Pencarian

Piramida Bangsa Astek 4

Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May Bagian 4


"Maka Anda tergolong daging tidak, ikan pun tidak.
Malah itu lebih berbahaya. Saya harus mengamati Anda, dan harus memperlakukan
Anda sebagai mata-mata, sebelum terbukti kebalikannya."
"Namun saya bukan mata-mata, Senor," raung Cortejo sesak nafas.
"Itu perlu dibuktikan lebih dahulu. Saya pantas merasa curiga terhadap Anda.
Agak kurang masuk di akal, Anda menempuh jarak dari Mexico ke hacienda Vandaqua
hanya untuk mengadakan kunjungan muhibah. Dan mengapa Anda mengadakan perjalanan
ke arah kebalikan dari tujuan Anda?"
Cortejo tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
"Anda tidak menjawab," sambung orang Indian itu.
"Tidak apa. Maka saya akan menahan Anda saja. Esok pasti kita akan mendengar
kebenarannya." "Saya tak bersalah," rengek Cortejo beriba-iba.
"Semoga benar demikian! Kini enyahlah kalian!"
Salah seorang di antara yang hadir tiba-tiba memperdengarkan suaranya, "Senor
Juarez, bolehkah saya mengemukakan sesuatu" Apakah saya mendapat
kepercayaan Anda?" Si pembicara itu seorang Mexico bertubuh tinggi besar serta luar biasa tegap.
Penampilannya sangat menyolok di antara orang Mexico lainnya yang biasanya
bertubuh kecil. "Anda mempunyai permintaan apa, Senor Verdoja?"
jawab Juarez. "Saya telah mengangkat Anda sebagai kapten pada pasukan pengawal
saya. Bukankah hal itu berarti bahwa saya menaruh kepercayaan penuh kepada Anda"
Maka apa maksud Anda dengan permintaan itu?"
"Saya memohon kepada Anda untuk menaruh
kepercayaan pada perkataan Cortejo," jawab yang lain.
Cortejo, disebabkan oleh ketakutannya, tidak melihat orang-orang lainnya yang
hadir, maka orang ini pun tidak dilihatnya. Namun ketika ia mendengar suaranya
yang besar, ia pun tersenyum dengan gembiranya. Ia sudah diselamatkan, orang
yang membelanya itu dikenalnya.
Verdoja itu meskipun bukan seorang jutawan, namun boleh dinamakan seorang tuan
tanah hartawan. Di sebelah barat negeri ia memiliki tanah yang sangat luas.
Ialah tetangga Pangeran Rodriganda, tuan tanah di daerah itu juga. Di situ
terdapat juga tambang-tambang air raksa yang sudah tua. Verdoja ingin sekali
membeli tanah itu, tetapi don Fernando tidak mempunyai keinginan menjualnya.
"Apa" Jadi Anda mengenalnya?" tanya Juarez.
"Benarlah," jawab Cortejo.
"Jadi Anda tidak menganggap dia berbahaya?"
"Tidak, sebaliknya, ia adalah kawan Anda. Saya berani menjamin."
Juarez sekali lagi mengamati Cortejo. "Bila Anda menjamin, ia boleh pergi.
Tetapi Anda bertanggung jawab atas segalanya."
"Baik, Senor." Juarez menghadap pada Cortejo lalu bertanya,
"Siapakah orang-orang yang bersama Anda itu?"
"Mereka boleh pergi dan mencari tempat bermalam.
Anda boleh makan bersama kami. Saya percayakan Anda kepada Senor Verdoja. Anda
telah mendengar bahwa ia menjamin Anda. Maka janganlah membawanya dalam
kesukaran." Dengan demikian perkara yang tadinya nampak berbahaya itu, ternyata berbalik
menjadi baik. Bagi Cortejo disiapkan tempat meja makan. Ia duduk di sebelah
Verdoja dan menyantap makanan bersama Juarez, makanan yang meskipun tidak dapat
dikatakan mewah, namun cukup bergizi. Mereka makan dan minum sekenyangnya dan
seusai makan-makan itu tidak ada seorang pun yang tidak
sedikit banyaknya menjadi mabuk. Hanya Juarez mengingat batas-batasnya. Demikian
sudah menjadi sifat bagi bangsa Indian. Ia bangkit lalu mengundurkan diri. Itu
merupakan tanda bagi orang-orang untuk meninggalkan ruangan. Verdoja dan Cortejo
meninggalkan rumah itu. Kini mereka dapat berbincang-bincang tanpa mendapat gangguan orang.
"Anda boleh tidur di rumah saya," kata Kapten. "Saya harap Anda tidak
berkeberatan." "Sekali-kali tidak, saya merasa mendapat kehormatan,"
jawab Cortejo. "Terima kasih banyak atas usaha Anda untuk membela saya, Senor
Verdoja! Tanpa pertolongan Anda tentu malam ini saya tidak akan dapat tidur."
"Tentu tidak. Namun saya merasa heran, mengapa Anda mengadakan kunjungan ke
hacienda Vandaqua. Terus terang saja, pemilik hacienda itu...sangat diragukan nama
baiknya." "Benarkah demikian?"
Cortejo sangat terkejut, bagaikan kena tampar ia pada mukanya. Sebenarnya ia
sudah mengetahui nama pemilik hacienda itu yang sudah rusak di mata orang. Ia
menyadari bahwa nyawanya telah bergantung pada sehelai rambut.
"Benarlah demikian," jawab Kapten. "Sebenarnya saya tidak boleh bicara tentang
hal itu, sebab masih merupakan rahasia. Namun apa keperluan Anda di hacienda
Vandaqua itu" Sepanjang pengetahuan saya, tetangga Anda itu bukan kawan Anda."
"Itu sudah berubah, Senor Verdoja. Ia bukanlah tetangga saya lagi."
"Apa" Bukan tetangga" Saya tidak mengerti."
"Hacienda del Erina itu bukanlah lagi milik kami. Pedro Arbellez telah
mewarisinya." "Carajo! Dari Pangeran Fernando" Hampir tak dapat dipercaya! Saya tidak boleh
membeli tanah sempit itu, sedangkan dia mendapat tanah seluas dua puluh mil
persegi dengan cuma-cuma saja! Saya ingin mendengar
lebih banyak tentang hal itu. Silahkan masuk, saya tinggal di rumah ini."
Mereka telah tiba di muka rumah. Pintu langsung dibuka orang. Pemilik rumah
tidak menampakkan diri. Verdoja menghuni kamar yang terbaik, tempat tidurnya sudah disiapkan dan di atas
meja sudah dihidangkan makanan.
"Saya rasa tidak perlu lagi kita makan," katanya. "Saya tidur di atas tempat
tidur, Anda boleh tidur di atas tikar gantung."
"Itu sudah cukup bagiku. Saya tidak mau terlalu menyusahkan Anda," kata Cortejo.
Tikar gantung itu disiapkan lalu Cortejo tidur di atasnya. Kapten duduk di atas
tempat tidurnya. Ia menawarkan sebatang rokok kepada tamunya lalu bertanya,
"Benarkah bahwa Alfonso, ahli waris Pangeran Fernando itu ada di Spanyol?"
"Sudah satu setengah tahun lamanya."
"Jadi Anda seorang diri saja mendapat tugas mengurus tanah-tanahnya yang begitu
luas itu" Senang sekali mendapat tugas empuk seperti itu." Sindir Kapten sambil
melempar pandangan penuh arti kepadanya. "Apakah saya akan kebagian rezeki juga,
kawanku Pablo Cortejo?"
"Maksud Anda tanah yang ada tambang air raksa itu"
Eh... ya... itu nanti dapat diatur. Namun katakanlah lebih dahulu, Juarez mempunyai
rencana apa dengan hacienda Vandaqua itu?"
"Menindak pemiliknya. Dia seorang pengkhianat!"
"Tindakan apa kiranya?"
"Itu sebenarnya merupakan rahasia, hanya yang pasti ialah: esok hari waktu
seperti sekarang ini, pemilik hacienda tidak akan hidup lagi. Juarez ialah orang
yang berpendirian keras. Ia tidak akan mengenal ampun.
Hacienda del Erina akan saya lihat juga."
"Apa" Apa maksud Anda?"
"Sebagian di antara kami akan berkemah di situ."
"Oh, begitu," geram Cortejo. "Anda juga?"
"Ya." Cortejo termenung sejenak. Itu dilihat oleh Kapten. Ia bertanya, "Apa yang Anda
pikirkan, Senor?" "Tanah yang ada tambang air raksa itu," kata Cortejo sambil tersenyum.
"Apa" Anda mau menjualnya?" Tanya Kapten dengan penuh selera.
"Berani berapa Anda?"
"Ah... berapa ya" Tanah itu bukan berupa padang rumput. Kalau padang rumput, boleh
juga harganya." "Perlukah Anda memakai siasat saudagar cerdik, barang yang dikehendakinya
dicelanya habis-habisan. Lebih baik kita bermain kartu terbuka saja. Jadi tinggalkan segala ulah: sebut
harga yang Anda anggap pantas."
"Sudah saya katakan: itu bukanlah padang rumput.
Daerah itu terdiri dari dataran tinggi tandus yang sukar dicapai orang serta
jurang-jurang yang dalam dan tandus.
Namun karena letaknya dekat tanah saya, saya mau membayar sepuluh ribu peso."
Cortejo tertawa terbahak-bahak serta menyindir,
"Sungguh lucu tawaran Anda itu."
"Mengapa, Senor?"
"Karena tanah itu telah dibeli oleh Pangeran seharga seratus ribu peso dan kini
harganya mungkin sudah empat kali lipat."
"Itu hanya dugaan Anda."
"Bila dugaan saya benar, maka disamping air raksa, tanah itu mengandung juga
logam mulia. Dengan demikian harga akan membubung tinggi, melampaui satu juta,
karena tanah itu akan memberi bunga yang tidak tanggung-tanggung besarnya,
beratus-ratus ribu peso."
"Itu pikiran yang gila."
"Bukan. Itu keyakinan saya yang berdasarkan fakta-fakta yang nyata... namun saya
mengingat hari depan. Daerah itu akan penuh dengan penduduk dari kalangan buruh."
"Kita tidak mau membayar berdasarkan dugaan."
"Namun saya mengejar keuntungan bagi saya sendiri.
Saya mempunyai itikad baik terhadap Anda."
"Ascuas, sejak kapan Anda begitu suka menolong orang lain?"
"Sejak sekarang, Anda tahu saya mengetahui tentang harga-harga. Anda telah
menolong saya. Tanpa Anda, mungkin saya sudah ditembak mati. Maka karena itu
saya rela mengurangi permintaan saya akan harga tanah yang mengandung air raksa
itu." Kapten tetap acuh tak acuh. "Mungkin Anda bermaksud memberikan tanah itu dengan
cuma-cuma kepada saya?"
ejeknya. "Memang itu kehendak saya."
Verdoja melompat dari tempat tidurnya. "Apa kata Anda?" serunya.
"Anda tidak salah mendengar: saya menghibahkan tanah yang mengandung air raksa
itu kepada Anda." Verdoja menjatuhkan dirinya kembali ke atas tempat tidur dan menjawab dengan
kasar, "Mustahil! Itu terlalu bagus kedengarannya!"
"Namun benar juga."
"Cortejo, Anda tidak akan mungkir pada janji Anda?"
"Tidak." "Kini saya benar-benar menjadi bingung. Saya khawatir, Anda masih belum
menyadari benar-benar isi janji Anda."
"Saya sadar sesadar-sadarnya."
Kini Verdoja kehilangan sabarnya, "Saya peringatkan Anda, jangan main-main
dengan saya. Mana ada orang yang mau menghibahkan tanah seluas itu... kalau dia
masih waras pikirannya."
"Maksud saya mengatakan: ada syarat-syaratnya untuk memperoleh hadiah itu."
"Wah! Baru saya mengerti. Kini baru harimau kelihatan belangnya. Jadi ada
syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Nah, sebut saja syarat-syarat itu!"
"Anda harus membantu saya."
"Nah, katakan saja. Saya ingin mendengar apa syaratnya untuk dapat memperoleh
hadiah semahal itu."
"Ya... kita harus berhati-hati dalam perkara seperti ini.
Kita kan sudah saling percaya-mempercayai. Saya tahu bahwa Anda adalah orang
yang mempunyai tenaga fisik yang sangat kuat..."
"Memang demikian! Tetapi apa kaitannya dengan perkara ini?"
"Lagi pula Anda itu seorang ahli penembak dan pemain anggar..."
"Memang demikian. Berkelahi menggunakan pisau belati pun mahir."
"Anda tepat orang yang saya perlukan. Saya percaya bahwa fisik Anda masih dalam
keadaan baik." "Tentu saja," kata Kapten sambil tertawa. "Lawan saya dalam berkelahi pada
akhirnya selalu mengalami knock out."
"Bagus. Anda akan menghadapi beberapa orang yang merintangi jalan saya."
"Jadi itu maksud Anda! Sekarang saya mengerti. Anda hendak menaikkan pangkat
saya menjadi pembunuh gelap," sindirnya.
"Bukan begitu. Saya akan menunjukkan kepada Anda beberapa orang. Mudah Anda
mencari alasan untuk berkelahi dengan mereka. Dalam bidang ini, saya kira, Anda
tidak perlu mendapat nasihat apa-apa."
"Itu perkara gampang. Jadi saya usahakan, mereka bertengkar dengan saya,
kemudian tembak atau tusuk saja mereka lalu..."
"Lalu akan saya hibahkan tanah itu kepada Anda."
"Caramba! Sungguh benar?" Tanya Verdoja dengan semangat berkobar-kobar. "Namun
tanah itu bukan milik Anda, melainkan milik Pangeran Alfonso de Rodriganda?"
"Pangeran akan menyatakan setuju."
"Maksud Anda: Pangeran akan menandatangani surat perjanjian penghibahan tanah
itu?" "Memang, itulah tepatnya yang hendak saya katakan,
tak kurang dan tak lebih."
"Kalau begitu, saya ingin bertemu selekasnya dengan orang-orang yang Anda
maksudkan itu." "Itu pekerjaan yang gampang sekali. Mungkin esok hari Anda sudah dapat berjumpa
dengan mereka." "Di mana?" "Di hacienda del Erina."
"Carajo! Jangan-jangan orang yang Anda maksudkan itu Pedro Arbellez yang sudah
tua itu." "Bukanlah dia, melainkan tamu-tamunya. Ia
mempunyai beberapa orang tamu, yang sebaiknya dikirim ke surga, atau lebih baik
lagi ke neraka saja."
"Siapakah mereka?"
"Pertama-tama seorang dokter bangsa Jerman, namanya Sternau."
"Bagus. Saya akan mengingat nama itu."
"Kemudian seorang pelaut bangsa Jerman. Namanya saya kira Unger. Yang ketiga
adalah orang Spanyol bernama Mariano atau Letnan Alfred de Lautreville."
"Jadi tiga orang: Sternau, Unger, dan Mariano atau Lautreville. Nama-nama itu
tak akan saya lupakan. Jadi beginilah perjanjiannya: saya akan mencari gara-
gara, timbul perkelahian, saya membela diri lalu... daerah bertambang air raksa
itu menjadi milik saya."
