Pencarian

Jurus Tanpa Bentuk 4

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira Bagian 4


kerahasiaan anggota jaringan
ini terbongkar karena terdapatnya rajah cakra tersebut -dan ini membuat kewajiban
memberi tanda rajah cakra pada tubuh anggotanya dihapus,
meskipun sebuah upacara konon tetap dilangsungkan bagi
pelantikan anggotanya. Di puncak tebing, orang-orang mulai berdatangan, aku
sempat memeriksa pisau yang menancap itu, dan sekali lagi
tertegun. Ini bukan sembarang pisau yang bisa dibeli dari
seorang pandai besi. Ini jelas pisau yang dibuat atas pesanan,
tepatnya dibuat untuk seseorang yang tertentu, bahkan juga
untuk suatu cara penggunaan tertentu.
Aku harus segera pergi. Tak tahu mesti merasa menyesal
atau tidak telah mengalami kejadian ini. Aku merasa tugasku
bahkan sama sekali belum dimulai, yakni mencatat segala
sesuatu yang memperjelas keadaan, sehingga aku mengetahui
kenapa negara sampai menawarkan hadiah 10.000 keping
emas untuk memburuku. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Segala sesuatunya terselubung kabut. Segala sesuatu yang
kujumpai semenjak keluar dari gua berhubungan dengan
kerahasiaan. Semula aku menduga yang memburuku ke dalam
gua adalah Kalapasa-tetapi perpecahan di dalamnya membuat
aku tak bisa memastikan apapun juga. Pengamatanku atas
sikap pengawal rahasia istana yang telah menahan dan
melepasku, lantas membuntuti aku, juga tidak memberi
peluang bahkan sekadar untuk menduga apapun juga, karena
pengetahuanku tentang agen rahasia ganda dari Arthasastra
membuat aku harus menunda setiap kesimpulan yang
tampaknya meyakinkan. Sementara para pembunuh bayaran,
yang semuanya tak ada yang terlalu tua, belum kuketahui
caranya mendapatkan selebaran lontar bergambar diriku, tapi
jelas hanya mengenalku sebagai penyebar ajaran rahasia dari
aliran sesat yang tidak pernah jelas adanya.
Kemudian pagi ini kutemukan rajah penanda Cakrawarti,
jaringan rahasia golongan hitam yang telah mengakar
bersama dengan pasang surutnya berbagai kerajaan di
Yawabumi bagian tengah maupun timur. Aku tidak
mempertanyakan apakah kehadiran Cakrawarti ada hubungannya dengan diriku-yang menarik bagiku adalah
kenapa justru anggota Cakrawarti yang terkenal cermat dan
hati-hati itu, yang berhasil dipergoki dan dibunuh pada malam
buta" Dari suhu tubuh dan keringnya darah kuperkirakan ia
sudah tewas sejak lama. Tak ada lagi orang ke sungai setelah
matahari terbenam. Namun kurasa aku harus menahan diri
untuk tidak terjebak dalam lingkaran setan penyidikan.
Satu hal bisa kupastikan. Zaman telah berubah, Cakrawarti,
Kalapasa, pengawal rahasia istana, agen rahasia ganda, para
pembunuh bayaran, semuanya bagaikan bisa digerakkan oleh
pesona kekuasaan dan harta, berikut segala pernik yang
mengikutinya, dan itulah bedanya dengan para pendekar
dunia persilatan-di sungai telaga para pendekar hanya peduli
kepada pencapaian kesempurnaan ilmu sahaja. Hidup boleh
melarat, tak berumah ibarat pengembara hina dina,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
takberkeluarga dan takberkekasih, hanya demi pemahaman
yang lebih baik tentang dunia melalui ilmu s ilatnya.
Tentu adalah para pendekar silat itu juga yang telah
menjadi murtad, menjual kepandaian demi kemewahan dunia
yang seolah akan bisa mereka dapatkan dengan begitu
mudahnya, meski ternyata persaingan, tak lebih dan
takkurang, juga takjarang mengakibatkan tercerabutnya
nyawa mereka. Maka, manakah yang lebih baik kiranya, mati
demi sebuah tujuan mulia ataukah karena gagal dalam
perebutan kuasa" Aku berkelebat menjauh, untuk kembali lagi bersama
kerumunan orang-orang. Setelah para gramanam menggeledah, ternyata ia juga membawa lembar lontar
bergambar diriku sebelum aku menyamar dengan tulisan yang
sama: hadiah 10.000 keping emas bagi yang berhasil
membunuh Pendekar Tanpa Nama.
(Oo-dwkz-oO) AKU merasa cukup tenang sebagai pembuat lontar.
Setidaknya aku tidak harus selalu memanfaatkan ilmu silatku,
karena dalam dunia persilatan hampir setiap kali aku bergerak
saat itu juga berarti nyawa terbuang tanpa manfaat yang
jelas. Bagi yang tewas barangkali itulah kematian yang
bermakna, tapi bagiku kemenangan telah kehilangan artinya
sama sekali-meski aku belum putus asa: Sebenarnyalah lawan
yang tangguh masih kutunggu.
Namun tidakkah siapa pun mereka yang memanfaatkan
dan mengorbankan namaku, bagaikan membunuh jiwaku
tanpa harus membunuhku, merupakan lawan yang seharusnyalah kuanggap lumayan tangguh, bukan hanya
karena sulit dicari, melainkan karena caranya bertempur yang
kemungkinannya tidak pernah kusadari"
Itulah sebabnya aku merasa harus lebih sering menahan
diri. Dalam dunia persilatan kami memang juga dilatih untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menahan diri, tetapi demi kepentingan yang berbeda sama
sekali, yakni menungggu kesempatan terbukanya kelemahan
lawan. Dalam pertempuran penuh tipu daya seperti yang kualam i
ini, ketika diriku bagaikan diciptakan kembali sebagai manusia
penyebar aliran sesat, dengan nama dan gambar tertera pada
selebaran lontar yang pasti banyak sekali jumlahnya, serta
beredar sebagai cerita dari mulut ke mulut karena dipicu
dongeng wayang topeng, aku sungguh takterlatih sama sekali
untuk menghadapinya. Aku pun yakin, pembunuhan namaku
juga disebarkan dengan giat dari kedai yang satu ke kedai
yang lain, cara terbaik untuk dengan sengaja menyebarkan
pengetahuan yang salah. Begitulah setelah menyelam sebentar ke sungai, dan
meloncat ke atas setinggi pohon kelapa sembari memutar
tubuh seperti baling-baling, selesailah sudah mandiku"tubuh
yang basah langsung kering berikut pakaian yang kukenakan.
Tentu takseorangpun boleh mengetahui cara mandi seperti
itu. Seperti juga tak seorang pun boleh mengetahui bagaimana
aku melatih ilmu meringankan tubuhku di atas sungai, dengan
berlompatan dari batu ke batu, dari daun mengambang yang
satu ke daun mengambang yang lain, sampai apapun yang
mengapung dan bisa diselancari bagaikan aku bisa berjalan di
atas air. Meski sudah berilmu setinggi langit, seorang
pendekar harus selalu menjaga kemampuannya, karena lawan
hanya perlu kelengahan sejenak saja untuk melesatkan jarum
beracun, agar menancap di lehernya.
Makanya aku selalu mengambil waktu sepagi mungkin. Hari
ini termasuk kesiangan, karena aku telah bekerja sampai larut,
yakni menuliskan di atas lontar yang kubuat sendiri itu. Dari
setiap seratus lontar yang kubuat, selalu kuambil sepuluh
lembar untuk diriku sendiri, karena aku merasa perlu menulis
untuk menguraikan segala sesuatu yang kupikirkan. Kusadari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bahwa usia seratus tahun bukan tidak berpengaruh kepada
ingatanku -jadi aku merasa perlu mencatat apa pun yang
kurasa penting untuk diingat dan berkemungkinan untuk
kulupakan dalam perjalanan waktu. Selain itu, entah kenapa
juga muncul suatu keinginan memberitahukan sesuatu kepada
siapa pun, meski jika hanya kebetulan membacanya.
Sebagai orang yang merasa telah difitnah dan diperburuk
namanya aku mempunyai perasaan ingin membela diri, bukan
dengan cara kekerasan seperti yang biasa berlaku dalam dunia
persilatan, yang akan membuat tuduhan apa pun seperti
mendapat pembenaran, tetapi dengan cara yang tidak bisa
dibantah lagi dalam zamanku, yakni ditulis dengan huruf dan
kata-kata yang jelas. Bahkan aku berharap bahwa yang kutuliskan itu akan
menjadi saksi seterusnya dari zaman ke zaman, betapa tulisan
para empu dalam naskah dan catatan resmi negara dalam
prasasti bukanlah satu-satunya kebenaran yang menentukan
segala acuan. Tentu aku juga bertanya kepada diriku sendiri, be perlukah
keberadaan dan apapun yang kuanggap seba ketidak
bersalahan diriku itu kutonjolkan, bah tertuliskan dan bertahan
dari zaman ke zaman" Tidak Buddha mengajarkan segala
sesuatu te ntang ti mementingkan diri sendiri dan juga te
rutama tent kemampuan menahan diri" Tepatnya, te ntu,
apakah y akan menjadi kurang dari diri ku ji ka kulupakan s
semua ini, pergi jauh ke sebu a h tempat yang le tersembunyi
lagi, dan tenggel am saja dalam medita Bagaimana jika diriku
ini tid ak usah kuanggap ter penting" Nah, jadi apakah y ang
boleh dianggap pentin dunia ini"
Ketika menciptakan Jurus Tanpa Bentuk, aku teringat
Nagasena, salah seorang murid Buddha yang pertama, ketika
ditanya tentang bentuk rupa Nirwana. Demikianlah dikisahkan
betap a ia kembali bertanya.
"Apakah angin itu ada, wahai Bapak."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tentu ad a, wahai Nagasena yang terhormat."
"Kalau begitu tolong Bapak tunjukkan, seperti apakah
warna dan bentuk angin itu, tipiskah, tebalkah, panj angkah,
atau pendekkah?" "Tidak mungkin saya menunjukkan angin itu, Nagasena
yang terhormat, tetapi angin itu pasti ada."
Maka Nagasena pun berkata lagi.
"Begitu pula dengan Nirwana."
Aku tidak menyamakan Jurus Tanpa Bentuk dengan
Nirwana -selain menyampaikan betapa pandangan dan
falsafah dalam perbincangan keagamaan sebetulnya mungkin
mengembangkan ilmu persilatan. Namun lebih dari itu, juga
ingin kutunjukkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang
bersifat jasmani memang merupakan belenggu. Aku tidak
sependapat dengan banyak guru agamaku, bahwa tubuh
tidaklah penting, tetapi aku mengakui kebenaran Buddha,
yang berkata: kebahagiaanlah ya kebahagiaanlah Nirwana itu wahai para sahabatku Tidakkah itu berarti bahwa aku harus melampaui
keterbatasan pikiran, akal, perasaan, dan kehendak, untuk
mencapai tujuan -yang bahkan juga tiada dapat dibayangkan
sekarang juga. Kebahagiaan adalah pelampauan dari segala
keterikatan dan keterbatasan.
Namun apalah artinya Upacara Pembuka Mata, jika tidak
untuk mencerahkan dunia" Dari masa mudaku, dari salah satu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
guruku yang banyak itu, yang kudatangi satu persatu dari kuil
ke kuil, dari gua ke gua, seperti Arjuna yang dibimbing Wisnu,
ada yang mengutip Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana :
kerjakanlah dari saat ini
pemutaran dharmacakra dari Bhatara Sri Vajradara
ke arah segala makhluk buatlah ajaran itu tanpa habisnya
mengisi, membanjiri, memenuhi
sepuluh penjuru dunia sampai terisi suara terompet dharma
yang terbuat dari sangkha
jangan ragu-ragu hilangkan risau dari pikiranmu
Dharmacakra adalah roda dharma yang sering dipaham i
sebagai roda ajaran, karena dianggap ada pemutaran ajaran-
ajaran Buddha, yang ditafsirkan secara berbeda. Mulai dari
turunnya ajaran yang tiga kali, sampai peringkat ajaran itu
sendiri dalam pencapaian kebuddhaan -tetapi aku telah selalu
memanfaatkan penafsiran yang manapun untuk menyusun
rangkaian jurus -jurus persilatan. Kenapa" Karena seperti
orang-orang persilatan lain aku mempercayai ilmu silat
sebagai cara mencapai kesempurnaan hidup, yang hanya
dapat diuji dengan mengadunya kepada ilmu silat yang lain.
Dalam hal dharmacakra aku telah mendengar setidaknya
dua penafsiran dari beberapa guru -dan dari dua penafsiran
itu telah kukembangkan sejumlah jurus indah yang telah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengundang decak kagum bila kuperagakan tanpa sengaja
dalam pertarungan. Jurus -jurus itu telah kugambar urutannya semua di atas
lembar-lembar lontar selama tinggal di dalam gua, dan
sekarang menumpuk di sana pada judul Jurus-Jurus
Dharmacakra, tetapi aku merasa perlu juga menuliskan
bagaimana aku telah menafsirkan ajaran tentang kehidupan
menjadi jurus -jurus ilmu silat. Adapun dua penafsiran tentang
ajaran itu sebagai berikut. Inilah yang pertama.
Pemutaran pertama (parivarta) kebenaran tertinggi adalah
melalui penglihatan (darsanamarga) yang terbagi dalam
empat akara (1) penderitaan (idam dukhkham);
(2) penyebabnya (ayam samudayah);
(3) penanggulangannya (ayam nirodhah);
(4) cara penanggulangannya (iyam duhkhanirodhagami-
nipratipat). Pemutaran kedua melalui meditasi (bhavanamarga) yang
terbagi empat akara (1) kebenaran tertinggi akan penderitaan harus disadari


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

(duhkham aryasatyam parijneyam);
(2) penyebab penderitaan harus diakhiri (duhkhasamu-
dayah-prahatavyah); (3) penderitaan harus diakhiri (duhkhanirodhah saksat-
kartavyah); (4) cara untuk mengakhiri penderitaan harus dilaksana- kan
(duhkhanirodhagamini pratipad bhavitavya).
Pemutaran ketiga dari Arhat (asaiksamarga) yang ter- bagi
empat akara (1) penderitaan telah diketahui
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
(2) sebabnya telah dihancurkan (samudayah prahinah);
(3) penghancuran telah dilaksanakan (nirodhah saksat
rtah); (4) cara penghancuran telah dilaksanakan (duhkhaniro-
dhagamini pratipad bhavita).
