Pencarian

Can You See Me 2

Can You See Me Karya Sonya Michibata Bagian 2


Risa tidak yakin ia akan bahagia bila menjalaninya.
Mungkin ia merasa bersalah terhadap Anita karena tidak bisa menjaga kondisi kesehatannya.
Tapi setelah membaca buku harian milik Anita, Risa yakin dengan keputusannya. Anita pasti
mengerti. Ia bukanlah Anita dan kali ini ia bisa mengutarakan pendapatnya. Dengan menjalani
kehidupan sewajarnya, Risa justru merasa lebih baik. Entah apakah ayahnya akan setuju dengan
pendapatnya ini. "lalu kapan kamu mau pergi berobat?"
"tidak yah... ayah salah paham. Aku menolak untuk berobat," kata Risa mantap. Ayahnya sampai
bangkit dari kursi saking terkejutnya. "mengertilah yah."
"apa" Kamu tidak mau" Tapi kenapa?" tanya ayahnya terperanjat, kembali duduk di samping
Risa, menatap Risa lekat-lekat seakan dia salah mendengar.
"bukannya Tata menolak niat ayah atau bagaimana tapi Tata lebih suka menjalaninya seperti
sekarang ini," jawabnya hati-hati. Ayahnya tampak tidak puas dengan jawabannya. "aku tidak
akan menyesal yah. Aku jamin."
"tapi nak, apa kau sadar dengan apa yang baru kau ucapkan?" tanya ayahnya tak percaya.
"aku tidak apa-apa yah. Jangan terlalu khawatir. Semua orang toh akan mengalaminya juga.
Walau berobat atau tidak, yang pasti aku tetap sayang ayah. Tata tahu ayah selalu mengusahakan
yang terbaik. Tata mengertiii sekali," katanya mantap. Mata ayahnya sampai berkaca-kaca,
campuran kecewa dan terharu.
"tapi nak, apa kamu sudah yakin" Maksud ayah, benar-benar yakin?"
Risa mengangguk yakin, membuat ayahnya merasa putus asa dan berusaha mencari cara untuk
membujuk Risa namun akhirnya menyerah karena melihat keputusan anaknya tidak bisa
diganggu gugat. "nanti... kalau sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, katakan saja. Semuanya belum terlambat,"
kata ayah menganjurkan. "baiklah," jawab Risa menghargai, "tapi pendapatku tidak akan berubah."
"tapi Ta, kenapa ayah tetap merasa tidak enak" Ayah tidak ingin memaksamu sebetulnya. Tapi
apakah kamu tidak mau memberi ayah kesempatan sekali lagi?" tanya ayahnya bersikeras.
"aku mau memberi kesempatan pada diriku sendiri yah. Inilah jalan yang kupilih. Aku tau
resikonya. Aku sangat senang kalau ayah bisa mnegerti," kata Risa berusaha meyakinkan.
"baiklah, baiklah. Ayah tahu suatu saat kamu akan menolak. Hanya saja ayah tidak menyangka,"
kata ayahnya sedih memeluknya. "maafkan ayah ya."
"sudahlah yah," kata Risa menenangkan sambil menepuk-nepuk pundak ayahnya.
"tapi kamu harus berjanji satu hal pada ayah," ucapnya serius. Mimik ayahnya sampai terlihat
sangar. "apa?" tanya Risa penasaran.
"kalau kamu merasakan sesuatu, segera katakan kepada ayah, mengerti?" kata ayahnya. Risa
tahu betul apa yang dimaksud dengan "merasakan sesuatu" itu.
"janji," jawab Risa singkat. Ayahnya tersenyum lebar.
Mereka tampak lebih akrab lalu Risa menemani ayahnya memeriksa tugas di meja sepanjang
hari itu, walau ia memperhatikan bahwa ayahnya berkali-kali meliriknya cemas.
*** Hari minggu berarti waktunya bersantai, setidaknya Risa bersantai sepanjang waktu, tetapi
begitulah halnya bagi ayah dan Viko. Mereka sepakat akan bepergian bersama ke supermakrket.
Risa sebetulnya heran melihat pria seperti ayah dan kakaknya belanja di supermarket. Bukankah
kebanyakan yang berbelanja ibu-ibu atau perempuan" Kemudian ia sadar bahwa ia satu-satunya
perempuan yang tersisa dari anggota keluarga itu.
Setibanya disana, ayah menuju bagian elektronik yang menjual kamera digital dan komputer
model baru. Ayah berbincang seru dengan pegawai toko dan kelihatannya akan memakan waktu
lama. Maka Risa belanja ditemani Viko. Orang-orang yang melihat ia dan Viko sebagai
pasangan muda-mudi, mengira mereka sedang berpacaran.
"vik, kuliah itu kayak apa sih?" tanya Risa tiba-tiba selagi melihat tanggal kadaluarsa barang
yang hendak dibeli. "hm,.. gimana ya. Biasa aja sih, lebih bebas, harus bisa ngatur waktu, pelajarannya lebih sulit,
temen-temennya lebih banyak, dosennya aneh-aneh," jawab Viko setelah mengatasi kekagetan
karena Risa tiba-tiba menyebut namanya.
"enak gak?" "yaa tergantung.... masalahnya pergaulan bikin peranan penting! Banyak temen dan komunikasi
sama dosen itu bagus. Tapi nggak enaknya kalau salah pergaulan. Kebanyakan mahasiswa tuh
kan udah menginjak dewasa jadi mereka ada yang kena narkoba atau pergaulan bebas. Walaupun
kelihatannya gak ketahuan tapi buka berarti gak ada lho. Yang kayak gitu itu tersembunyi
dengan baik. Makanya harus ati-ati. Sekali terjerumus susah keluarnya."
"masa sih?" "he eh. Kalau orang udah kuliah, pikirannya pasti masa depan, tentang pekerjaan, pacaran,
berkeluarga, macem-macemlah. Belum lagi ada ego tentang status sosial, kepandaian dll."
"susah juga ya jadi orang dewasa."
"kamu sih... pengennya jadi anak kecil mulu yang dimanja."
"yak anda be..." kata Risa dramatis. "benar-benar salah."
"menurutku paling enak sih masa SMA."
"kalo kakak pengen punya cewek yang kayak apa?"
"kenapa emangnya?" tanyanya penuh selidik tapi kemudian melanjutkan, "yaa yang penting klop
jadi gak bosen. Kalau bisa orangnya imut, mukanya manis dan gak sombong, menyenangkan dan
setia." "ciee. Sudah ada ya" Aku pengen lihat, kapan-kapan kenalin ya."
"belum. Barusan putus," kata Viko kaku.
"hah"! Diputusin cewek ceritanya... duh kasihan banget," ledek Risa.
"sapa bilang"!" sahut Viko tidak terima.
"trus yang tiap hari telpon tuh sapa?"
"nggak tahu tuh anak-anak cewek lain jurusan minta kenalan. Kalo sms atau miscall ke HP sih
nggak kubales. Kalo sekedar iseng sih bisa tapi nggak deh pokoknya, kayak cowok apaan aja.
Sebenarnya seneng sih banyak fans," kata Viko sok ngetop.
Mereka terus mengobrol, Risa mendengarkan penuh minat. Risa sedang melihat belanjaan
mereka, takut ada yang terlupa.
"shampo, sabun, pisau cukur untuk ayah, pemutih pakaian, pasta gigi, deodoran, tissue, kecap,
snack, mentega, susu, sirup rasa mangga, jagung popcorn, mie, sosis, rumput laut, agar-agar,
buah, teh, kopi, gula. Hmm... kayaknya udah semua. Wow roti panjang kesukaanku!" pekik Risa
girangbegitu melihat roti perancis keras dengan panjang hampir semeter.
"suka ya" Ini sih bisa buat mukul orang," sindri Viko geli, mengambil satu dan memukulkannya
pelan ke kepala Risa, "kalo gak ya bikin gigi rontok."
"o suka baaaaanget," sahut Risa tanpa mempedulikan sindiran Viko, langsung mengambil lima
bungkus. "banyak amat"! Nafsu makanmu sekarang udah kayak dinosaurus aja."
"gakpapa, ini kan tahan lama, bisa buat simpanan tiga minggu. Yuk ah! Ngantri tuh."
Setelah membayar di kasir, mereka menenteng belanjaan dan menyusul ayah. Kemudian Risa
membeli ice cream yang dinikmatinya dalam perjalanan pulang.
"bintang di langit kelip engkau di sana, memberi cahayanya di setiap insan. Malam yang dingin
kuharap engkau datang..." Risa bersenandung sambil menatap bintang betulan di langit. Dia
sedang duduk sendirian di teras depan. Angin sepoi malam itu agak dingin, ia merapatkan
jaketnya dan menegakkan kerahnya.
Bibik dan ayah sedang menonton TV, sedangkan Viko seperti biasa sibuk mengerjakan tugas.
Risa menghirup udara malam yang segar dalam-dalam. Rasanya sejuuk sekal. Ia memandang
tamandi depannya, tanamannya telah bertambah tinggi dan lebat semenjak kali pertama dia tiba
dirumah ini. "nggak masuk Ris" Nanti masuk angin lho," kata suara sayup-sayup ayahnya dari dalam.
"nggak yah. Diluar sini sejuk,"jawab Risa agak berteriak.
Risa bersandar pada kursinya, mengangkat kedua kakinya ke kursi. Sebentar-sebentar ia
mendengar derum kendaraan yang lewat. Suara serangga yang berbisik di tanah yang lembab
membuatnya terbuai. Tiba-tiba ada suara di dekatnya.
"ngapain Ta?" "eh kakak, bikin kaget aja," kata Risa, ia sampai hampir terguling dari kursinya. "liat
pemandangan. Udah selesai tugasnya?"
"udah. Suntuk nih. Enaknya ngapain ya?" tanya Viko meminta pendapat asal saja, tidak benarbenar mengharap jawaban, seraya duduk di kursi sebelahnya.
"jalan-jalan aja," kata Risa mendadak mendapat ide dengan mata bersinar-sinar. Viko menoleh
terkejut. "lagi?" kata Viko bosan, "ke mana?"
"keliling kota naik otor, ngabisin bensin. Pasti seru,"sahut Risa meyakinkan.
Viko ragu, menimbang-nimbang usulnya.
"boleh juga. Tapi sudah malem nih. Kamu kan gak boleh keluar."
"belum terlalu malam kok. ayolah..," bujuk Risa tidak sabar. "bentar aja deh."
"ya udah deh," kata Viko menyerah. "sana. Minta ijin dulu sama ayah. Kalo gak dibolehin nggak
mau tahu lho." "bener" Asyiiik," seru Risa bertepuk tangan. "kalo soal ayah sih beresss."
Risa dengan bersemangat masuk ke dalam rumah. Viko hanya bisa geleng-geleng kepala. Benerbener kalah kalau menyangkut keinginan adiknya. Maka Viko mangambil jaket di kamarnya dan
kunci motor. Saat ia kembali ke ruang keluarga, ia melihat adiknya tersenyum lebar dan puas.
"berangkat yuk," ajak Risa, menggandeng lengan Viko.
Ayah dan bibik yang sedari tadi duduk menonton TV terlihat agak khawatir.
"pergi bentar yah, bik," pamit Viko.
"ati-ati rampok den."
"bentar aja ya Vik," kata ayah ketika Viko membuka pintu depan.
"oke." Risa bukan main senangnya. Kota di malam hari memang berbeda. Dimana-mana lampu
berwarna-warni menerangi jalan. Jalan raya agak sepi sehingga Risa bisa berteriak-teriak senang
dengan bebas. "wow. Dari sini bintang-bintangnya kelihatan lebih jelas," teriak Risa mengalahkan deru angin
sambil menengadahkan kepala memandang langit.
"Ta, jangan berisik dong."
"kak lebih cepat dong. Yang cepaaat," pinta Risa sambil mengguncang pundak Viko.
"kita bukan nak jet coaster tau," kata Viko heran dari balik helmnya.
"ah kakak gak seru," protes Risa.
Sebenarnya Viko takut terjadi apa-apa pada adiknya tapi melihat Tata tidak pernah segembira
ini, ia bersiap menambah kecepatan. "pegangan yang bener."
Dan motor yang ditunggangi mereka melaju kencang sepanjang jalan yang sepi. Angin yang
dingin serasa menembus jaket mereka.
"WUIHH Asyikkk," teriak Risa dari bangku belakang. Rambutnya yang panjang tertarik
kencang ke belakang. Dalam hati Viko bertanya-tanya apakah perilaku adiknya ini normal" Biasanya kalo ngebut gini,
anak cewek kan justru ketakutan. Viko sendiri menikmati perjalanan ini. Semua hal dalam
pikirannya tersapu lenyap. Perasaannya menjadi ringan, sringan udara di sekelilingnya. Ia
memacu motornya lebih cepat. Bunyi derum motor mereka menderu mengalahkan desau angin.
Dinginnya udara serasa menembus jaket dan tulang. Di belakangnya, Tata berteriak-teriak
senang. Setelah satu jam lamanya berkeliling tanpa henti, mereka tiba di rumah. Tubuh mereka bukan
main lelahnya, energi mereka terasa ikut terbawa angin sepanjang perjalanan. Ayah menyambut
mereka dengan perasaan lega. Risa mengucapkan selamat tidur kepada keluarganya dan Bibik.
Sewaktu Risa hendak menutup pintu kamarnya, ia melihat ke arah Viko yang sudah di ambang
pintu kamarnya sendiri, sedang menyalakan lampu kamar.
"kak," panggilnya. Viko menoleh.
"apa?" tanyanya sambil merapikan rambutnya yang agak acak-acakan.
"makasih ya," kata Risa tiba-tiba sambil tersenyum lalu menutup pintu kamar.
Viko memandang tata dengan bingung. Tampaknya adiknya jadi sangat sopan. Mereka
berangkat tidur dengan perasaan lega sehingga langsung tertidur nyenyak.
PERASAAN TERPENDAM Risa bermimpi buruk malam itu. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki, Risa tidak dapat
melihat dengan jelas siapa pria tersebut karena sosoknya gelap, seakan membelakangi arah
datangnya cahaya. Sosok itu mulai berbalik dan berjalan menuju arah cahaya itu, berusaha
mengejarnya. Dia sudah semakin dekat sekarang.
Tunggu! Tunggu dulu, teriaknya. Risa sengaja berlari sampai paling tidak mendahului pria itu
dengan maksud untuk menghadangnya supaya jangan pergi. Risa sudah selangkah di depannya
sekarang, ia berhenti tepat di depannya dan menatap pria itu dengan disinari cahaya dari
belakang. Sosok itu dengan cepat berganti menjadi kecoak raksasa seukuran manusia, sungutnya
yang panjang bergerak-gerak, kakinya yang beruas-ruas bergerak-gerak hendak menjangkaunya.
Risa memekik ngeri, melangkah mundur dan menjerit sekuatnya.
"TIDAKKKKK! Auw!" Risa menjerit disusul bunyi debum keras dan pekik kesakitan, ia
terjatuh dari ranjangnya. Ia bangun sambil memijat-mijat belakang kepalanya yang terbentur dan
melihat selimutnya menggulung tak beraturan di lanti. "aduhh sakit."
Risa memandang jam mini di mejanya. Pukul 07.00. Ia bangun kesiangan, dilihatnya seleret
cahaya matahari menembus kelambu jendela kamarnya. Risa bangkit dengan badan pegal-pegal
sehabis jatuh, berjalan ke arah jendela dan menyibak kelambunya. Sesaat cahaya di luar jendela
menyilaukan matanya sehingga ia buru-buru menjauh.
Ia melangkah ke kamar mandi dalam keadaan kacau, masih memakai piyamanya dan belum
merapikan tempat tidurnya. Mimpinya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan suntuk ia
membuka pintu kamar mandi, mengambil pasta gigi dan mulai menggosok giginya sambil
menatap bayangannya yang masih mengantuk di cermin tanpa menyadari ada orang lain yang
sudah lebih dulu berada di sana.
Tirai panjang bergemerincing membuka disertai bunyi pancuran yang dimatikan, kakaknya balas
memandangnya dari tirai yang terbuka. Risa menolehkan wajahnya sesaat tampak tidak mengerti
ketika memandang wajah kakaknya, ia kembali memandang cermin, untuk beberapa detik dan
kemudian tersadar. Risa memandang kembali wajah kakaknya, matanya terbelalak kemudian
berteriak, busa pasta gigi berhamburan keluar dari mulutnya, ucapannya tidak jelas.
"WAAAA!!!!" Risa segera membalikkan badannya menghadap tembok, dahinya membentur
dinding saking cepatnya ia berbalik. "auw."
Ia tidak berani melakukan hal lain, yang ada di pikirannya hanyalah menutup mata rapat-rapat,
sebelah tangannya masih memegang sikat gigi, bertanya panik,
"Afa hang kafu lahuhan fi sihi?"