"Tepat demikian."
"Apa jaminannya?"
"Sumpah saya demi segala yang suci."
"Itu saja jaminannya" Memang, itu sudah merupakan jaminan, meskipun agak kurang
kuat. Saya merasa heran, apa sebenarnya sebabnya, maka Anda begitu benci kepada
mereka. Mereka telah menghina Anda?"
"Benar." "Namun saya kurang percaya, Senor Cortejo! Masakan Anda mau menghibahkan seluruh
tanah itu hanya untuk membalas suatu penghinaan. Mesti ada apa-apanya."
"Andaikata ada, itu bukanlah urusan Anda."
"Memang Anda benar. Namun mengapa Anda tidak
membunuhnya sendiri saja?"
"Mana mungkin" Pedro Arbellez itu musuhku. Saya tidak dapat menampakkan diri di
hacienda del Erina."
"Anda dapat menghadangnya di tempat yang tersebunyi sampai mereka keluar dari
hacienda." "Berhubung dengan pekerjaan saya, saya tidak ada waktu berbuat demikian. Terus
terang saja, justru karena itu saya ada di sini. Perlu juga saya katakana bahwa
saya telah menyewa beberapa orang jago berkelahi..."
"Ketiga orang itu?" ejek Kapten.
"Ee, jangan pandang enteng mereka. Berbahaya menghadapi mereka jika mereka
dibuat marah." "Caramba! Saya ingin berkenalan dengan ketiga pahlawan itu. Jadi mereka telah
Anda sewa. Orang-orang demikian tentunya tidak segan-segan melakukan perbuatan
apa pun." "Memang demikian."
"Orang-orang semacam itu saya perlukan. Bolehkah mereka membantu saya, Senor?"
Itu justru yang dikehendaki Cortejo, maka ia menjawab,
"Kebetulan mereka cocok sekali untuk pekerjaan itu. Hati mereka sedang panas-
panasnya. Sudah lama mereka mengandung niat untuk membalas dendam pada ketiga
orang itu. Bawalah saja mereka, saya tidak dapat memberi kesempatan untuk
membalas dendam." "Bagus, saya gembira dapat memberi kesempatan itu kepada mereka. Esok hari pada


Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

waktu sarapan pagi saya akan berembuk dengan mereka. Anda akan kembali ke
Mexico?" "Ya." "Anda akan segera mendengar berita dari saya bila pekerjaan saya ini sudah
selesai." "Akta pembelian atau yang sesungguhnya akta penghibahan itu akan dikirim
langsung ke Spanyol untuk ditandatangani oleh Pangeran Alfonso. Bagaimana
rencana Anda untuk membunuh ketiga orang itu?"
"Itu baru dapat saya katakan, setelah saya bercakap
dengan mereka. Namun sekarang saya harus minta diri.
Anda boleh tidur saja. Saya masih harus memeriksa beberapa pos penjagaan. Juarez
dalam hal demikian sangat keras pendiriannya. Bila ia mencium suatu kelalaian,
maka kepala seorang perwira pun tidak akan dapat dijamin tetap melekat pada
tubuhnya." Dengan senyum gembira, Cortejo merebahkan dirinya ke atas tikar gantung. Kini ia
dapat pulang lagi ke Mexico tanpa merasa cemas atau khawatir sedikit pun, karena
kesulitan-kesulitannya sudah diambil alih oleh orang yang sanggup menandingi
lawan-lawannya. Verdoja adalah orang yang kasar serta kejam, tidak segan-segan
melakukan kejahatan. Untuk memperoleh tanah yang mengandung air raksa itu ia mau
melakukan pembunuhan terhadap tiga orang itu, bahkan bila perlu terhadap sepuluh
atau dua puluh orang pun. Apakah ia mau memenuhi janjinya, itu masih merupakan
tanda tanya. Setelah ketiga orang itu terbunuh, maka ia masih dapat pura-pura tidak tahu-
menahu tentang perkara itu. Verdoja tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ia tidak
akan berani mengadukannya ke pengadilan, karena ia sendiri akan mengalami
kehancuran. Sedang Cortejo mempertimbangkan segala hal ini, maka Kapten pengawal pribadi
sedang bertugas dari pos yang satu ke pos yang lain. Pikiran Kapten lebih
dipenuhi oleh perdagangan gelap itu daripada oleh tugas ketentaraannya.
"Jadi sebabnya mengapa mereka harus dibunuh itu bukanlah penghinaan," pikirnya.
"Maka apakah sebab yang sesungguhnya?"
Sambil berjalan kaki di malam yang gelap itu ia mempertimbangkan berbagai hal.
"Orang Spanyol itu berani membayar mahal...tanah seluas dan semahal itu rela
dikurbankannya. Untuk apa"
Hanya untuk membalas dendam karena penghinaan"
Tidak masuk di akal. Pangeran sampai rela menghibahkan tanah yang mengandung air
raksa itu. Jadi hal itu berarti bahwa seluruh milik Pangeran itu ada dalam
bahaya. Itu sudah pasti. Dan siapakah ketiga orang itu" Seorang dokter dan seorang pelaut,
keduanya orang Jerman. Yang ketiga ialah seorang Spanyol bernama Mariano atau
Alfred de Lautreville. Alangkah misterius kedengarannya.
Agaknya orang Spanyol ini merupakan biang keladinya."
Verdoja melanjutkan perjalanan kelilingnya, namun pikirannya dihantui oleh
kemungkinan akan melesetnya perdagangan gelapnya itu disebabkan oleh kecurangan
dari pihak rekan niaganya itu.
"Apakah Cortejo akan menepati janji?" pikirnya. "Aku kenal dia sebagai seorang
penipu besar. Bagaimana kalau ia berbuat pura-pura tidak tahu-menahu tentang
perjanjian itu, setelah kubunuh ketiga orang itu. Maka tanah yang mengandung air
raksa itu akan lenyap di hadapan mataku... lalu aku tidak dapat berbuat apa-apa.
Namun dalam hal itu Cortejo akan turut hancur juga. Itu sudah pasti. Perkara itu
masih perlu aku pikirkan masak-masak dahulu."
Ia pulang lagi dan pergi tidur. Keesokan harinya ia memanggil rombongan pengikut
Cortejo. Ia mengadakan tanya jawab dengan mereka, disaksikan oleh Cortejo.
"Siapakah kalian sebenarnya?" demikian ia memulai.
Petualang yang kemarin mengangkat bicara, menjawab dengan menyeringai akrab,
"Senor Cortejo belum menerangkan kepada Anda" Kami orang miskin yang mau mencari
nafkah dengan cara apa pun."
"Jadi tidak perduli yang halal ataupun yang haram"
Saya dapat memberi kalian nafkah, setujukah?"
"Sayang itu tidak dapat, karena kami masih bekerja pada Senor Cortejo."
"Dia sudah mengalihkan kalian kepadaku."
"Wah!" seru orang itu. "Benarkah itu, Senor Cortejo?"
"Benar," jawab orang Spanyol itu.
"Kami tidak mau, Senor! Kami orang yang bebas. Anda telah berjanji bahwa kami
boleh membalas dendam."
"Saya tidak dapat lebih lama lagi bersama kalian, namun Kapten ini akan
meneruskan pekerjaan saya."
"Benar," kata Verdoja. "Orang-orang yang bekerja pada saya, akan saya bawa ke
hacienda del Erina."
"Bersama pasukan berkuda?"
"Tidak, bersama saya. Apakah hacienda itu diberi berpagar?"
"Ya. Pagarnya kuat sekali."
"Tidak apa...Hingga tengah malam kalian bersembunyi, kemudian salah seorang di
antara kalian bertiga itu, harus pergi ke tempat yang paling ujung sebelah
selatan pagar. Saya akan ada di situ untuk memberi petunjuk kepadanya."
"Bagaimana tentang upah kami?"
"Sama dengan pada Senor Cortejo."
"Kalau begitu, boleh juga. Dapatkah kita berangkat sekarang?"
"Belum. Juarez masih belum memberi perintah."
Para petualang pergi. Mereka belum semuanya setuju dengan pindah tangan majikan
ini. Beberapa orang menganggap lebih baik mereka kembali saja bergabung dengan
gerombolan mereka. Verdoja pergi ke tempat Juarez. Juarez minta supaya Cortejo
dihadapkan kepadanya. Ketika Cortejo masuk, ia disambut dengan pertanyaan,
"Tahukah Anda, siapa yang menyelamatkan Anda?"
"Ya, saya tahu... namun saya pun tidak bersalah."
"Diam! Senor Verdoja masih tetap menjamin Anda. Kini Anda mau ke Mexico?"
"Benar." "Mereka di sana tidak boleh tahu bahwa saya ada di Santa Rosa, namun Anda akan
membocorkan rahasia itu. Maka Anda tidak diizinkan berangkat."
"Saya dapat menyimpan rahasia seperti dalam kuburan, Senor."
"Seorang kulit putih tidak dapat, hanya seorang Indian dapat. Seorang kulit
putih mungkin baru dapat dipercayai suatu rahasia bila ia menyatakannya dengan
sumpah." "Ya, saya berani bersumpah, Senor."
"Baik, bersumpahlah!"
Cortejo harus mengangkat tangannya dan berjanji tidak akan bicara tentang
pertemuannya dengan Juarez.
"Kini Anda boleh berangkat," kata Juarez. "Bawalah orang-orang Anda dan
janganlah lupa bahwa Anda bertanggung jawab terhadap mereka."
Sesaat kemudian Cortejo sudah duduk di atas pelana untuk meninggalkan Santa
Rosa. Para petualang pergi bersamanya, karena orang tidak boleh tahu bahwa
Verdoja ada hubungan dengan mereka. Mereka hanya tinggal delapan orang, yang
lainnya telah bergabung dengan Juarez. Tidak lama kemudian mereka berpisah
dengan Cortejo lalu dengan jalan memutar pergi ke arah hacienda del Erina.
Setelah Cortejo berangkat dibunyikan trompet yang menandakan keberangkatan
pasukan Juarez. Pasukan bertombak itu menaiki kudanya. Juarez dan perwira-perwiranya memegang
pimpinan. Kuda-kuda separuh liar itu dilarikan kencang-kencang menempuh dataran
tinggi. Masa itu masa yang buruk bagi Mexico. Sudah lama mereka melepaskan diri dari
induk negerinya Spanyol. Suatu negara baru telah didirikan, namun untuk menjadi negara merdeka yang
berdaulat, masih banyak terasa kekurangan. Presiden yang satu terdesak oleh yang
lain, keadaan keuangannya morat-marit, badan-badan pemerintah tidak bekerja
dengan baik, kesadaran bernegara, kesetiaan terhadap negara belum nampak. Di
kalangan tentara, tidak ada yang mau mematuhi perintah, setiap perwira ingin
memerintah sendiri, setiap jendral berkeinginan menjadi presiden. Siapa yang
memegang tampuk pemerintahan, berkeinginan secepat mungkin menjadi kaya raya,
karena ia tahu bahwa kedudukannya itu tidak akan bertahan lama. Penggantinya
berbuat yang sama, demikian juga para walikota dalam berbagai propinsi. Keadaan
yang terbaik dialami oleh para pemilik hacienda. Mereka tinggal di daerah-daerah
terpencil. Di tengah-tengah kekacauan ini timbullah Juarez, yang
segera mendapat pengaruh demikian banyaknya sehingga mengadakan pakta-pakta
perjanjian dengan Amerika Serikat, meskipun ia masih belum menjadi presiden.
Terkadang ia muncul di sini, terkadang di situ untuk memikat hati orang, memberi
anugerah, atau untuk menghukumnya. Dengan tujuan ini ia pun pergi ke hacienda
Vandaqua. Tibanya pasukan bertombak di situ mendatangkan rasa ketakutan di
antara penduduk. Juarez turun dari kudanya lalu memasuki rumah, didampingi oleh
beberapa orang perwiranya. Pemilik hacienda sedang duduk bersama keluarganya,
sedang minum kopi ketika orang yang sangat ditakuti itu masuk ke dalam.
"Kenal saya?" tanya orang Indian itu secara menakutkan.
"Tidak," jawab pemilik hacienda.
"Saya Juarez." Pemilik hacienda menjadi pucat dan berseru, "O, Madona Suci!"
"Tak guna meminta pertolongan dari madona, ia tidak akan dapat menolongmu," kata
Juarez secara menakutkan. "Engkau pengikut Presiden Herrera?"
"Bukan," kata orang itu dengan suara gemetar.
"Jangan bohong!" hardik orang Indian itu. "Kau tentunya ada hubungan surat-
menyurat dengan para pengikutnya?"
"Tidak." "Itu akan kuselidiki. Geledah rumah ini!" Perintah itu ditujukan kepada beberapa
perwira. Perwira-perwira itu memerintahkan orang-orangnya, masuk ke dalam rumah.
Rumah itu digeledah dengan seksama. Tidak lama kemudian kembalilah salah seorang
perwira dengan membawa seberkas surat, yang diserahkannya kepada orang Indian
itu tanpa berkata-kata. Demi pemilik hacienda melihat surat-surat itu, ia
menjadi pucat pasi. Matanya memandang kepada orang Indian itu dengan penuh ketakutan. Keluarganya
berdiri tanpa bergerak maupun bersuara di sudut kamar menanti dengan hati
berdebar-debar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Akhirnya Juarez selesai membaca. Ia bangkit berdiri lalu bertanya kapada pemilik
hacienda, "Kau telah menerima surat itu?"
"Benar." "Dan membacanya" Lalu menjawabnya juga?"
"Benar." "Maka tadi kau telah berdusta; kau adalah Pengikut Presiden. Kau adalah anggota
komplotan yang menentang kemerdekaan rakyat. Inilah ganjaranmu!"
Ia mengeluarkan pistolnya lalu membidik.
Tembakannya meletus. Pemilik hacienda yang kepalanya terkena oleh peluru itu,
rebah ke atas lantai. Orang-orang menjerit keras-keras ketakutan. Namun Juarez,
seakan tidak terjadi apa-apa, kini berkata kepada keluarga orang itu dengan
tenang, "Diam! Kalian pun sebenarnya turut bersalah, namun tidak akan diapa-
apakan. Keluarlah dari rumah ini! Aku menyita hacienda ini untuk negara. Dalam
waktu satu jam kalian harus pergi. Kalian boleh membawa beberapa ekor kuda untuk
mengangkut harta benda kalian. Harta kalian boleh kalian bawa juga. Dan kini...
enyahlah dari sini!"
"Bolehkah kami membawa mayat orang yang meninggal itu?" sedu istrinya.
"Boleh, tetapi cepat sedikit."
Penghuni rumah mengangkat mayat itu dan
membawanya pergi. Setelah satu jam lewat, mereka meninggalkan hacienda dengan
menangis. Kemudian Juarez memberi aba-aba kepada prajurit-prajuritnya: Mereka
dibolehkan menjarah. Beberapa ekor lembu dibantai. Orang-orang mengadakan makan
bersama di udara terbuka.
Verdoja pergi mengawasi penjarahan. Juarez tetap tinggal di dalam kamar.
