Pencarian

Udah Belom 2

Udah Belom Karya Laurentia Dermawan Bagian 2


terkenal baik pada semua cewek. Tapi untuk kasus kali ini, Marsya merasakan
hal yang berbeda. Dan kalau dibiarkan, Vino benar-benar akan menjadi milik
orang lain! "Eits!" ujar salah seorang teman Marsya sambil menarik lengan cewek itu.
Marsya menoleh. "Kita tunggu pulang sekolah aja."
*** Sepulang sekolah, Nesya kebelet pipis. Jadi dengan semangat "45, ia berlari ke
toilet cewek dan meninggalkan Kiara yang menunggunya di gerbang sekolah.
Marsya dan gengnya yang melihat Nesya sendirian di toilet, sengaja
membuntuti Nesya. Begitu Nesya masuk ke bilik toilet, Marsya cs
mengeluarkan tali yang sudah mereka persiapkan. Hendel pintu bilik yang
dimasuki Nesya segera diikat dengan hendel pintu bilik sebelahnya. Jelas,
Nesya nggak bakalan bisa buka pintu dari dalam.
Nesya yang tahu ada orang iseng menguncinya dari luar, kontan panik. "Hei!
Jangan iseng dong!" serunya keras-keras.
"Makanya, jadi cewek jangan kegenitan!" sahut salah satu personel gengnya
Marsya dengan suara nyolot.
Nesya makin panik plus bingung. Kegenitan" Sama siapa" "Ng... emangnya gue
kegenitan sama siapa?" tanya Nesya polos.
"Lo emang bego ya!" seru teman Marsya lainnya yang justru kesal mendengar
pertanyaan polos Nesya barusan.
"Supaya lo bisa koreksi diri, lo bakal kami kurung di sini sampai tukang bersihin
toilet nemuin lo! Bye-bye!"
Marsya dan gengnya pun berlalu dengan tawa mirip nenek sihir. Eh, bukan
mirip deng, tapi udah ngelebihin ketawanya nenek sihir!
Nesya berhenti minta tolong. Percuma. Lebih baik ia menunggu tukang
bersihin toilet, atau Kiara, atau siapapun orang baik yang akan
menemukannya. Duh..., mana tas dan HP dititipkan ke Kiara pula! Jadi benarbenar nggak ada jalan selain berharap dan berdoa supaya nggak ada makhluk
gaib penunggu toilet yang mengganggunya! Huaaa!
Di sela-sela kebetean menunggu, mata Nesya menemukan sesuatu yang
menarik: tembok toilet yang penuh dengan coretan-coretan kreatif para murid
cewek! Dan karena nggak ada kerjaan, ia pun membaca tulisan-tulisan itu
sambil tersenyum geli sendiri.
I love Vino! Dia bakalan jd tunagan gw lho.
Eh, pd dtg ya ke pernikahan kami yg bakal diadain di White House sono
(JL-IPS 4) White House muka lo rata!
Vino tuh punya gw kaleee!
(AD cutez-anak IPA donkz)
Buat semua anak IPS 2, you rock, guys!!
Ben, I love u, darling! Mmuah!
Buat IPA 2, aloha yuhuuu!!
(Dina-IPA 2) Apa sih bgsnya Vino"! Jls2 Mike lbh kren!
Lbh cool pula! Mike, I love u!
^^ (NA-sastra"s da best)
Mike" Nesya makin tertarik membaca "chatting"-an gratis dengan inisial nama
yang super nggak jelas di dalam toilet ini. Bahkan ada yang saking kurang
kerjaannya, sampi mencuplik lirik lagu untuk Mike!
Eh, ni lgu fav Mike! Gw tau dr anak mading! Pst bt gw.
(Hanni-IPS 2-no absen 22)
What if I never knew What i I never found you I"d never have this feeling in my heart
How did this come to be I don"t know how you found me
But from the moment I saw you
Deep inside my heart I knew
Baby you"re my destiny
You and I were meant to be
With all my heart and soul
I give my love to have and hold
And as far as I can see You were always meant to be my destiny
Nesya tertegun sesaat setelah selesai membaca lirik lagu tersebut. Dia tau lagu
itu. Di celah-celah ingatannya yang hilang, dia merasa begitu familier dengan
lagunya Jim Brickman yang berjudul Destiny itu. Apa benar lagu itu nggak
memiliki makna tersendiri bagi dirinya" ini bukan tentang Mike dan Kiara, tapi
lebih kepada hati kecilnya. Yang gundah. Nesya tahu dia punya kenangan yang
harus diingatnya segera. Tapi apa"!
SREK... SREK... terdengar langkah seseorang di luar bilik toilet.
Nesya tersadar. "Ada orang di luar"!" serunya.
Ibu tukang bersih-bersih toilet yang sudah setengah baya itu langsung
membukakan pintu toilet. "Masya Allah! Ada orang di sini!"
Begitu pintu terbuka, Nesya tersenyum lega. "Maksaih ya, Bu!" ujarnya, lalu
berlari keluar toilet dan secepat mungkin menemui Kiara yang sudah
menunggunya. Mungkin lebih baik cerita tentang toilet dihapus aja dari
ingatannya. Karena kalo nggak, urusan dengan kakak-kakak kelas tadi bisa
tambah runyam! TUJUH WAKTU semakin bergulir. Namun, baik Kiara maupun Vino masih keukeuh
dengan prinsip masing-masing.
Vino menginginkan ingatan Nesya kembali.
Kiara tidak ingin ingatan Nesya kembali.
Hampir setiap hari Vino mendekati Nesya dan menceritakan segalanya tentang
Mike. Nesya yang menganggap Mike adalah mantan pacar Kiara
mendengarkan dengan setia dan bersemangat. Yah, walaupun dia nggak ingat
Mike, setidaknya Nesya peduli tentang "mantan kekasih" sahabatnya itu.
Namun, di saat yang sama, dengan penuh kewaspadaan Kiara justru
mengawasi Nesya dengan ketat. Sebisa mungkin ia menjauhkan Nesya dari halhal yang berhubungan dengan Mike. Mungkin memang nggak ada yang tau
betapa dilemanya hati Kiara. Di nggak mau Nesya melupakan Mike begitu aja,
tapi dia juga nggak mau kalo ingatan itu justru akan membuat Nesya tambah
terluka. Padahal, baik Vino maupun Kiara nggak ada yang benar-benar tau bagaimana
perasaan Nesya. Nggak ada yang tau apa yang benar-benar Nesya inginkan.
Bahkan Nesya sendiri pun nggak tau apa yang sebenarnya ia inginkan saat ini.
*** "Tebak ini siapa?"
Vino tersenyum geli mendengar pertanyaan dari orang yang baru aja menutup
kedua belah matanya dari belakang itu. "Pasti Eca lemot," jawab Vino, sengaja
meledek. Nesya melepaskan tangannya dan muncul di hadapan Vino. "Kok lo manggil
gue Eca sih" Ikut-ikutan Kiara ya?" tanya Nesya bingung.
"Itu kan nama kecil elo. Gue masih inget kok, kalo elo tuh...," Vino tak
melanjutkan kalimatnya. Ia mencubit hidung Nesya.
Nesya meringis kecil. Mungkin Nesya yang dulu akan tersinggung bila diejek
seperti itu. Tapi berhubung Vino yang mengucapkannya, Nesya pun udah
terbiasa. Yah, beberapa bulan ini mereka memang jadi teman akrab.
"Gue inget semua hal yang lo ceritain ke gue," sahut Nesya bangga.
"Contohnya?" tantang Vino iseng.
Nesya memungut bola basket di sampingnya dan memainkannya dengan
kedua tangan. "Gue inget lo bilang kalo lo latihan setiap hari, kecuali hari Sabtu
dan Minggu. Lo juga nggak suka makanan yang bersantan. Lo selalu mulai
mendribel bola dengan tangan kiri. Lo populer banget di sekolah sampe
tembok toilet cewek pun penuh dengan nama lo..."
"Eh, kok toilet cewek dibawa-bawa sih" Jelek amat?" potong Vino.
"Kenyataannya emang gitu kok," jawab Nesya cuek.
Vino tersenyum manis. "Omong-omong, yang lo inget itu semuanya tentang
gue" Bukan tentang orang lain?" pancing Vino tanpa sadar.
Sebenarnya ia juga nggak tau kenapa bertanya seperti itu. Tapi satu hal yang
pasti, hatinya merasa sangat senang karena hal pertama yang Nesya ingat
justru adalah semua hal yang berhubungan dengan Arvino Jelandra, bukan
orang lain! Nesya yang sadar bahwa Vino sedang kege-eran itu langsung memalingkan
wajah. "Ya nggak cuman elo sih. Masih banyak hal yang gue inget..."
"Oya?" Vino merebut bola dari tangan Nesya dan mendribelnya ke tengah
lapangan di sore hari yang cerah itu.
Nesya memerhatikan Vino sambil tersenyum lembut. Entah apa yang ada di
otaknya saat ini. Tapi yang pasti, seiring berjalannya waktu yang sudah mereka
habiskan bersama selama ini, hatinya mulai merasakan getaran aneh bila
bersama Vino. Cintakah namanya" Ah, terlalu cepat!
"Gue juga inget semua hal yang lo ceritain tentang Mike," seru Nesya
sekenanya. Vino tersentak. Tubuhnya mematung begitu mendengar nama Mike. Kenapa
sesaat tadi dia bisa melupakan Mike sama sekali dan malah menikmati saatsaar bersama Nesya" Lagi pula, kenapa Nesya harus mengingatkannya akan
Mike" "Gue inget, Mike itu senior lo, kapten basket yang paling lo kagumi. Mike juga
punya banyak persamaan dengan elo. Dia nggak suka makanan bersantan. Hal
yang paling sering Mike lakukan kalo udah ketemu sama bola basket adalah
memutar-mutar bola dengan telunjuk kanannya..."
Vino menoleh, menatap Nesya dengan panik. Kenapa dia merasa panik"
Kenapa saat Nesya ingat semua ucapannya tentang Mike, justru hatinya
merasa gundah" Kenapa jauh di lubuk hatinya, dia merasa nggak rela" Dia
nggak ingin Nesya membicarakan tentang Mike saat ini!
"oh ya ada lagi. Mike nggak suka minum kopi, karena ada kafeinnya. Dia juga
syang banget sama ceweknya. Dan satu-satunya hal yang lo iriin dari Mike
adalah..." "...gue belom pernah menyayangi seseorang seperti Mike menyayangi
ceweknya," lanjut Vino sambil tertunduk. Ekspresi wajahnya kosong.
Nesya menghampiri Vino sambil tersenyum lembut. "Lo nggak perlu iri sama
Mike. Semua orang punya jalan hidup masing-masing. Dan gue yakin, di dunia
ini pasti banyak orang yang iri sama lo."
"Apa Mike juga pernah iri sama seseorang?" sela Vino cepat.
Nesya sempat terdiam. Tapi beberapa detik kemudian, ia menjawab dengan
tenang. "Gue yakin, Mike pun pernah iri sama orang lain."
Vino nggak berhenti menatap Nesya. Entah kenapa, saat ini hatinya merasa
begitu bersalah. Logika menyuruhnya menjelaskan yang sebenarnya kepada
Nesya, tentang masa lalu Nesya, terutama tentang Mike. Tapi hatinya berkata
lain. Jauh di lubuk hatinya, ia muli takut ingayan Nesya tentang Mike kembali.
Dan yang lebih parah, ia nggak tahu kenapa ia merasa seperti itu.
*** "Gue nggak tahu harus gimana, Gi," curhat Vino, saat ia dan Egi sedang
nongkrong di kantin sekolah.
Egi menyedot softdrinknya perlahan. "Masalah apaan sih?"
Vino memainkan sedotan yang ada di botol softdrinknya. "Nesya."
"Nesya?" ulang Egi, lumayan kaget plus penasaran.
Pasalnya, selama ini Vino nggak pernah curhat tentang cewek. Lha, kalo
sekarang si cowok populer itu tiba-tiba curhat, berarti memang ada appaapanya!
"Gue mulai ragu sama keputusan gue sendiri," ujar Vino, nggak bisa menutupi
rasa gundahnya. "Maksud lo?" tanya Egi, mulai menyimak dengan serius.
Vino menatap Egi. "Gue mulai ragu apakah gue harus membantu Nesya
memulihkan ingatannya, atau malah seperti Kara...
Egi yang memang sudah tau cerita lengkap mengenai permasalahan Nesya,
dan juga tau bahwa selama ini Vino mempunyai misi yang berbeda dengan
Kiara, hanya bisa menghela napas. Jujur, sebagai pihak luar, ia juga bingung.
Sebenarnya permainan seperti apa sih yang sedang dimainkan oleh Vino dan
Kiara ini" Kalo memang permainan takdir, bukankah lebih baik berhenti
bermain" "Kenapa lo bisa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Egi penasaran. Vino terdiam.
Egi melanjutkan pertanyaan. "Apa alasan lo kayak Kiara" Demi... Nesya" Takut
dia tambah terluka?"
Vino tersenyum sinis. "Bukan demi Nesya, tapi demi diri gue sendiri..."
Egi yang tau maksud Vino, nggak bisa berkata-kata lagi.
"Gue nggak tau ini namanya apa. tapi gue mulai cemburu kalo Nesya inget
tentang Mike. Misi awal gue memang supaya Nesya ingat sama Mike. Tapi
sekarang, gue malah takut kalo hal itu terjadi. Gue pengen Cuma ada gue di
ingatannya. Apa gue egois?" kata Vino makin bingung dengan dirinya sendiri.
"Lo bukan egois, tapi nggak konsisten," sahut Egi kesal. "Gue nggak ngerti
sama jalan pikiran lo, Vin. Kalo Kiara nggak mau ingatan Nesya pulih karena
takut Nesya terluka, itu masih bisa gue terima. Tapi lo" Lo bener-bener nggak
konsisten sama misi lo sendiri." Egi tersenyum sinis. "Vin, di antara ratusan
cewek di sekolah ini, kenapa harus Nesya sih?"
Vino hanya tertunduk tanpa bisa membantah ataupun membela diri. Benar
kata Egi, dia memang nggak konsisten. Tapi bukan kemauannya juga kan,
untuk nggak konsisten seperti ini"!
"Gue juga nggak tau kenapa harus dia," jawab Vino.
"Kalo lo memulao sebuah hubungan atas dasar kebohongan, percaya deh sama
gue, nggak bakalan berhasil," ujar Egi serius.
Vino menoleh ke arah Egi. "Makanya, gue berusaha cerita ke Nesya kejadian
yang sebenarnya. Mungkin kalo nggak bisa dengan kata-kata, gue bisa
langsung ngajak dia ke tempat Mike... ke makamnya."
Egi hanya bisa menatap Vino dengan perasaan campur aduk. Nggak pernah dia
membayangkan akan melihat Vino yang seperti ini. Vino yang tiba-tiba
berubah jadi nggak mantap. Vino yang nggak tau harus memilih. Dan satu hal
yang paling terlihat... Vino yang sedang jatuh cinta.
*** "Gue liat lo makin deket sama Vino," kata Kiara curiga. Hari itu kebetulan Kiara
sedang main di rumah Nesya, sebelum berangkat les inggris.
Nesya langsung salah tingkah. "Ah, nggak juga."
Kiara yang tau gelagat aneh sohibnya ini nggak bisa berdiam diri lagi. "Lo suka
ya sama Vino?" cecar Kiara.
Tanpa berani menatap Kiara, Nesya berkata, "Hm... gue merasa nyaman aja
kalo ada di samping dia.."
"Lo harus jauh-jauh dari dia, Ca," potong Kiara dingin.
"Lo kenapa sih, Ra" memangnya Vino nggak pantes buat gue?" Nesya mulai
terusik dengan komentar-komentar Kiara.
Kiara menjawab dengan yakin, "Yap, dia memang nggak pantes buat lo."
"Terus, yang pantes buat gue siapa?" tantang Nesya.
Mike! Seru Kiara dalam hati. Andaikan dia bisa menyebut nama Mike dengan
keras. "Vino kan baik, cakep, pinter, temen kecil gue pula. Jadi gue rasa, kalo gue suka
dia, itu hal yang wajar. Sehari aja gue nggak ngebahas dia, rasanya ada yang
aneh, Ra..." Kiara tersentak. Bukan baru-baru ini aja, Nes! Dari dulu pun tiada hari tanpa lo
nyebut nama "Vino"! dan semuanya pun memang gara-gara Vino!
Kiara mulai panik. "Ca, sebenernya ada yang mau gue ceritain ke elo..."
"Tentang?" tanya Nesya bersemangat.
"Tentang... hm... Mike! Sebenernya dia..."
