Pencarian

Si Dungu 4

Si Dungu Karya Chung Sin Bagian 4


tidak normal itu melesatkan dirinya, ia pergi meninggalkan
sipemuda. "Selamat berjumpa lagi !" Lamat2 masih terdengar suaranya.
"Hei....." To It Peng berkoar. "jangan lupa mengembalikan pedang
itu, setelah anak ini dewasa."
Bayangan orang tua berambut pirangpun telah tidak tampak,
terlalu cepat untuk dilukiskan.
Maka, dengan membawa Tay Koan, sipemuda melanjutkan
perjalanan menuju Seng-po-chung.
Seng-po-chung..................
Seng-po-chung adalah Iambang dari suatu kerajaan kecil yang
memisahkan diri dari kerajaan dunia, ia dibangun diantara dua
Iembah yang tidak mudah dicapai orang, yang menuju tempat
itupun tidak ada. Bila tidak ada petunduk orang atau belum pernah
berkunjung, tidak mudah untuk mencapainya.
To It Peng pernah berkunjung, maka kali ini dengan mudah telah
berada didepan pintu gerbang Seng-po-chung yang terbuat dari
bahan tembaga kuning itu.
8 penjaga pintu menghampirirya, segera sipemuda berteriak :
"Lekas beri tahu kepada ketua kalian, katakan kepadanya bahwa
aku To It Peng telah membawa putranya kembali."
Sudah tenu kejadian ini dilaporkan kepada ketua Seng-po-chung,
cepat ia memberi perintah dan menyilahkan sipemuda masuk.
Tiba2 didalam ruangan, To It Peng menghadapi kejadian yang
diluar dugaan. Ketua Seng-po-chung membawakan sikapnya yang
acuh tak acuh, ia berpaling kepada dua orang wanita pengasuh
berkata : "Sambutilah anak itu dari tangannya."
Dua wanita pengasuh maju, mereka meminta Tay Koan dari
tangan sipemuda, mau tak mau, To It Peng menyerahkan anak itu
kepada mereka. Dua pengasuh itu hanya menjalankan perintah, setelah
manyambut anak ketua mereka, kedua-duanya berjalan masuk
dengan membawa anak itu, tak sepatah kata dikeluarkan.
To It Peng tertegun, hubungannya dengan Tay Koan bukan
hubungan biasa, berat ia berpisah dengan anak itu.
Terdengar suara ketua Seng-po-chung memberi perintah :
"Bawa uang emas 50 tail dan serahkan kepada saudara ini."
Perintah segera dijalankan, seorang tua telah membawa 50 tail
uang emas yang diletakkan diatas baki nampan, dihampirinya
sipemuda dan siap menyerahkan hadiah itu.
To It Peng mengerutkan alisnya tinggi2.
"Apa artinya ini " " la mengajukan pertanyaan.
"Ambillah uang emas itu sebagai hadiahmu." kata 'ketua Seng-
po-chung. "Setelahi itu, Pergilah kemana kau suka."
"Aku . . . . Aku . . . Aku ingin menetap disini" kata T o It Peng.
"Mengapa?" tanya ketua Seng-po-chung.
"Aku..... aku ingin melihat bagaimanm Tay Koan dibesarkan. "
Ketua Seng-po-chung mendelikkan mata,membentak : "Pergi
!...... Pergi !....... Pergi ......"
Tiga kali ia mengucapken kata2 'pergi', dan tiga kaIi pula ia
mengibaskan tangan, dari mana keluar tenaga kekuatan yang
mendorong sipemuda. Maksud sipemuda ingin mengadakan perdebatan, tetapi dua laki2
berbadan besar telah menentenq dirinya yang segera dibawa keluar.
"Hayo..... keluar!......." bentak mereka kasar.
To It Peng dilempar keluar dari Seng-po-chung. Setelah itu, pintu
gerbang bisar ditutup rapat.
"Hei......" T o It Peng meaggedor pintu. "Mengapa tidak mengenal
aturan ?" Sambutan orang2 Seng-po-chunq yalah melempari batu dari
atas, hal ini membuat sipemuda lari ter-birit2 menjauhkan diri dari
pintu gerbang tembaga Seng-po-chung.
Kawan dungu kita berjalan pergi, bingung ia memikirkan sifat2
seseorang yang seperti ketua Seng-po-chung itu. Hanya yang jelas
yalah ia te lah menyerahkan Tay Koan kepadanya, keadaan anak itu
akan menjadi anak, tak mungkin sang ayah melakukan sesuatu
yang merugikan anak sendiri,
To It Peng berjalan pergi meninggalkan Seng-po-chung. jauh2 ia
melakukan parjalanan dengan tidak mengenal lelah, maksud
tujuannya ialah bangunan dengan pintu tembaga kuning itu, setelah
tiba disana, setelah menyerahkan anak siraja daerah, ia diusir
mentah2, sungguh manjengkelkan.
Hari ini, ma lam mulai berkuasa, keadaan disekitar pegunungan
gelap gulita. To It Peng mamandang disekelilingnya, ia tidak
mempunyai tujuan tertentu, kemana ia harus pergi.
Ia duduk disebuah batu besar, mengenangkan pengalaman-
pengalaman pahitnya. Setelah Ban-kee-chung dibakar, ia telah
terlunta-lunta, tidak ada tempat tinggal yang pasti. Kemana ia harus
pergi " Malam telah tiba bintang2 berkelap-kelip, bertaburan diangkasa.
To It Peng terpaksa harus tidur ditengah hutan itu.
Terlihat empat bayangan bergerak, wajah mereka mengenakan
topeng yang menakutkan, arah tujuannya yalah batu besar dimana
sipemuda berada. Bolak-balik sipemuda tidak dapat tidur, tiba2 telinganya dapat
menangkap suara yang membangunkan bulu roma. la lompat dan
memeriksa keadaan disekeliling itu.
4 orang bertopeng telah mengurung, bentuk dari pada wajah
topeng itu menakutkan sekali.
"Hei, siapa kalian ?" Bentak To It Peng keras. 4 orang itu
mendekatinya-lebih dekat.
,,Aaaaaa......" To It Peng berteriak, dilihat topeng2 itu berupa
setan, bebegig dan jejadian2 jahat.
"Mungkinkah orang ini yang majikan kita cari ?" Salah satu dari 4
orang manusia bertopeng itu bertanya kepada kawannya.
"Mungkin." "Tanyakanlah terlebih dahulu."
"Hei," Bentaknya kepada sidungu. ,Namamu To lt Peng ?"
"Eh, kalian kenal denganku ?" To It Peng tidak mengerti,
mengapa keempat iblis itu dapat mengenal dirinya,
"Aaaaaa ......." Salah satu dari 4-manusia bertopeng tadi berseru
girang. "Berhasil juga kita menemukannya." Terdengar lain suara dari
keempat setan2 itu. "Bagus usaha kita tidak percuma." Berkata mereka kepada To It
Peng. "Kemana saja kau pergi ?"
"Majikan kalian ?" To It Peng mengkerutkan alis. "Siapakah
majikan kalian itu" Kenalkah majikan kalian itu kepadaku ?"
"Tentu. Majikan kami adalah Hian-u Po-po." "Aeaaa......." To It
Peng berteriak girang. "Dimanakah dia " Dimanakah kini dia
berada?" Bagaikan menemukan pegangan hidup, si pamuda berjingkrak.
Lupa kepada 4 manusia bertopeng yang menakutkan itu.
Diketahui Hian-u Po-po ingin mengajaknya kelembah cang-cu-kok
untuk berkumpul dengan neneknya. Kemudian terjadi perkara Kat
Siauw Hoan yartg mengganggu parjalanannya. Kini orang2 Hian-u
Po-po mencari dirinya, tentu tak sukar ia bertemu dengan nenek
berpakaian hitam itu. "Ikutlah dibelakang kami berempat. Segera kau dapat bertemu
dengannya." Berkata 4 manusia bertopeng itu.
To It Peng mengikuti dibelakang 4 manusia bertopeng itu, malam
gelap, maka wajah buruk-pun tidak tidak terlihat jelas. Melewati
jalan yang ber-liku2, lama sekali mereka belum tiba ditempat
tujuan. "Masih jauhkah?" tanya To It Peng.
Keempat orang bertopeng itu tidak memberi sahutan.
"Hei, masih jauhkah tempat Hian-u Po-po?" Sipemuda
mengajukan pertanyaan ulangan.
Mereka jalan dimalam qelap, wajah keempat orang bertopeng itu
sesungguhnya menakutkan, gerak-geriknya sangat aneh sekali.
Mereka mulai merayap naik kejalan yang menanjak, tidak memberi
tahukan dimana letak Hian-u Po-po.
To It Peng bergidik, tiba2 timbul ilhamnya.
"Hei, mungkinkah Hian-u Po-po telah teraniaya?" Ia berteriak.
4 manusia bertopeng itu sarentak menghentikan geraknya,
mereka memandang dan menatap tajam To It Peng. Suara teriakan
sipemuda dimalam gelap sangat karas sekali. Hal ini tidak boleh
terjadi. "Hei, siapa kalian?" tanya To It Peng. "Mengapa membunuh
Hian-u Po-po " Kini ingin memancing aku dan menganiayanya
pula?" Melihat kedudukan sipemuda, keempat orang itu tertawa lebar.
To It Peng ber-teriak2, keempat orang itu tertawa, dimalam
gelap yang pekat, keadaan dapat membangunkan bulu tengkuk
orang yang mendengar. Disaat inilah terdengar suara Hian-u Po-po yang dingin, agaknya
jarak mereka cukup jauh. "Apa yang kalian tertawakan" Lekas bawa kemari."
"Dikatakan olehnya bahwa kita telah menganiayamu. Dan kini
sedang memancing dirinya kesuatu tempat sepi untuk dibunuh
pula." Masih saja keempat orang itu tertawa.
"Kau kira mudah membunuh aku ?" To It Peng mendebat. ,Aku
adalah jago nomor satu."
Keempat orang itu tertawa semakin terpingkal-pingkal.
"jago nomor situ " Ha, ha, ha, ha, ..........
"Dari manakah munculnya jago nomor satu sepertimu ?"
"Ha, ha, ha,..........
"Siapa yang memberi tahu kepada kalian bahwa aku jago nomor
satu gadungan?" Debat To It Peng "Hu, tidak pernahkah Hian-u Po-
po memberi tahu, bahwa aku telah diciptakan menjadi jago nomor
satu" Karena ilmu kepandaianku terlalu tinggi, maka tidak boleh
sembarangan memukul orang. celaka bila kalian kupukul mati
semua." 4 orang bertopeng itu tertawa semakin keras, perut mereka
dirasakan menjadi sakit mengingat ketololan pemuda dihadapannya.
Sesuatu bayangan bergerak cepat, segera membentak keras:
"Apa yang kalian tertawakan?"
Inilah Hian-u Po-po yang segera membentak 4 orang
peliharaannya. Perintah ini tidak boleh dibantah, segera mereka
tutup mulut. Hian-u Po-po mendekati To It Peng, ditatapnya sipemuda sekian
lama dan bertanya : "Kemana saja kau pergi " Seorang diri kau
masuk kedalam lembah cang-cu-kok ?"
"Dimana letak cang-cu-kok" Aku tidak tahu. Bagai mana dapat
berada ditempat itu?" kata sipemuda memberi jawaban.
"Kotak batu pualam ayahmu itu tentu masih ada, bukan ?"
"Betul." "Dimana saja kau beberapa bulan ini ?" Hian-u Po-po bertanya
lagi. "Ah, banyak sekali kejadian yang kualami. Beberapa kali aku
bulak-balik disekitar Seng-po-chung."
"Seng-po-chung" Ada hubungan apa dengan Seng-po-chung"
mengapa kau dapat berada disana ?"
"Perkara itu telah kuselesaikan." To It Peng memberi jawaban.
Hian-u Po-po memandang dengan mata penuh kecurigaan,
betulkah keterangan pemuda ini" Apa yang dikerjakan di Seng-po-
chung" Perduli amat. Bila ia belum pergi kelembah cang-cu-kok,
segala sesuatu masih mudah untuk diselesa ikan.
Karena mengetahui bahwa rencana tidak akan gagal, wajah Hian-
u Po-po tampak seperti biasa pula, ia berkata : "Kau belum pernah
berkunjung kelembah cang-cu-kok, mari kita berangkat kesana.
Diketahui nenekmu mengutus Teng Sam memagggilmu: Setelah
lewat berbulan-bulan, kau belum sampai, tentunya ia khawatir"
"Aku tidak tahu dimana letak cang-cu-kok." kata To It Peng. "Kau
takut berjalan bersama-sama diriku, sehingga aku sesat dijalan. Kini
kau ingin mengulangi kejadian lama?"
"Baik, kini kita mengadakan perjalanan bersama." kata Hian-u
Po-po, hal ini untuk menghindari dari perpisahan mereka.
Setelah itu, dihampiri 4 orang bertopeng, kepada mereka Hian-u
Po-po mengucapkan beberapa patah kata meninggalkan pesan, To
It Peng tidak mendengar apa yang dikatakan kepada mereka,
karena ucapan: Hian-u Po-po hanya ditujukan kepada 4 orangnya
saja, bukan kepada sipemuda.
4 Orang Hian-u Po-po itu berulang kali menqanggukkan kepala,
badan mareka melesat pergi, menjalankan perintah sang majikan.
Hian-u Po-po memandang To It Peng dan berkata : "Mari !"
Mereka menuju kearah Utara, ternyata lembah cang-cu-kok
berada didaerah itu. Perjalanan dilakukan terus menerus sehingga tiga hari tiga
malam, selama tiga malam ini tak pernah Hian-u Po-po bicara
kepada sipemuda. To It Pang merasa kesal, ia ingin membuka suara, tetapi selalu
dibatalkan setelah melihat sikap Hian-u Po-po itu.
Hari ini, mereka telah mulai memasuki daerah pegununqan,
tinggi diatas gunung terlihat saiju yang memutih, sinar matahari
memantulkan cahayanya yang kemilauan, berklebat terang, itulah
suatu pemandangan yang menakjubkan.
Dari keterangan yang didapat dari dua murid Tiang-pek Sin-ong,
Kang Yauw yanq cantik dan Lim cu jin yang gagah, lembah cang-cu-
kok seperti tidak jauh dari gunung es, mungkinkah sudah tiba "
Setelah me lakukan perjalanan jauh, tentu mereka merasa lelah,
menjelang malam harinya, mereka telah tiba dilembah tersebut,
Hian-u Po-po berhenti sabentar, memandang jauh kedepan, ia
mengeluarkan suara keluhan napas lega.
Setelah melakukan perjalanan beberapa lama dengan nenek baju
hitam itu, sifat2 Hian-u Po-po cukup dikenal, To It Peng segera
menduga akan mendapat istirahat, hal ini sangat lumrah ia duduk
bersandar disebuah pohon.
Hian-u Po-po mandelikkan mata serta membentak : "Bangun! "
To It Peng tertegun. "Tidak istirahat?" la mengajukan pertanyaan.
"Bangunlah dahulu. Lihat! Didepan seperti ada seseorang.
Tidakkah kau lihat ?"
Sipemuda bangun dari tempat duduknya, ia harus taat akan
perintah Hian-u Po-po. Samar2 seperti ada orang yang menyalakan
api, orang itu duduk ditepian api yang dinyalakan itu.
"Sudah kau lihat ?" tanya Hian-u Po-po. "Pergilah lihat, siapa
yang berada disana ?"
To It Peng menjalankan perintah, dengan langkah lebar ia maju
kedepan menghampiri orang itu.
Pada api yang belum lama dinyalakan duduk terpekur 'seseorang
dengan menyilangkan' kedua tengannya didengkul, dan kepalanya
diletakkan pada kedua tangan itu. Agaknya seperti mengantuk dan
kurang tidur. Derap langkah To It Peng mengejutkan orang ini, ia segera
mendongakkan kepala memandang kearahnya.