Sekembalinya Verdoja, Juarez berkata, "Demikianlah nasib setiap orang yang
berkelakuan bertentangan dengan keselamatan tanah air, mereka akan menemui ajal
seperti itu. Verdoja, apakah
kamu setia?" Matanya menatap wajah perwira itu dengan tajamnya, namun Verdoja
menjawab dengan tenang, "Ya, Senor, Anda tahu bahwa saya ini setia."
"Bagus, maka kau akan mendapat tugas. Kenalkah kau akan propinsi Chihuahua?"
"Saya telah lahir di situ dan daerah itu bersebelahan letaknya dengan tanah
saya." "Baik. Pergilah ke ibukotanya yang sama namanya dengan propinsi itu, lalu
bertindaklah di situ sebagai wakil saya. Hari ini kita akan berpisah. Tetapi
sebelumnya kau akan pergi bersamaku ke hacienda del Erina."
"Apakah saya akan mendapat bala bantuan?"
"Kau akan mendapat satu eskadron tentara, yang lain akan kembali bersamaku.
Mari!" Sesaat kemudian mereka pergi, didampingi oleh beberapa orang pasukan bertombak.
Salah seorang vaquero menjadi penunjuk jalan.
Kedatangan mereka di hacienda del Erina sudah diketahui lebih dahulu. Pintu
gerbang sudah dikunci oleh penduduk sebagai tindak keamanan. Juarezlah yang
mengetuk pintu. "Siapa?" Tanya Arbellez dari balik pintu.
"Tentara! Bukalah!"
"Anda mau apa?"
"Caramba, Anda mau membuka atau tidak?"
Di sisi pemilik hacienda berdiri Sternau, Unger, dan Mariano.
"Perlukah saya buka?" bisik Arbellez.
"Ya," jawab Sternau. "Hanya ada beberapa orang penunggang kuda.
Setelah pintu dibuka dan Juarez dan Verdoja masuk ke dalam, orang Indian itu
menatap mereka dengan mata berapi-api. "Mengapa Anda tidak langsung membuka?"
hardiknya. "Kami tidak kenal Anda," jawab Arbellez. "Apakah Anda seseorang yang harus
dipatuhi, Senor?" "Saya Juarez. Kenalkah Anda akan nama itu?"
Tanpa terkejut, Arbellez berkata sambil membungkuk kecil, "Tentu saya kenal akan
nama itu. Maafkan kami karena kami tidak langsung membuka pintu. Anda kami
terima dengan senang hati."
Ia mengantarkan para tamu ke kamar tamu. Di situ mereka duduk di kursi tanpa
dipersilahkan lagi. Meskipun disambut dengan ramah tamah, wajah Juarez nampak
keruh sekali. Ia bertanya, "Anda melihat kami datang?"
"Benar, Senor."
"Anda tahu kami tentara?"
"Tahu." "Meskipun demikian Anda tidak langsung membuka pintu" Itu harus dihukum."
"Ya, tetapi presiden pun mempunyai tentara. Mereka kurang berkenan di hati kami.
Saya tidak mengetahui bahwa Andalah yang datang."
Wajah Juarez berubah menjadi jernih.
"Jadi saya di sini disukai?"
"Dengan segenap hati. Anda bersikap tegas, Senor, negeri kita ini memerlukan
orang seperti Anda."
"Ya, dengan sifat tegas itu beberapa orang sudah mulai berkenalan. Yang terakhir
baru-baru ini. Anda kenal hacienda Vandaqua?"
"Sangat baik, itu tetangga kami."
"Bila disewakan, sepantasnya berapa uang sewanya, Senor Arbellez?"
Hacienda itu hak milik seseorang, bukanlah untuk disewakan."
"Jawab pertanyaan saya," perintah Juarez tidak sabar.
"Bila ia dikelola dengan baik, bukan seperti sekarang, maka orang akan berani
membayar sepuluh ribu peso."
"Baik, Anda boleh menyewanya seharga tujuh ribu peso."
Arbellez tercengang-cengang memandang kepada orang Indian itu. "Senor, maaf saya
kurang mengerti." "Bukankah sudah cukup jelas" Daerah itu bersebelahan dengan daerah Anda. Saya
telah menyita hacienda Vandaqua untuk negara dan kini saya memberikannya kepada Anda."
"Bagaimana dengan pemiliknya?" tanya Arbellez terkejut.
"Ia meninggal disebabkan oleh peluruku, ia seorang pengkhianat. Keluarganya
diharuskan meninggalkan rumah. Cepat ambil keputusan, Senor!"
"Bila demikian keadaannya, saya mau. Tetapi..."
"Tidak ada tetapi! Ambil alat tulis-menulis! Kita akan membuat suatu
perjanjian." Perkara ini pun, seperti semua perkara yang ditangani oleh Juarez, diselesaikan
secepat kilat namun dengan teliti dan rapih. Akhirnya ia berkata, "Inilah Kapten
Verdoja. Ia tinggal bersama eskadronnya selama beberapa hari ini.
Dapatkah Anda menyediakan tempat?"
Arbellez setuju, meskipun sesungguhnya ia ingin menolaknya.


Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pasukannya akan datang menjelang malam. Layanilah mereka lalu tentukan biayanya
bersama Kapten. Selamat tinggal!"
Ia bangkit berdiri lalu keluar dari pintu. Verdoja mengikutinya. Bersama kawan-
kawannya mereka menaiki kuda dan pergi meninggalkan para penghuni hacienda yang
merasa heran akan segala kejadian itu.
Mengapa tetangga mereka itu harus mati" Mengapa justru Pedro Arbellezlah yang
harus menjadi penyewa" Jadi itulah Juarez, orang Indian termashyur, ditakuti di
seluruh Mexico dan sekaligus disayangi maupun dibenci. Orang-orang yang
mengenangkan segalanya ini belum dapat membayangkan akibat-akibat apa yang dapat
ditimbulkan oleh instruksi-instruksi yang dikeluarkan oleh pemimpin partai ini.
Ketika Juarez tiba di hacienda Vandaqua, dilihatnya di muka rumah sudah ditumpuk
barang jarahan yang dianggap oleh para prajurit cukup berharga untuk dibawa.
Barang-barang itu dibagi-bagikan di antara mereka dan meskipun setiap orang
hanya kebagian sedikit saja, namun
orang-orang yang hidupnya sederhana itu gembira sekali.
Seusai pembagian itu, Kapten Verdoja menerima instruksi-instruksi. Penempatannya
di rumah Arbellez sekedar dimaksudkan untuk memberi istirahat kepada kuda-
kudanya agar dapat pulih kembali tenaganya, karena perjalanan ke Propinsi
Chihuahua yang terpencil letaknya itu merupakan perjalanan yang berat. Verdoja
tidak boleh tinggal lama-lama di hacienda del Erina. Ia harus lekas pergi ke
tempat tujuannya untuk menjalankan tugas yang diinstruksikan kepadanya oleh
tuannya itu. Kedua orang itu telah berunding lama; pembicaraan itu nampaknya
penting juga. Akhirnya Juarez berpisah dengan Kapten dengan berjabatan tangan.
Juarez menaiki kudanya lalu melarikannya kencang-kencang, diikuti oleh
pasukannya, kembali ke arah dari mana ia datang... bagaikan malaku'lmaut, cepat
datang, cepat menghilang pula setelah menunaikan tugas, sambil meninggalkan
jejak yang berdarah. BAB III KAPTEN PASUKAN BERTOMBAK Senja hari riuh terdengar derap kaki kuda, menandakan bahwa pasukan bertombak
sedang datang. Hanya para perwira dibolehkan tinggal di rumah, para prajurit
terpaksa harus tidur di kolong langit. Kapten Verdoja bersama para perwira
diterima di ruang tamu. Setelah disambut dengan segelas minuman, maka Hermoyes
yang berusia lanjut itu mengantarkan tuan-tuan itu ke kamar mereka. Emma
Arbellez telah meninggalkan tempat tidur kekasihnya untuk mempersiapkan kamar-
kamar tamu. Gadis itu sedang berada dalam kamar yang diperuntukkan bagi Kapten, ketika ia
mendengar orang itu datang. Gadis itu tidak ada waktu lagi untuk menghindar.
Verdoja membuka pintu dan melihat Emma di tengah-tengah kamar. Gadis itu
sedianya sudah cantik dan karena kini kecemasannya memikirkan keadaan
tunangannya itu sudah berkurang, ia tampak lebih cantik lagi.
Matahari sedang terbenam dan cahayanya yang penghabisan yang masuk ke dalam
melalui jendela, menerangi tubuh gadis dengan warna merah muda keemasan. Verdoja
terpaku sejenak melihat pemandangan itu. Ia tidak dapat menguasai perasaannya,
bukanlah perasaan yang luhur, mulia memuja kecantikan, melainkan nafsu
kebinatangan yang memenuhi diri manusia yang biasa menghamburkan nafsunya secara
kasar kepada objek yang menjadi sasarannya.
Agak kemalu-maluan Emma membungkuk kecil lalu berkata,
"Silahkan masuk, Senor! Inilah kamar Anda!"
Verdoja menerima ajakan itu. Ia menyalami gadis itu tanpa menaruh hormat yang
semestinya dan menjawab, "Aduhai, siapa yang menyangka saya dapat menjumpai gadis secantik itu dalam
kamarku. Maafkan saya, kedatangan saya ini benar-benar menodai sesuatu yang
suci." Sebenarnya gadis itu hendak mengulurkan tangannya kepada tamunya seperti lazim
menurut adat-istiadat bangsa Mexico, namun ia menarik tangannya kembali.
Perkataan, gerak-gerik, maupun air muka orang itu dirasakan oleh gadis itu
sebagai derajat yang rendah.
"Tidak ada yang dinodai," kata gadis Mexico yang cantik itu. "Saya hanya datang
memeriksa kamar, sudah bereskah atau belum."
"O, jadi Anda ini malaekat pelindung rumah ini! Bahkan mungkin ..."
"Pemilik hacienda adalah ayahku," kata gadis itu pendek.
"Terima kasih, Senorita! Namaku Verdoja. Saya Kapten pasukan bertombak dan kini
saya sangat berbahagia: bolehkah saya mencium tangan Anda yang cantik itu?"
Verdoja menjangkau ke arah tangan gadis itu, namun tiada berhasil. Gadis itu
cepat mengelak, berlari ke arah pintu.
"Jangan pergi!" seru orang itu. "Saya tidak membiarkan Anda pergi!"
Kapten hendak memegangnya, namun gadis itu lebih cepat. Ia lari keluar dari
kamar dan menutup pintu di belakangnya. Verdoja terbengong-bengong memandangi
pintu yang tertutup itu. "Caramba! " sungutnya. "Begitu cantiknya! Belum pernah aku jatuh cinta pada
pandangan pertama seperti ini. Aku akan benar-benar menikmati masa istirahat di
rumah ini. Bila aku ingin menikah, inilah calonnya yang menggairahkan!"
Emma merasa beruntung, dapat luput dari bahaya itu.
Mata orang yang menelan secara rakus itu membuat dia takut. Kini ia berusaha
untuk senantiasa menjauhi orang itu. Ia kembali lagi ke kamar si sakit dan
akhir-akhir ini ia tetap mendampingi tunangannya.
Di sebelah si sakit ia menjumpai Sternau. Pasien itu keadaannya sudah membaik,
pembedahan telah berhasil dengan baik dan ia tidak merasakan demam disebabkan
oleh luka-luka. Pasien itu kini sudah sadar. Ia sedang membicarakan proses
penyembuhannya dengan dokter.
Ketika ia melihat tunangannya, berkuranglah warna pucat pada wajahnya.
"Kemarilah, Emma," katanya. "Dokter Sternau kenal akan tanah airku."
Emma pura-pura baru mendengar berita itu. "Wah, kebetulan sekali, bukan?"
"Benar. Ia kenal juga akan saudaraku. Sebelum ia berangkat, ia bercakap
dengannya." "Saudara yang dimaksudkan tadi sedang duduk di balik tirai, karena si sakit
masih belum boleh mengetahui bahwa ia sudah ada di situ. Setiap ketegangan, yang
menyedihkan maupun yang menyenangkan, harus dijauhi sedapat-dapatnya. Masa
sakitnya dan pembedahan yang dilakukan kemudian telah melemahkan tubuhnya,
sehingga ia berada dalam tidur atau dalam keadaan separuh sadar, keadaan sadar
penuh yang dialaminya sekarang merupakan kecuali. Ketika Sternau bangkit
berdiri, maka Emma duduk di tempatnya. Si sakit memegang tangannya, tertawa
bahagia lalu menutup matanya. Demikian Anton Unger tertidur.
"Apakah sudah tidak ada bahaya lagi?" bisik Emma.
"Tidak ada. Masa tidur serta istirahat yang menyehatkan akan mendatangkan
kesembuhan rohani maupun jasmani. Bagi kita, tidak ada lagi yang dapat kita
kerjakan, kecuali membiarkan penyembuhan berlaku secara alamiah dan menjaga
supaya ia tidak mendapat gangguan sedikit pun juga. Tetapi Anda sendiri pun
harus mendapat istirahat. Tidak ada gunanya bila seorang
disembuhkan, tetapi yang lain justru jatuh sakit."
"Tidak, Senor, tubuh saya kuat!" kata gadis itu. "Anda tidak usah merasa
khawatir terhadap saya."
Sternau melambai pada Unger supaya mengikutinya.
Mereka pergi ke luar untuk melihat tempat prajurit bermalam. Mereka menjumpai
Mariano, yang dengan maksud sama pergi ke situ. Prajurit-prajurit sedang sibuk
mengumpulkan kayu untuk menyalakan api. Mereka mengumpulkan pelana-pelana kuda
yang dilepas dari punggung kuda untuk digunakan sebagai bantal kepala.
Arbellez telah menghadiahkan mereka seekor lembu jantan, yang sudah dibantai dan
dipotong-potong dagingnya. Semuanya itu kelihatannya ramai dan berwarna-warni
sehingga menarik perhatian ketiga orang itu.Saat makan malam tiba. Para tamu
pergi ke ruang makan. Para perwira pun hadir juga. Pertama-tama yang dilakukan
oleh Kapten ialah menoleh ke kiri kanan mencari Emma. Verdoja kecewa ketika
melihat bahwa gadis itu tidaklah hadir dan Arbellez yang melayani para tamu
sebagai gantinya. Para perwira Mexico itu berkelakuan sopan namun tinggi hati
dan tertutup terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Kaum Caballero seperti
mereka tidak merasa perlu bersusah untuk mengambil hati seorang Jerman.
Verdoja mengamati Sternau, Unger dan Mariano. Jadi merekalah orangnya yang harus
dibunuh untuk mendapat imbalan tanah seharga ratusan ribu peso itu. Unger dan
Mariano kurang mendapat perhatiannya, sebaliknya terhadap Sternau terpusat
segenap perhatiannya. Tubuhnya yang kukuh kuat, mau tak mau meninggalkan kesan yang dalam padanya.
Dari orang ini ia mungkin mendapat perlawanan yang tidak dapat diremehkan.
Dari perkataannya yang pendek-pendek tampak kepercayaannya kepada diri sendiri.
Kapten memutuskan untuk bersikap hati-hati serta pandai-pandai menggunakan
siasat dalam menghadapinya.
