Pencarian

Sungai Lampion 1

Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine Bagian 1


SUNGAI LAMPION Ching Yun Bezine Kiriman : Hendri Kho (trims)
Final edit & Ebook : Dewi KZ
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
Sinopsis Dua wanita dengan dua jalan berbeda, di negeri yang
tengah bergolak. Peony, gadis desa dengan semangat membara. Tak pe-
duli akan bahaya, ia bergabung bersama seorang pimpinan
pemberontak dengan ambisi menyala yang membuatnya
menjadi sosok licik dan kejam, seperti musuh-musuhnya.
Lotus, gadis cantik dari keluarga bangsawan. Ayahnya
memanfaatkannya sebagai pion dalam suatu permainan
curang dan penuh keserakahan. Ia melarikan diri dan
menikah dengan seorang pria yang baik - terlalu baik untuk
bisa bertahan di masa penuh kejahatan tak terkendali.
Berlatar belakang Cina di abad ke-14, di tengah
masa-masa penuh pergolakan dan perebutan kekuasaan,
kisah ini bercerita tentang nasib suatu negara besar serta
lahirnya sebuah dinasti baru - Dinasti Ming - yang
mengakhiri kekuasaan bangsa Mongol di Cina.
Daftar Isi : SUNGAI LAMPION Sinopsis Daftar Isi : RIVER OF LANTERNS CATATAN PENGARANG PROLOG BAGIAN I 2 3 4 5 6 7 8 9 10 BAGIAN II 12 13 14 15 16 17 18 19 BAGIAN III 21 22 23 24 BAGIAN IV 26 27 28 29 30 BAGIAN V 32 33 34 35 36 37 Musim Panas, 1364 Musim Ding in, 1366 38 39 EPILOG Tentang Pengarang RIVER OF LANTERNS by Ching Yun Bezine Copyright ? Ching Yun Bezine, 1993
All rights reserved SUNGAI LAMPION Ching Yun Bezine Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 1995 SUNGAI LAMPION alihbahasa: Kathleen SW GM 402 95.171 Hak cipta terjemahan Indonesia:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI, Jakarta, Mei 1995
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
BEZINE, Ching Yun Sungai Lampion/ Ching Yun Bezine;
alihbahasa, Kathleen SW. - Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 1995. 560 hlm.; 18 cm. Judul asli: River of Lantems
ISBN 979-605-171-0 1. Fiksi Cina I. Judul. II. Kathleen SW.
895.1 Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan PT Gramedia
Untuk kekayaan abadiku - Gystal:
Denganmu sebagai lampion penerangku,
Hidup takkan pernah bagai sungai kelam.
Untuk suamiku Frank Bezine:
Seandainya Giacomo Puccini mengenal kita,
Ia akan menciptakan Kupu-kupu yang berbeda.
Untuk editor saya Audrey LaFehr:
Saya membutuhkan Anda dan kacamata saya;
Keduanya untuk mewujudkan khayalan saya.
Untuk agen saya Richard Curtis:
Anda mendorong saya dari mula,
Ke arah yang makin tinggi - jangan berhenti!
Untuk editor saya yang lain John Paine:
Kita belum pernah berjumpa,
Namun bantuan Anda ada di setiap baris dalam buku ini.
CATATAN PENGARANG KISAH ini terjadi pada abad keempat belas. Banyak nama
kota telah berubah sejak enam ratus tahun yang lalu.
Misalnya, Da-du sekarang menjadi Beijing, dan Yin-tin
menjadi Nanjing. Semua tokoh Cina diberi nama dalam bahasa Inggris -
beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke bahasa
Indonesia - untuk memudahkan pengucapan.
Ini adalah novel sejarah; potret pohon persik yang
sebenarnya berakar di Cina. Namun cabang-cabangnya
telah dilengkung-lengkungkan menjadi suatu bonsai yang
indah, dan gerumbulan daunnya dipercerah oleh sapuan
seorang seniman. PROLOG 1227 M SAAT itu baru pertengahan bulan kedelapan, namun
padang-padang daerah Mongolia sudah mulai tampak
gersang dan kering. Secercah angin dingin dari utara
berdesir melintasi padang rumput, memaksa tumbuhan
gurun merunduk seakan mengaku kalah, menggiring
gumpalan awan putih, kemudian mengusir mereka pergi.
Mendadak suara angin ditelan oleh pekikan menggelegar. Lautan rumput ilalang yang tebal membelah,
diarungi sepasukan orang berkuda.
Pakaian besi mereka memantulkan sinar di bawah
cahaya sore. Jumbai-jumbai merah di pucuk topi mereka
yang meruncing melambai-lambai di belakang mereka.
Masing-masing memiliki pedang, busur yang melintang di
punggung, dan sejumlah anak panah yang tergantung di
pinggang, serta tameng tembaga yang dihiasi simbol-simbol
suci dan berbagai batuan berkilauan, terikat pada
masing-masing lengan. Mereka terdiri atas sepuluh orang,
enam di muka dan empat di atas kuda yang menarik kereta
yang diselubungi kulit binatang.
Seorang laki-laki kurus menunggang kuda jantan kelabu,
menjaga kereta itu dengan waspada. Angin mengibaskan
rambutnya yang keperakan serta janggutnya yang panjang
dan putih, menyingkapkan seraut wajah kurus berwarna
gelap dan penuh garis-garis yang dalam. Ia mengenakan pa-
kaian perang yang dihiasi bulu binatang berwarna putih.
Batu-batu permata yang indah berkilauan dari gagang
pedangnya yang panjang. Suatu corak yang hanya dipakai
kaum bangsawan Mongol terukir pada tamengnya.
"Hati-hati," perintahnya pada keempat perwira terakhir
dengan suaranya yang dalam. Nadanya sedih dan prihatin.
"Khan kita yang Agung tidak tahan diguncang-guncang
seperti itu!" "Baik, Penasihat Zephyr Tamu," jawab keempat perwira
muda itu serentak. Mereka kemudian memperlambat
langkah kuda-kuda itu sedemikian rupa, sehingga kereta itu
bagaikan meluncur di permukaan laut yang tenang.
Iring-iringan itu akhirnya berhasil melintasi bentangan
gurun yang panas menyengat menuju Danau Baikal.
Menjelang malam mereka sampai di Sungai Onon.
"Dirikan tenda," perintah Zephyr Tamu, sambil
menunjuk ke tepi sebuah parit yang aliran airnya
memantulkan guratan sinar-sinar terakhir dari matahari
yang sedang tenggelam dengan cepat.
Para perwira membongkar muatan dan langsung
bekerja. Zephyr Tamu turun dari kudanya, lalu
menghampiri kereta. Ia menyingkap tirainya dan melongok
ke dalam. "Bagaimana keadaanmu, Temujin?" tanyanya
dengan nada rendah, sambil menyapa Genghis Khan
dengan nama kecilnya. Sosok tubuh besar yang terbaring di bawah tumpukan
bulu binatang yang lembut itu tidak bergeming. Namun
matanya yang gelap di wajah pucatnya membuka,
menyorotkan rasa sakit yang amat sangat. Erangan yang
dalam keluar dari antara rahangnya yang terkatup rapat.
Dengan susah payah ia menggumamkan melalui bibirnya
yang kering, "Zephyr, sobatku, aku sedang sekarat."
"Tidak!" Zephyr Tamu menggeleng-gelengkan kepala
dengan pasti, sambil berpegangan kuat pada bibir kereta
itu. "Temujin! Usiamu baru 65 tahun! Kakek dan ayahmu
mencapai usia sembilan puluh! Kau akan pulih begitu kita
tiba di rumah. Bukankah kita memiliki tabib terbaik?"
Seulas senyum tipis membayang di wajah agung Genghis
Khan, namun langsung sirna begitu ia menggerenyit
menahan sakit. "Bahkan tabib yang terbaik pun takkan
dapat menyelamatkan aku kali ini. Cina sialan itu
benar-benar melukaiku habishabisan." Ia menaikkan
tangan untuk meraba dadanya yang terbebat dengan
cermat. Jari-jarinya menelusuri lapisan pakaiannya yang
lembap oleh rembesan darah. Bayangan gelap menyelubungi wajahnya yang pucat pasi, membuatnya
kelabu. "Balaskan dendamku, sobatku. Tundukkan Cina dan
buat rakyatnya menderita."
Zephyr menggeleng-gelengkan kepala, kemudian dengan
suara yang lebih kuat agar terdengar lebih meyakinkan ia
berkata, "Temujin, kau akan pulih kembali dan
menundukkan Cina sendiri!"
Sebelum Genghis Khan dapat mengumpulkan cukup
tenaga untuk menjawab, seorang perwira menghampiri
penasihat Khan untuk melaporkan bahwa tendanya sudah
siap. Di bawah langit yang mulai kelam, Genghis Khan
digotong dari kereta ke sebuah tenda berkisi-kisi yang
ditutup bulu yang dikempa. Saat bulan purnama bersinar
penuh, para perwira itu menyalakan api dari ranting-ranting kering pohon pinus yang tumbuh di tepi
parit. Di bawah cahaya bintang mereka menyelinap pergi
dengan busur dan anak panah, lalu kembali dengan seekor
kambing liar. Dagingnya dipanggang di atas kobaran api,
yang perlahan-lahan menebarkan aroma yang menerbitkan
air liur ke sekitar daerah itu.
Salah seorang perwira membawa sebuah kaki kambing
ke tenda, berikut wadah berisi air yang diambil dari Sungai
Onon. "Pergi!" bentak Zephyr Tamu dari balik pintu tenda.
Perwira-perwira itu makan diam-diam, sambil mendengarkan desiran angin malam. Hati mereka resah
memikirkan teman-teman seperjuangan yang masih


Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tertinggal di garis depan. Orang-orang Cina dari Dinasti
Hsia Barat itu ternyata lebih kuat daripada perhitungan
mereka semula. Ketika Genghis Khan terluka, penasihat
Khan memilih sepuluh anak buah terbaiknya untuk
mengangkut Khan dengan kereta menuju perkampungan
mereka di daerah Utara, dekat Danau Baikal.
Deru angin bertambah kencang sementara malam
bertambah larut. Para prajurit tidur dalam pakaian perang
mereka dan menutupi wajah dengan tameng-tameng,
mencoba melindungi tubuh dari udara malam yang dingin
menyengat serta butiran pasir yang bak ampelas.
Kuda-kuda tunggangan mereka tertambat di dekat mereka,
memunggungi angin. Orang-orang itu terbangun di tengah malam oleh suara
erangan tajam yang datang dari arah tenda. Mereka
langsung melompat berdiri, berpandangan di bawah sinar
bulan, langsung mengerti apa yang sudah terjadi.
Erangan itu berubah menjadi rintihan memilukan, yang
kemudian menghilang. Cahaya bulan yang dingin menyinari
pintu masuk tenda saat Zephyr Tamu menyingkapkan
penutupnya dengan tangan bergetar. Air mata menggenangi matanya yang lelah, terus turun membasahi
wajahnya yang bertulang pipi tinggi. "Khan kita yang Agung
sudah wafat," ujarnya. Suaranya yang bergetar nyaris tak
terdengar. "Kita harus segera menyiapkan pe- makamannya." Para perwira itu meninggalkan tameng-tameng mereka
di tanah, lalu mulai menggali pasir dengan pedang. Saat
bulan memucat, mereka selesai membuat sebuah lubang
besar dan dalam di tepi sungai.
Ketika para prajurit itu menurunkan jenazah Genghis
Khan ke dalam liang peristirahatannya, Zephyr Tamu
berkata dengan suaranya yang serak tapi mantap, "Akan
kulaksanakan amanat terakhirmu, junjunganku. Cina akan
jatuh ke tangan kita kembali dan rakyatnya akan
menderita. Para pangeran Mongol terbaik akan berkuasa,
dan selamanya mereka akan didampingl anak-anak dan
cucu-cucuku." Di bawah sinar keemasan cahaya matahari yang baru
terbit, orang-orang itu mulai menutup liang lahat Genghis
Khan. Zephyr menambahkan, "Selamat jalan, Temujin,
sobat yang paling kusayangi. Tak lama lagi aku akan
bergabung denganmu, dan arwah kita akan bermain-main
seperti kanak-kanak yang berbahagia kembali."
Suara tua itu menelusuri masa lalu, mengungkapkan
kisah dua bocah laki-laki yang berselisih usia hanya
beberapa hari. Genghis memperoleh namanya dari suara
nyanyian burung yang hidup di gurun, sedangkan Zephyr
dari nama badai di daerah Gobi. Mereka tumbuh
bersama-sama. Mereka membuat beberapa peraturan yang
kemudian diterapkan pada para gembala yang mereka sa-
tukan untuk mendirikan Kerajaan Mongol. Genghis menjadi
pejuang tangguh, Zephyr pemikir yang lihai. Ketika Genghis
mulai dengan usahanya untuk menaklukkan dunia, Zephyr
mendampinginya dengan setia.
Zephyr Tamu meninggalkan alam kembaranya begitu
lubang kubur itu tertutup pasir. Setelah memerintahkan
anak buahnya menunggu, ia kembali ke tenda, lalu muncul
kembali dengan kendi berisi arak.
"Ayo kita minum untuk arwah Khan kita yang Agung,"
ujarnya sambil menatap sekilas ke arah para prajurit yang
berdiri dalam formasi lingkaran, kemudian menyerahkan
kendinya pada yang berdiri paling dekat dengannya.
Laki-laki itu mereguk isi kendi dalam-dalam, kemudian
meneruskannya pada yang berdiri di sebelahnya. Para
prajurit itu ternyata amat haus. Memberikan penghormatan
pada yang meninggal dengan minum arak keras sudah
menjadi tradisi mereka secara turun-temurun. Mereka
meneguk minuman itu tanpa memperhatikan rasanya yang
aneh atau cara Zephyr Tamu menampik kendi itu.
Ketika arak itu habis, para prajurit itu sempoyongan.
Zephyr meraba pedangnya, kemudian mencabutnya dari
sarungnya. Setelah mengangkat pedang itu tinggi-tinggi
sambil memutar tubuhnya ke arah prajurit yang berdiri
paling dekat dengannya, ia mengayunkannya dengan cepat,
tepat ke bagian muka lehernya, yang merupakan
satu-satunya bagian tubuh prajurit Mongol yang tidak
terlindung. Pedang tajam itu menebas leher si prajurit, memotong
saluran pernapasannya. Darah langsung mengucur dari
lukanya yang menganga. Laki-laki itu menaikkan kedua tangan ke lehernya,
kemudian terhuyung-huyung ke depan sambil tersedak
saat darah memungat keluar dari mulutnya. Matanya yang
polos menatap Zephyr Tamu, seakan ingin bertanya
kenapa. "Maafkan aku," ujar Zephyr menyesal. "Tapi salah satu di
antara sekian banyak janjiku pada Khan kita adalah bahwa
makamnya harus dirahasiakan."
Si prajurit mengulurkan tangan ke arah Zephyr.
