wajah Tang
Cuan yang telah dibasahi oleh air mata.
Terpaksa ia menahan diri dan menelan kembali katakatanya.
Pek Hong menghembuskan napas panjang, katanya,
"Ayah, aku merasa sangat kuatir! Siau-hong masih
seorang anak, ia belum pernah melakukan perjalanan
dalam dunia persilatan."
"Hong-ji, justru karena ia belum pernah melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan, maka Ouyang Siong
baru bisa dikelabui, tak usah menguatirkan Siau-hong,
kecerdasan bocah ini jauh melebihi kemampuan kita
semua......" "Ayah, aku merasa diriku terlalu egois, lantaran It-ki,
ternyata aku menyetujui keinginan Siau-hong untuk
menyerempet bahaya."
"Subo, jangan menyalahkan diri sendiri," hibur Tang
Cuan pula, "aku dapat melihat kebulatan tekad Siau-hongsute,
sekalipun Subo tidak setuju, ia bisa jadi pergi tanpa
pamit." Sementara itu, sepeninggal Cu Siau-hong dari gedung
tersebut, dia langsung menuju ke sebuah rumah
penginapan. Setelah menghitung-hitung saat pertemuannya dengan
Ouyang Siong, ia merasa masih ada waktu selama tiga hari,
sekalipun bisa ke sana sehari lebih awal, itu pun masih dua
hari kemudian. Selama beberapa hari belakangan ini dalam kota Siangyang
telah terjadi banyak peristiwa aneh, sekilas pandangan
semua persoalan itu seakan-akan tiada sangkut pautnya
dengan mereka. Maka persoalan pertama yang dipikirkan Cu Siau-hong
adalah si nona baju hijau yang pernah dijumpainya dalam
loteng Wong-kang-lo, persoalan itu agaknya berdiri sendiri,
tapi waktu terjadinya justru hampir bertepatan dengan
kejadian yang lain. Selain dari pada itu, seorang gadis yang duduk di loteng
yang ramai untuk menantikan kedatangan orang pada
jaman itu masih merupakan berita yang aneh sekali.
Maka dengan perasaan yang terheran-heran dan ingin
tahu, Cu Siau-hong memutuskan untuk memanfaatkan sua
hari yang tersisa untuk menyelidiki persoalan itu lebih dulu.
Setelah tidur semalam dengan nyenyak, Cu Siau-hong
tampak lebih gagah dan segar.
Ia pun menyaru dirinya menjadi Lim Giok, tapi baju Kaypang
dilepas dan diganti dengan satu setel jubah panjang
berwarna biru. Perbedaan antara Cu Siau-hong dengan Lim Giok bukan
terletak pada raut wajahnya, betul ada perbedaan namun
kecil sekali, meski begitu dengan dasar ilmu menyarunya
yang lihay dan kecerdasan otaknya, walau hanya suatu
penyaruan yang sederhana, dengan dilenyapkannya ciri-ciri
khas dari wajah Cu Siau-hong, maka berubahlah dia
menjadi Lim Giok. Penyaruan yang sederhana tidak melenyapkan
kegantengan maupun kegagahannya, tapi dari Cu Siauhong
ia telah merubah dirinya menjadi Lim Giok yang
hidup. Cu Siau-hong yang angkuh dan tinggi hati segera
berubah menjadi Lim Giok yang binal.
Kalau berbicara soal ini, maka si Dewa Pincang Ui Thong
adalah orang yang paling berjasa, dia telah memberi
banyak petunjuk kepada Cu Siau-hong mengenai ilmu
merubah wajah, ibaratnya melukis naga memberi mata,
hanya suatu perubahan yang sederhana bukan saja telah
merubah bentuk muka seseorang, lagi pula merubah pula
watak seseorang. Ini ditunjang pula oleh kecerdasan Cu Siau-hong, ia
memang memiliki kemampuan yang hebat, setelah berubah
menjadi Lim Giok, ternyata ia dapat melupakan tabiatnya
sebagai Cu Siau-hong. Ia dapat menyelami manusia macam apakah Lim Giok
itu, sebagai seseorang yang bisa mengkhianati Kay-pang
demi kepentingan pribadi, jelas orang semacam ini bukan
seorang enghiong, bukan seorang lelaki sejati, bisa jadi
manusia semacam itu adalah seorang manusia munafik
yang terlalu mementingkan diri sendiri.
Ia becermin di depan kaca sambil memperhatikan raut
wajah baunya itu dengan seksama, memang bukan suatu
pekerjaan yang gampang menjiwai peranannya sebagai
manusia yang bernama Lim Giok itu.