Pada kesempatan berlangsungnya percakapan di meja makan, Arbellez mengemukakan
sesuatu yang langsung diraih oleh Kapten dengan dua belah tangannya.
"Kami bukan hanya merasa senang, Senores, menerima Anda di tengah-tengah kami.
Di samping itu, kami pun merasa lebih aman," kata pemilik hacienda. "Kemarin
kami menghadapi bahaya besar."
"Sungguh?" tanya Verdoja pura-pura acuh tak acuh.
"Benar, segerombolan petualang hendak mengadakan penyerbuan di sini."
"Tentunya banyak sekali anggotanya."
"Lebih dari tiga puluh orang."
"Wah! Gerombolan semacam itu biasanya kejam-kejam dan berani bertindak secara
nekad. Tujuan mereka menyerang hacienda atau orang-orangnya?"
"Sebenarnya orang-orangnya, tetapi karena orang-orang itu berada di dalam rumah
saya, maka mereka berusaha menghancurleburkan hacienda dan membunuh isinya."
"Asta! Siapa-siapa orang yang dimaksud itu?"
"Tuan-tuan Sternau, Mariano, dan Unger."
"Aneh. Bagaimana caranya Anda dapat melawan mereka?"
"Senor Sternau telah berhasil mematahkan perlawanan sebagian besar di antara
mereka." Kapten terheran-heran memandang kepada orang yang duduk di seberangnya; perwira-
perwira lainnya mulai menyeringai serta menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tentunya hanya seorang saja?" Tanya Verdoja memancingmancing.
"Kira-kira sepertiga gerombolan itu."
"Dan Senor Sternau telah melawannya seorang diri saja?"
"Ada seorang yang membantunya."
"Itu kedengarannya mustahil. Sepuluh orang dapat dikalahkan seorang tanpa
mengadakan perlawanan" Anda barangkali khilaf."
"Benarlah demikian keadaannya!" jawab pemilik
hacienda berseri-seri. "Anda harus mendengar ceriteranya!"
Sternau memandang Arbellez dengan sungguh-
sungguh. "Sebaiknya Anda jangan menyinggung-nyinggung perkara itu lagi.
Peristiwa yang lampau itu bukanlah suatu tindak kepahlawanan."
"Menurut pendapat saya sungguh suatu tindak kepahlawanan, karena Anda dapat
melukai sepuluh orang sedangkan Anda sendiri tidak mendapat gores sedikit pun,"
kata Kapten, "dan saya harap, Anda tidak akan berkeberatan, bila kami ingin
sekali mendengar ceritera tentang pengalaman Anda yang demikian mengagumkan
itu." Sternau mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia menyerah terhadap sesuatu yang
tiada terelakkan lagi. Pedro Arbellez mulai berceritera dan ceriteranya itu begitu mencekam, sehingga
para perwira mendengar dengan perhatian sampai perkataan terakhir diucapkan.
"Hampir tidak dapat dipercaya!" seru Kapten. "Senor Sternau, harus saya ucapkan
selamat atas tindak kepahlawanan Anda itu."
"Terima kasih," jawab Sternau dingin.
"Tindak kepahlawanan itu tidak begitu mengherankan,"
sambung Arbellez. "Pernahkah Anda mendengar tentang Kepala Banteng, seorang kepala suku bangsa
Indian, Senor Verdoja?"
"Sudah. Ia kepala suku bangsa Mixteca."
"Dan kenalkah juga Anda akan seorang pemburu dari daerah utara; ia dinamakan
Matava-se?" "Ya. Ia terkenal sebagai orang yang bertubuh kuat serta berani."
"Nah, Senor Sternau itu tak lain tak bukan pemburu termasyhur itu dan Kepala
Banteng telah mendampinginya ketika ia pergi ke "Ngarai Harimau Kumbang".
Para perwira terpekik karena kagumnya.
"Benarkah itu, Senor Sternau?" Tanya Kapten.
"Benar," jawab Dokter. "Namun saya akan merasa lebih senang bila saya tidak
dipandang sebagai seorang
pahlawan." Verdoja yang cerdik itu berkata pada dirinya sendiri,
"Marianolah yang memegang peran utama dalam perkara misterius ini dan bila
sampai "Ratu Batu Karang" sendiri mau melindunginya, maka rahasia yang meliputi
dirinya itu tentunya sangat berharga."
Ia mengambil kesimpulan untuk menanyakan saja secara langsung. Ia bertanya,
"Tetapi mengapa penjahat itu justru memilih ketiga orang ini sebagai sasaran?"
"Itu dapat saya terangkan," kata pemilik hacienda.
Namun sebelum ia dapat memulai ceriteranya, Sternau sudah memotong,
"Itu merupakan persoalan pribadi. Saya kira, Senor Verdoja tidak ada perhatian
dalam persoalan itu. Lebih baik kita bicara tentang hal lain saja.
Arbellez menerima teguran halus itu dan tidak melanjutkan perkataannya, namun
Kapten tidak mau mengaku kalah. Ia bertanya, "Jauhkah "Ngarai Harimau Kumbang"
itu dari sini?" "Sejam perjalanan dari sini," jawab Sternau.
"Saya ingin sekali melihat tempat itu. Maukah Anda kiranya, Senor Sternau,
mengantarkan saya atau kami ke situ?"
"Dengan segala senang hati," jawab Sternau.
Kapten tersenyum puas, namun cepat-cepat ia menghilangkan senyum itu. Sternau
yang terbiasa memperhatikan hal yang kecil-kecil pun melihat perubahan itu. Ia
mengerti bahwa Kapten, entah karena apa, merasa gembira dengan janjinya hendak
mengantarkannya. Curiganya mulai timbul, namun ia menjaga supaya tidak nampak.
"Bilamana kita dapat pergi?" tanya Verdoja.
"Terserah pada Anda, Senor," jawab Sternau.
"Kalau begitu, saya akan menentukan waktunya."
Dengan demikian persoalan itu dianggap selesai dan selama pembicaraan
selanjutnya tidak disinggung-singgung lagi.
Setelah makan malam para perwira pergi ke kamarnya masing-masing. Seorang letnan
yang masih muda sedang berbaring melihat-lihat ke luar jendela, untuk menikmati
pemandangan daerah sekitar yang diterangi oleh api-api unggun. Tiba-tiba
petualang muda itu melihat baju wanita berwarna putih bangkit di tengah-tengah
belukar gelap di taman bunga. Seorang pria Mexico biasa suka berkencan dengan
sembarang wanita. Jarang sekali ia mendapat teguran, maka Letnan Pardero merasa
tidak ada salahnya, bila ia mencari sedikit hiburan. Para prajurit tidak
menempati taman bunga, jadi Karja ada di situ seorang diri.
Gadis itu terkenang akan Pangeran Alfonso yang dicintainya1. Bodoh benar ia,
mengapa sampai ia mencintai orang seperti itu. Kini gadis itu membencinya. Ia
pun terkenang akan Hati Beru
Lihat buku Puri Rodriganda
ang, kepala suku bangsa Apache yang gagah perkasa itu, yang telah mencintainya ...
dan ia tidak mengerti mengapa ia bersikap begitu dingin ketika berhadapan dengan
orang berjiwa ksatria seperti itu. Alangkah besar keinginan gadis itu dapat
bertemu kembali dengannya.
Bunyi langkah kaki ringan mengganggunya dalam lamunannya. Ia mengangkat
pandangannya lalu melihat Letnan. Karja berusaha menghindar, namun Letnan
menghalangi jalannya lalu memohon mengiba-iba dengan membungkuk kecil,
"Janganlah pergi, Senorita! Saya menyesal telah mengganggu Anda dalam menikmati
harum bunga di taman ini."
Gadis Indian itu menatapnya secara menyelidik.
"Siapakah yang Anda cari, Senor?"
"Saya tidak mencari siapa-siapa," jawab Pardero.
"Namun malam ini begitu indahnya, saya merasa tertarik ke taman. Apakah saya
tidak boleh datang di sini?"
"Para tamu boleh pergi ke mana pun."
"Namun kehadiranku mengganggu Anda, Senorita yang manis."
"Karja tidak dapat diganggu oleh siapa pun," jawab gadis itu tanpa memberi hati.
"Taman ini cukup luas untuk kita berdua."
Letnan pura-pura tidak mengerti. Ia menghampiri gadis itu lalu berkata, "Jadi
nama Anda, Karja" Apa kerja Anda di Hacienda?"
"Senorita Emma adalah temanku."
"Dan siapakah Senorita Emma itu?"
"Anda belum menjumpainya" Ialah putri don Pedro Arbellez."
"Masih adakah seorang kerabat Anda di sini?"
"Kepala Banteng, saudaraku."
"Wah! Kata Letnan sedikit kecewa. "Kepala Banteng, kepala suku Mixteca" Ia ada
di hacienda?"

Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tidak." "Tetapi kemarin ia ada. Bukankah ia pergi bersama Senor Sternau ke "Ngarai
Harimau Kumbang" untuk bertempur?"
"Kepala Banteng orang yang bebas. Ia pergi dan datang sekehendak hatinya dan ia
tak pernah memberitahu siapa pun tentang tindak-tanduknya."
"Saya telah banyak mendengar tentang dia. Ia raja kaum Cibolero, namun bahwa ia
mempunyai saudara yang begitu cantik, belum saya ketahui."
Pardero memegang tangan gadis Indian itu untuk menciumnya, namun tidak berhasil
karena gadis itu menarik tangannya kembali lalu memutar badannya.
"Selamat malam, Senor!" serunya.
Pada saat itu salah satu api unggun menyala dengan terangnya, dan cahayanya
menerangi seluruh muka agung gadis Indian yang cantik itu. Letnan mengejarnya.
"Janganlah lari, Senorita," pohonnya. "Saya bukanlah musuh Anda, Saya cinta
kepada Anda." "Anda cinta kepada saya" tanya gadis itu. "Mana mungkin?" Anda belum juga kenal
saya!" "Anda salah, Senorita! Cinta datangnya sebagai halilintar, sebagai bintang jatuh
yang tiba-tiba memenuhi dengan cahaya terang-benderang ... itulah pengalamanku."
"Memang benar, cinta seorang kulit putih datangnya sebagai halilintar yang
memusnahkan segala sesuatu dan sebagai bintang jatuh yang terangnya hanya
berlangsung saat itu saja. Cinta orang kulit putih berarti kemalangan,
kelicikan, serta kepalsuan."
Karja hendak menjauhinya, tetapi Pardero berusaha menarik dan memeluknya.
Gadis itu seakan bertambah anggun serta kuatnya. Biji matanya yang hitam
berkilau liar serta menakutkan bagaikan seekor harimau kumbang. Ia meliuk
seperti belut, melepaskan diri dari pegangan laki-laki itu lalu berkata,
"Lepaskan aku! Berdasarkan apa Anda berani menyentuhku?"
"Berdasarkan cintaku kepada Anda."
Letnan memegang gadis itu kembali. Gadis Indian itu melempar kepalanya ke
belakang serta melepaskan diri.
"Pergi, jangan jamah aku" katanya. "Nanti..."
"Nanti apa?" Tanya laki-laki itu.
Karja telah melepaskan tangan kanannya. Kini ia meninju kuat-kuat dagu lawannya
sehingga orang itu kehilangan keseimbangannya.
"Setan!" geramnya. "Akan kubalas, perempuan setan!"
Pardero terpaksa telah melepaskan Karja. Ia kembali berusaha untuk memegang
gadis itu namun gadis itu terlepas dan lari melalui jalan berpasir ke luar
taman. Kapten Verdoja pun telah membuka jendela untuk mengeluarkan asap rokoknya
melalui jendela. Ia berjalan mundar-mandir dalam kamarnya, kemudian ia melihat
ke luar jendela. Pandangannya melayang-layang ke taman dan tertumbuk pada
sesuatu yang putih, yaitu baju Karja.
Setelah ia melihat lebih lama, tampak olehnya tubuh seorang pria dekat gadis
itu. "Masya Allah! Siapakah orang itu?" katanya dalam hati.
"Putri pemilik hacienda barangkali" Dan siapakah pria di sisinya itu" Itu harus
kulihat!" Ia bergegas keluar dari kamar menuju ke taman. Ketika
ia mau membuka pintu taman untuk masuk ke dalam, gadis berbaju putih itu sedang
berlari ke arahnya tanpa melihatnya.
"Hai Senorita," kata Verdoja.
Baru gadis itu melihatnya lalu berhenti. Verdoja hendak memegang gadis itu,
namun gadis itu lebih cepat dan mendaratkan tinjunya ke tenggorok Kapten seperti
pernah dialami oleh Letnan juga.
Verdoja mundur selangkah.
"Caramba!" umpatnya. "Siapakah anak kucing itu?"
Pada saat itu juga melompat-lompatlah Letnan ke arahnya tanpa melihatnya lalu
hendak melampauinya. "Halo, Letnan Pardero! Seru Verdoja sambil tertawa.
"Kaukah ini" Hendak kemana begitu tergesa-gesa?"
Pardero berhenti. "Anda ini Kapten" Anda telah melihat perempuan celaka itu
tadi?" "Melihat" Bukan sekedar melihat, aku merasakannya juga!"
"Merasakan?" tanya Letnan terheran-heran.
"Ya, aku malang benar!" kata Verdoja. "Gadis itu telah meninju tenggorokanku."
"Wah! Anda telah mengalami hal yang serupa dengan saya."
"Apa maksud Anda?"
"Anda telah melihat ke luar jendela..."
"Ya." "Anda melihat baju wanita berwarna putih ..."
"Cocok." "Ingin mengadakan kencan..."
"Benar juga." "Kemudian Anda pergi ke taman."
"Pandai benar menebak, engkau!"
"Kalau begitu, kita mempunyai maksud yang sama dan mendapat ganjaran yang sama
pula," kata Letnan sambil tertawa.
"Siapakah gadis itu?" tanya Kapten.
"Namanya Karja, ia gadis Indian. Nampaknya ia bekerja
sebagai pelayan Putri Tuan rumah."
"Putri Tuan rumah" Maksud Anda Senorita Emma barangkali?"
"Benar. Anda kenal Emma itu" Cantikkah ia?"
"Lebih cantik daripada Karja. Jauh lebih cantik."
"Bukan main. Lebih ramahkah ia?"
"Dalam hal itu tidak. Penghuni wanita rumah ini nampaknya seperti penghuni suatu
biara saja. Aku ada usul Pardero. Kau ingin mendapatkan gadis Indian itu?"
"Berapa mahal harganya pun, akan saya bayar. Dan Anda menghendaki Senorita
Emma?" "Berapa mahal harganya pun, akan kubayar juga. Kita harus tolong-menolong."
"Baik. Jadi kita berjanji."
"Setuju! Mula-mula kita harus menyelidiki, kedua gadis itu masih bebas atau
tidak. Namun aku kurang mengerti, mengapa kami harus menderita kekalahan yang
begitu pahit." "Mungkin Dokter Sternau sudah mendahului kita."
"Kurasa tidak. Mariano nampaknya lebih berbahaya.
Kau tidak melihat bahwa pemilik hacienda
mengistimewakannya dalam perlakuan meskipun secara sembunyi-sembunyi. Ia pasti
orang yang paling penting di antara mereka."
