Pencarian

Pesan Misterius Di Water 3

Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh Bagian 3


untuk memotong kepalanya. Mereka sedang berada di mobil menuju Shark's Tooth
Inn. Mereka menuruni bukit dan jalan desa belum pernah tampak begitu indah bagi
Harriet . "Wow! Beth Ellen pasti akan kaget!"
"Aku yakin itu," kata Nyonya Welsch. "Tapi, apakah dia akan sangat senang dengan
mata kecilmu yang mengawasi setiap gerakannya?"
"Oh, Ibu." Harriet tertawa. Tidak ada yang bisa merusak suasana hatinya. Hotel
itu tampak di hadapan mereka. Harriet menahan napasnya dengan sangat gembira,
lalu mengembuskan napas keras-keras saat mereka melalui gerbang. "Ya Tuhan, itu
Norman!" dia berteriak.
"Apa, apa?" kata ibunya, hampir saja menabrak seorang anak laki-laki gemuk yang
melambai-lambai menuntun mereka ke tempat parkir.
"Nggak apa-apa," kata Harriet . "Aku hanya kenal anak itu."
"Yah, kalaupun kamu kenal, mestikah kamu berteriak begitu keras"
Dan jangan terlalu histeris."
Harriet tidak menjawab karena dia terlalu sibuk mengamati Norman. Anak itu
menyerahkan sebuah karcis merah pada Nyonya Welsch dan menyelipkan bagian
sisanya di bawah batang penyeka kaca mobil.
"Memang kamu bisa menyetir?" tanya Harriet langsung.
Norman membalikkan badannya memunggungi Harriet dan berjalan dengan penting
menuju kursinya. "Yah, ayo masuk," kata Nyonya Welsch, yang tidak melihat apa yang terjadi. "Ayo
kita lihat apa yang begitu menarik."
Mereka berjalan menaiki beranda. Wajah Harriet bersinar penuh kemenangan. Dia
meluncur menuju pintu seperti kapal Oueen Mary yang sedang merapat ke dermaga.
Mereka berjalan menuju ruang utama yang sekarang sangat terang dan meriah, dan
masuk kebar, yang terasa sejuk di bawah sinar matahari sore. Bunny sedang duduk
di depan piano. Dia mengangguk, mengucapkan halo pada Nyonya Welsch, lalu duduk
dan mulai bermain. Nyonya Welsch memilih sebuah meja dekat jendela. Harriet mengawasi segalanya
dengan cermat. Tidak ada orang lain di bar, kecuali bartender.
"Di mana orang-orang?" tanya Harriet pada ibunya.
"Itu pertanyaan bagus," kata Bunny di sela-sela musiknya. Dia tersenyum pada
mereka. "Sekarang masih sore. Mereka akan datang, datang, semuanya akan datang
sebentar lagi." "Duduklah, Sayang," kata ibunya. Harriet duduk tegak, memutarkan lehernya
berkeliling dengan senang. Dia melihat Bunny yang sedang menatap ibunya dengan
pandangan kagum, jadi dia juga menoleh dan menatap ibunya. Nyonya Welsch
mengenakan baju musim panas berwarna hijau limau, tampak sangat tinggi dan
langsing, yang membuat kulitnya tampak sangat cokelat. Ibuku, pikir Harriet ,
cantik. Dia tidak tampak seperti Zeeney, tapi dia cantik dengan cara lain. Dia
tidak tampak seperti siap untuk menggigitmu, tidak seperti Zeeney. Dia memandang
bajunya sendiri yang berwarna kuning katun dengan mantel kuning yang serasi di
luarnya. Aku juga tampak lumayan, pikirnya.
Terdengar suara benturan keras dan belakang, diikuti oleh suara
"ssst", dan Bunny membelalakkan matanya ke langit-langit. Seorang pelayan
muncul, "Tolong, anggur putih dan Coca-Cola." Pelayan pria itu pergi. Harriet
terus-menerus melihat ke sekelilingnya. Jadi inilah bar, pikirnya. Dia belum
pernah pergi ke bar. Ibu Bunny masuk ke bar dan bersandar pada tongkatnya. Dia berkata "Selamat sore"
pada Bunny. Bunny membuang muka seolah-olah baru saja dihina. Wanita itu
berjalan tertatih-tatih menuju bar dan duduk di sebuah kursi. Moo-Moo berjalan
di belakangnya, lalu menghampiri Bunny dan berbaring di kakinya.
Bunny mulai menyanyi. Dia bernyanyi seperti kodok. Sebersit senyum kecil terus-
menerus menghiasi tepi mulutnya dan kelopak matanya yang berat menutup seperti
orang mengantuk dan genit.
Mengapa Beth Ellen berpikir orang ini begitu hebat" Harriet bertanya pada
dirinya sendiri. Dia tidak saja bernyanyi seperti kodok, dia juga tampak seperti
kodok. "Permainannya bagus, ya?" tanya ibunya.
Harriet baru saja siap untuk menjawab ketika dia melihat hal paling mengejutkan.
Dia melihat Jessie Mae sedang berdiri di tengah-tengah ruang makan.
Rasanya seperti melihat hantu karena Jessie Mae hanya sedetik berada di sana,
kemudian hanya tampak taplak meja putih dan sandaran kursi. Harriet
menggelengkan kepalanya. Harriet berpikir, apakah aku memimpikannya" Tentu saja
tidak. Apa yang dia kerjakan di situ"
Pada saat berikutnya, mereka mendengar seruan dari luar. Harriet berdiri di atas
tangga kayu yang merapat ke dinding dan melihat ke luar jendela. Jessie Mae
sedang berusaha menyeret Norman dari sebuah kursi yang dipegang Norman erat-
erat. "HARRIET !" Ibunya terkejut dan hampir menarik lengannya sampai putus. "Duduk
sekarang juga. Kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan?"
Norman menang. Dia meninju mata Jessie Mae.
"HARRIET !" Harriet duduk. "Aku belum pernah melihat sikap seperti ini. Kalau kamu mau datang ke tempat
seperti ini, kamu sudah jelas harus bersikap lebih baik!" Bunny tampak sedang
menertawakan Harriet . Dia memainkan piano keras sekali. Harriet duduk sambil
berpikir. Jika Jessie Mae dan Norman ada disini sepanjang waktu, berarti dia
harus mengubah sama sekali pikiran-pikirannya tentang pesan-pesan itu.
Teriakan "ALANGKAH MANISNYA!" dan "betapa semuanya tampak MENYENANGKAN!" dan
"BUNNY!" datang dari ruang utama.
"AGATHA!" jerit Bunny. Sambil menghentikan permainannya di tengah-tengah sebuah
not, dia meloncat berdiri dan berjalan mengitari piano untuk bertabrakan dengan
sosok yang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang bergoyang-goyang cepat.
"Itu dia Nyonya Plumber!" kata Harriet senang. "Bagaimana kamu bisa tahu" "
tanya ibunya, sekarang tampak benar-benar terkejut.
"Bunny, SAYANG! Beri Mama ciuman! HalllOOOOOOooooo, semuanya, penemu kalian ada
di sini!" Agatha Plumber bergegas menuju bar diikuti Bunny yang meloncat-loncat
di belakangnya seperti serigala pemburu bertubuh gemuk.
Di tengah semua itu, pelayan mereka datang, dan Harriet hampir saja menabrak
ibunya karena berusaha mengintip melalui jaket merahnya. Dia melihat Agatha
Plumber memberi ciuman nyaring pada Bunny, kemudian pada ibu Bunny, dan
hampirmemberikan satu ciuman pada bartender sebelum dia sadar siapa pria itu.
"Harriet , ayo duduk diam, dan jangan menatap seperti itu," kata Nyonya Welsch.
"Bunny, SAYANG! Jadi BAGAIMANA, semuanya berjalan?" teriak Agatha Plumber,
melemparkan tangannya dan hampir saja mengenai hidung si bartender.
"Luar biasa, Sayang, luar biasa," kata Bunny sungguh-sungguh.
"Semuanya terkendali. Ya, ya, semuanya baik, oh, ya, oh Tuhan."
"Dan apakah kamu pergi ke kebaktian, Sayang?"
"Oh, ya, oh Sayang, ya, setiap hari, setiap hari."
"Dan apakah menurutmu Agatha kecil yang konyol bisa menjalankan klub sebaik
istri tercintamu?" tanya Agatha tajam.
"Oh, Sayang, oh, ya, oh Tuhan, oh, Agatha, Sayang, aku tidak bermaksud untuk
mengatakan ..." "Mainkan sebuah lagu untuk kami, Bunny Sayang, TOLONG!" kata Agatha, kembali
bercicit dan mulai memutar-mutarkan lengannya seolah-olah itu kaki yang sedang
menari. Bunny bergegas menghampiri piano. Si bartender menarik salah satu lengannya saat
dia terlalu dekat. Bunny mulai bermain. Agatha mulai bernyanyi dengan suara
rengekan yang lirih, selalu lebih rendah setengah nada.
Alangkah tololnya wanita itu, pikir Harriet .
"Ya ampun," kata Nyonya Welsch. Dia menoleh pada Harriet .
Wajahnya menampakkan senyum bingung dan agak sinis. "Apakah menurutmu kamu sudah
hampir puas, Sayang?"
"Beth Ellen belum ada di sini, Ibu," kata Harriet tidak sabar.
"Tapi, apakah kamu menikmati ini" " tanya ibunya dengan heran, seolah-olah dia
sama sekali tidak. "Oh, ya!" kata Harriet , matanya bersinar-sinar. Ibunya tertawa.
"Mereka ADA di mana?" kata Agatha keras-keras, melihat pada arloji di
pergelangannya yang sebesar bola mata.
Harriet merasakan ibunya menegang dan duduk tegak. Harriet memandang Nyonya
Welsch dan melihat bahwa ibunya sedang memandang ke arah pintu. Harriet
mengikuti pandangan itu. Di sana berdiri Zeeney, bersandar ke pintu seperti tanaman yang tidak disiram.
Dia seperti menjelma menjadi gambar warna putih yang membentuk pakaiannya.
"ZEENEY!" teriak Bunny.
"BUNNY!" teriak Zeeney.
Mereka bergegas saling menghampiri seperti dua orang gladiator.
Saat Bunny hampir menabraknya, Zeeney mengulurkan lengannya yang kaku dan Bunny
jatuh ke pelukannya seolah-olah dia berjalan menuju meteran parkir.
Harriet berpikir, apa yang mereka lakukan" Mereka baru saja bertemu kemarin. Dia
melihat ibunya dari sudut matanya dan terkejut melihat ibunya yang sama
tertariknya dengan dia. "SAYANG!" Zeeney mengumpat.
"MANISKU !" seru Bunny dan menjulurkan kepalanya seperti seekor kura-kura yang
berusaha menyentuh wajahnya. Karena tidak berhasil, dia hanya mencium udara di
sekitar kepala Zeeney. "ZEENEY!" jerit Agatha dan berjalan cepat-cepat melintasi bar dengan gaya slebor
seperti pemabuk yang merupakan gaya berjalannya.
"AGATHA!" jerit Zeeney dan mereka saling bertubrukan, masing-masing memegang
yang lain pada jarak satu lengan.
Wallace muncul di ambang pintu sambil memegang tangan Beth Ellen yang sudah
berubah. Tubuhnya kaku dengan baju putihnya, wajahnya tampak lebih kurus dan
dikelilingi oleh rambutnya yang lurus.
"Hep," kata Wallace.
"WALLACE !" teriak Agatha dan melemparkan dirinya ke dada Wallace.
"WALLACE!" teriak Bunny dan menjabat tangannya naik turun.
"Hep," kata Wallace.
"Dan apa ini?" kata Agatha, melihat ke arah Beth Ellen.
Harriet tersenyum liar. "BETH ELLEN!" teriaknya dan melompat melintasi ruangan dengan tangan terulur.
Dia memeluk Beth Ellen yang ketakutan. Beth Ellen mendorongnya dan melompat ke
belakang. Dengan kecewa, Harriet berdiri di tengah-tengah kelompok itu.
Semua orang memandangnya. Dia merasa seperti minuman tumpah.
"OO," kata Agatha yang jelas-jelas sebal, "malam ini malam pertunjukan anak-
anak." "HARRIET!" kata Nyonya Welsch keras. Semua orang kemudian menatapnya.
"Hai Beth Ellen," kata Harriet dengan kalem, memutuskan untuk menyelamatkan
suasana dengan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Hai," bisik Beth
Ellen dan mundur kembali.
"Harriet, kemari," kata Nyonya Welsch. Harriet berbalik dengan ragu-ragu setelah
menunggu sesaat untuk melihat kalau-kalau seseorang akan memperkenalkannya.
Tidak ada seorang pun yang melakukannya.
"Ini salah seorang teman kecilmu?" tanya Zeeney pada Beth Ellen.
"SEMUA KE BAR," kata Agatha keras, dan sambil meraih Wallace, dia menariknya
kuat-kuat ke sebuah kursi bar.
Zeeney sudah memutuskan untuk berperan sebagai "ibu". Ketika Beth Ellen
mengangguk, dia berkata pada Harriet , "Siapa namamu, Sayang?"
"HARRIET M. WELSCH," kata Harriet keras.
"Harriet, kemari," kata Nyonya Welsch lagi.
"Welsch?" Zeeney tampak bingung.
"Ya. WELSCH ," kata Harriet , lebih keras lagi. Beth Ellen tampak seolah-olah
dia ingin mati. "Welsch ... apakah kamu anak Rodger Welsch?" Zeeney membungkuk ke depan.
"HARRIET !" kata Nyonya Welsch dengan nada pendek yang Harriet tahu tidak boleh
dibantah. Meskipun begitu, kali ini Harriet terlalu bersemangat untuk tidak
melakukan apa pun selain menatap Zeeney.
"Ya!" ujarnya bangga.
"Wah, bukankah ini hal yang paling menyenangkan! Anak.
Perempuan Rodger setelah selama ini!" Zeeney menatap Harriet lekat-lekat dan
menelitinya untuk melihat tanda kemiripan yang mungkin diturunkan dari ayahnya.
"Hmmm," ujarnya penuh keraguan, "kamu sama sekali tidak mirip dia. Apakah kamu
yakin?" ujarnya samar. Beth Ellen tampak hampir mati.
"TENTU SAJA aku yakin!" teriak Harriet .
"Harriet !" suara Nyonya Welsch memburu.
"Dan ini-" Zeeney melintasi ruangan dengan satu langkah putih-"ini pasti
ibumu'." Dia mengulurkan tangan pada Nyonya Welsch. "Aku senang sekali bertemu
Anda. Aku selalu ingin tahu siapa yang dinikahi Rodger."
"Oh, ya?" kata Nyonya Welsch dan karena alasan tertentu menatap Harriet seolah-
olah dia ingin melepaskan anggota tubuhnya satu per satu.
Harriet memandang Beth Ellen. Dia melihat Beth Ellen menggendong Moo-Moo dan
membawanya keluar ke ruang tengah.
"Maaf sekal!." kata Zeeney, memperlihatkan sebarisan gigi putih.
"Aku Zeeney Baines. Dulu aku Zeeney Hansen. Rodger dan aku dulu sering bermain
tenis bersama. Kami belum pernah bertemu lagi sejak kami berumur lima belas. Dia
tidak pernah menceritakan tentang aku?"
Nyonya Welsch tampak kalem. "Aku kenal anakmu cukup baik,"
ujarnya ramah, "dan tentu saja, ibumu."
"Mmmm" kata Zeeney, "Rodger nakal. Bahkan, tidak bercerita tentang aku ... HARI-
HARI yang menakjubkan itu ... betapa masih ANAK-ANAK-nya kami ... oh, betapa
menyedihkan semuanya ... Les histoires d'enfance (cerita masa kanak-kanak)
Mata Harriet membesar. Dia memerhatikan mata ibunya yang menyipit.
Zeeney tampak berhasil memulihkan dirinya. "Anda belum ada, bukan begitu,
Sayang" Sepertinya saya tidak bisa mengingat Anda ...
Apakah Anda di sana ... di sekitar klub, maksudku?"
"Oh, ya," kata Nyonya Welsch manis, "tapi saya jauh lebih muda, tentunya."