Darah menetes dari ujung jari-jarinya dan mengalir
keluar dari tenggorokannya, merembes ke dalam pasir
yang berkilauan di bawah cahaya matahari yang mulai
terik. Zephyr Tamu menggunakan ujung pedangnya untuk
mendorong tubuh pemuda itu. Prajurit itu jatuh
terjengkang ke belakang. Ia tak dapat berdiri lagi, namun
tetap berusaha bertahan hidup. Tangannya menggerayangi
rerumputan yang tumbuh di dekatnya, mencengkeram, lalu
mencabutnya dari pasir. Ia mengentak-entakkan kakinya ke
sana kemari, sampai nyawanya akhirnya meninggalkan
jasadnya. Ia mati dengan mata menatap langit biru yang
tinggi. Ekspresi di mata yang masih muda itu amat memilukan
hatl Zephyr Tamu. Ia berdebat dengan dirinya, apakah
memang perlu menghabisi yang lain juga. Racun dalam
arak yang telah mereka minum sudah melumpuhkan
refleks mereka serta membuat anggota tubuh mereka mati
rasa. Sebentar lagi mereka semua mati. Zephyr Tamu
menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, ia tak boleh
mengambil rlsiko. Para prajurit ini adalah yang terkuat
dalam pasukan tangguh mereka. Kalau mereka berhasil
mencapal Sungai Onon dan minum cukup banyak air, ada
kemungkinan beberapa di antara mereka akan selamat.
Zephyr Tamu mendekati prajurit berikutnya. Orang itu
mencoba lari, tapi rupanya kakinya terlalu berat. Zephyr
mengangkat pedang, lalu seorang prajurit muda lain jatuh
persis di sebelah yang pertama. Seorang demi seorang para
prajurit itu dibantai si penasihat. Darah mereka segera
menggenang, membentuk kubangan merah di pasir yang
kuning, menebarkan aroma kematian di gurun itu.
"Temujin, tak seorang pun akan tahu mengenai
makammu, bahkan keturunanmu maupun keturunanku!"
ujar Zephyr sambil menatap langit.
Ia menghampiri kuda-kuda para prajurit untuk
membebaskan mereka. Ia mengayunkan cambuknya.
Sambil meringkik ketakutan kuda-kuda itu berlarian ke
segala penjuru, meninggalkan kepulan pasir yang
mengaburkan cahaya matahari. Zephyr menanti hingga
kepulan pasir mereda, kemudian mengeluarkan pemantik
api dari balik jubahnya. Ia membakar tenda dan keretanya,
lalu memperhatikan saat benda-benda itu dimakan api.
Sesudah itu ia menaiki kudanya, kemudian berderap pergi
dengan punggung dan kepala tegak, meninggalkan
tumpukan bara dan tubuh-tubuh bergelimpangan darah di
belakangnya. Angin utara terus berdesir, mengembuskan bu-
tiran-butiran pasir halus yang menyelimuti kesepuluh
jenazah itu, menciptakan gundukan makam besar bagi
mereka. Sungai Onon terus mengalir, diam-diam meratapi
arwah para pemuda yang masih polos, yang terkubur di
bawah gundukan pasir tak bernama itu.
Jauh dari Sungai Onon, di ibu kota Mongolia, Da-du,
sebuah mausoleum megah didirikan dalam tenggang waktu
kurang dari setahun. Atapnya biru dan keemasan,
dinding-dindingnya kuning terang. Di balik pintu-pintunya
yang merah dan menakjubkan terdapat beberapa altar dan
patung-patung Buddha berukuran raksasa. Para peziarah
dari seluruh penjuru dunia datang ke sana untuk me-
ngagumi makam Genghis Khan, untuk menghormati tokoh
yang hampir berhasil menguasai seluruh bola dunia dalam
cengkeramannya yang kuat.
BAGIAN I 1 Musim Semi, 1344 "AKU benci pakaianku! Kenapa aku harus mengenakan
pakaian berlapis-lapis di hari sepanas ini?" keluh Peony Ma,
sambil mengangkat lengan untuk menghapus keringat di
dahinya. Di atas baju lengan panjangnya ia mengenakan rompi
longgar untuk menyamarkan lekuk buah dadanya yang
mulai tumbuh. Sepasang celana panjang dikenakan di
bawah roknya yang panjangnya sampai ke pergelangan
kaki, untuk menyembunyikan bentuk kakinya. Rambutnya
dikepang dan diikat dengan pita-pita berwarna, yang
kemudian dipilin lalu dijepit seperti mahkota. Wajahnya
yang kecokdatan terbakar matahari tidak dipolesi apa-apa,
kakinya pun tidak dibebat. Ia bukan putri orang kaya.
Ayahnya penambang batu kemala yang amat berharga dan
terkubur di gunung-gunung tinggi yang mengelilingi
Lembah Zamrud. Peony mengerutkan alis melihat bajunya. Dulu baju itu
merah dengan bunga-bunga kuning terang, tapi sekarang
warna merahnya sudah memudar dan kuningnya tinggal
bercak-bercak keabu-abuan. Ia benci roknya yang kusam,
sama seperti rompi cokelatnya. Pakaian luar orang-orang
miskin memang selalu kusam, supaya kalau kotor tidak be-
gitu kentara, sehingga tak perlu terlalu sering dicuci.
"Seandainya aku bisa mengenakan gaun tipis merah muda,
kemudian bermain-main dalam air sejuk ini!" seru Peony.
"Peony Ma mulai mengigau lagi," ujar seorang anak
petani. "Memakai gaun tipis merah muda, kemudian
main-main di dalam air?" Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya. "Gaunnya akan tembus pandang, dan kau akan
tampak seperti telanjang." Ia menutup mulut begitu
mengucapkan kata yang kurang sopan itu, kemudian sambil
berbisik menambahkan, "Peony, kalau kau sudah tak sabar
lagi untuk memamerkan tubuhmu yang telanjang..." Ia
tertawa cekikikan. "Yah, bersabarlah. Begitu bulan di
musim gugur penuh, kau akan dinikahkan."
Suasana sungai yang tenang itu tiba-tiba dipenuhi derai
tawa gadis-gadis muda. Lebih dari dua puluh gadis
bermain-main di anak Sungai Kuning itu, mengumpulkan
bunga-bunga yang mengambang di sana. Pohon-pohon apel
tua tumbuh di sepanjang pesisirnya, cabang-cabangnya
condong ke air, membentuk kubah bunga. Tiupan angin
membuat kuntum-kuntum bunga berjatuhan ke mana-mana. Permukaan anak sungai itu lalu penuh dengan
kuntum-kuntum merah muda dan putih, yang mengambang
dan menebarkan aroma harum. Tak seorang pun di antara
gadis-gadis itu berani memetik sekuntum bunga langsung
dari pohonnya. Mereka percaya bahwa untuk setiap bunga
yang mereka ambil akan muncul sebuah jerawat di wajah.
Gadis-gadis itu berhenti tertawa ketika Peony Ma
tiba-tiba menjatuhkan keranjang rotan yang dibawanya.
Peony baru berusia enam belas tahun, tapi postur
tubuhnya sudah amat tinggi. Lengan dan kakinya sangat
panjang, pinggangnya ramping, dengan pinggul lebar dan
buah dada penuh, yang tak mungkin dapat disembunyikannya lagi di balik rompinya yang longgar.
Bentuk wajahnya oval, matanya bulat besar. Bibirnya
penuh dan mulutnya lebar. Ia begitu marah, sehingga
pipinya merah dan lubang hidungnya kembang-kempis.
Keranjang bunganya hanyut, tapi rupanya ia tak peduli. Ia
melangkah maju, mendekati gadis yang mengejeknya. Ia
menarik baju gadis yang ketakutan itu, kemudian
mendorongnya dengan kasar ke belakang.
"Aku tidak suka ucapan jelekmu itu! Tidak sabar untuk
memamerkan tubuh telanjangku?" Ia melambaikan
lengannya ke sekelilingnya. "Mau apa kalian?"
Gadis-gadis itu menundukkan mata. Wajah-wajah
mereka merah. Mereka semua sudah remaja dan akan
dinikahkan, sebelum menginjak usia delapan belas tahun.
Di malam pengantin, seorang pengantin wanita akan
berbaring dengan mata tertutup rapat, dengan kepala di
atas bantal pengantin yang diisi kuntum-kuntum bunga
kering yang telah mereka

Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kumpulkan selama musim-musim semi di masa gadis mereka. Tangan-tangan
mereka yang gemetar akan memilin ujung-ujung bantal
yang harum, sementara menantikan pasangan hidup me-
reka mengubah mereka dari sekuntum bunga yang baru
mekar menjadi pohon yang akan menghasilkan buah-buah
ranum. Suasana hening itu dipecah oleh suara teriakan dari jauh.
Gadis-gadis itu menegakkan tubuh, lalu memasang telinga.
Di antara anak sungai dan desa mereka terdapat padang
rumput luas. Mereka menjulurkan leher untuk melihat
lebih jelas, tapi lautan rumput ilalang ternyata lebih tinggi
daripada tepi sungai itu. Sementara mereka menatap ke
arah rumput tinggi itu, semakin banyak suara terdengar
dari arah desa. Teriakan panik itu menggema sam-
bung-menyambung dari gunung yang satu ke gunung lain
yang mengelilingi Lembah Zamrud itu.
"Orang-orang Mongol datang lagi!" seru Peony Ma
sambil menendang sebuah keranjang bunga. Ia memungut
sebuah batu besar dengan satu tangan, kemudian dengan
tangan lain mengangkat roknya. Sesudah itu ia mulai lari.
"Ayo!" Gadis-gadis yang lain gemetar ketakutan dan tak dapat
bergerak. Mereka semua lahir di masa pendudukan Mongol,
dan tidak mengenal kehidupan lain selain hidup seperti
anak kambing di sebuah padang berpagar. Para penguasa
sering muncul di sana untuk membantai atau merenggut
orang-orang yang mereka cintai. Mereka selalu berdiri
terpaku menghadapi teror itu, kemudian tepekur saat pa-
sukan kejam itu berlalu. Kebahagiaan, seperti suasana ceria
saat mengumpulkan bunga untuk mengisi bantal-bantal
pengantin mereka, hanya dapat mereka nikmati di antara
penyerbuan yang satu dan yang lain.
Peony berpaling ke arah kawan-kawannya yang tampak
terenyak, kemudian berteriak, "Hei! Tunggu apa lagi"
Kumpulkan semua tongkat dan batu yang dapat kalian
kumpulkan, lalu ikut aku. Cepat!"
Ia sedang berlari menuju padang saat sesosok tubuh
kurus kering berjubah jingga tiba-tiba muncul dari antara
rumpun rumput tinggi, menghambur ke tepi sungai. Peony
menabrak laki-laki itu, sehingga ia nyaris jatuh.
Sambil terhuyung-huyang, Peony memaki, "Mongol
guei-tze! - Setan Mongol!" Ia mengangkat tangannya, lalu
menghunjamkan batu ke wajah laki-laki kecil itu.
Meskipun tampak rapuh, laki-laki itu ternyata kuat
sekali. Begitu Peony mencoba menyerangnya, ia mencengkeram pergelangan tangan gadis itu. Jari-jarinya
mencengkeram begitu kuat, sehingga Peony menggerenyit
kesakitan, lalu menjatuhkan batunya.
Mereka saling mengenali pada waktu bersamaan.
"Peony! Berani-beraninya kau memaki orang suci setan!"
Laki-laki itu tersenyum, kemudian melepaskan cengkeramannya. Ia bernama Welas Asih, seorang biksu
Buddha berusia lima puluhan yang mengepalai Kuil Langit.
"Maafkan aku, shih-fu yang mulia." Peony membungkuk
untuk menyatakan penyesalannya, sambil mengusap-usap
pergelangannya yang terasa pedih. "Semua itu gara-gara
suara gempar orang-orang desa kami dan bayangan bahwa
orang-orang Mongol itu kembali..."
Si biksu tidak membiarkan Peony menyelesaikan
kalimatnya. "Mereka memang kembali," ujarnya cepat. "Dan
mereka sedang membantai seluruh desa." Cepat-cepat ia
menghampiri yang lain. "Aku tahu ini musim mengumpulkan bunga, dan aku berharap akan menemukan
kalian di sini." Ia tersenyum pada gadis-gadis yang
ketakutan itu, kemudian mulai memberikan pengarahan
tegas. "Kita harus bersyukur bahwa Sungai Kuning amat
dangkal saat ini. Kalian dapat menelusurinya dengan
berpegangan pada ranting-ranting pohon apel. Jangan
sampai ada yang terpeleset, jangan menengok ke belakang,
dan jangan bersuara."
Sambil mengatakan itu, Welas Asih mengangkat tepi
jubahnya yang panjang, menggulung lengan-lengannya
yang lebar, kemudian melepaskan sepatunya yang berujung
runcing. Sambil memimpin mereka menuju air, ia menoleh
untuk menggesa gadis-gadis itu.
Saat yang lain masih sibuk melepaskan sepatu-sepatu
mereka, menggulung celana panjang, serta menaikkan
rok-rok mereka dengan jari-jari gemetar, Peony sudah
masuk ke sungai, masih mengenakan sepatu. Ia tidak
merasa butuh berpegangan pada ranting-ranting pohon,
karena ia sudah sering melintasi sungai yang dasarnya licin
itu hanya untuk bersenang-senang. Sambil menunggu di
tengah-tengah, ia menggunakan tangannya untuk membantu dua gadis yang ketakutan. Rok dan celananya
mulai ditarik arus, dan dalam waktu singkat ia sudah
kehilangan sebuah sepatu. Bagian sungai yang terdalam
mencapai pundaknya. Mengingat yang lain jauh lebih
pendek darinya, mereka terpaksa berpegangan pada
ranting-ranting pohon apel. Kuntum-kuntum bunga
berjatuhan bak hujan yang lebat, berbaur dengan air mata
gadis-gadis itu. Ketika sampai di seberang sungai, pakaian mereka yang
berlapis-lapis sudah basah kuyup, sehingga mereka tampak
seperti telanjang. Sambil membungkuk dan merangkulkan
lengan di muka dada, mereka mengikuti si biksu tua dengan
kepala tertunduk, memasuki hutan cemara dan pinus.
Peony menendang sebelah sepatunya yang masih
tertinggal, kemudian bertelanjang kaki melangkah di
sebelah si biksu. "Apa yang menyebabkan pembantaian kali
ini?" bisiknya. Welas Asih menjawab dengan suara rendah, "Seorang
pengolah arak cuma percaya pada mata uang tembaga,
sehingga dia tidak mau menjual araknya pada orang
Mongol yang ingin membayarnya dengan uang kertas."
"Hanya itu?" tanya Peony.
"Itu bukan hal remeh," jawab si biksu.
Peony menengadahkan kepala, menatap matahari sore
yang membias masuk menembus hutan rimbun itu. "Ibuku
tentunya ada di pertambangan, menunggui ayahku
menikmati makan siang yang diantarkannya. Para
penambang mengenal banyak gua rahasia. Mereka pasti
sudah bersembunyi di tempat aman."