Dia harus membawakan seorang yang ganteng, pintar
tapi agak tidak genah dan lagi sangat egois.
Tengah hari itu, Cu Siau-hong muncul di atas loteng
Wong-kang-lo. Rumah makan Wong-kang-lo adalah rumah makan yang
paling besar dan paling tersohor di kota Siang-yang, apa
lagi pada jam-jam sibuk seperti ini, hampir semua tempat
duduk terisi. Tapi nona berbaju hijau itu sudah tidak nampak lagi
batang hidungnya. Setelah mendapat tempat duduk kosong, ia
mengeluarkan sekeping uang perak, lalu sambil menggape
ke arah pelayan, katanya :
"Buatkan empat macam sayur, poci arak wangi, uang
sisa boleh untukmu......"
Dengan cepat pelayan itu membayangkan keuntungan, ia
tahu kepingan perak itu paling tidak tiga tahil lebih, itu
berarti uang tip baginya masih ada dua tahil lebih,
senyuman lebar segera menghiasi wajahnya, serunya
berulang kali. "Koan-ya, terima kasih banyak atas pemberianmu."
Tampaknya Cu Siau-hong sangat memahami arti
kegunaan uang. Setelah menghembuskan napas panjang, dengan suara
lirih ia berkata lagi : "Pelayan, aku ingin mencari satu keterangan darimu,
apakah kau bersedia membantu."
Sambil mengangkat poci air teh dan memenuhi cawan Cu
Siau-hong, pelayang itu segera bertanya :
"Koan-ya, kau ingin bertanya apa?"
"Kemarin, bukankah rumah makan kalian kedatangan
seorang tamu perempuan.........."
"Kau maksudkan si nona berbaju hijau pupus itu?" tanya
si pelayang sambil meletakkan kembali pocinya.
"Benar, orang itu yang kumaksudkan!"
"Ia duduk terus di sini sampai menjelang magrib,
seorang kakek telah membawanya pergi."
"Apakah orang yang ia tunggu telah datang?"
"Agaknya belum," jawab pelayan itu sambil menggeleng.
Cu Siau-hong segera mendorong uang perak itu ke
hadapannya. "Nah, ambillah."
Setelah menerima uang perak itu, pelayan tersebut
berbisik lagi. "Koan-kek, nona berbaju hijau itu adalah seorang yang
cacat!" "Cacat?" ulang Cu Siau-hong tertegun.
"Yaa, kaki sebelahnya pincang."
"Apakah semua tamu di loteng ini tahu?"
Pelayan itu segera menggeleng.
"Tidak! Tampaknya tidak banyak orang yang mengetahui
hal ini," setelah berhenti sejenak dia melanjutkan :
"Sedang kakek tersebut agaknya adalah Yayanya,
sewaktu membimbing turun dari loteng, kebetulan hamba
berdiri di ujung loteng, maka semua kejadian bisa kuikuti
dengan jelas." "Oooh!" "Kongcu meski pengkor, nona itu punya muka berbentuk
bulat telur, dia memang cantik sekali."
Seusai berkata, pelayan itu segera membalikkan badan
dan berlalu dengan langkah cepat.
Tak lama kemudian, sayur dan arak telah dihidangkan.
Selesai bersantap, Cu Siau-hong bersiap-siap
meninggalkan tempat itu, saat itulah dari balik loteng
muncul dua orang manusia.
Paras muka kedua orang itu sangat asing, tapi Cu Siauhong
yakin kalau mereka adalah jago-jago persilatan.
Walaupun kedua orang itu memakai jubah panjang dan
berdandan sebagai saudagar, namun sepasang mata
mereka memancarkan sinar yang sangat tajam, jelas
tenaga dalam mereka sudah mencapai taraf yang
sempurna. Menyaksikan hal itu, diam-diam Cu Siau-hong berpikir,
"Kalau tidak berusaha untuk menyembunyikan sinar
mata yang tajam, menyaru sebagai apapun percuma, toh
rahasia dirinya tak berhasil disembunyikan."
Sesudah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kedua orang tadi berjalan mendekat.
Sangat kebetulan ternyata mereka duduk di meja yang
dekat sekali dengan Cu Siau-hong.
