Pencarian

Pesawat Ark Two 2

Pesawat Ark Two Tom Swift 07 Bagian 2


Kendaraan itu membawa mereka ke Portal D. Dari balik jendela yang ada di atas kepala Tom dapat melihat permukaan bulan walau hanya sekilas. Tepi-tepi Copernikus keputih-putihan menjulang dengan nyata di latar belakang kegelapan ruang angkasa.
Tom mengharapkan Gene Larson, yaitu petugas pelaksana Swift Enterprises yang menemui mereka. Tetapi Tom tidak mengira suatu kelompok yang menyertai Gene. Mereka jelas tampak tidak ramah. Wakil Bumi untuk interplanet, Henry Greylock, ada di sana. Ia berwajah merah dengan kumis putih mengkilat dan sorotan mata tajam. Di sampingnya seorang ceking berwajah elang, yaitu Marcus Overmann, anggota Dewan Interplanet dari Bulan. Keempat orang lainnya jangkung-jangkung berseragam abu-abu, yaitu anggota-anggota Pengawal Negara Bagian Bulan.
Marcus Overmann memandang tajam kepada Tom, lalu berjalan di sampingnya. Ia menudingkan jari tangannya ke arah K'orlii dengan gemetaran.
"Pengawal!" ia berteriak. "Dialah orang Aquilla itu. Tahan dia atas namaku pribadi!"
K'orlii melangkah mundur, lalu ganti memandangi Overmann.
Tom datang di tengah dan berkata: "Pak, saya tidak tahu apa yang terjadi di sini. Apa alasannya menahan dia?"
Mata Overmann mengernyit.
"Swift, ini bukan urusanmu. Kuanjurkan kau memikirkan urusanmu sendiri!"
"Ah, Marcus," berkata Greylock ramah "Mungkin tindakanmu itu terlalu tergesa-gesa!"
"Tergesa-gesa?" Overmann berpaling kepada Wakil Bumi.
"Henry! Anak-anak muda ini adalah mata-mata! Agen musuh! Aku tak ingin ia tetap berkeliaran di sini dengan bebas!"
"K'orlii ini bukan agen musuh, dia seperti saya juga," Tom hendak meyakinkannya. "Aquilla adalah sekutu Bumi!"
Overmann tertawa gelak-gelak.
"Aku tahu apa yang terjadi di New America. Itu tidak boleh terjadi di Bulan ini, yakinlah!" Ia lalu berpaling kepada para pengawal. "Ayo, lakukan! Tangkap dia! Jangan buang-buang waktu!"
Dua orang pengawal bergerak mendekati K'orlii, lalu menangkap lengannya. K'orlii mengibaskannya.
"Kalian tidak berhak menangkapku!" Ia protes.
"Dia berhak," kata Tom. "Dia memang mempunyai hak untuk menangkap, K'orlii."
"Tom!" seru Anita terkejut. "Tom Swift, bagaimana engkau dapat berdiri di situ tanpa berbuat sesuatu apa pun?" katanya marah-marah.
"Tenanglah!" kata Tom kepadanya. "Ia mempunyai hak untuk menangkap K'orlii. Tetapi tentu saja, K'orlii pun mempunyai hak-haknya, pak Larson ...."
Tom lalu berpaling kepada pelaksana Swift Enterprises.
"Maukah anda menghubungi ayah saya di Bumi" Katakanlah kepadanya, K'orlii hendak menuntut Tuan Marcus Overmann karena memfitnah, penangkapan tidak syah, dan ...."
"Bagaimana?" kata Overmann dengan mata membelalak. "Kau tak dapat melakukan itu. Tidak masuk akal!"
"Kenapa tidak, pak," kata Tom bersopan-sopan. "Tentu saja saya dapat. Dan anda akan melawan Swift Enterprises di depan pengadilan. O, ya, pak Larson, anda dapat pula memberitahu konsulat Aquilla di Bulan dan Kedutaan di Bumi, bahwa tuan Overmann dari Negara Bagian Bulan telah menahan salah seorang penduduknya atas tuduhan mata-mata. Katakan pula bahwa di hadapan saksi-saksi beliau telah menyatakan, Aquilla adalah musuh Bumi!"
"A-a-ku tak pernah berkata demikian!" Overmann menggagap. Kedua tangannya mengepal-ngepal, dan gemetaran di sisi tubuhnya.
"Aku khawatir, engkau telah menyatakan demikian," kata Greylock sambil menghela napas.
"Haa?" Overmann berpaling kepadanya. "Kau setuju dengan itu, Henry" Anak itu berbahaya!"
"Mungkin saja ia berbahaya, Marcus. Tetapi".aku,ah, dalam keadaan ini"..kita agak terlalu jauh bertindak!"
Wajah Overmann berubah menjadi merah.
"Aku belum selesai urusannya dengan engkau!" ia memperingatkan K'orlii. "Dan engkau juga, Tom Swift! Waspadalah selama engkau berada di Negara Bagian Bulan ini!"
Overmann lalu berbalik. Dengan marah ia melangkah keluar dari pintu katup. Para pengawal mengikuti di belakangnya. Henry Greylock menggelengkan kepalanya, lalu beranjak mengikutinya.
"Oke!" kata Anita merasa bersalah. "Aku butang budi padamu, kawan!"
"Kukira, hanya gertak sambal!" kata Tom sambil tertawa kecil.
"Aku pernah berhadapan dengan dia sebelum ini. Ia tak punya pendukung, dan ia sadar akan hal itu!"
Gene Larson menjabat tangan Tom.
"Aku gembira, melihat dia kena batunya," ia berdecak. "Overmann sendiri cari gara-gara. Begitulah ia biasanya. Aku sendiri sudah akan bertindak, seandainya engkau tidak membuatnya dia mati kutu!"
"Overmann punya hak. Tetapi yang lain pun demikian. Ia tidak memperhitungkan hal itu!"
Kecerahan pada wajah Larson segera menghilang.
"Satu-satunya hal, Tom, aku khawatir ia memang punya banyak alasan untuk menjadi bingung sendiri. Itulah sebabnya, ayahmu ingin engkau ada di sini kalau nanti dia datang. Ketahuilah bahwa kita menghadapi banyak kesulitan-kesulitan dalam menangani masalah ini!"
Chapter 7 Gene Larson adalah pembantu utama pak Swift. Tom mempercayai sepenuhnya. Orangnya bertubuh besar dengan mata biru dalam, bersifat polos dan terus terang. Ia mengantarkan Tom dan teman-temannya melalui suatu sistem kereta terowongan yang berjalan cepat di bawah kawah Copernikus menuju kompleks Swift Enterprises. Ia kemudian mempersilakan mereka memasuki sebuah ruang sidang yang kecil. Ia melangkah cepat ke sebuah peti logam yang kokoh, tertanam pada ujung lengkung dinding.
"Kita harus hati-hati belakangan ini," katanya setengah menggerutu. "Alat ini adalah alat pengamanan. Banyak gangguan dari orang-orang yang hendak mencuri dengar, pada beberapa minggu terakhir ini."
Tom mengernyit. "Maksud anda, ada yang memasang pemancar rahasia di Swift Enterprises ini?"
"Betul! Kita telah berhasil menemukan sejumlah setengah losin alat penerima mini. Bagus-bagus buatannya. Ditemukan di laboratorium, ruang sidang, bahkan di kantorku pula."
Tom dan Ben Walking Eagle saling berpandangan.
"Aku tahu apa yang sedang kalian pikirkan," kata Larson.
"Kalian benar. Semenjak kecelakaan di kubah Triton, kita telah melakukan pemeriksaan dengan teliti ke seluruh instalasi. Tetapi tidak menemukan apa-apa. Hanya setelah kita berhasil menemukan alat-alat penerima mini itu di sini, maka kita lalu melakukan pemeriksaan di Triton lagi. Pada waktu itu kalian sedang berada di New America, hingga tidak sempat melihat ini semua."
Ia menjulurkan tubuhnya ke depan, dan menekan sebuah tombol yang di atas meja. Lampu-lampu menjadi suram, sebuah layar menggeser ke luar dari dinding.
"Lihat!" kata Larson. "Kau nanti akan mendapat gambaran, musuh yang bagaimana yang akan sedang kita hadapi."
Pada mulanya Tom menyangka seekor lalat sedang hinggap pada layar tersebut. Tetapi kemudian ia sadar bahwa lalat itulah obyek yang berhasil direkam. Alat zoom kamera menggeser, dan gambar lalat itu pun menjadi besar hingga akhirnya memenuhi layar. Kini Tom dapat melihat dengan jelas sayap-sayapnya, kaki dan mata majemuknya.
Tiba-tiba ia menegakkan tubuhnya untuk dapat menatap dengan seksama.
"Aku jadi tidak yakin untuk dapat mempercayainya!" serunya.
"Aku juga!" Ben mengulang.
"Demikianlah tanggapan kita mula-mula," kata Larson. "Namun itu memang benar. Lalat itu, atau tepatnya benda menyerupai lalat itu adalah alat pendengar yang sangat rumit."
Ia berdiri dari kursinya lalu berjalan ke layar.
"Memang kita akui, membuat sesuatu yang mikromini adalah bukan hal yang baru, terutama untuk sesuatu tujuan seperti mencuri dengar misalnya. Tetapi sesuatu teknologi yang mendukung pembuatan benda mikromini ini, dapatlah dibayangkan betapa hebat organisasinya."
Tom lalu mempelajari gambar berwarna itu dengan teliti. Karena ia menghormati hak-hak pribadi orang lain, ia menjadi sangat marah melihatnya. Namun sebagai seorang ahli penemu, ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengagumi cara menyusun "lalat" itu. Lalat itu merupakan alat penerima, dan pemancar, sekaligus penghubung suatu stasiun pemancar radio yang lengkap. Dan bahkan juga sangat gesit.
Selain itu, alat tersebut tidak hanya disebut "alat pendengar", sebab pada mata majemuk itu terdapat pula alat video yang rumit.
Ben pun sangat kagum. "Luar biasa!" gumamnya.
"Untuk dikatakan luar biasa tidaklah cukup!" kata Tom seperti menggerutu.
Ia berpaling kepada Anita.
"Engkau pun seorang ahli mikro. Siapa yang kaukenal, dan siapa saja kira-kira yang dapat membuat seperti ini?"
"Tidak ada!" jawab Anita cepat-cepat. "Eh, bukan! Tunggu sebentar! Kutarik jawabku tadi. Banyak yang dapat. Kukira, aku sendiri pun dapat membuatnya. Begitu pun engkau. Apa yang kaubutuhkan hanya uang yang jumlahnya tak terbatas. Lalu seseorang yang amat terlatih, serta peralatan yang amat halus."
Tom menghembuskan napas panjang.
"Dengan perkataan lain, siapa pun dapat membuatnya, kalau ada organisasi seperti Swift Enterprises yang mendukungnya!"
Gene Larson mengatupkan bibirnya dan mengangguk.
"Yah sudah jelas, yang membuat bukan kita," katanya datar. "Dan lagipula tidak ada pilihan lain. Aku cenderung menunjuk Marcus Overmann itu orangnya."
"Ha, sebentar!" Tom mengangkat tangan memotong kata-kata Larson. Ia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di benak Larson.
Marcus Overmann di samping kedudukannya sebagai anggota Dewan Interplanet dari Negara Bagian Bulan, ia juga presiden dari perusahaan raksasa Luna Corporation. Kedudukan itu didapat setelah lenyapnya David Luna.
"Tuan Overmann itu adalah seorang yang bertabiat buruk dan tidak menyenangkan," kata Tom. "Walaupun demikian belum tentu ia itu seorang penjahat."
"Tetapi ia yang paling banyak kesempatannya," sela Anita sinis.
"Bagaimana dengan Henry Greylock?" Ben bertanya. "Ia pun tidak lagi seorang pengusaha kecil."
Tom setuju. Perusahaan Greylock tumbuh menjadi besar dalam waktu yang sangat singkat. Hampir saja ia menjadi saingannya Swift Enterprises, seperti juga halnya dengan perusahaan Luna Corporation.
Tetapi Tom tetap beranggapan orang-orang itu bersifat jujur. Ia pun tahu, bahwa ayahnya juga berpendapat demikian.
"Barangkali mereka bekerjasama," kata Larson.
"Bersekutu melawan Swift Enterprises, maksudmu?" tanya Tom.
Larson mengangkat bahu. "Itu tidaklah mustahil!" katanya.
Tom beranjak dari duduknya dan berjalan hilir mudik dalam ruangan itu.
"Kita jadi berbuat sama seperti Marcus Overmann terhadap K'orlii. Menuduh orang tanpa bukti. Selain itu, siapa lagi!" Tom berhenti bicara, lalu menghitung jari-jari tangannya. "Ada beberapa perusahaan raksasa lainnya di Planet Dalam. Orang-orang Aquilla, barangkali. Maaf, K'orlii, tetapi kita harus memperhitungkannya. Mungkin Asteroid Federation. Hanya itulah kira-kira."