Karena sinar api unggun itu, To It Peng segera dapat melihat
jelas wajah orang tersebut. Aaaa....... Orang ini cukup dikenal
olehnya. Dia adalah si jaqo Nomor Satu dari daerah Liauw-tong,


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

paman Teng Sam itu. Teng Sam menatap To It Peng, ia mangedip kedipkan matanya
mengucek uceknya. Kehadiran sipemuda sungguh berada diluar
dugaan, ia kurang percaya. Dikala ia mengatahui keadaan yang
sebenarnya, tiba2 badannya mencelat, tangannya mencengkeran
dada sipemuda. Didalam sekejap mata, ia berhasil menentengnya.
"Ouw ......" To It Peng berteriak.
"Ha, ha, ha ....... " Teng Sam tertawa. "Kau" Kau cecurut kecil ini
yang datang." "Paman Teng Sam, lepaskanlah tanganmu." To It Peng merasa
sakit. "Lepas tangan" Ha, ha, ha,......... Teng Sam tidak mengabulkan
permintaan sipemuda. "Begitu tanganku lepas, begitu pula kau
melarikan diri. Kemana aku harus mengejarmu lagi " Ha, ha, ha, ha
........ rejekiku bagus, berhasil menemukanmu kembali, "
"Apa yang membuat kau girang, menemukan aku?" To It Peng
mengajukan pertanyaan. "Mengapa tidak" Pikirlah, apa nenekmu itu orang yang mudah
dihadapi " Aku mendapat tugas untuk memanggilmu, tetapi tidak
berhasil. Kini kau datang seperti muncul dari dasar bumi mendadak,
aku segera pulang kelembah cang-cu-kok memberi pertanggung
jawabku kepadanya." Saking girangnya, Teng Sam menari-nari..........
"Aku tidak dapat menembus bumi, muncul secara mendadak,To
It Peng berkata. "Mungkin-jatuh dari langit. "
"Pun bukan, aku datang dengan seorang kawan." "Kawan"
Dimanakah dia -berada" Biar kuusir kawanmu itu. Lembah cang-cu-
kok bukanlah tempat yang boleh dikunjungi oleh sembarang orang."
kata Teng Sam memandang sekelilingnya.
To It Peng menghadapi arah dimana Hian-u Po-po tadi berada
dan berteriak: "Hian-u Po-po......."
Bagaikan mendengar berita buruk, tubuh Teng Sam terjengkanq
mendadak, badannya menggigil dingin.
,.Eh, paman Tong Sam, kau msngapa?" To It Peng bet tan ya.
Wajah jago nomor satu dari daerah Liauw.tong ini pucat pasi,
badannya menggigil semakin keras, in tidak dapat memberi
jawaben. To It Peng be(um mengerti. Dan pada saat yang sa;na,
terdsngarlah ware Hian"u Po-po : "Tidak perlu kau bingungkan
keadaannya. Dahulu ia pernah berhutanq kepadaku. Maka tidak
berani menemuiku, takut aku menagih hutangnya itu. Ia menggigil
dan gemetar karena takut."
"Ow......" To It Penq kini telah mengerti persoalannya. "Paman
Teng Sam, tidak perlu kau takut, Hian-u Po-po adalah kawanku.
Hutangmu kepadanya masih boleh ditunggak. Hal ini biar aku yang
memberi d yaminan " Teng Sam menyengir me-ringis2.
"Hian-u Po-po .... Tidak disangka kita berjumpa lagi" Katanya
kurang lancar. "Inilah yang diartikan dunia tidak sedaun kelor." Hian-u Po-po
berkata. "Oh...... Dunia tidak sedaun kelor... Dunia tidak sedaun kelor ....."
Tubuh T eng Sam mundur kebelakanq m3njauhi Hian-u Po-po yang
sangat ditakuti, tiba2 saja, setelah jarak msreka cukup jauh,
tubuhnya mancelat, ia melarikan diri.
Gerakan Teng Sam sungguh diluar dugaan, gesit dan cepat,
tetapi langkah Hian-u Po-po lebih cepat darinya, terdengar ia
berteriak marah, tubuhnya mumbul keatas, menukik beberapa kali,
dan jatuh tepat dihadapan jalan lari Teng Sam. Menghadang
kepergian sijago nomor satu dari daerah Liauw-tong.
Teng San belum puas, ia berganti arah dan harus cepat2
menjauhkan diri dari nenek berbaju hitam ini. Sayang ia tidak
berhasil menjauhkan dirinya, baru dua langkah, Hian-u Po-po telah
berhasil menghalang-halangi.
Beberapa kali T eng Sam berganti arah, beberapa kali pula Hian-u
Po-po mendahului dirinya, kemana ia lompat, selalu kalah cepat.
Semua penjuru telah dikuasa i oleh Hian-u Po-po.
Rasa takut Teng Sam kepada Hian-u Po-po tidak dapat
dilukiskan, ia masih berusaha melarikan diri.
Hian-u Po-po naik darah, segera ia membentak :
"Teng Sam, masih kau ingin me larikan diri" Kau memaksa aku
membunuhmu, he?" Badan Teng Sam berhenti bergerak, maka dengan mudah tangan
Hian-u Po-po telah menangkapnya.
Menyaksikan kejadian tadi, maka To It Peng maju bicara :
"Paman Teng Sam, sudah kukatakan bahwa Hian-u Po-po adalah
kawanku, ma ........."
"Minggir!" Bentak Hian-u Po-po keras. "Aku ada sedikit urusan
yang harus diselesa ikan dengannya."
To It Peng bandel, ia tidak minggir.
"Hian-u Po-po, menagih hutang tak perlu menunjukkan
kegalakanmu." kata sipemuda. "Hutang apakah yang belum dibayar
kepadamu ?" Hian-u Po-po membentak : "Bila kau banyak cerewet. Aku tidak
sudi menjalankan perjalanan bersamamu lagi, tahu" Hayo, pergi ! "
To It Peng menggoyang-goyangkan kepala berjalan pergi, ia
menggerundel : "Tidak mudah untuk menjadi orang baik. Tagihlah
semua hatimu" "Tetapi, paman Teng Sam." Tiba2 ia ingat sesuatu, A, sidungu
membalikkan kepala dan berkata. "jangan takut, bila ia terlalu
mendesak, katakanlah kepadaku."
Hanya mulutnya saja yang berani berlaku bawel, sebenarnya ia
tidak dapat berbuat sesuatu.
Hian-u Po-po tidak mau ambil pusing, tangannya menekan
pundaknya Teng Sam dan berkata dengan suara perlahan :
"Katakan, bagaimana harus masuk kedalam lembah cang cu-kok" "
"Tidak...... T idak......" Keringat T eng Sam mengucur deras, ia jago
nomor satu, berkepandaian tinggi, tetapi terhadap Hian-u Po-po,
bagaikan tikus bertemu dengan kucing, ia mati kutu.
Hian-u Po-po tertawa dengan suara yang sangat menakutkan,
bila saja To It Peng menyaksikan bagaimana nenek baju hitam ini
tertawa, tentu ia akan terke-jut dan lompat beberapa meter, hal
mana dapat dimaklumi, karena tertawanya Hian-u Po-po lebih kejam
dari tertawa iblis. Badan Teng Sam menggigil kencang.
Terdengar lagi suara Hian-u Po-po berkata kepadanya .
"Teng Sam, ilmu kepandaianmu agak lumayan. Tetapi nyalimu
lebih kecil dari nyali tikus, bukan?"
"Betul. Aku adalah seorang yang tiada nyali." Suara Tang Sam
gemetaran. Hian-u Po-po menekan tangannya keras-keras, ia membentak :
"Maka, katakan, bagaimana harus masuk kelembah cang-t yu-kok ?"
"Ti....... Tidak......Tidak dapat kukatakan."
To It Peng telah berjalan menjauhi mereka, tetapi apa.yang
terjadi diantara dua orang itu dapat diduga, ia geli menyaksikan
sijago nomor satu Teng Sam yang berkepandaian tinggi,
menghadapi si 'Penagih hutang' itu, tidak berdaya sama sekali.
"Kau akan katakan." kata Hian-u Po-po. "Karena jiwamu
tergantung dari keterangan ini."
"ja....... jangan........"
"Katakanlah." Hian-u Po-po menekan pundak Teng Sam semakin
keras. "Baik....... Ba ........ Baik."
"Bagaimana cara masuk kedalam lembah cang-cu-kok?"
---oo0oo--- BAGIAN 16 HIAN-U PO PO BERHASIL MASUK
KEDALAM LEMBAH CANG CU KOK.
HIAN-U PO-PO, mengetahui jelas sifat dari tabiat T eng Sam yang
terlalu sayang kepada jiwanya ia menekan keras dan memaksa jago
nomar satu dari daerah Liauw-tong ini menaatakan bagaimana tiara
untuk masuk kedalam lembah cang cu kok.
Teng Sam akhirnya membuka rahasia berkata :
"Masuk kedalam lembah cang-cu-kok harus menerjang tiga
penjagaan, cara masuk dan lewat tempat tempat pos penjagaan
tadi ialah harus mempunyai kode2 tertentu. Maka satelah berhasil
melewati tiga penjagaan tersebut, kau dapat berada didalam
lembah cang-cu-kok. Dan neneknya..........."
Teng Sam menunjuk kearah To It Peng. "Neneknya menetap
didalam lembah itu." la meneruskan keterangannya.
"Bagaimana harus melewati ketiga tempat penjagaan yang kau
sebut tadi ?" Bertanya Hian-u Po-po.
"Kau harus memberi kode2 tertentu."
"Katakan kode2 itu."
"Kode . . . . Aduh . . . ."
"Lekas katakan." Bentak Hian-u Po-po.
"Aduh..... Mau kukatakan...... Kode penjagaan pertama ialah
'Hujan salju diluar kota yang hebat'."
"Kedua ?" "Pemandangan didaerah Kang-lam sangat indah dan permai dan
kode ketiga ialah 'Salah memilih jodoh akan sengsara badan'."
"Apa artinya tiga bait kata2 yang seperti ini " Pantun bukan, sair
bukan, sajakpun bukan ?" Hian-u Po-po mengkerutkan alis.
"Mana kutahu " Kode2 ini adalah perintah Ban Lo Lo." Teng Sam
telah selesa i memberi keterangan. Ban Lo Lo adalah nenek tua To It
Peng, ibu Ban Kim Sen. Hian-u Po-po menganggukkan kepala, terdengar suara dari dua
baris gigi T eng Sam yang gemeretuk keras?.
"Apa yang kau lakukan, bila aku me lepas pegangan tanganku
yang menekan pundak ini?" Hian-u Po-po mengajukan pertanyaan.
"Segera aku angkat kaki, menyebrang lautan dan lari ke Selatan.
Tidak berani aku menginjakkan kaki didaerah Utara lagi.........."
"Hian-u Po-po mengeluarkan suara dingin :
"Dimulut kau mengatakan seperti itu, tetapi kau mendapat
kebebasan, dengan mengambil jalan cepat, kau pulang kelembah
cang-cu-kok dan memberi tahu akan kedatanganku kepadanya,
bukan " " Teng Sam menggoyangkan kepala berkata :
"Bila aku mempunyai keberanian seperti ini, mung?kinkah ada
orang yang mamski aku sabagai 'Ielaki yang tidak bernyali' ?"
"Tentunya kau tidak berant." Hian-u Po-po melepaskan
tangannya yang menekan orang itu. "Pergilah."
Ilmu kepandaian Teng Sam tidak dapat dicela, setelah tekanan
itu lenyap, cepat ia melejitkan badan?nya, hanya beberapa kali
putaran badan ia telah berada jauh sekali, hanya dua kaki pantulan
kaki. Bayang?annya telah lenyap tak terlihat.
To It Peng tertawa geli, dilihat Hian-u Po-po telah datang
menghampirinya, ia segera mengajukan pertanyaan :
"Dia sungguh lucu! Berapa banyakkah hutangnya ke padamu!."
Mengapa takut seperti itu?"
Mana sidungu tahu, iImu kepandaian Teng Sam sangat tinggi,
hanya nyali jago Liauw-tong itu terialu kecil sekali, ia takut mati,
maka tidak berdaya menghadapi I Hian-u Po-po, bila saja Teng Sam
nekat dengan ilmunya yang merajai daerah Liauw-tong, tak
mungkin Hian-u Po-po menangkap dengan mudah.
Hian-u Po-po tidak mau banyak bicara tentang Tang Sam, ia
berkata singkat : "Hutangnya adalah hutang darah."
To It Peng terkejut. "Akh....., kau ber-olok2" katanya.
Hian-u Po-po memandang sipemuda itu dan bertanya :
Hai, tahukah apa yang kita lakukan didalam lembah cang-cu-
kok?" "Bukankah kau ingin mengawani aku bertemu dengan nenek
tuaku ?" To It Peng memandang heran.
"Bagus. Kau memang tahu diri," kata Hian-u Po?-po. "Lembah
cang-cu-kok telah berada didepan, esok hari kita dapat tiba disana."
"Maksudmu ingin mengadakan perjalanan malam" tanya To It
Peng. Hian-u Po-po tidak menjawab, ia mengulurkan tangannya dan
dengan menenteng To It Peng meninggalkan api yang Tang Sam"
tidak sempat memadamkannya.
To It Pang merasa dirinya menjadi enteng, pohon2 lewat dikedua
samping sisinya. la sedang 'terbang' ber-sama2 dengan Hian-u Po-
po yang melakukan perjalanan malam untuk dapat tiba didalam
lembah cang-cu-kok. Perjalanan dilakukan cepat sekeli, To It Peng bangga dengan
ilmu 'kapandaian nomor sat?-nya, dia adalah 'jago nomor satu',
maka dapat memiliki ilmu 'terbang' yang hebat, dapat melakukan
parja!anan bersama-sama dengan Hian-u Po-po.
Tentu saja, belum pernah terpikir oleh s ipemuda bahwa bila saja
bukan Hian-u Po-po yang menentengnya 'terhang', mana mungkin
ia dapat melakukan perjalan dengan kecepatan itu" Lubang jalan
otak To It Peng hanya satu jurusan, ia me lihat dan menyaksikan
bagaimana Teng Sam, sijago nornor satu dari daerah Liauw-tong
takut setangah mati, hal ini dikarenakan ilmu kepindaian Hian-u Po-
po yang terlalu tinggi, bila nenek baju hitam ini mau, dengan
menenteng seekor gajahpun, ia dapat me!akukan perja!anan cepat.
Waktu terus berlalu, kini hari telah menjadi pagi........ sang Surya
telah menampakkan sinarnya.
Kecepatan Hian-u Po-po mulai mengendur per-lahan2, ia telah
tiba dimulut lembah cang-cu-kok, ia harus berhati-hati, Ban Lo Lo
bukanlah orang yang mudah dihadapi.
To It Peng telah dapat menyaksikan pemandangan matahari
yang memancarkan sinar keemasannya keluar dari balik gunung
gelap, cahaya terang bercahaya menguasai jagat. Mereka te!ah
malakukan perjalanan di lembah2 terjal yang sulit dilalui, tetapi
Hian-u Po-po dapat melakukannya dangan mudah.
Satu tikungan kemudian, mereka telah berada pada sebuah jalan
yang buntu, didepan mareka terbentang tebing curam, disana
terdengar suara gemuruh air terjun, pohon tua yang besar dan
berakar panjang memenuhi keadaan ditempat itu.
Hian-u Po-po langsung menghampiri air terjun, disana ia
menghadang tebing tinggi berteriak :
"Kami berdua ingin menuju kelembah cang-cu-kok, diharap tuan
dapat memberi sedikit petunjuk."
To It Peng memandang jauh kedepan, tak ada sesuatu
makhlukpun disana, kepada siapa Hian-u Po-po bicara"
Dari sebuah pahon besar melayang bayangan kurus, ......Ting.....
tongkat orang ini menyentuh tanah dan menerbitkan suara yang
nyaring, ia memandang Hian-u Po-po dan To It Peng tajam.
Orang kurus yang melayang dari atas pohon itu adalah seorang
kakek tua yang membawa tongkat, tongkat tersebut dapat
menimbulkan suara keras, tentunya terbuat dari bahan besi atau
baja. "Kami ingin menuju kelembah cang-cu-kok, harap tuan dapat
mamberi sedikit

Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

petunjuk." Hian-u Po-po mengulangi permintaannya........ Orang itu telah cukup memandang, ia membuka suara keras :
"Bagaimana dengan keadaan hawa diluar kota?"