Si biksu tidak menyela Peony, meskipun ia sudah
singgah di pertambangan itu sebelum muncul di tepi sungai
tadi. Ia sudah melihat orangtua Peony tergeletak mati di
pintu masuk pertambangan, -masih berpegangan tangan.
Kalau ia mengungkapkan perihal kematian orangtuanya,
Peony akan menjerit-jerit. Kemudian gadis-gadis yang lain
akan bertanya mengenai orangtua masing-masing, dan
jawaban yang akan diberikannya akan membuat
kebanyakan mereka ikut menjerit-jerit, karena lebih dari
setengah penduduk desa itu. sudah terbantai. Welas Asih
tutup mulut. Ia tidak akan membiarkan anak-anak
dombanya yang malang ini menjerit-jerit hingga suara
mereka tertangkap para pembantai itu.
Medan yang mereka lintasi mulai menanjak. Welas Asih
dan Peony membantu gadis-gadis yang lain mendaki
gunung itu. Sebuah tempat sempit yang agak terbuka
terbentang di muka saat mereka hampir sampai di tengah
jalan, menuju jalan setapak yang melingkar ke atas.
Setelah menelusurinya, mereka sampai di sebuah tebing
yang dilindungi beberapa pohon pinus tinggi. Sambil
bersembunyi di balik pohon-pohon itu, mereka menatap ke
bawah, ke arah kaki gunung. Di sana sebuah jembatan
gantung melintasi Sungai Kuning yang saat itu menjadi
lebih lebar dan deras oleh arus air di musim semi. Beberapa
serdadu Mongol menjaga jembatan itu, menghadang
mereka yang ingin naik ke gunung melalui rute biasa.
Gadis-gadis itu melihat penduduk berlari meninggalkan
desa mereka, menuju jembatan, tapi terenyak begitu
melihat para serdadu. Mereka segera memutar tubuh, tapi
ternyata langsung berhadapan dengan pedang-pedang para
pengejar mereka. Peony mengentak-entakkan kaki sambil berusaha
memberikan semangat pada mereka yang belum terbunuh.
"Cepat! Lari ke padang rumput, ke bagian sungai yang
dangkal! Seberangi, lalu naik ke gunung! Ayo, tolol! Ayo..."
Sebuah tangan membekap mulutnya. Welas Asih
menggeleng-gelengkan kepala. "Ssst. Setidaknya sebagian
di antara kita harus mencapai Kuil Langit dengan selamat. "
2 BULAN bersinar terang. Cahayanya yang keperakan
menyelubungi seluruh daerah Sungai Kuning, memudarkan
bintik-bintik kemerahan kuntum-kuntum bunga pohon
apel yang putih. Gadis-gadis yang berkumpul di bawahnya
mengenakan pakaian putih yang serasi. Mata mereka yang
masih belia tampak kelam oleh duka wajah-wajah polos
mereka menahan kepedihan hati. Bibir mereka yang pucat
merekah mengucapkan kata-kata perpisahan saat menyalakan lampion yang mereka pegang dengan
tangan-tangan gemetar. "Kemarikan apinya!" seru Peony pada seorang gadis di
sisi lain tepi sungai itu.
Di dalam kotak kayu yang terbuka, sebuah sumbu kain
yang dipilin direndam dalam mangkuk berisi minyak,
ujungnya dibiarkan menggelantung di bibirnya. Kotak itu
diteruskan dengan hati-hati ke Peony dari satu gadis ke-
gadis yang lain. Peony mengambil sebuah sumbu pilinan
kain yang panjang dari dalam saku roknya Ia mendekatkan
ujungnya ke api, kemudian menggunakan sumbu itu untuk
menyalakan kedua lampion kertasnya yang putih.
Ia meletakkan salah satu lampion itu di permukaan air,
lalu berkata kepada arwah ayahnya, "Baba, dengan lampion
ini, perjalananmu ke alam baka akan menjadi terang, dan
kau akan menemukan negeri damai abadi."
Ia meletakkan lampion kedua di sebelah yang pertama.
"Mama, lampion ini tak hanya akan membawa secercah
cahaya, tapi juga cintaku. Aku memberimu lampion ini
bersama sebagian dari diriku sendiri."
Sekeping kayu tipis menahan setiap lampion, sehingga
tetap mengambang di air. Secercah angin berdesir lembut.
Riaknya membuat lampion-lampion itu hanyut semakin
jauh. Peony mengawasi kedua lampionnya, kemudian
berdiri. "Baba, Mama, aku akan menyusul kalian begitu
saatku tiba. Oh, tidak!" serunya begitu kedua lampion itu hi-
lang dari pandangan. Sejauh mata memandang, Sungai Kuning tampak bak
lautan lampion. Ribuan bintik cahaya terombang-ambing
dalam kegelapan, masing-masing bagaikan tetesan air yang
sama dalam derai hujan. "Tapi, Baba, Mama! Kalian begitu istimewa! Lampion
kalian seharusnya lebih terang dari yang lain! Kalian tak
boleh menghilang begitu saja seperti ini!" Peony
mengangkat bagian bawah rok putihnya, kemudian lari
menelusuri tepi sungai. "Aku harus menemukan kalian,
baba dan mamaku! " Peony tersungkur karena tersandung batu, lalu jatuh.
Pergelangan kakinya terkilir. Ia menggerenyit kesakitan.
Dengan susah payah ia berusaha berdiri, kemudian
melompat-lompat di atas satu kaki untuk mengejar
lampion-lampion itu. Angin bertambah kencang. Lampion-lampion dari
Lembah Zamrud terus hanyut meninggalkan Peony,
kemudian menghilang di kejauhan. Namun begitu lampion
terakhir hilang dari pandangan, barisan lampion yang baru
muncul dari arah hulu sungai dilepas oleh penduduk desa
tetangga Lembah Zamrud. Peony akhirnya menyerah. Ia takkan pernah menemukan kembali lampion kedua orangtuanya di antara
lautan cahaya yang seakan tiada habisnya itu. Ia mengawasi
pusaran air sungai yang terang benderang itu hingga larut
malam dan para pelayat lain sudah pulang ke rumah
masing-masing. Rasa sakit di pergelangan kakinya sudah mereda saat ia
melangkah di bawah cahaya bulan, melintasi padang
rumput, menuju desanya. Ia menghampiri pondok
berkamar dua yang dulu rumahnya, kemudian berdiri di
luar pintunya yang tertutup untuk mendengarkan derai
tawa yang biasanya menggema dari dalam. Namun ia tak
dapat mendengar apa-apa, kecuali keheningan. Penghuni


Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

baru rumah itu, sepasang suami-istri dan anak perempuan
mereka yang sudah dewasa, tentunya sudah tertidur lelap.
Saat orang-orang Mongol itu menyerbu Lembah Zamrud,
keluarga yang beruntung ini sedang berada di desa lain
untuk menjual perabotan tanah liat buatan mereka. Ketika
pulang, mereka mendapati rumah mereka sudah hancur
sama sekali dan mereka membutuhkan atap untuk
berteduh. Peony menjual rumahnya pada mereka,
mengingat Welas Asih telah menawarkan tempat bemaung
padanya di kuil. Mata Peony mulai pedih oleh air mata. Cepat-cepat ia
berpaling, kemudian meninggalkan tempat itu. Ia
meluruskan pundaknya, mengangkat kepala, lalu melangkah tegak. Tanpa menoleh ia berkata dengan tegas,
"Baba, Mama, aku takkan melupakan saat-saat aku
menemukan kalian berdua di pintu pertambangan itu,
penuh darah tapi masih tetap berpegangan tangan." Ia
meninggikan suaranya, lalu berkata dengan penuh tekad,
"Aku akan membalas dendam kalian!"
Peony melintasi jembatan gantung, kemudian naik ke
atas gunung yang diterangi sinar bulan. Atap runcing
bangunan kuil yang biru itu tampak berkilauan. Seluruh
penghuni desa yang selamat dari pembantaian orang-orang
Mongol diperbolehkan tinggal di bawah perlindungan
sayap Welas AsIh selama mereka bersedia tetap
bersembunyi di balik pintu-pintu kuil.
Sambil menatap bulan, Peony bertanya dengan penuh
keraguan, "Apakah aku akan kerasan tinggal di antara
kaum biarawati itu?"
Bulan tetap membungkam, namun Peony menemukan
jawabannya sendiri. Ia tersenyum, lalu berkata lebih
mantap, "Aku akan menyesuaikan diri dengan mereka,
untuk sementara. Karena calon suamiku Shu Yuan-chang -
alias Shu si Tangguh - akan menjemputku tak lama lagi."
3 SAAT fajar mulai menyingsing di desa Pinus, Shu sudah
berada jauh di puncak gunung, di tengah-tengah hutan,
membawa kapak di tangan kanannya dan tambang
terselempang di bahu kirinya.
Melalui celah di antara pepohonan ia melongok ke
bawah, ke arah desa yang tampak tenteram itu. Di
dekatnya, Sungai Kuning tiba-tiba menukik turun,
membentuk tirai kristal yang jatuh di atas bebatuan yang
menyembul ke atas. Jeram itu memantulkan cahaya sinar
matahari yang menyilaukan mata Shu. Ia menengok ke
hamparan tanah pertanian dan melihat para petaninya
tampak seperti bintik-bintik kecil di padang itu, namun ia
tak dapat mengenali kedua orangtua dan ketiga kakaknya.
Shu berusia enam belas tahun dan amat jangkung.
Tubuhnya yang besar dibungkus otot-otot yang liat.
Bajunya yang biru kusam, dengan satu kerah di atas yang
lain, tak dapat menyembunyikan pundaknya yang lebar dan
dadanya yang bidang. Sabuk kainnya yang cokelat, yang
seharusnya menutupi bagian muka badannya kemudian
diikatkan dalam simpul ganda, nyaris tak dapat melingkari
pinggangnya yang besar. Ia sudah menggulung lengan baju
dan pipa celananya setinggi mungkin, sehingga lengan dan
kaki-kakinya yang bak batang pohon itu tersingkap.
Tangannya besar dan kapalan, sama seperti kakinya yang
tersembul dari antara tali-tali sandalnya.
Rambut Shu tak pernah dicukur sejak lahir, mengikuti
tradisi lama yang sudah berabad-abad. Rambut itu diikat
kuat-kuat ke belakang, kemudian dijalin dalam kepang
panjang. Selembar benang katun yang kuat dan beberapa
yard panjangnya diikatkan pada pangkal kepang itu,
kemudian dililitkan sampai ke ujung, sehingga seluruh
kepang terbungkus. Sebuah simpul lain diikatkan di ujung-
nya untuk memastikan jalinannya tidak terlepas. Pada
siang hari kepang itu dinaikkan dengan tusuk sanggul kayu.
Pada waktu akan tidur, tusuk sanggul itu dilepas. Kecuali
pada saat-saat khusus ketika Shu harus tampak rapi,
kepangnya selalu terbungkus bahkan saat ia mandi dan
mencuci rambut. Shu memiliki kepala yang besar dan leher yang luar
biasa untuk mengimbanginya. Kulitnya kasar dan gelap.
Alis matanya hitam dan lurus, hidungnya lebar. Matanya
dalam, sedangkan bibirnya tebal. Yang membuatnya
berbeda dari anak-anak muda Cina lainnya adalah
jumputan rambut hitam yang pendek, kasar, dan kaku yang
menutupi bagian bawah wajahnya. Jarang sekali ada
laki-laki Cina berusia di bawah dua puluh yang perlu
bercukur, namun Shu harus menggunakan pisau bambu
yang tajam untuk mengerik wajahnya setiap hari.
Ia merasa sedikit takut berada sendirian di hutan yang
gelap dan dihuni berbagai binatang buas itu. Sampal dua
tahun yang lalu, ia dan ketiga kakaknya selalu pergi
bersama-sama untuk memotong kayu dan berburu.
Shu mengayunkan kapaknya ke sebatang pohon kecil,
sehingga bagian atasnya tertebas. "Seandainya kau orang
Mongol yang memberlakukan undang-undang tolol ini!"
umpatnya pada pohon yang sudah tidak berpucuk lagi itu.
Dua tahun yang lalu seorang jenderal Mongol muncul di
desa Pinus dengan prajurit-prajuritnya untuk mengumumkan, "Berikut ini perintah dari penasihat Khan
kita yang Agung, Shadow Tamu. Tak seorang Cina pun
diperbolehkan mempelajari keterampilan militer atau
menyimpan senjata di rumahnya. Setiap sepuluh keluarga
hanya boleh memiliki sebilah golok, dan setiap dua puluh
rumah sebuah kapak. Kalian, orang Cina, tidak di-
perbolehkan lagi berburu, dan setiap kali ada yang
membutuhkan kayu bakar, hanya satu orang yang boleh
pergi ke hutan." Shu mengangkat tinggi kapaknya, untuk kemudian
mengayunkannya ke bawah dengan sengit. Kali ini ia
menatap pohon yang ditebasnya itu, seperti orang Mongol
yang baru saja menyerbu sebuah kota cantik di daerah
Selatan yang bernama Phoenix Place beberapa tahun silam.
Ayah nya sudah begitu sering mengulangi cerita yang sama
itu, sehingga Shu hafal bunyinya.
"Kita, orang-orang Cina, tak pernah berhenti melawan
orang-orang Mongol. Bahkan di Phoenix Place, pendudukny
yang cinta damai membentuk kelompok rahasia, termasuk
baba dan paman-pamanmu, yang tak lain tak bukan
hanyalah petani sederhana. Tiga tahun sebelum kau
dilahirkan, kami membunuh lebih dari separo orang-orang
Mongol di kota kami. Sebagai balasan, si Khan barbar di
Da-du mengirimkan pasukan besar untuk membantai
seluruh kota." Kedua orangtua Shu berhasil kabur bersama ketiga anak
laki-laki mereka, kemudian menuju Utara. Shu dilahirkan
setahun sesudah itu, lalu dibesarkan di desa Pinus.
Pasangan Shu menempati sebuah rumah di pinggir Sungai
Kuning, dan sejak itu mereka tak pernah berani kembali ke
Sungai Yangtze kecuali dalam mimpi.
"Aku membenci orang-orang Mongol karena membuat
baba dan mamaku begitu menderita!" gumam Shu sambil
menebangi pohon-pohon. Ia melampiaskan seluruh
kemarahannya pada batang-batang kayu itu. Sebelum
matahari tinggi ia sudah berhasil mengumpulkan cukup
kayu bakar untuk kedua puluh keluarga yang berbagi kapak
dengan keluarganya. Ia menggunakan tambangnya yang panjang untuk
mengikat potongan-potongan kayu itu. Mengetahui ia tak
dapat mengangkat beban berat itu, ia berjongkok di tanah,
kemudian menyusup ke bawahnya, sehingga tumpukan
kayu itu berada di pundaknya. Dengan susah payah ia
berdiri sambil berusaha menjaga kesimbangannya dengan
menekukkan lutut. Ia baru mengambil beberapa langkah ketika tertangkap
olehnya suara gempar di kejauhan. Sesaat ia berdiri
tertegun, mendengar jeritan orang yang diiringi derap serta
ringkik kuda. Semuanya teredam bunyi air terjun, sehingga
sulit baginya membayangkan apa yang sedang terjadi.