"Yaah, masih ada beberapa hal lagi yang perlu kauketahui, yaitu selama kita masih akan main tebak-tebakan," sambung Larson. "Ingat akan kata-kataku, bahwa kita sedang menghadapi kesulitan-kesulitan di Bulan ini. Dan bukanlah sekedar pesawat TV-mini yang merayap-rayap di dinding seperti lalat."
"Masih ada lagi?"
"Aku khawatir begitu. Itulah sebabnya kukatakan, bahwa Overmann punya hak untuk menjadi bingung sendiri. Belum lagi sepuluh jam yang lalu terjadi sebuah ledakan di salah satu pintu katup Luna Corporation. Sebuah portal telah hancur lebur dan menghamburkan segala macam benda ke dasar kawah. Untunglah, bahwa pada waktu itu hanya ada barang-barang muatan di sana, dan tidak ada korban atau terluka. Setelah satu jam ada orang yang main kayu pada sistem utama penyediaan udara."
Wajah Larson nampak geram.
"Kalau saja tidak ada seorang ahli teknik yang mengetahui masalah itu pada waktunya, pasti beberapa ratus jiwa akan kekurangan udara untuk bernapas." Larson melanjutkan.
Kini wajah Tom berganti menjadi merah karena marah.
"Pak Larson, siapa pun mereka itu, rupa-rupanya tidak akan berhenti begitu saja dalam berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka kehendaki."
"Lalu apa yang mereka kehendaki?" tanya Anita. "Untuk ini kita tak pernah mendapatkan jawabannya."
"Kita tahu mereka mencuri Sea Globe," kata K'orlii dengan murung.
"Tetapi kita belum dapat menerka sedikit pun, mengapa?" Tom mengingatkan.
"Yyaahh"." Larson menegakkan tubuhnya yang tegap dengan memandang Tom. "Sementara kalian memikirkan semuanya itu, aku masih menyimpan suatu kejutan kecil yang tidak menyenangkan bagi kalian."
"Aku sama sekali tidak dapat membayangkan apa saja yang belum kauceritakan kepadaku," kata Tom seperti pasrah.
"Kau akan tahu sendiri apabila sudah melihatnya," berkata Larson polos. "Mari, kita harus menghadapinya. Lambat atau cepat!"
*** Tom menghambur ke dalam puing-puing laboratoriumnya, berusaha keras untuk menguasai amarahnya. Ada orang yang telah melemparkan bom api ke ruang laboratorium, menutup pintunya, lalu pergi. Bom api itu menimbulkan panas yang sangat tinggi hingga separoh dari isi laboratorium menjadi hangus sebelum sistem pemadam api sempat menyemprotkan busanya.
"Lihat!" kata Tom marah-marah. "Ben, mereka tidak mencuri apa-apa. Mereka tak punya tujuan apa pun, kecuali merusak apa saja yang mereka lihat."
"Itu supaya kautahu, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang dikehendaki," sambung Anita dengan helaan napas.
Anita bersandar pada ujung sebuah meja kerja yang masih utuh.
"Ini suatu peringatan, Tom." Anita meneruskan. Jelas dan sederhana sekali. Mereka hendak menuding hidungmu dan berkata: Lihat! Kita bisa melakukan apa saja yang kita kehendaki!"
"Aku tahu, kata-katamu itu benar, Anita," kata Tom murung.
"Aku yakin Tom," kata Anita sambil berpaling kepada Aristotle. "Dapatkah engkau mengatakan, bagaimana mereka itu dapat lolos dari kunci sidik jari" Kukira itu juga sesuatu yang tidak mungkin."
"Ya, Anita. Itu mungkin saja. Orang yang sengaja menimbulkan kebakaran, sama sekali tidak masuk ke dalam ruangan ini. Maka kunci sidik jari Tom masih tetap utuh, dan tidak pernah diganggu."
"Apa?" Tom duduk dan menegakkan tubuhnya. "Lalu bagaimana api dapat masuk?"
Aristotle mengangkat sebatang jari-jarinya yang ramping dan mengetok-ngetok dinding. "Melalui itu, Tom. Katup pengatur udara!"
Tom menggeleng. "Terlalu kecil. Benda yang besarnya lebih dari setengah senti tak mungkin dapat masuk."
"Setengah senti dapat dikatakan tepat," Aristotle berdengung.
"Benda yang ,masuk kemari adalah seekor lebah!"
"Apa" Seekor apa?" Tom menatap robot itu dengan penuh perhatian.
"Seekor lebah," ulang Aristotle. "Lebah, itu serangga bersayap, termasuk keluarga Vespidae, golongan Hymenopthera. Lebah"."
"Aristotle, aku kurang tahu lebah apa itu," kata Tom tidak sabar. "Mau kau menjelaskan apa yang kaukatakan tadi?"
"Sudah tentu, Tom. Hewan serangga yang kukatakan itu sama sekali bukan lebah benar-benar. Lebah tiruan buatan manusia belaka. Boleh dikatakan sebuah robot seperti aku, meskipun tidak dibuat serumit atau disesuaikan dengan teliti pada lingkungannya"."
"Ya, teruskan!"
"Api itu ditimbulkan oleh lebah elektronik, beberapa lusin jumlahnya. Masing-masing tentu saja merupakan sebuah bom api."
Tom menggaruk-garuk kepalanya.
"Bagaimana engkau dapat memastikannya" Tidak sesuatu pun yang terhindar dari api?"
"Kebetulan tidak sesuatu pun yang tahan api."
Aristotle menggelinding mendekati Tom. Sebuah laci di dadanya terbuka. Robot itu memungut sebuah benda dengan jari-jarinya yang terbuat dari baja tahan karat, lalu diberikannya kepada Tom. Tom melirik dan hampir saja menjatuhkannya.
"Ya, ampuun. Bagaimana kalau benda ini meledak?"
"Ia tidak akan meledak," kata Aristotle meyakinkannya. "Benda itu kebetulan rusak. Selanjutnya aku telah memutuskan sirkuitnya."
Ben, Anita dan K'orlii datang mengerumuni, dan mengamati serangga yang ada di tangan Tom.
"Luar biasa," kata Anita menahan napas. "Betul-betul luar biasa!"
"Lagipula mematikan!" sambung Tom geram, lalu mendongak kepada robotnya. "Kapan kautemukan ini?"
"Ketika memasuki ruangan ini. Duapuluh sembilan menit yang lalu."
"Mengapa engkau tidak bilang apa-apa?"
"Mengapa engkau tidak menanyakannya?" robot itu ganti bertanya dengan polos.
Tom Swift tidak berusaha untuk membereskan bagian-bagian laboratoriumnya yang rusak terbakar. Tidak ada yang dapat diselamatkan. Semuanya telah hangus. Sebaliknya, ia menggunakan waktunya untuk menyusun alat elektronik darurat, yang dapat lebih efektif menolak masuknya benda-benda logam rahasia ke dalam laboratoriumnya. Ia mengobrak-abrik di sekitar meja kerjanya, lalu mengambil sebatang logam putih dan sebuah kotak plastik berukuran kecil.
"Nah, ini adalah sesuatu yang belum pernah kalian lihat," katanya kepada teman-temannya. Ben memperhatikan dengan sangat ingin tahu. "Apa itu" Nampaknya tidak ada apa-apanya!"
"Ah masak, kau tak tahu. Sekarang banyak peralatan yang dapat dimasukkan ke dalam kotak yang kecil ini!"
"Itu seperti alat pemancar " penerima dan bom api, misalnya?" K'orlii coba mengingatkannya.
"Oke, aku dikeroyok! Biarlah aku duduk dan bungkam saja," kata Ben sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Anita memainkan kedua matanya.
"Wah, kalau aku punya kamera untuk memotret peristiwa ini, pasti beres! Ah Ben Walking Eagle kok tutup mulut."
Tom tertawa dibuatnya. "Sesungguhnya, waktu ini memang sedang dipotret. Nah, lihat!"
Jari-jarinya bermain cepat di permukaan alat itu. Tiba-tiba, puing-puing di ujung laboratorium itu lenyap dari pandangan. Di tempat tersebut terpampang bayangan tiga dimensi dari peristiwa yang baru saja beberapa saat sebelumnya terjadi:
". . .seperti alat pemancar-penerima dan bom api, misalnya."
"Oke, aku dikeroyok! Biarlah aku duduk dan bungkam saja."
"Wah, kalau aku punya kamera untuk memotret peristiwa ini, pasti beres! Ah Ben Walking Eagle kok tutup mulut!"
"Sesungguhnya, waktu ini memang sedang dipotret. Nah . . . . "
Tom mematikan alat tersebut. Dan dengan mendadak adegan itu lenyap.
"Haaa" Pesawat holograf dan proyektornya?" seru Anita. "Eh, kapan kau punya waktu untuk membuatnya?"
"Aku sudah membuatnya beberapa waktu yang lalu," kata Tom.
"Tetapi"..bagaimana engkau dapat membuat dalam kotak yang begitu kecilnya?" Ben menggelengkan kepalanya. "Itu sungguh suatu prestasi yang besar, bung!"
"Tetapi belum sekecil bom api," bantah Tom. "Namun jauh lebih aman. Sebenarnya, fotografi laser tiga dimensi itu bukan barang baru. Aku hanya dapat membuatnya dalam ukuran kecil, dan memperhalus penemuanku ini."
"Misalnya?" Ben mendesak.
"Yah, suara dan aroma, misalnya!"
Ben menyeringai. "Aroma sudah ada beberapa tahun yang lalu. Pada permainan hiburan, Tom!"
Tom tertawa. "Ya, tetapi yang seperti ini kan belum ada. Holoproyektorku agak lebih maju beberapa langkah."
Tom memegang salah satu kotak yang lebih kecil, lalu membukanya. Bentuknya seperti kotak korek api, berisi mikrokaset holograf sebesar kuku jari.
"Nah, mari kita coba yang ini."
Ia memasang kaset mini itu dalam alatnya dari logam, dan menekan tiga tombol yang ada di bagian atas.
Teman-temannya menahan napas dan hampir saja terlompat dari kursi mereka. Sudut ruangan tiba-tiba berubah menjadi laut yang hitam bergelora. Angin menerpa gelombang yang berbusa-busa, bergulung-gulung dengan suara yang memekakkan telinga mereka bertiga. Bau asin yang lembab dan dingin memenuhi udara. Petir dan kilat membelah angkasa di atas mereka. Ombak besar bergulung dari tepi cakrawala, makin mendekat dan membenamkan segalanya yang nampak. Ombak itu seperti bergantung sejenak di atas mereka, lalu menghambur dengan hebatnya.
Tom menekan tombol kembali, dan pemandangan yang mengerikan itu pun lenyap.
"Hohoo!" Anita menelan ludah, dan memandang Tom dengan pandangan yang keras. "Tom Swift, lain kali kalau aku menginginkan hiburan, kau akan kuberitahu dahulu, oke?"
"Segalanya seperti sungguh-sungguh, bukan?" Ben menyisir rambut dengan jari-jari tangannya.
"Yaaah, boleh dibilang begitulah. Seperti sungguh-sungguh!"
"Seluruhnya tadi hanya direkam pada film yang sangat kecil?" K'orlii bertanya.
"Betul!" Tom lalu melepaskan kaset badai prahara itu dari holoproyektornya, lalu disimpan kembali ke dalam kotaknya. "Sampai saat ini, aku sudah mempunyai sedikit kumpulan rekaman-rekaman. Angin ribut, gunung meletus, dan perjalanan sepanjang Cincin Saturnus."
"Adakah yang tenang dan damai?" tanya Anita.
"Bagaimana kalau misalnya matahari terbenam di Grand Canyon?"
"Nah, itu akan memenuhi seleraku," Anita mengaku. "Saat-saat terakhir ini aku selalu mendapatkan ketegangan-ketegangan yang kualami dan sungguh-sungguh terjadi. Asli bukan rekaman!"
Tom dan anak-anak muda itu lalu meninggalkan Anita di serambi. Mereka berjalan menuju ke kamar masing-masing. Mereka berganti pakaian untuk makan. Dalam hati Tom bertanya-tanya apakah ayahnya sudah tiba. Ia berpikir hendak mengeceknya pada Gene Larson, tetapi kemudian membatalkannya. Tentunya ia akan diberitahu begitu ayahnya tiba.
Ben masih memutar-mutar otaknya.
"Apa yang sebaiknya kupikirkan...."
Tiba-tiba Aristotle yang berjalan di depan mereka itu berhenti dan berpaling kepada Tom.
"Aku harus memberitahu kalian, bahwa aku telah memeriksa kamar-kamar tidur kalian." Ia mendengung sejenak. "Dan kukatakan kepada kalian, aku telah menemukan paling tidak tiga buah alat-alat rahasia untuk mendengar dan mengawasi, ditanam di sana".!
Bab 8 Tom memandang ke robotnya.
"Engkau yakin" Mereka sudah memasang alat-alat itu di kamar kita?"
"Apa itu suatu pertanyaan, Tom" Kata "yakin" itu seperti permintaan uji-ulang kepada dataku. Aku akan melakukan itu sekarang dan ...."
"Lupakan itu, Aristotle!" Tom melambaikan tangannya untuk menghapus pertanyaan dari robot itu. "Maksudku sama sekali bukan begitu."