Hian-u Po-po mangkerutkan keningnya, tetapi ia seorang pintar
yang cepat menyesuaikan diri, segera teringat akan keterangan
Teng Sam tentang tiga pos penjagaan cang-cu-kok yang
membutuhkan kode2 tertentu. Segera ia menyambung pertanyaan
orang tua dengan tongkat berat itu :
"Hujan salju diluar kota sangat hebat."
Orang tua bertongkat itu menatap tajam, setelah mana, ia
menarik sebuah oyot pohon besar sehingga lurus, oyot ini menuju
keatas tebing tinggi. "Silahkan naik." Katanya kepada Hian-u Po-po. Hian-u Po-po
menenteng To It Peng, dengan jalan diatas oiot pohon itu ia naik
keatas tebing. "Terima kasih." Ia berkata kepada orang tua dengan tongkat
ditangannya itu. Maka penjagaan Iembah cang-cu-kok yang pertama dapat
dilewati dengan mudah, tidak mengalami pertempuran.
Keadaan diatas tebing jauh berbeda dengan keadaan dibawah,
disini ternyata terdapat dataran tinggi yang luas, Hian-u Po-po dan
To It Peng dapat melakukan perjalanan bebas.
Beberapa lama kemudian, dataran tinggi itu mulai menyempit,
semakin lama semakin menyerupai lorong panjang, tiba dimulut
lorong panjang itu, mereka harus melewati pos penjagaan Iembah
cang-cu-kok ?yang kedua. Tengah disekitar lorong panjang itu penuh dengan pisau2 tajam
yang dipasang menghadap keatas langit, bukan itu saja yang
mengganggu perjalanan, di-tengah2 jalan "duduk seorang wanita
setengah umur, agaknya wanita inilah yang diberi tugas menjaga
jalan tersebut. To It Peng segera mengetahui akan adanya rintangan itu.
Hian-u Po-po langsung membawa sipemuda hingga tiba berada
didepan wanita setengah umur yang menghadang ditengah jalan.
Tak sekecap kata2 apapun yang dikeluarkan. Wanita setengah umur
itu memandang dua pendatang baru, ia mengajukan pertanyaan :
"Kalian berdua tentunya datang dari daerah Kang?lam.
Bagaimana pemandangan disana?"
Hian-u Po-po telah siap, segera ia menyambungnya :
"Pemandangan didaerah Kang-lam sangat indah dan permai ! "
"Bagaimana dengan sebutan kalian berdua?" Wanita setengah
umur itu mengajukan pertanyaan yang kedua.
Hian-u Po-po menunjuk kearah To it Peng mamberi keterangan :
"Saudara kecil ini adalah cucu dari Ban Lo Lo yang ingin segera
dijumpai olehnya. Kode2 yang kau butuhkan sudah cocok. Mengapa
harus banyak curiga ?"
Wanita setengah umur itu bangun berdiri, kakinya bergerak dan
menyepak batu yang menonjol keluar. Maka terlihatlah keajaiban
terjadi, pisau2 yang menghadang keluar itu masuk kedasar tanah.
"Silahkan lewat." Demikian ia berkata.
Hian-u Po-po menenteng T o It Peng, dengan kecepatan terbang
mereka berhasil melewati jalan tersebut.
Mereka melakukan perjalanan maju. Tiba2 dibela?kang
terdengar suara bentakan: "Tunggu dulu !"
Itulah suara siwanita setengah umur yang datang menyusul.
Hian-u Po-po dan To It Peng harus menghentikan Iangkah
mereka. Mengetahui bahaya, Hian-u Po-po tidak membalikkan
wajahnya. "Bolehkah aku bertanya," wanita setengah umur itu berkata.
"pada jaman yang belum lama berselang, ada seorang tokoh silat
wanita kejam dan ganas yang bernama Lie Bu Siang, kenalkah
dengan nama ini ?" Hian-u Po-po telah mangenal siapa adanya wanita setenga umur
itu, dan diketahui pasti bahwa orang itu mengenal dirinya, maka ia
cepat2 meninggalkannya dengan maksud untuk menghindari huru-
hura, tidak tahu hal itu tidak mungkin, wanita itu telah
mengejarnya. Maka ia telah siap dengan rencana kedua, baru selesai
pertanyaan wanita setengah umur itu, badan Hian-u Po-po mumbul
keatas, balik kebelakang mengibaskan dua lengan bajunya, dengan
lengan baju ini ia menyerang.
Wanita setengah umur telah curiga, ia telah siap sedia, 'sret',
sebilah pedang telah keluar dan..... bret..... bret..... ia menyabet
putus dua lengan baju Hian-u Po-po.
Disinilah letak kepintaran Hian-u Po-po, diketahui ilmu
kepandaian wanita setengah umur ini hanya terpaut sadikit darinya,
bila tidak menggunakan sedikit akal, didalam waktu yang singkat,
tak mungkin ia da pat menjatuhkannya, itu waktu, Ban Lo Lo dan
orang2nya segera sadar akan bahaya, dan ia akan tielaka.
Mengetahui datangnya pedang, dibiarkan saja, kedua lengan baju
terpapas sedikit, menggunakan kelengahan orang yang sedang
bergirang, ia mengetuk tangan lawan, mendorong keras dan
berhasil membuat wanita setengah umur itu jatuh terjengkang
dengan pedang lepas dari pegangan.
Maka sebelah kaki Hian-u Po-po telah menginjak dan berada
dipinggang orang, disaat ini pedang yang dibuat terbang melayang
turun, disambutnya dengan tangan, cepat-sekali pedang ini bekerja
dan ces..... masuk kedalam perut wanita setengah umur itu.
"Kau...... Aaaaa..........." Hanya dua patah kata ini yang dapat
dikeluarkan oleh wanita setengah umur tersebut, ia telah
menghembuskan napasnya yang penghabisan. Putih mata
tersingkat dan tangan kakinya kaku segera.
Perubahan drama tersebut terlalu cepat, manakala To It Peng
membalikkan badan, Hian-u Po-po telah berhasil mengantar jiwa
lawannya kelain dunia, dilemparkan pedang tersebut dengan
segera. "Hian-u Po-po, kau rnembunuhnya ?" Sipemuda mengajukan
teguran. "Mengapa?" "Wanita ini adalah tokoh jahat dijaman silam, mewakili nanekmu,
aku telah membunuhnya." Hian-u Po-po berkata.
"Ouw ... Diakah yang bernama Lie Bu Slang itu?" Lubang jalan
otak pikiran To It Peng hanya satu jurusan.
"Tutup mulut." Wajah Hian-u Po-po ditekuk masam "Untuk
seterusnya, aku melarang kau menyebut nama ?ini, tahu ?"
Dirasakan oyeh To It Peng, Hian-u Po-po tidak ramah, ramah
lagi, sikapnya telah berubah galak dan kejam. la menjulurkan
lidahnya dan tutup mulut segera.
Hian-u po-po me lempar mayat sang korban kedalam semak2
rumput, setelah itu melanjutkan perjalanan lagi.
To It Peng mangintil dibelakang Hian-u Po-po dengan penuh
kesabaran, mareka telah melakukan perjalanan setengah hari
penuh, kini matahari telah berada tepat diatas kepala.
Didepan terlihat sebuah rumah kayu, menghadap rumah kayu
itu, Hian-u Po-po pentang, suara? : "Kami ingin bertemu dengan
Ban Lo Lo, diharap tuan dapat memberi sedikit petunjuk."
Dari dalam rumah kayu itu keluar seorang laki laki, wajahnya
merah dan kuning, entah makan apa, peru?bahan ini sungguh
jarang terjadi. Laki-laki berwajah dua rupa itu menarik napas panjang, setelah
itu bertanya: "Tahukah kalian, mengapa aku harus menarik napas panjang ?"
To It Peng telah siap membuka mulut, mana ia tahu sebab
musabab dari kesusahan orang, maksudnya ingin berdebat tetapi
Hian-u Po-po lebih cepat, nenek berbaju hitam ini segera berkata
memberi jawab?an : "Salah mamilih jodoh akan sengsara badan....." Laki2 itu tertawa.
"Silahkan lewat. " Katanya. "terus saja kejurusan ini"
Menenteng To It Peng, Hian-u Po-po segera mele?sat.
Gerakannya cepat sekali. Gerakan Iaki-Iaki itupun tidak kalah gesitnya, tiba-tiba saja ia
berjumpalitan dan menghadang ditengah jalan.
"Tunggu dulu." la berkata.
Hian-u Po-po dan To It Peng tertahan.
"Apa artinya ini ?" Hian-u Po-po mengajukan pertanyaan.
"Tahukah, siapa dan bagaimana asal usulku?" Laki2 berwajah
dua rupa itu bertanya. "Sangat disayanqkan, pengalamanku sanqat sempit dan tidak
mengenal tuan." "Kukira kata2 keteranganmu itu tidak diucapkan dengan hati
sejujurnya." kata laki2 wajah dua macam itu.
"Eh, mengapa kau mengatakan ucapan seperti ini" Ketahuilah
bahwa anak ini cucu dari majikan kalian ini. "
"Aaaaa...... Silahkan jalan." Dan ia pun tidak menghadang jalan
To It Peng dan Hian-u Po-po. badannya melesat, balik kembali dan
masuk kedalan rumah kayu.
Lain bayangan melayang dari jurusan yang tidak sama, bayangan
ini cepat sakali, iapun masuk kedalam rumah batu:
Mata To It Peng terbelalak, menyaksikan gerak bayangan tadi,
itulah bayangan orang yang telah lama diimpikan. la menghentikan
langkahnya. "Perintah Ban Lo Lo yalah......" Terdengar suara yang cukup
dikenal. Suara ini adalah suara bayangan tadi didalam rumah kayu.
Hian-u Po-po turut menghentikan gerakannya, ia dapat
mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu.
Tidak lama, laki2 berwajah dua rupa keluar kembali, ia
menghampiri Hian-u Po-po dan T o It Peng.
Dari bayangan dan suara yang didengar, To It Peng 'teringat
akan wanita muda Kat Siauw Hoan, setelah melarikan diri dari Sang-
po-chung, setelah kejadian didalam rumah batu itu, tidak ada
khabar ceritanya. Melihat laki2 berwajah dua macam itu datang, segera To It Peng
mengajukan pertanyaan : siapakah yang bicara denganmu tadi?"
Laki2 itu telah berkata kepada Hian-u Po-po:
"Ban Lo Lo telah memberi perintah, dikatakan kalian tidak usah
menerjang bahaya dan diperbolehkan mengambil jalan singkat dan
aman, mari kalian ikut aku."
"Tidak menunggu jawaban dan persetujuan lagi, laki2 itu kembali
kedalam rumah kayunya. Hian-u Po-po mangajak To It Peng masuk kedalam rumah kayu.
Disini laki2 itu mengajak mereka kearah suatu lubang rahasia,
lubanq itu sangat dalam. To It Pang memperhatikan keadaan rumah, kecuali mereka
bertiga, tidak ada orang yang dicari, dipastikan bahwa bayangan
tadi masuk kedalam rumah ini dan belum tampak ia keluar,
mengapa tidak terlihat dirinya"
"Hei, kemanakah wanita yang membawakan pesan perintah Ban
Lo Lo itu?" tanya To It Peng.
Laki2 berwajah dua macam itu mengkerutkan alisnya.
Dianggapnya pemuda ini berhidung belang, suka akan paras cantik,
maka mendengar suara wanita dapat tergila-gila segera, ia tidak
menjawab. Mana diketahui bahwa betapa pentingriya suara Kat Siauw Hoan
itu, wanita muda inilah yang pernah memberi kesenangan padanya.
Laki2 berwajah dua rupa itu menunjuk ketempat goa gelap dan
berkata : "jalan inilah yang berupa jayan terdekat dan aman untuk menuju
kedalam lembah ceng-cu-kok. Betul berbahaya, tetapi dengan
adanya rantai besi panjangyang kuat, tak mungkin kalian menderita
sesuatu apa." Hian-u Po-po memandang dengan penuh kecurigaan.
"Tak usah kalian curiga." Laki2 itu memberi kete?rangan. "jalan
ini ada lebih aman dari pada harus me lewati jurang Kandas, Sungai
Air Lemhah,Tebing Sembilan Puluh Derajat dan Iain2 rintangan
bahaya. Seperti juga dengan T o It Pang, Hian-u Po-po dapat mengetahui
bahwa didalarn rumah kayu ini pernah kedatangan seseorang, dan
kini orang itu tidak keluar atau memunculkan diri tentunya melalui
jalan rahasia ini, menud yu kedalam lembah cang-cu-kok.
To It Peng tidak banyak pikir, ia telah marosot turun dalam
lobang rahasia. cepat Hian-u Po-po menariknya dan memberi
peringatan : "Hei, berhati-hati kau !"
Dan iapun turut masuk kedalam lubang rahasia itu.
To It Peng mengetahui Kat Siauw Hoan masuk labih dahulu,
maka iapun barteriak kedalam : "Hei, berhati-hati kau !"
Memang! Bila dibanding harus menerjang beberapa macam
bahaya seperti yang laki2 penjaga pos ketiga itu katakan, jalan ini
merupakan jalan yang terdekat dan aman. Tetapi aman bukan
didalam arti 'sagat aman'
Bila salah sedikit saja, keamanan itu akan segera lenyap
mendadak. Maka To It Peng berteriak, agar Kat Siauw Hoan dapat
berhati-hati. Hian-u Po-po berkepandaian tinggi, hanya lobang yang seperti ini
tidak perlu ditakuti, apa lagi ada rantai yang dapat dibuat pegangan,
mengikuti rantai2 tadi, dengan menenteng To It Peng, ia merosot
turun. Hanya beberapa saat ia merosot, diatas terdengar suara 'plung',
ternyata pintu rahasia te lah ditutup dari atas.
Hian-u Po-po harus memperhitungkan sesuatu dengan seksama,
ia tidak takut, tetapi lebih berhati-hati lagi.
Berbeda dengan Hian-u Po-po, To It Peng yang ingin segera
bertemu dengan Kat Siauw Hoan lupa bahaya, ia merosot cepat.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah berhasil keluar dari
jalan rahasia itu, matahari terang me?nyilaukan mata.
Menantikan didepan mulut goa yalah dua gadis pelayan.
"Silahkan ikut kami." Mereka berkata.
Hian-u Po-po mengajak To It Peng mengikuti dibebakang kedua
gadis pelayan tadi, lembah dimana berada tumbuh dengan subur,
tanaman menghijau, burung2 berkicauan, sungguh mengesankan.
Kini mereka tiba diujung dari lembah tadi, beberapa baris
bangunan yang tarbuat dari bahan yang sangat sederhana barada
didepan mata, dibelakang dari bargunan itu adalah pohon lebat.
"Bagus! Tempat yag bagus." To It Peng menge?luarkan pujian.
Dua gadis pelayan tidak membawa tamu2-nya kedalam rumah,
mereka mengajak ketempat pohon2 Iebat itu.
"Ban Lo Lo, tamu kita telah tiba !" Mereka mem?beri laporan.
"Persilahkan mereka masuk." Terdengar suara dari dalam
pohon2-an itu. Dua gadis palayan menunjuk kearah rimba buatan itu dan
berkata kepada dua tamunya :
"Ban Lo Lo menunggu kalian disana, masukIah sendiri."
To It Peng belum pernah mendengar cerita tentang nenek
tuanya, ia tidak tahu bahwa nenek tua itu me?netap ditempat ini, ia
diajak oleh Hian-u Po-po maka datang membikin kunjungan.
Sikapnya tidak ada rasa kangen sama sekali.


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dari suara Ban Lo Lo didalam rimba, To It Peng segera
merasakan bahwa nenek tua itupun hampir me?lupakan, masakan
ada seorang nenek yang tidak menyambut kedatangan seorang
cucu yanq lama tidak ketemu ".
Hian-u Po-po datang dengan maksud tertentu, ia segera
mengajak To It Peng masuk kadalam rimba buatan itu.
Duduk ditengah-tengah sabuah Pelataran, terlihat saorang nenek
pakaian putih duduk membelakangi mereka, rambut nenek
tersebutpun telah memutih, pada tangannya memegang tongkat
yang berliku-liku, tak terlihat jelas wajahnya.