"Tentu saja," desis Zeeney di antara giginya dan meninggalkan meja. Sambil
berjalan, dia berkata keras bahkan tanpa menoleh ke belakang, "Senang sekali
bertemu Anda. Aku titip ciuman BESAR untuk Rodger," lalu dia melangkah ke bar.
Harriet berdiri mematung. Nyonya Welsch melihat Zeeney dengan senyum geli.
Sepertinya ia melupakan Harriet, dan berkata, "Jadi itu Zeeney Hansen," lalu dia
tertawa, melihat berkeliling dan melihat Harriet .
"Apa" Apa, apa" Apa yang terjadi?" kata Harriet, bahkan tanpa duduk. "Tadi itu
apa" Tadi itu tentang apa" Apa hubungan dia dengan Ayah" Kenapa dia bicara
seperti itu" Kenapa Ibu bicara seperti itu padanya" Ada apa sebenarnya?"
"Duduklah, Harriet ," kata Nyonya Welsch, suaranya tajam. Harriet duduk. Matanya
begitu lebar. Dia merasa agak terguncang setelah melihat sedikit masa lalu
ayahnya. Nyonya Welsch melambai pada pelayan untuk tambahan minuman.
"Kamu mau Coca-Cola lagi?" tanya pelayan itu lembut pada Harriet.
"Tidak," kata Harriet .
"Tidak, terima kasih." Ibunya mengoreksi.
"Tidak, terima kasih," kata Harriet dan terus menatap pada ibunya.
Nyonya Welsch menoleh dan memandangnya. "Harriet," ujarnya, dan menghela napas
sedikit. "Zeeney Hansen dan ayahmu dulu sering bermain tenis bersama-sama ketika
mereka berumur lima belas. Apakah itu menjawab rentetan besar pertanyaan tadi?"
"Nggak," kata Harriet . "SIALAN."
"Yah," kata ibunya, "Ibu tidak tahu apa maksudmu dengan 'sialan', tapi hanya itu
yang perlu diketahui tentang itu."
"Tapi, caranya berbicara ... dan cara Ibu berbicara ..." Harriet merasa sangat
frustrasi. Dia tahu bahwa dia benar dan bahwa ibunya hanya tidak mau
menceritakannya. Inilah salah satu hal, pikirnya, yang benar-benar aku benci
tentang orang dewasa. Dia tahu aku benar dan dia tetap tidak mau menceritakannya
padaku ... Harriet lupa segalanya - Beth Ellen, pesan-pesan, Jessie Mae, semuanya,
kecuali ini. "Ibu ..." dia mulai merajuk.
"Cukup, Harriet . Kamu tidak harus mendramatisir semua hal."
Nyonya Welsch melihat pada Zeeney dan teman-temannya yang ramai dengan pandangan
terganggu. "Aku nggak begitu!" teriak Harriet . "Aku melihat sikapnya dan sikap ibu dan aku
mau tahu semuanya!" "Jangan meninggikan suaramu, "ujar ibunya melamun. Lalu, dengan nada yang sangat
berbeda, "Sayang?"
"Apa?" kata Harriet .
"Apakah kamu benar-benar ingin tinggal di sini untuk makan malam?"
Harriet merasa seperti sedang berlari ke tiga arah. Makan malam tiba-tiba
menjadi hal sepele dibandingkan dengan pengetahuan mengenai masa lalu kelam
ayahnya. "Ya, aku mau, tapi aku juga mau tahu soal ini."


Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dia sadar dia sudah kelewatan dengan melakukan hal ini.
"Yah, lupakan soal itu, atau kita tidak akan melakukan keduanya,"
kata ibunya. Pelayan itu muncul.
Harriet memerhatikan lengan merah itu menurunkan minuman ibunya. Aku bisa
bertanya pada ayah, pikirnya. Dunia berubah menjadi berbunga-bunga dengan
pikiran ini dan dia mulai memikirkan tentang makan malam. Mereka akan tinggal!
Dia bisa memerhatikan mereka semua saat makan malam! Ibunya memesan meja.
Pelayan itu pergi. "Bisakah kita mendapat meja di sebelah mereka?" tanya Harriet .
"Sayang ... " sahut ibunya, lalu tertawa. Dia memandangi Harriet dan tertawa
lagi, tawa yang ramah, seolah-olah dia baru saja kenal Harriet dan menyukainya.
"Kamu tidak bisa mendapatkan semuanya, Sayang" - Nyonya Welsch merapikan rambut
Harriet - "atau, apakah kamu akan pernah mengetahuinya?" Tawanya berubah menjadi
senyuman yang sedih dan manis. "Kita akan tinggal untuk makan malam," dia
mengingatkan Harriet dan tertawa lagi. Harriet tertawa bersamanya. Nyonya Welsch
melihat berkeliling ke dalam ruangan itu. "Bagaimana kalau kamu ajak Beth Ellen
untuk duduk bersama kita di sini dan minum Cola-Cola sebelum makan malam. Mereka
sepertinya tidak terlalu memerhatikan dia."
"Oke," kata Harriet dan pergi ke luar untuk mencari Beth Ellen. Bunny memainkan
sebuah lagu yang liar dan mulai mengentakkan kaki dengan liar. Semakin banyak
orang masuk. Bar itu menjadi ramai. Ketika Harriet akhirnya menemukan Beth
Ellen, dia sedang duduk di tangga beranda, asyik mengobrol dengan Jessie Mae.
20 Keributan di Shark's Tooth Inn
Mata Harriet menyipit. Dia menutup pintu kasa beranda dengan perlahan tanpa
melangkah keluar. Beth Ellen sedang bicara serius dengan Jessie Mae. Harriet
berpikir, apa yang sedang dia bicarakan, dan kenapa dia tidak bicara seperti itu
padaku" Dia hampir-hampir tidak bicara padaku.
Jessie Mae mulai berbicara sekarang, cepat-cepat, seolah-olah dia terpesona oleh
pokok pembicaraannya. Aku harus mendengar pembicaraan mereka, pikir Harriet .
Dia pergi ke ruang utama dan masuk ke ruang makan. Ruangan itu kosong. Dia
menunduk kebawah jendela yang terbuka ke arah beranda.
Setelah menutupi sebagian badannya dengan taplak meja putih panjang, dia
mengambil posisi dan menguping pembicaraan berikut.
"Norman dan aku, kami tahu betapa sulitnya hal ini, tapi kami sudah bertekad
bahwa kami akan mendirikan sebuah gereja, sebuah gereja betulan, sebuah gereja
yang betul-betul menyenangkan, dan semua jemaatnya akan memiliki jubah putih
panjang, dan kami akan mencebur-"
"Mencebur?" tanya Beth Ellen.
"Tentu , acara baptis. Kami akan menceburkan diri sepenuhnya ke sungai. Itu cara
terbaik, cara satu-satunya."
Harriet membayangkan jubah-jubah putih memasuki Sungai Timur di Jalan Enam Puluh
Delapan. "Kami akan mendirikan gereja putih yang indah dengan nyanyian betulan dan
kebaktian betulan dan Norman berkata kami akan menghasilkan banyak uang" - Jessie
Mae berkata sehingga dia bagaikan memuntahkan kata-kata-" dan orang-orang akan
pertama-tama kami hanya akan mempunyai tenda, seperti mezbah, kamu tahu" Lalu,
kami akan mengumpulkan uang dan membangun gerejanya dan, jika Tuhan mengizinkan,
kami akan ada di sana selama sisa hidup kami!"
"Sudah berapa lama kamu ingin melakukan itu?" gumam Beth Ellen. "Oh, sejak kami
masih kecil. Kami selalu ingin melakukannya."
"Apakah Norman masih mau?"
"Oh, tentu saja dia mau," kata Jessie Mae. "Hei, Norman," bisiknya dari sudut
beranda. "Apa?" Harriet mendengar jawaban Norman yang ketus.
"Kemari sebentar," bisik Jessie Mae.
Norman sepertinya menghampiri dengan terseret-seret karena Harriet mendengar
gumaman yang tidak jelas, kemudian suaranya yang lebih dekat. "Ada apa" Aku
sedang bekerja." "Aku baru saja memberi tahu Beth Ellen tentang rencana kita, tentang gereja dan
semuanya," kata Jessie Mae dengan suara yang cerewet.
"Aduh, Jessie Mae, aku harus BEKERJA," kata Norman, dan sepertinya dia berjalan
menjauh saat itu karena di akhir kalimat suaranya mengecil.
"Oh, Norman ," kata Jessie Mae. "Kamu tahu bagaimana anak laki-laki," ujarnya
dengan genit. "Mereka nggak suka membicarakan apa pun." Beth Ellen terdiam.
Tentu saja, pikir Harriet, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, seperti
denganku. Kemudian, mendadak Beth Ellen mulai berbicara.
"Begini, apakah menurutmu kita seharusnya menyerahkan semuanya pada Tuhan?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku , apakah Tuhan akan mengurus semuanya?"
"Lho, tentu saja, Sayang, apakah kamu nggak tahu itu?"
Harriet begitu takjub sehingga dia berdiri untuk melihat Beth Ellen.
Kepalanya membentur meja. Auw, ujarnya pada dirinya sendiri saat dia mengusap-
usap kepalanya. Perlahan-lahan, Harriet bisa melihat Beth Ellen yang sedang
mencondongkan badan ke arah Jessie Mae dengan penuh rasa ingin tahu. Jessie Mae
sedang memegang salah satu lututnya dengan kedua tangannya dan bergoyang-goyang
ke depan dan belakang dengan senyum kecil di wajahnya.
"Alkitab," kata Jessie Mae. "Semuanya ada didalam Kitab Suci."
Beth Ellen tidak mengatakan apa pun.
"Apakah kamu membaca Kitab Suci?" tanya Jessie Mae.
"Nggak," bisik Beth Ellen.
"Wah, sebaiknya kamu baca. Itu bacaan terbaik dan aku membacanya setiap waktu.
Itu adalah bacaan pertama yang aku pelajari.
Mama mengajariku membaca dengan cara itu. Dulu, Norman juga biasa membaca
Alkitab setiap saat, tapi sekarang" - Jessie Mae memandang ke arah Norman dan
sedikit menghela napas-" dia terdorong untuk membaca beberapa bacaan yang aneh
banget, seperti Wall Street Journal, dan hal-hal semacam itu. Aku ... yah, aku
agak khawatir, tapi ...kamu tahu seperti apa anak laki - laki. Ngomong-ngomong,
ibumu itu betul-betul cantik."
"Terima kasih," ujar Beth Ellen sopan. "Dia tinggal di Eropa ... Dia baru saja
kembali kemari ... Aku belum pernah bertemu dia sejak aku masih sangat
kecil ...." Harriet mendengarkan dengan takjub saat Beth Ellen mulai bercerita pada Jessie
Mae. Beth Ellen tidak pernah bicara seperti itu pada siapa pun. Dia menjadi
betul-betul tertarik, ketika dia mendengar Bunny dan Agatha memasuki ruang
makan. Dia masuk ke bawah meja tepat pada waktunya.
"Aku mencintai istriku, Agatha-" Bunny memulai.
"Tentu saja, Sayangku, tapi dia sudah pergi, dan pergi berarti pergi.
Jika pergi berarti pergi, kita harus bersikap seolah-olah pergi adalah pergi.
Hanya itu saja yang tersisa! Sekarang aku akan memberimu satu tahun lagi untuk
melupakannya dan kemudian aku akan menikahi orang lain - Wallace, mungkin. Jika
kamu belum melupakan segalanya tentang istrimu, aku akan menikahi orang lain!"
"Agatha, pagi ini aku berdoa untukmu ...di gereja pagi ini."
"Dan itu hal lain lagi. Aku muak sekali dengan kebiasaanmu pergi ke gereja."
Suara Beth Ellen menerobos masuk, " ... dan mereka di dalam sana dengan teman-
teman mereka dan aku nggak bisa bicara dengan satu pun dari mereka dan aku nggak
suka tempat ini dan aku lebih suka nggak berada di sini ..."
Harriet tidak bisa memutuskan mana yang paling ingin dia dengarkan, dan
berharap, seperti yang dia harapkan ribuan kali sebelumnya, bahwa tiap-tiap
telinga bisa melakukan tugas terpisah.
"... Agatha!" Bunny memekik, "Kamu tidak memiliki aku!"
"Kamu BEKERJA di sini," kata Agatha dengan angkuh.
"Aku harus menjelaskan padamu, Sayang, Agatha manis ... aku tidak akan pernah
menikahimu. Aku tidak INGIN menikahimu, dan aku akan terus pergi ke gereja
selama hidupku. Itulah hidupku; itulah aku apa adanya."
"OMONG KOSONG!" kata Agatha dan keluar dari ruangan. Dari ruang utama, suaranya
terdengar lagi, "Kamu akan melupakan semuanya dalam satu tahun, tunggu dan lihat
saja." Harriet mengintip, memerhatikan Bunny mengikuti Agatha, dan kemudian menatap
pada Beth Ellen, yang sekarang diam.
"Waah, sayang sekali. Aku nggak akan melakukannya kalau aku jadi kamu," kata
Jessie Mae. Melakukan apa" pikir Harriet. Melakukan apa" Apa yang Beth Ellen bilang akan dia
lakukan" Kenapa dia harus kehilangan bagian pembicaraan yang itul Harriet tidak
menghabiskan lebih banyak waktu lagi, tapi langsung lari keluar dari ruang makan
menuju beranda. Harriet berlari-lari mendekati mereka dan berdiri mematung di depan keduanya.
Mereka menoleh dan menatapnya seolah-olah dia orang asing. Tiba-tiba, Harriet
merasa tidak punya keberanian, malu, seolah-olah dia tidak diinginkan.
"Beth Ellen ...." dia memulai dan tepat pada saat itu Nyonya Welsch keluar ke
beranda dan menghampiri mereka.
"Harriet , aku tidak mau kamu berlari-lari di ruang tengah. Aku ingin kamu dan
Beth Ellen masuk dan duduk. Kamu mau duduk bersama kami, Beth Ellen?"
"Ya," kata Beth Ellen langsung.
"Lebih baik aku pulang ke rumah," kata Jessie Mae, dan sambil berdiri dengan
buru-buru, dia pergi menghampiri Norman.
"Tadi itu siapa?" tanya Nyonya Welsch saat mereka berjalan dengan mereka kembali
ke bar. "Bukan siapa-siapa," kata Harriet sebal.
"Teman," kata Beth Ellen.
Beth Ellen duduk dan memandang ke sekeliling bar itu. Dia merasa lebih baik
duduk dengan Nyonya Welsch, lebih aman dan lebih nyaman.
Aku ini anak-anak, pikirnya. Ini bukan tempatku; aku takut. Bunny sekarang
sedang bermain piano sangat keras dan Nyonya Welsch sedang memerhatikan Bunny.
Harriet memerhatikan Zeeney dan Wallace dan Agatha di bar. Wallace tampak
seperti yoyo yang ditarik-tarik di antara Agatha dan Zeeney.
Aku ingin pulang. Di mana nenekku" Aku ingin pulang. Beth Ellen dicekam rasa
rindu yang begitu kuat yang membuat semuanya tampak begitu menyedihkan, bahkan
gelas-gelas di atas meja itu pun membuatnya murung.
Beth Ellen tidak bisa memikirkan apa-apa selain lutut neneknya.
Ketika dia masih sangat kecil,neneknya kerap mendudukkannya di atas sebuah kursi
mungil setiap pagi untuk menyisiri rambutnya. Dia duduk begitu rupa sehingga dia
hanya bisa melihat sebuah lutut yang besar.
Pikiran tentang lutut itu sekarang membuatnya harus menggigit lidahnya supaya
tidak menangis. Hal yang bodoh untuk dipikirkan,pikirnya.
Sepasang lutut. Dia akan menangis. Beth Ellen berdiri, berbisik mengatakan bahwa dia akan pergi
ke toilet,dan meninggalkan ruangan itu. Dia merasa sangat beruntung karena
Harriet tidak mengikutinya.
Akhirnya, Bunny berdiri dari piano dan berkata pada Agatha, "Aku harus makan
sekarang. Kamu lupa, Sayang, aku menghabiskan banyak sekali energi kalau aku
bermain piano." "Oh, yang benar saja," cericit Agatha, "tidak setitik pun lebih dari pada aku,
aku yakin itu. Tapi, kalau kamu memang harus. Ayo, semuanya." Dia menggandeng
Wallace dan menariknya dari kursi bar.