"Ha, aku tahu apa yang harus kita perbuat," kata Ben, "ini tindakan yang terakhir, Tom. Kita sikat saja setiap lalat-lalat palsu itu, lebah atau apa pun yang berkeliaran di sini. Kita hancurkan mereka semua!"
"Ben! Tunggu!" Tom meraih dan menarik temannya itu. "Aku ada akal yang lebih baik!"
"Misalnya, apa?"
"Kita jangan berbuat apa-apa!"
"Ha?" Ben memandang Tom dengan pandangan hampa. "Maksudmu, kita biarkan saja mereka itu?"
"Benar. Barangkali lebih baik kita katakan saja kepada barang mainan elektronik itu apa yang ingin mereka dengarkan."
K'orlii menjadi tertawa cekikikan.
"Oke, aku tahu apa maksudmu," kata Ben. "Tetapi aku tetap tak senang ada kutu-kutu busuk beterbangan di kamarku."
Sebelum Tom hendak pergi tidur, ia menyuruh Aristotle untuk memeriksa kamar Anita, mencari alat-alat rahasia. Ketika robot itu telah datang kembali, ia memberi isyarat dengan jari-jari bajanya kepada Tom, lalu mengangguk. Tom tidak menjadi heran. Ia pergi ke tempat tidurnya dan tidur dengan hati resah.
Ben mengajukan usul untuk olahraga sebelum sarapan. Kegiatan-kegiatan mereka yang dilakukan selama ini hanyalah tindakan-tindakan yang sama sekali tidak secara sukarela. Mereka ingin sekali melemaskan otot-otot mereka.
Swift Enterprises mengelola sebuah ruangan olahraga yang dapat disesuaikan dengan gaya berat di permukaan bumi. Tetapi kebanyakan para pengunjung lebih senang melakukan olah raga pada kondisi bulan. Dalam keadaan berat badan seperenam berat badan normal di Bumi, setiap orang yang paling lemah pun dapat menyaingi juara-juara olimpiade.
Gedung olahraga itu tak ada miripnya sama sekali dengan yang ada di Bumi. Gedung itu berupa ruangan raksasa, yang digali dengan sinar laser ke dalam batu-batuan Bulan. Gua yang luas itu berbentuk segiempat dan berukuran tigapuluh meter setiap sisinya. Jaring-jaring yang kuat dan elastis menutup dinding-dinding, lantai dan langit-langit, hingga memberi perasaan seperti di dalam sebuah kurungan raksasa.
Pada pagi sedini itu, Tom dan teman-temannya masuk melalui pintu katup lantai tengah, limabelas meter di atas lantai. Tom dan Ben yang tiba-tiba saja berat badan masing-masing tinggal duabelas kilo, melompat dengan menjejakkan dirinya pada dinding lebih dulu.
Mereka menekuk tubuhnya, lalu membuat salto empat kali hingga ke ujung ruangan yang lain. Dengan bertelekan pada lutut untuk mendarat, mereka mendorong dengan kuat. Mendapatkan tambahan kecepatan dari lenturan jaring, lalu berjungkir balik di udara bagaikan film slow motion (film yang diputar lambat-lambat).
Anita dan K'orlii berpapasan dengan mereka di tengah udara, melaju ke atas bagaikan peluru. Anita turun kembali dengan gerakan-gerakan yang sangat sulit, termasuk memilih saat yang tepat agar dapat di pusat dari keenam sisi ruangan olahraga tersebut. Jadi mirip sekali dengan gerakan membal di dalam ruangan yang dinding-dindingnya dilengkapi dengan trampolin.
Tom menggoda Anita. "Tidak jelek bagi seorang akrobat berkaki satu!"
"Haah!" Anita menjulurkan dagunya sambil mengikat tali sepatunya erat-erat. "Kapan-kapan, Tom, aku akan membuatmu kepayahan di tempat ini hingga lidahmu menjulur-julur ke luar!"
Tom tertawa. "Kau belum tentu akan berhasil. Aku harus menggunakan akal yang jitu untuk menerima tantanganmu itu."
Ia lalu membenturkan dirinya pada jaring hingga terdorong turun ke lantai di mana robotnya berdiri mengawasinya.
"Aristotle," perintah Tom. "Ikutilah kami ke atas. Hilangkan semua karat dari sendi-sendimu!"
Mata kekuning-kuningan Aristotle memicing memandangi Tom.
"Itu suatu perintah ataukah sebuah usul?" ia bertanya.
"Bukan dua-duanya!" Tom meralat. "Hanya sekedar saran!"
"Baik," kata Aristotle datar. "Aku tidak melihat hal yang masuk akal dari hasil berolahraga demikian. Susunan otot-otot manusia dalam segala hal takkan menandingi struktur ...."
"Oke," Tom membentangkan kedua tangannya kepada Aristotle. "Lupakan kata-kataku tadi!"
Anita tertawa, lalu mendongak melihat Ben dan K'orlii yang bermain sepakbola versi Bulan. Permainan ini cukup sulit dalam keadaan berat badan yang ringan. K'orlii nampak bersiap-siap dari sisi yang jauh, kira-kira duapuluh meter dari lantai. Ben mengawasinya sambil menyiapkan lengan kanannya untuk melepaskan bola. K'orlii dan bola itu bertemu dengan tepat, meski peristiwa itu sangat lambat sekali jalannya. Bagi Tom, nampaknya seperti menonton putaran ulang dalam slow motion suatu acara pertandingan di Bumi.
K'orlii melemparkan bola itu kembali ke arah Ben. Anita mengejarnya dari bawah. Ben menjadi terkejut melihat Anita melayang ke arahnya, terlalu cepat lemparan bola itu. K'orlii menjerit dan bergerak untuk menangkap bola. Tom menghadang di tengah udara, dan keduanya berputar-putar ke arah dinding seberang. Bola terlepas, dan jatuh perlahan-lahan ke lantai seperti sebuah batu yang tenggelam dalam larutan gula yang kental.
Duapuluh menit kemudian keempatnya berbaring kelelahan di jaring lantai.
"Tahukah engkau mengapa?" tanya Tom sambil menyeka wajahnya dengan handuk. "Kita sama-sama tidak lagi dalam kondisi baik. Sebulan yang lalu kita masih dapat berolahraga selama satu jam."
"Memang," Anita mengeluh. "Aku pun merasakan cepat lelah. Betul-betul habis tenaga."
"Kau juga banyak salah tangkap, Ben," sambung K'orlii. "Tidak seperti biasanya."
"Apa?" Ben duduk tegak dan mendorong dagunya ke depan.
"Masa begitu! Kau sendiri yang kurang tenaga. Aku sudah tepat!"
"Engkau sama buruknya seperti Tom," kata Anita tertawa.
"Oke. Jadi aku tidak seperti biasanya. Aku mengaku. Kita semua memang kurang semangat."
Kenyataan memang demikian, dan Tom tidak dapat mengerti mengapa. Ia terlentang dan mengambil bola. Bola kemudian dilemparkannya ke atas. Bola kulit itu jatuh lebih cepat dari yang disangkanya dan membentur dadanya. Ia memandang curiga kepada bola itu, lalu dilemparkannya lagi. Kali ini ia dapat menangkapnya dengan baik.
"Dengar," katanya; rasa humor tiba-tiba lenyap dari suaranya. "Ini bukannya aku atau kalian yang salah. Tetapi ruangan ini. Ada sesuatu yang tidak beres di sini!"
Ben merayap bangkit, lalu melompat ke jaring.
"Engkau benar! Gaya beratnya lain. Aku yakin ini bukan nol koma enambelas. Sama sekali bukan!"
"Aristotle," tukas Tom. "Berikan datanya."
"Nol koma tiga-sembilan!" jawab si robot.
"Aku sudah mengira demikian!" Tom melompat dari jaring ke lantai. "Kita bukannya kehilangan kecermatan kita. Ada sesuatu yang tidak bekerja dengan baik dalam peralatan gaya berat ini. Kita lebih berat dari semestinya."
"Tom, data itu benar pada waktu kautanyakan tadi," si robot mendengung. "Sekarang gaya berat di ruang ini dibanding gaya berat normal di Bumi adalah satu banding nol koma enam-dua. Dan terus saja naik."
"Ini aku tidak suka," kata Ben dengan kaku.
"Aku pun tak suka. Sama sekali tidak senang," kata Tom dengan pergi ke pintu lantai bawah. Ketika tangannya memegang tombol yang berat, rasa dingin merayap di punggungnya.
"Terkunci!" ia berseru. "Kita terperangkap di sini!"
Ben, K'orlii dan Anita berlompatan dari jaring, datang mengerumuni Tom.
"Berikan data terus," Ben memerintah si robot, "setiap saat ada perubahan!"
"Ada perubahan lagi," jawab Aristotle. "Nol koma sembilan tujuh!"
"Itu dapat kurasakan," Anita terengah memandangi Tom. "Kita hampir kembali ke berat normal. Dan kalau terus meningkat lagi ...."
"Betul," sahut Tom dengan suara tegang. "Kukira ini tidak akan berhenti. Ben, K'orlii! Bantu buka pintu ini!" Berdua mereka lalu membantu mendorong dengan sekuat tenaga. Ben mundur dan menggelengkan kepala.
"Ini tidak bisa, Tom! Pintu bertekanan tinggi. Kita tidak dapat membukanya!"
"Tetapi kita harus membukanya!" jawab Tom. "Ada orang yang main-main dengan gaya berat ini!"
"Satu koma satu-tujuh... satu koma satu-sembilan," Aristotle terus saja melapor datanya.
"Kita sudah menjadi lebih berat daripada di Bumi," kata Ben.
"Aristotle! Kemari!" perintah Tom. Ia mengukur pintu itu dengan matanya. "Bagian-bagian kunci tentu ada di"..sini. Lubangi dengan laser! Sekuat tenaga!"
Robot segera mengacungkan telapak bajanya hanya beberapa senti meter dari pintu logam. Seberkas cahaya merah menembus pintu. Sebuah lingkaran sebesar mata uang mulai berpijar merah, merah kuning dan kemudian menjadi putih.
"Teruskan!" desak Tom. "Jangan berhenti, Aristotle!"
"Tom!" seru Anita. "Aku sudah merasakan adanya tarikan. Setiap otot tubuhku mulai merosot turun!"
Tom pun merasakan hal itu. Kakinya terasa bagaikan besi.
"Gaya berat, Aristotle! Berapa sekarang?" "Satu koma tujuh-lima!"
"Tidak heran, aku rasakan mataku berat. Mengantuk," Ben mengeluh. "Aku kini hampir seratus limapuluh kilo!"
Anita meraih dinding, kemudian merosot terkulai ke lantai. Tenaganya terperas habis untuk dapat berdiri.
"Jangan kaucoba untuk berdiri!" Tom memperingatkan. "Duduk saja di situ. Berhematlah dengan tenagamu. Aristotle, kau jangan berhenti. Lubangi terus dengan sinar laser!"
"Terus-terusan menggunakan laser ini menghabiskan tenagaku, Tom. Sudah terlalu banyak tenaga kugunakan untuk dapat tetap berdiri. Gaya berat kini dua koma nol. Beratku sudah hampir limaratus kilo sekarang. Aku dibuat bukan untuk tujuan begini!"
"Kau tidak boleh berhenti!" perintah Tom megap-megap. "Harus... tembus pintu itu!"
Ben dan K'orlii sudah terkulai ke lantai. Tom berusaha untuk terus bertahan, tetapi tidak kuat. Ia mulai merosot ke lantai, lalu terbaring lemah, megap-megap menghirup udara. Jantungnya memukul keras di dada. Tubuhnya yang berotot, biasanya seberat 75 kilo, kini sudah mendekati 160 kilo.
Tom pernah merasakan gaya berat yang lebih besar lagi sewaktu menjalankan roket di ruang angkasa, tetapi hanya untuk sesaat-sesaat. Lagipula ia mengenakan pakaian gravitasi pada waktu itu, yaitu untuk mengurangi tekanan pada alat-alat tubuhnya yang vital. Sekarang segala alat perlengkapan itu tidak ada untuk melindungi diri terhadap gaya berat yang meninggi itu. Kalau gravitasi atau gaya berat itu terus saja meningkat, mereka akan hancur terhimpit udara dalam beberapa saat lagi!
"Aris to... t"."
Bibirnya terkatup melekat pada giginya. Ia tidak dapat memperkirakan berapa tekanan yang menghimpitnya sekarang.
"Aku terpaksa menghentikan laser, Tom.... "
"Jaa... ngaaaan!"


Pesawat Ark Two Tom Swift 07 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Harus! Aku pindahkan ke cara..iiiik mekanik. Dengan bor ..krrk intan. Hanya itu yang dapat"..ngiik kulakukan. Aku hampir-hampir tak bisa... krrk".bergerak. Sirkuit-sirkuitku... ngiik... hampir putus!"
Pandangan mata Tom sangat kabur. Aristotle sedang mati-matian entah di mana. Denging suara bor sudah tak terdengar. Robot itu mengerahkan seluruh tenaganya melawan gaya berat. Berkali-kali tubuhnya terlempar membentur pintu. Tangan dan bahunya menderit-derit bergesekan dengan pintu logam. Terdengar sesuatu benda jatuh bergedobrak. Tom hampir pingsan, ia tidak tahu suara pintu atau Aristotle. Kemudian semuanya menjadi hitam di sekelilingnya.
