Pencarian

Tesa 2

Tesa Karya Marga T Bagian 2


"Ya, ya, dengan santan gurih yang manis. Pakai gula merah! Tapi kau diam-diam saja di sini, jangan ikut-ikutan ke dapur. Nanti bisa batal."
"Batal kenapa"" usik Pasha ketawa. "Masa sih bikin serabi aja bisa batal" Memangnya harus bugil""
"Kalau misalnya ya, kan berarti kau tak boleh hadir, bukan"" "Bukan!" sahutnya serius. "Apa"" "Berarti boleh!"
"Apa" Udah deh, aku enggak jadi bikin. Men-dingan pulang, tidur!" Tesa beranjak ke pintu. Pasha lebih cepat lagi bergeser ke sana.
"Eh, sudah masuk enggak boleh keluar lagi sebelum bikin kue! Itu pantangan, tahu! Pamalil Ayo, ke dapur sana! Kalau tidak selesai kueny
aku sekap kau sampai beres!" Pasha berlagak mengancam dengan nada bengis, tapi matanya berbinar mau ketawa.
Tesa pun berlagak ngeri dan menggelinding ke dapur tanpa membantah. Kalau dipikir-pikir-nya kemudian sikapnya persis remaja bego.
Ketika Tesa sudah di dapur kira-kira seper-empat jam, tiba-tiba Pasha berhenti menulis dan mengerutkan kening. Dari arah belakang dide-ngarnya bunyi kelontang-kelonteng panci dan sendok. Keningnya makin penuh kerut. Heran. Kok gadis itu sama sekali tidak mengalami ke-sulitan untuk menemukan alat-alat atau bahan-bahan yang diperlukannya"! Kalau Pika yang di sana, setiap satu menit pasti dia akan berkaok, "Pas, di mana gula jawa""; "Pas, di mana pengo-cok telur""; "Pas, di mana botol minyak""
Heran. Anak ini rupanya memang sudah bia-sa main di dapur, sampai dia tahu di mana letak barang-barang...! Eh, tapi bagaimana dia bisa tahu di mana kocokan telur"! Alat itu ja-rang sekali dipakainya dan karena itu disimpan-nya dalam lemari yang paling atas. Untuk mengambilnya, orang setinggi Tesa perlu kursi. Jadi dia takkan mencari langsung ke sana ke-cuali dia sudah tahu tempatnya. Dari mana dia bisa tahu"!
Tesa rupanya sedang riang hatinya. Terde-ngar dia bersenandung pelan. Ah, sejuk perasaan pendengarnya. Suaranya merdu. Lagu itu seakan sudah sering didengarnya, tapi entah
kenapa pikirannya mendadak jadi buntu. Dia tidak bisa ingat di mana pernah didengarnya
irama merdu itu. Sia-sia dia mencoba mengingat-ingat. Sampai akhirnya Tesa muncul membawa sepiring serabi
hangat yang harum serta santan bergula jawa yang kelihatan gurih sekali. Pasha lupa seketika akan segala tanda tanya barusan. Buru-buru disingkirkannya semua buku dari atas meja, lalu mereka duduk berhadapan menikmati hidangan istimewa itu.
"Ini memang kedoyananku!" tukasnya setelah menelan lima butir.
"Santannya dari kaleng sih, mungkin sudah agak tengik"" tanya Tesa seakan mau meren-dahkan mutu masakannya.
"Ah, enggak kok. Rasanya tetap enak, enggak bau apa-apa."
Pasha menatap Tesa. Tiba-tiba muncul kembali keheranan-keheranan tadi dalam otaknya. Baru saja dia mau bertanya, telepon berdering.
"Halo"" Pasha mendengarkan sebentar, lalu mengia-kan dan telepon diletakkannya kembali. Dia me-noleh pada Tesa. "Pika mau datang membawa pizza."
Senyum cerah memoles wajah tampannya. Rupanya itu salah satu kedoyanannya pula, pikir Tesa.
"Aku lebih baik segera angkat kaki," tukas
gadis itu seraya bangkit. Lalu tiba-tiba terpan-dang olehn
ya kue serabi yang masih banyak.
"Mau diapakan kue begini banyak" Pika pasti curiga
Pasha menghela napas. "Yah! Sebaiknya kau-bawa saja, Tes. Aku bakal kewalahan kalau Pika sampai ngamuk"
Tesa mengangkat piring itu mau dibawa ke dapur.
"Eh, tunggu dulu! Aku masih kepingin lagi!" Diraihnya piring itu dan dicomotnya empat serabi. Kemudian dituangnya santan gurih ke atas mereka. Tesa menunggu lalu mengambil mang-kuk santan untuk dituang ke dalam kantong plastik
Ketika dia tengah membungkus kue-kue itu, Pasha tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya sambil memegang piring dan menyantap serabi yang sebentar-sebentar dicelupnya ke dalam santan.
"Tes," katanya setengah berbisik, "maaf, ya.-Kau terpaksa pergi begitu saja."
Tesa ketawa sumbang walau hati merintih. "Oh, enggak apa-apa. Aku maklum." Dalam hati ditambahnya, "Aku maklum, aku kan cuma pe-rintang waktu. Tentu saja kau enggak mau sampai ribut dengan kekasih, bukan"! Aku harus tahu diri, dong. Siapa aku, siapa Pika!"
"Kau enggak marah" Sungguh""
"Lho, memangnya kenapa aku mesti marah" Aku juga enggak mau dong dimaki orang!
Selain itu, aku memang tidak punya niat untuk merampas kekasih orang!" Dia melrrik Pasha dengan sen yum netral padahal dalam hati cuma Tuhan yang tahu.
"Ayo, ah! Jangan ngomong begitu. Pika juga pasti tahu, kau bukannya cewek sembarangan
yang gampang-gampang direbut hatinya. Tapi tempo-tempo pikiran seorang gadis suka sempit dan kuno kalau itu menyangkut pacaran. Jadi, yah! Meskipun kita tahu kita tak punya niat apa-apa, kita cuma"""berteman doang, tapi kalau Pika melihatmu di sini, aku khawatir namamu akan dirusaknya ke seluruh benua Australia!"
Tesa ketawa gelak sambil mengikat bungkus-an kuenya dan santan kinca. Lumayan untuk Nopi serta kawan-kawan lain yang selalu kela-paran. Diambilnya tasnya. "Sudah, ya. Bye."
Pasha meraih tangannya seakan masih mau bikin upacara perpisahan yang lebih mesra, namun Tesa dengan gesit mengelak dan cepat-cepat menuju ke pintu.
Setibanya di jalan barulah disadarinya betapa sakit hatinya. Yah! Dia telah diusir seperti anjing! Dia takkan pernah mau ke sana lagi!! Biarlah Pasha mati kesepian tanpa teman! Dia tak sudi dijadikan kain sampiran sementara yang bagus sedang dijemur!
Tapi setelah duduk dalam bis menyaksikan pemandangan Sungai Swan yang indah, hatinya terbuka lagi. Salah sendiri, pikirnya, kenap
main-main dengan pacar orang! Akibatnya setiap saat bisa diusir pulang kalau majikan asli mau datang!
Bab 8 Tekadnya dilaksanakannya dengan gigih. Selama tiga minggu, dia menghindari pintu Pasha. Itu berarti enam kali, sebab dia memberi les di tingkat ketiga dua kali seminggu. Tapi kalau kemudian dikajinya, sebenarnya tekadnya toh tidak mendapat tantangan apa-apa. Sebab pintu itu selalu tertutup dan Pasha sendiri tidak kelihatan batang hidungnya.
Tesa tidak mau memikirkan apakah Pasha kini sudah menjauhinya atau tidak lagi kesepian atau bagaimana. Dia tak peduli apa alasan Pasha. Pokoknya dia cukup merasa lega tidak lagi mendapat gangguan. Namun begitu, tiap kali lewat di depan pintu hati kecilnya ter-kadang masih berharap pintu akan mendadak terbuka agar dapat ditunjukkannya tekadnya untuk tidak menjadi kain sampiran. Kakinya tanpa terasa sudah berhenti sejenak di anak tangga paling bawah. Tapi wajah yang penuh senyum itu tidak menyambutnya lagi. Maka hatinya pun melenguh, lalu dia menunduk dan 'nelangkah cepat-cepat turun ke tingkat satu.
Setelah hal itu terjadi enam kali, Tesa sudah membiasakan diri dengan keadaan baru itu. Dia tak pernah lagi berharap akan melihat Pasha atau menerima undangannya untuk mampir. Setelah dirinya menjadi biasa dengan perubahan ini, pikirarmya pun menjadi tenang. Dia malah bisa berangkat mengajar dengan perasaan lebih cerah sebab kekhawatiran akan kepergok Pika yang dulu-dulu tak pernah menyergap hatinya lagi. Semangat mengajarnya lebih meng-gebu-gebu, sebab konsentrasi pikirannya kini tidak lagi bercabang ke kamar lain.
Dia sudah merasa cukup puas bisa bersantai sejenak dengan kedua Kakek dan Nenek Graham seusai les, lalu buru-buru pulang untuk tidur siang atau membuat pekerjaan rumah kal
au ada. Di dapur, dia bisa menentang mata Pika dengan lebih jujur dan ikut seloroh teman-teman tanpa ada apa-apa yang perlu disembunyikan. Anak-anak asrama biasa masak-masak bersama. Setiap orang menyumbang satu macam sayur, lalu mereka duduk semeja dan makan besar. Biasanya Tesa jarang mau ikut, tapi kini dia lebih banyak meluangkan waktu untuk menunjukkan kebolehannya di depan teman-temannya. Yang paling terkesan tentu saja Nopi. Matanya yang jeli segera tahu bahwa gadis-gadis lain kebanyakan tidak pintar masak. Maklum, sela-a jadi anak sekolahan rupanya tak pernah
meninjau dapur dan ibu mereka pun terlalu memanjakan mereka.
Pernah sekali Nopi menyindir Atina yang menggoreng dendeng kiriman dari rumah.
"Waduh, enggak kalah alotnya sama kulit se-patu, nih," ledek Nopi yang baru berhasil meng-gigitnya setelah giginya terancam copot.
"Aku kelamaan menggorengnya dan kelupaan merendam dulu," sahut Atina mengaku salah.
Nopi menghela napas sabar. "Yah, aku maklum. Zaman sekarang, para ibu lebih suka anak gadis mereka jadi dokter atau insinyur daripada jadi ratu dapur. Kebanyakan nyonya rumah abad ruang angkasa ini sudah menyerahkan gelar itu pada si Mbok yang masih tahu mana terasi, mana lengkuas!"
"Ah, aku masih bersedia kursus kok, Nop, asal lihat-lihat dulu cowok mana yang mesti aku sediakan makan tiap hari!" sahut Atina jadi gemas.
"Oho, dengan perkataan lain, aku ini belum cukup pantas kausediakan makanan" Jadi kau enggak suka sama aku"!" seru Nopi melotot, seakan tidak percaya di dunia masih ada makh-luk yang begitu bod oh.
Tentu saja Atina kelabakan mendengar sin-diran yang mengandung peringatan itu, sebab terus terang, hatinya sudah kecantol cowok sipil itu. "Lho, lho, lho, kok jadi salah paham, sih" Aku kan enggak bilang kau ini kurang pantas aku suguhi, cuma... "
"...kau ogah!" sambung Nopi membuang hj-dung ke atas, berlagak sombong. "Ya, deh, aku maafkan sekali ini. Tapi lain kali mesti bikin soto untukku, ya! Soto sulung! Yang enak!"
"Mampus aku!" bisik Atina ke telinga Sabita yang duduk di sebelahnya. "Apa sih itu soto sulung" Dengar pun baru kali ini!"
"Kalau soto bungsu aku bisa," goda Sabita, tidak menyangka bahwa Atina begitu bloon. Dengan girang anak itu menoleh pada Nopi yang duduk di kepala meja bagaikan raja dike-lilingi beberapa selir.
"Nop, soto sulung itu kurang enak. Mending-an soto bungsu saja, gimana" Itu aku bisa!" kata Atina penuh keyakinan (akan bantuan Sabita).
Sebelum raja bersabda, selir yang bernama Nurul sudah berseru heran, "Belum pernah se-umur hidup aku mendengar nama itu. Ada juga soto Kudus, soto Bandung, soto Madura, atau soto Banjar, tapi soto sulung" Soto bungsu"!"
"Wah, kalau begitu kau goblok! Enggak pernah ke dapur, ya" Mentang-mentang sekolahnya tinggi..."
Panas juga Nurul disebut goblok. Langsung saja mulutnya yang terkenal suka ceplas-ceplos menyahut lantang, "Memang enggak, kok! Aku kan mau jadi nyonya rumah, bukannya jadi ratu dapur alias si Mbok! Di rumahku juga cuma pembantu yang tahu gimana bikin tempe bacem, pepes oncom, ayam goreng Mbok Berek, ayam goreng Jawa, ayam goreng Kalasan, ayam
goreng segala macam! Kalau kau kepingin punya istri ahli masak, kawin saja dengan mbok-ku!"
Merah padam muka Nopi. Tapi dia tidak marah. Malah ketawa terbahak-bahak. "Itu namanya kita berdua tidak berjodoh," katanya mengejek, lalu melirik Tesa yang tengah sibuk memindahkan gulungan ayam cincang dari kukusan ke atas piring. Tentu saja gerakan ini tidak luput dari monitor radar si Atina. Hatinya segera berdegup kencang. Dia tahu, Tesa memang hobi masak. Dan bila cowok yang satu ini betul-betul rakus, wah, wah, wah, bisa-bisa Tesa
yang mendapatnya! Ini tentu saja mesti dicegah.
Tapi gimana caranya"! Mungkin dia perlu baik-
baik dengan Tesa, lalu pelan-pelan minta diajari
masak! Gulungan kertas sudah dibuka dan ayam cincang itu dipotong-potongnya, lalu piring diba-wanya ke meja. Semua gerakan Tesa diperhati-kan oleh Nopi dengan penuh kekaguman, se-mentara Atina sendiri sibuk merekam tingkah laku Nopi.
Ketika piring diletakkan di atas meja, semua mata mendadak jadi membesar mengawasi ayam de
ngan pandangan kelaparan. Tesa yang tidak menyadari sikap teman-temannya, dengan anteng mengambil tempat duduk di sebelah Ria. Melihat semuanya cuma bengong memandang ke tengah meja, dia segera berseru, "TA ayo dong. Jangan diliatin melulu! Nop, kau yang bagiin!
"Yuhuuii! Makasih atas kepercayaanmu, Tes!" katanya sambil menggosok-gosok tangan.
"Jangan dia, ah!" sergah Nurul yang masih dongkol dibilang goblok, "Cowok kan rakus, nanti kita semua kagak kebagian apa-apa! Tesa saja yang bagi!"
"Eh, memang begitu dong aturannya! Cowok yang memberi, cewek-cewek tinggal menerima doang!"
"Iiih, porn...!" nyeletuk Atina yang mendadak jadi sebal melihat Nopi mengelus Tesa dengan pandang memuja, padahal gadis itu sendiri tengah menunduk sibuk mengiris timun. Tesa sama sekali tidak peduli pada cowok, pikir Atina. Ada yang bilang, dia pernah patah hati, lalu jadi kapok. Kalau enggak salah, Pika yang bilang. Dasar Nopi itu memang kerbau, enggak tahu hatinya ada di mana!
Nopi tidak peduli semua protes. Yang punya sendiri sudah menyerahkan mandat, jadi per-setan dengan segala mosi tidak percaya! Dengan tenang dia mengangkat sepotong gulungan ayam yang kelihatan lezat nian, lalu garpunya dibiarkannya berhenti di tengah udara sambil matanya menyapu setiap wajah. "Ayo, ada yang mau dapat bagian, enggak""
Sabita cepat-cepat mengulurkan piringnya. Kalau soal makanan, dia tidak mau pusing
siapa yang bikin atau siapa yang bagi, pendeknya asal cepat dapat jatah! "Iiih, kok rakus"!" tegur Atina pada sahabatnya.
"Habis! Aku kan sakit maag, Tin!" dia mem-bela diri. "Aku sudah kelaparan!"
Dengan sikap seakan amat terpaksa, akhirnya Nurul dan Atina pun mau menerima pembagi-an dari Nopi. Tesa menyorongkan piringnya paling akhir. Dan mungkin itu cuma perasaan Atina belaka, tapi dia seakan melihat bahwa Nopi sengaja memilihkan potongan yang paling gemuk untuk gadis itu. Yah, enggak apa, deh, pikirnya menghibur diri. Kan Tesa yang masak dan keluar duit!
Tengah mereka asyik berpesta, tahu-tahu pintu dapur asrama terbuka lebar. Siapa yang ma-suk"! Tesa mengangkat wajah dan seketika itu juga menunduk lagi. Pika muncul menggandeng Pasha! Ya, Allah, pikirnya. Jangan biarkan dia melihat aku! Jangan biarkan mereka duduk di sini.
Tapi Pasha sudah melihat masakan enak-enak di atas meja dan segera menjawil Nopi yang memang dikenalnya. "Boleh numpang sepiring enggak, nih""
Walaupun sebenarnya enggak rela sebab dia masih ingin nambah dua piring lagi Nopi tidak berani menolak. Terpaksa disilakannya ke-dua tamu tak diundang itu untuk ikut menyikat bersih piring-mangkuk di atas meja.
"Hm. Ayam Ini enak sekali. Apa sih namanya" Chicken pie" Atau bakso" Siapa sih yang bikin"" tanya Pasha sambil memandang berkeliling, lalu tiba-tiba mulutnya setengah melongo seakan keheranan. Agak di ujung meja duduk Tesa yang kelihatan acuh saja sendirian. Semula, sepintas lalu dikiranya itu gadis baru yang tidak dikenalnya, sehingga tidak diperhatikannya. Tapi kini wa-jahnya menunjukkan rasa gembira sekaligus... kangen"! Tidak! Dia mesti hati-hati kalau tidak mau babak belur dipukuli oleh Pika yang nang-kring di sebelahnya, memonitor setiap gerakan-nya seperti kamera televisi yang paling canggih. Dia bukan takut, tapi ingin damai, pikirnya membela sikapnya.