Bunny berjalan di belakangnya, meninggalkan Zeeney yang keluar seanggun mungkin
dari kursinya. "Sekarang, Ibu, sekarang!" kata Harriet, memukul-mukul pinggang ibunya dengan
keras. "Hentikan itu, Harriet !" kata ibunya tajam; lalu, "Baiklah,kita juga pergi."
Harriet harus ditahan untuk tidak berlari ke ruang makan. Mereka duduk
mengelilingi sebuah meja yang terletak hanya dua meja dari kelompok yang akan
makan malam itu. Harriet benar-benar senang.
Semua orang kelihatan jelas dan dia tidak ketinggalan satu pun karena Agatha
masih mengatur tempat duduk untuk semua orang.
"Aku," kata Agatha, tangannya bergerak-gerak, "akan duduk di sini, di antara
Wallace dan Bunny." Zeeney mendelik dan duduk di sebelah Wallace. Beth Ellen masuk ke ruang makan.
"Sekarang, kenapa ada kursi lain" mereka begitu bodoh ... oh"
Tiba-tiba Agatha berhenti,lalu melanjutkan "oh ... anak itu. Yah, di sana; suruh
dia di sana saja ... jauh, jauh." Dia menyingkirkan Beth Ellen dengan tangannya
dan kemudian terduduk di kursinya. Wallace dan Bunny menangkapnya. Beth Ellen
memandang Bunny dengan malu-malu dan duduk.
"Harriet ... Harriet ," kata Nyonya Welsch sambil memandang dengan jengkel pada
Harriet, yang sedang duduk di pinggir kursinya dan memiringkan tubuhnya ke depan
dengan nekat sehingga hidungnya berada di pinggiran gelas air putih. "Kamu mau
makan apa dulu?" "Salad udang," kata Harriet tanpa berpaling dari Beth Ellen yang duduk di
sebelahnya. "Nah," kata Agatha. "Itu beres. " Dia tersenyum penuh kemenangan pada Wallace
dan membuka serbetnya dengan entakan kasar.
Sepotong kecil kertas jatuh dari serbetnya. "Apa ini?" ujarnya keras. "Wah,
minta ampun, ini permintaan pesta, aku belum pernah melihatnya lagi sejak umurku
enam tahun!" Dia berusaha membacanya, tapi dia terlalu rabun. Dia baru saja
berkata, "Wallace, berbaik hatilah dan bacakan ini untukku" ketika terdengar
teriakan keras dari ujung meja.
Bunny berdiri dari kursinya, mukanya ungu dan mendongak, tangannya terulur, dan
mulutnya yang terbuka dengan jelek mengubah wajahnya menjadi topeng tragedi. Dia
berdiri sejenak dalam keheningan yang menyakitkan. Sementara itu, Harriet meraih
gelas air putihnya. Kemudian, Bunny berteriak. Suaranya parau dan dengan susah payah berusaha keluar
dari mulutnya dan terbang dengan cepat sampai ke langit-langit. "Aku sudah muak,
Agatha!" Dia berbalik sehingga menghadap Agatha Plumber. "Kamu orang bodoh dan
konyol dengan gurauanmu yang tolol. Kamu orang idiot gemuk. Ini kejujuranmu. Aku
duduk semalaman untuk berdoa agar kamu tersandung saat kamu masuk ke dalam bar.
Aku berdoa seharian agar siku tanganmu patah karena melambai-lambai. Kamu mau
kejujuran" Aku membencimu." Bunny berhenti, mengambil napas, dan berteriak,
"Tentu saja,aku berhenti."
Selembar kertas melayang dari tangannya dan jatuh di meja.
Wallace, Zeeney, dan Agatha tidak tampak terkejut lagi. Wajah Bunny seperti siap
meledak karena kemarahan yang tiba-tiba, dan begitu buruk sehingga dia tampak
seperti orang cacat. Kemudian, dia lari meninggalkan ruangan.
"Duduk tegak," kata Nyonya Welsch, yang berhasil menghindari kecelakaan dengan
mengambil gelas air putih Harriet yang sudah miring.
"Sssst!" kata Harriet , berdiri karena bersemangat.
Wallace membaca kertas itu keras-keras:
Kejujuran AKAN MEMBEBASKANMU
"Oooo," kata Agatha, sangat terkesan. Dia melemparkan sebelah lengan, melihat
kesekelilingnya dengan ragu-ragu, lalu melemparkan sebelah lengan lagi, dengan
itu mencampakkan Bunny. Dengan senyuman lebar, dia berkata dengan penuh
kemenangan, "ITU menyelesaikan ITU!" Zeeney tersenyum.
"Hep," kata Wallace, melihat ke bawah serbetnya, "kurasa kita semua mendapat
pesan." Harriet menatap Beth Ellen. Beth Ellen tampak sangat ketakutan, matanya menjadi
sebesar piring sup. "Huuuh," kata Harriet sambil duduk, lupa dia sedang bicara
pada ibunya. "Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan tentang Bunny sekarang?"
"Apa, Sayang?" kata ibunya sedikit melamun karena dia juga merasa sulit untuk
tidak melihat pada meja yang di tengah itu.
"Punyaku, punyaku dulu," Agatha berkata, melambaikan kertasnya di depan wajah
Wallace. Dia membacanya: JIKA KAU INGIN MENJADI SEMPURNA,
JUALLAH SELURUH HARTAMU DAN
BERIKAN PADA ORANG MISKIN.
MAKA UPAHMU BESAR DI SURGA
"Oooooo," kata Agatha dengan sangat riang, "betapa menyenangkannya ini! Ini semacam kue keberuntungan yang menjengkelkan!"
"Oh, punyamu apa, sayang?" Zeeney menjadi agak bersemangat tentang semua hal.
"Aku sepertinya tidak bisa menemukan punyaku. Dan lihat apa yang kamu punya,
Beth." Dia mengambil serbet Beth Ellen dan membuka lipatannya.
Wallace membacakan miliknya:
lebih sulit mendorong orang kaya ke surga daripada mendorong unta

Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melewati lubang jarum Zeeney mengeluarkan tawanya yang paling kejam. Wallace tampak jengkel. "Aku kira
itu tidak benar sama sekali!" kata Agatha. "Lagi pula, siapa yang bisa mendorong
kecuali orang kaya?"
"Lihat punyamu." Zeeney mengambil milik Beth Ellen dan membacanya:
sebagaimana ibu begitu pula anak perempuannya
Zeeney berseru kegirangan, "Aku pikir ini indah."
Beth Ellen tampak agak mual. Dia menatap kearah Harriet. Harriet sedang
memandangnya. Dia bisa melihat Nyonya Welsch yang sedang berusaha membuat
Harriet memakan salad udangnya.
"Hep!" kata Wallace. "Ini punyamu, Zeen, Nona besar." Dan dia membacakannya:
dalam kesedihan kau akan melahirkan anak-anak
Zeeney mengelus-elus lehernya seolah-olah dia sedang dicekik.
Wallace memandangnya dengan mata menyipit.
"Sekarang, apa hubungan itu dengan aku?" ujar Zeeney, menatap langsung ke mata
Wallace, membalikkan punggungnya dan melemparkan sebelah tangan ke atas meja.
Mata Wallace tampak semakin sipit. Agatha tertawa keras.
"Kamu lihat, ini permainan yang konyol," kata Zeeney ringan,
"permainan yang menggelikan. Siapapun yang melakukannya" -dia menatap Agatha-
"setidaknya harus cukup masuk akal dan mencocokkan mereka ... maksudku, apa yang
dia maksudkan, jika-"
"Mereka memang cocok, Zeeney," kata Wallace dengan suara seperti pisau.
"Yah, punyaku tidak," kata Zeeney dan tiba-tiba berdiri, melipat serbetnya, dan
menatap Agatha Plumber. "Aku tidak bisa membayangkan gurauan kecil macam apa
yang kamu pikir sedang kau buat, tapi aku punya berita besar buatmu ini tidak
lucu!" Dia melemparkan serbetnya pada Agatha seperti sebuah sarung tangan besi
dan meninggalkan ruangan.
"Hei,apa maksud kata-katanya?" kata Agatha Plumber, melihat berkeliling dengan
takjub. "Kenapa dia sampai berpikir kalau aku akan berbuat hal seperti ini?"
"Hep," kata Wallace, matanya menyipit sampai hampir hilang.
"Yah, tidak apa-apa," kata Agatha Plumber "Kamu dan aku bisa makan malam dengan
asyik berdua." Dia mendekat pada Wallace, lalu memandang Beth Ellen. Agatha
Plumber menatap Beth Ellen lama dan dengan tatapan dingin. Beth Ellen meluncur
turun dari kursinya. Dia tampak ketakutan.
Harriet lupa diri. "Beth Ellen," serunya, "ayo kemari!"
Nyonya Welsch menarik tangan Harriet. "Kita akan pulang," ujarnya tegas, "dan
kurasa, kita akan mengajak Beth Ellen bersama kita."
Nyonya Welsch berdiri dan menyeret Harriet mendekati meja tengah.
"Selamat malam. Saya Nyonya Rodger Welsch," dia berkata, mengulurkan tangan pada
Wallace. "Saya pikir mungkin Beth Ellen bisa ikut dan bermalam bersama anak
saya, Harriet . Mereka pergi ke sekolah yang sama dan-"
Wallace memotongnya, rasa lega membanjiri wajahnya seperti hujan pada musim
semi. "Senang sekali," ujarnya sambil meloncat dan berdiri. "Ya, hep, ide yang
luar biasa tidak bisa membayangkan di mana ibunya- ide yang menyenangkan.
Mungkin ibunya tahu di mana bisa menemui anda dan semacamnya?"
"Saya akan menelepon Nyonya Hansen begitu kami sampai di rumah," kata Nyonya
Welsch singkat dan bersiap-siap untuk pergi.
"Sangat menyenangkan, terima kasih. Ya, hep, saya akan membalas kebaikan anda
lain kali," kata Wallace, membungkuk ke depan sementara Agatha Plumber
memandangnya dengan marah.
"Itu tidak akan pernah terjadi," kata Nyonya Welsch. Dan sambil mengulurkan
tangan pada Beth Ellen, dia bertanya, "Kamu bawa jaket, Sayang?"
Beth Ellen mengambil jaketnya dan mengangguk pada Nyonya Welsch sambil mendongak
ke arahnya dengan wajah bersinar penuh kekaguman.
"Kalau begitu ayo," kata Nyonya Welsch dan berjalan melintasi ruangan seperti
Pied Piper, si penculik anak.
Ketika mereka semua berada di mobil dan melewati gerbang, Harriet memulai, "Wow
apa pendapatmu soal tadi" Hebat, apa artinya semua itu" Siapa yang tadi ada di
dalam sana" Aku melihat Jessie Mae masuk"
"Kita tidak akan membicarakannya," kata Nyonya Welsch, memotongnya pendek.
"Malam ini sangat melelahkan untuk semua orang, dan aku yakin Beth Ellen akan
sama senangnya denganku jika hal itu tidak dibicarakan lagi."
Beth Ellen sangat berterima kasih kepada Nyonya Welsch. Dia juga merasa ingin
menangis. Dia ingin didekap dalam pelukan jaket Nyonya Welsch yang tampak
hangat. Beth Ellen juga merasa lapar.
Harriet sedikit merajuk, tapi ketika tidak seorangpun memerhatikannya, dia memandang ke luar jendela dan tenggelam dalam pikiran-
pikiran suramnya selama sisa perjalanan.
Setelah Nyonya Welsch menelepon Nyonya Hansen, membuatkan telur, dan memberi
mereka semua makan, Beth Ellen dan Harriet siap untuk tidur. Beth Ellen
memandangi wajahnya di cermin saat dia mencuci muka. Mulutnya berubah menjadi
sebuah garis tipis yang tajam dan matanya tampak kecil dan agak ungu. Sesuatu
sedang terjadi padaku, pikirnya.
Dia mengenakan pakaian Harriet dan memandangi kakinya yang menempel ke lantai.
Dia pergi kekamar Harriet .
Sepertinya Harriet ingin mengatakan sesuatu pada Beth Ellen; tapi kemudian
mengubah pendiriannya karena dia hanya memandang Beth Ellen, lalu berbalik dan
naik ke tempat tidur. Sekali lagi, Beth Ellen merasa berterima kasih pada Nyonya Welsch.
Dia naik ke tempat tidur dan Harriet mematikan lampu.
Harriet berkata, "Selamat malam," dengan lembut, lalu berbalik dengan satu
putaran besar. Beth Ellen menyahut, "Selamat malam, " dan sambil telentang, dia memandang ke
langit-langit. Kamar itu diterangi oleh sinar bulan purnama. Kekosongan yang
menyakitkan mengisi dirinya. Aku sama kosongnya dengan langit-langit, pikirnya,
dan hatinya mulai berdebar cepat. Aku akan menangis atau aku akan mengamuk, aku
tidak tahu yang mana. Isak tangis mengguncang tubuhnya.
Sebuah tangan kecil yang berkeringat meraba-raba dan memegang tangannya. Aku
menyukai Harriet, pikirnya di antara air matanya; sepertinya dia tidak punya
perasaan, tapi sebenarnya punya. Beth Ellen berhenti menangis. Tangan kecil yang
berkeringat itu menjauh dan terdengar dengkuran keras dari Harriet .
Aku lelah menjadi seperti ini. Aku lelah menangis. Aku tidak boleh menangis lagi
atau sesuatu akan terjadi padaku. Aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak peduli
apa yang terjadi; aku tidak akan menangis lagi. Pikiran-pikiran ini melewati
kepala Beth Ellen seperti peluru meriam.
Aku akan berbeda esok pagi, pikirnya dengan perasaan yang mendekati rasa puas,
lalu berguling menyamping dan tertidur..
21 Mengunjungi Pak Pendeta Pagi berikutnya, mereka sedang sarapan ketika Harriet berkata, "Aku antarkan
kamu ke rumah dengan sepedaku. Oke?"
"Oke," kata Beth Ellen, lalu berpikir, aku tidak ingin pulang ke rumah.
"Dan kemudian kita bisa pergi ke pantai?" tanya Harriet.
"Jessie Mae mengajakku untuk menemuinya," kata Beth Ellen.
"Wah!" "Tidak, maksudku, kita berdua."
"Itu berbeda." "Dia bilang, dia akan membawa kita menemui Pak Pendeta. Kamu mau ikut?"
"TENTU!" kata Harriet menyorongkan badannya kedepan. "Kurasa Jessie Mae-lah
orangnya, kamu sependapat?"
"Apa?" "Yang meninggalkan pesan-pesan."
"Mmmm." Mulut Beth Ellen penuh dengan sereal.
"Yah, apakah kamu sependapat?"
"Aku nggak tahu. Sepertinya dia menyenangkan kalau kau bicara padanya."
"Hei," kata Harriet . "Apa yang dia minta agar kau hentikan?"
"Apa?" kata Beth Ellen tajam. "Apakah kemarin kamu menguping?"
"Ya." "Hei, itu pembicaraan pribadi."
Harriet tampak berpikir-pikir. "Yah," ujarnya, "dia hanya membicarakan agama.
Sepertinya dia nggak pernah mendengarkan hal lain." "Kenapa sih kamu peduli
sekali dengan siapa yang meninggalkan pesan-pesan itu?"
"Karena," kata Harriet putus asa, "aku sedang menulis cerita tentang seseorang
yang meninggalkan pesan-pesan itu, dan aku sedang mengarang kalau itu Jessie
Mae." "Janie bilang orang itu bisa siapa saja."
"Janie tahu apa sih" Dia nggak akan mengenali ibunya sendiri, kecuali jika dia
melihatnya di bawah mikroskop."
"Janie tahu banyak," kata Beth Ellen dan terkejut mendengar suaranya yang
berapi-api. Harriet memandangnya. "Dengar, Tikus ....." dia mulai.
"Ayo kita pergi sekarang," kata Beth Ellen cepat. "Dengarlah aku, Tikus-"
"Dan jangan panggil aku TIKUS !" Beth Ellen sedang berdiri di pintu yang menuju
dek dan meneriakkan kata terakhir.
Harriet tampak benar-benar kaget. Beth Ellen keluar menuju dek.