Ia menjatuhkan kayu yang dipanggulnya serta kapaknya
begitu mengenali pekikan orang-orang Mongol. Ia
menyadari bahwa ia tidak sedang berkhayal semata-mata.
Cepat-cepat ia ke tepi tebing.
Panorama tanah pertanian yang damai itu sudah
berubah sama sekali. Bintik-bintik kecil itu berhamburan
ke mana-mana. Serdadu-serdadu Mongol dalam seragam
merah manyala mereka, tampak memenuhi desa, menjerati
penduduk desa dari atas kuda-kuda mereka.
Keturunan kaum gembala ini benar-benar amat ahli
memainkan laso. Orang-orang Cina yang berusaha lari
menyelamatkan diri itu tiba-tiba tersentak begitu terjerat.
Mereka kemudian ditarik jatuh ke tanah, dengan lengan
terikat kuat di samping. Mereka akan mendengar derai
tawa orang-orang Mongol, lalu mendapati diri mereka
diseret kudakuda, melintasi pepohonan, batu, dan pasir.
Shu menjadi panik begitu menyadari keluarganya
berada di suatu tempat di bawah, di antara orang-orang
yang sedang menderita itu. "Aku akan datang untuk
menyelamatkan kalian!" serunya sambil membalikkan
tubuh, bersiap-siap lari.
Tiba-tiba ia tertegun. Seekor harimau berbulu merah kekuningan dengan
garis-garis hitam melintang muncul di depannya, mendesis
memamerkan taringnya yang runcing-runcing. Shu merasa
bulu kuduknya berdiri dan keringat membasahi telapak
tangannya. "Minggir kau!" serunya.
Si harimau menyeringai. Matanya terus mengawasi Shu
saat ia bergerak mula-mula ke arah kanan, kemudian ke
kiri. Sorot matanya mengungkapkan rasa lapar dan ia siap
menikmati hidangan yang seukuran dirinya.
Shu menatap tajam ke dalam mata si harimau, sambil
merendahkan tubuhnya perlahan-lahan. Ia tak berani
menoleh ke arah kapak yang tadi dijatuhkannya, karena itu
ia meraba-raba dengan tangannya. Persis saat jari-jarinya
menyentuh gagangnya, si harimau membungkukkan tubuh.
Binatang itu melompat ke depan, dan pada saat
bersamaan Shu melemparkan kapaknya.
Pisaunya mengenai si harimau persis di ubun-ubun, dan
tetap menancap di sana. Namun ini tidak menghentikan
usaha binatang buas itu untuk mencengkeram mangsanya.
Harimau itu melesat di udara, kemudian mendarat di atas
Shu sambil meraung marah.
Shu terjungkal ke belakang, terimpit di tanah.
Kepala si harimau berada tak lebih dari tiga puluh senti
di atas kepalanya sendiri, darahnya yang hangat menetes
membasahi wajahnya. Si harimau membuka mulut
lebar-lebar, taring-taringnya yang tajam siap ditanamkan
ke dalam tenggorokan Shu.
Shu mengumpulkan segenap tenaga. untuk mem-
bebaskan lengan kanannya dari impitan tubuh berat si
harimau. Ia mencengkeram gagang kapaknya, kemudian
mengentaknya kuat-kuat agar terlepas dari kepala si
harimau. Rasa sakit yang amat sangat membuat perhatian
binatang itu teralih selama beberapa saat. Shu
menggunakan kesempatan itu untuk mengayunkan
kapaknya ke pundak kirinya.
Namun demikian, binatang perkasa itu tidak melepaskan
cengkeramannya. Saat Shu berhasil membebaskan diri dari
impitannya, ia masih tetap mencengkeramnya. Manusia
dan harimau itu saling bertukar posisi, Shu sekarang
berada di atas. Ia mencoba membebaskan diri dan kabur
dari medan pertempuran itu, namun begitu ia mengangkat
kaki, si harimau kembali menerkamnya. Sekali lagi mereka
bergulingan, mengotori tanah dengan darah masing-masing. Akhirnya si harimau meraung keras hingga seluruh bumi
terasa bergetar, kemudian mati masih sambil mencengkeram Shu. Pemuda itu berdiri terengah-engah,
kesakitan dan berlumuran darah dari luka-luka bekas
gigitan dan cakaran. Ia mengambil kapaknya dari pundak si
harimau, kemudian membersihkannya dengan sobekan
pakaiannya yang tercabik-cabik. Ia melangkah meninggalkan harimau mati itu, tapi lalu berhenti setelah
beberapa langkah. Ia kembali menghampiri binatang besar itu, lalu
berjongkok di sebelahnya. "Kau tahu, tak mudah bagiku
membunuhmu. Tapi aku melihat nafsu membunuh di
matamu. Yah, aku menyesal sekali. Tapi saat dua makhluk
perkasa berkelahi, salah satu harus mati," ujarnya sambil
menutup mata si harimau. "Aku menghormatimu."
Lutut Shu terasa lemas, namun ia tetap berlari menuruni
gunung secepat mungkin. Ketika melintasi sebuah bukit, ia
cepat-cepat melongok ke bawah, ke arah desa. Yang
disaksikannya kemudian membuatnya meraung sama


Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kuatnya seperti si harimau beberapa menit yang lalu.
4 "SEHARUSNYA kau bangga akan keluargamu, anakku."
Seorang laki-laki tinggi berjubah kuning berdiri di sebelah
Shu yang sedang berjongkok di dekat air, di bawah cahaya
bulan. "Seluruh keluargamu, termasuk ibumu, menghadapi
kematian mereka dengan gagah berani." Ia meletakkan
tangannya di pundak Shu. "Beberapa biksu muda berada di
desa saat peristiwa itu terjadi. Mereka tidak dilukai oleh
orang-orang Mongol yang takut kepada Buddha itu. Para
biksu ini mengintip dari balik pepohonan dan melihat
keluargamu berjuang sampai titik darah penghabisan."
Shu menatap laki-laki berjubah kuning itu. Naga Tanah
adalah biksu Tao yang mengepalai Kuil Raja-raja. Tidak
seperti halnya para biksu Buddha lainnya yang mencukur
habis rambut mereka, rambut Naga Tanah yang putih
menjuntai lurus sampai ke pundaknya yang tipis.
Shu amat menghormati biksu tua itu, namun ia tak
berhasil menahan amarahnya ketika ia berkata dengan
nada tinggi, "Apanya yang harus dibanggakan"
Kematian adalah pertanda kalah dalam menghadapi
hidup. Keluargaku ternyata kalah, sementara orang-orang
Mongol itu menang. Seandainya aku tidak dihadang
harimau itu... !" Ia sudah memberitahu Naga Tanah
mengenai pertarungannya dengan binatang buas itu.
Biksu tua itu meremas pundak Shu dengan jari-jarinya
yang kuat. "Anakku, harimau itu diutus oleh sang Buddha
yang Agung untuk menahanmu. Kalau tidak, kau pun akan
mati bersama keluargamu."
Shu menundukkan kepala, menatap kelima lampionnya
yang belum menyala. Andai kata sang Buddha memang ada,
untuk apa ia menyelamatkannya hanya untuk menyalakan
lampion-lampion tolol ini" Bukankah mata kedua
orangtuanya serta kakak-kakaknya masih terang sekali"
Mereka bisa melihat di alam baka tanpa lampion-lampion
itu. Tentunya sang Buddha mempunyai alasan yang lebih
baik untuk menyelamatkan dirinya, ujarnya dalam hati.
Salah satu sudut mulutnya melengkung ke atas, kemudian
secercah sinar bahagia menerangi wajahnya yang lesu.
Shu bergumam, "Peony! Pasti karena itu. Si harimau mati
supaya aku bisa tetap hidup untuk calon istriku."
Biksu tua itu tidak terlalu memikirkan soal wanita,
namun ia tak ingin melukai perasaan Shu saat itu.
"Mungkin," ujarnya, kemudian berpaling menghampiri
beberapa orang lain yang juga datang ke sana untuk
menyalakan lampion-lampion mereka. Ia kembali dengan
api di tangan. "Coba lihat ini," ujarnya sambil menepuk
pundak Shu. Pemuda itu berpaling. Si biksu menunjukkan apa yang
dibawanya. "Kecil sekali memang. Tapi selama masih
menyala, ini dapat dipakai untuk membakar seluruh kota.
Api kehidupan keluargamu dipadamkan oleh nasib.
Mengingat hanya kau yang kini masih tinggal, tentunya
takdir telah menentukan sesuatu untukmu."
Si biksu merogoh saku jubahnya, kemudian me-
ngeluarkan sebuah sumbu. Ia menyalakannya untuk
diteruskan pada Shu. "Anakku, nyalakanlah lampion-lampion itu, kemudian pulanglah untuk berkemas-kemas. Kau akan ikut dan tinggal bersamaku- di
kuil sesudah itu." Shu mengawasi lampion-lampion itu menghanyut
bersama lampion kematian yang lain. Sungai itu membelok,
dan ketika lampion-lampion itu mulai menghilang di
tikungan, ia mengepalkan tinjunya, kemudian mengacungkannya tinggi-tinggi. "Baba! Mama! Kakak-kakakku!" serunya sambil mengayun-ayunkan
tinjunya ke arah langit yang diterangi sinar bulan. "Aku
akan membalas kematian kalian!"
Naga Tanah melingkarkan lengannya ke pundak Shu,
menepuk-nepuknya sambil berusaha membesarkan hatinya sampai ia merasa lebih tenang. Baru setelah itu si
biksu memibimbingnya meninggalkan sungai. Di desa, lima
makam baru berbaris di belakang sebuah rumah kecil yang
dulu ditempati keluarga Shu. Rumah tetangga mereka yang-
terdekat terletak tidak begitu jauh dari sana. Delapan
anggotanya terbunuh, dan seorang lelaki tua yang masih
mempunyai hubungan keluarga dengan mereka tampak
sibuk menutup makam terakhir di bawah sinar bulan.
Orang tua yang sudah lelah dan tak dapat melihat jelas
dalam gelap itu telah membuat jarak agak terlalu jauh
antara satu lubang dan yang lain, sehingga secara tak
sengaja jenazah kedelapan terkubur di tanah milik keluarga
Shu. "Maaf," ujar orang tua itu pada Shu. "Gara-gara aku,
sekarang ada enam makam di tanahmu, padahal
seharusnya lima." Shu menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengatakan
pada orang tua itu bahwa ia tidak keberatan. Sesudah itu ia
masuk ke rumahnya, menggelar sehelai ikat kepala besar di
meja, kemudian mengumpulkan segala sesuatu yang masih
bisa dipakainya. Ia mengikat keempat ujungnya menjadi
satu, menyusupkan tongkat melalui simpulnya, lalu
memanggul buntelan itu di pundaknya.
"Tunggulah di sini sebentar, shih-fu yang kuhormati,"
ujarnya pada Naga Tanah di luar pintu, sambil
meninggalkan buntelannya di tanah.
Ia berlari memasuki rumah, mengambil minyak goreng
ibunya, untuk dituangkan ke atas semua yang terdapat di
pondok kayu yang terdiri atas dua ruangan itu. Pemantik
api tersimpan di dekat tungku tanah liat keluarga itu. Ia
membawanya ke dekat tumpukan kayu bakar yang sudah
dituangi minyak. Sesudah itu ia meninggalkan rumah tanpa
menengok ke belakang lagi.
Ketika ia dan Naga Tanah sudah berada jauh dari desa
itu, bau asap membuat mereka berpaling.
"Anakku! Apa yang telah kauperbuat?" seru biksu tua itu
sambil menatap tercengang ke arah bangunan terpencil
yang sedang dilahap api. "Tidak apa-apa, shih-fu yang kuhormati," jawab Shu
dengan tenang. Ia memunggungi desanya, lalu menambahkan, "Hanya memusnahkan apa yang tidak
kuinginkan dan aku tak ingin dimiliki orang lain."
"Tapi itu namanya merusak!" Si biksu merinding saat
mengalihkan matanya dari rumah yang terbakar itu ke
wajah Shu yang polos, yang ekspresinya gelap oleh
dendamnya. "Aku tak dapat mengizinkan orang-orang yang
suka merusak tinggal di kuilku."
Shu menjawab tanpa keraguan, "Aku tidak bermaksud
menetap di kuil Anda untuk waktu lama. Aku hanya akan
beristirahat selama beberapa hari untuk memulihkan
tenaga, lalu aku akan pergi ke Peony-ku."
5 "SIAP... serbu!" perintah si komandan. Para serdadu
langsung masuk mendobrak pintu.
Dua puluh dua cendekiawan Cina terjebak di dalam
gedung itu. "Menurut undang-undang baru yang dimaklumatkan
penasihat Khan kita yang Agung, Shadow Tamu, tak
seorang Cina pun diperbolehkan mengadakan pertemuan
politik. Kami mendapat informasi mengenai pertemuan
kalian, dan sudah mendengar cukup banyak dari luar
jendela-jendela kalian untuk membuktikan bahwa kalian
telah melanggar hukum," seru si komandan. Kemudian ia
memerintahkan agar mereka segera dihukum pancung.
Di luar pintu gerbang selatan kota Yin-tin terdapat
sebuah lapangan yang dilapisi kerikil halus beraneka warna
pelangi. Tempat itu dikenal dengan nama Pelataran Bunga
Hujan. Lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu seorang biksu
mengajukan permohonan kepada sang Buddha untuk
menganugerahkan sedikit keindahan di bumi yang penuh
kemelut ini. Doanya dijawab saat langit membuka dan
bunga-bunga berjatuhan bak hujan. Ketika kepala para cen-
dekiawan dipenggal di pelataran tersebut, darah mereka
menambahkan warna baru pada kerikil-kerikil beraneka
warna itu. Di bagian barat kota Yin-tin, Sungai Yangtze mendesau
perlahan di bawah cahaya bulan musim semi. Di atas
bisikan lembut itu terdengar ratapan, sementara
permukaannya yang halus bak beledu jadi beriak oleh
begitu banyak lampion kertas putih. Tiba-tiba para
pelarung lampion berhenti berdoa, tangan mereka tetap
tertengadah seperti tersihir. Semua kepala berpaling ke
ujung jalan setapak yang dilapisi batu hampar, tempat
sebuah gazebo berlantai merah dinaungi bunga persik dan
pohon-pohon yangliu. Suasana gazebo itu dimeriahkan iring-iringan beberapa
laki-laki dan perempuan berseragam pelayan, yang
masing-masing membawa lampion kertas berwarna merah.