"Gimana sih Ta! Orang lagi mandi kok malah nyelonong masuk," kata Viko jengkel selagi
memakaikan handuk ke sekeliling pinggangnya. "udah, sekarang kamu boleh balik."
Risa berbalik takut-takut, mengusap sisa busa pada mulutnya. Kakaknya berusaha menyibak
rambutnya yang basah ke belakang. Melihat kakaknya tidak semarah yang ia duga, Risa
memberanikan diri membuka mulut.
"pintunya gak di kunci, aku masih agak ngantuk jadi gak denger bunyi showernya," jelas Risa.
Setelah memandang adiknya sejenak, Viko keluar tanpa mengucapkan apa-apa, membuat Risa
semakin bersalah. Setelah Viko menghilang dari pandangannya, Risa buru-buru menutup dan mengunci pintu
dengan "klik" di belakangnya. Dia masih berdiri menyandar pada pintu, yang barusan terjadi,
jantungnya berdebar kencang sekali. Kedua tangannya menekan dadanya seakan jantungnya
setiap saat akan keluar. "siapapun pasti kena serangan jantung kalau dikejutkan seperti ini," gumam Risa, yang sekarang
sedang menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menyadarkannya. Ia bangkit, membuka keran air
dan membasuh mukanya berkali-kali. Hampir saja, pikirnya, untung aku belum melihat terlalu
jauh. Kemudian ia melanjutkan kegiatan menggosok giginya yang tadi sempat terhenti seakan
tidak terjadi apa-apa. Risa keluar beberapa menit kemudian, hendak menuju kamarnya.
"sial banget aku hari ini, belum apa-apa udah ketemu kecoak raksasa, kepala sakit, ditambah lagi
Viko yang muncul tiba-tiba di sebelahku sampe gak sengaja nelan busa. Ntar apa lagi kira-kira,"
gerutunya. "Ta, makan sama-sama yuk," bujuk ayahnya dari meja makan begitu melihat Risa keluar dari
kamar mandi. "iya, bentar lagi Yah," jawab Risa. Ia menutup pintu kamar berganti pakaian secepat kilat,
menyisir rambutnya, merapikan tempat tidurnya dan buru-buru keluar kamar bergabung dengan
ayahnya. "ayah masuk jam berapa?" tanyanya.
"jam 10, sekalian ntar bareng kakakmu berangkatnya. Ada rencana mau ngapain hari ini?"
"nggak tau," Risa menggelengkan kepala. "ntar habis mandi, mungkin mau keluar jalan-jalan."
"pastiin dulu ngunci pintu!" nasehat Viko yang ikutan duduk di meja, melahap roti isi telur dadar
sambil membuka-buka makalah di meja.
"belajar dari kesalahan rupanya," sindir Risa, berusaha tidak tampak bersalah.
"kelihatannya sibuk sekali, ada ujian?" tanya ayah kepada Viko. Ia menyeruput kopi hangatnya
dan menatap putranya dengan serius.
"ada presentasi jam 1, ya paling tidak harus tau intinya. Sejauh ini sudah ada dua keompok yang
dapat nilai jelek," kata Viko.
Saat itu telepon berdering, Risa mengangkat telepon yang rupanya ditujukan untuk Viko.
"kak, dari Erik."
Viko bangkit, meraih gagang telpon lalu mengobrol. Lima belas menit kemudian, semua orang
tampak terburu-buru. Ayah menyambar jaketnya, Risa mengambilkan kacamatanya yang
tertinggal di meja kerja. Viko menarik kencang tali sepatunya, memanggul tasnya dan menyusul
ayah yang sudah menunggu di luar.
"sampai nanti kecil," kata Viko sambil mengacak rambut Risa begitu melintasi Risa yang hendak
menutup pagar. Risa menatap galak kakaknya, mulutnya sewot.
Hanya Risa yang tampaknya tidak dikejar-kejar waktu namun ia tidak keberatan. Kemudian
seperti yang sudah di rencanakan, Risa mandi, bersiap-siap pergi. Dalam perjalanan menuju
dapur, Risa melihat makalah yang tadi sibuk dibaca kakaknya tertinggal di meja. Risa
memandang jam dinding kemudian meraih makalah di meja.
"dasar ceroboh!"
*** Risa tiba di kampus kakaknya setelah terlebih dahulu berpamitan ke Bik Ti. Berkali-kali ia
bertanya pada orang yang lewat atau satpam yang kebetulan dijumpainya untuk menanyakan
tempat. Beginilah kampus, luas sampai bikin nyasar orang, terangnya pada diri sendiri.
Akhirnya Risa berada di gedung tempat kakaknya kuliah yang penuh dengan mahasiswa
berseliweran. Walaupun Risa tidak melihatnya tapi Risa yakin bahwa kerumunan mahasiswa di
sekitarnya memandangnya perhatian dan ingin tau, berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arahnya.


Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pasti dia tidak kelihatan seperti mahasiswa, pikirnya.
Wow cowok itu keren juga, batin Risa, menatap lekat-lekat cowok berkacamata yang sekarang
berjalan di depannya. Risa mengamati orang-orang di dekatnya, kadang tampak terpesona,
kadang ngeri sampai bergidik. Ada yang rambutnya setengah disemir, cowok yang telinganya
punya beberapa tindikan, cowok rambut gondrong, cowok rambut kribo kayak pake helm super.
Eh ada mahasiswa asing juga, yang itu malah ada yang campuran korea. Ternyata di kampus
banyak kumpulan orang aneh, pikirnya. Mau tak mau ia teringat dirinya seperti sedang pergi ke
kebun binatang. "sebenarnya aku ke sini mau ngapain sih," katanya menyadarkan diri sendiri.
Dia sedang mencari kelas kakaknya ketika ada seseorang bersuara lembut memanggilnya dari
belakang. "Anita" Anita kan" Ternyata benar kamu. Mau mencari Viko?" kata perempuan itu.
"Ng..eh..,oh mau ngantar makalah yang tertinggal," kata Risa bingung. Ia tidak mengenalnya.
Boleh dikatakan Risa tidak mengenal siapapun sebenarnya selain Viko dan ayahnya.
"mampir bentar ke kelaku ya, ntar makalahnya kutitipin ke temen sekelasnya Viko."
Risa berharap lebih baik tidak ikut, hanya saja perempuan itu terlanjur menarik tangannya,
membawanya menuju kelas yang dimaksud. Di dalamnya ada beberapa mahasiswa yang duduk
bergerombol dengan asyik membicarakan sesuatu, mereka sekilas menatap ke arahnya.
"kebetulan sekali kau datang, aku benar-benar putus asa. Mau nggak mbantu aku?"
Merasa dirinya tidak punya pilihan, Risa menjawab tidak yakin. "ya."
Sekilas tampaknya perempuan itu sedang mencari-cari sesuatu dalam tasnya, Risa ikut penasaran
sampai akhirnya ia melihat amplop surat disodorkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi.
"anggap saja aku berhutang satu padamu. Aku ingin menyerahkan surat ini pada kakakmu, aku
sudah berkali-kali menelponnya tapi tidak ada tanda-tanda yang sama. Yaah setidaknya kita
harus terus mencoba, iya kan" katanya, lalu meletakkan telapak tangan kananya di pipi sambil
menghela napas, kelihatan resah.
"Eh eh iya," Risa kaget karena mendadak dimintai pendapat, semakin merasa dirinya kelihatan
bodoh. Untung saja ia diselamatkan dari dering bel yang menggema, menandakan waktu istirahat
sudah habis. Risa buru-buru pamit. Cewek tadi mengucapkan terimakasih sampai histeris dan
berpesan untuk sering-sering berkunjung.
Risa tidak ingat perjalanannya keluar dari kampus. Tiba-tiba saja ia sudah berada di pertokoan
ramai, tanpa sadar masih memegang surat tadi. Ia menunduk memandangnya, membaliknya dan
melihat tulisan tangan kecil-kecil,
To : Viko From : Vivi Risa membisu, menyelipkan surat itu dalam tas tangannya. Ia berjalan termangu-mangu dengan
kepala tertunduk, tanpa tau apa yang ingin dilakukannya, tidak memperhatikan ke arah mana dia
pergi. Keramaian di sekitarnya terasa begitu jauh.
Baru saja ia menyadari bahwa dirinya tidak mengenal dunia Viko di kampus. Selama ini yang ia
kenal hanyalah Viko di dalam rumah. Ia lupa bahwa rumah bukanlah satu-satunya tempat
dimana Viko menghabiskan besar waktunya. Apakah Viko saat berada di rumah sama dengan
Viko saat berada d kampus" Lagi-lagi Risa merasa asing. Kenapa kenyataan ini begitu
mengganggunya" Kenapa ia merasa agak kehilangan" Kenapa ia peduli terhadap Viko" Apakah
karena Viko sudah dianggapnya sebagai keluarga sehingga ia agak sedih tidak mengetahui
kegiatannya di uar rumah"
Boleh! Bukankah sejak semula ia tidak mengenal siapa-siapa. Mungkin ia menjadi terlalu
bergantung pada orang-orang yang menganggapnya keluarga. Jika tidak ada keluarga yang
menampung dan memperhatikannya seperti ini, dia sudah seperti anak kecil yang tersesat di
jalan. Ia jadi sangat berterima kasih kepada ayah, Viko dan Bibik. Ia terus berjalan sambil
menunduk. Tapi... Viko itu sebenarnya orang yang bagaimana...
Setelah merasa cukup berjalan, Risa berhenti. Ia menengadah, tak sengaja melihat papan
bertuliskan FLORIMA tak jauh darinya, tanpa pikir panjang Risa masuk ke dalamnya dan
menghirup aneka wangi bunga menyegarkan. Toko bunga itu menjual beraneka macam bunga,
ada yang impor segala. Toko bunga tidak jauh beda dari toko permen, menurutnya. Segala yang dijual tampak berwarnawarni. Risa sangat menikmati suasananya. Ia berkeliling sampai melihat bunga kesukaannya,
mawar putih, di antara kerumunan antorium merah jambu dan dahlia. Pemiliknya seorang tante
memakai celemek berenda, ia mengambil beberapa tangkai bunga yang diinginkan Risa lalu
merangkainya. Risa membayarnya sambil mendengarkan penjelasan ramah tante itu bahwa toko ini dilengkapi
jasa pengiriman sehingga para pelanggannya hanya tinggal pesan lewat telepon bila
membutuhkan sesuatu. Tokonya buka dari hari Senin sampai Minggu, libur hanya saat libur
nasional. Risa gembira mendengarnya karena jika ia ingin membeli bunga tidak perlu repot
keluar rumah. Maka dari itu ia menerima kartu nama yang diulurkaan tante pemilik toko dari
dalam laci mejanya. Risa mengurung diri sepanjang siang itu di dalam kamarnya, duduk bersandar pada tempat
tidurnya, memandang keluar jendela. Sebelumnya ia berpesan pada Bik Ti supaya jangan
diganggu, ia mau tidur. Ia tidak mengerti penyebab kemurungannya ini. Apa dia dibuat kesal
kakaknya yang membuatnya sibuk ke sana ke mari" Apa ia mulai lelah dengan hidup yang
dijalaninya saat ini" Apakah ia merasa terasing" Bukan, bukan itu jawabannya.
Sebenarnya ia takut mengakui sesuatu. Sesuatu yang menurutnya tidak boleh terjadi. Sesuatu
yang tanpa sadar tersimpan dalam hatinya. Apa ia mulai tertarik pada Viko, kakaknya" Ia
mempertimbangkan sebentar. Inilah penjelasan yang masuk akal, kenyataan yang tidak ingin
diakuinya. Ia hanya bisa mengakuinya pasrah. Selama ini ia menjaga jarak dengan kakaknya
tanpa disadarinya. Mungkin ia selalu ribut, berlagak galak, dan tidak mengacuhkan kakaknya
ketika mereka sedang berduaan tapi sebenarnya ia khawatir, benar-benar khawatir.
"bodoh! Bodoh!" Ia membenturkan kepalanya ke bantal yang dipeluknya.
"apa yang kupikirkan! Kau ini adiknya, setidaknya Viko mengira begitu. Memang apa bedanya.
Toh aku tidak tahu siapa diriku."
"andai saja Viko tahu dia bukan adiknya...," Risa membayangkan apa kira-kira reaksi Viko,
"mungkin ia tidak percaya pada awalnya, tapi bisa saja dia sadar adiknya selama ini seperti orang
lain, atau malah dia akan marah karena orang lain ada dalam tubuh adiknya, nantinya malah
bertanya macam-macam namun aku tidak bisa menjawabnya. Pasti aku kelihatan idiot."
Ini tidak boleh terjadi. Rasa sukanya ini justru menambah masalah saja. Sudah cukup rumit
semua hal yang telah dialaminya tanpa ditambah perasaan pribadinya. Cinta sepihak sangat
menyiksa. Memangnya Viko akan membalasnya, TIDAK MUNGKIN! Kenapa siih ia harus
menyukai Viko. Kenapa ia jadi takut menyukai seseorang"
"bodohnya aku," kata Risa memelas, menengadahkan kepalanya ke atas memandang langitlangit.
Tidak mudah baginya setelah menyadari perasaannya terhadap Viko. Yang paling membuatnya
gelisah adalah perasaan bersalahnya. Ia merasa bersalah telah menyukai seseorang yang
menganggapnya keluarga. Terlebih ia berada dalam tubuh adiknya.
"Bagaimana aku harus bersikap di hadapannya nanti" Bagaimana aku berani memandangnya?"
Tenang saja. Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi. Jadi bersikaplah seperti biasa. Mungkin
saja dirinya tidak benar-benar menyukai Viko. Mungkin ia hanya tertarik saja. Seiring
berjalannya waktu, ia akan kembali menerima Viko sebagai kakaknya, bukan orang yang
disukanya. "Tapi... kenapa aku sendiri merasa tidak yakin?"
Tak bisa disangkal dia menyukai Viko walau tidak tau semenjak kapan. Tapi aku tidak bisa
terus-menerus memendam perasaan ini, pikirnya, selain itu hidupnya tak lama lagi. Dia tidak
akan punya kesempatan berjumpa lagi dengan Viko. Suatu saat pasti tiba bagiku untuk
mengatakan siapa diriku. Tak peduli bagaimana Viko menanggapinya, apakah ia akan
membencinya atau menghindarinya. Yang penting ia bisa merasa lega mengutarakan unek-unek
dalam kepalanya. Andai saja itu tidak akan pernah datang...
Risa tidak berniat keluar kamar. Nafsu makannya hilang, belum lagi dia tidak ingin melihat
tampang Viko ditambah surat yang harus diserahkan ini. Sepanjang waktu itu dihabisknnya
dengan menghibur diri menatap mawar putih diseberang tempat tidurnya.
Viko sampai dirumah pukul 07.00. Risa mendengar suara sayu-sayup Viko yang sedang
mencarinya. "ayah belum pulang Bi?"
"Belum den. Hari ini memang ada acara."
"Tata mana Bi" Untung dia mengantar makalahku tepat waktu. Sukses besar!" kata Viko riang.
"Sejak pulang tadi terus di dalam kamar, tidur, belum makan dari tadi siang. Bibi sudah manggilmanggil tapi tidak ada jawaban," jawab bik Ti.
"Apa?"" Biar kubangunkan."
"jangan den. Non Tata mungkin masih capek."
"Tapi dia belum makan!"
"yasudah den. Bibi nurut aja."
"Ta" Bangun Ta" Makan dulu, bentar lagi ayah pulang. Pasti khawatir kalo kamu belum makan,"
kata Viko lantang sambil menggedor pintu kamarnya. "Ta, bangun dong. Mau tidur sampai
kapan. Nanti kan bisa dilanjutin lagi."
Risa tidak bisa berpura-pura tidur lebih lama lagi, lalu menjawab,
"masuk aja." Pintu berderit terbuka, Viko melihat adiknya sedang bersandar, wajah adiknya terlihat pucat. Ia
duduk di tempat tidur, meraba kening Tata.
"enggak demam," kata Viko lega tapi Tata tidak memandangnya.
"berisik tau! Mana bisa tidur," kata Risa galak.
"kamu kenapa" Gak enak badan" Capek habis pergi tadi?"
"sakit kepala," jawab Risa muram lalu menengadah menatapnya. Melihat ketidakyakinan
diwajah Viko, Risa buru-buru mencari topik untuk mengalihkan perhatian, "ada titipan surat, tuh
ambil di tasku. Aku mau makan dulu."
Tanpa berlama-lama Risa turun dan menyantap makan malamnya, meninggalkan Viko yang
masih memandang cemas dirinya.
*** Paginya Risa bangun kesiangan dengan perasaan campur aduk. Ia tidak bisa tidur nyenyak.
Setiap beberapa jam sekali ia terbangun. Kenapa sih ia tidak bisa melupakan soal Viko sebentar
saja, pikirnya sebal. Ia merapikan tempat tidurnya, lalu menggosok gigi. Ayah dan Viko sudah
berangkat. Bibi menyapanya ramah.