Kemudian inilah penafsiran tentang Dharmacakra yang
kedua. Jika yang pertama tadi ketiga pemutaran dihubungkan
dengan Sang Buddha yang tiga kali menurunkan ajarannya,
yang kedua berhubungan dengan pencapaian Kebuddhaan,
seperti dilaksanakan (yana) oleh Sravaka, Pratyekabuddha,
dan Bodhisattva. Seluruh kitab suci Buddha a liran Utara terdiri
atas naskah-naskah dari tiga masa berbeda, yang disebut tiga
kali pemutaran Roda Pengajaran atau dharma cakra -
parvatana. Adapun pemutarannya, seperti tertera dalam
catatanku dahulu: Pemutaran pertama (prathama cakra)
ajaran tentang Empat Kebenaran Utama (catur satya
dharmacakra) Pemutaran kedua (madhya-cakra)
ajaran tentang hapusnya hakikat pemisahan unsur-unsur keberadaan (alaksanatva dharmacakra)
atau ketiada-benarannya. Pemutaran ketiga (antya-cakra)
ajaran yang memperbedakan unsur-unsur keberadaan yang
mencerminkan Kebenaran Tertinggi dari unsur-unsur yang
tidak mencerminkannya (paramartha- viniscaya dharmacakra)
. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pemutaran pertama terwujud dalam naskah-naskah
Theravada, yang kedua dalam Prajnaparamita-sutra, dan yang
ketiga termasuk dalam jenis Samdhinirmocana, Lankavatara,
dan Ghanavyuha. Kusampaikan pula penafs iran ketiga, meski
tidak kumanfaatkan untuk Jurus-Jurus Dharmacakra yang
ampuh itu. Penafsiran ini menghubungkan pemutaran Roda
Dharma dengan phala77 yang diperoleh seorang Bodhisattva-
bahwa yang telah mencapai tingkat yang kesembilan, yakni
kesadaran yang luhur (sadhumati), mendapatkan sepuluh
kekuatan (bala). Adapun kekuatan memutar dharmacakra
adalah kekuatan kesembilan.
Mempelajari kitab-kitab tentang dharmacakra itu, dari guru-
guru yang bermaksud membimbing para bhiksu, aku
memanfaatkannya hanya untuk mengembangkan ilmu silatku.
Bagaimanakah aku menafsir dan memindahkan suatu ajaran
rohani demi suatu ilmu jasmani" Tentu saja ini merupakan
cerita tersendiri. Sementara itu, apakah boleh kujawab, bahwa yang penting
dalam kehidupan ini adalah mengikuti hati nurani"
(Oo-dwkz-oO) Episode 20: [Jurus-Jurus Dharmacakra, Kunci
Penalaran, dan Pendekar Huruf Berdarah]
BAGAIMANAKAH memindahkan ilmu rohani menjadi ilmu
jasmani" Tentu sebuah pembayangan harus bekerja.
Pembayangan adalah penafsiran berdasarkan pemahaman,
karenanya kemampuan pembacaan, yakni membaca, menafsir, dan memberi makna, menjadi mutlak dalam
pemindahan tersebut. Dalam pengolahan Jurus-Jurus Dharmacakra, aku telah memanfaatkan penafsirannya yang
pertama sebagai gagasan tentang gerak, atau susunan gerak,
yang berlapis-lapis. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Perhatikanlah misalnya empat akara tentang mencapai
kebenaran tertinggi melalui penglihatan; bahwa pertama kali
mesti mampu menemukan dan menentukan penderitaan,
disusul berturut-turut penyebab dari penderitaan itu,
mengetahui apa yang dapat menanggulanginya, kemudian
mengetahui cara melakukan penanggulangan itu; bukankah
dari akara pertama sampai yang keempat terdapat empat
gagasan yang berlapis-lapis dan sangat dekat jaraknya,
sehingga penanggulangan harus dibedakan dengan cara
penanggulangan misalnya" Ibarat kata dari gagasan
penderitaan menuju cara penanggulangan penderitaan belum
terdapat lompatan berarti, meskipun keempatnya merupakan
pengertian yang terpilah dengan tegas.
Membaca pemutaran-pemutaran berikutnya, yakni bhavanamarga dan asaiksamarga, masing-masing juga terbagi
ke dalam empat akara yang perkembangan gagasannya juga
sama tipis lapisan-lapisannya. Dengan pemahaman atas
seluruh kerangka berpikirnya, aku mendapatkan suatu
susunan bahwa terdapat tiga rangkaian gagasan yang
berkelanjutan, yang setiap rangkaiannya terdiri dari empat
lapisan. Aku tinggal memindahkan kerangka gagasan ini
menjadi suatu kerangka susunan jurus; bahwa suatu
rangkaian serangan misalnya akan terdiri dari empat lapis
pukulan mematikan, yang seperti berulang tetapi sebetulnya
berbeda sasaran, yang seluruhnya terdiri dari tiga rangkaian.
Namun karena dari tiga penafsiran Dharmacakra yang kubaca,
dua di antaranya telah kumanfaatkan penafsirannya sebagai
jurus silat, maka Jurus-Jurus Dharmacakra yang kuolah terdiri
dua gugus susunan, adapun untuk gugus yang pertama telah
kujelaskan bagaimana aku menafsirkannya.
Gugus kedua terdiri atas tiga pemutaran, yakni prathama
cakra yang merupakan ajaran Empat Kebenaran Utama;
madhya-cakra tentang hapusnya hakikat pemisahan unsur-
unsur keberadaan atau ketiada-benaran; dan antya-cakra
yang ajarannya membedakan unsur"unsur yang TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mencerminkan dan tidak mencerminkan Kebenaran Tertinggi.
Telah diketahui bahwa Empat Kebenaran Utama merupakan
dalil ajaran Buddha yang dilanjutkan dengan apa yang disebut
Delapan Jalan"dari pemahaman ini gugus kedua dari Jurus-
Jurus Dharmacakra hanyalah melanjutkan pencapaian
rangkaian jurus yang tersusun dalam gugus pertama; yakni
bahwa kuolah suatu rangkaian empat jurus dengan delapan
pengembangan pada masing-masing jurusnya, yang semuanya merupakan gerak tipu untuk mengecoh dan
mengelabui lawan. Namun apabila pertarungan berlangsung lama dan
memasuki jurus selanjutnya, apa yang kutemukan dari
madhya-cakra dan antya-cakra akan membingungkan dan
pada gilirannya menghabisi lawan.
Perhatikan kalimat hapusnya hakikat pemisahan unsur"unsur keberadaan atau ketiada-benarannya. Apa
maksud kalimat ini" Pertama ternyatakan adanya unsur-unsur
keberadaan, jadi kita tidak mengetahui ada, yang kita bisa
lakukan hanya menyepakati keberadaan unsur-unsur yang
diandaikan sebagai adanya ada. Namun unsur-unsur
keberadaan tadi berpasangan atau terlawankan, bahkan
disamakan, karena disebut atau, yakni dengan ketiada-
benaran. Tentu maksudnya ketiada-benaran tentang ada.
Dengan kata hapusnya maka pemisahannya itulah yang
dihilangkan, karena unsur-unsur ada dan tiada benar
sebetulnya sama -dan karena ada tidak ketahui, apalagi tiada
benar yang boleh juga ditafsir sebagai tiada karena
berlawanan dengan ada. Bukan berarti ada dan tiada
dihapuskan, meski keduanya tidak diketahui, melainkan ada
dan tiada tidak dipisahkan.
Dalam pemindahannya menjadi jurus silat, kurangkai suatu
susunan tempat jurus yang satu menafikan jurus yang lain,
bahkan menafikan jurusnya sendiri"dan tentu saja jurus
seperti ini akan sangat membingungkan, tetapi adalah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kebingungan itu yang ditunggu dan dinantikan, karena
memang akan membuka semua kelemahan.
Perhatikan pula kalimat tentang antya-cakra yang berbunyi
memperbedakan unsur-unsur keberadaan yang mencerminkan
Kebenaran Tertinggi dari unsur-unsur yang tidak mencerminkannya. Dibandingkan dengan madhya-cakra, ini
bagaikan kebalikannya, Kebenaran Tertinggi sebetulnya juga
tidak mungkin diketahui tetapi seolah-olah terdapat unsur
yang mencerminkan maupun yang tidak mencerminkannya,
yang ternyata dapat dibedakan.
Berarti yang dapat diketahui hanyalah unsur-unsurnya,
sedangkan Kebenaran Tertinggi itu sendiri hanya dapat
dicerminkan. Jadi, ini hanyalah perkara kesepakatan tentang
cermin, bukan Kebenaran Tertinggi itu sendiri. Sama seperti
madhya"cakra, Kebenaran Tertinggi hanyalah ada yang
kedudukannya sama belaka dengan tiada benar-berarti
semuanya tiada, kecuali terdapat perbincangan tentangnya.
Semua ini tentu adalah penafsiranku, dalam rangka
memindahkannya ke sebuah susunan jurus-jurus silat - dan
aku memang telah melakukannya. Demikianlah gugus
rangkaian jurus kedua ini adalah jurus-jurus yang berkembang
dalam urutan, melalui suatu masa perpindahan yang
bersumber dari prathama cakra, menuju ke suatu perubahan
mendadak terdapatnya rangkaian jurus-jurus yang sating
mengingkari, yang disambung oleh gagasan yang sama, tetapi
dengan berbagai bentuk dan gerakan yang merupakan
kebalikannya. Terpengaruh oleh pengertian Roda Dharma sebagai bentuk
perputaran, maka Jurus-Jurus Dhar"macakra kemudian akan
dikenal sebagai jurus-jurus yang akan terus membuat
penggunanya berputar sembari memutari lawan. Hanya saja
jika gugus rangkaian jurus-jurus yang pertama akan memutari
lawan dalam lingkaran, maka gugus kedua akan memutarinya
dalam bulatan. Tentu saja Jurus-Jurus Dharmacakra TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membutuhkan dukungan tenaga dalam, maupun kemampuan
berfilsafat yang mencukupi bagi siapa pun yang bermaksud
menguasainya. Demikianlah caraku melakukan pembayangan, menerapkan
sebuah susunan rangkaian jurus-jurus yang mewakili
pengertian dan pemahaman yang semula hanya bermain di
dunia nalar. Pengertian dan pemahaman sebetulnya lebih
berarti sebagai perbincangan atas gagasan-gagasan yang
kubaca atau didengar dari guru-guruku, karena penafsiranku
maupun guru-guruku itu tentu bukanlah jaminan yang akan
mewakili Kebenaran Tertinggi itu, bukan" Apalagi jika memang
hanya cermin Kebenaran Tertinggi itulah yang dapat kita
perdebatkan. Itulah sebabnya aku mengolah susunan
rangkaian jurus-jurus persilatan itu dengan semangat
kegembiraan, karena benar atau salah bukanlah masalah yang
akan dipertanyakan atau diujikan. Apa boleh buat, dalam
dunia persilatan, satu-satunya ujian bagi ilmu silat adalah
pertarungan-dan dalam pertarungan, suatu kegagalan hanya
berarti kematian. Pendekatan seperti ini membuat ilmu silatku berkembang
lebih cepat di banding para pendekar yang mengembangkan
ilmu silat melalui pengamalalam. Para pendekar mengamati
burung terbang, daun jatuh, kodok melompat, maupun kucing
berkelahi untuk mendapatkan jurus-jurus
andalannya, sehingga menjadi terkenal dalam dunia persilatan.
Jurus Kucing Mabuk, Jurus Cakar Harimau, Jurus Monyet
Menari, Jurus Tendangan Burung Bangau dan lain sebagainya
- dan harus kuakui betapa jurus-jurus yang dibuat berdasarkn
pengamatan terhadap alam sekitar adalah pencapaian
mengagumkan. Pengamatan seperti itu bukan hanya membutuhkan
ketekunan yang luar biasa melainkan juga kemampuan
menafsir yang menuntut kecerdasan dalam menyusunnya
sebagai jurus-jurus silat yang layak sebagai andalan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Setiap sebuah jurus baru dikenal dalam dunia persilatan,
selalu diharapkan memberi kemungkinan baru, dan suatu
jurus yang merupakan hasil pendalaman seperti itu memang
kemudian akan mendapatkan kemasyhuran.


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Namun setelah mengembara dari perguruan yang satu ke
perguruan yang lain, mempelajari cara belajar yang satu dan
cara belajar yang lain, dari kampung ke kampung, dari gunung
ke gunung, dari gua ke gua, dari kitab yang satu ke kitab yang
lain, aku berkesimpulan bahwa meskipun pengamatan atas
alam telah menghasilkan berbagai macam ilmu silat yang
mencengangkan, cara untuk mempelajarinya dengan penalaran tidak kalah berguna untuk diandalkan-terutama
dalam manfaatnya untuk menghemat waktu pembelajaran.
Ini berarti seorang pelajar memang harus memegang
kunci-kunci penalaran kepada seorang guru ia tidak mesti
belajar bertahun-tahun dengan penuh penghayatan, dan
apalagi pengabdian-karena seorang guru kadang-kadang juga
memeras dan memanfaatkan wibawa untuk kepentingan
pribadi-melainkan belajar dengan suatu pendekatan tertentu
untuk menyerap ilmu. Seorang pelajar yang menyerap ilmu dengan kunci-kunci
penalaran akan memberi perhatian besar kepada kerangka
suatu ilmu secara keseluruhan, dan yang lebih penting adalah
menemukan apakah terdapat suatu pemikiran tertentu di
baliknya, yang berhubungan langsung dengan pembentukan
ilmu silat tersebut. Pemikiran di balik ilmu silat menentukan
bentuk ilmu silatnya dan suatu pemikiran sangat ditentukan
oleh lingkungan tempat pemikiran itu dilahirkan.
Kunci-kunci penalaran akan mampu menyerap ilmu silat
yang sama tanpa harus mengulang pengalaman seorang
penemu dan melepaskannya dari lingkungan asal-usul lahirnya
suatu ilmu. Tidak berarti bahwa suatu pengalaman dalam pelajaran
ilmu s ilat dapat dilupakan, justru pengalaman itu sendiri tetap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perlu, untuk menghayati yang pada mulanya masih diserap
melalui penalaran-namun pengalaman dan penghayatannya
bukanlah secara alamiah, melainkan pengalaman dan
penghayatan yang mendasarkan diri kepada kunci-kunci
penalaran. Seorang pelajar yang menyerap ilmu dengan kunci"kunci
penalaran akan memberi perhatian besar kepada kerangka
suatu ilmu secara keseluruhan, dan yang lebih penting adalah
menemukan apakah terdapat suatu pemikiran tertentu di
baliknya, yang berhubungan langsung dengan pembentukan
ilmu silat tersebut. Pemikiran di balik ilmu silat menentukan
bentuk ilmu silatnya, dan suatu pemikiran sangat ditentukan
oleh lingkungan tempat pemikiran itu dilahirkan. Kunci-kunci
penalaran akan mampu menyerap ilmu silat yang sama tanpa
harus mengulang pengalaman seorang penemu, melepaskannya dari lingkungan asal-usul lahirnya suatu ilmu.