Harriet mengangkat bahu, berdiri, dan mengikutinya keluar.
Mereka menaiki sepeda Harriet, berpamitan kepada Nyonya Welsch, dan mendorong
sepeda ke jalan. Beth Ellen duduk di boncengan. Saat itu, anehnya dia merasa terlindungi. Apa pun
yang orang pikirkan tentang Harriet, pikirnya pada diri sendiri, orang akan
selalu merasa aman bersamanya. Bahkan, kekasarannya lebih baik daripada sikap
dingin orangtua yang sopan. Beth Ellen memikirkan hal yang dia pikirkan beberapa
hari lalu, bahwa bersama dengan Harriet membuatnya merasa bahwa dia bisa menjadi
anak-anak untuk sementara. Dia bahagia bisa merasa seperti anak-anak.
Sering kali, dia merasa seperti troll, makhluk raksasa dalam dongeng.
Harriet sedang menggumamkan sebuah lagu pendek sambil mengayuh dengan keras
karena tambahan beban. Beth Ellen mulai memikirkan malam sebelumnya. Kalau aku menikah, pikirnya, aku
akan membuat panekuk setiap malam dan kami tidak akan, tidak akan pergi ke luar.
Dia mulai memasuki fantasinya sendiri, indah, di dalam rumahnya sendiri, yang
juga indah, dan Zeeney dan Wallace semuanya sudah meninggal dan dikubur. Dia
membayangkan suaminya yang tampak seperti Wallace dan sedang menuntutnya untuk
makan malam di luar. Dia menolak. Suaminya memukulnya. Dia memotong kepala
suaminya dan menyembunyikannya di lantai bawah tanah. "Lihat, itu dia di sana,"
kata Harriet . Beth Ellen menghapus impiannya dan melihat. Jessie Mae sedang ada di bengkel
sepeda lagi. Mereka mendekat.
"Terima kasih banyak," kata Jessie Mae pada tukang bengkel.
"Hai," kata Harriet, menabrak bagian belakang sepeda Jessie Mae.
"Hei, halo," kata Jessie Mae dengan hangat.
"Hai," kata Beth Ellen.
Mereka bertiga berdiri di sana.
"Panas banget, ya?" tanya Jessie Mae.
"Bisakah kita pergi ke rumah Pak Pendeta ?" tanya Harriet blak-blakan.
"Tentu," kata Jessie Mae sambil melihat berkeliling. "Aku lagi berusaha mencari
Norman, tapi kurasa itu mustahil. Dia menghilang."
"Mungkin sedang pergi menjual toilet," kata Harriet dan tertawa.
Jessie Mae memalingkan kepalanya sedikit ketus dan menoleh pada Beth Ellen.
"Kamu mau melihat gerejaku?"
"GEREJA?" teriak Harriet. "Kita tidak akan pergi ke gereja mana pun!" "Kalau
kamu mau," jawab Beth Ellen dengan sopan.
"Maksudku bukan sebuah gereja," kata Jessie Mae pada Harriet.
"Maksudku pergi ke gerejaku, gereja yang kami dirikan."
"Apa?" Harriet tampak panik. "Apa maksud semua ini?"
Jessie Mae menaiki sepedanya dan mulai mendorong. "Ikuti aku dan aku akan
tunjukkan pada kamu-kamu," dia menyuruh Harriet dan Beth Ellen mengikuti. Tak
lama kemudian, dia sudah berada jauh di jalan.
"Ayo," kata Beth Ellen pada Harriet yang sedang melongo.
Mendadak Beth Ellen merasa senang.
"Oke," kata Harriet ragu-ragu, lalu sepedanya mulai bergerak.
"Tapi," ujarnya sinis, "kupikir kamu mungkin mau pergi ke penginapan dan melihat
Bunny." "Oh, Bunny," kata Beth Ellen dengan jijik. "Siapa yang peduli soal Bunny?"
"Wow ! Itu sesuatu yang baru," Harriet terengah-engah saat dia berusaha mengejar
Jessie Mae. "Sekarang mungkin kita bisa memata-matai seseorang yang menarik
daripada Cuma berjalan-jalan di sana selama musim panas. Maksudmu, kamu nggak
akan pernah ingin bertemu dia lagi?"
"Aku nggak bilang begitu." Beth Ellen takjub pada dirinya sendiri.
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya seolah-olah dia sama sekali tidak
bisa mengendalikannya. Apakah dia bosan pada Bunny" Dia seperti Wallace dan
Zeeney. Tetap saja, hal itu terasa menyakitkan jika dia harus mengabaikannya,
seolah-olah dia hanya sebuah mainan dan Beth Ellen sudah bosan padanya. Mungkin
Bunny tidak terlalu buruk. Mungkin Wallace dan Zeeney juga tidak terlalu buruk.
Mungkin dia harus memberikan mereka kesempatan lain. Dia bertekad untuk
melakukan itu kalau dia sudah sampai di rumah. Sekalipun mereka hanya boneka-
boneka kertas, rasanya sulit juga untuk mengabaikan mereka.
"Kamu nggak tahu apa yang kamu mau," gumam Harriet .
Jessie Mae melambat di depan mereka. Sekarang mereka sudah jauh masuk ke daerah
pedesaan. Ketika berhenti, mereka berada di sebuah bukit kecil dengan pepohonan
di kedua sisinya. "Rumah Pak Pendeta itu tepat di sana," kata Jessie Mae, menunjuk pada sebuah
jalan kecil berlumpur yang naik ke bukit. Dia tersenyum manis. "Tapi, tepat di
sebelah sini, inilah gerejaku."
Mereka mengikuti jari Jessie Mae yang menunjuk dan tidak melihat apa pun,
kecuali pepohonan. "Di mana?" kata Harriet .
"Tepat di sana," kata Jessie Mae, nyengir dan menunjuk pada hutan. "Tidak ada
apa-apa di sana ," kata Harriet dengan kesabaran yang berlebihan.
Sempat terpikir oleh Beth Ellen kalau Jessie Mae mungkin gila. Dia melihat ke
arah hutan dan tidak melihat apa-apa kecuali hutan. Dia menatap Harriet, dan
ketika melihat bahwa Harriet hanya tampak kesal seperti biasanya, dia merasa
lebih lega. "Ayo ikut dan lihat," kata Jessie Mae seraya mengayuh sepedanya memasuki hutan.
Harriet mengikuti, dan sambil memandang ke bawah, Beth Ellen bisa melihat bahwa
di sana ada sebuah jalan setapak yang sedikit mencurigakan.
Mereka bersepeda terus hingga mereka tiba ke sebuah lapangan kecil. Sinar
matahari menyinari jalan setapak kotor yang tidak ditumbuhi tanaman. Bentuknya
hampir mencapai lingkaran penuh. Tempat itu seperti dirancang khusus untuk sinar
matahari, seperti beberapa katedral yang dirancang untuk memiliki beberapa titik
cahaya. Oh, pikir Beth Ellen, maksudnya hanyalah bahwa tempat ini tampak seperti gereja.
Harriet menyandarkan sepedanya ke sebuah pohon. Saat Beth Ellen sedang berusaha
turun, Harriet menyikutnya dan menunjuk pada dataran gundul itu.
Jessie Mae sedang berlutut di tengah-tengah daerah lingkaran itu.
Wajahnya mendongak ke langit dan tangannya sedang berdoa.
"Oh, bagus," kata Harriet , untuk pertama kalinya dengan takjub.
"Apa yang kita lakukan sekarang?"
Beth Ellen menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi tanda pada Harriet untuk
diam. Mereka menunggu sampai Jessie Mae selesai.
Jessie Mae sedang menggumamkan sesuatu pada dirinya dengan mata tertutup.
Akhirnya dia selesai, dan sambil berdiri, dia memandang Harriet dan Beth Ellen
sambil tersenyum. "Ayo, kamu-kamu semua, masuk sini," kata Jessie Mae dengan manis. "Inilah
gerejaku." Mereka memasuki cahaya itu takut-takut.
"Ini altarnya," ujarnya bangga dan menunjukkan sebuah struktur dan kayu yang
dipaku ke sebuah pohon di tepi tanah gundul. Ada sebuah kotak diatas dan di
bawahnya. Kotak yang di atas berdiri tegak membentuk semacam altar dan di atas
kotak bawah terletak sebuah Alkitab dan dua batang lilin. Jessie Mae mengambil
Alkitab itu dan meletakkannya di altar. Lalu, dia mengambil lilin dan
memasukannya ke dalam dua lubang kecil yang terletak di kiri kanan Alkitab itu.
Dia lalu mengeluarkan korek api dan menyalakan lilin-lilin itu.
"Apakah kamu membuatnya sendiri?" kata Harriet.
Dia tidak bisa menemukan hal lain untuk dikatakan, pikir Beth Ellen.


Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh, nggak," jawab Jessie Mae. "Norman membantuku. Kami belum mengerjakan jubah-
jubah itu, tapi sebentar lagi kami akan punya itu."
"Jubah?" mata Harriet membesar.
"Kamu tahu, jubah pendeta dan hal-hal seperti itu. Kami akan membuatnya benar-
benar bagus." Beth Ellen menyadari bahwa dia merasa iri. Aku mesti punya pekerjaan, pikirnya
cepat-cepat. Aku harus memutuskan. Semua orang yang kukenal punya sesuatu
seperti ini. Sesuatu untuk dicintai. Aku membutuhkan sesuatu untuk dicintai.
"Ayo kita pergi sekarang," kata Jessie Mae sambil menyimpan kembali Alkitab dan
lilin - lilinnya, "kecuali kalau kamu-kamu semua mau berdoa sedikit."
Harriet berlari mengambil sepedanya.
"Tidak, terima kasih," kata Beth Ellen, tiba-tiba dia ingin berkata: aku baru
saja makan. Beth Ellen berbalik dan berjalan menuju sepeda.
Dia duduk di boncengan dan Harriet mendorongnya ke jalan, lalu naik dan mulai
mengikuti Jessie Mae lagi.
Mereka bersepeda mendaki jalan kecil berlumpur yang menuju rumah Pak Pendeta.
Rumah itu berdiri di sebuah bukit yang dikelilingi oleh semak-semak tanaman
dogwood dan snowball. "Rumah kecil yang lucu," kata Harriet .
"Rumah ini benar-benar - menyenangkan," kata Jessie Mae antusias.
Beth Ellen mengamati rumah itu. Bangunan itu tidak tampak seperti rumah musim
panas atau rumah pertanian yang ada di sekitar situ.
Rumah itu tampak seperti jenis rumah yang pernah dia lihat dalam buku-buku
tentang daerah Selatan. Ada sebuah gang tertutup atap yang memisahkan rumah itu
menjadi dua bagian dan melalui gang ini kau bisa melihat pohon-pohon dan bukit-
bukit jauh di sana. Kedua bagian rumah itu berdiri berhadapan seolah-olah sedang
bercakap-cakap. Rumah itu kelihatannya bersahabat, pikir Beth Ellen.
"Turun," kata Harriet yang mulai terengah-engah mendaki bukit.
Beth Ellen turun dan Harriet mendorong sepedanya. Jessie Mae berjalan terus
dengan cepat dan penuh semangat. Ketika mereka sampai di puncak, dia sudah mulai
mendaki tangga rumah. "Wah, wah. Halo, Jessie." Pak Pendeta sudah keluar ke beranda.
"Wah, wah. Rupanya kamu juga membawa bocah-bocah kaya itu.
Halo, kamu-kamu!" Dia melambaikan tongkatnya pada Harriet dan Beth Ellen.
"Halo, kamu-kamu," kata Harriet . Beth Ellen menyikut perutnya.
"Aku nggak bisa menahannya," bisik Harriet jengkel. "Jika seseorang bicara
seperti itu, aku nggak bisa menahannya."
"Halo," kata Beth Ellen malu-malu.
"Mereka ingin bertemu Bapak," kata Jessie Mae.
"Aku ?" Pendeta itu menaikkan alisnya. "Nah, siapa pula di dunia ini yang mau
menemui aku?" Karena tidak tahu harus berkata apa, mereka semua menatapnya.
"Begini," ujarnya sambil mengentakkan tongkatnya ke lantai beranda untuk
mempertegas maksudnya, "aku akan membuat satu kendi limun."
"Oh, asyik," kata Jessie Mae. "Bolehkah aku membantu?"
Pak Pendeta berbalik dan mulai berjalan ke pintu.
"Tidak usah, tidak apa-apa. Kamu duduk saja dihalaman sana dengan teman-temanmu.
Aku tidak akan lama." Dia menghilang ke dalam.
Jessie Mae memimpin jalan melintasi halaman yang berbatu-batu menuju beberapa
kursi yang ditempatkan mengelilingi sebuah meja besar terbuat dari rotan. "Di
sinilah kami biasa duduk sepanjang waktu,"
ujarnya bahagia dan duduk.
"Tidak bisakah kita melihat ke dalam?" tanya Harriet.
Harriet seperti anak anjing, pikir Beth Ellen. Jika dia tidak bisa mengendus-
endus menyelidik di sekeliling tempat yang baru, dia tidak akan senang.
"Nggak," kata Jessie Mae. "Dia nggak mengajak kita ke dalam, jadi kita nggak
bisa masuk ke dalam. Dia mengajak, kita ke sini."
"Apakah kamu pernah masuk?" tanya Harriet .
"Ya, satu kali , untuk minum air putih karena waktu itu panas sekali setelah aku
bersepeda kemari." "Seperti apa di dalam?" Harriet duduk dengan segan.
"Seperti rumah biasa, " kata Jessie Mae dan mengangkat bahu.
"Aku sih ingin melihat-lihat berkeliling," kata Harriet, mengintip melalui
jendela, "hanya untuk melihat kalau dia mendapat pesan-pesan yang belum pernah
dia pakai." "Apa?" Jessie Mae tampak terkejut.
"Pesan-pesan itu!" Harriet memekik, "Seperti yang kamu dapat di bengkel! Aku
nggak tahu kenapa aku harus menjadi satu-satunya orang yang ingat pada pesan-
pesan itu! Sepertinya nggak seorang pun memiliki rasa penasaran dalam-"
"Oh, Harriet," Beth Ellen menyela, "siapa yang peduli?"
"Aku peduli," kata Harriet dan berdiri dengan tegas, "dan aku akan masuk ke
dalam sana dan melihat-lihat."
"Dengar, Cewek, kamu pikir Pak Pendeta akan merepotkan dirinya sendiri dengan
meninggalkan pesan-pesan itu di mana-mana?"
"Aku akan pergi," kata Harriet keras kepala dan menatap ke arah beranda.
"Ini dia." Pak Pendeta keluar dari pintu sambil membawa sebuah baki. "Ini
seharusnya mendinginkan semua hal. Aku juga punya kue-kue yang kamu sukai,
Jessie." Dia melewati Harriet dan meletakkan baki itu di atas meja. Harriet
berbalik dan duduk kembali dengan patuh.
Kendi limun itu mengembun di bagian luarnya. Harriet mulai memakan kue-kue
seolah-olah dia kelaparan selama hidupnya. Beth Ellen makan tiga potong, lalu
berhenti dengan sopan dan melihat kue-kue itu menghilang di dalam tenggorokan
Harriet seperti kacang. "Yah, kamu menyukainya bukan, Bocah Cilik?" kata Pak Pendeta, menertawakan
Harriet. Giginya panjang dan kuning, dan senyumnya hangat. "Apakah mereka tidak
memberimu makan di rumah besar yang mewah itu?"
Harriet hampir tersedak. Jessie Mae mulai tertawa dan Beth Ellen tergelak.
"Apa yang kamu tertawakan, Tikus?" kata Harriet ketika dia bisa bicara. "Rumahmu
lebih besar daripada punyaku."
Pak Pendeta dan Jessie Mae menoleh untuk melihat Beth Ellen. Dia menunduk
memandangi kakinya. "Kamu seekor tikus, Nak?" tanya Pak Pendeta, tergelak. "Yah, aku tidak akan
khawatir. Sang tikus akan menguasai dunia, itu katanya."
Jessie Mae tertawa hingga terguling ke tanah.
"AHA!" kata Harriet sambil berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya ke udara.
"Kamu LIHAT, dia mengutip banyak hal dan mengutipnya dengan cara yang lucu,
seperti si penulis pesan!"