"makan dulu non," ajak bibi.
"iya ntar aja bi," jawab Risa tersenyum.
Risa kembali ke kamarnya untuk mengganti piyamanya dengan kaos dan celana selutut. Sewaktu
ia tengan menyisir rambutnya, mendadak badannya nyeri seperti ditusuk, tubuhnya lemas. Risa
menggapai tempat tidurnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Risa membatin minta tolong.
Rasanya lamaaa sekali. Tubuhnya menegang, meronta kesakitan sampai ia merasa dirinya
hampir pingsan, matanya agak kabur.
Selepas sepuluh menit kemudian pandangannya jelas kembali walaupun badannya masih terasa
lemah. Terengah-engah ia menelentangkan tubuhnya di ranjang. Keringat dingin mengalir dari
telinga. Bagaimana ini. Ia akan mati. Sekarang Risa baru menyadari betapa seriusnya
penyakitnya. Ia tidak bisa membayangkan bahwa Anita mengalami sakit seperti ini selama
bertahun-tahun. Haruskah ia mengalami ini" Kepada siapa ia harus berbagi rasa takutnya"
Sudahlah. Untuk apa takut, pikirnya sambil memejamkan mata berusaha menenagka diri.
Obatnya sudah habis, ia belum meminumnya lagi pagi ini. Kalau tidak salah ayah menyimpan
persediaan obat dikamarnya.
Merasa pulih walau tampak shock, Risa bangun. Rasanya aneh sekali. Sejenak kamu merasa
kesakitan luar biasa namun setelah tidak merasa apa-apa kau menganggap kejadian tadi seolah
tidak pernah terjadi. Melupakannya begitu mudah hingga kau mengingatnya kembali saat
mengalaminya lagi. Padahal waktu penyakitnya kambuh, rasanya ia begitu tidak berdaya. Seakan
waktu berhenti pada saat itu.
Risa masuk ke kamar ayahya, menggeser kaca lemari dan mengambil botol obatnya yang masih
baru. Sejenak Risa membaca tulisan-tulisan yang menyelimuti botolnya, mencakup aturan pakai
dsb. Risa mengkonsumsi 4 jenis obat saat ini. Ada yang berbentuk kapsul, pil, ada juga yang
berbentuk tablet. Risa bertanya-tanya seandainya saja ia tidak meminum obat-obat ini, kira-kira
apa yang akan terjadi padanya. Ketergantungan ini membuatnya ngeri.
Risa meraup 4 botol obatnya dalam pelukannya. Ketika hendak melangkah pergi, tanpa sengaja
terlihat olehnya sesuatu yang menarik perhatian. Sebuah album foto yang berukuran besar
tergeletak di lemari d bawah tempat menyimpan obatnya. Dilihat dari sampulnya,Risa belum
pernah melihat album foto itu, simpul Risa. Maka tangannya penuh menenteng obat dan album
foto lalu meletakkan semua barang itu di meja di ruang keluarga.
Ia mulai membuka halamannya. Segera saja ia menjadi luar biasa tertarik
karena tahu betul sebagian besar foto yang terpampang di sana adalah hasil potretannya. Mula-mula terdapat fotofoto taman lalu bagian dalam rumah dan... foto mereka sekeluarga. Risa jadi tersenyum-senyum
sendiri melihatnya. Mereka tampak begitu bahagia. Memang begitulah seharusnya, pikir Risa,
kita memang harus selalu tersenyum.
"Hm.. lumayan juga," gumam Risa, tampak puas dengan foto amatirnya.
Ia melihat tawa Bibi dalam foto yang jarang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ayahnya
tampak santai. Viko juga tampak gembira dipotret, padahal Risa ingat betul betapa enggannya
Viko ketika diajak foto bersama. Risa harus membujuknya dengan mengeluarkan segala
keahliannya. Risa memandang fotonya sewaktu berdua dengan Viko. Ada yang sedang berpelukan, ada
adegan dimana dia mencekik leher Viko dan Viko berpura-pura teler. Tiba-tiba ia tersadar, saat
foto itu diambil ia menganggap mereka sebagai keluarga barunya dengan Viko sebagai
kakaknya. Saat itu ia tidak tahu bahwa di kemudian hari akan menyukai Viko. Aku tidak tahu
akan begini jadinya, batin Risa.
"ayo non, makan dulu," panggil bibik agak memaksa karena Risa sudah telat sarapan dari tadi.
Bibik sedang menyapu di dekatnya.
"iya bentar," jawab Risa. "sini deh bik. Ini foto-foto yang barusan. Yang ada bibiknya. Lihat
deh." Bibik ikut duduk bersamanya lalu berkomentar terpukau.
"lihat non, ini bibik. Lho, bibik kok agak kurus ya di foto?" pekik bibik sambil menunjuk
fotonya sendiri, tampak senang dengan ukuran tubuhnya. Risa hanya tertawa.
"itu berarti bibik tambah gemuk sekarang," kata risa bercanda.
"sudah ah, jadi lupa nyapu," kata bibik setelah puas melihat-lihat. "non, ayo makan. Sekarang
sudah jam berapa. Nanti kan bisa dilanjut lagi."
Maka Risa yang merasa agak bersalah, langsung menuruti kata-kata bibiknya. Ia makan
secepatnya karena ia jadi ingin melihat kembali album foto yang sudah pernah dilihatnya.
Mendadak Risa jadi berpikir kenapa ayahnya tidak menunjukkan album ini kepadanya, ia kan
sudah menunggu-nunggu sampai lupa sendiri. Kelihatannya baru saja dicetak. Mungkin saking
asyiknya, ayahnya lupa memberitahunya.
"kenapa albumnya ada di kamar ayah ya?" tanyanya tak mengerti. "mungkin ayah ingin meihatlihatnya lalu lupa mengembalikannya."
Jangan-jangan diam-diam ayahnya merasa sedih ketika melihat melihat foto-foto mereka. Kan
sudah lama mereka tidak berfoto bersama dengan begitu gembira dan bersemangat.
"kasihan ayah," gumanya sembari membereskan piring makannya lalu meminum obatnya.
"nggak tambah non?"
"enggak bik. Udah kenyang," sahut Risa sambil menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan.
Risa mengambil album-album foto lama dari lemari dekat ruang tamu. Walau sudah berkali-kali,
ia tidak pernah merasa bosan. Ia malah bereaksi seperti baru melihatnya pertama kali.
Album-album itu berisi foto-foto ayah dan ibunya sewaktu baru menikah, berulang tahun, sedang
hamil, baru melahirkan dsb. Album yang lain berisi foto masa kecil Viko dan Anita dimulai saat
mereka masih bayi, belajar berjalan, berulang tahun sampa seusia anak TK. Bahkan Viko jadi
tampak lucu difoto. Album yang agak kecil berisi foto-foto Viko dan Anita beranjak dewasa.
Setelah itu, mereka sudah jarang foto.
"bagaimana ya rasanya jadi orang tua... Pasti sulit," kata Risa seraya membalik-balik
halamannya, teringat bila umurnya masih panjang, ia uga bisa menjadi orang tua dan membina
keluarganya sendiri. Tidak. Tidak bisa. Jika ia berusia panjang, itu justru merepotkannya. Masalahnya ia sekarang
berada di tubuh orang, tetap saja ia merasa bersalah dan tidak nyaman. Risa menutup album
terakhir dan menumpuknya dengan rapi diantara album-album yang lain.
TANPA DISADARI Hari ini teman-teman sekelompoknya mengerjakan tugas di rumahnya. Mereka hanya ada satu
mata kuliah yang perlu diikuti di kampus. Tadi pagi, Viko sudah memberitahu ayah dan Tata
perihal kedatangan teman-temannya. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju
rumahnya bersama-sama. Viko dan seorang temannya mengendarai motor, sedang yang lain
menumpang di mobil Erik. Semuanya berjumlah 9 orang, antara lain: Erik, David, Emi, Vivi,
Eve, Rina, Dicky, Evan dan Ahmad. Bik Ti bergegas membuka pagar sesaat setelah ia
membunyikan bel. Viko masih teringat jelas kejadian Vivi yang menitipkan surat cinta ke adiknya. Ngapain sih
pake titip-titip segala, pikirnya, bikin malu aja. Vivi memang sudah lama mengejarnya, datang
ke rumahnya dengan alasan meminjam catatan dan sebagainya tapi ia sudah menolaknya secara
halus. Rupanya Vivi pantang menyerah, untungnya mereka hanya sekelas mata kuliah tertentu.
Ia menggiring masuk sepeda motornya, melepas helm dan menggantungnya di spion. Temantemannya mengikutinya. Kemudian ia melihat sosok Tata yang disinari matahari. Tata sedang
membaca buku chicken soup di bangku taman, di mejanya terdapat jus tomat yang sudah
setengah minum. Tata berhenti membaca, mendongak ke arahnya sementara teman
sekelompoknya mengatur letak kendaraan mereka. Begitu menyadari kehadiran Tata, temanteman prianya spontan merapikan rambut dan balas menatap Tata penuh gaya, Viko mengamati.
Disebelahnya, Vivi menyapa,
"hai Ta!" Tata tersenyum dingin seraya mengabaikan senyum dan lambaian tangan teman prianya. Mereka
berjalan masuk, begitu sampai d dalam, teman prianya langsung berkomentar.
"wow ada cewek cakep. Kamu kok gak pernah cerita sih," celetuk Evan, menyikut Viko.
"tapi orangnya dngin man. Coba liat deh ekspresinya waktu aku pasang senyum kerenku,
sedikitpun tidak tergerak," sahut David sambil memperlihatkan senyum keren yang dimaksud ke
anak-anak cewek. Eva dan Emi saling pandang dan terkikik, Vivi menghela napas lalu menggeleng-geleng kepala.
"elo sih kalo senyum bikin takut orang," komentar Rina.
"sayang aku udah punya cewek," keluh Ahmad. "kasihan Ko, adikmu terpaksa patah hati."
"kalo aku sih lebih berminat sama Vivi," kata Dicky tanpa malu-malu menatap langsung ke arah
Vivi. Diam-diam Vivi mencubit lengannya.
"masuk, masuk. Barang-barangnya taruh di dalam aja," kata Viko mengatasi suara ribut
temannya seraya membuka pintu kamarnya.
Tak lama kemudian mereka asyik mengerjakan tugas hingga selesai di ruang keluarga. Di selaselanya, Bik Ti mengirim keripik kentang sebagai camilan dan sirup leci. Sebagian temannya
menguap, menggeliat, merebahkan diri di sofa, memainkan bolpoin, dan menarik napas lega.
"capek nih!" kata salah seorang temannya.
"lho"! In gambar siapa?" tanya Aldi sambil melambaikan secarik kertas HVS yang diperoleh
dari dalam salah satu buku Viko dengan sketsa seorang perempuan yang menoleh ke arah


Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka sambil tersenyum manis.
Teman-teman perempuan langsung tertarik.
"mana. Mana," kata Emi, Vivi dan Eva kompak.
"lihat dong," pinta Rina.
"hei! Jangan bongkar-bongkar punya orang sembarangan dong," seru Viko hendak menyambar
hasil gambarnya namun sudah keburu diambil Evan. Dalam sekejap, teman-temannya
berkerumun di sekeliling Evan.
"wow cakep banget! Kok aku gak tau ya kalo kamu pinter gambar," kata Evan takjub.
"dia sih di kampus kalo suntuk kerjaannya kan nggambar-nggambar di catatannya," kata Ahmad
menanggapi, melihat sekilas gambar itu.
"mirip orang beneran ya," kata Dicky menilai.
"wih iya lho bagus banget," sahut Eva mengagumi gambar hitam putih yang dilukis dengan
pensil itu. Disebelahnya, Emi mengangguk setuju.
"lho ini kan klo gak salah gambar adikmu," kata Vivi tepat sasaran. Viko mengangguk.
"oh iya ya. Kok aku baru sadar sih," kata David menyalahkan diri sendiri. "gambar ini buat aku
ya." "enak aja," sahut viko, mengambil kembali gambar yang beredar tersebut. "gambar aja sendiri."
"kamu kan bisa gambar lagi," bujuk David.
"bisa sih tapi hasilnya gak bakal sama," kata Viko serius, helai kertas itu dengan hati-hati agar
tidak terlipat ke dalam bukunya lalu menyimpannya di rak.
"betul. Perasaan waktu menggambar kan nggak bisa sama," sahut Rina menambahkan.
"udah ah. Pulang. Pulang," ajak David kecewa.
"makan bareng dulu yuk, baru pulang," ajak Erik. "dideket sini kan ada yang jual belut goreng."
"enak ya?" tanya Emi. "aku belum pernah makan belut."
"enak banget," sahut Dicky. "apalagi kalo pake sambel. Pengen nambah terus."
Mereka semua setuju, mengemasi barang-barang dan membawa kendaraan masing-masing
keluar rumah. Ia berpamitan pada Bik ti, berpesan bahwa ia membawa kunci rumah jadi tidak
perlu membukakan pagar. Tata masih asyik membaca, untung saja cuaca gak sepanas tadi.
Viko sampai dirumah sejam kemudian, ayahnya masih mengajar di kampus terutama ada
asistensi bagi mahasiswa semester akhir, seperti biasa sibuk sekali. Viko memasukkan sepedanya
ke garasi, lalu tampak olehnya Tata tertidur di meja. Buku bacaannya menutup, botol
minumannya kosong dan berpindah tempat ke pinggir meja, terdorong sikutnya.
"ck ck gimana sih, bisa masuk angin," gumamnya.
"Ta" Ta?" panggilnya sambil menepuk lengan adiknya ingin membangunkannya.
Sebagai jawaban, terdengar gumam lirih yang bagi Viko kelihatan aneh. Ia meraba kening
adiknya dan cepat-cepat melepasnya. Badan Tata panas sekali, Viko langsung menggendongnya
ke dalam kamar, menyuruh Bik Ti mengambilkan obat penurun panas. Obat yang sudah berupa
serbuk itu dminumkan kepada adiknya lalu ia menjaganya sebentar. Viko sudah setengah
menarik gagang pintu ketika sayup-sayup didengarnya sepotong namanya, "Vi..ko..." adiknya
mengigau dalam tidurnya. Viko tersenyum memandang adiknya, membelai rambut Tata
kemudian melangkah pergi.
*** Siang itu panas terik. Ayah pulang agak pagi dari kampus dan menghabiskan waktunya
mengobrol dengan Risa. Tak lama kemudian, mereka kedatangan tamu beberapa mahasiswa
yang diajar ayahnya. Kelihatannya hendak mengasistensi tugas mereka.
Risa beranjak ke dapur hendak mengobrol dengan bibik. Tapi bibik sedang tidak ada di tempat.
Ia melihat baskom berisi air didekat cucian. Tanpa pikir panjang Risa membenamkan wajah ke
dalamnya sambil menghela napas. Beberapa detik kemudian ia bangkit dengan napas terengahengah, mengusap wajahnya yang basah.
"rasanya lumayan," kata Risa tidak jelas. Lalu bersiap untuk menahan napas lagi, ingin melihat
sejauh mana ia bisa bertahan dalam air yang dingin ini.
Risa berkali-kali membenamkan wajahnya ke dalam baskom, tanpa terasa sudah kecanduan. Ia
sudah berhasil menahan napas paling lama satu setengah menit. Entah kenapa ia jadi teringat
Viko. Hal ini membuatnya stress. Dinginnya air seakan mendinginkan kepalanya juga. Akhirakhir ini, Risa sedang memastikan perasaannya apakah ia menyukai Viko atau tidak. Ternyata ia
memang menyukai Viko, ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia sudah bersiap
membenamkan wajahnya kembali ketika mendengar suara kaget bibik.
"lho non"! Itu kan buat nyuci sayur," katanya sambil menunjuk potongan-potongan sayur di
meja dekat jendela. Setengah melamun, Risa tersadar. Air menetes-netes ke bajunya sementara bibik melongo
memandangnya, seperti tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
"apa?" tanya Risa tidak mengerti, memandang bibik dan baki air di depannya bergantian,
mendadak ia paham, "oh iya, biar aku ganti airnya."
Risa buru-buru mengelap air yang menempel di wajah dan rambut depannya lalu mengisi ulang
baskom dengan air yang baru. Bibik rupanya baru dari kamar mandi.
"tamunya ada berapa ya non?" tanya bibik sambil mengambil sirup dari lemari. Untung saja
bibik sudah melupakan kejadian yang memalukan tadi.
Kalau gak salah 4 orang. Sama ayah jadi 5. Bibik buat aja 6 gelas untuk jaga-jaga," kata Risa
menganjurkan selagi bibik meletakkan gelas dengan berjajar rapi di meja.