Tidak berarti bahwa suatu pengalaman dalam pelajaran ilmu
silat dapat dilupakan, justru pengalaman itu sendiri tetap
perlu, untuk menghayati yang pada mulanya masih diserap
melalui penalaranonamun pengalaman dan penghayatannya
bukanlah secara alamiah, melainkan pengalaman dan
penghayatan yang mendasarkan diri kepada kunci-kunci
penalaran. Pendekatan kepada ilmu silat yang semacam ini membuka
jalan kepadaku untuk mengolah gagasan tentang Ilmu
Bayangan Cerminoyakni bahwa aku dapat menyerap dan
menguasai suatu ilmu silat ketika menghadapinya dalam suatu
pertarungan, bahkan kemudian dapat langsung menggunakannya untuk menghadapi lawan tersebut dalam
bentuk yang telah kukembangkan dan tidak akan mampu
diatas inya. Namun kemampuan semacam itu tidak kucapai
dalam semalamoaku hanya ingin menunjukkan sementara ini,
betapa kunci-kunci penalaran berperan menentukan dalam
percepatan pembelajaran, meski tidak berarti telah mencakup
segalanya. Ilmu silat adalah suatu seni, yang memang dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menjadi indah dalam peragaan, tetapi hanya akan teruji
keunggulannya dalam pertarungan. Sedangkan dalam
pertarungan silat tingkat tinggi, ruang dan waktu tak cukup
lagi bagi penalaran. Itulah sebabnya kunci-kunci penalaran
hanyalah suatu awal dari tindak peleburan seorang pendekar
dengan ilmu silat yang dipelajarinyaodan peleburan hanya
akan berlangsung ketika olah penalaran dalam kepala
terjelmakan dalam gerakan.
Semua ini terhela oleh pembayangan. Ibarat jalan
kehidupan terhela oleh impian dan cita-cita, demikian pula
gagasan dan pemikiran terjelma sebagai ilmu silat karena
terhela oleh suatu pembayangan.
(Oo-dwkz-oO) NAMUN pembayangan yang berada di dalam kepalaku
sekarang bukanlah kerangka suatu ilmu silat, bahkan, masih
bisakah aku menyebutnya sebagai pembayangan, jika
kepalaku belakangan ini hanya terisi oleh bayangan yang
datang dari masa lalu" Aku sudah hidup selama seratus tahun
dan itu berarti aku memiliki setidaknya seratus tahun
pengalaman yang menjelma sebagai bayangan nan berhingga-
hingga banyaknya. Apakah yang harus kulakukan dengan
bayangan-bayangan masa lalu
itu" Kubiarkan lewat percuma, ataukah membuatnya jadi
agak berguna" Meskipun sebagai orang persilatan hidupku
selalu disibukkan oleh pembelajaran
ilmu silat dan pertarungan, sudah lama aku menyimpan kekaguman
terhadap kemampuan penulisan.
Bahkan setelah Yawabumi memiliki huruf-hurufnya sendiri,
sejak aku mengenal dunia tidak kulihat terlalu banyak orang
mampu membaca dan menulis, apakah itu menulis untuk
menyalin, apalagi menuliskan pikiran"pikirannya sendiri.
Namun dalam pengembaraanku pernah kujumpai seorang
pendekar tak terkalahkan yang disebut sebagai Pendekar
Huruf Berdarah, tak lain karena seluruh jurus -jurusnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sebetulnya adalah penulisan huruf-huruf yang dilakukan
dengan pedang. Tentu saja jurus -jurus semacam itu sama
sekali tidak dikenal dan tidak dapat diduga gerakannya,
sehingga memang telah memakan banyak sekali korban. Siapa
pun yang ingin melawan dan melumpuhkannya haruslah
mampu membaca dan juga menulis, dan karena itu akan
mengenal gerakan pedangnya.
Namun para pendekar banyak sekali yang buta huruf,
bahkan ilmu persilatan jarang mereka pelajari dari kitab,
melainkan selalu langsung dari seorang guru. Hanya mereka
yang benar-benar tekun dan sungguh-sungguh ingin
mendalami ilmu silat, dan tidak sekadar gemar bertarung,
akan menekuni gerakan silat juga dari sebuah kitab se lain dari
seorang guru, bahkan juga belajar membaca agar mampu
melacak pemikiran di balik lahirnya sebuah ilmu silat, tetapi
memang tidak terlalu banyak pendekar seperti ini, bahkan
jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak aneh jika Pendekar
Huruf Berdarah tidak terkalahkan. Aku pernah menyaksikan
pertarungannya yang memang terbuka untuk disaksikan orang
banyak, karena penantangnya menyebar pengumuman dari
mulut ke mulut bahwa kali ini Pendekar Huruf Berdarah akan
dikalahkan. Penantang itu bergelar Mahasabdika yang artinya
memang orang berilmu, bahkan juga berarti berpengetahuan tentang kata-kata -dan ia mengaku telah
menemukan apa yang disebutnya sebagai "kunci kematian".
Pendekar Huruf Berdarah. Adapun Mahasabdika pantas
mendapatkan gelarnya, selain karena dirinya sendiri belum
terkalahkan, pendekar ini juga dikenal sebagai penulis kitab-
kitab ilmu silat, apakah itu ilmu silat yang diakuinya sebagai
ciptaan sendiri, maupun salinan dari ilmu-ilmu silat yang lain.
Layaklah tentu ia mendapatkan gelar itu, terutama pada masa
ketika kemampuan membaca dan menulis sangatlah langka,
dan kitab-kitab ilmu silat bukan sesuatu yang bisa didapatkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan terlalu mudah. Bagi banyak perguruan, kitab-kitab
ilmu silat bahkan dianggap sebagai pusaka yang harus dijaga
kerahasiaannya, dan hanya melalui seorang guru kandungan
ilmunya bisa diajarkan, itu pun kepada murid"murid pilihan,
yang untuk diterima sebagai pewaris ilmu harus melalui
berbagai macam ujian berat yang tidak selalu tertahankan.
Bukankah tiada mengherankan jika Mahasabdika menjadi
kaya karena kitab-kitab ilmu silat yang diperjual belikannya"
Memang menjadi pertanyaan banyak orang di sungai telaga
dunia persilatan, bagaimana Mahasabdika seolah-olah memiliki
kitab-kitab ilmu silat yang manapun untuk disalin dan
dijualnya. Memang benar pernah terjadi seorang pendekar
yang sangat miskin telah menjual kitab ilmu silat warisan
perguruannya yang sudah tutup kepadanya, tetapi peristiwa
seperti ini jarang sekali karena kitab-kitab ilmu silat
diperlakukan sebagai pusaka. Pernah kudengar desas-desus
yang beredar bahwa Mahasabdika bukan hanya sanggup
membayar mahal kitab-kitab ilmu s ilat terbaik yang ditawarkan
kepadanya, melainkan telah pula mendorong usaha
mendapatkannya dengan segala cara, termasuk dengan
membayar siapapun yang berhasil mencurinya! Maka, kunci
kematian macam apakah kiranya yang diandalkan Mahasabdika untuk mengalahkan Pendekar Huruf Berdarah"
Mereka telah berhadapan di sana. Mahasabdika berbusana
mewah. Kain yang menutupi tubuhnya jelas sutra yang
bahkan tidak terdapat di pasar. Ia tinggal di Y awabumi, tetapi
busananya kemudian akan kuketahui sejenis dengan busana
Naga Emas, busana para pendekar Negeri Atap Langit yang
disebut Tiongkok. Mahasabdika bahkan juga mengenakan apa
yang disebut sebagai sepatu. Hanya saja jika busana Naga
Emas terbuat atas kain sutra keemas-emasan, maka busana
Mahasabdika adalah keperak-perakan -seperti busana sutra
pada umumnya, bahkan ikat kepala pada gulungan rambut di
kepalanya pun dari bahan kain yang sama.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hawa sangat panas dan kulihat Mahasabdika kegerahan. Di
Negeri Tiongkok terdapat musim dingin, tetapi di Yawabumi
busana sutra dalam pertarungan di alam terbuka akan
membuat pemakainya berkeringat kepanasan. Puteri-puteri
kerajaan memang mengenakannya, tetapi dengan punggung,
bahu, dan dada terbuka. Sebagai pendekar ia te lah melakukan
kesalahan karena lebih mementingkan keindahan dalam
pemilihan busana, bukan demi kemudahannya jika terlibat
pertarungan. Mungkinkah ia terlalu yakin akan memenangi
pertarungan untuk disaksikan banyak orang karena telah
memegang kunci kematian Pendekar Huruf Berdarah"
Ia telah siap di sana, dengan sebilah pedang lurus panjang
yang putih berkilat keperak-perakan. Ia tampak gagah dalam
usia 40 tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya tampan,
dengan janggut kelimis dan kumis tipis di atas bibirnya,
tersenyum-senyum tenang dan tampak siap untuk mendapatkan pengakuan. Sebaliknya Pendekar Huruf Berdarah tampak sangat
sederhana, hanya mengenakan kain lusuh sebatas pinggang,
kaki tak beralas, dan memegang sebilah kelewang berkarat,
yang konon hanya dipinjamnya dari seorang pemilik kedai di
tempat ini, hanya beberapa saat sebelum memasuki
gelanggang. "Kalau aku mati, kelewang ini tentu tidak akan diambil oleh
Mahasabdika," katanya, "sebelumnya terima kasih banyak
telah meminjami aku."
Ia sengaja memilih kelewang yang sudah berkarat, karena
kelewang itulah yang sudah tidak dipakai.
Kuduga ia berusia 60 tahun. Tubuhnya pendek dan gempal,
seluruh rambutnya sudah memutih, begitu pula kumis dan
janggutnya yang melambai-lambai tak teratur. Rambutnya
yang sudah jarang dibiarkannya terurai, yang juga melambai-
lambai tertiup angin. Ia memasuki gelanggang dengan tenang.
Orang-orang tampak tegang. Namun saat itu seekor ayam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jantan memasuki gelanggang dan seorang anak perempuan
berlari-lari mengejarnya, tak tahu menahu peristiwa yang
sedang berlangsung di gelanggang ini.
"Blirik! B lirik! Mau ke mana" Jangan lari!"
Orang-orang terkesiap. Mahasabdika tampak terganggu
dan kesal, ia menggerakkan pedangnya seperti akan
melakukan sesuatu, apakah membunuh ayam atau anak
perempuan itu. Namun Pendekar Huruf Berdarah berkata
dengan tegas. "Biarkan anak itu, kita telah menggunakan tempat
bermainnya...." Mahasabdika menelan ludah

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperti menelan kemarahannya sendiri, mengelus sisi datar pedangnya seperti
menjanjikan darah untuk hari ini. Tanpa menunggu waktu lagi,
begitu ayam dan anak perempuan itu keluar gelanggang,
Mahasabdika segera melesat ke arah Pendekar Huruf
Berdarah. Tubuhnya segera lenyap menjadi bayangan
keperakan dan ujung pedangnya bagaikan menjadi selaksa,
menghunjam ke arah Pendekar Huruf Berdarah dari segala
jurusan. "Aku telah mempelajari semua huruf untuk mengunci jurus
-jurusmu, wahai Pendekar Huruf Berdarah," ujar Mahasabdika.
Mendengar kalimat itu Pendekar Huruf Berdarah hanya
tertawa terkekeh-kekeh. Ia segera ikut lenyap menjadi
bayangan dan mulailah bisa disaksikan oleh yang mampu
mengikuti kecepatannya keistimewaan Pendekar Huruf
Berdarah, yakni bahwa terlihat kelebat huruf-huruf yang
dibuat oleh kelewang, huruf-huruf yang biasanya telah
membelah tubuh lawan-lawannya.
Segera terlihat huruf-huruf ta, pa, ma, ra, dan sa79
menggulung bayangan keperakan Mahasabdika. Namun inilah
yang dimaksud Mahasabdika sebagai kunci-kunci untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menutup jurus -jurus ampuh Pendekar Huruf Berdarah, yakni
memainkan pedangnya membentuk huruf-huruf yang sama!
Maka di antara kelebat gulungan dua bayangan terlihat
bentukan huruf ta yang dipapas huruf ta, bentukan huruf pa
yang dibentur huruf pa, bentukan huruf ma yang digasak
huruf ma, bentukan huruf ra yang disambar huruf ra, dan
bentukan huruf sa yang kelebatnya terbentengi huruf sa. Di
antara kelebat huruf-huruf dan udara mendesau itu terdengar
suara-suara benturan pedang dan kelewang yang berdentang-
dentang cepat sekali disusul oleh kilatan lentik-lentik api.
"Hahahaha! Keluarkan semua hurufmu Pendekar Huruf
Berdarah!" Kuperhatikan sejak tadi Pendekar Huruf Berdarah
memainkan jurusnya yang serupa huruf-huruf Pallawa baku,
dan kini mengulanginya dalam corak huruf Pallawa yang
mengalami perkembangan di Yawabumi. Tampaklah Mahasabdika menjadi kerepotan karena meski huruf-huruf itu
tampaknya sama selalu ada saja perbedaannya dan
tangkisannya menjadi tidak terlalu tepat lagi.
Terdengar bunyi kain robek dan terlihat darah muncrat di
udara, gerakan Mahasabdika menjadi pelan dan terlihat ia
dikepung kelebat bayangan huruf-huruf dengan busana sutra
yang telah bersimbah darah. Meski begitu pengenalannya atas
huruf-huruf yang selalu dimainkan berurutan dan diulang-
ulang oleh Pendekar Huruf Berdarah membuat ia masih bisa
menangkis serangan, dan tampaknya pertarungan masih akan
berlangsung lama. Terdengar tawa Pendekar Huruf Berdarah terkekeh"kekeh.
"Kunci kematian" Wahai Pendekar Mahasabdika?"
Lantas ia berkelebat lebih cepat mengitari Mahasabdika
sambil memainkan kelewangnya, ia telah mengganti huruf
Pallawa dengan huruf yang agaknya
tidak dikenal Mahasabdika! Kuperhatikan itulah huruf-huruf seperti yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dituliskan I-t'sing dan pernah kupelajari juga. Sebisa mungkin
kuikuti susunan huruf-hurufnya yang ternyata berbunyi:
seperti bayangan bambu menyapu tangga batu tanpa menggeser debu Setelah itu terkaparlah Mahasabdika dengan tubuh nyaris
telanjang. Segenap huruf yang membentuk puisi itu
meninggalkan luka-luka panjang di sekujur tubuhnya, huruf
satu dengan huruf yang lain saling bertumpuk, membuat luka-
lukanya semakin dalam. Sebuah kelewang menancap tegak
lurus pada jantung pendekar itu, menancap dalam-dalam
sampai menembus tanah dan hanya terlihat gagangnya.