"Tom, Tom, bagaimana engkau?"
Tom membuka mata dan menatap wajah Gene Larson yang nampak khawatir. Kemudian rasa lega terbayang di wajah Larson, sementara ia membantu Tom untuk berdiri. Para penjaga dari Swift Enterprises dan para petugas membantu K'orlii, Ben dan Anita. Tom berusaha untuk berdiri sendiri tetapi hampir saja ia jatuh tertelungkup.
"Sabar! Tenang!" kata Larson.
"Bagaimana, yang lain-lain semua oke?" tanya Tom, walaupun suaranya masih lemah.
"Kukira begitu," jawab Ben. "Yang jelas hari ini kita tak perlu latihan-latihan lagi!"
Wajah Larson nampak muram.
"Robot kalian hampir saja membuat pintu itu lepas dari engsel-engselnya!" Ia menggeleng-geleng hampir-hampir tak percaya.
"Tetapi bagus juga. Selain ada yang main-main dengan mesin pengatur gravitasi rupanya ada pula yang sengaja memutuskan sistem tanda bahaya. Jadi kita tidak tahu apa-apa sebelum semuanya hampir terlambat!"
"Aristotle begitu setia!" kata Tom. "Apakah ia tidak apa-apa?"
"Aku tidak dalam kondisi prima," dengung Aristotle. "Tetapi aku sedang menganalisa kerusakan-kerusakan pada diriku sendiri, dan berhasil menyambung kembali sirkuit-sirkuit yang putus."
"Bukan main! Hebat! Terimakasih, Aristotle. Kita semua sungguh-sungguh berutang budi padamu!"
"Kalau aku dipekerjakan untuk tugas-tugas sosial, Tom, mungkin begitulah. Tetapi aku . ..."
"Sudahlah," sambung Tom tertawa. "Bagaimana pun kita sangat berterimakasih."
Tom meregangkan otot-ototnya yang kaku dan sakit. Lalu ia menghampiri yang lain-lain.
"Ada yang masih ingin sarapan?"
Anita membelalakkan matanya.
"Kau masih mau melawak" Baru saja berpacu tambah berat hingga seratus limapuluh kilo, hanya dalam waktu lima menit saja!" tukas Anita. "Kini aku hendak diet yang sangat ketat, Tom!"
Gene Larson mengikuti mereka menuju meja makan.
Pemeriksaan oleh dinas kesehatan menunjukkan bahwa mereka sehat-sehat semua, dan tidak ada larangan sama sekali untuk makan sebanyak-banyaknya.
"Ada yang akan aku katakan," Anita berkata tegas. "Bersama kalian ke mana pun pergi, pasti takkan membosankan!"
"Tetapi justru aku ingin sekali menjadi bosan," balas Tom dengan merenung. "Duapuluh empat jam tanpa melakukan sesuatu, apa kaukira menyenangkan juga?"
"Tepat pada waktu itu datang menghambur masuk seorang penjaga Swift Enterprises. Kedua matanya putih pucat, demikian kulit tubuhnya pun pucat pasi.
"Pak," ia berteriak. "Ada orang yang memaksa masuk kamar tuan Greylock, dan menembak dia dengan laser!"
Chapter 9 Henry Greylock ternyata masih hidup. Pada saat yang tepat, ia sempat melompat ke samping menghindar, dan sinar laser itu hanya menyerempet bagian atas pundaknya.
"Overmannlah yang mulai menyebarluaskan desas-desus bahwa wakil Dewan Interplanet dari Bumi telah meninggal. Dinas penyiaran terus saja menyiarkan kabar itu tanpa melakukan pemeriksaan kebenaran berita tersebut," kata Gene Larson. "Dikabarkan yang melakukan adalah orang Aquilla."
"Rupanya semua sedang berusaha mengkambing-hitamkan Aquilla," kata K'orlii. "Bagaimana kalau hal ini tidak benar?"
"Kukhawatirkan, ada juga benarnya," kata Larson segan-segan.
"Greylock dan dua orang bawahannya melihat si penyerang berkerudung. Ia merasa pasti bahwa orang itu adalah orang Aquilla."
Tom menghela napas. Kehancuran sudah terjadi. Overmann telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan kecelakaan di ruang olah raga pun telah diputarbalikkan menjadi keuntungan bagi pihaknya. Peristiwa itu dikatakan sebagai "suatu perbuatan sabotase dari orang Aquilla", tanpa menghiraukan kenyataan bahwa K'orlii, yang juga orang Aquilla, hampir menjadi korban pula.
"Aku benar-benar muak kepada orang itu!" kata Anita dengan darah mendidih karena marah. "Tom, ia tak menghiraukan kebenaran, asal saja cocok dengan kemauannya."
Tengah hari itu, wakil-wakil Aquilla sudah siap untuk memutuskan hubungan persahabatan dengan Bumi, Bulan dan siapa pun dari tata surya. Tom menemui Marcus Overmann di kantornya. Ia tidak heran melihat Henry Greylock di sana dengan lengannya digendong. Overmann mendongak ketika melihat Tom masuk.
"Ada maksud apa engkau datang kemari?" katanya bernada marah. "Aku tak ada keperluan sedikit pun dengan engkau!"
"Memang," jawab Tom. "Saya tahu semua itu. Tetapi saya sangat menghargai engkau, kalau mau mendengarkan saya sebentar."
"Apa pun yang kaukatakan, takkan kuhiraukan."
"Tenanglah, Marcus," Henry Graylock mengelus-elus cambangnya yang memutih itu. "Jangan terlalu beradat keras begitu. Tak ada salahnya kau mendengarkan anak muda itu."
Graylock mengangguk memberi hati kepada Tom.
"Terimakasih, pak!" ucap Tom. "Saya harap anda sudah merasa sembuh, pak Dewan!"
"Aku tidak apa-apa," jawab Graylock. "Lukaku hanya dibesar-besarkan saja!"
"Hmmmp!" Wajah Overmann yang seperti elang itu tampak menjadi tegang. "Awas, Henry, sudah waktunya engkau mulai memilih teman. Dan yang jelas bukan Swift Enterprises atau pun orang-orang Aquilla. Kalau ada seseorang menembak aku, aku tentu bangkit dan memperhatikan baik-baik siapa orangnya yang menarik senjata!"
"Marcus!" kata Henry tetap sabar. "Kita telah membicarakannya lebih dari seratus kali. . ."
"Kalau anda tidak berkeberatan dengan omongan saya," Tom menyela. "Ada sesuatu yang dilupakan, pak Overmann."
"O ya" Apa itu?"
"Untuk apa Swift Enterprises dan orang-orang Aquilla menimbulkan kesulitan-kesulitan ini" Tak seorang pun akan mendapatkan keuntungan. Hubungan baik dengan dunia bintang-bintang selalu meningkatkan perdagangan, dan membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Lalu apa untungnya kalau hal ini kami sobek-sobek?"
Bibir Overmann mengernyit mengejek. "Engkau tentunya bukan tidak mengetahui apa yang kuketahui, bukan?"
"Mengetahui tentang apa, pak?"
"Apa yang akan kaulakukan dan dilakukan ayahmu!"
Wajah Overmann menjadi merah padam, dan tinjunya dihantamkannya ke meja karena marah.
"Kesemuanya itu merupakan komplotan untuk menghancurkan Luna Corporation." Overmann meneruskan. "Tetapi kalian takkan mungkin dapat melarikan diri dari hal ini! Itu kukatakan dengan pasti!"
Mendengar ledakan kata-kata itu Tom menjadi bingung juga.
"Pak Overmann".."
"Keluar! jerit Overmann. "Keluar dari kantorku dan jangan kembali lagi!"
Beberapa saat kemudian, Tom dan teman-temannya sedang di tengah perjalanan dari proyek Swift Enterprises menuju ke kamar mereka.
"Orang itu sungguh keterlaluan," Tom mengeluh. "Kukira ia sendiri tidak tahu mengapa ia harus marah begitu! Greylock adalah teman baiknya, namun ia pun tidak dapat mempengaruhinya."
"Kukira Overmann memang tidak mau berbuat yang wajar," kata Anita.
"Rupanya memang begitu," Tom mengakui.
"Tiba-tiba Tom berhenti, melihat kembali melalui pundaknya, lalu memberi isyarat kepada teman-temannya.
"Mungkin kita tidak dapat membereskan urusan ini sampai tuntas. Tetapi baiklah kita coba lagi," katanya. "Kukira kalian tentu tidak lupa bahwa kamar-kamar kita masih saja dipasangi alat-alat rahasia."
"Ah ngeri," jawab Ben sambil mengernyit. "Semuanya itu membuat punggungku jadi merinding!"
"Lalu apa yang kaupikirkan?" K'orlii bertanya.
"Kalau mereka memang hendak mengetahui apa yang akan kita lakukan, mengapa tak kita beritahukan saja?"
Ia lalu mengambil secarik kertas, dan menekankannya ke dinding. Ia membuat sebuah gambar sketsa dengan cepat. Gambar itu diberikannya kepada Ben.
"Nah, engkau dan Anita, buatlah alat seperti ini. Kalau sudah siap temui aku di koridor L."
Ben menyeringai. "Dengan senang hati. Aku akan siap dalam setengah jam."
Koridor L adalah kecil dan sempit, menuju ke arah ruang olahraga di mana mereka hampir saja menghadapi maut. Keempat anak-anak muda itu berdesakan meringkuk di dalam sebuah ruangan ganti pakaian, tepat di luar pintu ruangan olah-raga. Ruangan itu sempit dan penuh, tidak cukup memberi ruang gerak untuk mereka di dalamnya.
"Jangan-jangan kita tidak berhasil," bisik Anita. "Sudah berapa lama kita sembunyi di sini?"
"Pasti akan berhasil!" kata Tom. "Bersabarlah sedikit waktu lagi." Ia melirik mengikuti angka-angka arlojinya. "Kita di sini baru empatpuluh sembilan menit."
"Sepertinya lama sekali," kata K'orlii sambil menghela napas.
Tom sendiri pun tegang, tetapi ia tidak ingin mengutarakannya.
Ia merasa pasti kata-kata pancingan yang dia lakukan bersama K'orlii di kamarnya tentu cukup jelas. Kalau tidak ada juga yang termakan umpan itu ...."
"He! Tunggu sebentar!" Ben meraih Tom. "Aku mendapatkan sesuatu!"
Ia mengeluarkan sebuah lampu senter kecil, lalu menerangi sebuah alat kecil yang di tangannya. Jarum hitam alat itu bergerak-gerak sedikit, berayun dari sisi yang satu ke sisi yang lain.
"Ia ada di kamar," bisik Ben. "Kini ia sedang berjalan... lihat jarum itu bergerak. Ia".." Ben hampir saja berteriak ketika jarum itu bergerak keras ke kanan.
"Ayo, kita tangkap dia!"
Mereka menghambur keluar dan berpacu ke pintu katup di ruangan olahraga. Sambil menyingkirkan palangnya Tom menghambur masuk. Secara naluri ia menjatuhkan diri ke samping.
Tetapi ternyata semua tindakannya itu tidak perlu lagi. Orang yang mencuri masuk itu tergantung dengan kepala di bawah, di tengah-tengah antara lantai dan langit-langit. Ia berteriak sambil menendang-nendangkan kakinya hendak melepaskan diri dari jaring.
Anita mendongak. Kedua tangannya berkacak di pinggang. Kepalanya mengangguk-angguk puas.
"Menurut kau, apa yang kita tangkap ini Ben?"
"Aku tak tahu," jawab Ben. "Tetapi apa pun dia itu, aku akan tetap menahannya dengan cara demikian!"
"Sebaiknya kita biarkan dia demikian terus. Lalu kita putar mesin pengatur gravitasi hingga angka sepuluh. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi!"
"Kalian tak mungkin berbuat demikian," tawanan itu berseru ketakutan.
"Engkau benar," kata Anita. "Kita tidak akan berbuat demikian. Tidak semua orang berpikiran seperti engkau!"
Tom membalikkan tubuhnya mendengar suara telapak kaki di serambi. Dilihatnya Marcus Overmann serta selusin Pengawal Bulan.
Anggota Dewan yang kurus ceking itu berhenti terdiam setelah melihat pemandangan itu.
"Apa-apaan ini" Siapa orang itu dan mengapa ia di atas?"
"Saya tidak tahu siapa dia!" jawab Tom tenang. "Silakan anda tanya sendiri. Tetapi saya tahu pasti apa yang telah dilakukannya di atas itu. Ia telah mencuri dengar apa yang saya bicarakan dengan K'orlii, tentang suatu barang bukti yang kami sembunyikan di belakang jaring-jaring dinding. Saya kira ia tidak bersabar lagi untuk menemukannya."
Seorang kapten Pengawal Bulan yang jangkung berpaling kepada Tom.
"Suatu bukti apa?"
"Bukan apa-apa. Orang itu percaya apa yang didengarnya dari alat-alat rahasia yang dia pasang di kamar saya,"
Kapten itu tersenyum kecil, sementara Marcus Overmann nampak bingung. Kini tawanan itu telah berdiri di atas kakinya, dikelilingi oleh para Pengawal.