Hian-u Po-po dan T o It Peng berjalan maju, mereka manghampiri
nenek berbaju putih itu. Seperti tidak terjadi sesuatu apa, nenek berbaju putih duduk
tidak bergerak, tetap ia membelakangi kedua tamunya.
To It Peng mengerutkan alis, mungkinkah ada se?orang nenek
yang bersikap sedingin itu ". la meman?dang Hian-u Po-po
mengajukan pertanyaan: "Hian-u Po-po inikah nenek tuaku?"
Hian-u Po-po mana tahu" ia mangeluarkan suara batuk2 dan
tidak memberi jawaban. Terdenqar nenek barbaju putih itu mPmbuka suara :
"Mendengar suara batuk2mu, kukira yang berkunjung datang
adalah Hek yauw-hu bukan ?"
Wajah Hian-u Po-po berubah, ia harus dapat meme?Iihara
ketenanqannya, dengan menguasai getaran jiwa ia berkata :
"Namaku Hian-u Po-po."
Nenek berbaju putih itu mengerakan tonqkatnya perlahan, ia
menggeser duduknya, maka perlahan-lahan dapat menghadapi
kedua tamunya. To It Peng memandang mata tajam, ingin diketahui
bagaimanakah wajah orang yang dikatakan men?jadi nenek tuanya
ini" Dilihat nenek itu mempunyai wajah yang agak mirip dengan
sang paman. Ban Kim Sin almarhum, yang membuat ia terkejut
yalah mata nenek tua itu yang dipentang lebar tidak berhitam,
hanya putih meletak, ternyata ia sedang berhadapan dengan
seorang buta! Terdengar Ban Lo Lo mengeluarkan suara dingin :
"Mataku tidak dapat malihat, tetapi telingaku belum pernah salah
menangkap suara, tahu" Kau meng?aku bernama Hian-u Po-po,
mungkinkah dimasa mudamu menggunakan nama itu ?"
"Tentu saja bukan." Hian-u Po-po memberi sahutan; "Tetapi aku
tidak mempunyai nama harum sepertimu, tentu kau tidak pernah
mendengar. Aku datang dengan saudara ini, dia adalah cucu
luarmu, maksudku yalah mengantarnya agar dapat bertemu dengan
keluarganya. " ---oo0oo--- BAGIAN 17 HIAN-U PO PO ADALAH BIBI KAT SIAUW HOAN
BAN LO LO tidak bersuara, kedua mata putih itu mengarah
ketubuh Hian-u Po-po, agaknya ingin ia melihat jelas siapa orang
yang sedang dihadapi, sungguh sayang, mata itu tidak depat
digunakan. Hian-u Po-po tidak berani membuka suara, takut dikenali tepat
oleh lawannya Seorang buta mempunyai pendengaran dengan daya
ingat yang lebih hebat dari ma?nusia biasa, hal ini! cukup
dimaklumi olehnya. Beberapa lama kejadian saperti itu berlangsung.
To it Peng memandang dua nenek itu dengan penuh keheranan.
Ban Lo Lo menarik napas panjang, ia memandang kearah To It
Peng dan berkata "To It Peng, sudah kah kau datang?"
Masakan ada seorang nenek yang bertemu dengan cucunya
seperti Ban Lo Lo bertemu dengan To It Peng, memanggil nama
sang cucu bagitu saja se?olah-olah tidak ada kasih sayang!
Didalam benak pikiran sipemuda, sudah dibayangkan kejadian
pertemuan itu, tentunya sang nenek memeluknya, merangkul dan
mengeluarkan mata girang. T idak tahu hanya sambutan seperti itu,
ia agak kece?wa. "Betul Aku telah tiba." la pun memberi jawaban adem,
"coba kau datang kemari !" Berkata Ban Lo Lo menggapekan
tangan. To It Peng ragu2, ia tidak menjalankan perintah itu.
Dipandangnya Hian-u Po-po meminta adpist kepadanya.
Hian-u Po-po membuat gerakan tangan, menyuruh sipemuda
memenuhi panggilan itu. Denqan agak segan, To It Peng berjalan kedepan menghampiri
Ban Lo Lo. Ban Lo Lo meraihkan tangan, maka sipemuda telah berada
didalam rangkulannya. Karena ia tidak dapat menggunakan mata
membuat penilaian, maka- dengan meng-usap2 tangan ia meraih
wajah ToIt Peng. To It Peng merasakan satu tangan dingin yang seperti es
menjalar ditubuhnya, To It.Peng menggigil kedinginnan, tangan
sang nenek tua itu terhenti ditempat bagian wajahnya.
"Hei, mengapa tanganmu dingin sekali ?" Ia menga?jukan
protes. Lama sekali ia maraba wajah To It Peng, dahi Ban Lo Lo
berkerinyut. "Mengapa wajahmu mirip dangan sibajingan?" la berkata.
To It Peng memandang putih mata Ban Lo Lo yang dekat sekali
itu, ia tidak mengerti apa yang diartikan oleh nenek tuanya.
Ban Lo Lo panas tidak mendapat jawaban, tangannya melayang
dan ... Pang ... menampar pipi sang cucu tersebut.
Lagi2 kejedian yang berada diluar dugaan, setelah berjumpa,
diantara cucu dan nenek seharusnya ada sedikit rasa kekeluargaan
yang hanqat, tidak tahunya hanya makian dan tamparan itu. Hal
mana mambuat To It Pang segan, kepalanya dirasakan menjadi
pusing tujuh keliling, kena tamparan neneknya tadi.
Hian-u Po po membikin pembelaan :
"Eh, pertemuan kalian diantara cucu dan nenek tidak seharusnya
dilakukan seperti ini, mengapa kau memukul ?"
"Apa yang kau tahu ?" Bentak Ban Lo Lo. "dikala putriku
mendapatkan bajingan itu, sudah kukatakan kepadanya bahwa
untuk selanjutnya janganlah meng-harap bantuanku, jangan
menemuiku : hm...... hm..... mereka telah berada didalam neraka
dengan meninggalkan bajingan kurcaci ini yang disuruhnya meminta
perlindunganku. Mengapa aku tidak boleh menamparnya" Masih baik bila wajah
bajingan kecil mirip dengan putriku, tetapi kenyataan wajahnya
banyak menyerupai ayahnya yang sudah tiada itu. Sungguh
menjengkelkan." Betapapun dungunya To It Peng, iapun mangerti, siapa yang
disebut sebagai 'bajingan' dan siapa yang dimaksud 'bajingan kecil'.
Sungguh keterlaluan, ma-sakan seorang nenek mengatakan
mantunya sebagai bajingan, mengatakan cucu sendiri sebagai
'bajingan kecil' " Kesan terhadap ayah dan ibunya terlalu suram, To It Peng harus
menjunjung tinggi martabat kedua oranq tua itu, maka segera ia
berteriak : "Hei, siapa yang ingin meminta perlindunganmu?"
"Hm....... Hm......" Dengus Ban Lo Lo dari hidunq. . "Menyangkal"
Apa guna kau berkunjung ketempat ini bila bukan dengan maksud
berlindung ?" To It Peng membuka mulut, niatnya ingin memaki2 nenek buta
ini, tetapi segera teringat bahwa nenek bertongkat yang berada
didepannya adalah ibu dari orang tuanya, tidak pantas dan
durhakalah bagi mereka yang malawan orang tua, batal ia
mengucapkan kata2 untuk memaki neneknya itu.
"Baiklah." la berkata. Kau mengutus Teng Sam mengundang
datang, satelah itu membawaka sikap yang acuh tak acuh seperti
itu. Bila kau benci kepada kedua ayah bundaku, benci kepadaku,
apa guna aku berkunjung datang. Aku segara pergi dan angkat kaki
dari s ini. Terbungkuk-bungkuk To It Peng bangun, ia siap meninggalkan
lembah cang-cu-kok, dimina nenek tua itu menetap.
Ban Lo Lo meunjukkan sikapnya yang marah, ia membentak :
"Bagus! Bajingan kecil, berani kau melawan " Biar kuhajar
dahulu, agar kau tahu rasa tangan besiku."
Tongkat sinenek diayun, mengarah pantat To It Peng.
To It Peng, lari pontang- pantting, dengan berguling-gulingan
ditanah, ia berhasil menghindari pukulan itu.
Hian-u Po-po mengkerutkan alisnya.
"Hian u Po-po." Berkata To It Peng. "Lekas kita meninggalkan
tempat ini. Kukira...... dia..... bukan nenek tuaku. Tentunya kau
salah dengar cerita bohong."
"Bukan cerita bohong." Berkata Hian-u Po-po, "Perkawinan
diantara ayah dan ibumu tidak mendapat restunya, ia sangat
penasaran dan sehingga kini, masih marah dan sakit hati, termasuk
dirimu. Lekas kau ber?lutut dan maminta maaf, setelah hawa
amarahnya mereda, tentu ia tidak memukulmu lagi."
"Tidak ....... Tidak ....... " To It Peng tidak mengerti akan, sikap
Hian-u Po-po, mengapa nenek baju hitam ini mengajaknya kemari"
Mengapa mengatakan bahwa sinenek buta barbaju putih itu pernah
nenek tua darinya ?"
Hian-u Po-po menggerak-gerakkan tangan, ditunjuknya pangkuan sipemuda, tentu saja, To It Peng tidak mengerti akan
maksud tujuannya. Hian-u Po-po mem-buat bentuk kotak dengan
gerakan tangan, maka mengertilah apa yang dimaksudkan. Peti
batu pualam pemberian ayah almarhum tentunya.
Dikeluarkan peti batu pualam itu, T o It Peng memandang Hian-u
Po-po meminta pendapat: Hian-u Po-po menunjuk kearah nenek buta Ban Lo Lo, artinya
menyerahkan kotak tersebut kepadanya.
"To i t Peng PanggiI Ban Lo Lo:
"Disini." Dengan kata2 sengau sipemuda memberi sahutan.
"Sebelum ayah meninggal, beliau mengirim sabuah peti kepada
kawannya, dan peti itu kini berada padaku, disuruh membawanya
peti ini kedalam lembah cang-cu-kok, tentunya manyerahkan
kepadamu, bukan ?" Kin Lo Lo meraihkan tanqan, maka terasa satu se dot'ln hawa
yang kuat, peti batu pualam telah berpindah tangan, dari cekalan To
It Peng terbang ketangan Ban Lo Lo.
Memegang peti batu pualam itu, wajah Ban Lo Lo menunjukkan
ketegangan, kedua matanya yang hanya putih itu tampak jelas
sekali. Hian-u Po-po mengegserka badannya dengan perlahan dan hati2
sekali, hal ini seperti takut diketahui oleh nenek buta.
Ban Lo Lo mempunyai pendengaran yang cukup tajam, ia seperti
telah sadar akan bahaya, kepalanya mendongak menatap dimana
Hian-u Po-po berada. Gerakan Hian-u Po-po yang bergeser maju segara berhenti. Hal
ini berakibat lenyapnya suara geseran badan itu.
To It Peng segera merasakan akan adanya ketegangan, tidak
diketahui ketegangan apa yang akan terjadi, ia memandang dua
nenek itu, Hian-u Po-po yang berbaju hitam berada disebelah
kanannya, sedangkan Ban Lo Lo, nenek buta-berbaju putih itu
berada di sebelah kirinya.
Terdengar suara Ban Lo Lo :
"Hian-u Po-po minggirlah jauh2."
Hian-u Po-po tidak menyingkir, ia menggerakan baju2-nya
dikesampingkan cepat, maka dari geseran suara angin itu, seolah
olah ia telah pergi jauh. Hal ini mudah dilakukan, Ban Lo Lo tidak
mengetahui, karena hitam matanya telah tiada.
Ban Lo Lo memasang kuping tajam, menunggu sehingga suara
geseran angin yang ditimbulkan oleh baju Hian-u Po-po tadi telah
jauh, baru ia bertanya : "Hian-u Po-po, berada jauhkah jarakmu
dengan diriku ?" Setelah Hian-u Po-po mendekat, jarak diantara dua nenek itu
hanya 5 kaki, jarak ini terlalu dekat. Ban Lo Lo dapat memaklumi,
maka ia menyuruhnya menyingkir jauh2. Tetapi Hian-u Po-po tidak
melaksanakan perintah tersebut ia hanya menggeser bajunya
menimbulkan angin tipuan, badannya berdiri tetap ditempat lama.
Hian-u Po-po datang dengan maksud tujuan tertentu, mendapat
pertanyaan tadi, segera ia mengganti arah mukanya dan mulutnya
terlihat bergerak gerak. Manakala mulut Hian-u Po-po bergerak, To It Peng tidak
mendengar suara, beberapa saat kemudian, dari arah yang berjarak
belasan tombak terdengar suara berkata :
"Kurang lebih belasan tombak,"
Inilah suara Hian-u Po-po yang To It Peng kenal betul !
To It Peng memandang dengan penuh keheranan, mana
diketahui bahwa Hian-u Po-po telah malepas suara sehingga
belasan tumbakdari tempat itu baru suara tersebut memecah keras,
ini yang dinamakan ilmu 'memecah suara'. Maka beberapa kali ia
mamandang kearah 'pecah' nya suara itu, tidak terlihat seorang
manusiapun juga. Ban Lo Lo puas, ia memperhatikan kotak batu pualam dari
tangan To It Peng, dibukanya perlahan.
To It Peng mendapat peti batu pualam itu dari tangan Kang
Yauw dan Lim cu jin, diketahui hanya ukiran2 pemandangan alam
biasa, tidak berisi. Kini diserahkan kepada Ban Lo Lo, sinenek buta
sangat memperhatikan gurat2 lukisan itu, dipegangnya lama,
setelah itu memanggil : "To It Peng, kau....."
Tongkat Ban Lo Lo diangkat, dan tiba2 saja tongkat itu diayun
kearah Hian-u Po-po. Gerakannya capat sekali, sungguh berada
diuar dugaan. Seharusnya serangan mendadak yang berada diluar dugaan itu
dapat membawa hasil, sedari tadi tangan Ban Lo Lo merayap
disekitar peti batu pualam yanq To It Peng berikan, masakan dapat
bergerak cepat" Mengangkat tongkat menyerang mendadak "
Hanya saja orang yang dihadapi bukan manusia biasa, dia adalah
sinenek berbaju hitam Hian-u Po-po yang gagah perkasa, mendapat
serangan tadi, sungguh berada diluar dugaan, maka iapun
menjatuhkan dirinya ketanah, sehingga rata dengan garis
horisontal, setelah itu, dengan sebeyah tangan menekan batu, ia
mencelat bangun kembali. Disaat itu, tongkat Ban Lo Lo telah lewat
pergi. Serangan Ban Lo Lo gesit ! Gerakan Hian-u Po-po hebat ! Mereka
sama sakti, sama perkasanya.
Melihat serangan pertama gagal, Ban Lo Lo menarik kembali
senjata tongkatnya, satelah itu mengayunnya kembali, ia tidak
dapat melihat, tetapi pendengaran?nya terlalu hebat, bagaikan
mata orang yang sempurna, ia mengetahui letak tempat dimana
lawan itu berada Daun2 disekitar tempat itu rontok berjatuhan beterbangan kian-


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemari. Terlalu hebat angin tongkat pukulan Ban Lo Lo.
Hian-u Po-po telah menteyelat bangun" tangannya meraih
tangkai pohon, ditariknya kuat, maka pohon tersebut terbongkar
hingga akar, dengan indah ia manangkis serangan tongkat Ban Lo
Lo. Batang pohon tak sanggup menahan kekuatan tong?kat Ban Lo
Lo. Terdengar suara ..... Plak...... pohon itu patah ditengah.
Hian-u Po-po melempar batang pohon, badannya me?lesat jauh.
Mata Ban Lo Lo tidak dapat digunakan, tetapi bukan seperti telah
'cacad sama sekali, alat pendengarannya lebih hebat dari manusia
biasa, mengikti geseran angin, ia tahu dimana lawan itu berada,
tongkat diayun, berputar keras dan memukul hingga beberapa kali.