"Mungkin juga. Saya tidak begitu banyak menaruh perhatian terhadap mereka. Anda
tidak keberatan saya pergi tidur" Gadis itu mempunyai tinju seperti seorang
petinju, itu sekali-kali tidak saya sangka, begitu halus tangannya. Tengkuk saya
berasa sakit serta kaku seperti terbuat dari kayu rasanya."
"Pergilah tidur, Letnan! Esok hari serangan akan diulang!
Pasti berhasil! Selamat malam!"
"Selamat malam. Senor Verdoja."
Pardero pergi, tetapi Verdoja berdiam diri di taman hingga jam tangannya
menunjukkan jam tengah malam. Ia pura-pura masih sedang bertugas keliling.
Maksudnya yang sebenarnya ialah mencapai ujung pagar di sebelah selatan. Itulah tempat
pertemuannya dengan penjahat itu seperti disepakati mereka lebih dahulu.
Penjahat itu sudah menanti di persembunyiannya di tempat yang gelap sehingga
tidak terlihat oleh orang, bahkan oleh Kapten Verdoja pun tidak.
"Senor!" bisiknya ketika ia melihat Verdoja lalu.
"O, kau di situ?" tanya Kapten lalu berhenti berjalan.
"Di mana kawan-kawanmu?"
"Tidak jauh dari sini."
"Mereka tidak boleh kelihatan orang."
"Jangan khawatir! Apakah tugas kami?"
"Apakah kau kenal Sternau secara pribadi?"
"Tidak. Tidak ada di antara kami yang mengenalnya."
"Sulit, kalau begitu. Ia akan pergi bersama aku ke
"Ngarai Harimau Kumbang" naik kuda."
"Kami harus menghadangnya di situ?"
"Menghadang dan membunuh."
"Itu tugas yang amat menyenangkan. Mampuslah bedebah itu. Ia telah membunuh
kawan-kawan kami, maka hukumannya harus yang setimpal benar, yaitu mengalami
nasib sama dengan kawan-kawan kami yang meninggal.
"Namun kau tidak mengenalnya. Aku pun tidak tahu, siapa-siapa lagi yang akan ikut. Aku tak mau pergi sendirian dengannya, aku akan membawa
beberapa prajurit. Tanda apa yang akan kuberikan supaya kau dapat mengenalnya?"
"Buatlah saja lukisan tentang dia."
"Ia bertubuh besar. Lebih besar dari padaku, lebih tegap, ia mempunyai janggut
panjang berwarna pirang. Ciri-ciri tentang pakaian ataupun kudanya belum dapat kuberikan."
"Baik kita tentukan suatu tanda untuk dapat mengenalinya. Dapatkah Anda tetap
berjalan di sebelah kanan orang itu?"
"Cukupkah itu?"
"Cukup. Dan dua orang kawannya itu harus kita apakan?"
"Lain kali saja giliran mereka. Ingat bahwa setiap malam kau harus ada di tempat
ini pada jam seperti ini. Kini kita harus berpisah, jangan sampai orang dapat
melihat kita." Kini Verdoja pergi tidur. Sesaat kemudian ia sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Usaha pembunuhan yang direncanakan itu sekali-kali tidak menggugat sesuatu dalam
hati nuraninya. Keesokan harinya pada waktu makan pagi Kapten langsung membuka percakapan
tentang perjalanan ke "Ngarai Harimau Kumbang". Ia mengusulkan supaya pagi-pagi pergi ke situ dan
Sternau menyatakan setuju. Kedua perwira ingin ikut mereka dan Verdoja
menyatakan setuju. Yang lainnya, yang tidak menyukai perwira-perwira itu, tinggal di rumah. Itu
sesuai dengan keinginan Verdoja.
Mereka menempuh jalan yang pernah dilalui Sternau dan Kepala Banteng. Sternau
memimpin. Sesampai di hutan, mereka berjalan kaki, karena mereka harus menuntun
kuda mereka. Ngarai sudah ada di hadapan mereka.
Sternau berhenti lalu berkata. "Baik kita tinggalkan kuda-kuda kita makan rumput
di sini hingga kita kembali lagi."
Apa yang dikatakan itu dikerjakan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Senjata Sternau adalah sepucuk senapan dan sebilah pisau yang disisipkan pada
ikat pinggangnya. Dekat tempat masuk ke ngarai ia tiba-tiba berhenti lalu
meneliti rumput di bawah kakinya.
"Apa yang Anda cari?" tanya Kapten.
"Eh... mari kita berjalan terus."
Tidak ada kata lain yang diucapkannya, namun ia tetap mengawasi tanah di
bawahnya. Di ngarai Kapten tetap berjalan di sisinya. Pandangan Kapten
menelusuri tebing-tebing ngarai. Setiap saat dapat terdengar tembakan maut.
Saat-saat penuh ketegangan.
"Jadi di sinilah tempat kejadian itu, Senor?" tanya Kapten.
"Benar," bunyi jawabnya yang pendek.
Mereka mengamati jejak di atas tanah. Mereka tidak tahu bahwa Sternau membungkuk
lebih dalam daripada semestinya, tidak tahu bahwa ia selalu mencari perlindungan
di balik tubuh mereka. Tidak tahu pula bahwa pandangan matanya secara diam-diam
melayang-layang ke sebelah kiri dan kanan, ke tebing ngarai yang curam itu.
"Anda seorang juru tembak," kata Verdoja. Sternau hanya mengangkat bahunya saja.
"Kepandaian menembak itu bila sasarannya nyata, sebenarnya tidak perlu dikagumi.
Sepuluh musuh yang kelihatan lebih mudah ditembak daripada seorang musuh yang
tidak kelihatan." "Kalau tidak kelihatan, tentu juga tidak dapat ditembak."
Kata Letnan Pardero sambil tertawa.
"Namun seorang juru tembak dapat mengenainya juga"
kata Sternau sambil tetap berlindung di balik tubuh orang-orang lainnya.
"Itu tidak mungkin!" bantah Verdoja.
"Anda ingin melihat bukti?"
"Ya, buktikan, kalau dapat," desak Letnan.
"Saya ingin bertanya dahulu kepada Anda, apakah menurut pendapat Anda, anda
melihat musuh di sekitar kita ini?"
"Siapa dan di mana musuh itu?"
Sternau tersenyum lalu berkata, "Namun ada orang yang mengintai ke tempat kita
ini. Ia hendak menembak mati saya."
Sambil berkata demikian ia mengangkat bedilnya dari atas bahunya.
Kapten terkejut. Bagaimana dapat Sternau mengetahui bahwa orang berusaha
membunuhnya" "Anda suka berkelakar, Senor Sternau," kata Perwira itu."Akan saya buktikan
bahwa saya sungguh-sungguh."
Serentak Sternau memegang bedilnya, membidik, lalu menembak dua kali. Dari
tebing ngarai terdengar suara
orang memekik yang dipantulkan oleh gema berkali-kali.
Sternau melompat ke tepi, ke arah tebing, lalu berlari dengan langkah besar-
besar ke luar ngarai kemudian menghilang. Sejak saat ia pertama kali menembak
hingga sekarang belum semenit pun lewat.
"Apa yang terjadi?" seru Pardero.
"Ia telah menembak seseorang," jawab letnan yang lainnya.
"Kejam benar!" gerutu Kapten.
"Kita dalam bahaya, cepat tinggalkan tempat ini," seru Pardero.
Mereka bergegas pergi ke tempat masuk ngarai itu dan berhenti sejenak di situ.
Sesaat kemudian terdengar dua tembakan lagi dari atas, kemudian sunyilah
keadaannya. Seperempat jam telah berlalu, kemudian terdengar bunyi derak di semak belukar
dekat mereka. Ketakutan setengah mati mereka meraih senjatanya.
"Jangan takut, Senores," kata seseorang. "Sayalah ini."
Lalu Sternau menampakkan diri.
"Apa yang terjadi, Senor" Apa yang Anda lakukan?"
tanya Letnan. "Menembak," jawabnya pendek.
"Ya, kami tahu. Tetapi mengapa?"
"Untuk membela diri, karena sayalah yang harus ditembak mati."
"Mustahil. Siapa yang mau membunuh Anda"
Bagaimana Anda dapat tahu?"
"Mata saya yang memberi tahu saya."
"Kami tidak melihat apa-apa."
"Itu dapat dimengerti. Anda bukanlah penghuni padang prairie. Kapten telah
melihat bahwa saya menyelidiki rumput. Saya melihat jejak-jejak orang yang
seperempat jam yang lalu telah melintasi tempat ini. Jejak-jejak itu lari ke
sebelah kanan ke atas. Lihat, itulah jejaknya, sampai sekarang masih kelihatan."
Ia menunjuk ke arah tanah. Para perwira berusaha melihat, namun tidak dapat
menemukan apa-apa. "Ya, untuk itu mata kita harus terlatih lebih dahulu,"
kata Sternau. "Karena jejak-jejak itu menuju ke arah kanan ke atas, saya menyelidiki tebing
sebelah kanan setelah tiba di ngarai. Saya menemukan beberapa kepala orang
tersembunyi di balik semak-semak yang sedang memata-matai kita. Mereka tidak
tahu bahwa saya melihat mereka, karena mata saya terlindung di bawah tepi topi
saya yang lebar itu."
"Tetapi dari mana Anda tahu bahwa mereka itu musuh?" tanya Verdoja.
"Karena bedil mereka terjulur keluar dari semak-semak setelah kita masuk ke
dalam ngarai. Saya lihat dengan nyata dua laras bedil tertuju kepada kita.
"Caramba!" umpat Letnan Pardero yang sekali-kali tidak tahu apa yang dibalik
segalanya ini. Mungkin mereka hendak membunuh kami juga."
"Tidak, itu hanya ditujukan kepada saya. Saya tahu bahwa saya harus berhati-
hati, maka saya selalu berlindung di balik Kapten. Siapa yang menembak saya,
harus mengenai Kapten lebih dahulu."
Kapten terbengong mendengar ini. "Carajo!" katanya akhirnya, "Jadi sebenarnya
sayalah yang dalam keadaan bahaya maut itu."
"Bahaya itu tidak sebesar itu," kata Sternau sambil tersenyum. "Aneh sekali,
perisai yang saya gunakan itu tepat sekali, karena orang-orang jahat itu enggan
benar menembak perisai itu."
Perkataan tadi membuat Verdoja jadi curiga. Apakah Sternau sudah menduga latar
belakang kejadian itu"
Sternau melanjutkan, "Lagi pula sebenarnya tidaklah sukar bagiku untuk mencari perlindungan. Bedil-
bedil itu dari sebelah kanan atas dibidikkan ke bawah dan Kapten begitu baik


Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk mau berjalan di sebelah kanan saya. Ia tetap berjalan di sebelah kanan,
apa pun yang terjadi."
Kapten menjadi pucat. Tak dapat tidak, Sternau sudah
mengetahui siasat jahatnya. Sternau tentu tahu, siapa yang mendalangi
penyerangan itu. Dokter melanjutkan,
"Anda tidak melihat bedil-bedil itu. Namun saya tahu dengan pasti ke arah mana
larasnya ditujukan dan di mana si penembak berada. Ketika saya melepaskan
tembakan dua kali maka pelurunya mengenai dua orang pada bahunya sebelah kanan.
Pada saat itu juga dua laras bedil lain menjulur ke luar dari semak-semak, maka
saya cepat mengelak dengan melompat ke tepi untuk lari ke luar dari ngarai. Para
penjahat itu agak bodoh dalam merencanakan siasat penyerangan mereka. Mereka
patut menerima tamparan untuk
kebodohan itu." "Dan kemana Anda telah pergi?" Tanya Verdoja.
"Saya cepat-cepat memanjat tebing untuk mendekati mereka dari belakang. Namun
ketika saya sampai di tempat itu, mereka sudah meninggalkannya. Agak jauh dari
situ terdengar bunyi derak di tengah belukar. Saya melepaskan tembakan dua kali
ke arah itu." "Senor, sungguh berani Anda menempuh bahaya yang nyata, setelah Anda melihat
bedil-bedil itu tertuju ke arah Anda," kata Letnan kedua.
"Bagi saya tidak. Sebaliknya bagi mereka keadaan demikian sangat gawat, karena
mereka memperlihatkan laras-laras bedil mereka sebelum menembak. Seorang pemburu
padang prairie yang berpengalaman tidak akan berbuat sebodoh itu. Lagi pula saya
dapat mengenali para penyerang itu sebagai orang-orangnya Cortejo, yang kemarin
berada di Santa Rosa. Anda pun datang dari situ, bukan?"
Sternau bicara seperti sambil lalu saja, tetapi Verdoja merasakan sindiran-
sindiran itu diarahkan kepadanya.
"Memang, itu benar," jawab letnan kedua secara polos.
"Pada waktu makan datang seseorang bernama Cortejo menghadap Juarez."
Verdoja membeliakkan matanya kepada letnan itu tanpa mendapat perhatian.
"Apakah Cortejo itu datangnya bersama banyak orang?"
tanya Sternau. "Benar. Kira-kira dua puluh orang. Lebih baik Anda tanyakan saja kepada Kapten.
Ia mengetahui lebih banyak lagi."
"Mengapa harus kepada Kapten?"
"Karena Cortejo telah bermalam di rumahnya."
Sekali lagi Verdoja membeliakkan matanya kepada letnan itu, namun sekali ini pun
tidak mendapat perhatian.
Hanya Sternau maklum akan sikap Verdoja itu, namun ia pura-pura tidak melihat
lalu melanjutkan dengan tenang,
"Saya rasa keterangan dalam hal ini tidak dapat diharapkan dari Senor Verdoja.
Namun tidak apa, persoalan ini sudah terpecahkan."
Keempat orang itu kembali lagi ke tempat kuda mereka ditinggalkan. Mereka
menjumpai kuda-kuda itu sedang makan rumput. Pada perjalanan pulang Sternau
tidak berbicara tentang kejadian yang lampau itu. Kapten pun berbuat demikian.
Hanya kedua letnan mempercakapkannya secara berbisik. Pokok
pembicaraannya ialah Sternau. Mereka kagum akan keberaniannya, kecerdasan serta
kecekatannya. Dalam waktu satu jam setelah mereka tiba, semua prajurit tahu
tentang petualangan yang dialami oleh perwira mereka bersama dokter yang gagah
berani itu. Penghuni hacienda tentu saja turut mendengar ceritera itu, yang
ditanggapi mereka dengan berbagai cara. Yang seorang memuji tindakan Sternau,
yang lain menganggap bahwa mereka sekarang akan mengalami keadaan aman, yang
lain lagi merasa kecewa, karena hanya dua orang perampok yang terluak. Menurut
pendapat mereka, sebaiknya semua perampok itu harus dimusnahkan saja.
Sternau yang menyadari bahwa Kapten selalu
mengawasinya, tidak hadir dalam segala percakapan itu.
Pada waktu makan siang pun ia hanya mengeluarkan sebuah pernyataan tentang
kejadian yang lampau itu.