"Siapa kau?" tanya Overmann. "Engkau punya nama, bukan?"
Orang itu hanya memandangi, tetapi tak mau buka mulut.
"Ha! Engkau akan bicara. Aku yakin hal itu!" Sambil mengajukan dagu Overmann keluar dari ruangan lewat di sisi Tom.
Tom mengamati tawanan itu. Ia merasa pernah melihat dia sebelumnya.
"Kapten," ia minta. "Kalau tak berkeberatan, akan kami ikuti terus peristiwa ini."
Kapten itu menggigit-gigit bibirnya sebentar.
"Engkau boleh ikut ke markas kalau mau," katanya. "Aku tidak menjanjikan lebih dari itu. Orang ini punya hak untuk didengar keterangannya, tetapi ia juga punya hak untuk tutup mulut."
"Teman-teman saya dan saya sendiri hampir mati di ruang olahraga ini," kata Tom. Ia berusaha untuk menekan rasa marahnya.
"Saya ingin, orang yang bertanggung jawab akan hal ini juga harus menanggung akibat perbuatannya."
"Yaahh ".," Kapten itu membelai rahangnya. "Demi kepentinganmu, mudah-mudahan saja orang ini termasuk komplotan itu."
"Apaaa?" Tom keheranan. "Tentu saja ia termasuk komplotan itu."
"Itu kan katamu. Apa yang kuketahui, engkau dan teman-temanmu memasang perangkap di sini, dan orang ini terjebak. Tetapi mungkin sekali kalian yang harus menghadapi kesulitan. Bukan dia!"
Kapten Pengawal Bulan yang bernama Kerrick lalu keluar dari dalam kantor kemudian memanggil Tom dan Ben. Anita dan K'orlii telah mendahului pergi untuk menemui Gene Larson.
Tom mengikuti Kerrick, wajahnya tenang meskipun hatinya panas. Ia menggerutu.
"Dasar nasib kita. Orang itu akan dibebaskan, dan kita yang akan dimasukkan dalam sel di Bulan."
"Maaf! Kalian harus menunggu lama," kata Kapten itu. "Silakan duduk."
Tom melihat, bahwa Kapten itu sedikit lebih ramah daripada tadi. Ia heran apakah itu suatu pertanda baik ataukah buruk! Pak Kerrick lalu duduk di belakang mejanya. Kedua tangannya saling bertemu di belakang kepalanya.
"Yaah! Orang itu menyangkal perbuatannya," katanya. "Ia mengatakan baru saja masuk untuk melakukan sesuatu di dalam ruang olahraga itu."
"Ya, tentu saja ia bilang begitu!" seru Ben.
"Ada lainnya lagi," sambung Kapten itu sambil memungut seberkas kertas. "Kami telah mencocokkan namanya dengan Kartu Tanda Pengenal dan menggunakan Mesin Komputer Pengenal. Ternyata ia memang berhak untuk masuk ruang olahraga. Ia adalah pegawai Swift Enterprises."
"Apakah".itu betul?" tanya Tom lemas.
"Betul! Namanya John Gatterby. Ahli teknik tingkat enam!"
"Gatterby!" Tom melompat bangkit dari kursinya, lalu berpaling kepada Ben. "Orang itulah yang menghilang dari kubah Triton."
"Betul," kata Ben. "Edward Gatterby. Suatu kebetulan yang aneh!"
"Tidak aneh. Kukira tidak aneh," kata Kerrick. "Hal itu juga keluar dari komputer. John Gatterby adalah saudara dari Edward Gatterby, yaitu pegawai yang menghilang secara mencurigakan dari kubah Triton."
"Yah," Tom tiba-tiba saja menjadi tak bersemangat lagi. "Saya kira anda kenal orang itu tadi. Tentunya anda akan menahan dia, Kapten" Saya yakin dia dan saudaranya pasti terlibat dalam perkara ini."
"Begitukah?" Kerrick mengangkat alisnya. "Kalau begitu engkau mengetahui lebih banyak daripada para Pengawal Bulan. Kami tidak mempunyai suatu alasan apa pun, kecuali ia secara kebetulan ada di dalam ruang olahraga. Itu suatu bukti yang sangat lemah!"
"Tetapi saudaranya".?" seru Ben.
"Engkau tak akan dimasukkan penjara karena kakakmu," Tom menerangkan. "Dan sebenarnya kita belum punya bukti ...."
Pintu ruangan terbuka dan Gene Larson melompat masuk. Ia nampak sangat marah.
"Kapten Kerrick!" katanya langsung. "Saya Larson, dari Swift Enterprises. Kita telah menerima telepon dari anda, dan segera memeriksa kamar Gatterby. Orang-orang dari bagian keamanan kami telah menemukan ini."
Larson melemparkan sebuah kantong kecil. Kerrich membalikkannya dan membiarkan isinya berjatuhan di atas meja.
"Wah, wah".!" katanya tersenyum lebar. "Suatu koleksi kecil, tuan Larson. Apa saja yang kalian lakukan di Swift Enterprises sana?"
"Coba, dengar sebentar ..." kata Larson bernada panas.
". . . pistol laser mini, dan sejumlah kunci-kunci elektronik. Suatu setelan yang bagus. Nah, apa lagi ini?" Kerrick mendorong-dorong dengan jari-jarinya kantong transparan yang ada di atas meja.
"Radio mini. Alat pendengar rahasia," kata Larson murung.
"Saya percaya akan kata-kata tuan. Nah, ini suatu benda yang mungil."
Kapten itu memungut sebuah batu jade yang berukiran rumit, berukuran limabelas senti. Ia mempelajarinya sebentar, kemudian menekan-nekan sisi-sisinya dengan kuat. Tiba-tiba batu jade itu dilingkari sesuatu yang mengeluarkan bunyi mendengung dengan getaran berwarna keperak-perakan.
"Bennndda apa itu?" tanya Larson.
"Vibrablade," jawab Kerrick. "Sangat tajam dan berputar demikian cepat hingga hampir tidak nampak."
Ia menekan batang batu jade lagi, dan putaran berwarna keperak-perakan itu pun lenyap.
"Sungguh malang sekali apabila terpotong olehnya. Terutama manusia." Kerrick lalu berdiri. "Untuk menjawab pertanyaanmu, Tom, kami akan menahan Gatterby. Semua yang ada di dalam kantong ini merupakan barang-barang bukti pidana berat." Ia pun tersenyum kepada Larson. "Terimakasih atas bantuan saudara!"
Gene Larson nampak mendidih darahnya dalam perjalanan kembali ke kantornya. Tom tahu apa yang membuat hatinya gelisah.
Oleh karena itu ia diam saja. Ketika Larson duduk lunglai di kursinya, ia berpaling kepada Tom sambil menghembus napas panjang.
"Aku sungguh-sungguh bingung ketika mengetahui, bahwa Gatterby adalah orang kita." Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
"Marcus Overmann pasti senang sekali mendengar hal ini. Ini semua akan membantunya untuk melemparkan segala fitnah tentang Swift Enterprises yang dikatakannya berkomplot dengan orang-orang Aquilla terhadap Luna Corporation. Kalau hal itu tidak?""
"Tiba-tiba sebuah lampu merah kecil berkedip di meja. Larson melompat bangun dari kursinya, lalu melompat keluar dari kamar.
"A-ada apa?" tanya Tom.
"Kantor pribadi ayahmu!" teriak Larson ke belakang.
"Seharusnya tak seorang pun dapat masuk ke sana. Tetapi rupanya ada yang masuk juga!"
Chapter 10 Larson benar-benar marah. Baginya gangguan yang terakhir ini, sudah sangat keterlaluan. Ia menghambur ke dalam kamar yang remang-remang. Tubuhnya yang besar itu memenuhi lubang pintu masuk. Sebuah bayangan bergerak di sudut, melintasi dinding yang penuh dengan buku-buku.
"Oke!," teriak Larson. "Berhenti di situ saja, bung!"
Suara tertawa terdengar dari tempat gelap, kemudian ruangan itu menjadi terang benderang.
"Woah...!" Gene Larson mengkedip-kedipkan matanya dengan terkejut. "Ya ampuuun! Tuankah itu?"
"Maaf, Gene. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut,"
Ayah Tom melangkah melintasi ruangan itu dan menjabat tangan Larson. "Aku datang tanpa memberitahu lebih dulu, agar segera dapat bertemu dengan engkau dan Tom. Nah, senang juga melihat engkau, nak!"
Tom lalu datang mendekati ayahnya dan menjabat tangannya.
"Seharusnya aku tahu," katanya menyeringai. "Sungguh susah untuk ditebak di mana ayah akan muncul."
Senyuman pak Swift menimpali senyuman anaknya.
"Dari apa yang kudengar, itulah sifat pembawaan dari keluarga kita."
Ia lalu berpaling dan menyalami Anita, Ben dan K'orlii. Pak Swift bermata biru dalam, wajahnya yang kecoklatan cocok sekali dengan rambutnya yang sudah putih abu-abu dengan bayangan warna logam di keningnya.
Gene Larson dan anak-anak muda itu lalu duduk, sementara ayah Tom bertengger di ujung meja, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
"Senang sekali dapat bertemu kalian bersama-sama," katanya. "Banyak yang harus dikerjakan, dan kita tidak mempunyai banyak waktu."
Matanya cepat menyapu ke seluruh ruangan. Tom sangat mengenali sifat-sifat ayahnya. Ia segera mengetahui apa yang berkecamuk dalam hati ayahnya. Nampak jelas ketegangan pada wajah ayahnya.
Sebelum pak Swift melanjutkan kata-katanya, Gene Larson memberitahu tentang kejadian-kejadian yang terakhir, yaitu peristiwa di ruang olahraga dan percobaan pembunuhan terhadap Henry Greylock. Wajah pak Swift bagaikan disapu mendung mendengar itu semua.
"Aku telah tahu tentang komplotan yang akan menjatuhkan Ark Two ini sudah agak lama," katanya. "Kita telah mengalami ada gejala-gejala kesulitan sebelum ini. Sayang sekali, bahwa kita kurang cepat menanggapinya. Musuh kita ternyata jauh lebih kuat dari yang kita perkirakan. Aku tak perlu mengatakan hal itu kepada kalian. Kalian sendiri telah tahu apa yang mereka lakukan."
"Pak Swift," tanya Ben. "Apa anda dapat mengetahui siapa saja lawan kita itu?"
"Tidak. Aku tak tahu pasti. Rupa-rupanya suatu komplotan yang sangat cerdik dan terorganisasi rapih. Pencurian Sea Globe misalnya telah merupakan bukti. Mereka selalu selangkah lebih maju dari kita."
"Apakah anda pun menduga ada orang-orang dari bangsaku ikut terlibat?" tanya K'orlii.
"Benar, K'orlii. Kukira hal itu mungkin saja. Tetapi bukanlah seperti yang kauduga," sambung pak Swift cepat-cepat. "Engkau tahu, ayahmu dan aku telah bekerjasama dengan erat untuk mendekatkan kedua bangsa. Dan sampai sekarang kami masih tetap bersama-sama melanjutkan cita-cita tersebut."
Mendadak ia bangkit. "Sebetulnya banyak yang akan kukatakan, tetapi kukira lebih mudah kalau kalian melihatnya sendiri."
Ia tersenyum melihat wajah-wajah di sekelilingnya.
"Janganlah tanya dulu. Dalam satu menit kalian akan tahu lebih banyak lagi."
Dengan berkata demikian pak Swift mendahului berjalan melalui sederetan panjang rak-rak buku sampai pada sebuah dinding kayu. Ia menekan di suatu tempat membuat dinding kayu itu menggeser terbuka tanpa mengeluarkan suara. Kemudian tampak sebuah elevator kecil berukuran dua kali dua meter. Ayah Tom mempersilakan mereka untuk masuk, lalu menutup dinding kayu itu lagi. Suara dengung mesin yang halus terdengar, dan elevator itu terasa mulai bergerak.
Tom dan Gene Larson tahu ke mana mereka akan pergi, tetapi yang lain-lain tidak dapat mengira apa yang akan mereka hadapi.
Elevatorberhenti di suatu puncak yang tinggi, di tepi kawah Copernicus.
Mereka semua telah pernah berada di ruang angkasa dan pernah menginjakkan kaki di dunia yang lain. Namun ada suatu keindahan tersendiri pada kedinginan yang beku di Bulan itu yang mencekam mereka. Kubah transparan menutupi sebagian dari suatu ketinggian yang melengkung jernih ke lantai batu yang rata. Pada setiap sisi tidak ada lain kecuali pemandangan tanpa batas dari permukaan bulan yang berkawah-kawah.
"Tak banyak yang dapat dikatakan, ya?" kata Anita lirih.
Ayah Tom hanya memandang tersenyum saja.
"Ini boleh kusebut kamar tempat aku olah pikir. Di sini aku seperti dipisahkan dari segala sesuatu. Tetapi bukan itu yang hendak kuperlihatkan kepada kalian. Nah, lihat di atas itu! Lurus di atas kepala!"