Di belakang mereka ada dua tandu tertutup, masing-masing
diusung empat laki-laki. Tirai-tirai brokat tebal berjuntai
dari kerangka kayunya yang diukir dengan indahnya; sisi-
sisinya penuh sulaman benang emas dan perak. Corak
bordirannya berupa bunga, burung-burung, berbagai
simbol keberuntungan, serta simbol dua keluarga yang
berbeda. Di antara mereka yang sedang berkumpul di tepi sungai,
beberapa dapat membaca. Setelah menerawangi tandu-tandu tertutup yang diterangi sinar lampion, mereka
mengenali nama kedua keluarga itu. " Keluarga Lu dan Lin!
" desis mereka. Lebih dari seratus tahun yang lalu, salah seorang leluhur
keluarga Lu mendesain sebuah jembatan tertutup untuk
salah seorang kaisar Dinasti Sung. Si penguasa ketika itu
menghadiahkan berton-ton emas dan ribuan ekar tanah
kepada si arsitek. Pada saat bersamaan, salah seorang
leluhur keluarga Lin berhasil memimpin pasukan untuk
menindas gerombolan pemberontak yang ditakuti di
daerah Barat. Sang Kaisar menunjukkan penghargaannya
dengan melimpahkan jumlah harta yang sama. Sejak itu
keturunan kedua keluarga itu menjadi tuan tanah serta
lintah darat dan hidup mewah.
Para pengusung berhenti di muka gazebo, kemudian
dengan hati-hati menurunkan tandu-tandu itu ke tanah.
Para pelayan bergegas masuk ke gazebo, untuk memasang
lampion-lampion merah di setiap sudutnya yang gelap.
Mereka membersihkan bangku-bangku dan meja batunya,
kemudian menutupinya dengan bantal-bantal dan taplak
meja. Dengan terampil dan cepat mereka menata makanan
dan minuman yang mereka bawa dalam wadah-wadah
yang dipernis. Dua pelayan, seorang laki-laki dan seorang wanita,
kembali ke tandu. Yang laki-laki menghampiri tandu
pertama, yang menyandang nama keluarga Lu, kemudian
menyingkapkan penutupnya. Seorang bangsawan muda
berjubah sutra biru muda melangkah keluar.
Lu si Bijak dikenal sebagai bujangan paling tampan di
Yin-tin. Tubuhnya amat ramping bak batang bambu hijau di
musim semi, juga sama lentur dan luwesnya. Lehernya
yang ramping tertutup kerah tinggi pakaian dalam satin
yang warnanya seputih salju. Tangannya yang kepucatan
setengah terlindung lengan panjang sehelai baju dalam lain
berwarna biru gelap di bawah jubah luarnya. Kaki
celananya yang terbuat dari sutra kelabu, panjang dan
lebar. Saat ia bergerak, kaus kaki putih dan sepatu
hitamnya akan terlihat, sama-sama amat bersih dan tidak
bernoda, seakan tak pernah menyentuh tanah sebelumnya.
Lu si Bijak berusia delapan belas tahun. Kepangnya yang
panjang dibelit beryard-yard benang merah, yang
merupakan warna keberuntungan. Kepang itu kemudian
digelung ke atas dan dijepit dengan beberapa tusuk
sanggul. batu kemala. Jari-jarinya yang ramping dan
pergelangan tangannya yang kecil dihias batu kemala
beraneka warna. Kepingan-kepingan keberuntungan yang
juga terbuat dari batu yang sama menggelantung dari sa-
buk birunya yang panjang yang membelit di pinggangnya
yang ramping. Seulas senyum lembut membayang di wajahnya yang
bulat dan kepucatan saat ia menghampiri tandu satunya.
Matanya kecil, hidungnya pipih. Alisnya seakan habis
dipulas tinta hitam cair oleh seniman yang amat hemat,
namun saat melukis mulutnya si artis sedikit lebih royal
menggunakan warna merah mudanya.


Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lu berdiri di samping tandu lainnya, kemudian
menunggu dengan sabar sampai si pelayan wanita
menyingkap tirai yang disulam dengan aksara keluarga Lin
itu. Sebagai pemuda terpelajar dari Selatan, Lu tahu ia tak
boleh menyentuh Lady Lotus ataupun tirai tandunya.
"Lotus," sapanya lembut, sambil mencondongkan tubuh
ke arah tandu itu, "kita sudah sampai di tepi sungai
sekarang." Ia berani memanggilnya dengan nama kecilnya
karena ibu mereka masih bersaudara, dan dulu mereka
pernah bermain bersama-sama seperti dua kakak-beradik.
Mula-mula muncul sepasang kaki dalam sepatu satin
merah muda, yang menjajaki tanah dengan agak ragu.
Seluruh permukaan sepatu dihiasi sulaman kupu-kupu.
Pada ujungnya yang runcing dijahitkan butiran-butiran
mutiara. Masing-masing sepatu hanya enam senti
panjangnya, meskipun standar yang berlaku membolehkan
ukurannya mencapai tujuh setengah senti. Lotus Lin
memiliki sepasang kaki paling kecil di kota Yin-tin, dan
karenanya dianggap sebagai gadis tercantik.
Lotus sudah tak dapat berjalan sendiri sejak berusia
enam tahun, saat kakinya mulal dibebat. Sambil
menyambut uluran tangan pelayannya, ia melangkah
keluar dari tandu, kemudian bertumpu pada wanita kuat
itu. Dua setengah senti celana panjangnya yang berwarna
persik tersingkap. Pelayannya menahan napas seketika,
lalu cepat-cepat mengulurkan tangan untuk menutupinya
dengan rok panjang Lotus yang merah muda. Lotus juga
mengenakan sehelai baju hijau apel di atas pakaian
dalamnya yang krem dan berkerab tinggi untuk menutupi
leher serta bagian bawah dagunya. Di atas pakaian-pakaian
ini ia mengenakan jubah kuning yang penuh sulaman dan
panjangnya mencapai lutut. Sebuah sabuk beraneka warna
yang dihiasi mutiara dibebatkan di pinggangnya yang
mungil, kemudian ujung-ujungnya dibiarkan menjuntai
sampai ke kaki. Kaki-kakinya melangkah dengan amat hati-hati. Ia harus
menjaga agar kibasan ujung sabuknya tidak tampak.
Sebagai orang dari kalangan atas daerah Selatan, ia tahu
bagaimana harus membawa diri. Jika sabuk seorang gadis
berkibar seenaknya, ia hanya pantas menjadi selir laki-laki
kalangan atas, bukan istrinya.
Seorang lagi pelayan wanita muncul di sisinya yang lain,
menawarkan tubuhnya yang kekar untuk dijadikan
tumpuan majikannya. Lotus setengah dibopong kedua
pelayannya ke dalam gazebo; di sana Lu sudah menantinya
dengan sabar. Dua lampion merah diletakkan di meja. Lu menatap ke
wajah Lotus yang bening di bawah sinar lampion. Matanya
berbinar penuh cinta. Rambut Lotus yang hitam dibelah di
tengah, bagian depannya ditata tinggi dan dihiasi jepit-jepit
bertatah batu mirah dan nilam. Bagian belakang rambutnya
disatukan sisir koral berukir, kemudian dibiarkan tergerai
sampai ke pinggang. Wajahnya berbentuk hati dan mungil.
Matanya seperti buah badam hitam yang miring ke atas.
Alisnya yang samar-samar mengingatkan Lu pada
gunung-gunung yang diselimuti kabut di kejauhan. Rona
wajahnya begitu halus, sehingga secara keseluruhan
tampak bagaikan mimpi, kecuali mulutnya - segar dan
merah seperti buah ceri ranum yang siap dipetik.
Wajah Lu merona. Lotus baru berusia lima belas tahun.
Mereka sudah bertunangan dan kelak akan menikah, tapi ia
baru dapat memetik ceri muda yang ranum dan amat
dicintainya ini sedikitnya setahun lagi.
"Apakah kau menghadapi kesulitan saat meninggalkan
rumahmu untuk melarung lampion?" tanya Lu setelah
mereka duduk di bangku batu yang sudah berbantal.
Lotus tidak langsung menjawab. Ia tahu, para pelayan
wanita di luar sedang mengawasi mereka. Ia juga bisa
mendengar suara para pelayan laki-laki di kejauhan,
mengusir para petani dari tepi air.
Akhirnya setelah menghela napas Lotus berkata,
"Mula-mula Baba tak mau memberiku izin untuk ke sini.
Katanya sia-sia melarung lampion untuk sepupuku yang
dihukum mati sebagai pemberontak." Ia menundukkan
kepala, lalu mempermainkan mutiara di sabuknya. "Kukira
Baba takut orang-orang Mongol itu curiga kami punya
hubungan darah dengan salah seorang pemberontak. Dia
amat menghargai gelar kebangsawanannya, dan sebetulnya
tak hanya ingin disebut Lord, tapi juga...
Lotus berhenti berbicara begitu ingat peraturan lain
yang berlaku untuk para wanita kalangan atas daerah
Selatan - ia harus lebih banyak mendengar daripada
berbicara, dan pada saat berbincang-bincang dengan
laki-laki, seorang gadis seharusnya menghiburnya dengan
kata-kata menyejukkan, bukan membuatnya gundah
dengan ide-ide yang mengecilkan hati.
Sambil tersenyum ia mengangkat secangkir teh panas
untuk ditawarkannya pada Lu si Bijak dengan hormat, yaitu
dengan menggunakan kedua tangannya. "Mama membantuku membujuk Baba. Akhirnya dia memberi izin,
meskipun dia berkeras bahwa aku tidak boleh mengenakan
warna putih sebagai tanda berkabung. Aku harus
membawa sebanyak mungkin lampion merah yang besar-
besar, dan hanya satu yang putih dan kecil. Dia tak mau
warna kematian mengusik peruntungan keluarga kami."
"Ayahmu memang amat berbeda dengan ayahku. Ayahku
menganjurkan untuk menyalakan sebuah lampion putih
yang besar untuk sepupuku. Ia memintaku tidak
mengenakan warna putih atau membawa lebih dari sebuah
lampion untuk alasan yang sama sekali berbeda. Dia
mengatakan kita tak boleh memblarkan gubernur Mongol
itu tahu bagaimana perasaan kita sesungguhnya," ujar Lu
sambil menerima cangkir tehnya sama hormatnya, yaitu
dengan kedua tangannya. Seorang laki-laki tidak harus
berlaku seperti itu pada seorang wanita, namun Bijak amat
menghargai Lotus. Ia masih ingat, sewaktu mereka masih
kanak-kanak, Lotus biasanya mengalahkan dirinya dan
sepupusepupu mereka yang lain dalam berbagai permainan
yang memerlukan kecerdasan. Dan sebelum kakinya
dibebat, ia tak kalah dengan mereka dalam semua
permainan yang membutuhkan keterampilan fisik.
Lu menyorongkan piring manisan ke arah Lotus. Ia
memperhatikan saat gadis itu mencicipi sebuah kurma. Ia
mengagumi kecantikannya. Betapa ia merindukan saat-saat
bersama seperti itu. Ketika menginjak usia remaja, anak
laki-laki dan anak perempuan harus dipisahkan. Meski
dengan bantuan ibu-ibu mereka yang selalu begitu penuh
pengertian dan masih memiliki hubungan darah, mereka
hanya dapat bertemu pada kesempatan-kesempatan
tertentu, seperti saat-saat memanjatkan doa di kuil atau
melarung lamplon untuk mereka yang sudah meninggal.
"Ibuku memintaku menyampaikan salamnya pada
lbumu," ujar Lu si Bijak. Sulit rasanya mengalihkan
matanya dari gadis itu. "Dan ibuku titip salam hangat untuk ibumu," jawab
Lotus dengan wajah merona. Ia menundukkan kepala,
seperti yang-liu yang luwes diembus angin.
Sewaktu Lotus menunduk, Lu melihat sisir koral di
rambutnya. Itu mengingatkannya akan hadiah yang ia
bawakan untuknya. Ia menepuk tangannya. Seorang
pelayan wanita segera menghampirinya. "Bawa kemari
kotak-kotak itu," perintahnya.
Dalam sekejap wanita itu sudah meletakkan dua kotak
yang dipernis di meja, satu besar dan satu kecil. Setelah ia
meninggalkan mereka, Lu membuka kotak yang besar, lalu
mengeluarkan dua layang-layang dari dalamnya. Masing-masing dibuat dari selembar saputangan lebar dan
dua batang sumpit. Mata Lotus berkaca-kaca. Sewaktu mereka masih
kanak-kanak, Lu sering membuatkannya layang-layang
yang bagus seperti ini. "Kau masih ingat bagaimana aku menguraikan kepangku
agar dapat menggunakan benang sutranya untuk
menerbangkan layang-layang kita?" Lu menyerahkan kedua
layang-layang itu pada Lotus sambil tertawa lembut. "Kita
tak bisa bermain bersama-sama lagi, tapi layang-layang kita
dapat merambah jauh melewati halaman kebun kita
masing-masing. Jarak antara rumahmu dan rumahku hanya
tiga petak. Saat ingin melepas rindu, kita dapat
berbincang-bincang satu sama lain melalui layang-layang
kita ini." Sambil menunjuk ia menambahkan, "Aku
membuatkan satu yang merah dan satu yang biru untukmu.
Saat hatimu gembira, terbangkanlah yang merah. Saat kau
sedih, terbangkan yang biru. Aku juga memiliki dua yang
persis sama. Melalui layang-layang ini aku dapat
mengungkapkan perasaanku padamu."
"Terima kasih, Lu," bisik Lotus sambil mendekap kedua
layang-layang itu ke dadanya. Sebenarnya ia juga ingin
memeluk Lu si Bijak, namun itu tidak mungkin. Seandainya
ia mencoba menyentuh tangannya saja, para pelayan akan
berbicara dan reputasinya akan hancur.
Lu membuka kotak yang lebih kecil, lalu mengeluarkan
sebuah sisir kemala. Ia merendahkan suaranya agar para
pelayan tak dapat menangkap kata-katanya. "Aku juga
membuat ini untukmu. Aku sudah mengerjakannya selama
lebih dari dua bulan. Amatilah baik-baik dua gigi paling
tengah sisir itu." Lotus mengamati sisir itu dengan cermat, lalu melihat
bahwa satu gigi diukir berbentuk seorang laki-laki, dan di
sebelahnya seorang wanita. Lebar sisir itu tujuh setengah
senti, dan masing-masing gigi tidak lebih panjang dari dua
setengah senti. Tapi wajah mereka cukup jelas-si tuan
muda mirip Lu si Bijak, si nona mirip Lotus.
"Kau yang membuat ini?" tanya Lotus sambil menatap Lu
dengan kagum. Setelah Lu mengangguk, ia berkata, "Kau
pemahat yang hebat!" Lotus mencoba menekan suaranya,
namun tak dapat menutupi rasa antusiasnya. "Kau tak bisa
membuat ini sebelumnya. Siapa yang mengajarimu?"
"Seorang seniman yang sedang frustrasi..." Dengan cepat
Lu menceritakan seorang pemahat yang kehilangan
kedudukannya di istana Mongol, dan akhirnya terpaksa
mengukir kusen jendela di rumah keluarga Lu. Lu amat
mengagumi bunga-bunga indah hasil sentuhan pisau pahat
si seniman, kemudian memujinya.