Ketika Verdoja siang hari kebetulan pergi ke luar, Sternau
menyuruh Arbellez dan kawan-kawannya datang untuk menyampaikan rasa curiganya
kepada mereka. Mula-mula mereka kurang percaya, namun kemudian, setelah mereka
mendengar lebih banyak lagi, mereka lebih cenderung membenarkan dugaannya.
Mereka menarik kesimpulan akan selalu bersikap waspada terhadap Kapten.
Malamnya berlalu seperti kemarin, hanya gadis Indian itu berusaha tidak
menampakkan diri dalam taman.
Setelah Verdoja mengucapkan selamat malam, maka Sternau pun berbuat pura-pura
pergi ke kamarnya; namun di tangga ia membelok ke kanan dan pergi ke salah satu
kamar bawah. Bila Kapten benar bersekutu dengan kaum penjahat itu, maka ia hanya
dapat bertemu dengan mereka pada malam hari. Sternau bermaksud untuk memata-
matainya. Pintu belakang terkunci, orang hanya dapat keluar rumah melalui pintu
depan, jadi Sternau harus dapat melihat Verdoja, seandainya ia menyelinap ke
luar. Sternau membuka sedikit salah sebuah jendela supaya dapat mendengar lebih baik
lalu ia duduk di atas kursi.
Pikirannya melayang-layang ke tanah air dan istrinya, namun ia mendesaknya ke
samping supaya dapat berpikir tentang masa kini. Dengan memusatkan segenap
perhatian ia menanti hingga tengah malam.
Pada saat itu kiranya ia mendengar suatu bunyi perlahan sekali dekatnya. Ia
memusatkan perhatiannya lalu mendengar pintu di sebelah jendelanya perlahan-
lahan dibuka orang. Ia melihat ke luar jendela dan melihat Kapten dengan hati-
hati sekali keluar pintu menuju ke pintu pagar. Pintu itu tidak terkunci karena
kehadiran pasukan bertombak itu sudah merupakan jaminan keamanan. Pintu itu
seharusnya dibiarkan terbuka untuk memberi kesempatan pada perwira, bertemu
dengan bawahannya pada malam hari. Kapten melangkah ke luar.
Sternau melompat ke luar melalui jendela, menutup jendela itu lalu menyelinap
mengikuti perwira itu, bukan ke luar melainkan hanya sampai pagar yang mengitari
daerah itu. Dari balik pagar itu ia mengamati gerak-gerik
Kapten yang berjalan keliling memeriksa penjagaan tiap api unggun. Ketika
Sternau menoleh ke rumah yang ada di belakangnya, ia melihat sesosok tubuh
berjalan kian kemari di atas atapnya yang datar itu. Muka orang itu tidak tampak
dengan nyata, namun ia tahu, orang itu tentu Emma. Baru-baru ini ia memberi
nasihat kepada gadis itu untuk pergi mengisap udara segar, karena kehadirannya
di kamar si sakit itu terlalu melelah-kan baginya. Pada siang hari Emma tidak
berani keluar, karena takut akan berjumpa dengan salah seorang perwira. Pada
malam hari - ketika tunangannya sedang tidur - ia ingin berjalan-jalan sedikit
di atas atap yang datar itu.
Kapten telah selesai memeriksa segenap perkampungan.
Kini ia harus pulang lagi, namun ia bergegas pergi ke ujung sebelah selatan
rumah. Mengapa ia ke situ" Dan mengapa ia tidak berjalan dengan tubuh tegak
seperti biasa" Diam-diam Sternau menyelinap masuk ke tempat yang dikelilingi
pagar itu lalu mengikuti Kapten, sampai akhirnya ia tiba di suatu tempat. Di
situ ia mendengar di balik pagar suara orang bicara.
Suara orang yang terdengar asing bertanya, "Anda telah menghalangi kami... kami
takut peluru kami mengenai Anda!"
"Mengapa kalian tidak berjaga di tebing sebelah kiri?"
"Ngarai lebih mudah diamati dari sebelah kanan.
Lagipula siapa yang menyangka bahwa orang itu dapat melihat begitu jauh."
"Nampaknya seolah-olah ia mahatahu. Pada saat ini saya masih belum siap dengan
siasat yang baru, saya harus memikirkannya dahulu. Lagipula ada kemungkinan
Senor Sternau memata-mataiku. Maka kita tidak boleh bertemu lagi di sini."
"Habis di mana?"
"Kau membawa kertas dan pinsil?"
"Tidak." "Tetapi kau pandai membaca dan menulis?"
"Ya." "Ini ada sehelai kertas dan sebatang pinsil. Aku sengaja membawanya untukmu.
Bila kau pergi dari sini ke "Ngarai Harimau Kumbang", kau akan tiba di sebuah
hutan, di antara pohon-pohon yang pertama terletak sebuah batu yang agak besar.
Di bawah batu itu pagi hari atau pada saat lain, akan kuletakkan kertas berisi
petunjuk-petunjuk. Dan bila perlu dijawab, kau letakkan jawaban itu di tempat
itu juga. Mengerti?"
"Mengerti. Saya lihat ada orang berjalan hilir mudik di atas atap rumah.
Siapakah dia?" "Tadi aku tidak melihatnya. Haha, itulah Emma, putri pemilik hacienda. Mari, aku
harus menemaninya. Kau masih ada pertanyaan?"
"Tidak." "Baik, kau boleh pergi! Tetapi ingat: sekali lagi ada perbuatan bodoh seperti
itu, akan kupecat kau. Aku tidak dapat memakai orang-orang bodoh. Selamat
malam." Setelah Sternau mendengar salam perpisahan itu, cepat-cepat ia menyelinap
kembali, masuk melalui jendela, lalu menguncinya. Ia sudah tahu secukupnya. Jadi
dugaannya itu sudah terbukti benar. Verdoja adalah musuh besarnya. Ia telah
diperalat Cortejo. Kini ia berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugasnya.
Untunglah bahwa Sternau telah mengetahui tempat rahasia untuk menaruh surat-
surat mereka. Kini ia dapat dengan mudah memahami rencana mereka. Tetapi apa
yang dikehendaki Kapten pada saat seperti ini di atas atap rumah" Ucapan Kapten
itu apakah dimaksud sebagai kelakar saja atau sungguh-sungguh ia hendak pergi ke
Emma" Tunggu saja apa yang akan terjadi.
Tidak lama kemudian Sternau melihat musuhnya masuk melalui pintu pagar; ia
melihat Kapten masuk ke dalam rumah lalu menaiki tangga. Beberapa menit kemudian
perlahan ia membuka pintu kamarnya dan diam-diam mengikuti perwira itu. Hati-
hati ia menaiki tangga pertama dan kedua yang menuju ke atap datar melalui
sebuah tingkap. Ketika Sternau tiba di situ,
tingkap itu sudah terbuka. Hati-hati ia mengeluarkan kepalanya dan melihat Emma
ditemani oleh Kapten di sisinya. Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan dalam
keadaan putus asa. "Anda sungguh mau lari?" tanya Verdoja.
"Saya harus pergi," kata Emma sambil memandang ke arah tingkap.
Sternau melihat bahwa Kapten tetap memegang erat-erat tangan gadis itu.
"Jangan. Anda jangan pergi, Senorita," kata perwira itu.
"Anda harus mendengar bahwa hati saya kini penuh dengan cinta kepada Anda.
Marilah Emma, dan janganlah melawan. Itu akan sia-sia saja."
"Saya mohon Anda dengan sangat untuk melepaskan saya, Senor!" gadis itu meminta-
minta, setengah mati ketakutan.
"Tidak, Anda tak boleh pergi."
Verdoja berusaha menarik gadis itu ke dekatnya. Gadis itu memberontak-berontak
namun sia-sia saja. "Ya Tuhan, apakah saya harus menjerit meminta pertolongan?"
erangnya. Dengan sekali melompat Sternau ada di sisinya.
"Tak usah, Senorita, tak perlu menjerit. Ada seseorang yang sanggup membela
Anda. Bila Senor Verdoja tidak segera melepaskan tangan Anda, maka ia akan
langsung terbang dari atap ini menuju ke taman."
"Senor Sternau," kata gadis itu bata-bata. "Tolonglah saya!"
"Sternau!" kata Kapten sambil menggertakkan gigi.
"Benar. Sayalah ini. Lepaskan gadis itu!"
Namun kini perwira itu bahkan memeluk gadis itu lalu membentak,
"Mengapa Anda kemari" Dari siapa Anda memperoleh hak untuk memerintah saya"
Enyah dari sini, anjing kurang ajar!"
Baru saja perkataan yang terakhir itu terucapkan, maka tinju Sternau melayang
dan mendarat dengan tenaga luar
biasa ke atas kepala Verdoja yang langsung rebah bagaikan karung pasir ke atas
tanah, sambil turut menyeret tubuh Emma ke bawah."
Sternau cepat menolong gadis itu berdiri tegak kembali lalu ia berkata, "Mari
Senorita, akan saya antarkan Anda ke bawah."
"Ya, Tuhan," keluh Emma yang gemetar sekujur tubuhnya. Saya belum pernah memberi
hati kepadanya untuk mendekati saya."
"Saya tahu," jawab Sternau. "Orang-orang semacam dia tidak dapat membedakan yang
halal dengan yang haram."
"Justru karena saya takut berjumpa dengan prajurit, maka saya berjalan-jalan di
atas atap. Kini kebiasaan itu harus saya hentikan pula."
"Tidak usah, Senorita. Anda memerlukan udara segar, kebiasaan berjalan-jalan
pada malam hari untuk mengambil angin itu tidak boleh Anda kurbankan. Akan saya
usahakan, supaya Anda tidak diganggu lagi lain kali."
Ia mengantarkan Emma sampai ke pintu kamar
tunangannya. Kemudian ia berpisah dengan gadis itu, yang hendak datang menemani
tunangannya yang sakit itu. Sekembalinya di kamarnya sendiri Sternau membiarkan
pintunya sedikit terbuka, karena Kapten pasukan bertombak itu harus melaluinya.
Lama ia menunggu sebelum ia mendengar Kapten menuruni tangga lalu menyelinap
melalui lorong. Baru sekarang Sternau pergi tidur.
Emma sehabis menderita karena penghinaan sangat gelisah serta cemas. Ia tidak
dapat tertidur di atas tikar gantung. Kejadian yang baru dialaminya itu masih
tetap menghantui dalam pikirannya. Pasukan bertombak itu masih akan tinggal
beberapa hari lagi di hacienda. Maka Kapten Verdoja masih ada kesempatan untuk
mengganggunya dan kali ini apakah ia masih dapat diselamatkan lagi oleh seorang
pahlawan yang gagah perkasa" Ayahnya tidak dapat menjadi pergantungan harapan
baginya. Ia bukanlah seorang pahlawan, lagipula
ia harus juga memperhitungkan kehadiran para prajurit separuh liar yang harus
diperlakukannya sebagai tamunya itu. Kedudukan ayahnya sebagai pelindung itu
melihat keadaannya sekarang tidak tanpa bahaya. Apakah artinya ada dua atau tiga
orang gagah perkasa bila harus melawan pasukan bertombak yang terdiri atas
prajurit-prajurit separuh liar yang tidak tunduk kepada peraturan-peraturan yang
sah! Dibebani oleh pikiran-pikiran yang sangat menakutkan itu Emma melalukan
malamnya. Sepanjang malam pikirannya yang menggelisahkan itu bebas tanpa
penghalang mengganggunya, karena tunangannya yang sakit itu tidak bergerak
sedikit pun. Ia tidur begitu nyenyak, bahkan tidak menggerakkan tubuhnya sekali
pun. Ia pun tidak terbangun ketika Karja gadis Indian itu masuk ke dalam kamar
pagi hari untuk menggantikannya seperti biasa.
"Apakah si sakit dapat tidur dengan tenang?" tanya Karja.
"Dapat," jawab Emma. "Antonio tertidur nyenyak sepanjang malam, maka insya Allah
ia akan cepat dapat sembuh. Kata Senor Sternau, yang kita takuti adalah
timbulnya demam luka dengan segala akibat buruknya.
Kami telah memberinya obat daun-daunan dilekatkan pada kepalanya untuk mencegah
demam. Mudah-mudahan Tuhan dapat segera mengembalikan kesehatan kepadanya."
"Saya pun berharap demikian," kata Karja. "Keadaan Senor Unger sebetulnya sudah
tidak kami khawatirkan lagi. Sebaliknya keadaan Anda lah yang mencemaskan hati
kami. Anda nampak begitu pucat serta letih. Bergadang setiap malam itu membuat
tubuh Anda sangat lemah."
"Itu bukanlah sebabnya. Saya bukan merasa lelah karena menunggui si sakit,
melainkan karena hal lain."
Supaya jangan mengganggu si sakit, Emma berceritera dengan berbisik tentang
pengalamannya di atas atap rumah.
Karja yang dengan penuh perhatian mendengar ceritera itu merasa terdorong
berceritera juga tentang pertemuannya dengan Letnan Pardero di taman. Kedua
gadis itu sedang membicarakan sikap kurang ajar dan memalukan dari anggota-
anggota pasukan bertombak itu ketika Sternau masuk ke dalam. Ia bermaksud
mengunjungi si sakit ketika si sakit itu baru bangun, maka ia datang dengan
perlahan sekali. Karena itu Karja yang tidak mendengar kedatangannya itu
berceritera terus. Ketika ia melihat Sternau, sudah terlambat untuk mengalihkan percakapan kepada
pokok lain. Sternau meminta maaf lalu bertanya kepada Karja, "Jadi Anda pun
mengalami pengalaman kurang enak seperti Senorita Emma?"
"Benar," kata Karja.
"Siapa orangnya?"
"Letnan Pardero mengganggu saya di taman dan ketika saya hendak lari Kapten
telah menahan saya."
"Kurang ajar!" Hanya itulah yang dikatakan Sternau. Ia kembali lagi memperhatikan si sakit,
menghitung napasnya yang tenang itu, lalu mengangguk dengan rasa puas. Setelah
ia mendengar bahwa si sakit tidur terus tanpa gangguan, wajahnya kembali
berseri-seri. "Biarkan dia tidur terus," katanya. "Tidur dan istirahat merupakan syarat mutlak
untuk mencapai kesembuhan yang sempurna. Setelah bangun, ia boleh melihat
abangnya." BAB IV PERANG TANDING GANDA Sternau pergi berjalan-jalan ke padang rumput. Ia menangkap seekor kuda,
mengendarainya selama beberapa waktu di padang yang sangat luas itu. Kemudian ia
kembali lagi lalu melepaskan kudanya di padang itu. Ia berjalan kaki ke


Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hacienda. Dekat pintu pagar ia berjumpa dengan Letnan Pardero.
"Hai Senor Sternau!" seru perwira itu tanpa mempedulikan tata karma yang layak.
"Saya telah mencari Anda".
"Mengapa?" tanya Sternau pendek.
"Saya mau bicara dengan Anda."
"O, begitu?" jawabnya. Apakah itu berarti bahwa saya terpaksa harus mendengarkan
Anda?" "Tepat sekali dugaan Anda itu," ejek Pardero.