"Jangan usil, ah, tanya-tanya siapa yang masak!" ben tak Pika setengah cemburu. Dan Pasha langsung menu tup mulut. Tapi Atina yang se-nang keributan sebagai atraksi, segera menyebut nama Tesa.
Kini Pasha tidak bisa lagi masa bodoh. Dia sudah diberitahu siapa yang telah membuat ma-sakan yang dipujinya tadi. Terpaksa dia mesti juga memberi pujian.
*Oh, kiranya Tesa! Enak, lho. Boleh sering-sering, nih!" Maksudnya cuma ingin berkelakar. Siapa tahu, Pika jadi sewot.
"Maumu! Memangnya orang kebanyakan waktu diam di dapur terus! Apa masakanku
masih kurang sedap sih sampai kau kepingin dimasakin orang lain"!"
Wah, celaka! pikir Tesa dari ujung meja. Ru-nyam kalau mereka bertengkar gara-gara diri-nya. Bisa-bisa Pika akan menuduhnya yang bukan-bukan. Apalagi kalau dia sudah menaruh curiga bahwa Tesa pernah atau sering datang ke tempat Pasha!
Wah, Pika pasti takkan segan-segan menjelek-jelekkannya di depan anak-anak semua!
Dengan hati kebat-kebit Tesa berlagak tidak menyadari situasi yang sudah genting. Sambil ketawa dia menegur Pasha, "Iya, nih! Heran, sifat cowok kok semuanya begitu" Selalu pura-pura memuji cewek lain, padahal maksudnya sebenarnya cuma ingin lebih dimanja oleh patse!"
Pasha menatapnya seakan mau protes, tapi Tesa mengedip satu kali dan dia mengerti. Pika menjadi tenang lagi setelah paham bahwa itu hanya taktik belaka dari kaum laki-laki agar lebih diperhatikan oleh "orang rumah"! Dalam hati dia mengaku bersalah, kurang memanjakan Pasha. Habis, dia kelewat sibuk dengan kuliah.
Setelah makannya selesai, Tesa mengangkut piringnya sendiri ke ruang sebelah untuk dicuci. Dita mengikuti, juga dengan piring sendiri. Tak lama kemudian muncul Nopi, berlagak mau menunggu sampai gadis-gadis itu beres dengan piring mereka. Tapi Tesa mengerti bahwa dia
kepingin ditawari bantuan. Karena selama ini Nopi selalu baik padanya, Tesa jadi malu hati.
"Man, Nop, aku cuci piringmu."
"Aiiii, betul, nih" Trims, nih ye!" katanya tanpa sungkan, lalu menghilang lagi dengan wajah berseri-seri.
"Kerajinan betui sih, kau!" tukas Dita. "Nanti jadi kebiasaan! Kalau patse sih lain perkara! Nopi kan enggak pernah mau naksir kita-kita ini, Tes. Matanya juling ke yang pirang-pirang melulu, tahu!" .
Tesa ketawa. Karena piring yang dicucinya cuma satu, sebentar saja Dita sudah selesai, lalu balik ke ruang makan. Sedang Tesa masih sibuk membilas piring-piring dan sendok, muncul Pika dengan setumpuk perabot.
"Tes, aku minta tolong dong sekalian, nih. Piringku dan piring Pasha. Nanti kapan-kapan aku yang gantian men cuci piringmu. Mau, kan""
Sebenarnya Tesa sebal, tapi melawan mulut yang begitu manis, dia tak sanggup. Pika memang bisa amat sangat manis melebihi madu asli, kalau ada maunya.
"Taruh saja di situ," sahutnya tanpa menoleh. "Trims, ya. Lain kali aku yang gantian. Benar, deh!"
Tentu saja Tesa tidak menaruh banyak keper-cayaan pada janji Pika, walau misalnya disertai sumpah sekalipun. Paling-paling setelah dua puluh empat jam dia akan melupakan janji itu.
Tapi setelah diliriknya tumpukan piring gelas itu, mangkelnya berkurang. Bagaimanapun, itu kan bekas makan Pasha juga. Piring bekas Pika cuma satu dan gelasnya tak ada, barangkali
masih dipakai. Tengah Tesa menjadi babu dapur begitu, tiba-tiba datang Pasha mau membuang kulit jeruk ke dalam tong sampah. Langkahnya setengah terhenti melihat siapa yang ada di sana. Tapi kemudian diteruskannya seakan tak terjadi apa-apa.
"Sibuk, nih"" tegurnya basa-basi.
"Seperti kaulihat," sahut gadis itu singkat tanpa menghentikan gerakan sikat menyabuni piring.
Ketika Pasha melihat bahwa dia sedang men-cuci piring bekasnya sendiri, dia segera tahu bahwa Pika malas.
"Pika yang menyuruhmu mengerjakan semua itu"" tanyanya menegaskan.
Tentu saja Tesa tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi kalau dia cuma ketawa saja, tentu Pasha akan curiga juga. Terpaksalah dia berdusta untuk kebaikan Pika.
"Ah, enggak, kok. Aku yang mau sendiri. Kan sekalian, cuma sedikit ini."
Pasha belum puas dengan jawaban yang dira-gukannya itu, namun dia tidak mendesak. "Marl aku bantu," katanya kemudian.
Sebelum Tesa sempat menolak, Pasha sudah meraih serbet dari gantungan dan mulai
mengeringkan piring-piring yang sudah bersih.
Mereka bekerja tanpa bicara. Pasha bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa dia sudah lama mengenai Tesa, dan bukan sekadar
ketemu di ruang makan tadi. Tesa maklum, ini tentunya gara-gara Pika hadir di kamar sebelah.
Setiap saat monyet kecil itu bisa inspeksi dan menimbulkan onar kalau dilihatnya ada sesuatu yang kurang menyenangkan hatinya. Sebagai anak orang kaya, Pika tentu saja sudah biasa dimanja dan adatnya pun jadi disesuaikan dengan kebiasaan itu. Tesa tidak mau ada ribut-ribut. Apalagi karena di antara Pasha dan diri-nya memang tak ada apa-apa, jadi rugi betui kalau sampai disangka yang tidak-tidak, pikirnya.
Setelah semua piring dan sendok garpu beres dikeringkan, Pasha menggantungkan kembali lap di tempatnya. Lalu dike
luarkannya saputa-ngan untuk mengeringkan jari-jarinya. Tesa me-lihat lipatan saputangan biru yang tidak dise-trika itu. Rupanya sejak dia berhenti, tak ada orang yang sempat menyetrika. Pasha pasti repot Pika mana mau...
"Ah, kok saputangan robek itu masih kau-pakai terus!" Tesa nyeletuk tanpa dipikir lagi. Pasha yang tengah melap tangan segera
membuka lipatan-lipatan saputangannya. Benar
saja. Ada sudut yang robek.
"O, iya! Aku tidak tahu!" katanya tersipu.
Saking malunya, saat itu dia tidak teringat
untuk bertanya dari mana Tesa bisa tahu! Tapi setelah kembali ke tempatnya, Pasha mendadak
teringat insiden itu dan jadi keheranan.
"Eh, dari mana si Tesa itu bisa tahu saputa-nganku robek"" gumamnya setengah bertanya pada Pika, lalu diceritakannya apa yang tadi
terjadi. Hati gadis itu tercekat. Diam-diam dia menyesali kecerobohan temannya yang asal ngomong itu. Tentu saja Pasha jadi curiga!
"Ah, barangkali dulu kau pernah juga mema-kai saputangan itu, dan dia pernah melihat, itu sudah robek!" sahut Pika berusaha" meyakinkan bahwa Tesa tentunya bukan pandai sihir yang bisa melihat sesuatu dalam saku orang lain.
Pasha terdiam menerima penjelasan seakan sudah puas, tapi sebenarnya jauh dari itu. Pikir-annya terus-menerus berputar mencari jawaban yang lebih masuk akal. Makin dikaji, lerasa makin banyak keanehan muncul sekitar gadis lem-but yang pendiam itu, pikirnya. Senyum serta tatapannya terkadang sangat misterius. Adakah rahasia yang terpaksa disimpannya dalam kal-bu"! Adakah duka yang pernah melanda hatinya, sehingga pantulan matanya senantiasa ragu dan samar seakan terselubung sehelai tirai pak-saan"!
Terlalu banyak tanda tanya yang meletup sekitar dirinya, seperti buih-buih kecil yang thn-bul setelah ombak berlalu. Misalnya, Tesa kelihatan begitu terbiasa di apartemennya, sehingga tidak perlu bantuan di dapur. Dia juga tahu
warna gelas yang harus dipakai untuk makan nyamikan atau makan nasi.
Pasha mempunyai hobi yang aneh. Dia suka sekali mengumpulkan gelas-gelas keramik ber-tangkai dari segala tempat. Ada yang biru, kenang-kenangan dari pernikahan Pangeran Charles dan Lady Di; ada yang coklat keemasan memperingati hari ulang tahun Ratu; ada yang putih sebagai peringatan akan anu; ada yang hijau; masih ada lagi yang merah, yang kuning, yang jingga, dan lain lain. Yang terakhir ini dibelinya di tempat pelelangan teh, bukan untuk peringatan hari besar apa pun. Warnanya jingga terang dengan hiasan hijau
berbentuk hati. Ini khusus untuk sarapan, disertai tatakan piring yang serasi warna serta bentuknya.
Nah, untuk makan kue-kue di sore hari, dia selalu senang memakai gelas putih yang penuh gambar kucing-kucing kecil dalam segala pose. Tentu saja dia tak pernah menggembar-gemborkan kebiasaan itu melalui iklan radio ataupun gosip percakapan biasa. Jadi, apakah cuma kebetulan Tesa mengambil gelas-gelas itu untuk minum kopi"! Benarkah dia bukan pan-dai sihir yang bisa menembus pikiran orang"!
Cuma ada dua jawaban. Ya dan tidak. Dan masing-masing mengandung arti yang dalam. Hm. Dia harus tahu sampai tuntas!
Ketika Tesa turun dari loteng rumah keluarga
Graham pada hari Selasa berikutnya, dia terke-jut mendapati Pasha sudah menunggu di lantai bawahnya. Sudah lama dia melupakan kebiasaan laki-laki ini, sehingga tak pernah lagi ber-harap akan melihatnya duduk berjongkok di depan pintu dekat anak tangga.
"Hei!" sapanya dengan ketawa yang misterius.
"Hei!" sambutnya setengah gugup.
"Yuk, main ke tempatku," undangnya seraya loncat berdiri.
"Lain kali, deh. Aku sibuk," sahutnya mau melangkah terus. Tapi Pasha tentu saja bukan Pasha kalau dibiarkannya seorang gadis manis menolak undangannya. Disambarnya lengan Tesa dan tidak diizinkannya dia melangkah turun.
"Sudah lama kita enggak makan kue dadar bersama," katanya seakan kangen.
"Betui!" sahut Tesa agak memberungut. "Aku sangka kau sudah lupa padaku! Tumben hari ini ingat lagi!"
"Aku barusan balik dari Sydney Jumat lalu. Minggunya kan kita ketemu di asrama. Ayam gulungnya enak sekali!!!"
"Mmm. Enggak punya recehan," Tesa men-dengus mendengar pujian yang sudah basi itu. "Ayo, ah. Biark
an aku pergi." "Eh, jangan begitu, dong. Mari masuk dulu. Aku minta maaf, deh, sebab enggak sempat
ngasih tahu aku pergi. Masa kau sampai ngambek""
"Tentu saja tidak!" cetus Tesa melotot. "MeA mangnya kenapa mesti ngambek" Kau kan bukan pacarku!"
Pasha meringis mendengar ucapan yang tan-das itu, tapi dia tetap tersenyum. Tesa- mengi-baskan lengan ingin lepas, namun Pasha malah mempererat cekalannya. Dipertontonkannya senyum simpanannya yang paling manis. Dan rayuan mautnya tentu saja sudah lulus testing sekian belas gadis di Jakarta. Tesa yang relatif masih lugu, dengan cuma seorang Goffar se-bagai sertifikat pengalamannya, tentu saja susah melawan.
"Ayo, dong, Non. Jangan gitu, ah. Kalau betui enggak ngambek, ayo dong, mampir. Kalau enggak mau, tandanya memang betui ngam-. bek"
"Aku memang enggak ngambek, tapi aku enggak mau mampir. Lain kali kataku. Sekarang aku lagi sibuk Lain kali, benar deh aku mam-pir."
Pasha menatapnya dengan tajam, lalu dia mendesis perlahan seraya pameran senyum odol. "Gimana kalau aku kasih tahu Pika, kau ngambek""
"Kau sinting!" seru Tesa terbelalak. "Dia pasti akan marah besar. Namaku pasti akan hancur sampai ke ujung dunia! Takkan ada tempat lagi bagiku untuk menaruh muka!"
"Nah, rupanya kau sudah paham akibatnya! Karena itu, jangan kaupaksa aku untuk mela-porkan, kau sekarang tak mau lagi main ke tempatku!"
"Kau berani mengadu" Kau enggak takut Pika nanti marah padamu""
"Biar amat! Lagian, dia enggak bakal berani marah padaku! Taruhan, deh! Ayo, mau masuk atau mau diaduin""
"Ini pemerasan!" seru Tesa marah. "Lepaskan aku!"
"0, bukan! Jangan bilang begitu, dong. Aku cuma ingin kautemani makan rujak. Mau, dong""
"Rujak"" Dari mana monster ini tahu bahwa aku paling doyan rujak, pikir Tesa geregetan. Mungkin dia mengompes keterangan dari Pika"! Memang mereka sering banget bikin rujak di asrama. Dan ratunya tentu saja Tesa!
"Aku baru mendapat kiriman terasi nomor satu dari rumah. Jadi aku mau bikin rujak. Gula jawa, cabe, dan asam kan gampang dibeli. Juga buah-buahannya. Yuk, kita ngerujak berdua...." Lalu diseretnya Tesa yang sudah lemah lutut-nya itu mendekati pintu kamar.
"Aku repot...," kilah Tesa dengan suara me-lemah. Bayangan rujak yang pedas dan segar membuat liurnya hampir berbuih.
"Kalau kau tidak mau, aku laporkan pada Pika. Kau harus menerima undanganku!" kata Pasha dengan tegas. Lalu tanpa menunggu bantahan lagi, dibukanya pintu dan didorongnya Tesa ke dalam.
Mata gadis itu segera jelalatan mencari piring rujak. Ternyata tidak ada! Hidungnya yang ta-jam segera mencoba membaui terasi dan bumbu rujak. Dalam ruangan yang selalu tertutup bia-sanya bebauan begitu jelas tertangkap. Ternyata tak ada apa-apa yang tercium. Mengertilah dia, Pasha sudah berdusta. Mungkin cuma akal bu-his untuk menjebaknya.
Ketika laki-laki itu meleng, Tesa secepat kilat melompat ke pintu lalu memutar gerendel. Tapi seperti rusa betina melihat anaknya dalam ba-haya, Pasha pun segera melompat ke samping-nya. Dia berdiri di antara pintu dan Tesa, menghalangi jalan keluarnya.
"Jangan pergi, dong, Tes. Ada yang mau aku katakan!" Suaranya kini setengah memohon, tidak mengandung ancaman.
"Aku tidak mau diancam-ancam!" "Maafkan aku, Tes. Aku terpaksa melakukan-nya supaya kau mau mampir."
"Huh! Kau cuma ingat kesenangan sendiri, ya" Kau enggak tahu, bukan main repotnya aku! Ini kan musim. ujian!" - "Sekali lagi, maaf, Tes. Aku... aku... sebenarnya sangat menyukai engkau. Aku... aku... rasa, aku... sudah jatuh cinta padamu!" Pasha meng-ucapkan kalimat terakhir cepat-cepat seakan takut. tercekik sesuatu. Setelah itu dia menelan ludah dengan rupa dungu.
Plak! Tamparan itu datang tanpa alarm, sehingga wajah Pasha yang bersemu merah di pi-pi membayangkan rasa kaget yang sangat. Tapi
mata Tesa lebih menakutkan. Mereka meman-
carkan kebencian yang menyala.
"Itu yang mau kaukatakan pada teman baik pacarmu"!" bentak Tesa dengan marah. "Kau tidak menghargai kepercayaan yang diberikan
Pika padamu! Dan kau menyinggung perasaan-ku! Kaupikir aku semurah itu"!" Lalu tiba-tiba, begitu saja air matanya menderas turun. Tesa mendadak t
eringat pada Goffar. Mungkin begitu juga ulah Goffar terhadap Shakira. Cuma bedanya, mungkin temannya itu segera me-nyambut baik...! Apakah dia akan merendahkan diri seperti Shakira cuma untuk sepotong cinta, dengan melukai hati orang lain"! Tidak!
Pasha menggosok-gosok pipinya yang pedih. Dia belum bisa memutuskan akan marah atau ketawa terbahak ditempeleng begitu. Sebab se-umur hidup belum pernah dia kena tampar sepotong tangan lembut. Ketika melihat air mata bercucuran, dia sangat terkejut. Hati laki-laki-nya jadi kehilangan akal, bingung dan panik. Tentu saja dia tidak menduga bahwa Tesa ter-kenang pada bekas pacarnya yang tidak setia.
"Ampuni aku, Tes. Aku tidak menyangka ba-kal menyinggung perasaanmu. Maaf, Tes. Aku sama sekali bukan menganggap kau ini mur
ah. EntahJah. Ada sesuatu yang memaksa aku mengatakannya tadi padamu."
Pasha menyentuh bahu Tesa dan ketika gadis itu tidak berontak, dipegangnya lebih erat. Dikeluarkannya saputangan dan disusutnya air mata sepanjang pipi.
Tesa mengeluarkan sapu tangannya sendiri, lalu membersit hidung. Dia berusaha menghenti-kan tangisnya, lata ditatapnya Pasha dengan mata yang masih berbinar basah.
"Aku menghargai engkau, Pasha. Janganlah menjadi laki-laki yang tidak setia!" katanya dengan suara hampir tak terdengar.
Pasha mengatupkan bibirnya erat-erat dan mengangguk berulang-ulang dengan sungguh-sungguh.
"Sekarang aku harus pulang!" kata gadis itu dengan tegas sambil mendorong Pasha ke sam-ping agar dia dapat membuka pintu.