"Dia mengajariku seni memahat. Aku sudah berguru
padanya selama lebih dari setahun sekarang, dan aku masih
akan belajar banyak darinya, mengingat dia bekerja dan
tinggal di rumah kami. Aku berharap dapat semakin
menguasai seni ini, sebab bila dibandingkan dengannya aku
belum apa-apa. Kau harus lihat ukiran kapalnya yang
terbuat dari batu bermutu tinggi. Di kapal itu ada
sekelompok orang, beberapa di antara mereka sedang
membaca gulungan kertas. Dia bahkan dapat mengukir
gambar dan tulisan-tulisan di atas gulungan-gulungan itu
...... Ia berhenti bicara begitu seorang pelayan laki-laki
memasuki gazebo itu. "Tepi air sudah sepi sekarang,"
ujarnya melaporkan. Lotus menyerahkan layang-layang itu kepada pelayannya, namun sisirnya ia sematkan ke rambut. Saat
mereka melangkah menuju sungai, Lu berjalan di depan,
dan ia mengikutinya dari belakang, dituntun dua pelayan
wanita. Orang-orang miskin selalu diusir dari tepi air saat ada
orang-orang kaya atau yang berkuasa tiba. Gazebo itu
dibangun beberapa dekade yang lalu oleh seorang pejabat
Cina sebagai tempat beristirahat, makan, dan minum.
Biasanya para petani selalu menerima nasib mereka.
Tapi hari ini mereka merasa diperlakukan tidak adil. Sambil
berdiri di kejauhan, mereka mulai melontarkan kata-kata
yang tidak simpatik ke arah Lu dan Lotus.
"Cuma orang-orang yang tak punya harga diri memakai
uang kotor mereka untuk membayar orang-orang Mongol
agar mendapat kedudukan tinggi!"
"Ayah kalian pengkhianat bangsa. Sang Buddha akan
menghukum mereka!" Lu ingin sekali menutup telinga Lotus dari kata-kata
yang kurang menyenangkan itu, namun ia tak boleh
melanggar tradisi. Tetapi ketika kerumunan orang itu mulai
memunguti batu dari tanah dan melempari mereka, Lu tak
dapat lagi menahan diri untuk menjaga tata krama sebagai
laki-laki kalangan atas daerah Selatan. Ia langsung berdiri
di belakang Lotus untuk melindungi tubuhnya yang
gemetar. Dadanya bersentuhan dengan punggung Lotus.
Dua jantung muda itu tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Para pelayan bertukar pandang, berdebat dalam hati,
apakah mereka harus melaporkan ulah majikan muda
mereka kepada orangtua masing-masing. Para pelayan
wanita langsung menarik napas lega begitu para pelayan
laki-laki mengangkat tongkat-tongkat mereka untuk
membubarkan kerumunan orang itu. Lu melangkah
meninggalkan Lotus, meskipun kedua jantung yang masih
polos itu masih berdegup keras saat mereka sampai di tepi
air. Begitu suasana tepi sungai tenang kembali, Lu duduk di
atas selimut yang disediakan untuknya, lalu menerima
sebuah lampion menyala, yang diserahkan pelayan
kepadanya.

Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lotus berlutut di atas bantal yang diletakkan di tepi air
itu oleh pelayannya, kemudian menerima lampionnya.
Mereka meletakkan kedua lampion itu di air. Bulan sudah
tinggi, dan angin malam bertiup cukup kencang, sehingga
dalam sekejap lampion-lampion itu menghilang dari
pandangan. Para pelayan membujuk kedua orang muda itu
untuk pulang, dan akhirnya berhasil.
Seluruh kota Yin-tin sudah tertidur. Iring-iringan
pelayan yang menerangi jalan yang gelap dengan lampion
merah mereka membuat para tunawisma terbangun dan
anjing-anjing menyalak. Tandu-tandu itu diusung dari tepi Sungai Yangtze
menuju timur, dan akhirnya mendekati Gunung Emas Ungu.
Rumah kediaman Gubernur Mongol menjulang bak benteng
angkuh di puncaknya. Di kaki gunung itu, permukaan air Danau Angin Berbisik
berkilauan di bawah sinar bulan, bagaikan piring perak. Di
kaki daerah perbukitan yang menghadap ke danau berdiri
rumah-rumah orang-orang Cina kaya. Semuanya gelap.
Hanya dua yang terang benderang.
Baik Lotus maupun Lu menatap ke atas dari kejauhan,
dan langsung mengenali rumah mereka masing-masing.
"Aneh," ujar Lotus dalam hati, sambil mengintip dari
balik tirai penutup tandu begitu melihat rumahnya. Kenapa
lilin-lilin itu masih menyala semua?"
Pada saat bersamaan Lu juga melihat ke atas dari
tandunya, lalu bertanya pada dirinya, "Aneh sekali. Kenapa
semuanya masih menyala?"
Iring-iringan itu tiba di bibir Danau Angin Berbisik, lalu
mereka mulai mendaki daerah perbukitan. Rumah keluarga
Lin terpisah tiga petak dari rumah keluarga Lu, dan tak
lama sesudah itu kedua tandu pun berpisah.
Para pelayan memisahkan diri dalam dua kelompok,
satu untuk melindungi tandu Lotus Lin, dan yang lain untuk
mengawal Lu. Lotus melepaskan sisir kemalanya, lalu meng-
genggamnya. Di tandu lain, Lu berusaha menyimpan
kenangan pertemuan terakhirnya dengan Lotus sebaik-baiknya di dalam hati.
Jauh di belakang mereka Sungai Yangtze terus mengalir,
membawa armada lampion yang seakan takkan berakhir.
Setiap percikan cahayanya yang terang penuh janji dan
harapan, cinta dan derita, kerinduan dan kepedihan.
6 RUANG serambi utama itu kosong. Yang tampak hanya
Welas Asih dan Peony, melangkah perlahan-lahan, yang
satu di depan yang lain. Puluhan patung kayu Buddha berjejer di salah satu sisi
dinding, sementara di dekat kaki mereka pelita-pelita
minyak menyingkapkan ekspresi wajah masing-masing.
Peony melirik ke arah patung Buddha Kebenaran yang
seram, yang biasanya mengadili mereka yang baru saja
meninggal. Ia mengalihkan matanya dari sosok berwibawa
ini, kemudian berbisik pada wajah Buddha Kebijakan yang
ramah. "Kedua orangtuaku tentunya ada bersama Anda."
Welas Asih berhenti begitu mereka tiba di muka Buddha
Kemakmuran. Ia memutar salah satu cuping telinganya
yang panjang. Dua lempengan melengkung yang berfungsi
sebagai perutnya yang gemuk membuka, menyingkapkan
lubang yang dalam dan gelap. "Mendekatlah," perintah
biksu tua itu kepada Peony.
Peony melongok ke arah tempat persembunyian itu.
Sinar pelita tak dapat masuk ke sana, namun sesuatu di
bawah tampak berkilauan. Ia membungkukkan tubuh, lalu
melihat cahaya itu keluar dari dalam sebuah batu besar.
Setelah menggulung lengan jubahnya, Welas Asih
merogoh batu berat itu dengan lengannya yang kurus. Ia
mengangkatnya tanpa mengerahkan tenaga, kemudian
meletakkannya di dekat kaki Buddha Kemakmuran.
Peony menahan napas. Sebagai anak penambang batu
kemala, ia sudah sering melihat jenis batu itu dalam
keadaan mentah, tapi belum pernah dalam ukuran dan
kualitas ini. Begitu diletakkan di bawah cahaya lampu, sinar
dari dalam batu itu memudar. Namun secercah kilau
lembut berwarna hijau masih tetap memancar dari
dalamnya, seperti kunang-kunang hijau terjebak di
dalamnya, dan terus menari sepanjang masa.
"Ini ditemukan ayahmu sekitar setahun yang lalu," ujar
Welas Asih sambil menunjuk batu itu. "Dia memintaku
menyimpannya untuknya."
Si biksu mengungkapkan pada Peony bahwa orang-orang Mongol menuntut setiap jengkal tanah bangsa
Cina, berikut semua hasil bumi, ikan, dan mineral-mineralnya. Para penambang tidak diperbolehkan
menyimpan atau menjual batu kemala yang mereka
temukan, sama seperti para nelayan dan petani yang tidak
berhak atas hasil tangkapan dan olahan mereka.
Welas Asib berkata, "Ayahmu mengikis batu ini dari
dinding gua, kemudian menyembunyikannya di bawah
setumpuk ranting kayu, sambil menunggu kesempatan
untuk menyelundupkannya ke tempatku di tengah malam.
Dia memintaku menyimpannya untuknya." Si biksu
meletakkan tangannya di kepala Peony. "Dia mengatakan
bahwa selain kau dan ibumu, batu ini adalah satu-satunya
miliknya yang berharga."
Peony menggigit bibir untuk menahan air matanya dan
terus menyimak kata-kata biksu tua itu. "Ayahmu ingin
batu ini mendapatkan perlindungan yang sama seperti kau
dan ibumu. Dia tahu bahwa di bawah undang-undang
bangsa Mongol, usia orang hanya bak secercah cahaya di
dalam hujan badai. Karenanya dia mempercayakan semua
yang dianggapnya berharga kepadaku."
Ia menambahkan bahwa seorang pengrajin andal akan
membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengeluarkan
batu kemala itu dari tempat persembunyiannya, sesudah
itu masih beberapa tahun lagi untuk memolesnya sebelum
batu itu dapat diukir. "Aku akan menyimpan batu ini di
dalam perut Buddha Kemakmuran, sampai aku menemukan tangan yang cukup terampil untuk mengolahnya." Ia meletakkan jarinya di bawah dagu Peony,
kemudian mengangkat wajahnya untuk menatap ke dalam
matanya. "Dan aku akan menyembunyikanmu dalam
seragam biksuni, tidak hanya untuk melindungimu dari
orang-orang Mongol, tapi juga dari derita kehidupan yang
tiada berkesudahan ini."
Peony menatap biksu itu dengan tercengang. Welas Asih
tersenyum. Ia begitu yakin bahwa Peony akan lega begitu
mengetahui keputusannya. "Ayo kita simpan batu itu
kembali lalu bergabung dengan yang lain," ujarnya.
Para pengungsi lain sudah berkumpul di halaman
belakang yang terbuka saat Welas Asih dan Peony muncul.
Pakaian berkabung mereka yang compang-camping telah
diganti dengan pakaian bekas orang-orang mati yang sudah
dicuci para biksuni. Kotoran di wajah mereka sudah
dibersihkan, namun kesedihan dan kepedihan yang mem-
bayang tak dapat dihapus begitu saja. Sambil berdiri di atas
mimbar, Welas Asih meminta mereka duduk di pelataran
berlapis batu bata itu. "Sebagai penduduk desa, kalian boleh bersembunyi di
kuil ini untuk sementara waktu. Sebagai biksu dan biksuni,
kalian akan aman untuk seterusnya, bahkan di bawah
undang-undang Pemerintah Mongol. Pengangkatan calon
baru akan diselenggarakan di sini besok pagi, karenanya
aku harus memberi penjelasan mengenai ajaran Buddha
kepada kalian malam ini."
Kebanyakan di antara penduduk desa itu tersenyum.
Merupakan kehormatan bagi mereka untuk diangkat
menjadi pengikut Buddha. Namun Peony langsung ingin
berdiri dan kabur dari situ. Ia mengangkat tangan untuk
meraba rambutnya, ia tak berniat mencukur kepalanya. Ia
menggigil begitu teringat upacara pengangkatan yang
pernah disaksikannya. Seorang biksu tua menggunakan
dupa menyala untuk membakar lubang-lubang di kepala
para calon yang baru dicukur. Katanya tidak sakit, tapi air
mata yang mengalir dari mata para calon itu
mengungkapkan lain Seorang biksu atau biksuni penuh
akan memiliki delapan belas bekas luka di atas kepalanya,
yang diperolehnya satu demi satu sesuai dengan kenaikan
tingkatnya dari tahun ke tahun.
Welas Asih memulai, "Hidup di bumi ini hanyalah tahap
penuh derita yang tiada berkesudahan, dan aku yakin
kalian setuju." Si biksu mengawasi kerumunan orang.
Cahaya bulan menambah jelas guratan sendu di
wajah-wajah mereka, sementara angin lembut mengantarkan desahan yang menyatakan mereka sependapat dengannya. Ia melanjutkan, "Kita semua sebetulnya roh belaka.
Tempat asal kita adalah surga. Semua roh sebetulnya sama,
termasuk roh hewan yang mungkin saja pernah atau akan
menjadi saudara kita dalam kehidupan lain."
Gumaman memenuhi halaman belakang kuil itu,
sementara semua agak terpana oleh kenyataan bahwa
mereka pernah memakan tubuh sesama mereka. Peony
menelan liurnya yang tiba-tiba mengalir begitu ia
mendengar ucapan tadi. Ia begitu lapar, sehingga takkan
menolak sepotong daging lezat, meskipun rohnya pernah
atau akan berhubungan darah dengannya di suatu waktu
tertentu. Welas Asih berkata, "Setelah kita mati, mereka yang
kelakuannya kurang baik akan dihukum Buddha
Kebenaran, sedangkan mereka yang berbudi luhur akan
dijemput Buddha Kebijakan."
Para penduduk desa berpandangan, tanpa berusaha
menyembunyikan kengerian mereka di bawah cahaya
bulan. Peony menggerenyitkan wajah. Meskipun ia agak
sulit diatur, kedua orangtuanya tak pernah memukulnya.
Entah bagaimana ia selalu berhasil berdebat untuk
melepaskan diri dari hukuman, atau lari lebih cepat
daripada ayah atau ibunya. Siapa pun yang berniat
merotannya sebaiknya lebih besar, lebih kuat, dan lebih
cepat darinya, entah ia sang Buddha atau bukan.
Welas Asih adalah laki-laki berpengetahuan luas, dan ia
tahu bahwa dalam agama mana pun, ketakutan selalu dapat
dijadikan pengikat kuat antara umat dan ajarannya. Ia
menakut-nakuti penduduk desa dengan kehidupan akhirat,
dengan mengatakan bahwa untuk menghindari hukuman,
orang harus memenuhi kewajibannya di bumi.
Peony tersenyum dalam hati. Kewajibannya di bumi
adalah membalas kematian kedua orangtuanya, menikahi
Shu, kemudian mengurus sebuah rumah penuh anak-anak.
Sesudah itu ia dan Shu akan meninggal dalam usia tua, lalu
naik ke surga. Ia akan mengembara di antara awan-awan
lembut serta menikmati semua yang pernah mereka nik-
mati selama hidup, termasuk hal ternikmat dalam
hubungan suami-istri - kenikmatan yang belum pernah
dialaminya, namun selalu dibayang-bayangkannya setiap
kali mendengar erangan kenikmatan kedua orangtuanya di
waktu malam. Welas Asih berkata, "Dengan berlaku baik, roh akan
mencapai nirwana, tempat tidak ada kepedihan ataupun
kelaparan, kerinduan ataupun nafsu. Tak ada lagi tawa
maupun tangis, cinta maupun kebencian, untuk selama-lamanya." "Nah, itulah!" kata-kata itu tiba-tiba saja terlompat dari
mulut Peony dan membuat semua orang menengok.