"Ah, udahlah! Gue udah bosen denger cerita tentang dia. Setiap hari Vino
cerita tentang Mike sampe gue curiga jangan-jangan dia homo. Tapi untung,
akhir-akhir ini dia mulai males ngebahas Mike. Lo juga bukannnya mau
ngelupain mantan lo itu?" sela Nesya bete.
Kiara terenyak. Dia benar-benar nggak tau kesalahan apa yang udah
diperbuatnya selama ini sampe-sampe Nesya bosan mendengar cerita tentang
Mike. Kalo aja dia tau bahwa nantinya Nesya akan menyukai Vino, lebih baik
sejak awal dia menceritakan semuanya tentang Mike. Dia pun nggak perlu
berbohong segala. Dia akan memilih Nesya terluka karena kehilangan Mike
daripada terluka karena Vino.
*** Egi melongo. "Gue nggak bisa ngebiarin ini semua, Gi," curhat Kiara. Kedua remaja itu tak
menyadari mereka kini akrab. Yang pasti, Kiara selalu curhat kepada Egi saat
les Inggris. Padahal dia tau Egi sohibnya Vino, tapi tetap aja dia percaya pada si
cowok bawel itu. "Wait, wait! Jadi maksud lo?" tanya Egi pelan sambil melirik ke arah Mr. Bryan.
Jangan sampai guru les mereka itu memergoki mereka ribut saat pelajaran
berlangsung.

Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kiara menghela napas. "Gue bakal ceritain semuanya ke Nesya."
Egi kaget luar biasa. Gimana nggak" Dalam waktu kurang dari 24 jam, dia harus
mendengar kedua temannya berubah pikiran dan jadi nggak konsisten! Dan
parahnya, sekarang Vino dan Kiara malah tukeran misi. Selabil itukah anak
SMA" "Gi! Lo denger nggak sih?"
Egi tersadar. Perlahan dia tertawa konyol. "Asli, gue bener-bener speechless
ngedengerin elo dan Vino!"
Mr. Bryan menoleh ke arah mereka. "What didi you mean with "speechless?"
Egi dan Kiara mematung. "Hm... I meant... hm... sorry, Sir. It was just... hm... human error! Technical
mistake! Hahaha, ujar Egi, campuran ngaco dan jayus.
Mr. Bryan yang mengerti maksud Egi itu hanya merengut kecil, lalu
melanjutkan pelajaran. Egi menghela napas lega.
Kiara mengerutkan dahi, bingung. "Maksud lo?"
"Sekarang lo dan Vino tukeran misi. Tau nggak?" ujar Egi.
Butuh beberapa menit bagi Kiara untuk memahami ucapan Egi. Dan begitu
sadar, matanya langsung terbelalak. "Nggak konsisten banget sih dia!" serunya
kesal. Egi langsung menyahut cepat. "Sama kayak lo!"
Kiara menoleh ke arah Egi dan langsung mati kutu.
"Sama kayak siapa?" tanya Mr. Bryan dengan logat bulenya yang kacau abis.
Semua orang menoleh ke arah Egi. Kali ini giliran Egi yang cengengesan nggak
jelas. "Hehehe... No, Sir. Hm... sama kayak Brad Pitt!"
*** Sore itu gerimis. Vino mengintip ke luar dari balik tirai jendela kamarnya.
Tetesan air yang perlahan-lahan menderas memupuskan semangat latihan
basket Vino. Vino memang paling nggak suka hujan. Nggak ada alasan khusus
sih. Dia hanya merasa hujan akan mendatangkan banyak penyakit, membuat
jemuran nggak kering, prang yang kehujanan pun akan basah, kotor, dan
ujung-ujungnya masuk angin. Apa sih bagusnya hujan" Kalo ada orang yang
bilang hujan itu romantis, di mana sisi romantisnya"
Setengah jam telah berlalu. Kini sudah pukul lima sore. Hujan mulai reda. Vino
masih berharap hujan akan berhenti agar ia bisa bermain basket di taman.
Vino berdiri di teras depan sambil memerhatikan titik-titik air yang masih
membasahi rerumputan di halaman depan rumahnya. Perlahan ia berjalan ke
pintu pagar. Diliriknya lapangan basket yang terletak di ujung jalan. Kepalanya
sedikit basah karena tertetesi gerimis.
Vino tertegun sesaat. Sekilas tadi ia seperti melihat sosok Nesya berlari ke arah
taman. Mungkinkah hanya perasaannya saja karena kangen pada Nesya"
Karena beberapa hari ini dia berusaha keras untuk menjauh dari Nesya"
Karena dia belum yakin dengan apa yang harus dilakukannya"
Tanpa pikir panjang lagi, Vino membuka pintu pagar dan berlari keluar menuju
taman. Ah, masa bodoh. Biar saja dia dianggap konyol. Yang penting sekarang
ini, dia ingin memastikan itu Nesya atau bukan!
*** Nesya duduk di ayunan. Entah apa yang membawanya ke sini. Sekedar ingin
menenangkan diri, untuk meredakan resah hatinya" Kalo memang iya, kenapa
hatinya masih gundah" Benaknya terasa penuh, seolah-olah ada bagian dari
ingatannya yang memaksa keluar. Seolah-olah ada kenangan tersendiri yang
memang seharusnya dia ingat. Dia butuh jawaban. Dia butuh tempat
menenangkan diri... "Eca?" Nesya mendongak. Vino berdiri di hadapannya sambil ngos-ngosan. "Lo habis
maraton?" tanya Nesya sekenanya.
Vino mengembuskan napas lega. "Lo lagi ngapain?"
Nesya menatap rerumputan di bawah kakinya. "Main aja," jawabnya pelan
tanpa ekspresi. "Main?" ulang Vino bingung.
"Iya!" Nesya mengangguk yakin. "Yah... gue merasa, sore-sore begini, apalagi
habis hujan, kayaknya enak ya, main di taman. Kayaknya gue sering kok
begini..." Vino menaikkan alis, tambah bingung. "Memangnya biasanya kalo sore lo
ngapain?" "Yah... kadang gue di kamar aja. Atau pulang sekolah, gue suka main ke rumah
Kiara sampai sore..."
Hening sesaat sampai akhirnya Vino membuka mulut. "Mulai besok, lo pergi
dan pulang sekolah bareng gue aja."
"Hah?" Nesya menatap Vino bingung.
Vino jadi salah tingkah. "Hm... di rumah ada mobil Mama yang nganggur. Jadi
mulai besok, gue bawa mobil ke sekolah. Lo ikut gue aja."
"oh, nggak usah! Gue bisa kok berangkat dan pulang sendiri!" Nesya nggak
enak hati. Lagi pula, kalo dia bareng Vino setiap hari, bisa didamprat lagi sama
Marsya. Belom lagi fans lainnya. Weleh-weleh!
"Maksud gue, kita kan tetanggaan. Jadi sekalian, gitu," tambah Vino, takut
Nesya makin salah paham. Nesya merasa dadanya sedikit sakit saat mendengar ucapan Vino barusan.
Tetanggaan"hanya karena tetanggaan" Hah! nesya berharap terlalu banyak.
"Oh iya, ya. gue kan emang tetangga lo ya," ujar Nesya, memaksakan senyum.
"Eh... bukan gitu..."
"Oke deh, kapan-kapan kita pergi-pulang sekolah bareng. Thanks ya!" seru
Nesya sambil turun dari ayunan dan beranjak meninggalkan taman.
"Eca!" panggil Vino sambil menahan lengan Nesya. Nggak hanya itu, perlahan
kedua tangan Vino meraih tangan Nesya.
Nesya menoleh. Tatapannya penuh tanya. "Kenapa, Vin?" Nesya mematung,
nggak nyangka Vino akan memperlakukannya seperti ini. Di satu sisi dia kaget,
tapi di sisi lain, dia juga sangat senang.
"Ca... hm... jadi pacar gue ya...," tembak Vino langsung.
Nesya masih nggak percaya. "Maksud lo?"
Vino menghela napas, meyakinkan diri sendiri, lalu menatap Nesya dalamdalam. "Buat gue, lo lebih dari sekadar teman kecil... gue sayang sama elo, Ca."
Nesya tertegun sesaat. Bukan karena penembakan Vino, melainkan karena
rasanya kejadian seperti ini pernah dialaminya. Tapi dengan siapa"
"Ca...?" "Ya?" sahut Nesya tersadar.
"Jadi... lo mau nggak...?" tanya Vino sekali lagi.
Perlahan Nesya tersenyum manis. Konyol kalo ia nggak menerima Vino saat ini.
Konyol kalo ia terus-menerus memikirkan hal yang bahkan ia pun nggak tau
nyata atau nggak. Konyol kalo ia harus meladeni Marsya dan gengnya. Dan
memang akan sangat konyol kalo ia membohongi perasaannya terhadap Vino.
Jadi... "Ya, Vino, gue mau..."
*** Pada hari pertama Nesya dan Vino pergi sekolah bareng dengan status resmi
pacaran, Kiara, Egi, dan satu sekolah heboh! Bagi anak-anak yang lain,
kehebohan itu terjadi karena Vino, i Mr. Populer itu akhirnya resmi
menggandeng seorang pacar, dan yang pasti bukan Marsya. Bagi Kiara dan Egi,
heboh karena... kegilaan apalagi sih yang sedang Vino mainkan"
"Mau lo apa sih"!" bentak Kiara. Saat itu mereka berada di belakang sekolah.
Nesya sendiri sedang ditangani oleh Egi dengan trik persuasif yang memang
sudah menjadi bakat Egi. Ya, Kiara menyuruh Egi mengobrol dengan Nesya,
supaya dia dan Vino bisa bicara empat mata.
"Bukan urusan lo," sahut Vino singkat.
"urusan Nesya adalah urusan gue. Gue nggak habis pikir sama otak lo yang
katanya nyaris jenius itu. Bisa-bisanya lo pacaran sama Nesya!?" seru Kiara,
nggak bisa menutupi rasa kecewanya.
Vino langsung membela diri. "Memangnya kenapa kalo gue pacaran sama
Nesya" Ganggu elo?"
Kiara menatap Vino dingin. "Bukan ganggu gue, tapi ganggu Mike."
Vino tersentak. "Jangan bawa-bawa Mike dalam masalah ini."
"Lo lupa ya kalo Nesya itu pacarnya Mike?" Pertanyaan Kiara membuat Vino
merasa bersalah. "Lo lupa kalo tujuan awal lo adalah untuk mencari keadilan
buat Mike. Lupa ya, kalo orang yang sebenernya Nesya sayangi bukanlah elo,
tapi Mike?" "Buat Nesya, Mike adalah masa lalu. Selama ini gue udah berusaha untuk
mengingatkan Nesya akan Mike. Tapi toh nggak berhasil. Jadi kalo sekarang
orang yang Nesya sayangi justru adalah gue, baik lo ataupun Mike sekalipun ya
harus bisa nerima," kata Vino, kaget dengan ucapannya sendiri.
"Lo jahat!" Vino terenyak. "Lo bener-bener jahat! Dulu, gue selalu beranggapan kalo lo itu jahat. Dan
sekarang, gue baru bener-bener tau seberapa jahat diri lo!" Kiara tersenyum
sinis. Vino menatap Kiara dengan dingin. "Kalo lo bilang gue jahat, terus yang baik
itu seperti apa?" Kiara terdiam. "Seperti elo, begitu?" lanjut Vino. "Seberapa pun rasa sayang Nesya pada
Mike, tetap nggak akan mengembalikan Mike ke dunia ini. Dan kalo gue
pengen Nesya melupakan Mike, apakah itu berarti gue jahat" Gue nggak mau
membohongi perasaan gue sendiri. Gue nggak pengen membiarkan Nesya
terus-menerus hidup dalam bayangan Mike. Dan apakah itu berarti gue jahat"
Gue nggak mau kami membuang masa depan yang seharusnya bisa kami mulai
sekarang. Apakah itu jahat?" lanjut Vino dengan perasaan campur aduk.
Kiara hanya bisa membalas tatapan Vino dengan bingung. Jangankan Vino, ia
pun nggak tau apa yang harus dilakukan saat ini.
"Sori, Ra, gue punya definisi "baik" dan "jahat" menurut kamus gue sendiri," ujar
Vino datar, lalu berbalik dan meninggalkan Kiara yang masih mematung.
*** "Dasar cewek genit!" bentak Marsya penuh emosi. Ia menuding Nesya di pojok
koridor, dekat gudang sekolah. Tadi, sewaktu keluar kelas hendak pulang.
Nesya langsung didekati Marsya cs dan "digiring" ke tempat ini.
Nesya hanya bisa terdiam. Bukan karena takut, tapi karena dia nggak tau
gimana harus merespons. "Kenapa" Lo takut"! Kalo baru segini aja udah takut, jangan jadi pacarnya
Vino!" seru salah satu teman Marsya yang juga ada di lokasi kejadian.
Nesya berusaha tersenyum. Tatapannya polos. "Hm... sebenernya... apa
salahnya kalo gue dan Vino pacaran?" tanyanya.
"Lo nanya apa salahnya" Salah besar! Vino itu punya gue!" tegas Marsya.
Wush! Serasa ada angin yang berembus di wajah Nesya. Ucapan Marsya
menyadarkan Nesya akan sesuatu. Cewek-cewek di hadapannya ini udah pada
nggak waras! "Punya lo?" sejak kapan Vino jadi barang" sori ya, tapi bukannya lo mantan
pacarnya Vino" Dan bukankah yang namanya MANTAN berarti nggak punya
hak lagi?" Nesya mulai nyolot. Sekarang ini Vino udah jadi pacarnya. Jadi wajar
dong kalo dia lebih berhak daripada Marsya yang hanya sekadar mantan"
Darah Marsya naik sampai ke ubun-ubun. Dilayangkannya tangan ke pipi
Nesya. Nesya yang kaget langsung menutup mata. Tapi beberapa detik berlalu,
Nesya merasa tamparan itu nggak mendarat di pipinya. Perlahan ia membuka
mata, dan dilihatnya Vino sedang menahan lengan Marsya kuat-kuat.
Vino mengempaskan tangan Marsya dengan kasar. "Sori ya, Sya, tolong jangan
ganggu cewek gue lagi," ujar Vino dingin sambil menggandeng tangan Nesya.
Marsya yang merasa terhina makin nggak bisa mengendalikan emosinya. " Apa
sih bagusnya dia dibanding gue!?"
Vino berhenti sesaat, tanpa menoleh. "Bagusnya adalah, gue lebih sayang dia
dibanding lo." Nesya merasa pipinya menghangat. Jujur, ia senang mendengar Vino
membelanya seperti tadi. Mereka kembali melangkah, masih sambil bergandengan tangan,
meninggalkan Marsya cs yang masih terlongo dan shock.
*** "sori ya, Vin. Habis tadi pas keluar kelas, mereka udah nyegat gue. Mana
pelajaran Bu Endang ngaret banget," keluh Nesya. "Kita mau langsung
pulang?" "Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Vino, mulai ber-"aku-kamu". "Aku
mau jalan-jalan. Hari ini kan tepat empat bulan sejak aku kecelakaan. Jadi aku
mau..." "Kenapa sih hari kecelakaan aja kesannya jadi istimewa banget?" Vino refleks
bertanya begitu mendengar Nesya menyebut-nyebut soal "kecelakaan".
Nesya mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa" Buat aku sih itu memang
istimewa. Habis, sejak kecelakaan itu, kata dokter sebagian memoriku hilang.
Yang kuingat Cuma Mama, Papa, Kiara.."
"Cuma karena itu?" tanya Vino, menutupi ketakutannya sendiri. Pasalnya, hari
di saat Nesya dan Mike kecelakaan adalah hari ulang tahun Mike!
"Memangnya karena apa lagi?" Nesya balik bertanya.
Vino tersadar. "Hm, bukan apa-apa. kita ke toko buku aja yuk," ujar Vino
akhirnya. Nesya hanya mengangguk pelan.
Mobil baru memasuki tol. Entah kenapa, bagi Vino, perjalanan terasa jauh
sekali. Dia merasa toko buku yang harusnya hanya bisa ditempuh dalam
setengah jam itu berubah jadi berabad-abad. Dia ingin cepat-cepat sampai di
toko buku bersama Nesya. Dia nggak mau pikiran tentang Mike menghantui
dirinya seperti saat ini.
Yup, lagi-lagi Vino merasa bersalah pada Mike. Benar kata Egi, sebuah
hubungan yang diawali kebohongan nggak akan ada artinya. Bener juga kata
Kiara, darimana Vino tahu Nesya benar-benar menyayanginya atau nggak"
Kalo Nesya tau tentang Mike, apakah dia akan tetap mencintai Vino"
Setelah beberapa menit dilanda kebimbangan, akhirnya Vino mengambil
keputusan. Mungkin keputusan ini salah. Atau mungkin juga semuanya akan
jadi tambah berantakan. Tapi kesempatan ini memang hanya datang satu kali.