"Nanti aku antarkan!" kata Pasha dengan ce-pat "Matamu lebih baik kaubasuh dulu supaya enggak terlalu merah. Kebetulan mobilku baru kembali dari bengkel, aku mau mentes jalan-nya."
Tesa mengangguk tanpa membantah, lalu melangkah ke kamar mandi. Pasha menyambar lengannya sekeluarnya dari sana.
"Tes, soal rujak itu, aku enggak bohong, lho. Aku bukannya mau memancingmu dengan akal bulus. Aku memang niat mau bikin rujak, tapi aku tunggu kau yang bikin.... "
Tesa tidak menanggapi. Pasha menyeretnya ke dapur, lalu memperlihatkannya sebungkus terasi, gula, cabe, serta buah-buahan.
Tesa rhenggeleng. "Aku enggak ingin-hari ini," keluhnya pelan.
"Aku mengerti. Lain kali, deh. Kapan kau datang lagi ke loteng" Jumat, bukan" Aku tunggu, ya."
"Lebih baik kaupanggil Pika saja. Buah-buahan itu mungkin takkan tahan begitu lama."
"O, itu gampang. Aku bisa membeli yang baru," sahutnya tanpa menanggapi usul Tesa untuk memanggil Pika.
Tesa menghela napas dan mengumpulkan ke-beraniannya yang terakhir sebelum dia melangkah pulang.
"Pasha, kalau kau ingin aku main lagi ke sini, kau mesti berjanji takkan pernah lagi meng-ulangi pernyataan konyol seperti tadi! Kalau kau enggak mau janji, aku juga enggak mau mampir lagi ke sini! Ingatlah! Pacarmu adalah Pika. Dialah calon istrimu! Aku adalah teman baiknya. Sampai kapan pun aku takkan pernah jatuh cinta padamu!" Ditatapnya Pasha yang ter* diam seperti kerbau dungu.
"Nah," katanya tegas, "kau mau janji apa enggak"" "Ya, ya, ya," sahut Pasha gelagapan seakan baru dibangunkan dari mimpi, "aku... berjanji.. Tapi Jumat kau betui datang, ya"" Tesa menarik napas lega dan mengangguk.,M Bab 9
Jumat berikutnya Tesa memenuhi janjinya datang main ke tempat Pasha untuk makan rujak. Tesa memang paling ahli bikin sambal rujak, sebab itu makanan kesukaannya.
"Sayang enggak ada kedondong, lobi-lobi, sama gandaria," katanya ngiler.
Pasha meringis mendengarnya. "Asam 1am-bungku kontan muncrat mendengar yang asam-asam. Dasar cewek! Ngidam enggak ngidam unya yang begituan saja! Seperti Pika juga!" Mendengar nama itu Tesa tiba-tiba teringat apa yang mau ditanyakannya. "Sebenarnya, ke-napa sih kau enggak ngerujak sama Pika saja""
"Berarti aku mesti menunggu sampai dia am-bil cuti, dong! Bisa-bisa terasiku sudah bulukan! Tes, apa kau belum juga paham" Cewekku -enggak punya waktu untuk hal-hal lain kecuali dua. Pertama, kuliah! Kedua, praktikum! Aku ini cuma jadi sampiran yang sepele.
Lantas, kau mau saja dijadikan barang sepele"! Tapi pikiran itu tidak diutarakannya,
khawatir menyentuh topik tabu. Hatinya yang
lembut jadi merasa kasihan. Dia mengerti, lak
i-laki ini kesepian dan butuh teman. Itu saja. Tidak lebih. Kalau toh dia mengucapkan yang tidak-tidak tempo hari, itu cuma keterlepasan biasa atau mungkin juga untuk menyanjung Tesa agar mau memenuhi setiap permintaannya, misalnya sering-sering mampir. Pasha tidak tahu Tesa paling imun terhadap rayuan. Sebab dulu dia sudah kenyang dirayu oleh Goffar, dan ternyata semuanya hanya "terang bulan te-rang di kali" belaka.
Seakan bisa menduga jalan pikiran Tesa, Pasha melanjutkan sendiri, "Kau tentunya heran kenapa aku mau saja disepelekan seperti kain rombengan. Yah! Terkadang aku pun ingin berontak. Tapi cinta kami sudah menemui terlalu banyak rintangan. Kami sudah berjuang terlalu lama menentang kekolotan serta kemunafikan orangtua kami. Kalau kami putus, ibaratnya menyerah pada larangan mereka yang kami anggap sama sekali enggak masuk akal. Mereka bersaing dalam pemasaran produk-produk mereka, lalu permusuhan itu pun mau mereka libatkan atas diri anak-anak mereka. Dan sekarang, setelah
ketahuan Pika sebenarnya acuh saja padaku, aku tak bisa mundur lagi. Justru kini mereka mulai mau merestui hubungan ini. Gara-garaku juga, sih. Waktu aku kecelakaan tempo hari, aku selalu mengirim surat yang ditulis oleh Selina, gadis yang tak bisa aku
lupakan memuji-muji ketelatenan Pika mera-watku! Padahal yang dipuji itu entah sedang
asyik di laboratorium mana. Atau tengah melo-tot mendengarkan kuliah. Orangtuaku jadi ber-kesan baik pada Pika, lalu melakukan pende-katan ke pihak sana. Orangtua Pika juga rupanya bukan bangsa pendendam. Nah, akhirnya mereka mencapai persetujuan...."
Pasha menatap Tesa, lalu tersenyum sendu. Tesa bingung, tidak mengerti bagaimana sebenarnya perasaan pemuda itu. Senyumnya tak bisa ditafsirkan maknanya. Hubungan sudah direstui, kok bukannya jingkrak-jingkrak kesenangan"! Tapi malah meringis"!
"Wah, tentunya Pika senang sekali, ya!" seru Tesa dengan kegembiraan yang dibuat-buat.
"Entahlah," sahut Pasha setengah mengeluh. "Anak itu aneh. Di depan orang banyak, dia selalu memanjakan diriku. Mestinya itu berarti, dia bahagia bersamaku. Tapi kalau cuma ber-duaan, dia justru jadi enggak peduli. Malah aku yang mesti memanjakan dan melayaninya. Me-nyediakan makan, mencuci piring, atau masak-masak, wah mana dia mau! Itu tugasku! Tapi kalau ada orang lain, dia tampaknya manis pa-daku."
Dan Tesa tahu betapa menyenangkannya Pika kalau sedang manis! Itukah sebabnya Pasha jadi enggan melepaskan diri" Eh, eh, kok mikir sampai ke situ"! Enggan atau tidak, itu kan bukan
urusannya! Dia kan cuma tempoldhg tempat
orang menumpahkan unek-unek yang tak bisa
diceritakannya pada sembarang kuping.
Rupanya Pasha sedang kerasukan setan rujak yang lezat itu. Bicaranya makin lama makin lancar dan juga makin ngawur. Kalau bisa, barangkali dia mau menumpahkan seluruh isi hatinya pada orang yang saat itu berada di depannya. Dan kebetulan saja manusia itu adalah dia, pikir Tesa.
"Tempo hari aku enggak kelihatan, sebab aku pergi ke Sydney. Pamanku datang untuk urusan bisnis. Dia enggak sempat mampir kemari, jadi dimintanya aku saja yang ke sana. Kata Paman, orangtuaku sudah menjumpai orangtua Pika. Mereka sudah setuju dengan hubungan kami. Dan pertunangan kami malah diminta supaya secepatnya dilangsungkan. Kalau bisa, dua bulan lagi. Tanggal dua puluh tujuh!"
Pasha menyeringai sambil mencolek sambal. "Herannya, aku kok enggak merasa terbang ke surga.ketujuh. Biasa-biasa saja. Padahal cinta ini sudah aku perjuangkan mati-matian bertahun-tahun lamanya. Malah aku pernah mengaflcam enggak bakal mau pulang lagi ke Jakarta kalau enggak direstui. Tapi kini!" Dia mengangkat ba-hu sambil sekali lagi mencolek bumbu.
"Mungkin begitu sifat manusia," sambungnya terus. "Yang membuatnya bersemangat adalah perjuangan untuk mencapai sesuatu. Tapi sete
lah impiannya terlaksdna, ya rasanya enggak ada yang istimewa. Biasa. Lumrah."
Tesa membisu sejak tadi, sebab Pasha tidak menunggu jawaban apa-apa dari dia. Yang di-perlukannya hanyalah sepasang kuping pende-ngar yang anteng. Dan Tesa pun menjalankan peran yang diberikan itu dengan baik. Namun dalam hati, dia to
h berpikir juga. Pasha akan segera tukar dncin dengan Pika! Senangkah dia"! Atau malah sedih"!
Entahlah. Yang jelas, hatinya mendadak terasa plong! Lega seolah sudah terlepas dari bahaya. Ya, ya, kalau Pasha sudah resmi terikat, berarti godaan bagi Pasha akan berakhir. Dia pasti takkan mau mengingat-ingat lagi siapa Selina itu, atau cewek-cewek lain, misalnya... dirinya sendiri! Dan jauh di sudut hatinya, ada suara yang menyindir godaan akan berakhir bagi Pasha, dan bagi dirinya sendiri juga, bukan"!
Kalau dipikir-pikir, dia memang tidak bisa menemukan alasan yang tepat kenapa dia selalu mampir ke sana. Yah, mungkin karena dia se-nang saja berada di tempat Pasha. Mungkin juga dia haus pujian untuk kue-kuenya yang lezat. Mungkin pula sekadar perintang waktu (walau sebenarnya tugas di kuliah banyak!).
Entah mana yang benar. Yang jelas, katanya pada diri sendiri, Pasha itu dianggapnya tidak lebih dari seorang abang baginya. (Benarkah" sindir pojok gulita dalam hatinya.)
Ya, ya, dia merindukan abangnya di Jakarta. Selama ini Markus yang selalu mengawalnya ke mana-mana. Terlebih setelah terjadinya musibah dengan Goffar. Kini, jauh dari rumah, dia merasa sebatang kara. Dia kangen perhatian dari seorang abang! Nah, Pasha-lah penggantinya. Tidak lebih!
Begitulah beberapa minggu berlalu. Pasha kembali seperti dulu, baik, ramah namun acuh tak acuh seakan setengah linglung. Terkadang dia memanggil Tesa dengan nama Pika, menyu-ruhnya membuatkan kopi, lalu minta maaf ketika dia menyadari kekeliruannya.
"No problem," sahut Tesa ketawa. "Tapi hati-hati, lho! Jangan sampai memanggil pacarmu si Tesa! Bisa ngamuk dia!"
"Aku akan hati-hati," janji Pasha nyengir-nyengir malu. "Barangkali aku sudah kebanyakan belajar, otakku sering kortsleting! Apa jadi-nya kalau aku nanti mengecupmu" Gawat, ga-wat, gawat!"
Pasha menggeleng-geleng, sementara Tesa ce-pat melarikan diri ke dapur. Dia tidak mau wa-jahnya yang terasa panas itu terlihat oleh Pasha. Sebab berani taruhan, pipinya pasti semerah ke-piting rebus!
Selain keliru menyebut nama, Pasha rupanya kadang melupakan juga hal-hal lain. Misalnya, nama skuter saingan Vespa, seminggu lamanya tidak bisa diingatnya. Dia uring-uringan dan gelisah.
"Barangkali aku sudah ken a Alzheimer," kata nya pada setiap teman kuliah. "Kalau dalam sepuluh hari ingatanku enggak pulih, aku terpaksa harus membawa otakku ke labor buat Pit!"
Untunglah sebelum jatuh tempo, mendadak muncul dalam kepalanya kata Lambretta. Dia langsung menelepon Tesa.
"Tes, aku sudah ingat, Tes! Lambretta! Iya, kan" Saingan Vespa kan Lambretta, bukan" Ha, ha, ha, aku masih normal! Aku masih bisa me-lamar ke bagian bedah!"
"Syukurlah, Pasha. Aku senang sekali mende-ngarnya. Tapiii, apa kau sudah beritahu Pika""
Ha-ha-ha di seberang sana mendadak sirna. Suaranya kedengaran lesu ketika dia mengaku, "Belum, Tes. Aku takut mengganggunya. Di samping itu, aku juga sebenarnya enggak tahu dia ada di mana, sedang kuliah vak apa."
"Oh, kalau enggak salah, dia enggak kuliah kok hari ini. Tadi aku melihatnya di ruang cuci, Anak-anak kan biasanya cuma mencuci kalau ada di rumah, khawatir pakaian disambar ta-ngan jail kalau ditinggal. Mau aku panggilkan""
"Ah, tak usahlah. Nanti dia terganggu, padahal ini kan enggak pen ting."
"Kalau mengganggu aku sih, boleh ya"" Tesa nyeletuk tanpa dipikir lagi. Sebenarnya dia
penyakit pikun cuma main-main, tapi mendengar Pasha menarik napas kaget, Tesa segera menyesal.
"O, o, o, sorry banget. Aku sama sekali enggak kepikir, kau juga mungkin enggak mau
diganggu. Maaf, Tes, aku... "
"Hai, orang cuma main..." potong Tesa, tapi Pasha terus menyambung. "Nanti deh, jam dua belas malam aku ganggu kau lagi! Byel"
Tesa ingin sengit, tapi juga ingin ketawa. Mo-nyet jantan ini bukannya lapor apa-apa pada biangnya, eh, malah selalu mengadu padanya!
Apa tampangnya sudah pantas jadi ibu asrama, nih, pikirnya masam. Tapi tidak urung, hatinya gembira sekali mendengar Pasha sudah bisa mertembus black-out-nya.
Ketika berjumpa dengan Pika di dapur men-jelang makan siang, Tesa langsung melapor pe-rihal telepon tadi. Maksudnya untuk berbag
i kegembiraan bahwa Pasha tidak pikun.
"Alaa," keluh Pika setengah jengkel. "Segala urusan kecil begitu saja mau diiklankan ke selu-ruh dunia!"


Tesa Karya Marga T di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tesa tertegun, kecewa dan tersinggung. Ti-dakkah dia tahu betapa pentingnya hal itu bagi Pasha"! Apakah dia sama sekali tidak mau peduli"!
"Untung bukan aku yang diteleponnya!" tu-kasnya lagi seraya menggiling wortel, minum-annya setiap hari.
"Pik, apa kau enggak mengerti betapa pe
tingnya ha 1 ini baginya" Kalau dia linglung terus, kan berarti dia enggak bakalan diizinkan masuk spesialisasi bedah, bukan""
"Dan memang lebih baik juga jangan!" sahut Pika sambil menuang sari wortel ke dalam gelas. "Kau tahu apa, sih" Ahli bedah itu kerjanya enggak kenal waktu. Tengah malam pun mesti siaga untuk mengoperasi kasus gawat darurat. Kurang tidur, harus konsentrasi terus, tenaga diperah seperti kuda... sanggupkah dia" Dan aku" Kalau aku jadi istrinya, kan pasti ikut-ikutan terbangun kalau dia dipanggil orang"!"
Tesa terdiam. Kalau dikaji-kaji, keberatan Pika bisa diterima juga. Siapa sih yang mau diba-ngunkan tengah enak-enak tidur"! Siapa yang mau suaminya gentayangan di malam buta dengan gunting dan skalpel di tangan melepaskan usus yang terjepit atau menghentikan perdarah-an di bawah tengkorak yang hancur"! Tapi, kalau dipikir lebih lanjut, lalu siapa yang akan menolong korban-korban gawat itu bila semua orang seperti Pika pikirannya"! Ah, entahlah! Paling aman, setuju saja sama Pika!
"Ya, mungkin kau benar. Aku tak pernah terpikir ke situ," sahut Tesa yang tengah me-nyiapkan makan siang.
"Tentu saja aku benar!" sembur Pika dengan garang. "Cuma Pasha doang yang enggak punya pikiran. Orang itu enggak pernah memper-hatikan kepentingan orang lain. Selalu dirinya sendiri yang jadi sumbu dunia. Nomor satu,
kepentingannya. Nomor dua, kepentingannya. Nomor tiga pun masih kepentingannya! Terkadang aku sebal jadinya."
Eh, eh, ketel uap meletup tutupnya!" Tesa ke-bingungan mendengar ocehan temannya. Sana ngeluh, ceweknya enggak punya waktu untuk-nya. Sini ngomel, cowoknya cuma ingat kepentingan dewek! Inikah yang disebut perang sa-bil"! Atau perang dunia"! Iiih, jangan sampai dia harus menjadi Stalin atau Churchill!
Ketika Tesa tidak memberi komentar apa pun, Pika menoleh lalu mengerutkan kening.
"Hei, gimana sih asal mulanya sampai Pasha-ku itu jadi suka mengadu padamu""
Astaganaga! Bukan main kagetnya Tesa dita-nyai begitu. Tentu. saja dia tidak siap dengan jawaban. Sekejap itu mulutnya yang mau men-cicip sayur lodeh jadi menganga seperti mulut ikan kakap di luar air. Pasha-ku! Aduh, ampun! Memangnya kapan aku pernah bilang dia bukan Pasha-mu, Pik"! pikirnya dalam hati.
Unhung Sabita muncul seakan diutus dari la-ngit, dan Pika tidak berani meneruskan ceceran-nya. Sambil menggerendeng seperti anjing yang baru dicekoki afrodisiak, dia berlalu dengan se-gelas air wortel yang dicampur sari mentimun.
"Jamu apa lagi itu"" tanya Sabita yang selalu ingin tahu seperti anak balita. pembangkit berahi
"Segar, ya"" Pika mengangguk dengan bang-"Entahlah; Kok bau amoniak"!" "Matamu! Ini kan wortel, mentimun, dan pir!" "Oh, aku sangka urine kemarin dari kulkas!"
"Arnit, amit, mesti minum urine! Biarpun Pasha-ku yang nyuruh, kagak bakal gue mau!" sergah Pika seraya berjalan ke kamarnya,
Sabita mengawasi sampai Pika lenyap di ti-kungan koridor, lalu dia menoleh pada Tesa yang baru saja menggelar tatakan makannya.
"Kenapa sih kangguru kita itu" Kok seperti lokomotif yang salah pemanasan" Disel-nya udah lama juga ya, enggak pernah nongol apel di sini."