"Setiap orang yang baik-baik mau mendengarkan perkataan orang lain yang ingin
disampaikan kepadanya ...
namun dengan syarat: dengan memperhatikan tata kesopanan. Lagipula dekat pintu
pagar ini bukanlah tempatnya yang layak. Maukah Anda mengikuti saya pergi ke
kamar saya?" Wajah Letnan berubah menjadi merah. Ia mundur selangkah.
"Perkataan Anda itu agak congkak kedengarannya.
Anda menganggap diri Anda orang penting?"
"Anda tentu harus mengakui bahwa kedudukan kita dalam bidang sipil, spiritual,
maupun moral berbeda. Namun saya masih mau mendengarkan Anda."
Sternau hendak berjalan terus, tetapi Letnan memegang tangannya lalu berkata
dengan nada mengancam, "Mungkinkah maksud Anda untuk menyindir bahwa kedudukan saya dalam bidang moral
lebih rendah daripada Anda?"
"Saya tidak biasa menyindir, saya biasa menyebut langsung fakta-fakta yang
berdasarkan kebenaran. Lepaskan tangan saya. Saya tak suka dipegang-pegang orang."
Sternau mengibaskan tangan orang Mexico itu lalu ia pergi. Letnan yang terpaksa
tunduk mendengar perkataannya yang diucapkan dengan penuh wibawa itu kini
mengikutinya. Api kebencian tampak pada matanya.
"Aku ingin sekali melihat, apakah Sternau masih tetap sama congkaknya bila ia
mengetahui apa yang hendak kubicarakan dengannya," sungutnya.
Sternau dapat menduga apa yang hendak dikemukakan oleh Letnan, maka ia
mempersilakannya dengan memberi salam secara dingin.
"Maka saya sudah datang memenuhi keinginan Anda,"
kata orang Mexico itu menyindir.
Sternau mengangguk tanpa berkata.
"Kini saya harap Anda mau mendengar."
"Bila Anda bersikap sepatutnya, saya mau
mendengarkan," jawab Sternau.
"Apakah saya pernah kurang sopan terhadap Anda,"
kata Letnan dengan marah.
"Sebaiknya langsung saja Anda katakan apa yang Anda kehendaki, Senor Pardero!"
jawab Sternau secara dingin.
"Baik, persoalan ini akan kita tunda untuk sementara.
Namun saya tidak biasa berunding dengan cara berdiri."
Orang Mexico itu memandang pada sebuah kursi, tetapi Sternau berbuat pura-pura
tidak melihat perbuatan itu.
Dengan senyum mengejek ia berkata, "Saya tidak bermaksud mengadakan perundingan,
saya hanya mau mendengarkan. Permintaan harus disampaikan dengan berdiri. Bila
Anda tidak setuju dengan persyaratan itu,
maka saya anggap pertemuan ini sudah diakhiri."
Dengan muka merah karena menahan amarah, mata berapi-api dan suara gemetar
Pardero menjawab, "Senor, saya tidak dapat menganggap Anda sebagai seorang
pahlawan lagi!" "Itu terserah," jawab Sternau sambil tertawa. "Maka sebaiknya Anda lekas
mengajukan permintaan Anda. Saya tidak ada waktu untuk mendengarkan segala
obrolan yang hampa."
Pardero yang ingin mencurahkan kemarahannya menahan diri ketika ia melihat
Sternau memegang topinya dan bersiap-siap hendak pergi. Dengan memaksakan
dirinya bersikap tenang ia berkata, "Saya ini datang atas nama atasan saya,
Kapten Verdoja." Sternau tidak tampak terkejut sedikit pun mendengar ini. Maka orang Mexico itu
menambahkan, "Anda harus mengakui, telah menghina atasan saya itu."
Sternau mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
"Saya telah memukulnya. Itukah yang Anda maksudkan sebagai penghinaan?"
"Memang tepatlah itu! Kini Kapten minta
pertanggungjawaban dari Anda."
"O, begitu!" jawab Sternau sambil pura-pura merasa heran. "Pertanggungjawaban"
Dan ia memakai Anda sebagai perantara" Sudahkah Anda memahami peraturan mengenai
perang tanding?" "Anda menyangsikan hal itu?"
"Memang. Saya benar-benar menyangsikan pemahaman Anda akan peraturan itu, karena
Anda mau menjadi perantara dalam suatu perkara yang haram. Apakah Anda
mengetahui, mengapa Kapten Verdoja itu saya pukul?"
"Tentu saja tahu," jawab letnan dengan suara berang.
"Kalau begitu, saya anggap Anda berderajat rendah sekali!
Saya memukul Kapten karena ia telah menghina seorang wanita terhormat. Lagi pula
wanita itu putri Tuan Rumah kita sendiri. Barangsiapa bertindak sebagai
perantara dalam hal seperti itu akan kehilangan segala kehormatannya di mata
saya." Kini sudah tiba saatnya bagi orang Mexico itu untuk memegang pedangnya. Dengan
pedang separuh terhunus ia berteriak, "Apa kata Anda" Kurang ajar benar...! Akan
ku ..." "Anda tidak akan berbuat apa-apa!" kata Sternau dengan tenang, ketenangan yang
biasa mendahului sambaran petir. Matanya memercik-mercikkan api hingga orang
yang lebih berani daripada Letnan pun akan merasa takut. Sambungnya, "Biarkan
pedang itu di tempatnya saja, jangan sampai saya terpaksa mematah-matahkannya di
hadapan mata Anda! Setelah dipikirkan lebih jauh, tidaklah sangat mengherankan
lagi bahwa Anda digunakan sebagai seorang kacung oleh Kapten, karena kalian
sama-sama jahanam. Anda telah..."
"Tutup mulut! Teriak Letnan yang menjadi gila karena marahnya. "Sekali lagi
penghinaan semacam itu akan kutikam Anda! Anda harus segera meminta maaf untuk
ucapan Anda itu." Kini Pardero menghunus seluruh pedangnya dari sarungnya lalu memasang kuda-kuda.
Namun tahu-tahu senjata tajam yang mengerikan itu sudah pindah ke tangan Dokter.
Pardero sendiri pun merasa bingung, bagaimana caranya senjata itu pindah tangan
begitu cepatnya. Sternau mematah-matahkan mata pedang berkeping-keping lalu
melemparkannya ke hadapan kaki lawannya.
"Ini kukembalikan pisau pengupas kentangmu itu!"
katanya sambil tertawa. "Anda telah menghina Senorita Karja dengan cara yang
sama dengan Kapten terhadap Emma. Maka kalian itu setali tiga uang. Kini lekas
enyah dari kamarku, kalau tidak akan kulemparkan Anda ke luar jendela."
Sternau merentangkan tangannya ke arahnya. Letnan mengelak dengan cekatan lalu
melompat ke arah pintu. Ia menoleh sekali lagi ke belakang dan berseru dengan
mengacungkan tinju, "Anda akan menyesal atas perbuatan Anda itu, tidak lama
lagi. Kini Anda akan menghadapi dua orang lawan yang tangguh. Salah seorang di
antara kami pasti akan dapat memampuskan Anda, biarpun Anda mengadakan
perlawanan seperti setan."
Pardero lari ke luar. Sternau acuh tak acuh memasang rokok lalu duduk menanti
apa yang akan terjadi. Ia tidak usah menunggu lama. Seperempat jam kemudian
pintu diketuk orang. Setelah ia dengan keras menyuarakan
"masuk", maka masuklah letnan kedua ke dalam kamar.
Letnan memberi hormat dengan membungkuk lalu berkata ramah, "Maafkan saya
mengganggu. Bolehkah saya memakai lima menit waktu Anda yang berharga itu?"
"Tentu Senor, silahkan duduk. Silahkan ambil rokok sebatang."
Letnan merasa heran mendapat sambutan seramah itu.
Letnan Pardero telah menceriterakan kepadanya bagaimana Sternau telah
memperlakukannya, namun di luar perkiraannya ia kini diterima dengan penuh
keramahan. Ia mengambil sebatang rokok yang ditawarkan oleh Sternau dan
membakarnya dengan api yang dinyalakan oleh Sternau pula. Setelah kedua orang
itu duduk berhadapan satu sama lain, perwira itu memulai,
"Terus terang saja, saya sebenarnya segan datang ke mari, Senor. Masalah yang
saya bawa ke mari itu bersifat permusuhan."
"Sampaikan saja tanpa segan-segan, Senor! Saya sudah siap menerima apa yang
hendak Anda kemukakan."
"Saya datang atas nama Senores Verdoja dan Pardero yang merasa dirinya dihina
oleh Anda." Sternau mengangguk penuh pengertian. "Anda telah menggunakan kata yang tepat.
Kedua tuan itu merasa dirinya dihina. Keadaan yang sebenarnya adalah justru
sebaliknya: merekalah yang telah menghina dua wanita terhormat yang tidak
berdaya dan sayalah yang bertindak sebagai pembelanya. Jadi Anda hendak
menyampaikan tantangan mereka untuk berperang tanding, Senor?"
"Benarlah, Senor Sternau."
"Dan siapakah lawan saya?"
"Dua duanya." "Sayang bahwa Anda harus menjadi perantara bagi orang-orang yang di mata saya
tidak mempunyai kehormatan. "Sebetulnya saya tidak perlu melayani keinginan
mereka, karena kita hanya mau berperang tanding dengan orang-orang terhormat.
Namun karena sikap Anda begitu sopan terhadap saya maka saya berusaha tidak
melukai hati Anda. Lagi pula saya harus memperlunak sikap saya mengingat di
negeri tempat saya berada ini masih belum meresap benar pengertian tentang
keksatriaan itu. Maka saya menerima tantangan itu.
Apakah kedua Tuan itu sudah menentukan pilihannya mengenai jenis senjata yang
akan digunakan?" "Sudah. Pilihan Kapten jatuh pada senjata pedang sedangkan Letnan pada senjata
pistol." "Itu dapat saya pahami," kata Sternau sambil tertawa riang. "Pedang Letnan itu
telah saya patah-patahkan. Ia tahu bahwa saya pandai menggunakan pedang, maka ia
memilih pistol. Saya akan menerima tantangan itu dengan dua syarat."
"Sebutkanlah syarat-syarat itu, Senor."
"Saya berperang tanding melawan Kapten hingga salah seorang terluka dan terpaksa
menjatuhkan pedangnya."
"Syarat demikian pantas juga."
"Dan dengan Letnan: tembak-menembak diadakan pada jarak dekat memakai pistol dua
peluru. Jarak tiga langkah, masingmasing mendapat dua peluru."
"Astaga Senor, itu berarti bunuh diri bagi Anda!" bunyi nasihat perwira itu.
"Seandainya Anda terlepas dari Kapten, maka Letnan Pardero pasti tidak dapat
Anda atasi. Ketahuilah bahwa dalam tembak-menembak tidak ada orang yang dapat
menandinginya." "Itu perlu dibuktikan dahulu," kata Sternau sambil tertawa. "Anda tidak usah
khawatir, saya tidak takut menghadapi Letnan Pardero! Harap Anda mengatur
segalanya bersama Mariano. Ia akan menjadi
pendampingku." "Lalu bagaimana dengan para saksinya" Yang tidak memihak?"
"Mereka tidak diperlukan."
"Seorang dokter?"
"Juga tidak perlu. Saya sendiri seorang dokter."
Perwira itu pergi. Setelah ia pergi, Sternau mendapatkan Mariano untuk memberi
tahu kepadanya tentang segala peristiwa. Pemuda itu bersedia menjadi pendamping
lalu ia pergi menemui para pendamping lawannya. Beberapa saat kemudian ia
kembali lagi untuk menyampaikan berita bahwa pihak lawan setuju dengan
persyaratan Sternau. Sebagai pihak yang menerima tantangan ia berhak membawa pistol miliknya sendiri,
karena itu ia merasa pasti perang tanding itu akan berakhir sesuai dengan
kehendaknya. Sejak saat itu ia tidak berkisar dari jendela kamarnya.
Ia tahu apa yang akan terjadi, maka ia mengawasi jalan keluar dari hacienda.
Petang hari Kapten pergi naik kuda.
Sternau menduga bahwa ia hendak pergi ke hutan untuk meletakkan surat di bawah
batu. Maka ia pun menyuruh siapkan kudanya. Kapten menempuh arah utara, maka
Sternau menempuh arah Selatan. Keduanya berusaha mengelabui mata lawannya,
karena batu yang mereka tuju itu terletak di sebelah barat.
Setelah Sternau merasa aman dari intaian orang, maka ia melarikan kudanya cepat-
cepat ke arah barat. Maksudnya supaya lebih dahulu sampai di tempat itu daripada Kapten yang mungkin
juga mempunyai kawan-kawan di daerah itu. Maka ia harus berhati-hati sekali. Ia
menjauhi lapangan terbuka dan selalu mencari perlindungan. Akhirnya ia turun
dari kudanya, lalu menambatkannya pada sebatang pohon. Ia melanjutkan perjalanan
dengan berjalan kaki. Setibanya dekat tujuannya ia merebahkan diri lalu
merangkak di atas tanah mendekati tujuannya. Akhirnya ia melihat batu yang
besar itu. Ia mendekati dengan jalan memutar. Ia menoleh ke kiri kanan untuk
melihat apakah ada orang yang memata-matainya lalu ia mencari tempat
persembunyian. Sepuluh langkah jauhnya dari batu itu tumbuh sebatang pohon aras yang tidak
terlalu tinggi. Dahan dan cabangnya berdaun lebat dan agak rendah tumbuhnya
sehingga mudah dicapai orang.
Sternau naik ke atas dahan dan berhasil
menyembunyikan dirinya dengan sempurna. Baru saja ia duduk ia mendengar derap
kaki kuda. Bunyi itu menghilang dalam pohon-pohonan. Seorang laki-laki melompat
turun dari kudanya lalu bergegas ke arah batu, mengangkatnya dan meletakkan
sehelai kertas yang berlipat dua ke bawahnya. Ia meletakkan batu itu kembali di
tempatnya yang semula lalu menaiki kudanya dan pergi.
Dalam waktu sedetik Sternau keluar dari pohon tempat ia bersembunyi, mengambil
suratnya, membukanya dan membacanya: Malam
ini pukul dua belas dekat ladrillos. Kehadiranmu diharapkan. Esok hari tujuan
kita sudah tercapai. Surat itu tidak ditandatangani. Sternau mengembalikan surat itu ke bawah batu.
Kemudian ia menghapus segala jejak lalu kembali ke kudanya. Ia melarikan kudanya
ke hacienda. Sekembalinya, Kapten masih belum tiba.
Beberapa waktu kemudian Verdoja baru tiba. Ia tidak menyadari bahwa rahasianya
sudah diketahui orang. Mungkin ia tidak menyadari pula bahwa Sternau telah pergi meninggalkan hacienda.
Para penjahat hendak bertemu di ladrillos. Kata ladrillos itu dalam Bahasa
Spanyol berarti batu bata. Penduduk Amerika Tengah pada masa pra sejarah
mendirikan piramida-piramida dengan bahan batu bata yang dikeringkan di panas
matahari. Mereka menamai batu demikian "adobes", namun dalam Bahasa Spanyol
disebut "ladrillos". Hingga masa kini masih banyak ditemukan reruntuhan kota-kota adobes
seperti itu dan seni bangun bangsa purba itu menimbulkan rasa kagum bagi orang-
orang yang melihatnya. Di sana-sini dapat ditemukan, dalam hutan rimba, di
tengah padang rumput luas atau di antara onggokan batu karang, dinding-dinding
ladrillos yang runtuh atau setengah runtuh. Hal itu menandakan bahwa daerah-
daerah terpencil itu pada zamannya dihuni orang.