Beth Ellen memandang Pak Pendeta. Jessie Mae berhenti tertawa dan mendongak dan
tanah. Harriet mencondongkan tubuhnya di atas meja. "Aku sudah menangkap Anda
sekarang," ujarnya dengan menyebalkan.
Pak Pendeta tampak terpana, lalu tertawa. "Maksudmu orang itu, yang meninggalkan
hal-hal di seluruh Water Mill" Yah, aku harus mengaku, aku memperoleh gurauan
kecil tadi dari situ. Aku melihatnya tertulis di sebuah kertas kecil ... Aku
sedang di sana, di Water Mill.
Kupikir itu lucu sekali, jadi aku membawanya pulang dan aku simpan didalam ...
kamu mau melihatnya?" Dia berdiri.
"Tentu, tentu," kata Harriet dengan kasar, "cerita yang masuk akal.
Hal yang paling mudah untuk dikatakan, lalu Anda hanya akan menunjukkan sesuatu
yang sudah Anda tulis. Aku tahu lebih baik. Kalau Anda punya pesan seperti itu,
berarti Anda pelakunya."
"Itu bodoh, Harriet," kata Beth Ellen dengan nada yang baginya sangat tegas.
"Setiap orang yang pernah dikirimi pesan pasti memilikinya."
Pak Pendeta menertawakan Harriet yang wajahnya memerah.
"Ternyata kamu bukan tikus biasa, ya?" ujarnya pada Beth Ellen. Dia duduk
kembali. "Aku juga tertarik sekali pada orang yang mungkin melakukan hal ini.
Otak yang sangat aneh karena berpikir untuk mengambil kata-kata Alkitab yang
suci dan memutar balikkannya atau mengatakannya
untuk membuat orang lain tidak senang. Sepengetahuanku, pesan-pesan itu tidak menyenangkan." Dia menatap Harriet.
"Tentu saja aku tidak berlari naik turun desa dan menjadi detektif, tapi aku
tentu ingin tahu. Kudengar mereka juga berniat untuk menangkap orang yang
bersalah ini." "Yah," ujar Harriet , "akhirnya! Aku senang ada orang yang tertarik.
Kenapa kita nggak menangkapnya?"
"Yah, seperti yang kukatakan, aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi
detektif, tapi aku akan memberi bantuan sebisaku."
"Aku ingin melihat pesan-pesan yang Anda dapatkan," kata Harriet dengan nada
penting. "Tentuu!" Pak Pendeta bangkit dan berjalan menuju beranda, lalu berbalik.
"Tadinya aku akan memberikannya pada polisi kalau mereka memintanya, tapi
kupikir aku bisa memberikannya padamu, itu sama saja." Dan dengan senyuman kecil
dia masuk ke rumah. "Apa maksudnya tadi?" tanya Harriet .
"Maksudnya kamu sok. Bagaimana mungkin kamu akan pernah menangkap seseorang?"
kata Beth Ellen. Jessie Mae tertawa.
"Aku nggak peduli apa yang kau katakan ... hei! Dia nggak bilang siapa yang
mendapat pesan itu." Harriet begitu tertarik sehingga dia menatap kearah rumah,
menunggu Pak Pendeta keluar.
Dia bahkan tidak peduli kalau dia dihina, pikir Beth Ellen.
"Aku yakin dia akan memberitahumu," kata Jessie Mae.
"Aku menyukainya," kata Harriet. "Setidaknya dia peduli ada seorang maniak yang
bebas berkeliaran dan meninggalkan pesan-pesan itu. Sepertinya dia pria tua yang
baik." "Memang," kata Jessie Mae tegas.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau si penulis pesan adalah seorang maniak?"
tanya Beth Ellen. "Janie bilang-"
"Jangan pedulikan Janie," Harriet berteriak. "Menurutku ini pasti maniak!"
"Ini dia," kata Pak Pendeta sambil melintasi taman dan menyerahkan sebuah kertas
kecil pada Harriet. Harriet menatap kertas itu seolah-olah matanya bisa menembus
kertas. Jessie Mae melihat dari belakangnya. "Sama seperti yang lainnya,"
ujarnya dan duduk kembali.
"Ini sebuah misteri," kata Pak Pendeta, "tapi ada banyak misteri besar dalam
hidup ini." "Anda datang dari mana?" tanya Harriet tiba-tiba. Beth Ellen terpana. Harriet
memang berani, ujarnya pada dirinya sendiri; aku tidak akan pernah menanyakan
apa pun kepada siapa pun.
"Aku datang dari hutan terpencil, sangat jauh dari sini," kata Pak Pendeta
lambat-lambat. "Dia punya qereja-nya sendiri," kata Jessie Mae dengan kagum.
"Apa yang terjadi pada gereja itu?" tanya Harriet.
Jessie Mae tampak sangat kaget. "Hei! Kurasa itu urusan Pak Pendeta!"
"Tidak apa-apa, Jessie. Anak ini punya beban berupa rasa ingin tahu. Aku tidak
keberatan untuk berusaha meringankan beban siapa pun." Dia memperbaiki letak
duduknya dan meneguk limunnya lama.
"Apakah Anda dipecat?" tanya Harriet penuh rasa ingin tahu.
"Tentu saja dia nggak dipecat," kata Jessie Mae dengan marah.
"Dengar, ya, kamu, kamu ini seperti semua cewek Yankee. Nggak punya sopan santun
sedikit pun!" Harriet tampak kaget. Entah kenapa, Beth Ellen merasa senang.
Suasana menjadi begitu hening. Jessie Mae terus berdiri, siap untuk menghajar
Harriet sampai ke Pekuburan Ridge.
Pak Pendeta tertawa. "Sudah, tenanglah, Jessie, bocah kecil ini ada benarnya.
Aku memang dipecat, kurang lebih begitu."
"NGGAK," ujar Jessie Mae panik. "Bapak mengatakan kebenaran dan para Tetua
datang dan mengatakan pada Bapak kalau Bapak diganti.
Mereka semua salah!"
"Tidak ada yang salah." Pak Pendeta bicara begitu tegas sehingga mereka semua
memalingkan kepala memandangnya. Untuk beberapa saat yang aneh, dia membalas
tatapan mereka dengan pandangan yang tajam, lalu dia tertawa. "Tuhan memecatku,
mungkin, tapi untuk alasan yang baik."
"Dia nggak memecat Bapak. Dia nggak akan melakukannya. Bapak nggak JAHAT!" jerit
Jessie Mae. Pak Pendeta tertawa. "Aku dulu pendeta yang buruk, Jessie." Dia menurunkan gelas
limunnya di meja dengan hati-hati. "Seorang pendeta yang baik seharusnya mampu
menolong. Aku ingin menolong mereka ...."
Beth Ellen menatap gigi panjangnya dan mendadak dia menyukainya. Pak Pendeta
tidak takut, pikirnya; dia tidak takut pada siapa pun.
"Tapi, semuanya akan baik-baik saja," Jessie Mae menyela dengan gugup. "Bapak
sedang memikirkan semuanya, dan ketika Bapak sudah siap, Bapak akan kembali. Itu
yang Bapak bilang." Anehnya, Jessie Mae tampak begitu menyenangkan saat dia
berdiri di sana sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Pak Pendeta dengan penuh
harap. "Kamu tahu, Jessie," kata Pak Pendeta memulai sambil bersandar kembali ke
kursinya, "kamu datang dari tempat yang sama denganku.
Kamu tahu seperti apa kehidupan para petani penggarap. Kamu tahu bagaimana
kehidupan para pekerja musiman-"
"Bagaimana" Bagaimana?" sela Harriet dengan liar.
Harriet tidak tahan kalau tidak tahu semua hal, pikir Beth Ellen.
Pak Pendeta tertawa. "Begini saja, Yankee kecil yang selalu ingin tahu. Satu-
satunya cara agar kamu bisa melewati dunia ini adalah dengan berpikir bahwa akan
ada dunia lain yang akan datang."
Jessie Mae duduk menghempaskan diri. "Maksud Bapak, Bapak nggak percaya kalau
ada dunia yang lain?" dia menarik napas.
"Bahkan jika itu ada, Jessie, kenapa dunia yang ini harus begitu buruk?" Pak
Pendeta bertanya dengan tenang.
Ada keheningan panjang. Beth Ellen merasakan udara yang berat, udara sebelum
hujan, menyentuh wajahnya seperti tangan yang bersarung tangan. Mereka semua
menatap wajah Pak Pendeta yang damai, pada matanya yang hangat. Angin meniup
daun pohon-pohon tua itu, membuat suara gemerisik.
"Tapi ..." Beth Ellen menyadari dirinya berbicara tanpa direncanakan. "Orang-
orang yang lemah akan menguasai ... seperti yang Bapak bilang." Tiba-tiba dia
mendengar suaranya sendiri dan terdiam dengan perasaan tersiksa.
Harriet menatap Beth Ellen lama dan tajam. Beth Ellen merasakannya dan
mendongak. Dia terkejut ketika melihat mata Harriet.
"Kamu bisa mengatakan itu pada mereka hanya untuk jangka waktu tertentu," kata
Pak Pendeta pelan. "Ada saatnya mereka lelah menunggu."
Aku lelah, pikir Beth Ellen.
"Dan kamu bisa mengatakan pada si Kaya mengenai lubang jarum itu, dan mereka
malah bertambah kaya." Pak Pendeta memandangi pohon-pohon itu dengan muak.
"Tapi, Kitab Suci ..." kata Jessie Mae. Beth Ellen melihat kekecewaan pada
wajahnya yang berbintik-bintik, dan merasa sedih.
Pak Pendeta membungkuk ke depan dan menatap langsung ke mata Jessie Mae. "Agama
adalah alat, Jessie, seperti traktor atau sekop atau garpu. Agama adalah alat
untuk menjalani hidup. Dan jika berfungsi, agama adalah alat yang baik. Jika
tidak berfungsi, agama adalah alat yang buruk. Untuk jemaatku di sana, agama
tidak berfungsi." "Tapi ...." Jessie Mae memulai.
"Harus ada alat yang baru," kata Pak Pendeta. Dia bersandar kembali ke kursinya.
"Tapi, agama alat yang baik," kata Jessie Mae. Sepertinya dia ingin menangis.
"Untukmu ... dan untukku." Pak Pendeta tampak lembut. "Tapi, tidak untuk semua
orang." "Tapi, mereka-" Jessie Mae bersikeras.
"Mereka lelah menunggu," kata Pak Pendeta dengan datar.
Aku lelah menunggu, pikir Beth Ellen.
"Tapi ... apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Jessie Mae.
"Masalahnya bukan apa yang akan aku lakukan," kata Pak Pendeta, tersenyum.
"Masalahnya adalah apa yang kalian akan lakukan. Kalianlah yang akan mewarisi
dunia tua ini dan semua kekacauan yang ada di dalamnya. Apa yang akan kalian
lakukan?" Mulut Jessie Mae menganga. Beth Ellen menatap Pak Pendeta, lalu menatap Jessie
Mae lagi. "Yah ... kami akan MEMBETULKANNYA," kata Harriet.
Pak Pendeta tertawa lama sekali. "Tentu saja, Bocah Pintar," dia berkata
akhirnya. "Aku ingin melihat dunia yang dibuat oleh kalian bertiga." Pak Pendeta


Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tertawa lagi, seolah-olah dia bahagia.
Harriet menatap Beth Ellen lagi. "HEI!" ujarnya tiba-tiba, lalu menoleh pada Pak
Pendeta. "Siapa yang mendapat pesan tentang tikus tadi?" "Aku," kata Pak Pendeta
tersenyum. "Dan siapapun yang mengirimnya ..." dia melihat berkeliling dan
matanya berhenti pada Beth Ellen-" siapa pun itu, dia benar. Ada banyak tikus di
dalam diriku." Beth Ellen menjatuhkan gelasnya. Benda itu jatuh di atas sepatunya dan limun itu
membasahi kakinya. Mukanya berubah merah dan membungkuk untuk mengambilnya.
"Nggak apa-apa. Nggak pecah kok," kata Jessie Mae.
Beth Ellen meletakkan gelas kosong itu di meja. Ketika mendongak, matanya
bertemu dengan mata Harriet. Harriet mencondongkan badannya ke depan dan
menatapnya dengan sangat cermat.
"Yah, Anak-Anak Ayam, aku menikmati saat ini," kata Pak Pendeta, dan tanpa kata-
kata lain, dia bangkit dan berjalan menuju rumahnya.
Aku suka itu, pikir Beth Ellen. Dia tidak membuang banyak waktu untuk hal-hal
yang tolol. Jika ingin pergi, dia pergi saja.
"Sangat menarik," kata Harriet sambil memandang Beth Ellen.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya Beth Ellen jengkel.
"Senang bertemu kamu-kamu," teriak Pak Pendeta dari berandanya.
"Senang bertemu Anda!" seru Harriet dan Beth Ellen serempak.
Mereka memandang Jessie Mae yang terdiam.
"Ayo kita pergi," kata Harriet .
Jessie Mae berdiri, berlari menuruni bukit, meloncat ke sepedanya, dan
pergi sebelum seorangpun bisa berkata-kata. Mereka memerhatikannya, lalu berdiri dan berjalan lambat menuruni bukit.
Beth Ellen naik ke boncengan sepeda Harriet. Dia merasakan sepertinya Harriet
punya mata di bagian belakang kepala dan menatapnya dengan pandangan menusuk
sepanjang perjalanan ke rumah.
22 Seniman Masa Depan Esok harinya, pagi-pagi sekali, Beth Ellen duduk ditempat tidur sambil membaca
buku favoritnya. Dia terbangun dengan perasaan bersemangat.
Pada awalnya, dia tidak tahu penyebabnya. Lalu, dia ingat bahwa hari ini Zeeney
dan Wallace akan mendapatkan tiket mereka. Hari ini mereka akan mengurus hari
keberangkatan mereka. Dia sudah bertekad untuk memberi mereka kesempatan lagi
sebelum mereka pergi. Beth Ellen melompat dari kasur, menyembunyikan bukunya, lalu mengeluarkan celana
pendek dan mantel biru yang sudah tua. Akhir-akhir ini, dia selalu bisa
mengenakan apa saja yang dia inginkan sampai siang, tapi setelah itu dia harus
menurut pada perintah. Tempat-tempat aneh yang Zeeney dan Wallace berkeras untuk
mengajaknya selalu menuntut kostum yang ajaib. Kenapa ada orang yang mau pergi
ke tempat-tempat seperti itu merupakan misteri baginya, misalnya peragaan busana
di samping kolam renang di Bath and Tennis. Beth Ellen selalu duduk dengan bosan
dan kaku seperti mumi, takut untuk bergerak, berbicara, atau menumpahkan
sesuatu. Dia berlari melewati ruang tengah menuju tangga belakang. Dia tidak akan pernah
mau melewati tangga depan saat pagi buta. Hal-hal menakutkan yang ada di
sepanjang rute itu terlalu kuat untuk dia tanggung, dan lukisan wanita-wanita
cantik dan pria-pria buruk rupa dari cat minyak yang berwarna kecokelatan,
sampai patung tangan berwarna putih yang menjulur tak diduga dari sebuah celah
yang mirip tangan setan yang sedang menggapai. Dia berlari melewati anak tangga
yang lebar dan sampai ke tangga belakang yang sempit dengan terengah-engah.
Dia berlari ke dapur yang hangat, hampir menghela napas lega melihat sosok-sosok
akrab Susie, Sarah dekat kompor, dan Harry yang duduk santai sambil membaca
surat kabar. Dia tidak berkata apa-apa, tapi menghampiri dan berdiri di samping
Sarah, si juru masak. "Nah, kamu sudah datang," kata Sarah riang. "Siap untuk sarapan?"
Beth Ellen mengangguk. Dia berjalan melintasi dapur menuju ke ruang sarapan. Dia
duduk dan membuka lipatan serbetnya. Aku sendirian, pikirnya.
Beth Ellen memandang ke luar jendela ke arah paviliun. Zeeney dan Wallace sedang
menikmati sarapan mereka di sana. Zeeney mengenakan baju tidur panjang warna
kuning dan Wallace memakai piama flanel putih dengan mantel oranye. Mereka
berpose seperti kartu ucapan selamat di zaman Victoria.