Jadi... "Lho, kita mau ke mana?" tanya Nesya, melihat mobil terus melaju melewati
toko buku yang seharusnya mereka datangi.
Vino menoleh sekilas. "Ke tempat Mike..."
"Mike?" dahi Nesya merengut. Perasaannya nggak enak. "Ngapain ke tempat
Mike?" "Hari ini tepat ulang tahun Mike yang ke-18 tahun empat bulan," sahut Vino
pelan. "Hah" memangnya mau dirayain" Kok aneh sih ada orang yang ngerayain ulang
tahun pas udah lewat empat bulan?" kata Nesya, yang kemudian tersadar.
"...empat bulan...?"
Vino mengangguk yakin. Ditahannya perih yang sejak tadi sudah mengumpul di
dadanya. "Tepat empat bulan."
"Maksud kamu?" tanya Nesya, mulai curiga. Perasaannya makin nggak enak.
Vino sendiri enggan berbicara lagi. "jangan bilang kalo dulu aku kecelakaan
bareng Mike..." Vino masih terus diam. "Ya Tuhan... ada apa sih sebenarnya"!"
seru Nesya kesal. Vino menepikan mobil. Ditatapnya Nesya yang masih terlihat kalut dan
kecewa. "Ca..."
"Mike itu mantan pacarnya Kiara, kan" terus kenapa aku bisa kecelakaan
bareng dia" Terus..."
"Eca!" bentak Vino, menyadarkan kekalutan Nesya yang mulai berlebihan.
Ekspresi wajah Nesya kosong. Air matanya mengalir. Entah apa yang dirasakan
Nesya saat ini. Tapi yang pasti, Vino bisa merasakannya.
"Aku nggak mau liat kamu kayak begini. Lebih baik kita ke tempat Mike, dan
kamu bakal tau semuanya," ujar Vino lirih, sambil hendak melanjutkan
perjalanan. Tapi belum sempat Vino melajukan mobil, tiba-tiba Nesya membuka pintu dan
turun dari dalam mobil. Refleks Vino ikut turun dan menahan lengan Nesya.
"Kamu mau apa"!" tanya Vino keras.
"Aku mau pulang!" seru Nesya sambil menyeberang jalan dan hendak
menghentikan taksi di tengah jalan raya.
Vino mengejar dan menahan lengan Nesya dengan lebih kuat. "Kita pulang
sama-sama!" "Aku mau pulang sendiri! Aku nggak mau tau tentang Mike! Aku nggak kenal
Mike dan nggak perlu kenal dia!" seru Nesya lebih keras.
Vino menatapnya nanar. "Kalo memang kamu nggak mau inget tentang Mike,
oke! Aku nggak bakal nyebut nama Mike lagi. Aku akan menganggap Mike
nggak pernah ada..."
Nesya tersentak. Tatapannya kosong. Dia seperti teringat sesuatu.
"Ca..." kita pulang ya?" kata Vino lembut sambil mendekati Nesya.
Nesya mengangguk pelan. Tapi belum sempat mereka melangkah untuk
menepi, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil yang keras. Nesya menoleh,


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan dilihatnya sebuah mobil sedang melaju ke arah mereka. Refleks Nesya
mendorong Vino sekuat tenaga sampai mereka terjatuh. Selanjutnya...
CIIIIIITT!!! BRAK! DELAPAN Empat bulan sebelumnya...
MIKE melepaskan bola basket yang dipegangnya, karena tiba-tiba dirasakannya
kulit lembut telapak tangan seseorang menutupi kedua matanya. Senyum Mike
mengembang. Cewek yang mengisengi Mike menghentikan keisengannya. Ia mengangkat
kedua tangannya. "Eh, aku brlum nrbak siapa kamu kok udah dilepas duluan sih?" tanya Mike
sambil tertawa kecil. Nesya tersenyum manis. "Iya, mood aku hilang gara-gara liat kamu senyum-
senyum nggak jelas kayak tadi!"
"Yaudah deh. Main petak umpet aja, ya?" tawar Mike tiba-tiba.
Mata Nesya membesar. "Ih, ngaco! Udah gede kok masih mau main petak
umpet?" "Mau nostalgia. Masih inget nggak, pertemuan pertama kita?" tanya Mike
sambil tersenyum lembut. "Aku nggak akan pernah lupa. Kamu nemuin aku saat nggak ada satu orang
pun yang berhasil nemuin aku. iya, kan?" ujar Nesya manis. Tapi sesaat
kemudian, ia melanjutkan, "Waktu itu aku takut banget. Rasanya pengen jerit,
tapi suaraku nggak mau keluar. Dan semua itu gara-gara Pino..."
"Lagi-lagi dia. Namanya Vino, bukan Pino, Nes," ralat Mike untuk kesekian
kalinya. "Ya aku kan dulu manggilnya Pino, bukan Vino." Dan untuk kesekian kalinya
pula, Nesya selalu membantah. "Sampai sekarang pun aku nggak bisa lupa
sama dia. Aku pengen banget ngeliat kayak apa sih dia sekarang ini. Aku
pengen ngomelin dia, pengen bikin dia ngerasain apa yang dulu aku rasain pas
dia ninggalin aku begitu aja!"
Mike menghela napas. Jujr, udah lama dia merasa bosan. Saat ini Nesya udah
resmi jadi pacarnya, tapi tetap aja, yang diomongin Nesya setiap hari pastilah
tentang teman kecilnya, Pino.
Oke, bukan Pino, tapi Vino. Awlanya Mike menduga, seiring berjalannya waktu,
Nesya akan melupakan Vino. Tapi ternyata, semakin besar, bahkan udah
sepuluh tahun berlalu, Nesya malah semakin terobsesi dengan keberadaan
Vino yang nggak jelas. Nesya selalu bilang bahwa dia penasaran sama Vino. Dia
nggak terima Vino meninggalkannya saat main petak umpet dulu. Tapi
sebenarnya, memang hanya sebatas itukah perasaan Nesya terhadap Vino"
Waktu kenaikan kelas tiga, Mike mengenal Vino di ekskul basket SMA Pelita.
Saat itu posisi Mike adalah kapten tim, dan Vino adik kelas yang baru gabung
jadi anggota. Awalnya Mike nggak tahu bahwa Vino adalah Pino. Tapi setelah
lumayan dekat dengan Vino, akhirnya ia ngeh bahwa orang yang selama ini
menjadi saingannya justru berada sangat dekat dengannya.
Cukup lama Mike menyembunyikan hal itu dari Nesya. Biarlah hanya dia yang
tahu bahwa Pino yang begitu ingin ditemui Nesya adalah Vino yang setiap hari
selalu bermain basket bersamanya. Kare
na jauh di lubuk hatinya, dia takut
kehilangan Nesya. Dan ketakutan itu hanya karena satu alasan, yaitu Vino.
*** Kiara mengembuskan napas kesal. "Pino lagi Pino lagi. Lo kok cerita tentang dia
melulu sih" Nggak bosen ya" selama jadi temen lo, lo cerita tentang diaaa
terus. Lama-lama gue jadi hafal nih!"
Nesya merengut kesal. "Ya gue kan Cuma pengen curhat betapa
menyebalkannya si Pino o"on itu. Seenaknya aja dia ninggalin gue. Dia nggak
tau apa kalo gue ketakutan" Untung aja waktu itu..."
"Mike datang nemuin lo," potong Kiara, udah tau lanjutannya.
"Yap! Mike is my hero. Dia yang nyelametin gue waktu gue nangis ketakutan.
Bagi gue, mungkin dia bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir," ujar
Nesya sok romantis. Kiara memasang tampang "pura-pura tidur"-nya. Nesya langsung
menimpuknya dengan bantal. "Oke, jadi Mike bukan yang pertama" Terus
yang pertama siapa?"
Nesya terdiam sesaat. "Gue juga nggak tau," ujarnya sambil cengengesan.
Kiara memandangnya dengan tatapan curiga. "Si Pino, ya?"
"Amit-amit!" seru Nesya cepat. "Sori ya. si pinokio tukang bohong itu nggak
pantes buat gue!" *** Malam itu Mike dan Nesya duduk di bangku taman yang hanya diterangi lampu
bulat. Untung mereka pakai celana panjang dan jaket. Kalo nggak, bisa-bisa
mereka jadi makanan lezat nyamuk, sepupunya drakula.
"Besok kita main ke laut yuk!" seru Nesya, memecahkan keheningan.
Mike yang sejak tadi asyik memotret kunang-kunang di pojok taman dengan
kamera digitalnya itu refleks menoleh ke arah Nesya. "Ke laut" Boleh! Mau
ajak Kiara sekalian?"
Nesya menggeleng. Mike kembali duduk di samping Nesya. "Kok kamu
kayaknya suka banget ya jalan bareng Kiara?" tanya Nesya.
"Hah?" Mike bingung. "Maksud kamu?"
"Bisa aja kan, kamu jadian sama aku karena pengen deketin Kiara?"
"Hei... stop... stop! Aku paling males dengerin omongan ngaco kamu," sahut
Mike. Seakan ingin menyudahi pembicaraan, ia sudah siap berdiri, tapi... Nesya
menahan lengan Mike. "Di film-film biasanya begitu, Mike..."
Mike mengurungkan niatnya untuk berdiri. "Terus?" tanyanya sambil menatap
Nesya lembut. "Ya terus akhirnya ketauan deh kalo ternyata cowoknya itu cinta sama
sahabatnya. Cewek itu nangis bombai deh," kata Nesya.
Mike tertawa kecil. "Kalo kamu jadi cewek di film itu, kamu juga bakal nangis
bombai kalo ternyata aku cinta sama Kiara, begitu?" pancing Mike geli.
Nesya menatap Mike tajam. "Ya nggaklah! Ngapain aku nangis Cuma gara-gara
kehilangan kamu" Aku malah ikut seneng kalo ternyata Kiara dan kamu jadian.
Dan..." "Oh ya" bener nih...?" Mike pura-pura takjub.
Nesya merengut. "Oke, oke, aku bohong. Kalo beneran kamu jadian sama aku
Cuma karena pengen deketin Kiara, aku bakal neror kamu setiap hari. Eh,
terlalu baik, setiap detik! Habis itu aku bakal bikin kamu putus sama Kiara dan
selamanya ngejomblo!"
"Bagus... kreatif...," seru Mike kagum.
Nesya tersenyum bangga. "Iya dong! nesya gitu loh! pokonya nggak boleh ada
cewek lain deket-deket sama kamu. Apalagi kalo sampe pacaran sama kamu.
Sejak sepuluh tahun yang lalu, kamu kan udah terikat kontrak sama aku, dan..."
Nesya tak sempat menyadari apa yang selanjutnya terjadi. Yang dia tau, bibir
Mike sudah mendarat di bibirnya. Posisi itu bertahan hanya beberapa detik,
sampai akhirnya Mike melepaskan diri dan menatapnya lembut.
"Itu tanda sahnya kontrak kita," ujar Mike lembut.
Nesya masih tertegun. Tapi perlahan senyumnya mengembang begitu melihat
Mike tersenyum. Dan belum sempat Nesya membuka mulut, mereka udah
dikejutkan oleh suara alarm HP Nesya yang berbunyi nyaring.
"Happy birthday Mike!" seru Nesya riang sambil memeluk Mike erat.
Mike membalas pelukan Nesya. "Thanks ya. sekarang kita foto-fotoan dulu."
Mike dan Nesya pun berpose. Mike memeluk pinggang Nesya, sedangkan
Nesya memeluk leher Mike. Mereka tersenyum manis. Dan... KLIK! Momen itu
pun terabadikan untuk selamanya.
*** "Met ultah ya, Mike...," ucap Kiara lewat telepon.
Mike yang baru aja selesai berpakaian langsung ceria. "Thanks ya, Ra. kadonya
mana?" "Kadonya, satu hari ini gue nggak bakal ganggu kalian. Oke?" jawab Kiara iseng.
Mike tertawa kecil. "Emangnya lo pernah ganggu gue dan Nesya" Nggak, kali!
Malah seru kalo ada lo. Rame!"
"Udah deh, lo nggak usah menghibur gue. Gue tau kok lo baik."
"Eh, Ra, sebenernya hari ini gue punya kejutan buat Nesya," kata Mike.
"Kejutan?" ulang Kiara.
Mike menarik napas. "Gue mau mempertemukan Nesya dengan Vino."
"Vino siapa?" tanya Kiara cepat. Tapi belom sempat Mike menjawab, Kiara
keburu sadar. "Vino temen kecilnya Nesya?"
"Yap!" "Lo udah gila ya, Mike! Ngapain lo mempertemukan Nesya sama orang nggak
jelas itu" Lagian lo kan tau kalo Nesya terlalu terobsesi sama si Vino," omel
Kiara, seratus persen nggak setuju.
"Justru itu gue pengen semuanya selesai. Gue pengen ngeyakinin diri gue
sendiri kalo Nesya bener-bener nggak ada perasaan khusus sama Vino. Nesya
hanya terobsesi sama bayangan Vino kecil, bukan Vino yang nyata sekarang ini.
"Memangnya lo kenal sama Vino yang sekarang?" Kiara curiga.
"Sebenernya, gue udah kenal sejak setahun yang lalu. Dia junior gue di tim
basket sekolah. Sori kalo selama ini gue nggak cerita ke elo dan Nesya. Gue
pikir belom saatnya aja. Tapi berhubung sebentar lagi kalian bakal ketemu
orangnya langsung di Pelita, mendingan gue kenalin dulu ke Nesya. Gue kan
nggak akan di Pelita lagi, jadi gue pengin ngeyakinin diri gue sendiri kalo
semuanya memang bakal baik-baik aja," jelas Mike panjang-lebar.
Kiara menghela napas panjang. "Gue nggak tau harus ngomong apa lagi."
"Gue udah janjian ketemu Vino jam sebelas ini di sekolah. Gue bilang sih mau
ngenalin pacar gue ke dia. Lo mau ikut?" tawar Mike, kali ini bukan hanya
sekadar basa-basi. "Kayaknya lo berdua aja deh sama Nesya. Ini kan masalah kalian. Jadi gue
tinggal denger kabar aja setelah kalian pulang. Good luck ya! oke?"
"Ya udah kalo gitu. thanks ya, Ra!"
Begitu menutup telepon, kiara mendesah berat. Perasaannya nggak enak. Dia
tau akan terjadi sesuatu yang buruk setiap kali ada Vino. Tapi nggak pernah
terlintas di otaknya sedikit pun bahwa obrolannya dengan Mike di telepon tadi
akan menjadi obrolan yang terakhir.
*** Nesya masih asyik menikmati pemandangan di luar mobil, di jalan tol, sambil
mendengarkan lagu Destiny lantunan Jim Brickman kesukaan Mike. Sekali-kali
Mike menoleh ke arah Nesya, ingin tahu apa yang ada di pikiran gadis itu saat
ini. "Kamu kenapa ngeliatin aku terus dari tadi?" tanya Nesya, membuat Mike mati
kutu. "Aku Cuma lagi nunggu, kapan kamu ngasih kado ke aku?" ujar Mike sambil
tersenyum kecil. Nesya mencubit pipi Mike. "Nih kadonya."
"Aw!" Mike meringis kecil. "Sepuluh tahun aku ngerayain ulang tahun bareng
kamu, dan baru kali ini kamu nggak kasih kado apa-apa ke aku...," keluh Mike.
Nesya tersenyum penuh arti. "Ya udah, kadonya... aku nyanyi aja ya! ...And as
far as I can see... You were always meant to be... my destiny..." Nesya
menyanyikan lagu destiny dengan penuh penjiwaan. "Gimana" suara aku
bagus kan?" ujar Nesya.
Mike tersenyum manis. Inilah yang membuatnya senang bila berada di dekat
Nesya. Apa pun yang dilakukan Nesya, pasti mampu menarik perhatian Mike
plus membuatnya tersenyum.
"Yeah, you were always meant to be my destiny...," ulang Mike tanpa menoleh
ke arah Nesya. "Nes..."
"Ya?" "Kamu mau ketemu Vino?" tanya Mike.
Nesya menatap Mike dengan curiga. "Kita mau e laut, kan?"
Mike terdiam esaat. " Kita nggak ke laut, tapi ketemu Vino..."
"Vino?" "Ya, Vino teman kecil kamu. Sori aku baru cerita sekarang. Vino iitu ternyata
junior basket aku di sekolah."
"Kok kamu nggak bilang sih?" keluh Nesya. Ia nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba
kesal, tapi yang pasti, mendadak rasa takut itu muncul begitu membayangkan
akan segera bertemu Vino.
"Selama ini kamu pengen banget ketemu Vino, kan?"
"Nggak! Aku Cuma prngen tau dia kayak gimana sekarang. Aku..."