"Pasha sedang sibuk bikin makalah. Pika sendiri, tahulah. Aku juga enggak ngerti kenapa dia sewot di siang cerah begini!" Tesa enggan membeberkan urusan orang lain.
"Eh, kok paham betui kau urusan dalam negeri orang lain" Barangkali kau sendiri yang ngetik makalahnya" Apa sih judulnya""
"Buset! Kan Nopi itu temannya si Pasha. Ke-betulan saja aku dengar Nopi bilang begitu, apa sih yang diherankan""
"Oh, begitu! Eh, Tes, mau enggak aku kasih nasihat" Jangan sampai terlibat deh sama urusan pribadi Pika! Fatal nantinya! Aku kan saha-bat lamanya, jadi aku tahu berapa
voltage te-gahgan amarahnya! Huh! Bisa membakar selu-ruh kota, tahu!"
"Siapa sih yang sudi terlibat"" katanya ringan, tapi dalam hati Tesa diam-diam gemetar juga. Sabita ini memang punya bakat jadi reserse.
Untung dia bisa cepat-cepat menemukan jawab-an yang masuk akal. Sebab temannya yang isti-mewa ini tidak gampang-gampang dipuaskan kalau sudah curiga. Pendeknya, dia takkan he-ran kalau kelak Sabita beralih dari akuntansi ke akademi calon-calon CIA atau KGB. Namun yang gawat adalah kalau sahabat karib Pika ini sampai ngaco belo di depan Pika, dengan cer-pen picisannya.
Sekali lagi untung baginya, keseratus ekor cacing dalam usus Sabita sudah sejak setengah jam yang lalu melakukan demo minta nasi, jadi anak itu pun terbirit-birit membuka kulkasnya mencari sisa-sisa kemarin dulu yang masih bisa dimakan!
Ketika bahaya udara sudah lewat, Tesa diam-diam melap keringat di kuduknya. Untuk selan-jutnya kau mesti lebih hati-hati kalau bicara, kunyuk! katanya memperingatkan diri sendiri.
Pada suatu hari, seperti biasa Tesa sedang main di tempat Pasha. Dia tengah membuat kue apple pie sambil bersenandung pelan. Hatinya sedang riang. Kemarin dia menerima surat dari rumah memberitakan kelahiran tiga anak si Mopi, anjing spaniel kesayangannya
cucu-cucunya itu begitu mempesona, sehingga langsung menghias meja belajarnya.
Sambil mengadoni kue pikirannya terbang mengarungi samudera, hinggap di jendela ru-mahnya, menengok ke dalam. Ibunya pasti tengah menggendong salah satu anak Mopi sam-bil memegangi botol susu, sementara Aster, adiknya, menyusui yang lain. Mopi sudah bebe-rapa kali melahirkan, dan selalu dilayani dengan telaten oleh seluruh keluarga. Bahkan Bi Inem pun lebih suka kerja lembur daripada enggak sempat momong bayi-bayi si Mopi.
Ah, sedapnya kalau bisa terus tinggal di rumah! pikirnya melamun. Apa yang kucari di sini sebetulnya"! Semua yang kucintai ada di rumah! Hanya karena patah hati...
"Selina!" tiba-tiba didengarnya panggilan dari depan.
"Ya!" sahutnya dengan segera. Pasti Pasha memerlukan sesuatu. Kasih an memang kalau orang mesti tergantung pada manusia lain untuk hal-hal sekecil apa pun. Beruntung dia masih memiliki penglihatan yang baik. Walaupun Pasha itu lebih sering cerewet daripada anteng, namun Tesa toh bersyukur telah
mengenalnya. Sebab dengan begitu dia bisa lebih menghargai apa yang dimilikinya. Seandainya dia tak pernah ketemu orang cacat, barangkali dia akan terus mengeluh dan mengesah, dan selalu me-rasa kekurangan, serta mengasihani diri karena dikhianati kekasih!
Tergopoh-gopoh dibukanya celemek, lalu ber-lari ke depan. Dalam pikirannya dia sudah membayangkan Pasha terguling dari kursi roda. Suaranya barusan begitu mendesak.
"Ada apa"" tanyanya sedikit terengah, lalu dia terpaku di tempat. Wajahnya seketika itu juga menjadi pucat seperti kertas. Matanya nya-lang menatap ke depan dengan penuh ketakut-an.
Pasha tengah memandangnya tanpa berkedip. Pemuda itu sedang duduk dengan santainya di atas sepeda olahraganya. Dan matanya sama sekali tidak buta!
Pelan-pelan laki-laki itu menapakkan tungkai kirinya di lantai, lalu mengayunkan yang sebelah lagi, sehingga dia berdiri tegak. Kemudian selangkah-selangkah dia maju menghampiri. Seakan melihat ET, Tesa mundur-mundur keta-kutan, sampai akhirnya dia terjebak oleh tem-bok. Sementara itu Pasha tidak juga berhenti melangkah. Ketika sudah tiba di hadapan Tesa dikurungnya gadis itu dengan kedua tangan menempel di dinding.
"Nah, sekarang Pak Guru mau dengar siapa namamu yang sebenarnya! Awas jangan bohong! Siapa namamu, anak manis""
Tesa tidak sanggup bersuara. Bibirnya terkatup macam kerang, sementara matanya
makhluk luar angkasa makin membelalak nyaris mau melompat ke-luar. "Ayo, bilang!"
Tesa menggeleng dengan lemah. "Hm. Band el nih, ye"! Apa aku harus menelepon Pika untuk minta bantuan" Barangkali Pika lebih ingat""
"Oh ja... ngan! Jangan panggil dia! Matilah aku kalau dia sampai tahu aku ada di sini!"
"Nah, jadi kau sudah ingat lagi siapa namamu" Sudah" Ayo, aku belum mendengar apa-apa. Sebut yang keras!"
Tesa menggigit bibir bawahnya sebelum me-nyemburkan j
awaban. "Tesa! Semoga kau enggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam!" kutuknya sengit, tapi Pasha mana peduli kutukan seorang noni manis. Setan pun pasti bersimpati pada mereka berdua dan tidak mau mengganggu! "Jadi Selina itu nama siapa"" "Aku tidak mengerti apa yang kautanyakan!" Tesa menggeleng.
"Jangan berlagak bodoh, ah. Tadi aku memanggil Selina, kenapa kau yang datang kalau itu bukan namamu""
"Habis! Di sini kan cuma ada aku seorang, jadi siapa lagi yang kaupanggil selain aku""
"Belum tentu aku mau memanggilmu, kan"! Mungkin juga aku cuma melamun, lalu mendadak tercetus nama itu dari bibirku. Iya, kan"! Kau tentunya enggak tahu, aku tak pernah
melupakan Selina. Aku selalu teringat padanya,
siang dan malam." "Nah, itu kan urusanmu!" kata Tesa dengan lagak jemu. "Ayo, sekarang biarkan aku ke dapur lagi kalau kau memang enggak memanggil aku! Kue apelku nanti enggak matang-matang, nih," tukas Tesa tanpa berani menatap orang di depannya.
Pasha tidak membubarkan kurungannya, tapi sebelah tangannya mengangkat dagu Tesa dan menatapnya dalam-dalam. "Selina," ujarnya dengan lembut, "kenapa kau tidak berani meman-dangku""
"Namaku bukan Selina!" bentak Tesa dengan marah.
"Ah, ah, ah, kau perlu latihan banyak sebelum pintar berdusta!" seru Pasha ketawa, tanpa melepaskan dagu di tangannya.
"Kalau kaupikir aku akan tergoda oleh segala ocehanmu, kau keliru, Pasha! Biarkan aku pergi ke dapur sekarang atau... aku takkan pernah datang lagi kemari!" ancam Tesa melotot.
"Uh, uh, uh, cakepnya wajah awak kalau naik persneling begitu! Selina, kau pasti akan datang lagi kemari! Taruhan, yuk"!"
"Hm. Besar amat egomu!"
"Tentu. Sebesar cinta di hatiku dan... "
"Hm," dengus Tesa mengejek. Kalau aku boleh tahu, apa sebabnya kau begitu menang taruhan""
"Sebab... kalau saja kau sabar aku selesai bicara tadi, pasti kau sudah tahu... sebab, cintamu juga sebesar cintaku!"
"Apa" Iiih, sungguh menggelikan! Cintaku" Cintaku pada siapa" Padamu" Ah, jangan coba-coba bikin kangguru ketawa, dong! Kalau kau-pikir, aku akan tertarik pada orang yang begitu cerewet seperti engkau, wah, barangkali kau benar-benar sudah pikun," ejek Tesa tak ke-palang tanggung.
"Oh, oh, oh, jadi kau tahu bahwa aku ini cerewet" Dari mana" Pasti bukan dari Pika, dong" Selama kau berkali-kali main ke sini, se-ingatku aku selalu ramah dan anteng. Seingat-ku, aku cuma pernah sering cerewet pada se-orang saja. Bukan Pika. Bukan Tesa. Tapi, Selina! Ya, aku tahu, aku sangat cerewet pada waktu itu. Ini salah, itu enggak beres. Ini belum dikerjakan, sudah datang perintah lain. Waktu itu aku betul-berul seperti setan, jahat, dan cem-buru pada setiap manusia yang sehat. Tapi Selina dengan tabah selalu melayani perminta-anku. Keramahan serta kehangatannya begitu merasuki jiwaku. Kerap kali aku berpikir, alang-kah nyamannya kalau ditemani perempuan seperti itu seumur hidup! Bukan main bahagianya aku seandainya Pika bisa seperti Selina! Karena itu aku merasa amat kecewa ketika mendengar dia sudah balik ke Jakarta tanpa menemui aku lagi. Bahkan seorang pun tak ada yang tahu alamatnya. Kebanyakan malah belum pernah mendengar namanya. Tapi aku selalu terkenang
padanya. Sering kali aku duduk termenung di .jendela, memikirkannya. Di manakah dia kini" Sedang apa" Kenapa dia balik" Seandainya cuma kekurangan biaya, aku bersedia membantu, sebab kehadirannya yang sebentar itu dalam hidupku sudah jauh lebih berharga daripada kehadiran sekian banyak gad is lain di sepanjang umurku. Dan sekarang... setelah aku menemu-kannya, kaupikir aku akan melepaskannya lagi""
Ditatapnya mata indah yang kelam penuh panik seperti mata anjing kecil yang terperang-kap dalam bahaya. Tesa ingin menunduk, tapi dagunya dipegangi terus. Dia tak berdaya mengelakkan tatapan yang begitu menyelidik ke dalam hatinya. Dia menggigil.
"Aku... aku sama sekali tidak mengerti cerita pendek apa yang barusan kausitir itu!" katanya memberanikan diri.
"Ah, ah, ah, jadi kau enggak ngerti" Uh, uh, uh, kasihan banget! Apa perlu kuajarkan dulu a-b-c-nya dari mula" Selina, aku tahu, kau enggak sebodoh itu! Ayo, mengakulah bahwa kau memang Selin
a!" "Huh. Mana mungkin!" Tesa pura-pura ketawa geli padahal hatinya dag-dig-dug mencari jalan keluar. Seandainya macan ini nekat me-nuntut penjelasan dari Pika, ah, habislah dia! Namanya, hari depannya! Habis, runyek, han-cur! Bagaimana ya membuatnya percaya
dia bukan Selina"! Huh! Itu sih gara-gara mela-mun ke rumah, jadi enggak siaga!
"Orang bukan Selina, kok mau disuruh ngaku begitu! Memangnya kau sudah buatkan aku bu-bur merah-bubur putih, apa".'"
Sedetik itu Pasha kelihatan ragu. Dan Tesa menggunakan kesempatan ini untuk melepas-kan dagu agar bisa menyelinap dari bawah lingkaran lengan Pasha.
Tapi gerakannya justru mengembalikan ke-waspadaan laki-laki itu. "Oh, oh, oh, kalau kau bukan Selina, coba bilang, kenapa kau begitu getol main ke sini""
Tesa kemekmek. Dia tak bisa menjawab. Di dalam kamarnya, sebelum tidur, sudah sering kali dia mengajukan pertanyaan begitu pada diri sendiri. Hatinya merasa tidak enak, dolan-dolan ke tempat pacar orang lain kok rupanya sudah menjadi hobi baginya, apa sih sebabnya"! Perasaannya risi kalau sudah membayangkan rudingan Pika terhadapnya di depan anak-anak sedapur. Oh, ke mana akan disembunyikannya malunya"! Namun begitu, sia-sia dicarinya alasan bagi hobi barunya itu. Dia senang main ke tempat Pasha, itu saja. Dan selama pemuda itu dianggapnya sama dengan Markus, abangnya, apa sih bahayanya"!. Buktinya sampai sekarang tak terjadi apa-apa yang tak diinginkan. Tapi saat ini...
Mendadak dia sadar bahwa Pasha masih me-nunggu jawaban dari bibirnya. Matanya membalas tatapan Pasha tanpa kedip. Dan akhirnya
dia cuma mengangkat bahu. "Aku kan bukannya getol! Kau sendiri yang memaksa aku main ke situ! Kalau begitu, sekarang juga aku pulang, deh.
Kau enggak usah takut, aku takkan muncul lagi!" Tesa bergerak mau molos, tapi
dicegah. "Eh, eh, eh, enggak segampang itu. Sebelum adios, persoalan ini mesti dibikin terang dulu. Tahukah kau kenapa aku memaksamu datang ke sini terus" Sebab banyak hal telah membuat aku curiga, kau ini mungkin Selina! Aku tidak tahu apa maksud Pika menyembunyikan dirimu dari aku! Tapi aku takkan menyerah sebelum aku tahu siapa bidadariku itu sebenarnya. Selina..."
"Berapa kali mesti aku tegaskan, namaku bukan Selina"! Apa kau perlu melihat fotokopi surat lahir dan KTP"!" seru Tesa marah. Dan bencinya, kalau dia sudah kelewat marah, air matanya pun ikut-ikutan berlinang.
"Baiklah. Aku mengerti, namamu Tesa. Tapi aku juga tahu, Selina adalah kau! Kenapa hal itu bisa terjadi begitu"" tanya Pasha dengan lembut sambil menatap mata gadis itu lebih tajam lagi.
Tesa sengit betul dicecer seperti itu, sea kan dia sudah melakukan dosa yang tak berampun.
"Tanyalah Pika!" cetusnya tanpa dipikir lagi. Ini memang kelemahan yang selalu membuat* nya pusing kepala. Dia lebih serin
dipikir lebih dulu, sehingga terkadang mem-bawa akibat yang membuatnya tujuh keliling.
"Aha!" Macan itu kini meraung senang. "Jadi, ada permainan ya antara kau dan Pika" Dengan kata lain, kau sudah mengaku, kau memang Selina, walaupun namamu sebenarnya Tesa. Iya, kan""
Tesa tidak mampu menjawab. Dan kebisuan-nya itu memancing ketawa yang lebih gencar
dari Pasha. Wajahnya yang semula diliputi se-dikit keraguan, kini bereahaya dan berbinar seperti bulan lima belas hari.
"Dan sekarang, setelah aku menemukan orang yang selama ini membuatku malarindu tropikangen, kaupikir aku akan membiarkannya pergi begitu saja" 'Kau enggak usah takut, aku takkan muncul lagi!'" Pasha ketawa menirukan ucapan Tesa tadi.
"Jadi, apa maumu"" tanya Tesa akhirnya, ke-walahari dan ingin lekas-lekas dibebaskan. Hatinya gerah berdekatan begitu dengan puma jan-tan ini, terlebih jantungnya yang sudah meng-gelepar sejak tadi. Beberapa menit saja lagi, dia khawatir debarnya sudah tak tertahankan dan jantungnya akan binasa!
Tapi seperti kucing yang baru mendapat anak tikus, dia tidak segera menerkam atau melepas-kannya, namun mempermainkannya, mengajak-nya kejar-kejaran.
"Hm, jadi Selina itu bopengan, ya"!" goda Pasha ketawa geli. "Mana, coba aku lihat"!," Lalu
tanpa permisi tangan di dagu tadi sudah beralih menyingkap rambut yang menutupi seba
gian wajah dan dahinya. Jari telunjuknya mengelus pipinya selintas.
"Hm. Halus, kok. Enggak terasa ada bopeng-nya!"
Tesa menggertakkan gigi sambil berdoa se" moga datang geledek yang akan membuatnya meloncat pergi dengan kaget. Tapi surga rupa-nya sedang istirahat siang dan suasana tetap tenang.
"Apa maumu"" ulang Tesa mendesak. Hatinya dongkol sekali tidak bisa melepaskan diri dan terpaksa membiarkan Pasha main kucing-tikus dengannya. "Oh! Mauku buuaaanyak!!!" "Sebut saja! Paling-paling enggak aku ladeni!" "Masa iya"" Puma itu nyengir seakan kurang percaya. Dia seolah mau bilang, masa sih ada orang disodori undian yang sudah dapat hadiah kesatu, mau menolak"! Taruhan"" tantang Tesa sengit. "Aku mau kau menggantikan Pika di hatiku!" bisik Pasha tanpa senyum.
"Huk!" Tesa nyaris tercekik napasnya sendiri. Dia terperanjat bukan alang kepalang. Menggantikan...! Oh, Tuhan, sudah akan kiamatkah duniaku"! Apakah akan Kaubiarkan aku hancur binasa hanya gara-gara cinta seorang laki-laki"! Dan... betulkah itu cinta"! Rasanya kalau cinta, takkan begitu mudah dialihkan seoerti '
tanah di depan PPAT (Fejabat Pembuat Akte Tanah)! "Apa kau tega membunuhku"" tanyanya pa-rau.
"Lho!" Tentu saja Pasha jadi heran. "Kenapa sampai tragis begitu" Aku kan enggak penyakit-an, Tes. Badanku juga enggak berbau busuk, kan" Masa sih pacaran denganku bisa mem-buatmutewas""
Oh, laki-laki, keluhnya dalam hati. Tidak bisa mengerti hati perempuan.
Tasha, kau jangan mengada-ada, deh. Jangan melamun yang bukan-bukan. Kau pacar Pika, temanku! Kau akan segera bertunangan dengan-nya, beberapa minggu lagi. Jangan mengira kau akan bisa memaksakan kehendakmu padaku! Aku takkan sudi mengenalmu lagi seandainya kau sampai memutuskan hubungan dengan Pika! Aku takkan pernah da tang lagi ke sini!"