Bibir Zeeney terus-menerus bergerak saat dia merobek kasar amplop-amplop surat
itu dengan pembuka surat terbuat dari perak yang panjang. Beth Ellen
memerhatikan mulutnya yang komat-kamit dan bersyukur dia tidak bisa mendengar.
Sarapannya diantar masuk. Beth Ellen makan lambat-lambat, matanya terus terpaku pada jendela. Aku bisa kabur,
pikirnya malas, dan ingat kalau dia pernah kabur. Dia baru berumur empat tahun
dan itu terjadi di tempat ini karena saat itu musim panas. Mereka menemukannya
sudah berjalan sekitar satu kilometer sambil menenteng sebuah kopor penuh kain
cucian. Semuanya tertawa dan menanyakan, Kenapa kain cucian" Dia hanya pergi ke
lemari seprai dan mengambil apa saja yang paling muat. Kopor itu sangat kecil.
Aku tidak akan kabur, pikirnya, sambil mengunyah daging asap.
Lebih baik aku mencari pekerjaan; lalu aku bisa mandiri dan tidak seperti
Zeeney. Beth Ellen menghabiskan sarapannya dan meluncur dari kursinya. Dengan
sebuah tatapan nanar di matanya, dia berlari melintasi ruang matahari, melewati
taman kecil, keluar ke taman, dan ke paviliun.
"Selamat PAGI, Sayang!" suara Zeeney menerjangnya seperti sapu terbang nenek
sihir. Wallace mendongak, melihatnya dengan tatapan bosan, lalu kembali pada
surat kabarnya. Beth Ellen duduk.
"Mama!" ujarnya keras.
Zeeney menoleh ke belakangnya, lalu menyadari kalau maksud Beth Ellen adalah
dia. "Oh!" ujarnya nyaring, "YA, Sayang." Dia benci sekali kata itu, pikir Beth
Ellen. "Mama, pekerjaan apa yang bagus buatku?" Suara Beth Ellen, karena beberapa
alasan, menjadi semakin keras.
"PE-KER-JA-AN?" teriak Zeeney seolah-olah dia habis dicubit.
"Ya." Untuk pertama kali dalam hidupnya, Beth Ellen merasa benar-benar menang.
Zeeney menatapnya dengan terperangah. Bahkan, Wallace berputar di kursinya dan
menatapnya dengan marah. Lalu, mereka saling bertatapan.
Mereka mulai tertawa. Mereka berteriak dan terbahak-bahak.
Mereka menggeleng, lalu bergidik dan memekik dan berseru dan saling merangkul
satu sama lain melewati meja itu.
Itu cukup, pikir Beth Ellen; itu jawabannya. Ketika akhirnya tawa mereka
berhenti, Zeeney berkotek, setiap katanya diiringi tawa, "Yah, Sayang, bagaimana
kalau angkat berat?"
Lucu sekali, pikir Beth Ellen.
"Atau"- Wallace langsung menimpali- "kamu bisa melamar ke Serikat Buruh untuk
Gerbong Tidur Kereta Api. Pasti ada lowongan."
Mereka saling merangkul dan berayun-ayun ke depan dan belakang.
"Kalau kamu tidak keberatan karena harus banyak bepergian," Wallace menambahkan,
membuat Zeeney tertawa histeris.
Kalian adalah dua orang yang sangat lucu, pikir Beth Ellen. Kalian lucu sekali
sampai-sampai aku akan keluar dan mendapatkan pekerjaan sebagai tukang pipa.
Beth Ellen duduk tenang selama mereka terbahak-bahak. Dia terus duduk, tidak
terganggu, di tengah serentetan saran tentang mendapatkan kursi di bursa saham;
menjadi wanita pertama yang mendaki Gunung Everest; menjadi Wali Kota New York,
dan tentu saja presiden wanita pertama. Yang terakhir hampir membuat mereka
stroke. Dia duduk diam dengan sangat tenang. Ketenangan Beth Ellen akhirnya mengusik
mereka. Mereka mengeringkan mata mereka dan menatapnya. Wallace bergumam "Heh,
heh, heh," dan kembali pada surat kabarnya. Aku bisa mencekiknya sampai mati,
pikir Beth Ellen. Zeeney menatapnya lama, lalu duduk seolah-olah dia sudah
membuat keputusan. "Tentu saja, kamu akan menyelesaikan sekolahmu, pergi ke Eropa setahun, kembali
ke New York, melakukan pemunculan pertama di muka umum, lalu menikah." Dia
menatap Beth Ellen dengan kepastian penuh.
Sebenarnya, ada lebih dari sekadar kepastian di kedua mata itu. Ada perintah
yang tidak terucapkan, yang jika diremehkan, akan membuat seluruh leluhurnya
turun dari lukisan di dinding-dinding itu dan menuntun tangannya ke sebuah
penjara bawah tanah rahasia.
"Kupikir, aku mungkin akan menjadi seniman," kata Beth Ellen tegas. "Gila," kata
Zeeney. "Aku bisa menggambar," kata Beth Ellen.
"Jadi apa?" kata Zeeney.
"Aku paling pandai menggambar di kelas."
"Kamu tidak punya bakat. Percayalah padaku, kalau kamu punya pasti kami sudah
dengar sekarang. Waktu seumurmu, Michelangelo sudah melukis Kapel Sistine!"
"Itu tidak benar!" kata Beth Ellen naik darah.
"Yah, itu bisa membuktikan maksudku."
"Tapi, aku ingin melakukannya."
"Menggelikan. Lupakan saja."
"Aku mungkin berbakat."
"LUPAKAN saja. Berpura-puralah kalau kamu tidak pernah memikirkannya."
"Harriet akan menjadi penulis."
"Siapa Harriet " Jangan menggangguku dengan teman kecilmu yang remeh dan
aspirasi mereka. Aku tahu kamu akan menjadi apa."
"Bagaimana caranya?"
"Karena aku yang memutuskan, bagaimana lagi?"
Oh, tidak, kamu tidak akan, pikir Beth Ellen. Satu percobaan lagi.
"Harriet M. Welsch. Mama bertemu dia malam yang lalu."
"Maksudmu anak Rodger Welsch" Menjadi penulis" Benar-benar tolol. Pasti turunan
ibu anak itu, karena Rodger tidak pernah seperti itu.
Kamu harus belajar, Sayang, bahwa mengatakan kamu akan menjadi sesuatu itu
sangat tolol, kecuali, tentu saja, menjadi kaya, karena kamu akan menjadi kaya.
Sekarang jangan bicara lagi soal itu."
"Aku akan kuliah dan mendapat gelar Doktor." Beth Ellen mendengar nada putus asa
dalam suaranya. "Kamu tidak akan melakukan hal semacam itu. Kamu akan pergi ke sekolah yang
pantas, paling lama dua tahun. Sekolah yang akan aku pilih."
"Kalau begitu aku akan kabur dan menjadi seniman." Beth Ellen berdiri.
"Anakku sayang, kamu sama sekali tidak tahu betapa menyebalkannya kamu. Sekarang
kalau kamu meninggalkan kami dalam damai, aku akan bermurah hati dan melupakan
kalau kamu pernah bersikap buruk seperti ini." Zeeney mengusir Beth Ellen.
Beth Ellen berjalan melintasi halaman berumput. Selesai sudah, pikirnya. Apa pun
yang sangat dibenci Zeeney pastilah sangat baik.
Dia duduk di bangku kecil di taman itu dan menyandarkan kepalanya. Zeeney
menatapnya dengan rasa ingin tahu dari seberang halaman berumput yang panjang
itu. Sekarang Beth Ellen tidak peduli bahwa dia sedang diperhatikan. Lagipula,
dia tahu kalau Zeeney sama butanya dengan seekor kelelawar dan menolak memakai
kacamata karena dia sangat sok. Itu dia, pikir Beth Ellen: jangan pernah takut
memakai kacamata. Beth Ellen menikmati cahaya matahari. Aku akan pergi ke banyak tempat, pikirnya.
Suatu hari nanti, aku akan menjadi seseorang dan tidak akan ada lagi yang
menertawakanku. Tidak ada orang yang akan pernah menertawakan aku.
23 Beth Ellen Meledak Pagi berikutnya, Beth Ellen muncul di paviliun saat sarapan.
"Ada apa?" tanya Zeeney sambil mengamatinya. "Aku akan sarapan bersama kalian,"
jawab Beth Ellen. "Oh," kata Zeeney dengan suara sumbang, "betapa menyenangkan." Dia kembali pada surat-suratnya yang berserakan di atas baki
perak. "Aku harap kamu tidak menumpahkan apa pun atau mengunyah keras-keras
karena hal itu akanmembuat Wallace kesal."
Beth Ellen berusaha agar tampak seperti orang yang mengunyah perlahan-lahan.
Ketika bangun pagi itu, dia ingin datang ke tempat sarapan ini. Karena alasan
tertentu, dia merasa bebas dan seolah-olah mereka tidak bisa menyentuhnya,
seolah-olah apa pun yang mereka katakan tidak akan membuatnya takut. Dia
berpikir, pasti menyenangkan memerhatikan mereka dan tahu mereka tidak bisa
melakukan apa pun padanya.
Wallace datang melintasi halaman berumput dan menaiki tangga lalu duduk. Dia
memandang Beth Ellen. "Selamat pagi," ujarnya sopan.
Susie datang dan menyiapkan satu tempat lagi di meja.
"Apa yang ada di surat-surat itu, Sayang" Hep?" tanya Wallace saat dia membuka
lipatan sura tkabarnya. "Dari Cartier."
"Oh?" "Tagihan." "Oh," kata Wallace pelan.
"Apa ini?" Zeeney bertanya pada dirinya sendiri, dan Beth Ellen menjulurkan
kepalanya untuk melihat apa yang Zeeney temukan.
Sarapan datang saat Zeeney merobek amplop yang panjang itu.
Dia melihat isinya. "Hei!" teriaknya. "Agatha sudah bertindak terlalu jauh!"
Wallace terkejut, lalu berkata, "Apa" Apa" Apa itu?"
Beth Ellen berusaha untuk melihat, tapi dia tidak bisa.
"Apa" Hep" Apa?" Wallace tersedak sedikit.
"Ini! Lihat sendiri olehmu," kata Zeeney dengan marah dan menyerahkan kertas itu
pada Wallace. Benda itu melewati hidung Beth Ellen dengan jarak satu senti, jadi
dia tidak bisa melihat apa-apa.
"Hep!" kata Wallace marah.
"Tidak sopan!" kata Zeeney. "Bagaimana dia bisa bicara seperti itu padahal kedua
anaknya ada dirumah sakit jiwa" Benar-benar khas Agatha!"
"Hep." "Aku ingin pergi ke sana dan menampar muka lilinnya. Dia sudah begitu sering
melakukan operasi wajah sampai-sampai mukanya akan meleleh jika didekatkan pada
api. Tukang sihir lilin."
"Tidak ada gunanya jika kamu menamparnya, Sayang," kata Wallace dan tertawa
seolah-olah dia baru membuat gurauan.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Beth Ellen sopan.
"Sama sekali tidak. Bukan untuk anak-anak," kata Zeeney dengan marah.
"Kenapa tidak?" kata Wallace. "Ini Cuma kekonyolan." Dia menyerahkannya pada
Beth Ellen. Beth Ellen menatap tulisan merah itu:
yang lebih berbisa dari gigi ular
adalah orangtua yang buruk
Beth Ellen tertawa. "WALLACE!" teriak Zeeney. "Seorang anak seharusnya tidak melihat hal-hal seperti
ini!" "Hep! Raja Pembohong."
"Aku lebih tidak peduli. Kadang-kadang kamu sama sekali tidak punya akal sehat."
Zeeney merebut kertas itu dari Beth Ellen, meremasnya menjadi bola dan
melemparkannya ke tengah taman. Bola kertas itu jatuh di sana, seperti burung
kertas yang terluka. Zeeney kembali pada surat-suratnya. Dia menyilangkan kaki, lalu meluruskannya
kembali, berulang-ulang, dan menyalakan sebatang rokok. Wallace kembali membaca
surat kabarnya. Beth Ellen menyantap sarapannya. Aku harusmenelepon Harriet, pikirnya, dan
menceritakan padanya tentang hal ini.
"AHA!" kata Zeeney. Beth Ellen mendongak. Zeeney tampak seperti seorang penyihir
yang baru saja selesai meramu sup di atas ketelnya.
"Ini, SAYANG," ujarnya tegas sambil menyerahkan sebuah amplop pada Wallace.
Amplop itu panjang dengan tulisan merah di depannya.
"Apa?" kata Wallace dan mengambil pesan didalamnya dengan melamun. Dia
membukanya sambil terus membaca surat kabar. Dia menarik sebuah kertas kecil
keluar. "Yah!" ujarnya ketika dia selesai membacanya. "Aku tidak bisa mengerti kenapa
dia harus mengirimkan itu padaku'."
Dia menyerahkan kertas itu pada Zeeney. Zeeney membacanya dan tertawa seperti


Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang gila. Wajah Wallace tampak merah dan marah.
Zeeney tertawa lebih keras lagi.
Selalu tertawa, pikir Beth Ellen; selalu menertawakan seseorang.
"Boleh aku membacanya?" dia bertanya.
"Sama sekali tidak," kata Wallace.
"Tentu saja," kata Zeeney bersemangat dan memberikannya pada Beth Ellen. Wallace
berusaha merebut pesan itu, tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya. Dia
bersembunyi di balik surat kabarnya.
Beth Ellen membaca: Dia yang ingin segera menjadi kaya
tidak akan bebas dari dosa
Beth Ellen tertawa. Dia tidak bisa menahannya.
Zeeney tertawa renyah, senang dengan dirinya sendiri. "Agatha,"
ujarnya menunjuk, "bukan orang bodoh."
Beth Ellen minta diri dan berlari menuju rumah. Secepat mungkin dia menghampiri
telepon dan menelpon Harriet.
"Oh, katakan, cepat!" kata Harriet .
Beth Ellen mengatakan padanya.
"Dan pesan-pesan itu ditulis persis dengan cara yang sama?" tanya Harriet dengan
suara yang sangat detektif.
"Ya." "Kuharap kita bisa menganalisa kertasnya."
"Apa maksudnya?"
"Jadi, kita bisa mengatakan di mana orang itu membelinya.
Seandainya aku anggota kepolisian."
Beth Ellen membayangkan Harriet memakai seragam.
"Zeeney pikir Agatha Plumber mengirimkannya."
"Dia salah," ujar Harriet dengan suara aneh.
"Apa maksudmu?"
"Karena aku tahu siapa yang sudah mengirim pesan-pesan itu,"
kata Harriet dengan suara seperti ular.
"APA?" Beth Ellen mendengar dirinya sendiri berteriak. "SIAPA?"
"Aku nggak akan bilang."
"Aduh, ayo dong Harriet, siapa orangnya?"
"Aku nggak bisa bilang sampai semua informasiku masuk. Kurasa aku akan pergi
sekarang." "HARRIET ! Katakan padaku!"
"Pekerjaan harus dilakukan. Harus pergi sekarang."
"Harriet , kamu kelewatan. Katakan padaku."
"Dadah," kata Harriet dengan suara yang paling menjengkelkan, lalu menutup
telepon. Beth Ellen membanting telepon itu dan mendongak dan melihat pembantunya sedang
menatap aneh padanya. "Nenekmu ingin bertemu denganmu," ujarnya.
"Oke," kata Beth Ellen. "Terima kasih," tambahnya sambil melamun.
Beth Ellen berjalan melintasi ruang tengah dan menuju kamar neneknya. Nyonya
Hansen memandangnya dengan mata seperti elang yang penasaran dan senyum samar.
Beth Ellen duduk di depan sebuah kursi panjang di seberang tempat tidur.
"Bagaimana semuanya?" Nyonya Hansen tampak menahan tawa.
"Apa?" Beth Ellen masih bisa merasakan kejengkelannya pada Harriet sehingga dia
hanya bisa sedikit merasakan hal lain.
"Kunjungan itu."
"Kunjungan?" Beth Ellen merasa seperti kodok di tengah jalan.
"Ibumu ... dan Wallace ... bagaimana hubungan kalian?"
"Oh, itu." "Ya, itu. Bagaimana keadaannya?"