"Ah, terus terang aja... kamu pengen ketemu dia...," sela Mike dingin.
Nesya terdiam. "Kamu nggak mikir yang aneh-aneh, kan?" Nesya curiga.
"Aneh-aneh kayak gimana?" Mike pura-pura bego, tapi masih dengan nada
dingin. "Kamu nggak mikir kalo aku suka sama dia, kan?"
Mike menoleh sekilas sambil tersenyum datar. Matanya tampak terluka.
"Kamu yang ngomong begitu."
Nesya mulai panik. "Dia nggak lebih dari temen kecil aku, Mike!"
"Ya, temen kecil yang selama sepuluh tahun ini selalu kamu bahas. Nggak ada
hari tanpa nama Vino."
"Ya nggak gitu! aku nggak pernah suka sama Vino. Dan nggak ada alasan kamu
harus cemburu..." "Makanya, aku mau memastikan..."
"Dengan ngajak aku ketemuan sama dia?" sela Nesya. "Kamu pikir semuanya
akan tetap seperti dulu kalo aku udah ketemu dia?"
"Maksud kamu?" "Gimana kalo ternyata hubungan kita nggak akan sama lagi setelah aku ketemu
Vino?" tantang Nesya dingin.
Emosi Mike terpancing. Dia mulai nggak konsentrasi mengemudi. Sebentarsebentar dia menoleh ke arah Nesya. "Jadi itu yang kamu mau?" Nesya
terdiam. "Kalo gitu, selama ini rang yang kamu sayang bukan aku, tapi Vino?"
"Omongan kamu makin ngaco deh," sahut Nesya kesal.
"Aku nggak salah dong, kalo dari dulu selalu iri sama Vino..."
Kali ini emosi Nesya yang terpancing. "Kamu kenapa sih" Apa yang perlu kamu
iriin dari Vino" Kamu tahu, Mike, kamu tuh jauh lebih baik daripada dia!"
"nggak tuh. sampai kapan pun, di mata kamu, Vino akan terus jadi sosok yang
nggak akan terlupakan. Dan terkadang bikin aku kepengen jadi Vino..."
"Kamu bukan dia! Kamu nggak harus jadi dia! Buat aku, kamu jauh lebih baik
dibandingkan cowok mana pun di dunia ini!"
Mike mengembuskan napas keras. "Kalo gitu, sekarang kita ketemu sama dia."
"Kenapa sih kamu nggak ngerti-ngerti juga"!" Nesya tambah kesal.
"seharusnya aku yang nanya. Kenapa sih kamu takut ketemu dia" Apa yang
sebenarnya kamu takuti" Kamu takut ya, kalo ternyata kamu memang masih
nunggu dia?" sahut Mike sama kesalnya.
"Nunggu dia" Ngapain aku nunggu dia?" Nesya makin tegang. Ia merasa
percakapan mereka sia-sia belaka.
Mike terdiam sesaat. Mungkin bagi Nesya, kecurigaan Mike terdengar konyol.
Tapi buat Mike, it"s a nightmare! "Aku selalu ngerasa... sejak dulu kamu masih
nungguin dia..." "Nungguin dia untuk apa?" tanya Nesya.
"Ya untuk nemuin kamu," ujar Mike.
Nesya tersentak. "Petak umpet sepuluh tahun yang lalu udah berakhir, Mike.
Kamu yang nemuin aku, bukan dia."
"Kamu yakin permainan udah berakhir" Aku malah ngerasa permainan masih
terus berjalan. Vino belum nemuin kamu."
"Yang nemuin aku bukan Vino, Mike, tapi kamu! Dan buat aku, permainan
uadah selesai!" seru Nesya.
Tapi di dalam hati, Mike yakin Nesya nggak bicara terus terang. Rasanya ironis
banget. Di hari ulang tahunnya, yang seharusnya dirayakan dengan romantis,
mereka malah bertengkar. Mike benar-benar nggak tau apakah harus
melanjutkan semua ini atau malah menjalani semuanya seperti nggak pernah
ada apa-apa. Mobil terus melaju dengan kencang. Baik Nesya maupun Mike sama-sama
diam. "Kita ke laut, kan?" tanya Nesya, memecahkan keheningan.
Mike masih memasang wajah dinginnya. "Kita tetap ketemu Vino."
Nesya langsung mengembuskan naps panjang. "Terserah kamu deh," sahutnya,
nggak pengen cari ribut lagi. Kalo Mike ingin mempertemukan dirinya dan
Vino, fine! Mike menoleh ke arah Nesya. "Kamu nggak marah, kan?"
"Sedikit." "Semuanya bakalan baik-baik aja kok," ujar Mike sambil menggenggam tangan
Nesya. "Mudah-mudahan," sahut Nesya pelan.
Nesya merasakan tangan Mike dingin. Ia tahu, yang sebenarnya takut bukanlah
dirinya, melainkan Mike sendiri. Nesya memang ragu akan perasaannya
terhadap Vino kecil. Tapi berbeda dengan Nesya, Mike justru khawatir pada


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sosok Vino yang sekarang!
"Mike....?" "Hm?" "Semuanya bakalan baik-baik aja, kan?" tanya Nesya, seakan ingin meyakini
dirinya sendiri. Mike menatapnya sesaat sambil tersenyum lembut. "Ya."
Nesya balas tersenyum. Begitu Mike kembali memerhatikan jalan di depannya tiba-tiba dari arah
berlawanan muncul sebuah mobil yang melaju cepat ke arah mereka.
"Apa-apaan sih tuh mobil...?" gerutu Mike sambil mengemudikan mobil lebih
ke tepi. Si mobil makin mendekat. Mike masih berusaha menghindar. Tapi mobil di
depannya itu malah makin menuju ke arahnya. Mike membanting setir dan...
BRAK!! SEMBILAN Lost in the darkness, hoping for a sign
Instead there is only silence
Can"t you hear my screams"
Never stop hoping Need to know where you are
But one thing is for sure
You"re always in my heart
I"ll find you somewhere
I"ll keep on trying until my dying day
I just need to know whatever has happened
The truth will free my soul
(somewhere " Within Temptation)
NESYA merasa kepalanya sakit. runtunan peristiwa bergantian datang dan
pergi di depan matanya yang terpejam. Kerongkongannya terasa kering. Ia
butuh air. Ia ingin berteriak meminta segelas air.
Nesya membuka matanya perlahan. Dilihatnya Mama, Papa, Kiara, dan Vino
tersenyum lega melihat dirinya. entah sudah berapa lama ia tertidur sampai
kepalanya sakit begini. Ups, bukan! Ia bukan sedang tertidur. Ini bukan
kamarnya. Ini kamar rumah sakit. ia kecelakaan. Ya, kecelakaan!
Nesya berusaha bangkit dari tempat tidur. "Ma... udah berapa lama aku di
sini?" tanya Nesya. "Kamu pingsan dua hari. Tapi syukur, sekarang kamu udah sadar," ujar Mama
senang, lalu mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang. wajah
Mama tampak lelah, dan matanya sembap karena habis menangis.
"Papa ppanggil dokter dulu ya!" kata Papa sambil menghambur keluar.
Nesya menoleh ke samping. Vino sedang tersenyum lembut memerhatikan
dirinya. "Vino...?"
Vino memegang tangan Nesya dengan lembut. "Ya, aku di sini."
Nesya menatap Kiara yang ada di samping Vino. "Ra..."
"Hei, Ca...," balas Kiara sambil tersenyum lega.
Nesya masih merasa lemas. Matanya masih mengantuk. Kepalanya terasa
berat. Tapi masih ada orang yang ingin dilihatnya. Nesya menatap setiap sudut
ruangan. "Lo nyari siapa, Nes?" tanya Kiara bingung.
"Mike mana, Ra?" Baik Kiara, Vino, maupun Mama sama-sama terdiam. Nesya
mulai panik. "Mike mana"!!"
*** "Gue nggak tahu harus ngomong apa ke Nesya," kata Vino sambil menutup
wajah dengan kedua telapak tangannya.
Kiara yang duduk di sampingnya menoleh. "Lo bukan satu-satunya orang yang
nggak tau harus ngomong apa."
Vino balas menatap Kiara. "Untuk sementara kita masih bisa berkelit. Tapi
nanti setelah kesadaran Nesya mulai kembali, apa kita harus bilang yang
sebenarnya tentang Mike?"
Kiara mendesah bingung. Baru kali ini ia merasakan hal yang sama dengan
Vino. "Gue rasa lebih baik Nesya tau yang sebenarnya setelah kondisinya pulih.
Ya paling nggak, setelah dia keluar dari rumah sakit.."
"Lo yakin Nesya bisa ditahan selama itu?" sela Vino, putus asa duluan.
"Gue sih udah siap kalo dia marah, bahkan sampai benci sama gue. Gue tau
gue bukan sahabat yang baik karena nggak bisa jujur sama dia. " Kiara menarik
napas dan mengembuskannya dengan sedih. Perlahan, ia menoleh ke arah
Vino, masih dengan tatapan sedihnya. "Yang gue khawatirkan justru elo."
"Gue?" tanya Vino bingung.
"Apa lo udah siap untuk kehilangan Nesya?"
Vino tertegun. "Kalo Cuma putus sih masih bagus. Tapi kalo dia sampai benci sama elo, apa lo
udah siap?" ujar Kiara prihatin.
Vino terenyak. Dia nggak mau kehilangan Nesya! Dia nggak mau putus dari
Nesya! Dan terlebih lagi, dia nggak mau Nesya membencinya!
Kiara menepuk bahu Vino. "Gue tau dari dulu kita nggak pernah akur. Tapi
untuk sekarang, kita bener-bener punya masalah yang sama."
*** "Nggak mungkin!"
Wajah Nesya tampak pucat. Perlahan tubuhnya terempas ke atas sofa.
"Ca, lo harus denger dulu penjelasan gue," kata Kiara, berusaha menenangkan
Nesya yang kini mematung.
"Lo udah bohongin gue...," ujar Nesya lirih. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Mike nggak mungkin ninggalin gue!"
"Tapi, Ca..." Kiara nggak sanggup berkata-kata lagi.
Nesya menatap Kiara dengan kecewa. "Lo sahabat gue, Ra. lo orang yang
paling gue percaya. Lo juga deket sama Mike. Dulu kita sering jalan bareng,
kan" tapi kenapa lo malah sengaja menghapus keberadaan Mike! Mike pasti
masih hidup..." Kiara hanya bisa mematung melihat Nesya yang begitu shock di hadapannya.
Kiara melihat dengan jelas betapa sakitnya hati Nesya sampai air mata pun
nggak cukup untuk mengungkapkannya.
Vino, yang juga ada di ruangan itu, hanya bisa menunduk. Ia nggak berani
menatap Nesya. Melihat Nesya begitu sedih saat ini, rasanya sama aja dengan
mengiris jantungnya perlahan-lahan. Kalo tau akan seperti ini, ia lebih rela
nggak ketemu Nesya. Ia rela terus menjadi bayangan. Ia rela Mike yang
menjadi pacar Nesya. Nesya menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia berusaha kuat. "
Semua orang bohong sama gue. Semua orang nggak ada yang bener-bener tau
gimana perasaan gue. Semua orang jahat sama gue. Kalian jahat...," ujar Nesya
lirih. *** Nesya duduk sambil memeluk lutut di atas ranjang. Dadanya terasa sakit dan
hampa. Ia nggak tau lagi apa yang harus ditangisi. Air matanya sudah
mengering. Saat ini ia merasa lebih hampa, lebih "tersesat" dibandingkan saat
amnesia dulu. Terdengar suara pintu diketuk. Nesya nggak menyahut. Akhirnya pintu terbuka
dan Mama masuk menghampirinya.
"Tadi aku ke rumah Mike, Ma. tapi rumahnya kosong..." Nesya bicara tanpa
ekspresi. "Ca... sebelumnya Mama minta maaf, nggak menceritakan semuanya ke kamu.
Seminggu setelah pemakaman Mike, keluarganya pindah. Mama nggak tau
mereka pindah ke mana." Mama duduk di hadapan Nesya. "Mama tau kamu
pasti kaget..." Nesya tetap bungkam. "Tapi kamu nggak bisa kayak begini terus.
Life goes on, sayang," ujar Mama sambil membelai rambut Nesya.
"Mama bohong sama aku," ujar Nesya dingin. Mama terdiam, merasa
bersalah. "Selama ini kenapa Mama nggak cerita kalo Mike udah nggak ada"
Sampai detik ini, aku masih nggak bisa percaya kalo Mike udah meninggal!"
Tak sanggup lagi menahan pedih di hatinya, Nesya menangis. Ia merasa ditipu
habis-habisan. "Apa bedanya kamu tau dulu atau sekarang?"
Nesya dan Mama langsung menoleh ke arah datangnya suara. Papa udah
berdiri di depan pintu dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Kalo kamu tau semuanya pada saat kamu masih amnesia, apa kamu yakin
kamu nggak akan merasa sedih kayak sekarang ini" Atau jangan-jangan, kamu
malah makin menyalahkan diri kamu sendiri, karena orang yang kamu sayangi
udah nggak ada tapi kamu malah nggak inget apa-apa tentang dia?"
Nesya tersentak. Papa duduk di samping Nesya. "Nggak usah mikirin yang udah lewat, Ca.
Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kamu menjalani hidupmu
sekarang," ujar Papa bijak.
Nesya terdiam, sadar bahwa kata-kata papanya benar. Tapi masalahnya nggak
semudah itu. Dia masih belum bisa menerima bahwa Mike udah nggak ada. Itu
aja. Papa yang seakan tau apa yang sedang dipikirkan putrinya itu langsung
melanjutkan, "Memang nggak mudah menjalani hidup. Satu-satunya yang kita
butuhkan adalah... waktu."
*** Nesya masih berbaring di ranjangnya. Sejam yang lalu orantuanya udah keluar
dari kamarnya setelah menceramahinya habis-habisan. Papa yang selama ini
terkesan cuek, ternyata diam-diam tahu masalah apa yang sedang dihadapi
Nesya. Nesya memejamkan mata, berusaha tidur, tapi rasa kantuknya hilang entah ke
mana. Hatinya masih terasa perih. Dadanya terasa penuh, seakan ingin
meledak. Otaknya belum bisa diajak berpikir jernih. Yang ada di benaknya saat
ini hanyalah Mike, Mike, dan Mike.
Perlahan Nesya mengambil komik Slamdunk yang masih ada di pojok lemari
buku. Sekarang ia ingat dari mana ia mendapatkan komik itu. Komik itu
memang bukan miliknya. Itu milik Mike. Ia ingat, saat itu Mike sedang asyik-
asyiknya membaca komik Slamdunk. Karena kesal dicuekin, akhirnya Nesya
merebut komik itu dari tangan Mike.
Mike meminjamkan komik tersebut pada Nesya, tapi Cuma jilid pertama.
Nesya nggak berminat membaca lanjutannya. Awalnya ia ingin mengembalikan
komik itu saat Mike ulang tahun. Tapi ia lupa. Padahal ia udah menyelipkan
selembar kertas bertuliskan lirik lagu khusus untuk Mike.
Nesya mengambil kertas bertuliskan lirik lagu sunshine after the rain itu dari
dalam laci meja belajar. Dibacanya ulang lirik lagu yang dulu ditulisnya dengan
penuh perasaan untuk Mike. Tanpa terasa, air matanya mengalir. Buru-buru ia
menghapusnya. Mike nggak akan suka melihatnya menangis, apalagi kalo lagi
sendirian. Bahkan dulu, bukankah Mike-lah orang yang menghapus tangisnya
pada saat ia main petak umpet, ditinggalkan Vino dan menangis sendirian"
Seakan ada yang menyuruhnya, Nesya membuka lemari baju. Di bawah lipatan
baju terbawah, di sudut terdalam, tangan Nesya meraba-raba. Ia menemukan
sebuah kotak hitam. Perlahan dikeluarkannya kotak hitam itu dari dalam lemari bajunya. Ia ingat,
sudah lama ia menyimpan kotak itu.
Nesya membukanya perlahan. Ditatapnya satu per satu benda yang pernah
diberikan Mike kepadanya. Nesya tersenyum pilu saat mengeluarkan
gantungan kunci berbentuk bola basket sebagai kado ulang tahunnya yang ke10. Ada pula gelang, kalung, bando. Nesya tertawa sedih. Terlalu banyak
kenangan indah bersama Mike yang nggak akan mungkin ia lupakan.
Nesya ingat cara Mike memutar bola basket dengan telunjuk kanannya. Ia
ingat Mike nggak suka makanan bersantan. Ia ingat Mike nggak suka kopi. Kata
Mike dulu, alasannya nggak suka kopi adalah, karena kalau sudah
mencicipinya, takut kecanduan. Tapi ada satu "candu" yang sangat diinginkan
Mike, yaitu Nesya! Nesya mengeluarkan foto terakhir mereka saat malam sebelum kecelakaan. Ia
ingat, sebelum pergi, Mike sempat memberikan foto itu kepadanya. Awalnya ia
juga kaget kenapa bisa jadi secepat itu. Mike khusus mencetaknya pagi-pagi
dan langsung memberikannya sebagai kenangan termanis yang mereka miliki.
