Pencarian

Dua Cinta 4

Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer Bagian 4


pagi, ternyata aku sudah sembuh."
"Memangnya kau sakit?" tanyanya datar.
"Ya, aku juga ketularan. Tapi sekarang aku sudah sembuh."
"Baguslah," Suaranya hampa.
"Jadi kau pasti juga akan sembuh dalam beberapa jam," aku menyemangatinya.
Aku nyaris tidak mendengar jawabannya. "Kurasa sakitku tidak sama denganmu."
"Kau bukannya flu perut?" tanyaku, bingung.
"Bukan. Ini lain."
"Apa yang terasa tidak enak?"
"Semuanya," bisik Jacob. "Sekujur tubuhku sakit."
Kesakitan di suaranya nyaris nyata.
"Apa yang bisa kubantu, Jake" Aku bisa membawakan apa untukmu?"
"Tidak ada. Kau tidak bisa datang ke sini." Sikapnya kasar. Aku jadi teringat
sikap Billy tempo hari. "Aku kan sudah terekspos dengan penyakit apa pun yang merongrongmu saat ini,"
aku mengingatkan. Jacob mengabaikan perkataanku. "Aku akan meneleponmu kalau bisa. Aku akan
memberi tahu kapan kau bisa datang lagi."
"Jacob-" "Aku harus pergi," katanya, mendadak buru-buru.
"Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih sehat."
"Baiklah," sahutnya, tapi suaranya terdengar pahit dan aneh.
Ia terdiam beberapa saat. Aku menunggunya mengucapkan selamat berpisah, tapi ia
juga menunggu. "Sampai ketemu lagi," kataku akhirnya. "Tunggu sampai aku menelepon," katanya
lagi. "Oke... Bye, Jacob."
"Bella," ia membisikkan namaku, kemudian menutup telepon.
10. PADANG RUMPUT JACOB tidak menelepon. Pertama kalinya aku menelepon, Billy yang mengangkat dan mengatakan Jacob masih
tidur. Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan Billy sudah membawanya ke
dokter. Menurut Billy sudah, tapi entah mengapa, untuk alasan yang aku sendiri
tak tahu, aku kok tidak begitu percaya padanya. Aku menelepon lagi, beberapa
kali sehari, selama dua hari berikutnya, tapi tak ada yang mengangkat.
Sabtunya kuputuskan untuk menemui Jacob,
masa bodoh dengan undangan. Tapi rumah merah kecil itu kosong. Aku jadi takut -
sesakit itukah Jacob sampai harus dirawat di rumah sakit" Aku mampir ke rumah
sakit dalam perjalanan pulang, tapi menurut perawat jaga di meja depan, baik
Jacob maupun Billy tidak datang ke rumah sakit.
Kuminta Charlie menelepon Harry Clearwater begitu ia sampai di rumah dan kantor.
Aku menunggu, waswas, sementara Charlie mengobrol dengan teman lamanya; obrolan
mereka sepertinya sangat lama tanpa sekali pun menyebut-nyebut nama Jacob.
Kedengarannya Harry-lah yang baru saja pulang. dari rumah sakit... menjalani tes
jantung. Kening Charlie berkerut, tapi Harry bercanda dengannya, menceritakan
yang lucu-lucu, sampai Charlie tertawa lagi. Barulah kemudian Charlie bertanya
tentang Jacob, dan sekarang ia tak lagi banyak bicara sehingga aku tak bisa
mengikuti percakapan, karena ia hanya mengucapkan hmmm dan yeah berulang-ulang.
Aku mengetuk-ngetukkan jari ke konter di samping Charlie, sampai ia memegang
tanganku untuk menghentikannya.
Akhirnya Charlie menutup telepon dan berpaling padaku.
"Kata Harry, saluran teleponnya bermasalah, jadi itulah sebabnya teleponmu tidak
nyambung. Billy membawa Jake ke dokter di reservasi, dan kelihatannya dia sakit
mono. Dia ke capekan, dan kata Billy, dia tidak boleh ditengok," lapor Charlie.
"Tidak boleh ditengok?" tanyaku tak percaya.
Charlie mengangkat sebelah alis. "Sekarang kau jangan ikut campur, Bells. Billy
tahu apa yang terbaik untuk Jake. Sebentar lagi juga dia sembuh dan bisa ke sini
lagi. Bersabarlah." Aku tidak memaksa. Charlie terlalu khawatir memikirkan Harry. Jelas itu lebih
penting-tidak tepat mengganggu pikirannya dengan hal-hal sepele. Jadi aku naik
ke lantai atas dan menyalakan komputer. Aku menemukan situs kedokteran dan
mengetikkan kata "mononukleosis" ke kolom pencarian.
Yang kutahu tentang mono hanyalah bahwa seseorang bisa tertular penyakit itu
dari berciuman, sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi pada Jake. Aku membaca
gejala-gejalanya dengan cepat - kalau demam memang ia mengalaminya, tapi
bagaimana dengan gejala yang lain" Tidak ada radang tenggorokkan parah, tidak
ada kelelahan, tidak ada pusing kepala, setidaknya tidak sebelum ia pulang dari
bioskop: ia bahkan sempat berkata dirinya "sehat walafiat". Benarkah penyakitnya
muncul secepat itu" Berdasarkan artikel itu, sepertinya yang harus muncul lebih
dulu adalah radang tenggorokannya.
Kupandang layar komputer dan bertanya-tanya dalam hati mengapa, tepatnya, aku
melakukan hal ini. Mengapa aku merasa sangat... sangat curiga, seperti tidak
percaya pada cerita Billy" Untuk apa Billy berbohong pada Harry"
Aku saja yang konyol, mungkin. Aku hanya khawatir, dan jujur saja. aku takut
tidak diperbolehkan bertemu Jacob-itu membuatku gelisah.
Aku menyimak keterangan lain dalam artikel itu, menggali lebih banyak informasi.
Aku berhenti begitu sampai pada bagian yang menjelaskan penyakit mono bisa
bertahan lebih dari sebulan.
Sebulan" Mulutku ternganga.
Tapi Billy tak mungkin menerapkan aturan tidak boleh dijenguk sampai selama itu.
Tentu saja tidak. Jake bisa gila kalau disuruh berbaring terus di tempat tidur
tanpa seorang pun bisa diajak bicara.
Apa sebenarnya yang ditakutkan Billy" Menurut artikel itu, pengidap mono harus
menghindari aktivitas fisik, tapi tidak ada penjelasan tentang aturan tidak
boleh dijenguk. Penyakit itu kan tidak terlalu menular.
Kuputuskan untuk memberi Billy waktu satu minggu sebelum mulai mengorek-ngorek
lagi. Satu Minggu sudah cukup lama.
Ternyata satu minggu itu lama sekali. Hari Rabu aku yakin tidak bakal mampu
bertahan hidup sampai Sabtu.
Ketika memutuskan untuk tidak mengganggu Billy dan Jacob selama seminggu, aku
sebenarnya tak yakin Jacob bakal menuruti aturan Billy. Setiap hari sesampainya
di rumah dari sekolah, aku berlari ke pesawat telepon untuk mengecek pesan-
pesan. Tidak pernah ada pesan untukku.
Aku melanggar janjiku sendiri dengan mencoba meneleponnya tiga kali, tapi
saluran teleponnya masih rusak.
Aku terlalu sering tinggal di rumah, dan terlalu sering sendirian. Tanpa Jacob,
juga adrenalin dan kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua yang selama ini
kutekan mulai menghantuiku lagi.
Mimpi-mimpi itu mulai menyerangku lagi. Aku tidak lagi bisa melihat bagian
akhirnya datang. Yang ada hanya kehampaan yang mengerikan - terkadang di hutan,
terkadang di lautan pakis kosong tempat rumah putih itu tak lagi ada. Sesekali
ada Sam Uley di sana, di hutan, mengawasiku lagi. Aku tidak memedulikan dia -
tidak ada kenyamanan yang kurasakan dengan kehadirannya, aku malah merasa
semakin sendirian. Walhasil, aku selalu terbangun setelah menjerit ketakutan,
setiap malam. Lubang di dadaku kini semakin parah. Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya,
tapi aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari, sambil mencengkeram pinggang
dan megap-megap kehabisan udara.
Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan baik.
Aku lega tak terkira di pagi hari waktu terbangun-setelah menjerit, tentu saja -
dan teringat sekarang hari Sabtu. Berarti hari ini aku bisa menelepon Jacob. Dan
kalau saluran telepon masih tetap belum berfungsi, aku akan ke La Push.
Bagaimanapun caranya, pokoknya hari ini harus lebih baik daripada seminggu
terakhir yang sepi ini. Aku menghubungi nomor telepon Jacob, lalu menunggu tanpa berharap apa-apa. Jadi
aku kaget waktu Billy mengangkat telepon pada dering kedua.
"Halo?" "Oh. hai, cerita teleponnya sudah berfungsi lagi! Hai, Billy. Ini Bella. Aku
hanya ingin tahu kabar Jacob. Apakah dia sudah bisa ditengok" Aku sedang
berpikir-pikir untuk mampir-"
"Maafkan aku, Bella," sela Billy, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang nonton
televisi; kedengarannya perhatian Billy sedang tertuju pada hal lain. "Dia tidak
ada di rumah." "Oh." Butuh sedetik untuk mencernanya. "Kalau begitu dia sudah sembuh?"
"Yeah," jawab Billy, setelah sempat ragu-ragu sejenak. "Ternyata bukan mono.
Hanya virus biasa." "Oh. Kalau begitu... ke mana dia?"
"Dia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya ke Port Angeles - kalau tidak
salah mau nonton film atau sebangsa-nya. Dia pergi seharian."
"Well, aku lega mendengarnya. Aku khawatir sekali. Aku senang dia cukup sehat
untuk pergi jalan-jalan." Suaraku terdengar palsu sementara aku mengoceh tidak
keruan. Jacob sudah sembuh, tapi tidak merasa perlu meneleponku. Ia pergi dengan teman-
temannya. Sementara aku duduk di rumah, merindukannya setiap jam. Aku kesepian, cemas,
bosan... tercabik-cabik-dan sekarang kecewa karena menyadari perpisahan kami
selama seminggu ini ternyata tidak memiliki dampak yang sama terhadapnya.
"Kau menginginkan sesuatu?" Billy bertanya sopan.
"Tidak, tidak juga."
"Well, akan kusampaikan padanya kau menelepon," Billy berjanji. "Bye, Bella."
"Bye," sahutku, tapi Billy sudah lebih dulu menutup telepon.
Sesaat aku hanya bisa mematung dengan telepon masih di tangan.
Jacob pasti berubah pikiran, seperti yang kutakutkan selama ini. Ia mengikuti
saranku dan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk seseorang yang tidak bisa
membalas perasaannya. Aku merasa darah menyusut dari wajahku.
"Ada yang tidak beres?" tanya Charlie sambil
menuruni tangga. "Tidak," dustaku, meletakkan gagang telepon. "Kata Billy, Jacob sudah sehat. Dia
tidak kena mono. Syukurlah."
"Jadi dia mau datang ke sini, atau kau yang ke sana?" tanya Charlie sambil lalu,
mulai mengaduk-aduk isi lemari es.
"Tidak dua-duanya," aku mengakui. "Dia pergi dengan teman-temannya yang lain."
Nada suaraku akhirnya menarik perhatian
Charlie. Ia mendongak menatapku dengan sikap mendadak kaget, tangannya membeku
memegangi sebungkus keju lembaran.
"Bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk makan siang?" tanyaku seringan
mungkin, berusaha mengalihkan pikiran.
"Tidak, aku hanya mau membuat sesuatu untuk bekal ke sungai... "
"Oh, mau mancing hari ini?"
"Well, Harry menelepon... dan hari tidak hujan." Charlie sibuk menyiapkan
setumpuk makanan di atas konter sembari bicara. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya
lagi seolah-olah menyadari sesuatu. "Katakan, kau mau aku di rumah saja
menemanimu, berhubung Jake pergi?"
"Tidak apa-apa, Dad," kataku, berusaha memperdengarkan nada tak peduli. "Ikan
makan lebih lahap bila cuaca cerah."
Charlie menatapku, wajahnya jelas bimbang. Aku tahu ia khawatir, takut
meninggalkan aku sendirian, kalau-kalau aku "bermuram durja" lagi.
"Sungguh, Dad. Mungkin aku akan menelepon Jessica," dalihku buru-buru. Aku lebih
suka sendirian daripada diawasi terus seharian oleh Charlie. "Kami harus belajar
Kalkulus. Aku bisa meminta bantuannya." Bagian itu benar. Tapi aku harus bisa
sendiri tanpa meminta bantuan Jessica.
"Ide bagus. Kau terlalu banyak bermain dengan Jacob, teman-temanmu yang lain
bakal mengira kau sudah melupakan mereka."
Aku tersenyum dan mengangguk, seolah-olah peduli pendapat teman-temanku.
Charlie berbalik, tapi lalu berputar lagi dengan ekspresi khawatir. "Hei, kau
mau belajar di sini atau di rumah Jess, kan?"
"Tentu, mau di mana lagi?"
"Well, aku hanya ingin kau berhati-hati untuk tidak masuk ke hutan, seperti yang
sudah kukatakan padamu sebelumnya."
Butuh semenit bagiku untuk memahaminya, karena saat itu pikiranku sedang tertuju
pada hal lain. "Masalah dengan beruang lagi?"
Charlie mengangguk, keningnya berkerut. "Ada hiker yang hilang - polisi hutan
menemukan kemahnya tadi pagi, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Di sana
ada jejak-jejak binatang besar... tentu saja binatang itu bisa saja datang
kemudian, karena mencium bau makanan... Pokoknya, mereka sekarang sedang
memasang jebakan untuk menangkapnya."
"Oh," ucapku sambil lalu. Aku tidak benar-benar mendengarkan peringatannya; aku
jauh lebih kalut memikirkan situasiku dengan Jacob daripada kemungkinan menjadi
mangsa beruang. Aku senang Charlie terburu-buru. Ia tidak menungguku menelepon Jessica, jadi aku
tidak perlu bersandiwara. Aku menyibukkan diri dengan mengumpulkan semua buku
sekolahku di meja dapur untuk kumasukkan ke tas; mungkin itu terlalu berlebihan,
dan bila Charlie tidak begitu bersemangat pergi memancing, itu pasti akan
membuatnya curiga. Aku begitu sibuk terlihat sibuk hingga tidak menyadari betapa mengerikannya hari
kosong yang membentang di hadapanku sampai aku melihat Charlie meluncur pergi.
Hanya butuh kira-kira dua menit memandangi telepon dapur yang diam seribu bahasa
untuk memutuskan aku tidak mau tinggal di rumah hari ini. Aku menimbang-nimbang
beberapa pilihan. Aku tidak akan menelepon Jessica. Sepanjang pengamatanku, Jessica sudah
menyeberang ke sisi gelap.
Aku bisa naik truk ke La Push dan mengambil motorku - pikiran menarik, tapi
masalahnya satu: siapa yang akan mengantarku ke UGD kalau aku membutuhkannya
nanti" Atau... aku toh sudah punya peta dan kompas di trukku. Aku yakin sudah cukup
memahami prosesnya sehingga tidak akan tersesat. Mungkin aku bisa mengeliminasi
dua garis lagi hari ini, dengan begitu kami akan lebih maju daripada jadwal bila
nanti Jacob mau menemuiku lagi. Aku menolak memikirkan kapan kira-kira itu akan
terjadi. Atau apakah itu takkan pernah terjadi lagi.