"Yah ........." kata Beth Ellen sambil berpikir: Apa yang bisa aku katakan" ...
Aku ingin menyiram mereka ke toilet"
"Aku mengerti ......" kata neneknya, seolah-olah dia bisa membaca pikiran Beth
Ellen. Nyonya Hansen memalingkan wajah ke arah jendela.
Sinar matahari membuat garis tipis sepanjang hidungnya. "Lagi pula, aku kenal
betul anakku. Kupikir mungkin perjalanannya ... kupikir mungkin dia sudah jadi
dewasa, sudah belajar sedikit." Dia menoleh cepat pada Beth Ellen. "Tapi, dia
belum berubah sedikitpun. Dia masih sama tololnya seperti dulu; wanita tolol
yang tidak menyumbangkan apa pun pada kehidupan. Dia sama sekali tidak hidup,
hanya mengonsumsi. Hanya itu yang dia lakukan. Dia mengonsumsi ... makanan,
pakaian, rumah, tempat di pesawat terbang, dan manusia." Dia menatap tajam pada
Beth Ellen. Beth Ellen balik menatapnya dengan tajam.
"Aku tidak akan membiarkannya mengonsumsimu."
Mata Beth Ellen membesar.
"Sepertinya kamu tidak mengerti, Sayang. Zeeney merasa kamu berada dalam
pengaruh buruk disini. Menurutnya, kau bicara padanya soal pekerjaan ...."
Nyonya Hansen ragu-ragu dan tersenyum pada Beth Ellen. "Kupikir itu adalah hal
yang patut dipuji yang, tapi kamu juga harus ingat satu hal"-dia tersenyum lagi-
"tidak ada satu pun yang lebih dibenci wanita itu selain pikiran tentang kerja."
Sekali lagi dia memandang ke luar jendela. "Mungkin hal itu mengaduk-aduk perut
mereka. "Nyonya Hansen memandang Beth Ellen. "Jadi, karena pikiran dan
perasaanmu sudah diracuni ...." Dia menatap Beth Ellen dengan penuh harap. Beth
Ellen menatap balik. "Kupikir kamu tidak mengerti, Nak; dia ingin membawamu bersamanya."
Beth Ellen lebih merasakan teriakan yang merobek tenggorokannya daripada
mendengarnya. Dia membanting pintu di belakangnya dan merasakan bunyi detak
sepatunya di lantai ruang tengah dan dia berlari, berlari dengan liar, berlari
zig-zag, berlari seolah-olah dikejar oleh seruan
"Nak, Nak!" neneknya yang melayang mengikutinya.
Beth Ellen lari ke dalam kamarnya dan membanting pintu sekeras mungkin. Dia lari
ke kamar mandinya dan membanting pintu sekeras mungkin. Saat membanting pintu
kamar mandi, dia berpikir, itu pintu ketiga yang pernah kubanting selama
hidupku. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli lagi. Aku akan membanting semua
pintu yang kulewati sepanjang sisa hidupku. Dia mondar-mandir di kamar mandi.
Dia tidak bisa berhenti. Ini tidak adil, ini tidak adil, ini tidak adil, kata-kata itu terus berkecamuk
di dalam kepalanya. Aku bukan anak-anak, pikirnya dengan teriakan liar di
kepalanya. Aku tidak pernah menjadi anak-anak dan sekarang aku benar-benar bukan
anak-anak. Aku berubah dari troll menjadi seorang wanita tua. Ini tidak adil.
Ini tidak adil, ini tidak adil. Sebelum dia menyadarinya, sebelum dia bahkan
mendengar suaranya sendiri, dia berteriak dengan gila dan melemparkan semua hal
yang bisa dia lihat. Beth Ellen mulai dengan handuk, yang sebelumnya berusaha
dia robek, tapi tidak bisa. Dia memecahkan kaca tutup laci di wastafel. Dia
melemparkan sikat giginya ke lantai dan menginjaknya, menggilasnya dengan
tumitnya. Dia berusaha untuk mengangkat timbangan badan dan melemparkan ke
jendela, tapi benda itu terlalu berat, dan dia menjatuhkannya di lantai.
Terdengar bunyi pecahan yang keras, menggelegar, memuaskan.
Lalu, dia membuka pintu dan membantingnya. Beth Ellen membukanya kembali dan
membantingnya lagi. Dia bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan. Ini tidak adil.
Ini tidak adil. Dia hanya mendengar itu. Terus dan terus dan terus. Pintu yang
terbanting terdengar seperti sebuah titik- sebuah titik yang besar, dan keras di
setiap akhir kalimat. Dia menghentikannya dan berlari menyalakan pancuran. Lalu, dia memutar mulut
keran sehingga percikan air memukul lantai.
Di sela-sela kucuran air dia berlari ke dalam kamarnya. Dia melemparkan semua
benda di atas meja rias ke sekeliling kamarnya.
Lalu, dia membuka pintu kamarnya dan membantingnya. Dia membantingnya tiga kali,
dan keempat kalinya dia membuka pintu itu, dia melihat wajah Zeeney, Wallace,
dan pembantunya. Dia hanya melihat tiga wajah yang terperangah sebelum dia
membantingnya lagi, berjalan di atas air yang membanjiri kamarnya menuju ke
kamar mandi, lalu mengunci pintu.
Mereka mulai menggedor-gedor pintu kamar mandi. Beth Ellen duduk di bak dan
berpura-pura dia sedang berada di Air Terjun Niagara.
Dia memeluk lututnya. Aku akan membanjiri rumah ini, pikirnya. Lalu aku akan
mulai tumbuh dan menjadi besar. Aku akan menjadi besar seperti monster sehingga
aku akan memecahkan pintu kamar mandi dan memenuhi rumah, halaman, seluruh Water
Mill. Aku akan berdiri di Jalan Raya Montauk seperti menara, seperti patung
raksasa di kuil Yunani. Mereka semua akan berlarian seperti semut.
Air yang dingin itu mengalirinya, kepalanya, dan bajunya. Air menetes di dekat
telinganya seperti hujan yang aman pada suatu hari musim panas.
Harry mendobrak pintu itu. Zeeney memberinya ucapan terima kasih, begitu juga
Wallace, sebelum mereka berpikir untuk lari ke dalam kamar mandi. Sopir dan
pembantunya mengangkat Beth Ellen dari lantai karena Zeeney dan Wallace sama-
sama tidak ingin menjadi basah. Susie menurunkannya ditempat tidur dan mulai
melepas pakaiannya. Wallace dan Harry pergi keluar. Susie membuka pakaiannya
yang basah dan memakaikan piama yang hangat pada Beth Ellen sementara Zeeney
berdiri di sana dan mengatakan hal-hal seperti, "Apa yang merasukimu?"
"Kamu ini anak nakal yang manja. Bayangkan, mengamuk seperti itu!"
dan "Kamu akan belajar satu-dua hal, tunggu dan lihat saja!" Zeeney
mengakhirinya dengan, "Hal terbaik untuk anak yang mengamuk adalah membiarkannya
berteriak sekehendak hatinya dan tidak menaruh perhatian sedikit pun," dan
setelah menawarkan solusi cemerlang ini, dia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Pembantunya mengeringkan rambut Beth Ellen. Rambut keritingnya meloncat satu per
satu. Ini aku. Ini rambutku, pikir Beth Ellen.
Ketika dia sudah hangat, kering, dan diselimuti di tempat tidur, pembantunya
datang membawakan secangkir cokelat panas dan kemudian membuka pintu lebar-
lebar. "Ada seseorang yang ingin menemuimu," ujarnya, dan melalui pintu,
neneknya datang dengan kursi roda. "Halo, Sayang," ujarnya, dan tangis Beth
Ellen pun pecah. Neneknya datang mendekati tempat tidur dan Beth Ellen menjulurkan badannya dan
meletakkan kepalanya di pangkuan neneknya. Dia menangis dan berpikir dia tidak
akan pernah bisa berhenti. Neneknya mengelus-elus rambutnya dan membungkuk untuk
menciumnya berkali-kali. 24 Aku Tinggal di Sini! Esok harinya ketika Beth Ellen bangun, dia merasa luar biasa. Ketika ingat apa
yang telah terjadi sehari sebelumnya, dia merasa seperti berumurseratus tahun.
Neneknya berkata dia ingin bicara padanya pagi ini, dan mengingat itu, dia
merasa takut. Aku jelas bukan seorang wanita sejati, pikirnya pada dirinya
sendiri. Beth Ellen turun dari tempat tidur dan terkejut karena tubuhnya terasa kaku. Dia
mengenakan celana pendeknya. Aku ingin semuanya selesai, pikirnya, sebelum
sarapan. Dia membuka pintu dan berjalan turun ke ruang tengah.
"Masuk," terdengar suara neneknya saat dia mengetuk pintu. Dia tidak terdengar
marah, pikir Beth Ellen. Dia masuk.
"Selamat pagi, Sayang. Duduklah." Neneknya sedang membaca surat kabar pagi. Dia
tampak sangat riang. Beth Ellen duduk. Neneknya menatapnya. Dia menatap balik neneknya.
"Bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanya Nyonya Hansen.
"Baik," kata Beth Ellen.
Nyonya Hansen melipat surat kabarnya dan melepas kacamata bacanya. "Aku sudah
banyak berpikir soal kemarin, dan aku yakin kamu juga." Nyonya Hansen sepertinya
merasa malu secara mendadak karena dia melihat ke luar melalui jendela. "Tapi,
kita akan membicarakannya sebentar lagi." Dia menoleh dan menatap langsung ke
mata Beth Ellen. Di atas hidung elangnya, mata neneknya berwarna ungu karena
sinar matahari pagi. "Kamu sangat penakut, bukan?"
"Apa?" Beth Ellen benar-benar tidak menduga.
Neneknya berpaling. "Kurasa kamu penakut karena kamu dipaksa tumbuh besar di
sini bersama seorang wanita tua. Kamu tidak pernah punya kehidupan yang
sebenarnya. Tapi, ada sesuatu yang ingin kukatakan tentang rasa takut, tentang
rasa malu." Beth Ellen meneliti wajah neneknya, untuk melihat kalau-kalau dia marah. Tapi,
wajah itu tampak tenang. Nenek akan mengatakan bahwa aku nakal, pikirnya.
"Orang-orang yang pemalu adalah orang-orang yang marah," kata Nyonya Hansen dan
segera memalingkan mukanya untuk melihat reaksi Beth Ellen.
Aku bukan seorang wanita sejati, pikir Beth Ellen. Sekarang, dia akan mengatakan
itu. Nenek akan bilang kalau aku bukan wanita sejati.
"Kamu tahu," ujar neneknya sambil tersenyum, "Penting untuk menjadi seorang
wanita sejati, tapi itu tidak penting jika kamu kehilangan hal yang lain, tidak
penting jika kamu kehilangan dirimu dalam proses itu." Beth Ellen merasa
mulutnya menganga. "Ada saat-saat kita harus mengekspresikan perasaan kita, bahkan jika itu berupa
kemarahan. Jika kamu bisa merasakannya dan tidak mengekspresikannya ... mungkin
itu lebih baik, tapi kamu harus berusaha untuk mengetahui apa yang kamu rasakan.
Jika kita tidak tahu apa yang kita rasakan, kita bisa mendapat kesulitan."
Nyonya Hansen menatap lekat-lekat pada Beth Ellen. "Kamu adalah seorang anak
kecil yang sangat marah. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dengan
kemarahanmu. Setahuku, kamu tidak pernah menunjukkannya sampai kemarin."
Wajah Beth Ellen berubah pucat.
Nyonya Hansen berpaling, mengambil napas dalam-dalam, lalu menoleh kembali.
"Sekarang," ujarnya lambat-lambat, "maukah kamu mengatakan padaku, apakah kamu
mau ikut bersama Zeeney ke Eropa, atau tidak?"
"Aku tidak mau pergi dengan Zeeney biarpun hanya ke sudut rumah!" Kalimat itu
diucapkan begitu keras sehingga Beth Ellen terduduk karena terkejut,
mendengarkan kata-kata itu melayang diruangan itu.
Aku akan dibunuh, pikirnya.
Beberapa detik berlalu sebelum neneknya sadar apa yang dikatakan Beth Ellen,
tapi ketika dia mengerti, dia mengeluarkan tawa paling keras, paling
menyenangkan yang pernah Beth Ellen dengar. Nyonya Hansen terus tertawa untuk
beberapa saat dan kemudian dia berkata, "Wah!
Kurasa aku belum pernah mendengar perkataanyang lebih jujur." Nyonya Hansen
menyeka matanya dan tersenyum dari seberang tempat tidur.
"Dan aku tidak bisa mengatakan betapa senangnya aku mendengar hal itu. Kalau
begitu, masalah ini sudah selesai. Kamu akan tinggal bersamaku dan aku sangat
bahagia." Nyonya Hansen tersenyum begitu manis sehingga Beth Ellen berdiri dan berlari
melintasi ruangan. Neneknya mengulurkan tangan dan memeluknya dengan hangat.
Neneknya menjauhkannya dan mereka tertawa bersama-sama seolah-olah mereka
berbagi rahasia. "Bolehkah aku mengajak Harriet menginap disini?" Beth Ellen bertanya cepat-
cepat. "Tentu saja, Sayang. Kurasa Zeeney dan Wallace sudah cukup lama mengganggu hidup
kita, bukan" Sudah waktunya kita kembali hidup normal. Ajak dia malam ini."
"Dan aku tidak harus pergi ke Bath and Tennis lagi?"
"Menurut pendapatku"- neneknya tertawa- "kamu tidak pernah harus pergi ke sana
lagi sepanjang sisa hidupmu."
"HOREE!" teriak Beth Ellen, memeluk neneknya, dan berlari keluar kamar. Aku
terdengar seperti Harriet, pikirnya saat dia berlari di ruang tengah; dan
kalimat ini terdengar berulang-ulang dikepalanya, aku tinggal di suatu tempat,
aku tinggal di suatu tempat, aku tinggal di suatu tempat.
Dia memutar nomor Harriet .
"HAI, HARRIET !" ujarnya keras.
"Siapa ini?" tanya Harriet curiga.
"BETH ELLEN!" Beth Ellen meneriakkannya. Ternyata menyenangkan bicara keras-keras, dia baru tahu.
"Yah, jangan memecahkan gendang telingaku," kata Harriet mengomel, lalu berkata
dengan cerdas, "Apakah kamu yakin kamu Beth Ellen" Kamu nggak kedengaran sedikit
pun seperti dia. Katakan, apa ini"
Siapa ini?" Beth Ellen tertawa. "Ini aku. Dengar, bisakah kamu menginap di sini?" "Tentu.
Eh, maksudku, aku nggak tahu; aku harus tanya."
"Kalau begitu TANYA, Bodoh." Beth Ellen merasakan jantungnya berdebar
kegirangan. "Ya, ya, baiklah," gerutu Harriet dan membiarkan telepon terlepas dari
tangannya. Terdengar jejak kaki yang menjauh.
Beth Ellen berdiri sambil berdendang. Dia melihat buku rahasianya keluar dari


Pesan Misterius Di Water Mill The Long Secret Karya Louise Fitzhugh di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bawah tempat tidur dan dia menendangnya melintasi ruangan.
"Siapa yang membutuhkanmu?" teriaknya.
"Apa?" kata Harriet . "Dengar Beth Ellen, kamu mabuk ya?"
"Tidak." Beth Ellen tergelak. "Kamu bisa datang?"
"Ya. Kapan?" "Makan malam. Kita bisa melakukannya di depan televisi."
"Apakah orang-orang aneh itu sudah pergi?"
"Mereka akan pergi," teriak Beth Ellen, "dan aku tinggal di sini."
"Tentu saja, Bodoh; kamu tinggal di sana."
"Datanglah jam lima," kata Beth Ellen dan menutup telepon, begitu bahagia
sampai-sampai dia tidak mengucapkan sampai bertemu. Oh, Harriet, pikirnya saat
dia melangkah, dengan semua pekerjaan mata-matamu, betapa sedikit yang kamu
ketahui. Zeeney sedang menaiki tangga. Dia mengarahkan jarinya pada Beth Ellen. "Pakai
baju kuningmu. Kita akan sarapan di Bath and Tennis; meskipun setelah peristiwa
kemarin, aku tidak tahu, kenapa aku mengajakmu."