Untung ia masih sempat menyimpannya. Jadi sekarang, ia masih bisa melihat
senyum Mike dengan jelas. Wajah bahagia mereka malam itu benar-benar
terabadikan untuk selamanya.
Dan kini, seberapa kuat pun Nesya menahan tangis, air matanya tetap aja
keluar. Malah perasaannya semakin tercabik-cabik. Ingin rasanya ia berteriak,
tapi suaranya tercekat. Andaikan Mike bisa mendengar jeritnya saat ini. Andaikan Mike bisa
merasakan perih hatinya. Andaikan Mike tau betapa Nesya menangis karena
merindukannya. Andaikan Mike ada di suatu tempat yang bisa dijangkau oleh
Nesya. Sayangnya, seberapa keras pun Nesya mencari, Mike nggak akan pernah
ditemukan lagi. Mike nggak akan muncul di hadapannya lagi dengan senyum,
tawa, dan pelukan hangat seperti biasanya. Padahal keinginan Nesya Cuma
satu: ia ingin Mike kembali...
SEPULUH NGGAK ada yang berubah dari sekolah. Semuanya masih sama seperti empat
bulan lalu, saat pertama kali Nesya menapakkan kaki di SMA Pelita. Tapi buat
Nesya, semuanya jelas terasa berbeda. Cara pandangnya pun nggak sesimpel
dulu. Ingatannya telah pulih. Dan itu artinya, melihat SMA Pelita sama saja
seperti melihat sosok Mike saat SMA dulu. Di setiap sudut ada bayangan Mike.
Kalo terus seperti ini, bagaimana ia bisa menghilangkan Mike dari pikirannya!"
"Ca, gue harus jelasin semuanya ke elo," ujar Kiara sambil mencegat Nesya
yang hendak menuju kantin sendirian. Sudah cukup Kiara dicuekin sejak tadi
pagi. Nesya menatap Kiara dengan sinis. "Lo mau ngebohongin gue apa lagi?"
Kiara berusaha menahan emosi. "Gue tahu gue salah karena udah
ngebohongin lo habis-habisan..."
"Emang! Sampai ngaku-ngaku jadi pacarnya Mike segala. Hebat!" potong
Nesya cepat. "Sori, Ra, sekarang gue udah inget semuanya. gue bukan orang
tolol lagi." Nesya berbalik hendak pergi.
Kiara menahan lengan Nesya kuat-kuat. "Gue nggak pernah nganggep lo tolol,
Ca! Gue Cuma pengen ngelindungin elo. Gue nggak mau lo tambah sakit."
"Tapi lo nggak tau kan kalo sekarang gue lebih sakit"!" Nesya tak sanggup
menahan emosinya. Air matanya udah mau keluar lagi.
"Untuk itu gue minta maaf. Gue emang bersalah banget. Jadi, gue harus kayak
gimana supaya lo bisa maafin gue?"
Nesya tersenyum sinis sambil mengelap matanya. "Lo tanya aja sama Mike
gimana caranya supaya dia bisa maafin elo..." setelah berkata begitu, Nesya
meninggalkan Kiara yang terenyak sendirian.
*** Sepulang sekolah, setelah gedung sekolah cukup sepi, tempat pertama yang
dikunjungi Nesya adalah toilet cewek. Kenapa" Karena hanya di tempat itulah
keberadaan Mike terabadikan. Walaupun semua orang menganggapnya udah
nggak ada, tapi buat Nesya, Mike akan selalu ada di hatinya.
Dibacanya satu per satu kalimat-kalimat yang tertulis di tembok toilet cewek.
Begitu banyak cewek yang naksir Mike. Padahal selama ini Mike nggak pernah
cerita kalo dia populer di sekolah. Dan sekarang, ironisnya, setelah Nesya tau,
ia hanya bisa tersenyum datar. Kalo saja Mike ada di sini, mungkin Nesya bisa
membanggakan diri karena menjadi pacar Mike yang populer. Tapi Nesya
nggak peduli pada kebanggaan dan kepopuleran. Yang penting baginya adalah
Mike kembali ke sisinya. Tapi itu tak mungkin!
Nesya mencuci muka untuk menyamarkan sisa tangis yang masih membekas di
wajahnya. Setelah merasa lebih baik, ia mengambil tas dan beranjak keluar
toilet. "Eca...?" terdengar suara memanggilnya.
Nesya menoleh ke samping. Vino sedang menatapnya tajam. Tapi Nesya nggak
peduli. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Ca, kamu harus dengerin aku dulu...," ujar Vino setengah memelas. Nesya
terus berjalan, tanpa menghiraukan dirinya. "Eca!" seru Vino sambil menarik
lengan Nesya. Mau nggak mau Nesya menoleh ke arahnya. "Aku nggak butuh penjelasan
kamu," kata Nesya dingin.
"Aku memang salah karena udah ngebohongin kamu. Tapi aku Cuma pengen
ngelindungin kamu. Aku..."
Nesya memasang wajah kagum. "Wah! Hebat ya! kamu dan Kiara sama-sama
pengen ngelindungin aku..." Nesya langsung mengubah ekspresi wajahnya
menjadi dingin. "Makasih deh."
Vino menahan emosi kuat-kuat. "Terus, sekarang kamu maunya gimana"
ngehukum aku dan Kiara dengan cara menghindari kami" Apa itu bisa
menyelesaikan masalah?" Nesya hendak menyahut, tapi Vino kembali
melanjutkan, "Apa itu bisa ngembaliin Mike ke dunia ini?"
Emosi Nesya meledak. "Kamu nggak berhak nyebut-nyebut nama Mike!"


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Vino tersentak. Baru kali ini ia melihat Nesya membentak dirinya dengan keras.
Dan yang membuatnya nggak berani berkutik adalah, Nesya menangis di
tengah amarah! "Setiap hari kamu cerita tentang Mike. Bilang kalo Mike adalah orang yang
paling kamu kagumi..." Nesya menghela napas panjang. Terlihat jelas ia
menahan kepedihan. "Apa kamu nggak pernah ngerasa bersalah setiap kali
kamu nyebut nama Mike di depan aku?"
Vino menatap Nesya dengan pandangan speechless. "Kalo kamu mau tau,
setiap detik aku selalu merasa bersalah pada Mike. Tapi apa aku salah kalo
lama-lama aku malah jadi sayang sama kamu...?"
"Ya!" seru Nesya cepat. Nggak mau mendengar lanjutan kalimat Vino. "Aku
pacar Mike. Dan andaikan Mike sekarang masih ada, kami pasti bakal jadi
pasangan paling bahagia di dunia ini...," ujar Nesya lirih sambil tertunduk.
Vino nggak bisa membantah. Ia kecewa mendengar kalimat Nesya. Jadi selama
ini hubungan mereka nggak ada artinya sama sekali" Hah!
"Kalo saja..." Nesya menatap Vino dengan penuh kebencian. "Kalo saja hari itu
Mike nggak ngajak aku ketemuan sama kamu, Mike pasti masih hidup. Ini
semua gara-gara kamu!" Nesya menumpahkan semua emosi, sakit hati, dan
kesedihan yang selama ini nggak tau harus ia lampiaskan pada siapa.
Dan tanpa berani menatap Vino, Nesya langsung berlari, pergi sejauh mungkin
dari Vino yang ia tau pasti sama sakit hatinya seperti dirinya.
*** Nesya berlari ke belakang sekolah. Saat ini ia butuh tempat untuk menangis
sepuas mungkin, tanpa harus disodori beribu pertanyaan yang ia sendiri pun
nggak tau apa jawabannya.
Ia nggak tau siapa yang sebenarnya membuat hatinya begitu sedih saat ini.
Mike yang pergi untuk selamanya ataukah malah Vino yang udah
membohonginya" Kenapa dia justru ikut merasa sakit saat tau Vino terluka
oleh kata-katanya tadi" Kenapa ia malah nggak merasa puas sama sekali"
"Duuuuuuh... siapa tuh yang lagi nangis"! Lagi ribut sama pacar tersayang, ya"
hahaha!" Refleks Nesya menghapus tangisnya dan menoleh ke arah suara yang
mengejeknya barusan. Lagi-lagi Marsya dan gengnya yang kurang kerjaan itu
menampilkan wajah senang.
Nesya memilih untuk nggak menghiraukan. Ia hendak beranjak pergi, sebelum
akhirnya lengannya ditarik kasar oleh Marsya. "Makanya, nggak usah belagu
lo!" bentak Marsya. Nesya menatapnya tajam. "Jadi mau lo apa?"
"Gue mau lo putus sama Vino!" seru Marsya nyolot.
Nesya tersenyum sinis. "Lo mau gue putus sama Vino" Ya udah, putus ya putus
aja..." Marsya yang mengira Nesya sedang mempermainkannya langsung mendorong
Nesya ke tembok. Nesya meringis kecil, merasakan sakit di punggungnya.
"Bener-bener belagu lo ya!" Marsya melayangkan tangannya ke arah Nesya.
Nesya menutup mata. Tapi lagi-lagi, tangan Marsya nggak mendarat di pipinya.
Perlahan Nesya membuka mata. Kali ini bukan Vino, melainkan Kiara yang
dengan kuat menahan tangan Marsya.
"Lo pikir lo siapa, sampe berani nampar temen gue seenaknya"!" bentak Kiara,
sambil mengempaskan lengan Marsya dengan kasar.
Marsya meringis kesakitan, tapi sedetik kemudian dia pasang tampang belagu
lagi. "Oooh, jadi lo mau sok jadi pahlawan!?" serempak, gengnya Marsya maju
hendak melabrak Kiara. Kiara bergeming. Dia malah berani menatap kakak-kakak kelasnya itu dengan
tajam. "Mau main keroyokan" Mau pakai gaya apa" jambak-jambakan atau
tampar-tamparan": tantang Kiara.
"Sialan lo!" Emang nggak tahu malu, Marsya dan gengnya benar-benar maju untuk
mengeroyok Kiara. "Cukup!!!" seru Nesya. Suaranya keras banget, hingga membuat cewek-cewek
itu menoleh ke arahnya. Nesya maju menghalangi Kiara. "Lo mau gue putus
sama Vino, kan?" tanya Nesya pada Marsya. "Asal lo tau, gue udah putus sama
Vino." "Cih! Lo kira gue bisa lo begoin"!"
"Terserah lo percaya atau nggak. Gue udah nggak peduli lagi sama Vino!" kata
Nesya serius. Marsya terus menatap Nesya dengan tajam. "Oke, tapi kalo lo bohong, lo tau
apa akibatnya!" ancamnya. Kemudian Marsya dan gengnya pergi dari hadapan
Nesya dan Kiara. "Ca, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Kiara khawatir.
Nesya terdiam cukup lama sambil menatap Kiara tanpa ekspresi. Tapi sedetik
kemudian, air matanya kembali mengalir. Kali ini Kiara langsung memeluknya
erat, seakan tahu perasaan Nesya.
"Gue..." Nesya berusaha bicara di sela-sela tangisnya, tapi tetap aja nggak
sanggup. Kiara membelai kepala Nesya. "Gue ngerti kok..."
"Maafin gue, Ra...," ujar Nesya.
Kiara mengangguk pelan. "Bukan salah lo..."
"sekarang gue udah nggak punya siapa-siapa lagi. Mike udah ninggalin gue...
dan gue udah nyakitin Vino..."
"Vino?" tanya Kiara kaget. "Lo masih sayang sama dia kan, Ca?" tanya Kiara
penasaran. Nesya menggeleng kuat-kuat, masih sambil menangis. "Gue nggak tau, Ra,
gimana sebenarnya perasaan gue ke dia. Gue benci sama dia. Kalo aja dia
nggak ada, gue dan Mike nggak bakal kecelakaan, dan mungkin Mike masih
ada sampai sekarang. Tapi gue ikut sedih kalo tau Vino sedih. Gue sayang sama
dia, Ra. gue nggak tau harus gimana sekarang. Gue pengen menghilang dari
dunia..." Kiara mempererat pelukannya. "Lo butuh waktu, Ca. Cuma waktu yang bisa
ngbatin semuanya..."
Nesya nggak menyahut. Dia udah tenggelam dalam kesedihan dan tangisnya
sendiri. Kiara pun hanya bisa ikut merasakan perasaan Nesya, tanpa bisa
membantu lebih banyak lagi.
Sedangkan Vino, tanpa sengaja ia mendengar semuanya dari balik tembok.
Ingin rasanya ia menghampiri Nesya dan melakukan sesuatu yang bisa
membuat Nesya pulih. Tapi benar yang Kiara bilang, yang Nesya butuhkan saat
ini bukanlah dirinya atau siapa pun juga. nesya Cuma butuh waktu....
*** Sudah lebih dari tiga bulan, Nesya nggak pernah bicara lagi dengan Vino. Setiap
bertemu pun, keduanya pasti langsung membuang muka, seolah-olah nggak
kenal. Dan jelas, berita putusnya hubungan mereka langsung menyebar.
"Nesya!" panggil Egi sambil menghampiri Nesya yang saat itu sedang duduk di
kantin sendirian. "Lho, Kiara mana?" tanya Nesya, begitu melihat Egi datang tanpa Kiara.
Pasalnya, tadi Kiara bilang ia mau menemui Egi. Katanya sih dia mau ikut ekskul
renang, sama kayak Egi. "Lagi ngobrol sama ketua ekskul. Makanya gue sengaja ke sini, buat nemenin
elo." "Ooh..." Nesya mengangguk pelan. "Lo nggak bareng Vino?" Dalam hati Nesya
juga kaget kenapa ia bertanya seperti itu.
Egi tersenyum iseng. "Sejak putus sama elo, dia makin sibuk sama basketnya.
Gue ajak main ke warnet aja dia nggak mau," keluh Egi bete. "Tapi ngomongngomong, elo masih ngediemin dia, ya?""
Nesya tersenyum tipis. "Gue rasa dia yang nggak mau ngomong sama gue."
"Lho, kenapa" Bukannya dia yang salah?" tanya Egi bingung.
Nesya menatap Egi sedih. "Soalnya gue juga udah nyakitin dia..." nesya
menghela napas panjang. "Dia pasti benci banget sama gue. Dia nggak pernah
mau ngomong lagi sama gue. Ngeliat gue pun dia langsung buang muka."
"Yah... dia punya pertimbangan sendiri, kali, Nes. Gue tau banget dia nggak
pernah berniat nyuekin lo, apalagi ngebohongin lo tentang Mike."
"Lo tau seberapa besar arti Mike buat gue?" tanya Nesya. Egi terdiam. "Mike is
my hero..." "Emangnya Mike menyelamatkan lo dari siapa?" sela Egi cepat.
"Dia yang nemuin gue, nyelametin gue waktu gue bingung. Waktu gue nggak
tau jalan pulang..."
"Tapi lo yakin, orang yang selama ini lo anggap penting Cuma Mike?"
Nesya mengerutkan dahi, bingung. "Maksud lo?"
Egi menatap Nesya dengan tajam. "Lo tau, dalam sebuah film, siapa tokoh
utama yang sebenarnya?" Nesya masih terdiam, nggak mengerti. "Kita
memang selalu berpikir, yang namanya superhero adalah tokoh utama. Tapi
apa arti superhero kalo nggak ada penjahatnya" Jadi mana yang penting,
penjahat atau superhero?"
Nesya tersentak. Nggak pernah sekalipun dia berpikir seperti itu. "Ah, ngaco
lo!" "Eh, gue ngomong serius. Kalo nggak ada penjahat, nggak akan ada
superhero," lanjut Egi yakin. Nesya masih speechless. "Makanya gue tanya
sama elo. Kalo Mike adalah hero buat elo, terus penjahatnya siapa?"
Vino! Jerit Nesya dalam hati. Jelas-jelas Vino yang dulu meninggalkannya
begitu aja saar main petak umpet.
"Dan inti pertanyaan gue adalah, mana yang lebih penting: Mike atau penjahat
itu" Siapa yang sebenernya lo pikirin selama ini" Penjahat atau superhero?"
Nesya terenyak. Benar kata Egi. Sebenernya yang selama ini ada di pikirannya
Mike atau Vino" Tiada hari tanpa nama Vino dalam hidupnya. Semua hal yang
dilakukannya pasti berhubungan dengan Vino. Dan tanpa sadar, Vino-lah yang
selama ini selalu menjadi tokoh utama dalam hidupnya, bukan Mike!