Aku sempat merasakan secercah perasaan bersalah saat menyadari bagaimana
perasaan Charlie kalau tahu aku mau ke hutan; tapi aku mengabaikannya. Pokoknya
aku tidak bisa tinggal di rumah lagi hari ini.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di jalan tanah yang tidak mengarah ke
tempat tertentu. Aku membuka semua jendela dan menyetir secepat yang bisa
dilakukan trukku, mencoba menikmati embusan angin yang menerpa wajahku. Hari
berawan, tapi nyaris kering-hari yang cerah untuk ukuran Forks.
Untuk memulai dibutuhkan waktu yang lebih
lama daripada bila pergi bersama Jacob. Setelah memarkir truk di tempat biasa,
aku harus menghabiskan waktu tak kurang dari lima belas menit untuk mempelajari
jarum kecil di permukaan kompas serta tanda-tanda di peta yang sekarang sudah
lecek itu. Setelah yakin mengikuti jalur yang benar, aku mulai berjalan memasuki
hutan. Hutan penuh kehidupan hari ini, semua makhluk kecil menikmati kekeringan yang
hanya sementara. Namun entah bagaimana, bahkan dengan kicauan burung-burung dan
dengung serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik, juga bunyi langkah kaki
tikus yang berkelebat menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih menyeramkan
hari ini; membuatku teringat pada mimpi burukku yang terbaru. Aku tahu itu hanya
karena aku sendirian, kehilangan siulan riang Jacob serta suara sepasang kaki
lain menginjak tanah yang lembab.
Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku semakin dalam memasuki pepohonan. Aku
mulai susah bernapas - bukan karena berkeringat, tapi karena aku mengalami
kesulitan dengan lubang tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan kedua
tangan dan berusaha mengenyahkan kepedihan itu dari pikiranku. Nyaris saja aku
berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya yang telah kulakukan.
Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan pikiran dan kepedihanku, sementara aku
terus merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur, dan aku senang tak jadi
pulang. Aku semakin piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang bisa berjalan
lebih cepat. Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien sekarang. Kalau tidak salah,
mungkin aku sudah berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum mulai mencari.
Kemudian, dengan ketiba-tibaan yang membuatku kehilangan orientasi, aku
melangkah melewati lengkingan pendek yang terbentuk dari dua pohon maple
merambat-menerobos semak pakis setinggi dada - dan memasuki padang rumput.
Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar.
Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain yang begitu simetris. Bentuknya
bulat sempurna, seolah-olah ada orang yang dengan sengaja membuat lingkaran
sempurna, mencabuti pohon-pohon tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di
rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur sayup-sayup aku mendengar suara
mata air menggelegak. Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya matahari, namun tetap sangat


Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

indah dan tenang. Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar; permukaannya
tertutup rumput tebal yang mengayun tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan riak air
di permukaan danau. Ini tempat yang sama... tapi aku tidak menemukan yang kucari-cari di sini.
Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat kesadaran itu datang. Aku
terhenyak ke tanah, berlutut di pinggir padang terbuka, mulai terengah-engah.
Apa gunanya pergi lebih jauh lagi" Tak ada yang tertinggal di sini. Tidak lebih
dari kenangan yang bisa kupanggil kembali setiap kali aku menginginkannya, asal
aku rela menanggung kepedihan yang menyertainya-kepedihan yang kurasakan
sekarang, yang membuatku menggigil. Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini
bila dia tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap akan kurasakan di sini,
tapi padang rumput ini hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama seperti
tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing
sekali. Setidaknya aku datang sendirian. Aku merasakan serbuan perasaan syukur saat
menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang rumput ini bersama Jacob... Well,
aku tak mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar tempatku jatuh sekarang.
Bagaimana aku bisa menjelaskan keadaanku yang hancur berkeping-keping, kondisiku
yang meringkuk seperti bola untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-
cabik tubuhku" jauh lebih baik bila tidak ada yang melihatku.
Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa pun mengapa aku begitu tergesa-
gesa meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan berasumsi, setelah begitu
bersusah-payah melacak keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin menghabiskan waktu
lebih dari hanya beberapa detik di sini. Tapi sekarang pun aku sudah berusaha
mendapatkan kekuatan untuk bisa berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa
pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang harus ditanggung di tempat kosong
ini - kalau perlu aku bahkan tidak keberatan merangkak.
Untung saja aku sendirian!
Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan kepuasan muram sambil memaksa diriku
bangkit meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok tubuh melangkah keluar
dari sela-sela pepohonan di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah jauhnya.
Berbagai macam emosi berkecamuk dalam diriku detik juga. Pertama adalah
terkejut; aku berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan tidak mengira akan
ada orang lain di sini. Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak bergerak
itu, melihat tubuhnya yang bergeming dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan
yang menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya habis-habisan, berjuang melawan
sayatan pedih penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di bawah rambut yang
hitam, bukan wajah yang ingin kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan
wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup dekat hingga aku tahu cowok yang
menghadap ke arahku itu bukan hiker yang tersesat.
Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.
"Laurent!" pekikku, kaget bercampur senang. Respons yang tak masuk akal. Mungkin
seharusnya aku berhenti pada perasaan takut.
Laurent adalah salah satu anggota kelompok James saat kami pertama kali bertemu.
Ia tidak ikut dalam perburuan yang terjadi kemudian - perburuan di mana akulah
mangsanya - tapi itu hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok lain yang
lebih besar daripada kelompoknya. Akan lain ceritanya kalau tidak begitu - saat
itu ia tidak menyesal tidak menjadikanku makanannya. Tentu saja ia pasti sudah
berubah, karena ia pergi ke Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab lain,
keluarga lain yang juga menolak minum darah manusia demi alasan etis. Keluarga
lain seperti... tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan
nama itu. Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang kurasakan hanya kepuasan berlebihan.
Padang rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis yang lebih gelap daripada
yang kuharapkan, jelas, namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari. Bukti,
walau bagaimanapun kecilnya, bahwa - di suatu tempat di dunia yang sama dengan
tempatku tinggal - dia ada.
Mustahil melihat bahwa Laurent masih persis sama seperti dulu. Kurasa sungguh
tolol dan manusiawi sekali mengharapkan ada semacam perubahan dari tahun lalu.
Tapi memang ada sesuatu... aku tak tahu persis apa itu.
"Bella?" tanya Laurent, tampak lebih terperangah dari pada yang kurasakan.
"Kau ingat." Aku tersenyum. Sungguh konyol aku bisa begitu gembira karena ada
vampir yang mengingat namaku.
Laurent nyengir. "Aku tidak mengira akan bertemu kau di sini." Ia melenggang
menghampiriku, ekspresinya takjub.
"Apa tidak terbalik" Aku memang tinggal di sini. Kusangka kau sudah pergi ke
Alaska." Laurent berhenti kira-kira sepuluh langkah dariku, menelengkan kepala ke satu
sisi. Wajahnya adalah wajah paling tampan yang kulihat untuk kurun waktu yang
rasanya seperti berabad-abad. Kuamati garis-garis wajahnya dengan perasaan lega
yang rakus. Ini dia orang kepada siapa aku tidak perlu berpura-pura - seseorang
yang sudah tahu setiap hal yang tak pernah bisa kuungkapkan.
"Kau benar," ia sependapat. "Aku memang pergi ke Alaska. Meski begitu, aku tidak
mengira... Waktu aku mendapati rumah keluarga Cullen sudah kosong, kusangka
mereka sudah pindah."
"Oh." Aku menggigit bibir ketika nama itu membuat lukaku yang masih basah
kembali berdarah. Butuh sedetik untuk menenangkan diri. Laurent menunggu dengan
sorot ingin tahu. "Mereka memang sudah pindah," akhirnya bisa juga aku memberi tahunya.
"Hmm," gumam Laurent. "Kaget juga aku, mereka meninggalkanmu. Bukankah kau
sejenis peliharaan mereka?"
Matanya sama sekali, tidak memancarkan sorot menghina.
Aku tersenyum kecut. "Semacam itulah."
"Hmmm," ujarnya, tampak berpikir lagi.
Saat itulah aku sadar mengapa ia tampak sama - terlalu sama. Setelah Carlisle
memberi tahu kami Laurent tinggal dengan keluarga Tanya, aku mulai membayangkan
dia, meski aku jarang memikirkannya, dengan mata keemasan yang sama seperti yang
dimiliki... keluarga Cullen - aku meringis saat memaksa nama itu keluar. Mata
yang dimiliki semua vampir baik.
Tanpa sengaja aku mundur selangkah, dan mata merahnya yang gelap dan penuh
keingintahuan itu mengikuti gerakanku.
"Apakah mereka sering mengunjungimu?" tanyanya, nadanya masih biasa-biasa saja,
tapi tubuhnya bergerak ke arahku.
"Berbohonglah," suara beledu indah itu berbisik cemas dari benakku.
Aku terkejut mendengar suaranya, tapi seharusnya itu tidak membuatku kaget.
Bukankah saat ini aku berada dalam bahaya yang tak terbayangkan" Sepeda motor
tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.
Aku melakukan apa yang diperintahkan suara itu.
"Sesekali." Aku berusaha tetap terdengar ringan, rileks. "Waktu terasa lebih
panjang bagiku, rasanya. Sementara mereka, kau tahu, mudah dialihkan
perhatiannya... " Aku mulai melantur. Aku harus berusaha keras menutup mulut.
"Hmmm," kata Laurent lagi. "Bau rumahnya seperti sudah lama tidak ditinggali...
" "Kau harus berbohong lebih baik lagi, Bella," desak suara itu.
Aku mencoba. "Aku harus memberi tahu Carlisle kalau kau mampir. Dia pasti
menyesal tidak sempat menemuimu." Aku berpura-pura berfikir sebentar. "Tapi
mungkin aku tidak perlu menceritakannya pada... Edward, kurasa-" aku nyaris tak
mampu menyebut namanya, dan itu membuat ekspresiku aneh, mementahkan gertakanku
sendiri "- karena dia sangat pemarah.. Well, aku yakin kau masih ingat. Dia
masih sensitif kalau mengingat kejadian dengan James waktu itu Aku memutar bola
mata dan melambaikan tangan dengan lagak cuek, seolah-olah itu semua sejarah
lama, tapi ada secercah nada histeris dalam suaraku. Aku bertanya-tanya dalam
hati apakah Laurent bakal mengenalinya.
"Benarkah begitu?" Laurent menanggapi dengan senang... sekaligus skeptis.
Aku menjawab singkat, agar suaraku tidak menunjukkan kepanikanku. "Mm-hmm."
Laurent melangkah ke samping dengan sikap biasa-biasa saja, memandang
berkeliling padang rumput kecil itu. Kusadari langkah itu membawanya semakin
dekat denganku. Di kepalaku suara itu merespons dengan geraman rendah.
"Bagaimana keadaan di Denali" Kata Carlisle, kau tinggal bersama Tanya?" suaraku
melengking kelewat tinggi.
Pertanyaan itu membuatnya diam sebentar. "Aku sangat menyukai Tanya," ia
merenung. "Apalagi saudara perempuannya Irina... aku tidak pernah menetap
terlalu lama di satu tempat sebelumnya, dan aku menikmati keuntungan dan hal-hal
baru yang bisa kurasakan. Tapi larangannya sulit... Heran juga aku, mereka bisa
bertahan begitu lama." Ia tersenyum padaku seperti mengajak berkomplot. "Kadang-
kadang aku melanggarnya."
Aku tak sanggup menelan ludah. Kakiku mulai bergerak mundur, tapi langsung
membeku saat matanya yang merah berkelebat turun dan menangkap gerakan itu.
"Oh," kataku dengan suara lemah. "Jasper juga punya masalah dengan itu."
"Jangan bergerak," suara itu berbisik. Aku berusaha melakukan apa yang ia
perintahkan. Sulit, tapi; insting untuk lari nyaris tak bisa dikendalikan.
"Benarkah?" Laurent tampak tertarik. "Itukah sebabnya mereka pergi?"
"Bukan," jawabku jujur. "Jasper lebih berhati-hati di rumah."
"Benar," Laurent sependapat. "Begitu juga aku."
Satu langkah maju yang diambilnya jelas disengaja.
"Apakah Victoria pernah menemukanmu?" tanyaku, napasku tersengal, sangat ingin
mengalihkan perhatiannya. Itu pertanyaan pertama yang muncul di benakku, dan aku
langsung menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari mulutku. Victoria -
yang memburuku bersama James, kemudian menghilang - bukanlah seseorang yang
ingin kuingat pada saat-saat genting seperti ini.
Tapi pertanyaan itu menghentikannya.
"Ya," jawab Laurent, ragu-ragu melangkah. "Sebenarnya kedatanganku ke sini
adalah untuk membantunya." Ia mengernyit. "Dia tidak akan senang kalau tahu hal
ini." "Tahu apa?" tanyaku bersemangat, mengundangnya untuk terus bicara. Laurent
memandang garang ke arah pepohonan, jauh dariku. Aku memanfaatkan kelengahannya
itu dengan mundur satu langkah.
Laurent kembali memandangku dan tersenyum - ekspresinya membuatnya terlihat
seperti malaikat berambut hitam.
"Kalau dia tahu aku membunuhmu," jawabnya sambil mendengkur merayu.
Aku terhuyung-huyung mundur. Geraman panik di kepalaku membuatnya semakin sulit
didengar. "Dia ingin melakukannya sendiri," Laurent melanjutkan senang. "Dia agak... kesal
denganmu. Bella." "Aku?" pekikku.
Laurent menggeleng dan terkekeh. "Aku tahu, menurutku sepertinya itu juga agak
sedikit bodoh. Tapi James pasangannya, dan Edward-mu membunuhnya."
Bahkan di sini, di ambang maut, namanya masih merobek lukaku yang masih basah
bagaikan pisau bergerigi tajam.
Laurent tidak menyadari reaksiku. "Menurutnya lebih tepat membunuhmu daripada
membunuh Edward - itu baru adil, pasangan untuk pasangan. Dia memintaku
memetakan arah untuknya, katakanlah begitu. Tak kukira kau begitu mudah
ditemukan. Jadi mungkin rencana Victoria tidak sempurna - ternyata kau bukanlah
sasaran balas dendam seperti yang dia bayangkan, karena kau pasti tidak berarti
banyak bagi Edward bila dia meninggalkanmu sendiri di sini tanpa perlindungan."
Pukulan lain, sayatan lain ke dadaku.
Laurent bergerak sedikit, dan aku terseok mundur selangkah.
Kening Laurent berkerut. "Kurasa dia bakal marah, bagaimanapun juga."
"Kalau begitu mengapa tidak kautunggu saja dia?" bujukku dengan suara tercekik.
Seringaian licik membelah wajahnya. " Well, kau bertemu denganku di saat yang
tidak tepat, Bella. Kedatanganku ke sini bukan untuk menjalankan misi Victoria -
aku sedang berburu. Aku sangat haus, dan baumu... sungguh menerbitkan air liur."
Laurent menatapku dengan sikap setuju, seolah-olah perkataan itu dimaksudkan
sebagai pujian. "Ancam dia," delusi indah itu memerintahkan, suaranya terdistorsi oleh
kengerian. "Dia pasti tahu kau yang melakukannya," bisikku, mematuhi perintah suara itu.
"Kau tidak akan bisa lolos."
"Mengapa tidak?" Senyum Laurent melebar. Ia memandang ke sekeliling padang
terbuka kecil yang dikitari pepohonan itu. "Baumu akan tersapu hujan berikutnya.
Tak ada yang akan menemukan mayatmu - kau hanya akan dinyatakan hilang, seperti
banyak, banyak sekali manusia lain. Tidak ada alasan bagi Edward untuk mengira
itu perbuatanku, kalau dia cukup peduli untuk menyelidiki. Yakinlah, tidak ada
masalah pribadi dalam hal ini, Bella. Hanya karena aku haus."
"Memohonlah," halusinasiku memohon.
"Please?" pintaku.
