Pencarian

Twilight 2

Twilight Karya Stephenie Meyer Bagian 2


Aku berhenti sesaat, membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. Tapi dari
sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku.
"Mike, kurasa kau harus bilang ya padanya," kataku.
"Apa kau sudah mengajak seseorang?" Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke
arahnya" "Tidak," aku meyakinkannya. "Aku tidak akan pergi ke pesta dansa."
"Kenapa tidak?" desak Mike.
Aku tak ingin mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa, jadi aku
langsung menyusun rencana baru. "Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle,"
tuturku. Lagi pula aku memang perlu ke luar kota - tahu-tahu saja itu waktu yang
tepat untuk melakukannya.
"Tak bisakah kau pergi lain kali?"
"Maaf, tidak bisa," kataku. "Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu
lebih lama - itu tidak baik."
"Yeah, kau benar," gumamnya, lalu berbalik, dengan muram berjalan ke mejanya.
Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening, mencoba mengusir perasaan
bersalah dan simpati dari benakku. Mr. Banner mulai bicara. Aku menghela napas
dan membuka mata. Dan Edward sedang menatapku penasaran, raut frustrasi yang sama dan tak asing
bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam.
Aku balas menatap, terkejut, berharap ia akan langsung membuang muka. Tapi ia
malah terus menatap tajam mataku. Tak diragukan lagi aku langsung berpaling.
Tanganku mulai gemetaran.
"Mr. Cullen?" panggil Mr. Banner, menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak
sempat kudengar. "Siklus Krebs," jawab Edward, tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr.
Banner. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku, berusaha menenangkan
diri. Pengecut seperti biasa, aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku
untuk menyembunyikan wajah. Aku tak memercayai aliran emosi yang bergetar dalam
diriku - hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam
minggu lamanya. Aku tidak bisa membiarkannya memengaruhiku seperti ini.
Menyedihkan. Lebih dari menyedihkan, ini tidak sehat.
Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran, dan
berhubung ini tidak mungkin, setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli.
Ketika bel akhirnya berbunyi, aku berbalik memunggunginya untuk
mengumpulkan barang-barangku, berharap ia langsung pergi seperti biasa.
"Bella?" Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu, seolah-olah aku telah
mengenalnya sepanjang hidupku dan bukannya baru beberapa minggu yang singkat.
Perlahan aku berbalik, enggan. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan
kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. Ekspresiku hati-
hati ketika akhirnya menghadapnya; ekspresinya tak bisa kutebak. Ia tidak
mengatakan apa-apa. "Apa" Apa kau berbicara denganku lagi?" akhirnya aku bertanya, nada kesal yang
tak disengaja menyelinap dalam suaraku.
Bibirnya mengejang berusaha tersenyum. "Tidak, tidak juga," akunya.
Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung sadar aku menggertakkan
gigi. Ia menunggu. "Lalu apa yang kauinginkan, Edward?" aku bertanya, mataku tetap terpejam; lebih
mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini.
"Aku minta maaf." Ia terdengar tulus. "Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih
baik seperti itu, sungguh."
Aku membuka mata. Wajahnya sangat serius.
"Aku tidak tahu apa maksudmu," kataku, hati-hati.
"Lebih baik kalau kita tidak berteman," ia menjelaskan. "Percayalah."
Mataku menyipit. Aku pernah mendengar itu sebelumnya. "Sayang sekali kau tidak
menyadarinya sejak awal," desisku tertahan. "Kau jadi tidak perlu repot-repot
menyesal begini." "Menyesal?" Perkataan itu dan nada suaraku, jelas membuatnya kaget. "Menyesal
kenapa?" "Karena tidak membiarkan van bodoh itu menimpaku."
Ia terpana. Ia memandangku keheranan.
Ketika akhirnya bicara, ia nyaris terdengar marah. "Kaupikir aku menyesal telah
menyelamatkanmu?" "Aku tahu kau merasa begitu," tukasku.
"Kau tidak tahu apa-apa." Ia jelas sangat marah.
Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan
padanya. Kukumpulkan buku-bukuku, lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Aku
bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis, tapi tentu saja ujung sepatu
botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-bukuku jatuh berantakan. Aku terdiam
beberapa saat, sempat berpikir untuk pergi saja. Lalu aku menghela napas dan
membungkuk untuk memungutinya. Ia ada di sana; ia sudah menyusun semuanya
kembali. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku, wajahnya tegang.
"Terima kasih," kataku dingin.
Matanya menyipit. "Sama-sama" balasnya geram.
Aku langsung bangkit berdiri, berpaling darinya, dan melangkah ke gimnasium
tanpa menoleh. Keadaan di gimnasium kacau. Kami belajar basket. Anggota timku tak pernah
mengoper bola padaku, dan itu bagus, tapi aku sering sekali terjatuh. Kadang-
kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Hari ini aku lebih kacau
daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Aku mencoba
berkonsentrasi pada kakiku, tapi pikiran itu terus muncul Persis ketika aku
benar-benar membutuhkan keseimbangan.
Seperti biasa, rasanya lega ketika sekolah usai. Aku nyaris berlari ke truk;
banyak orang yang ingin kuhindari. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit
kerusakan pada trukku. Aku harus mengganti lampu belakangnya, dan kalau mahir
mengecat, aku akan mengecat ulang trukku. Orangtua Tyle, terpaksa menjual van
mereka. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi
dan gelap bersandar di sisi trukku Lalu aku sadar itu hanya Eric. Aku mulai
melangkah lagi. "Hei, Eric." sapaku.
"Hai, Bella." "Ada apa?" tanyaku sambil membuka pintu. Aku tidak memerhatikan nada suaranya
yang kaku, jadi kata-katanya berikutnya mengagetkanku.
"Ehh, aku hanya bertanya-tanya... maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi
denganku?" Suaranya bergetar.
"Kupikir ceweklah yang mengajak," kataku, terlalu bingung untuk berdiplomasi.
" Well, ya," ia mengakuinya malu-malu.
Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. "Terima kasih untuk
ajakannya, tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu."
"Oh," katanya. " Well, mungkin lain kali."
"Tentu," aku menyetujuinya, lalu menggigit bibir. Aku tak ingin ia kelewat
serius menanggapinya. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. Aku mendengar suara tawa
samar-samar. Edward sedang melangkah melewati depan trukku, menatap lurus ke depan, bibirnya
terkatup. Aku membuka pintu, melompat masuk, dan membantingnya keras-keras.
Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Edward
sudah berada di mobilnya, hanya selang dua kendaraan, meluncur mulus di
hadapanku, memotong jalanku. Ia berhenti di sana - menunggu keluarganya; aku
bisa (melihat) mereka berempat berjalan kemari, tapi masih di sekitar kafetaria.
Aku menimbang-nimbang untuk menyenggol bemper Volvo mengilap itu, tapi ada
kelewat banyak saksi. Aku memandang spionku. Mobil-mobil lain sudah mulai antre.
Tepat di belakangku, Tyler Crowley dengan Sentra bekas yang baru dibelinya
melambai padaku. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya.
Ketika duduk di sana, memandang ke mana saja kecuali mobil di depanku, aku
mendengar suara ketukan di jendela truk. Aku memandang; ternyata Tyler. Aku
melirik spionku, bingung. Mobilnya masih menyala, pintunya terbuka. Aku
mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Keras sekali. Aku
berhasil membukanya separuh, lalu menyerah.
"Maaf, Tyler, Cullen menghalangiku." Aku kesal-jelas kemacetan ini bukan
salahku. "Oh, aku tahu - aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak di
sini." Ia nyengir. Ini tidak mungkin terjadi.
"Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?" lanjutnya.
"Aku akan pergi ke luar kota, Tyler." Suaraku agak ketus. Aku harus mengingat-
ingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.
"Yeah, Mike sudah bilang," akunya.
"Lalu, kenapa-"
Ia mengangkat bahu. "Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara
halus." Oke, ini benar-benar salahnya.
"Maaf. Tyler" kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. "Aku benar-benar
akan pergi ke luar kota."
"Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom."
Dan sebelum aku menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku merasa
sangat terkejut. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmert. dan Jasper
masuk ke Volvo. Di kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi
ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar setiap kata yang diucapkan
Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... satu tabrakan kecil takkan
melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya.
Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvo-nya.
Perlahan aku mengemudikan trukku menuju ke rumah, hati-hati, sambil menggerutu
sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah kuputuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam.
Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis
bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa
saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan
menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia
harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku
memberinya saran-dengan nada kasual - bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas
Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu
mengabaikanku saat makan siang bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang
mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike,
ia terdengar tulus ketika mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku
menceritakan rencanaku tentang Seattle.
Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam -
terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis; aku tak mau masuk ruang UGD lagi.
Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang
dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman!'
Perutku bergejolak begitu aku menyadari maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku
sangat terpesona olehnya; ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami
tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku.
Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih-jelas bukan
karena irisan bawang. Aku tidak menarik. Sementara Edward benar-benar.
Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan... dan
barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan satu tangan.
Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya.
Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di
barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan
pantai-pantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika encbiladas-ku selesai
dan aku memasukkannya ke oven.
Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak
bisa menyalahkannya - makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks
barangkali di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun Polisi kota
kecil, jadi ia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan
rasanya melihat ia perlahan-lahan mulai mempercayakan urusan dapur padaku.
"Dad?" aku bertanya ketika ia hampir selesai makan.
"Yeah, Bella?" "Mmm, aku hanya ingin memberitahumu, aku akan akhir pekan di Searttle Sabtu
depan... kalau boleh?" Aku tidak ingin minta izin - itu memberi kesan buruk -
tapi aku merasa sikapku kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir.
"Kenapa?" Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tak bisa ditawarkan Forks.
" Well, aku ingin membeli beberapa buku - koleksi perpustakaan di sini sedikit
sekali - dan barangkali membeli beberapa pakaian juga." Uangku lebih banyak dari
biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti
truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali.
"Barangkali sistem pembakaran truk itu bermasalah," katanya, menyuarakan
pikiranku. "Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia - dan di Tacoma kalau
terpaksa." "Apa kau pergi sendirian?" tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga
aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku.
"Ya." "Seattle kota besar - kau bisa tersesat," ujarnya waswas.
"Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle- dan aku bisa membaca peta,
jangan khawatir." "Kau mau aku ikut bersamamu?"
Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya.
"Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian - sangat
membosankan." "Oh, oke." Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan
niatnya. "Terima kasih." Aku tersenyum.
"Apa kau akan kembali saat pesta dansa?"
Grrr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa
sekolah diadakan. "Tidak - aku tidak berdansa, Dad." Dari semua orang di dunia ini, harusnya ia
mengetahuinya - mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku.
Ia ternyata mengerti. "Oh, ya benar," katanya.
Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin
dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk
merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan
mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih
bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku.
Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanyaku kaget sekaligus sebal.
"Melakukan apa?" tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya,
ia menjatuhkannya di telapak tanganku.
"Muncul tiba-tiba."
"Bella, bukan salahku kalau kau tak pernah memerhatikan sekelilingmu." Seperti
biasa suaranya tenang - lembut, merdu.
Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini,
warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri.
"Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?" tanyaku sambil tetap mengalihkan
pandangan. "Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya
membuatku kesal setengah mati."
"Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan," oloknya.
"Kau...," ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat.
Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin
terhibur. "Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada," lanjutnya.
"Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mau mati rasanya" Mengingat
van Tyler gagal membunuhku?"
Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat,
seluruh humornya lenyap. "Bella, kau benar-benar sinting," katanya, suaranya dingin.
Telapak tanganku memanas - ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku
terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku
berbalik dan meninggalkannya.
"Tunggu," panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi ia
menyusulku dengan mudah. "Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar," katanya sambil berjalan. Aku
mengabaikannya. "Aku tidak bilang itu tidak benar," lanjutnya, "tapi


Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bagaimanapun juga itu kasar."
"Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?" gerutuku.
"Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku," ia tertawa. Sepertinya
selera humor Edward sudah kembali.
"Kau ini berkepribadian ganda ya?" tanyaku ketus.
"Kau melakukannya lagi."
Aku menghela napas. "Baik kalau begitu. Apa yang ingin kautanyakan?"
"Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan - kau tahu, pesta dansa
musim semi-" "Kau sedang melucu ya?" aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku basah kuyup saat
menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. "Izinkan aku menyelesaikannya."
Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan
jemariku, sehingga aku tak dapat melakukan hal-hal berbahaya.
"Aku dengar kau mau pergi ke Seattle hari itu, dan aku bertanya-tanya kalau-
kalau kau memerlukan tumpangan."
Benar-benar tak terduga. "Apa?" Aku tak yakin maksud perkataannya.
"Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?"
"Dengan siapa?" tanyaku terkesima.
"Tentu saja aku." Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah
bicara dengan orang cacat mental.
Aku masih tertegun. "Kenapa?"
"Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku
tak yakin trukmu bisa sampai ke sana."
"Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu." Aku mulai
berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi.
"Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?" Ia berhasil
menyusulku. "Kupikir itu bukan urusanmu." Dasar pemilik Volvo silver tolol.
"Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua
orang." "Jujur saja, Edward." Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut
namanya, dan aku membencinya "Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau
berteman denganku." "Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman bukannya aku tak mau jadi
temanmu." "Oh, terima kasih, sekarang semuanya, jelas." Sindiran tajam. Aku sadar ternyata
aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa
lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih
jelas. "Akan lebih... bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku," ia menjelaskan.
"Tapi aku lelah berusaha menjauh darimu, Bella."
Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya
berapi-api. Aku sampai tidak ingat bagaimana caranya bernapas.
"Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?" tanyanya, masih menatapku tajam.
Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk.
Ia tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius.
"Kau benar-benar harus menjauh dariku," ia mengingatkan. "Sampai ketemu di
kelas." Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.
5. GOLONGAN DARAH AKU berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan
tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai.
"Terima kasih sudah datang, Miss Swan," sindir Mr. Mason.
Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku.
Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku
seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku
di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku.
Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika
membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan
berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke
pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah
membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja hujan atau tidak hujan, suhunya paling-
paling sekitar 4?C kalau kami beruntung.
Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya bahwa aku tidak hanya
mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi
yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya.
Kelihatannya itu lebih mungkin.
Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki
kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah
dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini.
Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benar-benar mendengar yang
kudengar tadi pagi. Jessica terus berceloteh tentang rencananya di pesta dansa -
Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-
sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak.
Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya
ada di sana, tapi ia tidak ada. Apakah ia pulang" Aku antre di belakang Jessica
yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap - aku
hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku.
"Edward Cullen sedang memandangimu lagi," kata Jessica, akhirnya membuyarkan
lamunanku. "Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini."
Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan
Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat
dari tempat ia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan
dan menggerakkan telunjuknya padaku, mengajaki bergabung dengannya. Ketika aku
menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata.
"Apakah maksudnya kau?" Jessica bertanya, suaranya terkejut.
"Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi." gumamku
menenangkannya. "Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya."
Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward.
Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-
ragu. "Duduklah bersamaku hari ini," pintanya sambil tersenyum.
Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang
setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik
asap, lalu aku terbangun dari mimpi.
Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu.
"Ini tidak seperti biasanya," akhirnya aku berkata.
" Well." ia berhenti, lalu sisanya terurai begitu saja. "Kuputuskan mengingat
aku toh bakal pergi ke neraka, lebih baik kulakukan saja semuanya sekalian."
Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. Waktu pun berlalu.
"Tahu nggak, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu," akhirnya aku mengaku.
"Aku tahu." Ia tersenyum lagi. lalu mengubah topik. "Kurasa teman-temanmu marah
padaku karena telah menculikmu."
"Mereka akan baik-baik saja." Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku."
"Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu," katanya sambil mengedip jail.
Aku menelan ludah. Ia tertawa. "Kau tampak khawatir."
"Tidak," kataku, tapi konyolnya suaraku gemetar. "Sebenarnya aku terkejut... apa
yang menyebabkan ini semua?"
"Sudah kubuang - aku capek berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah." Ia masih
tersenyum, tapi matanya yang kekuningan tampak serius.
"Menyerah?" ulangku bingung.
"Ya - menyerah berusaha bersikap baik. Sekarang aku hanya akan melakukan apa
yang kuinginkan, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya."
Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan, dan suaranya terdengar serius.
"Lagi-lagi kau membuatku bingung."
Senyum menawan itu muncul lagi.
"Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu - itu salah satu
masalahnya." "Jangan khawatir - aku tak mengerti satu pun ucapanmu," sindirku.
"Aku mengandalkan itu."
"Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?"
"Teman...," sahutnya menerawang, ragu-ragu.
"Atau tidak," gumamku.
Ia nyengir. "Well, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku
bukan teman yang baik untukmu." Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat
nyata. "Kau sering bilang begitu," aku mengingatkannya, berusaha mengabaikan perutku
yang tiba-tiba bergejolak, dan menjaga suaraku tetap tenang.
"Ya, karena kau tidak mendengarkan. Aku masih menunggu memercayainya. Kalau
pintar, kau akan menghindariku."
"Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas." Mataku menyipit.
Ia tersenyum menyesal. "Jadi, selama aku adalah... orang yang tidak pintar, kita akan mencoba
berteman?" aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.
"Kedengarannya masuk akal."
Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun, tak yakin apa yang
harus kulakukan. "Apa yang kaupikirkan?" tanyanya penasaran.
Aku memandang matanya yang keemasan, bingung dan seperti biasa mengatakan yang
sejujurnya. "Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini."
Rahangnya menegang, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
"Apa kau berhasil?" ia bertanya dengan nada tak acuh.
"Tidak terlalu," akuku.
Ia tertawa. "Apa teorimu?"
Wajahku merona. Selama sebulan terakhir ini, aku sendiri bimbang antara Bruce
Wayne dan Peter Parker. Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.
"Maukah kau memberitahuku?" pintanya, memiringkan kepala ke satu sisi dengan
senyuman menggoda yang tak disangka-sangka.
Aku menggeleng. "Terlalu memalukan."
"Itu sangat memusingkan, kau tahu," keluhnya.
"Tidak," aku langsung membantah, mataku menyipit. "Aku tak bisa membayangkan
kenapa itu harus memusingkan - hanya karena seseorang menolak menceritakan apa
yang mereka pikirkan, meskipun mereka terus-menerus melontarkan komentar
misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya
maksudnya... nah, kenapa itu memusingkan?"
Ia nyengir. "Atau lebih baik," lanjutku, semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini
akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas, "katakan saja orang itu juga melakukan
hal-hal aneh-mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu
hari, sampai memperlakukanmu seperti orang asing keesokan harinya,
dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan setelah berjanji akan
melakukannya. Itu, juga, akan sangat tidak memusingkan."
"Kau marah, ya?"
"Aku tidak suka bertele-tele."
Kami bertatapan, tanpa tersenyum.
Ia memandang lewat bahuku, lalu tanpa diduga mencemooh. "Apa?"
"Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu - dia sedang
mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak." Ia mencemooh
lagi. "Aku tak tahu apa maksudmu," kataku dingin. "Lagi pula, aku yakin kau salah."
"Tidak. Aku pernah bilang kebanyakan orang mudah ditebak."
"Kecuali aku, tentu saja."
"Ya, kecuali kau." Tiba-tiba suasana hatinya berubah; tatapannya muram. "Aku
bertanya-tanya kenapa bisa begitu."
Aku harus berpaling dari tatapannya. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup
botol limunku. Aku meneguknya sekali, sambil menatap meja tanpa benar-benar
melihatnya. "Apa kau tidak lapar?" tanyanya, pikirannya teralih.
"Tidak." Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang - dengan
ketegangan. "Kau?" Kutatap meja yang kosong di depannya.
"Tidak, aku tidak lapar." Aku tak mengerti raut wajahnya - sepertinya ia merasa
lucu dengan ucapannya sendiri.
"Boleh minta tolong?" pintaku setelah beberapa saat merasa ragu.
Sekonyong-konyong ia seperti berhati-hati. "Tergantung apa yang kauinginkan."
"Tidak susah kok," aku meyakinkannya.
Ia menunggu, waswas namun penasaran.
"Aku hanya bertanya-tanya... kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku
sebelum memutuskan mengabaikanku, demi kebaikanku sendiri. Jadi aku bisa siap-
siap." Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya, mengitari lingkaran
tutupnya dengan kelingkingku.
"Kedengarannya adil." Ia merapatkan bibirnya supaya tidak tertawa ketika aku
memandangnya lagi. "Terima kasih."
"Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?" pintanya.
"Satu." "Ceritakan padaku satu teori."
Uuppss. "Jangan yang itu."
"Kau tidak memberi syarat, kau hanya bilang satu jawaban," ia mengingatkan aku.
"Kau sendiri selalu ingkar janji." aku balas mengingatkan. Hanya satu teori-aku
takkan tertawa. "Pasti kau bakal tertawa." Aku yakin mengenai yang satu ini.
Ia menunduk, lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik, matanya yang
kekuningan tampak membara.
" Please?" ia menghela napas, mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Aku mengerjap, pikiranku kosong. Sialan, bagaimana ia melakukannya"
"Mmm, apa?" tanyaku bingung.
"Ceritakan satu teori, sedikit saja." Matanya yang berkilat-kilat masih
menatapku. "Ehh, Well, digigit laba-laba yang mengandung radioaktif?" Apakah ia bisa
menghipnotis juga" Atau aku hanya penurut yang tak berdaya"
"Itu sih tidak kreatif?" ejeknya.
"Maaf, cuma itu yang kupunya," tukasku kesal.
"Kau benar-benar jauh dari kebenaran," godanya.
"Tidak ada laba-laba?"
"Tidak ada." "Dan tidak ada radioaktif?"
"Tidak." "Sial," keluhku.
"Aku juga tidak terkena batu kryptonite" sahutnya sambil tertawa.
"Kau kan tidak boleh tertawa, ingat?" Ia berusaha mengendalikan diri.
"Nanti juga aku tahu," kataku mengingatkan. "Kuharap kau tidak mencobanya." Ia
berubah serius lagi. "Karena...?" "Bagaimana kalau aku bukan superhero" Bagaimana kalau aku orang jahat?" Ia
tersenyum menggodaku, tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya.
"Oh." kataku, ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa
masuk akal. "Aku mengerti."
"Benarkah?" Wajahnya langsung menegang seolah-olah ia khawatir telah tidak
sengaja bicara terlalu banyak.
"Kau berbahaya?" aku menebak, denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya
aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. Ia memang berbahaya. Ia telah
mencoba memberitahuku selama ini.