Tom mengalihkan pandangannya. Kapal ruang angkasa Daniel Boone nampak tinggi di atas kawah Copernicus. Sebatang jarum kristal yang jernih di latar belakangi dengan tirai yang bertaburan dengan bintang-bintang. Pesawat Boone selalu membuat jantung Tom berdebar-debar. Tetapi sekarang tidak hanya pesawat yang ramping itu saja yang dapat dilihat.
"Kubah-kubah itu," kata Tom sambil menahan napas. "Ayah telah membawa kubah-kubah itu kemari dari New America!"
Tom kagum atas semua pemandangan itu. Demikian pula Anita dan yang lain-lain. Semuanya ada di sana, delapan ekosistem yang cemerlang mengelilingi pesawat angkasa bagaikan satelit-satelit mini: Kenya World, Oasis/Sahara, Sequoia Green dan yang lain-lain.
"Seharusnya Sea Globe juga ada di sana," kata pak Swift.
Perasaan pahit menekan suaranya. Ia menawarkan agar mereka duduk, tetapi mereka lebih senang berdiri.
"Seperti telah kukatakan, lawan-lawan kita telah mendahului kita. Kita sibuk mempersiapkan kubah-kubah itu, mereka mendahului kita hanya dalam tempo beberapa jam!"
"Sekarang ke mana ekosistem-ekosistem itu akan dibawa?" tanya Larson.
"Aku telah merencanakan itu sejak lama," kata pak Swift.
"Dengan diam-diam kita lengkapi Daniel Boone untuk tugas khusus itu. Yaitu salah satu stasiun percobaan kita yang melalui orbit planet Mars." Ia berhenti sebentar untuk lebih memberikan tekanan kepada kata-katanya. "Kita akan ke dunia bintang-bintang."
"Ke dunia bintang-bintang?" tanya Anita. "Mengapa, pak Swift" Tentunya bukan karena serangan atas New America bukan" Anda katakan, bahwa itu sudah direncanakan sejak lama!"
"Memang," pak Swift menjelaskan. "Para ahli yang telah mencetuskan gagasan untuk mengalihkan hewan dan tumbuhan yang terancam punah di Bumi ke suatu lingkungan yang diawasi. Sejak semula kita merasa, bahwa makhluk-makhluk tersebut akan lebih memperoleh kesempatan kelestariannya dalam lingkungan alamiah. Seperti Aquilla dengan lautannya yang besar dan bersih dari polusi, misalnya. Dan Aborea IV, sebuah planet yang utuh penuh hutan-hutan yang lebat subur."
"Dan sekarang tentunya ada alasan lain lagi," sambung Tom. "Yaitu karena ekosistem-ekosistem itu terancam bahaya."
"Betul!" kata pak Swift membenarkan. Tangannya bertelekan pada kubah. "Seseorang sedang berusaha untuk menghalang-halangi usaha kita. Mengapa demikian, aku tak dapat menerangkan. Tetapi inilah yang akan kukatakan kepada kalian. Aku berusaha agar Daniel Boone beserta delapan globe-globe itu selamat sampai di dunia bintang-bintang."
Ia berhenti sejenak, lalu berpaling kepada mereka.
"Aku ingin kalian menyertaiku menyumbangkan pengalaman-pengalaman kalian di atas pesawat Boone nanti. Kita akan berangkat dengan awak pesawat sekecil mungkin. K'orlii, engkau tentu akan sangat gembira karena persinggahan kita yang pertama adalah Aquilla. Namun untuk saat ini kita tidak dapat menyerahkan sesuatu di sana. Aku khawatir."
Wajah K'orlii menjadi cerah.
"Aku gembira sekali dapat melihat rumahku kembali, keluarga dan teman-teman lama."
"Tetapi masih ada satu rintangan yang harus kita lalui, sebelum kita berangkat," kata pak Swift masam. "Proyek ekosistem itu dilaksanakan atas bantuan dari Dewan Interplanet. Kita tidak dapat membawanya ke mana pun tanpa persetujuan mereka. Ini berarti lewat pemungutan suara."
"Menurut dugaan saya, sepertinya anda telah melakukannya," kata Larson sambil menatap ke langit-langit.
"Engkau benar, Gene. Aku telah melakukannya atas kemauanku sendiri. Boleh kukatakan semacam tindakan darurat."
"Ayah, itu nanti tentu bukan rintangan kecil," Tom mengungkapkan. "Marcus Overmann sudah jelas bukan penggemar Swift Enterprises!"
"Kukira, ia takkan memberikan suara dengan melemparkan tali penyelamat jika engkau tenggelam!" Larson menggerutu.
"Aku pun berpendapat demikian," pak Swift tertawa. "Tetapi ada satu hal yang dapat aku harapkan. Marcus akan memberikan suara yang sekiranya akan menguntungkan dia. Dan itulah yan
g akan kusodorkan kepadanya."
Selama hari-hari berikutnya, Tom sedikit sekali bertemu dengan ayah mau pun teman-temannya. Banyak sekali yang membuat dia sibuk. Semua fasilitas Swift Enterprises di Bumi dan di Bulan bekerja duapuluh empat jam guna menyeberangkan seribu satu barang yang dibutuhkan untuk perjalanan tersebut ke pesawat Daniel Boone.
Ben memeras tenaganya untuk melakukan segala tugas mengenai masalah komputer. Anita sibuk dengan sistem elektronik untuk menjamin kesehatan dan kondisi hewan maupun tumbuhan yang ada di dalam delapan globe-globe, yang diikatkan pada pesawat ruang angkasa. K'orlii dengan mudah dapat menyesuaikan keahliannya tentang hewan air ke hewan darat.
Tom bekerjasama dengan akrab bersama Gene Larson. Berdua mereka berusaha agar segala sesuatu dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Pada suatu hari, Gene Larson menemui Tom dan Anita.
"Kalian berdua barangkali belum mendengar," katanya polos.
"Nah, apa itu?" tanya Anita.
"Dewan Interplanet sedang melakukan sidang khusus melalui jaringan video. Mereka baru saja menyelesaikan pengambilan suara. Ini berarti kesulitan."
Chapter 11 "Ya ampuuun!" Tom mengeluh
"Yaah, itu berarti ketua untuk tahun inilah yang mempunyai suara yang menentukan," kata Larson.
"Ayo, boleh ditebak, siapa itu orangnya!" sambung Anita.
"Pasti teman baik kita Marcus Overmann!"
"Rupa-rupanya ayah berpendapat akan dapat membujuk Overmann," kata Tom kepada yang lain-lain.
"Lalu bagaimana pendapatmu sendiri?" tanya Anita.
"Aku tidak tahu bagaimana ayah dapat melakukannya."
Kemudian pada hari itu, Tom dan teman-temannya berkumpul di kantor Larson, yaitu untuk melihat pemungutan suara yang terakhir dari sidang Dewan Interplanet. Pak Swift ada di sana pula, dan Tom melihat suatu senyuman tipis di bibirnya ketika pembawa acara mengumumkan, bahwa Marcus Overmann telah memberikan suaranya yang menentukan untuk melaksanakan perjalanan Daniel Boone ke dunia bintang-bintang.
"Mengapa saya mempunyai firasat, bahwa anda yakin hal ini akan terjadi?" tanya Tom. "Ayah tidak nampak terkejut sama sekali."
Ayahnya berusaha keras untuk nampak bingung.
"Ya, bagaimana kau dapat mengatakannya, nak" Semua orang tahu, bahwa Overmann adalah orang yang dapat diajak berunding."
"Sekarang," kata Tom di tengah ejekan dari teman-temannya.
"Aku ingin tahu bagaimana ia dapat berbuat begitu?"
Para wartawan sedang mewawancarai Overmann, dan semuanya terdiam mendengarkan.
".. . dan saya sungguh bangga dapat ikut ambil peranan kecil bagi kemajuan ilmu," kata Overmann dengan bangga. "Keselamatan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk adalah sangat berharga bagi kita semua."
"Tuan," tanya seorang wartawan. "Apakah benar, bahwa perjalanan ini akan dinamakan ekspedisi Overmann, untuk menghormati tuan?"
"Apaaa?" Anita mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Ini tentu suatu lelucon."
"Tahanlah dirimu," tukas Ben.
"Memang benar, bahwa saya mendapat kehormatan itu," Overmann menghela napas. "Meskipun kurang pada tempatnya. Dan tentu saja saya akan menemani teman dan saingan lama saya, tuan Tom Swift Senior dalam perjalanan ini."
Gene Larson mematahkan sebatang pinsil dan menatap ke langit-langit. "Nah, gagasan siapa ini?" Ia mendengus tidak senang.
"Jangan katakan, bahwa itu buah pikiran anda, tuan Swift."
"Kujamin, itu bukan akalku," ayah Tom memprotes. "Itu tentu saran Henry Greylock. Dan itu bukan sesuatu yang buruk, baik setuju atau tidak. Apa yang kutunjukkan kepada Marcus hanyalah angka-angka mengenai perdagangan dengan dunia bintang-bintang. Juga ia akan menderita kerugian kalau ia terus-terusan menjelek-jelekkan Aquilla atau siapa pun di ruang angkasa antar bintang." Ia meletakkan tangannya di pundak Larson. "Pandanglah dari sudut ini, Gene. Untuk sementara di Bulan ini akan tenang dan menyenangkan."
"Ya, tuan memang benar." Wajah Gene Larson yang murung menjadi cerah kembali. "Saya tidak memikirkan hal itu".."
Pesawat Daniel Boone diperlengkapi dengan alat-alat stardrive, yaitu suatu cara paling cepat yang diketahui manusia. Lagipula Angkatan Laut Interplanet memperbantukan salah seorang perwiranya yang terbaik untuk memandu pesawat tersebut.
Semuanya menemui kapten Susan Travis pada waktu makan malam pertama di dalam pesawat, yaitu pada malam sebelum keberangkatan. Kegairahan akan perjalanan itu telah menyentuh hati setiap orang, baik awak pesawat maupun penumpang. Bahkan Overmann pun nampak bersemangat sekali.
"Suatu peristiwa yang mengesankan!" serunya dengan gembira. "Aku yakin, usaha ini akan lama dikenang sebagai salah satu sumbangan yang vital bagi abad kita ini."
"Engkau benar, Marcus," kata pak Swift mengiakan. Ia berusaha keras untuk kelihatan jujur sejujur-jujurnya.
"Kapten," kata Overmann melanjutkan. "Katakanlah padaku tentang stardrive yang akan membawa kita ke dalam ruang angkasa luar. Saya belum pernah mengalami".."
"Anda duduk di samping penemunya," kata Susan Travis sambil menunjuk ke arah Tom. "Barangkali ia dapat menjelaskan lebih baik dari siapa pun. Ruang angkasa luar, atau ruang angkasa nol, bagaimana pun merupakan tempat yang sangat pelik."
"Pelik?" kata Overmann mengulang.
Tom tersenyum. "Ya, anda tahu alat-alat stardrive membangkitkan suatu medan magnit, dan mengembangkan ruang dengan suatu jenis dongkrak elektronik. Sekali anda berada di ruang angkasa nol, segala-galanya terputar-balik. Sesuatu yang biasanya memerlukan waktu yang lama akan berlangsung dalam beberapa detik saja. Satu-satunya kesulitan ialah memberikan rasa yang sama sekali tidak enak.''
"Apa maksudmu?"
"Yaah," Ben menyambung "Adanya tekanan yang sangat besar, dan anda akan merasa mual. Apabila berlangsung terlalu lama, anda akan tak sadarkan diri."
"Nanti dulu!" Overmann memprotes. Ia menatap ke arah ayah Tom. "Tidak ada seorang pun yang mengatakan demikian kepadaku. Aku".."
"Jangan gelisah, Marcus," kata pak Swift menghibur. "Itu hanya akan berlangsung untuk beberapa detik. Pada zaman sekarang orang-orang sudah biasa keluar masuk ruang angkasa luar."
Overmann membuka mulut, tetapi kemudian memutuskan untuk berdiam diri. Dengan tak senang ia menyibukkan diri pada piring makanannya.
Tom menyukai kapten Susan Travis. Susan yang berambut coklat dan menarik, berumur tiga-puluhan, seorang wanita yang cepat meningkat kedudukannya di Angkatan Laut Interplanet.
Penampilannya ramah dan mudah bergaul. Tetapi Tom merasa, di balik ketenangannya itu ia termasuk orang yang harus diperhitungkan.
Sewaktu makanan kecil dihidangkan, wakil Bumi Henry Greylock memuji kapten Susan atas penampilan kapal Daniel Boone di bawah pimpinannya.
"Kapal yang mengagumkan," katanya. "Salah satu yang terbagus yang pernah saya lihat."
"Saya tak dapat menerima pujian itu," jawab kapten. "Tuan Swiftlah yang bertanggung jawab atas penampilan Daniel Boone."
"O, saya tentu memuji siapa yang berhak dipuji," kata Overmann tanpa berpikir. "Tetapi seperti yang selalu saya katakan, sebuah kapal tentu sama baiknya dengan kaptennya. Kapten Travis, barangkali, di tengah perjalanan nanti anda tidak keberatan meluangkan waktu sedikit untuk memperlihatkan kepada saya berkeliling."