Tiba-tiba Egi tergelak. "Sori, sori... gue Cuma bercanda, Nes. Elo jangan serius
gitu dong. tapi omongan gue barusan keren banget, kan?" seru Egi sambil
cengengesan. Nesya Cuma bisa melongo, menyadari dirinya sedang dikerjain Egi. "Hah?"
"Gue Cuma pengen ngisengin elo, eh ternyata lo nganggepnya beneran." Egi
kembali tergelak. "Jadi, semua teori yang lo omongin tadi itu Cuma asal-asalan?" Nesya jadi ilfil
sama cowok ini. Kecentilan banget!
Egi kembali cengengesan. Nesya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. "Gelo lo!"
"Tapi mood lo jadi bagus, kan?"
Nesya sadar Egi sedang berusaha menghiburnya. Karena itu ia tersenyum
manis. "Thanks ya, Gi."
"Sama-sama. Eh iya, mendingan lo juga ikut ekskul renang, Nes. Seru lho!" Egi
berpromosi. Nesya tersenyum manis. "Gue pikir-pikir dulu deh."
"Oke, gue duluan ya!" kata Egi sambil beranjak dari kantin. Tapi belum jauh dia
melangkah, tiba-tiba dia berbalik, masih dengan cengengesannya. "Oh ya, Nes.
Kalo superhero gue sih Batman. Walaupun dia punya sayap tapi nggak bisa
terbang, setidaknya mobilnya keren. Mirip gue, lagi!"
Nesya tertawa kecil. Kok ada orang kayak Egi ya" hah!
*** Sepulang sekolah, Nesya dan Kiara kembali ke markas ekskul renang. Selain
memiliki lapangan basket indoor, SMA Pelita juga memiliki kolam renang
indoor. Nesya yang tertarik oleh ajakan Egi dan Kiara itu pun ingin mendaftar
jadi anggota. "Tapi gue nggak bisa berenang, Ra," ujar Nesya malu-malu. Saat itu Nesya dan
Kiara ditemani Egi. Argi, sang ketua ekskul renang, langsung menatap Nesya. "Mau ikut renang
tapi nggak bisa berenang?"
"Kan baru mau belajar...," sahut Nesya pelan.
"Tapi paling nggak, lo bisa ngapung, kan?" Andi sedikit berharap.
Nesya menggeleng. Andi tampak menimbang-nimbang. Nesya mulai putus asa.
Kiara sendiri malah asyik mengobrol dengan anggota lainnya. Maklum, dia kan
suka cari informasi sebanyak mungkin.
Egi mendekati Andi, ingin merayu sang ketua agar mau mengajari Nesya
renang. Ternyata, pucuk dicinta ulam tiba.
"Oke, kami bakal ngajarin lo renang di sini. Met gabung di ekskul renang ya!"
kata Ardi, memenuhi harapan Egi.
Egi sampai terbengong-bengong. Dia nggak nyangka Ardi dan dirinya punya
hubungan batin yang amat kuat. Yiha!
Nesya langsung tersenyum lega. "Makasih ya!"
"Hei, Vin!" seru Egi, begitu melihat Vino masuk ke ruangan.
Vino yang awalnya tersenyum, ekspresi wajahnya langsung berubah begitu
melihat Nesya di samping Egi. Nesya jadi salah tingkah.
"Lo udah selesai belom, Gi" Gue mau balik nih," kata Vino.
Egi menghampiri Vino dengan gembira. "Lo tau nggak" Nesya baru aja jadi
anggota ekskul renang lho. Yah, walaupun dia nggak bisa berenang..."
Vino menaikkan alis. "Nggak bisa berenang tapi ikut ekskul renang?"
Nesya langsung membuang muka. Dia merasa Vino mengejeknya. Memangnya
kalo nggak bisa berenang, nggak boleh ikut ekskul renang" Justru dia mau
belajar. Nesya berbalik dan hendak berjalan menghampiri Kiara yang sedang asyik
mengobrol di sudut kolam. Karena jalan terburu-buru, Nesya nggak nyadar
bahwa lantainya licin. Tiba-tiba kakinya terpeleset, dan...
BYUR! Semua menoleh ke arah Nesya. Nesya tercebur di bagian kolam yang dalam.
Tangannya menggapai-gapai dengan panik. Napasnya pun mulai tersengalsengal.
Ardi dan Egi hendak melompat ke kolam. Tapi belum sempat mereke bergerak,
Vino udah nyebur duluan. Dengan cepat Vino meraih tubuh Nesya dan
membawanya ke tepi. Ardi dan Egi membantu Nesya naik.
Nesya langsung terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan air yang tadi nggak
sengaja ditelannya. Matanya merah karena kemasukan air. Tubuhnya basah
kuyup dan kedinginan. "Lo nggak apa-apa, Ca"!" seru Kiara panik.
Belum sempat Nesya menjawab, terdengar suara Vino menggelegar di sudut
ruangan. "Lo nggak punya otak ya!?"
Nesya menoleh, kaget. Vino yang juga basah kuyup memukul wajah Ardi dengan keras. Ardi meringis
kesakitan. "Kalo tadi Nesya tenggelam, lo mau tanggung jawab, hah!?"
"Vin! Udah, Vin! Lo gila, ya!?" seru Egi panik sambil menahan tubuh Vino.
"Lo juga! udah tau Nesya nggak bisa berenang, ngapain lo ngajak dia ke sini" Lo
sama aja kayak Ardi, nggak punya otak!" sahut Vino emosi.
"Itu bukan salah Ardi! Nesya jatuh sendiri. Lo nggak liat" Lo yang nggak punya
otak!" Egi nggak mau disalahkan begitu saja oleh Vino.
Vino terdiam. Egi menghampiri Ardi. "Lo nggak apa-apa?"
Ardi membuang muka, kesal. Vino yang merasa bersalah langsung meminta
maaf. "Sori, gue emosi banget."
Belum selesai Vino bicara, Ardi udah memukul wajahnya dengan keras.
Gantian, Vino yang meringis kesakitan. "Impas, kan?" ujar Ardi.
Vino nggak menjawab. Tapi ia terima. Ini memang salahnya karena terlalu
emosional. Ardi pergi menghampiri anggota lainnya untuk menenangkan mereka yang
sejak tadi menonton adegan tadi.
"Nes, lo nggak apa-apa?" tanya Egi, membuat Vino menoleh ke arah Nesya.
Nesya menggeleng cepat, tanpa bisa melepaskan pandangan dari sosok Vino.
"Gi, gue tunggu di parkiran," ujar Vino sambil berbalik dan berjalan keluar.
"Vino!" panggil Nesya keras. Vino menghentikan langkah tanpa berbalik.
"Thanks udah nyelamatin gue...," ujar Nesya tulus.
Vino melanjutkan langkah dan menghilang di balik pintu.
*** Akhirnya Nesya nggak jadi mendaftar ekskul renang. Dia udah jiper duluan
sebelum benar-benar belajar. Cukup sekali hampir mati karena tenggelam.
untung ada Vino yang menyelamatkannya. Ya, lagi-lagi Vino. Sayangnya,
walaupun udah beberapa hari berlalu sejak peristiwa itu, tetap aja hubungan
mereka belum membaik. Mereka sama-sama enggan memulai duluan.
"Gue masih suka nangis kalo inget Mike," kata Nesya, mengawali obrolannya
dengan Kiara di kantin. Kiara merangkul pundak Nesya. "Sori, gue nggak ngasih tau elo dari awal."
Nesya menggelengkan kepala. "Bener kata bokap gue. Nggak ada bedanya gue
tau dari dulu ataupun sekarang. Gue tetap bakal sedih. Bahkan kalo gue tau
dari dulu, gue bakal lebih menyalahkan diri gue sendiri. Pacar gue meninggal,
tapi gue malah nggak inget apa-apa tentang dia..."
Kiara mempererat rangkulannya saat melihat mata Nesya mulai tergenang air
lagi. "Lo mau ke makam Mike?" tawar Kiara tiba-tiba.
Nesya tersentak. "Gue masih belum siap."


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kiara mengangguk mengerti. "Lo udah mulai ngomong sama Vino?"
Nesya mendesah pelan. "Kenapa sih orang itu selalu ada di hidup gue" Bahkan
gara-gara dia, Mike jadi..." kalimat Nesya terhenti.
"Itu murni kecelakaan, Ca. Bukan salah Vino. Dia nggak tau apa-apa," ujar
Kiara, membela Vino. "Dia emang selalu jadi orang yang nggak tau apa-apa!" keluh Nesya kesal. "Lo
tau, setiap gue lewat, cewek-cewek pasti pada ngeliatin gue dan bisik-bisik.
Padahal udah lama banget gue nggak ngobrol sama dia. Ketemu aja kayak lagi
ketemu virus!" Dahi Kiara berkerut. "Lo kesel sama dia gara-gara masalah Mike, atau gara-gara
hubungan lo dan Vino yang nggak jelas sekarang ini?"
Nesya tersentak. Dia bingung menjawabnya. "Mmm..."
"Lo kangen sama dia, ya?" tanya Kiara.
"Gue sayang Mike," Nesya mengelak.
"Bukan itu maksud gue. Gue tau lo sayang sama Mike. Tapi lo juga sayang
sama Vino, kan?" Hening sesaat, sampai akhirnya Nesya berani membuka mulut lagi. "Gue nggak
tau." Kiara mendesah pelan. "Ca, gue tau, permainan kalian belom berakhir."
"Maksud lo?" tanya Nesya bingung.
Kiara menatap Nesya. "Tanpa sadar, lo masih terus nunggu dia, dan dia pun
sebenernya masih mencari lo...."
*** Lewat celah pintu yang terbuka sedikit, Nesya mengintip ke dalam lapangan
basket indoor. Vino dan anggota yang lain tampak sedang latihan. Seperti
biasa, Vino, sang kapten andalan, selalu menjadi pusat perhatian. Awalnya
Nesya hanya ingin membayangkan sosok Mike jika sedang latihan. Tapi begitu
melihat Vino, bayangan Mike sama sekali nggak muncul. Bahkan senyum Nesya
saat ini tulus untuk Vino, bukan orang lain.
Perlahan Nesya masuk dan meletakkan sebotol air mineral di atas tas Vino.
Hanya beberapa menit Nesya berada dalam ruangan tersebut, memerhatikan
sosok Vino yang udah lama nggak dilihatnya. Dia nggak bisa membohongi
dirinya sendiri lagi. Walaupun sangat menyayangi Mike, dia kangen sama Vino.
Nesya tersenyum ragu, tapi kemudian ia keluar dari ruangan itu. Sambil
mengayunkan langkah, ia terus berpikir. Entah akan jadi seperti apa
hubungannya dengan Vino. Selama hampir empat bulan ini, dia benar-benar
menolak kehadiran Vino. Dan seakan mengerti posisi Nesya, Vino memberi
waktu bagi Nesya, selama yang Nesya butuhkan.
"Woy! Ini minum siapa?" tanya Vino seusai latihan, sambil mengangkat botol
minum yang ada di atas tasnya tinggi-tinggi. "Kalo nggak ada yang ngaku, gue
minum nih!" "Lho, kan emang punya lo!" seru salah satu cowok.
"Hah" nggak kok. gue malah lupa bawa minum..." Vino mulai curiga. Janganjangan ada orang yang mau mengerjainya!
"Tadi cewek lo yang naro situ..."
"Cewek gue?" Vino tersentak.
"Eh, mantan lo deh! Itu lho, yang anak kelas satu!"
Perlahan senyum Vino mengembang. Sekarang ia tau dari mana asal si botol
minum. Tanpa ragu, diteguknya air dari dalam botol. Apakah ini artinya sebuah
kesempatan..." *** "Ca, thanks buat minumnya ya!" seru Vino, saat Nesya berjalan melewati
taman dekat kompleks rumah mereka. Nesya menoleh. "Kamu dari mana?"
tanya Vino sambil menghampiri Nesya.
Nesya membuang muka. "Rumah Kiara."
"Kalo mau marah, marah aja, Ca. Aku udah siap kok," ujar Vino sambil
menyodorkan bola basket ke arah Nesya.
Melihat tampang polos Vino, Nesya malah makin kesal. "Kenapa sih kamu
selalu bikin aku sedih"!" Nesya memukul bola itu dengan keras. "Dari dulu
kamu selalu seenaknya. Kamu nggak pernah peduli sama aku. kamu selalu
bohongin aku!" air mata Nesya kembali mengalir.
"Aku tau aku salah. Tapi aku bener-bener nggak pernah berniat bohongin
kamu. Asal kamu tau, setiap detik aku selalu ngerasa bersalah karena udah
jatuh cinta sama kamu..."
Nesya tersentak. Tapi sesaat kemudian, ia malah tersenyum sinis. "Cinta"
Kamu ngomong tentang cinta" Vino yang terkenal suka meng-"gantung" cewekcewek di sekolah, sekarang bawa-bawa cinta?"
Vino terenyak. Nesya kembali menahan tangis. "Aku bener-bener ragu kamu cinta sama aku.
atas dasar sayang atau kasihan?"
"Kasihan?" ulang Vino nggak ngerti.
"Kamu sok baik dan minta aku jadi pacar kamu karena kamu kasihan sama aku,
kan" kasihan sama cewek amnesia tolol yang bahkan nggak inget pacarnya
sendiri" Iya, kan?" Nesya merasa hatinya sakit. bukan ini yang sebenarnya ingin
ia ucapkan. "Tapi Mike yang udah ngerebut kamu dari aku!" seru Vino kesal.
Nesya terperanjat. "Ngerebut" Mike yang udah nyelametin aku! dia yang
nemuin aku waktu kamu ninggalin aku sendirian. Kamu nggak tau betapa
takutnya aku waktu itu. Dan kamu nggak pernah kembali untuk nyari aku,
kan?" Vino tersentak. Dia nggak pernah tau kalo permainan petak umpet saat kecil
itu meninggalkan bekas luka yang terlalu dalam seperti ini. Dia benar-benar
nggak pernah menyangka semuanya bakal menjadi serumit ini. Dan yang nggak
bisa dia terima adalah, kenapa harus Mike yang menemukan Nesya saat itu!"
"Aku memang salah. Tapi waktu itu kita kan masih kecil, Ca! Aku masih nggak
tau apa-apa dan... Ya ampun...! masa Cuma kejadian sepele gitu kamu ungkitungkit sih?" Vino berusaha membela diri.
"Sepele" Kamu bilang sepele" Soalnya kamu enak sih, tinggal pulang begitu
aja. Nggak mikirin aku yang ketakutan. Untung ada Mike," potong Nesya cepat.
"Di tuh muncul Cuma kebetulan!" seru Vino kesal. "Kenapa sih harus Mike
yang jadi pahlawan di mata kamu?"
"Karena dia nggak egois, nggak seperti kamu," ujar Nesya kecewa.
Vino terenyak. Jujur, dia nggak menyangka bakal mengucapkan kata-kata
seperti tadi. Itu bukan dirinya! nggak pernah dia memiliki pikiran seperti itu!
Dan hanya satu alasan kenapa dia menjadi begitu, yaitu karena... Nesya.
Tapi, kenapa masalahnya jadi runyam begini" Bukankah sebenarnya ia ingin
berbaikan dengan Nesya"
"Buat aku, sampai kapan pun Mike adalah cowok terbaik dalam hidupku," kata
Nesya dingin, lalu berlalu.
*** "Eh, spiderman!" seru Egi, sambil menepuk punggung Vino keras.
Vino langsung berlagak muntah-muntah. "Dasar gentong gila! Lo mau
ngebunuh gue?" Egi tergelak dan duduk di samping Vino. "Lo kenapa" Masih nggak ada
kemajuan sama Nesya?" tanyanya.
Vino mengembuskan napas lelah. "Sejak gue ribut sama dia seminggu yang
lalu, semuanya malah jadi tambah buruk."
"Ribut di taman deket rumah lo itu?"
"Ribut di mana lagi" Sekolah" Biar semua orang tau gue lagi ada masalah sama
dia, terus dijadiin hot gossip?" sahut Vino bete. Egi cengengesan nggak jelas.
"Gue pengen baikan sama dia, tapi kayaknya memang belum bisa..."
Egi menatap Vino cukup lama. "Baru kali ini gue liat lo putus asa banget. Mana
Vino yang selalu tegar menghadapi segala masalah" Yang nggak pantang
menyerah?" Pandangan Vino kosong. "Lo tau, kalo lawan gue manusia, gue pasti menang.
Tapi sekarang, lawan gue adalah bayangan. Dan sampai kapan pun, gue nggak
akan bisa menang dari bayangan Mike."
"Sama seperti Mike yang dulu nggak pernah bisa menang dari bayangan lo,"
ucap Egi pelan tanpa sadar.
"Apa"!" "Gue sih yakin lo bisa memenangkan permainan ini," kata Egi tenang. "Lo pasti
bisa nemuin Nesya, Vin."