Tidak terlihat lagi Pendekar Huruf Berdarah, dan sampai
hari ini pun kabarnya tidak ada lagi.
Namun dari peristiwa ini aku telah mendapat pelajaran:
Mahasabdika memang mempelajari huruf-huruf, tapi ia tidak
mempelajari kalimatnya. Pendekar Huruf Berdarah semula
memainkan jurus -jurus hurufnya secara lepas, tetapi ketika
Mahasabdika ternyata mampu menangkisnya, ia mengeluarkan huruf yang lain, itu pun dalam suatu rangkaian
kalimat yang tentu telah dilatih dan dikuasainya lebih dulu.
Meskipun seandainya Mahasabdika menguasai huruf seperti
yang digunakan I-t'sing itu, ia belum tentu mengenal
kalimatnya. Peristiwa inilah yang membuat aku berpikir bahwa
penguasaan terbaik ilmu silat tidak akan dimungkinkan tanpa
mempelajari pemikiran di baliknya. Pendekar Huruf Berdarah
telah meminjam kalimat ajaran Dao80, yang memang berasal
dari tempat yang sama dengan huruf"huruf yang telah
diolahnya menjadi jurus silat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mahasabdika tidak mengenal jurus maupun kalimat itu,
sehingga meskipun ia telah mempelajari hampir semua kitab
ilmu silat, perlawanannya tidak cukup untuk melawan ilmu
silat yang diolah Pendekar Huruf Berdarah sendiri.
Tidak pernah kupikirkan betapa ketidakmampuan mengenal
huruf dapat berakibat kematian, bahkan bagi seorang
pendekar berpengetahuan kata-kata seperti Mahasabdika...
(Oo-dwkz-oO) PERISTIWA itu terjadi tahun 796, pada masa kekuasaan
Rakai Panunggalan yang akan berakhir tahun 803. Usiaku
masih 25 tahun, belum setahun melakukan pengembaraan,
dan belum memiliki Ilmu Bayangan Cermin. Aku akan
mengembara di rimba hijau selama dua puluh lima tahun
sebelum mengakhirinya dengan Pembantaian Seratus Pendekar. Aku meninggalkan dunia persilatan pada usia 50 tahun dan
meleburkan diri dalam kehidupan sehari-hari selama dua puluh
lima tahun berikutnya. Pada usia 75 tahun kutinggalkan dunia
ramai dan tenggelam dalam renungan dan meditasi. Dua
puluh lima tahun kemudian, dalam usia 100 tahun suatu regu
pembunuh memasuki gua dan bermaksud mengakhiri
riwayatku, meninggalkan teka-teki yang jawabannya hanya
dapat kuduga-duga saja. Aku berusaha mengerti dan untuk itu aku harus
menguraikan segala sesuatunya satu persatu. Apakah aku
harus menyelusuri kembali segenap masa laluku" Apakah aku
harus menuliskan riwayat hidupku" Aku tidak tahu bagaimana
tulisanku itu nanti akan mampu menjawab persoalanku, aku
hanya berpikir, jika penulisan itu tidak akan langsung berguna
untukku, mungkinkah dengan suatu cara seseorang akan
dapat memanfaatkannya, dan secara tidak langsung
memecahkan persoalannya"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Masalahnya, apakah aku mampu" Dalam hubungannya
dengan ilmu silat aku memang mampu membaca, bahkan
mengenal beberapa macam huruf dan bahasa, tidak asing
pula dengan pekerjaan menyalinnya. Namun menjadi seorang
penulis dengan gagasan yang berasal dari diri sendiri adalah
perkara lain, setidaknya aku belum pernah melakukannya. Aku
ragu-ragu, betapapun aku bukan seorang penulis dan tidak
pernah membayangkan diriku akan menulis sesuatu dengan
kesadaran akan dibaca. Apakah umur 100 tahun tidak terlalu
tua untuk memulai sesuatu yang baru"
Di depanku masih tergeletak sebuah pengutik, semacam
pisau kecil untuk menulis di atas lontar. Aku telah lebih dulu
memberi garis-garis pada lontar itu dengan penggaris, yang
terbuat dari benang yang terikat pada dua batang bambu.
Setelah diberi garis, baru kemudian lontar siap menerima
tulisan, yang digoreskan oleh pengutik itu.81 Aku masih
termangu. Darimana aku akan mulai menulis"
Kulihat sekeliling, sebentar kemudian aku mulai menggoreskan pengutik itu.
(Oo-dwkz-oO) Episode 21: [Sepasang Naga dari Celah Kledung]
SEBERAPA jauh seseorang mampu mengingat kembali
masa lalunya" Bagaikan melayang dan meluncur dalam
sebuah lorong waktu yang kelam tetapi memberikan gambar-
gambar masa lalu yang berkelebatan aku berusaha menggapai
masa laluku yang terjauh sangat jauh dan tidak bisa lagi lebih
jauh-tetapi bagaimanakah bisa dipastikan bahwa kenanganku
merupakan kenyataan yang boleh dianggap dan diandaikan
setidak-tidaknya mendekati kebenarannya jika kebenaran itu
disepakati memang ada"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Seperti apakah masa laluku yang telah seratus tahun
berlalu" Ketika melayang dan meluncur di dalam lorong waktu
itu aku merasa setiap kali harus menghindari sambaran golok,
tusukan tombak, gebukan toya, dan lecutan cambuk berduri.
Masa lalu macam apakah kiranya yang penuh dengan
desingan pisau terbang, desisan jarum-jarum beracun, dan
bunyi logam beradu yang berasal dari benturan dua pedang"
Ini masih terlalu sering ditambah suara-suara jeritan manusia
yang terluka, jeritan terakhir yang mengantarkan mereka ke
gerbang kematian. Itukah masa laluku, itukah jumlah
keseluruhan dari hidupku" Mungkinkah aku telah mengarungi
lorong waktu yang keliru" Namun tiada lorong waktu lain yang
terdapat dalam urat syaraf kenanganku selain kehidupan yang
kualami sendiri bukan" Dari kelam ke kelam aku meluncur dan
memburu masa laluku, sampai dimuntahkan oleh lorong waktu
itu ke dalam sebuah gerobak yang dilarikan seekor kuda.
Aku hanya mengingat suara hiruk-pikuk dan guncangan
dahsyat karena gerobak itu dilarikan di atas jalanan berlubang
dan berbatu-batu. Aku merasa tidak berdaya. Dunia bagaikan
suatu guncangan yang dahsyat -itukah sebabnya peristiwa ini
menjadi tonggak kenangan terjauhku" Guncangan dahsyat
berlangsung dalam kegelapan dan teriakan-teriakan membahana. Sayup-sayup kudengar jeritan seorang perempuan. Demikianlah, dunia yang berguncang, jeritan
dalam kegelapan, dan teriakan keras menakutkan telah
menjadi awal kenanganku -dan meski tentunya aku telah
dilahirkan lebih dulu, aku merasakan peristiwa itulah yang
sebetulnya melahirkan aku, yakni aku yang menyadari dunia di
sekelilingku. Apakah aku masih bayi" Namun pasti aku belum bisa
berjalan apalagi berlari. Barangkali aku berada dalam dekapan
seorang perempuan sebelum gerobak itu me laju cepat dan
berguncang di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu.
Gerobak itu tentunya terguncang miring bolak balik dari kiri ke
kanan dan terlempar naik ketika melindas tonjolan batu dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terjerembab turun ketika melewati lubang, sungguh dunia
berguncang-guncang karena kuda yang berlari ketakutan tidak
mau berhenti. Apakah yang telah terjadi"
Kenangan sering merupakan keajaiban, bukan karena kita
sering teringat, bahkan teringat sesuatu terus menerus,
melainkan karena peristiwa yang tidak pernah teringat seumur
hidup suatu ketika menyeruak dalam kenangan setelah lama
sekali berlalu, bahkan begitu lamanya sampai tidak dapat kita
kenali lagi-benarkah ini sebuah peristiwa yang kualam i" Aku
berada dalam dekapan seorang perempuan, sebelum
kemudian aku terlepas terguncang-guncang terlempar ke sana
kemari. Apakah perempuan itu sedang menyusuiku" Apakah
dia ibuku" Kurasakan hangat pada wajahku, yang kelak
tampaknya selalu diceritakan kepadaku sebagai cipratan darah
yang membuat wajahku menjadi merah. Selalu kuingat
kalimat itu. "Waktu aku masuk ke dalam gerobak, wajahnya sudah
bersimbah darah." Siapakah yang mengatakan itu" Aku sudah pernah
mendengarnya. Kemudian aku merasa berpindah dari gerobak
itu dan tersapu dingin angin ma lam-agaknya seseorang telah
menyambar dan mendekapku, membiarkan kuda tetap berlari
membawa gerobak itu entah ke mana, yang kemudian
ternyata meluncur ke dalam jurang. Dalam dekapan aku masih
terguncang-guncang, tetapi merasa aman dan terlindung,
meski terus menerus terdengar suara berdentang-dentang
dari golok yang beradu. "Ketika kami tiba, gerobak itu sudah berlari kencang sekali
di atas jalan yang berlubang dan berbatu-batu. Kami dengar
tangis bayi dan kami lihat sejumlah orang me lompat dari kuda
ke dalamnya-orang itu terlempar keluar dengan belati di
dadanya. Namun seorang yang lain telah membunuh sais
gerobak itu, yang kemudian jatuh ke tepi jalan, dan ia
kemudian juga masuk ke gerobak itu. Dialah tentunya yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membacok perempuan pembawa bayi itu, karena tidak ada


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang lain lagi di dalam gerobak...
"Rasanya muak sekali melihat peristiwa itu, dari atas tebing
aku langsung me lompat dari kuda dan mendarat dengan
ringan di atas gerobak, begitu juga suamiku, ia langsung
menyerang orang-orang berkuda di luar gerobak. Kutarik dan
kulempar keluar orang yang berada di dalam gerobak, ia te lah
memapas leher perempuan itu dan darahnya itulah yang
membasahi wajah si bayi. "AKU melompat keluar gerobak yang terus melaju, orang
yang tadi terlempar keluar berusaha membacokku dengan
golok hitam, tetapi aku membalikkan punggungku ke samping
badannya sehingga bacokannya luput, dan aku menusukkan
pedangku ke lambungnya tanpa menoleh lagi, dan pedang itu
harus segera kucabut untuk menangkis serangan beberapa
orang sekaligus-menimbulkan suara berdentang-denting yang
selalu diiringi lentik api.
"Dengan bayi di tangan kiriku yang terus menerus
menangis aku tidak bisa bergerak bebas. Orang-orang ini
ternyata perampok, tetapi bukan sembarang perampok,
karena mereka rupanya orang-orang mursal, yakni bekas
tentara, pengawal, ataupun orang-orang yang setia kepada
raja-raja kecil yang telah diperangi Rakai Panamkaran -mereka
tidak sudi menjadi mendukung kemaharajaan Panamkaran,
dan karenanya membuat kekacauan di mana-mana. Kadang-
kadang karena memang harus menyamun dan membegal
untuk bertahan, tetapi yang terpenting adalah membuat
kekacauan untuk meruntuhkan wibawa Mataram.
"Itu sebabnya bekas-bekas tentara kerajaan kecil yang
kalah ini juga tidak mudah ditundukkan. Mereka semua mahir
dalam olah senjata, apalagi jika bergerak bersama sebagai
pasukan, karena terlatih dalam berbagai pertempuran. Maka
aku dan suamiku bergerak cepat mengurangi jumlah mereka
dengan memojokkannya satu persatu. Sebaliknya aku dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
suamiku yang mendapat gelar Sepasang Naga dari Celah
Kledung kembali bisa bergerak berpasangan dan segera
menghabisi mereka dengan pedang kami.
"Sementara kami bertarung, aku berpikir apakah keluarga
pengendara gerobak adalah korban kejahatan seperti biasa,
seperti mereka yang berkemungkinan jadi korban jika melalui
jalur perdagangan dalam perjalanannya, ataukah mereka
memang dianggap musuh oleh orang-orang yang memursalkan diri mereka sendiri itu. Orang-orang mursal ini
disatu pihak mengganggu, tetapi di lain pihak kehadirannya
disyukuri pihak penguasa tersebut, karena sangat mungkin
untuk dipersalahkan bagi segala masalah di dalam kerajaan
sendiri. "Sekitar tiga puluh orang yang mengepung dan memburu
gerobak itu kami tamatkan riwayatnya satu persatu. Kami
mengandalkan Jurus Naga Kembar yang terbukti menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Meski tangan kiriku
menggendong bayi, tangan kananku masih mampu memainkan pedang dengan unggul, yang bersama pedang
suamiku telah berlaku bagaikan dua pasang taring naga dalam
Jurus Naga Kembar itu. Seharusnya masing-masing dari kami
memegang dua pedang pada kedua tangan untuk
kesempurnaan jurus tersebut. Namun meski jauh lebih besar
jumlahnya, orang-orang mursal ini tidak memiliki jurus-jurus
yang merupakan penemuan baru, sehingga cara mengatasinya
pun tidak terlalu sulit. Hanya karena membawa bayi, dan
setiap orang bagaikan hanya berpikir untuk membunuh bayi
itu tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, maka kadang-
kadang kami menemui kesulitan menghadapi jurus-jurus yang
sama sekali bukan-jurus melainkan sekadar pembacokan
bertubi-tubi yang asal-asalan...
Catatan: 1) Raja Sanjaya, yang memerintah pertama kali di kerajaan
Mataram, memulainya dengan melakukan peperangan dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Raja Panamkaran,
agaknya, juga memerintah dalam situasi persaingan hingga
pertengahan abad IX. Patut diduga, banyak negara kecil yang
saling bersaing untuk memperoleh kedaulatan tertinggi di
wilayah Jawa Tengah pada saat itu. Dalam Rahardjo, op.cit.,
h. 64. Sementara prasasti Balinawan menyebutkan, peristiwa
perbanditan yang disebut dalam prasasti itu terjadi pada
waktu tidak ada raja di kerajaan Mataram. T idak adanya raja
terungkap dalam prasasti Wanua Tanah III yang berangka
tahun 830 Saka (908 M). Rakai Gurunwangi naik tahta pada
bulan Magha tahun 808 Saka (886 M), tetapi sebulan
kemudian, dalam bulan Phalguna, ia meninggalkan istana,
sehingga "dunia tiada pemimpinnya" (anayaka ta ikanan rat
rikan kala), baru pada 816 Saka (894 M) Rakai Watuhumalang
(Wungkalhumalang) naik tahta.