Laurent menggeleng, wajahnya ramah, "Anggap saja begini, Bella. Kau sangat
beruntung karena akulah yang menemukanmu."
"Benarkah begitu?" tanyaku, mencuri kesempatan untuk mundur satu langkah lagi.
Laurent mengikuti, gesit dan anggun.
"Ya," ia meyakinkanku. "Aku akan sangat cepat. Kau tidak akan merasakan apa-apa,
aku janji. Oh, aku akan berbohong pada Victoria mengenainya nanti, tentu saja,
hanya untuk menenangkan hatinya. Tapi kalau kau tahu apa yang dia rencanakan
untukmu, Bella... " Laurent menggeleng dengan gerak lamban, seakan-akan nyaris
jijik. "Berani sumpah, kau pasti akan berterima kasih padaku untuk ini."
Kutatap ia dengan ngeri. Laurent mengendusi angin yang menerbangkan helai-helai rambutku ke arahnya.
"Menerbitkan air liur," ia mengulangi kata-katanya, menghirup dalam-dalam.
Tubuhku mengejang, bersiap lari, mataku menyipit saat aku mengkeret ngeri,dan
raungan marah Edward bergema di kejauhan, di bagian belakang kepalaku. Namanya
menembus semua dinding yang kubangun untuk menahannya.
Edward, Edward, Edward. Aku akan mati. Tidak apa-apa bila aku memikirkan dia
sekarang. Edward, aku cinta padamu.
Melalui mataku yang menyapit, kulihat Laurent berhenti mengendus udara dan
memalingkan kepala secepat kilat ke kiri. Aku tak berani mengalihkan pandanganku
darinya, mengikuti matanya meski ia tak perlu mengalihkan perhatian ataupun trik
lain untuk mengalahkanku. Aku terlalu takjub untuk merasa lega ketika ia pelan-
pelan mulai mundur menjauhiku.
"Aku tak percaya," ucapnya, suaranya begitu pelan hingga aku nyaris tidak
mendengarnya. Barulah saat itu aku menoleh. Mataku menyapu padang rumput, mencari interupsi
yang memperpanjang hidupku.
Awalnya aku tidak melihat apa-apa, dan mataku secepat kilat kembali ke Laurent.
Ia mundur lebih cepat lagi sekarang, matanya menatap tajam ke dalam hutan.
Lalu aku melihatnya; sesosok makhluk hitam besar muncul dari sela-sela
pepohonan, tenang seperti bayangan, dan berjalan mantap menghampiri si vampir.
Tubuhnya besar sekali - setinggi kuda, tapi lebih gemuk, jauh lebih berotot.
Moncongnya yang panjang meringis, memamerkan sederet taring setajam belati.
Geraman liar meluncur dari sela-sela giginya, menggelegar melintasi ruang
terbuka seperti suara petir menyambar.
Beruang itu. Hanya saja, ternyata hewan itu bukan beruang. Namun tetap saja,
pasti monster hitam raksasa inilah makhluk yang menggegerkan warga itu. Dari
jauh orang akan mengira itu beruang. Hewan apa lagi yang badannya bisa sebesar
dan sekekar itu" Aku berharap akan beruntung dan bisa melihatnya dari jauh. Tapi yang terjadi
malah hewan itu melangkah tanpa suara melintasi rerumputan, hanya tiga meter
dari tempatku berdiri. "Jangan bergerak sedikit pun," suara Edward berbisik
Kupandangi makhluk mengerikan itu, pikiranku kacau saat aku berusaha menemukan
nama hewan itu. Bentuknya jelas mirip anjing, begitu juga caranya bergerak. Aku
hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, terpaku dalam kengerian yang amat
sangat. Namun tak pernah terbayangkan olehku serigala bisa sebesar itu.
Lagi-lagi hewan itu menggeram, dan aku bergidik ngeri mendengarnya.
Laurent mundur ke pinggir pepohonan, dan, meski membeku ketakutan, pikiranku
dilanda kebingungan. Mengapa Laurent mundur" Memang serigala itu sangat besar,
tapi makhluk itu tetap hanya binatang. Mengapa vampir takut pada binatang" Dan
Laurent sangat ketakutan. Matanya membelalak ngeri, sama seperti aku.
Seperti menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja serigala raksasa itu tidak
sendirian. Mengapit di sisi kiri dan kanannya, ada dua hewan raksasa lain
melenggang diam memasuki padang rumput. Yang satu berbulu abu-abu gelap, satunya
lagi cokelat, namun keduanya tidak setinggi serigala pertama. Serigala abu-abu
muncul dari balik pepohonan hanya beberapa meter dariku, matanya terpaku pada
Laurent. Belum lagi aku sempat bereaksi, dua serigala lain menyusul, membentuk huruf V,
seperti kawanan burung yang bermigrasi ke selatan. Itu berarti monster cokelat
kemerahan yang merangsak menembus semak belukar berada cukup dekat denganku
hingga aku bisa menyentuhnya.
Tanpa sengaja aku terkesiap dan melompat mundur - tindakan paling tolol yang
bisa kulakukan. Lagi-lagi aku membeku, menunggu serigala-serigala itu berbalik


Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyerangku, mangsa yang lebih lemah. Sempat terlintas dalam benakku semoga
Laurent segera beraksi dan melumat gerombolan serigala itu-itu mudah saja
baginya. Kurasa di antara dua pilihan di depanku, di mangsa sekawanan serigala
hampir bisa dibilang pilihan yang lebih buruk.
Serigala yang paling dekat denganku, yang berbulu cokelat kemerahan, memalingkan
kepala sedikit begitu mendengarku terkesiap.
Mata serigala itu gelap, nyaris hitam. Hewan itu menatapku sepersekian detik,
matanya yang gelap terkesan terlalu cerdas untuk hewan liar.
Sementara hewan itu memandangiku, mendadak aku teringat pada Jacob - lagi-lagi
dengan perasaan bersyukur. Setidaknya aku datang ke sini sendirian, ke padang
rumput negeri dongeng yang penuh monster-monster mengerikan ini. Setidaknya
Jacob tidak akan ikut mati. Setidaknya aku tidak bertanggung jawab atas
kematiannya. Geraman rendah yang sekali lagi keluar dari moncong pemimpin gerombolan membuat
serigala cokelat-merah itu memalingkan kepala secepat kilat, kembali kepada
Laurent. Laurent menatap gerombolan monster serigala itu dengan perasaan shock dan takut
yang tak bisa ditutup-tutupi. Perasaan pertama bisa kupahami. Tapi aku
terperangah waktu, tanpa aba-aba lebih dulu, ia berbalik dan menghilang di balik
pepohonan. Dia kabur. Detik itu juga kawanan serigala itu langsung mengejarnya, berlari cepat
melintasi padang rumput terbuka dengan langkah-langkah bertenaga, menggeram dan
mengatup-ngatupkan moncong dengan keras dan nyaring. Kedua tanganku serta-merta
terangkat ke atas, secara naluriah menutup telinga. Suara itu menghilang dengan
sangat cepat begitu gerombolan serigala lenyap di balik hutan.
Kemudian aku sendirian lagi.
Lututku terkulai, tak sanggup menopang berat tubuhku, dan aku terjatuh dengan
posisi tangan bertumpu di tanah, isak tangis memenuhi kerongkonganku.
Aku tahu aku harus segera pergi, sekarang juga. Berapa lama serigala-serigala
itu akan mengejar Laurent sebelum berbalik dan mengejarku" Atau akankah Laurent
melawan mereka" Mungkinkah ia yang nanti akan kembali mencariku"
Awalnya aku tak bisa bergerak; lengan dan kakiku gemetaran, dan aku tak tahu
bagaimana bisa kembali berdiri.
Pikiranku tak bisa menghalau ketakutan,
kengerian, ataupun kebingungan yang kurasakan. Aku tidak memahami apa yang baru
saja kusaksikan. Vampir tak seharusnya kabur dari sekawanan anjing raksasa seperti itu. Apa
gunanya gigi yang tajam dan kulit mereka yang sekeras granit"
Dan serigala-serigala seharusnya tidak mengganggu Laurent. Walaupun ukuran
mereka yang luar biasa itu mengajar mereka untuk tidak takut pada apa pun, tetap
saja tak masuk akal mengapa mereka mengejarnya. Aku ragu kulit Laurent yang
sedingin marmer memancarkan bau yang menyerupai makanan. Mengapa mereka malah
mengabaikan makhluk berdarah panas dan lemah seperti aku dan justru mengejar
Laurent" Aku tidak mengerti sama sekali.
Angin dingin menyapu padang rumput, mengayunkan rumput-rumput seolah ada sesuatu
yang menggerakkannya. Aku cepat-cepat berdiri, mundur walaupun angin menerpaku tanpa mencederai.
Tersandung-sandung panik, aku berbalik dan langsung lari menerobos pepohonan.
Beberapa jam berikutnya sungguh mengerikan. Butuh waktu tiga kali lebih lama
untuk meloloskan diri dari pepohonan daripada untuk mencapai padang. Awalnya aku
tidak memerhatikan ke mana aku melangkah, pikiranku hanya terfokus pada
melarikan diri. Setelah cukup tenang untuk ingat bahwa aku punya kompas, aku
sudah jauh di pelosok hutan yang asing dan menakutkan. Kedua tanganku gemetar
sangat hebat sehingga aku harus meletakkan kompas di tanah berlumpur untuk bisa
membacanya. Beberapa menit sekali aku harus berhenti untuk meletakkan kompas dan
mengecek bahwa aku masih berjalan ke barat laut, mendengarkan - bila suara-suara
itu tidak tersembunyi di balik langkah-langkah kakiku yang panik-bisikan pelan
berbagai hal yang tak kelihatan di sela-sela dedaunan.
Pekikan burung jaybird membuatku terlompat ke belakang dan jatuh menimpa pohon
cemara muda berdaun lebat. Akibatnya lenganku tergores-gores dan rambutku
terbelit daun-daun cemara. Tupai yang mendadak berkelebat lewat membuatku
menjerit begitu keras hingga menyakitkan bahkan telingaku sendiri.
Akhirnya pohon-pohon mulai renggang. Aku muncul dijalan kosong kira-kira satu
setengah kilometer dari tempatku meninggalkan truk tadi.
Meskipun didera kelelahan yang amat sangat, aku berlari-lari kecil menyusuri
jalan sampai menemukan trukku. Sesampai di dalamnya tangisku kembali meledak.
Kukunci pintu truk rapat-rapat sebelum merogoh kantong untuk mengeluarkan
kuncinya. Raungan suara mesin terasa melegakan dan waras. Suara itu membantuku
menahan air mata sementara aku memacu trukku secepatnya menuju jalan utama.
Sesampainya di rumah, kondisiku sudah lebih tenang, tapi masih kacau-balau.
Mobil polisi Charlie sudah terparkir di halaman - aku bahkan tidak menyadari
hari sudah malam. Langit sudah menggelap.
"Bella?" seru Charlie begitu aku membanting pintu depan dan cepat-cepat memutar
kunci. "Yeah, ini aku." Suaraku lemah.
"Dari mana saja kau?" tanyanya menggelegar, muncul dari ambang pintu dapur
dengan wajah garang. Aku ragu-ragu. Ayahku mungkin sudah menelepon keluarga Stanley. Sebaiknya aku
menceritakan hal yang sebenarnya saja.
"Aku pergi hiking;' aku mengaku.
Mata Charlie kaku. "Mengapa tidak jadi pergi ke rumah Jessica?"
"Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini."
Charlie bersedekap. "Kan sudah kubilang untuk menjauhi hutan."
"Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi," Aku
bergidik. Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar memerhatikan keadaanku. Aku
ingat tadi aku sempat meringkuk di tanah hutan; jadi pastilah keadaanku benar-
benar berantakan. "Apa yang terjadi?" desak Charlie.
Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah
pilihan terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpura-pura aku tadi menikmati
hari yang tenang dengan flora dan fauna hutan.
"Aku melihat beruang itu." Aku berusaha mengatakannya dengan tenang, tapi
suaraku tinggi dan gemetar. "Ternyata bukan beruang- tapi sejenis serigala. Dan
jumlahnya ada lima. Ada yang berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat kemerahan...
" Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas
menghampiriku dan menyambar bagian atas lenganku.
"Kau tidak apa-apa?"
Kepalaku mengangguk-angguk lemah.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi."
"Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah mereka pergi, aku lari dan terjatuh-
jatuh." Charlie melepaskan bahuku dan memelukku erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak
mengatakan apa-apa. "Serigala," gumamnya.
"Apa?" "Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan jejak beruang - tapi serigala tidak
sebesar itu... " "Mereka ini raksasa"
"Berapa banyak katamu tadi?"
"Lima." Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas. Akhirnya ia bicara dengan nada
yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Tidak boleh hiking lagi."
"Pasti," aku berjanji dengan patuh.
Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan apa yang kulihat. Aku berbohong
sedikit saat mengatakan di mana persisnya aku melihat serigala-serigala itu -
kubilang saja aku sedang menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara. Aku tak
ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah masuk ke dalam hutan, melanggar
larangannya, dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang lain berkeliaran
di dekat tempat Laurent mungkin mencariku. Pikiran itu membuatku mual.
"Kau lapar?" tanya Charlie setelah menutup telepon.
Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku keroncongan. Aku belum makan
seharian. "Capek saja," jawabku. Aku berbalik menuju tangga.
"Hei," seru Charlie, suaranya mendadak berubah curiga lagi. "Bukankah kau tadi
bilang Jacob pergi seharian?"
"Kata Billy begitu," jawabku, bingung mendengar pertanyaannya.
Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan tampaknya puas dengan apa yang
dilihatnya di sana. "Hah." "Kenapa?" tuntutku. Kedengarannya Charlie seolah menuduhku telah berbohong
padanya tadi pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan Jessica.
"Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry tadi, aku melihat Jacob di depan
toko yang ada di sana bersama teman-temannya. Aku melambai menyapanya, tapi
dia... Well aku tak yakin dia melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan
teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal mengenai sesuatu. Dan... berbeda.
Seolah-olah kau bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali melihatnya,
sepertinya dia semakin bertambah besar."
"Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke Port Angeles untuk nonton film.
Mungkin mereka sedang menunggu teman di sana."
"Oh." Charlie mengangguk dan berjalan ke dapur.
Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang Jacob yang berdebat dengan teman-
temannya. Aku penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang kedekatannya
dengan Sam. Mungkin itulah sebabnya ia meninggalkanku hari ini - kalau itu
berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan Embry aku ikut senang.
Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu masih terkunci rapat sebelum masuk
ke kamar. Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci bagi monster-monster
yang kulihat siang tadi" Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk
menghalangi masuknya serigala, karena mereka tidak memiliki ibu jari untuk
memegang. Dan kalau Laurent datang ke sini...
Atau... Victoria. Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku bergetar begini hebat hingga aku
susah tidur. Aku meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan menghadapi fakta-
fakta mengerikan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada
tempat untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa menolongku.
Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa situasinya sekarang lebih buruk
daripada itu. Karena semua fakta itu juga mengacu pada Charlie. Ayahku, tidur di
kamar yang bersebelahan dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari inti
sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku akan menggiring mereka ke sini, tak
peduli aku ada di sini atau tidak.
Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku sampai gigi-gigiku gemeletukan.
Untuk menenangkan diri aku membayangkan hal yang tidak mungkin: aku membayangkan
serigala-serigala besar itu berhasil menangkap Laurent di hutan dan membantai
makhluk yang tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu, seperti mereka
memangsa habis manusia normal lainnya. Meski absurd, bayangan itu membuatku
tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil menangkapnya, ia tidak bisa
mengatakan pada Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak kembali, mungkin Victoria
mengira keluarga Cullen masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala itu bisa
memenangkan pertarungan...