Vino mengerutkan dahi. "Maksud lo?"
"Nesya masih nungguin lo buat nemuin dia," ujar Egi, masih sok misterius.
"Maksud lo, petak umpet sepuluh tahun yang lalu" Itu kan udah lama banget.
Dan yang nemuin dia pun bukan gue, tapi Mike..."
"Tapi seperti yang pernah lo bilang ke gue, permainan ini kan antara elo dan
dia. Elo yang memulai permainan, dan udah seharusnya lo juga yang
mengakhiri..."Kata-kata Egi cukup telak, membuat Vino makin bimbang. "Lo
tau nggak, Vin. Gue selalu ngerasa kalian sama-sama tolol. Yang satu masih
setia menunggu, yang satu lagi masih setia nyari. Kapan mau ketemunya?"
SEBELAS NGGAK terasa, ujian semester udah berlalu. Hubungan Kiara dan Nesya masih
dekat seperti dulu. Ya iyalah, namanya juga teman sebangku.
Sayangnya, hubungan baik itu masih nggak menghampiri Nesya dan Vino.
Mereka masih diem-dieman. Status mereka pun masih nggak jelas. Setiap kali
ada yang bertanya, baik Nesya maupun Vino sama-sama enggan menjawab.
Vino masih bertahan dengan keraguan akan perasaan Nesya terhadapnya.
Nesya sendiri masih enggan mengakui bahwa selain Mike, ternyata masih ada
Vino yang juga disayanginya.
"Ca, kita nggak remidi!" seru Kiara senang, sammbil menunjukkan kertas
ulangan matematika mereka.
Nesya terbelalak. "Wih! Mantap! Gue dapet delapan lima!"
"Tapi gue punya berita buruk nih, Ca..."
"Apaan, Ra...?" Nesya mengikuti arah pandangan Kiara. Dilihatnya Vino yang
sedang ddikerubungi teman-teman sekelasnya.
"Di kelas kita, anak ceweknya Cuma lo dan gue yang nggak remidi. Itu karena
kita sering belajar bareng, kan?" Kiara berhenti sejenak untuk cengengesan.
Kayaknya udah ketularan Egi deh! "Tapi masalahnya, Bu Endang minta Vino
jadi tutor temen-temen kita yang dapat nilai jelek. Begitu cewek-cewek di kelas
kita tahu, mereka langsung heboh gitu deh."
Nesya masih memerhatikan sosok Vino yang tampak "gerah" dikelilingi banyak
cewek. "Biarin aja!"
"Hah?" Kiara terkejut.
Nesya merengut bete. "Biarin aja dia jadi tutor. Kan lumayan, bisa deket
cewek-cewek bego!" ujar Nesya ketus sambil beranjak pergi.
Kiara hanya bisa geleng-geleng kepala.
*** "Kenapa sih kita juga harus ikut-ikutan ditutorin sama dia?" keluh Nesya bete.
Saat itu mereka di dalam kelas atas perintah Bu Endang.
Kiara merengut kecil. "Karena nilai kita belom seratus. Kata Bu Endang, nggak
ada salahnya kalo sekalian aja satu kelas, tanpa terkecuali, ikut tutorialnya
Vino." Vino yang saat ini sedang mengajar di depan kelas, sekilas melirik Nesya dan
Kiara yang duduk di paling pojok belakang. Apa yang mereka berdua lakukan
sejak tadi" Memerhatikan Vino sambil mendengarkan MP3 secara diam-diam.
"Tapi ngomong-ngomong, dia baik juga ya..."
"Dia siapa?" tanya Nesya.
Kiara menunjuk Vino dengan gerakan kepalanya. "Dia tau kita nggak dengerin
dia, tapi dia nggak negur kita..."
"Kenapa harus ditegur" Kita kan seharusnya nggak ada di sini. Nilai delapan
lima kan udah bagus. Mungkin dia sendiri matematikanya nggak jago-jago
amat," kata Nesya, nggak sadar kalo Vino udah ada di sampingnya.
"Sori, tapi nilai ujian matematik gue yang terakhir dapet seratus," ujar Vino,
pelan tapi dalem. Nesya melirik kiara. Kiara langsung pura-pura mencatat. Nesya memejamkan
mata kuat-kuat, dan begitu ia menoleh dan membuka matanya lebar-lebar,
Vino udah menatapnya lekat-lekat.
"Ada pertanyaan?" tanya Vino, seperti bola basket yang menghantam kepala
Nesya. Nesya Cuma bisa diam. Masalahnya, status Vino sekarang ini adalah tutor, jadi
nggak lucu kan, kalo dia marah-marah soal masalah pribadi" Nesya melirik satu
kelas. Semuanya sedang mencatat. Untung nggak ada yang memerhatikan
mereka! Fiuh! "Hm... selesainya jam berapa ya?" tanya Nesya.
Kiara langsung melengos. Cape deh! Pertanyaan Nesya tolol banget sih"
Pikirnya. "Sebentar lagi," sahut Vino datar sambil berjalan ke depan kelas.
Nesya mendengus kesal. "Sok keren banget..."
"Bukannya memang keren?" sahut Kiara sambil tersenyum geli.
"Cih!" Nesya membuang muka. Tapi kemudian, bukannya mencatat, dia malah
asyik menggambar di kertas. Sekali-sekali dia memang melirik ke arah Vino. Itu
sih karena dorongan hati. Jadi nggak bisa dijelasin pake logika.
"Ya ampun, Ca..."
Nesya menoleh begitu mendengar desahan Kiara. Dilihatnya Vino sedang
membungkuk di samping salah satu teman Nesya yang kebetulan cewek.
Gayanya sih seakan sedang menjelaskan, tapi sambil ketawa-ketawa. Kali ini,
tanpa dicolok ke listrik pun, hati Nesya udah panas sendiri. Dicoretnya kertas
sampai sobek. Kiara bergidik. "Lo kenapa, Ca?"
"Terus aja... Ketawa aja terus...," gerutu Nesya sambil terus memerhatikan
Vino. Kiara melirik ke arah Vino. "Ooooh..., katanya lo udah nggak peduli sama dia,
Ca?" "Ember!" ujar Nesya, sambil mencoret-coret kertas dengan kejam.
"Terus, kenapa lo marah?" pancing Kiara.
Tanpa sengaja, mata Nesya kembali melihat Vino yang masih ketawa-ketawa.
Emosinya makin terpancing. Ditekannya pensil dengan kuat sampai isinya
patah. "Karena gue... Huh!" seru Nesya kesal sambil membanting pensilnya.
Semua menoleh, termasuk Vino. Cepat-cepat Nesya membereskan buku,
mengambil tas, dan berjalan keluar kelas tanpa menoleh lagi pada Vino. Kiara
segera bangkit ingin mengejar Nesya, tapi kali ini dia sempat ditahan oleh Vino.
"Nesya kenapa, Ra?" tanya Vino khawatir.
"Biasa, cemburu," bisik Kiara sambil tersenyum sok misterius. "Sori ya, gue
duluan!" Cepat-cepat ia keluar kelas menyusul Nesya.
Tinggallah Vino, terlongo-longo di depan pintu. Cemburu" Nesya cemburu"
Perlahan ia tersenyum, campuran antara geli, senang, dan lega. Sepertinya ia
memang harus melakukan sesuatu. Ia memang suka meng-"gantung" cewek,
tapi Nesya nggak akan jadi salah satunya!
*** Seperti biasa, Vino pulang bareng Egi naik motor. Sejak putus dengan Nesya,
dia nggak pernah lagi membawa mobil ke sekolah. Buat apa naek mobil
sendirian" Sepi. Bikin dia teringat terus sama Nesya.
"Oh iya, Vin. Tadi pelatih lo nitipin gue ini," ujar Egi, sambil mengeluarkan
sebuah CD dari dalam tas.
Vino menaikkan alis. "CD apaan nih?"
"Ktanya sih itu CD hasil rekaman pas perpisahan Mike. Berhubung tadi lo udah
di parkiran dan dia ketemunya sama gue, ya dia nyuruh gue kasih ke elo..."
"Mike...?" ulang Vino bingung. Perasaannya nggak enak.
Egi langsung menepuk punggungnya dengan keras. "Kita tonton bareng yuk!"
Dan sekarang, di sinilah mereka. Duduk di ruang TV di rumah Vino sambil
memutar CD tersebut. Sebelum menonton, Egi udah mengajak Vino berdoa
terlebih dahulu, yang langsung ditanggapi Vino dengan timpukan bantal.
"Lo kira mau nonton apaan?" kata Vino, putus asa abis ngadepin Egi yang ajaib.
"Ya siapa tau itu CD terkutuk. Tiba-tiba ada Sadako yang keluar dari TV, terus
kita mati! Aaaaaa!!!" jerit Egi. Berlebihan banget deh tuh cowok.
"Kalo lo jerit lagi, sebelum Sadako keluar, lo udah pingsan duluan gara-gara
gue timpuk pake ini!" Vino sudah siap-siap mengangkat bantal sofa lagi, kali ini
yang lebih besar. Egi cengengesan. Vino menghela napas sambil menekan tombol play. Dan
rekaman pun terputar di hadapan mereka.
Sorotan dimulai dari lapangan basket indoor. Semua orang di dalamnya
tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang asyik mengobrol. Ada
yang sedang sharing dengan pelatih. Dan terakhir, kamera menyorot dua orang
yang sedang bermain di lapangan.
Mike dan Vino. Mereka saling berebut bola. Mike memasukkan bola ke ring dan dengan cepat
langsung mengopernya pada Vino. Vino menangkap dengan sigap, melompat,
dan three point pun didapatkannya. Mike tersenyum puas. Tanpa kata, mereka
saling menghampiri dan ber-high five.
"Ini dia kapten kebangggaan kita! Michael Ardiansyah!" seru si perekam.
Mike menoleh sambil tersenyum malu-malu. "Apaan sih lo...?"
"Mike, kasih pesan-pesan dong!"


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mike menghadap ke kamera. "Hm... pesan apa ya" gue Cuma mau bilang,
kalian jangan males latihan. Kita bisa berprestasi bukan karena karbitan, tapi
karena sering berlatih..."
"Tapi kalau dari sananya nggak punya bakat, susah juga, kali ya. bisa sampe
bongkok latihannya, baru bisa..."
Kamera langsung menyorot ke arah datangnya suara.
Vino, dengan tampang kagetnya karena nggak nyangka bakal ikut disorot,
hanya bisa tersenyum lebar.
Mike langsung merangkul leher Vino sambil pura-pura marah. "Nih anak
emang belagu. Nggak usah diikutin. Untung aja jago, kalo nggak, udah gue
dribel terus gue masukin ke ring," ujar Mike dengan wajah mengarah ke
kamera. Vino tertawa geli. "Yap-yap! Mike ini memang kapten tim basket kita yang
paling... nggak jelas kehidupan cintanya. Gue aja nggak pernah liat ceweknya
yang mana." "Eh, eh, ngomong apa lo barusan" Bawa-bawa cewek gue lagi! Eh iya, pesan
gue buat elo,Vin, ntar kan cewek gue bakal jadi adik kelas lo. Berhubung gue
udah hengkang, jadi bantu gue jagain cewek gue selama di sekolah, ya!"
Halah! Cewek kok pakai dijaga-jagain segala. Siapa sih yang mau ganggu cewek
lo?" sahut Vino, sekenanya.
"Eh, bener ya. kalo udah liat cewek gue, lo nggak boleh deket-deket dia!" kata
Mike bercanda. Tiba-tiba Vino menekan tombol pause.
"Eh, kok di-pause?" tanya Egi bingung.
"Selamanya Nesya memang milik Mike. Gue nggak berhak ngerebut dia," ujar
Vino, bangun dari sofa, hendak masuk ke kamarnya.
"Ya udah, gue tonton sendiri aja," sahut Egi sambil kembali menekan tombol
play. Terdengar suara Mike dari player.
"...eh iya, berhubung si Vino belagu itu lagi nggak ada, gue mau bocorin
rahasia. Sebenernya dia itu calon kapten yang baru. Walaupun belagu, dia
aslinya asyik kok. jadi kalo pas belagunya keluar, timpuk aja pake bola biar
sadar. Hehehehe!" Vino terus melangkah menuju kamar sambil tersenyum sedih.
"Terus, gue mau nambahin pesan buat dia," terdengar lagi suara Mike.
Langkah Vino terhenti mendengar lanjutan rekaman yang diputar Egi. Dengan
cepat, ia kembali menoleh ke TV.
"...ada satu hal lagi yang mau gue sampein. Vin, kalo suatu saat terjadi sesuatu
yang nggak pernah gue prediksiin, tolong tetep jagain cewek gue ya...," ujar
Mike yakin. "Mike, kayaknya cukup deh. Emangnya kita mau bikin film" Betah banget di
depan kamera"!" ujar Vino sambil merangkul Mike.
"Yuk. Oke!" Mike dan Vino melambaikan tangan ke arah kamera. Sedetik kemudian,
kamera pun dimatikan. Vino terdiam sesaat. Dia masih terpaku. Masih nggak percaya akan apa yang
baru saja dilihatnya. Menjaga Nesya" Bolehkah" Dan, bolehkah ia lebih dari
sekadar menjaga" Apakah dari awal Mike memang sudah memperkirakannya"
"Tuh kan, Vin. Lo tuh udah dititipin sama Mike untuk jagain Nesya," kata Egi,
menyadarkan Vino. "Ya, tapi... gue nggak bakal merebut Nesya dari Mike," sahut Vino dingin.
Egi menoleh, mencoba meyakinkan diri apakah roh Sadako telah merasuki
tubuh Vino. Tapi sedetik kemudian, Vino tersenyum yakin.
"Gue akan minta, bukan ngerebut..."
*** "Lo masih marah ya sama Vino?" tanya Kiara penasaran.
Nesya menghela napas panjang. "Gue udah maafin dia kok..."
"Maafin semuanya" maafin kesalahan dia ngebohongin elo, Mike, juga masa
kecil kalian?" tanya Kiara nggak percaya. "Terus kenapa lo nggak mau baikan
sama dia?" "Gue takut, Ra!" sahut Nesya cepat.
"Takut apaan?" "Gue takut sama perasaan gue sndiri. Makin lama gue makin sadar kalo gue
suka dia. Bahkan laebih dari itu, gue syang sama dia...," kata Nesya.
"Kenapa takut, Ca" Lo tau dia juga sayang sama elo..."
"Justru itu. Semuanya jadi makin nggak adil buat Mike."
"Kiara tersentak. "Mike?"
Nesya tertunduk sedih. "Kalo gue jadian sama Vino, itu sama aja gue
mengkhianati Mike. Sejak dulu, Mike menganggap Vino adalah bayangan masa
lalu gue. Satu-satunya orang yang Mike iriin adalah Vino. Dan kalo sekarang
gue malah milih Vino, Mike bakal..."
"Mike udah nggak ada," potong Kiara dingin. Nesya tersentak. "Lo ngomong
seolah-olah Mike masih hidup, Ca. Apa lo udah bener-bener bisa nerima kalo
Mike udah nggak ada" MIKE UDAH NGGAK ADA," lanjut Kiara penuh
penekanan. Nesya terenyak. "Gue Cuma..."
"Kalo lo udah bener-bener bisa nerima itu, lo nggak akan nyia-nyiain waktu
kayak sekarang. Kalo lo terus mikirin perasaan Mike, sori, lo bakal menyesal
karena udah ngancurin perasaan Vino dan perasaan lo sendiri.
Hening cukup lama, sampai akhirnya Nesya berani buka mulut. "Ra... kalo gue
jadian sama Vino, bener nih, Mike nggak marah?" tanya Nesya lirih.
Kiara tersenyum lembut. "Yup! Trust me."
*** Berhubung Nesya sering pulang sore-tuh anak betah banget nongkrong dulu di
rumah Kiara-sore itu Vino sengaja menunggunya di taman sambil duduk di
ayunan. Vino yakin banget, Nesya pasti lewat taman ini. Selama menunggu,
ingatan Vino kembali melayang ke peristiwa sepuluh tahun lalu. Dia ingat
pertama kali ribut sama Nesya. Waktu itu Nesya mendorongnya jatuh dari
ayunan. Dia juga ingat di taman inilah pertama kalinya dia nembak Nesya
untuk jadi pacarnya. Kenangan yang manis sekaligus konyol kalau diingat-ingat
lagi. Dugaan Vino benar. Sepulang dari rumah Kiara, Nesya memang lewat taman.
Dan dia heran banget ngeliat Vino duduk sendirian di ayunan.
Vino nggak sadar Nesya muncul dari belakang. Perlahan Nesya menghampiri
Vino dan... BRUK! Vino terempas ke tanah. Tapi kali ini, dia langsung bisa menebak siapa yang
mendorongnya dari ayunan... untuk kedua kalinya!