Ia hanya memandangku, tatapannya sarat emosi. Aku tidak mengerti.
"Tapi tidak jahat," bisikku, sambil menggeleng. "Tidak, aku tidak percaya kau
jahat." "Kau salah." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menunduk, lalu mengambil tutup
botol, dan memutar-mutarnya di antara jemarinya. Aku menatapnya, membayangkan
kenapa aku tidak merasa takut. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya-itu jelas.
Tapi aku hanya merasa khawatir, tidak nyaman... dan, lebih dari segalanya,
terpesona. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya.
Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong.
Aku melompat kaget. "Kita bakal terlambat."
"Aku tidak ikut pelajaran hari ini," katanya, memutar tutup botol begitu cepat
hingga tampak kabur. "Kenapa tidak?"
"Membolos itu menyehatkan." Ia tersenyum padaku, tapi matanya masih waswas.


Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Well, aku masuk," kataku. Aku kelewat pengecut mengenai risiko ketahuan guru.
Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. "Kalau begitu, sampai
ketemu lagi." Aku ragu-ragu, bingung, tapi kemudian bunyi bell pertama membuatku bergegas
menuju pintu keluar - sambil menatap untuk terakhir kali, memastikan ia tak
bergeser dari posisinya. Ketika aku setengah berlari menuju kelas, kepalaku berputar lebih kencang
daripada tutup botol tadi. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab,
mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. Setidaknya hujan telah reda.
Aku beruntung; Mr. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. Aku bergegas
duduk di kursiku, sadar Mike dan Angela menatapku. Mike tampak kesal; Angela
kelihatan terkejut, dan sedikit kagum.
Lalu Mr. Banner masuk, dan mengabsen kami satu per satu. Ia memain-mainkan
beberapa kotak kecil di tangannya. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike,
menyuruhnya membagikannya ke yang lain.
"Oke, guys, aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak,"
kata Mr. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-
nya, lalu mengenakannya. Suara keras yang terdengar ketika sarung tangan itu
masuk hingga ke pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku.
"Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator," ia melanjutkan, meraih
kartu putih dengan empat persegi di atasnya, lalu memperlihatkannya pada kami.
"Yang kedua aplikator segi empat-" ia mengangkat sesuatu mirip sisir yang nyaris
tak bergerigi "-dan yang ketiga jarum suntik kecil steril."
Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. Dari
jauh ujung jarumnya tidak kelihatan, tapi perutku langsung mulas.
"Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian, jadi
tolong jangan mulai sebelum aku datang" Ia mulai dari meja Mike lagi, berhati-
hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. "Lalu aku mau
kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum." Ia meraih tangan Mike
dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Oh, tidak. Cairan lengket
mengalir keluar di hadapanku.
"Taruh setetes darah, sedikit saja, pada masing-masing kotak." Ia
memeragakannya, meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. Aku menelan liurku
karena tegang perutku rasanya mau meledak.
"Kemudian oleskan ke kartu," ia selesai dengan peragaannya, memperlihatkan kartu
yang sudah ditetesi darah kepada kami. Aku memejamkan mata, berusaha mendengar
penjelasannya dengan telingaku yang berdenging.
"Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan
datang jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian." Ia terdengar
bangga. "Kalian yang belum genap delapan belas tahun perlu izin dari orangtua -
aku punya formulir izinnya di mejaku."
Ia berkeliling kelas dengan air tetesnya. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja
yang hitam, mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Di sekelilingku aku bisa
mendengar jeritan, suara anak-anak mengeluh, dan suara tawa ketika teman-teman
sekelas menusuk jari mereka. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku.
"Bella, kau baik-baik saja?" tanya Mr. Banner. Suaranya terdengar sangat dekat,
mengagetkanku. "Aku sudah tahu golongan darahku, Mr. Banner," kataku lemah. Aku takut
mengangkat kepala. "Apa kau mau pingsan?"
"Ya, Sir," gumamku, diam-diam menendang diriku sendiri karena tidak membolos.
"Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?" seru Mr. Banner.
Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.
"Kau bisa jalan?" tanya Mr. Banner.
"Ya," bisikku. Keluarkan saja aku dari sini, pikirku. Kalau perlu, aku akan
merangkak. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik
lenganku ke bahunya. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami
berjalan keluar dari kelas.
Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Ketika kami tiba di sekitar
kafetaria, tak terlihat dari gedung empat, kalau-kalau Mr. Banner memerhatikan,
aku berhenti. "Biarkan aku duduk dulu sebentar," aku memohon padanya.
Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak.
"Dan apa pun yang kaulakukan, jaga tanganmu," kataku mengingatkan. Aku masih
sangat pusing. Aku merebahkan diri dengan posisi miring menempelkan pipi ke
lapisan semen yang dingin dan lembab, memejamkan mata. Sepertinya ini agak
membantu. "Wow, kau pucat, Bella," kata Mike khawatir.
"Bella?" suara yang berbeda memanggil dari jauh.
Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi.
"Apa yang terjadi - apakah dia sakit?" Suaranya lebih dekat sekarang dan ia
terdengar muram. Aku tidak sedang berkhayal. Aku terus memejamkan mata, berharap
diriku mati. Atau setidaknya tidak muntah.
Mike tampak sangat khawatir. "Kurasa dia pingsan. Aku tak tahu apa yang terjadi,
dia bahkan tidak menusuk jarinya."
"Bella." Edward sudah di sebelahku sekarang lega. "Kau bisa mendengarku?"
"Tidak" erangku. "Pergilah."
Ia tertawa. "Aku sedang membawanya ke UKS," Mike menjelaskan dengan nada defensif, "tapi dia
tak bisa berjalan lebih jauh lagi."
"Aku akan mengantarnya," kata Edward. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam
kata-katanya. "Kau bisa kembali ke kelas."
"Tidak," protes Mike. "Aku yang seharusnya melakukannya."
Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Kubuka mataku karena
terkejut. Edward telah menggendongku, begitu mudahnya seolah beratku hanya lima
kilo, bukannya 55. "Turunkan aku!" Kumohon, kumohon, jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Ia
sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.
"Hei!" seru Mike, yang tertinggal jauh di belakang kami.
Edward mengabaikannya. "Kau tampak kacau," katanya padaku, nyengir.
"Turunkan aku," keluhku. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Ia
membopongku dengan lembut, menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya - dan
ini sepertinya tidak mengganggunya.
"Jadi kau pingsan karena melihat darah?" ia bertanya. Sepertinya ini
menghiburnya. Aku tidak menyahut. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan
mualku. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.
"Bahkan dengan darahmu sendiri," lanjutnya, menikmati perkataannya.
Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku, tapi tiba-tiba
suasananya hangat, jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan.
"Ya ampun," aku mendengar suara perempuan terkesiap.
"Dia pingsan di kelas Biologi," Edward menjelaskan.
Kubuka mataku. Aku berada di kantor TU, dan Edward sedang berjalan melewati
konter menuju ruang perawatan. Miss Cope, petugas TU yang berambut merah,
berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya.
Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel, terkagum-kagum ketika Edward
membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak
yang menutupi kasur tipis dari vinil cokelat. Lalu ia pindah, berdiri rapat di
dinding sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Matanya memancarkan
kegembiraan. "Dia hanya sedikit lemah," Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan.
"Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi."
Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. "Pasti ada saja yang pingsan."
Edward melontarkan ejekan pelan.
"Berbaring saja sebentar, ya. Sayang; nanti juga sembuh"
"Aku tahu," desahku. Mualnya sudah hilang.
"Apakah ini sering terjadi?" perawat bertanya.
"Kadang-kadang" aku mengakuinya. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi.
"Kau boleh kembali ke kelas sekarang," ia memberitahu Edward.
"Aku disuruh menemaninya." Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan -
sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir - ia tidak membantah.
"Aku akan mengambil kompres untukmu, Sayang," perawat berkata padaku, lalu
bergegas meninggalkan ruangan.
"Kau benar," erangku, membiarkan mataku terpejam. "Biasanya memang begitu - tapi
kali ini dalam hal apa, ya?" "Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan."
Aku mencoba bernapas teratur.
"Tadi kau sempat membuatku takut," akunya setelah beberapa saat. Nada suaranya
membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. "Kupikir
Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan."
"Ha ha." Mataku masih terpejam, tapi aku merasa semakin pulih.
"Sejujurnya - aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. Aku khawatir aku
mungkin harus membalas pembunuhmu."
"Kasihan Mike. Aku berani bertaruh dia pasti marah."
"Dia sangat membenciku," kata Edward senang.
"Kau tak mungkin tahu pasti hal itu." bantahku, tapi tiba-tiba aku membayangkan
kemungkinan itu. "Aku lihat wajahnya - aku tahu."
"Bagaimana kau menemukanku" Kupikir kau membolos." Aku nyaris pulih sekarang,
meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu
waktu makan siang. Tapi kalau dipikir- pikir, barangkali ada untungnya perutku
kosong. "Aku sedang di mobil, mendengarkan CD." Jawaban yang masuk akal - tapi
mengejutkanku. Aku mendengar suara pintu terbuka, lalu membuka mata. Perawat datang membawa
kompres dingin. "Ini dia, Sayang." Ia meletakkannya di dahiku. "Kau kelihatan lebih baik."
tambahnya. "Kurasa aku baik-baik saja," kataku sambil bangkit duduk Telingaku masih
berdenging sedikit, tapi aku tak lagi pusing. Dinding berwarna hijau mint di
sekelilingku tidak berputar-putar lagi.
Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi, tapi kemudian pintunya terbuka, dan
Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.
"Kita punya korban lagi," katanya.
Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempati tempat tidur itu.
Kuserahkan kompresnya kepada perawat. "Ini, aku tidak memerlukannya."
Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu, ia memapah Lee Stephens,
temanku dari kelas Biologi, yang tampak pucat. Edward dan aku merapat ke dinding
supaya mereka bisa lewat.
"Oh tidak," gumam Edward. "Keluar dari sini. Bella."
Aku menatapnya, keheranan.
"Percayalah - ayo keluar."
Aku berputar dan menangkap pintu sebelum tertutup lagi. bergegas keluar dari
ruang perawatan. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku.
"Kau benar-benar menuruti perkataanku." Ia terperangah.
"Aku mencium bau darah," kataku, mengerutkan hidung.
Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain, seperti aku.
"Manusia tidak bisa mencium darah," bantahnya.
" Well aku bisa - itulah yang membuatku sakit. Baunya seperti karat... dan
garam." Edward menatapku dalam-dalam.
"Apa?" tanyaku.
"Bukan apa-apa."
Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu, menatapku dan Edward
bergantian. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya.
Mike ganti menatapku, matanya kelam.
"Kau kelihatan lebih baik," tuduhnya.
"Jangan ikut campur," aku mengingatkannya.
"Sudah tidak ada darah lagi," gumamnya. "Apa kau akan kembali ke kelas?"
"Kau bercanda" Aku pasti harus diangkut kemari lagi."
"Yeah, kurasa begitu... Jadi kau ikut akhir pekan ini" Ke pantai?" Sambil bicara
Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan, tak bergerak bagai
patung tatapannya kosong.
Aku berusaha terdengar seramah mungkin. "Tentu saja, kan sudah kubilang aku akan
ikut." "Kita berkumpul di toko ayahku jam sepuluh." Matanya berkilat-kilat menatap
Edward, bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. Bahasa tubuhnya
cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward.