Delapan tahun lamanya kerajaan Mataram tidak diperintah
seorang maharaja. Sudah barang tentu keadaan pemerintahan
kacau; penguasa daerah dapat berbuat semaunya-suatu
keadaan yang memberi peluang para rampok, garong, kecu,
dan segala macam oknum yang tidak bertanggungjawab
untuk merajalela. Melalui Boechari, "Perbanditan di Dalam
Masyarakat Jawa Kuna", Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV
(1986), h. 174. Jika Pendekar Tanpa Nama berusia 100 tahun,
berarti peristiwa ini sekitar tahun 771 M, masa pemerintahan
Rakai Panamkaran. 2) Nama "Kledung" diambil dari artikel Boechari:
"Perbanditan memang biasanya merajalela di daerah-daerah
terpencil, di daerah perbukitan, di daerah perhutanan atau di
daerah muara sungai yang berdelta (Hobsbawm, 1972, h. 21),
lebih-lebih kalau di daerah-daerah itu ada jalan perdagangan.
Kondisi semacam itu sesuai benar dengan apa yang
disebutkan di dalam prasasti Mantyasih. Desa Kuning terletak
di lereng gunung Sindoro atau Sumbing, dan di situ rupa-
rupanya sejak dahulu kala ada jalan di "celah Kledung" yang
menghubungkan dataran Kedu dengan Wonosobo, yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/melalui Garung (nama kuna) dan pegunungn Dieng dapat
terus ke pantai utara di daerah Pekalongan; atau ke barat
melalui Banjarnegara masuk daerah Banyumas terus ke
Galuh.", dalam Boechari, ibid., h. 174.
"BETAPAPUN mereka semua akhirnya tumbang. T iga puluh
mayat bergeletakan. Tiga puluh satu sebetulnya, karena
jenazah sais gerobak itu juga terdapat di antara mereka. Ke
manakah kuda berlari membawa gerobak itu" Sambil menaiki
kuda kami yang telah turun sendiri dari atas tebing, kami
mengikuti jejaknya dan ternyata gerobak itu telah meluncur
memasuki jurang. Dalam kegelapan kami tetap turun ke
bawah perlahan-lahan karena mengkhawatirkan nasib
perempuan di dalam gerobak itu.
"Kami mendapatkan gerobak itu telah menjadi berantakan
di dasar jurang, tertutup dan nyaris tak dapat kami temukan di
balik semak-semak terlebat yang tak pernah tersentuh tangan
manusia. Kami menemukan perempuan yang semula kami kira
ibu dari bayi tersebut, ia sudah tidak bernafas dan keadaannya
sangat mengenaskan-suamiku mengangkatnya ke atas dengan
susah payah, bayinya masih berada dalam dekapanku.
"Sesampainya di atas, di tepi jalan, kami menjajarkan
kedua jenazah penumpang gerobak tersebut. Hanya mereka
berdua yang jenazahnya nanti kami perabukan dengan
khusyuk. Busana mereka sangat sederhana dibanding kain
sutra bersulam benang emas yang membungkus bayi itu,
tetapi yang kemudian terkotori oleh cipratan darah. Kedua
orang itu, lelaki dan perempuan yang tidak kami ketahui
merupakan suami istri atau bukan, mengenakan pakaian dari
bahan kain katun yang menutupi dada sampai ke bawah lutut,
serta membiarkan rambutnya terurai. Pada pinggang
perempuan itu melingkar sebuah tali tempat gantungan
kantung kulit, dari dalamnya tersembul selembar lontar yang
kami baca tulisannya: Tolong selamatkan putra kami. Dari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cara penulisannya kami ketahui bahwa surat ini ditulis dalam
keadaan tergesa-gesa. "Melihat gambar kura-kura di atas teratai pada kantung
kulit, kami kira kantung dan tali itu juga merupakan bagian
dari perlengkapan bayi tersebut, yang barangkali sebetulnya
masih banyak lagi di dalam gerobak, jika kemudian tidak
menjadi hancur dan tercerai berai ketika menggelinding masuk
jurang. Kuda yang kami temukan masih hidup telah dibunuh
oleh suamiku untuk mengakhiri penderitaannya. Bayi itu masih
menangis, sebagian wajahnya yang terciprat darah kuseka
dengan kain sete lah mencelupkannya ke dalam genangan air
hujan di atas daun talas dari semak-semak di tepi jalan.
"Siapakah bayi ini" Jika yang membawanya ternyata bukan
orangtuanya, bahkan bukan suami istri pula, bagaimanakah
caranya melacak asal usulnya" Kain sutra bersulam benang
emas maupun kantung kulit jelas menunjukkan betapa varna
bayi tersebut berbeda dari perempuan dan lelaki yang telah
berusaha menyelamatkannya itu. Bayi ini jelas berasal dari
keluarga bangsawan, hidungnya mancung, matanya tajam dan
dalam, kulitnya putih, tulang-tulangnya pun bagus sekali,
pertanda lahir dari keluarga yang sangat sehat makanannya-
tetapi melacaknya akan sulit, mengingat terlalu banyaknya
keluarga istana kerajaan-kerajaan kecil yang tercerai berai
setelah ditempur oleh Rakai Panamkaran, bahkan jika
diketahui bayi ini asal-usulnya mengarah kepada suatu
kejelasan atas darah kebangsawanannya, tidakkah ini justru
sangat berbahaya bagi keselamatannya"
Catatan: 3) Disebutkan dalam Berita Tiongkok dari masa Dinasti
Sung (960-1279), bahwa penduduk Jawa memelihara ulat
sutra dan membuat/menenun kain sutra halus, sutra kuning,
dan baju dari katun. Tahun 992 raja Maharaja mengirimkan
utusan ke Tiongkok dengan membawa persembahan antara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lain permata, mutiara, sutra yang disulam bunga-bungaan,
sutra yang disulam benang emas, sutra berwarna-warni, kayu
cendana, barang-barang dari kapas berbagai warna, emas,
tikar rotan dengan hiasan dan kakaktua putih. Selain itu
dikatakan bahwa raja Jawa rambutnya disanggul, memakai
krincingan emas, mantel dari sutra dan sepatu kulit.
Adapun rakyatnya membiarkan rambutnya terurai dan
memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari dada sampai
ke bawah lutut (Groeneveld, 1960: 16-7), melalui Edhie
Wurjantoro, "Widihan dalam Masyarakat Jawa Kuna Abad IX-
XI M" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV (1986), h. 197.
Meskipun peristiwa yang sedang diceritakan berlangsung satu
dan dua abad lebih awal dari tahun-tahun terbahas, data yang
sama diandaikan oleh penulis sebagai mungkin, karena
peradaban yang tercatat mungkin saja telah berlangsung
lama, dan perubahan dari abad ke abad masih cukup lamban.
"MESKIPUN begitu, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan
besar. Jika orang-orang mursal yang kini berperan sebagai
rampok dan begal yang mengepung negeri memang memburu
bayi ini, tidak mungkin keluarganya berada di pihak yang
dimusuhi Panamkaran. Mungkinkah bay i ini justru berasa l dari
keluarga bangsawan yang memegang kekuasaan sekarang"
Inilah pertanyaan yang sulit dijawab, apakah perampokan
berlangsung karena mereka menganggap terdapat barang-
barang dagangan di dalam gerobak" Ataukah berbau
pembunuhan dalam suasana permusuhan yang berlangsung
demi berbagai kepentingan di seantero Yawabumi bagian
tengah ini?" (Oo-dwkz-oO) BEGITULAH kenangan terjauh yang kukenal hanya sebagai
dunia kegelapan yang berguncang dan penuh dengan teriak
bentakan serta bunyi logam berdentang-dentang yang berasal
dari perbenturan pedang kemudian terkukuhkan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ibuku, perempuan yang kusebut ibuku, tidak menunggu
waktu terlalu lama untuk menceritakan peristiwa yang
dialam inya tersebut kepadaku. Tidak lama artinya sampai
umurku mencapai 15 tahun, ketika pasangan suami istri yang
selama ini bersikap, berlaku, dan memang selalu kukira
sebagai ayah dan ibuku membuka selubung rahasia hidupku
yang tetap saja masih saja penuh ketidakjelasan itu.
Namun kukira mereka bukannya menunggu, melainkan
karena saat itu mereka berpamitan kepadaku untuk memenuhi
tantangan untuk bertarung menghadapi lawan yang tentunya
mereka anggap jauh lebih unggul. Tampaknya mereka berdua
merasa tak akan pernah dapat kembali lagi kali ini, dan karena
itu merasa perlu menceritakan peristiwa tersebut kepadaku.
Saat itu, aku tidak terlalu peduli dengan cerita tersebut.
Hatiku tercekat dan hancur karena mereka menyatakan
betapa kepergian mereka kali ini tidaklah untuk kembali.
"Biarlah aku ikut dengan kalian, Bapak, Ibu, biarkan aku
ikut agar aku bisa membelamu atau ikut mati dalam
pertarungan itu." "Dikau tidak perlu me lakukannya Nak, tidak perlu, karena
inilah bagian kehidupan seorang pendekar. Itulah sebabnya
kami juga sengaja tidak ingin memiliki anak, karena sadar
betapa jalan kehidupan seorang pendekar sebetulnyalah
adalah jalan kematian-tetapi kami tidak dapat menolak jalan
hidupmu yang berpapasan dengan jalan hidup kami, jadilah
kamu anak kami yang telah sangat membahagiakan kami.
Masa lima belas tahun terakhir ini adalah masa yang paling
membahagiakan hidup kami.''
Aku tertunduk. Airmataku menitik. Ayahku berbicara.
"Janganlah bersedih anakku, perlihatkanlah dirimu sebagai


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

anak pasangan pendekar. Dalam perjalanan hidupmu untuk
selanjutnya, sampai kelak dikau menjadi seorang pendekar
yang ternama dan gagah perkasa, janganlah melupakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kenyataan bahwa dikau telah tumbuh dan dibesarkan oleh
kami, Sepasang Naga dari Celah Kledung. Seorang pendekar
tidak takut mati, pertarungan adalah bagian dari kewajiban
hidupnya -seorang pendekar yang menolak bertarung akan
mendapatkan nama buruk dan hidup terhina, sungguh nasib
yang lebih buruk dari kematian. Teguhkanlah hatimu anakku,
jadilah anak seorang pendekar, karena jika dunia persilatan
memang akan menjadi pilihan hidupmu, dikau akan sangat
mengerti makna perpisahan ini."
Aku mengerti, sangat mengerti, dan tidak akan bisa lebih
mengerti lagi-tetapi ini bukan soal mengerti atau tidak
mengerti, ini soal perpisahan dengan orang-orang yang kita
cintai. Perpisahan yang seperti sudah dipastikan akan
berlangsung untuk selama-lamanya. Aku memang telah dilatih
dengan segala cara untuk menjadi tabah dalam penderitaan,
tetapi inilah peristiwa yang sungguh berat kutanggungkan.
Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Kenyataan
betapa keduanya telah memungutku, dari nasib yang lebih
jauh lagi dari pasti, telah membuat kepedihanku semakin
tajam dan dalam. Namun sebelum mereka berangkat
kutanyakan sesuatu. "Siapakah sebenarnya namaku, Ibu?"
Ibuku tampak menahan air mata ketika telah duduk di atas
punggung kuda. "Kami tidak mengetahuinya anakku, kami tidak tahu
namamu ketika menemukanmu dan kami membiarkannya
tetap seperti itu. Kami tidak ingin mengubah jalan hidupmu
meski kami wajib menurunkan ilmu silat agar dikau bisa
membela diri dari bahaya yang mengancam hidupmu itu,
tetapi selebihnya kami biarkan dirimu tumbuh sebagai dirimu,
kami hanya harus selalu memupuk pertumbuhanmu itu."
"BAPAK, Ibu, jangan pergi!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun mereka menarik tali kekang kudanya dan pergi.
Ibuku masih menoleh dengan airmata berlinang yang tampak
sangat ditahannya agar tidak menetes sama sekali. Mereka
masih melangkah pelahan di antara celah ketika aku berlari-
lari di belakang mereka. "Bapak, Ibu, katakan siapa lawanmu, agar bisa kubalas
kematianmu!" Ayahku memperlambat langkah kudanya dan mengusap-
usap kepalaku. "Itu sama sekali tidak perlu, Anakku, sama sekali tidak
perlu..." Ayahku masih terus melangkah ketika ibuku me lompat
turun dan memelukku keras sekali. Seperti masih terasa
olehku betapa lembut usapannya dan betapa merasa tenang
aku dalam dekapannya, meski ternyata itu tidak berlangsung
lama. Dari balik punggungnya kulihat ayahku tampak berhenti
dan memandang kami. Ibuku berbisik lembut. "Hati-hatilah anakku sayang, sepanjang hidupmu..."
Lantas ia melompat ke punggung kudanya dan melaju
tanpa menoleh-noleh lagi. Aku memandang mereka berdua
menjauh dari balik tirai air mata sampai mereka lenyap keluar
celah tebing dan tidak kelihatan lagi. Aku telah dilatih untuk
tidak bersikap kekanak-kanakan dan karena itu aku tidak
berlari-lari sambil berteriak-teriak menyusulnya, tetapi dalam
dadaku terasa kedukaan yang teramat sangat dan tidak
tertahankan. Itulah kenangan terakhirku tentang kedua orang tuaku,
sejauh kualam i kebersamaanku dengan mereka sebagai ayah
dan ibuku, kenangan tentang sepasang pendekar yang
menjauh dan pergi, sepasang pendekar di atas kuda yang
menyoren pedang di punggungnya...
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Episode 22: [Pendekar Harus Membela yang Lemah dan
Tidak Berdaya] Lima belas tahun yang berbahagia hapus oleh peristiwa
satu hari. Bukan, bukan karena aku hanyalah anak pungut
mereka, sama sekali bukan, tetapi perpisahan yang bagiku
terasa mendadak itulah, perpisahan untuk selama-lamanya,
yang telah mencerabutku dari suasana keceriaan seorang
remaja. Semenjak mereka pergi dan menghilang di balik celah
itu, mereka memang tidak pernah kembali lagi. Peristiwa ini
terjadi tahun 786, ketika Rakai Panunggalan baru bertakhta
dua tahun dalam masa pemerintahannya yang hanya akan
berlangsung sembilan tahun.
Aku menjadi seorang pemurung. Setiap hari aku hanya
duduk di depan pintu pondok, terus memandang ke arah
celah, seolah-olah mereka setiap saat akan muncul di sana,
duduk dengan gagah di atas kuda mereka yang tegap, seperti
biasanya apabila mereka pulang dari perjalanan yang jauh.