Di sekitar hacienda del Erina terdapat juga reruntuhan gedung semacam itu.
Reruntuhan ini letaknya di tanah pegunungan kira-kira setengah jam perjalanan
dari rumah. Bekas gedung itu penuh ditumbuhi semak belukar, benalu dan tumbuhan berduri
sehingga tidak dapat dicapai orang.
Namun di hadapan dinding muka gedung yang sudah runtuh itu terdapat sebuah
lubang bundar. Mungkin di zaman purba di situ terdapat sebuah tambang. Lubang
yang sekitarnya ditumbuhi semak belukar itu dapat dimasuki orang. Sternau
menduga bahwa pertemuan itu akan diadakan di situ. Ia tidak membicarakan dengan
siapa pun apa yang telah diketahuinya dan ia melewatkan waktu siangnya yang
tersisa di kamar si sakit. Panah Halilintar merasa gembira dapat bertemu kembali
dengan abangnya. Karena ingatannya sudah pulih kembali, ia dapat berceritera
tentang petualangannya di gua raja-raja dengan harta karunnya.2 Emma memamerkan
sebagian harta karun berupa ratna mutu manikam yang telah dihadiahkan kepada
Unger yang membuat pemburu miskin itu tiba-tiba menjadi kaya raya.
Emma yang sangat berbahagia karena tunangannya sudah sembuh kembali, menunjuk
kepada Mualim Unger lalu berkata, "Kau sebenarnya tidak memerlukan segala harta
itu, hacienda del Erina itu untuk kita. Bukankah kau ingin membaginya dengan
abangmu?" Si sakit mengangguk sambil tertawa lalu menjawab,
"Bang, milikku adalah milikmu juga. Bukankah engkau mempunyai seorang putra?"
"Benar, di rumah ada istriku dan putraku," jawab 2 Baca buku Puri Rodriganda
mualim. Panjang lebar ia berceritera tentang keluarganya, dibantu oleh Sternau. Si sakit
mendengarkan dengan penuh perhatian lalu berkata, "Anak itu sangat cerdas. Ia
harus mendapat didikan istimewa. Tuan tanah itu baik sekali terhadap kalian,


Piramida Bangsa Astek Karya Dr. Karl May di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

namun kalian tidak boleh tetap bergantung padanya. Kau harus menerima
pemberianku. Aku adalah adikmu, paman putramu."
Mualim yang berbudi itu tidak mau menerima
pemberian itu, namun orang-orang lainnya yang hadir tidak setuju dengannya.
Bahkan Pedro Arbellez bergabung dengan mereka. Maka secara kelakar namun dapat
juga dianggap secara sungguh-sungguh, diambil keputusan bahwa separuh dari harta
Panah Halilintar akan dihadiahkan kepada anak kecil bernama Kurt Unger di
Rheinswalden. Menjelang malam si sakit merasa lelah lalu tidur lagi.
Emma tinggal menemaninya dan yang lain pergi makan.
Para perwira tidak hadir. Setelah mengalami peristiwa itu mereka menganggap
lebih bijaksana makan di dalam kamar saja.
Setelah makan Sternau memberi tahu bahwa ia ingin bekerja dalam kamarnya tanpa
diganggu orang. Ia menginginkan supaya ketidakhadirannya tidak dipertanyakan
orang. Pada saat tertentu ia memasukkan senjata, tali dan kain ke dalam sakunya
lalu menyelinap pergi ke salah satu kamar yang tidak dihuni orang di sebelah
belakang rumah. Di dalam kamarnya sendiri Sternau membiarkan lampunya menyala
untuk menimbulkan kesan bahwa ia ada di dalamnya. Ia mengunci pintunya di sebelah
dalam lalu membawa kuncinya. Ia membuka jendelanya, memanjat ke luar lalu
menutupnya kembali. Kemudian ia menyelinap melalui taman ke pagar. Ia mencapai
padang terbuka tanpa dilihat orang, berjalan mengitari hacienda lalu pergi ke
ladrillos. Hari sudah gelap, namun mata Sternau yang terlatih mengenali daerah itu sangat
baik sehingga ia tidak perlu
khawatir akan tersesat. Pengalamannya menjelajah hutan rimba mengajarkan padanya
bagaimana dapat bergerak tanpa terdengar orang. Kinipun juga kehadirannya hanya
dapat diketahui orang bila orang itu kebetulan bertumbuk padanya. Di sekitar
ladrillos ia lebih berhati-hati lagi.
Separuh merangkak ia menempuh perjalanannya. Tiba-tiba ia berjongkok sejenak
untuk menghirup udara. "Bau apa itu?" pikirnya. "Bau hangus serta bau daging bakar. Astaga! Begitu
bodoh mereka untuk menyalakan api. Di mana api itu" Tentu bukan di atas tanah,
bila demikian tentu akan terlihat. Namun sudah pasti juga api itu dekat. Bau
daging bakar tidak dapat mencapai jarak jauh. Coba lihat!"
Sternau merangkak ke arah bau itu. Sesaat kemudian ia sampai pada lubang yang
pernah dilihatnya itu. Lubang itu bergaris tengah paling banyak tujuh meter
serta dalamnya tiga meter. Di sekitarnya tumbuh semak belukar, yang digunakan
Sternau sebagai tempat persembunyian. Di bawahnya tampak olehnya seorang laki-
laki duduk dekat api unggun kecil, sedang membakar seekor kelinci liar. Hari
sudah mendekati tengah malam dan Sternau sedang duduk dengan santai di tempat
persembunyiannya. Orang itu melahap daging itu, sesaat saja semuanya sudah habis
tandas. Di sampingnya terletak sebatang senapan berlaras dua. Pada ikat
pinggangnya terselip sebilah pisau. Orang itu bertubuh pendek serta kekar, namun
Sternau dapat memastikan dalam pikirannya bahwa tidaklah begitu sukar baginya
untuk menaklukkannya. Ia menanti hingga mendengar perlahan-lahan bunyi langkah kaki orang. Ia begitu
bijaksana untuk bersembunyi di tepi yang paling jauh letaknya dari hacienda,
maka ia tidak perlu khawatir akan dilihat orang.
Bunyi langkah kaki itu semakin dekat terdengar. Orang Mexico itu pun
mendengarnya, ia bangkit berdiri. Di seberang tepi tempat Sternau berlindung,
belukar perlahan menyingkap lalu tubuh Kapten tampak samar-samar di
cahaya api unggun. "Bodoh benar kau!" gerutu Verdoja.
"Mengapa?" tanya orang Mexico itu.
"Kau menyalakan api!"
"Jangan khawatir! Tidak ada orang yang dapat melihatnya. Saya lapar maka saya
membakar daging kelinci."
"Itu perbuatan yang sangat ceroboh. Baunya tercium pada jarak satu kilometer!"
"Orang baru dapat menciumnya kalau ia berada di sini juga. Mari turun ke bawah,
Senor. Kita tak perlu takut!"
Kapten turun ke bawah, tetapi ia tidak mendekati orang itu.
"Aku tidak dapat lama-lama di sini," katanya. Di mana pembantu-pembantumu?"
"Di sana di balik gunung-gunung, di dalam hutan."
"Apakah mereka tahu di mana kau berada?"
"Tidak." "Bagus. Aku tak suka bekerja dengan terlalu banyak orang. Dapatkah kamu
melepaskan mereka?" "Mungkin. Namun dapatkah saya seorang diri
melakukan pekerjaan itu?"
"Mudah-mudahan. Inilah upah yang sebenarnya harus dibayarkan kepada seluruh
kelompok. Pekerjaan yang menanti harus sanggup kau kerjakan sendiri."
"Dan apakah pekerjaan itu?"
"Aku lihat kau mempunyai senapan berlaras dua.
Pandaikah kau menembak?"
"Tak dapat disangsikan lagi!"
"Kau harus melepaskan dua tembakan yang tepat mengenai sasaran."
"O, saya mulai mengerti. Siapa yang harus menjadi sasarannya?"
"Sternau dan orang Spanyol itu."
"Baik. Mereka akan tertembak oleh peluruku. Namun di mana dan bilamana?"
Kau tahu letak tambang kapur tua di balik
pegunungan?" "Tahu benar. Itu tempat saya biasa berburu."
"Esok pagi pukul lima aku akan berperang tanding di situ."
"Caramba! " Anda mungkin akan terbunuh!"
"Mungkin sekali kalau kau tidak menolong. Aku dan Letnan Pardero telah menantang
Sternau, dan Mariano berlaku sebagai pendampingnya. Jadi Sternau harus melawan
dua orang, namun orang itu seperti setan saja.
Kita harus berhati-hati menghadapinya. Ia harus sudah dibunuh sebelum perang
tanding itu berlaku dan itu adalah tugasmu."
"Baik Senor! Jadi Mariano juga harus menerima peluru dariku?"
"Benar." "Keinginan Anda akan terlaksana. Sternau telah menembak mati kawan-kawanku, maka
ia patut dikirim ke neraka. Bagaimana siasat kita?"
"Sebelum pukul lima kau cari sebuah tempat
berlindung di sekitar daerah itu. Ada banyak pohon dan semak-semak di situ."
"Saya mengerti maksud Anda. Anda tidak tergesa-gesa datang di situ. Orang Jerman
dan orang Spanyol itu lebih dahulu datangnya dan bila Anda datang bersama
Letnan, kedua orang itu sudah tergolek di atas tanah dengan kepala pecah oleh
peluru." "Bukan, bukan begitu. Aku harus hadir juga, aku harus melihat orang yang
terkutuk itu mati. Harus diusahakan seolah-olah kejadian itu berlaku di atas
panggung sandiwara. Aku telah menantang Sternau berkelahi dengan menggunakan
senjata pedang. Letnan mendapat giliran sesudah aku. Bila Sternau sudah siap
menghadapi aku, saat itu kau harus menembaknya. Peluru yang keduanya harus kau
tembakkan kepada Mariano."
"Suatu rencana yang menarik. Dan bagaimana dengan upahnya, Senor?"
"Akan kauperoleh esok hari, di tempat ini juga... pada
tengah malam." "Baik, saya setuju."
"Bilamana kau telah mengunjungi batu itu?"
"Baru menjelang tengah malam."
"Tempat itu aman. Kita tetap memakainya tanpa merasa khawatir akan ditemukan
orang. Kini kau tahu semuanya.
Mudah-mudahan aku dapat mempercayaimu. Selamat malam!"
"Selamat malam Senor. Anda tak perlu khawatir.
Peluruku pasti akan mengenai sasaran."
Kapten pergi. Orang Mexico itu masih mengunyah-ngunyah tulang kelinci. Kemudian
ia bangkit berdiri, melemparkan senapannya ke tepi sumur lalu memanjat ke atas.
Sternau cepat-cepat merangkak keluar dari tempat persembunyiannya lalu tanpa
terdengar menyelinap ke arah orang itu keluar dari pohon-pohonan. Orang Mexico
itu tidak menyadari berada dalam keadaan bahaya dan menguakkan semak-semak di
hadapannya. Baru saja semak-semak itu bertaut kembali, maka bertindaklah
Sternau. Ia mencekik leher perampok itu sehingga orang itu tidak dapat
mengeluarkan suara. Begitu kuatnya cekikan itu sehingga orang itu tiada sadarkan
diri. Tangan dan kakinya yang mula-mula menggelepar-gelepar menjadi kaku lalu
orang yang pingsan itu rebah ke atas tanah.
Sesaat kemudian tubuhnya diikat dengan kain-kainan begitu kencangnya sehingga ia
menyerupai sebuah bungkusan barang. Sternau melemparkan orang itu ke atas
bahunya lalu kembali lagi ke hacienda. Suasana di situ sunyi senyap, namun
Sternau masih belum yakin mengenai Kapten. Ia mungkin baru saja sampai dan masih
berada di luar kamarnya. Sternau masih menunggu satu jam lagi sebelum ia
mendekati pagar. Mula-mula ia mengangkat beban hidupnya melampaui pagar,
kemudian ia sendiri melompat ke dalam taman. Kemudian ia memasukkan tawanannya
melalui jendela dan ia sendiri pun masuk lalu menutup jendela kembali. Ia
memastikan dirinya bahwa semua orang sudah tidur. Kemudian ia
menggendong tawanannya ke dalam kamarnya sendiri.
Pintu lalu dikuncinya. Lampu masih menyala. Tidak ada orang yang telah memasuki
kamarnya. Setelah ia membebaskan tawanannya dari belenggunya, ia melihat
tawanannya itu memandanginya dengan penuh keheranan.
"Kurasa kau kenal aku, bukan?" Tanya Sternau dengan suara tertahan. "Memang,
bukankah Kapten sendiri mengatakan bahwa saya sudah kemasukan setan...
mungkin juga benar pendapatnya itu, karena kalau tidak demikian, aku tidak dapat
menangkapmu. Kau boleh tidur di dalam kamar ini, itu lebih enak daripada di
luar. Namun akan kuperiksa lebih dahulu isi sakumu. Orang yang begitu ceroboh,
membakar daging kelinci di daerah yang dapat dikunjungi oleh musuhnya, tentu
akan menyimpan juga surat yang dipungutnya dari bawah sebuah batu yang merupakan
tempat persembunyiannya."
Sternau memeriksa isi saku orang itu dan benar jugalah, dapat ditemukan dalam
salah sebuah saku sepucuk surat lusuh. Ia memasukkan surat itu kembali ke dalam
saku orang itu lalu berkata, "Kau masih boleh memegangnya sampai esok pagi,
sebelum waktu itu aku tidak memerlukannya. Kini sebelum kau tidur,
pertimbangkanlah masak-masak, apakah nanti dalam menjawab pertanyaan, kau akan
berbohong atau lebih baik berterus terang saja."
Ia mengikat kembali tawanannya erat-erat,
menambatkannya pada kaki tempat tidurnya lalu pergi tidur selama beberapa jam.
Pada jam yang sudah ditentukan ia dibangunkan oleh Mariano dengan mengetuk pada
pintunya. Ia minta Mariano menunggu di bawah lalu ia bangun. Ia sekali-kali
tidak berniat meninggalkan pesannya yang terakhir secara lisan maupun tertulis.
Ia memeriksa tawanannya, apakah orang itu masih tetap dalam keadaan terikat,
mengunci pintu kamarnya, lalu pergi dengan tenang membawa pistolnya, seakan ia
hendak pergi makan pagi saja. Mariano menanti di bawah. Mereka pergi ke kandang
kuda, menyiapkan kudanya lalu pergi.
Mariano memandang sejenak ke jendela Verdoja lalu melihat dia berdiri.
"Kapten telah melihat kita pergi," katanya.
Sternau tidak memandang ke atas Ia hanya bertanya,
"Dapatkah kau menerka apa yang sedang dipikirkannya?"
Malam Tanpa Akhir 4 Pusaka Rimba Hijau Karya Tse Yung Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan 5
^