11. SEKTE SETIAP kali aku membuka mata dan melihat cahaya matahari, menyadari aku telah
selamat melewati satu malam lagi, merupakan kejutan bagiku. Setelah pulih dari
keterkejutan, jantungku mulai berdetak kencang dan telapak tanganku berkeringat;
aku baru bisa bernapas lega setelah
Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali; betapa melegakan membayangkan vampir
jenis lain juga bisa menghilang.
Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu datangnya ketidaksadaran-hampir tidak
sabar lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik bermimpi buruk daripada
melihat seraut wajah tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang dari balik
kelopak mataku. Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh dahaga, cemerlang oleh antisipasi,
dan bibirnya menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau dalam kegembiraan.
Rambut merahnya terang laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari wajahnya yang
liar. Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam benakku. Kalau kau tahu apa yang
dia rencanakan untukmu...
Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut agar tidak menjerit.
Turun dari tempat tidur dan memastikan Charlie juga selamat.
Kentara sekah ia khawatir - melihatku meloncat kaget setiap kali mendengar suara
keras, atau wajahku tiba-tiba memucat tanpa alasan jelas. Dari pertanyaan-
pertanyaan yang sesekali diajukannya, Charlie sepertinya menyalahkan
ketidakhadiran Jacob sebagai penyebabnya.
Ketakutan yang selalu menghantui pikiranku biasanya mengalihkan perhatianku dari
fakta bahwa satu minggu lagi telah berlalu, tapi Jacob masih belum meneleponku.
Tapi kalau aku bisa berkonsentasi pada kehidupan normal - kalau hidupku bisa
dibilang normal - hal ini membuatku gelisah.
Aku sangat kehilangan dia.
Rasanya sudah cukup parah ditinggal sendiri sebelum aku ketakutan setengah mati
begini. Sekarang, lebih dari sebelumnya aku rindu tawa lepasnya yang riang dan
cengirannya yang menular itu. Aku membutuhkan perasaan aman dan waras yang bisa
kuperoleh dengan nongkrong di garasinya serta tangan hangatnya menggenggam jari-
jariku yang dingin. Aku separo berharap ia bakal meneleponku hari Senin. Misalnya ada kemajuan soal
Embry, bukankah ia ingin melaporkannya" Aku ingin memastikan kecemasan terhadap
temannyalah yang menyita seluruh waktunya, bukan karena ia tak mau lagi berteman
denganku. Aku meneleponnya Selasa, tapi tidak ada yang menjawab. Apakah saluran teleponnya
rusak lagi" Atau Billy sekarang memasang caller ID"
Hari Rabu aku menelepon setiap setengah jam sekali sampai jam sebelas malam,
putus asa ingin mendengar kehangatan suara Jacob.
Hari Kamis aku duduk di dalam truk di depan rumah-dengan kedua pintu terkunci
rapat-kunci truk di tangan, selama satu jam penuh. Aku berdebat dengan diriku
sendiri, berusaha membenarkan keinginan untuk pergi sebentar ke La Push, tapi
tak sanggup melakukannya.
Aku tahu Laurent pasti sudah kembali ke
Victoria sekarang. Kalau aku pergi ke La Push, bisa-bisa aku menuntun salah
seorang dari mereka ke sana. Bagaimana kalau mereka menangkapku ketika Jake di
dekatku" Meski sangat menyakitkan bagiku, aku tahu lebih baik bagi Jacob bila ia
menghindariku. Lebih aman untuknya.
Sudah cukup buruk aku tidak bisa menemukan jalan untuk mengamankan Charlie.
Kemungkinan besar mereka akan datang mencariku pada malam hari, dan alasan apa
yang bisa kuutarakan untuk membuat Charlie keluar dari rumah" Bisa saja aku
menceritakan hal sebenarmu, tapi ini akan membuatnya mengurungku di ruangan
tertutup rapat. Aku rela-rela saja menjalani semua itu - menerima dengan tangan
terbuka, malah - bila itu bisa membuat Charlie aman. Tapi Victoria tetap akan
datang ke rumah Charlie lebih dulu, mencariku. Mungkin, bila ia menemukan aku di
sini, itu sudah cukup baginya. Mungkin ia akan langsung pergi setelah selesai
berurusan denganku. Jadi aku tidak bisa lari. Kalaupun bisa, mau pergi ke mana" Ke Renee" Aku
bergidik membayangkan diriku membawa bayangan mematikan itu ke dunia ibuku yang
aman dan bermandikan matahari. Aku tidak akan pernah membahayakan nyawanya
seperti itu. Kekhawatiran itu meninggalkan lubang besar di perutku. Tak lama lagi aku akan
punya dua lubang yang sama persis.
Malam itu Charlie kembali berbuat baik dan meneleponkan Harry untukku, mencari
tahu apakah keluarga Black sedang ke luar kota. Harry melaporkan bahwa Billy
menghadiri rapat dewan Rabu malam kemarin, dan tidak menyebut-nyebut bakal pergi
ke mana pun. Charlie mewanti-wantiku untuk tidak mengganggu mereka - Jacob pasti
akan menelepon kalau sudah punya waktu.
Jumat siang, saat mengendarai truk sepulang sekolah, pikiran itu sekonyong-
konyong menghantamku. Aku tidak sedang memerhatikan jalan yang sudah sangat kukenal, membiarkan suara
mesin menumpulkan otak dan membungkam kekhawatiranku, saat alam bawah sadarku
menyampaikan keputusan yang selama ini pasti disimpulkan dalam pikiranku tanpa
aku sendiri mengetahuinya.


Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Begitu hal tersebut terpikirkan olehku, aku merasa diriku benar-benar tolol
karena tidak sejak dulu teringat hal itu. Memang sih, aku sedang banyak pikiran
- vampir yang terobsesi ingin membalas dendam, serigala mutan raksasa, lubang
yang masih basah di pusat dada - tapi setelah aku menjajarkan semua bukti yang
ada, sungguh memalukan bahwa kesimpulan ini begitu jelas.
Jacob sengaja menghindariku. Kata Charlie, ia tampak aneh, kesal... jawaban-
jawaban Billy yang samar dan tidak membantu.
Astaga, aku tahu persis apa yang terjadi pada Jacob.
Pasti gara-gara Sam Uley. Bahkan mimpi burukku pun berusaha memberi tahuku. Sam
berhasil mendapatkan Jacob. Apa pun yang terjadi pada cowok-cowok lain di
reservasi telah terjadi juga pada temanku dan mereka mencurinya dariku. Ia
diisap masuk ke sekte Sam.
Bukan karena Jacob tak mau lagi berteman denganku, aku menyadari dengan perasaan
terharu yang tiba-tiba menyerbu.
Kubiarkan trukku berhenti dengan mesin menyala di depan rumahku. Apa yang
sebaiknya kulakukan" Aku menimbang-nimbang bahaya dari setiap pilihan yang akan
kuambil. Kalau aku pergi mencari Jacob, bisa-bisa aku menuntun Victoria atau Laurent ke
rumahnya. Kalau aku tidak pergi menemuinya, Sam akan menariknya lebih dalam lagi ke
gengnya yang mengerikan itu. Mungkin akan terlambat kalau aku tidak segera
bertindak. Seminggu telah berlalu, dan belum ada vampir yang datang mencariku. Seminggu
sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk kembali, jadi aku pasti bukan
prioritas. Besar kemungkinan, seperti yang sudah kuputuskan sebelumnya, mereka
akan datang mencariku pada malam hari. Peluang mereka mengikutiku ke La Push
jauh lebih kecil daripada peluang kehilangan Jacob karena terpengaruh Sam.
Bahaya menyusuri jalanan hutan yang terpencil sepadan dengan tujuanku. Ini bukan
kunjungan iseng untuk mengetahui apa yang terjadi. Aku sudah tahu apa yang
terjadi. Ini misi penyelamatan. Aku akan berbicara dengan Jacob - menculiknya
kalau perlu. Aku pernah melihat tayangan di PBS tentang memprogram ulang orang-
orang yang sudah dicuci otak. Pasti ada cara untuk memulihkannya.
Kuputuskan untuk menelepon Charlie lebih dulu. Mungkin apa pun yang sedang
terjadi di La Push saat ini memerlukan keterlibatan polisi. Aku menghambur
masuk, tidak sabar lagi ingin segera berangkat.
Charlie sendiri yang mengangkat telepon.
"Kepala Polisi Swan."
"Dad, ini Bella."
"Ada apa?" Kali ini aku tidak bisa membantah asumsinya bahwa kalau aku menelepon pasti ada
yang tidak beres. Suaraku gemetar. "Aku mengkhawatirkan Jacob."
"Kenapa?" tanya Charlie, terkejut oleh topik yang tidak terduga-duga itu.
"Kupikir... kupikir sesuatu yang aneh sedang terjadi di reservasi. Jacob pernah
cerita tentang hal-hal aneh yang terjadi pada cowok-cowok lain sepantarnya.
Sekarang, dia bertingkah sama seperti mereka dan aku takut."
"Hal-hal seperti apa?" Charlie berbicara dengan nada profesional khas polisi.
Itu bagus; berarti ia menanggapi keluhanku dengan serius.
"Mula-mula dia ketakutan, lalu dia
menghindariku, dan sekarang... aku takut dia sudah bergabung dengan geng aneh di
sana, gengnya Sam. Gengnya Sam Uley."
"Sam Uley?" ulang Charlie, terkejut lagi "Ya."
Suara Charlie terdengar lebih rileks waktu ia menjawab. "Kurasa kau keliru,
Bells. Sam Uley itu anak baik. Well, sekarang dia sudah dewasa. Pemuda baik.
Coba saja kaudengar komentar Billy mengenai dia. Sam melakukan hal-hal positif
dengan para pemuda di reservasi. Dia itu yang-" Charlie tak melanjutkan kata-
katanya, dan menurutku ia tadi pasti hendak mengatakan sesuatu tentang malam
saat aku tersesat di hutan. Aku buru-buru meneruskan kata-kataku.
"Dad, bukan begitu. Jacob takut padanya."
"Kau sudah bicara pada Billy tentang hal ini?" Charlie berusaha menenangkanku
sekarang. Aku langsung kehilangan perhatiannya begitu menyebut nama Sam tadi.
"Billy tidak merasa khawatir."
"Well, Bella, kalau begitu aku yakin semua beres. Jacob kan, masih anak-anak;
dia mungkin cuma berulah. Aku yakin dia baik-baik saja. Bagaimanapun, dia toh
tidak bisa bersamamu terus setiap saat."
"Ini tidak ada kaitannya denganku," aku bersikeras, tapi percuma saja, aku sudah
kalah. "Menurutku, kau tidak perlu khawatir soal ini. Biarkan Billy yang mengurus
Jacob." "Charlie... " Suaraku mulai merengek.
"Bella, urusanku banyak sekali sekarang. Dua turis hilang dari jalan setapak di
luar danau sabit." Suaranya terdengar gelisah. "Masalah dengan serigala ini jadi
semakin tak terkendali."
Sejenak perhatianku teralih - terperangah, lebih tepatnya - oleh kabar itu. Tak
mungkin serigala-serigala itu selagi menghadapi Laurent...
"Dad yakin itu yang terjadi pada mereka?" tanya.
"Itulah yang kutakutkan. Sayang. Ada-" Charlie ragu-ragu sejenak. "Di sana ada
jejak-jejak lagi dan... bercak darah juga kali ini"
"Oh!" Kalau begini pasti tidak terjadi konfrontasi. Laurent pasti berhasil lari
dari kejaran serigala-serigala itu, tapi mengapa" Apa yang kulihat di padang
rumput waktu itu semakin lama semakin aneh-semakin mustahil untuk dipahami.
"Dengar, aku benar-benar harus pergi. Jangan khawatirkan Jake, Bella. Aku yakin
semuanya beres." "Baiklah," sergahku pendek, frustrasi karena kata-katanya mengingatkanku pada
krisis lebih mendesak yang kuhadapi. "Bye." Kututup telepon.
Kupandangi pesawat telepon lama sekali. Masa bodohlah, aku memutuskan.
Billy menjawab setelah dua deringan.
"Halo?" "Hai, Billy," sapaku, nyaris menggeram. Aku berusaha terdengar lebih ramah saat
meneruskan kata-kataku. "Bisa bicara dengan Jacob?"
"Jake pergi." Sangat mengejutkan. "Anda tahu dia ke mana?"
"Pergi dengan teman-temannya." Suara Billy hati-hati.
"Oh ya" Ada yang kukenal" Quil?" Kentara sekali kata-kata itu tidak terlontar
dengan sikap biasa-biasa saja seperti yang sebenarnya kumaksudkan.
"Bukan," jawab Billy lambat-lambat. "Kurasa dia tidak pergi bersama Quil hari
ini." Aku tahu lebih baik aku tidak menyebut nama Sam. "Embry?" tanyaku.
Billy terkesan lebih gembira karena bisa menjawab pertanyaan yang satu ini.
"Yeah, dengan Embry."
Itu sudah cukup bagiku. Embry termasuk geng mereka. " Well, bisa tolong suruh
dia meneleponku kalau sudah pulang nanti, ya?"
"Tentu, tentu. Tidak masalah." Klik.
"Sampai ketemu lagi, Billy," gerutuku di telepon yang sudah mati.
Aku mengendarai trukku ke La Push, bertekad hendak menunggu. Aku akan duduk di
depan rumahnya semalaman kalau perlu. Aku akan bolos sekolah. Cepat atau lambat
anak itu pasti pulang, dan kalau itu terjadi, ia harus bicara denganku.
Otakku begitu sibuk memikirkan perjalanan yang selama ini begitu takut kulakukan
hingga rasanya hanya butuh beberapa detik saja untuk sampai ke sana. Tahu-tahu
saja hutan sudah mulai menipis, dan aku tahu sebentar lagi aku akan bisa melihat
rumah-rumah kecil pertama di reservasi.
Berjalan menjauh, di sisi kiri jalan, tampak cowok jangkung bertopi bisbol.
Napasku sempat tercekat sesaat di tenggorokan, berharap keberuntungan memihakku
sekali itu, dan aku tanpa sengaja bertemu Jacob tanpa perlu bersusah-payah. Tapi
pemuda itu badannya terlalu lebar, dan rambut di bawah topinya pendek. Bahkan
dari belakang pun aku yakin itu Quil, meski ia tampak lebih besar daripada waktu
aku terakhir kali melihatnya. Ada apa dengan pemuda-pemuda Quileute ini" Apakah
mereka dicekoki hormon pertumbuhan hasil eksperimen"
Aku meminggirkan trukku ke sisi jalan yang berlawanan arah dan berhenti di
sebelahnya. Quil mendongak saat mendengar raungan mesin trukku mendekat.
Ekspresi Quil lebih membuatku takut daripada terkejut. Wajahnya muram, suntuk,
dan dahinya berlipat-lipat khawatir.
"Oh, hai, Bella," ia menyapaku muram.
"Hai, Quil... kau baik-baik saja?"
Quil menatapku sedih. "Baik.
"Mungkin aku bisa mengantarmu ke suatu tempat?" aku menawarkan.
"Tentu kurasa," gumamnya. Ia berjalan tersaruk-saruk mengitari bagian depan truk
dan membuka pintu penumpang lalu naik.
"Ke mana." "Rumahku di sisi utara, di belakang toko,"
katanya. "Kau sudah bertemu Jacob hari ini?" Pertanyaan itu terlontar dari mulutku bahkan
sebelum Quil selesai bicara.
Kutatap Quil penuh semangat, menunggu jawabannya. Tapi Quil hanya memandang ke
luar kaca depan beberapa saat sebelum menjawab.
"Dari jauh," jawab Quil akhirnya.
"Dari jauh?" ulangku.