"Aku akan datang" aku berjanji.
"Kalau begitu, sampai ketemu di gimnasium," kata Mike berjalan gontai ke pintu.
"Daaahh," balasku. Ia menatapku sekali lagi, wajahnya yang bulat cemberut
sedikit, kemudian ketika ia berjalan melewati lewati pintu, bahunya merosot.
Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. Aku membayangkan melihat wajahnya yang
kecewa lagi... di gimnasium.
"Gimnasium." erangku.
"Aku bisa mengaturnya." Aku tidak memerhatikan Edward pindah ke sisiku, tapi
suaranya terdengar jelas sekarang. "Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu,"
gumamnya. Itu sama sekali bukan tantangan, wajahku memang selalu pucat, dan pingsan yang
baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. Aku duduk di kursi
lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding mata terpejam. Mantra
pingsan selalu membuatku lemas.
Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter.
"Miss Cope?" "Ya?" Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya.
"Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga, dan kurasa dia belum pulih benar.
Sebenarnya aku berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Apakah Anda bisa
memintakan izin untuknya?" Suaranya semanis madu dan memabukkan. Bisa
kubayangkan betapa memukau matanya.
"Apa kau juga perlu izin, Edward?" tanya Miss Cope agak memprotes. Kenapa aku
tak bisa melakukan itu"
"Tidak, Mrs. Goff takkan keberatan."
"Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella?" serunya. Aku
mengangguk lemah, mencoba tampak selemah mungkin.
"Apa kau bisa berjalan, atau kau perlu kugendong lagi?" Karena sekarang ia
memunggungi Miss Cope, ekspresinya kembali mengejek.
"Aku jalan saja."
Aku berdiri hati-hati, dan aku baik-baik saja. Ia membukakan pintu untukku,
senyumnya ramah tapi matanya mengejek. Aku berjalan menembus udara dingin dan
kabur tebal yang baru saja mulai turun. Rasanya menyenangkan - pertama kalinya
aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit - aku bisa membersihkan
wajahku dari keringat yang lengket.
"Terima kasih," kataku ketika ia mengikutiku keluar. "Asyik juga bisa membolos
Olahraga." "Sama-sama." Ia menatap lurus ke depan, menyipitkan mata menembus hujan.
"Jadi, kau pergi nggak" Maksudku, Sabtu ini?" Aku berharap jawabannya ya,
meskipun tampaknya mustahil. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakan di
mobil bersama anak-anak lain; ia bukan tipe seperti itu. Tapi aku hanya berharap
ia mungkin saja memberiku semangat yang mestinya kurasakan kalau pergi
berpiknik. "Sebenarnya kalian mau ke mana?" Ia masih menatap ke depan, tanpa ekspresi.
"La Push, ke First Beach." Kuamati wajahnya, mencoba membacanya. Sepertinya mata
Edward nyaris terpejam. Ia menunduk dan melirikku, tersenyum ironis. "Sepertinya aku benar-benar tidak
diundang." Aku menghela napas. "Aku baru saja mengundangmu."
"Sudahlah, sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak
ingin dia marah, kan?" Sorot matanya menari-nari; ia menikmati gagasan ini lebih
daripada seharusnya. "Mike - mike," gumamku, terpesona dengan caranya mengucapkan "kau dan aku". Aku
sangat menyukainya dari seharusnya.
Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. Aku berbelok ke kiri menuju
trukku. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan.
"Pikirmu kau mau ke mana?" tanyanya, marah. Dicengkeramnya jaketku hanya dengan
satu tangan. Aku bingung. "Pulang."
"Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat"
Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?" Suaranya
masih marah.

Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kondisi apa" Lalu trukku bagaimana?" keluhku. "Akan kusuruh Alice mengantarnya
sepulang sekolah nanti." Sekarang ia menarikku ke mobilnya, lebih tepatnya
menarik jaketku. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke
belakang. Kalaupun aku jatuh, barangkali ia akan tetap menyeretku.
"Lepaskan!" desakku. Ia mengabaikanku. Aku berjalan terseret-seret sepanjang
jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. Lalu
akhirnya ia melepaskanku - aku terhuyung ke pintu penumpang.
"Kau kasar sekali!" gerutuku.
"Sudah terbuka," cuma itu reaksinya. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi.
"Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!" Aku berdiri di sisi mobil,
marah. Hujan turun makin deras, dan aku tidak mengenakan tudung jaketku, jadi
air menetes-netes ke punggungku.
Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di
seberangnya. "Masuk, Bella."
Aku tak menjawab. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk
mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. Harus kuakui, tidak mungkin.
"Aku tinggal menyeretmu lagi," ancamnya, seolah bisa menebak apa yang
kurencanakan. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Usahaku
tidak terlalu berhasil - aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu
botku berdecit-decit. "Ini benar-benar tidak perlu," kataku.
Ia tak menyahut. Ia menekan tombol kontrol, menyalakan pemanas dan menyetel
musik. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran, aku bersiap-siap menerornya dengan
berdiam diri-wajahku sudah cemberut sepenuhnya-tapi lalu aku mengenali musik
yang mengalun itu, dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula.
"Clair de Lune?" tanyaku, terkejut.
"Kau tahu Debussy?" Ia juga terdengar terkejut.
"Tidak terlalu," aku mengakui. "Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami -
aku hanya tahu yang kusuka."
"Ini juga salah satu favoritku." Ia memandang menembus hujan, termenung.
Aku mendengarkan musiknya, bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki.
Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini.
Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela hingga menjadi hijau dan
kelabu. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali; meski stabil dan tenang
sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. Hanya kelebatan kota di sisi kami
yang menunjukkan betapa cepatnya kami.
"Ibumu seperti apa?" tiba-tiba ia bertanya.
Aku memandangnya, mengamatinya dengan tatapan penasaran.
"Dia sangat mirip denganku, tapi lebih cantik," kataku. Alisnya terangkat,
heran. "Terlalu banyak Charlie dalam diriku. Ibuku punya sifat lebih terbuka,
dan lebih berani. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik, dan juru masak
yang sangat payah. Dia teman baikku." Aku berhenti bicara. Membicarakan ibuku
membuatku sedih. "Berapa umurmu. Bella?" Suaranya terdengar frustrasi karena alasan yang tak bisa
kubayangkan. Ia menghentikan mobil, dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah
Charlie. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu
sama sekali. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai.
"Tujuh belas," jawabku, sedikit bingung.
"Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas."
Nada suaranya mencela, membuatku tertawa.
"Kenapa?" tanyanya, penasaran lagi.
"Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahirkan dan umurku semakin
mendekati paruh baya setiap tahun." Aku tertawa, lalu menghela napas. "Well,
harus ada yang menjadi orang dewasanya." Aku berhenti sebentar. "Kau sendiri
tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru," kataku.
Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.
"Jadi, kenapa ibumu menikah dengan Phil?"
Aku terkejut ia mengingat nama itu; aku baru menyebutnya sekali, itu pun hampir
dua bulan yang lalu. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.
"Ibuku... sangat muda bagi umurnya. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda
lagi. Bagaimanapun juga, dia tergila-gila pada Phil." Aku menggeleng-gelengkan
kepala. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku.
"Kau menyetujuinya?" tanya Edward.
"Apakah itu penting?" tantangku. "Aku ingin dia bahagia... Phil laki-laki yang
diinginkannya." "Kau baik sekali... aku jadi berpikir," ujarnya kagum.
"Apa?" "Menurutmu, apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu" Siapa pun pilihanmu?"
Tiba-tiba ia berubah serius, matanya mencari-cari jawaban di mataku.
"Ku - kurasa," ujarku terbata-bata. "Tapi bagaimanapun, dialah sang orangtua.
Jadi agak berbeda." "Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan," godanya.
Aku nyengir. "Apa maksudmu menyeramkan" Macam-macam tindikan di wajah dan tato-
tato?" "Kurasa itu salah satunya."
"Menurutmu bagaimana?"
Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. "Apakah pikirmu aku
bisa menyeramkan?" Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya
tampak sedikit cerah. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan, kebenaran atau kebohongan.
Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. "Hmmm... kupikir kau bisa, kalau
mau." "Apakah sekarang kau takut padaku?" Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah
sekonyong-konyong serius.
"Tidak." Tapi aku menjawab terlalu cepat. Ia kembali tersenyum.
"Jadi, apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?" aku bertanya
untuk mengalihkan perhatiannya. "Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku."
Ia langsung berhati-hati. "Apa yang ingin kauketahui*
"Keluarga Cullen mengadopsimu.'" tanyaku.
"Ya." Beberapa saat aku jadi ragu. "Apa yang terjadi dengan orang, tuamu?"
"Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu." Suaranya datar.
"Maafkan aku," gumamku.
"Aku tak begitu ingat mereka. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama
menjadi orangtua bagiku."
"Dan kau menyayangi mereka." Itu bukan pertanyaan. Perasaan itu tampak jelas
dari caranya membicarakan mereka.
"Ya" Ia tersenyum. "Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik."
"Kau sangat beruntung."
"Aku tahu." "Kakak dan adikmu?"
Ia melirik jam di dasbor.
"Saudara-saudaraku, Jasper dan Rosalie, akan sangat kecewa kalau mereka harus
kehujanan menungguku."
"Oh, maaf, kurasa kau harus pergi." Aku tak ingin keluar dari mobil.
"Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan
pulang, jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi."
Ia tersenyum padaku. "Aku yakin dia sudah mendengarnya. Tidak ada rahasia di Forks." Aku mendesah.
Ia tertawa, ada kekhawatiran dalam tawanya.
"Selamat bersenang-senang di pantai... cuacanya bagus untuk berjemur." Ia
memandangi hujan yang masih turun. "Apa aku akan bertemu denganmu besok?"
"Tidak. Emmet dan aku memulai akhir pekan lebih awal."
"Apa yang akan kalian lakukan?" Seorang teman boleh menanyakan itu, kan" Kuharap
suaraku tidak terdengar terlalu kecewa."
"Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness, di selatan Rainier."
Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping.
"Oh, Well, selamat bersenang-senang." Aku berusaha terdengar antusias. Kurasa
aku tak berhasil membodohinya. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?" Ia berbalik dan
menatapku lekat-lekat, matanya yang keemasan menyala-nyala.
Aku mengangguk putus asa.
"Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah menarik
bahaya seperti magnet. Jadi... cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau
semacamnya, oke?" Ia tersenyum sangat lebar.
Keputusasaan memudar ketika ia bicara. Aku memandangnya.
"Akan kuusahakan," ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. Aku membanting
pintu mobil sekuat tenaga. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.
6. KISAH-KISAH SERAM KETIKA duduk di kamarku, berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth, aku
menunggu-nunggu suara trukku. Kupikir, meskipun di tengah guyutan hujan, aku
pasti akan mendengar deru mesinnya. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai-
lagi-truk itu tiba-tiba sudah di sana. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari
Jumat, dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. Tentu saja ada komentar-
komentar tentang insiden aku pingsan. Terutama Jessica, sepertinya ia sudah
mendengar semuanya. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa, dan sepertinya tak
seorang pun tahu Edward terlibat. Meski begitu, Jessica punya banyak sekali
pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang.
"Jadi, apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?" Jessica bertanya di kelas
Trigono. "Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Dia tak pernah mengatakannya."
"Kau sepertinya agak marah," pancing Jessica.