Eh, eh, eh, kok jadi begini"! Pasha kebingung-an. Setahunya, tidak kurang dari dua gadis di kuliahnya yang akan bersedia terjun tanpa pa-yung ke Sungai Swan, asal saja bisa mendapat cintanya. Apalagi ditawarkan dengan cuma-cuma! Apakah Tesa ini sok atau berlagak tahan harga" Sangkanya, cinta bisa kena devaluasi, sampai ditahan-tahannya begitu"!
"Wah, wah, wah, kenapa begitu nekat, Tes" Kau enggak serius, kan""
"Tentu saja aku serius!" bentak Tesa. Lalu ditatapnya Pasha dengan mata berlinang. Ah,
seandainya nasib ada di tangannya sendiri! Dia menghela napas. Aku sudah merasakan getirnya empedu yang kureguk dari tangan kawanku sendiri, pikirnya. Mana aku tega melakukan hal yang terkutuk itu terhadap temanku yang lain, walaupun orang itu tidak begitu akrab denganku"!
"Pasha, aku menganggapmu sebagai abangku sendiri. Karena itu aku enggak sungkan-sungkan main ke tempatmu. Aku merasa damai berada di dekatmu, sebab aku membayangkan kau ini seperti Markus, abang kesayanganku. Kenapa harus kau rusak suasana yang baik ini" Tak dapatkah kau juga menganggap aku seperti adikmu" Atau, barangkali kau malu punya adik seperti aku""
"Kenapa kau bertanya sebodoh itu" Tentu saja aku mau! Mau, mau, mau! Seperti Pika, aku juga anak tunggal. Tapi andaikan sudah punya adik pun, aku tetap bersedia mendapat adik seperti engkau! Cumaaa... "
Hatinya yang sudah merasa lega, kembali berdebar mendengar kata penghabisan. Panjang amat cuma-nya itu! Pasti buntutnya tidak enak!
"...aku mau yang lebih dari sekadar adik! Aku mau kau selamanya berada di sisiku!"
"Oh, itu bisa diatur! No problem!" "Sungguh"!" Mata Pasha yang besar penuh binar harapan. "Sungguh!" Tesa mengangguk. "Dengan sya-rat..." "Ah, ah, ah, gampang. Katakan saja! Semua-nya aku penuhi!" Tesa menatapnya dengan rasa geli bercam-pur... entah bercampur apa. Lambat-Iambat di-ucapkannya kaiimatnya. Biar jelas, satu kata per satu kata.
"...asal... kau... tetap... meneruskan... hubung-an... dengan... Pika!"
"Aaah!" Pasha menguik seperti lembu mau dibantai. Dia menggeleng, rupanya bingung dan jengkel. "Kalau sudah ada kau, buat apa lagi dia" Apa kau salah dengar" Aku mau kau sela-manya di sisiku! Tentu saja menggantikannya!"
"Dan aku cuma bersedia tinggal di samping-mu, datang ke sini tiap hari, bila kau tetap dengan Pika! Aku adikmu, ingat! Atau kau
juga salah dengar""
Pasha meringis mendengar teguran itu. Tapi Tesa tidak memberinya kesempatan untuk ber-pledoi. Dia menyerang terus tak kenal ampun.
"Begitu kau putus dengan Pika, aku pun akan segera menghilang dari hidupmu! Jangan kau-harap, kau lantas akan bisa mendekati aku! Apalagi menyuruh aku menggantikan tempat-
>nya! Cinta adalah barang langka yang tak bisa dipindah-pindah begitu saja semaunya. Seperti tanaman bonsai, dia memerlukan perawatan ser-ta pemupukan yang khusus supaya terus segar dan tidak mati. Kau dan Pika sebenarnya saling mencintai, tapi kalian mungkin malas memupuk
dan merawat hubungan. Aku tahu, kau sebenarnya mendambakan Pika..." "Omong kosong!"
"...tapi kau malas merayu serta membujuknya. Akibatnya, dia juga terasa acuh saja padamu. Padahal sebenarnya dia sangat mencintaimu. Apa jadinya kalau kau pergi dari dia" Dapatkah kaubayangkan betapa kecewa dan pahitnya hati seorang wanita yang dikhianati demikian" Apalagi kalian sudah punya rencana sejauh itu!"
Tesa masih ingin memberi kuliah lebih pan-jang, ketika Pasha menghentikannya dengan ucapan yang telak sekali.
"Kelihatannya kau bicara dari pengalaman, nih"!" katanya sambil menatap lekat.
Wajah Tesa terasa hangat. Dia memaki dalam hati, kenapa begitu ceroboh sudah membuka rahasia pribadi. Apa boleh buat. Sudah telanjur. Asal saja bisa membatalkan niat Pasha yang nekat, dia rela. Yah, asal dunia tidak jadi dilanda gempa! Biarlah! Isi perutnya pun rela di-muntahkannya asal damai terus di bumi me-reka.
Tesa mengangkat bahu. "Terserah apa duga-anmu. Yang penting, kau harus mengerti dengan jelas: aku cuma bersedia meneruskan per-sahabatan ini seperti sekarang bila kau tetap. bersama Pika! Begitu kau putus dengannya, aku pun segan menemui engkau lagi. Jadi, jangan pernah mimpi kau akan mampu merebiifc
ku! Sekarang tidak, sampai kapan pun tidak! Apalagi dengan menyakiti hati
Pika!" Pasha menarik napas panjang sekali lalu me-nahannya. Matanya penuh amarah ketika dia mendesis, "Sudah cukupkah kuliahmu bagiku" Bolehkah aku mohon diri dan mengusulkan su-paya kau balik saja ke dapur""
Tesa merasa begitu lega, dilepaskan tanpa ba-nyak cincong, sehingga dia Iangsung melangkah setengah berlari ke belakang. Ketika sedang mengaduk kue, barulah dia tersadar: Pasha sa-ma sekali tidak mengatakan bahwa dia menye-tujui syaratnya!
Sehabis makan pie, dengan tegas dia menun-tut janji. Pasha menghela napas sambil menun-duk. "Baiklah, bu Dosen. Kalau itu yang kau-minta. Aku akan tetap bersama Pika seakan Selina tak pernah ada di dalam hidupku. Tapi ingat! Kau juga mesti datang seperti biasa ke- Tesa mengangguk Tapi dia sudah membulat-kan tekad. Dia cuma akan muncul sampai dengan pertunangan Pasha dan Pika. Setelah itu, keadaan dinilainya aman, dan dia tak perlu me-musingkan diri lagi dengan Tuan Solem! Dia takkan datang-datang lagi ke tempatnya!
Bab 10 Tanpa menyebut-nyebut nama Tesa, Pasha ber-keras menuntut agar semua se-mu-a anak-anak Indonesia diundang ke pesta pertunangan mereka. Pika sebenarnya sudah punya rencana hanya mengundang orang-orang tertentu saja.
"Teman-teman yang khusus saja. Pas," kata-nya dan tentu saja Tesa tidak
termasuk di da-lamnya. Sekarang setelah melihat daftar yang dibuat oleh Pasha, di mana seakan
wajar, tertulis pula nama Tesa, Pika jadi terpaksa mesti mengubah rencananya. "Kalau begitu kita harus mengadakan pesta dua kali! Aku ogah kalau terlalu
banyafc orang sekaligus. Selain itu, dapur asramaku mana cu-kup untuk
menampung mereka semua. Jadi, satu untuk anak-anak Melayu. Satunya lagi
untuk teman-teman kuliah asing. Setuju, kan""
Pasha tahu juga kapan mesti berhenti tawar-menawar dengan Pika. Dia
sudah bersyukur, gadis itu mau menerima usulnya untuk me undang semua
anak, jadi terpaksa dia juga
setuju pesta diadakan dua kali. Walaupun itu tentu saja pemborosan yang
gila-gilaan. Tapi untuk pesta kedua, dia berjanji akan menyediakan yang serba sederhana saja. Tak perlu me-nonjolkan kemewahan, sebab
atribut begitu ku-rang laku di sini.-Lain halnya terhadap anak-anak kita yang
gemar menggunjingkan orang, pikirnya. Kalau kurang mewah, nanti d
iributkan pelit! "Bagaimana kalau pesta kedua itu dirayakan di tempatku saja, Pik" Jadi anak-anak kita enggak pada tahu. Aku khawatir mereka nanti ikut nimbrung lagi kalau dengar ada musik dan bir! Bisa-bisa dapurmu kepenuhan enggak bisa nam-pung! Juga dua kali berturut-turut, nanti dipro-tes oleh penghuni-penghuni lain yang kebising-an."
Pika berpikir, lalu mengangguk. Dia paham juga betapa bisingnya pesta-pesta semacam itu. Sampai jauh malam lagi. Suara ketawa mereka saja bisa terdengar sampai berkilo-kilo meter jauhnya.
Jadi, untuk alasan yang berbeda, kedua orang itu sepakat membagi pesta itu jadi dua. Pika setuju, sebab dia tidak ingin ada teman kuliah Pasha yang mengenali Tesa sebagai Bidadari Tuan Solem Huh! Bidadari! dia mendengus dalam hati! Enaknya! Seberapa sih cakepnya dia dibandingkan diriku" Solent's angel"! Hm. Tapi sekarang sudah tidak lagi, bukan" Bidadari itu sudah aku pulangkan ke Jakarta! Ha! sehingga
akan tahulah Pasha siapa Selina itu sebenarnya! Tentu saja mimpi pun Pika tidak, bahwa Pasha sudah lama tahu!
Pasha setuju, sebab dia tidak ingin ada salah satu teman kuliahnya yang nanti jatuh cinta pada Tesa. Dia yakin, mereka tertarik padanya. Siapa tahu, ada yang nekat! Wah, bisa runyam!
Di luar, matahari bersinar cerah. Langit biru. Bunga-bunga aneka warna mekar berseri di ke-bun asrama. Pepohonan pun sudah menghijau kembali, meninggalkan musim dingin yang ke-labu.
Anak-anak bergembira. Ruang makan sudah dihias dengan meriah oleh mereka. Semuanya dengan sukarela mengabulkan permintaan Pika, sebab gadis itu sendiri mengaku tidak sempaf sama sekali untuk mengatur pesta, apalagi menghiasnya.
Memesan makanan jatuh ke tangan Sabita. Namun setelah membanding-bandingkan harga, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan me-masak sendiri. Selain lebih murah rasanya juga pasti akan cocok dengan sclera mereka. Kalau makanan pesanan, kan belum tentu. Pika mengangguk saja setengah acuh mendengar putusan mereka, seolah mau menyatakan, " kalian juga yang akan makan. Terserah
mau kalian. Aku sih enggak begitu rakus! Apa juga jadi!"
Tesa yang sudah terkenal keahlian dapurnya, segera didaulat untuk memasak. Karena Pika memberi mereka kelonggaran dalam biaya, ma-ka Nopi yang diserahi uang, memutuskan untuk membelanjakan semua: Kalau perlu, malah akan minta tambah, tentu saja dengan memper-lihatkan bon. Walaupun Pika leluasa memberi-kan uang, namun dia termasuk orang pedantik. Segala apa mesti ada dan beres, semua harus diletakkan pada tempatnya, dari titik koma sampai botol-botol kosmetik, apalagi bon-bon belanja.
Untuk menyenangkan hati Pasha, Pika me-nemui Tesa dan khusus minta dibuatkan ayam gulung dengan saus cokelat.
"Rebes," sahut Tesa ringan, padahal dalam hati dia berdarah. Tapi itulah nasib, pikirnya menghibur diri. Nasibnya memang tidak cerah. Kalau belum jodoh, tak perlu disesali!
Agar tidak merusak suasana yang penuh ke-gembiraan, Tesa tentu saja tidak mau membiar-kan dirinya hanyut diombang-ambingkan la-munan. Maka dengan penuh semangat dia ikut bekerja.
Seluruhnya ada enam macam masakan. Setiap anak memasak semacam, sesuai keahlian maslng-masing. Atina yang pandai menghias berjanji akan membuat flora dan fauna dari ber-bagai sayuran. Sabita, Ria, Nurul, Pualam, dan
Dita akan mencurahkan kepandaian masing-masing. Udara berbau persaingan gara-gara Nopi berjanji akan menyediakan hadiah bagi juru masak yang masakannya paling laris.
Berbeda dengan Pika, Pasha justru menyenv patkan diri untuk membantu membereskan ser-ta mengatur ruangan pesta. Mendengar ulah Nopi, dia ketawa.
"Jangan suka melempar petasan, Pi! Nanti bisa perang, lho!" "Ah, biar dunia ini tambah ramai, Pas. Kalau terlalu hambar, kan gairah hidup bisa habis!" sahutnya sambil melekatkan kertas-kertas spiral ke dinding.
"Maksudmu, hidupmu, kali" Hidupku sih enggak pernah hambar!"
"Tentu saja kau bisa bilang begitu! Sebentar lagi kau akan bertunangan! Sedang aku" Makin lapuk juga dimakan usia!"
"Makanya rajin-rajin pamerkan tampangmu, dong! Siapa tahu ada yang masih senang gorila...!"
"Duillah, mentang-mentang jambulmu seim-bang sama botaknya Mr. T! G
ini-gini, yang naksir sih ada juga, cuma D.C semua. Enggak ada yang AC. , yang timbal balik, gitu!" kata Nopi, si ahli perkabelan.
waktor TV Amerika ,arus searah arus bolak-balik
aripada kena AIDS, lebih baik enggak usah cerewet Ambil saja yang datang. Jelek dikit enggak jadi soal, pokoknya dia bebas virus!"
"Enak aja ngomong, lu! Main ambil-ambil begitu saja, kalau nyalanya tokcer seumur hidup, ya enggak apa. Tapi kalau baru beberapa tahun
sudah sering short circuit, gimana" Apalagi kalau salah sambung, wah, kan bisa kebakaran!"
"Kalau begitu, prognosa-mu agak gawat, Pi. Bisa-bisa seumur hidup takkan ada therapi causal -nya. Paling-paling cuma therapi palliative saja. Tapi seperti kataku tadi, yang belakangan ini bisa menyebabkan AIDS, Iho!"
"Brengsek, lu! Kaukira aku ini suka jajan" Haram, deh. Lebih baik gue beli sabun obral-an....
"Untuk..."" tanya Pasha nyengir berlagak enggak ngerti, padahal sudah paham seratus per-sen.
Saat itu masuk Atina dan Nurul, sehingga Nopi tidak jadi memaki Pasha dan Pasha tak bisa memuaskan keinginannya menyindir te-mannya.
"Kerja yang benar, ya," seru Atina ke alamat Nopi, "kalau nanti mau dikasih makan!" "Aduh, kejam!" kata Pasha menggeleng. "Nah, itu!" keluh Nopi. "Galak beeng, deh,
mengobati*penyebabnya mengobati keluhan, penyebab tidak. dihilangkan
cewek-cewek kalau hidungnya mancung dikit saja. Jadi, gimana D.C mau diubah jadi AC""
"O, ini toh salah satu kabelnya"" sindir Pasha melirik Atina membuat gadis itu menoleh kian kemari dengan curiga. "Aku mencium sindiran di udara, nih!" ger-" taknya. "Mudah-mudahan sih cuma salah ki-rim!"
"Oh, salah kirim! Salah kirim!" sahut Nopi cepat-cepat. "Telegram yang jelek pasti selalu salah kirim, kok." Lalu ditambahkannya lebih pelan, "Kalau digalakin terus begini, umurku enggak bakal panjang, dong!"
"Apa kaubilang" Siapa yang galak"" tanya Atina yang rupanya tajam kupingnya.
"Eh, Tin, mari aku beri resep manjur," panggil Pasha yang tengah mengatur mikrofon di pojok.
"Apa"" Atina terpancing.
"Kalau mau dapat cowok secakep dia, tuh, kau mesti lembut dan nurut. Mengalah untuk menang! Nah, kalau sudah menang, baru kau boleh unjuk kekuatan... ! Benar enggak nasihatku ini""
"Iiih, siapa yang mau..." protes Atina, tapi terputus oleh teriakan Nopi yang penasaran.
"Teman kayak apa kau! Ngajarin yang bukan-bukan! Coba kalau ada yang nurut! Mampus aku! Dikira hatiku dielus domba, tahunya kena cengkeram macan biang!"
Nurul.terkikik lari ke tempat masak diikuti oleh Atina. Tak lama kemudian dari aral
muncul Tesa yang berjalan tergesa-gesa. Matanya melirik jam di tembok, lalu memandang sekilas arlojinya.
"Mau ke mana sih buru-buru begitu, Neng"" sapa Nopi yang suaranya jadi Iain daripada sebelumnya. Tahulah Pasha, siapa yang meng-gerakkan medan magnet kawannya itu. Aneh-nya, Tesa kelihatan ad em saja.
"Aku hams kuliah, nih," sahut Tesa tanpa berhenti.
"Sayumya sudah matang, belum"" teriak Nopi.
"Awas, kalau ayam gulungku mentah di te-ngah!" ancam Pasha.
Tesa menoleh dan melempar senyum pada keduanya, sehingga Nopi serentak menekan dadanya seakan kesakitan.
"Sebentar lagi aku akan balik. Pestanya kan malam, masih banyak waktu. Kalau enggak matang, iris deh kupingku!" Lalu dia menghilang di belokan koridor, meninggalkan sepasang wa-jah melongo bego. Tapi Pasha segera disadarkan oleh keluhan panjang dari Nopi.
"Uh! Heran, cewek begitu cakep kok enggak ada hatinya, ya" Dingin seperti salju!"
"Hm. Jadi ini juga kabel yang salah arus"" sindir Pasha.
Nopi mengangkat bahu. "Tapi kabelku! Bukan dari dia! Tesa enggak punya perasaan, lembut sih lembut, tapi satu ton dinamit pun belum
tentu akan membuatnya berlari memeluk kita,
mencari perlindungan!" "Maksudmu, memelukmu" Kalau memeluk
aku, barangkali dia masih mau!" "Uh! Mau coba""
"Ah, jangan! Aku senang perdamaian teruta-ma di dalam negeri!" sahut Pasha. Lalu menam-bahkan dengan lebih serius, "Yah! Itulah tragis-nya hidup ini, Pi. Yang tidak diinginkan, kita peroleh dengan gampang. Yang kita inginkan, justru tak pernah akan diperoleh...."