Bik Ti sedang membuatkan minuman untuk tamu lalu mengantarkannya, sedangkan Risa
memandang sejenak isi kulkas dan kemudian mendapat ide. Ia mengambil beberapa buah tomat
dingin, mencucinya lalu memotong-motong menjadi beberapa bagian. Setelah selesai, ia
menaburkan gula secukupnya. Orang pasti mengira dia vegetarian, tapi makan semangkuk tomat
dingin yang manis di hari panas begini akan menyegarkan.
Baru seminggu yang lalu ia menyadari perasaan sukanya kepada Viko. Sekarang ia malah takut
berada di dekat-dekat Viko, ia takut terlihat gugup terlebih lagi ia takut lebih menyukai Viko dari
sebelumnya. Maka ia selalu membuat percakapan yang disertai debat seru untuk menekan
perasaannya. Huh, cukup sulit dan melelahkan. Sampai kapan ia harus seperti ini. Masa sih Viko
jelek itu bisa membuatnya merasa bersalah karena menyukai Viko, seharusnya ia menghapus
perasaan ini dari awal. Dengan perasaan menyesal ia membentur-benturkan kepalanya ke kulkas.
"kamu kenapa Ta?" tanya Viko heran. Ia baru datang dan rupanya tertarik melihat Risa
membenturkan kepalanya. "DEG! Aduhh! Disaat seperti ini, orang yang paling ingin dihindarinya justru mendadak muncul
di hadapannya. Ia pasti tampak sangat konyol. Risa menguasai diri, bersikap sepert biasa.
"kepanasan," jawab Risa asal saja.
Tepat saat itu Bik Ti kembali ke dapur, begitu melihat Viko segera menawarkan minuman dingin
yang tersisa. "mau sirup leci den?"
"nggak usah bik, makasih. Lho"! Kenapa berhenti" Katanya kepanasan," tanya Viko bergurau,
susah payah menahan tawa.
"susah ngomong sama kakak," kata Risa angkuh, menyambar mangkuk tomatnya.
"ap" Hei.. Ta," panggil Viko hendak mencegah Risa.
Risa berpura-pura tidak mendengar dan mengunci pintu setibanya di kamarnya yang terang
benderang. Ia mendudukkan diri di karpet dan memakan tomat dinginnya.
Viko berjalan masuk rumah dengan tertatih-tatih, tangannya tergores di beberapa tempat,
celananya yang robek memperlihatkan salah satu lututnya yang luka. Tempurung lututnya terasa
seperti kena sakit gigi. Ia terpaksa menopang berat tubuhnya pada satu kaki. Ia menahan rasa
sakit sepanjang perjalanan pulang. Ia berteriak memanggil-manggil bibik. Bibik datang
secepatnya dan memekik ketakutan melihat luka-lukanya. Viko menyuruhnya mengambil kotak
obat sementara ia membaringkan diri di kursi.
Ia masih shock dengan tabrakan yang baru saja dialaminya, sungguh tidak disangka, nyaris saja.
Untunglah si supir angkot yang salah, jadi tidak ribut ke kantor polisi. Supir angkutannya jelas
tidak senang melihat angkutannya agak melesak bekas tertabrak ban sepedanya tapi itu tidak
seberapa dibanding Viko yang terpental akibat menahan laju sepeda motornya mendadak.
"dia sih enak pake mobil, paling parah ya mobilnya yang kena bukan orangnya," gerutu Viko
jengkel, meniup lengannya yang perih akibat tergores aspal lalu memandang lututnya yang
meneteskan darah tanpa henti.
Viko merobek robekan pada lututnya supaya bisa melihat seberapa dalam lukanya. Tata datang
mendengar suara ribut dari ruang tamu dan mendapatinya sedang kelelahan di kursi. Wajah
adiknya langsung pucat pasi seakan melihat hantu, sejenak, berdiri mematung lalu cepat-cepat
melihat keadaannya. "ya ampun Vik..., kok bisa..," kata Tata gemetar. Matanya beralih dari luka-luka di tangannya
kemudian melihat lututnya, kedua tangannya terkepal.
"ini den," kata bibik tergesa-gesa, membawakan kotak obat. "perlu bibik telponin dokter den?"
"gak usah bik, diobati sendiri aja," jawab Viko seraya hendak mengambil kapas tapi buru-buru
direbut Tata. "sini biar aku aja," kata Tata tegas, Viko sampai tidak berani membantahnya.
Adiknya segera membersihkan luka-luka di tangan dan lututnya dengan Rivanol, menutup
lukanya dengan Betadine, meniupnya sebentar agar cepat mengering. Ia susah payah menahan
sakit ketika Tata mengobati lututnya, sekarang Tata sedang membalutkan perban ke
sekelilingnya. "makanya ati-ati dong."
Viko tidak tahu apakah adiknya sedang marah atau cemas. Dia sebenarnya ingin menjelaskan
bahwa bukan dia yang tidak berhati-hati, namun mengurungkan niatnya. Dia merasa lemah untuk
berdebat dengan adiknya dan diam saja sementara Tata menyimpul ikatan perbannya.
"nah selesai. Bisa jalan ke kamar" Kubantu ya," usul Tata tanpa menunggu jawaban darinya.
"biiikk, dini bantu bentar."
Maka ia dipapah oleh Tata dan Bik Ti ke kamarnya. Tata mendirikan bantal supaya Viko bisa
bersandar di tempat tidur. Tata rupanya berusaha menyembunyikan kekhawatirannya dari yang
tampak di wajahnya. Tata duduk di sampingnya, memandangnya dalam diam. Viko tersenyum,
mengelus kepala Tata dengan sayang.
"aku sudah agak baikan. Makasih ya."
"sungguh?"?" tanya adiknya tidak yakin, masih tampak cemas.
"beneran," jawab Viko meyakinkan.
"baiklah. Istirahat aja dulu, kutinggal ya," kata Tata ramah, beranjak dari tempat tidurnya.
"Tunggu!" kata Viko tiba-tiba sambil menarik tangan adiknya. Mendadak perasaan aneh
mengalir dalam tubuhnya. Ia sendirir tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.
"apa?" tanya Tata heran sambil menatap tangan Viko yang menggenggam pergelangan
tangannya. "oh, nggak. Nggakpapa," kata Viko gugup lalu melepaskan tangan adiknya.
"kutinggal ya," kata Tata berpamitan. Viko tersenyum mengangguk.
Pintu menutup di seberang. Sebenarnya Viko ingin menahan adiknya tapi tidak ingin
membuatnya lebih khawatir. Ia memaksakan diri untuk tidur, melupakan sejenak peristiwa tidak
mengenakkan itu. Rasanya lamaaa sekali ia baru bisa tidur. Sorenya ia terbangun dengan
perasaan plong. Tak lama kemudian bibik membawakan susu coklat hangat ke kamarnya.
"baru bangun den" Ini bibik bawakan minum. Non Tata yang suruh."
"Tatanya sekarang dimana bik?"
"ada di kamar lagi baca buku di tempat tidur."
"dia nggakpapa kan bik" Apa penyakitnya mulai kambuh?" tanya Viko khawatir.
"bibik nggak tahu den, tapi kelihatannya non Tata baik-baik aja. Bapak sebentar lagi datang,"
jawab bibik sama cemasnya seraya meninggalkan kamarnya. "kalo butuh apa-apa panggil bibik
ya den." Ternyata Tata baru muncul malam harinya. Viko sudah bertanya-tanya apakah Tata akan datang
melihatnya. Entah mengapa hatinya tidak tenang bila tidak melihat adiknya.
"ini kubawain roti lapis," kata Risa riang, menyodorkan piringnya ke arah Viko.
"thanks." Risa terdiam memandang kakaknya, beberapa saat. Luka-luka ditangan Viko sudah mengering,
sebagian lebamnya membiru kehitaman. Risa meraba memar ditangan Viko.
"gimana" Masih sakit" Apa gak perlu diperiksa ke dokter?" kata Risa memberi saran.
"belum tahu. Lihat aja besok. Kalau udah mendingan ya gak perlu," jawab Viko sambil
menghabiskan roti lapisnya dalam beberapa lahap. Ia mengambil minum dari meja di
sebelahnya, meneguknya sampai habis.
"ups," katanya "kekenyangan." ringan, tersenyum memandangnya, sambil menepuk-nepuk perutnya. "kata ayah, kakak ini ceroboh sekali. Makanya biar lebih aman pasang kaca spion yang sebelah
kiri juga," kata Risa memberi nasehat, seakan-akan inilah penyebab kecelakaan yang menimpa
Viko. "hah"! Tapi ini kan gak ada hubungannya sama kecelakaan ini. Andaikata dipasang pun sama
sekali gak membantu," seru Viko tidak setuju.
"iya, iya. Kakak pasti mau bilang walaupun kita sudah hati-hati, orang lain belum tentu hati-hati.
Iya kan?" kata Risa menebak-nebak.
"iya, iya kamu memang pintar," sindir Viko ngambek.
Tiba-tiba Risa memeluk Viko erat-erat. Entah mengapa ia berbuat seperti ini. Yang dirasakannya
sekarang hanyalah tidak ingin kehilangan Viko. Kadang-kadang perasaannya memang
membuatnya bertindak bodoh. Kepalanya bersandar pada dada Viko, membuatnya bisa
mendengarkan detak jantung di dalamnya.
"ke.. kenapa Ta?" tanya Viko kaget melihat adiknya bertingkah aneh.
"Tata gak mau kehilangan kakak," jawab risa, masih belum melepas pelukannya.
"kehilangan gimana?" tanya Viko bingung, "kalau maksudmu gara-gara kecelakaan ini..."
"bukan itu saja," potong Risa. "kalau aku sudah tidak ada. aku akan merindukanmu... Viko..."
"kamu ini kenapa sih?" kata Viko sedih, menarik lepas pelukan adiknya lalu memegang wajah
adiknya. "seperti bukan Anita saja. Dengar ya, kakak juga tidak ingin kehilanganmu, ayah juga
tidak ingin kehilanganmu. Mengerti"!"
"hm..," gumam Risa lesu, mulutnya cemberut. Ia tahu benar Viko mengkhawatirkan adiknya,
tapi bila Viko tahu ia bukan Anita, apakah Viko akan merasa kehilangan juga.
Risa memandang mata Viko lekat-lekat seakan bertanya dari dalam hatinya apakah Viko dapat
melihat dirinya. Apakah Viko bisa melihat diriku yang sesungguhnya" Aku ada disini, bisakah
kau melihatnya" Aku bukan Anita, bisakah kau melihatku dalam diri Anita" Mata Viko balas
menatapnya tidak mengerti. Bayangan wajahnya terpantul disana. Sekaliii saja, bisakah kau
melihatku" Bisakah kau merasakan kehadiranku"
"aku mau kembali ke kamar," kata Risa tiba-tiba. Yaah, sia-sia saja mengharap Viko menyadari
keberadaannya. Setidaknya ia ingin bersama Viko lebih lama tanpa perasaan tertekannya.
"tapi sebelum itu, bolehkah aku memelukmu lagi?"
Viko bimbang, ia tidak langsung menjawab, heran melihat ulah adiknya.
"sepuluh menit," kata Risa menegaskan, memandang Viko penuh harap.
"baiklah," kata Viko pelan, memandang kasihan padanya. "kemrilah."
Risa dengan perasaan penuh terima kasih memeluk Viko. Viko mendekapnya, membelai rambut
panjangnya dengan lembut. Risa dapat merasakan dan mendengarkan detak jantung Viko. Jarang
sekali ia mempunyai kesempatan seperti ini. Aku ingin mendengarnya lebih lama, batin Risa
penuh harap. Tidak lama lagi, ia akan sangat merindukan orang ini. Walaupun sedih, ia senang
tuhan telah memberikannya kesempatan bertemu dan mengenal Viko. Risa menyadari bahwa ia
sangat membutuhkan orang ini, sampai kapanpun untuk tetap berada disisinya.
Andai saja ia bisa hidup lebih lama, ia akan sangat berterima kasih. Tidak peduli apakah Viko
menyayangi dirinya atau menganggapnya sebagai Anita. Asalkan bisa berada di dekatnya, ia
sudah merasa bahagia. Risa tidak menyangka, dulu ia takut akan kematian, gelisah akan
identitasnya, dan bingung apa yang aan ia lakukan. Sekarang semuanya itu tidak penting lagi.
Yang ia takutkan hanyalah kehilangan Viko. Ia tidak akan bisa berbicara, memilukan. Dan tanpa
ditahan lagi, ia bergumam lirih.
"aku menyukaimu Viko," bisiknya sangat pelan, tapi masih bisa sampai ke telinga Viko. Risa
yakin bahwa dirinya benar-benar menyukai Viko. Ia sadar menyukai seseorang bukanlah suatu
kesalahan. Viko membelai adiknya, entah kenapa perasaannya kalut. Perasaan apakah ini" Saat ia akan
melepas pelukan adiknya nanti, walau sekarang masih dalam pikirannya, seakan menuntutnya
untuk menyerahkan sebagian nyawanya. Dia di sini. Anita, adiknya. Dengan aman berada dalam
dekapannya, tapi... sampai kapan" Benarkah ini Anita" Viko seperti melihat Anita yang lain,
Anita yang tidak pernah dikenalnya selama bertahun-tahun. Apakah ini hanya perasaannya saja"
Tapi baru kali ini ia merasa seperti ini. Apa yang harus ia lakukan...
Kemudia... Viko mendengar bisikan pelan adiknya yang hampir tidakterdengar. Bunyinya
seperti... "aku menyukaimu Viko". Untuk sepersekian detik jantungnya terasa berhenti lalu
mendadak berganti berdetak kencang, matanya membelalak kaget, perasaannya tidak terkendali.
Benarkah" Benarkah apa yang baru saja didengarnya" Tangannya kaku, hawa dingin merambati
tubuhnya. Hatinya perlahan serasa akan meledak. Kenapa" Kenapa dia merasa begini" Wajar
bila adiknya menyayanginya. Jadi kenapa. Kenapa ia menjadi tidak terkendali. Andai saja
perempuan dalam dekapannya kini bukanlah adiknya. Ia pasti sudah jatuh hati padanya.
Tidak. Tidak. Ia tidak boleh begini. Ia tidak bisa berlaku seperti ini terhadap adiknya. Tapi
kenapa hatinya sangat sedih setiap kali ia hendak melepas adiknya. Menit demi menit berlalu,
tapi ia masih belum bisa melakukan apa-apa.
Perempuan ini, atau lebih tepatnya adiknya... tidak akan lama lagi berada dalam dekapannya
seperti sekarang. Ia tidak akan pernah berjumpa, mendengarnya bicara, melihat senyum tulus
yang berasal dari lubuk hatinya dan pandangan matanya, terlebih menggoda adiknya yang
selama ini membuatnya senang. Sekarang ia merasa lemah dan tidak berdaya.
PENGAKUAN RISA Ayah keluar dari ruang kerjanya pukul 7, tampak letih berjalan ke ruang keluarga, ke tempat di
mana Risa sedang duduk dengan tenang membaca novelnya. Ayah duduk terhenyak di
sebelahnya, melepas kacamatanya, meletakkan di meja lalu memijat-mijat alisnya.
Risa menutup novelnya setelah memberi pembatas di dalamnya terlebih dahulu, menawarkan diri
untuk memijat pundak ayahnya yang disambut anggukan setuju. Mereka berbincang seru tentang
buku bacaan favorit mereka. Sedangkan Viko sedang menerima telpon dari teman kuliahnya,
enta siapa kali ini. Risa heran kenapa cewek-cewek tak henti-hentinya menelpon berjam-jam.
Entah apa yang dibicarakan, sementara Viko menjawab ogah-ogahan sambil memelintir-melintir
kabel telpon. "met malem. Mimpi indah ya," kata Viko mengakhiri pembicaraan di telpon sementara Risa
mendengus tidak puas. "makan malam hari ini semua non Tata yang masak," jelas bik Ti seraya membawa piring-piring
dan sendok ke meja makan.
Viko yang baru saja menutup telpon dan menggosok-gosok sebelah telinganya yang panas
karena terlalu lama menerima telpon berdiri mematung tak percaya.brisa melihat pandangan
kakaknya dan merasa dirinya diremehkan.
"kalau ada yang gak lapar juga gak perlu makan kok," kata Risa keras-keras di tengah ruangan.


Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"wah wah, ayah malah tambah laper nih. Makan yuk!" ajak ayah kepada kedua anaknya sambil
mengalungkan lengannya ke leher Risa, menggiringnya ke meja makan disertai tatapan senang
Risa. Viko menurut, duduk di kursi kosong, masih menatap Risa dengan pandangan heran dan mulai
mengambil lauk d meja dengan ragu-ragu. Mereka mulai makan sambil ngobrol sesekali.