"Oh ya?" sahutku, wajahku tetap datar.
"Kau tahu, aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali
keluarganya. Itu aneh."
"Memang aneh," ujarku setuju.
Jessica tampak jengkel; ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan
tidak sabar - kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang
lain. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat, dan meskipun aku tahu Edward takkan
muncul, aku toh masih berharap. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica
dan Mike, aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Hari
ini hanya Rosalie, Alice, dan Jasper yang duduk mengobrol di sana. Dan aku tak
bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi
aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi.
Di mejaku yang biasa, semua sibuk membicarakan rencana besok. Mike sudah ceria
lagi, ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. Aku
harus melihatnya sendiri sebelum memercayainya. Tapi hari ini udara lebih
hangat-hampir 15?C. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat
menyedihkan. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Aku tidak mengerti
kenapa, sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Aku tepat di
belakangnya, hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal,
dan ia tidak menyadarinya.
"...tak tahu kenapa Bella" - ia mencibir ketika menyebut namaku -" tidak duduk
saja dengan keluarga Cullen mulai sekarang," aku mendengarnya bergumam pada
Mike. Aku tak pernah memerhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya, dan
aku terkejut dengan kebencian yang terdengar di dalamnya. Aku benar-benar tak
mengenalnya dengan baik selama ini, jelas tak cukup baik baginya untuk tidak
menyukaiku - atau begitulah menurutku.
"Dia temanku; dia duduk bersama kita," Mike berbisik padanya, menunjukkan
kesetiaannya padaku, tapi juga sedikit posesif. Aku berhenti untuk membiarkan
Jessica dan Angela melewatiku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi.
Malam itu, saat makan malam, Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalan-
jalanku ke La Push esok pagi. Kurasa ia merasa bersalah karena meninggalkanku
sendirian di rumah pada akhir pekan, tapi sudah terlalu lama ia hidup dengan
kebiasaan itu, sehingga sulit untuk mengubahnya. Tentu saja ia tahu semua nama
anak-anak yang akan pergi, dan orangtua mereka, dan barangkali kakek buyut
mereka juga. Kelihatannya ia tidak keberatan. Aku membayangkan apakah ia akan
menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Bukannya aku bakal
memberitahunya. "Dad, kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya" Kurasa di selatan
Gunung Rainier," tanyaku santai.
"Yeah, kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Beberapa teman berencana akan kemping di sana."
"Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping." Ia terdengar terkejut.
"Terlalu banyak beruang. Kebanyakan orang pergi ke sana pada musim berburu."
"Oh," gumamku. "Mungkin aku salah mengingat namanya."
Aku bermaksud pergi tidur, tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku.
Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Aku tak
percaya. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya, dan bisa dipastikan,
matahari bersinar. Bukan di tempat semestinya, terlalu rendah, dan tidak
kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya, tapi jelas itu matahari. Awan-awan
menggantung di langit, tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya.
Aku berdiri di jendela selama mungkin, khawatir kalau kutinggalkan, langit biru
itu akan lenyap lagi. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Aku sudah
pernah melihatnya, tapi belum pernah singgah di sana-sudah lama aku tidak
membutuhkan perlengkapan kemping. Di lapangan parkir aku mengenali mobil
Suburban Mike dan Sentra Tyler. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil
mereka, aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Eric ada di
sana, bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku; aku cukup yakin namanya
Ben dan Conner. Jess ada di sana, diikuti Angela dan Lauren. Tiga cewek lagi
berdiri bersama mereka, yang satu aku ingat jatuh di gimnasium Jumat lalu. Cewek
itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk, dan membisikkan sesuatu kepada
Lauren. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan
tatapan mengejek. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. Setidaknya Mike senang
melihatku. "Kau datang!" serunya, gembira. "Sudah kubilang hari bakal cerah, kan?"
"Sudah kubilang aku bakal datang," aku mengingatkan.
"Kami sedang menunggu Lee dan Samantha... kecuali kau mengundang seseorang,"
Mike menambahkan. "Tidak," ujarku berbohong, berharap tidak ketahuan. Tapi aku juga berharap ada
mukjizat dan Edward muncul.
Mike tampak puas. "Maukah kau ikut mobilku" Pilihannya itu atau minivan ibu Lee."
"Oke." Ia tersenyum bahagia. Betapa mudahnya membuat Mike senang.
"Kau boleh membawa senjata," ujarnya.
Aku mengulum senyum. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Bisa
kulihat Jessica menatap marah kepada kami.
Meski begitu, jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. Lee mengajak dua orang
lagi, sehingga semua mobil penuh. Aku berhasil menyelipkan Jessica di antara
Mike dan aku, duduk di kursi depan Suburban Mike. Mike tampak kecewa, tapi
setidaknya Jess kelihatan puas.
Jarak antara La Push dan Forks hanya lima belas mil. Sepanjang jalan ke sana
dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali, dan Sungai Quillayute yang lebat.
Aku senang bisa duduk dekat jendela. Kami membuka jendelanya- keadaan di dalam
Suburban agak sesak dengan sembilan penumpang-dan aku berusaha menyerap sinar
matahari sebanyak mungkin.
Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku
ke Forks pada musim panas bersama Charlie, sehingga jalan panjang melingkar
menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Tapi tetap saja memesona. Airnya
kelabu gelap, bahkan di bawah sinar matahari sekalipun, tampak pucat menjorok ke
pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan
pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya, naik ke puncak yang tak
beraturan, dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. Pantainya hanya
dilapisi sehamparan sempit pasir, yang setelah itu berubah menjadi bebatuan
besar halus yang jumlahnya ribuan, yang dari kejauhan tampak abu-abu, namun dari
dekat warnanya seperti segala macam bebatuan: merah bata, hijau laut, lavender,
biru, abu-abu, keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa
yang memutih karena terpaan air laut yang asin, beberapa berimpitan di bibir
hutan, beberapa sendirian, jauh dari jangkauan ombak.
Angin kencang bertiup bersama ombak, sejuk dan asin. Burung-burung pelikan
melayang di atas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka.
Awan-awan masih mengelilingi langit, seolah mengancam akan menutupinya sewaktu-
waktu, tapi untuk sementara matahari bersinar cerah di langit yang biru.


Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kami berjalan menuju pantai, Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood
yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Ada
api unggun di sana, penuh abu hitam. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben,
mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan, dan
tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting di atas sisa-sisa abu.
"Kau pernah melihat api unggun driftwood?" Mike bertanya.
Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai; cewek-cewek lain
berkumpul, bergosip ceria di sebelahku. Mike berlutut di depan api unggun,
menyalakan ranting terpendek dengan korek api.
"Belum," kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di
tumpukan itu. "Kalau begitu kau akan menyukai ini-perhatikan warna-warnanya." Ia membakar satu
ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. Apinya dengan
cepat mulai menjilati kayu yang kering.
"Warnanya biru," kataku kagum.
"Itu karena garam. Cantik, ya?" Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi, dan
menaruhnya di tempat yang belum terjilat api, lalu duduk di sebelahku. Untung
Jess ada di sisinya yang lain. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik
perhatiannya. Aku memerhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa.
Setelah setengah jam mengobrol, beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasang-
surut terdekat. Ini benar-benar dilema. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-
surut. Aku sudah menyukainya sejak kecil; kolam-kolam inilah yang ku-nanti-
nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Di sisi lain aku juga sering tenggelam
di sana. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama
ayahmu. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward - agar tidak jatuh ke lautan.
Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Ia tidak ingin mendaki, dan jelas ia
mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Kebanyakan cewek lain kecuali
Angela dan Jessica memutuskan tetap di pantai. Aku menunggu sampai Tyler dan
Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Lalu aku bangkit diam-diam untuk
bergabung dengan anak-anak yang ingin mendaki. Mike tersenyum lebar ketika
melihatku bergabung. Pendakiannya tidak terlalu panjang, meski aku benci kehilangan langit di tengah
hutan. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa
para remaja, terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di
sekitarku. Aku harus berhati-hati melangkah, menghindari akar-akar yang
menyembul di bawah, dan ranting-ranting di atas kepalaku, dan aku pun langsung
tertinggal dari yang lain.
Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai
berbatu lagi. Ombaknya rendah, dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju
lautan. Sepanjang tepiannya yang berbaru-baru, kolam-kolam dangkal yang tak
pernah benar-benar kering tampak hidup.
Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas
kolam. Yang lain sepertinya tak kenal takut, melompat-lompat di antara bebatuan,
bertengger di ujung tebing berbahaya. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup
mantap di ujung salah satu kolam terbesar, lalu duduk hati-hati di sana,
terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Rangkaian anemon yang indah
bergoyang tanpa henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. Samar-samar
kepiting merangkak di antaranya, bintang laut tersangkut tak bergerak di
bebatuan yang bersisian, sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat
melewati rumput laut yang hijau, menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. Aku
begitu terlena, kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang
sedang dilakukan Edward sekarang, dan berusaha membayangkan apa yang akan
dikatakannya bila ia berada di sini bersamaku.
Akhirnya cowok-cowok kelaparan, dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan
mengikuti mereka. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan
mereka melintasi hutan, hingga beberapa kali aku terjatuh. Telapak tanganku
beberapa kali tergores, dan bagian lutut jinsku bernoda hijau, tapi bisa saja
lebih parah. Ketika kami kembali ke First Beach. jumlah orang di sana sudah bertambah. Ketika
makin dekat, kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang
berkilauan, kulit mereka berwarna tembaga. Rupanya para remaja dari reservasi
datang untuk bersosialisasi. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru
meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil
memasuki lingkaran. Angela dan aku tiba terakhir, dan, ketika Eric
memperkenalkan nama kami, aku memerhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu
dekat perapian menatapku tertarik. Aku duduk di sebelah Angela, dan Mike
membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda, sementara seorang cowok
yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Yang
bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica, dan si cowok yang
memerhatikanku bernama Jacob.
Duduk bersama Angela sangat menenangkan; ia memang tipe yang membuat orang yang
berada di dekatnya merasa nyaman - ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan
percakapan. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. Aku berpikir
betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur, sering kali samar-samar,
dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Lalu pada saat lain
setiap detik begitu penting, dan melekat dalam pikiranku. Aku tahu benar apa
yang menyebabkan perbedaan ini, dan hal itu menggangguku.
Selama makan siang awan mulai berkumpul, perlahan-lahan menutupi langit biru,
kadang-kadang menghalangi matahari, menciptakan bayangan panjang sepanjang
pantai, dan membuat ombak berubah gelap. Selesai makan orang-orang mulai
berpencar dalam kelompok lebih kecil, berdua atau bertiga. Beberapa menghampiri
gelombang yang menyapu bibir pantai, mencoba melompati bebatuan yang
permukaannya kasar. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam
pinggir laut. Mike - bersama Jessica yang selalu mengekorinya - beranjak ke toko
di pedesaan. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka; yang lain ikut mendaki.
Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing, aku duduk sendirian
di seonggok kayu, bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang
dibawa satu dari kami. Tiga remaja dari reservasi mengitari api, termasuk cowok
bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara.
Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki, Jacob pindah duduk di
sebelahku, menggantikan Angela. Sepertinya dia berumur empat belas, mungkin lima
belas, rambutnya yang hitam panjang mengilap diikat di tengkuk. Kulitnya
menawan, halus dan kecokelatan; matanya gelap, sangat cekung karena tulang
pipinya tinggi. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk.
Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. Bagaimanapun juga penilaian positifku
mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari
mulutnya. "Kau Isabella Swan, kan?"
Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali.
"Bella," keluhku.
"Aku Jacob Black." Ia mengulurkan tangan dengan ramah. "Kau membeli truk
ayahku." "Oh," sahutku lega, sambil menjabat tangannya yang ramping. "Kau putra Billy.
Mungkin seharusnya aku mengingatmu."
"Bukan, aku yang bungsu - kau pasti ingat kakak-kakakku."
"Rachel dan Rebecca," tiba-tiba aku teringat. Charlie dan Billy sering menyuruh
kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks, agar mereka bisa pergi
memancing Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. Tentu saja
ketika umurku sebelas tahun, aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara
memancing pun terhenti. "Apakah mereka ada di sini?" Aku memerhatikan para cewek di ujung pantai,
membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.
"Tidak." Jacob menggeleng. "Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di
Washington, dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa - sekarang dia
tinggal di Hawaii." "Menikah. Wow." Aku terpana mengingat usia si kembar tak beda jauh dariku.
Mereka hanya setahun lebih tua dariku.
"Jadi, kau menyukai truknya?" tanyanya.
"Aku menyukainya. Truknya hebat."
"Yeah, tapi jalannya pelan sekali," ia tertawa. "Aku lega sekali waktu Charlie
membelinya. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih
memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna."
"Tidak sepelan itu kok," sergahku.
"Kau pernah mencoba lebih dari enam puluh kilometer per jam?"
"Belum," jawabku.
"Bagus. Kalau begitu jangan." Ia nyengir.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. "Tapi truk itu hebat
untuk urusan tabrak-menabrak," kataku membanggakan truk yang sekarang milikku
itu. "Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya," Jacob menimpali sambil tertawa.
"Jadi kau bisa merakit mobil?" tanyaku, terkagum-kagum.
"Ya, kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. Kau tidak tahu dari mana
aku memperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun
1986, kan?" candanya. Suaranya serak, namun enak didengar.
"Maaf," aku tertawa, "aku belum tahu, tapi aku berjanji akan mencari tahu."
Seolah-olah aku tahu saja apa maksudnya tadi. Ia sangat mudah diajak bicara.
Ia tersenyum menawan, memandangku bersahabat, sorot matanya masih coba kupahami.
Ternyata bukan hanya aku yang memerhatikan.
"Kau kenal Bella, Jacob?" tanya Lauren - dengan nada yang kupikir kasar - dari
seberang. "Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir," ia tertawa, tersenyum
padaku lagi. "Bagus sekali." Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan
ucapannya, dan mata pucatnya yang curiga menyipit.
"Bella," panggilnya lagi, sambil memerhatikan wajahku. "Aku baru saja bilang
pada Tyler, sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. Tak
adakah yang terpikir untuk mengajak mereka?" Ekspresi kepeduliannya tidak
meyakinkan. "Maksudmu anak-anak dr. Carlisle Cullen?" cowok lebih tua yang bertubuh jangkung
bertanya sebelum aku menjawab Lauren, dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel.
Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja, dan suaranya sangat berat.
"Ya, kaukenal mereka?" Lauren terdengar mengejek, dan setengah berbalik
menghadapnya. "Anak-anak Cullen tidak datang ke sini," jawabnya dengan nada mengakhiri
pembicaraan, mengabaikan pertanyaan Lauren.
Tyler, yang mencoba menarik kembali perhatian Angela meminta pendapat tentang CD
yang dipegangnya. Perhatian Angela pun teralihkan.
Aku menatap cowok bersuara berat itu, terkejut, tapi ia menatap lurus jauh ke
hutan gelap di belakang kami.
Katanya anak-anak Cullen tidak datang ke sini, tapi nada suaranya seperti
mengatakan hal lain-bahwa mereka tidak diizinkan; mereka dilarang datang.
Sikapnya meninggalkan kesan janggal bagiku, kucoba mengabaikannya tapi tidak
berhasil. Jacob mengusik ketenanganku. "Jadi, apakah Forks sudah membuatmu sinting?"
"Oh, bagiku itu sesuatu yang ironis." Aku nyengir. Ia tersenyum penuh
pengertian. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak keluarga Cullen, dan tiba-tiba
saja mendapat inspirasi. Rencana bodoh, tapi aku tak punya ide yang lebih bagus.
Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek,
sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya.
"Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?" tanyaku, mencoba meniru cara Edward
memandang dari balik bulu matanya. Hasilnya tentu saja tidak sama, aku yakin,
tapi toh buktinya Jacob langsung bangkit mendengar ajakanku.
Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna, menuju garis batas
yang penuh driftwood, awan akhirnya menutupi langit, membuat laut gelap dan suhu
turun. Kumasukkan tanganku ke saku jaket.
"Jadi berapa umurmu" Enam belas?" tanyaku, berusaha tidak terlihat seperti orang
bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di
televisi. "Aku baru saja berumur lima belas," ia mengaku malu-malu.
"Sungguh?" Keterkejutanku benar-benar palsu. "Kupikir kau lebih tua."
"Untuk anak seusiaku, tubuhku cukup tinggi," jelasnya.
"Kau sering ke Forks?" aku sengaja bertanya, berharap jawabannya ya. Benar-benar
konyol. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara, tapi
kelihatannya ia masih merasa tersanjung.
"Tidak terlalu," ia mengaku keheranan. "Tapi setelah mobilku selesai, aku bisa
pergi sesering yang kumau - setelah aku dapat SIM," lanjutnya.
"Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren" Dia kelihatan agak tua untuk
bergaul dengan kita." Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda,
mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob.
"Itu Sam - umurnya sembilan belas," ia memberitahuku.
"Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?" tanyaku polos.
"Keluarga Cullen" Oh, mereka tak seharusnya datang ke reservasi." Ia memalingkan
wajah, memandang Pulau James, ketika ia membenarkan apa yang kutangkap dari
perkataan Sam. "Kenapa tidak?"
Ia menatapku sambil menggigit bibir. "Upss, aku tak seharusnya mengatakan apa-
apa tentang itu." "Oh, aku takkan bilang siapa-siapa, aku hanya penasaran." Aku berusaha tersenyum
semenawan mungkin, sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan.
Ia balas tersenyum menawan. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau
dari sebelumnya. "Kau suka cerita-cerita seram?" tanyanya, suara tak menyenangkan.
"Aku suka," kataku bersemangat, mencoba memancingnya.
Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki
laba-laba besar yang pucat. Ia duduk di salah saru akar sementara aku duduk di
bawahnya. Ia memandang bebatuan, senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar.
Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. Aku berusaha mengabaikannya.
"Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami, tentang asal-muasal kami -
maksudku suku Quileute?" ia memulai ceritanya.
"Tidak juga," jawabku jujur.
" Well, ada banyak legenda, beberapa dipercaya terjadi pada masa Banjir-konon
katanya, para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di
pegunungan untuk bisa selamat, seperti Nuh dan bahteranya." Ia tersenyum, untuk
menunjukkan padaku ia tidak terlalu memercayai sejarah. "Legenda lainnya
mengatakan kami keturunan serigala - dan serigala-serigala masih bersaudara
dengan kami. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku."
"Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin," Suaranya semakin rendah.
"Yang berdarah dingin?" tanyaku kaget, tak lagi berpura-pura.
"Ya, ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin, cerita-cerita itu sama
tuanya dengan legenda serigala, dan beberapa yang lain belum terlalu tua.
Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dan mereka. Dialah
yang membuat kesepakatan yang mengharuskan
mereka menjauhi tanah kami." Jacob memutar bola matanya.
"Kakek buyutmu?" aku memberanikan diri bertanya.
"Dia tetua suku, seperti ayahku. Kau tahu, yang berdarah dingin adalah musuh
alami serigala - well, bukan serigala sesungguhnya, tapi serigala yang menjelma
menjadi manusia, seperti leluhur kami. Kau bisa menyebutnya werewolf - serigala
jadi-jadian." "Werewolf punya musuh?"
"Hanya satu." Aku menatapnya serius, berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi
kekaguman. "Jadi kau tahu, kan," lanjut Jacob, "secara tradisional, yang berdarah dingin
adalah musuh kami. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek
buyutku berbeda. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka -
mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. Jadi kakek buyutku membuat
kesepakatan damai dengan mereka. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak
tanah kami, kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka
pucat mengenai mereka." Ia mengedip.
"Kalau mereka tidak berbahaya, lalu kenapa... " Aku mencoba mengerti, berusaha
supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.
"Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan yang berdarah dingin,
meskipun mereka beradab seperti halnya klan ini. Kau takkan pernah tahu kapan
mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri." Ia sengaja memberi
tekanan pada kata-katanya barusan.
"Apa maksudmu dengan 'beradab'"'
"Mereka menyatakan tidak memburu manusia. Konon, entah bagaimana caranya, mereka
memburu binatang sebagai ganti manusia."
Aku berusaha terdengar tetap tenang. "Lalu apa hubungannya dengan keluarga


Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Cullen" Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?"
"Tidak." Jacob tiba-tiba berhenti. "Mereka adalah kelompok yang sama."
Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. Ia tersenyum
senang, dan melanjutkan ceritanya lagi.
"Sekarang jumlah mereka bertambah, seorang perempuan dan laki-laki baru, tapi
sisanya sama saja. Pada masa kakek buyutku, mereka sudah mengenal pemimpinnya,
Carlisle. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang
ke sini." Jacob berusaha menahan senyumnya.
"Lalu mereka itu apa?" akhirnya aku bertanya. "Apakah yang berdarah dingin?"
Ia tersenyum misterius. "Peminum darah," jawabnya, suaranya membuat bulu kuduk meremang. "Bangsa kalian
menyebutnya vampir."
Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. Aku tak tahu
bagaimana rupaku. "Kau merinding," ia tertawa gembira.
"Kau pencerita yang baik," aku memujinya, sambil masih menatap ombak.
"Cerita yang cukup sinting, ya" Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya
dengan orang lain." Aku belum dapat menahan emosiku, jadi aku tidak berpaling menatapnya.
"Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami," Jacob tertawa.
"Aku akan menyimpannya rapat-rapat," kataku berjanji, kemudian bergidik.
"Tapi sungguh, jangan bilang apa-apa pada Charlie. Dia agak marah pada ayahku
ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu
tahu dr. Cullen mulai bekerja di sana."
"Tentu, aku takkan bilang."
"Jadi, apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?"
tanyanya bercanda, namun sedikit waswas. Aku masih belum mengalihkan pandanganku
dari lautan. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin.
"Tidak. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. Bulu kudukku
masih berdiri, lihat, kan?" Aku mengulurkan lengan.
"Keren." Ia tersenyum.
Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang mendekat. Kami
serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami.
"Di sini kau rupanya, Bella," Mike terdengar lega, melambaikan tangannya tinggi-
tinggi. "Itu pacarmu?" tanya Jacob, menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara
Mike. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata.
"Tidak, tentu saja bukan," bisikku. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob, dan
ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Aku mengedip padanya, tentunya
berhati-hati supaya Mike tidak melihat. Jacob tersenyum, senang karena rayuanku
yang payah. "Jadi, kalau aku mendapat SIM-ku.... " ia memulai lagi.