Hian-u Po-po tidak berdaya, ia terdesak, badannya mundur
berusaha manjauhi tongkat Ban Lo Lo yang hebat, demikian hingga
posisi kedudukannya terje?pit, punggungnya telah menempel pada
dinding batu. Tongkat Ban Lo Lo tarayun..... Tar.... Batu dimana Hian-u Po-po
bersandar pecah, hancur beran?takan.
Sampai disini, serangan Ban Lo Lo tertahan, tangan?nya tergetar
keras. Menqggunakan kesempatan itu. Ia tidak bergerak, diam berarti
aman, karena tak mung?in Ban Lo Lo dapat mangetahui dimana ia
barada. Suara pecahannya batu menghilangkan semua suara, termasuk
suara geseran badan Hian-u Po-po. Untuk sementara, pertempuran
babak pertama berakhir sampai disini, Ban Lo Lo memasang kuping
tajam, ia ingin mengatahui dimana Hian-u Po-po berada.
To it Peng mandapat kasempatan menarik napas, sedari tadi
jantung berdebar keras, menyaksikan per?tempuran diantara dua
nenek tua itu. "Hei, hentikan pertempuran segera!" teriak sipemuda. "Hentikan
pertempuran ini segera !" ia mengulangi perkataannya.
Maksud To It Peng ingin mencegah terjadinya pertempuran,
tetapi ia tidak mempunyai pengaruh. Dua nenek itu tidak
menganggap kata2 permintaan dari sipemuda.
"Hek Yauw Hu, masih kau menyangkal ?". Terdengar suara Ban
Lo Lo barteriak keras. "Berani kau manghina aku" Kau kira aku tidak
dapat mambedakan ilmu 'Keng?yap-piauw-piauw' dari keluarga Kat
?" Keluarga Kat" Hian-u Po-po orang dari keluarga Kat" T o It Peng
segera teringat akan dirinya Kat Siauw Hoan, belum lama ia melihat
bayangan wanita muda yang cantik itu.
Hian-u Po-po menganggukkan kepala, ia barkata dengan
suaranya yang dingin: "Bagus ! Memang kau hebat !"
Mendengar suara Hian-u Po-po yang diharapkan oleh Ban Lo Lo
itu, maka tongkatnya diayun dangan cepat memukul kearah nenek
berbaju hitam itu. Hal ini sudah berada dalam perhitungan Hian-u Po-po, maka
iapun menggeser kaki perlahan, sangat perlahan sehingga tidak
menimbulkan suara geseran angin, tongkat lolos beberapa senti dari
badannya, tetapi ia aman.
Mengetahui hal semua ini ia tidak berani me?nimbulkan suara,
Hian-u Po-po membuka mulut, tetapi ia tidak bicara langsung,
sebaliknya ia menggunakan ilmu 'Memecah suara' .... yaitu dengan
memindahkan asal suaranya, ketempat berjarak puluhan tombak
dari suara asalnya itu memecah :
"Lihay!...... Ban Lo Lo memang lihay!...... Sudah waktunya kau
membuka rahasia yanq tersimpan didalam peti batu pualam itu,
bukan ?" "Hm......." Ban Lo Lo mengeluarkan suara dari hidung. "Kau
masih berada didalam lembah cang-cu-kok, berani mangucapkan
kata2 tekebur?" Tongkat Ban Lo Lo tidak tinggal diam, ia meng?hantam arah
datangnya suara. Tentu-saja, serangan ini tidak mengenai Hian-u
Po-po, disitu suaranya dipe?cahkan, tetapi bukan berarti letak
tempat dirinya. Tongkat Ban Lo Lo mengenai batu, batu2 itu hancur
dan pecahan batu berhamburan.
Siasat Hian-u Po-po berhasil, menggunakan ilmu 'memecah
suar?, ia berkata : "Mengingat kedua matamu yang telah rusak, aku tidak mau
menempurmu. Katakanlah apa rahasia yang tersimpan didalam peti
batu pualam itu ?" "Kau mengimpi !" Ban Lo Lo membentak.
Mengetahui tidak berhasil menemukan jejak lawan itu barada
dimana, maka Ban Lo Lo memekik panjang, suara ini berkumandang
keseluruh lembah. Disana muncul laki2 berwajah dua rupa. Melihat keadaan seperti
itu, maka iapun mengerti mengapa Ban Lo Lo memanggilnya.
"la berada 20 tombak disebelah kiri !" Suaranya menunjukkan
letak tempat dimana Hian-u Po-po itu berada.
Ban Lo Lo menggarahkan tongkat, memukul ketempat20 tombak
disebelah kiri. Kurang tepat ! Nanya beberapa jauh dari mana Iawan
itu berada. "Kekiri lagi 6 kaki !" teriak laki2 berwajah dua rupa itu.
Mandapat petunjuk ini, Ban Lo Lo merasa mendapat angin, ia
menyerang Hian-u Po-po. Maka dalam saat2 berikutnya, Hian-u Po-po terdesak hebat.
"Hek Yauw Hu, lembah cang-cu-kok adalah tem?pat
bersemayammu untuk se Iama2nya." kata Ban Lo Lo dengan tidak
menghentikan serangannya."
"Kau hanya berani karena mengandalkan orang2mu." Hian-u Po-
po lompat menyingkir dari serangan tongkat Ban Lo Lo.
"jago2 cang-cu-kok bukan seorang, tetapi akupun sanggup
mengalahkanmu dengan tanpa bantuan mereka." kata Ban Lo Lo
yang mamperhebat serangan2 nya. Kini ia sudah tidak
membutuhkan petunjuk2 laki2 berwajah dua rupa, kemana Hian-u
Po-po pergi, tentu menimbulkan suara geseran angin, dengan
menggunakan kupingnya yang tajam. Ban Lo Lo berhasil menang
suara geseran angin itu, tongkatnya menyerang dengan gencar.
Beberapa kali, keadaan Hian-u Po-po terjepit, bahaya
mengancamnya. To It Peng yang hanya menyaksikan pertempuran itu!
keringatnya bercucuran. Manakala dua nenek itu menyambung pertempuran mereka,
pada lereng Iembah terdengar satu suara jeritan yang mengerikan.
Itulah suara laki2 berwajah dua rupa yang ternyata telah jatuh, ia
mendapat serangan bokongan yang mengakibatkan tewasnya.
Ban Lo Lo menghentikan serangan2nya, ia mendongakkan
kepala, menatap suara orang kuatnya itu, matanya tidak dapat
melihat, maka tak tahu apa yanq menyebabkan Ban Hok, demikian
nama Iaki2 berwajah dua rupa itu mengeluarkan suara jeritan.
Ban Hok hanya menjerit sekali, setelah itu, ia kehilangan jiwanya
dan tidak dapat bernapas.
Ban Lo Lo me lintangkan tongkat didepan dada, serta berteriak
dengan bentakan : "Hek Yauw Hu, apa artinya permainanmu ini Hian-u Po-po
mengeluarkan suara tertawa puas.
"Ketahuilah, mulai saat ini, dalam lembah can-cu-kok, kecuali kau
seorang, sudah tidak ado orang2mu lagi." kata nenek baju hitam ini.
"Kau...... Kau..... Bagaimana kau membunuh mereka ?" Suara Ban
Lo Lo agak kurang lancar. la tidak mengerti, dengan cara
bagaimana Hian-u Po-po membunuh Ban Nok, sedangkan dirinya
digencar hebat dengan serangan2 tongkat" Tak mungkin To It Peng
dapat membunuh Ban Hok, kepandaian sidungu terlalu rendah
sekali. Sesosok `bayanqan melayang turun, bayangan inilah yang
membunuh Ban Hok, cepat sekali ia te lah berada disana, ternyata ia
seorang wanita muda. Kuping Ban Lo Lo seperti dapat membedakan suara orang yang
datang, segera ia buka suara memanggil :
"Siauw Hoan, Iekas kau kemari!"
Nama yang tidak asing bagi To It Peng, ia ber?jingkrak dan
memandang kearah bayangan tadi, disana berjalan datang seorang
wanita muda yang sangat cantik siapa lagi bila bukan Kat Siauw
Hoan yang dirindukan siang malam "
"Siauw Hoan," Panggil Ban Lo Lo. "Dimana Ban Hok berada ?"
"Tidak jauh." Kat Siauw Hoan memberi jawaban. "Bagaimana
dengan keadaannya ?"
"Ia, sudah tidak depat bernapas lagi." "Mengapa?" tanya Ban Lo
Lo kaget. "la telah kena jarumku. Setelah itu jatuh, tentu saja ia tidak
dapat hidup lama" kata Kat Siauw Hoan.
jawaban Kat Siauw Hoan diluar dugaan Ban Lo Lo, wajahnya
yang telah berkerinyut itu menunjukkan kegusaran yang tidak
terhingga. "Bagus." Akhirnya in berkata. "Tidak kusangka, kau adalah
musuh dalam selimut yanq berhasil manyusup masuk kedalam
lembah cang-cu-kok. Tidak seharusnya aku mempercayai
keteranganmu, dengan membuat cerita yang menarik kau berhasil
mangelabuiku. Kau katakan keadaanmu yang terdesak, membutuhkan tempat perlindungan aman. Disinilah letak kesalahanku yang terbesar. Terlalu percaya kepada obrolan
seseorang." "Ban Lo Lo jangan kau mengucapkan kata seperti itu." To It Peng
membela wanita yang dikasihinya. "Kat Siauvd Hoan adalah orang
yang baik "bukan musuh dalam selimut, bukan......"
To It Peng tidak dapat melanjutkan kata2nya, karena disaat
inilah Kat Siauw Hoan telah menerima segala tuduhan yang
dijatuhkan kepadanya. "Betul. Aku adalah musuh dalam selimutmu." katanya.
"Mengertikah kau" Kau sadar belum ter?lambat, Maka kau tidak
akan mati penasaran, kau telah mengetahui, dimana letak
kesalahanmnau e, bukan ?"
To It Peng mamandang wajah wanita cantik yang dirindukan
siang malam itu, inikah Kat Siauw Hoan" Ia kurang percaya.
Kat Siauw Noan menghampiri Hian-u Po-po dan berkata :
"Bibi, kedatanganmu lambat sekali."
Ternyata Hian-u Po-po adalah bibi dari Kat Siauw Hoan.
Masuknya Kat Siauw Hoan kadalam Iembah cang-cu-kok termasuk
salah satu rencana sinenek berbaju hitam itu.
"Samua gara2 bocah dungu ini" kata Hian-u Po-po menunjuk To
It Peng. Ban Lo Lo turut mengikuti percakapan mereka, segera ia sadar
akan bahaya, ia tertawa berkakakan, kemudian berkata :
"Bagus..... Bagus...... Mataku telah buta, mereka tidak dapat
mengenal bahwa orang yang kukasi?hani itu adalah anak
perempuan si Lebah Beracun Kat Sam Nio. Ha, ha, ha,....... ha, ha,
ha,........ Aku memang buta mata ... Aku telah tua...... Tiada
guna......." "Betul! Kat Sam Nio adalah Ibuku." kata Kat Siauw Hoan. "Sudah
kukatakan bahwa aku dari keluarga Kat, bukan ?"
Wajah Ban Lo Lo ditekuk segera ia berkata geram :
"Betu!. Kini kekuatanmu dua orang. Tetapi aku-nenek buta bukan
berarti takut kepada kalian, majulah berbareng."
Hian u Po-po segera berkata :
"Ban LoLo, kuanjurkan kepadamu agar segera membuka rahasia
peti batu pualam itu. Maka kau tidak akan mengikuti jejak putri dan
mantumu yang telah menjadi korban penasaran, karena kukuh tidak
mau mengatakan rahasia peti batu pualam tersebut."
"0oooooo..... Rahasia peti batu pualam itukah
yang menjadi tujuan utama kalian berdua?" Ban Lo Lo
mengajukan pertanyaan. "Betul!" kata Hian-u Po-po.
"Tentu." kata Kat Siauw Hoan. "Purti dan menantumu itu mati
penasaran karena tidak mendengar nasihatmu"
Mata To It Peng belum lepas dari wajah Kat Siauw Hoan,
mendengar percakapan mereka yang menyebut2 'putri dan mantu
Ban Lo lo', pikirannya segera tergerak. Bukankah kedua ayah
bundanya yang mereka maksudkan "
Diketahui bahwa Golok Emas Tanpa Tandingan Kim to Bu tie T o
Tong Sin suami istri mati penasaran, tidak ada orang yang tahu,
bagaimana kematian mereka. To It Peng belum mendapat
gambaran jelas dilihat dari sudut2 tertentu, seharusnya Hian-u Po-
po dan Kat Siauw Hoan pernah turut didalam sengketa itu.
"Hei, apa yang kalian cakapkan?" tanya To It Peng.
Tidak ada oranq yang menjawab pertanyaan si dungu.
Hian-u Po-po datang kedalam lembah cang-cu-kok dengan
maksud tujuan memecahkan rahasia yang tersimpan didalam peti
batu pualam peninggalan ayah To It Peng, segere ia berkata:
"Ban Lo Lo, katakan rahasia-peti hatu pualam itu !"
"Betul Maka jiwamu bebas dari ancaman maut." Sambung Kat
Siauw Hoan. Ban Lo Lo telah rnengambil putusan, ia berkata :
"Baik. Kukatakan kepada kalian, bahwa rahasia yang tersimpan
didalamnya ialah........"
Tiba2 saja, tongkat bergerak cepat, dengan kekuatan yang
menderu-deru memukul, kearah Hian-u Po-po.
Hian-u Po-po telah bersedia, sebuah pohon dilem?parkan, maka
terjadi suara gemuruh dari bdradunya tongkat dan pohon yang
pecah hahcur itu. Bagaikan bayangan iblis, Kat Siauw Hoan bergerak perlahan, ia
telah berada dibelakang Ban Lo Lo, dengan menyebarkan jarum2
yang berwarna merah, ia melakukan bokongan.
Mata Ban Lo Lo telah kehilangan biji hitamnya, namun bukan
berarti ia mudah dihina, bila saja didalam keadaan biasa, serangan
bokongan Kat Siauw Hoan tadi tidak mungkin membawa hasil,
hanya disayangkan, saat ia diserang, keadaan dirinya panas,
tongkatnya memukul kearah Hian-u Po-po yang melempar dengan
pohon besar, suara beradunya tongkat dan batang pohon itu
menimbulkan suara gaduh,. menelan suara gerakan Kat Siauw.
Hoan. Manakala Ban Lo Lo sadar akan bahaya, tubuhnya telah
ditumbuhi jarum2 merah Kat Siauw Hoan.
"Oh....." Ban Lo Lo manggerakkan tangannya siap mencabut
jarum2 itu. Kat Siauw Hoan talah mundur jauh, ia berteriak :
"Hei, kau telah terkena racun Thian-hong-ciam
Tentunya kenal dengan nama jarum dari keluarga Kat bukan"


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Masih berani kau meneruskan gerakan tanganmu menyentuh " "
Ban Lo Lo kenal baik dengan sikap2 tamak dan jahat dari para
keluarga Kat, ancaman Kat Siauw Hoan bukanlah bohong, ia
menghentikan gerakan tangannya yang ingin mencabut jarum
merah itu keluar dari tubuhnya.
"Ban Lo Lo, hayo menyerah !" Ujar Hian-u Po-po.
Ban-Lo Lo mengu'lurkan tangan kearah Kat Siauw Hoan, "Lekas
serahkan obat pemunahmu !" la meminta.
"Katakanlah rahasia apa yang tersimpan didalam peti batu
pualam itu. Maka obat pemunah racun akan kuberikan kepadamu."
Ban Lo-Lo tertawa dingin, katanya :
"Bila kau menyerahkan obot itu setelah tidak ada rahasia, setelah
aku mengatakan rahasia yang tesimpan ditempat itu, maka kau
bukan putri tunggal si Lebah Beracun Kat Sam Nio. Kau kira aku
tidak kenal akan sifat2mu ini" Hayo, segera serahkan obat pemunah
racun itu." Plak........ Peti peningalan ayah To It Peng dibanting ketanah.
Setelah itu, Ban Lo Lo berkata lagi
"Sebelum aku mati, akan kupecahkan dahula benda ini. Maka
rahasia tersebut terpendam untuk selama lamanya. Tak ada orang
kedua yang tahu." Kat Siauw Hoan memandang Hian-u Po-po.