Bahkan Welas Asih mendengar celetukannya. Biksu tua itu
menggumamkan sesuatu. Peony cepat-cepat berdiri.
Ia menerobos kerumunan orang yang

Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terce- ngang-cengang, kemudian memasuki bangunan kuil,
mencari dapur. Begitu menemukannya, ia mendesak
seorang biksuni tua untuk memberinya sedikit sisa bubur
gandum. Saat ia menghabiskan sendok terakhir, Welas Asih
muncul. "Kelakuanmu tidak baik," tegur Welas Asih, kemudian ia
meminta biksuni tua itu keluar. Begitu tinggal berdua,
Welas Asih mengatakan bahwa andai kata Peony sudah
menjadi anggota Kuil Langit, ia akan mendapat hukuman
keras karena ulahnya itu. "Kau akan dibawa menghadap
kepala biksuni, disuruh berlutut bertelanjang dada. Lalu
kau akan dicambuk sampai punggungmu berdarah-darah.
Kau putri sahabatku, namun disiplin di kuil ini tetap harus
ditegakkan." Peony tertawa. "Peraturan di kuil Anda takkan
kuobrak-abfik, shih-fu yang kuhormati," ujarnya sambil
menatap mata biksu tua itu tanpa berkedip. "Aku tak
berniat menjadi biksuni. Nirwana bukan tempatku. Aku
akan bosan sekali. Bisa-bisa aku akan berteriak-teriak dan
membuat bingung semua Buddha di sana."
Welas Asih menggeleng-gelengkan kepala, tak berdaya.
"Kehidupan di luar kuil penuh dengan berbagai macam
bahaya. Aku sudah berjanji pada ayahmu akan
menjagamu..." Peony memotong, "Aku akan menjaga diriku sendiri,
sampai aku menemukan Shu. Sesudah itu dia yang akan
menjagaku, seperti ketika kami masih kanak-kanak." Ketika
Welas Asih mengangguk ragu-ragu, Peony menceritakan
bagaimana keluarga Ma dan Shu bertemu.
Sepuluh tahun yang lalu, beberapa pangeran Mongol
membagi tanah Cina di antara mereka. Mereka
mengendarai kuda dari daerah Sungai Kuning ke Sungai
Yangtze, masing-masing dengan sepasukan serdadu.
"Menurut Baba, seorang pangeran akan melemparkan
tombaknya ke tanah untuk dijadikan tanda, kemudian dia
memacu kudanya sekencang-kencangnya. Begitu sampai
kembali di tempat tombaknya, tanah yang termasuk dalam
lingkaran yang dibuat oleh tapak kudanya akan menjadi
wilayah kekuasaannya, sedangkan mereka yang tinggal da-
lam kawasan itu akan menjadi budak-budaknya. Rakyat
mulai memberontak. Kaum laki-laki dari desa-desa di
Provinsi Honan bersatu. Dalam salah satu pertempuran,
babaku bertemu dengan Petani Shu dari desa Pinus.
Mereka langsung akrab."
Pada musim panas berikutnya, Petani Shu tiba di
Lembah Zamrud bersama istri dan keempat anak laki-laki
mereka. Kedua keluarga itu berkumpul di tepi sungai untuk
menikmati kerlipan bintang di waktu malam.
Peony berkata, "Mama mengusulkan agar keluarga Ma
dan Shu berkumpul seperti itu lagi setidaknya sekali dalam
setahun, saat musim panas cukup hangat dan bintang-bintang bersinar terang." Seulas senyum malu-malu melembutkan ekspresi wajah Peony saat ia
melanjutkan, "Shu dan aku sama-sama berusia tujuh tahun
ketika itu. Kami bermain bersama-sama di tepi sungai itu.
Oh, kami berhasil menangkap banyak kunang-kunang.
Tahun berikutnya kami bertemu di desa Pinus, dan kami
diejek anak-anak lain karena bermain bersama-sama. Kami
hadapi mereka sebagai satu tim, sampai mereka semua
kabur sambil menangis. Ketika berusia sembilan tahun,
kami bertemu di Lembah Zamrud lagi, dan kali ini kami
sama-sama menangis saat terpaksa berpisah. Di tahun-tahun berikutnya perpisahan itu terasa semakin
berat, sehingga orangtua kami mulai merencanakan se-
suatu untuk masa depan kami."
Untuk pertama kalinya Welas Asih melihat Peony
menundukkan kepala dengan wajah merona. Nadanya
sekarang seperti seorang gadis pemalu. "Ketika kami
berusia dua belas tahun, orangtua kami mengadakan
upacara sederhana untuk mempertunangkan kami.
Orang-orang dewasa minum arak dari guci di bawah
bintang-bintang musim panas, Shu dan aku berbagi sebuah
kue dari tepung beras. Kami tidak menangis kali ini, saat
sinar bintang-bintang itu mulai memudar dan kami harus
berpisah. Kami tahu ketika itu, bahwa begitu mencapai usia
enam belas tahun, kami akan dinikahkan di bawah bulan
purnama musim gugur."
Peony menatap biksu tua itu dengan pandangan hangat.
"Nah, shih-fu yang kuhormati, Anda mengertii sekarang
kenapa aku tidak bisa menjadi biksuni serta merindukan
nirwana?" Welas Asih mengangguk, lalu menghela napas
dalam-dalam. Peony berkata lagi, "Semula aku bermaksud menantikan
kedatangannya bersama keluarganya pada musim panas
ini. Tapi sekarang pikiranku berubah. Aku tak bisa
menunggu begitu lama. Aku akan berangkat besok, Shih-fu.
Aku akan pergi kepadanya, dan ibunya akan menerimaku
begitu aku mengungkapkan kepada mereka bahwa aku
sekarang sebatang kara."
Welas Asih menghela napas sekali lagi. "Anakku, aku
mengerti sekarang. Pergilah menghadap para biksuni dan
mintalah kepada mereka beberapa potong pakaian
berwarna gelap. Pakaian berkabungmu yang putih terlalu
mencolok untuk bepergian melintasi daerah-daerah yang
dikuasai orang-orang Mongol itu."
Saat Peony melintasi halaman belakang yang terbuka,
yang lain sudah berlalu. Angin malam berembus lebih
kencang sekarang, menggiring awan-awan tebal menutupi
bulan. Tanpa sinar bulan, cahaya bintang-bintang menjadi
lebih terang. Peony menengadahkan wajah, lalu tersenyum.
Jarak antara desanya dan desa Shu dapat ditempuhnya
dalam dua hari. "Shu," bisiknya lembut.
Di bawah langit penuh bintang, halaman belakang Kuil
Raja-raja y ang terbuka tampak terang benderang. Lebih
dari dua puluh pemuda yang lolos dari kepungan
serdadu-serdadu Mongol dan membutuhkan perlindungan
di belakang pintu kuil, kini menjadi calon biksu dalam
upacara Taoisme Sambil menggenggam sebatang lilin, masing-masing
calon berdiri dengan kepang terurai, sehingga rambutnya
tergerat penuh. Mereka menengadah menatap mimbar
tempat Naga Tanah berdiri dalam jubah kuning bersulam
benang emas dan merah. Ia mengenakan penutup kepala
yang serasi serta sepasang sepatu yang ujungnya me-
runcing ke atas. "Untuk menjadi biksu Tao, kalian harus dapat menerima
kenyataan bahwa hidup ini tak pernah berhenti berubah,
begitu pula alam sekitarnya." Naga Tanah berbicara dengan
suara lantang, dengan harapan Shu, yang berdiri terpisah
dari yang lain di sisi lain halaman itu, dapat mendengar
ucapannya serta tergugah oleh kepercayaan yang usianya
sudah amat tua itu. Namun Shu masih terus berdiri sambil memindahkan
berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lain, mengikuti
upacara itu dengan gelisah. Setelah di kuliahl biksu tua itu
mengenai kebakaran di rumahnya, ia mengubah keputusannya untuk tinggal di kuil sampai luka-luka akibat
pertarungannya dengan harimau itu pulih. Ia bahkan sudah
tak sabar lagi menunggu pagi. Ia harus berangkat malam
ini. Buntelan berisi barang-barangnya sudah menggelayut
di ujung tongkat pendek yang melintang di pundaknya.
Naga Tanah melirik ke arah Shu dengan alis mengerut.
Bulan tidak tampak, namun orang tua itu dapat melihat di
bawah sinar bintang. Ia mempelajari wajah Shu, namun tak
ada yang berubah dari ekspresinya yang sudah mantap itu.
Biksu tua itu menggigil, lalu dengan nada lebih tinggi ia
berkata, "Matahari dan bulan tampil bergantian masing-masing mewakili salah satu dari dua medan yang
berlawanan-siang dan malam, yin dan yang, yang baik dan
yang jahat. Orang baik harus memiliki kemauan untuk
bertoleransi dengan peralihan dalam kehidupan ini, serta
menunggu saat kekuatan jahat meninggalkan dirinya, tanpa
memaksa dirinya melawan takdir tidak ramah yang sedang
dihadapinya..." Shu mengangkat tangannya ke arah biksu tua itu, lalu
diam-diam melambai meminta diri. Ia memutar tubuh,
memunggungi para penduduk desa, kemudian meninggalkan kuil itu dengan langkah-langkah lebar. Ia
dapat menangkap bagian akhir ritus itu, sesudah itu suara
para calon biksu yang mulai melantunkan doa. Sambil terus
melangkah ia menatap bintang-bintang. Garis-garis keras di
wajahnya langsung menghilang saat ia membisikkan
sepatah kata, "Peony."
7 KOTA Yin-tin terlelap di bawah langit tak ber bulan,
dengan Sungai Yangtze mengalir di satu sisinya dan
Gunung Emas Ungu menjulang di sisi lainnya. Di antara
bangunan-bangunan rumah di kaki perbukitan itu, dua
tampak masih terang benderang di larut malam itu.
"Apa ada yang tidak beres" Tidak ada yang sakit, bukan?"
tanya Lu pada diri sendiri saat melintasi ruang masuk
rumahnya yang berlantai marmer, menuju bagian yang
didiami kedua orangtuanya.
Para pelayan berseragam kelabu berdiri di sepanjang
ruang masuk yang panjang itu. Mereka membungkuk
dalam-dalam begitu melihat tuan muda mereka, namun
jawaban mereka kurang meyakinkan, "Tuan Besar dan
Nyonya punya berita baik untuk Tuan Muda."
Lu diantar ke ruang utama yang biasanya hanya dipakai
untuk peristiwa-peristiwa khusus. Lampu-lampu bertudung sutra tergantung pada langit-langitnya yang
dihiasi lukisan tangan. Cahaya lilin bersinar dari
tempat-tempat lilin kuningan yang tinggi, berbentuk bunga
bertangkai panjang. Bangsawan Lu adalah cendeklawan berpostur ramping
kepucatan; usianya menjelang empat puluh. Ia mengenakan
beberapa lapis pakaian berwarna keperakan dan biru tua.
Lady Lu adalah wanita bertubuh ramping yang berusia dua
tahun lebih muda dari suaminya. Ia mengenakan banyak
perhiasan dan berpakaian lengkap berwarna merah dan
keemasan. Keluarga Lu tidak terlalu besar, sejak kakek dan
nenek Lu meninggal tahun yang lalu.
Dengan agak bingung, Lu membungkuk ke arah
orangtuanya. Ia tak mengertii kenapa mereka belum tidur
di malam selarut ini, namun sebagai anak yang berbakti
bukanlah haknya mempertanyakan itu. Ia melirik ke meja
jati rendah yang diukir dan ditatah indung mutiara. Di
samping lampu yang terang, gulungan perkamen
berstempel merah penguasa Mongol tergeletak terbuka.
Lu langsung mengertii mengapa kedua orangtuanya
belum tidur dan masih berpakaian resmi seperti sekarang.
Saat perintah dari pihak penguasa diteruskan, penerimanya
diwajibkan menyambutnya dengan sebuah ritus layaknya
kedatangan seorang pangeran Mongol. Lu menatap
gulungan kertas itu dengan was-was, sambil mempertanyakan berita apa yang membuat kedua
orangtuanya tampak begitu gembira.
Bangsawan Lu berkata kepada Lu, "Ambillah."
Lu mematuhi perintah ayahnya. Ia membacanya,
kemudian menahan napas. "Baba! Baba diangkat menjadi
wali kota Yin-tin!" "Kau tidak senang?" Sementara Bangsawan Lu
tersenyum, wajah anaknya berubah pucat pasi.
Begitu mengingat tata krama, Lu segera membungkuk
dalam-dalam, lalu berkata, "Selamat, Baba." Kemudian ia
menengadahkan waiahnya, lalu dengan agak ragu berkata,
"Tapi, Baba, selama 65 tahun terakhir ini, hanya ada tiga
orang Cina yang pernah menduduki posisi setinggi itu.
Bagaimana cara Baba..." Ia langsung menghentikan
kata-katanya, begitu teringat bahwa para pelayan masih
berada di situ.

Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bangsawan Lu memerintahkan para pelayan me-
ninggalkan ruangan, kemudian menanti sampai mereka
pergi. Sesudah itu dengan nada lebih rendah ia berkata,
"Sejak wali kota Yin-tin terakhir meninggal, gubernur
Mongol Provinsi Kiangsu menerima banyak sogokan dari
para pejabat Cina. Anakku, aku salah seorang di antara
mereka.." Si ayah mengungkapkan bahwa ia telah melakukan
kunjungan ke rumah kediaman si Gubernur, tidak hanya
membawa emas dan perak sebagai upeti, tapi juga
batu-batuan berharga serta perhiasan langka. Yang terakhir
ini amat membesarkan hati istri si Gubernur, yang
kemudian membujuk suaminya untuk memberikan
kedudukan itu kepada Bangsawan Lu.
Lady Lu tersenyum saat berkata, "Tidak seperti orang
Cina, orang-orang Mongol amat menghargai kaum wanita
mereka. Karenanya keputusan seorang gubernur Mongol
dapat dipengaruhi istrinya. Sayang aku tak memiliki
pengaruh demikian atas ayahmu.
Bangsawan dan Lady Lu tertawa, tapi putra mereka
tidak. Lu menundukkan kepala agar kedua orangtuanya
tidak melihat apa yang terpancar dari matanya.
"Lu," ujar ibunya lembut, sambil mengulurkan lengannya
untuk meraih tangannya, "ayahmu tidak melakukan ini
untuk kepentingan pribadi." Lady Lu mengajaknya duduk
bersama mereka, lalu dengan nada rendah dan hati-hati
menjelaskan bahwa suaminya telah menghabiskan banyak
uang untuk pelicin dengan maksud tertentu. "Salah satu di
antaranya adalah agar penduduk Yin-tin memiliki wali kota
yang berada di pihak mereka. Sedangkan alasan lainnya
adalah..." Ia menatap suaminya.