"Kau harus mengunjungiku di Forks. Kita harus nongkrong bareng sesekali." Aku
merasa bersalah saat mengatakannya, mengingat aku telah memanfaatkannya. Tapi
aku benar-benar menyukai Jacob. Ia sangat mudah diajak berteman.
Mike sudah di dekat kami sekarang, bersama Jessica yang masih tertinggal
beberapa langkah. Bisa kulihat Mike menata Jacob dengan pandangan menilai, dan
tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami.
"Kau dari mana saja?" tanya Mike, meski jawabannya sudah jelas di hadapannya.
"Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini" jawabku. "Sangat
menarik." Aku tersenyum hangat kepada Jacob, dan ia balas tersenyum.
" Well" Mike berhenti, sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob.
"Kita akan berkemas-kemas- sepertinya sebentar lagi hujan."
Kami memandang langit yang mulai mendung. Sepertinya memang akan hujan.
"Oke." Aku melompat berdiri. "Aku datang."
"Senang bertemu lagi denganmu," kata Jacob, dan aku berani bertaruh ia sedang
menggoda Mike. "Aku juga. Kalau nanti Charlie datang untuk bertemu Billy, aku akan ikut," aku
berjanji padanya. Jacob tersenyum. "Akan kutunggu."
"Terima kasih," ucapku tulus.
Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju
tempat parkir. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan, meninggalkan noda hitam
pada bagian yang ditetesinya. Ketika kami sampai di Suburban, anak-anak lain
sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. Aku merangkak ke jok
belakang di sebelah Angela dan Tyler. Aku beralasan sudah cukup melihat
pemandangan selama perjalanan tadi. Angela hanya memandang ke luar jendela,
memandangi badai yang semakin dahsyat, dan Lauren beringsut ke jok tengah
mendekati Tyler, sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala, memejamkan
mata dan berusaha santai.
7. MIMPI BURUK AKU memberitahu Charlie PR-ku banyak, dan tidak ingin makan apa-apa. Ada
pertandingan basket yang amat dinantikannya, dan tentu saja aku berlagak tidak
tahu apa istimewanya pertandingan itu. Karenanya, ia tidak mencurigai ekspresi
maupun nada suaraku. Begitu sampai di kamar, aku mengunci pintu. Aku mencari-cari di mejaku sampai
menemukan headphone tuaku, dan memasangkannya ke CD player kecilku. Kuambil CD
hadiah Natal dari Phil. Isinya lagu-lagu dari salah satu band favoritnya, tapi
bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. Aku memasukkan CD itu, menekan
tombol Play, dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. Aku memejamkan
mata, tapi cahaya lampu masih menyilaukan, jadi kututup setengah wajahku dengan
bantal. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama, mencoba memahami liriknya, menguraikan
pola dentuman drumnya yang rumit. Setelah tiga kali memutar CD itu, setidaknya
aku sudah hafal chorus-nya. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang hingar-
bingarku, aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini.
Berhasil. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir-tujuan utama
kegiatan yang kulakukan ini. CDnya kuputar berulang-ulang, sampai aku bisa ikut
menyanyikannya, hingga, akhirnya, aku tertidur.
Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Setengah menyadari
diriku sedang bermimpi, aku mengenali cahaya kehijauan hutan. Aku bisa mendengar
suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Dan aku tahu, kalau
aku menemukan lautan, aku bisa melihat matahari. Aku mencoba mengikuti suara
itu, tapi Jacob Black ada di sana, menarik-narik tanganku, membawaku kembali ke
bagian hutan yang paling kelam.
"Jacob, ada apa?" aku bertanya. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat
tenaga sementara aku menolak; tak ingin pergi ke tengah kegelapan.
"Lari, Bella, kau harus lari!" bisiknya ketakutan.
"Lewat sini, Bella!" Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara
pepohonan yang gelap, tapi aku tak bisa melihatnya.
"Kenapa?" tanyaku, masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jacob, kini
putus asa menginginkan matahari.
Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Sekonyong-konyong ia jatuh ke
lantai hutan yang gelap, sekujur tubuhnya gemetaran. Ia menggeliat-geliat di
tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri.
"Jacob!" jeritku. Tapi ia sudah lenyap. Dari tempatnya tadi berada muncul
serigala besar berwarna merah kecokelatan dengan sepasang mata hitam. Serigala
itu memalingkan wajah ke pantai, bulu-bulu tengkuknya meremang. Terdengar
geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar.
"Lari, Bella!" seru Mike lagi dari belakang. Tapi aku tidak berpaling. Aku
sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai.
Lalu Edward muncul dari balik pepohonan, kulitnya bercahaya samar, matanya gelap
dan berbahaya. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya.
Serigala itu menggeram-geram di kakiku.
Aku maju selangkah, menghampiri Edward. Ia tersenyum, dan giginya tajam,
runcing. "Percayalah padaku," ujarnya, suaranya mendengkur.
Aku melangkah sekali lagi.
Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir, taringnya siap menerkam
leher Edward. "Tidak!" teriakku, langsung bangkit dari tempat tidur.
Gerakanku yang tiba-tiba membuat headpbone-ku terlepas dan CD player yang
tergeletak di meja samping tempat tidur, kemudian jatuh di lantai kayu.
Lampu kamar masih menyala, aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap
dan mengenakan sepatu. Aku memandang jam di lemari pakaian, bingung. Sudah pukul
05.30. Aku mengerang, menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup
sambil melepaskan sepatu bot. Aku tak bisa tidur lagi. Aku menggulingkan tubuh
dan berbaring telentang, membuka kancing jinsku, melepaskannya dengan susah
payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Bisa kurasakan rambutku yang
diikat menusuk-nusuk tengkuk. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan
rambutku, lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Aku menutup mataku lagi
dengan bantal. Percuma, tentu saja. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang
dengan putus asa kucoba hindari. Aku harus menghadapinya sekarang.
Aku duduk, kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Lebih
baik mandi dulu, batinku, senang menundanya selama mungkin. Kuambil tas
perlengkapan mandiku. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. Bahkan meski sudah
berlama-lama mengeringkan rambut, tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar
mandi. Hanya dengan berbungkus handuk, aku berjalan ke kamar. Aku tidak tahu
apakah Charlie masih tidur, atau sudah pergi. Kuintip dari jendela, mobil
patrolinya sudah tidak ada. Ia pergi memancing lagi.
Perlahan-lahan aku berpakaian, mengenakan sweterku yang paling nyaman, lalu
membereskan tempat tidur- sesuatu yang tak pernah kulakukan. Aku tak bisa
menundanya lebih lama lagi. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan
komputer tuaku. Aku benci menggunakan Internet di sini. Modemku sudah ketinggalan zaman, layanan
servis gratisnya buruk; untuk men-dial-up saja buruh waktu lama hingga
kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu.
Aku makan pelan-pelan, mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Setelah selesai
kucuci mangkuk dan sendoknya, lalu menyimpannya. Kakiku kram ketika menaiki
tangga. Ku ambil CD player-ku dulu, memungutnya dari lantai dan meletakkannya
tepat di tengah-tengah meja. Kulepaskan headphone-nya, dan menyimpannya di laci
lemari. Lalu aku menyetel CD yang sama, langsung ke bagian yang berisik.
Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer Layarnya sudah dipenuhi
iklan pop-up. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela
kecil itu Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Kututup beberapa
iklan pop-up yang masih bermunculan, lalu mengetik satu kata.
Vampir. Tentu saja perlu waktu yang sangat lama. Ketika hasil pencariannya muncul, ada
banyak pilihan yang harus dibaca- semuanya mulai dari film dan acara televisi
hingga permainan sandiwara, grup metal underground, dan perusahaan kosmetik
gotik. Lalu aku menemukan situs yang tepat-Vampir A-Z. Aku tak sabar menunggu situs itu
hingga ter-download sempurna, sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang
bermunculan di layar. Akhirnya selesai - latar belakang putih sederhana dengan
tulisan hitam, kelihatannya seperti situs pendidikan. Dua kutipan di halaman
depan situs itu menyambutku.
Di Seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap, tak ada figur yang begitu
mengerikan, tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan, namun memiliki
daya tarik yang begitu mencengkam, seperti sang vampir, yang bukan hantu ataupun
setan, namun memilih kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta
misterius. - Pdt. Montague Summers
Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar telah terbukti, keterangan itu
adalah mengenai vampir. Semuanya lengkap: laporan resmi, surat tersumpah dari
orang-orang terkenal, ahli bedah, para imam, hakim; pembuktian hukum adalah yang
paling lengkap. Dan dengan semua itu, siapakah di luar sana yang percaya vampir"
- Rousseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh
dunia, tersusun secara alfabetik. Pertama-tama aku memilih Danag, vampir
Filipina yang menanam taro - sejenis tumbuhan berbuah kentang - di kepulauan itu
dahulu kala. Menurut mitos itu, Danag bekerja sama dengan manusia selama
bertahun-tahun, tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang
wanita terluka dan satu Danag mengisap habis darah yang mengalir dari lukanya.
Aku membaca uraiannya dengan saksama, mencari apa saja yang tidak asing bagiku,
apalagi masuk akal. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada
wanita cantik sebagai yang jahat dan anak-anak sebagai korban; mereka juga
sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas
tingkat tinggi kepada anak-anak, dan memberi alasan bagi para pria untuk
berselingkuh. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan
tentang pemakaman yang tidak layak. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-
film yang kutonton, dan hanya sedikit sekali, seperti Estrie dari
Yahudi dan Upier dari Polandia, yang bahkan terobsesi soal meminum darah.
Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku: Varacolaci dari Rumania, sosok tak
bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat,
Nelapsi dari Slovakia, makhluk ekstrakuat dan cepat hingga bisa membantai
seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam, dan satunya lagi Stregom
benefici. Mengenai yang terakhir ini, hanya ada satu kalimat pendek.
Stregmi benefici: vampir Italia, konon memihak kebaikan, dan musuh abadi semua
vampir jahat. Rasanya lega ada satu catatan kecil, satu-satunya mitos di antara ratusan
lainnya yang mengungkapkan keberadaan vampir yang baik.
Meski begitu, secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob
atau pengamatanku sendiri. Aku telah membuat katalog kecil dalam benakku ketika
membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Kecepatan, kekuatan,
keindahan, kulit pucat, warna mata yang berganti-ganti; lalu kriteria yang
diberikan Jacob: peminum darah, musuh werewolf, berkulit dingin, dan abadi.
Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria.
Lalu masalah lainnya, satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah
kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca - vampir tidak bisa keluar di
siang hari, matahari menjadikan mereka abu. Mereka tidur di dalam peti seharian,
dan hanya keluar di malam hari.
Merasa jengkel, kumatikan komputer langsung dari tombol utama, tanpa melalui
tahapan semestinya. Di balik kekesalanku, aku merasa malu. Semua ini benar-benar
konyol. Aku duduk di kamar, mencari keterangan tentang vampir. Kenapa sih aku
ini" Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks - dan seluruh
Semenanjung Olympic yang selalu hujan.
Aku harus keluar dan rumah, tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak
tempuh tiga hari perjalanan. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku, tak
tahu akan ke mana, lalu turun. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksa cuaca
lebih dulu dan menghambur ke luar.
Langit mendung, tapi belum hujan. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke
timur, menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. Dalam waktu
singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. Satu-satunya suara
yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku
dan jeritan burung jay yang tiba-tiba.
Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini, kalau tidak, aku takkan
mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. Aku paling payah kalau soal
arah; di lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. Jalan setapak
itu semakin dalam memasuki hutan, menurut dugaanku menuju ke timur. Jalan ini
mengitari pepohonan cemara, mapel, dan yew. Aku hanya tahu samar-samar nama
pepohonan di sekitarku, itu pun karena dulu Charlie pernah mengajakku jalan-
jalan dengan mobil patrolinya sambil menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu
namanya padaku. Banyak yang tidak kuketahui, dan yang lainnya aku tidak yakin
karena tertutup pohon-pohon parasit hijau.
Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri
mendorongku maju. Ketika amarahku memudar, aku memperlambat langkah. Beberapa
tetes air jatuh dari dedaunan di atasku, tapi aku tak yakin apakah hujan mulai
turun, atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di ranting-ranting
pohon, menjulang tinggi di atasku, perlahan-lahan menetes jatuh jauh ke pangkuan
bumi. Pohon yang baru tumbang itu - aku tahu masih baru karena seluruhnya
tertutup lumut - bersandar di batang pohon lainnya, membentuk kursi kecil dengan
pelindung di atasnya, jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. Aku
melangkahi belukar dan duduk hati-hati. menjadikan jaketku alas antara kayu yang
lembab dengan pakaianku, dan menyandarkan kepala ke pohon satunya.
Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Seharusnya aku tahu, tapi mau ke mana


Twilight Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lagi" Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku
semalam, membuatku gelisah. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar
lagi, keheningan terasa mencekam. Burung-burung membisu, suara tetesan air
semakin sering terdengar, jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Kini
setelah aku duduk, belukar itu lebih tinggi dari kepalaku, dan aku tahu
seseorang bisa saja berjalan di jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya,
tanpa melihatku. Di sini, di antara pepohonan, lebih mudah untuk memercayai kegilaan yang
membuatku resah di rumah tadi. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan
tahun, dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya
lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini, daripada di kamar tidurku.
Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus
kujawab, tapi aku melakukannya dengan sangat enggan.
Pertama, aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen
benar adanya. Reaksi yang langsung muncul adalah menentangnya. Rasanya konyol dan tidak wajar
memercayai kegilaan itu. Tapi lalu apa" batinku. Tak ada penjelasan rasional
mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Aku membuat daftar lagi dalam
pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri: kecepatan dan kekuatan yang
mustahil, perubahan warna mata dan hitam menjadi emas dan hitam lagi, ketampanan
yang tidak manusiawi, kulit yang pucat dan dingin. Terlebih lagi-hal-hal kecil
yang muncul perlahan-lahan-bagaimana mereka tak pernah tampak makan, keanggunan
mengagumkan dalam gerak mereka. Dan mereka kadang-kadang bicara, dengan frase
dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada
percakapan di kelas pada abad ke-21. Ia membolos ketika kami sedang
menggolongkan darah. Ia tidak menolak ajakan jalan-jalan ke pantai sampai ketika
ia mendengar ke mana tujuan kami. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-
orang di sekitarnya... kecuali aku. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat,
berbahaya... Mungkinkah keluarga Cullen adalah vampir"
Well, mereka memang sesuatu. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi
di depan mataku yang tidak percaya. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah
teori superhero-ku sendiri, Edward Cullen bukanlah... manusia. Ia lebih dari
itu. Jadi - barangkali. Inilah jawabanku sekarang.
Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. Apa yang akan kulakukan kalau
dugaanku benar" Jika Edward benar vampir - aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata
itu - apa yang harus kulakukan" Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. Aku
bahkan tak memercayai diriku sendiri; siapa pun pasti menganggapku bergurau.
Sepertinya hanya ada dua pilihan. Pertama mengikuti nasihatnya: bersikap pintar,
menghindarinya sebisa mungkin. Membatalkan rencana kami, mengabaikannya
sebisaku. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. Memintanya
menjauhiku-dan kali ini benar-benar serius.
Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. Pikiranku
menolak rasa sakit itu, dan bergegas beralih ke pilihan lain.
Aku tak bisa melakukan yang lain. Lagi pula, seandainya ia... jahat, sejauh ini
ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Sebaliknya aku bisa habis
digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Amat sangat
cepat, sergahku dalam hati, hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Tapi
kalau menyelamatkan nyawa adalah tindakan spontan baginya, seberapa jahatkah ia"
tukasku marah. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung.
Satu hal yang aku yakin, kalau memang yakin. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku
semalam hanyalah cerminan ketakutanku terhadap cerita Jacob, bukannya karena
Edward sendiri. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan
serigala itu, bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan
kata "tidak". Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka - bahkan ketika ia
memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Aku mengkhawatirkannya.
Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa
sebelumnya juga ada pilihan. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Sekarang setelah
tahu - seandainya aku benar-benar tahu - tak ada yang bisa kulakukan tentang
rahasiaku yang menakutkan itu. Karena ketika aku memikirkan Edward, suaranya,
matanya yang menyihir, daya tarik kepribadiannya, aku tak menginginkan yang lain
kecuali berada di dekatnya saat ini. Meskipun... tapi aku tak bisa
memikirkannya. Tidak di sini, kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini.
Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam
di bawah payung dedaunan, berderai-derai bagaikan langkah-langkah kaki melintasi
lantai bumi. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian,
waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan.
Tapi jalan kecil itu masih di sana, aman dan jelas, berkelok di antara labirin
hijau yang menetes-netes. Aku bergegas mengikutinya, tudung jaketku menutup
rapat kepalaku. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan, aku terkejut
menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. Aku mulai bertanya-tanya
apakah arahku benar, atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke
hutan yang rapat. Sebelum kelewat panik, aku mulai melihat ruang terbuka di
antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Lalu aku bisa mendengar suara
mobil melintasi jalanan, dan aku pun terbebas, pekarangan Charlie membentang di
hadapanku, rumahnya memberi isyarat padaku, menjanjikan kehangatan dan pakaian
kering. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. Aku naik ke kamar dan mengganti
pakaianku dengan jins dan T-shirt, berhubung aku tidak ke mana-mana. Tidak
terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari itu, makalah tentang
Macbeck yang harus dikumpulkan hari Rabu. Aku menguraikan versi singkatnya
dengan senang hati, lebih tenang daripada yang kurasakan sejak... Well, Kamis
sore sejujurnya. Aku memang selalu seperti itu. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan
bagiku, bagian yang paling membuatku menderita. Tapi begitu keputusan diambil,
aku tinggal menjalaninya - biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah
dibuat. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan, seperti
keputusanku datang ke Forks. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat
dengan pilihan-pilihan lainnya.
Anehnya keputusan ini mudah dijalani. Mudah sekaligus berbahaya.
Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang, produktif - aku menyelesaikan makalahku
sebelum jam delapan. Charlie pulang membawa tangkapan besar, dan aku langsung
mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke
Seattle minggu depan. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali
memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku
berjalan-jalan dengan Jacob Black. Keduanya seharusnya berbeda, pikirku. Aku
seharusnya takut-aku tahu aku mestinya merasa takut, tapi aku tak bisa merasakan
rasa takut yang seharusnya.
Malam itu aku tidur tanpa mimpi, kelelahan karena telah memulai hari itu sangat
awal, padahal malamnya aku kurang tidur. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks,
aku terbangun karena cahaya kuning terang, pertanda hari bakal cerah. Aku
melompat ke jendela, tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit, hanya ada
guratan putih kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Kubuka
jendela-terkejut karena tak ada bunyi deritan, mulus, padahal entah sudah berapa
lama jendela itu tak pernah dibuka - dan menghirup udara yang kering. Udara
nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Darahku bagai meledak-ledak dalam
nadiku. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun, dan sambutannya sama
riangnya dengan suasana hatiku.
"Hari yang bagus untuk berada di luar," komentarnya.
"Ya," aku menimpalinya sambil tersenyum.
Ia balas tersenyum, mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. Ketika Charlie
tersenyum, sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan
menikah. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku
mengenalnya. Rambut cokelat ikalnya-jika bukan teksturnya, warnanya sama dengan
rambutku - telah menipis, perlahan memperlihatkan dahinya yang mengilat. Tapi
ketika ia tersenyum, aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang telah kawin
lari dengan Renee ketika umurnya masih dua tahun lebih tua dari umurku sekarang.
Aku menyantap sarapanku dengan ceria, memerhatikan debu-debu beterbangan di
antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. Charlie
meneriakkan ucapan perpisahan, dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh.
Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak, tanganku memegang jas hujan.
Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke
dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.
Dengan menuangkan banyak pelumas, aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka
sampai ke bawah. Aku menjadi salah satu murid yang tiba pertama di sekolah; aku
bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi.
Kuparkir trukku dan menuju
bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Bangku-bangku itu
masih sedikit lembab, jadi aku duduk beralaskan jas hujan, senang bisa
menggunakannya. PR-ku sudah selesai - hasil kehidupan sosial yang menyedihkan -
tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Kukeluarkan
bukuku dengan penuh semangat, tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun,
memerhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan red-barked. Aku
mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku
menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. Kuhapus gambar-
gambar itu dengan penghapus.
"Bella!" aku mendengar seseorang memanggilku, kedengarannya seperti Mike. Aku
memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. Semua anak mengenakan
T-shirt, bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin
lebih dari 15?C. Mike menghampiriku. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-
shirt rugby bergaris, dan sedang melambai ke arahku.
"Hei, Mike," sapaku sambil balas melambai, tak mampu untuk tidak bersemangat di
pagi secerah ini. Ia duduk di sebelahku, rambut spike-nya bersinar keemasan, senyum merekah di
bibirnya. Ia sangat senang bertemu denganku, hingga mau tak mau aku senang juga.
"Baru sekarang kuperhatikan-rambutmu ada semburat merahnya," katanya seraya
meraih sejumput rambutku yang berkibaran dengan jemarinya.
"Hanya di bawah sinar matahari."
Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku.
"Hari yang indah, bukan?"
"Hari yang kusuka," sahutku.
"Apa yang kaulakukan kemarin?" Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku
pacarnya. "Seharian mengerjakan esai." Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya - tak
perlulah menyombongkan diri.
Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. "Oh iya... dikumpulkan Kamis, kan?"
"Mmm, kurasa Rabu."
"Rabu?" sahutnya, dahinya berkerut. "Gawat... esaimu tentang apa?"
"Apakah perlakuan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau
tidak." Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin
"Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini," katanya, kecewa. "Padahal aku ingin
mengajakmu kencan." "Oh" Aku tersadar. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa
merasa canggung seperti ini"
"Well, kita bisa pergi makan malam atau apa... dan aku bisa mengerjakan esaiku
nanti." Ia tersenyum penuh harap.
"Mike... " aku jengkel didesak seperti ini. "Kupikir itu bukan ide bagus."
Wajahnya kecewa. "Kenapa?" ia bertanya, matanya siaga.
Pikiranku tertuju pada Edward, membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang
sama. "Kupikir... dan kalau kauberitahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain,
dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati," ancamku, "tapi kurasa itu
akan membuat Jessica patah hati."
Ia keheranan, jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. "Jessica?"
Datuk Sesat Bukit Kubur 2 Kisah Para Naga Di Pusaran Badai 2 Karya Marshall Hina Kelana 14
^