"Aku berusaha mengikuti mereka - dia bersama Embry." Suara Quil rendah, sulit
didengar di sela-sela suara mesin. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat. "Aku
tahu mereka melihatku. Tapi mereka malah berbelok dan menghilang di balik
pepohonan. Kurasa mereka tidak sendirian - kurasa Sam dan anggota gengnya ada
bersama mereka. "Aku sudah satu jam berkeliaran di hutan, memanggil-manggil mereka. Aku baru
saja keluar ke jalan lagi waktu kau datang."
"Jadi Sam berhasil mendapatkannya." Kata-kata itu tidak begitu jelas terdengar -
gigiku terkatup rapat. Quil memandangiku. "Jadi kau tahu soal itu?"
Aku mengangguk. "Jake pernah bercerita padaku... sebelum ini."
"Sebelum ini," ulang Quil, dan mendesah.
"Jadi Jacob sekarang sama parahnya dengan yang lain-lain?"
"Tidak pernah meninggalkan Sam sedetik pun." Quil membuang muka dan meludah dari
jendela yang terbuka. "Dan sebelum itu - apakah dia menghindari
semua orang" Tingkahnya aneh?"
Suara Quil rendah dan kasar. "Tidak selama yang lain-lain. Mungkin hanya satu
hari. Lalu Sam menemuinya."
"Menurutmu, apa penyebabnya" Narkoba atau sebangsanya?"
"Aku tak bisa membayangkan Jacob atau Embry terlibat hal-hal kayak begitu...
tapi aku tahu apa?" "Apa lagi kalau bukan itu" Dan mengapa orang-orang tua tidak khawatir?"
Quil menggeleng-gelengkan kepala, dan rasa takut kini terpancar dari matanya.
"Jacob tak ingin menjadi bagian... sekte ini. Aku tidak mengerti apa yang bisa
mengubahnya." Quil memandangiku, wajahnya ketakutan. "Aku tidak ingin menjadi
yang berikutnya." Mataku membayangkan ketakutan yang sama. Ini kedua kalinya aku mendengarnya
digambarkan sebagai sekte. Tubuhku bergidik. "Orangtuamu menanggapi
ketakutanmu?" Quil meringis. "Yang benar saja. Kakekku duduk di dewan suku, sama seperti ayah
Jacob. Sam Uley itu pemuda terbaik yang pernah ada di sini, begitu menurut
kakekku." Kami berpandangan beberapa saat. Kami sudah sampai di La Push sekarang, dan
trukku nyaris merangkak di jalan yang lengang. Tampak olehku satu-satunya toko
di desa itu, tak jauh di depan.
"Aku turun saja sekarang." kata Quil. "Rumahku di sana." Ia menuding rumah petak
kayu di belakang toko. Kutepikan trukku, dan ia melompat turun.
"Aku akan menunggu Jacob," kataku kaku. Semoga beruntung." Quil membanting pintu
dan tersaruk-saruk menyusuri jalanan, kepala tertunduk, bahu terkulai.
Wajah Quil menghantuiku saat aku memutar truk, kembali ke rumah keluarga Black.
Ia takut menjadi yang berikutnya. Apa sebenarnya yang terjadi di sini"
Aku berhenti di depan rumah Jacob, mematikan mesin, dan menurunkan kaca jendela.
Hari panas terik, angin tidak bertiup. Kurumpangkan kedua kakiku di dasbor, siap
menunggu. Sebuah gerakan berkelebat di sudut mataku- aku menoleh dan melihat Billy
memandangiku dari balik jendela depan dengan mimik bingung. Aku melambai dan
menyunggingkan senyum kaku. tapi tetap di tempatku.
Mata Billy menyipit; ia membiarkan tirai terjatuh menutupi kaca jendela.
Aku siap menunggu selama mungkin, tapi aku berharap ada yang bisa kulakukan.
Kukeluarkan bolpoin dari dasar ransel, serta selembar kertas ulangan lama. Aku
mulai mencoret-coret bagian belakang kertas itu.
Aku baru sempat menggambar sebaris bentuk belah ketupat waktu mendadak ada yang
menggedor pintu trukku. Aku terlonjak, mendongak, mengira akan melihat Billy.
"Sedang apa kau di sini, Bella?" geram Jacob.
Kupandangi dia, terperangah takjub.
Jacob berubah drastis selama beberapa minggu aku tidak melihatnya. Hal pertama
yang menarik perhatianku adalah rambutnya-rambutnya yang indah sudah lenyap,
dipangkas pendek, menutupi
kepalanya bagaikan satin hitam mengilap. Garis-garis wajahnya tampak mengeras,
lebih kaku... menua. Leher dan bahunya juga berbeda, tampak lebih padat.
Tangannya, yang mencengkeram bingkai jendela, tampak besar sekali, dengan otot-
otot tendon dan pembuluh darah menonjol di balik kulitnya yang cokelat
kemerahan. Tapi perubahan fisik itu tidak penting.
Ekspresinyalah yang membuatnya nyaris tak bisa dikenali lagi. Senyum terbuka dan
ramah itu kini lenyap, sama seperti rambutnya, sorot hangat di matanya yang
gelap berganti dengan sorot tidak suka yang langsung terasa mengganggu. Ada
kegelapan dalam diri Jacob sekarang. Seolah-olah matahariku telah meledak.
"Jacob?" bisikku.
Jacob hanya menatapku, matanya tegang dan marah.
Sadarlah aku kami tidak sendirian. Di belakangnya berdiri empat cowok lain;
semuanya jangkung dan berkulit cokelat kemerahan, rambut hitam dipangkas pendek
seperti rambut Jacob. Mereka bisa disangka kakak-beradik - aku bahkan tak bisa
menentukan yang mana Embry di antara kelompok itu. Kemiripan mereka semakin
dipertegas dengan sorot tidak suka yang sama-sama terpancar dari setiap pasang
mata. Setiap pasang kecuali satu. Paling tua dengan jarak beberapa tahun, Sam berdiri paling belakang, wajahnya tenang dan yakin. Aku harus menelan
kembali kebencian yang merayap naik di kerongkonganku. Ingin benar kuhajar dia.
Tidak, aku ingin melakukan lebih daripada itu. Lebih dari segalanya, aku ingin
tampak garang dan mematikan, menjadi seseorang yang membuat orang lain tak
berani macam-macam. Seseorang yang bakal membuat Sam Uley ketakutan setengah
mati. Aku ingin menjadi vampir.
Keinginan bengis itu membuatku terpana dan terkejut. Itu keinginan yang paling
terlarang dari semuanya - bahkan saat aku menginginkannya hanya untuk alasan
kejam seperti ini untuk mengalahkan musuh-karena itulah yang paling menyakitkan.
Masa depan itu sudah hilang untuk selama-lamanya, tidak pernah benar-benar
berada dalam jangkauanku. Aku berusaha mengendalikan diriku lagi sementara
lubang di dadaku berdenyut-denyut hampa.
"Kau mau apa?" tuntut Jacob, ekspresinya
makin terlihat tidak suka sementara ia menyaksikan berbagai emosi campur aduk di
wajahku. "Aku ingin bicara denganmu," kataku dengan suara lemah. Aku berusaha fokus tapi
aku masih kesal karena membiarkan impian tabuku tadi lepas kendali.
"Silakan," desisnya dari sela-sela gigi yang terkatup rapat. Sorot matanya
garang. Belum pernah aku melihatnya menatap siapa pun seperti itu, apalagi aku.
Hatiku sakit sekali-sakitnya nyata, seperti tusukan di kepalaku.
"Sendirian!" desisku, dan suaraku lebih kuat.
Jacob menoleh ke belakang, dan aku tahu ke mana matanya mengarah. Setiap pasang
mata tertuju pada Sam untuk mengetahui reaksinya.
Sam mengangguk satu kali, wajahnya sama sekali tak tampak gelisah. Ia
melontarkan komentar pendek dalam bahasa yang mengalun dan tidak kukenal - aku
hanya tahu itu bukan bahasa Prancis ataupun Spanyol, tapi dugaanku, itu bahasa
Quileute. Ia berbalik dan berjalan masuk ke rumah Jacob. Yang lain-lain, Paul,
Jared, dan Embry, seperti kuduga, mengikutinya masuk.
"Oke." Jacob tampaknya tidak terlalu marah lagi setelah yang lain-lain pergi.
Wajahnya kini sedikit lebih tenang, tapi juga lebih tidak berdaya. Sudut-sudut
mulutnya seperti tertarik ke bawah secara permanen.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Kau tahu apa yang ingin kuketahui."
Jacob tidak menjawab. Ia hanya menatapku getir.
Aku balas menatapnya dan kesunyian berlanjut. Kepedihan di wajahnya membuat
nyaliku lenyap. Aku merasa kerongkonganku tercekat.


Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bisakah kita jalan-jalan?" tanyaku, mumpung masih bisa bicara.
Jacob tidak menyahut; wajahnya tidak berubah.
Aku turun dari truk, merasakan mata-mata yang tidak kelihatan menatapku dari
balik jendela, lalu mulai berjalan menuju pepohonan di utara. Kakiku menginjak
rerumputan lembab dan lumpur di samping jalan, dengan suara berdecit, dan,
karena hanya itu satu-satunya suara yang terdengar, awalnya aku mengira Jacob
tidak mengikutiku. Tapi waktu aku menoleh, ia sudah berjalan di sisiku, entah
bagaimana kakinya menemukan pijakan yang tidak menimbulkan suara.
Aku merasa lebih tenang saat mencapai tepi hutan, karena Sam tak mungkin bisa
melihatku. Sementara kami berjalan aku memeras otak, memikirkan hal yang tepat
untuk diutarakan, tapi nihil. Sebaliknya aku malah semakin marah karena Jacob
tersedot semakin dalam... karena Billy membiarkan ini terjadi... karena Sam
bisa-bisanya berdiri di sana dengan sikap tenang dan penuh percaya diri...
Jacob tiba-tiba mempercepat langkah, berjalan melewatiku dengan mudah dengan
kedua kakinya yang panjang, kemudian berbalik menghadapiku, berdiri tepat di
tengah jalan setapak sehingga aku terpaksa berhenti juga.
Pikiranku sempat beralih sejenak ke gerak-geriknya yang anggun dan mantap.
Padahal selama ini Jacob hampir sama kikuknya denganku berkaitan dengan
pertumbuhan badannya yang tak pernah berakhir. Kapan itu berubah"
Tapi Jacob tidak memberiku kesempatan sama sekali untuk memikirkannya.
"Mari kita tuntaskan," katanya, suaranya keras dan parau.
Aku menunggu. Ia tahu apa yang kuinginkan.
"Itu tidak seperti yang kaukira." Suaranya
sekonyong-konyong terdengar letih. "Ternyata tidak seperti yang kukira - aku
salah besar." "Jadi apa, kalau begitu?"
Jacob mengamati wajahku lama sekali, menimbang-nimbang. Amarah tak sepenuhnya
enyah dari matanya. "Aku tak bisa memberi tahumu," katanya akhirnya.
Rahangku mengeras, dan aku berbicara dari
sela-sela gigiku yang terkatup rapat. "Kusangka kita berteman."
"Dulu kita memang berteman." Ada sedikit
penekanan pada kata dulu.
"Tapi kau tidak membutuhkan teman lagi," tukasku masam. "Kau punya Sam. Bagus
sekali, bukan - sejak dulu kau memang kagum padanya."
"Aku tidak memahaminya sebelum ini."
"Dan sekarang kau sudah melihat kebenaran. Haleluya"
"Ternyata itu tidak seperti yang kukira. Ini bukan salah Sam. Dia membantuku
sebisa mungkin." Suara Jacob berubah rapuh, dan ia memandang melampaui kepalaku,
melewatiku, amarah membara di matanya.
"Dia membantumu," aku mengulangi dengan sikap ragu. "Jelas."
Tapi Jacob sepertinya tidak mendengarkan. Ia menarik napas panjang dalam-dalam,
berusaha menenangkan diri. Ia sangat marah sampai-sampai tangannya gemetar.
"Jacob, please," bisikku. "Bisakah kauceritakan saja padaku apa yang sebenarnya
terjadi" Mungkin aku bisa membantu."
"Tidak ada yang bisa membantuku sekarang." Kata-kata itu meluncur dalam bentuk
erangan pelan; suaranya pecah.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tuntutku, air mataku merebak. Aku mengulurkan
tangan padanya, seperti pernah kulakukan sebelumnya, maju selangkah dengan kedua
lengan terbuka lebar. Kali ini Jacob mengelak, mengangkat kedua tangannya dengan sikap defensif.
"Jangan sentuh aku," bisiknya.
"Apakah Sam menular?" gumamku. Air mata konyol itu lolos dari sudut-sudut
mataku. Aku menyekanya dengan punggung tangan, dan melipat kedua lenganku di
dada. "Berhentilah menyalahkan Sam." Kata-kata itu terlontar cepat, seperti refleks.
Kedua tangan Jacob terangkat ke atas, hendak memilin rambut yang sudah tidak ada
lagi, kemudian terkulai lemas ke sisi tubuhnya.
"Kalau begitu aku harus menyalahkan siapa?" sergahku.
Jacob menyunggingkan senyum separo; hal yang muram dan aneh.
"Kau tidak ingin mendengar jawabannya."
"Siapa bilang tidak ingin!" sergahku. "Aku ingin tahu, dan aku ingin tahu
sekarang." "Kau keliru," Jacob balas membentak.
"Jangan berani-berani mengatakan aku keliru - bukan aku yang dicuci otak!
Katakan padaku sekarang siapa yang bersalah dalam hal ini, kalau bukan Sam-mu
yang berharga itu!" "Kau sendiri yang minta," Jacob menggeram padaku, matanya berkilat-kilat. "Kalau
kau ingin menyalahkan seseorang, mengapa tidak kauarahkan saja jarimu pada
makhluk-makhluk pengisap darah kotor dan berbau busuk yang sangat kaucintai
itu?" Mulutku ternganga dan napasku mengeluarkan suara terkesiap kaget. Aku membeku di
tempat, tertusuk oleh kata-katanya yang setajam pisau. Kepedihan mengoyak
tubuhku dalam pola familier, lubang basah itu terkoyak dari bagian dalam ke
luar, tapi itu belum apa-apa dibandingkan berbagai pikiran kalut yang berkecamuk
dalam benakku. Aku tak yakin pendengaranku benar. Tidak sedikit pun tampak
tanda-tanda keraguan di wajahnya. Hanya amarah.
Mulutku masih terus menganga lebar.
"Sudah kubilang kau pasti tidak ingin mendengarnya," tukas Jacob.
"Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud," bisikku.
Jacob mengangkat sebelah alis dengan sikap tak percaya. "Menurutku kau justru
sangat mengerti siapa yang kumaksud. Kau tidak menyuruhku mengucapkan namanya,
kan" Aku tidak mau menyakitimu."
"Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud," ulangku seperti robot.
"Keluarga Cullen," jawabnya lambat-lambat,
mengulur-ulur kata itu, mengamati wajahku saat mengucapkannya. "Aku tahu itu -
aku bisa melihat di matamu apa akibatnya bila aku menyebut nama mereka."
Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyangkal sekaligus menjernihkan
pikiran pada saat bersamaan. Bagaimana ia bisa mengetahui hal ini" Dan apa
hubungan semua itu dengan sekte Sam" Apakah mereka sekelompok pembenci vampir"
Apa gunanya membentuk kelompok semacam itu bila tidak ada lagi vampir yang
tinggal di Forks" Mengapa Jacob justru mulai memercayai cerita-cerita tentang
keluarga Cullen sekarang, setelah bukti kehadiran mereka sudah lama lenyap,
tidak akan pernah kembali lagi"
Lama sekali baru aku menemukan jawaban yang tepat. "Jangan katakan sekarang kau
percaya pada cerita-cerita takhayul Billy," kataku dengan sikap mengejek yang
tidak terlalu meyakinkan.