"ayah baru tau kau punya bakat masak. Waktu muda dulu, ayah pinter masak, gak kalah deh
sama masakan ibu-biu," kata ayahnya bersemanga. "o iya Ko, sebentar lagi pergantian semester
kan" Menurut ayah sih gak perlu ngambil sks berlebih walau nilainya bagus, santai saja, yang
penting selesai. Mahasiswa ayah kebanyakan pinter, ngambil sks diatas rata-rata yang
kebanyakan diambil mahasiswa umumnya, eh malah kelabakan sama tugasnya. Akhirnya
nilainya malah turun di semester itu, stress berat."
"ok yah, Viko menikmati hidup kok, gak keburu-buru. Empat tahun lebih dikit cukuplah.
Kehidupan kampus kan gak selamanya bisa dialami," jawab Viko.
"terutama cewek-ceweknya maksudnya," sahut Risa mencibir. Ayah tersenyum geli dan
menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.
"ehm jelas. Di kampus, kakak tuh ibarat selebriti. Banyak cewek yang antri jadi pacar kakak, gak
perlu repot-repot nyari, tinggal pilih," katanya seraya menegakkan tubuh dan membusungkan
dada seakan menjadi orang penting.
"kok gak ada yang jadi pacar kakak?" tanya Risa protes, teringat surat cinta Vivi, tanpa terasa
meremas gelasnya dengan kencang.
"masalahnya kalo udah pacaran, mesti serius satu sama orang. Gak bisa ngobrol sama cewekcewek lain, gak seru dan gak bebas. Ntar cemburulah, marahlah, ngambeklah, minta
diperhatiinlah, gak selese-selese, capek," tuturnya sambil mengacung-acungkan garpunya
berputar-putar di udara. "enak ya jadi orang muda, kalo tua tinggal keriput doang sisanya," sahut ayah. "lusa ayah ada
seminar di luar kota sama dosen yang lain juga. Ditambah hendak mengunjungi kenalan ayah.
Ayah pergi kira-kira seminggu, kalau bisa ayah akan pulang cepat. Viko, jaga adikmu ya. Tata
mau oleh-oleh apa?" "asiiiikk, oleh-oleh ya, enaknya apa ya...," renung Risa bingung. "apa aja deh yah."
"lho"! Viko juga mau, masa disuruh jaga Tata terus, udah kayak anjing penjaga gak dikasih apaapa sih," tuntut Viko tidak mau kalah.
"ha ha ha, kupikir kamu gak akan minta. Kamu mau apa Viko?" tanya ayah.
"biasa yah mentahnya aja, duiiit, buat nambah uang jajan. Ya" Ya" Ya?" pinta Viko penuh harap
sambil memberi isyarat dengan tangannya, alisnya bergerak naik turun.
"dasar MATA DUITAN!" timpal Risa.
"eh daripada lo, MATA BARANGAN!" balas Viko puas.
Kehabisan kata-kata Risa menusuk kentang gorengnya dengan energi berlebihan lalu
menjejalkannya ke mulut, berusaha tidak menatap wajah Viko yang penuh kemenangan.
"sudah, sudah, kalian ini suka ribut akhir-akhir ini. Tapi ayah tau kalo kalian sebenarnya akrab.
Ayah memang sibuk jadi ayah senang kalau kalian saling membantu," kata ayah menenangkan
mereka. Risa dan Viko terdiam mendengar ucapan ayahnya ini. Risa tidak berani membayangkan apa
yang terjadi bila berkurang lagi satu penghuni rumah ini. Selanjutnya mereka menghabiskan
makan malam dalam diam, ayah terlebih dahulu selesai dan beranjak ke kamar tidur.
"jelek!" desis Risa kepada Viko.
"dasar pikachu!" balas Viko.
"ap" Apa" Pikachu?" Risa langsung bangkit berdiri lalu menarik napas dalam dan menenangkan
diri. Secepatnya ia membereskan piringya tanpa suara ke dapur lalu masuk kamarnya.
D meja makan, Viko duduk terdiam. Ia terus mengawasi sampai pintu kamar Anita menutup,
bertanya-tanya sendiri apa gerangan yang terjadi denga adiknya dan dirinya sendiri. Kenapa dia
jadi suka menggoda adiknya, ada yang aneh, pikirnya. Anita adik yang baik, tegar bila
menyangkut ibunya, biasanya pendiam dan serius, kadang-kadang sering emosi gara-gara
penyakitya, mengalihkan perhatiannya pada buku pelajaran.
Ia dan ayahnya sering menghibur Anita bila sedang sedih, memberinya dukungan dan
menguatkannya. Tapi Anita yang sekarang begitu lain, periang, penuh semangat dan tenang.
Yang lebih membingungkannya adalah sorot mata adiknya saat menatapnya yang tidak bisa
dilukiskannya dengan kata-kata. Viko tidak mengerti penyebab perubahan drastis pada adiknya
ini. *** Esok paginya, Risa sibuk membersihkan gudang. Banyak barang ditemukannya sehingga ia
setengah melupakan tugas bersih-bersihnya. Ia lebih tertarik melihat-lihat barang "barang bekas
di sana. Ada boneka beruang berukuran besar, masih bagus Cuma tampak kusam. Ada tumpukan
koran bekas, buku-buku lama.
"uhuk uhuk, hem ehem," Risa terbatuk-batuk, mengibas-ibaskan tangannya, debu beterbangan di
sekitarnya ketika mencoba membuka lemari tua. "moga-moga gak ada kecoak. Aku paling benci
kecoak." Di dalam lemari yang gelap itu terdapat tumpukan beberapa helai baju dan... perhatian Risa
teralih pada kilau plastik manik-manik putih pada baju di dalamnya. Risa segera mengambilnya.
Baju di dalamnya terbungkus plastik tebal dan kelihatan seperti masih baru. Ternyata ini sebuah
baju pengantin. Sungguh penemua yang mengejutkan.
"wow..." gumamnya terpana seraya membalik-balikkan baju yang sangat tebal itu. "coba ah."
Ia belum pernah mencoba memakai baju pengantin. Risa begitu bersemangat sehingga hampir
tersandung dalam ketergesaannya ke kamarnya. Tampa melepas pakaiannya terlebih dahulu, ia
langsung memakainya. Yup ini seukuranku, agak besar dikit, pikirnya gembira. Benar saja, baju
itu tampak cocok dengannya. Risa asyik berputar-putar, memandangi bayangan dirinya di cermin
ketika pintu terbuka. "Ta, ayah berangkat sekarang, udah dijemput...." kata-kata ayahnya terputus melihat
pemandangan tak terduga di hadapannya.
"eh maaf Yah, tadi gak sengaja nemu ini jadi langsung kucoba," jelas Risa, buru-buru merapikan
baju yang dipakainya. Tapi ayahnya tampak tidak keberatan, sebaliknya memandang tercengang Risa selama beberapa
saat. "kau cantik sekali, mirip ibumu. Ko, Viko, sini bentar," teriak ayahnya memanggil Viko. "sini
Ta, gandeng lengan ayah."
Ayah rupanya bernostalgia dengan berdiri di samping Risa seolah-olah menjadi pasangannya.
Risa menggandeng lengan ayahnya, sambil menatap cermin, ia berpikir seandainya saja ia bisa
mengenakan baju pengantin pada acara yang sebenarnya dalam hidupnya. Mendadak ia menatap
wajah orang lain dari cermin dihadapannya lalu berbalik menoleh ke belakang. Viko munvul
diambang pintu, tampak kaget sekaligus memandangnya terkagum-kagum. Terdengar klakson
mobil, ayahnya tersadar dan buru-buru hendak keluar.
"aduh sampai lupa. Jaga diri baik-baik ya, nanti malam ayah telpon," kata ayah menepuk
kepalanya lalu mencium kening Risa, memeluk singkat kedua anaknya bergantian dan
menghambur secepat kilat.
Viko masih memandangnya takjub, ekspresi sayang terpancar dimatanya.
Jangan memandangku seperti itu! Jangan menatapku seperti itu! Aku bukan Anita! Bukan Anita!
Aku Risa! Risa! Lalu ia segera melepaskan baju itu, kegembiraan yang tadi dirasakannya telah
lenyap begitu cepat digantikan kesedihan.
"lihat apa"!" kata Risa ketus seraya membawa gaun itu dengan kedua tangannya, bermaksud
mengembalikannya ke tempat semula. Dia melewati Viko begitu saja, matanya berkaca-kaca.
Dia cepat-cepat berjalan tampa menengok ke belakang. Tidak, tidak, jangan menangis, batinnya.
Jangan sekarang. Dasar bodoh! Hatinya terasa pedih. Namun Risa tidak bisa menahannya lebih
lama lagi, air mata sekarang mula mengalir ke pipinya.
Risa tidak sadar, viko rupanya sepintas memperhatikan mata Risa berkaca-kaca. Viko membatin
apakah Anita bgitu rindu pada ibu mereka. Tetapi kenapa Tata harus menatapnya seperti itu,
belum lagi Tata tampaknya menjaga jarak dengan dirinya lebih daripada sebelumnya. Mengapa
hanya ia" Mengapa tidak demikian terhadap ayahnya"
*** "akhirnya selesai juga," kata Risa lega setelah memberi pita pada permen bintangnya yang
trakhir. Risa menggenggam permen bintangnya, menatapnya seperti janjinya sewaktu ia baru
datang beberapa hari kerumah ini, ia akan meletakkan bintang-bintangan yang dikemas seperti
bentuk peermen ke dalam toples kaca setiap tiga hari sekali.
Setiap malam Risa membuat bintang-bintang dari kertas kado yang berbeda, semuanya berwarna
pastel, berwarna-warni dan terkesan ceria. Toples kacanya sekarang hampir penuh, Risa sengaja
meletakkan toples itu ditengah meja ruang keluarga yang kosong supaya semua orang, terlebih
dia sendiri, dapat sering-sering memandanginya. Ini sekedar untuk mengisi waktu luangnya. Di
samping itu, Risa diam-diam menaruh harapan pada setiap permen bintang yang dibuatnya.
Harapan agar ia, Viko dan ayah dapat selalu bersama. Ia sangat menyukai keluarga ini dan tidak
menyesal harus berakhir dengan meninggalkan mereka. Toh ia telah diberi kesempatan mengenal
mereka. Akhir-akhir ini, kondisi tubuhnya melemah. Ia mudah merasa pening, pandangannya kadang
kabur seperti hendak pingsan, badannya nyeri dan lemas. Risa sekarang jarang keluar rumah,
takut kalau-kalau terjadi apa-apa di luar. Di rubuhnya mulai muncul lebam kebiruan.
Ia sering tidur lebih awal sambil menahan rasa sakit di badannya. Ia membenamkan kepalanya
pada bantal dan memekik kesakitan dalam suara teredam. Tubuhnya serasa memberontak.
Namun ia tidak ingin tampak lemah di depan Viko. Ia tidak ingin Viko memandangnya penuh
rasa kasihan. Saking asyiknya melamun, Risa lupa kalau diluar masih hujan, semakin deras malah. Ia
memastikan jendela kamarmya sudah tertutup rapat supaya tidak ada air yang masuk sebelum
akhirnya keluar kamar hendak menyimpan permen bintangnya yang terakhir. Risa tidak
mendapati toples kacanya diruang keluarga lalu bertanya pada Bik Ti yang sedang menggosok
baju. Bik Ti menggeleng tidak tahu. Ayah masih diluar kota, berarti satu-satunya orang yang
belum ditanyainya adalah Viko.
Ia membuka kamar Viko tanpa mengetuk terlebih dahulu. Lampu kamar Viko dimatikan, satusatunya penerangan berasal dari lampu tidur di kedua sisi tempat tidur Viko. Jendela kamar itu
mengeluarkan bunyi berisik akibat guyuran hujan deras. Ia melihat kakaknya duduk di lantai
memainkan gitarnya sambil merenung memandang toples kaca berisi bintang di meja
sebelahnya, entah apa yang dilamunkannya. Cahaya dari luar ruangan menerobos masuk, Viko
menoleh kaget dan melihat Anita telah berdiri di pintu.
"disini rupanya, kucari-cari dari tadi," kata Risa seraya melintasi kamar Viko tanpa basabasi,meraih toplesnya dan meletakkan permen bintang dibawanya, memandang sejenak dan
hendak membawanya keluar kamar.
"Ta?" panggil Viko pelan, "kamu nggak pengen ngobrol bentar?"
Risa berhenti mendadak, merasa tidak bisa terus menerus menghindar, memberanikan diri
kemudian duduk berhadapan dengan kakaknya. Dengan kaku ia membuka percakapan.
"ayah belum telpon juga ya" Kira-kira disana turun hujan gak ya?" tanya Risa yang sengaja
menatap jendela kamar kakaknya. Mendengar suara Viko yang berat dan dalam saja sudah
membuat hatinya mencelos.
"akhir-akhir ini kamu aneh Ta, dulu kita sering kumpul bareng," kata Viko tidak menghiraukan
pertanyaan Risa. "sepertinya kamu sengaja menjauh dariku. Melihatmu seperti ini, aku justru
tambah cemas. Sebenarnya kamu kenapa sih Ta" Bahkan memandangku pun tidak."
Risa agak gemetar, jantungnya berdebar kencang, pembicaraan seperti inilah yang ingin
dihindarinya selama ini. Toples kaca dalam pangkuannya dipeluknya erat-erat. Berusaha tidak
tampak gugup, ia perlahan memandang Viko.
"Nggak kok, Tata baek-baek aja," kata Risa manis, tersenyum ganjil.
"jangan bohong. Kita besar bersama. Aku tau akhir-akhir ini ada yang gak beres. Kamu gak
perlu menyembunyikan sesuatu sama kakakmu," kata Viko, seraya menyandarkan gitarnya
disampingnya. "apa misalnya?" sahut Risa yang sekarang menatap toplesnya lekat-lekat.
"hm.. penyakitmu misalnya. Kau merasa tidak baik?"
Tiba-tiba Viko beranjak dari tempatnya dan mendekapnya erat-erat dalam pelukannya seakan
menghibur adik kesayangannya. Ia sama sekali tidak siap untuk hal ini, napasnya tertahan,
jantungnya serasa berhenti berdetak, ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"TIDAK!!" bentak Risa sembari mendorong kakaknya kuat-kuat. Terdengar bunyi "duk" keras
saat Viko terdorong menatap dinding.
Keheningan yang memenuhi ruangan dipecahkan oleh suara detak jam weker di meja dan
terpaan air hujan yang mengguyur jendela.
"KENAPA SIH TA?" bentak Viko kaget, menahan sakit akibat benturan punggungnya dengan
dinding, tangannya meraba belakang punggungnya yang kesakitan. Viko rupanya tak menyangka
adiknya berbuat seperti ini terhadapnya.
Risa tidak bermaksud mendorongnya, ia sama sekali tidak bermaksud demikian. Ia hanya
terkejut, tak tahu harus berbuat apa dan tidak bisa menahan diri. Anita, Anita, Anita, kata-kata itu
terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ia tidak tahan terus menerus dipanggil dengan nama itu.
"AKU BUKAN ANITA!" teriak Risa sama kerasnya sambari menekankan kedua tangannya di
telinganya, seolah dengan berlaku demikian ia tidak akan mendengar nama Anita dalam
kepalanya. "oh tidak. Tidak. Bukan itu maksudku."
Kata kata itu terucap begitu saja dari mulutnya, nada suaranya jelas-jelas kacau. Ia sendiri
terkejut mendengarnya. Risa berusaha berdiri, tubuhnya gemetar, napasnya sesak. Perlahan
matanya berkaca-kaca. "Ap" Apa" Tentu saja kamu Anita!" jelas Viko yang sekarang bangkit, mengulurkan tangannya
memegang bahu Risa, hendak menenangkannya.
"JANGAN SENTUH!" bentak Risa seraya menepis tangan Viko dengan tangan kirinya yang
bebas. Tangan kananya masih memeluk erat toples kaca. "sudah ku...katakan... aku...bukan
Anita. Aku Risa, hanya... itu yang kutahu."
Sambil berkata demikian , airmatanya menetes. Risa mengguncang hebat, suaranya ikut bergetar.
Ia terisak sedangkan air matanya mengalir tanpa henti selagi menatap wajah Viko yang penuh
kekagetan. Kemudian ia berusaha menjelaskan hal yang dialaminya, hatinya kalut.
"aku..tidak tau ba.. bagaimana bisa berada dalam.. tubuh adikmu sejak di RS. Aku tidak
mengenal kalian..., juga segala hal tentang Anita. Tapi aku tahu pasti bahwa namaku Risa. Aku
bukannya berkepribadian ganda. Aku bingung harus bagamana karena selain namaku, aku tidak
ingat asal usulku," jelas Risa. Perlahan ia melangkah mundur menjauhi Viko kearah pintu,
berusaha menahan tangisnya.