Pondok itu memang terletak di sebuah lembah yang subur.
Di depan pondok itu terdapatlah lahan tempat ayah dan ibuku
bercocok tanam. Lahan itulah yang telah membesarkan aku, di
sana terdapat segala macam pohon dan tanaman rambat yang
kami masak setiap hari. Ayah dan ibuku tentu juga mengajari
aku berburu, tetapi bukan berburu seperti seorang pemburu,
melainkan sebagai seorang pendekar silat yang mampu
bergerak cepat tanpa suara dari dahan ke dahan. Jadi kami
tidak memasang jerat atau membawa senjata, melainkan
terbang dari pohon ke pohon di dalam hutan sebelum menukik
dan membunuh binatang buruan kami.
Seringkali perburuan itu dilakukan dengan tangan kosong,
karena menurut ayah dan ibuku ini merupakan salah satu cara
melatih ilmu silat, misalnya bahwa binatang buruan itu harus
dilumpuhkan tanpa menyakitinya. Demikianlah aku mendapat
pengertian betapa berburu demi kesenangan layak dikutuk,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tetapi berburu untuk mendapatkan daging untuk dimakan dan
melanjutkan kehidupan serta membangun kebudayaan adalah
suatu pilihan yang harus dipertanggung jawabkan-yakni
bahwa hidup kita itu memang berguna bagi banyak orang.
Sebagai bayi yang diasuh pasangan pendekar, tiadalah
terhindarkan betapa ilmu silat mereka itu seolah-olah wajib
diturunkan kepadaku. "Apabila kami melatihmu ilmu s ilat, wahai anakku, bukanlah
berarti bahwa dikau harus mengikuti jejak kami untuk
mengarungi rimba hijau dan melayari sungai telaga dunia
persilatan, karena dengan begitu seolah-olah kehidupanmu
sudah ditentukan. Melainkan agar kamu mempunyai
kemampuan membela diri dan tidak mudah dicelakakan orang.
MENJADI berguna bagi banyak orang tidak berarti kita
harus menjadi seorang pendekar silat, karena kita dapat
mengabdi kepada kemanusiaan melalui segala jalan. Jika
dikau seorang tukang masak dan mendirikan kedai anakku, itu
berarti dikau peduli kepada mereka yang kelaparan dalam
perjalanan; jika dikau seorang petani dan menghasilkan
banyak padi yang dipanen, dikau telah membantu tersedianya
bahan makanan di negeri ini; dan jika dikau seorang guru
yang mengajarkan kepandaian membaca kepada murid-
muridmu, berarti dikau telah membukakan sebuah dunia
untuk mereka anakku. "Dikau tak harus menjadi seorang pendekar dan mengikuti
jejak kami, bukan karena dunia persilatan adalah jalan yang
pasti menuju kematian dalam pertarungan, melainkan karena
melalui jenis pekerjaan yang mana pun, dengan ilmu dalam
bidang apa pun, siapa pun dia akan mengetahui suatu untuk
membuatnya berguna bagi kehidupan banyak orang."
Harus kuakui betapa dalam lima belas tahun kehidupanku
itu, kehidupanku bersama ayah dan ibuku, pasangan pendekar
yang mengasuhku itu, adalah kehidupan yang sampai hari ini
pun masih sangat berkesan bagiku.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku bisa mulai dengan keadaan sekitarku. Telah
kuceritakan tentang terdapatnya sebuah pondok. Itulah
pondok yang menjadi rumah kami. Atap rumah kami
berbentuk limas, yang melebar di bagian bawahnya,
sebagaimana rumah-rumah pedesaan yang lain. Bahan
bangunan untuk rumah di pedesaan bisa sangat beragam,
mulai dari batu, kayu, bahkan logam, tetapi ayah dan ibuku
telah memilih untuk membangun rumah dari kayu. Adapun
atapnya merupakan atap ijuk pohon enau. Karena bahan
rumah kami adalah kayu, terdapat tiang yang memiliki rongga
mirip jendela; berbeda dari bangunan dengan tiang logam,
yang bentuk tiangnya tergambar sangat tipis pada pahatan
dinding Kamulan Bhumisambhara; berbeda juga dari
bangunan batu, yang tergambar berbentuk pejal.
Seperti orang-orang yang hidup di pedesaan, dalam
membuat rumah kami selalu menyesuaikan diri terhadap
keadaan alam dan iklim Yawabumi. Melebarnya atap rumah di
bagian bawah, sebetulnya untuk menaungi penghuni dari
hujan yang turun hampir sepanjang tahun, terik matahari
musim panas dan kelembaban tanah yang tinggi. Meskipun
kehidupan pasangan pendekar yang mengasuhku tidak
disamakan dengan kehidupan orang desa yang awam, rumah
ini sama saja dengan rumah yang dibangun dengan
penyesuaian terhadap kehidupan orang desa itu, bahwa lelaki
lebih sering melakukan kegiatan di luar atau di sekitar
halaman rumah, sedangkan kaum perempuannya lebih banyak
berada di belakang rumah. Mengikuti banyak bangunan di
pedesaan, rumah kami lantainya juga ditinggikan dan
disangga tiang, sehingga terdapat ruang antara lantai rumah
dengan tanah. Sebagai pasangan pendekar silat yang menyadari bahwa
cara hidupnya akan sangat berbeda dari orang-orang awam di
desa, ayah dan ibuku memang membangun rumah dan
bermukim agak terpisah dari mereka. Namun itu tidak berarti
kami terputus sama sekali dari kehidupan orang-orang desa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Jika aku keluar dari celah dan berjalan kaki menyeberangi
hutan sepenanak nasi lamanya, akan terhamparlah pemandangan rakyat yang sibuk membajak sawah dan
menanam; anak-anak menggembalakan kerbau-kerbau yang
akan tiba-tiba lari jika terkejut oleh pemandangan luar biasa
serta bunyi kuda-kuda dan gajah. Jika hal itu terjadi, yang
lewatnya rombongan petinggi kerajaan, rakyat untuk
sementara meninggalkan pekerjaan, jongkok di pinggir jalan
sementara pawai itu lewat dan minta sedekah berupa sirih.
Apabila aku terus melangkah ke arah timur laut, ke desa-
desa yang lebih makmur, akan kulihat tempat jurang-jurang
memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali bila kita
melihat ke bawah; taman-taman pesanggrahan-pesanggrahan
yang melingkar, candi-candi dan pertapaan seseorang, itu
semua menimbulkan rasa kagumku. Ladang-ladang luas
terhampar, tersebar pada lereng gunung; sebatang sungai
besar turun dari bukit dan mengairi tanaman itu.
ADAPUN sebuah dusun yang kupandang dari atas, terletak
di bawah, dalam sebuah lembah di tengah-tengah punggung-
punggung bukit. Bangunannya indah sekali, atapnya yang
dibuat dari lalang terselubung oleh hujan gerimis. Gumpalan-
gumpalan asap melayang jauh, meninggalkan bekasnya di
langit. Balai desa terlindung oleh sebatang pohon banyan,
atapnya terbuat dari gelagah; tempat di bawahnya sering
diadakan musyawarah. Di sebelah barat terdapat punggung-punggung bukit yang
penuh dengan sawah-sawah, pematangnya kelihatan jelas dan
tajam. Halaman-halaman saling berdekatan, rapi berderet,
pohon-pohon nyiur semuanya diselimuti kabut. Sayap-sayap
burung kuntul berkilauan ketika mereka terbang di atas,
samar-samar kelihatan dari jauh di tengah-tengah awan-awan,
kemudian mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak
kelihatan lagi. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di sampingnya terdapat sebuah padepokan dekat sebuah
sungai besar yang airnya dalam sekali. Gapuranya menjulang
putih bersih, temboknya dibuat dari tanah dan me lingkar
tinggi, tanpa sela. Pohon tanjung, cempaka, bana, dan
nagakusuma menyebarkan keharuman karena bunganya
semua mekar; pohon-pohon itu teratur baris demi baris
mengelilingi biara bersama dengan tembok; dengan tak
hentinya kumbang-kumbang berdengung.
Di dalam tembok biara itu terdapat gardu-gardu ramping,
beratapkan ijuk enau bagaikan sebuah lukisan. Tunas
kembang jangga terkulai jatuh dari paga-paganya yang sarat,
sulur-sulurnya berjalinan sedangkan harum bunganya lembut
mewangi. Daun-daun katangga terserak di atas atap-atap
terbawa oleh angina. Atap-atap itu laksana gadis-gadis yang
menghiasi rambutnya dengan bunga-bunga, indah untuk
dipandang. Di sebelah utara terdapat tempat-tempat persembahan
yang rapi bersih, di tengah lapangan yang gundul kelihatan
cerah dan hijau. Kuil-kuil itu kelihatan mulia, diselubungi oleh
kabut pagi. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar tangisnya
para heping; bunyi suara mereka yang melengking sungguh
mengharukan hati. Suara keong yang ditiup terdengar keras
dan terus menerus, serasi dengan suara lonceng-lonceng yang
mengajak manusia untuk berdoa.
Dengan begitu aku memang dibesarkan dalam suasana
terpencil, karena pondok kami memang terasing di balik hutan
dan hanya dapat dicapai setelah memasuki celah sempit yang
panjang itu, tetapi itu tidak berarti aku terasing dari
masyarakat di sekitarku. Bahkan sebenarnyalah ayah dan
ibuku selalu mendorong aku agar tidak tenggelam dalam
latihan ilmu silat dan pembacaan kitab-kitab yang bertumpuk
di dalam pondok. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Mengenal manusia adalah bagian dari pengenalan atas
dunia," kata ibuku, "karena manusialah yang memberi makna
dunia."

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jika kemudian aku melangkahkan kaki dan berjalan dari
desa ke desa, takjarang terlihat betapa di daerah pegunungan
terdapat desa yang miskin, yang lumbung-lumbungnya kecil
dan lembu-lembu demikian kurus di bawah ukuran wajar,
sehingga lebih menyerupai domba-domba. Namun apabila
kemudian aku sampai pula ke dusun yang makmur, terutama
yang berada di dekat pertapaan, maka ada kalanya aku tidak
dapat tidur karena dusun itu sudah bangun meski hari masih
gelap. Penduduk menyalakan lampu dan mulai bekerja di
tempat pencucian serta pembuatan periuk yang keduanya
terletak di dekat sungai. Buny i alat-alat yang berketak-ketok
terdengar jauh di waktu malam.
Para penjual mulai mengatur barang dagangannya; mereka
tidak mempedulikan bahwa hari masih begitu dini demi
keuntungan yang nanti akan dipetik. Lauk-lauk yang sudah
dimasak siap untuk dibawa ke pasar; dan bahan makanan
yang sedang digoreng memperdengarkan suara mendesis,
seolah-olah mengundang orang untuk membelinya .
Jika kutinggalkan dusun ini dan meneruskan perjalanan
menyusuri punggung sebuah gunung, maka di bawah dekat
pantai kelihatan sebuah dusun dengan kotak-kotak putih,
tempat garam dibuat. Tambak-tambak menyerupai sawah-
sawah dan orang-orang yang menangkap belut kelihatan
seperti orang yang menanam padi. Di pinggir sawah-sawah
dan di sepanjang lereng-lereng gunung pohon-pohon
menyerupai wayang-wayang yang nampak dalam kabut tipis
yang meliputi segala-galanya. Lagu-lagu diperdengarkan oleh
suara burung kuwong yang lembut sedangkan suara derak-
derik bambu di dalam jurang-jurang menggantikan bunyi
salunding. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di sungai alat-alat kotekan disusun baris demi baris, seperti
salunding dalam wayang. Bambu-bambu berlubang yang
dipermainkan angin menyerupai seruling-seruling, sambil
mengikuti iramanya. Gending-gending disediakan oleh kaiak
kungkang di dalam jurang-jurang, sedangkan bunyi
melengking dari jangkrik-jangkrik menyerupai bunyi alat-alat
kamamak canang. Gunung gunung mempergelarkan pertunjukan wayang; bayangan sosok pohon-pohon nampak
lewat tirai kabut tipis. Burung perkutut menabuh salunding
disertai suara para kidang. Kidung-kidung dinyanyikan oleh
burung-burung merak dengan jeritan mereka yang menyayat
hati. Namun kehidupan tidaklah selalu tenteram dan damai
seperti gambaran para kawi. Dalam berbagai perjalanan,
ketika diajak ayah-ibuku maupun dalam perjalananku sendiri,
kadang-kadang kutemukan prasasti maupun naskah yang
menunjukkan terdapatnya bermacam-macam kejahatan. Di
antaranya terdapatlah yang disebut astadusta, yakni
membunuh orang yang tidak berdosa, menyuruh membunuh
orang yang tidak berdosa, melukai orang yang tidak berdosa,
makan bersama seorang pembunuh, mengikuti jejak
pembunuh, bersahabat dengan pembunuh, memberi tempat
persembunyian kepada pembunuh, dan memberi pertolongan
kepada pembunuh. Ini belum termasuk kejahatan lain seperti
merampok, memperkosa, mengamuk, maupun berbagai
bentuk kejahatan yang berhubungan dengan utang piutang
dan jugs pengkhianatan terhadap negara.
Kelak aku akan banyak mengetahuinya dari Arthasastra,
tetapi sebelum itu ayahku telah memperkenalkan tatacara
yang berbeda dalam dunia persilatan, yang sangat berbeda
dengan peradaban orang awam yang mengandalkan hukum
dan kebijakan raja dalam mengatasi kejahatan.
"Seorang pendekar akan sering tidak punya pilihan selain
membunuh atau. dibunuh, dan meskipun bertentangan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan hati nurani, kita tidak dapat melepaskan diri dari
pilihan itu. Kecuali takkaupilih dunia persilatan sebagai jalan
hidupmu," kata ayahku dulu.
Namun orang-orang awam yang bahkan tidak menyadari
betapa dunia persilatan itu ada, tidak juga asing dengan
pilihan semacam itu. Justru itulah yang membuatku kagum
dengan semangat dan nyali mereka yang besar-ternyata tidak
harus menunggu untuk menjadi pendekar agar bisa menjadi
seorang pemberani. Dengan kepandaian bela diri apa adanya, jelas tanpa
tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, orang-orang
awam ini berani menempuh bahaya, memasuki hutan dan
menapaki jalan sepi pada malam hari meski terkadang hanya
sendirian. SUATU ketika saat mengikuti ayah dan ibuku dalam suatu
perjalanan mengunjungi seorang guru, kami memergoki
sejumlah begal sedang mengepung rombongan pedagang
yang membawa ikan asin, dendeng ikan, dan garam dari
daerah pesisir untuk diedarkan ke pedesaan. Mereka
mengangkutnya dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau.