"Ternyata dia lebih banyak tahu daripada yang kukira."
"Bersikaplah serius, Jacob."
Jacob menatapku garang, sorot matanya mengkritik.
"Terlepas dari soal takhayul," sergahku buru-buru. "Aku tetap tidak mengerti
mengapa kau menuduh keluarga..."-meringis-"Cullen. Mereka pindah lebih dari
setengah tahun lalu. Bagaimana mungkin kau menyalahkan mereka atas apa yang
dilakukan Sam sekarang?"
"Sam tidak melakukan apa-apa, Bella. Dan aku tahu mereka sudah pindah. Tapi
terkadang... hal-hal tertentu terjadi, dan semuanya sudah terlambat."
"Hal-hal tertentu apa" Apa yang terlambat" Kau menyalahkan mereka karena apa?"
Jacob tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku, amarah berkobar-kobar di
matanya. "Karena mereka ada," desisnya.
Aku terkejut dan perhatianku tiba-tiba teralih karena mendadak muncul kata-kata
peringatan di benakku dalam suara Edward, padahal saat itu aku bahkan tidak
sedang merasa takut. "Diamlah sekarang, Bella. Jangan desak dia," Edward memperingatkan di telingaku.
Sejak nama Edward menerobos keluar dari dinding pertahanan tempatnya terkubur
selama ini, aku tak bisa lagi menguncinya rapat-rapat.
Nama itu tak lagi menyakitkan hatiku - tidak selama detik-detik berharga saat
aku bisa mendengar suaranya.
Jacob marah sekali di hadapanku, sekujur tubuhnya gemetar oleh amarah.
Aku tidak mengerti mengapa delusi Edward muncul tak terduga-duga dalam benakku.
Jacob memang marah, tapi ia tetap Jacob. Tidak ada adrenalin, tidak ada bahaya.
"Beri dia kesempatan untuk menenangkan diri," suara Edward berkeras.
Aku menggelengkan kepala bingung. "Sikapmu konyol," kataku pada mereka berdua.
"Terserah," sergah Jacob, kembali menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak mau
berdebat denganmu. Itu toh tidak penting lagi, karena sudah telanjur."
"Apanya yang sudah telanjur?"
Jacob tidak kaget sedikit pun saat aku meneriakkan kata-kata itu di wajahnya.
"Ayo kita kembali. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
Aku ternganga. "Tentu saja masih ada! Kau belum menjelaskan apa-apa!'
Jacob berjalan melewatiku, melangkah kembali ke rumah.
"Aku bertemu Quil hari ini," teriakku.
Jacob menghentikan langkah, tapi tidak berbalik. "Kau masih ingat temanmu, Quil"
Yeah, dia ketakutan."
Jacob berbalik menghadapiku. Wajahnya sedih.
"Quil," hanya itu yang ia ucapkan
"Dia juga mengkhawatirkanmu. Dia sangat ketakutan."
Tatapan Jacob menerawang melewatiku dengan sorot putus asa.
Aku semakin bersemangat mengomporinya. "Dia takut akan menjadi yang berikutnya."
Jacob berpegangan pada sebatang pohon, wajahnya berubah kehijauan di bawah
kulitnya yang merah kecokelatan.
"Dia takkan menjadi yang berikutnya," gumam Jacob pada diri sendiri. "Tak
mungkin. Sekarang semua sudah selesai. Seharusnya ini semua tidak terjadi lagi.
Kenapa" Kenapa?" Ia meninju pohon. Pohon itu tidak besar,
namun ramping dan kira-kira hanya semeter lebih tinggi daripada Jacob. Tapi aku
tetap terkejut saat pohon itu roboh dengan bunyi keras.
Jacob menatap pohon itu dengan terkejut, lalu pandangannya berubah ngeri.
"Aku harus kembali." Ia berbalik dan berjalan pergi sangat cepat hingga aku
harus berlari-lari kecil untuk menyamai langkahnya.
"Kembali kepada Sam!"
"Bisa dibilang begitu," kedengarannya persis seperti maksud Jacob. Ia bergumam
dan tak mau memandangku. Aku mengejarnya sampai ke truk. "Tunggu!" aku berteriak memanggil saat Jacob
mengarah ke rumahnya. Ia berbalik menghadapku, dan kulihat tangannya gemetaran lagi.
"Pulanglah, Bella. Aku tak bisa berteman denganmu lagi" Kepedihan yang
kurasakan, meskipun sepertinya konyol dan tak penting, benar-benar kuat. Air
mata menggenangi mataku lagi. "Apakah kau... mencampakkan aku?" Kata-kata yang
keluar salah, tapi itulah cara terbaik yang bisa kupikirkan untuk bertanya
padanya. Bagaimanapun juga, apa yang Jake dan aku miliki lebih dari sekadar
cinta monyet. Ini lebih kuat daripada itu.
Ia tertawa pahit. "Tidak. Jika aku mencampakkanmu, aku akan bilang 'Kita lebih
baik berteman.' Tapi sekarang, aku bahkan tak bisa mengatakan itu."
"Jacob... kenapa Sam tidak membolehkanmu punya teman lain" Please, Jake. Kau
sudah janji. Aku membutuhkanmu!" Kehampaan hidupku sebelum ini - sebelum Jacob
membawa sedikit alasan untuk hidup lagi ke dalam hidupku - seakan bersiap
menghadangku. Kesepian mencekik tenggorokanku.
"Maafkan aku, Bella." Jacob mengucapkan setiap kata perlahan-lahan dengan suara
dingin yang sepertinya bukan miliknya.
Aku tak percaya itu yang sebenarnya ingin diucapkan Jacob. Sepertinya ada hal
lain yang berusaha ia katakan lewat sorot matanya yang marah, tapi aku tak bisa
memahami pesan itu. Mungkin ini sama sekali bukan tentang Sam. Mungkin ini juga tak ada hubungannya
dengan keluarga Cullen. Mungkin Jacob hanya berusaha keluar dari situasi yang
tak mungkin berubah, tak ada harapan. Mungkin seharusnya aku membiarkan ia
melakukan itu, jika itu yang terbaik untuknya. Aku harus melakukan itu. Itu hal
yang benar. Tapi aku mendengar suaraku berbisik.
"Aku minta maaf tak bisa... sebelum... kuharap aku bisa mengubah perasaanku
terhadapmu, Jacob." Aku putus asa, berusaha menggapai, mengulur kebenaran begitu
jauhnya hingga kata-kataku nyaris melengkung menjadi kebohongan.
"Mungkin... mungkin aku bisa berubah," aku berbisik. "Mungkin, kalau kau
memberiku sedikit waktu... Tapi jangan menyerah terhadapku sekarang, Jake. Aku
takkan bisa bertahan."
Wajahnya berubah dari marah menjadi sedih dalam sedetik. Satu tangannya yang
masih gemetaran terulur menggapaiku.
"Tidak. Jangan berpikir begitu, Bella, please. Jangan salahkan dirimu, jangan
pikir ini salahmu. Ini semua salahku. Sumpah, ini sama sekali bukan salahmu."
"Bukan salahmu, tapi salahku," aku berbisik. "Pasti sudah ada yang baru
untukmu." "Aku sungguh-sungguh, Bella. Aku tidak... " Jacob berjuang menyelesaikan
kalimatnya, suaranya semakin serak saat ia berusaha mengendalikan emosi. Sorot
matanya tersiksa. "Aku tidak cukup baik untuk menjadi temanmu lagi, atau apa
pun. Aku tidak seperti dulu lagi. Aku tidak baik."
"Apa?" Kupandangi dia, bingung dan heran. "Kau ini bicara apa" Kau jauh lebih
baik daripada aku, Jake. Kau baik! Siapa yang mengatakan kau tidak baik" Sam"
Itu kebohongan yang keji, Jacob! Jangan biarkan dia berkata begitu padamu!" aku
tiba-tiba berteriak lagi.
Wajah Jacob keras dan datar. "Tidak ada yang memberi tahuku. Aku tahu siapa
diriku." "Kau temanku, itulah kau! Jake-jangan!"
Jacob mundur menjauhiku. "Maafkan aku, Bella," katanya lagi; kali ini hanya berupa gumaman lirih. Ia
berbalik dan hampir-hampir berlari memasuki rumah.
Aku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri. Kupandangi rumah kecil itu;
tampaknya rumah itu terlalu kecil untuk menampung empat cowok berbadan besar dan
dua pria yang bahkan lebih besar lagi. Tidak ada reaksi apa pun di dalam. Tidak
ada kibasan pada tirai jendela, tidak ada suara-suara ataupun gerakan. Rumah itu
menatapku kosong. Hujan mulai turun rintik-rintik, menusuk kulitku di sana-sini. Aku tak mampu
mengalihkan pandangan dari rumah itu. Jacob akan keluar lagi. Pasti.
Hujan turun semakin deras, angin juga bertiup semakin kencang. Tetesan air tak
lagi jatuh dari atas; air hujan kini menyamping dari barat. Tercium olehku bau
garam dan lautan. Rambutku menampari wajah, menempel di bagian-bagian yang basah
dan menjerat bulu mataku. Aku menunggu.
Akhirnya pintu terbuka, dan dengan lega aku maju selangkah.
Billy menggelindingkan kursi rodanya ke ambang pintu. Aku tidak melihat siapa-
siapa di belakangnya. "Charlie baru saja menelepon, Bella. Kukatakan padanya kau sudah dalam
perjalanan pulang." Matanya menyorotkan rasa iba.
Sorot iba itulah yang menggerakkanku. Aku tidak berkomentar. Aku hanya berbalik
seperti robot dan naik ke truk. Aku tadi membiarkan kaca-kaca jendela terbuka,
jadi jok mobilku kan dan basah. Tidak apa-apa. Aku toh sudah kepalang basah
kuyup. Ini bukan apa-apa! Ini bukan apa-apa! pikiranku berusaha menghiburku. Itu benar.
Im memang bukan apa-apa. Ini bukan akhir dunia, tidak lagi. Ini hanyalah akhir
dari secuil kedamaian yang tertinggal. Hanya itu.
Ini bukan apa-apa, aku sependapat, lalu menambahkan, tapi ini cukup menyakitkan.
Kusangka selama ini Jake memulihkan lubang dalam diriku - atau setidaknya
menambalnya, menjaganya agar tidak terlalu menyakitiku. Ternyata aku salah.
Ternyata selama ini ia memahat lubangnya sendiri, sehingga sekarang hatiku
bolong-bolong seperti keju Swiss. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa aku
tidak hancur berkeping-keping.
Charlie sudah menunggu di teras. Begitu trukku berhenti, ia menghampiriku.
"Billy menelepon. Katanya kau bertengkar dengan Jake - katanya kau sangat
kalut," ia menjelaskan sambil membukakan pintu untukku.
Lalu ia memandang wajahku. Ekspresi mengenali yang penuh kengerian tergambar di
wajahnya. Aku berusaha merasakan wajahku dari dalam, untuk mencari tahu apa yang
dilihatnya. Wajahku kosong dan dingin, dan sadarlah aku wajahku ini mengingatkan
Charlie pada apa. "Kejadiannya tidak seperti itu," gumamku.
Charlie merangkulku dan membantuku turun dari truk. Ia tidak mengomentari bajuku
yang basah kuyup. "Kalau begitu apa yang terjadi?" tanyanya sesampainya di dalam. Ditariknya
selimut yang tersampir di punggung sofa dan dililitkannya di bahuku. Sadarlah
aku sekujur tubuhku masih gemetaran.
Suaraku hampa tak bernyawa. "Kata Sam Uley, Jacob tidak boleh berteman lagi
denganku." Charlie melayangkan pandangan aneh ke arahku. "Siapa yang bilang begitu?"
"Jacob," jawabku, meski tidak persis begitu yang ia katakan. Tapi itu tetap
benar. Alis Charlie bertaut. "Kau benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan pemuda
Uley ini?"

Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku yakin. Tapi Jacob tidak mau memberi tahu apa itu." Aku bisa mendengar air
menetes-netes dari bajuku ke lantai dan menciprat di linoleum. "Aku mau ganti
baju dulu." Charlie tenggelam dalam pikirannya. "Oke," sahutnya sambil lalu.
Aku memutuskan untuk mandi karena merasa sangat kedinginan, tapi air panas
ternyata tidak bisa memengaruhi suhu kulitku. Aku masih kedinginan ketika
akhirnya aku menyerah dan mematikan air. Dalam suasana yang mendadak hening, aku
bisa mendengar Charlie berbicara dengan seseorang di bawah. Aku membungkus
rubuhku dengan handuk, lalu membuka pintu kamar mandi secelah.
Suara Charlie terdengar marah. "Aku tidak percaya. Itu tidak masuk akal."
Kemudian suasana sepi, dan barulah aku sadar Charlie sedang berbicara di
telepon. Saru menit berlalu.
"Jangan menyalahkan Bella!" Charlie tiba-tiba berteriak. Aku terlonjak. Ketika
ia bicara lagi, suaranya hati-hati dan lebih rendah. "Selama ini Bella dengan
jelas menyatakan dia dan Jacob hanya berteman... Well, kalau memang begitu,
mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal" Tidak, Billy menurutku dia benar
dalam hal ini... Karena aku tahu bagaimana anak perempuanku, dan kalau
menurutnya Jacob ketakutan sebelum ini-" Charlie berhenti bicara, dan waktu
menjawab, ia nyaris berteriak lagi.
"Apa maksudmu aku tidak kenal anak perempuanku sebaik yang kukira!" Ia
mendengarkan sebentar, dan responsnya sangat pelan hingga nyaris tak bisa
kutangkap. "Kalau kaupikir aku akan mengingatkannya tentang hal itu, sebaiknya
kau berpikir lagi. Dia baru mulai bisa melupakannya, dan sebagian besar karena
Jacob, kurasa. Kalau apa pun yang dilakukan Jacob dengan si Sam ini membuat
Bella kembali terpuruk dalam depresi, maka Jacob harus berurusan denganku. Kau
memang temanku, Billy, tapi ini menyakiti keluargaku." Charlie kembali terdiam
saat Billy menjawab. "Kau benar - sekali saja anak-anak itu melanggar aturan, aku pasti akan tahu
mengenainya. Kami akan mengawasi situasi ini, kau boleh yakin akan hal itu." Ia
bukan lagi Charlie; sekarang ia Kepala Polisi Swan.
"Baik. Yeah. Bye." Telepon dibanting keras-keras.
Aku berjingkat-jingkat cepat melintasi lorong dan masuk ke kamarku. Charlie
menggerutu marah di dapur.
Jadi Billy hendak menyalahkan aku. Aku memberi harapan pada Jacob dan akhirnya
ia muak. Sungguh aneh, karena itu juga yang kutakutkan, tapi setelah mendengar perkataan
Jacob sore tadi, aku tidak percaya lagi bahwa itulah yang menjadi penyebabnya.
Ada hai lain selain cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan sungguh mengagetkan
bila Billy sampai harus menggunakan itu sebagai alasan. Itu membuatku berpikir
bahwa rahasia apa pun yang mereka simpan pastilah lebih besar daripada yang
selama ini kubayangkan. Setidaknya Charlie memihakku sekarang.
Aku memakai piama lalu merangkak naik ke tempat tidur. Hidup saat ini sudah
terasa cukup gelap hingga kubiarkan diriku melanggar janjiku sendiri. Lubang itu
- sekarang ada lebih dari satu lubang - toh sudah terasa menyakitkan, jadi
mengapa tidak" Kutarik keluar kenanganku -
bukan kenangan sesungguhnya yang pasti akan terlalu menyakiti, tapi kenangan
palsu tentang suara Edward dalam benakku sore tadi - dan memutarnya berulang
kali di kepalaku sampai aku tertidur dengan air mata masih menuruni wajahku yang
kosong. Mimpiku baru malam ini. Hujan turun dan Jacob berjalan tanpa suara di sampingku,
meski di bawah kakiku tanah yang kuinjak bergemeretak seperti kerikil kering.