"Dengan senang hati," jawab kapten Susan. "Meskipun saya kira hanya sedikit saja yang belum pernah anda lihat."
"Eh?" Wajah Overmann yang seperti burung elang itu mendongak dari piringnya. "Saya belum pernah lihat apa-apa!"


Pesawat Ark Two Tom Swift 07 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apakah anda belum pernah ikut penerbangan wisata?"
"Penerbangan wisata biasa?" Overmann mengangkat bahu. "Saya tak pernah tertarik semacam itu."
"Sayang sekali," kata kapten Travis. "Hanya dengan cara itulah yang dapat anda peroleh, pak.''
Overmann berdecak. "Tetapi saya ingin melihat mesin pelebur, mesin stardrive"..ya, semacam itulah."
"Saya kira itu tidak mungkin, pak. Tempat-tempat itu sangat terlarang."
"Terlarang!" Overmann nampak seperti tersedak pada eskrimnya. Ingat: saya adalah anggota Dewan Interplanet, kapten!"
"Itu tidak menjadi soal."
"Ada alasan yang kuat demi keamanan," kapten Susan menjelaskan. "Khususnya pada penerbangan kali ini. Ini bukan meremehkan anda, pak!"
"Ya, baik"baik!" Overmann mengakhiri kata-katanya tanpa melihat kepada kapten Travis.
"Tidak! Bukan sekedar baik"baik saja," jawab Susan tegas.
Anggota Dewan Bulan itu mendongak, terkejut kepada wanita yang tadinya dianggap biasa-biasa saja itu.
"Mungkin sekali anda sudah tahu," kata kapten Susan selanjutnya. "Tetapi sebaiknya anda tetap mau mendengarkan. Saya bukan mengatakan tentang pengamanan pesawat ini secara sehari-hari. Ada yang lebih penting dari pada itu."
Overmann meletakkan garpunya. "Kami tahu apa yang telah terjadi. Salah satu ekosistem kita yang tak ternilai harganya telah lenyap." Ia memandang tajam ke ayah Tom. "Karena itulah pesawat-pesawat tempur selalu berkerumun di sekitar kapal Boone ini!"
"Begitulah, pak," kata kapten Travis dengan sabar. "Tetapi sekali kita menginjak ruang angkasa luar, semua pesawat tempur di seluruh dunia tak mampu melindungi kita lagi."
Overmann kelihatannya tak mengerti.
"Anda tahu, sebelum kita sampai di ruang angkasa luar, semua pesawat pengawal itu harus mengundurkan diri. Kalau tidak, kita semua akan meledak. Atau, lengkung medan maknit itu akan melemparkan kita dari arah tujuan semula, dan kita tak akan tahu di mana kita berada. Demikianlah, ada saat-saat di mana kita hanya sendiri saja di ruang angkasa. Nah, seandainya anda yang menjadi musuh rahasia kita, kapankah anda akan mulai menyerang kapal Daniel Boone ini?"
Overmann menjadi nanar, mulutnya ternganga. "Sa-saya tak mengira, bahwa sedemikian seriusnya ...."
"Saya gembira bahwa tuan telah menyadari," kata kapten itu dengan pendek. "Kalau sekiranya anda ingin bertanya mengenai keamanan, pak, hendaknya anda memberitahu saya. Bersediakah anda?"
*** Lengkung permukaan Bulan memenuhi setengah jendela lebar di anjungan, menerangi ruangan itu dengan cahaya kekuning-kuningan.
Sementara itu pesawat melayang perlahan-lahan keluar dari pelabuhan udara. Sebentar kemudian bentuk sabit dari Bumi nampak di latar belakang Bimasakti.
Tom dan Anita berdiri bersama ayah Tom di bagian belakang anjungan yang digelapkan. Mereka dapat melihat kapten Travis beserta anak-buahnya membungkuk tekun menghadapi papan instrumen mereka yang selalu berkedip-kedip.
Pada suatu ruang sempit di bawah tempat duduk Tom, Ben sedang membantu letnan Phil Markham, perwira komputer Boone.
"Nah, kita segera meningkatkan kecepatan," kata pak Swift. Ia melirik ke arlojinya. "Nah".itu dia pengawal-pengawal kita!"
Tom melihat layar monitor di dinding depan. Di kanan-kiri Daniel Boone nampak bentuk-bentuk pijar yang bergerak cepat. Itulah pesawat-pesawat tempur yang gesit dari Serikat Negara-negara Bulan.
"Nah," kata Anita penuh gairah. "Itu datang pula kapal-kapal kelas Lancer dari Angkatan Laut Ruang Angkasa Amerika Serikat yang bersenjata berat!"
"Betapa kecewa melihat mereka," kata pak Swift. "Kukira musuh-musuh kita yang misterius itu tak akan berani menampakkan diri. Setidak-tidaknya selama pengawal-pengawal itu ada di sekitar kita. Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di daerah yang tepat untuk memasuki ruang angkasa luar.
"Enam menit mulai dihitung," dengung suara tanpa nada di pengeras suara. "Siap masuk H!"
"Empat menit . . . . "
"Nah, pengawal-pengawal kita mulai meninggalkan tempat mereka," kata Tom. "Kita tinggalkan semuanya, kini."
"Mudah-mudahan semuanya beres. Baik kawan maupun lawan!" kata Anita.
"Tak nampak apa-apa di layar jarak jauh," pak Swift berkata. "Pada kecepatan ini musuh kita sulit sekali mengikuti kita."
Tangan Tom menjadi gatal-gatal. Tiba-tiba ia sadar bahwa kedua tangannya terlalu erat memegangi sandaran kursi. Ia melirik ke Anita, yang duduk dengan sabuk pengaman di sampingnya. Gadis berambut merah itu memandang nanar di dalam ruang yang digelapkan itu.
"Delapanpuluh detik . . . . "
"Nampaknya tak ada halangan apa-apa," kata Tom tegang. "Satu menit lagi semuanya akan berlalu!"
"Tujuhpuluh tujuh . . . tujuhpuluh enam . . . "
Tanda bahaya yang tajam menjerit-jerit menusuk keheningan di anjungan.
"Titik-titik . . . lima buah . . . cepat mendekat!"
Tom menatap. Tak perlu dilihat dari layar lagi. Kelima pesawat hitam itu nampak jelas dari jendela anjungan.
"Mereka bukan mengejar kita!" seru Anita. "Mereka hendak menyerang globe-globe kita!"
Chapter 12 Anita benar. Pesawat-pesawat hitam itu langsung menuju ke globe-globe yang mengkilat di sekeliling Boone. Kapten memberikan perintah-perintah, dan para awak berlarian di anjungan. Seperti yang dikhawatirkan, musuh mulai menyerang ketika mereka sedang tak berdaya untuk membalas.
"Tujuhpuluh tiga . . . tujuhpuluh dua . . . " pengeras suara mendengung datar.
Kelima pesawat hitam berkerumun di sekitar barang bawaan Boone yang sangat berharga itu. Tom tahu apa rencana para perompak itu, dan bulu kuduknya berdiri. Kalau mereka tak berhasil melepaskan globe-globe itu, mereka tentu akan merusakkannya!
"Apakah kaukira pesawat-pesawat itu berawak?" tanya Ben.
"Kalau berawak, berarti bunuh diri bagi pilot-pilotnya," jawab Tom. "Tidak. Kukira bukan pesawat berawak, tetapi yang dikendalikan dari jauh. Mereka hanya melepaskan globe-globe itu, atau menghancurkannya. Dan kalau kita memasuki ruang angkasa luar dalam keadaan begini".."
"Kita akan tiba di seberang sana sebagai gugusan debu antar bintang yang baru!" sambung Anita.
"Enampuluh detik . . . limapuluh sembilan . . . limapuluh delapan . . . . "
Tom mendengar kapten Travis memberikan aba-aba. Tiba-tiba salah sebuah pesawat itu membelok ke luar dari arahnya, hampir saja menabrak pesawat yang lain. Sebuah pesawat lagi membelok dan menjauh ke kiri.
"He! Mengapa mereka itu?" tanya Anita, heran melihat tingkah-laku pesawat-pesawat musuh. "Lihat itu!"
Dua pesawat lagi hampir saja saling tabrak. Yang satu lalu berputar menjauh lewat di sebelah bawah Bonne.
"Empatpuluh dua . . . empatpuluh satu . . . empatpuluh . . . . "
"Ada sesuatu yang terjadi pada sistem pengendalian mereka," kata Tom tegas. "Tahukah" Itulah yang terjadi bila komputer pesawat mulai mengacau! "
Anita, menggeleng. "Tetapi semua komputer" Itu tak masuk akal!"
Tom mengangkat bahu, lalu melihat lagi ke pesawat-pesawat penyerang. Dua telah lenyap, berupa titik-titik pudar, jauh di belakang mereka.
"Duapuluh satu . . . duapuluh . . . sembilan-belas"."
Dua pesawat terakhir tiba-tiba berhenti menyerang, lalu melesat delapanpuluh derajad ke atas sambil berputar-putar bagaikan sekrup.
Seruan lega memenuhi anjungan.
"Kapten! . . . mendekati titik-masuk H ! " dengung komputer.
"Siap untuk transisi!" Suara Susan Travis tenang sekali, seperti tak terjadi apa-apa yang luar biasa.
"Dua . . . satu . . . zero! "
Tom merasakan tekanan bagaikan menghimpit tubuhnya, dan memeras udara ke luar dari paru-parunya. Kepalanya berdetak-detak. Ribuan bintang menari-nari di depan matanya. Perutnya bagaikan diputar-balik
Tiba-tiba saja semuanya berlalu.
Semuanya menjadi normal kembali, dan Tom menghela napas dengan lega. Beberapa saat kemudian Susan Travis melangkah masuk ke ruang komputer. Ia menarik Ben Walking Eagle hingga berdiri. Pak Swift menoleh dan melambai kepada Tom dan Anita.
"Ben inilah, pahlawan kita hari ini!" Pak Swift berseri-seri, menjabat tangan Ben dengan hangat, lalu melangkah mundur memberi kesempatan kepada yang lain-lain.
"Apa yang telah kaulakukan, Ben?" tanya Anita.
"Tidak banyak, sebenarnya," wajah Ben menjadi merah.
"Engkau telah berbuat yang hebat!" kata Susan dengan tegas.
"Kecepatan berpikir Ben telah menyelamatkan kita dari suatu gangguan yang keji. Aku sendiri belum tahu dengan pasti di mana kita sekarang, tetapi aku punya perkiraan yang jelas."
"Komputernya, ya?" tanya Tom. "Dilihat dari cara pesawat-pesawat itu bergerak tak keruan di angkasa."
"Betul," kata Ben menyeringai. "Aku sedang menghadapi papan instrumen komputer ketika menjelang transisi, lalu mengganggu programming mereka. Demikian pesawat-pesawat itu muncul, aku segera mendapatkan gema komputer mereka di layarku. Kuputar-balikkan gema yang masuk"."
?"..lalu dikembalikan ke pesawat yang lain!" kata Anita sambil tertawa. "Tak heran kalau mereka berzig-zag tak keruan. Setiap komputer pesawat mendapat perintah dari pesawat yang lain! Ben! Itu sungguh luar biasa! Memang engkaulah yang paling berjasa!"
*** Para pemuda itu sedang duduk di sebuah ruang kecil, yang oleh Tom telah dirubah menjadi laboratorium darurat. Selama waktu-waktu terluang sepanjang penerbangan ke Aquilla, ia telah berhasil membuat perbaikan-perbaikan pada pesawat holoproyektor.
Ia menoleh kepada K'orlii. "Sudah berapa lama engkau meninggalkan Aquilla?" tanyanya. "Dua tahun" Tiga" Aku yakin, engkau tentu sangat ingin melihat kembali tempat asalmu."
"Memang," kata pemuda Aquilla itu sambil menghela napas.
"Sudah tiga tahun. Aku tentu sudah pulang dulu-dulu kalau tak bertemu engkau dan Ben." K'orlii tertawa kecil. "Dan juga Anita tentu saja. Dialah yang melibatkan aku dengan Sea Globe."
Pak Swift masuk, lalu duduk di sudut meja kerja Tom. "Kita sudah ada di sekitar daerah Aquilla," katanya. "K'orlii, aku sudah menghubungi ayahmu. Ia dan keluargamu mengirim salam. Mereka sudah ingin sekali bertemu engkau. Tetapi ada beberapa hal yang sebaiknya kauketahui sebelum kita sampai di sana."
Ia berhenti sejenak dan mengusap-usap rahangnya. "Aku kawatir, tidak semuanya hal yang baik."
"Keluarga saya".!" Mata K'orlii yang kuning keemasan membelalak khawatir.
"Bukan, bukan semacam itu. Engkau tahu bahwa ayahmu, Shaldar, dan aku telah bekerja sama untuk kepentingan bersama antara Bumi dan Aquilla. Ketika aku bertemu dia enam bulan yang lalu, suatu persetujuan jangka panjang Dewan Duabelas Lautan negaramu hampir terlaksana." Pak Swift berhenti lagi, dan dengan muram memandangi dinding. "Rupa-rupanya kita tak mencapai sukses seperti yang kita harapkan."