Viko kelihatannya hendak mengatakan sesuatu, mulutnya bergerak-gerak, tapi tidak ada kata
yang terucap. Viko hendak mendekatinya tapi segera mengurungkan niatnya mengingat Risa
sangat kacau. "aku tidak tahan kau terus menerus menganggapku sebagai Anita karena... karena... tanpa
sadar... ak... aku.. menyukaimu.. jangan membuatku lebih merasa bersalah," kata Risa cepat,
menatap Viko lekat-lekat. Tanpa berlama-lama lagi ia berbalik, membuka pintu dan berlari
keluar. Risa mengatur napasnya, berhenti diruang keluarga dan meletakkan toples. Ia tidak ingin
memikirkan apa-apa termasuk kejadian yang baru saja terjadi. Ia beranjak menuju kamarnya
namun mendadak tubuhnya lemas. Ia roboh ke lantai, matanya berkunang-kunang. Ia hendak
memanggil seseorang namun tidak mampu bersuara. Tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri
setelah sebelumnya mendengar jerit kaget bik Ti yang menggema diseluruh rumah.
*** Kemarin ayahnya berangkat keluar kota. Viko juga sudah libur sehingga ia bisa bersantai
dirumah. Ia tidak pergi bersama teman-temannya karena harus menjaga Tata, siapa tahu nanti
ada apa-apa. Ayahnya sudah berpesan kepadanya, ia juga tidak ingin merasa tidak bertanggung
jawab dan didera perasaan bersalah.
Viko menerima kiriman VCD film dari pengantar kaset yang mengantar dari toko tempatnya
berlangganan. "terima kasih ya pak. Kalo ada film baru lain, kirim besok ya," kata Viko berpesan ketika
pengantar kaset itu menyalakan motornya hendak pergi.
"beress, jangan kuatir," sahut pria muda itu.
Viko menutup pagar, melihat-lihat judul fil dari tumpukan film ditangannya. Ia meminjam film
serian, ada juga yang film-film bioskop. Siip, ia bisa menonton film-film ini seharian. Dengan
langkah riang ia masuk kerumah dan meletakkan sewaannya di samping TV. Ia hendak memutar
salah satu filmnya ketika tiba-tiba tersadar.
"oh iya, tadi aku kan lagi nyari kaos merahku. Kok gak pernah kelihatan ya," gumam Viko
teringat kaos kesayangannya. "biik. Biiik.."
Viko memanggil-manggil bibik, memandang berkeliling rumah seakan mengharap bibik keluar
dari dapur, kamar, kamar mandi atau tempat lain.
"bibik lagi ke pasar. Kamu sih bangunya kesiangan," jawab Risa yang baru keluar dari
kamarnya, tangannya memegang gelas berisi coklat yang hampir habis.
"buat apa bangun pagi-pagi. Namanya juga libur," balas Viko. Ia menyalakan DVD playernya.
"pinjam film apa?" tanya adiknya tertarik, melihat-lihat tumpukan film sambil meneguk habis
minumannya. "Tau gitu aku nitip tadi."
"mau titip apa" Besok orangnya nganter lagi, nanti biar kutelpon," kata Viko sungguh-sungguh.
"apa ya... bentar-bentar. Shrek 3, incredible, madagaskar, the corpse bride, hmm.. apa lagi ya,"
pikir Tata bersemangat. Mulut Viko sampai menganga memandangya.
"itu kan film anak-anak, ngapain dipinjam?" tanya Viko tak percaya lalu memberi usulan.
"nonton yang 17 tahun keatas aja kenapa."
"itu juga termasuk 17 tahun keatas! Bagus kok. pokoknya aku mau besok dikirim," kata Tata
tegas, mengabaikan protes Viko.
"tap.. tapi.. masa aku ikut nonton film level anak-anak sih," gumamnya.
Risa meletakkan tumpuka film ke tempat asalnya dan beranjak ke dapur. Viko setengah berpikir
bagaimana kalau ia mminta adiknya membuatkan camilan. Kan cocok selagi nonton film. Maka
dari itu Viko berjalan menyusul adiknya mengendap-endap lalu memeluk adiknya dari belakang.
"adiiikk," kata Viko bermanis-manis, hendak membujuk Tata. Namun sebelum ia hendak
mengatakan niatnya, pikirnya teralih oleh bunyi barang pecah di dekatnya.
Risa menjatuhkan gelas kosong ditangannya saking terkejutnya, membuat pecahannya
bertebaran di lantai yang licin. Ia kaget setengah mati sekaligus panik karena dikejutkan Viko.
"ati-ati," kata Viko spontan, menjauhkan adiknya dari pecahan gelas. Anita menatapnya galak.
"Viko! Kamu bikin orang kaget aja," katanya lantang, tangannya gemetaran. "ngapain sih"!"
"udahlah gak penting. Kamu pergi cari sapu sana. Biar aku yang beresin ini," perintah Viko, ia
membungkuk dan mulai mengumpulkan pecahan kaca yang besar-besar.
Adiknya menurut, tak lama kemudian kembali membawa sapu dan pengkiki. Viko meraih sapu
dan membersihkan kumpulan kacanya tadi.
"sini biar aku bantu," kata adiknya tak mau kalah. Viko hendak mencegahnya, namun Tata
terlanjur mengambil pecahan kaca yang lembut di bawah meja. "aduh."
"nyerah deh, kamu aja yang bersihin. Aku mau bikin popcorn," kata Tata biasa-biasa saja lalu
beranjak ke dapur. "dasar ceroboh," kata Viko menggeleng-geleng kepala. Viko menyambar tangannya sementara
Tata meronta hendak melepaskan pegangannya, jari tata yang terluka gemetar. "diobatin dulu
tangannya."

Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"iya tau. Lepasin dong," kata Tata sambil menatapnya agak malu, pergelangan tangannya
meronta hendak melepaskan diri. Viko sengaja menahannya, geli melihat ekspresi adiknya yang
gelisah. "LEPAS!"
Viko melepasnya kaget. Adiknya menghambur cepat ke dapur. Adiknya memang galak,
pikirnya. "mungkin aku keterlaluan menggodanya," gumam Viko, kembali menyapu lantai dengan hatihati, dalam hati merasa senang.
Setelah kejadian itu, Tata tidak mengajaknya bicara seharian. Adiknya juga tidak menonton film
yang sudah dipinjamnya, asyik membaca terus di kamar. Mungkin masih marah kepadanya.
*** Hari berikutnya berlanjut dalam keheningan, kecuali celoteh bibik yang berkepanjangan. Mereka
menghabiskan waktu untuk makan bersama dalam diam. Tata sudah tidak berlaku sedingin
biasanya kepadanya, walau tetap saja situasinya agak kaku. Viko berkali-kali meliriknya,
mengamati apa saja yang tengah dilakukannya. Mungkin hanya perasaannya saja, tapi adiknya
tampak pucat dan tidak sehat seperti kurang tidur.
"film pesananmu sudah datang, tuh aku taruh disana," kata Viko memberitahunya, menunjuk
kiriman film baru dsebelah TV dengan dagunya.
"iya nanti aku tonton," kata Tata sambil mengunyah nasinya. "kakak mau nonton juga?"
"enggak deh, maen komputer aja," jawab Viko, teringat akan permainan balap mobilnya yang
sudah jarang dimainkannya.
"non, coba deh cicipi perkedel buatan bibik ini," kata bibik sambil menyodorkan sepiring
perkedel yang baru digoreng.
"nggak bik makasih. Tata udah makan," tolak adiknya.
"lho non, nasinya kan belum habis," kata bibik histeris, melihat piring makan yang masih terisi
setengah. "nggak ah. Aku udah kenyang. Gak muat," jawab Tata enggan.
"makannya dikit banget Ta," tegur Viko. "biasanya kamu kan makan terus kayak dinosaurus."
"ye.. kata siapa," sahut Tata mencibir. Ia menyetel film pesanannya dan membaringkan diri di
sofa, menonton dengan asyik.
Sementara itu bibik dan Viko hanya saling pandang tidak mengerti.
"kenapa ya den, non Tata akhir-akhir ini gak ada nafsu makan?" bisik bibik saat membelakangi
kursi Tata. Viko hanya mengangkat bahu. Bibik menghela napas cemas.
Tanpa terasa Viko telah bermain selama dua jam. Di seberang taman, Viko bisa melihat bibik
sedang memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Matanya penat, ia membunyikan
buku-buku jarinya lalu bangkit berdiri hendak ke kamarnya. TV masih menyala tetapi ketika
Viko melihat adiknya, Tata rupanya sedang tertidur. Viko merasa prihatin.
"capek sekali ya?" gumamnya. Padahal adiknya tidak banyak melakukan kegiatan hari ini.
Viko mengambil selimut dari kamar Tata dan menyelimuti adiknya dengan selimut tebal. Kalau
sedang tidur begini, adiknya seperti anak manis yang polos. Viko memandangnya sejenak,
berpikir. "kenapa kamu menolak berobat?" tanya Viko dalam seakan ingin memperoleh jawaban langsung
selagi menatap wajah polos adiknya.
Viko ganti menonton TV dan duduk di sofa panjang satunya sambil memperhatikan adiknya. Di
luar hujan rintik-rintik mulai turun menimbulkan bunyi gemerisik sewaktu memercik menimpa
helai-helai daun di taman. Sore yang tenang, pikirnya.
Tidur Tata gelisah. Kadang adiknya bergerak-gerak sampai Viko takut ia tergelincir jatuh.
Kadang bergumam tidak jelas yang lebih menyerupai rintihan. Viko mulai khawatir. Ia bangun
dari sofanya dan duduk berjongkok di sebelah adiknya. Ia meraba kening adiknya, keringat
dingin membasahi wajah dan leher adiknya.
"ta" Ta" Ta?" panggilnya pelan.
Tata terbangun setengah mengantuk.
"um.. jam berapa?" tanya adiknya, matanya menyipit silau habis bangun tidur.
"sudah jam 5. Kamu tidur di kamar aja. Disini dingin." Saran Viko khawatir.
Mendadak adiknya bersikap sigap dan menatapnya dengan pandangan menuduh.
"ngapain kakak disini" Tanyanya ketus. "sejak kapan?"
"nonton TV. Emangnya aku mau duduk disampingmu terus kayak gini," balas Viko tersinggung
karena adiknya tampak anti.
Tata menyadari nada suara Viko sehingga tidak berkata apa-apa lagi. Ia lalu menyibak selimut
dan menentengnya kembali ke kamar.
*** Viko tidak tahan dengan kelakuan Anita. Sekarang ia bisa memastikan bahwa Tata memang
menghindarinya. Tapi kenapa" Sekarang adiknya seperti sedang menyembunyikan rahasia
darinya. Viko yang tidak mengetahui apa yang dipikirkan adiknya, merasa serba salah. Adiknya
tidak pernah berlaku dingin terhadapnya. Memang tidak ungkin Tata membencinya. Bila
dibandingkan dengan Tata yang dulu, Tata bersikap jauh lebih ramah dan terbuka terhadapnya,
tidak serba rahasia. Viko menimbang-nimbang apakah penyakitnya mulai parah lagi sehingga emosi adiknya
menjadi labil. Tapi apa salahnya sehingga ia patut dijauhi. Masa sih Tata iri dengan
kesehatannya. Kelihatannya semua ini tidak berhubungan dengan penyakit adiknya.
Bila mengingat-ingat waktu yang lalu, Tata tidak sepenuhnya menghindarinya. Pada suatu
kesempatan Tata justru tampak dekat sekali dengannya, seperti saat ia mengalami kecelakaan
dan bila bertengkar mulut. Ada lagi yang aneh, tatapan Tata kepadanya yang berubah-ubah.
Kadang sorot matanya tampak terluka, kadang sedih, kadang seperti merindukan sesuatu, kadang
seperti hendak menanyakan sesuatu.
Viko berkali-kali berusaha mendekati adiknya namun sia-sia saja. Tata rupanya bertekad
bersikap seperti biasa walau Viko tahu sikapnya itu hanya untuk menutupi keganjilan ini.
Herannya, Viko juga jadi tidak sabaran. Dari waktu ke waktu ia melihat adiknya seperti orang
lain saja. Ia sendiri tidak mengerti kenapa tindakannya jadi begitu emosional. Wajar kalau suatu kali
adiknya tidak akrab dengannya. Tapi ini beda. Viko tidak terima dijauhi oleh adiknya. Kelakuan
Tata berubah semenjak kepulangannya dari rumah sakit. Mungkin bibik tidak menyadarinya.
Sedangkan ayahya menganggap Tata berubah karena tidak terbiasa diam dirumah atau karena
Tata sedang mengalami masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Masalahnya mana ada sih orang
yang berubah drastis dalam waktu singkat.
*** Baru saja Viko menggotong adiknya yang pingsan ke kamarnya. Betul dugaannya, kondisi
adiknya semakin lemah. Entah sampai kapan bisa bertahan. Viko memandangnya sedih. Tadi ia
berdebat seru di kamarnya. Viko masih belum bisa menerima bahwa adik yang terbaring di
depannya kini bukanlah adiknya, melainkan orang lain. Viko tidak mengerti bagaimana ini bisa
terjadi, namun memang benar bahwa sifat adiknya berubah total. Inilah penjelasan yang masuk
akal kenapa adiknya bertingkah aneh.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya membuat suara kendaraan yang lewat di depan
rumah mereka teredam. Kalau begitu apakah ia salah telah memperlakukan orang ini sebagai
adiknya selama ini" Kenapa Risa tidak memberitahunya sejak awal" Tidak. Aku tidak akan
percaya kalau ia mengatakannya sejak dulu. Kalau aku jadi dia, aku pasti tidak bisa mengatakan
sejujurnya, pikir Viko. Benarkah orang ini bukan adiknya" Benarkah jiwa di dalamnya lain" Lalu dimanakah Anita"
Bagaimana keadaannya" Bagaimana mungkin selama ini ia tinggal dengan orang yang berbeda.
Ia kan tidak mengenalnya. Tapi benarkah ia tidak mengenalnya. Bukankah selama ini ia tahu
betul sifat-sifatnya, sampai-sampai sempat membuatnya tertarik. Tapi... Risa itu sebenarnya
orang yang bagaimana... Ya, tanpa sadar dirinya telah tertarik pada anak ini. Selama ini ia memungkirinya karena tahu
betul ia menyukai adiknya sendiri. Jadi ia merubah perasaan itu menjadi perasaan ingin
melindungi dan menjaga adik kesayangannya. Namun setelah tahu bahwa adiknya bukanlah
Anita melainkan Risa, ia menjadi tahu bagaimana harus bersikap padanya. Bukankah sulit
mencintai seseorang yang berada dalam tubuh orang yang dikenalnya. Perasaannya akan
bercampur aduk. Mungkin inilah yang membuat Risa tidak tahan. Ia tidak keberatan tidak
mengetahui siapa Risa, seperti apakah dia. Toh Risa bersikap terbuka terhadap keluarganya
selama ini. Dari tadi dia memikirkan dirinya terus, bagaiman dengan perasaan Risa. Risa pasti tertekan
mengalami semua ini, tidak ingat asal usulnya, kenyataan penyakit yang di deritanya pasti
membuatnya merana. Apa yang sedang terjadi disini, semuanya terdengar aneh, membuat
kepalanya sakit karena berpikir keras. Walaupun begitu, Risa sama sekali tidak menunjukan
tanda-tanda sedih atau marah. Selama ini Risa justru tampak ceria, bawel, pelit, galak dan ketus,
pikir Viko sambil tersenyum sendiri. Di samping itu ia juga sangat perhatian. Begitu cepatnya ia
beradaptasi dengan keluarganya.
Entah suatu keanehan atau entah suatu keajaiban bagi Viko. Ia menarik napas panjang dan
menghembuskannya. Aku harus bagaimana, pikirnya.
"Risa... kau sampai segitu sedihnya tadi," kata Viko dalam bisikan, menatap adiknya yang masih
tertidur, "maafkan aku. Aku pasti membuatmu menderita."
Akhirnya ia bisa menemukan perbedaan rasa sayangnya terhadap Anita dan terhadap Risa. Rasa
sukanya jelas berbeda. Masalahnya sekarang, akankah ia akan kehilangan Risa juga di saat ia
baru menyadari perasaannya ini. Bagaimana ia harus berbicara kepada Risa nanti" Apa yang
harus di katakannya" Ia takut akan bersikap lain kepada Risa. Yang pasti ia harus memperbaiki
salah paham di antara mereka selama ini.
Viko mengenang kembali saat-saat semenjak adiknya sadar di RS hingga saat ini. Kadang ia
tertawa, kadang malu sendiri, kadang merasa diriya bodoh. Belum lagi kejadian di kamar mandi
waktu dulu, ia merasa kehilangan muka saking malunya. Sudahlah, toh semuanya sudah berlalu.