Mereka telah membayar pajak kepada setiap hulu wwatan di
jembatan, dan untuk menghindari pemerasan tengkulak yang
disebut pengepul, mereka telah berusaha mengangkut sendiri
barang-barang dagangan ini. Dari daerah pesisir ke wilayah
pegunungan ini, alangkah jauhnya! Me lewati hutan, begal-
begal bermunculan dari balik pepohonan.
Waktu kami tiba di sana, belum jatuh korban, tetapi begal
ini banyak sekali. Umurku masih enam tahun waktu itu dan
aku sudah dilatih Ilmu Pedang Naga Kembar, meskipun aku
hanya mampu memainkannya dengan pedang kayu yang
ringan. Tentu saja pasangan pendekar yang telah berlaku
sebagai orang tuaku itu melarang aku bertempur.
"Tidak baik anak enam tahun menumpahkan darah," kata
ibuku, "melihat pembunuhan pun sebetulnya tidak bisa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dibenarkan, tetapi kamu dibesarkan oleh kami, tidak boleh
kamu menjadi orang yang lemah." Untuk kali pertama aku
melihat kedua orang yang membesarkan aku bagai
menunjukkan siapa diri mereka. Begal-begal itu langsung
pucat melihat orang tuaku datang menyerbu di atas punggung
kuda. "Sepasang Naga dari Celah Kledung!" Mereka berteriak
nyaris bersamaan. Kedua pedang di tangan pasangan pendekar itu sudah
berubah menjadi baling-baling yang menyambar setiap begal
bertenaga kasar itu. Para pedagang yang juga memegang
pedang, tapi memainkannya dengan jurus-jurus yang terlalu
sederhana, tampak mengambil nafas lega. Nama Sepasang
Naga dari Celah Kledung sudah terkenal sebagai pembasmi
begal. Pasangan itu tidak peduli, apakah seseorang menjadi
begal karena tersingkir dari gelanggang kekuasaan dan
menjadi mursal, ataukah tidak tahu jalan hidup lain selain
menjadi begal. Bagi mereka, penindasan dengan kekerasan
terhadap orang-orang yang lemah adalah suatu kejahatan dan
ketidakadilan, yang menuntut campur tangan mereka sebagai
orang yang berilmu dengan banyak kelebihan.
"Kalau dikau memilih jalan hidup sebagai pendekar anakku,
dikau harus selalu membela mereka yang tidak berdaya," ujar
ibuku, setiap kali usai menceritakan dongeng sebelum tidur.
Dengan cepat begal-begal itu ditewaskan tanpa ampun.
Ternyata aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri
tanpa bergidik sama sekali. Apakah ini karena suara pertama
yang kuingat adalah suara benturan golok dan jeritan
kematian" Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dua
pasang pedang yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Naga
Kembar berkelebat dengan tegas membelah dada, menusuk
perut, memapas leher, dan menebas punggung. Sepintas lalu
gerakan keempat pedang itu memang seperti geliat sepasang
naga yang menganga dan memagut dari segala arah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Jerit kematian berkali-kali membelah langit dan dalam
sekejap lima belas mayat berdada telanjang bergelimpangan
dengan tubuh menganga karena luka lebar bersimbah darah.
Sampai matahari turun dan langit menjadi gelap aku masih
duduk termenung di depan pondok, menatap celah tebing
bagaikan keduanya setiap saat akan kembali.
Aku teringat mereka berdua. Sedih sekali. Memandang ke
arah celah, aku teringat segala peristiwa yang telah kualami
bersama mereka. (Oo-dwkz-oO) TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
KITAB 2: CATATAN SEORANG PENDEKAR (Oo-dwkz-oO) Episode 23: [Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar]
CELAH itu menggelap karena langit memang menggelap.
Tidak ada yang bisa kulihat lagi selain kekelaman yang
membenam, semakin lama semakin mengelam dan semakin
mengesahkan kehadiran malam. Apakah aku harus hidup
sendiri sekarang, betul-betul sendiri dan selamanya hanya
sendiri" Kepergian kedua orangtuaku, yang telah menyatakan
diri mereka tidak akan pernah kembali lagi, bagaikan suatu
isyarat bahwa kehidupanku sudah waktunya menjadi mandiri.
Memang benar aku nyaris menguasai segala kepandaian yang
kubutuhkan agar tidak mati kelaparan, mampu membela diri,
bahkan mendapat penghasilan; dalam hal itu pengetahuan
dan keterampilan yang mereka perkenalkan kepadaku tidak
perlu diragukan lagiotetapi kasih sayang tiada tergantikan
yang mereka limpahkan telah membuat jiwaku mendadak
kosong hanya dalam semalam.
DALAM kegelapan malam dadaku terasa hampa dan
kehampaan ini mengingatkanku kepada hari-hari pertamaku
bersama mereka. Bukankah aku bayi yang terenggut dari
pelukan seseorang yang kemungkinan besar bukan ibuku"
Berapa lamakah perempuan yang melahirkan aku sempat
merawatku dan jika aku memang bayi yang telah berpindah
tangan dari perempuan yang melahirkanku, seberapa lamakah
seseorang yang merawat dan menyusuiku telah memberi
perasaan terdapatnya seorang ibu kepada diriku" Betapapun
perasaan hampa karena kehilangan itulah yang kurasakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
setiap kali berusaha menggapai masa terawal dari
kesadaranku, kesadaran yang hanya bisa dirasa-rasakan!
Namun dengan terbaliknya keropak-keropak kenangan,
merasuklah aliran lembut kebahagiaan dari lengan-lengan
kukuh tetapi penuh dengan kasih sayang tiada terbahasakan.
Siapakah orangtuaku sesungguhnya" Sungguh aku tidak, tidak
pernah, dan bagaikan tidak akan pernah mengetahuinya,
tetapi aku sungguh merasa mempunyai orangtua, ayah dan
ibu yang sangat mencintaiku, aku tidak merasa kekurangan
dan kehilangan sesuatu pun, karena kekurangan dan
kehilangan memang adalah milikku.
Di antara lengan kukuh itulah akan selalu kudengar
senandung. Apakah ibuku akan menidurkan aku, atau
memberitahuku akan sesuatu" Aku tidak merasa mampu
menuliskan kembali senandung dalam nyanyian itu, karena
aku merasa kata-kata dalam syairnya seperti akan berubah
maknanya tanpa nada-nada yang terdengar disenandungkannya. Aku hanya merasa seperti terhanyutkan
di sebuah sungai riwayat, betapa seorang anak mungkin saja
tak akan pernah mengetahui asal-usulnya, dan betapa juga
orangtuanya tidak akan pernah mengetahui nasib anak yang
telah dengan terpaksa dititipkannya kepada seseorang itu.
Kupandang langit malam, bintang-bintang berserak di
tempat yang bisa dipastikan. Namun percaturan nasib
antarmanusia siapakah yang bisa memastikannya" Seseorang
lahir di suatu tempat, seseorang yang lain lahir di tempat lain,
dan apabila mereka dipertemukan ternyata hanya untuk saling
berbunuhan. Siapakah ayahku yang sebenarnya" Siapakah
ayah dari ayahku dan siapakah kakek dari kakekku" Siapakah
ibu dari ibuku dan siapakah nenek dari nenekku" Manusia
makin lama makin banyak memenuhi Yawabumi, manusia
pertama yang menginjak Yawabumi entah pula darimana
datangnya, tetapi kemudian semua orang datang beramai-
ramai ke Yawabumi. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Siapakah kedua orangtuaku sesungguhnya" Mungkinkah
mereka tidak berasal dari Yawabumi" Ibuku meninggalkan
kantung kulit bergambar kura-kura di atas bunga teratai.
Tidakkah kura-kura melambangkan harapan untuk berumur
panjang dan teratai yang merekah dimaksudkan sebagai
pencerahan" Jika umurku ternyata mencapai 100 tahun
sampai hari ini dan ternyata tidak mati-mati juga,
bagaimanakah bisa dihubungkan dengan gambar kura-kura
pada kantung kulit tersebut" Aku sudah lupa dan memang
berusaha dengan berhasil melupakan pesan yang tertulis pada
keping lontar di dalam kantung kulit tersebut: Tolong
selamatkan putra kami. Namun kini aku terpaksa menjadi
teringat kembali. Meski begitu, perasaan yang kualami sekarang tidaklah
seperti ketika aku termenung menatap Celah Kledung sampai
ditelan kegelapan tersebut. Ketika itu aku hanya teringat
orangtuaku seperti yang telah kualami dan kuhayati sebagai
orangtuaku meskipun mereka bukanlah orangtuaku yang
sebenarnya. Tantangan siapakah yang akan mereka penuhi
dan siapakah kiranya yang akan mampu mengalahkan
Sepasang Naga dari Celah Kledung yang begitu sakti"
Meskipun sejak kecil sudah kudengar pepatah itu, di atas
langit ada langit, aku selalu menganggap pasangan pendekar
yang mengasuhku bagai takakan pernah terkalahkan. Betapa
tidak jika aku telah menyaksikan latihan-latihan mereka sejak
kecil, bahkan ikut berlatih bersama mereka, sehingga
pendapatku itu sungguh ada dasarnya.
Dalam pertarungan latihan mereka berdua terlalu sering
membuatku

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terpesona dengan gerak mereka yang mengingatkan kepada terbangnya elang, lompatan harimau,
dan sentakan naga. Apabila mereka kemudian menguji Ilmu
Pedang Naga Kembar maka dalam kelebat cahaya pedang
mereka yang berkilatan akan tampaklah gambaran naga
kencana yang mengibas dengan anggun dan penuh pesona,
dengan gagah tetapi juga mematikan. Ilmu Pedang Naga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kembar adalah ilmu pedang berpasangan, gunanya agar
sepasang pendekar ini berada di satu pihak ketika menghadapi
lawan, apakah itu hanya satu orang ataukah satu pasukan.
Namun menghadapi lawan yang hanya satu orang itu harus
dengan catatan bahwa lawannya tersebut memang betul-betul
digdaya. Entah bagaimana caranya melatih ilmu berpasangan
tersebut dengan saling berhadapan. Meskipun ketika tiba-tiba
saatnya mereka memang berpasangan seperti menghadapi
lawan, maka gerak yang kusaksikan tiada lain selain
keindahan. MUNGKIN karena itulah sebagai anak kecil kemudian aku
selalu mencoba-coba menirunya. Mencoba gerak ini dan
mencoba gerak itu, sampai akhirnya jatuh karena takmampu.
Maka kemudian pasangan pendekar ini akan terhenti
latihannya. Tertawa dan menyambarku, menimang-nimang dan lantas
membawaku terbang setinggi pohon kelapa, membopongku
sambil me layang dan melenting dari puncak pohon yang satu
ke puncak pohon yang lain.
Demikianlah mata, pergerakan, dan kesetimbangan ragaku
menjadi terbiasa dengan kedudukan dalam ketinggian,
percepatan dalam perkelebatan, dan keheningan dalam
pemusatan pikiran di tengah pertarungan. Ada kalanya
pasangan pendekar ini bertarung sambil berganti-ganti
melemparkan aku, sebagai latihan pertarungan sambil
membawa beban. Pada malam hari mereka berbincang sembari menghadapi
sebuah kitab, artinya gulungan keropak lontar yang dibuka,
dan perbincangan itu bisa berlangsung sampai larut sekali.
Sebagai anak kecil, aku tentu tiada terlalu paham, dan lebih
sering jatuh tertidur di pangkuan salah satu dari mereka,
ketika berusaha sekuat bisa menangkap persoalan dan
mengikutinya. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun ada kalanya yang terbaca itu disenandungkan
dengan lirih dan perlahan, sehingga meskipun masih tetap
tiada dapat menangkap maknanya dan tetaplah kemudian
tertidur dalam keterbuaian, tetapi kata dalam nada-nada itu
terhapalkan bagaikan lagu dalam perbendaharaan kenangan.
Kemudian, kelak, pada masa mendatang, aku akan
terheran-heran dengan pengenalan atas suatu pengetahuan
yang tiada pernah kusadari ternyata memilikinya, karena
terpendam dalam-dalam di dalam endapan kenangan.
Pengetahuan yang bagaikan begitu saja muncul padahal telah
lama bermukim dalam bawah sadar dan menyeruak ketika
terpanggil oleh pengalaman yang mengingatkan.
Menyadari apa yang telah kumiliki melalui keberadaan
mereka, aku tidak dengan segera dapat memaklumi, kenapa
sepasang pendekar yang sangat berbudaya memilih bertarung
sampai mati, daripada menghindari pertarungan untuk
mempertahankan kehidupan.
Aku percaya, keberadaanku telah mereka perhitungkan
untuk menerima sebuah tantangan, jika kemudian mereka
memutuskan untuk berangkat dan meninggalkan aku, itu
berarti mereka percaya aku akan mampu hidup dalam
kemandirian. (Oo-dwkz-oO) DALAM gelap, aku memang merasa sendiri, terlalu sendiri,
dan terandaikan akan selalu sendiri. Memang benar aku akan
mampu hidup mandiri, tetapi aku merasa lebih suka bersedih
dan merana daripada bersikap seolah-olah tiada perubahan
apapun dalam hidupku. Kukira aku memang tiada mempunyai maksud lain selain
meneruskan kehidupan di Celah Kledung. Namun hidup tidak
selalu berlangsung seperti yang kita angankan.
Terdengar suara ranting kering yang terinjak. Meski tidak
kulihat sosoknya aku tahu dia berada di mana. Di dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rumah tak ada lampu menyala. Barangkali orang yang datang
mengendap-endap itu juga tidak tahu di mana aku berada.
Mestikah aku melumpuhkannya dengan pisau terbang yang
terdapat di balik dinding rumah" Dalam usia 15 tahun, jika aku
berkata melumpuhkannya sudah pasti berarti membunuhnya,
karena ilmu totok jalan darah yang rumit belum kukuasai
sepenuhnya. Lebih mudah bagiku untuk membunuhnya.
Namun benarkah aku harus membunuhnya"
Aku menggulingkan diriku ke dalam rumah. Lantas
mengendap-endap keluar dari pintu belakang. Di belakang
rumah terdapat sepetak ladang jagung. Aku menyelinap dan
bersembunyi di sana tanpa suara. Lantas, masuklah sosok
berbalut busana serba hitam itu ke dalam rumah.
Aku menahan nafas. Bukanlah sekadar apa yang
diinginkannya jadi pertanyaanku, melainkan bagaimana aku
harus menghadapinya. Terbetik dalam kepalaku bahwa
kedatangannya berhubungan dengan kepergian ayah dan
ibuku. Namun bukan takmungkin ini hanya seorang penantang
lain yang kadang-kadang memang tanpa aturan datang
mengajak beradu. Ia datang pada malam buta dan mengendap-endap pula.