Tapi ia bukan Jacob-ku; ia Jacob yang baru, masam, dan anggun. Gaya berjalannya
yang anggun dan mantap mengingatkanku pada seseorang yang lain, dan, saat
kuperhatikan, garis-garis wajahnya berubah. Kulitnya yang cokelat kemerahan
memudar, meninggalkan seraut wajah putih pucat bagai tulang. Matanya berubah
warna menjadi emas. kemudian merah, lalu emas lagi. Rambutnya yang dipangkas
pendek acak-acakan tertiup angin, berubah warna menjadi tembaga begitu angin
menyentuhnya. Dan wajahnya berubah sangat tampan hingga membuat hatiku hancur
berkeping-keping. Aku mengulurkan tangan ke arahnya, tapi ia mundur selangkah,
mengangkat kedua tangan seperti tameng. Kemudian Edward menghilang.
Aku tak yakin, waktu aku terbangun di kegelapan, apakah aku baru mulai menangis,
12. PENYUSUP KEDUA mataku membelalak ngeri, padahal aku sangat kelelahan dan bingung sampai-
sampai tak yakin apakah aku sudah bangun atau masih tidur.
Sesuatu menggaruk-garuk kaca jendelaku lagi dengan suara melengking tinggi yang
sama. Bingung dan kikuk karena mengantuk, aku tersaruk-saruk turun dari tempat tidur
dan melangkah ke jendela, mengerjap-ngerjapkan air mata yang masih menggenang di
mataku. Sosok hitam besar bergelantungan goyah di sisi luar kaca jendela, menerjang ke
arahku seperti hendak menabrak kaca. Aku terhuyung-huyung mundur, ngeri,
kerongkonganku tercekat hendak menjerit.
ataukah air mataku mengalir saat aku tidur dan terus mengalir sampai sekarang.
Kutatap langitlah kamar yang gelap. Aku bisa merasakan sekarang sudah tengah
malam - aku masih separo tertidur, mungkin malah masih tidur. Kupejamkan mataku
dengan letih, berdoa semoga tidurku tidak diganggu mimpi lagi.
Saat itulah aku mendengar suara yang membuatku terbangun tadi. Suara sesuatu
yang tajam menggesek permukaan jendela dan menimbulkan bunyi berderit yang
melengking tinggi, seperti suara kuku menggores kaca.
Victoria. Ia datang mencariku. Mati aku. Jangan Charlie juga! Kutelan lagi jeritan yang sudah menggumpal di tenggorokanku Aku tak boleh
bersuara. Entah bagaimana caranya. Pokoknya jangan sampai Charlie datang
memeriksa... Kemudian suara parau yang sudah sangat kukenal keluar dari sosok gelap itu.
"Bella!" sosok itu mendesis. "Aduh! Brengsek, buka jendelanya! ADUH!"
Butuh dua detik untuk mengenyahkan rasa takut sebelum aku bisa bergerak, tapi
kemudian aku bergegas ke jendela dan mendorong kacanya. Awan-awan diterangi
cahaya remang di baliknya cukup untuk membuatku bisa mengenal, sosok itu.
"Sedang apa kau?" aku terkesiap.
Jacob bergelayut goyah di pucuk tanaman yang tumbuh di tengah-tengah halaman
kecil Charlie. Bobot tubuhnya membuat pohon itu merunduk ke arah rumah dan
sekarang ia berayun - kalanya bergelantungan enam meter di atas tanah - tak
sampai semeter dariku. Ranting-ranting kurus di pucuk pohon menggaruk-garuk
dinding rumah lagi dengan suaranya yang berderit-derit.
"Aku mencoba menepati"-Jacob terengah-engah, memindahkan berat badannya saat
puncak pohon memantulkannya- janjiku!"
Aku mengerjapkan pandanganku yang kabur, mendadak yakin aku tengah bermimpi.
"Kapan kau pernah berjanji untuk bunuh diri dengan jatuh dari pohon Charlie?"
Jacob mendengus, menganggap gurauanku tidak lucu, mengayunkan kaki agar bisa
lebih seimbang. "Minggir," perintahnya.
"Apa?" Jacob mengayunkan kalanya lagi, ke belakang dan ke depan, meningkatkan momentum.
Sadarlah aku apa yang hendak dilakukannya.
"Jangan. Jake!"
Tapi aku merunduk juga ke samping, karena sudah terlambat. Sambil menggeram
Jacob menerjang ke jendela kamarku yang terbuka.
Jeritan lain siap terlontar dari kerongkonganku saat menunggu Jacob terjatuh dan
mati - atau paling tidak cedera membentur papan kayu. Tapi aku benar-benar shock
waktu ia dengan tangkas mengayun masuk ke dalam kamar, mendarat dengan tumit
mencium lantai dan suara berdebum pelan.
Tatapan kami otomatis mengarah ke pintu, menahan napas, menunggu apakah suara
tadi membangunkan Charlie. Kesunyian berlalu beberapa detik, kemudian kami
mendengar suara dengkur tertahan Charlie.
Cengiran lebar lambat-lambat merekah di wajah Jacob; tampaknya ia sangat puas
pada diri sendiri. Itu bukan cengiran seperti yang selama ini kukenal dan kusukai - tapi cengiran
baru, yang seolah mengejek keluguannya dulu, di wajah baru yang kini menjadi
milik Sam. Itu agak keterlaluan bagiku.
Aku menangisi cowok ini sampai ketiduran. Penolakan kasarnya tadi meninggalkan
lubang baru yang menyakitkan di dadaku. Ia meninggalkan mimpi buruk yang baru,
seperti infeksi pada luka - penghinaan setelah perlakuan buruk. Dan sekarang ia
datang ke kamarku, tersenyum mengejek seolah-olah semua itu tak pernah terjadi.
Dan lebih parahnya lagi, walaupun kedatangannya berisik dan canggung, ulahnya
mengingatkanku pada Edward ketika dulu ia
sering menyusup masuk lewat jendela malam-malam, dan kenangan itu semakin
memedihkan luka hatiku yang belum sembuh.
Semua ini, ditambah fakta bahwa aku sangat kelelahan, membuat suasana hatiku
jadi buruk. "Keluar!" desisku, sebisa mungkin membuat bisikanku terdengar ketus.
Jacob mengerjapkan mata, wajahnya berubah kosong karena terkejut.
"Tidak," protesnya. "Aku datang untuk meminta maaf."
"Aku tidak terima!"
Aku berusaha mendorongnya kembali ke luar jendela - bagaimanapun juga, kalau ini
mimpi, ia tidak akan cedera apa-apa. Tapi ternyata tak ada gunanya. Aku tak
sanggup menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Cepat-cepat kujatuhkan tanganku, lalu
mundur menjauhinya. Ia tidak mengenakan pakaian, walaupun angin yang bertiup masuk dari jendela
cukup dingin untuk membuatku gemetar, dan aku merasa tak nyaman memegang dadanya
yang telanjang. Kulitnya panas membara, seperti kepalanya waktu aku terakhir
kali menyentuhnya dulu. Seolah-olah ia masih demam tinggi.
Ia tidak kelihatan sakit. Ia terlihat besar. Jacob mencondongkan tubuh ke
arahku, besar sekali hingga menutupi jendela, bingung melihat reaksiku yang
sengit. Sekonyong-konyong aku tak sanggup menanggungnya lagi - rasanya seolah-olah semua
akibat dari kurang tidur yang kualami sekian lama menerjangku sekaligus. Aku
capek sekali hingga rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga. Tubuhku
limbung, dan aku berjuang keras menjaga mataku tetap terbuka.
"Bella?" bisik Jacob waswas. Diraihnya sikuku waktu aku limbung lagi, lalu
digiringnya aku ke tempat tidur. Kakiku lunglai begitu aku sampai di pinggir
tempat tidur, dan kujatuhkan kepalaku yang lemas ke kasur.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Jacob, perasaan waswas membuat keningnya
berkerut. Aku menengadah memandanginya, air mata di pipiku belum sepenuhnya kering.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, Jacob?"
Kesedihan menggantikan sebagian kepahitan di wajahnya.
"Benar," Jacob sependapat, lalu menghela napas dalam-dalam. "Brengsek. Well,
aku-aku minta maaf, Bella" Permintaan maaf itu tulus, tak diragukan lagi, meski
masih ada kerut-kerut marah di wajahnya.
"Mengapa kau datang ke sini" Aku tidak menginginkan permintaan maaf darimu,
Jake." "Aku tahu," bisiknya. "Tapi aku tak bisa membiarkan kita berpisah seperti sore
tadi. Benar-benar tidak menyenangkan. Maafkan aku."
Aku menggeleng letih. "Aku tidak mengerti sama sekali."
"Aku tahu. Aku ingin menjelaskan-" Mendadak Jacob berhenti bicara, mulutnya
ternganga, hampir seolah-olah ada sesuatu yang memutus aliran udaranya. Lalu ia
menghirup napas dalam-dalam.
"Tapi aku tak bisa menjelaskan," katanya, masih marah. "Kalau saja aku bisa."
Kubiarkan kepalaku jatuh ke tangan. Pertanyaanku terbenam oleh lenganku.
"Kenapa?" Jacob terdiam sesaat. Kuputar wajahku ke satu sisi-terlalu letih untuk
menegakkannya-untuk melihat ekspresinya. Wajahnya membuatku terkejut. Matanya
menyipit, giginya terkatup rapat, dahinya berkerut-kerut seolah sedang
mengerahkan segenap kekuatan.
"Ada apa?" tanyaku.
Jacob mengembuskan napas berat, dan aku sadar selama ini ia juga menahan napas.
"Aku tidak bisa melakukannya," gumamnya, frustrasi.
"Melakukan apa?"
Jacob mengabaikan pertanyaanku. "Dengar, Bella, pernahkah kau punya rahasia yang
tidak bisa kauceritakan pada siapa-siapa?"
Ia menatapku dengan sorot mengerti, dan
pikiranku langsung melompat ke keluarga Cullen.
Mudah-mudahan saja ekspresiku tidak terlihat bersalah.
"Sesuatu yang tidak bisa kauberitahukan pada Charlie, pada ibumu?" desaknya.
"Sesuatu yang bahkan tak bisa kaubicarakan denganku" Bahkan sekarang pun tidak?"
Aku merasakan tatapanku mengeras. Aku tidak menjawab pertanyaannya, meski tahu
ia akan mengartikan itu sebagai pembenaran.
"Bisakah kau mengerti bahwa... situasiku saat ini juga kurang-lebih sama?" Ia
kembali terbata-bata, seolah berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Terkadang
loyalitas menghalangimu melakukan hal yang kauinginkan. Terkadang kau tidak bisa
menceritakan rahasia itu karena tidak berhak menceritakannya."
Aku tak bisa membantah. Ia benar sekali - aku menyimpan rahasia yang tak berhak
kuceritakan, namun yang wajib kulindungi. Rahasia yang, tiba-tiba, seolah-olah
ia tahu mengenainya. Aku masih belum memahami hubungan antara rahasia ini dengan dia, atau Sam, atau
Billy. Apa hubungannya semua ini dengan mereka, apalagi sekarang keluarga Cullen
sudah pergi" "Aku tak tahu mengapa kau datang ke sini, Jacob, kalau tujuanmu hanya untuk
berteka-teki denganku, bukannya memberi jawaban."
"Maafkan aku" bisiknya. "Ini benar-benar membuatku frustrasi."
Beberapa saat kami berpandangan di kamar yang gelap, wajah kami sama-sama tidak
memiliki harapan. "Bagian yang paling menyakitiku," kata Jacob sekonyong-konyong, "adalah bahwa
kau sebenarnya sudah tahu. Aku sudah menceritakan semuanya padamu!"
"Apa maksudmu?"
Jacob terkesiap kaget, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku, wajahnya
berubah dari tidak memiliki harapan ke penuh semangat meluap-luap hanya dalam
hitungan detik. Ia menatap mataku berapi-api, wajahnya antusias dan penuh
semangat. Ia mengucapkan kata-kata itu tepat di mukaku; embusan napasnya sepanas
kulitnya. "Kurasa aku tahu bagaimana mengakalinya - karena sebenarnya kau sudah tahu,
Bella! Aku tidak boleh menceritakannya padamu, tapi lain halnya kalau kau bisa
menebaknya! Aku tidak bisa dibilang membocorkan rahasia!"
"Kau mau aku menebak" Menebak apa?"
"Rahasiaku! Kau pasti bisa - kau sudah tahu jawabannya!"
Aku mengerjap dua kali, mencoba menjernihkan pikiran. Aku lelah sekali. Tak satu
pun perkataan Jacob masuk akal bagiku.
Jacob melihat ekspresiku yang kosong, kemudian wajahnya kembali mengeras,
mengerahkan segenap kekuatan. "Tunggu, aku akan memberimu sedikit bantuan"
katanya. Apa pun yang coba ia lakukan, itu sangat sulit karena napasnya sampai
terengah-engah. "Bantuan?" tanyaku, berusaha mengikuti pembicaraannya.
Kelopak mataku terasa berat, tapi kupaksa mataku agar tetap terbuka.
"Yeah," ujarnya, napasnya berat. "Seperti petunjuk, misalnya."
Jacob merengkuh wajahku dengan tangannya yang besar dan kelewat panas,
memegangnya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Ditatapnya mataku dalam-dalam sementara ia berbisik, seolah-olah berusaha
memberi tahukan sesuatu di balik kata-kata yang ia ucapkan.
"Kau masih ingat waktu kita pertama kali bertemu - di tepi pantai di La Push?"
"Tentu saja masih."
"Ceritakan padaku mengenainya."
Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba berkonsentrasi. "Kau menanyakan
trukku... " Jacob mengangguk, mendorongku untuk melanjutkan. "Kita mengobrol tentang
Rabbit... " "Teruskan." "Kita berjalan-jalan di tepi pantai... " Pipiku mulai panas di bawah telapak
tangan Jacob saat pikiranku melayang ke hari itu, tapi Jacob tidak menyadarinya,
karena kulitnya sendiri panas. Waktu itu aku mengajaknya jalan-jalan,
menggodanya dengan maksud ingin menggali informasi darinya.
Jacob mengangguk, cemas menunggu kelanjutannya.
Suaraku nyaris tak terdengar. "Kau menceritakan kisah- kisah menyeramkan...
legenda suku Quileute."
Jacob memejamkan mata dan membukanya lagi. "Ya." Kata itu terucap dengan tegang,
bersungguh-sungguh, seolah-olah ia sedang berada di tepi sesuatu yang vital. Ia
berbicara lambat-lambat, setiap kata diucapkan dengan jelas. "Kau ingat apa yang
kuceritakan waktu itu?"


Dua Cinta New Moon Twilight Buku Ke 2 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bahkan dalam gelap, ia pasti bisa melihat perubahan rona wajahku. Bagaimana aku
bisa melupakannya" Tanpa menyadari apa yang ia lakukan, Jacob memberi tahu apa
yang perlu kuketahui hari itu - bahwa Edward adalah vampir.
Jacob menatapku dengan mata yang tahu terlalu banyak. "Pikirkan baik-baik"
katanya. "Ya, aku ingat," desahku.
Jacob menghela napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan perasaannya. "Apa
kau ingat semua cerita-" Ia tak mampu menyelesaikan pertanyaan. Mulutnya
ternganga seakan-akan sesuatu mengganjal kerongkongannya.
"Semua ceritanya?" tanyaku.
Jacob mengangguk bisu. Kepalaku seperti diaduk-aduk. Hanya satu cerita yang benar-benar penting. Aku
tahu Jacob juga menceritakan hal-hal lain, tapi aku tak bisa mengingat cerita
pendahuluannya yang tidak penting, apalagi otakku saat ini rasanya tumpul saking
lelahnya. Aku mulai menggeleng-gelengkan kepala.