"Bibi, bagaimana dengan pendapatmu ?" Ia bertanya.
"Berilah obat pemunah racun itu." kata Hian-u Po-po. "jarum
Thian-hong-ciam' ibumu bukanlah jarum biasa, setelah ia memakan
obat pemunah, tidak mungkin ia bergerak cepat, itu waktu, bila ia
tidak menepati janji, tidak memberi tahu rahasia, "beri saja
beberape jarum lagi."
"Betul!" Kat Siauw Hoan girang.
Ser........ Istri pelarian Seng-po-chung ini melempar sebutir obat
berwarna hijau. cepat Ban Lo Lo menyambuti obat pemberian Kat Siauw Hoan
tadi, ditelannya segera, racun2 keluarga Kat sangat jahat dan hebat,
ia harus segera melenyapkan dari tubuhnya.
Keadaan sunyi dan sepi ....... Ban Lo Lo mengatur peredaran
darahnya, Hian-u Po-po dan Kat Siauw Hoan menantikan kabar
berita dari terbongkarnya rahasia lama yang terdapat didalam peti
pualam. To It Peng memandeng sagala peristiwa dengan perasaan
bingung, tak tahu perma inan sandiwara apa yang sedang ditonton
oleh jago nomor satu kita ini. Baberapa saat kemudian, Ban Lo Lo
memungut peti batu pualam yang didapat dari tangan To It Peng, ia
mulai bercerita : "Kotak ini kudapat dari suamiku almarhum dahulu, in telah
memenukar jiwanya dengan sebuah kotak misterius penuh rahasia
teka-teki ini. Setelah aku tahu bahaya apa yang mengancam,
dengan mengajak anak perempuanku, aku mengembara mencari
tempat yang aman untuk melewatkan waktu. Tidak kusangka anak
perempuanku itu terpikat oleh sibajingan To Tong Sin, dengan
mencuri peti batu pualam ini, ia turut suaminya melarikan diri......."
Air mata Ban Lo Lo dari sela2 kedua matanya yang hanya tinggal
putih saja itu, agaknya ia bersedih mengenangkan kejadian
lamanya. Apa yang To It Peng ketahui tentang ayah dan ibunya terlalu
sedikit sekali, ia turut mendengarkan dan mengikuti jalan cerita
tersebut. "Mereka tidak tahu isi rahasia yang tersembunyi didalam kotak
ini." Ban Lo Lo menyambung cerita. "Dikira aku dapat memaafkan
kesalahannya dan menga-takan rahasia itu kepada mereka. Tetapi
tidak..... Aku tidak mengatakan apapun kepada mereka. Aku telah
bosan dengan penghidupan, aku menyepi didalam lembah cang-cu-
kok ini, tidak sudi aku menemui mereka lagi."
"Apa guna kau mengoceh tidak keruan ?" Bentak Kat Siauw
Hoan. "Aku harus mulai cerita dari pertama, bukan' Ban Lo Lo tidak mau
kalah....... "Biarkanlah ia bercerita." kata Hian-u Po-po.
Kat Siauw Hoan sangat gelisah, ia tidak dapat memaksa sinenek,
buta membuka rahasia peti batu pualam itu dengan segera.
"Mereka menunggu kedatanganku dikira aku dapat melakukan
hal itu........ Hm..... Hm..... " Beberapa kali Ban Lo Lo mengeluarkan
suara dari hidung. "Mereka gagal, maka diusahakan masuk kedalam
lembah cang-cu-kok, tentu saja,-.aku tidak sudi menemu mereka,
karena tidak berhasil, mereka mencoba memcahkan rahasia itu
dengan meminta bantuan orang, karena itulah mereka binasa. Ha,
ha, ha, ha ........"
Ban Lo Lo tertawa puas! Kematian putri dan mantunya yang tidak
mendapat restunya itu tidak diingat sama sekali.
"Ban Lo Lo apa yang kau tertawakan ?" To It Peng mengajukan
pertanyaan. Mana mungkin kejadian itu menjadi buah tertawaan ".
"Mengapa aku tidak boleh tertawa?" Ban Lo Lo Membelalakkan
putih matanya yang tidak dapat digunakan, untuk melihat itu.
,,Manakala putriku mencuri peti batu pualam dan ikut To Tong Sin
untuk melarikan diri siapakah yang tidak mentertawakan dirinya"
Ha, ha, ha....... Kini mereka kena tula, umur mereka tidak lama. satu
persatu dibunuh orang, Ha, ha, ha........"
To It Peng mengkerutkan alis, inilah prilaku seorang nenek tua "
Mana mungkin ada ibu yang tidak sayang kepada anaknya " Tidak
sayang kepada cucunya " Sungguh keterlaluan !
Ha, ha, ha........" Masih Ban Lo Lo tertawa "Mereka telah mati.
Maka lenyaplah semua kebencianku kepadanya. Aku benci kepada
putriku, aku benci kepada mantuku, tetapi belum tentu benci
kepada cucuku sendiri. Maka kalian mengajak anak mereka
ketempat ini, dengan membawa peti batu pualam dan menyerahkan
kepadaku, harapan kalian ialah agar dapat memberi tahu rahasia
teka teki apa yang tersembunyi dalam peti ini, bukan " Ha, ha,
ha....... Tetapi aku tidak mengatakan kepadanya."
"Aku tidak membutuhkan rahasia itu." kata To It Peng.
Ban Lo Lo tidak manggubris sang cucu, ia menatap Hian-u Po-po
dan Kat Siauw Hoan dengan putih matanya itu kemudian ia berkata
: "Aku ingin mengajukkan pertanyaan, bila kalian menjawab
dangan sejujur-jujurnya, maka rahasia ini akan kukatakan keoada
kalian. Bersediakah kalian menjawab pertanyaanku"
"Katakanlah !" kata Hian-u Po-po.
Ban Lo Lo menarik napasnya dalam2, setelah itu bertanya :
"Anak perempuan sialku itu tentunya mati dibawah tangan kalian,
bukan " "Kematian mereka disebabkan oleh ibu Kat Siauw Hoan." kata
Hian-u Po-po terus terang. "Kat Sam Nio menginginkan rahasia itu,
tetapi tidak berhasil, maka dengan mengadakan persekutuan
dengan beberapa orang, ia berhasil membnnuh mereka."
To It Peng turut mendengar percakapan mereka, kepalanya
terasa seperti dipukul oleh benda berat, tujuh keliling, dunia saperti
berputar keras, tubuhnya jatuh ditanah, penderitaan itu terlalu
hebat baginya. Ban Lo Lo, Hian-u Po-po dan Kat Siauw Hoan sedang berusaha
mengadu kepintaran, tidak satu dari mereka yang memperdulikan
sipemuda. "Baik." kata Ban Lo Lo. "Rahasia yang kalian ingin tahu ialah,
kotak ini tidak berisi, tetapi ia menunjukkan lukisan pemandangan
indah, itulah tempat gunung es digunung.Thian-san. Setalah tiba
disana, kalian dapat menemukan 17 goa es, pada goa ke-6, kalian
dapat menemukan benda yang diharapkan."
Setelah membongkar rahasia itu, Ban Lo Lo melempar batu
pualam tersebut. Hian-u Po-po menyambutinya cepat.
To It Peng telah bangun lagi, ia mamandang dua nenek itu
bergantian. "SeteIah mengetahui rahasia ini, tentunya kalian tidak
membunuhku, bukan ?" kata Ban Lo Lo.
"Tidak perlu membunuhmu, kau akan mati sendiri" kata Kat
Siauw Hoan. Ban Lo Lo terkejut mendengar kata2 itu.
"Apa artinya kata2mu ini?" Ia bertanya.
"Kau kira obat yang kau makan tadi sebagai obat pemunah
racun" Ha, ha, ha....... Itulah Yong-sin-tan kini racun tentunya telah
menjalar cepat dan berada disekitar jantungmu." kata Kat Siauw
Hoan. Lagi2 Ban Lo Lo kena tipu!
---oo0oo--- BAGIAN 18 KAT SIAUW HOAN - WANITA CANTIK YANG BERHATI
BUSUK DAN KEJAM. BAN LO LO berteriak keras, badannya mencelat, dengan tongkat
yang diayun kuat, ia menyerang Kat Siauw Hoan.
Sayang ! Racun yang bersarang didalam tubuhnya telah menjalar
cepat, sebelum ia dapat menyentuh tanah, matanya telah
terbelalak, dan ia mati mendadak, mati secara penasaran. Tubuhnya
jatuh ditanah dengan tidak berkutik, napasnya telah berhenti
bekerja. Hian-u Po-po tertawa puas, ia berkata : ,,Siauw Hoan,
kebijaksanaanmu lebih hebat dari ibumu almarhum."
la tertawa Ruas atas segala sesuatu yang telah terjadi. Ban Lo Lo
yang disegani berhasil disingkirkan dari permukaan bumi.
Kat Siauw Hoan telah merencanakan lain rencana, ia
membawakan sikapnya yang tunduk den taat.
"Bibi," ia berkata. "baik2lah kau simpan peti batu pualam itu.
Gunung Thian-san terlalu jauh, aku tidak tega meninggalken anak,
tidak ingin ikut pergi kesana untuk mencari barang itu."
Ucapan Kat Siauw Hoan sungguh berada diluar dugaan, Hian-u
Po-po tertegun sejenak, tetapi tidak lama, setelah itu ia tertawa.
"Ha, ha, ha......" Katanya: "Siauw Hoan, kau pandai melihat
gelagat. Setelah bibimu mendapatkan benda pusaka itu, tentu aku
tidak melupakanmu." "Mana berani aku merebut benda pusaka dari tangan bibi."
"Kau tahu akan hal ini" Bagus! Kau tahu aku tidak melupakanmu,
bukan?" "Tentu. Bila aku mempunyai niatan untuk memperebutkan benda
pusaka itu, bukankah seperti telor membentur ujung tanduk?" Kat
Siauw Hoan bergerak maju mendekati bibinya. "
Hian-u Po-po belum sadar akan maut yang mengancam! "Kau
pandai dan pintar .......... kau ........." Kata2 Hian-u Po-po terputus
segera. Tangan Kat Siauw Hoan telah terpentang dari sana meluncur
belasan batang jarum merah, jarum maut yang telah merengut
niawa Ban Lo Lo. jarak diantara Hian-u Po-po dan Kat Siauw Hoan terlalu dekat,
dalam keadaan kurang kesiap siagaannya, sinenek berbaju hitam
telah mandapat 'hadiah' jarum Thian-hong-ciam.
Selesa i melepas jarum herbisanya, tubuh Kat Siauw Hoan
melayanq mundur, ia menjauhi bibinia.
Hian-u Po-po menudingkan tangan berkata :
"Siauw Hoan, kau.....Kau.......
"Bibi, bukankah pernah kau katakan bahwa kebijaksanaanku
lebih hebat dari pada ibu?" la berkata dingin.
"Betul...... Betul....." Hian-u Po-po mengangguk2an kepala. T iba2
saja tubuhnya mencelat tinggi, bagaikan alap2 yang mau
menyambar anak ayam, menerkam Kat Siauw Hoan. Maksudnya
ingin merebut obat pemunah jarum berbisa darinya.
Kat Siauw Hoan tersenyum ewah, ia tidak bergerak dari
tempatnya. la tidak takut kena serangan, bisa yarum yang dilepas
terlalu jahat, tak mungkin sang bibi bertahan lama.
Betul saja, badan Hian-u Po-po ditengah udara tiba2 menukik
turun, tetapi bukan menarkam kebawah, ia jatuh dengan langsung,
matanya melotot keluar, napasnya telah tiada Iagi. la mati
penasaran dibawah tangan kejam kemenakannya sendiri.
Ternyata jarum Thian-hong-ciam mengandung racun yang sangat
jahat, siapa yang terkena bisa ini, bila korban diam tidak bergerak,
maka sikorban bisa bertahan hidup lebih lama. Semakin kuat
mengerahkan tenaga, semakin cepat pula bisa didalam tubuh
sikorban bekerja. Maka hanya memakan waktu beberapa detik,
tubuh Hian-u Po-po tidak dapat berkutik lagi.
Belum lama berselang, Ban Lo Lo diberi 'hadiah' itu, ia tahu
betapa hebat racun keluarga Kat, maka sekarang ia diam tidak
bergerak. Hian-u Po-po terlalu mengumbar hawa amarahnya, ia tidak
memperhitungkan sampai disitu, sehingga kematiannya semakin
cepat. Mayat dua nenek itu jatuh tidak jauh, mereka mati karena korban
bisa racun dari keluarga Kat.
To It Peng membuka lebar2 mulutnya, mempentang, besar2
matanya, wanita muda belia yang cantik inilah yang bernama Kat
Siauw Hoan, wanita dirumah batu yang pernah menghibur dirinya"
Wanita yang menyerahkan anak itu kepadanya" Wanita yang
melarikan diri dari Seng-po-chung"
Kat Siauw Hoan telah menamatkan dua lawan kuatnya, a
memungut peti batu pualam milik To It Peng dan membalikkan
badan, memandang sipemuda.
"Hei, mengapa kau tidak menetap didalam Seng-po-chung
menjaga anak?" la membentak.
To It Peng belum berani memastikan bahwa ia sedang
berhadapan dengan Kat Siauw Hoan yang harus dikasihani.
"Kau..... Kau.....Kat Siauw Hoan ?" la mengajukan pertanyaan.
"Betul. Ada berapa tubuhkah Kat Siauw Hoan?"
To It Peng memandanq mayat2 Hian-u Po-po dan Ban Lo Lo, ia
bergumam : "Tentunya aku sedang bermimpi ..... Tentunya aku sedang
bermimpi........" Kat Siauw Hoan mendekati pemuda itu, ia memben -tak :
"Hei, mangapa kau tidak memetap di Seng-po-cung" Kini dimana
anak itu berada?" Anak yang Kat Siauw Hoan tanyakan yalah Tay Koan anak hasil
darinya dengan ketua Seng po-chung.
To It Peng memandeng wanita cantik dihadapannya, wanita ini
terlalu muda, mempunyai wajah yang menggiurkan, mengapa tidak
disertai hati yang baik "
"Hei........." Kat Siauw Hoan mendorong tubuh sipemuda.
To It Peng belum sadar seratus persen, kedatanqan Kat Siauw
Hoan tidak diketahui olehnya, terasa bau harum semerbak yang
menusuk hidung, baginya, bau harum ini tidak dapat dilupakan
begitu saja. Kenangan didalam rumah batu timbul kembali, dimana
ia mengecap kesenangan yang tak terhingga.
Perbedaannya ialah bukan dirumah batu, tetapi berada dilembah
cang-cu-kok didepannya tergeletak dua ;mayat, itulah mayat Ban Lo
Lo dan Hian-u Po-Po. "Auuuaaaaaaa......" tiba-tiba.T o It Peng menangis.
Wajah Kat Siauw Hoan berubah, ia menduga sesuatu telah
menimpa anaknya : "Hei, dimana kini anakku berada ?" Ia berteriak.
To It Peng menangis semakin keras, ia tidak dapat
menyembunyikan atau menahan rasa sedihnya.


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah beberapa kali Kat Siauw Hoan mendorong-dorongnya,
baru ia sadar. "Tidak ada Tidak ada " la barkata.
Rasa terkejutnya Kat Siauw Hoan semakin bertambah.
"Bagaimana tidak ada?" Ia bertanya.
"Aku Aku telah meninggalkan anak itu"
Kat Siauw Hoan mengangkat tangannya, kini ia memastikan
bahwa anaknya telah Ienyap tidak ada kabar cerita, mungkin
dibunuh orang, mungkin juga te lah menjadi mangsa binatang buas,
ia marah, tangannya menepuk kearah ubun2 sidungu.
To It Peng belum bergerak, ia tidak tahu bahwa maut telah
mengancamnya. Hanya beberapa senti lgi, Kat SiauwHoan mengenai korbannya.