Bukan main, kehadiran Risa di rumahnya telah memberi berbagai macam kenangan yang
berkesan baginya. MENJELANG AKHIR Risa tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di tempat tidurnya. Kepalanya sakit sewaktu ia
terbangun di pagi hari. Ia mengalihkan pandangan ke sisi tempat tidurnya dan melihat sebuah
kursi yang ditempati Viko. Viko tertidur, kepalanya terkulai di kaki tempat tidurnya. Risa
berusaha mengulang saat-saat terakhir dimana ia masih sadar lalu teringat bahwa ia terjatuh
dalam perjalanan ke kamarnya kemarin malam. Risa menegakkan diri, bersandar pada bantalnya,
tanpa sengaja membuat Viko terbangun. Risa tidak berani memandang Viko. Ia menoleh kearah
lain dan menatap kosong ke depan dalam diam.
"kau sudah bangun" Dokter datang memeriksamu tadi malam. Mau sarapan?" tanyanya.
Melihat Risa bertekad tidak ingin berbicara dan memandangnya, Viko melanjutkan,
"maafkan aku. Tidak seharusnya aku membuatmu tertekan. Sebenarnya... aku tidak mau percaya,
tapi perlahan aku sadar kau memang bukan seperti adikku. Jangan berlagak tidak
menghiraukanku begini. Selama ini aku bertanya-tanya kau begitu berbeda, sebenarnya aku
tertarik padamu. Itu sebabnya aku selalu tidak tahan tidak menggodamu."
Risa menoleh ke arahnya, Viko berbicara formal. Tidak seperti Viko yang biasanya.
"kau tidak marah padaku?" Tidak bertanya-tanya di mana Anita?" tanyanya takut-takut.
"menurutku ini suatu keajaiban. Dokter sudah memvonis kau tidak akan sadar, terus dalam
keadaan koma sampai akhirnya kau meninggal sewaktu kau di rumah sakit dulu," jelas Viko,
rupanya sudah memikirkannya masak-masak. "begitu melihatmu sangat sehat dan kuat, aku
berpikir mungkin dokter keliru mendiagnosamu. Jadi aku tidak lagi khawatir. Di mana pun Anita
berada sekarang, aku yakin dia sedang berbahagia. Sedari kecil ia berjuang melawan
penyakitnya. Kami sudah siap seandainya tuhan hendak mengambil nyawanya kapan aja. Sampai
kapanpun dia adalah adikku dan bagian dari keluarga kami. Sekarang, yang membuatku resah
adalah kau. Kau tidak seharusnya mengalami ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan
untuk menolongmu." Risa terdiam. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"sudahlah, buat apa dipikirkan. Aku tidak apa-apa," jawab Risa jujur.
Tiba-tiba ia teringat pengakuannya semalam dan merasa mukanya merah padam. Ia melirik Viko
hati-hati, melihat dengan tatapan ingin tahu bagaimana reaksi Viko terhadap kejadian semalam.
Ia pasti tampak tolol tadi malam, berteriak dan menangis tak terkendali. Belum lagi pingsan
tanpa direncanakan dan pada saat yang tidak tepat pula. Begitu ia melihat Viko sedang
menatapnya juga, ia cepat-cepat memalingkan muka.
"kenapa?" tanya Viko khawatir.
"oh enggak. Maksudku yang "itu" tadi malam lupakan saja. Aku agak emosi," kata Risa cepat
lalu pura-pura memandang jendela. Entah Viko mengerti ucapannya atau tidak.
"oh yang "itu"," kata Viko paham sambil menahan tawa. "sayang ya gak sempet kurekam biar
bisa kudengerin sekali-sekali."
Risa langsung menoleh memandangnya, wajahnya memerah malu namun ia berusaha tampak
galak. "apa sih maksudmu" Tanyanya menuduh, tangannya berkacak pinggang. "nggak lucu tau."
Senyum di wajah Viko langsung lenyap. Viko kembali menguasai diri lalu menatapnya lekatlekat, tampak serius. Viko geli melihat Risansalah tingkah karena tidak tahan dipandangi.
"ke..napa?" tanya Risa takut-takut melihat ekspresi Viko.
Viko masih menatapnya dalam diam, membuatnya salah tingkah. Ia berpura-pura tidak
melihatnya tapi ia tidak bisa mengabaikannya lama-lama.
"kenapa sih!" seru Risa tidak nyaman, sekarang benar-benar geisah melihat tatapan Viko
kepadanya. Viko perlahan bangkit dari kursinya lalu duduk di tempat tidurnya. Pelan-pelan Viko
mencondongkan wajah ke arahnya, membuat Risa mendorong kepalanya ke belakang. Pasti Viko
sedang menggodanya. Dasar menyebalkan! Mereka sudah dekat sekali sekarang. Mata mereka
seakan mengandung aliran listrik. Tiba-tiba.. "PLAK". Risa memukul pelan dahi Viko,
membuatnya mundur ke belakang.
"ups, sori tadi ada nyamuk," kata Risa tidak berdosa seraya mengibas-ibaskan tangannya.
"mana nyamuknya?" tanya Viko sebal, memegang dahinya.
"nggak kena," sahut Risa singkat, pura-pura kecewa lalu memandang Viko galak. "mana
sarapanku" Bawain cepet!"
"iya-iya," jawab Viko menurut, memandangnya dengan pandangan penuh selidik.
"eh Vik," cegah Risa tiba-tiba yang tiba-tiba teringat sesuatu yang penting, ekspresi wajahnya
tampak serius. "apa?" tanya Viko penuh tanya.
"ng.. tolong jangan bilang pada ayah ya kalo aku habis pingsan. Gimana?" tanya Risa gelisah.
Viko tampak berpikir sejenak lalu menjawab, "beress."
*** Kepulangan ayah disambut meriah oleh Risa. Seminggu tidak bertemu sudah membuatnya
kangen. Ayah memberinya buku tebal berisi aneka masakan plus gambar. Ada masakan Eropa,
Asia dll. Risa senang sekali. Walaupun tidak bisa membuatnya, setidaknya ia puas
memandanginya. Viko sama sekali tidak menyebut perihal penyakitnya pada ayah. Untung saja.
Ayah dan Viko sedang menonton Tv sedangkan Risa duduk berselubung selimut sambil
membuka-buka buku resepnya, terlihat asyik membaca.
"ayah mau mandi dulu. Dari tadi pagi belum mandi," kata ayah sambil melepas kacamatanya.
"pantas saja, kupikir bau kecut dari mana," gurau Viko. Ayah tersenyum lalu melangkah masuk
kekamarnya. Risa sedang mengamati gambar roast baron of lamb ketika Viko berpindah duduk di sebelahnya.
"asyik banget sih Ris. Menarik ya?" tanya Viko tertarik.
"he eh. Eh, ada apa?" tanya Risa begitu melihat gelagat aneh Viko yang tampak bimbang.
"ng.. ini. Aku ingin memberimu sesuatu," selagi Vko berkata begitu, ia menarik keluar kalung
dari sakunya lalu memberikannya pada Risa.
"buat aku" Kenapa tiba-tiba...," kata Risa kaget tanpa memandang kalung di atas telapak
tangannya. Baru kali ini Viko memberinya hadiah.
"biar adil kan," potong Viko cepat, Risa mengernyit. "maksudku, ayah memberikanmu oleh "
oleh buku-buku ini. Karena aku tidak punya sesuatu yang bisa diberi jadi aku ngasih ini."
Risa mengamati kalung pemberian Viko, bandulnya berbentuk hati berwarna biru. Ciee.. bisa
juga Viko ini. Risa jadi senyum-senyum sendiri. Lho"! Kok warnanya jadi bersemburat hijau"
Sekarang malah jadi hijau seluruhnya. Risa mengedip-ngedip, mengira ada yang salah dengan
matanya. "ini namanya batu warna. Warnanya terus berubah-ubah," kata Viko menjelaskan. "bagian
dasarnya berkelip-kelip. Jadi kamu seperti melihat langit bertabur bintang. Kamu kan suka
melihat bintang jadi kupikir pasti menyukainya..."
Selagi Viko berkata begitu, Risa memperhatikan bandul itu perlahan berubah menjadi oranye,
kuning, jingga, ungu seperti melihat aurora di daerah kutub. Perkataan Viko memang benar, batu
warna itu seperti langit dan kelip-kelip halus pada dasarnya seperti hamparan bintang di seantero
galaksi. Risa pernah melihat hamparan bintang di luar angkasa di TV. Semakin lama Risa
mengamatinya, ia semakin menyukainya. Risa tidak percaya, ia seperti sedang memandang
langit yang sesungguhnya dalam tangannya.
"ya ampun Viko. Ini.. ini indah sekali. Sangat indah," kata Risa kesulitan mengungkapkan
perasaannya, masih terkagum-kagum.
"suka" Aku titip pada Erik sewaktu tahu ia mau berlibur di luar negeri," kata Viko turut senang.
"makasih ya. Aku sukaaa banget," kata Risa sambil memeluk Viko dengan sayang.
"kamu kalo gini baru kelihatan manisnya, biasanya judesnya minta ampun," kata Viko
menyindir. Ia suka Risa bermanja-manja padanya.
"heh"! Dasar jelek," kata Risa sebal sembari menjiwit pipi Viko karena telah merusak suasana
hatinya. "awas kamu ya," seru Viko tidak terima.
Viko balas menggelitik adiknya, membuat Risa tertawa-tawa geli sampai terbatuk-batuk. Setelah
Viko berhenti menggelitiknya, Risa mengatur napas, rambutnya kusut berantakan. Sebagai
gantinya ia mengacak rambut Viko. Viko ganti menyelubunginya dengan selimut lalu Risa
membalas dengan melempar bantalan kursi. Maka perang berlanjut sampai beberapa menit
kemudian. "walah, walah kalian ini kayak anak kecil aja."
Risa dan Viko menghentikan pertempurannya dan menoleh memandang ayahnya yang tampak
segar sehabis mandi. Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Mereka langsung
membereskan kekacauan yang mereka buat. Risa mengambil buku-buku dan selimut yang
berserakan di lantai sambil merapihkan rambutnya, Viko mengambil bantalan kursi yang
terdapat di meja makan. *** Risa senang sekali bisa keluar bersama lagi. Ia duduk di belakang bersama Viko. Ia berkali-kali
menoleh ke Viko, tersenyum dengan gembira. Viko balas tersenyum namun Risa memperhatikan
bahwa sikap Viko agak tegang, tidak seperti biasanya. Selain itu Viko tampak kurang senang
dengan kepergian mereka. Risa jadi bingung sendiri karena tidak mengerti apa alasannya, Risa
memberi pandangan bertanya, seolah menanyakan "kenapa?". Namun Viko hanya tersenyum
menggeleng dan memegang tangannya.


Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kemarin ia pingsan lagi, tiba-tiba tubuhnya serasa ditusuk-tusuk, tiba-tiba matanya menjadi
kabur setelah itu tidak ingat apa-apa. Ayah, Viko dan bik Ti sampai cemas setengah mati.
Sebenarnya ia menikmati duduk dikursi mobil yang nyaman, namun tubuhnya terasa lemas.
Bahkan untuk bernapas pun ia merasa agak sulit. Energinya serasa terkuras habis. Namun ia
sanggup bergerak dan beraktivitas seperti biasanya dengan mengerahkan sisa kekuatannya.
Terlebih bila ia sedang merasa bersemangat, penyakitnya tidak akan bisa menghentikannya.
Risa memandang jalan-jalan di luar kaca jendela. Risa tidak hafal dengan jalan di sekitar situ,
maklum, dia kan memang baru tinggal di sini. Mula-mula ia tidak mengenal jalan yang mereka
lalui sepanjang perjalanan tapi selepas 10 menit kemudian ia mulai mengenal jalan yang mereka
lalui. Risa gembira karena rupanya ia masih mengingatnya, walaupun baru sekali melintasi jalan
ini. Kalau tidak salah ia melewati jalan ini sepulang dari rumah sakit dulu.
Tiba-tiba Risa tersadar. Tunggu! Tunggu dulu! Apakah keluarganya hendak membawanya
kembali ke rumah sakit tanpa sepengetahuannya" Risa berusaha tidak mempercayainya. Dari sini
ke RS butuh waktu 10 menit. Tidak mungkin, pikirnya. Dadanya serasa dihantam. Perasaannya
mengatakan bahwa itulah yang akan terjadi. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Dengan
ngeri ia memandang Viko. Viko menatapnya tersenyum lalu menyadari ekspresi tak percaya di
wajah Risa. Senyum Viko langsung memudar, rupanya kaget karena Risa tampak sudah
mengetahui rencana mereka. Viko menggenggam tangan kanannya erat-erat seolah
menguatkannya. Sepanjang perjalanan yang seakan berjalan cepat itu, Risa dan Viko saling berpandangan seolah
berbicara menggunakan telepati. Tisa masih tidak bisa percaya. Ia berusaha mengucapkan
sesuatu namun saking terkejutnya ia tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya ia memberanikan diri
bertanya. "a...ayah?" tanyanya memberanikan diri, suaranya bergetar.
"kenapa Ta?" tanya ayah yang memandangnya dari kaca spion.
"oh, nggak. Nggak apa-apa."
Begitu mendengar suara ayahnya, ia lngsung terdiam. Dia sudah kalah. Dia tidak bisa menentang
keinginan ayahnya. Tapi tetap saja sebagian dirinya tidak bisa menerima, tangannya gemetar. Ia
memandang Viko seakan bertanya "Apa yang harus kulakukab?". Namun jawaban diam Viko
menandakan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Viko mengawasinya terus, takut ia akan berusaha
melarikan diri, sorot matanya sedih dan penuh rasa kasihan. Tak lama kemudian mereka sampai
di parkiran rumah sakit. Lapangan parkir tampak padat seperti biasa walaupun jarang terlihat orang berlalu lalang. Viko
turun duluan lalu membuka pintu mobil di sebelah tempat duduk Risa, menunggunya. Risa
keluar dengan kaki goyah lalu memandang ayahnya.
"ayah. Kenapa ayah tidak memberitahuku?" tayanya meminta penjelasan. Ia merasa dikhianati.
"aku tidak mau yah. Ayah tahu itu."
"ayah tahu," jawabnya muram.
"lalu kenapa?" teriaknya putus asa. "ayah berjanji padaku."
"kau juga telah melanggar janji Tata," kata ayahnya dengan suara rendah.
"janji apa?" "kau berjanji akan memberitahu ayah begitu kau merasakan sesuatu. Kau ingat?" kata ayahnya
mengingatkan. "ayo, ayah sudah memesan tempat untukmu."
Risa tidak memungkirinya. Ia tahu telah berjanji seperti itu. Ia menurut saja digiring dengan
diapit ayah dan Viko. Tapi ia tidak mengatakannya semata-mata agar tidak dirawat di RS.
Bangunan RS tampak menjulang tinggi dan kokoh. Jendela-jendelanya tampak sepi dan dingin.
Di tengah jalan, ia melepas pegangan kedua pria itu. Sekarang air matanya merebak.
"ayah, kumohon... aku tidak mau. Benar-benar tidak mau," pinta Risa serak, menggeleng
kepalanya kuat-kuat. "ayah harus berusaha yang terbaik Ta supaya kelak ayah tidak menyesal. Ayah tidak bisa
membiarkanmu begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa," kata ayah menahan tangannya,
setengah menariknya. Risa meronta tidak mau. "ayah mohon Ta. Sekarang giliranmu untuk
menuruti kemauan ayah."
"tapi yah, aku tidak mau dirawat di RS," kata Risa getir. Sekarang air matanya berlinang.
"tidak bisa Ta. Ayah akan menjagamu," kata ayahnya berusaha menenangkan dan menariknya ke
dalam. RS sama saja seperti penjara baginya. Ia tidak tahan membayangkan dirinya menghabiskan
waktunya di tempat ini. Melihat ayahnya berkeras, ia dengan kasar melepas pegangan ayahnya
lalu berpaling pada Viko di belakangnya yang merupakan satu-satunya harapannya. Jika harapan
terakhirnya ini tidak bisa maka ia tidak bisa apa-apa lagi.
"Viko. Viko. Kumohon Vik. Jangan bawa aku masuk," kata Risa lemas sampai berlutut di
depannya. "tolong aku Vik. Aku mohon."
Risa menarik-narik baju Viko, benar-benar memohon padanya, air matanya terus mengucur.
Viko sendiri tampak sedang tersiksa namun tidak punya pilihan.
"sudahlah. Kamu akan baik-baik saja," katanya seraya mengangkat Risa berdiri. Risa menarik
kerah bajunya. "APANYA YANG BAIK-BAIK SAJA," bentak Risa, suaranya tercekat. "aku tahu Vik. Kalau
aku masuk, aku tidak akan pernah keluar.
Dadanya terasa sesak. Napas Risa sampai tersendat-sendat. Viko memandangnya dengan mata
berkaca-kaca seolah berkata "aku juga tidak mau memasukkanmu ke RS tapi kamu harus". Viko
sedih melihatnya seperti ini. Dengan berat hati Viko merangkulnya.