Jacob mengerang dan melompat turun dari tempat tidur. Ia menekankan tinjunya ke
kening dan bernapas dengan cepat dan marah. "Kau sudah tahu, kau sudah tahu,"
gerutunya pada diri sendiri.
"Jake" Jake, please, aku lelah sekali. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Mungkin
besok... " Jacob menarik napas untuk menenangkan diri dan mengangguk. "Mungkin nanti kau
akan ingat. Kurasa aku mengerti mengapa kau hanya ingat satu cerita saja,"
imbuhnya dengan nada menyindir dan getir. "Kau keberatan, tidak, kalau aku
bertanya sesuatu tentang hal itu?" tanyanya, nadanya masih sinis. "Sudah sejak
lama aku ingin tahu."
"Tentang apa?" tanyaku waswas.
"Tentang cerita vampir yang kuceritakan padamu."
Kupandangi dia dengan sorot waspada, tak mampu menjawab. Tanpa menunggu
persetujuanku, Jacob tetap mengajukan pertanyaannya.
"Benarkah waktu itu kau memang tidak tahu?" tanyanya, suaranya berubah parau.
"Benarkah aku yang pertama kali memberi tahumu siapa dia sesungguhnya?"
Bagaimana ia bisa mengetahuinya" Mengapa ia memutuskan untuk percaya, mengapa
baru sekarang" Gigiku mengatup rapat. Kubalas tatapannya, tak berniat menjawab.
Jacob menyadarinya. "Kau mengerti kan, apa yang kumaksud dengan loyalitas?" gumamnya, suaranya
semakin parau. "Hal yang sama juga terjadi padaku, tapi lebih parah. Kau tak
bisa membayangkan betapa kuatnya aku terikat... "
Aku tidak suka itu-tidak suka melihatnya memejamkan mata seolah-olah kesakitan
saat mengatakan dirinya terikat tadi. Lebih dari sekadar tidak suka - aku sadar
bahwa aku benci, membenci apa pun yang menyakitinya. Sangat benci.
Wajah Sam memenuhi pikiranku.
Bagiku, ini semua intinya adalah sesuatu yang secara sukarela dilakukan. Aku
menjaga rahasia keluarga Cullen karena cinta: tidak berbalas, tapi sejati. Bagi
Jacob, tidak harus menjadi seperti itu.
"Apakah kau tak bisa membebaskan diri?" bisikku, menyentuh pinggiran kasar di
bagian belakang rambutnya yang pendek
Tangan Jacob mulai gemetar, tapi ia tidak membuka mata. "Tidak. Aku terikat di
dalamnya seumur hidup. Seperti hukuman penjara seumur hidup." Tawa sinis. "Lebih
lama daripada itu, mungkin."
"Tidak, Jake," erangku. "Bagaimana kalau kita kabur" Hanya kau dan aku.
Bagaimana kalau kita lari dari rumah, dan meninggalkan Sam?"
"Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kabur dari rumah, Bella," bisik
Jacob. "Aku mau saja kabur bersamamu, tapi... seandainya bisa." Bahunya kini
ikut gemetar. Ia menghela napas dalam-dalam. "Sudahlah, aku harus pergi."
"Kenapa?" "Pertama, sepertinya kau nyaris ambruk setiap saat. Kau butuh tidur - aku ingin
kau sehat dan bugar sehingga bisa berpikir jernih. Kau harus bisa
menyimpulkannya, kau harus bisa"
"Lalu kenapa lagi?"
Kening Jacob berkerut. "Aku harus menyelinap pergi diam-diam - seharusnya aku
tak boleh menemuimu. Mereka pasti bertanya-tanya di mana aku sekarang." Mulutnya
berkerut. "Kurasa aku harus tetap menceritakannya pada mereka."
"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa pada mereka" desisku.
"Bagaimanapun, aku akan tetap mengatakannya."
Amarah berkobar dalam dadaku. "Aku benci mereka!"
Jacob menatapku dengan mata membelalak lebar, terkejut. "Tidak, Bella. Jangan
benci mereka. Ini bukan salah Sam ataupun salah satu dari mereka. Seperti sudah
kukatakan padamu sebelumnya - ini salahku. Sesungguhnya Sam itu... Well, luar
biasa baik. Jared dan Paul juga baik, walaupun Paul agak sedikit... Dan Embry
temanku sejak dulu. Tidak ada yang berubah dalam hal itu-satu-satunya yang belum
berubah. Aku benar-benar merasa tak enak hati kalau ingat bagaimana dulu aku
punya pandangan jelek terhadap Sam... "
Sam luar biasa baik" Kupandangi Jacob dengan sikap tidak percaya, tapi tak
kutanggapi. "Kalau begitu, mengapa kau tidak boleh menemuiku?" tuntutku.
"Karena tidak aman," gumam Jacob, menunduk. Kata-katanya membuatku bergidik
ngeri. Jadi ia juga tahu itu" Tak ada orang lain yang tahu kecuali aku. Tapi ia
benar - sekarang ini tengah malam, waktu yang tepat untuk berburu. Jacob tak
seharusnya berada di kamarku. Kalau ada yang datang mencariku, aku harus
sendirian. "Kalau aku menganggapnya terlalu... terlalu berisiko," bisiknya, "aku tidak
mungkin datang. Tapi, Bella," ia menatapku lagi, "aku pernah berjanji padamu.
Aku tidak menyangka janji itu akan begitu sulit ditepati, tapi bukan berarti aku
tidak akan berusaha."
Jacob melihat ekspresi tak mengerti di wajahku.
"Setelah nonton film konyol waktu itu," ia mengingatkan aku. "Aku berjanji
padamu, aku tidak akan pernah menyakitimu... Aku benar-benar melanggar janjiku
sendiri sore tadi, ya?"
"Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, Jake. Tidak apa-apa."
"Trims, Bella." Jacob meraih tanganku. "Aku
akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan agar bisa berada di sisimu, sesuai
janjiku." Tiba-tiba ia nyengir. Bukan cengiranku, bukan cengiran Sam, tapi
kombinasi aneh keduanya. "Akan sangat membantu bila kau bisa menyimpulkannya
sendiri, Bella. Cobalah untuk benar-benar berusaha."
Aku meringis lemah. "Akan kucoba."
"Dan aku akan berusaha menemuimu lagi
nanti," Jacob mendesah. "Dan mereka pasti akan berusaha mencegahku
melakukannya." "Jangan dengarkan mereka."
"Akan kucoba," Jacob menggeleng, seolah meragukan dirinya sendiri. "Begitu kau
bisa menebaknya, segeralah datang dan beritahu aku." Mendadak ia teringat
sesuatu, sesuatu yang membuat kedua tangannya gemetar. "Kalau kau... kalau kau
masih mau menemuiku."
"Mengapa aku tidak mau menemuimu?"
Wajah Jacob berubah keras dan pahit, wajah yang seratus persen milik Sam. "Oh,
ada saja alasannya, pasti" tukasnya kasar. "Dengar, aku benar-benar harus pergi.
Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"
Aku hanya mengangguk, takut melihat perubahan dalam dirinya.
"Paling tidak telepon aku - kalau kau tidak mau menemuiku lagi. Beritahu aku
kalau memang begitu."
"Itu tidak akan terjadi-"
Jacob mengangkat sebelah tangan, menghentikan kata-kataku. "Pokoknya beritahu
aku." Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
"Jangan tolol, Jake," tukasku. "Bisa-bisa kakimu patah nanti. Lewat pintu saja.
Charlie tidak akan memergokimu."
"Aku tidak akan kenapa-kenapa," tukasnya, tapi berbalik menuju pintu juga. Ia
ragu-ragu waktu melewatiku, menatapku dengan ekspresi seolah-olah sesuatu
menusuknya. Ia mengulurkan sebelah tangan, memohon.
Aku menerima uluran tangannya, dan tiba-tiba ia menyentakku - kasar sekali -
hingga aku tertarik turun dari tempat tidur dan menabrak dadanya.
"Siapa tahu aku tak bisa bertemu lagi denganmu," bisiknya di rambutku, memelukku
sangat erat hingga tulang-tulangku terasa seperti mau remuk.
"Tidak bisa - bernapas!" aku megap-megap.
Jacob langsung melepas pelukannya, sebelah tangannya memegang pinggangku agar
aku tidak terjatuh. Ia mendorongku, kali ini lebih lembut, kembali ke tempat
tidur. "Tidurlah, Bella. Kau harus bisa berpikir jernih. Aku tahu kau pasti bisa
melakukannya. Aku ingin kau mengerti. Aku tak ingin kehilangan kau, Bella. Tidak
karena masalah ini."
Jacob mencapai pintu hanya dalam sekali melangkah, membukanya pelan-pelan,
kemudian lenyap di baliknya. Aku mencoba mendengar suara langkah-langkah kakinya
menuruni tangga, tapi tidak terdengar apa-apa.
Aku berbaring lagi di tempat tidur, benakku berputar. Aku terlalu bingung,
terlalu letih. Kupejamkan mata, berusaha mencerna semuanya, tapi detik
berikutnya ketidaksadaran menelanku begitu cepat hingga terasa membingungkan.
Bukan tidur damai tanpa mimpi seperti dambaanku yang kudapatkan-tentu saja
bukan. Lagi-lagi aku melihat diriku di hutan, dan mulai berkeliaran seperti yang
selalu kulakukan. Dengan cepat aku menyadari ini bukan mimpi yang sama seperti biasa. Pertama,
karena aku tidak merasakan dorongan untuk berjalan tak tentu arah atau melakukan
pencarian; aku hanya sekadar berkeliaran karena kebiasaan, karena memang itulah
yang biasanya kulakukan di sini. Sebenarnya, ini bahkan bukan hutan yang sama.
Aromanya berbeda, begitu juga cahayanya. Hutan ini tidak berbau tanah lembab,
melainkan berbau asin air laut. Aku tak bisa melihat langit; meski begitu,
matahari pasti bersinar-dedaunan di atasku berwarna hijau zambrud.
Ini hutan di sekitar La Push-dekat pantai di sana, aku yakin. Aku tahu bila aku
menemukan pantai, aku pasti bisa melihat matahari. Maka aku mempercepat langkah,
mengikuti suara debur ombak yang samar-samar terdengar di kejauhan.
Dan mendadak muncul Jacob, Ia menyambar tanganku, menarikku kembali ke bagian
hutan paling gelap. "Jacob, ada apa?" tanyaku. Wajahnya ketakutan seperti anak kecil, dan rambutnya
kembali indah, diikat ke belakang membentuk ekor kuda yang tergerai di pangkal
leher. Ia menarikku sekuat tenaga, tapi aku menolak; aku tak ingin masuk ke
kegelapan. "Lari, Bella, kau harus lari!" bisiknya, ketakutan.
Serbuan gelombang deja vu yang sekonyong-konyong datang begitu kuat hingga
nyaris membangunkanku. Sekarang aku tahu mengapa aku mengenali tempat ini. Karena aku pernah berada di
sana sebelumnya, di mimpi yang lain. Sejuta tahun yang lalu, bagian dari
kehidupan yang sama sekali berbeda. Ini mimpi yang pernah kudapat pada malam
setelah aku berjalan-jalan dengan Jacob di pantai, malam pertama aku tahu Edward
itu vampir. Mengenang kembali hari itu bersama Jacob pastilah yang memicu
timbulnya mimpi ini dari kenanganku yang terkubur.
Terpisah dari mimpi itu sekarang, aku menunggu mimpi itu berlanjut. Cahaya
menghampiriku dari pantai. Beberapa saat lagi Edward akan keluar dari pepohonan,
kulitnya berkilau redup, matanya hitam dan berbahaya. Ia akan melambai ke
arahku, dan tersenyum. Wajahnya setampan malaikat, giginya runcing-runcing dan
tajam... Tapi aku terlampau cepat. Ada hal lain yang harusnya terjadi lebih dulu.
Jacob menjatuhkan tanganku dan menjerit.
Gemetar dan mengentak-entak, ia terjatuh ke tanah dekat kakiku.
"Jacob!" jeritku, tapi ia sudah lenyap.
Sebagai gantinya kini tampak serigala berbulu merah-cokelat dengan mata gelap
dan cerdas. Mimpiku melenceng jauh, seperti kereta api yang keluar dari rel.
Ini bukan serigala yang sama seperti yang pernah kuimpikan di kehidupan lain.
Ini serigala besar berbulu cokelat kemerahan yang berdiri dekat sekali denganku
di padang rumput, seminggu yang lalu. Serigala raksasa yang sangat besar, lebih
besar daripada beruang. Serigala itu menatapku saksama, berusaha menyampaikan sesuatu yang penting
dengan matanya yang cerdas. Mata hitam-cokelat yang familier, seperti mata Jacob
Black. Aku terbangun sambil menjerit sekeras-kerasnya. Aku nyaris berharap
Charlie akan datang untuk mengecek keadaanku kali ini. Ini bukan jeritanku yang
biasa. Kubenamkan kepalaku di bantal dan berusaha meredam jeritan histeris yang hendak
keluar dari kerongkonganku. Kutekan bantal kuat-kuat ke wajahku, bertanya-tanya
dalam hati apakah aku juga bisa membungkam fakta yang baru saja berhasil
kuhubungkan. Tapi Charlie tidak datang, dan akhirnya aku bisa juga meredam jeritan aneh yang
keluar dari tenggorokanku.
Aku ingat semuanya sekarang - setiap kata yang keluar dari mulut Jacob pada hari
itu di pantai, bahkan bagian sebelum ia sampai ke cerita tentang para vampir,
atau "yang berdarah dingin" menurut istilahnya. Terutama bagian pertama.
"Apakah kau tahu tentang legenda kamu tentang asal-muasal kami - maksudku suku
Quikute?" tanyanya. "Tidak juga," aku mengakui.
"Well ada banyak legenda, sebagian bahkan dipercaya sudah ada sejak Zaman Air
Bah-konon, suku Quileute kuno mengikat kano mereka di pucuk-pucuk pohon
tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat, seperti Nabi Nuh dan bahteranya!" Ia
tersenyum, untuk menunjukkan ia sendiri tidak begitu memercayai cerita-cerita
sejarah. "Legenda lain mengatakan kami keturunan serigala - dan bahwa sampai
sekarang serigala masih berkerabat dengan kami. Hukum adat melarang kami
membunuh mereka. "Lalu ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin." Suara Jacob terdengar
sedikit lebih rendah. "Yang berdarah dingin?"
"Ya. Ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin, cerita-cerita itu sama
tuanya dengan legenda serigala, dan ada juga yang masih cukup baru. Menurut
legenda, kakek buyutku sendiri mengenal sebagian dari mereka. Dialah yang
membuat kesepakatan untuk menghalau mereka dari tanah kami." Jacob memutar bola
matanya. "Kakek buyutmu?"
"Beliau itu tetua suku, seperti ayahku. Begini, yang berdarah dingin itu musuh
alami serigala - Well, bukan serigala sungguhan, tapi serigala yang menjelma
menjadi manusia, seperti leluhur kami. Kau bisa menyebutnya werewolf."
"Werewolf punya musuh?"
"Hanya satu." Sesuatu menyumbat kerongkonganku, mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi
benda itu tersangkut di sana. tak bergerak. Aku berusaha meludahkannya.
"Werewolf," aku terkesiap.
Ya, kata itulah yang tadi menyumbat
tenggorokanku. Dunia seolah jungkir balik, miring pada porosnya.
Tempat macam apakah ini" Benarkah ada dunia di mana legenda-legenda kuno
Tantangan Mesra 1 Pendekar Budiman Hwa I Eng-hiong Karya Kho Ping Hoo Pendekar Jembel 1
^