K'orlii memandang dengan khawatir. "Tetapi ayah saya tak akan berbuat sesuatu yang menghambat persetujuan itu. Saya yakin akan hal itu."
"Bukan ayahmu," pak Swift menggeleng. "Pamanmu Mordan yang mericuhkan pekerjaan itu."
K'orlii menegakkan duduknya. "Sa-saya tak percaya! Paman Mordan adalah orang baik. Ia dan ayah demikian dekat."
"Sekarang tidak lagi. Mordan bersama ".siapa itu"K'artar ...."
"K'artar!" mata K'orlii menyala. "Paman Mordan tak mungkin mau mendengarkan dia!"
"Sesungguhnya siapa dia itu?" tanya Tom.
"Seorang gubernur dari salah satu Duabelas Lautan," jawab K'orlii. "Salah seorang dari beberapa orang Aquilla yang tak mempercayai dasar-dasar filsafat perdamaian kita."
"Rupanya ia kini telah dapat mempengaruhi Mordan," kata pak Swift. "Ayahmu mengatakan, ia telah mengikat seluruh Dewan."
"Segala ulah menjelek-jelekkan bangsa Aquilla di sekeliling New America dan Bulan juga tak akan banyak menolong," kata Tom kecut. "Apakah Overmann tahu tentang hal ini?"
"Belum. Tetapi tentu akan mendengarnya tak lama lagi," jawab ayahnya. "Di Aquilla juga ada pegawai Interplanet, termasuk satu dua orang yang bekerja bagi Luna Corporation. Aku tak mungkin menghalangi Overmann untuk berbicara dengan mereka melalui radio."
"K'orlii berdiri dan menghembuskan napas. "Ada beberapa hal yang perlu kupikirkan," katanya lemas. "Aku ada di kamar kita, kalau engkau memerlukan aku, Tom."
"K'orlii"."
"Maafkan, Tom. Aku tak ingin membicarakan hal itu sekarang ini."
Tom membiarkan dia pergi. "Ini suatu kepulangan yang menyedihkan bagi K'orlii," katanya tiba-tiba.
"Malah dapat lebih buruk lagi," kata ayahnya.
Tom menangkap sesuatu di dalam suara ayahnya. "Apakah maksud ayah?"
Ayahnya mengangkat bahu. "Aku hanya tak senang dengan segala peristiwa ini. Musuh kita mempunyai organisasi yang besar dan kuat. Sesuatu yang dapat menjangkau Aquilla."
"Maksud ayah, Mordan" Paman K'orlii?"
"Mordan dan si K'artar itu, seperti kebetulan saja, bukan" Tiba-tiba saja terjadi kesulitan di dalam Dewan Duabelas Lautan. Padahal sebelumnya tak pernah!"
Tom tidak menjawab. Ia tahu bahwa ayahnya benar. Rangkaian peristiwa-peristiwa yang hampir mencelakakan, dimulai sejak kubah Triton, New America dan Bulan masih tetap mengejar-ngejar mereka, di sepanjang ruang antar bintang di Aquilla. Mereka belum juga lepas dari musuh yang misterius.
*** Menjelang sore itu, Tom berbicara kepada Ben dan Anita tentang pembicaraannya dengan ayahnya. Ben melaporkan, bahwa Overmann telah berbicara dengan teman-temannya di Aquilla, dan mengetahui segala kesulitan di,sana.
"Engkau boleh bertaruh, bahwa dia pun tentu memberitahu mereka," Tom menambahkan. "Percayalah, bahwa ia menyebarkan berita buruk dari daerah planet-planet dalam."
"Aku sungguh benci pada orang itu," seru Anita. "Ekspedisi Overmann, hahhh! Apakah kalian memang berpendapat, bahwa semua orang menghormati dia sebagai orang yang luar biasa" Sebagai teman dari makhluk-makhluk yang terancam punah?" Wajahnya mengejek.
"Itu tidak adil! Seorang pengacau seperti dia mendapat kehormatan, tetapi orang yang baik seperti K'orlii sampai malu keluar dari kamarnya!"
"Memang," Tom mengiakan. "Itu tidak wajar, bukan?"
"Kita tak dapat membiarkan dia mengurung diri dan bersedih," kata Ben. "Ia tak berbuat apa-apa, Tom! Aku akan ke sana, dan berbicara dengan dia. Supaya tidak berakibat jelek."
"Kukira K'orlii sedang tak berminat sama sekali untuk berbicara, Ben ...."
"Siapa tahu, belum dicoba," kata Ben keras kepala. Langkah-langkahnya segera terdengar di serambi. Sementara itu Tom dan Anita pergi ke anjungan. Tiba-tiba mereka mendengar teriakan parau di belakang mereka. Mereka membalikkan tubuh dan melihat Ben mendatangi, wajahnya pucat bagai kertas.
"K'orlii," seru Ben. "Ia tak ada di kamarnya! Ia memang pernah ada di sana . . . dengan seorang lain lagi!"
Perut Tom merasa mual melihat keadaan kamar itu. Sebuah kursi patah berantakan di dinding. Alat tidur robek-robek, berhamburan di mana-mana. Pakaian, buku dan barang-barang lainnya berserakan di seluruh kamar.
"Panggil kapten dan bagian keamanan!" seru Tom. "Aku akan melacaknya bersama Aristotle."
Ben dan Anita mengangguk lalu berlari pergi. Tom masuk ke laboratorium daruratnya, di mana ia meninggalkan robotnya. "Ada orang yang menculik K'orlii," katanya kepada si Robot. "Mari kita cari!"
Komputer Aristotle tidak diprogramkan untuk melacak orang, tetapi rupanya mampu pula melakukan tugas itu. "Penglihatan" robot itu ada di antara daerah infra merah hingga ultra violet, sedangkan "pendengarannya" sama cermatnya. Robot itu memulai pelacakannya dengan berbagai cara; bekas-bekas tapak kaki yang tak nampak meninggalkan partikel-partikel sepatu, jejak suhu tubuhnya masih mengambang di udara, molekul-molekul lembab melayang-layang di udara, bermuatan senyawa-senyawa kimia yang khusus berasal dari tubuh K'orlii.
Aristotle menuntun Tom beberapa meter di lorong yang membagi dua pesawat itu, lalu membelok ke kiri dan turun melalui tangga ke bagian bawah pesawat. Lantai di bawah kaki Tom bergetar berderak, sebab tepat di bawahnya adalah ruangan mesin pelebur nuklir.
"Engkau yakin ia kemari?" tanya Tom. "Ke ruangan mesin tenaga?"
"Yakin," jawab robot itu. "Awas, engkau harus waspada, Tom. Ada orang lain bersama dia."
Tom menjadi tegang. "Kalau begitu ada yang menculik dia!"
"Mungkin." Aristotle berhenti lalu mengangkat sebelah tangannya. "Tom, mereka sangat dekat. Aku dapat merasakannya. Hati-hati!"
Tom tak menjawab. Ia telah ada di bawah, jauh mendahului robotnya. Ketika menikung di sudut, ia hampir saja menginjak tubuh seorang pengawal. Orang itu terkapar di lantai depan pintu katup ke kamar mesin. Darah mengalir dari pipinya, dan membasahi leher baju jumpsuitnya yang keperak-perakan.
Chapter 13 Aristotle membungkuk, menggerayangi wajah dan tangan pengawal itu dengan gelombang-gelombang maknetik dari jari-jarinya. "Ia tak apa-apa. Hanya memerlukan perawatan sedikit."
"Bagus," kata Tom lega. "Pertolongan akan segera datang." Ia berdiri dan memasuki pintu kamar mesin.
"Tunggu sebentar," Aristotle mengingatkan. "Ini sangat berbahaya."
"Akan berbahaya bagi K'orlii kalau tidak kita teruskan," kata Tom tak sabar. Ia melangkah melalui pintu. Mesin-mesin menggetarkan lantai; mesin-mesin nuklir yang besar membayang dalam cahaya remang-remang, bagaikan hewan raksasa yang sedang berbaring. Tom bergerak hati-hati mengitari sepanjang dinding yang digelapi bayangan, mengikuti "pancaindra" dari robotnya.
Aristotle berhenti lalu menunjuk ke atas. "Di sana, Tom. K'orlii dan seorang lain lagi."
Mata Tom mengikuti tangga sempit di keremangan. "Apa yang ada di atas sana" Dapatkah kaukatakan?"
"Sebuah jembatan tangga mengitari ruangan ini. Pengamatan ultraviolet dan infra merahku tak menemui orang-orang, tetapi suhu tubuhnya masih membekas nyata."
"Apa ada pintu lagi?"
"Ada dua. Sebuah pintu darurat di lantai ini, dan satu lagi di atas sana. Keduanya dikontrol dengan tanda bahaya dari anjungan dan tidak dapat dibuka dari sebelah dalam sini."
"Bagus," kata Tom geram, lalu mulai naik ke tangga. "Jadi kita semuanya ada di dalam sini."
"Sekali lagi kuperingatkan"."
Tom merayap pada jembatan tangga, bersyukur bahwa pengamatan Aristotle dapat menembus kegelapan. Ini memberikan keuntungan yang memang mereka butuhkan.
"Tunggu," kata si robot sambil berhenti. Tangannya terbuka. "Di atas sana, Tom!"
"Berapa jauh?" "Duapuluh meter. Itu ada sekelompok pipa-pipa! Nah, di belakang itu!"
"Apakah ia mempunyai senjata" Dapatkah kaukatakan?"
"Ada logam di tubuhnya. Tetapi besarnya tak cukup sebagai senjata. Tunggu, Tom! Ke mana?"
"Mengejar dia," kata Tom lewat pundaknya.
"Jangan! Tunggu yang lain-lain dulu," robot itu memperingatkan. "Logam yang ada padanya ...."
Tom telah pergi. Ia lari ke arah pipa-pipa, menundukkan tubuhnya serendah mungkin. Kemudian ia menempelkan telinganya pada dinding dan mencoba mendengar-dengarkan. Apa yang dapat didengar hanya suara mesin-mesin raksasa. Sesaat kemudian ia mendekat ke sudut dengan hati-hati.
Sebuah bayangan menyambar turun di punggungnya, memukul dia jatuh ke lantai. Tom terlambat menyadari, bahwa musuhnya telah memanjat ke atas, menunggu Tom sambil bergantungan pada pipa-pipa.
Tom berjuang keras untuk melepaskan diri dari lawan. Tangannya meraih lengan lawan, tetapi tangan itu memutar lepas.
Tom menjangkau lagi dengan tangannya, menangkap kain kerudung, tetapi orang itu melepaskan kerudung kain hitam tersebut sambil berlari. Tom melemparkannya dan lari mengejar.
"Berhenti!" serunya. "Tak ada tempat untuk bersembunyi!"
Orang itu sangat cepat, tetapi Tom dengan cepat pula memperpendek jarak. Beberapa meter lagi ia tentu akan dapat menangkapnya. Tiba-tiba orang itu membalik lalu melompat ke pagar jembatan tangga. Dalam satu gerakan yang cepat tangannya meraih ke bawah lengannya, lalu diacungkannya ke arah Tom.
Titik-titik berkedip-kedip melesat ke arah kepala Tom. Ia melompat ke samping, tetapi sadar bahwa itu adalah gerakan yang sia-sia.
Tiba-tiba tangan robot memukul keras di punggungnya. Tom terlempar jatuh berguling di lantai. Potongan logam kecil-kecil berdesing-desing di dekat telinganya, lalu berdenting-denting mental di dada Aristotle. Tom bangkit berdiri, melihat tangan manusia mesin itu menangkis serentetan potongan baja maut.
"Lebah mekanik," kata si robot. "Satu sengatan saja ...."
"Jangan hiraukan! Di mana dia?" Sebelum robot menjawab, Tom mendengar suara mengerang di sebelah kirinya, lalu melihat bayangan bergerak-gerak. Tom lari mendekati.
"K'orlii! Bagaimana engkau?" Tom menoleh. "Aristotle carilah bantuan kemari."
"Bantuan sudah datang," Aristotle menoleh. "Mereka ada di kamar mesin di bawah sana."
Tom berpaling lagi ke arah K'orlii. "Nah, bung engkau akan segera baik kembali. Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Aku t-tak t-tahu," kata K'orlii lemah. Ia duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di mana aku?"
"Di sebuah jembatan tangga di kamar mesin peleburan nuklir."
K'orlii nampak bingung. "Mesin peleburan" Apa yang kuingat, aku berada di kamar kita hanya itu. Tak ada apa-apa lagi."
"Ada obat bius cair di wajahmu," kata Aristotle. "Mungkin dengan saputangan. Bekasnya masih ada di udara. Menurut pengamatanku Chlorafexxo-- Sembilan."
"Aku tak mencium sesuatu," kata K'orlii sambil berkedip-kedip.
"Juga tak melihat sesuatu."
Kapten Travis lari mendatangi bersama empat penjaga keamanan. Ia memandangi K'orlii lalu menyuruh para pengawal itu menyebar untuk memeriksa.
Banyuwangi Trilogi 4 Sherlock Holmes - Prajurit Berwajah Pucat Pendekar Aneh Naga Langit 22
^