"Pengalaman pribadi, nih"" Nopi balik me-nyindir membuat Pasha mengutuk dirin
ya sendiri. Kenapa ceroboh! Bisa-bisa rahasianya nanti terbongkar. Kalau cuma namanya sendiri yang rusak, masa bodohlah! Tapi kalau Tesa sampai ikut-ikutan terseret, oh, dia takkan pernah me-maafkan dirinya sendiri!
"Lho!" sahutnya berlagak heran. "Kita kan se-dang membicarakan kasusmu!"
"Jadi kauanggap aku ini seumur hidup akan sial terus""
"Tergantung arus hatimu sendiri. Kalau kau bisa membelokkannya ke saluran yang terse-dia... "
Telepon di ruang makan yang luas itu be dering. Nopi meraihnya lalu menyahut, "Ada"
"Binimu," kata nya pada Pasha.
Maka konsultasi mencari jodoh pun te berakhir.
Meja-meja disambung-sambung sampai me-menuhi panjang ruang makan. Selain anak-anak Indonesia, penghurti asrama di tingkat Pika juga diundang. Mereka senang, sebab ada suguhan anggur keluaran pabrik Seppelt yang terkenal di situ. Pasha memang sengaja membelinya untuk tamu-tamu itu.
Meja yang paling atas ditempati oleh Pika dan Pasha serta beberapa teman pilihan, teruta-ma dari Pika. Tesa sengaja datang agak terlam-bat dengan menyalahkan jam kuliah yang di-perpanjangnya sendiri di perpustakaan; dia sudah menelepon Sabita, minta tolong agar a yam gulungnya dikukus lalu dipotong-potong agar tak usah duduk semeja dengan Pasha. Tapi apa mau dikata, kursi yang kosong tinggal di meja paling bawah, letaknya justru berhadapan de-ngan Pasha!
Tanpa disadari oleh yang lain, berulang kali pemuda itu menatap ke meja di ujung dekat pintu, membuat Tesa berulang kali pula harus berlagak sibuk menyendok makanan di piring atau membuang pandang ke samping, pura-pura asyik mendengarkan celoteh yang men-jemukannya.
Kalau Pasha sedang lengah, terlalu asyik ketawa dan bergurau dengan orang-orang di dekatnya dan itu sering terjadi maka gantian Tesa yang membiarkan dirinya mengawasi mereka. Alanglah meriahnya masa muda itu kalau melihat tingkah mereka. Tapi apakah itu gambaran cermin bagi semua orang"! Misalnya. dirinya sendiri"!
Suatu saat mata mereka bertemu! Tesa tengah asyik melamun sehingga dia tidak menyadari-nya dengan segera. Matanya memang menatap ke depan, tapi dia tidak melihat Pasha. Sebalik-nya, laki-laki itu memperhatikannya dengan saksama. Dia tahu, gad is itu tengah melamun. Matanya yang kelam kelihatan bagaikan sHb tanpa dasar, menenggelamkan apa saja yang jatuh ke permukaannya. Wajahnya yang bujur telur kelihatan rileks, namun penuh ramuan du-ka membayangi senyum santai yang mengulas bibirnya yang mungil. Apakah yang sedang kaupikirkan" tanyanya dalam hati. Apakah kau menyesal"! Apakah kau ingin aku mengubah keadaan"!
Seakan kena telepati, tiba-tiba saja Tesa me-ngetahui bahwa dirinya tengah diperhatikan orang. Matanya mengedip. Ketika terpandang olehnya sepasang mata di meja kepala, hatinya kontan terguncang hebat. Begitu bertatapan, saat itu pula dia melengos. Namun berita yang dilontarkan oleh mata indah di bawah naungan alis yang hitam lebat itu sudah menyentuh batinnya. Dan isinya dimengertinya, sekaligus membuatnya gelisah.
Ada penyesalan di situ. Menyesali diakah laki-laki itu"! Ada penuntutan. Apa lagi yang masih bisa dituntutnya dari dirinya"! Kenapa harus menyesal" Bukankah sejak mula sudah itu
jalan yang dipilihnya"! Bahkan duri serta onak
jelah -disingkirkan dengan begitu gigih, demi apa yang telah dipilihnya. Kenapa menyesal setelah jalan menjadi licin dan banglas"!
Apa yang mau dituntut"! Dia tak punya piu-tang, juga Tesa tak punya apa-apa yang bisa diberikan. Cukuplah sudah kenangan bersama yang dijalin begitu tersembunyi. Itulah hadiah-nya baginya. Malam ini untaian penghabisan telah selesai. Dia takkan datang lagi ke tempat Fasha!
Karena berbagai halangan, keluarga Pasha tak bisa datang dari Jakarta. Maklum, ini kan baru tukar cincin. Tapi nanti di Jakarta, pernikahan serta ke Catatan Sipil pasti akan dihadiri oleh selengkapnya keluarga, begitu tulis ibunya.
Untung masih, ibu Pika bisa datang. Walau-pun beliau cuma hadir sebentar, tapi itu cukup sebagai rem untuk mencegah Pasha melakukan hal-hal yang mungkin kelak akan disesalinya. Kalau tak ada ibu mertua, entah apa yang akan clilakukannya malam itu. Anggur sudah naikjce
kepala, membuat hatinya jadi ringan dan ingin mencampakkan kesetiaan ke dalam laut. Makin malam seraut wajah bujur telur nun jauh dari mejanya, kelihatan makin menawan. Sebaliknya, suara nyaring di sebelahnya makin kedengaran penuh tuntutan, tandas, dan tak bisa diabaikan. Malah ketawanya pun terdengar salah tempat.
Tapi untung, di sebelah yang lain walau sebentar duduk bertakhta ibu suri yang membuatnya mati langkah. Pasha berusaha melupa-kan semua kekecewaan hidup dengan menuang
anggur berbotol-botol ke dalam perutnya.
Melihat suasana sudah makin hangat, ibu Pika minta diri, beristirahat ke kamar anaknya. Seakan yang berlalu itu mata-mata, pesta pun kini melonjak jadi lebih meriah. Jerit dan tawa campur aduk tak bisa dibedakan lagi. Edo memetik gitar dengan jari-jari yang sudah gemetar dialiri anggur Seppelt. Dan Thamrin mengikuti dengan suaranya yang memang tak pernah em-puk. Tapi kini bunyinya sudah mirip knalpot bocor. Namun tak ada yang peduli.
Pasha masih terus mengobati ketawaran hatinya dengan Seppelt. Akibatnya, menjelang pesta usai, dia pun terkapar. Pika menggerutu;
"Ah, kau ini menyusahkan orang saja kerja-mu!" tuduhnya. "Berdirilah! Kau lebih baik pu-lang sekarang!"
Pika memegang lengannya dan memaksanya berdiri. Namun begitu pegangan dilepas, dia ambruk lagi seperti karung pasir. Pika menge-luh kesal. "Gimana ini," omelnya entah pada siapa. "Terang dia enggak bisa pulang. Lalu, harus nginap di mana""
"Di kamarku bisa," sahut Nopi segera. "Tapi harus di lantai."
"Ah, lantaimu tanpa karpet. Bisa-bisa dia ma-suk angin kedinginan," tukas
Edo. "Siapa yang punya karung tidur"" tanya Nopi berkelilij "Tesa punya," sahut Atina.
"Ah, enggak!" sela Pika setengah marah me-noleh pada Tesa. "Dia 'harus tidur di atas ka-sur!"
"Nah, siapa yang mau berkorban"" Thamrin menantang. Tak ada yang mau.
"Sayang, kamar kami berdua di blok lain!" tukas Edo lagi sambil menunjuk Thamrin sekali-an.
"Ranjangku sudah ditempati Mami," keluh Pika seakan menjelaskan atau minta maaf sebelum dia melancarkan tuntutan. Sebab sedetik kemudian dia menatap Tesa lalu berkata, "Tes, kau kan punya karung tidur. Gimana kalau ran-jangmu kaupinjamkan padanya""
Caranya mengucapkan "padanya" itu membu-at Tesa merinding. Tahukah dia" Mengertikah dia" Curigakah dia" Tapi Tesa tak sempat ber-pikir terlalu lama. Semua mata memandangnya. Terpaksa dia cuma bisa mengangguk, habis mau bilang apa lagi" Jelas tak bisa menolak. Pika seolah sudah yakin bahwa dia akan setuju. Mengenai di mana dia harus tidur, itu rupanya bukan urusan Pika. Untung Atina masih punya peri kemanusiaan.
"Ssst, Tes. Kau ngungsi ke kamarku saja. Lan-taiku kan pakai karpet, jadi kau takkan masuk angin!"
Esoknya Pasha terjaga dengan perasaan aneh. Kasurnya kok lebih empuk"! Dan sarung bantalnya harum banget. Eh, eh, eh, di mana ini"! Dibukanya mata. Bukan, ini bukan kamar
Pika. Kamar siapakah ini"! Dia meloncat turun dari ranjang lalu memandang berkeliling. Dia segera tahu, ini kamar perempuan. Walaupun tak ada baju yang bergelantungan, tapi di bawah ranjang ada sandal merah, di belakang pin-tu ada tas gantung, dan di samping lemari ba-nyak sepatu.
Matanya segera tertarik untuk memeriksa meja tulis. Dia ingin tahu ini kamar siapa. Buku yang menggeletak terbuka dibiarkannya tanpa disentuh. Catatan kuliah. Takkan banyak mem-beri info. Tumpukan di sebelah kiri, textbook semua. Di sebelah kanan... ha, paling atas ini kan buku harian, bukan" Rupanya tadi malam pemiliknya tidak sempat membenahi atau... dia tidak menyangka tamunya akan berani kurang ajar menggeratak meja pribadi orang! Hm. Sungguh lancang! Sudah dibiarkan menumpang, tapi...!
Dia sudah menurunkan kembali buku itu dari tangannya ke atas meja, ketika matanya ter-tusuk oleh sepotong nama. Tesa.
Hm. Hm. Hm. Jadi ini kamarnya"! Hm. Hm. Fi, fa, fo, fum! Rahasia aneh telah tercium, pikirnya kesenangan. Ditariknya kursi lalu di-undangnya dirinya duduk di depan meja. dia membaca. Sayang, cuma -
berita dari rumah. Di antara halaman terselip pula beberapa foto. Ada gambar sederetan anak-anak anjing. Ada gambar rumah sedang dipugar.
Tiba-tiba

Tesa Karya Marga T di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hatinya tercekat. Gambar Tesa dalam pelukan seorang pemuda gagah! Huh! Ini kiranya! cetusnya dalam hati, penuh jengkel. Tapi ketika dia menemukan foto berikutnya, dia jadi ketawa sendiri. Pemuda itu ada lagi di situ. Kali ini menemani ayah dan ibu. Kiranya, sang abang! Entah kenapa, hatinya kok jadi lega kembali. Sinting, makinya pada diri sendiri.
Buku harian itu pun sudah ditutupnya. Tapi hatinya masih penasaran. Ah, biarlah, daripada iseng, lebih baik aku baca sampai tamat. Ini kan hari Minggu, pasti orang-orang menyangka aku masih tidur.
Maka disilangnya kakinya supaya lebih san-tai, lalu dibukanya kembali buku itu. Tepat pada halaman yang merekah, matanya tertumbuk pada sebuah keluhan: Ah!
Dengan hati berdebar ditelusurinya kalimat demi kalimat, lalu dia menghela napas. Dengan lesu direbahkannya kepalanya ke atas meja, me-nindih buku itu.
Itu kiranya sebabnya, pikirnya kecewa. Jadi Tesa mencintai seseorang. Jadi dia menolak dirinya bukan karena dia itu pacar Pika, temannya sendiri, tapi
lantaran dia telah mencintai orang lain yang rupanya tidak menyadari hal itu.
Di manakah si pandir itu tinggal"! Di Jakarta"! Itukah sebabnya dia lari ke sini"!
Coba aku lihat apa yang ditulisnya paling penghabisan. Kepalanya diangkatnya. Buku itu dilembarinya lagi. Hm. Dua hari yang lalu! Apa"! Cuma sepotong kalimat saja"! "Semoga bahagia!" Hm. Mungkin abangnya atau salah satu orangtuanya berulang tahun.
Ditutupnya buku itu dan dikembalikannya ke tempat semula. Tapi, eh, betulkah ada keluarga-nya yang ulang tahun"! Hm. Dia harus mena-nyakannya! Entah kenapa, dia merasa itu pen-ting sekali! Dia harus tahu jawabnya!
Tapi Tesa ternyata tidak dijumpainya lagi. Beberapa kali ditunggunya di bawah tangga, namun gadis itu tak pernah muncul. Pernah dia bolos kuliah, khusus untuk menantikannya, namun sia-sia.
Akhirnya diputuskannya untuk menelepon ke loteng. Tuan Graham sendiri yang menyambut-nya.
"Begini, Tuan Graham. Aku ingin tanya, apa kalian sudah berhenti les sama Tesa"" ;
"Oh, enggak. Masih, kok. Memangnya kenapa"" "Soalnya, kok sudah lama aku tidak melihatnya datang""
"Oooh, dia minta ganti hari. Bukan lagi Selasa-Jumat, tapi Senin-Rahu."
"Hm. Begitu. Sangkaku, kalian tidak cocok lagi dengannya, dan aku bersedia mencarikan ganti guru yang lain," kata Pasha dengan nada tak bersalah.
"Ow! Kami cocok sekali dengan Tesa! Sudah seperti anak sendiri, deh." Tuan Graham ketawa gembira.
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang men-dengamya," katanya mengakhiri telepon.
Hm. Hm. Hm. Fi, fa, fo, fum! Berganti hari rupanya si Putri Harum! Jadi, sekarang Senin dan Rabu! Hm. Hm. Hm.
Tentu saja Pasha tidak tahu bahwa Tesa telah bertekad melaksanakan keputusannya: setelah pemuda itu bertunangan dengan Pika (yang berarti tak ada ancaman lagi baginya!), dia juga tak perlu main terus ke tempat Pasha. Dulu itu kan cuma untuk memenuhi ancaman Pasha: kalau dia tidak datang, Pika akan diputusnya. Sekarang kan Pasha sudah terikat, jadi sip. Laki-laki itu takkan bisa mengancam-ancamnya lagi.
Terkadang Tesa suka melamun. Menyesalkan dia telah menolak Pasha"! Seandainya mereka memang saling mencinta, siapa yang bisa me nyalahkan"! Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan"!
Tapiii, bukankah itu justru yang terjadi antara Goffar dan Shakira"! Mereka saling jatuh cinta! Siapa yang salah"! Kalau tak ada, lantas kenapa
dia masih sakit hati pada keduanya"! Kenapa dia jadi memusuhi mereka dan memutuskan persahabatan dengan Shakira"!
Tidak! Dia tidak mau jadi penghancur hati wanita lain! Dia tidak mau dibenci perempuan lain seperti Shakira pernah dibenci olehnya.
Yah! Kalau memang belum jodoh, tak usah dipaksakan, pikirnya menghibur diri.
Ternyata Senin dan Rabu pun mengecewakan Pasha. Setelah dia menelepon ke atas, baru ke-tahuan bahwa keluarga Graham sedang pergi berlibur. Tentu saja Tesa tidak muncul.
Dua kali dicobanya menelepon ke asrama. Tapi mungkin nasibnya sedang apes, gadis itu selalu kebetulan sedang keluar. Dia ingin sekali bicara dengannya sebelum matanya dioperasi sekali lagi. Mata kirinya masih perlu diperbaiki lagi untuk ketiga kali.
Dia menunggu-nunggu, tapi sam
pai saat dia mesti masuk ke rumah sakit, hubungan tetap gagal. Akhirnya dia terpaksa menulis surat. Me-nitip berita melalui telepon, dia tak berani. Ris-kan sekali. Dia maklum, tak ada yang bisa di-rahasiakan dalam asrama yang penuh cewek bawel seperti itu. Pasti lambat laun Pika akan tahu. Daripada perang saudara, lebih baik ditu-Hsnya kalimat singkat: "Aku akan dioperasi lack Maukah Selina menjengukku nanti""
Surat itu rrfembuat Tesa serba salah. Sebagai manusia biasa, tentu saja dia tak tega mem-biarkan orang lain dalam kesusahan dan tidak mengabulkan permintaannya yang begitu seder-hana. Tapi sebagai perempuan, dia enggan. Ba-nyak keberatannya. Seribu seratus "bagaimana" diandai-andaikan oleh hatinya yang gelisah.
Bagaimana seandainya ketemu Pika"! Bagaimana seandainya ketemu anak-anak lain dan dilaporkan pada yang berkepentingan"! Bagaimana seandainya...
Ah! Tapi tidak menengoknya barang sekali pun rasanya- kelewatan sekali. Setelah kepalanya hampir pecah, tibalah dia pada jalan tengah yang dianggapnya merupakan penyelesaian yang memadai. Dia akan pergi bersama Nopi. Andaikan ketemu anak-anak lain, atau Pika se-kalipun, dia bisa berdalih, diajak Nopi ke sana.
Nopi tentu saja senang sekali bisa berduaan dengan incaran kalbunya. Dia tidak mau pusing memikirkan berapa banyak udangnya di balik batu, pokoknya ini kesempatan langka yang sudah lama ditunggu! Dia bahkan tidak curiga bahwa ini semacam sand i war a juga.
Begitu Pasha mendengar suara Tesa, wajah-nya serentak mekar penuh senyum. Namun untung sekali dia belum sempat melontarkan panggilan berbau intim seperti "Sayang" atau "Manis" atau sebangsanya. Sebab segera juga didengarnya suara Nopi mengucapkan halo, mengikuti Tesa, sehingga diam-diam dia mengeluh kesal. Kenapa lagi bocah ini membawa-
bawa bulldog! Tengah mereka ngobrol seadanya, tiba-tiba Pasha bertartya, "Waktu tanggal dua puluh lima bulan lalu siapa sih yang ulang tahun, Tes" Ibumu" Ayahmu" Atau salah satu saudaramu"" "Enggak ada. Memangnya kenapa"" "Ah, enggak apa-apa. Aku sedang mengingat-ingat tanggal itu. Entah siapa yang bilang, ya. Kalau bukan kau, ya, Pika! Katanya di rumah ada yang ultah."