Mengingatkanku kepada suatu kejadian serupa.
AKU masih tidur nyenyak ketika ayahku membangunkan
aku perlahan-lahan sembari membekap mulutku. Ketika
mataku terbuka kulihat telunjuknya di depan mulut. Aku
segera mengerti. Kulirik ke samping, ibuku yang rambutnya
masih terurai dan hanya mengenakan selembar kain yang
terikat di atas dada, tampak merapat ke dinding dan
memegang pedang. Aku dan ayahku tidak beranjak.
Ditunjuknya arah atap daun enau, dan tampak telapak tangan
meraba-raba dari luar, berusaha mencari celah untuk
diangkat. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ayahku meraup butiran kacang tanah di lantai sambil
memberi isyarat kepada ibuku. Mereka tampak siap. Lantas
ayahku sekali lagi memberi isyarat agar aku diam. Kemudian
dijentikkannya kacang itu, yang melesat ke arah tangan yang
meraba-raba tersebut. Ibuku menunggu.
Ketika kacang mengenai telapak tangan tersebut, ternyata
melesak masuk, bahkan menembusnya! Terlihat tangan itu
ditarik dan terdengar teriak kesakitan memecah malam, saat
itu ibuku sudah berkelebat keluar dan melayang ke atas atap.
Rupa-rupanya ia mengayunkan pedang dan tubuh itu
terdengar menggelinding ke bawah. Berdebam jatuh di atas
tanah. Ayahku keluar dengan pandangan bertanya. Ibuku yang
melayang turun ternyata sudah memegang pisau terbang
yang dilemparkan kepadanya. Ia tunjukkan pisau itu kepada
ayahku. "Siapa kau dan siapa yang menyuruhmu?"
Ayahku bertanya kepada orang itu. Segenap busananya
hitam menutup tubuh meski agak kusam.
"Ampun!" Orang itu terkapar dengan dada terbelah karena ayunan
pedang ibuku, yang ketika me lesat tangan kirinya sempat
menangkap pisau terbang yang dilemparkan orang itu.
Dadanya bergaris luka memerah darah, tetapi ia belum mati.
"Kamu akan segera mati," kata ibuku, "lakukanlah kebaikan
dalam akhir hidupmu. Katakan siapa yang menyuruhmu."
Ia tampak kesakitan, tetapi masih bisa tersenyum.
"Kebaikan...," desahnya, "kebaikan?"
Lantas ia pun mati. Ayahku menyingkap kain yang ikut terobek oleh pedang
ibuku, dan mendekatkan lampu yang baru dinyalakannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ternyata pada dadanya terdapat rajah bergambar cakra.
Kuingat ayah dan ibuku saling berpandangan. Mereka tidak
mengatakan apa-apa. Dalam cahaya api dari lampu kulihat
ibuku yang hanya berbalut selembar kain, rambutnya terurai,
dan memegang pedang bersimbah darah. Aku masih ingat
kain batiknya yang bergambar bunga-bungaan.
Ibuku lantas mendekatiku. Mungkin aku masih berumur
sekitar 6 tahun waktu itu. Ayahku yang rambutnya juga masih
terurai menaikkan orang yang sudah mati itu ke atas
punggung kuda, lantas membawanya pergi setelah merapikan
diri. "Tidurlah kembali anakku," kata ibuku, sembari mengusap
wajahku. Ingatan selanjutnya hanyalah kegelapan.
Kegelapan itulah agaknya yang telah mengembalikan
ingatanku, ketika pada usia 15 tahun dalam keadaan baru saja
ditinggalkan kedua orangtuaku seseorang mengendap-endap
di dalam rumahku. Mungkin peristiwa itulah yang membuat
aku bertanya-tanya, perlukah aku membunuhnya" Namun
untuk tingkat ilmu s ilatku saat itu tidaklah terlalu mudah untuk
melumpuhkan tanpa membunuhnya. Meskipun begitu aku
tetap merasa penasaran, karena berharap terdapat sesuatu
yang menghubungkan aku dengan kepergian orangtuaku,
yang seperti telah memastikan tiada akan pernah kembali lagi.
Bahkan menutup kemungkinan balas dendam jika mereka
terkalahkan dalam pertarungan.
"Balas dendam adalah lingkaran setan yang harus
dihancurkan," ujar ayahku suatu ketika, "seorang pendekar
yang bijaksana tidak selayaknya terlibat dalam pembalasan
dendam atas suatu pertarungan yang sah dan adil, meskipun
orangtuanya sendiri yang tewas dalam pertarungan."
Di dalam pondok, orang itu menyalakan lampu, tetapi ia
membelakangiku dan aku tidak bisa me lihat wajahnya. Aku
mengendap-endap mendekat. Jika ia ingin mencuri salah satu
apalagi seluruh tumpukan kitab yang ada di dekat tempat ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berdiri, aku harus menempurnya, meskipun untuk itu aku
harus mati. Namun berlangsung peristiwa yang lebih cepat dari kata-
kata. Mendadak saja orang tersebut meniup api sampai
padam, lantas terdengar pedang beradu dan lentik api sesaat,
yang diakhiri desah tertahan menahan sakit. Lantas malam
kembali sunyi. AKU tak bergerak sama sekali. Bagiku keadaan seperti ini
menegangkan sekali. Aku bahkan menunggu sampai fajar
menyingsing, sebelum berani keluar dari persembunyian di
ladang jagung itu. Aneh sekali rasanya memasuki pondok sendiri dengan
sangat hati-hati seperti ini. Di dalam masih remang, tetapi
segala sesuatu telah menampakkan dirinya bersama
merayapnya matahari. Dua mayat tergeletak bagaikan muncul pelahan dari pendar
keremangan. Keduanya mati bersama dalam pertarungan
singkat di tengah malam. Pedang masing-masing tertancap di
tubuh yang lain. Masihkah ini suatu kebetulan jika keduanya
datang berurutan setelah ayah dan ibuku pergi" Apakah nasib
kedua orangtuaku sudah dipastikan, sehingga rumahku
bagaikan tempat yang terbuka bagi penjarahan yang mungkin
akan berlangsung dari hari ke hari"
Hatiku sedih dan kacau, tetapi ibuku telah lama melatihku
dengan segala cara untuk mampu mengambil keputusan pada
saat yang menentukan. Aku mencoba meredam kegelisahan
atas nasib yang menimpa pasangan pendekar yang telah
berlaku sebagai orangtuaku itu. Bahkan aku sama sekali tidak
memeriksa mayat-mayat itu kembali. Cukup bagiku, dengan
melihat jenis pedangnya yang jelas bukan golok pembelah
kayu bakar, bahwa keduanya adalah orang-orang sungai
telaga dunia persilatan. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku harus segera meninggalkan pondok yang telah menjadi
tempat aku dibesarkan ini dengan mendadak dan tanpa
persiapan sama sekali. Baru kemarin pasangan pendekar yang
telah mengasuh dan berlaku sebagai orangtuaku itu
berpamitan untuk pergi selama-lamanya, sedangkan hari ini
dengan segera dan terpaksa meski atas keputusan sendiri, aku
akan meninggalkan tempat ini, juga tanpa kejelasan apakah
suatu ketika akan kembali lagi. Aku harus menyelamatkan
harta warisan pasangan pendekar itu, yakni kitab-kitab ilmu
silat dan kitab-kitab ilmu pengetahuan, yang berwujud
gulungan keropak lontar bertumpuk-tumpuk rapi di dalam
sebuah peti kayu. Adapun peti kayu itu sudah terbuka ketika aku memasuki
pondok. Orang yang memasuki rumah telah membukanya
sebelum mati bersama dalam pertarungan singkat di
kegelapan. Ini berarti orang-orang rimba hijau yang haus ilmu
silat maupun ilmu kesempurnaan akan berduyun-duyun
memperebutkan kitab-kitab ini kemari.
Dengan segenap kemampuanku aku harus menyelamatkan
kitab-kitab warisan orangtuaku itu, pasangan pendekar yang
telah mengasuh dan membesarkan aku, yang dikenal di
sungai telaga dunia persilatan sebagai Sepasang Naga Celah
Kledung. Itu adalah sebuah pagi yang indah. Sama indahnya seperti
setiap pagi dalam limabelas tahun selama aku menghuni
lembah yang subur itu. Cahaya pagi yang lembut, kicau
berbagai jenis burung, dan bunga-bunga yang merekah,
memekar dengan begitu cerah. Namun kedua mayat dalam
pondok kami telah merusak keindahan itu, mayat orang-orang
yang bermaksud menjarah Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar.
Episode 24: [Kejatuhan Mayat yang Terkena Embun]
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Saat itu tahun 786. Umurku baru 15 tahun dan Rakai
Panunggalan baru berkuasa. Kekuasaannya tidak akan terlalu
lama, hanya sembilan tahun, dibanding pendahulunya, Rakai
Panamkaran, yang berkuasa 38 tahun, dan Sanjaya yang
berkuasa 24 tahun. Sanjaya disebut pendiri kerajaan Mataram,


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tetapi bahkan sejak kekuasaan pendahulunya, yakni Sanna,
wilayah kekuasaan yang disebut kerajaan hanya mungkin
diakui me lalui penaklukan raja-raja di sekitarnya. Namun
meski penaklukan tersebut tidak selalu melalui suatu
pendudukan, melainkan pengakuan atas kedaulatan oleh para
penguasa yang takluk,1) bukan berarti tidak berlangsung
gerakan perlawanan. T iada kekuasaan raja tanpa perlawanan,
bahkan sang raja harus mempertimbangkan dan menawar
setiap gerakan perlawanan tersebut, yang akan membuatnya
tetap bertahan. Kiranya itulah yang membuat kehadiran Siwa
dan Mahayana tidak menimbulkan perpecahan di Y awabumi.
Agama tidak akan menimbulkan perpecahan, tetapi mereka
yang berkepentingan untuk mengambil bagian dalam
perebutan kekuasaan, tidak akan melupakan keberadaan
agama untuk dimanfaatkan. Keadaan semacam itulah yang
sedang berlangsung di Yawabumi bagian tengah, ketika aku
mengawali pengembaraanku yang akan menjadi panjang.
USIAKU masih 15 tahun, Aku menyoren pedang di
punggungku dan aku membawa sejumlah besar kitab di dalam
sebuah peti kayu. Kuletakkan peti kayu itu di dalam pedati
yang ditarik seekor kerbau. Aku duduk di atas punggung kuda,
kebingungan akan pergi ke mana dengan beban peti kayu itu.
Sudah jelas orang-orang dunia persilatan berkepentingan
dengan isi peti kayu tersebut, kitab-kitab ilmu persilatan dan
ilmu pengetahuan-barangkali mereka tidak menghendaki
semuanya, terutama tentu Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar,
yang telah membuat pasangan pendekar yang mengasuhku
menjadi jaya dan takterkalahkan. Namun aku merasa harus
tetap menyelamatkan semuanya. Kusadari betapa TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pengetahuanku belum memadai untuk menentukan kitab
mana yang lebih baik dari yang lain.
Kitab Ilmu Pedang Naga Kembar kusimpan dalam kantung
kulit bertali kain yang melilit tubuhku, siapapun yang
bermaksud merampasnya harus melangkahi mayatku lebih
dahulu. Namun aku tidak menganggap kitab-kitab lain yang
berada di dalam peti kurang penting dibandingkan Kitab Ilmu
Pedang Naga Kembar. Kuingat ayahku pernah berkata,
kedudukan segenap pengetahuan dalam dunia ilmu adalah
setara. Apalah artinya ilmu persilatan tanpa ilmu pengobatan"
Apalah artinya ilmu pengobatan tanpa ilmu tumbuh-
tumbuhan" Apalah artinya ilmu tumbuh-tumbuhan tanpa ilmu
pengetahuan tentang tanah, iklim, dan musim"
"Keberadaan ilmu yang satu ditentukan oleh keberadaan
ilmu yang lain, anakku," ujar ayahku, "pengetahuan yang satu
berkaitan dengan pengetahuan yang lain, ilmu pengetahuan
adalah susunan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri, yang
satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain."
Makanya semua kitab ini menjadi penting bukan"
Kurasakan betapa beratnya tanggungjawab untuk menyelamatkan kitab-kitab ini. Bukan karena ingin menguasai
pengetahuan sendirian, melainkan karena jika jatuh ke tangan
yang haus kekuasaan, ilmu pengetahuan akan menjadi alat
penindasan yang mengerikan.
"Kalau suatu hari dikau mewarisi kitab-kitab ini anakku,"
ujar ibuku, "jangan pernah dikau biarkan jatuh ke tangan
orang-orang jahat. Terutama jangan sampai direbut dan
dikuasai ilmunya oleh orang-orang golongan hitam."
Meskipun orang-orang golongan hitam mampu mempelajari
ilmu-ilmu yang berat dan membuat mereka menjadi orang
berilmu tinggi, ibuku tidak pernah sudi menyebut mereka
sebagai pendekar. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Alangkah berbahayanya ilmu pengetahuan yang mengabdi
kejahatan," katanya selalu, "jangan pernah lupa bahwa ilmu
pengetahuan harus dipersembahkan bagi kemanusiaan."
Dalam perjalanan tiba-tiba aku menjadi sedih mengingat
hari-hariku bersama pasangan pendekar itu. Tidak kupedulikan lagi siapa sebenarnya diriku. Bagiku merekalah
orangtuaku dan hanya itulah yang bagiku akan selalu berlaku.
Meskipun aku masih berusia 15 tahun, aku tidaklah begitu naif
untuk melihat diriku sendiri sebagai remaja, karena sejak aku
mulai menyadari keberadaanku di dunia, aku selalu
mengamati dan meresapi dunia di sekelilingku dengan
perhatian sepenuhnya. Begitulah aku berjalan dari hari ke hari tanpa tujuan, tetapi
dengan kepala yang penuh berisi dengan renungan. Aku
berhenti hanya untuk memberi kesempatan kuda dan kerbau
itu untuk makan rumput, minum, dan terutama bagi kerbau
itu untuk mandi di kali. Sembari mereka beristirahat, aku akan
tidur-tiduran di bawah pohon yang rindang. Terus menerus
membaca kitab-kitab itu satu persatu. Aku merasa bersyukur
kedua orangtuaku mengajarkan aku membaca dan menulis,
dan meskipun aku saat itu belum mampu menulis untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaanku, setidaknya aku
mampu menyalin sembari membaca baik-baik kitab yang
disalin. Kedua orangtuaku memberi aku tugas menyalin kitab-kitab
Anak Rajawali 2 Pendekar Bayangan Sukma 10 Gadis Dari Alam Kubur Pena Wasiat 5
^