Disaat inilah Kat Siauw Hoan jatuh pingsan, getaran jiwa yang
menduga bahwa sang anak telah mati mengganggu urat syaraf
sang ibu. To It Peng belum sadar bahwa keterangannya yang tidak jelas itu
hampir merengut jiwanya, melihat Kat Siauw Hoan jatuh, ia segera
memayang bangun. "Nona Kat ...... Nona Kat......." Ia mamanggil-manggil :
Kat Siauw Hoan sadar perlahan, dilihat ia telah berada didalam
pelukan sipemuda, cepat bangun, berdiri seraya berkata :
"Kau ....... Kau....... telah meninggaikan anak itu begitu sad ya ?"
To It Peng menggoyangkan kepala.
"Bukan begitu." Ia membikin pembelaan. .,la telah kuserahkan
kepada ketua Seng-po-chung."
"Mengapa tidak kau tunggu ditempat itu ?"
"Ketua Seng po-chung tidak memberi ijin untukku menetap
disana." Dan dimana pedang Hu-ie yang kusarahkan kepadamu "
"Pedang Hu-ie " Telah kusete l dengan sarung pedang kulit naga.
Tentunya kau gembira, bukan ?"
"Heh Kat Siauw Hoan lompat, dirangkulnya To It Peng dan.....
cup..... cup ia menghadiahan ciuman mesra.
"Bagus, Lekas serahkan pedang itu kepadaku." la berkata,
Tangannya diangsurkan meminta pedang dan sarunq pusaka itu.
"Sekarang tiada pada diriku." To It Peng tertawa getir.
"Mengapa ?" "Seorang berambut pirang dengan kepala sangat besar, denqan
badannya yang pendek, tetapi berkepandaian sangat tinggi telah
mewakili aku menyimpan ke-dua benda itu."
To It Peng tidak tahu bahwa orang yang membewa pedang Hu-ie
dan sarung pedang kulit naga itu adalah Siu jin Mo Say asli, maka in
tidak dapat menyebut nama itu.
Kat Siauw Hoan membanting kaki, perutnya dirasakan mau
meledak. "Mengapa Kau serahkan kepadanya ?" la mencela.
"Mengapa aku serahkan kepadanya" Dia berkepandaian tinggi,
siapakah yang dapat merebut dari tangannya"Menyimpan
ditangannya adalah langkah yanq paling aman." To It Peng tidak
tahu bahwa ia telah mernbangkitkan kemarahan wanita muda
tersebut. Kat Siauw Hoan mengangkat tangan, maksudnya ingin
menampar sidungu, tetapi teringat bawa pemuda yang seperti ini
sungguh tolol, terlalu goblok, apa gunanya bersitegang dengannya"
Bukankah berarti mengadu mulut dengan oranqg mabuk, saling
pukul dengan orang gila"
la membatalkan maksudnya!
"Dasar dungu!" la memaki, "Aku menyesal telah menyerahkan
diri kepadamu, aku menyesal telah memberi tugas penting ini
kepadamu, manusia dungu, goblok, tolol dan dogol."
Semakin lama, semakin hebat Kat Siauw Hoan mengeluarkan
kata2 ucapan makiannya. To It Peng agak tersinggung, ia telah biasa dimaki orang dungu,
goblok tolol dan dogol, tetapi makian itu keluar dari mulut orang
banyak, orang2 itu tidak mempunyai sangkutan dengannya, lain lagi
dengan Kat Siauw Hoan, wanita yang dicinta, wanita yang pernah
memberikan kesutiian tubuhnya itu, mengapa tidak dapat
memaafkan segala kesalahan "
Kat Siauw Hoan manarik pukulan yang hampir merenggut jiwa
sidungu, terdangar ia berkata :
"Hei, sedianya aku inggin membunuhmu. Mengapa kau
menyerahkan pedang Hu-ie kepada orang yang tidak dikenal "
Tetapi aku akan rnemaafkan kesaiahanmu, apa terima kasihmu
kepadaku?" Bukan saja terima kasih, bila Kat Siauw Hoan tidak ,memaki-maki
seperti tadi, diperbudak, disuruh apapun, akan dijalankan dengan
segera, To It Peng telah tunduk betul2, maka apa perintah yang
dikeluarkan oleh wanita yang dikasihi, tentu dilaksanakan olehnya.
"Hai, bagaimanakah kejadian perkara itu, sehinqga kau
menyerahkan pedang Hu-ie kepada oranq itu?" Kat Siauw Hoan
bertanya. "Seorang laki2 berambut kuning yanq pertama masuk kedalam
Seng-po-chung dengan membawa sarung pedang kulit naga,
setelah itu datang lagi orang tua berambut kuning, laki2 berambut
kuning tidak sanggup melawan orang2 Seng-po-chung, orang tua
berambut kuninq datang menolong, setelah itu, orang rambut
kuning dikalahkan oleh orang tua berambut kuning, orang berambut
kuning menyerahkan sarung pedang kulit naga kepada orang tua
berambut kuning, setelah itu ..."
"cukup..... cukup......" Kat Siauw Hoan memotonq cerita orang. Ia
bingung dengan sebutan 'orang rambut kuning' dan 'orang tua
rambut kuning'. To It Peng segera menutup mulutnya.
"Berilah keterangan yang lebih jelas." kata Kat Siauw Hoan.
To It Peng mengulang cerita tentang dua orang rambut kuning,
sehinqga bagaimana ia menyerahkan pedang Hu-ie kepada salah
satu darinya. "Menurut ceritamu, orang tua berambut kuning itu hanya ingin
meminjam dan menyimpan sementara pedanqg dan sarung pedang
pusaka ?" "Tentu." "Mungkinkah ia mau mengembalikan kepadamu ?" "Tentu."
Kat Siauw Hoan mengeluh, tidak saharusnya ia menyerahkan
sebuah benda keramat kepeda manusia dungu seperti To It Peng.
Kini, seperti nasi telah menjadi bubur, apa yang dapat dirubah "
"Dimisalkan orang tua rambut kuning itu menyerahkan pedang
Hui-ie dan sarung pedang kulit naga kepadamu, apa yang akan kau
lakukan ?" tanya Kat Siauw Hoan.
"Segera kutemui dan kuserahkan kepadamu !" jawab To It Peng
pasti. "Ng......" kata Kat Siuw Hoan. "Dalam hal ini, ternyata kau masih
mempunyai budi pekerti."
"Mengapa tidak" Pedang Hui-ie adalah barang kepunyaanmu,
sudah selayaknya bila kuserahkan kembali, bukan ?"
"Sudahlah. Segera kau enyah dari tempat ini." Kat Siauw Hoan
mengusir. To It Peng memandang siwanita muda, inikah istri ketua Seng-
po-chung yang melarikan diri ".Inikah Kat Siauw Hoan yang dikasihi
" "Hayo, pergi !" Kat Siauw Hoan membentak.
To It Peng bingung. "Nona Kat," katanya. Itu malam, dirumah batu, kau.............."
"Tutup muIut ! berani kau mengulang kata2 ini, segera kubunuh
mati, tahu "!" Bentak Kat Siauw Hoan galak.
To It Peng mana bersni meneruskan kata2nya" *diam bungkam,
diam seribu bahasa. "Hei, kau tidak boleh mengatakan kata2 tadi, tahu?"Kat Siauw
Hoan mengancam. Dan 'tidak boleh mengatakan kepada siapapun
bahwa kau kenal dengan ku.'
Seperti seorang sakit yang mengerang kesakitan, To It Peng
mencoba buka suara : "Tidak boleh mengatakan kenal denganmu?"
"Betul." To It Peng menundukkan kepala, maka lenyap dan buyarlah
segala harapannya. Ia berjalan ngeloyor pergi meninggalkan lembah
cang-cu-kok. Kat Siauw Hoan memungut peti batu pualam itu, dengan benda
ini ia akan menuju kegunung es di T hian-san.
Bercerita tentang To It Peng, setelah meninggalkan lembah cang-
cu-kok, setelah meninggalkan Kat Siauw Hoan, dengan langkah lesu
dan tidak bersemangat ia melakukan perjalanan jauh, tidak ada
arah tujuan, tidak ada pikiran, bagaimana hidup berikutnya.
To It Peng dihidupkan didalam dunia seperti telah ditakdirkan
untuk hidup sengsara, hidup merana, tidak ada kegembiraan, tidak
ada kesenangan, tidak ada sanak pamili dan tidak ada orang yang
mengashinya. Dikala ia hidup dikampung Ban-kee-chung, semua orang
memandang rendah dirinya, tetapi ia tidak pernah mengalami
kesukaan hidup. Ia bebas bergerak, bebas makan dan minium.
Setelah Ban-kee-chung dibakar, setelah sang paman Ban Kim
Sen meninggal ia hidup terlunta-lunta, hidup merana.
Diketahul ayahnya teleh tiada, ibunya meninggal dunia, menyusul
sang paman, kini nenek kolotnyapun dibunuh orang pula.
To It Peng menangis sedih.
Perjalanan dilakukan dengan tidak mengenal waktu,
kadang2 ia tidur dipinggir jalan, kadang2 pula tidur dibatu, tidak
ada waktu yang menentu. Bila ia lapar, dicari apa saja yang dapat
digunakan untuk mangisi perutnya, memetik buah2an hutan,
meminta sedekah pada oranq, dan seribu satu macam penderitaan
yang harus dilakoni olehnya. Hidupnya seperti orang gelandangan.
Hari ini, kala T o It Peng berjalan dengan perut lapar, terlihat dua
orang menghampirinya, salah satu dari orang itu bertanya :
"Numpang tanya, jalan manakah yang menuju lembah cang-cu-
kok ?" To It Peny memandang dua orang itu, mereka adalah
Laki2 setengah umur, pakaiannya seperti darikaum rimba
persilatan. "Dapatkah kau memberi petunjuk jalan yang menuju kelembah
cang-cu-kok?" tanya satu orang lainnya.
"Dengan maksud apa kalian mau pergi kelembah cang-cu-kok?"
tanya To It Peng. "Kami ingin menjumpai Ban Lo Lo." Mereka memberi jawaban.
"Kuanjurkan kepada kalian tidak usah mencapaikan diri," kata To
It Peng. Ban Lo Lo telah tiada didalam dunia."
Dua orang itu saling pandang, mereka meragukan keterangan
sipemuda. "Ban Lo Lo berkepandaian tinggi, mana mungkin binasa ?" Salah
satu dari mereka berkate.
"Mengapa tidak" Aku masih bersedih karena kematiannya." kata
To It Peng" "Pernah apa kau dengan Ban Lo Lo" "
"Beliau adalah nenekku, ibu dari orang tua perempuanku."
"Aaaaa......... Sungguh kebetulan."
"Apa yang kebetulan ?" tanya To It Peng.
"Majikan kami berpesan, bila tidak berhasil menemui Ban Lo Lo,
siapa saja yang mempunyai hubungan keluarga dengannya boleh
diberi tahu." "Apa yang kalion ingin beri tahu kepada Ban Lo Lo ?"
"Majikan kami bertany, bagaimna dengan perkara pada 16 tahun
yang lalu itu?" To It Peng mengkerutkan alis, orang mengatakan dia dungu,
tolol dan geblek, ternyata dua orang yang mengajukan pertanyaan
ini lebih dungu darinya. Di misalkan ia hidup dengan nenek tuanya
belasan tahunpun tidak mungkin tahu perkara itu, apa lagi ia hanya
bertemu muka setengah hari.
"Perkara apakah itu ?" To It Peng 6ertanya.
"Kami tidak tahu. Lebih baik kau turut untuk menemui majikan
kami." Tanpa banyak pikir, To It Peng menganggukan kepala. la tidlk
mempunyai rumah tangga, dimana ia dapat menumpang hidupnya
se-hari2 " Dua laki2 itu saling pandang, tidak disangka, mereka dapat
mengundang cepat, sungguh diluar dugaan.
Mengikuti dua laki2 itu, To It Pang tiba pada sebuah sungai,
sebuah rakit telah menunggu kedatangan mereka.
,.Majikan kami menunqgu ditempat itu," kata due laki2 itu.
Memandang keatas rakit, terlihat tiga laki2 sedang mengayuh,
seorang terbarinq diatas rakit, agaknya sudah hampir mati,
badannya kurus kering, hanya tinggal kulit2 yang membungkus
tulang, seperti jerangkong hidup,
"Hei"To It Peng terkejut. "Siapakah yang terbaring disitu?"
itulah majikan kami." kata dua orang tadi.
"Majikan kalian...... majikan kalian itu, sudah tidak bernapas?"
"Hus, ia sedang menunggu kedatanganmu."
Dengan mengikuti kedua orang itu, T o It Peng tiba diatas rakit.
Sijerangkong hydup tidak bergerak, agaknya sukar untuk
bergoyang, mengetahui ada orang datang, ia ingin menengoknya.
"Ban Lo Lo telah tiada didunia." Dua orangnya memberi laporan,
"Dan yang, datang adalah cucu nenek
To It Peng merasa kasihan, ia berkata :
"Agaknya kau sukar bergerak, biarlah berbarinq seperti itu."
Ia menghampiri sijerangkong hidup yang berpenyakitan itu dan
jongkok mendekatinya. Orang itu tiba2 mengeluarkan tangannya yang kurus, cepat telah
menangkap To It-Peng. "Bagus, To Tong Sin, kau telah datanq?" ia bertanya.
To It Peng kaget, gerakan orang ini cepat dan gesit sekali,
mengapa terbaring seja "
"Hei, kau salah. Aku To It Peng, Dan To Tong Sin yang kau sebut
itu adalah ayahku" katanya.
Pada wajah orang itu yanq keriput terkilas rasa keheranan, ia
menyipitkan matanya dan berkata :
"Kau....... Kau bukan To Tong Sin " Kau anak To Tong Sin"......
Kemanakah ayahmu itu ?"
Kedatangan To It Peng dengan maksud tujuan bertanya tentang
kematian ayahnya, kini orang inipun tidak tahu, maka ia kecewa.
"Ayahku telah lama meninggal dunia." Ia memberi keterangan.
"Mati "....... Siapakah yang membunuh ?" Oranq kurus seperti
jerangkong itu bertanya lagi.
To It Peng menarik napas barkata :
,,Akupun tidak tahu. Menurut kabar, dikatakan seperti mati
dibawah tangan empat jago Ngo-bie-pay, tentang dendam dan
permusuhan apa yang telah terjadi aku masih kurang jelas."
Tangan sijerangkong hidup itu menarik semakin keras, hampir ia
menempelkan tangan sipemuda kewajahnya.
"To Tong Sin telah tiada. Dimanakah isterinya?" la bertanya
"Ibu berumur pendek, ia meninggalkan dirinya sabelum aku
dapat mengingat wajahnya." Rasa sedih menyerangl T o It Peng.
"Oh....... To Tong Sin, kau telah pergi lebih dahulu........ Ban Neng


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Eng, kau telah tiada........ oh.......ia bergumam seorang diri.
To It Peng belum pernah mengetahui nama ibunya, dari mulut
jerangkong hidup ini ia mengena! 'Ban Neng Eng', nama inilah tentu
yang menjadi nama ibunya.
"Bagus." Orang itu berkata lagi. "Ban Lo Lo mati, To Tong Sin
mati, Ban Neng Eng mati, tentunya kotak batu pualam itu jatuh
padamu, bukan?" "Kotak batu pualam?" To It Peng bertanya. "Kotak kosong yang
bergambar pemandangan alam itu yang kau maksudkan ?"
"Betul Betul " Orang itu agak girang. "Kotak batu pualam ini telah
......." To It Peng menutup mulut, sedianya ia ingin mengatakan
bahwa kotak itu telah berada ditangan Kat Siauw Hoan, tetapi
teringat akan ancaman wanita muda itu, ia tidak berani
mengatakannya. "Hayo, katakan, dimana kotak itu berada ?"
"Kotak itu sudah tiada padaku." kata To It Peng.
Wajah orang itu menunjukkan kemarahan, sinar matanya
bercahaya terang, ia melepas tangan, tetapi tiba2 mencengkeramnya lagi, kali ini yang dicekuk yalah leher
tenggorakan sipemuda. "Kau menghina aku yang berpenyakitan?" la berkata. "Kau
menghina aku yang bertangan satu" Kau kira aku tidak dapat
mencekik batang Iehermu" Hayo, katakan dimana kotak itu berada
?" Ternyata orang seperti jeranqkong hidup ini hanya bertangan
tunggal. jalan pernapasan To lt Peng menjadi sesak, hampir ia mati
engap, segera ia berusaha melepaskan cekikan itu, tetapi tidak
berdaya. "Hei......." Teriaknya terputus putus.