Setelah itu Pasha kelihatan tidak bergairah lagi ngobrol seakan kecapekan. Kunjungan pun dipersingkat seperlunya. Keadaan Pasha juga sama sekali tidak
mengkhawatirkan, minggu de-pan sudah boleh pulang. Jadi tak ada alasan untuk berlama-lama. Apalagi hati Tesa kebat-kebit terus. Setiap saat Pika bisa saja muncul. Dan alasan apa yang akan dikatakannya"!
Kalau dia bilang diajak Nopi, laki-laki yang cerdik itu pasti akan segera mencium adan'ya bangkai yang mulai busuk. Sebab jelas-jelas, Tesa-lah yang telah mengajaknya, bukan seba-liknya. Kalau Nopi sableng atau senang memancing di air payau, mungkin hal itu akan diadukannya pada Pika! Atau, dirinya diperas secara halus! Misalnya, dipaksa menjadi pacar-nya! Hatinya sudah lama meraba-raba ke mana gerangan tujuan sindiran Nopi yang banyak itu setiap kali mereka kumpul-kumpul di dapur
beramai-ramai. Cuma radar hatinya belum bisa menerima sender radio dari Nopi.
Lega rasanya setelah berhasil minta permisi. Tapi Pasha rupanya belum mau sudah. Pada saat terakhir dia masih menemukan akal untuk mengingatkan Tesa pada maksudnya.
"O ya, bukumu yang dipinjam oleh Pika ada di tempatku. Kau bisa mengambilnya kapan saja sesempatmu. Bukankah Senin-Rabu kau kasih les""
Hm. Jadi dia sudah tahu aku ganti hari! pi-kirnya masygul. Buku apa sih yang dimaksud-nya"! Hampir saja Tesa mengerutkan kening dan berbuat kesalahan. Namun sesaat itu juga keheranannya dia telan kembali.
"Baiklah. Nanti aku ambil kalau sempat. Buku itu sudah aku baca, kok. Sebenarnya enggak diambil pun, enggak apa-apa!"
Tapi Pasha kontan protes keras. "Tempatku sudah terlalu penuh! Buku itu harus kauambil, Tes."
"Baiklah," kata nya supaya bisa segera berlalu.
Sekali lagi Pasha menunggu dengan sia-sia. Sudah lebih dari sebulan dia kembali dari-rumah sakit, namun Tesa belum berhasil diper-gokinya.
Tentu saja dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu sudah bertekad untuk menghindarinya. Setelah sadar bahwa Pash
a tahu dia berganti hari, maka Tesa sekali lagi minta hari les diubah. Dengan alasan dia ada kuliah sore. Kali ini dipilihnya Selasa dan Jumat. Mudah-mudahan Pasha tak pernah di rumah saat itu. Dan memang untuk beberapa kali les berlang-sung dengan aman. Dia tak pernah dicegat.
Karena itu betapa kagetnya Tesa ketika pada ' suatu hari Jumat didapatihya Pasha sudah ber-diri di bawah tangga! Dalam hati dia mengeluh. Oh, kalau saja dia tahu lebih dulu bahwa hari ini Pasha akan kebetulan berada di rumah...! Dia lebih suka honornya dipotong daripada datang juga mengajar! 'AH
Tentu saja Tesa tidak tahu bahwa Pasha sudah sengaja menunggunya. Laki-laki itu sudah mendapat info baru dari Nenek Graham yang rupanya tidak tahu ke mana arah angin bertiup!
"Hai, Tes!" Sapaannya seakan wajar saja.
"Hai," balas Tesa, berharap akan bisa berlalu tanpa gangguan.
"Eh, eh, eh, mau ke mana buru-buru begitu" Sudah lama enggak kautengok abangmu.... "
"Lain kali, Pasha," dia berkilah. "Aku banyak PR, nih." "Gimana kalau dia ngambek, lalu ngadu sama Pika"" Pasha meneruskan tanpa mengacuhkan dalihnya.
Tesa mengeluh. Ditatapnya Pasha dengan me-maksakan diri. "Kau mau apa""
"Nah, tanya dong begitu! Abangmu ini kan baru baik sakit. Dia kepingin makan kue yang enak!"
Tesa terpaksa ketawa. Dasar laki-laki! Sudah sebesar gajah pun masih berlagak seperti bocah cilik. Selalu minta dimanja. Ini sebenarnya tugas Pika, pikirnya berontak. Tapi dia tahu, dia tak berdaya menolak. Pertama, sebab dia belum tahu sampai di mana kenekatan Pasha untuk mengadu pada Pika. Mungkin kalau dia sudah dibikin terpojok oleh kecewa dan putus asa, dia bisa menciptakan gempa bumi tanpa ragu! Iiih, membayangkannya saja sudah ngeriii!
"Kau tunggu di sini! Aku pergi sebentar membelinya."
"Enggak mau!" bantah Pasha, betul-betul seperti bocah sungguhan. "Aku sudah menyedia-kan tepung, telur, gula, dan mentega. Aku mau kue yang kaubuat sendiri!"
Nenek Graham mendadak muncul dengan kantong belanjaan yang mempunyai roda. Rupanya Jumat sore dia ingin belanja makanan untuk seminggu.
Sambil melangkah turun pelan-pelan dia ter-senyum dan menyapa mereka. Tentu saja Tesa menjadi rikuh ketika Pasha menyuruhnya segera masuk. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa si nenek menduga yang macam-macam. Terlebih setelah Pasha dengan ketawa lebar berkata, "Adikku ini bandel sekali. Selalu ogah mcnye-nangkan hati abangnya!"
Nenek ketawa menanggapi dengan lucu. Tentu saja dia tahu bahwa Pasha sudah bertunang-an dengan Pika, sebab tempo hari dia diundang waktu ada pesta di tempat Pasha. Dia juga percaya bahwa Tesa adik Pasha, walaupun mukanya memang tidak mirip. Tapi dirinya sendiri juga tidak mirip dengan abangnya, pikirnya.
Tesa mengerti bahwa nenek itu tidak curiga. Dan tentu saja dia tidak boleh diberi alasan untuk berpikir lain.
"Huh! Adikku ini malas banget! Ayo, dong, bikinkan aku kue!" Pasha merengek, lalu dido-rongnya Tesa masuk semen tara si nenek ketawa geli.
Tesa terpaksa masuk, meskipun hatinya membara.
r"Ini sudah mirip penculikan!" semburnya begitu pintu sudah tertutup lagi.
"0, yang lebih dari ini pun bisa terjadi, Tes. Kalau kau selalu membantah."
"Lalu, kenapa aku mesti terus-terusan menu-ruti kemauanmu""
"Karena aku ini abangmu! Ingat itu! Ayo, sekarang mulailah ke dapur! Buatkan aku kue dadar yang enaaak!"
Tesa berpikir-pikir beberapa saat. Jelas dia takkan diizinkan pulang sebelum Pasha tercapai maksudnya. Karena itu cuma kue dadar, walaupun sebenarnya termasuk kewajiban Pika, biar-lah! Akan dikerjakannya secepat mungkin, supaya lebih cepat lagi bisa pulangl
gan pikiran itu dia segera melangkah ke dapur meninggalkan Pasha menulis laporan.
Karena pada dasarnya Tesa memang gemar main di dapur, tak lama kemudian pun kckesal-annya sudah terlupakan sebab sibuk mengolah adonan. Terlebih ketika kue sudah mulai dida-dar sesendok-sesendok, harumnya seperti membuatnya lupa di mana dia tengah berada. Sesaat dia betul-betul lengah, lalu tanpa sadar mulai bersenandung. Itu memang kebiasaannya di rumah kalau sedang asyik memasak. Dan biasa-nya Markus, Daniel, serta Aster sudah menung-gu hasilnya dengan s
abar bersama Mopi. Kali ini bukan Markus, melainkan Pasha yang juga mulai mendengus-dengus menciumi udara dengan perasaan makin lama makin membubung. Telinganya menangkap bunyi senandung pelan dari ruang belakang. Wajahnya menyungging seulas senyum. Ah, seandainya ini bisa ber-langsung terus! pikirnya penuh rindu. Kenapa cuma dia selalu yang menuntut ini dan itu"! Kenapa sesekali tak mau dibahagiakannya Tesa"! Tapi, bagaimana caranya"!
Di tengah lamunannya Pasha tidak menya-dari adanya bahaya. Dia sungguh lupa bahwa Jumat sore tunangannya sering datang, walau tidak selalu. Dan Pika punya kunci sendiri, jadi tak pernah menekan bel. Selain itu, kalau siang hari, pintu apartemen memang jarang dikunci-nya. Kecuali dia sedang tidur atau keluar. Tesa begitu asyik mendadar dan berdendang.
sehingga dia sama sekali tidak mendengar pintu
dibuka orang. Pintunya memang tidak berderit, sih.
Begitu masuk, Pika segera tahu ada keaneh-an. Pertama, hidungnya langsung menchim wa-ngi kue. Kedua, telinganya mendengar senandung pelan yang pasti berasal dari pita suara perempuan! Ketiga, matanya melihat wajah se-orang lelaki yang pucat pasi walau bekas-bekas senyuman masih belum sirna dari matanya.
"Siapa"" tuntutnya.
"Tesa," sahut Pasha tanpa semangat.
Mendengar itu Pika langsung menyerbu ke dapur. Tesa sedang mengaduk adonan untuk dituang lagi ke wajan. Tangan kanannya me-megang sendok kayu, sementara lengan kirinya memeluk baskom plastik yang besar berwarna jingga. Dia begitu terkejut melihat kedatangan Pika, sehingga gerakannya serentak terhenti. Bah kan baskom itu nyaris terlepas dari pel u kan. Untung dia lekas tersadar apa yang tengah di-kerjakannya.
Dengan mata membelalak penuh horor di-awasinya Pika yang segera berkacak pinggang dekat pintu dapur. Di belakangnya terlihat Pasha melangkah dengan gontai.
Geledek pun tidak tanggung-tanggung lagi menyambar dengan dahsyatnya. "Hm. Pura-pura kasih les! Tahunya, tttjuanmu kemari, ya! Rupanya permainan kalian sudah diatur rapi sekali, nih!"
Merah selebar wajah Tesa disindir begitu.
Tapi mulutnya yang terkatup rapat tidak berhasil menemukan sanggahan yang tepat. Pikiran-nya buntu. Pandangannya terasa gelap. Cuma jantungnya
saja yang di rasa kan nya berpacu liar seakan pro tes mau meloncat keluar, tak mau diajak berkelahi.
Pika mendekatinya. Telunjuknya menuding, nyaris menyentuh hidungnya. "Tes, bukankah tempo hari kau pernah bilang betapa sakit hati-mu ketika pacarmu direbut kawanmu! Lalu kau berjanji takkan melakukan dosa seperti itu ter-hadap orang lain. Kenapa sekarang kaulakukan itu terhadapku" Cis! Dasar punya bakat maling rupanya!"
Mata Tesa menjadi merah dan panas.
"Jangan kasar terhadap Selina!" hardik Pasha dari belakangnya, sehingga Pika menoleh ter-kejut. "Kau kaget" Oh, oh, oh, aku sudah lama tahu siapa
dia!" Pika menatap Tesa dengan penuh kebencian. Dia nyaris meludahinya. Bibirnya yang men-cucut akhirnya cuma melontarkan serangkaian lagi tuduhan.
"Jadi kau juga sudah memberitahu siapa diri-mu" Dasar orang tak bisa pegang janji! Pantas dulu pacarmu direbut orang! Puas! Syukur!"
Air mata Tesa mendadak mancur keluar tak terbendung lagi. Sebenarnya dia pantang mena-ngis di depan orang lain, tapi hatinya terluka parah disembilu habis-habisan seperti itu. Air
bening itu mengucur deras ke dalam baskom
yang masih dipeluknya. Ketika menyadari apa yang terjadi, dengan terperanjat diletakkannya adonan itu ke atas meja. Lalu dia berlari keluar. Disambarnya tas serta catatan untuknya menga-jar, kemudian dibukanya pintu dan dibiarkan-nya terpen tang. Dia tidak kuat lagi berdiam di neraka itu lebih lama, walau cuma untuk me-nutup pintu.
Pasha yang mengikutinya lekas-lekas meng-gabrukkan pintu, sebelum dia" kembali mengha-dapi Pika. Wajahnya dingin sekali dan kedua matanya sudah mad.
"Kau tidak berhak menuduhnya sekeji itu! Afculah yang memaksanya datang ke sini! Sudah berbulan-bulan dia mencoba menghindarkan diri, baru hari ini aku berhasil memergokinya. Dia tidak mau masuk, tapi aku sangat ingin dibuatkan kue dadar, jadi aku bujuk dia, itu pun dengan setengah mati! Dia sudah kuanggap sebagai
adikku, Pik! Salahkah aku, meminta dibuatkan kue dadar" Habis kalau menunggumu, sampai kapan sempatnya" Dia kan sudah kuanggap adik! Maka..." Pasha mengangkat bahu.
"Kok enggak pernah kau bilang-bilang pada-ku" Mana aku tahu jadi nya"" seru Pika seakan membela diri.
"Ya, aku salah. Habis, aku khawatir kau nanti enggak mau ngerti, lalu marah!".
"Huh! Pendusta! Hidung belang! Adik" Adik ketemu gede"! Kaupikir aku ini bodoh seperti
keledav apa" Gampang dibohongi"! Dasar mata keranjang! Satunya lagi berbakat maling! Klop, deh!" ejeknya. "Maling, katamu"" Kening Pasha mengerut
hingga alisnya bersatu dan kedua matanya me-mancarkan sinar mau membunuh" Dia menun-dukkan kepala dan mendekat, sehingga tanpa sadar Pika sudah mundur selangkah saking ke-takutan.
"Maling" Tahukah kau, aku dulu sudah ham-pir membatalkan rencana pertunangan kita"! Tapi Tesa berkeras, dia cuma mau terus berkawan denganku kalau aku tidak meninggalkan diri-mu! Mengerti" Kita tetap bertunangan lantaran aku ditekan olehnya! Paham""
"Oho! Jadi kau bertunangan denganku hanya supaya kau enggak kehilangan dia"" teriak Pika menggelegar.
Pasha terdiam. "Jadi kau sebenarnya sudah tidak cinta pada-ku"" Pasha masih diam.
"Dan kaukira aku ini cinta padamu" Bah! Aku cuma bangga lantaran kau ganteng dan teman-temanku banyak yang iri melihatku! Kaukira aku ini enggak laku kalau enggak mendapat belas kasihanmu" Hm. Ini aku kembalikan cincinmu!" Pika meloloskan cincin belah rotan di jari manisnya dan meletakkannya di atas meja tu lis.
"Aku tidak sudi dikasihani orang! Lihat saja!
palam waktu dekat ini aku pasti sudah bertunangan dengan Michael yang kucintai!" Di-bukanya pintu lalu berlari keluar sebelum air matanya sempat menyembur.
"Pika!" seru Pasha mau mencegah.
Tapi gadis itu sudah menghilang di tangga. Untuk kedua kalinya Pasha menggabrukkan pintu lalu menguncinya. Dan malam itu Pika tidak pulang ke asrama.
Bab 11 Beberapa hari kemudian Tesa muncul di tingkat tiga untuk memberi les. Sebenarnya dia sudah tidak ingin datang ke tempat itu lagi tapi dia masih memerlukan uangnya. Begitu dia bisa mendapat murid lain, Kakek dan Nenek Graham ini akan dilepasnya. Bukan karena mereka murid-murid yang malas, tapi lantaran Tesa sudah segan mengunjungi tempat itu. Dia khawatir jangan-jangan pada suatu hari akan kesamprok juga dengan...
Rupanya hari itu memang dia sedang naas. Baru saja dijejakkannya kaki di tingkat dua, matanya sudah melihat malapetaka. Pasha tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Tesa mengeluh dalam hati. Yah, mudah-mudahan dia sedang menunggu orang lain, pikirnya sambil mau berlagak formal. Dia akan tersenyum, me-nyapa selamat siang, lalu berbelok dan naik ke tingkat tiga. |p
Tapi tidak. Agaknya Pasha memang sedang menunggunya! Oh, dasar sedang sial! Sebelum dia sempat berbelok, bahkan sebelum dia bilang
halo, pemuda itu sudah mendekatinya. Lang-kahnya mengerikan sekali panjangnya. Dalam sekejap dia sudah berada di sampingnya, meng-halangi jalannya. Naik ke tingkat tiga tak bisa, mau turun ke bawah lagi pun tidak mungkin. Di belakangnya tembok dan di depannya sepa-sang lengan yang kuat. Pelan-pelan, tanpa disa-darinya, dia dihalau ke sudut, ke depan pintu kamar, tepat di bawah tangga.
Tesa memutuskan untuk tidak memperlihat-kan rasa takut. Dia berusaha tersenyum meya-kinkan. "Ah, halo, Pas, selamat siang. Rupanya kau enggak kuliah, nih""
"Aku sengaja menunggumu!" sahut yang di-tanya tanpa senyum.
"Oh!" Tapi jangan biarkan dia tahu bahwa kau takut! pikirnya dengan gagah. "Ayo, deh, aku mau ke atas. Telat, nih!" ujarnya seringan mungkin, seakan tidak mengerti maksud ucap-an Pasha.
"Mereka sedang ada urusan keluar, Tes. Ke-duanya tidak di rumah."
"Lho! Ah, masa"! Mereka tidak memberitahu!"
"Sebetulnya aku harus meneleponmu tadi pagi. Roger, si kakek, sudah menelepon ke asra-mamu, tapi tak ada yang mengangkat."
"Aku kuliah pagi-pagi. Dan anak-anak lain rupanya pergi semua."
"Nah, lalu dia minta aku yang menghubungi kau! Tapi aku sengaja membiarkanmu datang,
sebab ada yang mau aku bicarakan. Marilah
masuk!" "Sorry, enggak bisa. Aku harus segera pergi
lagi," kata Tesa dengan tagak orang yang banyak urusan.