Nada bicara Bangsawan Lu seperti bisikan, "Aku
bertekad untuk mendapatkan kedudukan sebagai wali kota
karena sebuah undang-undang yang baru dimaklumatkan
Shadow Tamu. "Dalam kurun waktu 65 tahun terakhir ini, kecuali Khan
yang Agung beserta keluarganya yang tinggal bersama para
serdadu mereka di Da-du, kebanyakan orang-orang Mongol
lebih suka tinggal di tenda-tenda di tempat-tempat terbuka
di utara dan barat daerah Cina. Tapi karena orang-orang
Cina di sepanjang Sungai Yangtze sering memberontak,
Shadow Tamu menjadi resah."
Bangsawan Lu berkata, "Penasihat Khan takut
menghadapi kemungkinan kita akan menghimpun kekuatan, lalu memberontak melawan mereka, tanpa
sepengetahuan mereka. Akhirnya, dia memutuskan bahwa
bangsa Mongol harus lebih waspada menghadapi
daerah-daerah Cina Selatan. Dia memerintahkan kita
membuka pintu rumah-rumah kita untuk mereka."
Lu mengepalkan tinjunya. Ia belum pernah menghantam
siapa pun dengan tinjunya yang kecil itu seumur hidupnya,
namun rasanya ia bisa menghantam orang Mongol mana
pun saat ini. Rumah adalah tempat yang sifatnya amat
pribadi bagi orang Cina, tak peduli bagaimanapun
sederhana wujudnya, persis sebagaimana seorang istri
adalah milik pribadi: seorang laki-laki, meskipun
kenyataannya wanita dianggap tak berharga. Pada saat
seorang laki-laki dipaksa membuka pintu rumahnya untuk
orang asing, ia akan merasa dihina habis-habisan, seperti
saat ia harus merelakan berbagi istrinya dengan orang lain.
Wali Kota Lu berkata, "Dua puluh lima ribu tentara
Mongol akan memasuki daerah Yangtze dalam waktu
setahun ini. Kebanyakan di antara mereka akan menuju
Provinsi Kiangsu, dan sedikitnya tiga ribu akan tinggal di
kota Yin-tin. Mengingat di daerah ini ada sekitar 30.000
rumah, setiap sepuluh rumah terpaksa menampung
seorang tentara Mongol. Bisa kaubayangkan kalau serdadu-
serdadu ini tidak diperlakukan seperti raja, apa yang akan
terjadi pada para pemilik rumah yang malang itu."
"Baba, dengan menjadi wali kota Yin-tin, apakah Baba
dapat mencegah serdadu-serdadu Mongol ini memasuki
rumah-rumah penduduk Cina?" tanya Lu.
Bangsawan Lu menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, tidak bisa. Tapi memaksakan serdadu-serdadu
mereka masuk ke rumah-rumah kita hanyalah salah satu
siasat orang Mongol untuk dapat mengendalikan kita. Kita
harus membasmi mereka sampai ke akar-akarnya. Dan
tugas itu membutuhkan waktu serta pengorbanan tidak
sedikit dari orang-orang Cina."
Sang ayah menatap mata putranya dalam-dalam, lalu
sambil menepuk pundaknya ia berkata, "Lu, aku sudah
menyusun beberapa rencana, dan aku membutuhkan
bantuanmu untuk menerapkannya. Kau dan aku harus
mempertaruhkan nyawa untuk membela rakyat kita."
Lu membungkuk hormat. Ia teringat peristiwa yang baru
saja terjadi di tepi sungai. Masih terbayang bagaimana
penduduk Yin-tin melontarkan batu-batu dan kata-kata
tajam ke arahnya dan Lotus. Tapi tak apa. Seperti juga
ayahnya, ia bersedia melakukan apa saja untuk membantu
saudara-saudara sebangsanya, meski untuk itu ia takkan
pernah menerima ucapan terima kasih sebagai balasannya.
Lu berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya
dengan nada rendah, sampai matahari mulai terbit. Saat
meninggalkan bagian rumah yang didiami kedua
orangtuanya, ia melihat ke arah langit yang mulai terang
melalui jendela berbentuk bulan purnama, lalu perlahan-lahan berbisik, "Lotus, kau tidak akan tahu apa
yang akan dilakukan ayahku dan aku, tapi aku yakin
sebentar lagi kau akan tahu bahwa aku sekarang putra wali
kota." "Jadi, dia putra wali kota sekarang! Aku tak peduli!
Pokoknya aku tidak mengizinkan Lotus menemuinya lagi!"
seru Bangsawan Lin dengan suara menggelegar.
Ia laki-laki yang baru menginjak usia empat puluhan,
dengan tubuh pendek gemuk dan garis wajah halus yang
biasanya agak kepucatan, tapi kini merah karena marah. Ia
tak dapat duduk tenang di kursinya yang dilapisi brokat. Ia
melompat berdiri, lalu melangkah mondar-mandir melin-
tasi ruang yang penuh perabotan mewah itu, sambil
menendangi tepian keemasan jubahnya yang merah
anggur, sehingga sabuk merah yang melilit pinggangnya
yang gemuk berkibar-kibar.
"Tapi..." Lady Lin hanya mengucapkan satu kata,
kemudian mulai terisak. Ia delapan tahun lebih muda dari
suaminya, wajahnya cantik dan tubuhnya amat rapuh.
Kakinya amat mungil, sehingga ia tak bisa berjalan.
Pakaiannya yang berlapis berwarna lembayung muda,
dengan sabuk ungu. Ia mengenakan berbagai perhiasan
mahal, juga di rambutnya, namun saat itu ia menangis tak
berdaya. Sebagai istri bangsawan kaya, ia amat dihormati oleh
para pelayan serta selir-selir suaminya yang jumlahnya
tidak sedikit. Namun kedudukannya lebih rendah daripada
suaminya yang terhormat serta keluarga suaminya yang
juga tinggal di rumah yang sama dengan mereka. Ia amat
mencintai anak tunggalnya, meskipun Lotus hanya anak
perempuan. Ia tidak tahu bagaimana meyakinkan suami
beserta keluarganya bahwa Lotus juga sama berharganya
seperti ketiga anak laki-laki yang diperoleh Bangsawan Lin
dari selir-selirnya. Keputusan suaminya akan membuat
Lotus amat sedih, dan Lady Lin berharap ia dapat
melakukan sesuatu untuk mengubahnya.
Lotus menangkap gelegar amarah ayahnya serta isakan
ibunya begitu memasuki ruang depan rumahnya. Di
masing-masing sisinya terdapat beberapa pintu menuju
berbagai bagian rumah. Lotus melongok melalui
pintu-pintu yang terbuka, lalu melihat suasana kacau dalam
setiap ruangannya yang bermandikan cahaya itu.
Beberapa langkah lagi ia akan sampai di ruang duduk.
Beberapa kursi jati patah-patah. Vas-vas porselen hancur
berkeping-keping, berserakan di karpet-karpet tenunan
tangan. Sebuah nampan dengan perangkat minum teh di
atasnya rupanya baru saja disapu dari atas meja. Kursi
favorit ibunya yang dilapisi sutra merah muda tampak
ternoda dan penuh daun-daun teh yang masih basah.
Dua pelayan sedang berlutut memunguti semuanya,
sambil membersihkan ruang itu. Salah seorang dari mereka
menghampiri Lotus, kemudian berbisik, "Sebaiknya Nona
jangan masuk ke ruang utama sekarang. Tuan Besar sedang
marah sekali. Dia menyepaki perabotan-perabotan,
melemparkan semua barang ke dinding. Semua orang
menjauhinya, kecuali Nyonya yang malang, yang tak bisa ke
mana-mana." "Apa yang membuat ayahku begitu marah?" tanya Lotus
sambil menimbang-nimbang apakah ia akan mendampingi
ibunya atau langsung masuk ke kamarnya dan
bersembunyi. Hubungan antara ibunya dan dirinya amat
akrab, sehingga ia enggan membiarkan ibunya menghadapi
situasi sulit itu seorang diri, tapi sebetulnya Ia juga amat
takut terhadap ayahnya. Si pelayan bergumam, "Mata-mata Tuan Besar yang
bekerja di rumah Gubernur datang untuk memberitahukan,
bahwa berdasarkan usul Gubernur, pemerintah telah
mengangkat wali kota baru. Tuan Besar tidak memperoleh
kedudukan itu." Lotus mulai memahami duduk persoalannya. Ayahnya
telah berusaha keras menyogok Gubernur untuk
mendapatkan jabatan kedua tertinggi di Provinsi Kiangsu.
Yin-tin adalah ibu kota daerah itu, dan wali kotanya akan
mempunyai pengaruh yang sangat besar. Sekali terpilih,
ayahnya akan dapat menaikkan suku bunga pinjaman uang
dan sewa tanah. Bangsawan Lin sudah lama menunggu ke-
sempatan ini. Pada saat-saat tertentu ia begitu yakin akan
memperoleh jabatan itu, sehingga ia bahkan sudah
menyusun pidato pelantikannya.
"Baba tentu amat kecewa," ujar Lotus, menghela napas.
Ia kasihan pada ayahnya. Kemudian ia merenungkan
kembali apa yang baru saja didengarnya, lalu menjadi
sedikit bingung. "Tapi kenapa dia menyinggung-nyinggung
soal putra wali kota yang baru" Siapa sih dia dan untuk apa
aku menemuinya?" Si pelayan menatap Lotus dengan penuh simpati. "Wali
kota kita yang baru adalah Bangsawan Lu, ayah calon suami
nonaku." Jeritan kecil terlompat keluar dani mulut Lotus.
Tiba-tiba lututnya terasa lemas sekali. Kedua pelayan
yang menyangganya di masing-masing sisinya langsung
melingkarkan lengan untuk menjaga agar tubuhnya yang
sekarang gemetaran itu tidak jatuh.
Pelayan yang satu memperingatkannya sekali lagi,
"Menurutku sebaiknya nonaku menghindari Tuan Besar
sekarang juga. Dia membentak-bentak semua orang."
Lotus mengangguk tak berdaya. "Antar aku ke kamarku."
Sambil bergerak perlahan-lahan, samar-samar Lotus
menangkap suara amarah ayahnya serta sahutan ketakutan
ibunya. "Akan ada pesta di rumah keluarga Lu dalam waktu
dekat ini. Semua pejabat Mongol, bangsawan asing beserta
penerjemah mereka, serta orang-orang Cina kalangan atas
akan diundang. Bahkan si gubernur tolol itu akan hadir di
sana!" seru Bangsawan Lin. "Aku juga harus ke sana, tapi
kau dan Lotus harus tinggal di rumah. Sebagai laki-laki, aku
harus setor muka di rumah sialan itu dan tampil
sebaik-baiknya. Tapi aku melarang kau bertemu dengan
Lady Lu lagi. Dan aku takkan mengizinkan anak kita punya
urusan apa pun dengan anak si Lu sialan itu!"
"Tapi Lady Lu sepupuku, dan Lotus tunangan Lu," ujar
Lady Lin di antara isakannya. Sesaat suaranya terdengar
agak tegas, namun sesudah itu ia terisak kembali.
"Lupakan sepupumu, perempuan tolol!" seru Bangsawan
Lin, disusul suara bantingan vas yang dilempar ke dinding.
"Batalkan pertunangan anak kita! Lotus gadis cantik. Aku
sudah punya calon yang lebih baik untuknya!"
Lotus tersentak mendengar pernyataan itu, kemudian
jatuh pingsan. 8 Lu berdiri di muka jendela kamar tidurnya, mengawasi
langit malam yang diterangi cahaya kembang api.
"Tuan Muda, cepatlah. Semua sudah berkumpul di tepi
Danau Angin Berbisik!" ujar pelayan dari ambang pintu.
"Wali Kota, para tamu, serta penduduk kota Yin-tin!"
Lu tiba di danau tepat saat para pelayan menembakkan
kumpulan anak panah terakhir. Bola-bola api melayang
tinggi, meledak, kemudian membentuk semburat aneka
corak dan warna. Corak naga hijau keemasan yang
mengayunkan cakar seakan ingin meraih bulan. Corak
burung phoenix biru keperakan menebarkan sayap,
kemudian melesat melintasi Sungai Kejora. Corak
serangkaian bunga krisan kuning yang mengembang di
antara gumpalan awan. Corak rimbunan pohon ceri merah
yang menghiasi puncak gunung. Tak satu pun di antara
ilusi-ilusi yang menakjubkan itu bertahan. lama. Begitu
terwujud, semua langsung buyar bak bintang-bintang yang
berjatuhan dalam aneka warna, kemudian berubah menjadi
asap sebelum menyentuh tanah.
TIba-tiba gong-gong dibunyikan di sisi lain Danau Angin
Berbisik. Lu menoleh, lalu melihat barongsai berbentuk
singa dari sutra yang dihias meriah sepanjang lebih dari
lima belas meter. Dua puluh pemuda yang mengenakan
celana panjang hitam, bertelanjang dada, mengacungkan
selongsong tubuh singa yang luwes itu sambil menarikan


Sungai Lampion Karya Ching Yun Bezine di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jurus-jurus langkah yang sudah mereka latih lebih dulu.
Kepala singa itu disanggah seorang lelaki tua yang sudah
memimpin kelompok itu selama beberapa dekade. Ia
mengendalikan mata dan mulut si singa dengan
membuatnya berkedip, melirik genit, tersenyum, atau
mencebik. Saat si singa berkelit dan melompat lincah ke sana
kemari mengitari danau, Lu mengawasi sekelilingnya. Ia
melihat banyak petani berdiri di dekatnya, laki-laki dan
perempuan, ikut menikmati pertunjukan langka itu. Ia
melihat ayahnya, namun ibunya serta para tamu wanita
lainnya tidak kelihatan. Kecuali orang-orang asing yang
masih ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka, semua
tamu pria lain sudah cukup sering menyaksikan pertun-
jukan seperti itu. Mereka bersikap tak acuh. Mereka malah
berpaling ke arah jalan yang menuju rumah kediaman
keluarga Lu. Akhirnya seorang pelayan laki-laki muncul
sambil berlari membawa kuali besi yang berat, yang
dibebat beberapa lapis lampin.
Lu mengerutkan alis. Kuali itu berisi mata uang tembaga
yang panas dan beberapa pasang sumpit besi bergagang
kayu.' "Untuk apa itu?" tanya seorang tamu asing.
"Perhatikan saja," jawab penerjemahnya. "Orang-orang
kaya di Cina mempunyai cara tersendiri untuk memperoleh
kesenangan." Kuali itu diletakkan di tanah. Para tamu bergegas
mendekat, lalu dengan sumpit yang disediakan mereka
mulai menjumputi mata uang yang membara itu untuk
dilemparkan ke arah si singa. Selama beberapa waktu
orang-orang asing itu memperhatikan, kemudian segera
mengikuti contoh orang-orang kaya itu.
Pangeran Anggadipati 6 Roro Centil 13 Dendam Si Manusia Palasik Darah Perawan Suci 2
^