"Lekas katakan, dimana kau simpan kotak batu pualam itu."
Sijerangkong hidup mangendurkan cekikannya,
"Tidak ........ Tidak ada padaku ......."
"Sudahkah kau perhitungkan masak2, apa akibat bila kau
berkepala batu?" Sijerangkong hidup masih mengancam.
"Tidak .... Tidak berada padaku." To It Peng berkata kukuh.
"Dimana " Ditangan siapa ?"
"Bukan ditanganku."
"Aku tahu. Tetapi ditanqan siapa ?"
"Tidak . . . . Tidak boleh aku mengatakannya."
jari2 orang itu semakin mengencang, To It Peng telah merasa
hampir terbang, matanya berkunang-kunang kepalanya dirasakan
tujuh keliling, dunia seperti berputar-putar .........
Disaat ini, terdengar suara tertawa cekikikan. Inilah suara Kat
Siauw Hoan yang To It Pang kenal betul.
To It Peng dapat mendengar suara itu, hanya matanya tidak
dapat melihat, bagaimana Kat Siauw Hoan telah berada disitu.
"Eh, kakek itu mengapa marah2 " Mengapa kau harus
mencekeknya ?" Kakek seperti jerangkong hidup itu tidak melayaninya.
Terdengar lagi suara Kat Siauw Hoan yang merdu.:
"Eh, kalian 5 orang mengapa tidak bergerak membiarkan kakek
tua itu membunuh orang?"
Dun orang yang mengajak To It Peng ketempat itu dan 3 orang
penggayuh itu berdlumlah lima orang, tentunya mereka yang Kat
Siauw Hoan maksudkan. Betul saja, salah satu dari orang itu berkata
"Disini tidak ada urusanmu, pergilah kalian ketempat asalmu."
"Kulihat pemuda yang hampir mati itu bersifat jujur, betul aku
tidak mengenalnya, tetapi hal ini dapat kuketahui jelas." kata Kat
Siauw Hoan. Kuping To It Peng berdengung, ucapan kata 'aku tidak
mangenal` memutuskan semua harapannya.
"Hm........." Salah satu dari 5 orang jerangkong hidup itu
mengeluarkan suara dari hidung, sudah kau ketahuikah, dengan
siapa kau sedang berhadapan ?"
Kat Siauw Hoan tertawa semakin keras, katanya :
"Kakek itu tidak kuketahui, tetapi kau tentunya "Si Raksaksa Kuat
Sang Yong, dan kempat kawanmu itu adalah 4 manusia dari cang-
pen, bukan ?" "Aaaa ........." Sang Yong terkejut tidak disangka wanita muda ini
dapat mengenal mereka. 5 orang ini segera mengurung Kat Siauw
Hoan. Kat Siauw Hoan berdiri tenang, hal ini sudah berada didalam
perhitungannya, ia tidak takut, Sang Yong dan keempat kawannya
boleh menjagai didaerah cangpen, tetapi bukan disini, ditempat ini
bukan sedikit jago2 berkepandaian tinggi, salah satu dari mereka
yalah Kat Siauw Hoan. ---oo0oo--- BAGIAN 19 TO IT PENG MENYEDIAKAN DIRlNYA MENJADI BUDAK
KAT SIAUW HOAN. SAN YONG dan keempat kawannya rnengurunq Kat Siauw Hoan.
Mereka wajib menjamin keamanan majikannya yang ingin
menanyakan peti batu pualam itu.
Sijerangkong hidup masih mendesak To It Peng.
"Hayo, katakan, dimana peti itu berada ?"
Pesan Kat Siauw Hoan ialah tidak boleh ia mengatakan hahwa
dirinya kenal dengan wanita muda itu, peti tersebut berada ditangan
Kat Siauw Hoan, maka To It Peng semakin tidak berkutik.
Manusia seperti jerangkong itu mengeraskan cekikannya, ia
mengancam : "Bila kau membandel tidak mau memberi keterangan aku segera
akan membunuhmu" "Kau...... Kau mau menbunuh ?" kata To It Peng. "Diantara kita
tidak ada permusuhan, mengapa berlaku kejam?"
Kat Siauw Hoan tiba2 bergerak, ia berhasil melepaskan dirinya
dari kurungan 5 orang sijerangkong hidup itu, didalam tangannya
telah tersedia belasan jarum merah, jarum ini telah terbukti
kehebatannya, sinenek buta di lembah cang-cu-kok, Ban Lo Lo
binasa karenanya, sang bibi, Hian-u Po-po tidak terkecuali, maka
cepat sekali jarum2 itu melayang kaarah orang yang mencekek
leher T o It Peng. "Aaaaa........"Orang itu tidak menyangka, disana ada lima
orangnya, tetapi mereka tidak berhasil menahan kemajuan wanita
muda itu, berbarerg dengan teriakannya, beberapa batang jarum
rnarah t.elah bersarang didalan tubuhnya.
Kat Siauw Hoan menarik tangan To It Peng, mengajaknya
melarikan diri ! 5 orang manusia jerangkong itu segera memeriksa majikan
mereka, tidak satupun yang membikin pengejaran, diketahui ilmu
kepandaian mereka tidak dapat menandingi wanita itu, maka untuk
mengejarpun tidak ada gunanya.
Dengan menenteng To It Peng, Kat Siauw Hoan melarikan diri
cepat sekali ! Seperti berada didalam ayunan, To It Peng merasa dirinya
terbang, bau harum Kat Siauw Noan merangsang hidung, ia menjadi
mabuk karenanya. Beberapa lama, mereka melarikan diri, dilihat keadaan To It Peng
yang meram melek itu, Kat Siauw Hoan terkejut, ia menjatuhkan
sipemuda dan bertanya : "Hei, matikah aku ?"
To It Peng menyengir. "Kau........ Kau menolong diriku ?" la berkata.
"Kau kira siapa ?"
"Betul......... Betul........ Kau......... ,,Kau apa ?"
"Tentu kau yang menolong. Karena biar bagaimana, kita teiah
jadi suami istri." Mata Kat Siauw Roan melotot besar.
"Agaknya kau lupa akan pesanku, he?" la membentak keras.
Wajah Kat Siauw Hoan yang cantik itu berubah galak, sangat
beringas dan menakutkan sekali. To It Peng mengkeret cepat.
"Kau taat akan perintahku, tidak?" tanya lagi Kat Siauw Hoan.
"Tentu. Aku telah bersalah karena menyerahkan pedang
pusakamu kepada orang, maka setiap perintahmu akan kutaati
betul2." kata To It Peng.
"Sudah kuberi tahu bahwa tidak boleh menyebut hubungan" itu,
mengapa kau berani menyebut lagi ?"
"Nona Kat, beIum pernah ada orang yang baik kepadaku, kecuali
kau......maka maka tidak nanti aku melupakanmu."
Wajah To It Peng merah, semua kata2nya menanda kan
kejujuran hati sipemuda. Kmt Siauw Hoan agak terharu.
"janqan kau ber"sungguh2. Untuk pertama kalinya kau mengenal
wanita, maka .kesanmu terhadapku lain sekah. Setelah berkenalan
dengan wanita2 lain, tQntu kau mempunyai pandangan lain pula."
berkata Kat Siauw Hoan. "Tidak......... Tidak mungkin......... Kecuali kau, aku tidak akan
berkenalan dengan wanita lain."
"Hm......... Apakah kebaikkanku ?" kata Kat Siauw Hoan, "Aku
kejam, aku jahat. Sampaipun nenek tuamupun mati dibawah
tanganku. Tidakkah kau benci " Tidak takutkah kau kubunuh ?"
Aku......... Aku......... yang kutakuti......... "
"Sudahlah." Potong Kat Siauw Hoan. "Kemana kau pergi. Kemana
tujuanmu?" "Kemana aku harus pergi ?" Balik tanya To It Peng. "Aku sudah
tidak punya rumah, aku tidak punya sanak pamili Maksudku.........
Maksudku......... "Maksudmu bagaimana"'?
"Maksudkuialah turut bersamamu ........ Tapi aku takut kau
menolak permintaanku ini."
Kat Siauw Hoan menatap wajah sipemuda, lama sekali, se-olah2,
ingin mencari sesuatu yang tidak tampak. "Baiklah." Akhirnya ia
menganggukkan kepala. To It Peng lompat girang, yawaban ini sungguh diluar
dugaannya. "Kau...... Kau....... Kau baik sekali." Katanya
"jangan terlalu cepat gembira." Tukas Kat Siauw Hoan. ,Belum
selesai aku bicara. Kau boleh turut serta denganku dengan syarat
harus tunduk kepada segala perintahu."
"Tentu. Pernahkah aku tidak mematuhi perintahmu?" kata To It
Peng. "Bila kusuruh kau kekanan, kau harus kakanan. Bila kusuruh kau
kekiri, kau harus kekiri. Tampa bertanya rnembantah. Sanggup ?"
"Sanggup." "Terlalu cepat kau memberi kesanggupanmu. Bila kusuruh kau
membunuh seseorang, kau sanggup ?"
To It Peng mementangkan kedua matanya lebar2, masakan ia
disuruh membunuh orang " Entah siapa yang harus dibunuh
olehnya " Didalam hal ini. To It Peng sedang memutar otak, siapa yang
harus dibunuh olehnya, sedikitpun tidak terpikir bahwa ia adalah ia
seorang jago nomor satu yang berkepandaian tinggi, bila ia mau,
apapun sanggup dilakukan olehnya.
Melihat kelakuan sipemuda, Kat Siauw Hoan tertawa, katanya :
"Legakanlah hatimu. Masakan aku menyuruh kau membunuh
orang ?" Wajah Kat Siauw Hoan semakin menarik, semakin menggiurkan,
laki2 mana yang tidak tertaik" Laki2 mana yang tidak terpikat oleh
kecantikan dan potongan bojnya itu " Apalagi sidungu yang sudah
ter-gila2 kepadanya. Dianggapnya sedang berhadapan dengan
bidadari dari kayangan. "Nona Kat, sudah kuketahui bahwa kau seorang baik. Mana
mungkin kau manyuruhku membunuh orang ?" Puji s ipemuda
"Sudahlah. Aku bisa muak mendengar kata2mu seperti itu. Aku
seorang wanita jahat, wanita yang paling jahat, wanita yang
terjahat." kata Kat Siauw Hoan.
To It Peng dengan sungguh2 berkata:
"Marusia manakah yang tidak pernah membuat kesalahan"
kesalahan2mu itu hanya bersifat sementara mungkin kau lengah,
mungkin pula kau tidak sadar akan apa yang telah kau lakukan itu."
si dogol mencoba coba merayu.
"Tentu," kata Kat Siauw Hoan : "kau sedang berusaha mengambil
hatiku, maka semua ucapanmu itu berupa pudiian yang muluk2.
Tetapi dikala kau sudah tidak suka, semua kejahatan akan kau
jatuhkan kepadaku." "Tidak...... T idak...... Aku mengucapkan kata2 tadi dengan setulus
hati." Debat To It Peng.
Mata Kat Siauw Hoan hampir menjadi basah, ia sangat terharu.
Unuk melenyapkan dugaan yang salah, ia berpaling kelain arah dan
berjalan pergi. To It Peng mengikuti dibelakangnya.
Beberapa lama mereka berjalan, tidak sepatah kata pun
dikeluarkan. Karena wanita itu tidak bicara, maka To It Peng tidak
berani mengganggu. Ia mengintil dibelakang wanita pujaannya itu.
Menjelang hari hampir malam, baru Kat Siauw Hoan
menghentikan langkahnya, la mamandang keadaan sekeliling
tempat itu, tidak terlihat sebuah rumah atau kelenteng.
To It Peng turut berhenti!
"Eh, aku ingin pergi kegunung Thian-san," berkata Kat Siauw
Hoan. "perjalanan ini jauh sekali, kau turut tidak ?"
"Keujung langitpun kau pergi. Aku rela turut dibelakangmu." kata
To It Peng. cterita singkatnya, T o It Peng turut Kat Siauw Hoan, melakukan
perjalanan jauh, menuju kegunung Thian-san. Disana tersimpan
rahasia pusaka, Kat Siauw Hoan ingin mendapatkan rahasia pusaka
itu. To It Peng boleh merasa puas dapat mendampingi wanita muda
yang cantik itu, perintah apapun yang dikeluarkan oleh Kat Siauw
Hoan, dilakukannya segera. Mungkinkah sidogol ini memberikan
cinta pertamanya pada Kat Siauw Hoan "
Kat Siauw Hoan mangajak pemuda tersebut dengan maksud2
tertentu, diketahui bahwa peti batu pualam adalah kepunyaan Ban
Lo Lo, setelah itu jatuh ketangan To Tong Sin, menyusul berada
pada sidungu ini, bila ada sesuatu yang tidak mengerti, tenaga siapa
masih dibutuhkan. Apa yang To It Peng perlihatkan padanya menimbulkan sedikit
getaran jiwa, tentu, bila To It Peng berkepandaian tinggi, setidak-
tidaknya tidak seperti sekarang, atau kepintaran sipemuda berada
diatas orang, tidak disangkal, ia bebas melakukan apa yang di suka.
Sayang To It Peng dungu ia tidak berdaya, pemuda yang seperti ini
hanya dapat dijadikan budak atau pesuruh biasa saja.
Perjalanan dilakukan seperti biasa, hari ini, menjelang tengah
malam, mereka tiba disebuah rimba.


Si Dungu Karya Chung Sin di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hidung Kat Siauw Hoan yang tajam segera dapat menghisap bau
sesuatu yang dibakar, bau hangus itu tidak lepas dari perasaannya.
Dari batu besar yang melintang dijalan, terlihat keluar sinar api
yang baru dinyalakan. Ternyata ada yang membuat api unggun
ditengah-tenqah kegelapan rimba raya itu.
Dengan berhati-hati, Kat Siauw Hoan dapat mandekati api
unggun, disana tidak terlihat orang. Entah kemana orang yang
membakar kayu2 itu "
Kat Siauw Hoan memandang To It Peng. Dan kawan ini
memandangnya menunggu perintah.
"Naik !" Kat Siauw Hoan menunjuk keatas pohon memberi
perintah. Sebelum To It Peng mendialankan perintah, Kat Siauw Hoan
telah mancelat naik keatas pohon, ingin me lihat siapa yang
membuat api unggun ini, siapa yang ingin merundingkan sesuatu
ditempat ini, biasanya, orang2 rimba persilatan mengadakan
musyawarah atau perundingan2 rahasia ditengah ma!am, dirimba
gelap seperti ini. To It Peng merambat naik, maka tidak lama, mereka
menyembunyikan diri diatas pohon tersebut. jarak mereka sangat
dekat, bau wanita membuat To It Peng meram-melek, siang malam
ia merindukan Kat Siauw Hoan, ia rela diperbudak olehnya, hanya
karena ingin menikmati ...........
Kat Siauw Hoan dapat mendengar dengup napas To It Peng yang
seperti lokomotip buma l, ia menengok dah memandang heran.
Dilihat kedua mata pemuda itu memancarkan cahaya yang seperti
api, memandang dirinya dengan tak berkedip. Entah apa yang
sedang dipikirkannya. Maksud Kat Siauw Hoan ingin membentak, hanya ia
membatalkannya seqera setelah didengar derap suara orang yeng
mendatangi kaarah mereka. Seorang wanita mengenakan pakaian
putih dengan rambut terurai panjang berjalan mendatangi kearah
api, ternyata wanita inilah yang membuat api unggun tersebut.
"Wajah Tak Berkulit !" T o It Peng berteriak didalam hati. Dikenal
betul bahwa wanita berabut panjang inilah yang pernah membakar
kampung Ban-kee-chung. Betul! yang membuat api unggun yalah si Hantu Wanita, salah
satu dari 4 Wajah Tak Berkulit yang jahat itu. Setelah datang, Hantu
wanita duduk ditepian api unggun.
Pembalasan Dari Liang Lahat 2 Wiro Sableng 059 Peti Mati Dari Jepara Pedang Kilat Membasmi Iblis 4
^