"Kamu apa-apaan sih"!" seru Vino kesal. Lagi-lagi telapak tangannya lecet.
Nesya tersenyum sinis. "Sakit, ya" syukurin!"
"Dari dulu kamu tuh selalu bikin aku celaka," keluh Vino, sambil membereskan
butiran-butiran pasir dari telapak tangannya.
"Ah, berlebihan!"
"Eh, ini beneran, tau!" Vino mendekat ke arah Nesya dan menatapnya dalamdalam. "Kamu nggak inget kalo dulu kamu pernah nabrak aku sampai jatuh pas
lagi main kejar-kejaran" Waktu itu kalo nggak salah, lutut aku berdarah. Terus
yang paling aku inget, kamu pernah nabrak aku pake sepeda sampai lengan
aku kena batu. Bekas lukanya aja masih ada sampai sekarang...," kata Vino
sambil memperlihatkan luka di lengannya pada Nesya.
"Ah, masa sih?" tanya Nesya polos sambil menjulurkan kepala untuk melihat
bekas luka di lengan Vino. Dia benar-benar nggak nyangka, waktu kecil
ternyata dia sering membuat Vino terluka. huah!
"Sekarang kamu harus tanggung jawab, Ca!" seru Vino iseng.
Nesya langsung memukul pelan bekas luka di lengan Vino. "Itu kan udah
sembuh. Bekas lukanya juga udah nggak terlalu kelihatan. Lama-lama juga
hilang." "Aku malah nggak mau bekas lukanya hilang," sahut Vino sungguh-sungguh.
Nesya terpaku mendengarnya. "Biar kamu merasa bersalah terus," lanjut Vino
sambil cengengesan. Nesya langsung merengut. "Dasar Pinokio jelek!"
"Pinokio?" "Iya, sebenernya kamu lebih cocok dipanggil Pinokio daripada Pino. Kamu
tukang bohong!" seru Nesya, menumpahkan unek-unek masa kecilnya.
Vino tersentak. Dia nggak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Nesya ini.
Akankah semuanya memang akan kembali ke masalah Mike" Semoga saja
tidak. Dia hanya ingin memperbaiki semuanya dengan Nesya.
"Kenapa diam" Udah ngaku kalah?" tanya Nesya bangga.
"Aku kan udah minta maaf soal..."
"Kapan minta maafnya" Bukannya setelah main petak umpet itu, besoknya
kamu langsung pindah?" sela Nesya cepat, tau apa yang dipikirkan Vino.
Sesaat Vino melongo. "Aku kira masalah..."
"Kamu tetep nggak mau minta maaf?" sela Nesya untuk kedua kalinya.
Vino tersenyum lega. Terima kasih, Tuhan! Ternyata Nesya menuntut
permintaan minta maaf atas permainan petak umpet mereka dulu. Bukan soal
Mike. "Ngapain aku harus minta maaf" Dalam permainan, nggak ada kata
"maaf". Kalo nggak puas, ya lanjutin permainannya. Gimana?" tantang Vino,
belagu seperti biasanya. Nesya menaikkan alis. "Maksud kamu?"
"Kita lanjutin permainan sepuluh tahun yang lalu."
Perlahan Vino berbalik memunggungi Nesya. Nesya terdiam sesaat. Haruskah
dia melanjutkan permainan ini lagi" Tapi perlahan ia tersenyum. Mengerti apa
maksud ucapan Vino, Nesya pun menyentuh punggung Vino dengan salah satu
jarinya. Vino berbalik menghadap Nesya.
"Yang ini...," ujarnya sambil menunjuk jari telunjuk Nesya.
Nesya menggeleng. "Yang ini..." Kali ini Vino menunjuk jari tengah.
Nesya kembali menggeleng.
"Hm..." Vino menebak-nebak. "Yang ini!" serunya sambil menyentuh
kelingking Nesya. Nesya tersenyum senang. Akhirnya permainan bisa juga dimulai setelah Vino
berhasil memilih jari yang tepat. Vino menyandarkan lengan ke tembok taman,
sambil menutup mata. "Kamu bakal cari aku sampai ketemu, kan?" tanya Nesya pelan. Ada keraguan
dalam suaranya. Vino menoleh. Dia tau Nesya akan bertanya seperti itu. "Kali ini, kamu pasti
aku temuin," ujar Vino yakin sambil menatap Nesya dalam-dalam. "Aku hitung
ya! satu... dua... tiga..."
Nesya berbalik dan mencari tempat persembunyian yang aman. Dan persis
seperti sepuluh tahun yang lalu, Nesya bersembunyi di balik semak-semak
yang ditata rapi di taman. Tempat itu masih ada. Tempat Mike dulu pernah
menemukannya. Tapi sekarang, Mike nggak akan pernah menemukannya lagi,
karena Vino-lah yang akan menemukannya.
Suara Vino masih terdengar jelas di telinga Nesya. Nesya memejamka mata,
menunggu dan terus menunggu. "...delapan... sembilan... sepuluh... udah
belom?" seru Vino di akhir hitungannya.
Vino membuka mata dan celingak-celinguk mencari sosok Nesya. Tekadnya
satu: menemukan Nesya. Matahari mulai surut. Senja mulai datang. Lampu taman yang berbentuk bola
menyala temaram. Tanpa sadar, di tempat persembunyiannya, Nesya
menangis. Tapi ia menangis bukan karena ketakutan seperti dulu. Ia bukan lagi
anak berumur lima tahun yang takut gelap. Dia sudah 15 tahun dan bisa pulang
sendiri ke rumah. Bukan itu yang ditakutkannya. Dia takut kejadian sepuluh tahun yang lalu
terulang lagi. Dia takut Vino menyerah dan nggak menemukannya seperti dulu.
Ini bukan lagi masalah siapa yang akan menemukannya. Dia baru sadar, sejak
sepuluh tahun yang lalu, yang sebenarnya ia inginkan bukanlah seseorang
menemukannya, melainkan hanya Vino yang menemukannya. Ya! dia ingin
Vino, bukan Mike ataupun orang lain!
"Kenapa nangis, Ca?"
Nesya mengelap matanya dengan punggung tangan dan mendongakkan
kepala. Begitu melihat Vino sedang berdiri di hadapannya, tangis Nesya malah
tambah keras. Vino panik. Perlahan ia membantu Nesya berdiri. "Hei, kok nangis sih" Aku
berhasil nemuin kamu, kan?"
Nesya memeluk Vino erat. "Aku kira kamu bakal ninggalin aku lagi..."
Vino mengelus-elus kepala Nesya dengan lembut. "Nggak akan pernah lagi.
Aku janji." *** Vino dan Nesya duduk bersisian di bangku taman. Vino masih menggenggam
tangan Nesya. Nesya malah asyik menatap langit malam yang gelap.
"Kok nggak ada bintang, ya?" tanyanya. "Apa mau hujan?"
Vino ikut menatap langit. "Hm... mungkin. Udaranya juga mulai dingin.
Nesya tersenyum lega. Perlahan ia menoleh ke arah Vino. "Sori ya, Vin, tangan
kamu lecet karena aku dorong tadi. Habis, pas tutorial waktu itu, kamu bikin
aku cemburu sih..." Vino tergelak. "Kamu cemburu" Bagus dong!"
Nesya merengut kecil. "Hm... sering-sering aja begitu ya! jadi tiap hari aku
punya alasan untuk ngelukain kamu. Aku boleh nabrak kamu pake sepeda,
dorong kamu dari ayunan, nimpuk kamu pake bola basket..." Ucapan Nesya
terhenti, karena tiba-tiba Vino meraih kedua bahu Nesya dan mendekatkan
wajahnya. Nesya terbelalak. Bibir Vino mendarat cepat di bibirnya. Sama dengan first kiss
dulu, tapi bedanya, orang yang ada di hadapannya ini, yang sedang
menciumnya, bukanlah Mike, tapi Vino.
Vino menatap Nesya lekat-lekat. "Nggak apa-apa, Ca, asal kamu tetap di sisiku
dan sayang sama aku," ujar Vino lembut. "Tapi omong-omong, kayaknya aku
belom pernah denger kamu bilang sayang ke aku deh," Vino mengingat-ingat.
Nesya salah tingkah sendiri. "Memangnya perlu diucapin?"
"Kalo kamu nggak bilang, gimana aku tau isi hati kamu yang sebenarnya?"
"Vino... aku sayang kamu," sela Nesya cepat-cepat dan dengan suara pelan.
Wajahnya bersemu merah. Vino menaikkan alis. "Apa" cepet banget ngomongnya. Suaranya pelan, lagi.
Pasti nggak tulus." Nesya menatap Vino bete. "AKU... SAYANG... KAMU!" seru Nesya keras dan
perlahan. Vino tertawa geli. "Aku juga sayang kamu," ujar Vino yakin. Bibirnya tersenyum
lebar. Sorot matanya menyiratkan ketulusan. Ia mencubit hidung Nesya pelan.
Angin berembus makin kencang. Suasana begitu hening, karena mereka
berdua mendadak sama-sama diam dan hanya saling menatap. Sampai
akhirnya.. "Huaaaaaah!!! Hujan!!!" seru Nesya panik saat tiba-tiba hujan turun.
"Ayo pulang!" seru Vino, langsung menarik tangan Nesya dan mengajaknya
berlari menuju rumah. Nesya tertawa riang. Belum pernah ia hujan-hujanan seperti ini, apalagi bareng
Vino. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Nesya berhenti. "Permainan udah
berakhir, kan?" tanyanya, terdengar ragu dan cemas.
Vino mempererat genggamannya, lalu menoleh sambil tersenyum lembut. "Ya,
permainan udah berakhir."
Nesya kembali menoleh ke arah bangku taman, tempat ia dan Mike sering
menghabiskan waktu mereka. Ya, sekarang udah benar-benar berakhir, Mike,
ujarnya dalam hati sambil tersenyum lega.
EPILOG SIANG itu cerah ceria. Matahari terhalang awan putih, bukan awan hitam yang
akan membawa hujan. Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat udara sejuk.
Nesya menatap makan yang ada tepat di hadapannnya. Makam Mike.
Kompleks pemakaman ini begitu rapi dan asri. Nggak ada kesan seram sama
sekali. Yang terasa hanya kedamaian.
Perlahan Nesya menyentuh ukiran nama "Michael Ardiansyah" di batu nisan.
Tatapannya begitu sedih. Seberapa kuat pun ia menahan, rasa sakit di dadanya
masih tetap ada. Matanya pun lagi-lagi terasa panas.
"Mike, kamu bisa dengar aku?" tanya Nesya pelan. "Maaf karena aku telat
datang ke sini. Maaf karena aku sempat lupa sama kamu. Dan maaf karena
sekarang aku juga menyayangi cowok lain selain kamu..."
Nesya merasa air matanya jatuh seiring berembusnya angin, membelai rambut
hitamnya yang terurai lembut.
"Aku masih inget dengan jelas wajah kamu, senyum kamu, tawa kamu, suara
kamu, pelukan hangat kamu..." Nesya mengusap air matanya. "Aku bahkan
masih inget gimana pertemuan kita pertama kali dulu. Kamu nemuin aku... you
are my hero, Mike..."
Nesya menghela napas sesaat. "Saat aku tau kamu udah nggak ada, aku selalu
berharap semua itu Cuma mimpi. Aku berharap di saat aku terbangun, kamu


Udah Belom Karya Laurentia Dermawan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ada di sisi aku dan berkata kamu nggak akan pernah ninggalin aku..." Air mata
Nesya makin deras. Nesya menatap rerumputan di hadapannya yang bergoyang lembut. "Tapi
sekarang aku sadar, ternyata kamu benar. Selama ini aku selalu menunggu
Vino. Walaupun dulu kamu udah nemuin aku, tetap aja aku masih nunggu dia
untuk nemuin aku. dan pada saat aku sadar, aku nggak bisa menghentikan rasa
sayangku ke dia..." "Tapi yang perlu kamu tau, Mike, perasaan sayangku pada kamu nggak akan
hilang. Betapa pun sayangnya aku ke orang lain, kamu tetap nggak akan
tergantikan. Aku bisa bertahan karena aku merasa kamu selalu ada dalam
hidup aku. kenangan... ya, Cuma kenangan yang meyakinkan aku bahwa kamu
akan terus ada di hati aku."
Perlahan Nesya menghapus sisa air mata di pipinya, lalu berdiri menyambut
Vino, Egi, dan Kiara yang menghampirinya dengan buket bunga di tangan
mereka. "Ini..." ujar Vino sambil menyerahkan buket mawar merah yang masih segar
kepada Nesya. Vino sendiri memili
h mawar putih. "Mike, gue bawain anggrek putih buat elo," ujar Kiara. "Sebenernya, gue masih
pengen cerita banyak ke elo, tapi..." Kiara mengelap air mata yang nyaris jatuh
dari matanya. "Udah, udah. Sekarang giliran gue!" seru Egi, sengaja supaya Kiara nggak jadi
nangis. "Hm... Mike, mungkin lo nggak kenal gue. Jadi gue memperkenalkan
diri dulu ya. nama gue Egi. Gue anggota ekskul renang di SMA Pelita..."
Nesya, Vino, dan Kiara langsung menatapnya tajam. Egi langsung cengengesan.
"Eh, iya, ng... gue ngasih lo tulip kuning aja ya. kata yang jual sih artinya
harapan cinta. Tapi nggak apa-apalah. Toh ntar kalo di kehidupan mendatang
gue jadi cewek, gue rela kok jatuh cinta sama elo. Hehehe. Ng... Mike, gue pilih
tulip kuning karena gue suka aja, kuning kan warna favorit gue."
"Udah, diem!" kata Kiara sambil membungkam mulut Egi, takut cowok itu
nyerocos terus kayak bebek.
Vino tersenyum tulus. "Thanks, Mike. Lo udah ngajarin banyak hal ke gue. Gue
nggak akan pernah bisa ngerebut Nesya dari elo. Gue Cuma bisa minta izin lo.
Dan Nesya memang bukan bola basket yang bisa kita rebutin. Kita sama-sama
sayang sama dia. Dan sekarang giliran gue yang menjaga dia. Lo tenang aja.
Trust me..." Giliran Nesya tersenyum lembut. "Kamu tau, Mike" Mungkin Vino orang yang
tepat buat aku. tapi yang pasti, kamu yang terbaik. You"re the best and will
always be..." Nesya menyelipkan selembar kertas di antara celah tangkai yang ada di buket
mawar merahnya dan meletakkannya ke atas makam, kemudian disusul oleh
yang lainnya. Vino dengan mawar putihnya, Kiara dengan anggrek putihnya,
dan Egi dengan tulip kuningnya.
Serempak mereka mengucapkan doa di dalam hati. Doa tertulus untuk seorang
Michael Ardiansyah yang nggak akan terlupakan. Mike boleh pergi untuk
selamanya, tapi nggak ada satu orang pun yang bisa menghapus
keberadaannya di dunia ini. Dia pernah ada. Dan selama orang yang
menyimpan kenangan tentangnya masih hidup, ia pun akan terus ada.
Mereka berbalik dan beranjak pergi meninggalkan makam. Egi dan Kiara sudah
berjalan jauh di depan. Sedangkan Vino dengan setia mendampingi Nesya.
Baru beberapa melangkah, tiba-tiba Nesya berbalik, menoleh ke arah makam.
Dilihatnya kertas yang tadi diselipkannya terbang bersama angin yang
berembus kencang. Nesya sempat tertegun. Tapi biarlah, cukup dia, Tuhan,
dan mungkin Mike yang tau apa yang tertulis di kertas itu. Perlahan senyumnya
mengembang. Senyum tertulus dan damai yang khusus diberikannya untuk
Mike. "Kenapa?" tanya Vino bingung.
Nesya menggeleng cepat sambil tersenyum manis. "Nggak apa-apa kok. ayo
pulang!" Nesya menggandeng lengan Vino dengan erat. Mereka melanjutkan langkah
pulang. Kertas yang ditulis Nesya untuk Mike terbang semakin jauh tertiup angin.
Kertas itu berisi lirik lagu kesayangan Nesya, buat Mike.
In this world you tried Not leaving me alone behind
There"s no other way
I prayed to the gods let him stay
The memories ease the pain inside
Now i know why All of my memories keep you near
In silent moments imagine you here
All of my memories keep you near
Your silent whispers, in silent tears
Made me promise I"d try
To find my way back in this life
I hope there is a way To give me a sign you"re ok
Reminds me again it"s worth it all
So I can go on Together in all these memories
I see your smile All the memories I hold dear
Darling, you know I will love yu
Until the end of time (Memories-Within Temptation)
Anak Pendekar 14 Jaka Galing Karya Kho Ping Hoo Tiga Paderi Pemetik Bunga 2
^