Dalam keadaan demikian, walaupun Cu Siau-hong
memandang cawan arak di hadapannya, diam-diam ia
pasang telinga untuk memperhatikan pembicaraan yang
sedang berlangsung. Pembicaraan yang dilangsungkan kedua orang itu sangat
lirih, tapi setelah Cu Siau-hong memperhatikan dengan
seksama ia masih sanggup menangkap pembicaraan
tersebut. Terdengar orang yang di sebelah kiri berkata :
"Saudara Oh, aku lihat budak itu tak bakal datang lagi."
"Alah, bagaimana juga sembari makan kita bisa
menunggu di sini, soal mau datang atau tidak toh bukan
soal yang penting." "Aku sudah mendengar suatu berita, katanya budak itu
pincang sebelah kakinya," kata orang di sebelah kiri sambil
tertawa. Pelan-pelan Cu Siau-hong meneguk secawan arak,
pikirnya dalam hati : "Rupanya kedua orang ini pun datang untuk mencari si
nona berbaju hijau itu."
Sementara itu, orang yang di sebelah kiri telah
memanggil datang si pelayan.
Ketika Cu Siau-hong melirik ke sana, tampak orang itu
sedang menyusupkan sekeping uang perak ke tangan
pelayan itu. Kemudian Cu Siau-hong mendengar pelayang itu
mengulangi kembali apa yang telah disampaikan kepadanya
tadi. Cu Siau-hong segera berpikir,
"Orang bilang kusir kereta, kelasi di perahu, kuli kasar,
pelayan dan hamba negara yang paling licik, tampaknya
ucapan itu ada benarnya juga, cukup berbicara soal nona
baju hijau itu, entah berapa uang yang berhasil diraih
pelayan ini?" Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya,
tiba-tiba ia merasa pandangan matanya menjadi silau,
seorang nona berbaju hijau sedang pelan-pelan berjalan
mendekat. Tangan kanannya merangkul di atas bahu seorang nona
baju biru yang berambut dikepang dua, langkahnya lambat
sekali. Gaunnya yang panjang dan berwarna hijau menutupi
sepasang kakinya, ini membuat orang sulit untuk
mengetahui apakah dia itu cacat atau tidak........
Nyonya setengah umur yang menemaninya semalam,
hari ini tidak turut muncul, tapi sebagai gantinya adalah


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang pelayang yang sangat muda tersebut.
Buru-buru pelayan itu maju menyambut kedatangannya,
"Nona, silakan duduk kemari!" katanya.
Rupanya dari tangan si nona berbaju hijau ini dia berhasil
pula mendapatkan untung banyak uang. Itulah sebabnya
ketika kemunculan si nona itu, seakan-akan menyambut
kedatangan seorang dewa harta saja.....
Nona berbaju hijau itu tertawa ewa, katanya :
"Aku masih menginginkan tempat dudukku yang kemarin
itu!" Pelayan itu segera berpaling, dijumpainya tempat duduk
itu sudah ditempati dua orang, seorang tua yang lain muda.
Tapi teringat bahwa nona baju hijau itu mungkin akan
menghasilkan beberapa tahil perak lagi baginya, dengan
cepat pelayang itu menjura seraya berkata,
"Harap nona tunggu sejenak lagi, akan kurundingkan
dengan orang itu...."
Kemarin, nona berbaju hijau itu selalu memalingkan
sebagian besar wajahnya keluar jendela, Cu Siau-hong tak
sempat melihat raut wajahnya dengan jelas.
Tapi sekarang, ia menghadap ke dalam ruangan, maka
sebagian besar tamu yang duduk dalam ruangan itu dapat
menyaksikan potongan wajahnya itu sangat terang.
Itulah seraut wajah yang sangat cantik dan menarik,
ibaratnya bidadari yang turun dari kahyangan, sungguh
mempesonakan hati siapa pun juga....
Pelayan itu betul-betul sangat lihay, dengan dua tiga
patah kata ternyata ia berhasil juga membujuk kedua orang
tamu itu untuk pindah ke meja lain.
Sambil mempersilakan nona berbaju hijau itu duduk,
pelayang itu mengeluarkan kain lap dan membersihkan
meja. Gerak-geriknya sangat cepat, ketika si nona berbaju
hijau itu telah tiba di depan meja, pelayan itu pun telah
selesai membersihkan mejanya.
Pelan-pelan nona berbaju hijau itu menarik kembali
tangan kanannya yang bersandar pada bahu dayang
tersebut, kemudian bisiknya dengan lirih :
"Gin-kiok, hadiahkan selembar daun emas kepadanya!"
Gin-kiok mengiakan, dari sakunya ia merogoh keluar
Bloon Cari Jodoh 8 Balada Pendekar Kelana Karya Tabib Gila Anak Harimau 11
^