"Ke mana"'' tanya Pasha dengan kening ber-kerut. "Bukankah ini jam untuk kasih les" Dan sekarang lesnya batal" Berarti kau bebas, dong! Benar, enggak"!"
Tesa menghela napas. Dia tahu kebandelan Pasha. 0, ya dia masih ingat waktu dia tak mau beranjak dari jendela walaupun udara dingin! Waktu dia ogah makan obat! Waktu dia...
"Ayolah masuk!"
Tesa menggeleng. "Pasha, janganlah menam-bah lagi kebencian Pika padaku! Dia sekarang sudah jadi musuhku, tahu!" "Musuhku juga" "Apa maksudmu""
"Tes, aku sudah putus dengan Pika!"
"Itu urusanmu! Asal jangan gara-gara aku!" Tiba-tiba Tesa terkejut, baru menyadari apa yang didengarnya. "Eh, apa katamu"!"
"Iya, betul! Dia sudah meninggalkan aku. Katanya, minggu depan atau bulan depan, dia pasti akan bertunangan dengan Michael!"
"Michael"! Oh!"
Tesa mengeluh. Tentu ini gara-gara dirinya! Kenapa sih dia sok iseng main-main ke tempat pacar orang" Akibatnya sekarang mereka beran-takan.
"Maatkan aku," bisiknya dengan mata ber-linang. "Kalau ada yang bisa kulakukan untuk
membujuknya... " Pasha menggeleng. "Tak perlu. Aku tidak mau memaksanya. Hubungannya dengan
Michael bukan hal baru bagiku, Tes. Aku takkan heran bila dia menggunakan kesempatan
itu untuk melaksanakan keinginan hatinya." S "Maksudmu... mereka sudah lama..."" Pasha mengangguk dengan wajah sendu. "Aku yakin begitu! Ah, sudahlah. Tak usah panjang-panjang mempercakapkan orang lain. Yang sudah basi terpaksa dibuang saja, tak gu-na ditangisi."
Tesa terdiam. Dia teringat pernah beberapa kali melihat Pika dan Michael berduaan. Sikap mereka memang kelihatan dekat, tapi dia tidak pernah mengira bahwa kedua nya begitu intim!
"Eh, kok jadi melamun" Yuk, masuk sekarang" Mau, dong"!" Untuk pertama kalinya Pasha kelihatan tersenyum menawan.
Tesa menatap matanya yang bulat kehitaman. Dia menimbang-nimbang beberapa saat. Memang diakuinya, dia tergoda untuk masuk Les batal. PR dari kuliah sudah dibuatnya. Di asrama sendirian pasti membosankan. Dan... bukankah Pasha kini sudah bebas"! Tak ada orang yang akan marahl
Tapi akhirnya dia terpaksa menggeleng, membuat binar-binar di mata hitam-bulat itu redup disergap kecewa. Tesa memutuskan tak
mau mencari keruwetan, sebab rupanya pacaran selalu mengundang problem baginya. "Sorry, Pas, aku tak bisa!"
Dia berbalik mau menuruni tangga, tapi Pasha mencekal lenganrtya dan mendesaknya ke tembok. Dikurungnya Tesa dan didekatkannya wajahnya. * 41
"Kau sebenarnya menyukai aku, bukan" Karena itu kau tahan merawat aku setahun lebih, bukan"" bisik Pasha berdesah sambil menatap-nya lekat-lekat
Tesa membuang pandang ke samping dan pura-pura mendengus dengan suara tidak sa-baran. "Oh, aku melakukannya demi uang be-laka, kau sudah lupa" Aku butuh uang waktu itu! Sangat butuh Ayo, biarkanlah aku berlalu!"
Tapi Pasha tak mau melepas kurungannya. "Kau sungguh tidak menyukai diriku"" desak-nya.
"Kalau seperti yang kaumaksud, jawabnya tidak!"
"Kau bohOng!" tuduh Pasha dengan mata me-lotot, tapi suaranya setengah putus asa.
Tesa tidak sampai hati melihatnya kecewa begitu. Dia tersenyum. "Tentu saja aku menyukaimu, Buyung!" "Nah, kan"!"
"Seperti aku pun menyukai teman-teman lain!" "Ah, bohong! Dengan aku pasti tidak sama! Ya,kan5N" "Terserah, deh, kau mau percaya atau tidak!" "Ya, kan"!" seru Pasha penasaran.
Tesa mengibaskan lengan yang mengurung-nya. "Aku mau pulang sekarang!" Tapi kurungannya tak berhasil didobraknya. Dilihatnya pemuda itu seakan makin nekat mau menahan-nya.
"Siapa sih nama orang itu, eh, setan itu yang sudah menghancurkan hatimu" Sampai kau tak sudi percaya pada laki-laki lagi"!"
Wajah Tesa menjadi merah. Dia sudah ham-pir menyemprot, "Itu bukan urusanmu!" Tapi Pasha sudah memberondong terus, "Atau bah-kan membuatmu takut pada mereka"! Siapakah namanya""
Pasha menatapnya dengan mata kembali ber-binar. Tesa mengelak tanpa disadari. Se-konyong-konyong dia merasa kikuk, padahal lebih dari setahun laki-laki itu berada dalam belas kasihannya. Kalau lapar, dia akan merengek minta makan! Terkadang kepingin makan kue dadar seperti orang ngidam! Malah menangis tanpa m
alu-malu kalau sudah kesal memikirkan nasib! Dan sekarang...! Dia berani banyak ting-kah"!
"Bukan Pasha, kan"" sambung pemuda itu nyengir sebelum Tesa sanggup memutuskan bagaimana akan menghadapinya. Semua terjadi dalam sekejap
mata. Pasha menunduk dan me-ngeeupnya. "Sudah lama ingin kulakukan," bisiknya.
Tesa menunduk tanpa berkutik. Dia sungguh menyesal kenapa datang ke situ hari itu. Coba, dia berlagak sakit dan menelepon Nenek Graham...! Huh! Dia menghela napas, rasanya kok makin kikuk"! Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat.
"Tes, tubuh manusia itu mengenal reorgani-sasi. Artinya, yang rusak atau sakit akan diganti dengan yang baru. Begitu juga perasaannya. Apa yang dulu terasa menyakitkan, lama-lama akan hilang. Kecewa, frustrasi, penasaran, sakit hati, semua itu tidak kekal. Pasti akan dire-organisasi menjadi rasa senang, sentosa, baha-gia, dan puas. Asal... kita mau berusaha menyembuhkannya. Patah tumbuh hilang berganti, Tes. Buat apa yang tidak setia dipikirkan terus" Cuma membuat uban tumbuh! Suatu waktu kau pasti akan menyadari, kau tak mau memikirkan masa lalu terus. Juga tak ada gunanya. Dan tak pantas memberi kehormatan seperti itu bagi pengkhianat. Buat apa membikin dirimu merana bagi makhluk yang tak punya perasaan halus" Tes; yuk, mari masuk. Bantu aku mengetik ma-kalah. Nanti aku buatkan kau kue dadar yang lezaaat! Ayo, bilang, siapa sih namanya""
"Goffar!" bisiknya tanpa disadari.
Pika pindah ke asrama Michael yang terletak di sebelah bar at kota, dekat taman indah. Tak
berapa lama pun anak-anak lain sudah tahu bahwa dia telah putus dengan Pasha dan kini
beralih pada Michael. Tesa ingin menyembunyikan dulu hubungan-nya dengan Pasha, namun pemuda itu rupanya tak bisa gampang-gampang digebah. Setiap akhir pekan dia pasti muncul di asrama, ikut meramaikan acara makan mereka. Seperti biasa, tiap hari Minggu mereka masak bersama, masing-masing satu macam, lalu disantap beramai-ramai. Tentu saja teman-temannya segera mencium bau sangit dan yang paling uring-uringan adalah Nopi.
"Habislah sekarang harapanku!" keluhnya tanpa menjelaskan harapan macam apa.
"Kan masih ada aku!" sambut Atina yang rupanya paham.
"Nanti dulu, ah! Tunggu tahun dua ribu! Kalau aku masih belum mati dalam perang nuklir, dan semua perempuan lain sudah cacat, nah!" katanya mengangkat bahu seakan menyerah. Atina ingin sekali mencekokkan sesendok sam-bal ke dalam mulutnya. Sayang waktu itu ter-lalu banyak orang, dan dia segan menjadi sum-ber gosip.
Tesa terpaksa membiarkan Pasha datang se-maunya, sebab dianggapnya itu lebih mending daripada berduaan saja di tempat Pasha.
"Kalau kau enggak mau aku muncul di asra-mamu, terpaksa harus kau yang datang ke tempatku I Kalau enggak pernah ketemu, enggak
lucu, dong, kan namanya pacaran!" kata Pasha tempo hari.
Tesa masih ragu terhadap hubungan mereka. Dia bimbang. Di satu pihak, dia enggan pacaran sekali lagi setelah riwayatnya dulu bersama Goffar
terlebih dengan bekas pacar orang. Memang betul, dia tidak merebutnya terang-terangan tapi kalau tak ada dirinya, apakah Pika dan Pasha pasti akan bubar"!
Pertanyaan itu acap kali menghantui pikiran-nya dan tak ada jawaban yang bisa meyakin-kannya bahwa dia sama sekali tak bersalah. Dia sadar, Pasha menaruh hati padanya sejak tahu siapa dirinya. Selina yang dicari-cari! Bidadari Tuan Solem! Oh, - kawan-kawan Pasha masih juga melon tar kan olok-olok itu bila mereka me-lihatnya berjalan di samping Pasha Solem.
Walaupun Tesa selalu ingin menghindar, namun Pasha justru tampaknya seakan ingin me-mamerkan dia terus. Setiap ada acara di fakul-tasnya, Tesa pasti diundang. Tapi dia sering juga diajak ke sana walau tak ada acara apa-apa. Tentu saja tak pernah terpikir oleh Tesa bahwa Pasha mungkin cuma ingin memanaskan hati bekas pacarnya. Sebab mereka kerap kali ketemu di halaman atau perpustakaan uni. Pika memang tak pernah ramah sejak dulu padanya. Kini dia sudah mau menyapa, tapi sikapnya tidak ha-ngat. Dan Tesa sedapat mungkin selalu men-jauhinya. Dia tak bisa terlalu menyalahkan. Seandainya Pika masih mencintai Pasha, pasti
dia akan sakit hati ben ar. Untunglah, tampaknya dia sudah melekat pada cowok pirangnya.
Yah! Tesa bimbang di satu pihak untuk me-nerima Pasha seterusnya. Namun di lain pihak, dia tak dapat menyangkal perasaan hatinya sendiri. Pasha memang menarik! Sekeras-kerasnya batu karang, kalau digempur badai sepanjang tahun, lama-lama pasti berlubang juga. Begitu pula dengan pertahanan hatinya.
Pasha seorang laki-laki yang teguh kemauan-nya, sukar dielakkan, penuh perhatian, hangat, namun tegas. Sejak dia memutuskan untuk mendapatkan Tesa, rasanya sulit sekali bagi gadis itu melepaskan diri. Itu pun kalau dia sungguh-sungguh ingin lepas... !
Dalam kebimbangan begitu, hubungan mereka berjalan terus. Malahan makin erat. Ketika sebulan kemudian Pasha tertimpuk bola tenis, Tesa tahu-tahu mendapati dirinya sudah ter-jerat. Aku tak bisa lagi melepaskan diri, pikirnya. Aku sudah telanjur jatuh cinta!
Cedera itu rupanya hebat sekali, sampai reti-. na pada mata kiri itu terlepas di tempat yang dulu dioperasi. Terpaksa Pasha harus masuk lagi ke rumah sakit.
Selama Pasha diopname, siang-malarn Tesa memikirkan keselamatannya. Apakah operas! itu akan berhasil"! Apakah penglihatannya akan pulih seperti semula"! Apakah akan timbul komplikasi"! Apakah dia masih perlu dioperasi sekali lagi"! Apakah hal seperti itu akan bisa
terulang kembali"! Apakah untuk selamanya dia takkan boleh main tenis lagi"! Apakah... oh! Rasanya dia hampir gila memikirkan pemuda
itu. Setiap kali ada waktu luang, dia pasti ber-gegas ke rumah sakh> menjenguk Pasha. Un-tunglah waktu opname cuma seminggu. Ketika dia datang untuk membawa Pasha pulang, pemuda itu tengah menantikannya. Dari balik kacamata hitam diawasinya pintu masuk ke kamar. Begitu Tesa muncul, dia segera berdiri dari kursi. Melihat wajahnya yang cerah, gadis itu segera
menduga bahwa operasinya telah berhasil dengan memuaskan. Tapi dia tidak ber-siap-siap untuk menerima pelukan demikian eraL
"Aduh!" serunya menggoda. "Aku hampir tak bisa napas, nih!"
"Oh, sorry," seru Pasha tersipu. "Habis, aku kelewat girang, sih! Tes, mataku sudah pulih lagi seratus persen! Dan aku juga tak perlu dioperasi lagi! Ajaib enggak, tuh"! Semula aku sudah takut, mataku ini bakal tamat riwayatnya dan perlu dicongkel! Hiii! Ternyata..."
"Oh! Sungguh" Wah, harus dirayakan, tuh!" cetus Tesa, namun dia segera menyesal sudah terlepas omong.
"Ya, ya, ya, tentu saja! Kita masak-masak di tempatmu! Kita undang semua kawanku!" seru Pasha nyaris berjingkrak kegirangan.
Tesa meringis dalam hati. Maksudnya tadi
n dan hanyalah makan berdua saja, dengan lilin bunga. Bukannya pesta...
"Eh, Tes! Aku punya ide, nih! Kenapa kita enggak mau sekalian tukar cincin""
Betapa terkejutnya Tesa. Sesaat dia meng-awasi Pasha tanpa mampu buka mulut. Ketika kemudian dipaksanya menjawab, suaranya ga-gap-
"Ta... tapi... Pika kan be... lum ka... win, eh... tu... nang... an... de... ngan Mi....chael!"
"Itu urusan mereka! Pokoknya kami sudah resmi putus! Ibuku sudah aku beritahu!"
"Ta... pi... ibu... ku... be... Ium! Kita kan enggak mungkin main tukar cincin sembarangan" Kita ha... rus memberitahu dulu, dong!"
"Ah, ini kan belum upacara nikah, Tes! Baru simbol saja untuk menunjukkan, kau sudah jadi milikku, dan Nopi-babi itu jangan coba-coba naksir kau lagi! Pada ibumu dan ibuku, kita akan memberitahu tentu saja. Secepatnya! Oke, ya""
"Pas, kalau cuma takut sama Nopi, enggak usah tukar cincin dulu, deh. Aku jamin, dia takkan berhasil mencuri hatiku. Kalau aku mau dengannya, kenapa enggak dari dulu saja waktu kau masih bersama Pika"! Pendeknya, kalau cuma Nopi, beres, deh. Tak usah khawatir. Eh, kalau wajahmu cemberut, gantengmu berkurang, Iho!" Tesa mencoba berkelakar dan mengalihkan topik.
"Siapa tahu bukan cuma Nopi, tapi masih ada yang lain"" tukas Pasha kepala batu.
"Sudah, ah, jangan bicarakan hal itu lagi, aku enggak suka," Tesa berlagak mengajuk dan Pasha takut jangan-jangan nanti dia marah sungguhan lalu lari! jadi dia terpaksa menurut dan mengerem mulutnya.
"Ayo, buka dong kacamatamu, biar aku pan-dang lagi matamu yang cakep!"
"Aku belum boleh kena sinar, Tes. Tapiii, eh, sejak kap
an kaulihat mataku... ehm... cakep"!" Suara Pasha mirip betul anak kecil, sehingga Tesa hampir tak bisa menyembunyikan geli hatinya.
"Sejak dulu, dong! Masa mendadak saja" Yuk, sudah beres tas dan barang-barangmu" Kita pu-lang sekarang saja."
Tesa cepat-cepat mengajaknya berlalu sambil pura-pura tidak melihat betapa cerah senyum di wajah si ganteng. Dasar cowok zaman sekarang, pikirnya geli. Perlu juga rupanya disebut cakep dan ganteng! Huh, kemayu!
pikirnya makin geli, melihat Pasha kembali menghampiri cer-min di atas wastafel.
"Tahan, tuh! Enggak kalah dari cewek rupanya!" seru Tesa, maksudnya tentu saja genitnya itu. Tapi sang arjuna malah jadi tersipu, rupanya salah paham. "Ah, bisa saja kau, Tes!" "Memangnya aku bilang apa, sih" Bahwa kau
enggak kalah cakep dengan cewek" Hiii, mau mu!" Tesa tak tahan harus menggoda.
"Awas kau, monyet! Nanti kau! Aku sekap kau di... eh... eh... eh... jangan tinggalkan aku, dong! Gimana aku mesti pulang sendiri"" "Monyet mana bisa mengantar kau pulang""
"Lidahku keseleo. Bidadari, maksudku. Ayo, bidadariku, antar aku pulang... nyet!" Pasha me-nambahkan yang terakhir dengan suara pelan. Geram juga hatinya diolok-olok barusan. Kalau tidak dibalasnya nanti, hm! Pikirannya sudah melambung dalam angan-angan bagaimana ca-ranya membuat cewek cakep minta-minta am-pun, menyembah Duli Yang Dipertuan Agung Pasha Solem!
Pesta untuk merayakan kesembuhan Pasha berlangsung murah serta meriah. Pika sebenarnya tidak diundang, sebab dia sudah pindah asrama, tapi entah bagaimana rupanya dia tahu di dapur ada pesta. Tahu-tahu dia muncul bersama Michael. Seketika suasana jadi sepi. Tapi seakan tidak menyadari keadaan, Pika terus nyelonong masuk seraya berseru, "Mau num-pang makan, boleh enggak" Mana nih nyonya rumahnya""
Tesa yang tengah berdiri depan oven mem-belakangi pintu, segera menoleh. Seketika itu wajahnya kelihatan kaget dan bingung meii'
siapa yang datang. Otomatis matanya melirik ke arah Pasha yang tengah mengeluarkan kaleng-kaleng bir dari lemari pending in. Pasha sedang sibuk dan tak bisa ditanya i. Aku harus mena-ngani sendiri!
Nyi Bodong 3 Dewa Arak 72 Batu Kematian Sepasang Pedang Iblis 23
^