"kamu akan baik-baik saja. Aku janji. Ayo, kamu tidak bisa seperti ini terus," kata Viko
memantapkan diri, membawa Risa ke kamar perawatannya. Risa berjalan melalui koridor
panjang dengan perasaan hampa.
Ia tahu, sia-sia saja melawan. Ia diam saja dan menurut, sedapat mungkin tidak berbicara. Ia
takut hatinya akan semakin terluka. Lorong itu seakan tak berujung. Berada di sini justru
membuatnya ngeri. Sekarang ia tahu apa yang dirasakan Anita selama ini. Semua memang demi
kebaikannya. Padahal ia tidak keberatan, sama sekali tidak keberatan menahan rasa sakitnya.
Suster telah menggantikan bajunya sementara ayah dan Viko menunggu di luar lalu
menggiringnya naik ke atas tempat tidur. Selama ini baru kali ini ia merasa begitu tersiksa,
melihat keluarganya datang menjenguk dan menjaganya sedangkan ia hanya beristirahat tanpa
bisa melakukan hal yang diinginkannya. Sama sekali tidak bebas. Entah apa yag ditunggunya
selama berada di sini. Mungkin ia hanya bisa menunggu kematian datang menjemputnya dan
membebaskannya. Emosinya sudah mereda tetapi sekali-sekali air matanya menetes. Suster
keluar ruangan, ayah dan Viko masuk, memandangnya. Risa memlingkan wajah menatap langit
biru dan tumbuhan hijau di luar jendela.
"ayah akan menemui dokter Hasan sebentar," ia mendengar ayahnya berbicara kepada Viko lalu
bergegas ke luar ruangan.
Sekarang tinggal mereka berdua dalam kamar itu namun Risa tidak menunjukkan tanda-tanda
menyadari kehadirannya. Ia menghapus air mata yang baru saja mengalir, menatap sedih ke luar
jendela. "maafkan aku Risa.." kata Viko memulai. "aku tahu kamu tidak akan suka."
Risa diam saja. Ia tidak ingin mendengar kata maaf lagi. Apalagi artinya permintaan maaf itu.
Risa menelan ludah dengan getir, menyadari nasib tengah melawannya.
"kamu boleh marah padaku, membenciku, tidak menghiraukanku. Aku tidak keberatan. Tapi
perhatikanlah dirimu," kata Viko dengan suara sedih.
Risa menatap hampa ke depan. Ia memang sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun,
terlebih kepada mereka yang membawanya kemari. Namun ia tidak bisa membenci Viko.
Kenapa Viko harus berkata seperti itu di saat ia sedang berusaha membuat Viko jera dengan
tidak mengacuhkannya. Risa menarik napas teraur, menenangkan diri. Perlahan ia menguasai diri
dan menoleh ke arah Viko, menatap pria yang disukainya dan membandingkannya dengan saat
pertama kali ia bertemu Viko.
"di sini ya pertama kali kita bertemu. Kamu sudah banyak berubah."
"eh?" kata Viko tak paham.
"pertama kali bermula di RS dan berakhir di RS pula," kata Risa melanjutkan, mengabaikan
ekspresi tidak mengerti di wajah Viko. Lalu tanpa diinginkannya, ia tersenyum.
"oh..." komentar Viko bingung naun agak lega melihat Risa tersenyum.
"aku tidak akan memaafkanmu," kata Risa tiba-tiba, raut wajahnya mendadak berubah menjadi
dingin. "suatu saat aku akan memintamu membayarnya."
*** Satu minggu lebih berlalu tanpa kejadian berarti kecuali penyakitnya yang bertambah parah.
Setiap hari selalu sama, disuntik, minum obat, diperiksa dan hal-hal biasa lainnya. Risa
merasakan sakit hampir setiap hari. Rasa sakitnya serasa berlipat ganda disertai suasana hatinya
yang buruk. Sama sekali tidak ada kenangan indah yang menghiburnya. Pikirannya serasa
ditutup dalam kamar itu. Dokter rupanya telah memberinya suntikan pengurang rasa sakit.
Risa mudah sekali merasa lelah. Ia lebih sering tidur atau memejamkan mata di saat ia tidak
ingin berbic ara. Ayah dan Viko hanya memandangnya putus asa. Mungkin segala pengobatan
dan fasilitas ini sedikit memperpanjang umurnya, tapi tidak dengan semangat hidupnya. Ia juga
tidak ada nafsu makan sehingga terpaksa diinfus.
Beberapa hari kemudian kesehatannya menurun drastis, ia sempat mengalami koma.
Perasaannya tak karuan, tubuhnya sakit sekali. Ia tidak berdaya. Dokter melakuka segala hal
yang menurutnya perlu dilakukan walau tidak banyak memberi perubahan.
Pada suatu malam, Risa bangun dari tidurnya. Ia melihat keluar jendela. Di sana, bintang-bintang
berkelip dengan indahnya seperti permata. Risa membatin apakah ia akan pergi ke sana setelah
meninggal. Lalu berpikir bahwa ia tidak keberatan menjadi bintang. Setidaknya orang-orang bisa
melihatnya di langit malam yang cerah. Ia geli sendiri, sejak kapan pikirannya jadi kekanakkanakan.
Ia menoleh dan melihat Viko sedang bergiliran menjaga malam ini. Viko mengatakan sesuatu
tetapi Risa seakan tidak bisa mendengarnya.
"bagaimana perasaanmu," ulang Viko lebih keras di telinganya. Ia berada di dekatnya. Viko
menggenggam erat tangannya dan meletakkan di pipinya.
Risa tersenyum sebagai jawaban. Di luar kemauannya, ia memiringkan badannya ke kanan lalu
meraba wajah Viko dengan tangannya yang berselang infus. Mula-mula ia meraba rambutnya,
dahi, alis, hidung, pipi, bibir lalu dagunya. Lalu membayangkan wajah Viko dalam gelap. Ia
membuka matanya lagi lalu memandang wajah Viko dihadapannya.
Risa ingin sekali menangis, tangannya agak gemetar, tapi tidak ada air mata yang keluar. Hatinya
menjerit sakit sekali. Ia hanya bisa tersenyum. Senyumnya sedih dan memilukan. Walau ia tidak
berbicara satu patah kata pun namun tampaknya ia sedang bercerita banyak hal kepada Viko.
Viko menatapnya dengan mata merah, berusaha sebisa mungkin tidak menangis.
Risa mengangkat kalung di lehernya, sengaja menunjukkannya pada Viko. Kalung bentuk hati
yang istimewa. Ia mengingatnya dengan sangat jelas. Viko memberikannya pada hari
kepulangan ayahnya dari luar kota. Mereka pun tersenyum. Tanpa sadar Viko menitikkan air
mata. Risa mengusapnya, menggelengkan kepala seakan berkata "jangan menangis" lalu
tersenyum. Risa kembali mengatur letak tubuhnya, menengadah menatap langit-langit lalu mulai tertidur.
Risa mungkin sudah tertidur lamaa sekali. Ia tidak tahu. Yang diingatnya berikutnya adalah
suara-suara orang banyak memanggilnya. Dengan susah payah Risa membuka matanya perlahan.
Mula-mula kbur lalu menjadi jelas seolah ada yang menyorotnya dengan lampu. Ia melihat
orang-orang yang tidak dikenalnya atau lebih tepatnya orang yang dikenalnya tapi tidak bisa
dikenalinya. Pikirannya hampa saat ini.
"kamu bisa mendengarku?"
"dokter, bagaimana kedaannya?"
"kamu bisa mendengarku?"
"kenapa dia belum sadar juga dokter?"
"Anita, kamu bisa mendengarku"
"Anita kamu baik-baik saja" Anita kamu bisa mendengar ayah" Dokter, lakukan sesuatu."
Suara-suara itu begitu ribut. Aku buka Anita, katanya dalam hati. Matanya mulai kabur lagi. Dia
bisa mendengar suara pria yang dikenalnya memanggil namanya diantara keramaian.
"Ris. Ris. Bangunlah Risa."
Risa yang hendak menutup matanya kembali membuka mata namun penglihatannya sudah
sangat kabur sekarang. Ia bisa melihat sosok-sosok dalam bayang-bayang putih yang redup.
Viko.. ia di sini.." aku ingin melihatnya. Namun segigih apapun ia ingin melihatnya, matanya
tetap tidak bisa melihat jelas. Akhirnya ia menyerah. Ia bisa merasakan matanya perlahan
menutup. Kita akan bertemu lagi.
*** Viko tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Ia tak mau mempercayainya. Tanpa sadar ia
melangkah mundur setengah terhuyung, menjauhi tubuh adiknya yang terbaring kaku. Matanya
terbelalak kaget, ia menggeleng-geleng kepala tak percaya sampai merasa dirinya menabrak
dindng di belakangnya. Viko bersandar lemas lalu merosot ke lantai. Ia terduduk di lantai RS
yang dingin. Tidak. Tidak mungkin. Ia tidak menyangka akan kehilangan secepat ini. Viko terhenyak
beberapa lama menatap dalam pandangan kosong ke tempat tidur di depannya, belum sembuh
dari keterkejutannya. Sementara itu dokter menunduk sedih karena tak mampu berbuat apa-apa
lagi. Ayahnya menjerit memanggil-manggil nama Anita sambil menangis tak karuan.
Tak lama kemudian dokter keluar diikuti suster di belakangnya. Sekarang ayahnya menarik
badan Anita lalu memeluknya sambil berkata sendiri dengan sedih. Rambut panjang adiknya
tergerai anggn, kepalanya terkulai di bahu ayahnya, tangannya menjuntai lemas di sisi tubuhnya.
Selama beberapa saat Viko mengira adiknya belum benar-benar meninggal. Tetapi setelah
menunggu lama dalam kekagetannya akhirnya ia tersadar... bahwa adiknya, lebih tepatnya Risa
tidak akan kembali. "maafkan ayah nak. Ayah memang tak berguma..."
Viko tidak ingin terus berada di sini, menyaksikan segala kengerian ini. Dia harus pergi. Tak
peduli ke manapun. Yang pasti ia harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Maka Viko bangkit
dengan kaki gemetar. Dengan limbung ia berjalan keluar. Berjalan dan berjalan... rasanya ia baru
tiba di luar RS. Cahaya matahari di siang hari menyilaukan matanya. Ia berjalan menuji tempat
parkir, hendak mengambil motornya.
Ia sangat sadar. Ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Sebelum tahu apa yang dilakukannya,
ia sudah mengendarai motornya di tengah keramaian lalu lintas. Tiba-tiba saja ia berada di
lapangan basket dan bermain seharian seorang diri. Ia tidak mempedulikan terik matahari yang
menyengat kulitnya atau keringat yang membasahi badannya. Ia terasa bermain tanpa henti
sampai sore. Dengan napas hampir habis, Viko duduk di kursi di ujung lapangan, menatap
lapangan kosong yang sama seperti keadaan hatinya saat ini.
Ia pergi tanpa berpamitan pada ayahnya. Ia tidak perduli. Ayahnya pasti sangat sibuk saat ini. Ia
tidak mau memikirkan apapun. Viko berusaha menutup pikirannya. Setidaknya ia berhasil tidak
memikirkan apa-apa selama beberapa jam kemudian. Dia memacu motornya dengan kencang di
sepanjang jalan mengelilingi kota, berharap angin dingin yang menusuk kulitnya membawa pergi
semua penderitaannya. Viko belum pulang ke rumah, ia menghentikan motornya di tengah bukit yang sepi. Ia
memandang gemerlapnya lampu kota di bawahnya lalu merebahkan diri di lapangan berumput
yang landai. Tubuhnya kelelahan namun ia merasa belum cukup lelah. Viko memandang
hamparan bintang di atasnya, dikendalikannya, ia teringat Risa, betapa Risa suka memandang
bintang di malam hari. Bintang-bintang berkelip seakan tersenyum kepadanya. Tiba-tiba
kepalanya seakan meledak.
"Ris... haruska kamu pergi?"
Hatinya serasa sakit sekali dicabik-cabik. Sangat sakit. Jauh lebih sakit dari yang dirasakannya
sepanjang hari ini. Perasaan sedih yang ditahannya semenjak tadi keluar tidak bisa dibendung.
Air matanya mengalir. Dia tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang
berharga. Sesuatu yang dijaganya seperti menjaga nyawa sendiri. Sampai hari ini tiba.
"mengapa aku bahkan tidak isa mempertahankan apa yang aku miliki," gumamnya pedih.
Andai saja waktu bisa diputar mundur, ia pasti akan menghargai dengan sungguh-sungguh.
Kemana perginya semua orang yang dicintainya. Mengapa mereka semua meninggalkan
sendirian. Di saat ia tahu apa yang membuat hidupnya berani, apa yang membuatnya bersemangat, ia justru
kehilangan. Ia merasa bahagia berada di sisi Risa, hal yang tidak pernah dirasakannya selama ini
ketika bersama orang lain. Ia marah pada dirinya sendiri. Mengapa ia tidak mampu menjaga Risa
dengan baik. Padahal mereka baru saja saling terbuka.
"lalu apa artinya hidupku sekarang Risa?" tanyanya memandang langit yang jauh di atasnya. Ia
ingin dirinya ikut terbang ke sana.
"serahkan dompetmu anak uda," sahut suara berat yang tidak dikenalnya tiba-tiba dari
kegelapan. Perlahan Viko bisa mendengar langkah kaki yang mendekat.
Viko bangkit dengan sigap. Di hadapannya tampak tiga wajah asing, dua diantaranya mengayunayunkan pisau yang berkilap do kegelapan malam. Segera saja ketiga pria itu mengepungnya.
"cepat serahkan uangmu!" kata salah seorang yang berbadan besar sambil memain-mainkan
pisau di tangannya. Viko yang tidak berminat berurusan dengan pria-pria ini, mengambil dompetnya lalu
menyerahkan isinya. Mereka tertawa senang, tampak puas.
"nah sekarang pergilah," kata Viko bersabar.
"penampilannya tidak sekuat nyalinya," kata pria kurus kering sembari mengitari Viko,
memandang penuh minat. "serahkan juga kunci motormu. Cepat!" seru pria bertubuh besar sambil menodongkan pisau ke
arahnya. Viko geram, ia mengepalkan buku-buku jarinya. Ia benar-benar malas meladeni mereka, namun
ia tidak punya pilihan. "pergilah. Kalian sudah mengambil uangku," ucap Viko ekarang tampak garang.
"o... mau nantang ya. Kita lihat saja..."
Detik berikutnya mereka menyerang Vik bertubu-tubi. Viko menghajar mereka satu persatu.
Salah seorang pria itu berhasil melukai tangannya dengan pisau. Viko balas memelintir
lengannya kuat-kuat sehingga pria itu menjatuhkan pisaunya. Lalu meninjunya. Ia menendang,
memukul dan menghantam yang lainnya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Lima menit
kemudian pria-pria itu tumbang berguling kesakitan di rerumputan. Mereka mengumpat lalu lari
terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang.
Napasnya memburu, jantungnya berdetak kencang. Viko melihat salah satu pisau mereka
tergeletak di dekat kakinya. Masih terengah-engah, Viko mengangkat dan memandang kedua
tangannya. Kulit pada buku-buku jarinya mengelupas dan berdarah saking kerasnya ia meninju
pria-pria tadi. Ia melihat lengannya yang tersayat lebar dan dalam, darah mengucur tanpa henti.
Anehnya, ia sama sekali tidak merasakan sakitnya.
Luka dalam hatinya jauh lebih sakit berkali-kali lipat dibanding luka akibat berkelahi. Viko
menyalakan motornya. Ia harus hidup. Ia tidak bleh begini terus. Mungkin ia telah kehilangan
segalanya. Hidupnya tidak akan seindah dulu. Namun, ia harus bertahan demi ayahnya. Ayahnya
juga sama menderitanya seperti dirinya. Mulai saat ini, dirinya merupakan satu-satunya orang
yang membuat ayahnya bertahan.


Can You See Me Karya Sonya Michibata di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Benar kata Risa. Ia tidak benar-benar kehilangan Risa. Risa akan terus hidup dalam hatinya
selama ia masih mempunyai kenangan akan dirinya. Risa pernah datang dalam hatinya dan tidak
akan pergi dari situ. Viko memakai helmnya dan pulang kembali ke rumah.
KEMBALI Risa membuka mata, pikirannya masih mengambang. Pertama kali terlihat olehnya langit-langit
kamar, ia mengangkat tangannya, membalik-baliknya. Tangannya tergores di sana-sini, luka di
sikunya mengering. Ini aku..., aku sudah kembali, pikirnya. Perutnya mual, bibirnya kering. Ia
Pedang Keadilan 29 Pendekar Pulau Neraka 39 Warisan Iblis Gadis Ketiga 3
^