Jantung Beth Ellen berdebar kencang. "Mama tidak akan membawaku ke mana pun,"
ujarnya singkat. "Apa?" kata Zeeney, seolah-olah sebuah kursi baru saja berbicara.
Beth Ellen mengarahkan jarinya, membalas menunjuk Zeeney. "Aku tidak ikut,"
ujarnya keras. "Aku tidak akan ikut ke mana pun dengan Mama!."
Zeeney ternganga dan Beth Ellen tertawa, berbalik, berjalan ke tangga depan dan
tanpa melihat ke belakang, meluncur di atas pegangan tangga, turun melewati
lukisan pria-pria bermuka buruk, melewati pahatan hantu, potret keluarga wajah-
wajah masam, satu demi satu-terus dan terus sampai dia mendarat dengan satu
entakan keras di ujung sana. Dia melihat muka Zeeney yang terkejut dan melihat
dari atas, mengeluarkan pekikan tawa, meloncat, dan berlari sekuat kuatnya.
25 Misteri si Penulis Pesan Terpecahkan Malam itu, setelah makan malam, Harriet dan Beth Ellen menonton televisi. Beth
Ellen terus-menerus berpindah dari satu saluran ke saluran yang lain, bolak-
balik di antara dua saluran, mencari sesuatu yang bagus, ketika Harriet berkata,
"Aku benci televisi."
"Aku suka," kata Beth Ellen bersemangat.
"Itu bodoh," kata Harriet, mulutnya penuh popcorn. Dia meraih lembar program
televisi dan menatapnya dengan jijik. "Lihat ini. Lihat orang-orang tolol ini.
Lihat hal-hal yang bodoh ini. Aku nggak pernah melihat hal yang begitu tolol.
Nggak ada satu pun yang ingin kulihat.
Nggakpernah ada sesuatu yang ingin aku lihat. Benar-benar sekumpulan
kekonyolan ... HEI!" tiba-tiba Harriet berteriak. "Itu ada film Nazi yang
KEREN!" Harriet menoleh kepada Beth Ellen, yang terus gonta-ganti saluran seperti
zombie. "Cepat," teriaknya, "ganti saluran!" Harriet berlari melintasi ruangan.
Beth Ellen melihat lembar program itu dan menggantinya ke saluran yang sesuai.
Beberapa orang Nazi sedang memukuli seorang wanita tua di jalanan.
"Lihatlah hal busuk itu! Aduh, ampun!" kata Harriet dan duduk, memasukkan
segenggam penuh popcorn ke mulutnya.
Beth Ellen mengerling pada Harriet. Harriet sudah tampak aneh semenjak dia
masuk. Pertama-tama, dia menatap Beth Ellen dengan mata terpicing dan berkata,
"Pikirmu aku bodoh, ya?" Beth Ellen berkata
"Nggak," tapi itu tidak menghentikan Harriet menganggukkan kepalanya dan tampak
sangat misterius. Beth Ellen memutuskan untuk tidak memedulikannya. Ketika
mereka masuk ke kamar Beth Ellen, Harriet mulai membuka lemari, laci, dan segala
sesuatu yang kelihatan, sepertinya dia sedang mencari sesuatu. "Apa yang kamu
lakukan?" Beth Ellen bertanya, dan Harriet menjawab, "Lihat saja! Pikirmu aku
nggak tahu apa-apa, ya?"
Setelah lama mencari-cari, kegilaan itu sepertinya menghilang dan Harriet duduk
tenang menikmati makan malam dan televisi.
"Dasar busuk ... Nazi busuk ... Hei! Ini mengingatkanku pada Norman dan Jessie
Mae," kata Harriet dari sela-sela popcorn.
"Maksudmu?" tanya Beth Ellen dengan sopan, meskipun sejujurnya, dia sama sekali
tidak peduli. "BEGINI," kata Harriet, seolah-olah dia sedang menunggu seseorang bertanya
padanya, "aku pergi ke Shark's Tooth Inn hari ini!"
Beth Ellen mengernyit mendengar nama itu, sekaligus mengingat kenangan yang
memalukan itu. "Jadi?" ujarnya, sedikit sinis. Dia menatap Harriet. Harriet seperti menunggu
informasi itu dipancing darinya.
"DAN ... semuanya benar-benar berbeda!" Mata Harriet bersinar-sinar mengingat
ketegangan yang menurutnya sedang dia ciptakan.
"Hmmm," kata Beth Ellen dan memandang gambar di televisi. Kita berdua bisa
memainkan sandiwara ini, pikir Beth Ellen.
"Yah! Apakah kamu bahkan nggak ingin tahu?"
"Nggak terlalu."
"Kamu ini mustahil, Beth Ellen; nggak ada secuilpun rasa penasaran di seluruh
badanmu." "Apakah pernah terpikir olehmu kalau aku nggak PEDULI tentang siapa pun di
sana?" "Bunny?" "Nggak lagi." "Hmmm. Yah, ngomong-ngomong, dia sudah keluar dan di sana bahkan nggak ada lagi
pemain piano. Jessie Mae sudah mengubah semua rencananya. Aku melihatnya di sana
karena Norman mengalami kecelakaan."
Beth Ellen terus menatap televisi.
"Kamu menjengkelkan. Aku nggak peduli. Aku tetap akan mengatakannya padamu.
Beberapa orang menyuruh Norman mengambil mobil mereka, dan coba tebak?"
"Apa?" kata Beth Ellen dengan suara yang paling membosankan yang bisa dia buat.
"Norman nggak bisa menyetir!"
"Jadi?" "Jadi, dia masuk ke mobil dan menyalakannya, dan menyetirnya mengelilingi sebuah
pohon, lalu mengelilingi halaman. Semua orang berteriak dan berloncatan
menghindar, dan dia mengelilingi hotel tiga kali sebelum dia menabrak pagar
besar itu!" Beth Ellen memandang Harriet sekarang.
"Jessie Mae berada di sana dan dia mulai berteriak pada Norman begitu mobilnya
berhenti, dan si Norman yang bau itu keluar, dan wah, mukanya merah sekali. Pria
pemilik mobil itu marah seperti ular dan berkata dia akan menuntut Norman dan
Norman berlari. Lalu, Moo-Moo menggigit Norman."
"Menggigitnya?" Beth Ellen terbahak.
"Ya, dan itu membuat Norman berhenti berlari. Jessie Mae berteriak sampai
kepalanya copot. Dia berkata bahwa Norman dungu dan menjijikkan karena dia tidak
peduli pada apa pun selain uang, dan bahwa dia tidak mau berurusan dengannya
lagi, dan bahwa dia bisa melupakan semuanya tentang gereja karena Jessie Mae
sudah membuang ide itu. Jessie Mae akan pergi ke sekolah dan belajar sesuatu yang lain karena dia juga
tidak akan membuat obat jari kaki karena hal itu tolol." Harriet berhenti untuk
mengambil napas. "Lalu, Agatha Plumber keluar melenggak-lenggok dan berkata,
'SAYANG, jangan khawatir tentang apa pun!' pada pria yang mobilnya hancur dan
dia membawa pria itu ke rumahnya untuk makan siang. Lalu, Norman lari secepat
kilat dan Jessie Mae mengejarnya sambil berteriak-teriak." Harriet mengakhiri
ceritanya dengan bangga dan duduk seperti anak anjing yang sedang menunggu
hadiahnya. "Hmmmm," kata Beth Ellen.
"Aduh, ampun!" kata Harriet. Dia bersandar ke kursinya dan memenuhi mulutnya
dengan popcorn, lalu menonton film. "Aku nggak akan pernah lagi mengatakan apa
pun kepadamu," ujarnya, popcorn beterbangan dari mulutnya saat dia berbicara.
"Aku berpikir, apakah kita akan bertemu mereka lagi?" kata Beth Ellen.
"Siapa?" "Jessie Mae dan Norman."
"Yah, kita bisa mencari tahu tempat tinggal mereka di New York.
Lagi pula, apa pedulimu" Kamu tidak peduli. Aku nggak akan pernah mengatakan
apa-apa padamu lagi."
Beth Ellen tersenyum sendiri. Bayangkan Harriet dengan mulut tertutup untuk
selamanya, pikirnya. "Kamu nggak pernah mengatakan apa pun padaku," kata Harriet.
"Apa maksudmu?" tanya Beth Ellen sambil berpikir: Betul, aku tidak pernah.
"Aku tahu, aku tahu," Harriet menggerutu. "Kamu pikir aku nggak tahu sesuatu,
tapi aku tahu." "Apa?" "Nggak apa-apa. Aku nggak akan mengatakannya sampai ..."
"Sampai apa?" "Sampai ..." kata Harriet sambil bangkit, matanya menempel ke televisi,
"sampai aku bisa MEMBUKTIKANNYA!" Harriet mendadak meneriakkan kata terakhir dan
berlari keluar ruangan. Beth Ellen berdiri, terkejut, dan ketika mendengar bunyi
pecah dari kamar tidurnya, dia mengejar.
Harriet mengobrak-abrik semua benda dan mencari ke bawah tempat tidur, kamar
mandi, ke semua tempat. "Kamu sedang apa?" tanya Beth Ellen ketakutan.
"Nggak, nggak apa-apa," kata Harriet dan berlari keluar ruangan.
Dia berlari menuju ruang tengah. Dia berlari ke ruang duduk kecil dan mulai
mencari-cari di sana. Beth Ellen mengejarnya. "Apa yang kamu lakukan?" teriaknya, tapi tidak satu pun
memengaruhi Harriet, yang mencari ke semua tempat seperti orang gila. Dia keluar
menuju ruang tengah dan kamar tidur Nyonya Hansen.
"Oh, jangan, kamu nggak bisa masuk," kata Beth Ellen dan menangkapnya tepat
sebelum tangan Harriet akan memegang tombol pintu. "Nenekku disitu," bisiknya.
"Oh," kata Harriet keras dan berbelok ke ruang tengah menuju kamar Zeeney.
"Hei," kata Beth Ellen dan mengejarnya.
Harriet melakukan hal yang sama lagi-pada setiap laci, setiap lemari. "Apa yang
kamu cari?" teriak Beth Ellen, tapi Harriet keluar lagi dan berlari. Harriet
lari ke kamar yang dulunya milik kakek Beth Ellen.
Beth Ellen berlari mengejarnya di ruang tengah dan mendengar Harriet berseru,
"AHA!" Beth Ellen berlari ke kamar itu. Harriet sedang berdiri di depan Alkitab yang
terbuka, satu tangannya terangkat dengan rasa menang.
"AHA!" dia berteriak lagi. "Aku menangkapmu! Aku sudah tahu kalau itu kamu!
Pokoknya aku tahu'."
"Apa?" kata Beth Ellen, wajahnya memucat.
"Alkitab ini. Kamu punya Alkitab ini. Kamulah pelakunya. Kamulah si penulis
pesan!" "Oh, sialan, Harriet, itu konyol. Semua orang punya Alkitab. Lagi pula, bukankah
pelakunya akan menandai asal pesan-pesan itu"
Bukankah Alkitab itu akan ditandai?"
Harriet tampak kaget. "Mungkin," dia berkata lambat dan menatap Beth Ellen. Dia
sebal karena Beth Ellen memikirkan sesuatu yang tidak terpikir olehnya. Dia
menyipitkan mata untuk menatap Beth Ellen.
Wajah Beth Ellen berubah merah. Mata Harriet menjadi semakin kecil dan tidak
pernah meninggalkan wajah Beth Ellen.
Mata Beth Ellen mengkhianatinya. Matanya memutari ruangan dengan satu pandangan
cepat. Itu hanya berlangsung sejenak, tapi itu cukup bagi Harriet, yang
mengikuti pandangan itu dan melihat apa yang Beth Ellen sudah lihat. Dia berlari
melintasi ruangan dan masuk ke bawah tempat tidur.
Harriet keluar dengan buku rahasia Beth Ellen ditangannya. "AHA!"
ujarnya dan mengibaskan debu tikus yang tergantung di telinganya.
"AHA, HA, HA!" kata Harriet dengan penuh dendam. Dia membalikkan buku itu dan
melihat judulnya, "Kutipan Umum dari Bartlett?" Dia memandang Beth Ellen kaget.
"Apa ini" Kukira ini Alkitab."
Beth Ellen menarik napas dalam-dalam. "Itu milik kakekku,"
ujarnya tersentak. "Mengapa dia menyimpan buku di bawah tempat tidurnya?" potong Harriet. Dia
membuka buku itu. Sebuah krayon merah yang dipakai menandai halaman terjatuh.
"AHA!" Dia berseru kembali. Beth Ellen melompat untuk merebut buku itu. Harriet
merampasnya dan mulai melihat kutipan-kutipan yang dilingkari krayon merah. "O,
AKU MENGERTI!" dia berteriak. "DARI SINILAH kamu mendapatkan pesan-pesan itu!
Ya, ah-ha ... ah-ha."
Harriet menurunkan buku itu dan menatap Beth Ellen.
Beth Ellen merasa mukanya kehilangan warna.
"Kamu jelas menyimpan rahasia ITU lama sekali," kata Harriet.
"Kenapa nggak kamu KATAKAN padaku" Maksudku, kamu bisa mengatakannya padaku.
Coba lihat, aku berkeliaran selama musim panas seperti orang dungu, padahal
selama itu kau sudah tahu. DASAR!"
Entah bagaimana, omelan Harriet, yang begitu khas Harriet , begitu khas
kehidupan sehari-hari, memulihkan Beth Ellen. Beth Ellen mulai bernapas lagi.
Jadi, kenapa" pikirnya. Lagi pula, aku tidak akan melakukannya lagi. Lalu,
kenapa kalau dia tahu" ... Beth Ellen mengangkat bahu.
"Aduh, KETERLALUAN deh, Beth Ellen," kata Harriet.
"Kamu kedengaran seperti Agatha Plumber," kata Beth Ellen dan tertawa.
"Aku NGGAK seperti dia," kata Harriet, marah. Dia mondar-mandir di ruangan,
masih memegangi buku itu. "Aku menahan ini sebagai bukti,"
serunya saat dia berjalan keras-keras menuju kamar Beth Ellen. Beth Ellen
mengikuti. "Lagi pula, kurasa kamu harus dicegah agar nggak melakukan hal
seperti ini lagi!" Harriet memandangnya.
Aku tidak perlu lagi melakukannya, pikir Beth Ellen.
"Apa yang memberimu ide untuk melakukannya?" tanya Harriet dengan banyak
kekaguman dalam suaranya.
Beth Ellen tersenyum dan tidak menjawab sepatah kata pun.
"Padahal, kamu bisa menceritakannya padaku," kata Harriet. "Aku tahu soal ini
waktu kita berada dirumah Pak Pendeta. Aku memerhatikan wajahmu dan tahu. Tapi,
kamu seharusnya mengatakannya padaku." Dan sambil melemparkan buku itu ke kasur,
dia berjalan marah ke kamar mandi.
Beth Ellen duduk di pinggir kasur dan menatap buku itu dengan senang. Aku
seorang anak kecil, pikirnya bahagia, dan aku tinggal di suatu tempat. Tidak ada
seorang pun yang pernah bisa membawaku pergi. Beth Ellen tertawa, tawa yang
keras dan bahagia. "APA YANG KAU TERTAWAKAN?" teriak Harriet dari balik pintu yang tertutup.
"Tunggu saja sampai kamu membaca cerita yang akan aku tulis tentang kamu dan
pesan-pesan itu!" Beth Ellen tertawa lagi. Itu tidak masalah baginya. Saat ini dia bahagia sekali.
Dia punya rumah dan tinggal bersama orang yang sangat dia sayangi. Mana ada yang
bisa mengalahkankebahagiaan itu".
Tentang Penulis Louise Fitzhugh lahir di Memphis, Tennessee. Dia sempat kuliah di Bard College,
lalu kuliah seni di Italia dan Prancis. Dia melanjutkan studinya di New York Art
Students League dan Copper Union. Buku-buku karyanya dinobatkan sebagai pencetus
literatur anak-anak. Seri klasik ini telah memuaskan pembaca selama bertahun-
tahun. Elang Terbang Di Dataran Luas 5 Sepasang Pedang Iblis Karya Kho Ping Hoo Pendekar Pedang Dari Bu Tong 22
^